Tag Archive | Yuri

Diproteksi: When I Lost in Your Memory [Chapter 2]

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Iklan

My Girl Is Flower Boy [Part 1 of 2]

Tittle : My Girl Is Flower Boy Part 1
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : SG, Romance

Main Cast :

  • Jo Youngmin (Yeoja)
  • Jo Kwangmin (Namja)
  • Kim Donghyun (Namja)

Support Cast :

  • Kyuhyun as Jo Twin’s older brother
  • Heechul as Jo Twin’s Eomma (SG)
  • Kwon Yuri
  • Kwon Jiyong

Haloooo… salam sejahtera bagi pecinta FF sejagat dumay.. Author balik bawa FF bergenre aneh dimana Youngmin jadi cewek di sini *Maaf buat fansnya Youngmin* author gak ada maksud apa-apa. Justru author nge-fans ama Youngmin makanya kepikiran buat bikin FF ini.
Ini sebenernya mau diposting dalam rangka valentine kemaren. tapi karena authornya pikun, jadi baru diposting sebulan kemudian. *telat*

Apa ada yang udah baca FF My Girl Is Flower Boy yang ada di blog ini? FF itu belum selesai tapi kok udah muncul FF ini? Nah, sebenernya itu bukan kesalahan teknis. Melainkan FF ini memang lebih dulu muncul. cuma author postingnya baru sekarang, gitu loh.

Maaf ya kalau banyak typo.dan peringatan dari author, kalau bahasa di FF ini masih bahasa ‘gaul’. jadi gak sesuai EYD alias suka-suka gue. Harap dimaklumi ^^ Happy Reading ^^

My Girl Is Flower Boy By Dha Khanzaki

Baca lebih lanjut

Shady Girl (Part 14)

Tittle : Shady Girl Part 14
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Married Life

Main Cast :

  • Park Haebin / Lee Haebin
  • Lee Donghae

Support Cast :

  • Lee Sungmin
  • Leeteuk
  • Cho Kyuhyun
  • Kim Kibum
  • Yesung, etc

Triiing… *muncul dari dalam lampu ajaib* Dha’s here… ada yang kangen ama FF ini? okelah..
Maaf kalau banyak typo, cerita amburadul, feel gak dapet atau malah ngaco kemana-mana. dha masih butuh pembelajaran. so, kritik dan sarannya ditunggu ^^

Shady Girl by Dha Khanzaki

———-0.0————

Apa yang terjadi semalam? Mungkinkah itu mimpi?

 

Pagi itu udara lumayan dingin. Mungkin karena sudah memasuki musim gugur. Di tambah semalam ia lupa menutup pintu berandanya. Donghae pagi ini terbangun karena ada seseorang yang memeluknya.

“Emh…” Ia menggeliat pelan. Mencoba membuka matanya perlahan.

Begitu matanya terbuka, ia kaget dan segera bangkit.

“Min-chan..” ucapnya tak percaya. Gadis cilik itu seperti biasa, selalu membangunkannya dengan cara yang tak biasa..

“Oppa..” suara riangnya terdengar manja. Khas anak kecil.

Donghae tersenyum dan balas memeluknya. Ia memandang ke sekitarnya dan tak menemukan sosok Haebin di manapun. Bukankah semalam mereka…. oh, atau mungkin hanya mimpi?

“Min-chan, kau kemari bersama Appamu?” Donghae mengalihkan perhatiannya pada Minki. Gadis kecil itu mengangguk.

“Appa menyuluh Minni membangunkan Oppa..”

“Hmm.. oke. Oppa sudah bangun sekarang. Jadi sekarang Min-chan pergi dulu yah.. Oppa mau siap-siap dulu.”

Minki mengangguk patuh. Ia segera berlari kecil ke luar kamar Donghae. Seperginya Minki, Donghae ikut bangkit dari tempat tidur. Oh, ia baru sadar kalau di sekitar tempat tidurnya berserakan pakaiannya dan pakaian Haebin. ia tertegun, jadi yang semalam itu bukan mimpi? Omona.. lalu bagaimana ia hari ini akan menatap gadis itu? Ia juga tidak tahu bagaimana perasaan gadis itu setelah kejadian semalam.

“Aish.. Lee Donghae, apa yang akan kau lakukan setelah ini?” ia mengacak rambutnya sendiri.

 

@@@

 

Setelah selesai bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, ia turun menghampiri orang-orang rumah itu yang sedang berkumpul di ruang makan.

“Sungmin Hyung, kau di sini juga..” ujarnya saat melihat Sungmin di ruang makan juga.

“Iya. Minki bilang ingin kemari.” Jawabnya. Sedangkan Minki tengah makan di suapi oleh Tuan Lee. Yah, Appanya itu memang menyukai anak kecil. Maka dari itu saat Minki datang berkunjung, Tuan Lee pasti meluangkan waktu untuk mengajaknya bermain. Sebenarnya Donghae menyadari satu keinginan Ayahnya terhadap pernikahannya dengan Haebin. yaitu seorang cucu.

“Ayo cepat sarapan, atau kau nanti akan terlambat.” Ucap Leeteuk seraya menepuk kursi di sampingnya.

Donghae jadi canggung sendiri, entah kenapa. Ia menggaruk bagian belakang kepalanya pelan.

“Haebin mana?” tanyanya canggung sambil duduk di sebelah Leeteuk. Ia menoleh kanan kiri namun tidak menemukannya.

“Oh, dia sudah pergi 10menit yang lalu. Dia bilang ada tugas kuliah yang sangat penting.” Jawab Sungmin.

“Apa?” Donghae kaget.

“Dia bahkan melupakan sarapan.” Tambah Leeteuk. Ia tersenyum penuh arti ketika melihat ekspresi Donghae.

“Benarkah?” sebenarnya Donghae bertanya pada diri sendiri. Apa mungkin Haebin sedang menghindarinya.

 

@@@

 

“Kau kenapa Haebin?” In Sung merasa heran melihat Haebin terus memegangi kepalanya. “Apa kau pusing?” tebaknya. Haebin menggeleng. Sejak pagi ia memang merasa pusing. Tidak hanya hari ini. Kemarin pun ia merasakan hal yang sama. Sepertinya hari ini ia memang harus menemui Dokter Kim. Apa karena tugas akhinya begitu banyak hingga membuat kesehatannya menurun?

“Oh, jangan bilang kau hamil!” In Sung mengerjap kaget saat mengatakannya. Haebin sendiri tersentak.

“Ha-Hamil?” tanyanya kaget. Yah.. memang sih mereka sudah melakukannya semalam. Tapi mana mungkin kan ia hamil dalam waktu semalam.

“Iya. Mungkin saja kan. Sebaiknya kau periksakan diri ke dokter, Haebin-ah..” In Sung mengguncang-guncang tangan Haebin. Ia membereskan semua tugas yang sedang dikerjakan Haebin. mereka sekarang sedang mengerjakan tugas akhir mereka di rumah In Sung.

“In Sung, apa yang kau lakukan.” Haebin bingung

“Cepat kau pergi ke dokter. Jika dugaanku benar, aku akan memberikan hadiah untukmu.” In Sung menarik Haebin berdiri. Ia segera memanggil taksi dan menyuruh Haebin naik.

“In Sung, aku baik-baik saja.” Ujar Haebin.

“Tidak. Kau tampak tidak sehat. Kau harus periksa dan soal tugas, serahkan padaku. Ok. Pak, antar dia ke rumah sakit. Bye..” In Sung segera menutup pintu taksi. Taksipun tak lama berjalan.

“Kau ingin ke rumah sakit mana, Agasshi?” tanya supir.

