Tag Archive | Shindong

Shady Girl Sungmin’s Story (Part 4)

Tittle : Shady Girl Sungmin’s Story Part 4
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Family

Main Cast :

  • Shin In Sung
  • Lee Sungmin

Support Cast :

  • Jun Jinyoung
  • Meng Jia
  • Lee Donghae
  • Shin Dong Hee / Shindong

Warning : typo bertebaran

Shady Girl Sungmin's Story by Dha Khanzaki5

—–o0o—–

Part 4

Jinyoung mengepal erat tangannya. Sekarang ia tengah duduk frustasi di dalam kamar apartement kecilnya. Rambutnya berantakan begitupun bajunya. Otaknya terus terbayang kejadian yang dilihatnya kemarin. Saat ia baru pulang kuliah-Jinyoung mengambil program pascasarjana-tanpa sengaja ia melihat In Sung sedang makan malam bersama seorang namja yang ia lihat tempo hari di sebuah restoran steak terkenal. Hatinya terasa sakit sekali melihatnya. Ia ingin masuk, tapi ia merasa tidak pantas mengganggu In Sung yang sepertinya bahagia bersama namja itu. Jadi ia hanya bisa menatapnya dengan pandangan sedih+sakit.

Dalam hatinya berkelebat banyak hal. Apakah In Sung sudah tidak mencintainya lagi? Ataukah namja itu adalah namja pilihan Ummanya. dia dan namja itu memang berbeda jauh. Dirinya siapa? Hanya mahasiswa biasa yang datang dari kampung untuk menuntut ilmu. Tidak lebih. Tidak bisa dibandingkan dengan namja itu yang kelihatannya bukan namja sembarangan.

Drrtttt..drrrttt..

Ponselnya berdering. Ia melihat layar ponsel. Dahinya berkerut ketika mendapati nomor tak dikenal. Tanpa ragu ia segera mengangkatnya.
“Yeobseo..”
“Apakah kamu Jun Jinyoung?”
Jinyoung mengerjap. “Iya. Anda siapa?”
“Aku Ummanya Shin In Sung. Bisa kita bertemu hari ini di restoran xxxxx?” ia makin terkesiap. Tuhan.. sekarang bahkan Umma In Sung mengajaknya bertemu. Bisa ditebak apa yang ingin dibicarakannya.
“Baiklah. Aku akan segera ke sana.” Jinyoung tidak mempunyai pilihan lain. Setelah menutup telepon, ia segera merapikan dirinya dan mengambil jaket.

@@@

In Sung sudah menemukan apartement untuk ia tinggal sementara. Meskipun kecil, tapi ia senang. Akhirnya keinginannya untuk hidup mandiri tercapai juga.
“Oke, sekarang aku harus belanja keperluanku.”
Baru ia akan berangkat, ponselnya berbunyi. Senyumnya terbit saat ia melihat layar ponsel ternyata Jinyoung meneleponnya. Ia memang sudah merindukan kekasihnya itu.
“hallo..” In Sung menjawabnya dengan suara ceria.
“Di mana kamu? Aku dengar kau pergi dari rumah?”
In Sung tidak terkejut Jinyoung bisa tahu hal itu. Mungkin saja kan Shindong oppanya sudah memberitahu Jinyoung.
“Iya. Aku sekarang ada di apartement baruku. Kenapa?”
“Bisa kita bertemu? Ada yang ingin kubicarakan.”
“Tentu saja.”

@Central Park
Jinyoung tersenyum manis dan membalas lambaian tangan In Sung. Gadis itu segera memeluknya kala ia sudah berada di hadapannya.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” In Sung sangat penasaran. Jinyoung mengajaknya duduk di tepian kolam.
“Em, kenapa kau kabur dari rumah?”
“Aku tidak ingin menikah dengan pria tua itu. Bagaimanapun aku kan kan menyukaimu. Umma tidak pernah bisa paham perasaanku.”
“Tapi menurutku kau terlalu berlebihan. Haruskah kau pergi dari rumah? Kau tidak memikirkan perasaan Ummamu? Dia pasti sangat sedih”
In Sung kaget mendengar ucapan Jinyoung. Ia tersinggung. “Aku melakukan ini demi kita.”
Jinyoung menoleh menatap In Sung dengan tatapan sedih dan senang. Entahlah, sepertinya Jinyoung sedang menahan emosinya sendiri. Tapi namja itu tetap berusaha untuk tenang dan tersenyum.
“Kau bukan melakukan kita. Tapi kau menuruti egomu sendiri.”
“Apa!!” In Sung tersentak. Ia memang merasa Jinyoung tengah menyembunyikan sesuatu. Yah.. sepertinya memang begitu.
“Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan? Apa kita bertemu hanya untuk mendengar ceramahmu?” nada suaranya meninggi
Jinyoung menghela napas berat. “In Sung, sebaiknya kita akhiri hubungan kita saja.”
“Mworago!!” teriaknya kaget.
“Kita putus saja. Diteruskan pun Ummamu tetap tidak akan merestui kita.” Ucapnya dengan suara tenang. padahal gejolak emosi dalam hatinya memberontak tak terkendali.

In Sung semakin yakin memang ada yang tidak beres dengan Jinyoung. “katakan padaku, apa Umma yang memintamu agar menjauhiku?” cecarnya tidak sabar.
Jinyoung menggeleng. Ia tidak mau menatap In Sung. “Bukan. Ini murni karena aku yang menginginkannya. Aku sudah lelah menghadapi hubungan ini.”
“Bohong! Katakan yang sebenarnya! Apa kau tidak tahu, aku kabur, aku menentang Umma, aku tidak ingin menikah dengan Tuan Cha semua karena aku mencintaimu. Aku sangat tersiksa kemarin tapi kenapa kau malah meminta hal yang membuat semua hal yang kulakukan itu sia-sia. Kumohon Jinyoung, katakan alasan yang sebenarnya. Aku tidak ingin kita putus dengan cara seperti ini.” In Sung seperti orang bodoh saja, memohon-mohon seperti ini.
Jinyoung menoleh. Ia menatap In Sung dengan sorot mata penuh kepedihan. “Lalu kenapa kau tidak mencariku kemarin? Kenapa saat kau sedih kau tidak mendatangiku dan malah pergi bersama namja lain?”

Ucapan Jinyoung sukses membuat In Sung membungkam mulutnya. Jadi.. Jinyoung melihat apa yang ia lakukan kemarin?
“Jika memang kau menganggapku berarti, harusnya aku orang yang kau pikirkan pertama kali saat kau sedih. Jika kau memang membutuhkanku, harusnya kau mendatangiku saat keadaamu terpuruk. Aku ini kekasihmu. Tempatmu berbagi kesedihan dan kesenangan. Tapi apa yang kau lakukan? Kau malah pergi bersama namja lain. Kau tahu, hatiku ini sakit”
“itu..” In Sung merasa sangat terpukul. Ia ingin menjelaskan pada Jinyoung, namun lubuk hatinya mengakui bahwa ia memang sudah mengkhianati Jinyoung. Ia sepertinya.. sudah jatuh cinta pada Sungmin.
“Sudahlah. Aku tidak marah padamu. Lebih baik kita sudahi saja semua ini. Berakhirnya hubungan kita adalah keputusan terbaik untuk saat ini. Maaf jika selama menjadi pacarmu, aku tidak bisa memberimu apa-apa selain kasih sayang. Kau tahu kan? Aku bukan siapa-siapa.” Jinyoung bangkit dari tempat duduknya. Lalu ia pergi meninggalkan In Sung yang masih terdiam.

Sepeninggal jinyoung, In Sung menangis dalam diam. Ia tidak terisak, namun airmatanya terus mengalir tanpa henti. Perasaan ini benar-benar menyakitkan dan membuatnya sesak.

@@@

Setelah ia putus dari In Sung, Jinyoung mulai membereskan barang-barangnya. Ia mendapatkan beasiswa untuk kuliah S2 di Shanghai. Sekarang ia tengah berada di bandara menunggu pesawat tujuan Shanghai tiba. ia menatapi fotonya bersama In Sung saat pertama kali mereka jadian. “Mianhae In Sung.. sebenarnya aku masih mencintaimu.. tapi Ummamu memintaku untuk menghilang dari kehidupanmu.” Gumamnya dengan nafas tercekat. Ia teringat kembali pertemuannya dengan Umma In Sung di sebuah restoran di Apgujeong-dong.

