Tag Archive | Sooyoung

School in Love [Chapter 22]

Tittle : School in Love Chapter 22
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : School Life, Friendship, Romance

Main Cast :
Bae Suzy | Park Jiyeon | Im Yoona
Cho Kyuhyun | Kim Kibum | Lee Donghae

Dha’s Speech :
Terima kasih pada teman-teman yang bersedia baca, memberi komentar, dan menjadi reader cinta damai. Kalau gak suka setting, pairingnya, atau apapun dalam cerita ini, jangan ngerusuh ya, lebih baik tekan tombol back saja. Selamat membaca dan maaf kalau ada typo ^_^

School in Love by Dha Khanzaki 2

=====o0o=====

CHAPTER 22
Dilemma

KYUHYUN sudah menekan bel pintu beberapa kali namun pintu kayu ganda di depannya tidak kunjung dibuka. Tidak ada reaksi dari dalam rumah sehingga Kyuhyun berpikir mungkin tidak ada siapapun di rumah ini.
“Apa tidak ada orang di rumah ini?” Kyuhyun bergumam sendiri. Sesekali ia melihat arlojinya, waktu menunjukkan pukul 18.00 sore menjelang malam. Tetapi tidak mungkin tidak ada siapapun di rumah itu mengingat Jiyeon sedang sakit. Kecuali Jiyeon tidak dirawat di rumah melainkan di rumah sakit.

Baca lebih lanjut

Iklan

All My Heart (Part 3)

Tittle : All My Heart Part 3
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Family, Friendship

Main Cast :

  • Lee Jiyeon
  • Cho Kyuhyun

Support Cast :

  • Kim Kibum
  • Kim Ryeowook
  • Im Yoona
  • Choi Sooyoung, etc

Gak kerasa udah nyampe part 3 lagi yah.. *luncurin confetty* untuk part 3 ini, siapin aja satu kotak tissue karena ceritanya bakal mengharu biru alias sedih. Author coba untuk bangun feelnya sebisa mungkin. semoga aja mempan dan reader-deul pada mewek semua. hahahah… *ketawa di atas monas*

Warning : Hati-hati dengan Mr. Typo. dia bergentayangan di mana aja.

Happy Reading ^^

All My Heart by Dha Khanzaki1

Baca lebih lanjut

All My Heart (Part 2)

Tittle : All My Heart Part 2
Sequel of : No Other
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Family, Friendship,

Main Cast :

  • Lee Jiyeon
  • Cho Kyuhyun

Support Cast :

  • Lee Hyukjae / Eunhyuk
  • Kim Kibum
  • Kim Ryeowook
  • Yesung
  • Choi Sooyoung, etc

Akhirnya punya waktu juga buat posting FF. Semoga FFnya gak ngebosenin deh.

Happy Reading ^^

All My Heart by Dha Khanzaki1

Baca lebih lanjut

All My Heart (Part 1)

Tittle : All My Heart (Part 1)
Sequel of : No Other
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Family, Friendship, Romance

Main Cast :

  • Lee Jiyeon
  • Cho Kyuhyun

Support Cast :

  • Kim Kibum
  • Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk
  • Im Yoona
  • Choi Siwon
  • Choi Sooyoung

Ini sequel dari FF No Other loh. *gak nanya* apakah ada yang kangen ama FF yang satu ini? semoga aja ada.

Maaf untuk typo dan bahasa yang amburadul

Happy Reading ^^

All My Heart By DhaKhanzaki

Baca lebih lanjut

Shady Girl Kibum’s Story (Part 2)

Tittle : Shady Girl Kibum’s Story Part 2
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre :Romance

Main Cast :

  • Cho Ja Rin
  • Kim Kibum

Support Cast :

  • Kim Heechul
  • Lee Sungmin
  • Kim Taeyeon
  • Lee Donghae
  • Choi Siwon
  • Choi Sooyoung

Sehari gak posting FF rasanya gimana, gitu. ah, akhirnya sekarang bisa posting juga. okelah, maaf untuk typo dan lain sebagainya.
Happy Reading

Shady Girl Kibum's Story by Dha Khanzaki

——o0o——-

“Nona, kau tidak apa-apa kan?” Kibum mengibaskan tangannya di hadapan muka Ja Rin. Ia bertanya-tanya mengapa yeoja di hadapannya ini tak berkedip sama sekali dan malah menatapnya tanpa henti*dia jatuh cinta ama kamu, Bummie*

Ja Rin mengerjap satu kali, dua kali, lalu pada akhirnya ia tersadar sepenuhnya.
“Hah? Iya..” ia terdiam sejenak “Ah, tidak.. aduuuhh.. kakiku sakiit..” ia mulai berakting. Tapi kakinya memang benar terasa sakit. Namun ia sengaja mendramatisir keadaan. Ia ingin sekali membuat namja di hadapannya ini panik pontang panting dan segera menolongnya. Ja Rin sengaja memasang tampang semenderita mungkin.
“Benarkah? Mana yang sakit??” Kibum langsung di dera rasa khawatir dan bersalah. Ja Rin meringis sambil menunjukkan pergelangan kakinya.
“Baiklah, aku akan membawamu segera..” tanpa di duga Kibum mengangkat Ja Rin dan membawanya ke mobilnya. Ja Rin sempat terkejut namun, ini membuatnya sangat terkesan. Ia serasa menjadi seorang putri dalam drama-drama tivi yang sedang ditolong oleh pangeran tampan. Ia senyam-senyum sendiri saat Kibum mendudukkannya di samping kursi kemudi.
Kibum bergerak cepat seperti orang yang kemallingan. Ia segera tancap gas membawa yeoja yang terkilir itu ke rumah sakit.
“Ngomong-ngomong, kita akan kemana?” tanya Heerin penasaran. Ia tidak bisa menyembunyikan wajah gembiranya.
“Rumah sakit.” Suara yang dikeluarkan Kibum terkesan panik dan buru-buru. Lain halnya dengan reaksi Ja Rin. Ia kaget setengah mati.
“Mwoooo!!!! Rumah sakit!! Shireo! Turunkan aku sekarang juga!!” teriak Ja Rin sambil mengguncang-guncang tangan Kibum yang memegang kemudi.
“Tidak bisa. Kau kan terluka. Aku harus bertanggung jawab.” Balas Kibum.
“Tapi.. tapi..” Ja Rin tidak melanjutkan. Aku benci rumah sakit..tambahnya dalam hati. Ia memelas pada Kibum. Tapi sayang sekali namja itu tidak menyadarinya. Sekarang ia menyesal berakting di hadapan Kibum. Tahu begini ia bilang tidak apa-apa saja tadi. Ia pikir namja itu akan membawanya ke rumahnya. Ternyata.. tidak.. namja itu malah membawanya ke tempat yang paling tidak ingin ia injak. Rumah sakit. Ia hanya berdoa semoga nanti ia tidak akan di suntik.

Sesampainya di rumah sakit, Kibum segera memapahnya menuju sebuah ruangan. Ja Rin sempat bingung juga. Namja ini langsung membawanya masuk ke ruangan itu tanpa berbicara dengan resepsionis ataupun suster yang ada di rumah sakit besar itu.
“Nona, kau duduk di sini yah.. tunggu aku akan mencari obat untuk menyembuhkan kakimu” namja itu hilir mudik di sekitarnya mengambil air dan handuk, lalu membuka sebuah lemari yang berisi botol-botol. Sepertinya itu obat atau entahlah. Yang pasti baunya begitu menyengat, khas rumah sakit.
Keningnya makin berkerut. Ia ingin sekali bertanya mengapa namja itu begitu lancang mengobrak-abrik ruangan orang. Tapi lagi-lagi diurungkannya karena namja itu sekarang menghampirinya dan duduk di kursi yang ada di sebelahnya.
“Ulurkan kakimu.” Pintanya dengan sopan. Ja Rin mengulurkan kakinya yang terasa sakit-roller bladenya sudah ia lepas semenjak turun dari mobil Kibum-
“Bagian sini?” tanya Kibum memastikan. Ia meletakkan handuk yang sudah dibasahi air hangat di pergelangan kakinya. Ja Rin meringis pelan lalu mengangguk. Kibum mengompresnya dengan gerakan lembut setelah itu ia memijatnya sebentar.

Sungguh, dalam jarak sedekat ini. Ia benar-benar akan kehabisan nafasnya jika terus menatap wajah namja di hadapannya. Dia begitu tampan dan lembut. Juga baik. Jangan lupakan itu. Ah, dan yang membuatnya makin terpesona adalah, dia namja yang bertanggung jawab. Di luar penampilannya yang sempurna itu, Ja Rin bisa melihat kepribadiannya yang memepesona. Ia benar-benar jatuh cinta pada namja ini.

“Siapa namamu, nona?” tanyanya membuyarkan lamunan Ja Rin.
“Cho Ja Rin” jawab Ja Rin tanpa ragu. Kibum mengangkat kepalanya, ia menatap Ja Rin sejenak. Sepertinya ia familiar dengan marga yeoja yang ada di hadapannya. Benar, marganya sama seperti Kyuhyun. Apa mungkiin??
“Kenapa menatapku?” Ja Rin gugup diperhatikan seperti itu. Kibum mengerjap. Ia tersenyum.
“Mianhae. Hanya saja margamu seperti marga temanku.” Jawab Kibum. Oh ayolah.. tidak mungkin kan ada satu orang yang bermarga CHO di dunia ini.
Ja Rin menganggapnya hanya angin lalu. Ia ingin bertanya pada namja yang ada di hadapannya ini. “Kenapa kau bisa membawaku ke sini? Memangnya..” ucapan Ja Rin terpotong karena seseorang masuk ke ruangan itu. Seorang suster cantik seusia dengannya.
“Oh, Dokter Kim.. kau sudah datang” ucapnya sambil membungkukkan badannya sejenak. Kibum bangkit. Ia tersenyum pada suster yang menurut Ja Rin nilai kecantikannya mencapai 9. Siapa dia???? Tapi tunggu, tadi suster itu bilang apa? Dokter Kim?? Jangan-jangan???
“Sooyoung, ada apa?” tanya Kibum ramah. Suster bernama Sooyoung itu menyerahkan sesuatu pada Kibum. Dan Ja Rin hanya bisa melihat keakraban mereka dengan wajah melongo. Apa maksudnya ini????
“Ini hasil rontgen dari pasien yang patah tulang kemarin. Dokter kepala menyuruhku menyerahkannya padamu.”
Kibum memakai kacamatanya lalu membuka map itu dan menelaah isinya baik-baik. Sumpah demi dewi Fortuna, Ja Rin benar-benar sesak napas melihat namja itu semakin tampan dalam ekspresi serius seperti itu. Rasanya ia ingin sekali memeluk namja itu dan tak ingin melepaskannya lagi.
“Oh, baik aku mengerti. Katakan pada Appa, maksudku dokter kepala bahwa aku akan mengambil alih pasien ini.” Ucap Kibum sambil menyerahkan kembali map yang dipegangnya pada suster bernama Sooyoung itu. Suster itu mengerti lalu pamit pergi.