“Ke Seoul General Hospital.”

 

Di rumah sakit..

 

“Kau terlalu memforsir dirimu sendiri hingga kelelahan. Kau bahkan lupa untuk menjaga asupan nutrisi.” Ujar Kibum sambil menuliskan resep di atas kertas.

Haebin mengangguk paham. Ia juga merasakan hal itu. Akhir-akhir ini ia memang terlalu dipusingkan oleh tugas kuliahnya.

“Tekanan darahmu rendah Haebin-ah. Kau harus lebih banyak beristirahat. Tapi tenang, aku sudah menuliskan resep yang cocok untukmu.” Terangnya.

“Benarkah? Aku hanya kelelahan?” tanya Haebin.

“Memang kau mengharapkan yang lain?”

“Tidak.” Jawab Haebin tegas. Kibum tersenyum. “Aku tahu apa yang kau harapkan. Tapi sepertinya itu belum terjadi.”

Haebin menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang merona.

“Terima kasih Dokter Kim, kalau begitu aku pamit..” Haebin segera bangkit dan pergi.

 

 

“aku benci obat.” Keluhnya saat menatapi kantong obat yang didapatkannya. Sekarang ia harus berhenti mengeluh dulu. Karena sudah waktunya untuk mengantarkan bekal makan siang suaminya. Omona.. sebenarnya Haebin malu jika harus bertatap muka dengan Donghae. Mengingat yang dilakukan namja itu terhadapnya semalam, ia bahkan tidak sanggup untuk melihat wajahnya. Ia malu sendiri.

 

 

“Pak GM sedang tidak ada di kantornya, Nyonya.”  Ucap Yuri begitu Haebin datang seperti biasa ke kantor suaminya.

“Benarkah?” Haebin mendengus. Lalu bagaimana jadinya dengan bekal makan siang yang dibawanya?

“Dia pergi kemana?”

“Ke kantor kejaksaan Seoul”

“Kantor Kejaksaan? Untuk apa?”

“Pak GM melaporkan kasus pencurian kartu kreditnya. Dan sekarang ia diminta kantor kejaksaan untuk memberikan penjelasan mengenai kasus itu.”

Haebin mengerjap. “Pencurian kartu kredit?” ia tak percaya. Jangan-jangan ini ada kaitannya dengan kartu kredit yang digunakan Kyuhyun waktu itu.

“Iya. Pelakunya adalah temannya sendiri. Tuan Cho Kyuhyun”

“What!!!!” Haebin hampir berteriak begitu mengetahuinya. Tanpa membuang waktu, ia segera membalikkan badannya pergi.

“Ini tidak bisa dibiarkan. Professor tidak bersalah.”

 

@@@

 

@Kantor Kejaksaan Seoul

“Pak, Aku tidak mencuri kartu kredit” Tegas Kyuhyun sekali lagi. Yesung, jaksa yang menangani kasusnya hanya bersedekap sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Pandangannya begitu mengintimidasi namja itu.

“Lalu jika bukan kau siapa?” tanya Yesung sarkastis.

“Ya, memang aku sih.. tapi aku tidak mencurinya. Aku hanya meminjamnya. Jika kau tidak percaya, tanyakan saja pada Lee Donghae” Kyuhyun masih bersikeras.

“Iya. Meminjam tanpa izin” jawaban itu terdengar begitu mencekam. Kyuhyun membalikkan badannya dari tempat duduknya. Ia melihat Donghae masuk ke ruangan itu dengan pandangan datar. Kyuhyun tersenyum lebar dan secerah matahari.

“Tuh, tanya langsung padanya.” Kyuhyun berdiri

“Tanya apa. Kau memang pelakunya.”

“Lee Donghae, kenapa kau sekejam ini pada temanmu sendiri? Padahal aku hanya meminjam kartu kreditmu.”

 

Dua orang itu malah berdebat. Yesung juga yang menyaksikannya jadi bingung sendiri.

 

“Aku akan memaafkanmu jika kau melakukan ini sekali. Tapi kau sudah tiga kali mengambil kartu kreditku. Dan kali ini adalah jumlah terbesar kau berbelanja menggunakan kartu kreditku.” Jelas Donghae tidak mau kalah. Otomatis Kyuhyun speechless. Ia sempat tergagap.

“Tapi.. Ya..” ia mengusap wajahnya cepat “Dulu, Aku mengambil kartu kreditmu karena aku ingin membantumu membelikan kado untuk adikmu kau tau kan, kau selalu lupa ulang tahunnya. Lalu yang ke dua, aku juga mengambilnya agar bisa membeli hadiah anniversary kau dengan So Yeon, kau tahu, aku tidak tega melihat So Yeon yang bersedih karena kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu dan melupakan hari jadi kalian.. Dan yang terakhir, aku mengambilnya demi istrimu.” Kyuhyun memelototi Donghae setelah mengucapkannya.

 

Sementara itu..

 

Haebin baru saja tiba di kantor kejaksaan itu. Dengan langkah tergesa ia segera berlari masuk meskipun tidak tahu Donghae berada di mana. Dari sekian banyak ruangan di gedung besar itu haruskah ia mencari ke setiap ruangan satu persatu?

 

Namun beruntungnya ia tanpa sengaja mendengar suara Donghae dan Kyuhyun bertengkar ketika melewati salah satu ruangan.

 

“Apa maksudmu?” terdengar suara donghae. Haebin segera berhenti dan kembali ke tempat asal suara tadi. Wajahnya berseri dan ia ingin masuk. Tapi langkahnya terhenti tepat di depan pintu saat melihat Kyuhyun tengah menatap Donghae dengan mata menyala-nyala. Sementara Donghae diam dengan tatapan datarnya.

Haebin berdiri di balik tembok ruangan itu. Ia masih bisa mendengar dengan jelas setiap perkataan mereka.

“Kau juga tidak tahu kan? Aku mendapati istrimu menatap sepatu dengan wajah berbinar sementara ia sendiri bilang tidak punya uang untuk membelinya. Aku jadi heran, apa kau tidak pernah memperhatikannya sedikitpun?” jelas Kyuhyun panjang. Haebin bergetar di tempatnya.

Ia sedikit mengintip ke dalam ruangan, ia ingin melihat ekspresi Donghae.

“Jadi maksudmu  kau mencuri kartu kreditku hanya untuk membelikan Haebin benda-benda mahal itu? Untuk apa? Kau menyukainya? Menyukai istriku?” tuduhnya.

Kyuhyun begitu geram. Ia menepuk keningnya.

“Bukan itu Donghae si manusia es!!” bentaknya.

Yesung yang dari tadi hanya menyaksikan menghela napasnya. Sebenarnya apa masalah mereka di sini?

“Lalu apa?”

“Kau masih tidak mengerti juga? Kemana sih sebenarnya hati nuranimu?” Kyuhyun mencengkram kerah baju Donghae. Namja itu mengerjap kaget. Begitu juga Haebin dan orang-orang yang  melihatnya.!

“Aku ingin membuatmu sadar! Sampai kapan kau terus mendiamkan istrimu seperti itu! Ingat, dia istrimu sekarang! Seseorang yang paling harus kau pikirkan. Ini bukan soal aku mencuri kartu kreditmu. Aku melakukannya untuk mewakilimu melakukannya. Sama seperti yang kulakukan untuk adikmu dan So Yeon dulu.”

Donghae membelalakkan matanya. Kata-kata Kyuhyun sedikit membuatnya tersadar. Sikapnya memang sudah ke terlaluan selama ini.

BRAKK!!!

Kyuhyun maupun Donghae terkaget lagi. Mereka menoleh bersamaan ke arah Yesung yang mukanya sudah memerah. Ia geram.