#Flash back#
“Bisakah kau memutuskan hubungan dengan putriku?” tegas wanita yang duduk di hadapannya itu tanpa ragu. Jinyoung tidak begitu terkejut mendengarnya. Namun ia kaget karena Umma In Sung benar-benar menginginkan ia menjauhi putrinya. Jinyoung menghela napas. Ia sadar diri sepenuhnya.
“Mengapa Anda ingin kami mengakhiri hubungan kami? Dan bagaimana aku akan menjelaskannya pada In Sung?” ujarnya tenang
“Tanpa di jawab pun tentu kau tahu alasannya bukan? Dan soal bagaimana kau menjelaskan pada putriku, kau tidak perlu menjelaskan apapun. Kau cukup mengatakan padanya bahwa kau ingin mengakhiri hubungan kalian. Selesai”
Jinyoung menahan emosi dalam hatinya. Sangat tidak sopan jika ia membentak orang yang lebih tua.
“Jika kau turuti keinginanku, aku akan memberikanmu kesempatan untuk bersekolah di luar negeri. Bagaimana?”
“Baiklah”
Bukan. Jinyoung bukan setuju karena ia akan mendapatkan beasiswa, tapi karena ia memikirkan In Sung. Mungkin dengan begini gadis itu akan bisa hidup lebih baik sesuai dengan apa yang orangtuanya inginkan. Dengan begini tidak akan ada orang yang sakit hati karena hubungan mereka. Hanya dirinya saja yang merasakan sakit itu.
Tanpa dirinya, In Sung tetap akan bahagia. Ia yakin akan hal itu.
#flashback end#

“Jun Jinyoung??”
Jinyoung mengangkat kepalanya. ia terkesiap begitu melihat sosok yang sangat dikenalnya berdiri di hadapannya dengan ekspresi yang begitu manis dan cantik. Di sampingnya berdiri Sano, pengawal pribadinya.
“Meng Jia..” gumamnya tanpa sadar menyebutkan nama gadis di hadapannya. Jia-gadis cantik bertubuh tinggi langsing itu langsung tersenyum lebar dan segera meraih lengan Jinyoung.
“Aku senang bertemu kau kembali” ujarnya dengan mata berbinar.
“Kenapa kau ke Korea? Bukankah kau berada di China?”
“Aku kemari karena ingin membawamu kembali ke China. Tak kusangka kita bertemu di bandara.”
“Tidak perlu repot-repot. Aku memang akan kembali ke sana.” Jinyoung tersenyum tipis.
“Really? Kalau begitu kau harus tinggal denganku di Macau. Ayah ibuku sangat merindukanmu. Mana tiket pesawatmu?” Jinyoung menyerahkan tiket pesawatnya pada Jia. Gadis itu segera meminta pengawalnya mendekat.
“Sano, tukarkan tiket Jin ke tiket untuk kelas VIP segera.”
“Baik, nona” Sano segera pergi untuk menukarkan tiket itu.
“Jia, kau tidak perlu melakukan ini. Aku”
“Sudah. Dari dulu kau selalu menolak pemberianku. Biarkan hari ini aku sedikit membahagiakan calon suamiku. Ayo pergi.” Jia dengan mesra menggandeng lengan Jinyoung dan membawanya pergi. ia tersenyum tipis, setelah ini.. ia harus bisa merelakan In Sung.

@@@

Sudah beberapa kali Ummanya meminta In Sung agar kembali ke rumah. Namun In Sung menolak dengan tegas. Ia tidak mau menuruti perintah Ummanya setelah ia mengetahui alasan Jinyoung putus dengannya. 2 hari lalu, ia pergi ke kampus tempat Jinyoung belajar. Betapa terkejutnya ia ketika tahu bahwa Jinyoung sudah pindah ke China karena mendapatkan beasisiwa di sana. Dan ia semakin sedih saat mengetahui Ummanya yang berada di balik semua ini. In Sung terus didera rasa penyesalan. Bahkan ia tidak mengucapkan selamat tinggal pada Jinyoung. Melihat wajah manisnya untuk terakhir kali sebelum namja itu pergi ke China dan entah kapan kembali lagi. Ia sangat kesal.

@@@

Haebin menatapi ponselnya. Sudah lebih dari 2 minggu ia tidak bisa menghubungi In Sung. Shindong, Oppanya sudah berkali-kali bertanya padanya apakah mendapat kabar dari In Sung, tapi hanya jawaban ‘tidak’ yang bisa ia berikan. Memang begitu kenyataannya. Ia tidak mendapat telepon ataupun pesan dari sahabatnya itu. Sekarang ia begitu cemas. Kemana sebenarnya In Sung? Ia tidak tahu jika In Sung sudah pergi dari rumahnya sejak 2 minggu yang lalu. Karena pertengkaran dengan Ummanya. ia tahu In Sung sangat stress dengan ummanya yang terus memaksanya menikah dengan Tuan Cha.

“Tenang saja, tadi pagi aku mendapatkan pesan dari In Sung. Aku akan mengunjunginya sekarang. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya sekarang.” Ucap Sungmin saat Haebin meneleponnya. Ia lansung melonjak senang.
“Jinjja???? Ah.. gomawo Oppa.. kapan kau akan berangkat? Aku ikut yah..”
“jangan. Kau kan sedang hamil. Lagipula Donghae tidak mungkin mengizinkanmu pergi”
“Ah iya.. kalau begitu sampaikan salamku pada In Sung ya.. dan bilang padanya untuk meneleponku segera. Aku sangat mengkhawatirkannya.”
“Baik.”

@@@

Seperti yang sudah ia katakan pada Haebin, kini Sungmin tengah dalam perjalanan menuju apartemen In Sung. Ia melirik Minki yang sudah sangat semangat saat ia bilang akan berkunjung ke tempat In Sung.
“Appa.. Minnie akan bertemu In Sung Eonnie?” tanyanya
“Iya chagi.” Jawab Sungmin senang.
Jujur saja, ia merindukan gadis itu. Sejak terakhir kali ia bertemu dengannya, sejak itu pula pikirannya terus dipenuhi bayangan tentangnya.

Ting tong..

Sungmin memencet bel. Minki sudah tidak sabar ingin segera masuk. Sungmin juga tidak sabar ingin segera bertemu dengan In Sung. Tapi sudah sepuluh menit ia menunggu, pintu tak kunjung dibuka juga. Ia memencet bel sekali lagi.
“Appa.. mana In Sung Eonni..” rengek Minki
“iya. Tunggu sebentar chagi.”
Sungmin merasa ada yang tidak beres saat In Sung tak kunjung membuka apartementnya juga. Ia membuka pintu apartementnya, matanya terkesiap. Tidak dikunci?
“In Sung..” panggilnya seraya masuk. Minki berlarian saat masuk ke apartement itu. Suasana lumayan gelap karena lampu tidak menyala dan semua jendela tertutup gorden. Kamar itu hanya terdiri dari ruangan yang bisa berfungsi sebagai ruang tidur dan ruang tamu. Juga ada dapur kecil dan kamar mandi. Tapi ia tidak melihat In Sung.
“Minki, jangan nakal” ujar Sungmin saat melihat putrinya tengah bermain di kasur In Sung.
Sungmin meraba-raba tembok untuk menyalakan lampu. Suasana sudah lumayan terang sekarang. Ia masuk kamar mandi yang pintunya terbuka sedikit. Melihat pemandangan di hadapannya, Sungmin terbelalak kaget.
“In Sung!!” teriaknya. Dengan langkah cepat ia segera menghampiri In Sung yang tak sadarkan diri dalam kondisi duduk tak berdaya di sudut kamar mandi itu. Sungmin bergetar hebat saat melihat dari pergelangan tangan In Sung mengalir darah. Ya ampun.. apa mungkin ia sedang mencoba untuk bunuh diri?
“huwaaa..Appa..Eonnie kenapa???” Sungmin menoleh cepat mendapati putrinya tengah menangis. ia mungkin syok melihat pemandangan mengerikan saat ini.
“Minnie, kamu cepat pergi.” ujar Sungmin mencoba tenang. padahal sesungguhnya ia bergetar takut. Sungmin segera mengangkat In Sung setelah memeriksa denyut nadinya masih terasa meskipun sangat pelan. Ia memacukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Sesampainya di rumah sakit, In Sung segera di bawa ke ruang operasi. Sungmin menunggu di luar ruangan sambil terus mendekap Minki yang masih menangis.
“Appa.. Eonnie kenapa masuk ke sana.. Minnie ingin ikut masuk..” rengeknya. Sungmin berusaha menenangkan putrinya.
“Iya. Tapi nanti sayang. Jika Pak Dokter sudah keluar.” Ujarnya.

Sungmin tadi sudah menelepon keluarganya. Tak lama, mereka semua tiba di rumah sakit dengan perasaan cemas yang sama dengannya.
“Mana putrikuuu..” teriak Ummanya dengan deraian airmata. Appa In Sung buru-buru menenangkan istrinya.
“Tenanglah”
“Sungmin, katakan padaku kenapa adikku bisa seperti ini?” Shindong segera menginterogasi Sungmin.
“Tadi aku ke apartementnya dan menemukan In Sung sudah seperti ini.” Sungmin berbicara sambil terus menenangkan Minki yang menangis di gendongannya.
“Jadi selama ini kau mengetahui adikku berada di mana? Kenapa tidak memberitahuku?” ujar Shindong dengan nada kesal.
“Aku baru mengetahuinya hari ini.” Jawab Sungmin.
Shindong berdecak kesal. Ia juga tidak bisa menyalahkan Sungmin atas kejadian ini. Sekarang yang ia khawatirkan adalah keadaan adiknya di dalam sana.

“In Sung..” Haebin datang di temani dengan Donghae, suaminya. Ia baru saja sampai sudah berderai airmata. Tadi Sungmin juga sempat memberitahunya. Donghae berinisiatif memeluknya. Ia tidak mengatakan apapun, hanya membiarkan Haebin menangis.

Dokter keluar dari ruangan operasi. Orangtua In Sung segera menghampirinya.
“bagaimana keadaan anak kami Dok?” tannya Appa tidak sabar.
“Dia kehilangan banyak darah. Beruntung tadi cepat dibawa kemari. Jika tidak, entah apa yang terjadi padanya. Tapi tenang saja, sekarang dia sudah tidak apa-apa. Kami sudah memberikannya obat tidur. dia hanya butuh istirahat.”
Orang-orang menghela napas lega setelah mendengarnya. Apalagi Sungmin. Ia sangat bersyukur In Sung baik-baik saja.