Kibum kembali duduk di tempatnya tadi. Ja Rin tidak kunjung melepaskan tatapannya pada wajah rupawan Kibum. Ia mutlak jatuh cinta padanya.
“kakimu sudah lebih baik kan?” tanya Kibum. Ia memperlihatkan senyum andalannya. Ja Rin pasti sudah meleleh jika ia tidak menahan dirinya sendiri.
“Tidak.. aduh.. di sini masih sakit..” lagi-lagi Ja Rin berakting. Kakinya memang tidak terlalu sakit lagi. Malah sudah sangat baik. Tapi begitulah seorang Ja Rin bila sudah jatuh cinta. Ia sekarang sedang mencoba menarik perhatian Kibum.
Kibum berkerut samar. Ia memegang kaki Ja Rin kembali, mengeceknya. Setelah itu ia tersenyum.
“Tapi nona Cho, kakimu sudah tidak apa-apa..”
“Yang merasakan aku. Kenapa kau yakin aku baik-baik saja.”
Kibum mengangguk. “Sepertinya tidak ada cara lain kalau begitu. Aku akan memberimu suntikan penghilang rasa sakit segera”
Ja Rin melonjak mendengarnya. Ia buru-buru menahan Kibum saat namja itu hendak bangun.
“Ah.. jangan!! Sepertinya.. aku sudah baik..” Ja Rin tersenyum manis.
“Baguslah..”

Ja Rin menundukkan kepalanya. ia malu karena sudah berbohong.
“Em.. tadi kudengar suster tadi memanggilmu dokter. Apa kau sungguh-sungguh dokter di sini?” Ja Rin mengalihkan rasa malunya dengan bertanya.
Kibum mengangguk sambil membereskan alat-alat yang tadi digunakannya untuk mengobati Ja Rin.
“Benar” jawabnya. Ja Rin mengerjap. Omonaaa.. kenapa namja yang disukainya harus berprofesi sebagai dokter!! Tuhan.. apakah ini caramu menghukumku? Karena aku membenci rumah sakit dan segala yang berhubungan dengannya sekarang aku harus berhadapan dengan namja yang bekerja sebagai dokter?

__o0o__

“Sekali lagi terima kasih, Dokter Kim” ujar Ja Rin sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tidak ada senyum karena Ja Rin sangat sedih harus berpisah dengan Kibum.
“Tidak masalah. Kau terluka karena aku.” Kibum melirik kaki Ja Rin yang kini memakai sepatu yang dipinjamkan Sooyoung karena tidak mungkin Ja Rin pulang memakai sepatu roda. Itu akan membuat kakinya cidera.
“Aku harap kakimu cepat sembuh. Sebelum itu, kau jangan melakukan gerakan yang berlebihan. Dan jika terjadi sesuatu, aku harap tidak, kau tinggal mencariku di sini. Arraseo”
Ja Rin mengangguk. Pipinya merona. Ternyata sekarang ia jatuh cinta pada orang yang lembut seperti Kibum.
“Ngomong-ngomong dokter, boleh aku tahu nama lengkapmu?” Ja Rin hampir saja lupa menanyakan hal paling penting.
“Kim Kibum” jawab Kibum sambil mengulurkan tangan.

Brakkk..

Ja Rin menjatuhkan sepatu roda yang dipegangnya. Ia terkejut mendengar nama itu. Nama yang paling tidak ingin ia dengar karena mengingatkannya pada mantan pacarnya, Key alias Kim Kibum. Tubunya kaku seperti patung. Kibum terkesiap melihat reaksi Ja Rin.

“Omo, kau kenapa nona Cho?” tanya Kibum cemas. Ja Rin buru-buru menggelengkan kepalanya. ia mengambil kembali sepatu rodanya yang jatuh. Ia berusaha menahan jantungnya agar tidak berdebar kencang. Kenapa? Kenapa lagi-lagi harus sesuatu yang dibencinya??? Kenapa namanya harus Kim Kibum???
“Ah tidak.. salam kenal, Kim Kibum-ssi” ujar Ja Rin kaku. Ia bahkan memaksakan diri untuk tersenyum meskipun pada akhirnya senyumnya itu malah terlihat aneh.

Taksi yang tadi dipesan Kibum datang. Kibum membukakan pintu taksi itu untuk Ja Rin.
“Sekali lagi, terima kasih” Ja Rin menundukkan kepalanya. ia segera masuk ke dalam taksi. Saat taksi mulai berjalan, sesekali ia menoleh ke belakang. Kibum masih berdiri di sana, meninggalkan kesan mendalam dalam diri Ja Rin. Ia merenung.
“Dari sekian banyak nama, kenapa namanya harus Kim Kibum??” batinnya sambil menahan rasa sakit. Ia kembali teringat detik-detik saat ia menyaksikan Key menggandeng yeoja lain di hadapannya. Dan mengatakan bahwa yeoja itu adalah pacarnya. Lalu ia siapa? Ja Rin merasa sangat sakit karena ternyata selama ini ia dijadikan yang kedua oleh Key.

__o0o__

Kibum merasa ada yang aneh dengan yeoja bernama Cho Ja Rin itu. Sebenarnya selama gadis itu berada di sisinya, ia menyadari kalau Ja Rin terus menatap ke arahnya. Ia tidak mengerti mengapa. Tapi hanya satu hal yang ia tahu, mungkinkah yeoja itu terpikat padanya? Sama seperti yeoja-yeoja kebanyakan? Pasti begitu.

Selama ini, ia tidak terlalu terkejut saat mendengar ada yeoja yang menyukainya. Bahkan sering sekali yang nekat menyatakan perasaannnya pada Kibum. Tapi selama itu juga, ia tidak pernah tersentuh sama sekali. Hatinya seolah dirancang untuk tidak peka pada hal semacam itu. Ia juga mengira itu hal yang tidak normal. Karena kebanyakan orang pasti akan senang jika ada orang yang menyukainya. Tapi Kibum tidak pernah merasakan hal itu. Ia juga pernah berfikir ada yang salah dengan kejiwaannya. Dan sudah pernah berkonsultasi pada psikolog. Namun akhirnya ia tetap tidak bisa memahami apa yang membuatnya seperti itu.

“Ckckckc..Nona Cho, kau membuatku bingung.” Gumam Kibum sambil menggelengkan kepalanya.

Drrttt ddrrttt..

Kibum mengangkat ponselnya. “Yeobseo”
“Kibum.. jangan lupa besok kau harus meluangkan waktu.” Suara Ummanya terdengar ramah di ujung sana.
“Besok?” Kibum memutar otaknya memikirkan hari apa besok. Saat menyadarinya, ia mengerjap kaget.
“Besok kann..”
“Benar. Besok hari peringatan kematian Nunamu, Taeyeon. Jadi jangan telat datang.”
“Baik Umma. Aku mengerti.”

Setelah menutup telepon, Kibum sempat menghela napas sejenak. Kenapa waktu berlalu begitu cepat? Tanpa terasa sekarang sudah 5 tahun kakaknya meninggal dunia. Itu artinya, Minki-keponakannya, anak Taeyeon dan Sungmin-sudah berumur 5 tahun.

Benar juga. Bukankah hari ulangtahun Minki sama dengan hari kematian Taeyeon?
Kibum harus menyiapkan hadiah untuk keponakannya itu.

__o0o__

“Cho Ja Rin?? Apa yang terjadi padamu???” teriak Ummanya panik. Bagaimana tidak, putrinya yang semalam kabur entah kemana, kini pulang dalam keadaan mengenaskan. Baju berantakan, mata sembab, dan rambut tak kalah kusut seperti sapu yang sudah lama tidak dijemur(?). apa yang membuatnya menjadi begini menyedihkan?
“Kau kenapa nak?? Kau terjebak badai di mana?” Umma memapah Ja Rin agar duduk di sofa ruang tamu. “Bibi Han.. bibi Han..” Umma memanggil pembantu kepercayaannya itu. Seorang wanita berusia 40 tahunan datang tergopoh-gopoh menghampiri Umma.
“Iya, nyonya besar”
“Ambilkan handuk dan minuman untuk Ja Rin.”
“Baik.”

“Ayo minum dulu nak.” Umma meminta Ja Rin agar minum Hot Chocholate, minuman favoritnya. Ja Rin menolak. Ia sedang tidak mood untuk minum atau makan apapun hari ini. Umma tidak tega melihat putri yang biasanya sangat memperhatikan penampilan itu tampak berantakan dan tak berdaya. Dia pasti sedang menderita tekanan batin yang kuat.
“Mian Umma, tapi aku sedang tidak haus.” Ja Rin bangkit. Ia berjalan lunglai menuju tangga.
“Apa kau masih marah pada Appamu?”
Ja Rin menghentikan langkahnya. Badannya ia balikkan dengan gerakan malas.
“Tidak. Aku sudah tidak marah padanya.”
“Mwo? Lalu kenapa kau sekacau ini?”
“Semua karena…” Ja Rin buru-buru menutup mulutnya lagi. Ia tidak mau membicarakan perihal namja bernama Kim Kibum itu. “Sudahlah Umma, aku lelah. Sementara waktu, jangan ganggu aku. Aku ingin menenangkan diri.” Ja Rin kembali menaiki anak tangga yang akan mengantarkannya pada kamarnya di lantai 2.

__o0o__

Hari itu setelah diadakan upacara peringatan Hari kematian Taeyeon, keluarga besar Kim berkumpul di rumah mereka untuk merayakan ulangtahun Minki. Ulang tahun itu hanya dihadiri oleh keluarga dan teman-teman dekat saja.
“Min-chan.. saengil chukhaa..” Donghae memberikan kado untuk Minki. Gadis cilik itu makin imut saja menggunakan gaun berwarna putih. Minki melonjak senang.
“Gomawo, Oppa.. peluk Minnie..” pinta Minki manja. Ia memang selalu seperti itu jika senang. Selalu minta dipeluk. Donghae segera mengabulkannya.
“Ya! Minnie kau curang. Masa memanggil Donghae dengan sebutan Oppa sementara aku Shamchon.” Protes Heechul. Ia tidak menerima diskriminasi dalam bentuk apapun.
“Jangan kekanakan. Mungkin karena Donghae jauh lebih manis.” Jawab Sungmin. Ia melirik istrinya, In Sung yang hanya tertawa menanggapi sifat Heechul.
“Huh, padahal aku jauh lebih tampan..” pedenya mulai kambuh lagi.

Haebin sendiri dari tadi tidak bisa melepaskan perhatiannya dari kue tart yang ada di sana. Huuh.. padahal usia kandungannya sudah 7 bulan lebih. Tapi kenapa ia tetap ngidam juga??? Ia ingin memakan kue itu..
“Kenapa?” tanya Siwon bingung. Ia melirik pada Donghae sekilas. Suami Haebin itu sibuk bermain dengan Minki.
“Aku ingin kue itu Oppa, bolehkah?” tanya Haebin sambil memamerkan puppy eyesnya.
“Tentu saja boleh. Sebentar…”
Haebin buru-buru menahannya. “Tunggu Oppa”
“Kenapa?”
“Aku ingin Eunhyuk Oppa yang mengambilkannya..”
“Nde??” Siwon lalu melirik Eunhyuk. “Kenapa harus monyet yadong itu? Dampaknya akan buruk terhadap bayimu. Sudah aku saja…”
“Tapi aku ingin Eunhyuk Oppa yang mengambilkaaannnn..” rengek Haebin. suaranya itu otomatis membuat semua orang fokus padanya.
“Ya! Kau apakan istriku!!” protes Donghae. ia menghampiri Siwon dan Haebin.
Siwon kebingungan menghadapi situasi seperti ini. Ia menoleh kikuk pada kue tart yang masih utuh itu.