“Sebenarnya apa yang kalian inginkan? Kantor kejaksaan bukan tempat berdebat untuk sepasang teman karena masalah pribadi! Jika kalian ingin bertengkar, silakan lanjutkan di tempat lain! Bukankah kalian kemari untuk menyelesaikan kasus pencurian kartu kredit?”

Yesung menatap kedua orang itu bergantian. Kyuhyun merasakan aura menakutkan berada di sekitar jaksa itu.

“Kau, sebaiknya kembali duduk!” perintahnya pada Kyuhyun.

“Ba-baik.” Kyuhyun menurut karena takut.

“Jadi apa yang kalian inginkan untuk menyelesaikan kasus ini? Apa kasus ini benar-benar ingin dibawa hingga ke pengadilan?” tanya Yesung

“Tidak!”

“Iya.”

Kyuhyun dan Donghae saling bertatapan karena jawaban mereka yang berbeda. Kyuhyun mengatakan ‘tidak’ sementara Donghae ‘iya’.

“Ya.. Donghae-ah.. jebal. Bebaskan aku..” rengek Kyuhyun. Mulai sifat childishnya muncul lagi.

“Tidak.” Donghae tetap bersikukuh pada pendiriannya.

 

“Cukup!” teriak Haebin. donghae menoleh, matanya melebar. Oh, akhirnya bisa melihat Haebin juga.

“Haebin-ah..” seru Kyuhyun. Haebin maju mendekati mereka, tepatnya ke hadapan Donghae.

“Jika kau ingin menghukum seseorang, akulah yang seharusnya dihukum. Aku yang menghabiskan uangmu Oppa. Professor hanya meminjamkan kartu kreditmu.” Jelas Haebin dengan nada berat. “Aku tahu ini salah. Seharusnya aku tidak melakukannya. Mianhae. Sebisa mungkin aku akan mengganti uang yang aku belanjakan.” Ucap Haebin menyesal.

“Kenapa harus mengganti? Itu kan uang suamimu.” Bela Kyuhyun.

“Tidak, aku harus menggantinya. Mengambil benda yang bukan hakku, itu pencurian kan. Lagipula..” Haebin menghela napas, ia menatap Donghae. “Oppa belum memberikannya padaku. Jadi sama saja aku mencurinya.”

Donghae mengerjapkan matanya berkali-kali. Perkataan Haebin memukul hatinya dengan telak. Aigoo.. Kyuhyun terharu mendengarnya.

“Haebin-ah.. kau sungguh baik. Harusnya kau tidak menikahi pria dingin seperti itu. Ya! Lee Donghae! Harusnya kau pergi ke psikiater untuk memeriksakan dirimu! Tega sekali kau pada gadis sepolos dia.”

“Professor. Sudah…” pinta Haebin karena Donghae semakin diam.

“Oppa.. aku mohon, bebaskan professor. Dia tidak bersalah.”

 

Satu detik…dua detik.. satu menit.. Donghae tenggelam dalam pikirannya. Sebenarnya ia juga tidak tega memenjarakan temannya sendiri. Dan jika ia melakukannya, mungkin orang akan berpikir kalau dia benar-benar manusia es yang tidak mempunyai hati nurani.

“Baiklah. Aku akan cabut tuntutanku.” Ucap Donghae. Kyuhyun lega luar biasa mendengarnya.

“Benarkah? Terima kasih!!”

“Tapi dengan 1 syarat!” Tegas Donghae.

“Apa?”

“Berhenti bersikap kurang ajar padaku. Panggil aku Hyung, bungsu!” ucap Donghae dengan nada mengintimidasi.

“Mwo??? Shireo!”

“Ya sudah kalau tidak mau. Aku tidak keberatan. Pak, penjarakan dia.” Perintah Donghae bersiap pergi. Kyuhyun takut, ia lekas menangkap tangan Donghae untuk menenangkannya.

“Araseo. Hyung, aku mengerti.” Ucapnya sambil tersenyum terpaksa.

 

Donghae mengangguk setelah melihat kesungguhan di wajah Kyuhyun. Setelah itu, ia meminta agar tuntutannya dicabut dan Kyuhyun dibebaskan. Yesung menggeleng-gelengkan kepalanya. kenapa kali ini ia mendapatkan kasus seaneh ini? Dia kan jaksa bukan juru pendamai 2 orang teman yang saling bertengkar.

 

“Professor, mianhae. Gara-gara aku kau jadi terlibat kasus seperti ini. Seharusnya hal ini tidak terjadi. Lain kali aku akan berhati-hati.” Haebin menundukkan kepalanya berkali kali saat mereka akan berpisah di tempat parkir. Kyuhyun cengengesan.

“Tidak perlu. Suamimu saja yang berlebihan. Kau tidak bersalah, Haebin-ah”

Donghae melotot  karena ia merasa Kyuhyun sedang menyinggungnya. Namun Kyuhyun tidak peduli. Laki-laki itu memang harus dibuat sadar dengan sikapnya.

 

Tak lama setelah mobil Kyuhyun pergi, Donghae segera menahan Haebin saat gadis itu akan pergi juga.

“Mau kemana kau?”

Deg deg deg.. Haebin merasakan seluruh tubuhnya bergetar begitu tangan Donghae menyentuh kulitnya.

“Aku.. aku harus kembali ke rumah In Sung. Tugasku belum selesai di sana.” Ucap Haebin terbata.

“Tidak bisa. Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu.” Donghae menarik tangan Haebin. gadis itu kembali pasrah seperti tadi malam. Oh, kenapa sentuhan Donghae mampu membuat seluruh sel ditubuhnya lumpuh seperti ini?

 

“Apa yang ingin kau bicarakan?” suara Haebin terdengar gugup. Mereka sekarang sedang berada di mobil. Dalam perjalanan pulang. Donghae menepikan mobilnya. Sedari tadi ekspresinya datar. Haebin tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya.

“Apa sebenarnya yang kau inginkan?” tanyanya dengan nada tajam.

“Apa maksudmu?”

Donghae mengalihkan pandangannya, tepat menatap Haebin. “Ekspresi apa yang kau tunjukkan pada Kyuhyun saat itu? Apa kau memelas padanya? Apa kau ingin dikasihani olehnya? Sebenarnya apa tujuanmu?”

haebin tersentak. Hati kecilnya serasa ditusuk ribuan jarum saat mendengarnya.

“Aku..”

“Apa kau ingin aku memberimu uang yang banyak karena telah menikahi pria kaya?  Kau ingin aku membelikanmu barang-barang mewah itu? Baik akan aku lakukan.” Ujar Donghae dingin. Tanpa aba-aba ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke sebuah departement store besar. setelah sampai ia segera menarik Haebin memasuki salah satu butik terkenal di sana. Haebin sudah meronta sejak tingkah aneh Donghae ini dimulai. Namun sekuat apapun ia berusaha melepaskan diri, Donghae tetap lebih kuat darinya.

“Oppa, lepaskan aku.. apa maksudmu membawaku kemari..”

 

Donghae baru melepaskannya setelah berada di dalam sebuah butik terkenal.

“Sekarang pilih semua barang yang kau inginkan! Cepat!” perintah Donghae sambil menyeret Haebin ke salah satu deretan mini dress. Jika keadaannya tidak seperti ini, Haebin mungkin akan senang ditawari seperti itu. Tapi lain ceritanya jika Donghae menyuruhnya dalam keadaan seperti ini, Haebin justru terasa seperti tercabik-cabik.

“Oppa.. kau ini sebenarnya kenapa?” suara Haebin bergetar. Matanya sudah berkaca-kaca.