@@@

Hidungnya mencium bau obat yang menyengat dari ruangan tempatnya berada. In Sung mulai membuka matanya. Di mana ini? Ia melirik ruangan di sekitarnya. Ia tahu sekarang dirinya berada di rumah sakit. Siapa yang datang menolongnya? Padahal ia ingin mati kenapa masih ada juga yang menyelamatkan nyawanya?
“In Sung..” In Sung mendengar suara yang sudah dikenalnya. In Sung menoleh dengan gerakan pelan dan mendapati Ummanya duduk di samping ranjang dengan tatapan sedih.
“Umma..kenapa Umma berada di sini?” tanyanya pelan. Umma menangis mendengar nada bicara putrinya yang terdengar membencinya. Ia tahu alasan kenapa In Sung memutuskan untuk bunuh diri. Pasti karena tindakannya sendiri. Ia pasti sudah membuat putrinya tertekan karena sudah memisahkannya dengan Jinyoung dan memaksanya menikah dengan Tuan Cha.
“maafkan Umma, In Sung.. Umma merasa sangat bersalah padamu..” Umma memegang tangan In Sung erat sambil terus meneteskan airmata. Selama In Sung belum siuman, ia sudah merenundkan semua tindakannya selama ini. Suaminya pun sudah mewanti-wantinya agar berhenti mencampuri urusan In Sung.
“mulai saat ini Umma akan berhenti mencampuri urusanmu. Kau bebas mencintai siapapun. Umma juga sudah membicarakannya dengan Tuan Cha dan ia setuju untuk membatalkan rencana pernikahannya denganmu. Jadi Umma mohon maafkan Umma.”

In Sung tersentuh mendengar ucapan Ummanya. ia tahu memang tidak pantas ia marah pada Ummanya. dan setelah mendengar permintaan maaf dari Ummanya sendiri ia merasa bersalah sudah marah pada Ummanya selama ini. Bagaimanapun,semua yang dilakukan sang Umma padanya adalah bentuk kasih sayang untuknya. Ummanya hanya ingin yang terbaik untuknya. Benar kata Jinyoung. Ia melakukan ini-kabur dari rumah-hanya untuk mengikuti egonya sendiri.

“Uljima, Umma.. aku sudah memaafkanmu sejak dulu. Maafkan aku juga karena sudah membuatmu khawatir. aku anak yang durhaka.” Ucap In Sung dengan suara pelan. Ummanya tersenyum lalu mengecup kening putrinya dengan penuh kasih sayang.
“Sekarang kau harus cepat sembuh. Dan kembali ke rumah”
In Sung mengangguk lemah. Ia kemudian tersenyum. Hatinya sudah lebih lega dan tidak terasa ada ganjalan sedikitpun.

“Eonnie..” Minki baru saja masuk ke ruangan itu, ia segera berlari menghampiri In Sung.
“Min-chan..” suara In Sung masih lemah. Namun ia tersenyum senang bisa melihat Minki lagi.
“Minnie bawa eskrim untuk Eonnie..” Minki menyerahkan satu cup eskrim rasa cokelat pada In Sung. Gadis itu tersenyum menanggapinya.
“Minnie.. eonni sedang sakit, mana bisa makan eskrim” Sungmin segera menggendong putrinya.
“Maaf, putriku sangat berisik” Sungmin meminta maaf pada Ummanya In Sung.
“Tidak apa-apa. Kalau begitu tolong gantikan aku menjaga In Sung. Aku harus menemui dokter.”
“Baiklah”

Umma segera pergi. meninggalkan In Sung dan Sungmin serta Minki di ruangan itu.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Sungmin. Ia duduk di tempat yang tadi di tempati Umma. Minki sendiri duduk di pangkuannya sambil memakan eskrim.
“Lebih baik. Terima kasih.” Ia terdiam sejenak. “Apa Oppa yang membawaku ke rumah sakit?” tanya In Sung mengingat orang terakhir yang ia kabari adalah Sungmin.
“Begitulah. Beruntung aku datang di saat yang tepat. Kenapa kau melakukan tindakan bodoh itu, In Sung-ah. Kau tahu kan, seandainya saat itu aku tidak datang, kau mungkin sudah berada di surga sekarang” ucapnya tidak terdengar sedang menceramai sedikitpun. Malah lebih terdengar khawatir.
“maaf, saat itu emosiku sedang labil sehingga jalan pikiranku begitu sempit. Tapi sekarang aku menyadari bahwa tindakanku salah” In Sung berkaca-kaca. “Aku sudah gagal menjadi seorang psikolog. Aku bahkan tidak bisa mengontrol emosiku sendiri.” Sesalnya
Sungmin mengusap kepalanya pelan. “Sudahlah. Setiap manusia mempunyai batas kesabarannya masing-masing. Kau tidak sepenuhnya salah. Karena semua sudah terlanjur terjadi, kamu tidak boleh mengulanginya lagi. Arrasseo”
In Sung mengangguk lalu tersenyum.

To be continued

Iklan

Shady Girl Sungmin’s Story (Part 1)

tittle : Shady Girl Sungmin’s Story
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, family

Main Cast :

  • Shin In Sung
  • Lee Sungmin

Support Cast :

  • Lee Donghae
  • Shin Dong Hee / Shindong

Ini dia sekuel dari Shady Girl. gak bosen kan ama FF ini? okelah, check this out kawan..
Warning : typo bertebaran

Shady Girl Sungmin's Story by Dha Khanzaki5

———-0.0———

Sibuk dan repot. Dua kata yang cocok menggambarkan rutinitas seorang Lee Sungmin, pengacara muda itu tiap paginya. Menyiapkan sarapan, membangunkan Minki, memandikan putri kecilnya itu sampai mendandaninya semua ia lakukan sendiri. Walaupun setelahnya ia cukup kelelahan dan harus menyisakan tenaga untuk bekerja, Sungmin tidak merasakan beban apapun.

“Appa..” Minki berlari kecil lalu memeluk kaki Sungmin yang tengah membuat pancake.
“Minnie..” Sungmin tersenyum. Ia meletakkan pancake yang sudah matang ke piring, mematikan kompor lalu beralih memeluk putri semata wayangnya itu.
“Hmm.. kamu sudah wangi.” Ujar Sungmin sambil mencium pipi chubby Minki. Ia pun menggendongnya lalu mendudukkannya di kursi di depan meja makan.
“Appa.. Minnie lapar..” serunya sambil menepuk-nepuk meja dengan sendok dan garpu yang sudah tersedia di atas meja.
“Ne.. taraaa..pancake cokelat kesukaanmu..” Sungmin meletakkan sepiring pancake dengan toping cokelat di depan Minki. Gadis cilik itu segera makan dengan lahap. Sungmin mengusap-usap kepalanya dengan penuh kasih sayang.

Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi ketika ia sudah selesai berpakaian rapi untuk berangkat bekerja. Ia melirik Minki yang tengah asyik bermain dengan boneka Mickey Mouse kesayangannya di sofa ruang tengah. Wajah cerianya mampu membuat hari-hari Sungmin terasa ringan meski ia sudah ditinggal pergi sang istri 4 tahun silam.
“Taeyeon, andai kau ada di sini, kau pasti sangat bahagia bisa menyaksikan pertumbuhan putri kita.” Gumamnya sambil melirik foto istrinya yang terpajang di dinding samping pintu kamarnya. Yah.. terkadang ia memang sedih dengan kepergian istrinya. Bahkan Taeyeon belum sempat melihat bayi yang baru dilahirkannya itu. Dia meninggal sesaat setelah melahirkan Minki karena ada komplikasi pasca melahirkan. Dan sekarang, Sungmin harus bisa tegar menjalani hidupnya sebagai single parent.

@@@

“Appa..Kita akan kemana?” Minki mulai mengoceh lagi sementara Sungmin sibuk menyetir.
“Ke rumah Halmeoni, chagi. Seperti biasa.” Jawab Sungmin dengan sabar.

Di saat Sungmin bekerja, Minki memang ia titipkan di rumah orang tuanya ataupun di rumah mertuanya. Tapi sepertinya kali ini ia harus memikirkan rencanya lain. Karena orangtuanya ternyata tidak bisa menjaga Minki.
“Ah, Mianhae Sungmin-ah. Appa dan Umma harus pergi ke rumah bibimu di Itali selama seminggu.” Ucap Ummanya dan sukses membuat Sungmin tercengang kaget. Saat datang ke rumah orangtuanya, ia menemukan mereka tengah memasukkan koper ke dalam bagasi mobil. Hendak berangkat.
“kenapa Umma tidak bilang sejak awal?”
“Ini mendadak sekali.”
Sungmin menghela napas. “Ya sudah.” Sesalnya. Ia lalu memutuskan membawa Minki untuk dititipkan di rumah mertuanya saja.

Sungmin melirik jamnya. Sepertinya ia akan terlambat datang ke kantor. Sekali lagi ia memencet bel. Kenapa lama sekali di buka? Apa mertuanya juga sedang tidak ada di rumah?
“Appa..Minnie bosan..” Minki mulai mengeluh sambil memasang tampang cemberut.
“Sabar ya Minki..sebentar lagi kamu bisa bermain dengan Halmeonimu..” ucap Sungmin menenangkan.
Tak lama pintu dibuka. Sungmin melonjak senang mengetahuinya. Namun ternyata, yang muncul bukanlah sosok mertuanya, tapis seorang pembantu.
“Oh, Tuan Sungmin. Mencari Tuan dan Nyonya?”
“Iya. Apa mereka ada?”
“Tuan dan Nyonya pergi ke Jepang sejak 2 hari yang lalu. Dan akan pulang minggu depan, Tuan.” Jawab pembantu itu.
“Nde!!!” Sungmin memekik kaget kembali. Minki yang belum mengerti malah sibuk memainkan bonekanya di samping Sungmin.
“Apa Anda ingin menitipkan pesan?”
“Ah, tidak usah. Kalau begitu, terima kasih. Maaf mengganggu..” Sungmin segera pamit pergi. ia mendadak lemas.

