Tag Archive | Leeteuk

Shady Girl Siwon’s Story (Part 10)

Tittle : Shady Girl Siwon’s Story Part 10
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance nyesek *emang ada?

Main Cast :

  • Choi Si Won
  • Lee Sun Hee

Support Cast :

  • Tiffany Hwang
  • Lee Donghae
  • Leeteuk

Follow twitter author yuukk.. @julianingati23

Author lagi baik nih.. jadi niatnya mau posting Shady Girl Siwon’s Storynya ampe tamat. Hati-hati typo yah, meskipun banyak orang mengatakan typo itu adalah art of writing, tapi bagi author tetep aja typo bukti bahwa author masih amatiran banget *ngaku*

Di sini dan part ending siap-siap mewek yah. ^_^ bakal ada cast yang meninggal soalnya *bocoran

Happy Reading ^_^

Shady Girl Siwon's story by Dha Khanzaki12

Baca lebih lanjut

Iklan

Another Story In Shady Girl [Donghae’s Story] // Our Second Honey Moon ??

Tittle : Our Second Honey Moon ??
Another Story In Shady Girl Donghae’s Story

Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Married Life, NC 21
Length : Oneshot

Main Cast :

  • Lee Donghae
  • Park Haebin

Support Cast :

  • Leeteuk as Donghae’s Hyung
  • Kwon Yuri as Donghae’s Secretary

Author datang dengan penuh harapan.. *nyanyi
Shady Girl genre terlarang muncul dan kali ini adalah si pemilik asli dari cerita Shady Girl *tarik bang Donghae* yang membawakan kisah pernikahannya dengan Haebin.
Sekali lagi maaf yah kalau kurang hot. Author adalah pecinta cerita romance namun kadang suka juga sih yang romantisnya kelewatan *Nyengir kuda*. Itu sebabnya kenapa bahasa yang dipake masih halus-halus gimana gitu. Author gak pinter bikin FF ence yang full ence *you know what I mean*

So, Happy reading dan hati-hati dengan typo yang bisa ditemukan di mana saja ^_^

Another Story In Shady girl - Second Honeymoon by Dha Khanzaki

Baca lebih lanjut

Shady Girl Siwon’s Story (Part 2)

Tittle : Shady Girl Siwon’s Story Part 2
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance,

Main Cast :

  • Lee Sun Hee
  • Choi Siwon

Support Cast :

  • Lee Donghae
  • Taemin *masih jadi bocah SD
  • Leeteuk

Hohohoho… author peringatkan dari awal ya.. Shady Girl Siwon’s Story bakal bikin banjir airmata. Jadi persiapkan dari sekarang satu kotak tissue toilet buat ngelap ingus.. *hihihih

Buat yang gak suka support cast yang ada di sini (author gak bisa sebut namanya) author bingung kenapa gak suka padahal author fansnya loh ^_^(don’t bash) meskipun begitu author harap temen-temen di sini jangan bash FF author yah. entar author sedih terus gak bisa lanjutin FF ini lagi.

buat yang lupa kalau Donghae punya adik, yuk flashback baca Shady Girl lagi. Di situ Donghae benci banget ke bapaknya gara-gara bapaknya ngusir orang-orang dia sayang. Mulai dari ibunya, adiknya, ampe So Yeon *yang udah baca pasti tahu* Nah, adiknya itu Sun Hee. emang sengaja gak author ceritain soalnya mau dimunculin di Siwon’s Story. *surprise..*

Okeh, daripada bergaje-gaje lebih baik baca bareng yuukk. ^_^
kritik dan saran tetep ditunggu ^^

Shady Girl Siwon's Story by DhaKhanzaki

Baca lebih lanjut

Shady Girl Siwon’s Story (Part 1)

Tittle : Shady Girl Siwon’s Story Part 1
Genre : Romance
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young

Main Cast :

  • Choi Siwon
  • Lee Sun Hee a.k.a Cheryl Lee

Support Cast :

  • Tiffany Hwang
  • Lee Donghae
  • Cho Kyuhyun
  • Kim Kibum
  • Eunhyuk
  • Leeteuk

Hai hai hai… Setelah bersemedi di Gunung Halimun akhirnya author balik lagi nih bawa FF Shady Girl dengan Siwon Oppa sebagai cast utamanya. Diharapkan cerita ini memuaskan hati temen-temen semua deh. semua kritik, komentar, dan saran author terima tapi tidak untuk bash. Kamsahamnida ^_^

Yuk kita baca bersama ^_^

Shady Girl Siwon's Story by DhaKhanzaki

Menunggu.. satu kata yang tak bosan untuk ku ucapkan. Menyebalkan memang. Tapi hanya ini lah yang bisa kulakukan agar aku bisa mendapatkan cinta. Menunggu hingga bertahun-tahun lamanya, itu tidak masalah jika pada akhirnya dia akan beralih untuk mencintaiku…-Siwon–

Terkadang cinta itu melelahkan. Tapi percayalah, engkau akan rela melakukan apapun untuk mendapatkannya. Sekalipun harus menunggu dia melupakan cinta masa lalunya dan beralih mencintaiku.. –Sun Hee–

Baca lebih lanjut

All My Heart (Part 4)

Tittle : All My Heart Part 4
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, sad,

Main Cast :

  • Lee Jiyeon
  • Cho kyuhyun

Support Cast :

  • Leeteuk
  • Seohyun
  • Hangeng
  • Kibum

Ceramah Author : Bingung juga. apa yah? gak ada deh.. selamat membaca aja ^_^
Warning :
Banyak typo di mana-mana
Bahasa tidak sesuai EYD
Maaf kalau feelnya gak dapet
Maaf kalau ceritanya makin gak rame

Happy Reading ^^

All My Heart by Dha Khanzaki1

Baca lebih lanjut

Shady Girl Kibum’s Story (Part 8)

Tittle : Shady Girl Kibum’s Story Part 8
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance

Main Cast :