“Cepat pilih! Bukankah kau suka sekali menghabiskan uang untuk membeli barang-barang mahal seperti ini??”

 

PLAKK!!

 

Donghae terdiam beberapa detik setelah tamparan Haebin melayang di pipinya. Ia sangat marah. Namun rasa geramnya itu tidak bisa menandingi ekspresi Haebin sekarang. Gadis itu tampak begitu terluka. Airmata mulai menetes melintasi pipinya.

“Kau merendahkanku, Oppa.” Ucapnya dengan suara rendah. “Aku tahu aku ini gadis dari keluarga miskin. Tapi aku tidak serendah itu hingga ingin memanfaatkan kekayaan suamiku sendiri untuk bersenang-senang. Memang sempat terlintas dibenakku hal seperti itu. Tapi, aku tidak melakukannya. Karena aku tahu, aku tidak berhak berbuat seperti itu. Karena..” napasnya tercekat. Haebin mengusap dengan cepat airmata yang mengalir.

“Karena aku menyayangimu sebagai suamiku. Karena itu aku tidak melakukannya” haebin menunduk, tanpa menunggu jawaban Donghae, Haebin segera pergi dari hadapannya.

“Haebin…” Donghae mengejarnya.

 

 

Entah kemana kakinya akan membawanya, Haebin sendiri tidak tahu. Sampai akhirnya ia terpikir untuk kembali ke rumahnya yang dulu. Sudah lama ia tidak melihatnya.

“Lebih baik untuk sementara aku tinggal di rumah lamaku dulu.” Gumamnya. Langkahnya terhenti begitu saja ketika sudah tiba tepat di depan rumahnya yang dulu. Ia tercengang. Lututnya bahkan bergetar hebat. Bagaimana mungkin, ia bahkan berharap semua ini mimpi.

Di depan rumahnya terdapat papan bertuliskan ‘disita’.

“A..apa maksud semua ini??” suaranya bergetar. Pikirannya melayang kemana-mana.

“Bukankah Appa sudah melunasi semua hutangku? Kenapa ini..”

Dadanya terasa sesak kembali. Ia bahkan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis. Kakinya pun tidak bisa menahan bobot tubuhnya lagi. Ia jatuh terduduk di depan rumahnya. Airmatanya mengalir begitu saja, bahkan tanpa kehendaknya.

“Appa.. apa yang harus kulakukan?” lirinya di antara isak tangisnya yang semakin kencang.

 

Donghae melihatnya diam-diam dari jauh. Melihat Haebin dalam keadaan seperti itu, hatinya mencelos. Ia merasakan dadanya begitu sesak dan perih. Ini? Apa maksudnya? Ia memegangi dadanya. Di sini.. kenapa terasa sangat menyakitkan?

 

“Haebin-ah? Sebenarnya apa yang kau lakukan padaku?” gumamnya. ia ingin sekali menarik Haebin yang terkulai lemas sambil terisak seperti itu ke dalam pelukannya. Ia ingin sekali menenangkan gadis itu dalam dekapannya. Namun selayaknya seorang pengecut, ia bahkan tidak bisa melangkahkan kakinya sedikitpun. Ia hanya mampu melihat kesengsaraan Haebin dari jauh.

 

Donghae seakan tersadar bahwa dirinya hanya seorang pria berhati dingin dan tidak tahu kondisi. Seperti yang dikatakan Kyuhyun.

 

—–o0o—-

 

Angin musim gugur sore itu terasa menusuk hingga ke tulang. Donghae harus merapatkan mantel panjang yang dikenakannya. Napasnya bahkan berasap tanda udara begitu dingin. Namun kini yang dikhawatirkannya adalah Haebin. gadis itu kini tengah menangis di depan makam Ayahnya.

“Appa.. maafkan aku.. aku tidak bisa mempertahankan satu-satunya peninggalan darimu.. rumah itu, hiks.. sudah bukan milikku lagi sekarang. Apa yang harus kulakukan..” ia menangis sesenggukan sambil mengusap batu nisan Ayahnya.

“Seharusnya kau mengajakku pergi juga, kenapa kau meninggalkan kami di sini.. Appa.. aku merindukanmu..”

 

Melihat Haebin menangis seperti itu, merasakan kesedihan yang terpancar dari setiap kata-kata yang diucapkannya, ia merasa hatinya tersayat sebuah pisau tajam. Donghae merasa dirinya menjadi pecundang sejati karena hanya bisa melihatnya dari jauh. Tanpa berbuat apapun untuknya.

 

Haebin kini duduk termenung di bangku taman. Ia tak peduli meskipun tubuhnya menggigil karena udara dingin sore itu. Ia hanya memikirkan apa yang sudah diputuskannya selama ini. Sebelumnya, ia merasa menikah dengan Donghae adalah suatu takdir yang baik. Namun sepertinya ia harus berpikir sekali lagi mengenai hal itu.  Bukan karena ia membenci Donghae. Tapi ia justru berpikir tidak ada gunanya lagi melanjutkan jika Donghae tidak membutuhkannya dan hanya menganggapnya sebagai beban.

 

“Haebin?”

Haebin mengangkat kepalanya yang tertunduk dan mendapati Kim Mi Ra tersenyum padanya. Gadis itu memakai jaket panjang dengan syal tebal melilit di lehernya.

“Apa yang kau lakukan di sini? Dalam cuaca seperti ini?” tanyanya sambil duduk di sebelah Haebin.

“Aku sedang jalan-jalan.” Haebin berusaha untuk tersenyum.

“Aigoo.. kau tampak pucat. Pasti karena kedinginan. Sini, pakai syalku.” Mi Ra dengan senang hati meminjamkan syalnya pada Haebin. ia terharu dengan kebaikan Mi Ra. Rasanya ia ingin menangis lagi. Tapi tidak, ia sudah berjanji tidak akan menangis di depan orang lain lagi.

“Gomawo..” hanya itu yang bisa diucapkannya.

“Kenapa? Apa ada masalah? Kau bertengkar dengan suamimu?” tanya Mi Ra langsung. Haebin mengerjapkan mata.

“Tentu saja tidak. Oppa orang yang sangat baik dan perhatian. Dia tidak pernah bersikap kasar padaku. Jadi, mana mungkin aku bertengkar dengannya.” Ucap Haebin berbohong. Ia tidak ingin orang lain tahu masalahnya.

 

Donghae yang mendengarnya dari jauh membelalakkan matanya. Hati bekunya mulai tersentuh karena ucapan Haebin itu. Perhatian, baik, tidak pernah bersikap kasar? Semua itu tidak pernah ia lakukan untuk Haebin. Bahkan setelah semua hal buruk yang sudah ia perbuat pada Haebin, gadis itu tetap mengatakan hal baik tentangnya pada orang lain? Kyuhyun benar, Haebin gadis yang sangat polos. Selama ini ia sudah salah menilai Haebin.

 

To be continued..

 

Shady Girl (Part 13)

Tittle : Shady Girl Part 13
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Married life, Romance

Main Cast :

  • Park Haebin / Lee Haebin
  • Lee Donghae

 

Support Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Leeteuk
  • Sunny Lee
  • Kwon Yuri

balik lagi dengan dha khanzaki. FF ini masih panjang loh. jadi jangan bosen buat tetep baca yah… maaf untuk typo, bahasa amburadul, ataupun feel yang gak kena.