Kenapa orangtua dan mertuanya kompak sekali pergi. lalu siapa yang menjaga Minki? Mendadak pikirannya langsung tertuju pada Donghae dan Haebin. ah, mereka pasti bisa menjaga Minki. Sungmin tersenyum senang. Ia segera melajukan mobilnya menuju rumah Donghae.

@@@

“Apa? Menitipkan Minki?” tanya Haebin takjub sambil menatap Minki yang sedang digendong oleh Donghae. sungmin mengangguk putus asa.
“Iya. Maaf sudah merepotkan kalian. Aku bingung harus menitipkan Minki pada siapa lagi. Orangtuaku dan mertuaku semuanya pergi. jadi hanya kalian harapanku satu-satunya.” Ucap Sungmin setengah memohon.
Donghae dan Haebin saling berpandangan. Sebenarnya mereka tidak tega juga melihat Sungmin begitu kebingungan seperti ini. Tapi.. mereka juga sedang sibuk saat ini.
“Tapi Hyung, hari ini aku tidak bisa libur kerja.” Ujar Donghae
“Aku juga sedang sibuk dengan pekerjaanku di panti.” Jawab haebin sama menyesalnya.
Sungmin harus kembali meneguk kekecewaan. Ia juga tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya. Ada kasus penting yang harus ia selesaikan.

Haebin benar-benar tidak tega melihat ekspresi Sungmin yang begitu putus asa. Ia memutar otaknya mencari solusi.
“Ah, aku tahu Oppa, tempat yang pas untuk menitipkan Minki.” Seru Haebin.

@@@

“Menitipkan anak? Di sini?” tanya In Sung kaget. Haebin mengangguk. Sekarang yang terpikirkan olehnya adalah taman kanak-kanak tempat In Sung bekerja. Di situ ia bisa menitipkan Minki sekaligus tempat belajar untuknya.
“Iya. Kau mau kan In Sung..” Haebin memohon. In Sung tersenyum.
“Iya. Tidak masalah. Mana anak itu?”
Haebin menghadapkan Minki ke depan In Sung. Gadis itu tersenyum manis khas anak kecil.
“Aish.. neomu yeppeo..” seru In Sung gemas. Ia memang menyukai anak kecil. Terutama yang menggemaskan seperti Minki. In Sung jongkok di hadapan Minki.
“Siapa namamu?”
“Minki.”
In Sung makin tersenyum lebar melihat gadis cilik itu menyebutkan namanya. “Aigoo.. kenapa kamu bisa se-aegyeo ini..” ia mendongkak menatap Haebin.
“Dia keponakanmu?”
Haebin mengangguk. “Dia anak Sungmin Oppa.” Haebin sedikit merendahkan dirinya agar sejajar dengan Minki. “Minki, sementara ini kamu tinggal bersama In Sung Eonni ya..” ujar Haebin sambil mengusap kepalanya. Minki mengangguk patuh.
“Baiklah, In Sung, kupercayakan Minki padamu..kalau begitu aku pergi dulu ya..”
“Ya! Memang kau mau kemana?”
“Bekerja.”
“Dengan kondisi hamil?” In Sung berkacak pinggang. “Haebin, usia kandunganmu sudah lima bulan. Kau tidak boleh bekerja terlalu capek. Apa suamimu tidak melarangmu?”
“Tenang saja. Aku bisa menjaga diriku. Bye..”

In Sung melambaikan tangannya dengan wajah pasrah. Haebin memang gadis yang sulit di bertahu jika sudah bertekad. Sudahlah, sekarang ia harus memikirkan kembali pekerjaannya.
“Minki..ayo ikut Eonni.. di dalam kau bisa bermain bersama teman-teman barumu..” seru Haebin sambil menggandeng tangannya.

In Sung tersenyum melihat anak-anak kecil itu bermain dengan riang di lapangan kecil yang ada di TK itu. Melihat wajah tertawa mereka membuat hatinya tenang. mendadak ia kembali teringat dengan pertengkarannya tadi pagi. Seperti biasa, ibunya yang cerewet dan perhitungan sekali dengan uang itu menceramahinya lagi soal hubungannya dengan namjachingunya, Jun Jinyoung.
“Untuk apa kau berhubungann dengan mahasiswa seperti dia? Lebih baik kau mencari pacar yang lebih mapan dan bisa menjamin masa depanmu nantinya!!”
“Tapi Umma, Jinyoung itu namja yang baik. Dia tidak pernah berlaku kasar padaku.” Bela In Sung.
“Apa gunanya namja baik jika dia tidak bisa menjamin masa depanmu! Putus dengan dia dan menikahlah dengan namja pilihan Umma!”

Beberapa kali pun ia mengelak, Ummanya tetap tidak akan mendengarkan. Apa seburuk itukah citra Jin Young di mata Ummanya? Padahal In Sung sangat mencintai namjachingu yang baru dipacarinya selama 4 bulan terakhir. Dan dia tidak berminat sama sekali dengan perjodohan.
“Akh..huweeee..” In Sung tersadar dari lamunannya ketika ia mendengar suara tangisan salah satu dari anak kecil. Ia mengerjap melihat Minki, gadis cilik yang dititipkan Haebin padanya menangis di lapangan sana karena terjatuh. Secepat kilat ia segera berlari menghampiri.
“Aigoo..mana yang sakit sayang?” In Sung lansung membantu Minki berdiri. Minki menunjukkan lututnya yang terluka dan sedikit mengeluarkan darah. Gadis cilik itu menangis semakin kencang saat In Sung menyentuh lukanya. In Sung panik, ia segera menggendong Minki dan membawanya ke ruang kantor. Di sana ada kotak P3K.

“Cup..cup..sayang, Eonni akan mengobati lukamu..” In Sung mendudukkan Minki di atas sofa lalu mulai mensterilkan lukanya dan membalutnya dengan plester bergambar pokemon.
Minki masih belum berhenti menangis juga bahkan setelah In Sung selesai mengobati lukanya. “Sayang, jangan menangis lagi” In Sung menggendong Minki sambil berusaha menenangkan Minki. Ia kemudian mengambil boneka Mickey Mouse mini yang diberikan Jinyoung beberapa hari lalu.
“Kau mau ini? Eonni akan memberikannya asal Minki tidak menangis lagi.” In Sung memperlihatkan boneka itu pada Minki. Sukses gadis itu segera berhenti menangis dan mengambilnya. In Sung tertawa pelan.
“Anak baik. Sekarang ayo kita main lagi..” In Sung mengajak Minki kembali bergabung dengan anak-anak lain.

Hari sudah sore, tapi Haebin belum muncul juga. Sementara anak-anak yang lain sudah dijemput oleh orangtuanya masing-masing sejak tadi siang. In Sung tetap setia menunggu Haebin di kantornya sementara Minki sekarang tengah menonton kartun.
“Minki, kau lapar?” tanya In Sung. Minki mengangguk.
“Iya, Eonni. Minnie lapar..” gadis itu menepuk-nepuk perutnya. In Sung tertawa, ia lalu pergi mengajak Minki makan ke sebuah restoran tak jauh dari TK.

In Sung dibuat takjub melihat Minki makan dengan lahap. Ternyata gadis itu memang kelaparan. Padahal sebelumnya sudah memakan camilan beberapa bungkus.
“Kau benar-benar kelaparan ya, Min-chan?” tanya In Sung gemas. Ia membersihkan sisa-sisa makanan yang belepotan di sekitar mulutnya.
“Minnie suka makan, eonni..” jawabnya semakin membuat In Sung gemas. In Sung mencubit pelan pipinya. Aihs, andai dia punya anak selucu ini, pasti sudah habis karena sering ia cubit.

Minki sudah tertidur di pangkuan In Sung dan matahari sudah makin bergeser bersiap-siap untuk menghilang dari cakrawala digantikan oleh bulan. Tapi Haebin tak kunjung menampakkan batang hidungnya juga.
In Sung mencoba untuk meneleponnya. “Ya! Kau ini kemana sih? Bagaimana dengan Minki? Kau tidak ingin menjemputnya?” keluh In Sung dengan suara pelan. “Aku akan menunggumu di TK” tambah In Sung. Sebenarnya ia sekarang ada janji kencan dengan Jinyoung. Tapi sepertinya ia harus membatalkannya.
“Mianhae, In Sung-ah.. sekarang aku juga masih sibuk di panti. Aku akan menelepon Sungmin Oppa untuk menjemput Minki.”
“Baiklah. Aku akan membawanya ke rumahku. Katakan padanya untuk menjemput di rumahku saja. Kasihan, Minki sekarang sedang tidur.”
“Aku mengerti.”
In sung menghela napas setelah menutup teleponnya. Sekarang ia harus membawa Minki ke rumahnya.

@@@

“mwo? Anak siapa itu, In Sung?” tanya Shindong, kakaknya yang baru saja pulang bekerja ketika melihat In Sung pulang menggendong seorang anak kecil.
“Dia Minki, keponakan Haebin. tadi dia menitipkannya di TK. Tapi Haebin tidak bisa menjemput. Makanya aku membawanya kemari sementara menunggu orangtuanya datang menjemput nanti.” In Sung berjalan menuju kamarnya, lalu menidurkan Minki di atas tempat tidurnya. Gadis cilik itu sedikit menggeliat ketika In Sung membaringkannya. Namun cepat-cepat In Sung segera menina bobokannya kembali.