Sementara orang lain meributkan soal Haebin yang mengidam, Kibum sejak tadi diam saja. Ia diam di depan foto kakaknya yang berada di altar tempat upacara tadi berlangsung. Duduk bersimpuh di lantai dengan pandangan lurus ke arah foto itu.
“Nuna, andai kau masih hidup.. segalanya pasti akan berbeda sekarang. Meskipun semua orang di rumah ini menganggap remeh padaku, setidaknya hanya kau yang memihakku. Tapi,, kenapa kau pergi meninggalkanku? Dulu, saat Yoona meninggal, aku tidak terlalu sedih karena masih ada kau. Dan kau pun meninggalkanku. Aku.. aku tidak tahu harus bergantung pada siapa lagi..” lirihnya.

Terkadang, bila mengingat kenyataan itu ia sering kali menangis sendirian. Dari luar, Kibum memang tampak tegar dan kuat. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia memendam rasa kesepian dan kesedihan. Tidak ada orang yang mengetahuinya.

Pikirannya berkelebat pada kejadian 5 tahun lalu. Saat Sungmin dengan wajah paniknya membawa Taeyeon ke rumah sakit karena akan melahirkan. Saat itu ia belum menjadi seorang dokter. Ia masih sebagai mahasiswa kedokteran.

#flashback#
“Taeyeon..bertahanlah. sebentar lagi kau akan masuk ke ruang operasi.” Sungmin terus memegang tangan Taeyeon yang mengerang kesakitan karena kontraksi. Taeyeon di bawa masuk ke ruang persalinan.
“Nuna..kau harus kuat..” ujar Kibum sambil menemani dokter yang akan membantu proses persalinan Taeyeon. Ia juga tak lupa meyakinkan Sungmin agar tetap tenang.
“Tuan, sebaiknya anda menunggu di luar. Tenangkan keluargamu yang menunggu di luar sana.” Ujar Dokter Park, dokter yang menangani proses persalinan Taeyeon.
Kibum sebenarnya tidak ingin. Namun akhirnya ia keluar juga.

Selama kurang lebih 1 jam, ia menunggu Taeyeon yang berjuang melahirkan bayinya di dalam sana. Kibum menoleh pada Appa, Umma, dan Heechul yang berwajah khawatir sama seperti dirinya. Saat itu Kibum merasa tidak berguna. Andaikan ia sudah menjadi dokter sekarang. Ia pasti akan menolong kakaknya detik itu juga.

Kibum merasakan firasat buruk. Entah apa itu. Tapi firasat itu hilang ketika terdengar suara tangis bayi dari dalam ruangan. Tubuh Kibum yang semula lemas langsung pulih begitu tahu bahwa kakaknya sudah melahirkan. Tidak hanya ia, tapi semua keluarganya pun segera bersyukur.

Dokter keluar, ia mempersilakan keluarganya masuk untuk melihat.

“Selamat Tuan, Nyonya, bayi yang lahir perempuan.” Kata Dokter Park sambil menyerahkan bayi yang masih merah dan diselubungi oleh selimut hangat pada Tuan Kim selaku kakeknya.
“Cucuku.. pasti akan tumbuh menjadi anak yang cantik kelak. Seperti ibunya.”

Kibum sangat terharu menyaksikan kejadian itu. Ia menengok pada Sungmin. Kakak iparnya itu masih memegangi tangan Taeyeon yang tampak sangat lemah.
“Nuna, kau sudah menjadi ibu sekarang..” ucap Kibum. Taeyeon meneteskan airmata bahagianya.
“Terima kasih, Kibum.” Ucapnya lemah.
“Hyung, kau juga sudah jadi Appa sekarang.”
Sungmin mengangguk dengan wajah senang juga. Tapi ada rona kesedihan di wajahnya. Kibum mengerjap saat melihat Sungmin meneteskan airmata.
“Hyung, kenapa kau menangis?”
Sungmin menggeleng. Genggaman tangannya mengerat. Taeyeon tersenyum lemah.
“Yeobo, aku tidak akan meninggalkanmu. Kau jangan menangis.” suaranya begitu pelan. Tapi Kibum bisa mendengarnya. “Meskipun aku pergi, kau tetap harus bahagia.”
Sungmin tak bisa menahan airmatanya.meskipun ia tidak terisak, tapi air mata itu terus jatuh dari ekor matanya.
“Apa maksudnya ini??” tanya Kibum bingung.

Barulah ia tahu saat dokter menjelaskannya dengan tenang di luar ruangan persalinan itu.
“Pasien mengalami komplikasi. Tapi dia tetap bersikeras ingin melahirkan bayinya. Itu sangat beresiko untuk keselamatan nyawanya. Dan maaf, tapi kami tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan pasien.” Ujar Dokter Park menyesal.
Tuan Kim membelalakkan matanya, kaget. “Apa maksudmu dengan tidak ada yang bisa dilakukan? Jadi maksudmu kau membiarkan putriku mati? Putriku satu-satunya?”
Dokter Park menghela napas. “Maaf Dokter kepala, aku sudah memperingatkannya sejak awal bahwa ini sangat beresiko untuk keselamatannya. Tapi pasien tetap bersikukuh ingin melahirkan.”
Nyonya Kim juga tak bisa menahan airmatanya saat mendengar hal itu. Ia menangis.

Kibum pun syok. Sangat terkejut. Bagaimana mungkin.. bahkan Heechul terus diam sejak tadi. Ia juga merasakan hal yang sama.

Kibum masuk kembali ke dalam kamar tempat Taeyeon berbaring untuk menghadapi detik-detik terakhir hidupnya. Langkahnya begitu pelan. Seakan ia takut membuat lantainya hancur jika ia berlari di atasnya.
“Nuna..” ucapnya terisak. Taeyeon sangat lemah. Ia hanya bisa tersenyum pada Kibum. Sungmin sudah lebih tenang. tapi jelas sekali dia yang paling sedih menghadapi situasi ini.
“Nuna, kajima..” ujar Kibum. Airmatanya mengalir deras.
“Kibum, setelah Nuna pergi, kau harus kuat. Kau ini adikku yang paling hebat. Jangan biarkan dirimu terus kesepian. Bahagialah. Kau mau kan berjanji pada Nuna?”
Kibum mengangguk lemah. Kepalanya tertunduk. Taeyeon mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Kibum.
“Adikku, Nuna yakin kau bisa menjadi dokter. Kau bisa membuktikan pada dunia bahwa kau ini hebat. Buatlah Nuna bangga. Kibum, kemarilah.” Taeyeon meminta Kibum agar mendekatinya. Kibum menurut. Taeyeon meminta Kibum agar memeluknya. Pelukan perpisahan.

“Nuna, aku menyayangimu.. sangat..” lirih Kibum.
“A-ra” jawab Taeyeon lemah. Ia lalu meminta Sungmin juga untuk memeluknya.
“yeobo, aku percayakan anak kita padamu..jangan kau buat dia merasakan kesepian karena tidak ada aku. Buat dia merasa memiliki segalanya.”
Sungmin kembali meneteskan airmatanya. “Tentu saja. Aku berjanji”
Taeyeon tersenyum. Ia menitikkan airmata bahagia. Tak lama juga masuk Appa, Umma, dan kakaknya. Taeyeon tersenyum untuk terakhir kalinya. Ia belum sempat mengatakan perpisahan pada mereka. Karena detik itu juga, mata Taeyeon tertutup, nafanya terhenti bersamaan alat pendeteksi detak jantung berbunyi nyaring pertanda pasien sudah pergi untuk selama-lamanya.

Yah..Taeyeon pergi dalam keadaan bahagia hari itu. Pergi setelah memberikan kesempatan pada anaknya untuk melihat dunia. Pergi dalam keadaan di kelilingi oleh orang-orang yang dicintainya. Sungmin memeluk istrinya yang sudah tidak bernyawa itu. Tangisannya pecah. Tidak hanya Sungmin, bahkan semua orang menangis mengiringi kepergian Taeyeon.

#flashback end#

Kibum menangis teringat hari itu. Hatinya terasa sepi kembali seiring dengan kenyataan bahwa tidak ada lagi orang yang bisa mendukungnya di saat ia sedih. Teman-temannya memang selalu ada, tapi itu berbeda. Ia merasa berbeda.

“Nuna, aku merindukanmu..” lirihnya..

To be continued..

No Other (Part 4)

Tittle : No Other Part 4
Author : Dha Khanzaki a.k.a shin Je Young
Genre : School Life, Friendship, Family, Romance

Main Cast :

  • Lee Jiyeon
  • Cho Kyuhyun

Support Cast :

  • Kim Kibum
  • Lee Donghae
  • Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk
  • Im Yoona
  • Hankyung
  • Choi Siwon
  • Choi Sooyoung
  • Kim Jong Woon a.k.a Yesung
  • Kim Ryeowook
  • Kim Heechul
  • Seo Joo Hyun a.k.a Seohyun
  • Leeteuk
  • Bae Suzy

Warning : typo bertebaran di setiap sudut, bahasa kamseupay

No Other by DhaKhanzaki

——–0.0——–

Besoknya,
Kaki Jiyeon sudah sedikit sembuh. Ajaib sekali. Ia bisa sekolah. Eomma, Appa dan kedua Oppanya juga tidak melarangnya sekolah. Tapi sebelum ke sekolah, ia mampir untuk melihat motor yang sedang di perbaiki di bengkel milik orangtuanya Donghae.
“Bagaimana, tidak ada yang rusak parah kan?” tanya Jiyeon. Donghae berdiri di sampingnya.
“Tidak. Hanya lampu depannya saja pecah” jawab montir yang memperbaikinya. Jiyeon dan Donghae mengangguk paham.
“Syukurlah” Jiyeon lega sekarang. Motor itu motor kesayangan Sungmin. Jiyeon tidak tega membuat oppanya sedih.

“Aku dengar dari Sungmin Hyung kakimu terluka. Kenapa mondar-mandir seperti ini? Kau
harusnya istirahat!” tegur Donghae. Jiyeon meliriknya tajam. “Apa kamu juga ingin menceramahiku? Tenang, aku baik-baik saja”
“Aku ini mencemaskanmu.” Ujarnya. Jiyeon ini tidak bisa melihat ekspresi cemasnya sekarang apa?
Jiyeon langsung memegang pundak Donghae dengan kedua tangannya.
“Gomawo atas perhatianmu, aku harap kamu bisa mendapatkan gadis yang baik juga”
Donghae mengerutkan kening bingung. “Hei, apa maksudmu?”
“Tenang, aku akan membantumu mendapatkan hati Yoona” ucap Jiyeon seraya mengacungkan jempolnya. Donghae terperanjat, cepat-cepat dia menepis tangan Jiyeon dari pundaknya.
“Kau bercanda? Memang apa hubungannya?”
Jiyeon berdecak “Kamu pikir aku tidak tahu. Hah, sikapmu pada Yoona itu mudah sekali
ditebak.” Ucapnya. Jiyeon lalu pergi. meninggalkan Donghae yang menatapnya dengan ekspresi bingung luar biasa.