Happy reading…

Shady Girl by Dha Khanzaki

————–0.0—————

Siang ini, kelasnya selesai lebih awal dari biasanya. Dan ia memanfaatkan waktu luang yang ia punya untuk berjalan-jalan. In Sung tidak bisa diajaknya karena ia harus membantu ibunya di TK, mengurus anak-anak kecil itu. Dan Haebin tidak mungkin ikut membantu. Karena ia memang tidak begitu terampil menghadapi anak kecil. Ia juga ingin mengunjungi Hyun Jung, yeoja baik hati teman satu pekerjaannya itu. Tapi, jam istirahat seperti ini dia pasti sedang sibuk. Lalu sempat terpikir juga untuk menemui Mi Ra di klub, tapi.. klub malam kan buka 8 jam dari sekarang. Masih lama sekali..

 

Kini, ia sedang melampiaskan kesenangannya dalam hal fashion. Seperti biasa, kali ini pun ia hanya datang ke butik terkenal itu hanya untuk melihat lihat.

“Wuah.. cantik sekali high heels ini..” Haebin sedikit membungkukkan badannya untuk melihat lebih dekat dan jelas sepasang high heels cantik yang terpajang di salah satu etalase toko.

“Kalau memang suka, beli saja.”

Eh, siapa itu yang bersuara tepat di sampingnya? Dengan ragu Haebin menolehkan kepalanya ke samping.

“Wuahhhh!!!” Haebin memekik kaget saat menyadari wajah Kyuhyun begitu dekat dengannya. Bahkan ia sampai jatuh terjengkang ke belakang dan menabrak baju-baju yang digantung di tempatnya.

“Wae? Wae?” Kyuhyun kebingungan sendiri. Kenapa Haebin bisa sebegitu kagetnya sampai jatuh seperti itu? Dia kan bukan hantu atau binatang buas. Kyuhyun segera membantu Haebin berdiri.

“Kenapa kau sekaget itu melihatku?” tanya Kyuhyun setelah Haebin berhasil berdiri tegap. Bukannya menjawab Haebin malah balik bertanya. Tentu dengan ekspresi yang masih kaget.

“Professor, apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku?” Kyuhyun menunjuk dirinya sendiri, seperti orang bodoh saja.

“Aku mengantar Sherry ke salon.” Ucapnya enteng.

“Sherry?” tanya Haebin kebingungan. Kedengarannya seperti nama seorang yeoja. Jadi Professor sepertinya punya yeojachingu juga. Haebin otomatis memperhatikan penampilan Kyuhyun secara keseluruhan. Pantas penampilannya sedikit rapi meski hanya memakai jas.

“jadi prof, kau punya yeojachingu?” tanya Haebin. ia mendekati Kyuhyun yang tengah sibuk memilih-milih baju di antara koleksi baju musim gugur.

“Siapa?” dengan polosnya dia malah balik bertanya.

“Sherry, dia yeoja kan?”

Seketika Kyuhyun menoleh, menatap Haebin dengan pandangan melongo. Lalu sedetik kemudian ia tergelak begitu kencang. Gantian Haebin yang kebingungan.

“Kenapa kau tertawa? Aku serius Prof.”

 

Kyuhyun masih tertawa hingga lima menit kemudian. Setelah puas, ia menatap Haebin lagi.

“Haebin, Sherry itu nama anjing Shih Tzu ku..” ucapnya sambil mengusap airmata karena terlalu puas tertawa.

“Mwo? Jadi itu anjing? Aigoo..” kenapa nama anjingnya saja bagus begitu. Jadi teringat anjing yang tempo hari ia lihat di rumah Kyuhyun, anjing yang tengah di pangkunya waktu itu. Jadi itu Sherry? Anjing yang lebih terlihat seperti singa kecil itu?

“Ya, Professor. Seharusnya bukan anjing yang kau ajak ke salon.” Ujar Haebin.

“Lalu siapa?” tanya Kyuhyun cuek. Haebin bersedekap jengkel.

“Tentu saja dirimu.” Tegasnya. Kyuhyun menoleh mendengar nada bicara Haebin yang terkesan sedang menceramahinya. Benar saja, kini gadis itu sedang menatapnya dari ujung rambut  sampai ujung kaki lalu kembali menatap wajahnya.

“Lihat penampilanmu, Professor. Tidak menarik sedikitpun. Jika begini siapa yang akan menyukaimu. Kau akan kesulitan mendapatkan istri kelak.” Omelnya.

Kyuhyun mengeryitkan keningnya. “Ya ampun, kau terdengar seperti ibuku. Cerewet sekali.” Ia lalu balas berkacak pinggang.

“Dengar ya? Jika aku merapikan diriku sedikit saja, yeoja-yeoja di luar sana pasti akan pingsan melihatku. Kau tahu, aku ini sangat tampan.” Ucapnya narsis sambil mengedipkan mata.

“Oh, God, kenapa ada manusia senarsis ini di dunia. Aku kira hanya Siwon-ssi yang memiliki kadar kepercayaan diri di ambang batas normal. Ternyata kau juga..”

 

Namja itu hanya tertawa ringan menanggapinya. “Karena itu aku seperti ini. Aku tidak ingin orang menyukaiku hanya karena penampilan luarku saja” ucapnya. Haebin tersentak, oh, jadi itukah alasannya? Haebin jadi merasa bersalah sudah berpikir yang tidak-tidak. Ia sempat mengira Kyuhyun adalah orang yang memiliki kelainan karakter. Ternyata setiap orang memang memiliki alasan mengapa menjadi seperti itu.

 

“Ngomong-ngomong, kau kemari ingin belanja?” Kyuhyun balik bertanya.

“Ah, tidak. Hanya melihat-lihat.” Sanggahnya cuek, lalu kembali menatapi high heels yang tadi diminatinya.

“Hei, kau kan sudah jadi Nyonya Lee, menantu dari Lee Dong Il, salah satu developer terkaya di Korea. Kenapa pergi ke butik hanya untuk melihat-lihat. Sudah, jika ada yang kau suka, beli saja.” Kyuhyun menarik Haebin ke hadapan high heels itu.

“Kau suka kan? Beli saja.” Ucapnya sambil menunjuk high heels itu. Haebin menggeleng cepat.

“Ani.. tidak perlu..”

“Tidak apa-apa..”

 

Haebin menahan tangan Kyuhyun. “Sebenarnya, professor… aku tidak membawa uang.” Bisik Haebin serius.

“Tenang saja” Kyuhyun mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya. “Tara…” serunya riang sambil mengacungkan sebuah kartu kredit.

“Professor, kau tidak perlu membuang-buang uangmu untuk membeli ini.” Haebin menolaknya mentah-mentah.

“Siapa bilang ini milikku. Ini milik suamimu.” Ucapnya dengan kekehan ala setan miliknya.

“Mwo? Kau meminjamnya?”

Kyuhyun menggeleng cepat. “Aku mengambil secara diam-diam dari dompetnya.” Kyuhyun mengerlingkan matanya. Ia teringat hari itu, saat ia pergi ke kantor Donghae dan berbicara banyak hal dengannya. Saat itulah ia mengambil kartu kredit itu dari dompet Donghae.

Haebin tercengang. “Professor Kyuhyun!!! Itu pencurian kartu kredit namanya..” tegur Haebin.

“Ckckck.. tenang saja.. anak itu memiliki banyak kartu kredit. Jadi dia tidak akan menghiraukan satu kartu kreditnya yang hilang. Nah.. sekarang tidak perlu cemas lagi. Ayo..” Kyuhyun kembali menariknya ke kasir.

 

@@@

 

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, sudah satu minggu sejak Haebin ke kantornya untuk mengantarkan bekal makan siang. Sejak itu pula yeoja itu selalu mengantarkannya makan siang namun dia menolak untuk bertemu dengannya dan langsung pergi. Hm.. apa dia tersinggung dengan ucapannya waktu itu? Ah, sudahlah.. kenapa jadi memikirkannya begini ya?