“Untuk apa kau membawanya kemari? Rumah ini bukan tempat penitipan anak.” Ucap Ummanya sambil menata makanan di atas meja. Appanya hanya menggelengkan kepalanya. In Sung sudah berganti baju dengan piyama tidurnya dan bersiap bergabung dengan keluarganya di meja makan.
“Sudahlah. Ini kan tidak tiap hari.”
In Sung bersyukur Appanya tidak begitu perhitungan seperti Ummanya. Ia sangat lelah malam ini. Haruskah mendengar ceramah ibunya yang mengeluh macam-macam padanya.
“Anak itu mana sekarang?” tanya Shindong yang sudah lebih dulu duduk di sana.
“Masih tidur, Oppa.” Tutur In Sung lalu menarik kursi di sebelahnya

“Umma sudah membicarakan hal ini dengan Tuan Cha. Dia bersedia menikah kapanpun asal kau bersedia In Sung..” ujar Ummanya di sela-sela makan malam itu. In Sung hampir saja tersedak mendengarnya.
“Apa? Menikah? Dengan Tuan Cha!!” pekik In Sung tak percaya. Tidak hanya ia yang tercengang, tapi Appa dan Shindong juga.
“Yeobo, apa yang kau pikirkan. Haruskah In Sung menikah di usianya sekarang.” Protes Appa
“Usianya sudah 23 tahun. Dan itu usia yang pantas bagi seorang wanita untuk menikah”
“Tapi Umma, Tuan Cha Jun Hee kan usianya sudah 40 tahun lebih.” Ujar Shindong bergidig ngeri. In Sung mengangguk membenarkan.
“Pokoknya aku tidak mau menikah dengan namja yang usianya sudah mendekati Appa. Tidak!!”
“Tapi dia sudah mapan. Dengan kekayaan yang dimilikinya kau tidak perlu hidup susah.”
“Apa Umma sudah gila? Jadi Umma menjual putrinya sendiri pada pria yang sudah tua seperti itu hanya demi harta?” In Sung terpukul menyadarinya.
“Lalu kau ingin seperti apa? Menikah dengan pacarmu yang seusia denganmu itu? Kau akan menyesal nanti.”
“Umma!!” teriak In Sung.
“Shin In Sung! Berani kau meneriaki Ummamu sendiri??”

Brakkk!!!

Seketika suasana hening ketika Tuan Shin, Appanya In Sung menggebrak meja. Sebagai kepala keluarga, ia merasa tidak dihargai melihat istri dan anak perempuannya bertengkar.
“Kita sedang makan malam. Jangan merusak suasana dengan pembicaraan yang mengundang emosi.” Ucapnya dengan emosi tertahan.
In Sung ingin kembali protes namun ia terhenti karena mendengar suara tangisan Minki di kamarnya. Anak itu mungkin terbangun karena gebrakan meja Appanya tadi. In Sung memilih menarik diri sejenak kemudian menghampiri Minki.

Benar saja. Gadis itu sudah terbangun dan kini sedang menangis. ia merasa tidak mengenali tempatnya berada sekarang. Maka dari itu ia menangis.
“Aigoo.. kau sudah bangun chagi..” In Sung segera menggendong Minki ke dalam pelukannya agar gadis itu tenang. dan benar saja, tak lama tangisan Minki sudah tenang.
“Appa..” panggil Minki di sela isakannya. In sung mengerjap.
“Appamu sebentar lagi datang. Minki tunggu ya..” ujar In Sung sambil membelai rambut Minki.

Bagaimana ini? Sekarang In Sung hanya berharap Appanya Minki segera datang menjemput.

@@@

Donghae lega. Akhirnya setelah selama seminggu terakhir ia pulang malam untuk menyelesaikan proyek, hari ini ia bisa pulang lebih awal juga. Saat menapaki ruang tamu rumahnya, ia terkejut melihat Haebin tertidur di sofa yang ada di ruang tamu. Bahkan istrinya itu masih mengenakan pakaian kerjanya. Donghae mendekat, ia mengusap kening Haebin perlahan.
“kau ini wanita yang sedang mengandung, yeobo. Haruskah kau bekerja sampai kelelahan seperti ini..” ujarnya tak tega saat melihat wajah Haebin yang tampak kelelahan. Sepertinya aku harus mengeluarkan kau kembali dari pekerjaan itu. Batinnya. Ia semakin tidak tega saat matanya terhenti pada perut Haebin yang mulai membuncit. Ia tidak boleh terlalu lelah.
“Emh..” Haebin menggeliat pelan lalu membuka matanya perlahan ketika donghae akan mengangkatnya.
“Omo, Oppa..kau sudah pulang?” serunya kaget seraya bangkit.
“kau ketiduran disini?”
“Iya. Ah, Sungmin Oppa!!!” haebin teringat. Tadi ia ketiduran ketika menghubungi Sungmin namun tidak kunjung di angkat olehnya.
“Kenapa dengan Hyung?”
Haebin tak sabar segera memaksa donghae. “Oppa, cepat hubungi Sungmin Oppa.. ia harus menjemput Minki di rumah In Sung.”
“Mwo? Jadi dia belum di jemput?” Donghae segera menghubungi Sungmin. Jam segini dia pasti sedang dalam perjalanan pulang.

Donghae sedikit menjauhkan dirinya saat berbicara dengan Sungmin. “Hyung, ada di mana kau sekarang?”
“dalam perjalanan ke rumahmu. Minki ada di sana kan?”
“Hyung, Minki ada di rumah In Sung.”
“Hah? Bagaimana bisa?”
“nanti kujelaskan. Kau jemput saja ke rumahnya. Aku akan mengirimkan alamatnya.” Ujar donghae. ia segera beralih ke Haebin agar menyebutkan alamat sahabatnya itu.
“Syukurlah. Aku sempat khawatir tadi.” Ujar Haebin. donghae mendelik.
“Yang seharusnya kau khawatirkan itu kondisi bayi kita, yeobo!” Donghae mengelus perut Haebin dengan lembut.
“Aegi, Ummamu itu susah sekali Appa beri tahu. Jadi kau harus kuat ya”
Haebin mendengus. “Oppa, belum apa-apa kau sudah mengadu padanya. Jika nanti dia menganggapku Umma yang tidak baik bagaimana..”
Donghae tertawa. “mana Mungkin. Dia anakmu. Dia tidak akan berpikir buruk tentangmu. Sekarang, ayo kita pindah ke kamar..” sebelum Haebin bergerak, Donghae sudah lebih dulu menggendongnya.

“Oppa.. jangan bertingkah seperti ini..kita kan bukan pengantin baru.” Protes Haebin. sebenarnya ia malu diperlakukan begini oleh Donghae.
“Anggap saja begitu. Saat pengantin baru kita kan tidak melakukannya.” Donghae mengedipkan matanya. Membuat pipi Haebin makin memanas.
“huuu.. kau terlambat Oppa..” ujar Haebin sambil mencubit pipi Donghae.
“Aigoo.. diamlah. Kau ingin aku serang lagi?” ancam donghae saat Haebin mulai menggodanya. ia mendudukkan Haebin di atas tempat tidur.
“Sudah jangan manja. Sekarang kau istirahat. Dan mulai besok, ambillah cuti dari pekerjaanmu itu sampai anak kita lahir.”
Haebin mengerjap kaget. “Shireo. Selama itu?? Berarti aku harus cuti selama empat bulan?”
“Lebih baik kau berhenti saja. Kau kan istri dari Lee Donghae, suamimu ini presdir perusahaan kontruksi terbesar di Korea. Hidupmu sudah sangat terjamin jadi tidak perlu pergi bekerja lagi.” Haebin tertawa keras. Ya ampun, sejak kapan suaminya jadi senarsis ini.

Tentu saja Haebin tahu hal itu. Semenjak Appa mertuanya selesai dioperasi, ia menyerahkan sepenuhnya perusahaan pada Donghae sementara ia akan memilih menghabiskan masa pensiunnya dengan berlibur ke pulau pribadi yang ada di Kepulauan Karibia. Leeteuk ikut dengannya ke sana untuk mengurus semua keperluannya. Meskipun sekali-kali ia kembali ke Korea untuk membantu Donghae.

“Oppa, aku suka bekerja membantu orang-orang di panti itu. Sekaligus, aku ingin menebus rasa bersalahku karena tidak bisa menjaga Umma saat ia masih hidup.” Ujarnya dengan ekspresi sedih.
Donghae paham. Haebin memang melakukan pekerjaan itu dengan senang hati. Donghae mendekat lalu mencium bibir Haebin sekilas.
“Baiklah. Tapi hanya sampai kandunganmu berusia 6 bulan. Setelah itu kau harus segera ambil cuti kalau tidak, aku akan mengikatmu di rumah.”
“Iya yang mulia. Aku akan ikuti perintahmu.” Haebin lalu memeluk donghae. ia ingin sekali bermanja-manja padanya sekali lagi.

@@@

Sungmin menatap ragu rumah di depannya. Sesuai dengan alamat yang sudah diberikan Donghae, ia datang menjemput Minki ke rumah gadis bernama Shin In Sung itu.
“Apa benar ini rumahnya?” tanyanya tidak yakin. Ia lalu memencet bel.
“Siapa?” tanya seseorang dari Intercom. Sungmin mendadak gugup.
“Saya Lee Sungmin. Datang untuk bertemu dengan Shin In Sung.” Ucapnya. Tak lama pintu pun dibuka seseorang. Yang membuka itu adalah Ummanya In Sung.