@@@

*di sekolah*

“Aigoo,, Jiyeon. Memangnya kamu sudah sembuh?” seru Yoona ketika bertemu Jiyeon di depan gerbang.
“Tentu saja! Lihat, aku bisa berjalan normal” jawab Jiyeon enteng. Yoona geleng-geleng kepala. “Berarti kamu siap untuk tes menari nanti?”
“Tentu!” Jiyeon mengangkat jempolnya. Sesaat kemudian ia teringat sesuatu. “Oh iya, kamu tahu namja yang bernama kyuhyun tu kelas berapa?”
“Dia sekelas dengan Wookie. Kenapa memangnya?”
“Ini, aku mau mengembalikan ponselnya. Kemarin tidak sengaja tertinggal.” Jiyeon mengeluarkan ponsel Kyuhyun dari dalam saku jas seragamnya.
Yoona belum sempat menjawab karena Ryeowook datang menghampiri mereka.
“Pagi…” ucapnya dengan wajah cerah seperti biasa.
“Pagi..” balas Yoona.
“Wookie kebetulan sekali..” Jiyeon bermaksud mengatakan sesuatu ketika tiba-tiba suara klakson mobil mengejutkan mereka bertiga. Otomatis ketiga orang itu menoleh bersamaan.
“hei, kalian, bisa kan kalian tidak berdiri di tengah jalan” ucap Kyuhyun kesal. Mobilnya jadi tidak bisa lewat karena ada orang yang memblokir jalan. Sedetik kemudian raut wajahnya berubah terkejut saat melihat Jiyeon.
“Ah Kau?”
“Kau” Jiyeon pun ikut terkejut.
Kyuhyun malas berhadapan dengan Jiyeon, lantas ia kembali menjalankan mobilnya.
“Hoi kau, tunggu!!” Jiyeon ingin mengejar, tapi kakinya kan baru saja sembuh. Jadi niatnya ia batalkan. Sekarang perhatiannya teralih pada Ryeowook.
“Wookie, aku minta tolong padamu” ucap Jiyeon.
“Apa? Soal Hyung lagi?” goda Ryeowook. Sejauh ini Jiyeon selalu meminta bantuannya jika menyangkut masalah Heechul.
“Bukan!” Jiyeon diam. Ah, apa sebaiknya ia serahkan sendiri saja. Itu lebih terkesan sopan. Baiklah..”Tidak jadi deh.”

__o0o__

Waktu istrahat, Jiyeon menolak ketika diajak makan di kantin oleh Yoona. Alasannya karena ia ingin mencari Kyuhyun untuk mengembalikan ponselnya.
“Jiyeon!” panggil Siwon. Langkah gadis itu terhenti. Tubuhnya segera membalik bersamaan dengan sosok Siwon yang semakin dekat dengannya.
“Oppa.. Ada apa? Ah, mian. Kemarin aku telat menyerahkan CD-nya” Jiyeon menyesal. Siwon tidak terlihat marah. Malah raut wajahnya begitu khawatir.
“Kau tidak apa-apa kan? Aku dengar kemarin kau kecelakaan”
Jiyeon sempat takjub juga. Ternyata, Oppa kandungnya ini menaruh perhatian juga padanya. “aku baik-baik saja. Lihat” ia menunjukkan dirinya yang tampak segar bugar agar Siwon percaya.
“Kamu ini, membuatku cemas setengah mati”
“Maaf” Jiyeon bukannya merasa bersalah ia justru merasa sangat senang. Ternyata oppanya yang satu ini juga tidak kalah baik dengan Sungmin dan Eunhyuk. Saking terharunya tanpa sadar Jiyeon memeluk Siwon. Padahal di sana kan koridor yang tidak sepi.

“Huuu~” orang-orang langsung berseru melihat kejadian itu.
“Jiyeon, di sini banyak orang. Lepas!” ucap Siwon panik. Mengingat statusnya juga seorang publik figur. Jiyeon sadar, ia lekas melepaskan pelukannya.
“Mian” Jiyeon membungkuk meminta maaf lalu pergi sebelum ada fans Siwon yang membantainya.

Baru pergi beberapa langkah saja ia sudah kembali berhenti. Di hadapannya kini berdiri Kibum tengah menatapnya dengan pandangan datar.
“Emh, hai” Jiyeon salting sambil mengangkat tangannya. Kibum malah memalingkan pandangannya. Ioh, reaksi yang mneyebalkan!
Tanpa diduga dia berjalan melewati jiyeon tanpa berkata sepatah katapun.
“Yesung oppa, apa dia sudah lebih baik sekarang?” tanya Jiyeon. Kibum berhenti. Itu membuat Jiyeon lega, entah kenapa. Kibum membalikkan badan.
“Aku tidak akan bertanya kenapa kamu bisa mengetahuinya” ucapnya datar. Jiyeon mngerutkan kening.
“kau, marah padaku?” tanya Jiyeon heran.
“Ani” kibum hendak pergi. Tapi Jiyeon menghalanginya.
“lalu kenapa kau bersikap seolah-olah kita ini musuh? Setidaknya kita bisa berteman lagi kan, setelah.. Setelah..” Jiyeon tidak berani melanjutkan kalimatnya.
“Aku tidak akan pernah menjadikanmu temanku” jawab Kibum datar. Jiyeon terkejut.

“kenapa?”
“karena aku tidak akan jatuh cinta pada temanku!” setelah menjawabnya Kibum pergi. Jiyeon terpaku. Otaknya bekerja lambat siang itu.
“Apa maksudnya?” Jiyeon tidak mengerti sama sekali. 5 detik kemudian ia baru mengerti.
“ah!” tapi ketika berbalik sosok Kibum sudah menghilang. Loh, kemana anak itu?

—-o0o—-

Jiyeon mencari Kyuhyun, seperti yang dikatakan teman sekelasnya selalu berada di ruang praktek saat istirahat.
Beberapa langkah lagi menuju ruangan itu sudah terdengar dentingan alunan piano. Jiyeon membuka pintu sedikit dan mengintip.

_coz’ there’s something in the way.. You look at me.. It’s as if myheart knows.. You’re the missing piece.._

Kyuhyun duduk di balik grand piano menyanyikan lagu Christian Bautista diiringi permainan indah jari-jarinya diatas piano. Tidak hanya permainannya, namun, suara dan cara namja itu menyanyikannya pun mampu membuat Jiyeon terasa seperti terlempar ke dunia lain. Seolah dunia di sekitarnya memudar dan ia hanya melihat sosok Kyuhyun dengan jelas.

Lagi-lagi, dan lagi-lagi Jiyeon dibuat terhanyut. Ternyata benar, lagu yang didengarnya kemarin adalah lagu yang dinyanyikan oleh Kyuhyun sendiri.
Begitu nada berhenti Jiyeon merasa alam khayalnya hancur dan ia tersadar kembali. Segera saja ia menghampiri Kyuhyun sebelum dia menghilang lagi.
“Sedang latihan untuk tes nanti?” tanya Jiyeon polos. Mengingat ujian tes sebentar lagi.
“Ah, kau! Jangan membuatku kaget!” seru Kyuhyun kaget. Jiyeon muncul tiba-tiba sih.
“Aku tidak sedang latihan. Ini hanya keisenganku saja” elak Kyuhyun. ia menutup piano itu lalu bangkit.
“Tapi suaramu bagus” Jiyeon berkata jujur. Selama ini ia hanya mengakui suara Sungmin saja yang bagus. Jika ia memberikan satu jempol untuk Oppanya itu, maka ia memberikan 2 jempol untuk Kyuhyun
“Semua orang juga tahu” jawabnya pede seraya mengendikkan bahu. Ia melirik Jiyeon datar.
“Apa maumu? Kau bukan secara kebetulan kemari kan?”
Jiyeon menjentikkan jarinya “Binggo!! Nih” Jiyeon menyerahkan ponsel Kyuhyun. Tapi dia melengos pergi melewatinya. Jiyeon terpaku. Dia serasa jadi orang bodoh.
“Ya!” Seru Jiyeon jengkel.

“Aku hanya ingin mengembalikan ponselmu!” teriak Jiyeon sambil mengejarnya. Kyuhyun berhenti. Ekspresinya saat menatap Jiyeon tetap datar dan dingin.
“Ponsel itu untukmu saja. Aku sudah tidak suka” Kyuhyun pergi lagi.

Jiyeon kaget mendengarnya. “Mwo, tapi ini terlalu mahal, hei Kyu!” Jiyeon mengejarnya lagi sambil berteriak di koridor. Kyuhyun menghentikan langkahnya lagi. Teriakan Jiyeon benar-benar mengganggu dan membuatnya kesal.
“Siapa yang menyuruhmu memanggil Kyu, HAH? Jangan sok akrab, ok!” Kyuhyun memasang tampang evilnya.
“Tapi, semalam…” ucapan Jiyeon terpotong karena tiba-tiba Heechul datang memanggil. Ah, Itu pangeran berkuda putihnya. Bagaimana ini.

Jiyeon jadi gugup sendiri melihat Heechul berjalan menghampiri Kyuhyun. tampangnya kesal seperti singa kelaparan dan gagal mendapan santapan makan malamnya.
“Dasar bocah tengik! Aku bilang datang ke tempat latihan jam 10. Kau malah berkeliaran di sini” ucapnya sambil berkacak pinggang. Weish! Jiyeon terbelalak. Ia kan belum bilang pada Kyuhyun tentang itu.
“Hyung, memangnya kapan kau bilang?” Kyuhyun bertanya dengan wajah innocent. Heechul menarik napas kesal.
“tadi malam!” tegasnya penuh penekanan. Ada apa ini? Apa Kyuhyun amnesia. Baru saja semalam ia menelepon dan namja ini sudah lupa?

Kyuhyun bingung, seingatnya tidak ada yang menelepon semalam “tadi ma–” Kyuhyun berhenti karena ia baru ingat sesuatu. Ia menoleh pada Jiyeon yang memegang ponselnya semalam.
Gadis itu tersenyum serba selah dan mengangkat ponselnya sambil memberitahu dengan bahasa isyarat bahwa Heechul memang menelepon semalam. Ia mengangguk paham.
“Oh ya, aku lupa” ucap Kyuhyun bohong.
“Sekarang mana lagu yang kau janjikan itu?” Heechul mengulurkan tangannya meminta Kyuhyun menyerahkan sekarang juga. tapi Kyuhyun malah menepuk keningnya sendiri.

“Aishy, aku meninggalkannya di kelas”
Heechul mengepal tangannya yang terulur. Uh, dia ingin sekali menjitak kepala Kyuhyun
“Kau ini! Loh, kau kan adiknya Eunhyuk dan Sungmin” seru Heechul saat menyadari keberadaan Jiyeon di sana. Tentu saja di sapa begitu Jiyeon salah tingkah.
“Ne, oppa.” jawabnya sambil tertawa tidak jelas. Kyuhyun tersenyum sinis melihatnya.
“Aku tidak tahu kalau kalian dekat. Jangan-jangan…” Heechul menebak-nebak. Wajahnya tersenyum menggoda Kyuhyun dan Jiyeon

“TIDAK!” tegas Kyuhyun dan Jiyeon bersamaan. Heechul sampai kaget di serbu teriakan oleh dua orang sekaligus.
“Tidak Hyung, aku tidak dekat dengannya” tegas Kyuhyun.
“Iya Oppa, aku juga tidak mau dekat dengan namja tengil ini” jawab Jiyeon panik. Kyuhyun melirik tajam ketika Jiyeon menyebutnya namja tengil.