Donghae membuka kotak makan siang yang kini kembali diantarkan Haebin untuknya.

Ia menyuapkan sepotong kimbab ke mulutnya. Menikmati makanan itu sambil memejamkan matanya. Rasanya memang sama dengan yang So Yeon buat dulu. Namun, kenapa makanan buatan Haebin terasa sedikit berbeda ya?

“Pak..” ucap Yuri sambil mengetuk pintu ruang kerja donghae. Namja itu mendongkakan kepalanya.

“Ya?”

“Maaf mengganggu waktu istirahat anda”  Yuri mendekatinya dan meletakkan sebuah map berwarna hijau di hadapannya.

“Apa ini?” tanya Donghae bingung. Ia sedang tidak menunggu dokumen apapun sekarang.

“Itu berkas tagihan dari bank, Pak.”

“Tagihan?” Donghae mengerutkan keningnya bingung. Lantas dengan tidak sabar  ia membuka dan membacanya sekilas. Beberapa detik setelahnya, matanya terbelalak melihat deretan angka yang menunjukkan jumlah uang tagihan kartu kreditnya.

“Mwo? Apa maksudnya ini? Aku tidak pernah berbelanja sebanyak ini.” Protesnya sambil melempar map itu ke atas meja.

Otaknya berpikir keras mencoba mencari jawaban yang paling memungkinkan.  Ia lalu bangkit.

“Yuri, dimana tempat uangku dibelanjakan?” tanyanya datar. Yuri cepat-cepat mengambil kembali map itu lalu membacanya.

“Di sebuah butik ternama di Apgujeong-dong, Pak.”

Tak membuang waktu, Donghae segera pergi menuju tempat itu. Dan di sana, ia bertanya pada penjaga toko siapa yang sudah berbelanja hari itu menggunakan kartu kreditnya.

“Sepasang pria dan wanita, Tuan. Mereka membeli beberapa pakaian musim gugur, tas, juga sepatu.” Jelas penjaga toko yang kebetulan saat itu bertugas menjadi kasirnya.

Mendengarnya Donghae langsung teringat haebin. mungkinkah dia?

“Lalu pria itu apa seperti ini?” tanya donghae sambil memperlihatkan foto Siwon yang ada di ponselnya. Penjaga toko itu menggeleng.

“Ini?” Donghae kini memperlihatkan foto Eunhyuk. Penjaga toko itu kembali menggeleng.

“Apa ini?” Gantian foto Kibum yang diperlihatkan, dan jawabannya tetap sama. Donghae menahan amarahnya, ia sebenarnya sempat menduga, namun ia ingin memastikan dulu.

“Mungkinkah ini?” Donghae menunjukkan foto Kyuhyun dan kali ini penjaga toko itu mengangguk.

“Benar Tuan, dia orangnya.”

 

Donghae mengepal tangannya erat. Sesuai dengan dugaannya. Kyuhyun pasti pelakunya. Dan ia tahu kapan pria usil itu mencuri kartu kreditnya. Pasti saat dia datang ke kantornya tempo hari.

“Cho Kyuhyun, mati kau..” geramnya. Ia lalu cepat pergi dari butik itu, sambil berjalan menuju mobil yang diparkir, ia menelepon polisi.

“Pak, tolong tangkap namja bernama Cho Kyuhyun. Dia mencuri kartu kreditku” ucap Donghae dengan penuh amarah.

 

—–o0o—-

 

@QC Office Building

 

“Hoammffth….” untuk ke dua kalinya Kyuhyun menguap siang itu. Baru 1 jam yang lalu ia menyelesaikan konsep game terbarunya. Sekarang ia sudah bosan.

“Ah, aku menyesal masuk kantor hari ini.” Keluhnya sambil membanting pensil pelan. Tangannya yang lincah itu mengutak-atik tombol keyboard.  Entah mengetik apa. Jika sedang sendiri seperti itu ia tak tampak seperti seorang CEO pada umumnya. Ia lebih senang bermalas-malasan di ruang kerja dan bermain game dibandingkan harus menghadiri rapat dan menandatangani setumpuk dokumen.

“Aku rindu Sherry-ku…” ia mengacak-acak mejanya sendiri saking bosannya. Bahkan papan nama bertuliskan ‘CEO: Cho Kyuhyun’ jatuh begitu saja dari atas meja. Ia mengambil selembar kertas tak terpakai dan menyobek-nyobeknya menjadi serpihan kecil.

 

Tok tok..

 

Kyuhyun berhenti menyobek kertas, ia menoleh ke arah pintu. “Siapa?”

Seorang gadis ragu-ragu masuk ke dalam ruangannya. Kyuhyun tersenyum, ia membenarkan posisi duduknya. “Sunny, ada apa?” tanyanya pada sekretarisnya itu.

Sunny belum menjawab karena kini ia terheran-heran melihat kondisi meja yang berantakan dan banyak sekali sampah kertas berserakan di atas meja dan sekitarnya.

“Jangan hiraukan ini. Katakan saja..” Kyuhyun tahu Sunny pasti kebingungan melihat kekacauan yang selalu dibuatnya. Tapi ia sedang tidak mau membahasnya.

“Pak Presdir, Anda kedatangan tamu.”

Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya. “Tamu?”

Sunny mengangguk, ia segera pergi dan tak lama masuk beberapa orang berpakaian resmi. Ho, siapa mereka? Kyuhyun merasa tidak pernah bertemu dengan mereka.

“Anda Tuan Cho Kyuhyun?” tanya salah satu dari mereka bahkan sebelum Kyuhyun membuka mulut untuk mengajukan pertanyaan.

“Iya.”

Salah satu dari mereka mendekati Kyuhyun dan menyerahkan selembar surat. Kyuhyun tanpa ragu mengambilnya. Ia terkejut melihat isi surat itu.

“Apa ini? Surat panggilan dari kepolisian?” tanyanya kaget. Orang di hadapan Kyuhyun itu mengangguk.

“Kami datang kemari untuk menangkap Anda atas tuduhan telah mencuri kartu kredit.”

“MWO!!!” pekiknya kaget.

 

@@@

 

@Kantor Polisi

“Aku tidak mencurinya Pak, jadi sekarang bebaskan aku.” Ujar Kyuhyun tak sabar. Sudah satu jam ia di interogasi di kantor polisi dan jawaban yang di ucapkannya tetap sama. Ia tidak merasa mencuri sama sekali.

“Tidak bisa. Korban meminta kasus ini dibawa ke pengadilan segera” tegas seorang petugas polisi yang menginterogasinya.

Batin Kyuhyun mendidih secara perlahan. Harus berapa kalimat lagi yang harus diucapkannya agar mereka percaya bahwa ia tidak mencuri kartu kredit. Menyebalkan.

“Pak, Memang siapa yang sudah melaporkanku??”

“Seorang Namja bernama Lee Donghae.”

“Apa?? Dia??” Kyuhyun menggeram. Ia segera merogoh saku jasnya, mengambil ponsel untuk segera menelepon Donghae.

 

Sementara itu…

 

Donghae sedang menikmati makan malam bersama Haebin, Tuan Lee dan Leeteuk. Seperti biasa, Haebin tetap memberikan perhatian lebih padanya. Meskipun Donghae mulai terbiasa, tetap saja ia merasa risih.

“Haebin, berhenti meletakkan telur gulung itu di atas nasiku. Aku sudah kenyang.” Protes Donghae.

“Kau butuh banyak masukan protein, Oppa. Lihat, badanmu kurus kering begitu.” Haebin membela diri. Donghae menggelengkan kepalanya pasrah, berdebat dengan Haebin hanya membuang-buang tenaganya.