“Annyeong haseyo..” Sungmin sedikit menundukkan kepalanya saat bertemu dengan wanita berusia kira-kira 40 tahunan itu.
Umma sedikit terpana saat melihat Sungmin. Bagaimana tidak, meskipun sudah malam, penampilan namja berusia 28 tahun itu tetap rapi dan segar. Tidak ada raut lelah walau pun seharian tadi pekerjaannya begitu berat dan menumpuk. Apalagi Sungmin memiliki wajah yang tampan dan bisa memikat siapapun, termasuk para Ahjumma di luar sana.
“Kau..” Umma sukses terpikat pada namja di depannya itu. Ia melirik ke arah mobil Sungmin yang terparkir di luar pagar rumah mereka, wow, mobil sedan tipe terbaru dari Ford. Ia mengerjap senang.
Sungmin ikut melirik ke arah mobilnya, merasa ada yang aneh dengan pandangan Ahjumma di depannnya.
“Apa Shin In Sung ada?” tanya Sungmin memecah keheningan. Hmm.. betapa senang hatinya kala tahu ada namja yang masih muda, mapan, dan berwajah memikat menanyakan putrinya. Ia segera tersenyum hangat.
“Tentu saja ada. Silakan masuk.”

Sungmin sebenarnya tidak enak juga bertamu di waktu semalam ini. Tapi jika tidak, ia mana mungkin bisa menjemput Minki-nya. Tak lama In Sung datang. Ia pun bereaksi sama seperti Ummanya, agak terpana saat melihat Sungmin.
“Apakah kamu Shin In Sung?” tanya Sungmin membuyarkan kekaguman In Sung. Gadis itu mengerjap dan buru-buru menggelengkan kepalanya.
“Iya. Anda…??” In Sung merasa tidak pernah melihatnya.
“Aku Lee Sungmin. Appanya Minki. Haebin bilang dia bersamamu.”
In Sung mengerjap kaget. Ia berusaha menahan diri agar tidak memekik. Ya ampun, apa yang terjadi? Mengapa namja setampan dia sudah memiliki putri berusia 4 tahun??? Pantas saja Minki begitu cantik dan menggemaskan. Ternyata Appanya saja tampan seperti ini.
“Di-dia ada. Sebentar. Akan aku bawa dia..” ucap In Sung agak tergagap.
“Maaf merepotkan” ujar Sungmin.

In Sung segera berlari ke dalam untuk membawa Minki. Gadis cilik itu sedang bermain dengan Shindong di ruang tengah.
“Min-chan.. Appamu sudah datang menjemput. Ayo..” In Sung segera menggendongnya. Gadis itu tersenyum girang.
“Appa.. mana Appa..” serunya tak sabar. Ia melambai-lambaikan tangannya pada Shindong saat di gendong pergi oleh In Sung.

“Aigoo.. Minnie..” seru Sungmin lega saat melihat putrinya baik-baik saja. Malah tampak senang.
Minki segera berlari ke pelukan Ayahnya saat di turunkan oleh In Sung.
“Appa..Minnie senang Appa datang..” ujar Minki sambil memeluk leher Sungmin.
“Jinjja? Appa juga..”

In Sung tidak dapat menyembunyikan senyumnya saat melihat keakraban anak dan Ayah itu. Hmm.. pasti rasanya bahagia.
“In Sung-ssi, terima kasih sudah menjaga putriku seharian ini. Pasti merepotkan.” Ujar Sungmin kembali membuat In Sung mengerjap.
“Ah, tidak. Aku sudah terbiasa kok. Jadi Anda tidak perlu sungkan.”
“Lain kali aku akan membalas kebaikanmu. Kalau begitu aku dan Minki pamit pulang.” Sungmin berniat berterima kasih juga pada orang-orang dirumahnya yang sudah direpotkan. Namun In Sung buru-buru mencengahnya.
“Tidak usah Sungmin-ssi. Lagipula ini sudah malam. kasihan Minki.”
Sungmin mengangguk. “Benar juga. Kalau begitu sampaikan ucapan terima kasihku pada orangtuamu. Minki, ayo bilang terima kasih pada Eonni..” ujar Sungmin pada putrinya.
“Kamsahamnida, Eonni..” ujar Minki. Uh.. In Sung sangat gemas melihatnya. Ia ingin mencubit pipinya sekali lagi. Tapi mana mungkin ia lakukan di depan Appanya.
“Iya. Hati-hati di jalan..” In Sung mengantar sampai ke depan pagar rumahnya.
“Sekali lagi terima kasih banyak, In Sung-ssi..” ucap Sungmin sebelum ia naik mobilnya. In Sung mengangguk lalu ia melambaikan tangannya pada Minki yang duduk di jok di samping kemudi.
“Eonni.. dadahhh..” ujarnya sambil melambaikan tangan..
“Dadahhh..”

Mobil mulai berjalan dan tak lama menghilang dari pandangannya. In Sung menghela napas lalu kembali ke dalam rumahnya.

“Loh, mana namja tadi? Sudah pulang begitu saja?” serobot Umma saat In Sung masuk.
“Iya.” Jawab In Sung sekenanya.
“Dia kenalanmu? Aigoo.. tampan sekali..”
In Sung melengos malas. Ia tahu kebiasaan Ummanya saat sudah terpikat pada seorang namja.
“Berhenti berpikir yang bukan-bukan Umma, dia itu Appanya Minki.”
“Nde!!!!” Ummanya memekik. Kaget dan tak percaya. “mustahil. Dia kan masih muda begitu. Umma yakin usianya belum sampai 30 tahun.”
“Memang kenapa kalau dia masih muda? Bisa saja kan dia menikah saat usianya baru 20 tahun.” Ujar In Sung sebal. Ia segera melesat ke kamarnya untuk tidur.
Umma menghela napas berat. “huh, sudah punya anak berarti sudah menikah. Itu artinya dia sudah memiliki istri.” Sesalnya. Padahal tadi ia sudah memiliki sedikit harapan saat melihat Sungmin. Yah.. mungkin saja kan mereka bisa berjodoh.

To be continued…

No Other (Part 1)

Tittle : No Other Part 1
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : School life, friendship

Main Cast :

  • Lee Jiyeon
  • Cho Kyuhyun

Support Cast :

  • *find by yourself*

Meskipun baru diposting sekarang, tapi gini-gini ini FF aku yang paling awal loh.. *gak nanya*. FF ini udah lama diem di dalem lappy. nah, daripada terus nganggur di sana, lebih baik aku posting aja. Bener gakkk…

Karena FF lama, makanya maaf kalau ada typo, atau bahasa yang dipakai terlalu kamseupay gitu..
Happy reading ^_^

No Other by DhaKhanzaki

———–0.0————-

Part 1

Telaaaat!!!!

Jiyeon baru sadar kalau dirinya terlambat pergi ke sekolah ketika melihat jam Mickey Mousenya menunjukkan pukul 7.00.
“Jiyeon sarapan!!” teriak eomma dari lantai 1 dan itu membuatnya semakin panik. Dengan cepat ia memasukkan semua buku pelajaran hari itu dan sebuah CD yang di minta Siwon, oppanya.
“CD ini, jangan sampai lupa di bawa. Bisa di gorok Oppa kalo aku sampai lupa” batin Jiyeon. Setelah selesai ia bergegas turun ke lantai 1 menuju ruang makan. Di sana sudah duduk Appanya tercinta, Sungmin, Eommanya yang sedang sibuk menata makanan dan Eunhyuk.

“Kenapa kamu berdiri disitu? Ayo duduk!” ucap Appa. Jiyeon menggaruk kepalanya kemudian duduk di sebelah Sungmin.
“Anu, aku jadi malu. Harusnya aku bantu Eomma menyiapkan sarapan. Eomma, mian aku bangun kesiangan” sesal Jiyeon.
“tidak apa-apa. Eomma dibantu Eunhyuk pagi ini”

Jiyeon melirik pada Eunhyuk dengan tatapan penuh penyesalan dan Eunhyuk hanya tersenyum manis.
“ah, kalau aku sih sudah maklum dengan kebiasaanmu itu. Pasti semalam pun kamu memimpikan Heechul lagi kan?!” ledek Sungmin sambil memakan roti.
“Oppa!!” bentak Jiyeon kaget. Yang lainnya ikut kaget juga.
“Kenapa? Tadi waktu aku akan membangunkanmu, kamu mengigau seperti ni: ‘Chullppa, kamu memang pangeran berkuda putihku yang sangat tampan.’. Dan suaramu sangat keras.—umph!” Jiyeon lekas menutup mulut Sungmin sebelum dia berkoar-koar hal yang memalukan. Yang lain hanya melongo melihat tingkah Jiyeon.

“hoo.. Siapa itu Heechul?” tanya Eomma penasaran dengan nada meledek.
“Anii! Bukan siapa-siapa! Oppa, kau ini pagi-pagi sudah melantur” Jiyeon makin panik. Sungmin melepaskan tangan Jiyeon dari mulutnya.
“Ya! benar atau tidak yang pasti kamu menyebut namanya” oceh sungmin.
“Jiyeon, siapa Heechul?!” ini yang bertanya Appa. Suaranya terdengar mrah. Appa memang tidak suka mendengar putri semata wayangnya itu dekat dengan pria manapun. Karena Jiyeon baru kelas 1 SMA. Jiyeon harus mengutamakan pendidikannya dulu di bandingkan urusan cinta.