Heechul tertawa melihat reaksi Jiyeon dan Kyuhyun. mereka seperti baru saja tertangkap basah. Jika memang tidak ada apa-apa seharusnya mereka menjawabnya dengan santai.
“Calm down. Fine, aku tidak akn mengganggu kalian. Kyu, ambil lagumu itu sekarang. Lalu temui kami di ruang latinan. Ok” Heechul menepuk pundak Kyuhyun lalu prgi.

Yah.. Jiyeon hanya memandangi kepergian Heechul dengan wajah pasrah. Kyuhyun membalikkan badannya menghadap Jiyeon. Sudah banyak sekali kekesalan menumpuk dalam dirinya.
“Heh yeoja rese, kenapa kau tiadk bilang Heechul Hyung menelepon semalam?”
Jiyeon balas menatap Kyuhyun, tapi ia tidak bisa membalas melotot seperti yang namja itu lakukan sekarang. “Aku mau bilang, kau saja yang tidak mau dengar”
Kyuhyun mendesah berat. Sebaiknya ia pergi. menghadapi yeoja-yeoja polos seperti Jiyeon membuatnya malas. “Aish!! Gara-gara kamu aku kena semprot dia sekarang!” Kyuhyun lalu pergi sambil menggerutu.
“Dsar namja aneh!” Teriak Jiyeon. Sekarang ia tidak mau mengejar Kyuhyun. malas sekali. Namja seperti Kyuhyun harusnya dilenyapkan dari muka bumi. Ia menatap tangannya dan terkejut saat melihat ponsel namja rese itu masih digenggamnya.
“O?? Ponselnya!!” lagi-lagi ia lupa mengembalikannya.

—-o0o—-

Jiyeon dan Yoona tengah latihan menari unyuk tes nanti di lantai 2 rumah Jiyeon. Musik beat mengalun mengiringi gerakan luwes keduanya. Namun gerakan Jiyeon terbatasi karena kakinya belum sembuh total sementara Yoona bergerak dengan energik.
“aduh, gerakanku payah nih!” keluh Yoona. Ia duduk menyandarkan diri pada tembok yang dingin sambil mengelap keringat yang mengucur.
“Kau masih mending, gerakanku lebih payah lagi” sambung Jiyeon ikut mengeluh.
“kau wajar sedang terluka”
“Ah, harusnya aku minta diajarkan Donghae saja. Dia kan masternya!!” seru Jiyeon. Yoona tertawa. “Kau benar. Harusnya aku juga memintanya mengajariku.”

Jiyeon mendesah. “Kalau padamu Donghae pasti dengan senang hati mengajarkan”
Yoona menoleh bingung “Maksudmu?”
“lupakan” tepis Jiyeon. Ia lupa Yoona sama naifnya dengan Donghae. padahal tingkah Donghae sudah sangat jelas padanya. semua orang juga sudah tahu hal itu. tapi Yoona tidak pernah sadar. Dan anehnya, Donghae juga tidak mau mengakui kalau dia menyukai Yoona. Bagus, pasangan yang serasi!

“Buat apa minta diajarikan Donghae kalau kau punya Oppa sang maestro tari” ucap Eunhyuk mendadak muncul.
“Oppa?! Kau tidak membantu Appa di resto?” Jiyeon setengah senang, setengah bingung. jam segini harusnya kakaknya itu sibuk membantu di restoran. Eunhyuk menggeleng seraya berjalan mendekat.
“Tidak. Hari ini jadwal Hyung yang bertugas. Btw, tadi kalian bicara soal tari. Mau aku ajarkan?” Eunhyuk menawarkan diri dengan sukarela. Jiyeon dan Yoona saling berpandangan. Senyum sumringah pun merekah di bibir keduanya.
“Mau!” seru mereka bersamaan.
“Come on!!” teriak Eunhyuk seraya menarik keduanya berdiri. Yoona beralih menyalakan kembali musik dan Eunhyuk pun mulai mengajarinya.

Di sekolah Eunhyuk terkenal sngt piawai menari. Yang mampu menyainginya dari sekian banyak dancer di sekolah hanya Donghae saja.

Tralilalila..

Jiyeon berhenti latihan sejenak karena ponselnya berbunyi.
“hallo..” ucapnya agak terengah karena baru saja menari.
“my doll?”
Jiyeon mengerjap mendengar suara ibunya. “Mommy!!” serunya senang. ia memindahkan ponselnya ke telinga kanan. Jiyeon berjalan ke beranda untuk mencari suasana tenang.
“Kamu tidak merindukan Mama chagi?”
“Sangat. Ma, kapan Mama pulang?. Aku ingin sekali bertemu denganmu” ucap Jiyeon, ia menyandarkan punggungnya pada pagar beranda. Memandang Yoona dan Eunhyuk yang asyik menari di dalam.
“Mama juga, ingin bertemu dengamu dan Siwon. Oh iya, Mama sudah mengirimkan kartu undangan pesta sayang, Mama ingin kamu dan Siwon datang mewakili Mama.”
“Loh, kenapa? Mama sibuk di Hongkong?”
“Itu sudah sangat jelas.”
Jiyeon mengangguk paham. “Pesta apa?”
“Ulang tahun perusahaan teman Mama. Kamu datang ya sayang. Ajak oppa mu juga”
“oke! Buat Mama apa sih yang tidak, hehe”

Bahkan setelah pembicaraan usai pun, senyum gembira terus menghiasi wajahnya. Jiyeon sangat senang karena sudah berbicara dengan Mama. Sekarang ia bisa lepas menari sepuasnya.

—o0o—

Hari minggu,

Ryeowook mengajak Jiyeon ke suatu tempat siang itu. Jiyeon tidak terlalu keberatan. Ia tidak ada kegiatan dan seharian di rumah bisa membuatnya mati kebosanan. Yah, Sekalian ia juga ingin jalan-jalan.
“Ini kan!” seru Jiyeon ketika tiba di depan sebuah hotel mewah. Ryeowook menoleh kaget.
“kenapa?” tanyanya bingung

Jiyeon tidak cepat menjawab. Ia sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya. Begitu menemukannya, ia meneliti kartu undangan yang dikirimkan Mamanya. Tidak salah lagi, alamat dan nama hotelnya sama. Jangan-jangan…
“Kita mau ngapain kemari?” tanya Jiyeon. Ryeowook mengangkat kamera yang dibawanya.
“Memotret keadaan panggung. Hyung dan bandnya akan tampil pada sebuah pesta di hotel ini”
Mata Jiyeon melebar seketika begitu mendengar nama Heechul. “Heechul Oppa?? Sini, biar aku saja yang memotret” Jiyeon langsung mengambil kamera dari tangan namja manis itu.
Ryeowook mencibir pelan. “Hu! Kalau soal Hyung kau selalu girang”
“Hehe” Jiyeon cengengesan tidak jelas. Ia sudah terlalu sering merepotkan Ryeowook menyangkut Heechul. Jadi bingung harus membalas apa. Mereka pun masuk.

—o0o—

*di rumah sakit*

Kyuhyun baru selesai medical check up. Sekarang ia sedang berjalan di lorong, merenungkan hasil pemeriksaan tadi. Untunglah hasilnya tidak membuat Kyuhyun kehilangan semangat.
Saat mengangkat kepalanya yang tertunduk, tanpa sengaja ia melihat Kibum dan Sooyoung berjalan masuk ke sebuah ruangan. Entah kenapa ia penasaran. Kyuhyun bergegas mengendap-endap seperti mata-mata, lalu mengintip dari kaca pintu.

Di dalam sana ia melihat Kibum, oranh tuanya, Sooyoung, dan Yesung yang terbaring di ranjang. Keningnya berkerut.
“loh, sejak kapan Yesung Hyung masuk rumah sakit? Bukannya seharusnya dia sibuk debut sebagai penyanyi” pikir kyuhyun. Setahunya Yesung adalah bintang yang debut bersama Siwon tahun ini.

Karena terlalu sibuk melamun, ia tidak sadar dari dalam sana ada orang yang berjalan mendekat ke arah pintu. Aishy!! Kyuhyun kaget karena pintu tiba-tiba terbuka. Ia pura-pura sibuk menelepon. Sooyoung mengerjap senang melihat Kyuhyun ada di hadapannya. ini kebetulan yang menyenangkan.
“Kyuhyun..” ucap Sooyoung senang.
Kyuhyun menoleh, dan memasang wajah innocent. Ia pura-pura kaget.
“Hei, Sooyoung” sapanya.
“Sedang apa kau di sini? Oh, kau ingin menjenguk oppa juga?”
“Anii” Kyuhyun mengibaskan tangannya cepat. “tadi aku habis menjenguk saudara di sini” akunya bohong. Sooyoung percaya saja karena ia yakin Kyuhyun tidak pernah membohonginya.

Kyuhyun dan Sooyoung adalah teman sejak kecil. Tapi sekarang hubungan mereka tidak begitu dekat lagi. Entah apa penyebabnya.
“Kau tidak ingin jenguk oppa, dia pasti senang bisa bertemu denganmu”
Kyuhyun tersenyum simpul. Ia ingat dulu ia bersama Yesung selalu latihan bernyanyi bersama saat SMP. Masa-masa yang indah. Dan sekarang kenangan itu hanya tinggal memori. Kyuhyun maupun Yesung sudah mengambil jalannya masing-masing.
“Nanti saja”
“Kenapa? Apa karena ada Kibum? Ada apa dengan kalian berdua.. Kalian perang dingin tanpa sebab”

Kyuhyun berhenti tersenyum. Kibum juga temannya sejak kecil. Dulu mereka sangat akrab. Tapi sekarang. Entahlah, ia merasa Kibum membencinya. Dan sialnya, ia tidak tahu alasannya.
“Soal itu aku juga tidak mengerti” lirih kyu. Kibum tidak pernah menyapanya lagi sejak SMP. Ditambah mreka masuk ke SMP yang berbeda. Jadi sampai sekarang Kyuhyun tetap tidak mengerti.
“Ah, ya sudah, aku pergi dulu. Sampaikan salamku pada Hyung ya”
“oh, ne” ucap sooyoung.

Kyuhyun tidak ingin berlama-lama di sana. Lantas ia pergi. Di tempat parkir ia menghampiri Hankyung yang sedari tadi menunggunya. Ia terkesiap melihat Kyuhyun berwajah suram.
“Lama sekali. Apa hasilnya mengecewakan?”
“Enak saja! Aku baik-baik saja kok!” tepis kyuhyun. Hankyung terkekeh pelan. Ia mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Ia tidak mau mendengar omelan Kyuhyun lebih panjang lagi. Mereka kemudian masuk mobil. Kyuhyun duduk di samping kursi kemudi dan memasang sabuk pengaman.
“Oh iya, tadi Leeteuk Hyung menelepon, katanya kita harus datang ke hotel sekarang. Dia sudah mencoba menghubungimu tapi tidak bisa” jelas Hankyung panjang lebar. Ia mulai menyalakan mobil, kemudian mengemudikannya dengan tenang.
“Oh, tadi ponsel kumatikan. Untuk apa Hyung menyuruh kita ke hotel?”