“Aish.. romantisnya. Bikin iri saja.” Goda Leeteuk. Tuan Lee pun tersenyum menanggapinya.

 

Tiba-tiba ponsel Donghae berdering. “Yeobseo” jawabnya sambil tetap melanjutkan makan.

“LEE DONGHAE!!!” Teriakan seseorang langgung menggema sampai bisa terdengar oleh orang-orang di sekitarnya. Donghae menjauhkan ponsel dari telinganya sejenak. Ia memutar bola matanya malas setelah tahu pemilik suara cempreng itu.

“Tidak perlu berteriak, Cho Kyuhyun. Aku tidak tuli.”

“Apa maksudmu menuduhku mencuri kartu kreditmu?” cecarnya di ujung sana.

“Memang kau pelakunya kan?” jawabnya enteng.

“Mworago? Ya! Sekarang juga cabut tuntutanmu dan akan kujelaskan semuanya—“

“Shireo” potong Donghae. “Maaf, sekarang sudah malam. Jika ingin membela diri, katakan di pengadilan nanti.” Donghae langsung memutuskan sambungan dan kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.

“Memang ada masalah apa dengan Professor Kyu?” Haebin penasaran. Dari apa yang didengarnya tadi sepertinya mereka membicarakan masalah serius.

“Tidak ada.” Jawabnya acuh tak acuh. Tanpa mempedulikan raut wajah Haebin yang khawatir dan penasaran, Donghae kemudian memilih pamit dan pergi lebih dulu.

 

@@@

“uh, kenapa kepalaku pusing begini ya? Apa aku sakit?” Haebin memijat pelan tengkuknya. Ia sekarang sedang menyiapkan susu hangat untuk suaminya.

“Sepertinya besok aku harus menemui Dokter Kim untuk berkonsultasi.” Setelah selesai, ia segera menuju kamar Donghae. Untuk menyerahkan susu itu.

 

Leeteuk melihat Haebin berjalan menaiki tangga dan ia diam-diam mengikutinya.

 

“Oppa..” Haebin membuka pelan pintu kamar Donghae. Suasana kamar itu remang-remang. Hanya lampu meja yang ada di dekat tempat tidur saja yang menyala. Tapi ia tidak melihat Donghae di sana.

“Hmm.. di mana dia?” Haebin meletakkan susu itu di atas meja depan sofa. ia melirik ke arah pintu kaca yang mengarah ke beranda terbuka, oh mungkin saja Donghae ada di sana. Ia segera menyusulnya.

 

“Hehehe.. Haebin-ah.. mianhae.. ini perintah Tuan Lee.” Bisik Leeteuk sambil tertawa pelan. Setelah ia yakin Haebin tidak akan masuk kamar dulu, Leeteuk mengendap-endap masuk, ia mengeluarkan botol kecil dari dalam kantong celananya dan mencampurkan cairan bening dari dalam botol itu ke dalam susu untuk Donghae. Setelah selesai, ia segera keluar dan menutup pintu kamar lalu menguncinya dari luar.

“Selamat bersenang-senang malam ini..” ia terkekeh lagi. Membayangkan hal yang akan terjadi begitu Donghae meminumnya nanti.

 

Tuan Lee tahu bahwa anaknya dan Haebin tidak tidur sekamar. Ia ingin menegur tapi melihat kondisi Donghae, ia tidak berani mengatakannya. Jadi ia memerintahkan Leeteuk untuk melakukan sesuatu terhadap mereka berdua. Dan inilah yang terpikirkan oleh Leeteuk.

 

“Oppa..” panggil Haebin sekali lagi saat menapaki beranda kamar Donghae. Ia menoleh kanan kiri mencari sosok Donghae. Dan benar saja, ia menemukan suaminya tengah duduk sambil memejamkan mata di sofa ayunan. Pantas saja ia tidak mendengar. Toh di telinganya kini terpasang Headphone. Haebin tersenyum tipis menatapi wajah tampan Donghae yang seperti pangeran tidur.

 

Terkadang, Haebin selalu bertanya-tanya seperti apa namja yang ada di hadapannya ini dulu. Ia ingin sekali melihat secara langsung. Namun kini sepertinya ia melihat sedikit gambaran tercermin dari wajahnya. Dulu, namja ini pasti selalu tampak tenang seperti sekarang dilihatnya. Haebin duduk di samping Donghae, membuat ayunan itu sedikit bergerak. Donghae tersentak dan ia membuka matanya.

“Kau..” gumamnya sambil melirik Haebin sekilas.

“Oppa, apa yang kau lakukan di sini?”

“Membaca buku.” Jawabnya ringan. Memang sih, di pangkuan Donghae terdapat sebuah buku tebal. Tapi sepertinya itu bukan bacaan santai.

Haebin menganggukkan kepalanya. “Memang sih, di sini suasananya tenang, dan indah..” ucap Haebin segera sambil mendongkakkan kepalanya ke arah langit yang berbintang.

“Ngomong-ngomong, untuk apa kau kemari?” nada bicara donghae tetap terdengar datar.

“Oh..” haebin baru ingat. Ia segera pergi dan tak lama kembali membawa segelas susu.

“Aku membuatkan ini untukmu. Cepat diminum. Susunya sudah mulai dingin.” Haebin menyerahkan gelas itu pada Donghae.

 

Donghae mengambilnya tanpa curiga sedikitpun. Ia langsung meminumnya hingga habis 3/4nya.

Haebin merasa terhormat karena Donghae kini mulai menuruti apapun yang dilakukan untuknya. Termasuk meminum susu itu. Ia langsung duduk kembali di samping Donghae.
“Haebin, sebenarnya kau ini siapa?”

Eh, Haebin menoleh mendengarnya. Kenapa tiba-tiba Donghae bertanya seperti itu?

“Siapa? Apa Oppa bertanya tentang asal usulku?”

Donghae mengangguk.

 

“Aku hanya gadis dari keluarga biasa.” Ujar haebin sambil menundukkan kepalanya. donghae menatap Haebin. ia terdiam.

“Ayahku adalah seorang pegawai biasa dan ibuku pelayan sebuah toko swalayan. Kami hidup dengan sederhana. Namun semuanya terasa begitu bahagia”

Donghae bisa melihat kebahagiaan terpancar dari mata Haebin yang berbinar saat menceritakannya. Ia hanya diam tanpa ingin memotongnya.

“Kami tidak merasakan kekurangan apapun karena kami saling memiliki satu sama lain. Hingga pada akhirnya Ayahku meninggal dalam kecelakaan mobil..”

Donghae mengerjap, ia kini merasa binar itu perlahan menghilang dari sorot matanya. Berganti dengan airmata yang mulai membendung.

“Seluruh hidupku berubah sejak saat itu. Aku bekerja siang malam untuk biaya sekolahku dan hidupku sehari-hari. Aku bahkan sampai dikejar-kejar rentenir karena keluargaku memiliki hutang yang sangat besar. bahkan aku sampai dipekerjakan di klub malam segala.” Haebin tersenyum pahit mengingat masa-masa itu.

“Aku juga terancam di DO dari kampus karena hampir 1 tahun tidak membayar biaya kuliah. Beruntunglah saat itu Tuhan mengirimkan Tuan Lee padaku” Haebin berhenti sejenak.

“Appa?” gumam Donghae

“Beliau datang padaku seperti malaikat, mengulurkan tangannya untuk membantuku. Mengeluarkanku dari kehidupanku yang gelap. Beliau memberikanku kehidupan yang lebih baik, asalkan..” Haebin menarik napas, lalu menatap Donghae. “Aku bersedia menikah denganmu, Oppa.”