“Bukan siapa-siapa, Appa. Hanya teman…” Jiyeon tidak melanjutkan kalimatnya.
“teman..?” tanya Appa makin curiga.
“Dia temanku dan Sungmin Hyung di sekolah” jawab Eunhyuk menengahi. Jiyeon menghela napas lega. Dengan wajah berbinar-binar dia tersenyum pada Eunhyuk.
“Gomawo Oppa” ucap Jiyeon dalam hati. Appa mengangguk percaya saja. Jiyeon semakin lega. Kini dia sebal sekali pada Sungmin. Dia menoleh pada oppanya itu dengan tatapan marah. Sungmin segera mengalihkan perhatiannya pada jam tangannya.

“Aish, sudah jam segini. Eunhyuk, ayo kita berangkat!” sungmin meraih tasnya lalusegera pergi diikuti eunhyuk. Didepan rumah, jiyeon mencegah sungmin yang akan menaiki motornya.

“Oppa kau ini tega sekali. Kau tahu kan Appa sangat sensitif soal ‘pacar’. Kau ingin aku diberangus oleh Appa” ucap Jiyeon dengan menekankan kata ‘pacar’.
“Kamu berlebihan. Appa tidak sekejam itu” ucap Eunhyuk.
“Tapi kan tetap saja” Jiyeon menautkan kedua jari telunjuknya tanda kalau dia gusar.
Eunhyuk mengusap-usap kepala Jiyeon dengan lembut.
“Tenang. All is well. Ok”
“Emm!” Jiyeon mengangguk cepat. Perasaan Jiyeon langsung tenang jika Oppanya yang satu ini mengelus kepalanya.

“Ok, sampai bertemu di sekolah, dongsaengku sayang. Ayo Hyuk, naik” Sungmin menyuruh Eunhyuk naik motor dibelakangnya.
“Loh Hyung, Jiyeon bagaimana?”
“Biarkan. Bukannya dia bisa bawa motor sendiri.” Ujar Sungmin. Eunhyuk menurut saja. Jiyeon terperangah sendiri.

“Oppa!!” Jiyeon berteriak ketika motor yang dibawa Sungmin melaju pergi.
“Oppa jahat!!” lirihnya menahan tangis. Tapi tidak jadi karena dia melirik jam tangannya.
“aigoo!! sudah jam segini!!” ia bergegas pergi.

__o0o__

*disebuah rumah mewah*

Kyuhyun bersama sepupunya yang dari luar negeri, Hankyung sedang berjalan menuju mobil yang terparkir di depan rumah.

Rumah itu besar sekali. Beberapa pelayan memberi salam ketika dia lewat. Kyuhyun memang tidak membalasnya, tapi pelayan-pelayan itu tersenyum puas melihat majikannya yang super keren.

Seorang pelayan pria datang menghampiri Kyuhyun untuk menyerahkan sebuah surat undangan.
“Apa ini?” tanya Kyuhyun bingung.

“Itu surat undangan untuk pesta minggu depan Tuan”
“Pesta?” tanya Kyuhyun bingung
“Pesta apa?” Hankyung ikut penasaran.
“Ah, hanya pesta biasa. Tidak begitu penting.” Kyuhyun melengos pergi begitu melihatnya sekilas.
“Loh kenapa? Memangnya kamu tidak akan datang?”
“Tidak!” jawab Kyuhyun tegas sambil membuka pintu mobil. Hankyung beralih membuka pintu yang satunya.
“Kenapa? itu pesta kawan. Pasti menyenangkan” Hankyung duduk di kursi kemudi.
“Percaya padaku, itu pesta biasa antar perusahaan dan sangat-sangat membosankan” ucap Kyuhyun sambil mengenakan sabuk pengaman.
“benarkah! Tapi aku ingin tetap datang.” Hankyung mulai menstarter mobil Pagani Zonda milik Kyuhyun itu.
“Kalau begitu datang saja.”
“Boleh?”
“hei, kau kan anggota keluarga juga”
“Ah kau benar”

mobil mulai melaju. Ditengah perjalanan Kyuhyun mlamun sementara Hankyung sibuk mnyetir mobil.

__o0o__

*di jalan*
Ponsel Jiyeon berdering. Terpaksa Jiyeon menghentikan motor sejenak.
“Hallo…” ucapnya pelan.
“APANYA YANG HALLO BODOH!!” suara teriakan langsung menerjang telinganya begitu Jiyeon menjawab. Jiyeon menjauhkan ponselnya sejenak. Tanpa menyakan identitas pun Jiyeon tahu yang membentaknya adalah Siwon.
“Sekarang jam berapa, hah!! Kenapa masih belum datang juga?! Kamu kira aku ini pengangguran? Setiap detik waktuku satu juta kali lebih berharga dari waktumu!” Siwon terdengar sangat marah. Suaranya menggelegar seperti petir di siang bolong. Jiyeon menganggukkan kepalanya berkali-kali walaupun Siwon tidak mungkin melihatnya.
“Araseo, mianhae. Aku sedang perjalanan ke sekolah. Jika ingin aku cepat sampai, tutup ponselnya segera!”
“Cepat kemari atau aku tidak akan mengakuimu sebagai dongsaeng lagi!”
“Oke! Tunggu aku di gerbang Oppa, aku ngebut sekarang!”

__o0o__

*di sekolah*

Yoona menunggu Jiyeon harap-harap cemas di depan gerbang.
“Anak itu kemana! 10 menit lagi gerbang akan ditutup!” Yoona mondar mandir gelisah.
“Kamu kenapa?” tanya Donghae dari kaca mobilnya. Yoona mendekat.
“Jiyeon belum sampai. Kamu lihat dia di jalan?”

“Tidak.” Donghae kemudian turun dari mobilnya. Sementara mobilnya itu melaju meninggalkan gerbang sekolah.
“Kenapa kau turun?” tanya Yoona bingung.
“Untuk menemanimu”
“What?!” Yoona kaget. Donghae buru-buru meralat.
“Maksudku, menemanimu menunggu Jiyeon. Ah, kemana anak itu, kenapa lama sekali..” Donghae mengalihkan pandangannya ke arah luar gerbang, pura-pura ikut mencemaskan Jiyeon juga. Ia jadi sedikit salah tingkah.

“Kalian mengapa mengumpul disini? Ah, aku tebak. Jiyeon datang terlambat lagi kan?” tebak Ryeowook yang mendadak muncul.
“Iya” ucap Yoona. Ia bersedekap jengkel “Dasar! Anak itu bikin cemas orang saja”
Ryeowook memiringkan kepalanya, ia merasa heran. “Aneh, tadi kulihat Sungmin Hyung dan Eunhyuk Hyung sudah datang”
Yoona mengerjap mendengarnya. “Jinjja!! Terus bagaimana Jiyeon?” wajahnya mendadak memucat.

Tiba-tiba terdengar suara cewek-cewek menjerit histeris. Yoona, Ryeowook dan Donghae serentak menoleh ke arah asal keributan. Rupanya disana ada Siwon, sang bintang di sekolah itu bersama temannya Kangin.

“Mana anak itu! Sebentar lagi gerbang akan ditutup” Siwon bergantian melihat kedepan dan ke jam tangannya. Kangin hanya mengangkat bahu.

Oh iya, sekolah tempat mereka belajar itu merupakan sekolah seni yang sangat terkenal bernama Kirin Art School. Bintang-bintang baru banyak dihasilkan sekolah tu. Salah satunya Siwon dan Yesung.
“Dia benar-benar sudah mempermainkanku! Bisa-bisanya aku membuang waktuku yang berharga demi menunggu hal tidak berguna”
“Tapi tanpa dia, kau tidak bisa tampil hari ini. Dia membawa rekaman lagu barumu kan” ucap Kangin sambil memainkan ponselnya.
“Tentu saja! Aku akan memastikannya, ah sial!” umpat Siwon
“Kenapa?” Kangin kaget.
“Ponselku mati. Pinjami aku ponselmu” paksa Siwon penuh emosi. Kangin menyerahkan ponselnya. Siwon segera menelpon Jiyeon namun tidak ada jawaban.
“Kenapa ponselnya dimatikan!” Siwon melirik Kangin dengan pandangan menyala-nyala kesal. Sahabatnya itu tenang-tenang saja, malah tertawa.
“Di saat seperti ini kamu masih bisa tertawa?” Siwon bertolak pinggang. Sikap angkuhnya mulai bangkit.
“Tenang. Semuanya bisa aman terkendali.” Kangin menenangkan dengan menepuk pundaknya.

“Lihat, Siwon Hyung kelihatannya panik” ujar Ryeowook yang menyaksikan mereka dari jauh.
“Pasti lagi nungguin orang juga” jawab Donghae.
“Siapa?” tanya Yoona penasaran. Donghae dan Ryeowook saling pandang karena tidak tahu jawabannya.
“Biar aku tanya.” Donghae hendak pergi tapi Ryeowook menahannya.
“Jangan. Buat apa. Memang dia mengenalmu?”
Donghae langsung diam. Benar juga sih. Siwon tidak mungkin mengenal murid biasa sepertinya.
“Paling dia cuma mau minta tanda tangan aja. Dia kan fansnya” ledek Yoona.
“Kalian!!” teriak Donghae jengkel.

__o0o__

Jiyeon memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Sehingga ia tidak begitu memperhatikan mobil-mobil lain yang berlalu lalang di sekitarnya hingga tiba-tiba ada mobil yang melintas di depanya.
Jiyeon cepat mengerem namun terlambat, motornya menabrak mobil itu dan ia jatuh dari motornya. Kecelakaan pun tidak dapat terhindarkan.

Braaakkk!!!

“Aduh!” erang Jiyeon menahan sakit di kakinya yang terkilir saat jatuh tadi.