Hankyung mengendikkan bahunya. “Entahlah, mungkin membicarakan soal pesta”
“Aish! Aku malas, tapi aku tahu Hyung pasti mengamuk jika aku tidak menurutinya” keluh Kyuhyun membuat Hankyung tertawa kencang.
“Hahaha. Kau juga yang tengil”
Kyuhyun menoleh horor pada sepupu Cina-nya itu. “Han, kau jangan memanggilku tengil juga! Aish, menyebalkan!”

—o0o—

*di hotel*

Jiyeon memotret semua sudut ballroom tempat pesta di adakan. sementara Ryeowook melihat-lihat sekitar. Ia menoleh pada Jiyeon yang asyik memfoto beberapa objek. Ia jadi curiga, jangan-jangan Jiyeon hanya menghabiskan memori kameranya dengan memotret gambar-gambar aneh.
“Sini aku liat” Ryeowook mendadak mengambil kamera dari tangan Jiyeon untuk melihat hasilnya. Seperti dugaannya, ia menatap Jiyeon jengkel.
“Aigoo, foto apa ini? Kau hanya mengambil gambar-gambar tidak jelas!” protesnya karen hanya ada gambar dekorasi ruangan dan foto panggung hanya sedikit.

Jiyeon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Sorry, habis ballroomnya bagus banget. Interior gaya kastil-kastil Perancis” ucap Jiyeon sambil cengengesan.
“ah, sia-sia aku mengajakmu. Tahu begini aku ajak Yoona saja” dengus Ryeowook sambil lalu menuju keluar ruangan.
“Ya! Jadi kamu nyesel! Ih, namja rese!” Jiyeon mengejar Ryeowook. Tanpa sengaja ia malah menyenggol seorang yeoja.
“Mian” Jiyeon membungkuk menyesali tindakan cerobohnya.
“It’s okay” ucapnya ramah. Jiyeon kagum dengan caranya tersenyum. Cantik. Yeoja ini sungguh cantik.

“Seohyun, kamu sudah lama datang?” seru seseorang. Menyadari namanya di panggil, gadis itu mnengok. Senyumnya merekah sempurna, membuat Jiyeon makin terpesona saja. ia selalu mendambakan bisa menjadi wanita yang anggun dengan senyum menawan seperti itu.
“Oppa, aku baru saja tiba” ucapnya pada seorang namja yang berjalan ke arah mereka. Wow, namja yang keren dan dewasa. Dia adalah Leeteuk. Tentu saja Jiyeon tidak mengenalnya. Jika ia tahu namja keren itu adalah kakak Kyuhyun, entah apa reaksinya nanti.

“Siapa nona ini?” tanya Leeteuk seramah yeoja cantik bernama Seohyun itu. Jiyeon menepis pikirannya yang melantur kemana-mana. Ia segera memfokuskan pikirannya lagi.
“Ani, aku hanya kebetulan menyenggol. Eonni, mianhae.” ucap Jiyeon meminta maaf lagi.
“Aigoo, nona cantik, aku bilang tidak apa-apa” balas Seohyun. Ia senang sekali bisa bertemu yeoja semanis Jiyeon. Ia jadi terpikir ingin menjodohkan Kyuhyun dengannya. Karena beberapa hari yang lalu calon adik iparnya itu mengaku ingin jatuh cinta.

“Kalau begitu aku permisi” Jiyeon bergegas pergi meninggalkan Seohyun dan Leeteuk begitu ia teringat Ryeowook.

Sepeninggal Jiyeon, Seohyun menoleh pada namjachingunya.
“Kyuhyun mana? Dia akan datang juga kan?” Leeteuk mengangguk.
“Sudah ku telepon. Ah, kudengar kemarin lusa dia datang ke tempatmu? Apa yang dilakukanya? Dia tidak membuat keributan di sana kan?”
Seohyun tertawa menanggapi gurauan Leeteuk. “Hanya konsultasi biasa” jawab Seohyun ringan.
“Soal apa?”
“Oppa ini! Untuk apa ingin tahu masalah dongsaengmu? Lagipula sebagai calon psikolog, aku tidak boleh membocorkan masalah-masalah klienku”
“Dasar! Pada pacarmu pun kau tidak ingin memberitahukannya?” tegur Leeteuk jngkel. Terkadang Seohyun sama seperti Kyuhyun. Senang sekali iseng padanya.

—-o0o—

Kyuhyun dan Hankyung baru tiba di hotel. Mungkin hari itu Kyu tidak sedang beruntung, karena di lobi sudah bertemu Suzy. Gadis itu tersenyum lebar lalu berlari kecil menghampirinya. Ah, Kyuhyun ingin kabur tapi sudah terlanjur tertangkap.
“Hallo kyu, hallo Han” sapanya.
“Hallo Suzy” jawab Han sama ramahnya. Tapi Kyu tidak. Dia malah sibuk mengasihani diri sendiri sambil mengumpat pelan.
“Aigoo, mimpi apa aku semalam” lirihnya.
“Kenapa? Kau tidak senang aku disini?” Tanya Suzy. Ia tidak bisa membaca situasi rupanya. Kyuhyun tidak menjawab. Suasana di antara mereka sempat canggung.

Menyadari situasi aneh itu, Hankyung angkat bicara duluan. “Ah, kalau begitu aku duluan. Kalian mengobrol saja dulu” Hankyung inisiatif meninggalkan Kyuhyun dan Suzy.
“Jadi, ada urusan apa kau kemari? Ah, semoga tidak ada kaitannya denganku” ucap Kyuhyun sambil berjalan. Suzy ikut berjalan disamping Kyuhyun.
“Tentu saja ada. Ahjumma, mengundangku datang” ucapnya enteng plus gembira. Kyuhyun mendengus. Tepat sekali dugaannya.
“Eomma? Aish, sudah kuduga!” lirihnya malas.

to be continued….

No Other (Part 2)

Tittle : No Other Part 2
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : School Life, friendship

Main Cast :

  • Lee Jiyeon
  • Cho Kyuhyun

Support Cast :

  • Lee Sungmin (Jiyeon’s Oppa)
  • Lee Hyukjae (Jiyeon’s Oppa)
  • Choi Siwon (Jiyeon’s Oppa)
  • etc..

FF ini agak rumit dan berantakan penulisannya… maaf atas ketidaknyamanan itu semua *bow*

No Other by DhaKhanzaki

————o0o————

Part 2

*di rumah sakit*

“heh, cewek tengil, kau sudah menghubungi keluargamu? Aku tidak bisa menemanimu karena urusanku masih banyak!” ujar kyuhyun. Ia mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya tak sabar. ia teringat janjinya pada Heechul. Dan ia tidak bisa membayangkan betapa menyeramkannya sunbaenya itu saat sedang marah.

Jiyeon mendengus jengkel. Namja ini benar-benar perlu di bawa ke psikolog. Sikapnya sangat menyebalkan.”Tenang saja. Aku sudah menghubungi oppa ku” jawab jiyeon mencoba sabar. “Dan jangan panggil aku cewek tengil. Namaku Lee Jiyeon. Aku lihat seragam kita sama. Kau pasti murid Kirin juga kan!”

Tentu saja. Kyuhyun tahu itu.
“Ah iya, Kita sekalian saja berkenalan. Aku Hankyung dan dia Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Kau tahu kan?” ujar Hankyung dengan tangan menunjuk Kyuhyun. Namja yang ditunjuk tersenyum sinis.
“Sudahlah Han, yeoja seperti dia mana tahu” celetuk Kyuhyun meremehkan. Dia sangat percaya diri bahwa dirinya begitu terkenal sampai seluruh penghuni sekolah tahu siapa dia.

“Memangnya siapa kau? Nama mu baru pertama kali ini aku dengar. Cho kyuhyun, memang ada murid bernama itu di sekolah” Jiyeon menjawabnya acuh tak acuh. Kyuhyun terpaku mendengarnya. Telinganya seolah tak percaya kalau ada juga murid yang akan mengucapkan kata itu. Apalagi di hadapannya.

“Gadis ini benar-benar cari mati!” umpat Kyuhyun kesal. Dia ingin sekali melakukan sesuatu pada yeoja bernama Jiyeon itu tapi tertahan karena pintu ruangn tiba-tiba menjeblak dibuka seseorang.

Muncul Sungmin disusul Yoona masuk ke dalam ruangan. Hankyung maupun Kyuhyun sedikit kaget dibuatnya.

“Oppa?! Yoona!” seru Jiyeon senang. Sungmin segera menghampiri.
“Kau tidak apa-apa kan? Katakan!” Sungmin berkata dengan nada penuh kepanikan. Jiyeon tersenyum lega.
“Hanya terkilir ringan. Sebentar saja juga sudah sembuh”
“Kau ini..” Sungmin langsung memeluk adik kesayangannya itu. Jiyeon mengerjap kaget. Omona.. Sungmin itu meskipun sedikit kejam padanya, tapi terbukti dia adalah seorang Oppa yang sangat perasa dan menyayanginya.
“Kau hampir membuatku mati berdiri. Semua ini salahku. Coba tadi pagi aku tidak membiarkanmu membawa motor sendiri ke sekolah.” ucap Sungmin terus mendekap Jiyeon.
“Bukan salahmu Oppa, aku saja yang kurang hati-hati.”

Setelah Sungmin melepas pelukannya, Jiyeon menoleh pada Yoona, gadis itu pun terlihat menahan air mata.
“Yoona, kau datang kemari karena mencemaskanku juga?” tanya Jiyeon polos. Yoona
berlari menghambur untuk memeluk Jiyeon, menangis di bahunya.
“Gadis jahat! Kamu berhasil membuatku cemas seharian. Bagaimana mungkin aku tidak kemari saat mendengarmu kecelakaan” lirihnya terisak. Jiyeon balas memeluknya.
“Jeongmal mianhae, karena sudah membuatmu cemas. Aku berjanji aku tidak apa-apa.”

Sungmin baru sadar kalau dari tadi ada 2 makhluk asing di dekat mereka. Tatapannya menajam ketika bertemu dengan pandangan Kyuhyun dan Hankyung.
“Kalian siapa? Orang-orang yang sudah mencelakai adikku?” tanya Sungmin curiga. Kyuhyun maupun Hankyung terperanjat.
“Anu. Kami..” mereka gelagapan saat akan menjawab. Pada kenyataannya memang mereka lah yang sudah membuat adiknya seperti ini.

“Bukan oppa, mereka yang sudah menolongku” potong Jiyeon. Sungmin menatap kedua orang itu. Kyuhyun mengangguk mengiyakan. Dalam hati Kyuhyun lega, setidaknya Jiyeon sudah mengatakan hal bagus.
“Begitu, baguslah” ucap Sungmin percaya.