 

Sedetik Donghae hanya diam, namun sedetik kemudian matanya melebar kaget. Jadi selama ini alasan Haebin bersedia menikah dengannya untuk itu? Agar ia bebas dari kehidupannya yang dulu? Tapi.. kenapa mengetahuinya ia malah merasa sakit hati?

“Awalnya aku berpikir tidak apa-apa. Menikah? Itu bukan hal buruk. Lagipula Tuan Lee memiliki anak yang tampan. Meskipun dia dingin dan bersikap buruk padaku.” Haebin tetap melanjutkan ceritanya dan sedikit menyinggung Donghae.

Donghae masih diam. Hatinya kian bergemuruh. Entah kenapa, ia pun tidak mengerti. Sesuatu yang aneh berdesir di relung hatinya.

“Namun, setelah sedikit mengenalmu, mengetahui masalahmu, aku mencoba memahamimu sedikit demi sedikit. Dan aku tidak menyangka kalau akhirnya akan menyukaimu juga” Haebin menarik napas setelah selesai bercerita.

 

“Kenapa kau menyukaiku? Kau kan tahu aku tidak mungkin balas menyukaimu juga.” Tanya Donghae dingin. Walau sebenarnya bertentangan dengan perasaan hatinya yang kacau balau.

Haebin mengangkat bahu. “Aku juga tidak tahu. Tapi menyadari bahwa aku merasakan hal itu terhadapmu, aku jadi sangat bahagia..” jelas Haebin sambil tersenyum. Ia lalu berdiri.

“Tak peduli kau akan mengacuhkanku ataupun mendiamkanku. Aku tetap akan menyukaimu.”

 

Donghae tidak mengerti. Bukankah kebanyakan yeoja akan merasa gengsi dan segan untuk mengakui perasaannya pada namja. Tapi kenapa Haebin tampak begitu santai saat mengatakan dia menyukainya? Apa gadis itu sedang bersandiwara untuk membuatnya luluh? Namun dilihat dari sorot matanya, Donghae merasa Haebin itu begitu jujur. Seperti yang dikatakan Kyuhyun, Haebin itu yeoja yang polos dan apa adanya.

 

Huh.. kenapa ia jadi merasa panas seperti ini? Padahal malam itu angin bertiup semilir.

“Kau kenapa Oppa?” Haebin kebingungan melihat Donghae yang gusar di tempat duduknya. Berkali-kali namja itu tampak mengipasi dirinya dengan tangan. Bahkan Haebin melihat titik-titik keringat mulai membanjiri pelipisnya.

“Haebin, apa yang kau masukkan ke dalam susu yang kuminum tadi?” tanya Donghae dengan napas tersengal.

“Mwo? Aku tidak memasukkan apapun.” Jawab Haebin. kecuali vitamin yang Dokter Kim berikan padaku. Tambahnya dalam hati. Tapi bukankah biasanya tidak pernah menimbulkan efek samping seperti itu.

“Benarkah? Tapi, kenapa aku jadi seperti ini?” keluhnya kepayahan.

 

Aku ingin sentuhan.. batinnya mulai berpikir liar. Ia pernah mendengar dari Eunhyuk, seseorang akan merasakan kepanasan dan seluruh saraf di tubuhnya mengharapkan sentuhan di saat ia telah meminum obat perangsang. Oh, apa mungkin Haebin menambahkan obat terkutuk itu pada minumannya?

 

“Oppa kenapa?” tanya Haebin panik sambil memegang kening Donghae. Sontak Donghae merasakan sengatan listrik bertegangan rendah menjalari tubuhnya kala tangan Haebin menyentuh kulitnya. Secepat kilat Donghae menepis tangan Haebin dari kepalanya. haebin kaget.

“Kha!” teriaknya kencang. Haebin sampai mundur beberapa langkah.

“Kau kenapa Oppa?” tanya Haebin takut melihat Donghae seperti orang kesetanan.

 

Oke, entah Haebin jujur atau tidak, namun Donghae yakin telah meminum susu dengan obat perangsang di dalamnya. Pasti. Jika tidak, mana mungkin ia merasa seperti ini.

Donghae berdiri. Matanya menatap Haebin tajam.

“Pergi dari sini jika kau ingin selamat!” ucapnya setengah membentak. Sungguh, Donghae sudah tidak bisa menahan gejolak yang membuncah dari dalam dirinya. Ia ingin sekali menerkam gadis di hadapannya itu. Tapi akal sehatnya masih bisa bekerja normal sehingga ia masih mampu menyuruh gadis itu pergi.

“Baik..” ucap Haebin takut-takut. Ia segera berjalan agak cepat ke dalam kamar. Namun saat akan membuka pintu, ia kaget. Pintunya terkunci dan ia tidak bisa membukanya.

“Eotteohke..” lirihnya panik.

 

“Kenapa kau tidak keluar?” Donghae melihat Haebin masih berada di kamarnya, tepat di depan pintu kamarnya.

Haebin membalikkan badannya dengan ekspresi takut. “Anu, pintunya.. terkunci..”

“Apa?” Dengan langkah cepat Donghae segera menghampiri Haebin lalu mencoba memutar engsel pintu namun hasilnya nihil. Pintu memang benar-benar terkunci. Pasti ini ulah seseorang yang menguncinya dari luar. Buktinya kunci pintu yang tadinya tergantung di lubang kunci menghilang begitu saja.

Donghae menoleh pada Haebin yang berdiri di sebelahnya. Jarak mereka sangat dekat, dan dalam kondisi seperti ini, ia merasa Haebin begitu cantik dan menggodanya. Hei.. hentikan semua ini..

“Kau kenapa Oppa?” Haebin kini merasa dirinya terancam karena di intimidasi oleh tatapan Donghae seperti ingin menerkamnya hidup-hidup.

 

Akal sehat Donghae sudah menghilang sepenuhnya sekarang. Seluruh pikirannya kini mengharapkan sesuatu yang lain. Yaitu Haebin.

“Oppa, tolong jangan menakutiku..” Haebin yang tidak mengerti kondisi Donghae sedikitpun perlahan mundur seiring dengan Donghae yang maju mendekatinya.  Hingga akhirnya langkah Haebin berakhir karena terhalang tembok di belakangnya. ia melihat tatapan liar Donghae terhadapnya. Oh.. jangan bilang malam ini mereka akan… tidak…

Donghae mendekat dan Haebin tidak bisa kabur lagi karena ke dua tangan Donghae diletakkan di samping kiri dan kanan kepalanya, menghalanginya.

 

Haebin tidak bisa menghindar lagi bahkan saat Donghae mulai mengunci mulutnya dengan sebuah ciuman yang liar dan menuntut. Ia tidak bisa menghindar ataupun menolaknya. Otaknya perlahan lumpuh dan mulai menikmati permainan itu. Omona.. ini sangat memabukkan.. apakah seperti ini rasanya gairah cinta? Donghae mulai bergerak lebih jauh lagi dalam menjamahi dirinya. Ia bahkan tidak bisa melawan lagi. Ia pasrah dengan semua yang dilakukan Donghae kepadanya. Malam ini, sepertinya ia akan menyerahkan dirinya pada Lee Donghae.

 

To be continued..

 

Shady Girl [Part 6]

Judul          : Shady Girl Part 6
Author        : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre          : Romance
Lenght        : Chapter 6 of ??

Main Cast :

  • Park Hae Bin
  • Lee Donghae

Support Cast:

  • Lee Taemin
  • Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk
  • Lee Sungmin
  • Leeteuk
  • Kwon Yuri
  • Others

Shady Girl by Dha Khanzaki2

Baca lebih lanjut