Hankyung dan Kyuhyun terdiam saling pandang setelah mobil yang mereka kendarai menabrak motor. Hankyung segera keluar mobil diikuti Kyuhyun. Kyuhyun melihat seorang yeoja terduduk di aspal. Dia memakai seragam sekolah yang sama dengannya.
“Naneun gwaenchana?” tanya Kyuhyun hati-hati.
“Gimana bisa tidak apa-apa! Aku jatuh dan motorku rusak! Kamu tahu rasanya? Sakit sekali, aduuh” Jiyeon meringis sambil memegang kakinya.

Hankyung segera menghampiri Jiyeon.
“Mianhae. Ini semua salahku.” Hankyung membantu Jiyeon berdiri sementara Kyuhyun terus melihat jamnya. Tak ada segurat rasa bersalah sedikitpun di wajah dinginnya.
“Han, kita sudah terlambat sekolah. Ayo pergi” ia tampak tidak sabar.

Apa? Jiyeon pun melirik jamnya. Matanya terbelalak. Jam masuk sekolah sudah hampir tiba! Tidak! Dia juga sudah terlambat!
“kamu ini, Kita harus bertanggung jawab. Yeoja ini terluka dan motornya rusak.” Hankyung menatap Kyuhyun berharap namja itu mengerti kondisi sedikit saja.
“Aish, menyebalkan!” Kyuhyun dengan hati jengkel menelpon rumah sakit dan bengkel.
“Semuanya sudah kuurus. Han, ayo pergi.” Kyuhyun bergerak menuju mobilnya. Hankyung menurut, ia mengikuti Kyuhyun meskipun sebenarnya ia tidak tega meninggalkan yeoja itu sendirian. Apalagi saat kondisinya seperti itu.

Apa?? Etiket macam apa itu? Tidak sopan sekali! Jiyeon jengkel sekali dengan sikap namja menyebalkan itu. Ia lantas berteriak.
“Ya!! Kalian ingin seenaknya pergi meninggalkanku sendiri? Dasar namja tidak berperasaan!”
Kyuhyun berhenti berjalan mendengar bentakan yeoja yang tak dikenalnya itu. Ia lantas berbalik dengan kening berkerut kesal.
“Mwo?!” Ia tidak terima. Kyuhyun berkacak pinggang.
“Hei, tunggu saja. Sebentar lagi akan ada petugas rumah sakit datang dan motormu itu akan
kami betulkan di bengkel” Jiyeon mencoba bangkit dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya an dengan langkah diseret-seret dia mendekati Kyuhyun. Berdiri tepat di hadapannya.
“Ini bukan soal ganti rugi ok, aku hanya minta pertanggung jawaban dari kalian. Setidaknya temani aku sampai semuanya selesai. Kalian ingin kabur dari masalah?!”

“Kau!!” kyuhyun menggeram sambil telunjuknya ia arahkan tepat ke depan wajah Jiyeon. Ah, bisa terjadi perang sipil jika tidak segera dicegah.
“Hei hei” Hankyung menengahi mereka. “dia benar. Kita memang harus bertanggung jawab” ujar Hankyung. Kyuhyun melayangkan death glarenya pada Hankyung. Ia tidak suka dengan gagasan itu.
“Han, kau malah membela yeoja gak jelas ini?” tuduhnya. Tangannya tetap menunjuk Jiyeon.
“Heh, siapa yang kau panggil yeoja gak jelas? Dasar namja tengil!” ucap Jiyeon seraya menepis tangan Kyuhyun.
“Kau cari mati!!” namja itu kini memelototinya.
“hei hei!” lagi-lagi Hankyung harus menengahi. Akhirnya Kyuhyun memilih menyerah dari perseteruan ini. Ia kembali melirik jam tangannya.
“Waktu kita sudah habis. Kita terlambat sekarang” ujar kyuhyun mendesah kesal. ia orang yang ontime. Sangat benci dengan kata ‘terlambat’.

Suasana sempat hening.

“Ah!” pekik Jiyeon tiba-tiba. Jiyeon kelimpungan mencari ponselnya yang jatuh entah dimana. Ia harus menelpon seseorang.

Kyuhyun melihat ponsel tergeletak dekat mobil. Lantas ia mengambilnya.
“Ini milikmu?” Kyuhyun mengulurkan ponsel ke hadapan Jiyeon.
Gadis itu menoleh. “Ah benar!” ia segera merebutnya. Sayang ponselnya tidak bisa menyala lagi karena tadi berbenturan dengan aspal menyebabkan layarnya retak..
“Haa! Bagaimana ini! Aku harus mengabari oppaku” lirih Jiyeon panik. Dia langsung melirik pada Kyuhyun.
“Apa?!” tanya Kyuhyun heran. Ia merasa ada yang tak beres dengan tatapan Jiyeon.

“Pinjam ponselmu sebentar!” paksanya. Kyuhyun mengerjapkan mata.
“Tidak mau!” tegas Kyuhyun.
“Pinjam cepat!” Jiyeon tetap memaksa. Kyuhyun mendengus jengkel. Yeoja ini benar-benar selalu mencari masalah.
“Kau ini!” pada akhirnya-dengan kesal Kyuhyun menyerahkan ponselnya. Jiyeon mengambilnya dengan wajah sumringah. Tanpa menunggu, Jiyeon segera menghubungi Siwon. Tapi, tidak dijawab. Jiyeon makin panik. Jangan-jangan Siwon marah dan membanting ponsel sampai mati. Waduuh….

—-0.0—-

*di rumah sakit*
“Kau harus istirahat. Jangan melakukan gerakan-gerakan berlebihan selama 2 minggu”
ucap dokter yang bernama Shindong itu begitu selesai membalut kaki Jiyeon dengan perban. Pernyataan yang dilontarkan dokter itu bagaikan petir yang menyambar tepat di dekat telinga Jiyeon.
“APA?! Tapi dokter, minggu depan aku ada tes menari” pekik Jiyeon. Kyuhyun dan Hankyung yang ada disana sampai kaget lalu menoleh. Dokter Shindong adalah dokter keluarga Kyuhyun.
“Sayang sekali kalau begitu” jawab dokter singkat sambil tersenyum ramah. Kyuhyun menyunggingkan senyum evilnya melihat wajah Jiyeon memelas.
“Jadi dok, tidak ada yang terlalu serius kan?” tanya Hankyung.

Dokter Shindong menggeleng. “Tidak ada. Hanya terkilir. Yang lainnya baik-baik saja”
“Kau dengar itu cewek tengil? Hanya terkilir.” ulang kyuhyun penuh penekanan pada tiap kata yang di ucapkannya. Jiyeon melayangkan tatapan sinisnya pada Kyuhyun.
“Ara! Aku denger kok” balas Jiyeon jengkel.

Ah, Jiyeon ingat. Dia harus segera menghubungi seseorang.

__o0o__

“Siapa dia? Teman sekolahmu?” tanya dokter Shindong pada Kyuhyun dan Hankyung karena Jiyeon memakai seragam yang sama.
“Ya begitulah. Tapi aku tidak mengenalnya” jawab kyuhyun acuh tak acuh. Dokter Shin mendadak teringat sesuatu.
“Ngomong-ngomong, minggu ini jadwalmu melakukan pemeriksaan rutin. Kamu harus meluangkan waktu. Jika tidak maka orangtuamu akan mengeluh padaku”
Kyuhyun malas sekali jika mendengar ia harus kembali melakukan medical check up seperti biasanya. Uh,… ia sehat koo.. kenapa harus diperiksa secara rutin segala sih? Orang tuanya terlalu cemas berlebihan.
“Ya,ya. Aku tahu” ucap Kyuhyun malas. Setelah dokter pergi, mereka kembali ke kamar Jiyeon.

__o0o__

*di sekolah*
Yoona cemas karena Jiyeon akhirnya tidak datang juga. Sudah ia hubungi tapi ponselnya tidak aktif.
“Ah! Aku harus bertanya pada Sungmin Oppa!” Yoona bergegas keluar dari kelas, dalam perjalanan menuju kelas Sungmin, tanpa sengaja ia melihat Ryeowook sedang bersama Heechul, hyungntya. Mereka seperti sedang serius membahas sesuatu. Mendadak Yoona tertarik untuk mengetahui apa yang mereka bicarakan.

“kemana Kyuhyun! Dia harusnya menyerahkan partitur musik hari ini, dia ingin band kita tidak bisa latihan?!” Heechul tampak jengkel. Ia meninju pelan tembok di sampingnya.
“hari ini dia tidak masuk Hyung. Mungkin dia sakit” jawab Ryeowook. Kebetulan mereka sekelas.

Kyuhyun sakit? Pikir Yoona heran. Anak orang kaya raya itu bisa sakit juga. Karena ia terlalu cemas pada Jiyeon, Yoona langsung berlari menuju kelas Sungmin. Tanpa sengaja, Sungmin justru menabraknya hingga terjatuh. Yoona sedikit tersipu malu ketika tahu di hadapannya ada Sungmin.
“Mian, aku tidak sengaja” ucap Sungmin sambil membantu Yoona bangun. Yoona masih juga tersipu namun sedetik kemudian ia teringat pada tujuannya menemui Sungmin.
“Oppa kebetulan sekali.. Jiyeon..”
Mendengar kata Jiyeon disebut, Sungmin juga terkesiap. Ia segera memotong ucapan Yoona. Raut kepanikan jelas terlihat di wajah aegyeonya.
“Maaf Yoona, aku sedang buru-buru. Jiyeon kecelakaan” Sungmin tampak sangat panik.
“Ne?!!” Yoona pun memekik kaget.
“aku harus segera ke rumah sakit”
“oppa aku ikut”

To be continued…