  • Cho Jarin
  • Kim Kibum

Support Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Hangeng
  • Lee Donghae
  • Lee Sungmin
  • Lee Hyukjae / Eunhyuk
  • Leeteuk
  • Choi Siwon

Warning : Typo bertebaran

ahahah.. aku udah males ceramah nih. jadi langsung aja yah.
Happy Reading ^_^

Shady Girl Kibum's Story by Dha Khanzaki1

Baca lebih lanjut

No Other (Part 7)

Tittle : No Other Part 7
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Friendship, School Life, Romance, Family

Main Cast :

  • Lee Jiyeon
  • Cho Kyuhyun

Support Cast :

  • Leeteuk
  • Seohyun
  • Kim Ryeowook
  • Im Yoona
  • Lee Hyukjae / Eunhyuk
  • Bae Suzy

Ada yang kangen ama FF ini? nah, check this out ajalah.. ^^

No Other by Dha Khanzaki

———o0o———-

Kyuhyun menatap Jiyeon sungguh-sungguh. Namun sepertinya gadis itu salah mengartikan ekspresinya karena sekarang dia malah bersorak senang.
“Kenapa dia? Oh, kau sudah melakukan sesuatu?” tanya Jiyeon girang sambil menggoncang lengan Kyuhyun halus. Tatapan Kyuhyun begitu serius hingga akhirnya membuat senyum Jiyeon terhenti.
“Jiyeon, kau harus menyerah!” tegas kyuhyun. gadis itu tersentak kaget. Kenapa tiba-tiba Kyuhyun memintanya menyerah?
“waeyo?” Ia tidak mengerti. Kyuhyun memegang erat kedua bahu Jiyeon.
“Heechul hyung sudah mempunyai pacar!” ucapnya dengan suara berat. Kyuhyun benar-benar tidak tega mengatakannya. Namun Jiyeon harus tahu. ia harus tahu bahwa percuma saja memaksakan diri menyukai Heechul karena namja itu tidak mungkin membalas perasaannya.
Tubuh gadis itu membeku seketika. Heechul sudah memiliki kekasih? Tidak mungkin.
“You lie! Aku pernah bertanya pada Ryeowook dan dia bilang Heechul Oppa tidak sedang dekat dengan yeoja manapun!”
“Mana aku tahu soal itu. Yang pasti kemarin Hyung berbicara dengan pacarnya yang bernama.. Ah, taeyeon!” ujar Kyuhyun yakin. Ia menatap jiyeon sungguh-sungguh berharap gadis ini percaya. Namun gadis itu justru terdiam.

Jiyeon merasakan otaknya mendadak kosong. Ia bingung antara percaya atau tidak. Otaknya berputar-putar cepat seperti roller coaster.
“Jadi, Mianhae, aku tidak bisa menepati janjiku” sesal Kyuhyun. Jiyeon langsung menatapnya tajam.
“Kalau begitu kita putus” timpal Jiyeon. Kyuhyun mengerjap kaget.
“Shireo!!” spontan ia menolak.
“kenapa? Bukankah kita pacaran dengan syarat kau akan mendekatkan aku dengan Heechul Oppa!”
“Arra! Tapi..”

Jiyeon menyipitkan matanya, ia menatap Kyuhyun dengan hati kesal. Kyuhyun kehabisan kata-kata. Ia kebingungan harus menjawab apa. Hatinya mendadak gusar. Ia memejamkan mata sejenak lalu menatap Jiyeon sungguh-sungguh. Dalam hati, ia benar-benar tidak mau berpisah dengan yeoja ini.
“Karena aku sepertinya sudah memahami sesuatu” ujar Kyuhyun dengan suara rendah.
“Paham apa?”
“arti dari cinta” jawab Kyuhyun langsung, tanpa mengalihkan tatapannya dari mata gadis itu. Jiyeon seketika diam. Ia terkesiap kaget begitu menyadari eskpresi Kyuhyun berubah serius. Namja itu menatap matanya dalam-dalam.
“Selama beberapa hari bersamamu. Entah kenapa sepertinya ada yang berubah. Aku merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Seperti lagu yang ku nyanyikan tadi. Sepertinya tanpa berbicara pun kau sudah mengajarkan aku cinta”

Mata Jiyeon melebar. Ada perasaan aneh menyusup ke dalam hatinya detik itu juga. Dan itu membuatnya sesak. Jantungnya pun berdetak lebih cepat. Perasaan apa ini? Kyuhyun meraih kedua tangan Jiyeon. Sekali lagi menunjukkan kesungguhan hatinya pada gadis ini.
“Jadi ku mohon. Tetaplah jadi pacarku. Ajari aku sebentar lagi” pintanya serius.
Jiyeon terbelalak.”Mwo? Tapi Kyu, kau melupakan satu hal” ucap Jiyeon seraya menarik tangannya perlahan. Ia memberanikan diri membalas tatapan Kyuhyun.
“Jika kau sudah memahami apa itu cinta, apa yang akan kau lakukan?”

Kyuhyun merengutkan keningnya, bingung. Benar juga! Jika ia sudah paham, apa yang harus ia lakukan? Jiyeon merasa menjadi orang paling menyedihkan ketika menatap wajah bingung Kyuhyun.
“Kau bahkan tidak tahu? Aku akan memberitahumu satu hal, Kyu. Di dunia ini tidak ada hal yang lebih menyakitkan dari cinta” ujar Jiyeon serius. Kyuhyun semakin tidak mengerti.
“Apa maksudmu?”