Kyuhyun berdehem sejenak. “Karena kau sudah ada yang menjaga, kalau begitu kami pamit” ucap Kyuhyun. Tak menunggu lama, ia dan Hankyung keluar ruangan itu.
“Kalau begitu aku akan menelepon rumah dulu” Sungmin mengeluarkan ponsel. Jiyeon tertegun sejenak, ia ingin menanyakan sesuatu tapi ragu.
“Eunhyuk Oppa, apa dia tahu aaku kecelakaan?” tanyanya. Sungmin menoleh.
“Tidak. Sudahlah jangan beritahu dia, kamu tahu kan dia kalau sudah panik seperti apa?”
Jiyeon mengangguk paham.
“Arra” lirihnya.

Sungmin lalu keluar ruangan. Yoona segera duduk di samping Jiyeon begitu Sungmin tidak berada lagi di sana.
“Namja tadi, bukannya dia Cho Kyuhyun dan sepupunya Hankyung ya?” selidik Yoona. Jiyeon agak terkejut. Kenapa Yoona bisa tahu?
“Bagaimana kau tahu? Memangnya dia terkenal?”
Yoona menepuk pundaknya pelan. “Tentu saja! Kamu tahu, keluarganya itu sangat kaya. Selain berbakat dalam bidang musik, dia juga tampan dan pintar. Seluruh sekolah tahu dia.”
“Masa? Terus kenapa aku tidak tahu?” Jiyeon memiringkan kepalanya, berpikir mengapa ia bisa melewatkan hal yang umum seperti itu.
“Kau saja yang kuper.” Yoona diam sejenak, ia ingat kejadian tadi di lorong.
“Pantas saja tadi Heechul oppa mencari-cari Kyuhyun. Ternyata dia ada disini”
“Apa? Heechul oppa? Mau apa dia cari-cari namja tengil itu?” semangat Jiyeon tersulut begitu saja ketika nama Heechul disebutkan. Yoona mendecak.
“Huu! Aku baru sebut namanya saja kau sudah segirang itu. Kau menyukainya apa dongsaengnya?” sindir Yoona. Jiyeon berhenti cengengesan. Mendengar kata ‘dongsaengnya’, otaknya langsung terpikir pada Ryeowook.
“Wookie? Untuk apa aku suka padanya?. Dia itu hanya sebatas chingu bagiku” Jiyeon bingung kenapa mendadak Yoona berkata seperti itu.

Mata sahabatnya itu menyipit. Yoona duduk semakin merapat pada Jiyeon. “heh, kau tidak tahu gosip yang beredar di sekolah?” tanyanya dengan nada penuh misteri.
“Andwae,” jawab Jiyeon polos. Yoona menepuk keningnya. Jiyeon, kau kelewat kuper. Batin Yoona.
“Orang-orang bilang kamu suka pada Ryeowook!”
“MWO!” pekik Jiyeon kaget.
“Darimana datangnya gosip itu!” seru Jiyeon dengan suara keras. “Memangnya sikapku pada Wookie selama ini memperlihatkan kalau aku suka padanya…ah–” Jiyeon mengatupkan bibirnya. Ia seakan tersadar sesuatu. Jika dipikir-pikir, sikapnya pada Ryeowook memang sedikit berbeda. Dia selalu berbagi makan siang denganya, karena Ryeowook itu pandai memasak, dan Jiyeon juga suka memasak. Jadi mereka sering sekali bertukar bekal makan siang. Terkadang juga pulang dengannya. Ha! Jangan-jangan itu yang membuat orang-orang curiga.

“Aku memang sedikit berlebihan pada Wookie.” lirih Jiyeon lemas.
“Tuh kan!” Yoona mengiyakan.
“Tapi semua itu kulakukan karena aku ingin tahu soal Chullppa!” bela Jiyeon. Sebenarnya itu motif utama mengapa ia bisa akrab dengan Ryeowook.
“Tapi orang-orang tidak tahu kau suka pada Heechul Oppa”
“Bagaimana ini…” Jiyeon menatap Yoona dengan wajah khawatir. tangannya menggenggam erat lengan Yoona.
“Tenang, aku dukung kau apapun yang terjadi.” Yoona menepuk-nepuk pundak Jiyeon untuk menyemangatinya.

“Ah, Yoona. Bagaimana perasaanmu sekarang?” mendadak Jiyeon mengalihkan pembicaraan.
“Memangnya kenapa?” Yoona tak paham dengan pertanyaan Jiyeon.
Jiyeon menyikutnya. “Bilang saja lagi kalau kamu sekarang sangat bahagia. Tadi kan kau kemari bersama Sungmin Oppa” ledek Jiyeon. Pipi Yoona seketika memerah. Ia teringat saat ia memeluk pinggang Sungmin karena mereka kemari menggunakan motor milik namja itu.
“Kau ini apaan sih? Memangnya kenapa aku dengan Sungmin Oppa” Yoona berusaha mengelak. Padahal terlihat jelas di wajahnya.
“Kau suka padanya. Iya kan!!” Jiyeon berkata dengan suara keras sehingga Yoona. Terpaksa membekam mulutnya.

Bersamaan dengan itu Sungmin masuk ke dalam ruangan. Yoona menghentikan tindakannya
begitupun Jiyeon. Suasana hening seketika.
“Kok kalian berhenti? Aku mengganggu ya” tanya Sungmin heran. Kedua yeoja itu langsung duduk manis seolah tidak terjadi apapun.
“Tidak kok. Oppa tadi mendengar pembicaraan kita?” Jiyeon menyelidik ekspresi Sungmin sekarang. Yoona tampak memucat melihat Sungmin diam menatap mereka secara bergantian. Jiyeon ikut cemas.

“Tidak. Memang kalian membicarakan apa?” Sungmin bingung.
fuuh.. Untung tidak dengar. Secara bersamaan Jiyeon dan Yoona menghela napas lega.
“Kalian ini, ada apa sih sebenarnya?” Sungmin dibuat penasaran. Tapi baik Jiyeon maupun Yoona tidak berniat untuk menjawab.
“Ah, Jiyeon kau bisa pulang sekarang. Dokter sudah mengizinkan” ia teringat tadi ia sempat menemui dokter. Jiyeon mengerjap senang.
“Jinjja? Ayo pulang” ucap Jiyeon semangat.

__0.0__

*di kamar lain di rumah sakit yang sama*
“Hyung, aku sarankan jantungmu segera dioperasi sebelum kondisinya makin memburuk.” saran Kibum dengan wajah cemas. Yesung yang terbaring lemah hanya tersenyum sambil menepuk tangan Kibum yang terus menggenggam tangannya.
“Aku masih baik-baik saja. Jangan terlalu mencemaskanku. Bagaimana dengan sekolahmu? Kamu jangan terus membolos hanya untuk menjengukku” ucap yesung lemah.

Kibum menghela napas berat.
“Itu bukan hal penting. Bagiku yang terpenting sekarang adalah melihatmu sehat kembali”
Yesung tersenyum. “Maaf sudah membuatmu susah. Kau tidak perlu terlalu mencemaskan ku. Kau bisa lakukan apa saja yang kau inginkan”

Hati Kibum sakit atas ucapan Hyungnya. Ia sedih karena Yesung tidak bisa melakukan hal yang paling disukainya: menyanyi.
“Aku berharap segera ada donor jantung untukmu, Hyung” harap Kibum.
“Jangan terus cemas tentang penyakitku. Sekarang kau sekolah saja baik-baik.” ucap Yesung sambil tersenyum lemah.
Kibum mengangguk. Ia sangat menyayangi Yesung. Apapun akan dilakukannya asal bisa
melihat Hyungnya tersenyum seperti sekarang.

Terdengar pintu dibuka seseorang. Kibum menoleh, Sooyoung gadis cantik yang begitu anggun masuk dengan membawa sekeranjang buah. Senyumnya mengembang bergantian memandang Kibum dan Yesung.
“Seperti biasa, aku datang Oppa” ucapnya hangat sambil duduk di sisi tempat tidur yang lain. Pandangan matanya meredup ketika melihat orang yang dicintainya lemah tak berdaya.

“Oppa terlihat lebih baik.” Sooyoung berkata sambil menahan airmata meskipun di bibirnya tersungging seulas senyum manis.
“Gomawo. Berkat dirimu juga” Yesung menggenggam tangan Sooyoung dengan kasih sayang tulus seperti biasanya. Dan hal itu membuat Sooyoung merasa tenang. di saat suasana sedih seperti ini, senyuman Yesung-lah satu-satunya obat paling ampuh untuk meredakan tangisannya.

Kibum terguncang menyaksikan adegan itu. Bagaimanapun Sooyoung pernah menjadi pujaan hatinya dan mungkin sampai sekarangpun hal itu belum berubah. Kibum memilih menyingkir dari ruangan itu. Dia ingin mencari udara segar.

__o0o__

“Oppa, kau bilang semua pada Appa? Soal kecelakaanku?” tanya Jiyeon tiba-tiba. mereka sekarang sedang dalam perjalanan pulang. Jiyeon terpaksa harus dipapah Sungmin dan Yoona saat berjalan.
“Tentu. dan dari suaranya Appa terdengar sangat terkejut. Terlebih eomma.”
“Ah, sudah kuduga. Siap-siap kena semprot deh” Jiyeon menghela napas berat. Sungmin dan
Yoona secara kompak tertawa.

“Loh Ji, itu kan Kibum” ucap Yoona. Jiyeon menengok ke arah yang dimaksud. Matanya melebar. Ya. Dia melihat sosok orang yang tidak asing lagi baginya itu berjalan tak jauh di hadapannya. Jiyeon terpaku sesaat.

Kibum pun merasakan hal yang sama. Tubuhnya membeku ketika melihat Jiyeon. Ia melrik ke arah kaki Jiyeon yang dibebat. Kenapa dia? Kibum ingin bertanya, tapi ego membuatnya memilih pergi melewati Jiyeon tanpa menyapanya sedikitpun.
Jiyeon tidak percaya Kibum bersikap seolah-olah tidak mengenalnya. Hatinya terasa sangat pedih.
“Kenapa dia? Bahkan menyapa pun tidak!!” ucap Sungmin heran. Ia mengenal Kibum karena Kibum adalah juniornya di klub yang sama dengannya di SMA Kirin.
“Dia kenapa ada di sini?” tanya Yoona heran.
“Yesung, Hyungnya sakit dan dirawat di sini. Mungkin dia datang untuk menjenguk”
jawab Sungmin.

Jiyeon tidak berkomentar. Ia tadi sempat melihat wajah Kibum yang kelelahan dan sedih. Itu sangat mengganggu pikirannya. Ia terus melamun sampai akan masuk taksi.