Pertanyaan Jiyeon belum terjawab karena mendadak saja seseorang berseru memanggil Kyuhyun. kedua orang itu menoleh bersamaan. Kyuhyun mengerjap begitu melihat sosok kakaknya, Leeteuk dan yeojachingunya, Seohyun datang. Jiyeon mengenali dua orang ini! Bukankah saat ke hotel ini kemarin mereka pernah bertemu.
“Loh Kyuhyun, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Leeteuk.
“Oh Hyung, tidak hanya mengobrol ringan dengan…” Kyuhyun sadar bahwa ia belum mengenalkan Jiyeon pada kakaknya. Baru ia akan membuka mulut, Jiyeon menyela.
“Eonni..” ucap Jiyeon pada Seohyun.
Seohyun tertegun sesaat menatap Jiyeon. Sepertinya ia mengenal gadis ini. “Oh, kau gadis cantik waktu itu!” serunya. Kyuhyun mengerjap, mereka sudah saling mengenal?
“Ne Eonni. Lee Jiyeon imnida” Jiyeon mengenalkan dirinya dengan sopan. Jiyeon senang sekali pada Seohyun. Menurutnya Seohyun adalah seorang yeoja yang cantik, ramah, dan memiliki senyum yang menawan!
“Tunggu, kalian sudah saling mengenal?” serobot Kyuhyun tidak sabar. Seohyun mengangguk ringan.
“Pertemuan yang tidak disengaja” jawab Seohyun.
“Dia temanmu?” tanya Leeteuk. Kyuhyun menggeleng dengan senyum lebar.
“Kau salah, Hyung. Dia pacarku” ucapnya sambil merangkul bahu Jiyeon. Gadis itu melonjak kaget, begitu Seohyun dan Leeteuk.
“Omo, kenapa kau tidak bilang dia kekasihmu, Kyu..jadi maksudmu berkonsultasi malam itu karena dia?” ujar Seohyun senang.
“Konsultasi?” tanya Leeteuk. Gawat, Hyungnya itu tidak boleh tahu perihal konsultasinya dengan Seohyun.
“Aaa—stop. Jiyeon ini hyungku. Leeteuk” potongnya. Kali ini Jiyeon terkesiap kaget. Apa? Ia tidak percaya. Namja keren ini Kakak Kyuhyun?
“Aku Jiyeon” ia mengenalkan dirinya dengan kaku.
“Oh, yang tadi menyanyi bersama Suzy? Jadi kau yeojachingu Kyuhyun. Aku kira kau teman Suzy.” Ucap Leeteuk.
“Suaramu indah. Sama seperti Kyuhyun.” timpal Seohyun. Kyuhyun mengeryitkan alisnya. Suaranya jauh lebih indah, mengapa bisa disamakan dengan Jiyeon?
“Terima kasih” jawab Jiyeon malu. Tiba-tiba ia teringat pada Donghae. omona, bagaimana mungkin ia meninggalkan namja itu sendirian di dalam ballroom.
“Kalau begitu aku pamit. Kasihan temanku di dalam sendiri” jiyeon kemudian pergi. Kyuhyun hendak mencegahnya namun entah kenapa ia hanya bisa menatapi kepergian Jiyeon dalam diam.

Leeteuk juga pergi karena harus menjawab telepon. Sekarang yang tersisa tinggal Kyuhyun dan Seohyun saja. gadis itu melirik Kyuhyun yang terdiam sejak kepergian Jiyeon.
“Kenapa? Ku perhatikan kau seperti orang kebingungan” tanya Seohyun. Calon adik iparnya itu kemudian menghela napas berat.
“Aku tidak mengerti. Jiyeon mengatakan, di dunia ini tidak ada yang lebih menyakitkan dari cinta. Nuna, bukankah kau pernah mengatakan bahwa cinta itu indah. bagaimana bisa hal indah seperti itu membuat orang sakit hati?”
Seohyun tersenyum. “Bukankah aku juga pernah bilang, cinta itu universal. Tentu saja makanany pun bisa bermacam-macam. Jika Jiyeon bilang cinta itu menyakitkan, itu artinya mungkin, dia pernah mengalami pengalaman yang sangat pahit. Yang bahkan kau sendiri tidak akan bisa menahannya”
Kyuhyun mengerjap. “Benarkah?” lirihnya.

—-o0o—–

Besoknya, di sekolah Jiyeon tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi. begitu bel istirahat berbunyi, ia segera melesat untuk meminta konfirmasi pada seseorang.
“Aku tidak percaya heechul Oppa sudah punya pacar! Aku harus menanyakannya pada Ryeowook. Dia pasti tahu!” Jiyeon pergi menemui namja itu yang sedang menikmati makan siangnya di kantin.
“Wookie-ah, aku ingin bertanya sesuatu” Jiyeon langsung duduk di depannya tanpa permisi. Ryeowook tersenyum sambil sesekali menyantap jajangmyun.
“Malhaebwa” ucap Ryeowook santai.
“Heechull Oppa, apa benar dia sudah punya pacar?” tanya Jiyeon serius. Ryeowook terpaku mendengar pertanyaannya. Sumpit yang dipegangnya refleks terjatuh dan mata namja itu terbelalak kaget.
“Hee? Yang benar?! Mengapa aku tidak tahu!” tak tahunya namja itu pun berseru kaget.
“Mengapa kau justru balik bertanya!! Cepat katakan.. Aku sangat penasaran!!”

Ryeowook meneguk minumannya dulu lalu berkata. “Hyung itu orang yang tertutup soal cinta. Jadi aku tidak tahu. Mungkin saja dia benar-benar sudah memiliki yeojachingu?”
Jiyeon melemas di tempat duduknya. Sepertinya kisah cintanya harus berakhir sebelum Ia memulainya. Jiyeon pamit pergi. Kini, ia berjalan di lorong dengan langkah lunglai.
“Heechul Oppa sudah memiliki yeojachingu..lalu, bagaimana denganku??” gumamnya. tatapannya menerawang ke depan. Saat seluruh pikirannya sedang berputar-putar dan otaknya kosong, sebuah suara tak asing menelusup merasuki telinganya. Langkahnya terhenti seketika, tepat saat dirinya berada di depan ruang praktek. Jantungnya mendadak berdebar.

Terdengar suara orang bernyanyi. Ia mengerjap. bukankah Suara ini.. milik Kyuhyun? langkahnya membelok, Jiyeon masuk ke ruangan itu. Benar saja, di dalam sana ia menyaksikan Kyuhyun sedang memainkan piano sambil menyanyikan sebuah lagu yang merdu. Ia tertegun. Mengapa namja itu bisa memiliki suara seindah itu? entah ia harus iri atau kagum.

_haruman danharuman, neoui chingu
aneon neoui namjaro mannaseumyeon,
sashil u jeongyateungeon naegen
gwamshimeobseo, just for one day_

Karena terbawa suasana, tanpa disadari Jiyeon ikut menyanyi. Kyuhyun sempat terkejut, ia menoleh dan melihat gadis itu berdiri tak jauh dari dirinya. Mendadak saja, ia lega dan rasa bahagia itu menyeruak dari dalam hatinya. Ia melanjutkan nyanyiannya.

_sarangboda gipeun u jeongi nama,
gamchul su bake eobneun nae sarangeul.
Neoui chinguraneun ireumeuro maeumdolda ji chyeo,
neoreul nohajul kkabwa, duryeoweo_
*just for one day- kyuhyun ft CSJH*

Kyuhyun tersenyum gembira di akhir nyanyiannya. Perasaannya begitu tenang dan damai karena kini matanya kembali menatap sosok itu, Jiyeon yang sekarang berdiri di depannya. Jiyeon salah tingkah karena senyuman Kyuhyun. ia tersenyum kikuk.
“Jadi, kau selalu kemari?” tanyanya.
Kyuhyun mengangguk ringan “Tidak terlalu sering. Hanya kadang-kadang saja. Ngomong-ngomong mengapa kau kemari? Kau..merindukanku?”
Deg! Jantungnya berdetak tak karuan lagi. ia cepat-cepat memalingkan wajahnya.
“Untuk apa! Aku hanya kebetulan lewat saja!” Jiyeon bermaksud pergi namun dengan sigap Kyuhyun menahan tangannya. Gadis itu terkesiap.

“Kajima!” lirih Kyuhyun. ia lalu berdiri, menatap punggung Jiyeon dengan pandangan sendu. “bertemu denganmu membuatku bahagia. Jadi tinggallah di sini beberapa saat lagi.” mohonnya.
Jiyeon memalingkan pandangnnya menatap Kyuhyun, ekspresi namja itu membuat hatinya goyah. Namun secepat mungkin ia kembali menatap ke arah lain. Ia tidak mau melihat Kyuhyun. Hatniya takut. Takut terjadi hal yang paling tidak diharapkanmya.
“Kenapa kau melakukan ini Kyu? Apa sebenarnya tujuanmu?” Perlahan ia membalikkan badannya menghadap Kyuhyun. suaranya terdengar parau dan sedih. Ia menatap Kyuhyun. Ia benar-benar tidak mengerti. Kyuhyun terdiam, masih memegang tangannya.
“Sejujurnya aku juga tidak mengerti.” jawab Kyuhyun pelan.
Jiyeon jadi kesal. Kyuhyun orang yang sulit di pahami dan aneh. Kadang jadi jahat, baik, mengagumkan, bodoh, dan menyebalkan!
“kenapa kau meminta kita berpacaran? Kenapa kau tidak memintanya pada tunanganmu saja? Lagipula, sepertinya harapanku untuk dekat dengan Heechul Oppa hilang. dan tunanganmu..” ia mengerjap begitu teringat Suzy. Benar juga, bukankah Kyuhyun sudah memiliki tunangan? Untuk apa sekarang ia bersama dengan namja ini? Bahkan ia tidak berhak untuk bersamanya.

“Semua kesepakatan kita batalkan saja. Ok, jadi mulai sekarang jangan ganggu aku!” jiyeon menarik tangannya kemudian melesat pergi. namun sebelum itu, Kyuhyun segeramemeluk Jiyeon dari belakang. yeoja itu terbelalak kaget. Bagaimana ini, badannya kaku seketika.
“Kajima! Tolong tetap bersamaku meski aku tidak bisa menepati janjiku.” bisik Kyuhyun pelan di telinganya.
Kalimat yang di ucapkan Kyuhyun membuat dadanya sesak. Tanpa di sadari air mata Jiyeon meleleh perlahan. Ia melepaskan pelukan Kyuhyun pelan-pelan. Ia membalikkan badannya lalu menatap Kyuhyun dengan mata yang basah oleh airmata.
“Kau tahu siapa orang yang paling menyebalkan di dunia ini?” tanya Jiyeon dengan suara tercekat. Kyuhyun merasa hatinya seperti teriris melihat ekspresi Jiyeon.
“Orang yang sudah membuatku jatuh cinta, namun dia tidak mau bertanggung jawab! Ketika aku sudah menyayanginya, ketika aku mencintainya, dia mengecewakanku dan mematahkan hatiku hingga hancur tak tersisa”

setelah mengatakannya Jiyeon berlari dari tempat itu sambil menangis. Kyuhyun lagi-lagi hanya bisa menatap kepergian Jiyeon dengan hati berkecamuk. Ia tidak mengerti. Tapi ia merasa dadanya sakit dan perih. Ya ampun, apa yang terjadi? Ia terpaku cukup lama hingga akhirnya ia tersadar.
Jangan-jangan..

—o0o—

Jiyeon menangis sendirian di taman sekolah yang sepi. Ia teringat kembali pada perceraian Appada dan Mamanya dulu. Ia sempat ingin mati saat itu. Ia sangat tersiksa karena kedua orang yang di cintainya membuatnya kecewa. Begitu pun saat ia tahu Kibum hanya memanfaatkannya saja untuk lari dari perasaannya sendiri. Semua membuatnya sakit!