“Ah!” mendadak Jiyeon berseru. Membuat Sungmin dan Yoona terperanjat.
“Kenapa? Ada yang salah?” tanya Sungmin cemas. Jiyeon menggeleng cepat. Ia hampir saja melupakan sesuatu yang sangat penting. Ia akan kehilangan seorang Oppa jika ia sampai melalaikan hal yang dilupakannya ini.
“Siwon oppa!” jiyeon baru ingat. CD rekaman lagu yang diminta Siwon masih ada di tangannya. Ia menoleh pada Sungmin dengan tatapan penuh harap.
“Oppa, kau mau menolongku?”
Sungmin tidak mengerti tapi dia mengangguk. Jiyeon mengambil sebuah kotak CD lalu menyerahkannya pada Sungmin. “Tolong berikan itu pada Siwon Oppa. Aku yakin sekarang dia sedang kelimpungan menunggu CD itu kuantar.”
Sungmin mendengus malas. “Hah?! Si bintang baru tidak jelas itu?” sindir Sungmin.
“Oppa! Kamu jangan bilang begitu. Meski tidak jelas dia itu Oppaku juga” bantah Jiyeon kesal.
“Arra, arra. Ok, kalau begitu aku pergi kembalikan ini dulu. Yoona, aku titip adikku tercinta ini yah” Sungmin mencubit pipi Jiyeon.
“n-ne” jawab Yoona gugup.
“Oppa!!” seru Jiyeon jengkel. Sungmin langsung kabur sebelum Jiyeon balas memukulnya.

__o0o__

JRENGJRANG!!
Suara dentang piano terdengar tidak karuan dari ruang latihan. Rasa kesal Siwon sudah memuncak hingga ubun-ubun. Kemarahannya terlampiaskan pada piano.
“Calm down” sahut Kangin santai. Dia tengah asyik memainkan gitar listrik dan sedikit bersenandung. Siwon tidak mendengarkan. Sekarang ia benar-benar sudah kehabisan kesabarannya. Bagaimana mungkin Jiyeon tidak kunjung menyerahkan CD itu juga padanya!!
“Lain kali kalau bertemu awas ya! Beraninya dia tidak datang sama sekali!” Siwon mengepal erat tangannya.
“Coba hubungi sekali lagi. Aku cemas terjadi sesuatu padanya” ucap Kangin. Siwon tersenyum sinis.
“Datang terlambat memang sudah menjadi keahliannya. Ini juga bukan pertama kali!” Siwon mencoba menelepon sekali lagi. Hasilnya tetap sama. Ponsel Jiyeon tidak aktif. Hal ini membuatnya makin sebal saja.
“Aish!! Kemana dia? Harusnya dia bawakan CD itu!” gerutu Siwon pada ponsel di tangannya. Kangin hanya bisa cengengesan melihat tingkah Siwon.

“Kau butuh ini?”

Siwon menoleh cepat mendengarnya. Ia kira Jiyeon ternyata bukan. Siwon mengerutkan kening bingung. Apa yang dilakukan Sungmin di sana?
“Kenapa kamu yang datang? Mana Jiyeon?!”
Sungmin memutar bola matanya, malas. Siwon itu benar-benar hanya memikirkan karir keartisannya saja.
“Dia baru pulang dari rumah sakit.” Jawabnya dengan wajah datar.

Raut wajah Siwon langsung berubah, ia terkejut.
“Rumah sakit? Kenapa?! Apa dia kecelakaan?” Siwon buru-buru mendekati Sungmin dengan wajah tak kalah cemas. “Apa parah? Dia baik-baik saja kan?”
“Tidak ada yang serius. Hanya terkilir” Sungmin mengatakannya dengan ekspresi datar. Ia ingin mellihat reaksi Siwon.
Siwon menghela napas lega. Hanya sesaat. Setelah itu ia kembali menjadi Siwon yang menyebalkan. “Lalu mana CD-nya? Kau kemari untuk mengantarkan itu kan?”
“Nih!!” Sungmin menekankan CD itu tepat di dada Siwon, lalu pergi dengan sikap dingin. Siwon tersenyum sinis menanggapi kelakuan Sungmin.
“Lihat dia! Dia pikir dia siapa?”

__o0o__

Bukannya pulang Jiyeon malah mampir ke restoran ayahnya. Mendadak ia ingin mencicipi lagi masakan sang Appa. Jadi ayah adalah seorang chef professional dan sudah membuka restoran sejak Jiyeon berusia 5 tahun.
“Aigoo, Jiyeon, apa yang terjadi padamu?!!” pekik Eunhyuk ketika melihat kaki Jiyeon diperban dan berjalan sambil dipapah oleh Yoona. Belum apa-apa namja itu sudah mondar-mandir panik gak jelas. Entahlah apa yang dilakukanya. Ia segera menata salah satu meja kosong agar Jiyeon bisa duduk di sana.
“Ayo duduk di sini. Sebentar…” Eunhyuk menarik kursi lalu menyandarkan kaki Jiyeon di atasnya. ia lalu pergi mengambil bantal untuk pengganjal kaki yang diperban.
“Sudah nyaman? Masih ada yang sakit?” tanyanya cemas. Jiyeon menggeleng pelan.
“Tidak ada. Gomawo..”ucap Jiyeon terharu dengan sikap perhatian Eunhyuk. Kekhawatiran belum juga lenyap dari wajah Eunhyuk. Namja itu terus saja bergerak-gerak gelisah.
“Sebentar, aku panggil Appa..” ia mengambil langkah seribu.
“Oppa..” baru Jiyeon hendak mencegah Eunhyuk keburu pergi ke dapur. Untung saat itu restoran sedang sepi. ia tidak menjadi pusat perhatian di sana.

“Eunhyuk Oppa tidak berubah ya, apa dia memang selalu begitu?” Tanya Yoona kagum
sambil menggeleng-gelengkan kepala. Jiyeon mengangguk setuju.
“Begitulah. Keahliannya adalah bersemangat setahun pnuh!”
Mendengarnya Yoona tertawa. Tiba-tiba sebuah suara menggelegar yang amat ditakuti oleh Jiyeon terdengar nyaring. Membuat gadis itu kaku seketika.

“LEE JIYEON, apa yang terjadi sebenarnya?!” Appa muncul dari dapur masih mengenakan pakaian chef lengkap terburu-buru menghampirinya. Disusul Eunhyuk. Waduh, Jiyeon bergetar.
“Mianhae Appa.. Kejadian ini murni karena kecerobohanku” jawab Jiyeon sambil menunduk. Takut melihat wajah seram Appa. “kakiku terkilir sedikit. Tapi tidak ada yang serius kok. Aku janji.”
Appa mendekat lalu dengan gerakan cepat tangannya menjitak Jiyeon. Yoona dan Eunhyuk sampai kaget.
“aw!” Jiyeon meringis.
“Sudah Appa bilang, perempuan jangan sembarangan membawa motor! Lihat ini akibat dari tidak menuruti ucapan orangtua!” tegur Appa. Jiyeon makin menundukkan kepalanya. ia akan tahu akan diceramahi seperti ini oleh sang Appa.
“mianhae..” lirihnya seperti suara cicak. Sangat pelan.

Sungmin baru saja tiba disana. Melihat suasana tampak ‘tidak biasa’, Ia segera mencairkan keadaan.
“Jiyeon, kau tiba selamat sampai di sini? Syukurlah” Sungmin menghampiri mereka dengan wajah cerah ceria. Appa masih tampak kesal sementara Jiyeon tetap pada posisi yang sama. Ah, ia harus melakukan sesuatu.
“Appa, aku lapar. Aku ingin sekali makan sup tulang sapi buatanmu.” Ucap Sungmin mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Kau ini, adikmu kecelakaan kau masih bisa meminta makan dengan wajah ceria begitu?”
“Sudahlah Appa, ayo aku bantu siapkan.” Sungmin mendorong tubuh Appa pelan kembali ke dapur. Ia menoleh sebentar ke arah Jiyeon sambil mengedipkan sebelah matanya.

“oppa…jeongmal gomawo” lirih Jiyeon terharu. Ia tahu Sungmin pasti akan menyelamatkannya.
Eunhyuk tertawa ringan. Ia berbisik pelan pada adik perempuannya itu. “lihat, ada-ada saja cara Hyung menolongmu.”
“Ne” ia mengangguk. Jiyeon tahu tu. Meski kadang menyebalkan, tapi ia harus mengakui bahwa Sungmin adalah kakak paling baik di dunia. Ia melirik Yoona yang duduk di sampingnya. Aishy!! Gadis ini malah diam terpaku ke arah dapur. Ia juga tahu, Yoona pasti terpesona pada Sungmin. Seperti biasa. Jiyeon tertawa dalam hati.
“hei, aku tahu. Oppaku yang satu itu memang sangat mempesona” kata jiyeon sambil menyikut Yoona. Otomatis gadis itu sadar dari lamunannya.
“Kenapa?” tanyanya heran. Melihat kepolosan sahabatnya Jiyeon benar-benar tertawa. Meskipun tidak mengerti, namun Eunhyuk juga ikut tertawa.

__o0o__

Mereka akhinya makan siang bersama. Sepanjang makan Appa terus mengobrol dengan Sungmin dan Eunhyuk sementara Jiyeon didiamkan. Akhirnya ia menusuk-nusuk ayam goreng dengan garpu, melampiaskan kekesalannya.
“Menyebalkan! Ternyata Appa memang lebih suka anak laki-laki!” gumamnya jengkel.
Yoona hanya bisa menahan tawa. Tapi Jiyeon tidak bisa membenci oppadeul-nya sedikitpun. Terkadang ia hanya kesal.

Tiba-tiba tercium aroma wangi. Jiyeon mengangkat kepalanya. ternyata Eunhyuk menyodorkan secangkir teh beraroma karamel ke hadapannya. Aigoo.. Ini kan teh kesukaannya. Senyum di bibir Jiyeon pun mengembang.
“Hyukppa, kau memang Oppa ku yang paling pengertian di dunia” seru Jiyeon terharu. Sudah berapa kali hari ini ia dibuat terharu. Eunhyuk tersenyum jahil.
“Araseo. Cepat minum sebelum tehnya dingin. Yoona, kau juga harus coba!” Eunhyuk pun menuangkan secangkir lagi untuk Yoona.
“Gomawo” Yoona menyesapnya sedikit. Ekspresinya langsung berubah. Melihat ekspresi yang ditunjukkan Yoona, Eunhyuk tersenyum lebar.
“Enak kan?” tanya Jiyeon.
“iya.” Yoona mengangguk.
“Itu oleh-oleh dari my mommy. Dia membelinya di Hongkong.”
Appa menoleh mendengar Jiyeon menyebut kata Mommy.

“Jinjja? Wah, tapi aku lebih suka teh hijau” ucap Yoona.
“Begitu. Selera kita ternyata berbeda.” Jiyeon mengangguk-angguk.

__o0o__

Begitu sampai rumah, Jiyeon dipapah Eunhyuk duduk di sofa ruang keluarga. Ketika Eunhyuk akan pergi, Jiyeon menahannya.
“Oppa, jangan pergi” Jiyeon menahan tangan Eunhyuk dengan nada memelas. Ah, Eunhyuk bisa membaca apa mau yeodongsaengnya ini. Lantas ia duduk di samping Jiyeon.
“Ada apa?” tanya Eunhyuk. Ia yakin Jiyeon pasti ingin curhat padanya. Selama ini
Eunhyuk memang selalu menjadi tong sampah semua unek-unek Jiyeon dan ia tidak keberatan sedikitpun. Jiyeon juga merasa Eunhyuk adalah seorang pendengar yang baik.
“Eunhyuk Oppa,.. Apa ada seseorang yang kau sukai?”

Eunhyuk terkejut dengan pertanyaan itu. “Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?” Eunhyuk heran. Jiyeon menatapnya dengan pandangan serius.

To be continued…