“Sekarang sudah musim dingin. Kenapa diam di tempat seperti ini. Kau tidak takut jadi beku?” tiba-tiba ada seseorang melilitkan syal ke lehernya. Hal itu membuat Jiyeon tersadar dari lamunan.
Jiyeon menoleh. “Eunhyuk Oppa..” lirih jiyeon ketika melihat Oppanya sudah duduk di sampingnya dengan wajah yang menenangkan. Eunhyuk mengamati wajah adiknya yang terlihat sembab. Di pipinya yang merona kemerahan karena udara dingin itu masih tersisa aliran air mata.
“Kenapa menangis? Kau itu jelek kalau menangis” ucap Eunhyuk sambil menghapus airmata di pipi Jiyeon dengan kedua tangannya. Jiyeon bukannya berhenti malah semakin menjadi-jadi tangisannya. Ia menangis sambil memeluk Eunhyuk.
“owh” eunhyuk lantas balas mendekap dongsaengnya dengan hangat.

“Aku ini baru 15 tahun Oppa, kenapa harus mengalami semua ini?” rintih Jiyeon terisak.
Eunhyuk terdiam. “aku, tidak tahu jawabannya.” jawabnya bingung. Jiyeon melepaskan pelukannya. Airmata masih mengalir di pipinya yang memerah. Eunhyuk tersenyum simpul, tanpa berkata apapun ia lalu memasangkan headphone untuk memperdengarkan musik dari i-pod miliknya.

_nalgaeleulpyeogo, juhhaneul
wiaeh hwul hwul nalabga,
nunmuleun annyeong, ssangcheodo
annyeong, ijae euljianna_
*spread it wings- f(x)*

“Hajiman, semua ini terjadi bukan tanpa alasan. Setidaknya kau bisa mendapatkan hal baik dari semua hal buruk yang kau alami. Meski hanya satu saja” ucap Eunhyuk bijak. Mata jiyeon terbuka lebar. Benar. Banyak sekali hal baik yang didapatkannya. Kenapa selama ini Ia melupakannya. Perlahan ia tersenyum.
“Kau tahu oppa, hal terbaik yang aku dapatkan dari semua hal buruk yang terjadi?”
Eunhyuk menoleh ringan. “Apa?”

Jiyeon kali ini memeluknya lebih erat lagi. “Tuhan memberi kau, Siwon Oppa dan Sungmin Oppa sebagai oppaku” ucp jiyeon plan dan dalam. Eunhyuk tersenyum lalu mengelus-elus kepala jiyeon dengan penuh kasih sayang.
“Iya, aku pun beruntung memiliki adik perempuan sepertimu. tidak ada adik yang lebih baik darimu” balasnya.

—-o0o—-

Mendadak pikiran Kyuhyun terus dihantui oleh ucapan Seohyun yang mengatakan mungkin saja Jiyeon pernah mengalami hal pahit yang membuat ia bilang bahwa cinta itu menyakitkan. Jadi ia pergi bertanya pada Donghae, meski sebenarnya ia malas menemui namja itu.

“Orangtua Jiyeon pernah bercerai ketika dia masih kecil. Iyu saja yang aku dengar tentang jiyeon. Selebihnya dia terlihat bahagia-bahagia saja tuh.” jawab Donghae santai saat di tanyai perihal Jiyeon. Kyuhyun mengangguk paham. Jangan-jangan ini yang membuatnya bilang begitu. Ia tidak tahu rasanya. Karena dari kecil ia di besarkan dengan penuh kasih sayang. Ia memiliki Orangtua yang rukun dan hyung yang perhatian padanya.

Ketika pulang, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Jiyeon. Namun yeoja itu berinisiatif menghindar dengan menarik Yoona pergi. Kyuhyun hanya terpaku menatapi kepergian Jiyeon, tanpa bisa melakukan apapun.

“Loh, kau tidak pulang bersama dengannya? Bukankah dia namjachingumu sekarang?” tanya Yoona. Mereka berjalan menelusuri trotoar yang berderet toko-toko dan kafe di sepanjang sisinya. Jiyeon mendengus.
“Namjachingu apanya? Dia…” mendadak saja langkahnya terhenti dan ekspresinya berubah drastis. Seperti melihat sesuatu yang mengejutkan. Yoona ikut melihat ke arah pandang Jiyeon dan ia pun ikut membelalakkan matanya.

Jiyeon terpaku melihat pemandangan di depannya. Kyuhyun benar! Heechul memang sudah memiliki kekasih. Buktinya ia melihat Heechul sedang bergandengan tangan dengan seorang yeoja yang memakai seragam berbeda.
“Loh, Ji. Bukankah itu Heechul Oppa! Ji, dia menggandeng yeoja!” seru Yoona agak tergagap. Ia bermaksud heboh namun melihat wajah datar Jiyeon ia pun berhenti bertingkah berlebihan.
“Araseo!” ucap jiyeon dengan wajah biasa saja. Apa yang terjadi! Kenapa dia tidak merasa marah atau cemburu? Tunggu sebentar! Ada yang salah. Bukankah seharusnya ia marah ataupun kesal? tapi kenapa tidak ada apapun yang terjadi? Kenapa justru ia merasa lega mengetahui Heechul sudah memiliki yeojachingu? Ini aneh.
“kau kenapa ji?” yoona heran melihat jiyeon diam. Ekspresi gadis itu kini tercengang. Ia mencengkram lengan Yoona.
“Ini aneh yoong, apa yang terjadi padaku?!” ucap jiyeon panik ketika menyadari ada yang aneh dengan dirinya. Yoona makin kebingungan.

—-o0o—–

Sejak saat itu, entah kenapa Jiyeon selalu menghindar tiap kali bertemu Kyuhyun. Ada sesuatu yang ditakutinya bila bertatapan dengan namja itu. Ia merasa senang dan sakit di saat yang bersamaan.

“Tidak mungkin!” Jiyeon berusaha menepis pikirannya sendiri. Ia teringat ucapan Eunhyuk dulu. Jika ia merasa sedih dan senang di saat yang bersamaan, maka itu adalah cinta! Impossible!

—-o0o—-

Kyuhyun juga merasa bingung dan frustasi dengan apa yang sekarang ia alami. Ia tidak bisa menemukan jawabannya sekeras apapun otaknya berpikir. Seohyun bilang bahwa cinta itu indah. Lalu yang dirasakannya sekarang apa? hatinya justru merasa sakit.
“Aaaaah!!” Kyu berteriak frustasi di kelas. Teriakannya itu sukses membuat hampir seluruh teman sekelasnya melonjak kaget. Kyuhyun tidak mempedulikan tatapan heran orang-orang. Ia lalu keluar dan pergi ke ruang praktek untuk menenangkan diri. Tempat ia biasa menghabiskan waktu istirahat.

Kyuhyun harap bisa bertemu dengan Jiyeon. Tapi ternyata tidak. Kenapa ia merasa rindu pada yeoja itu. Jika dipikirkan kembali, ia baru mengenalnya beberapa hari. apa yang bagus dari gadis itu? jika dilihat secara keseluruhan, tidak ada yang bagus. Bahkan sifatnya pun tidak ada yang menarik. Tapi hari-harinya berbeda di saat ia bersama gadis itu. dan akan terasa semakin berbeda jika tidak ada gadis itu. Ia duduk di depan piano lalu bernyanyi lagi.

_jugeodo mot bonae,
naega eotteohke neol bonae,
garyeo geodeun tteonaryeo geodeun
nae gaseum gochyeo nae.

Apeuji anhke na,
saragal surado itge,
andwindamyeon eochapi ussal geo,
jugeodo mot bonae_
*Can’t Let You Go-2AM*

Suara tepuk tangan terdengar ketika lagu yang dimainkan olehnya selesai. Kyuhyun cepat menoleh karena mengira itu adalah Jiyeon. Senyumnya memudar perlahan ketika ia tahu yang berdiri di depannya adalah Suzy. Gadis itu tersenyum riang kemudian berjalan hingga ke hadapan Kyuhyun.
“Kau. Aku kira siapa” ucap Kyuhyun dingin.
“kenapa? Kau berharap orang lain?”
“aniyo!” sela Kyuhyun lalu menutup kap piano. Ia bangkit kemudian berlalu melewati gadis itu. ia malas sekali jika harus berbincang dengannya.

Suzy seolah tidak memahami Kyuhyun yang mencoba menghindarinya. Ia dengan polosnya mendekat. “kau sedang bertengkar dengan Jiyeon?” tanya. Kyuhyun menghentikan langkahnya.
“tidak juga” jawab Kyuhyun malas.
“Kyu, sepertinya kau melupakan satu hal yang sangat penting” ucap Suzy. Namja itu langsung menoleh. Kata-kata Suzy sama dengan yang pernah di katakan Jiyeon dulu. Ia mendadak saja penasaran. Memang hal penting apa yang sudah dilupakannya?
“Apa? Apa yang ku lupakan?!” tanyanya tidak sabar.
Suzy mendekat dan langkahnya terhenti tepat di depan Kyuhyun. “Ketika kau merasakan sesuatu, ketika cinta datang menghampirimu, sambutlah dengan gembira. Jika perlu kau katakan pada orangnya langsung. Cinta hadir untuk menutupi kesedihan dalam diri seseorang. Jadi tidak selayaknya seseorang bersedih karena cinta.” Jelasnya.

Kyuhyun membeku di tempatnya berdiri. Otaknya yang pintar itu masih berusaha mencerna ucapan Suzy. Jadi intinya ia harus mengatakan isi hatinya pada jiyeon, dan bukankah itu berati… HE’S FALLIN’ IN LOVE WITH HER??
Kyuhyun mengejrap begitu tersadar. Tanpa membuang waktu ia segera berbalik, namun sebelum itu ia harus berterima kasih pada Suzy. Berkat ucapannya, ia tersadar akan satu hal penting yang memang dilupakannya.
“Suzy, gomawo. Kau sudah memberiku saran bagus. Mian jika selama ini aku bersikap dingin padamu”
Suzy tersenyum manis sambil mengendikkan bahu, “Never mind. Semoga kau dengan Jiyeon berhasil. Ingat Kyu, jika kau sampai putus dengannya, kau harus bertunangan denganku” ancam Suzy dengan mata menyipit.
Kyuhyun tersenyum, lalu menggeleng “Never happen” ucapnya sambil memamerkan senyum evil. Ia segera melesat pergi.

Suzy menatap kepergian Kyuhyun dengan hati perih. Sebenarnya ia tidak rela melepaskan Kyuhyun. tapi untuk apa ia mempertahankan seseorang yang tidak mencintainya.
“Aku sudah mengambil keputusan tepat..” gumamnya menyemangati diri.

—-o0o—–

Saat ini, Jiyeon tengah duduk sendirian di taman sambil membaca buku Les Miserables favoritnya. Kyuhyun akhirnya berhasil menemukan Jiyeon. Senyumnya merekah dan kakiknya melangkah otomatis mendekati yeoja itu. namun saat jarak tinggal 2 meter lagi, ia terpaksa menghentikan langkahnya karena ia melihat yeoja itu mengangkat ponselnya yang berdering.
“Hallo? Oh, Oppa! Aku dengar sekarang kau sedang syuting film di pulau Jeju. Chukkae..” seru Jiyeon dengan wajah gembira. Kyuhyun yang mendengarnya dari jauh memiringkan kepalanya, bingung. Syuting? Oh, mungkin itu telepon dari Siwon, kakaknya.

“Ya? Kado ultahku? Aku belum menerimanya. Jinjja? Di rumah? Ah, aku jadi tidak sabar ingin segera pulang”
Kyuhyun mengejrap. Ulang tahun? Jiyeon ulang tahun? Kapan? Kyuhyun memberanikan diri mendekat setelah Jiyeon selesai bicara di telepon.
“Sedang apa kau di sini?” tanya Kyuhyun sambil melipat tangan di depan dada.

Jiyeon terkesiap kaget karena Kyuhyun mengejutkannya dengan muncul secara tiba-tiba. Secepat mungkin ia menyesuaikan diri.
“Sedang apa? tentu saja membaca buku” jawab Jiyeon dengan suara senormal mungkin. Ia berusaha menutupi kegugupannya. Dalam hati ia mengumpat, mengapa namja ini malah muncul di hadapannya?

Kyuhyun mengangguk singkat lalu duduk di samping jiyeon.
“kenapa dari sekian banyak bangku taman kau malah duduk di sini?” tanya Jiyeon bingung.
“Aku tidak mau duduk sendirian” jawab Kyuhyun enteng. Jiyeon mendesah berat, lalu bangkit. Ia harus pergi. Tapi Kyuhyun cepat meraih tangannya.
“kenapa pergi? Kau menghindariku?”
“Tidak. Di sini dingin” elak Jiyeon, ia berusaha menarik tangannya namun sayang, cengkraman Kyuhyun terlalu kuat.
“kalau begitu kenapa kau tidak mau melihat wajahku?” selidik kyuhyun heran. Sejak tadi Jiyeon memang terus mengindari kontak mata dengannya.
“Bukan begitu!” jiyeon menarik tangannya. Ia kemudian membalikkan badannya pergi.

“Benar apa katamu!” teriak Kyuhyun membuat Jiyeon berhenti melangkah. Gadis itu terpaku di tempatnya berdiri.
“Orang paling menyebalkan di dunia ini adalah orang yang sudah membuatku jatuh cinta namu dia tidak mau bertanggung jawab!” tegas Kyuhyun agak berteriak. Jiyeon mengerjap. ia tidak mau membalikkan badannya menatap Kyuhyun. ia tidak sanggup menahan gejolak hatinya saat ini. Ia ingin sekali melihat ekspresi namja itu namun ia takut ia akan merasakan sesuatu yang tidak ia harapkan.
“Dan orang itu adalah KAU!”

Jantung jiyeon seperti berhenti berdetak saat medengarnya. Apa yang baru saja ia dengar? Apa itu artinya Kyuhyun..Kyuhyun menyukainya? Kyuhyun jatuh cinta padanya??.

To be continued..

Shady Girl (Part 21)

Tittle : Shady Girl Part 21
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Married Life, Family

Main Cast :

  • Park Haebin / Lee Haebin
  • Lee Donghae

Support Cast :

  • Leeteuk

Ini dia part sebelum ending. masih betah baca FF ini? atau mulai mual-mual, pusing, atau semacamnya?

Warning : hati-hati typo

Shady Girl by Dha Khanzaki2

———-o0o———

“Sebenarnya, Tuan Lee sudah mengidap penyakit ini sejak 4 tahun yang lalu.” Aku Leeteuk saat ditanya perihal penyakit itu oleh Donghae.
“Apa? 4 tahun!!” Ujarnya kaget. Benarkah? Jadi selama ini Appanya yang terlihat sehat itu sebenarnya sakit?
“Kenapa kau tidak menceritakan ini sejak awal!!” sebenarnya ia tidak bermaksud membentak Hyungnya itu. Tapi sekarang emosinya sedang labil.
“maaf. Tuan meminta aku tidak menceritakannya pada siapapun. Selama ini dia selalu beralasan pergi dinas ke luar kota, tapi sebenarnya beliau melakukan pengobatan diam-diam di luar negeri.” Jelas Leeteuk lagi. Jika sudah begini kondisinya, tidak ada gunanya lagi untuk menutupi kenyataan itu.
Rasa penyesalan Donghae kian menguat. Dalam hati ia terus memaki dirinya sendiri. Kenapa selama ini ia terus membebani Ayahnya yang sedang menderita penyakit parah seperti ini? Ia anak durhaka.
“Karena itu, tolong mengerti jika Tuan selalu keras padamu. Ia hanya tidak ingin menyesal karena tidak bisa mendidikmu dengan baik. Penyakitnya ini bisa merenggut nyawanya kapan saja. Tuan sadar sekali akan hal itu. Ia berusaha sebaik mungkin memberikan yang terbaik untukmu. Dan pernikahan itu ia lakukan juga karena ia ingin melihatmu menikah sebelum ajal datang menjemputnya.” Leeteuk mengatakannya dengan suara bergetar. Ia juga memendam rasa sedih selama ini. Karena ia tidak tega melihat orang yang sangat dihormatinya menahan sakit seorang diri. Hanya ia yang tahu. Hanya ia yang bisa dimintainya pertolongan jika penyakitnya itu kambuh tiba-tiba. Tuan Lee terlalu takut untuk memberitahukan penyakitnya pada Donghae. mengingat saat itu Donghae dalam kondisi yang tidak baik karena sedih ditinggal orang yang dicintainya.

Donghae menundukkan kepalanya. ia tidak bisa menahan airmatanya untuk tidak jatuh. Ia menyesal. Sekali lagi ia sangat menyesal. Mengapa ia menyia-nyiakan hidupnya selama ini.. seharusnya ia tidak perlu menangisi seseorang yang sudah tiada dan menyalahkan Ayahnya atas semua yang terjadi. Seharusnya ia lebih memperhatikan orangtua yang sudah membesarkannya sampai ia menjadi orang hebat seperti sekarang.

@@@

Haebin duduk di depan ranjang Tuan lee. Ia memandangi wajah pucat Ayah mertuanya itu. Sampai hari ini Tuan Lee masih belum siuman juga. Beberapa selang infus menempel di tubuhnya. Alat bantu pernafasan pun terpasang di wajahnya yang tampak begitu kurus. Sesekali Haebin memijat kaki Tuan Lee berharap ia segera sadar. Haebin tidak bisa menahan airmatanya tiap kali ia mengingat malam itu, malam saat ia meluapkan emosinya pada Ayah mertuanya hingga membuat penyakitnya kambuh kembali. Haebin sangat menyesal tiap kali teringat kejadian itu.
“Appa.. jeongmal mianhae.. semua ini salahku..” ujar Haebin dengan suara serak. Ia memegangi perutnya.
“Appa.. tetaplah hidup sampai cucumu ini nanti lahir. Kumohon.. Anakku dan donghae Oppa pasti ingin sekali melihat harabeojinya yang hebat..” lirih Haebin lagi. Tadi Kibum datang untuk memeriksa kondisi terakhir Tuan Lee. Namun sebagai dokter, ia pun hanya bisa meminta Haebin agar bersabar.

Tok tok..

Seseorang masuk ke dalam ruangan itu setelah mengetuk pintu. Haebin menoleh. Ia segera berdiri saat melihat ternyata yang datang menjenguk adalah Ummanya Donghae.
“Umma..” Haebin membungkuk memberikan salam. Wanita itu tersenyum, lalu mendekat ke arah ranjang, matanya yang sendu itu menatap lurus suaminya yang terbaring lemah.
“Yeobo..” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. “Lama tidak bertemu. Tak kusangka kita akan bertemu di tempat seperti ini..” wanita itu tampak menahan air matanya. Haebin ikut tersentuh karena ia bisa merasakan kesedihan yang sama.
“Kau ini tetap seperti dulu. Selalu menyimpan semua penderitaan sendiri. Hingga pada akhirnya, kau sendiri yang terluka..” ucapnya dengan suara pelan.
“Umma..” haebin menghampirinya untuk membuatnya tenang. Haebin mengusap punggung wanita paruh baya itu yang saat ini mulai terisak.
“Maaf, kau malah melihat Umma menangis seperti ini..” lirihnya.
“Tidak apa-apa..”
“Mana Donghae?” ucapnya di sela tangisan.
“Tadi keluar bersama Leeteuk Oppa. Mau kupanggilkan?” Haebin akan pergi tapi dicegah.
“Jangan. Kau di sini saja. Biar Umma yang mencarinya ke luar.”
“Baik.” Haebin mengangguk patuh.”

Setelah Umma pergi, Haebin kembali duduk dengan perasaan sedih. Sesaat tadi, ia melihat rasa bersalah terpancar dari sorot mata Umma Donghae ketika menatap wajah Tuan Lee.

“Emh..”
Haebin melonjak dari tempat duduknya. Perhatiannya segera teralih menuju wajah Tuan Lee yang mulai bereaksi. Haebin tersenyum senang.
“Appa.. ini aku, Haebin..” Haebin bersyukur dalam hati, berkali-kali ia memanjatkan doa. Ternyata Tuhan mengabulkan doa’nya.
“Haebin-ah..” ucap Tuan Lee dengan suara lemah dan terbata.
“Akan kupanggilkan Dokter Kim segera. Tunggu Appa..”
Haebin memencet tombol merah yang ada di samping tempat tidur. tak lama Kibum datang bersama seorang perawat di belakangnya. Ia segera memeriksa Tuan Lee sementara Haebin mundur sedikit untuk memberikan ruang.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Haebin setelah selesai di periksa.
“Keadaanya sudah melewati masa kritis. Sementara ini baik-baik saja. Kita hanya perlu melihat perkembangan selanjutnya. Jadi sampai satu minggu ke depan, Paman Lee harus di rawat di sini.”ucap Kibum.
“Aku mengerti.”

Haebin kembali ke ruang rawat Tuan Lee. Alat bantu pernafasannya sudah di lepas. Haebin mendekat.
“Haebin..” ucapnya lemah.
“Ne, Appa..”
“Mendekatlah.. Ada yang ingin aku jelaskan padamu..” pintanya dengan suara serak.
Haebin duduk manis di samping tempat tidur Tuan Lee.
“Bicaralah Appa.. aku akan mendengarkan baik-baik..”
Mata Tuan Lee tampak meredup melihat senyum Haebin. ia sangat menyesal dengan kondisinya sekarang. Seandainya dulu ia tidak egois.. mungkin Haebin tidak akan menjadi sebatang kara seperti sekarang.
“Ini tentang dirimu dan keluargamu..”
Haebin mengerjap. “Keluargaku??” tanyanya ragu. Suaranya bergetar. Haebin merasakan tenggorokannya tercekat dan napasnya sesak lagi. Tapi ia tidak akan berteriak seperti tadi. Tidak saat ini dan dalam kondisi seperti ini.
“Apa? Ceritakan saja Appa..”
“Berjanjilah setelah kau mendengar ceritaku, kau tidak akan meninggalkan kami.. khususnya Donghae suamimu..”
Deg deg deg… jantungnya berpacu cepat dan matanya terbelalak. Ia berkali-kali menelan ludah bersiap mendengar cerita dari Tuan Lee. Ia harus menyiapkan mental yang kuat. Dan rasa penasaran itu makin menguat saat Tuan Lee menggenggam tangannya yang di sandarkan di atas ranjang.
“Haebin..” ucapnya pelan. Mulut Tuan Lee mulai membuka untuk mengawali ceritanya.

Aku harus kuat.. aku tidak boleh terbawa emosi kali ini.. batin Haebin.

—o0o—

“Bicaralah pelan-pelan Appa, tidak perlu memaksakan diri..”Haebin balas menggenggam tangan Tuan Lee.
Cukup lama berselang sebelum Tuan Lee membuka mulutnya kembali.
“Mianhae.. karena keegoisanku,kau jadi sebatang kara..” suaranya begitu lemah. Tuan Lee pun tampak mengucapkannya dengan sekuat tenaga.
Haebin membelalakkan matanya. “Apa maksud Appa?” suaranya ikut bergetar.
“Kau pasti bertanya-tanya kan, kenapa aku tahu semua tentang keluargamu?”
Meskipun Haebin merasa hatinya begitu berat, namun ia menganggukkan kepalanya.
“Entah darimana harus dimulai penjelasannya.. tapi..akan Appa mulai dari So yeon..kakakmu”

Haebin menelan ludahnya. Ia memasang telinganya baik-baik dan memusatkan konsentrasinya. Agar Tuan Lee tidak perlu mengulang ceritanya. Ia tidak tega membiarkan orang sakit banyak berbicara.
“Pertama kali bertemu dengannya.. sekilas dia gadis yang cantik..” ujar Tuan Lee. Matanya menerawang ke langit-langit kamar rawat itu. “Tidak ada kesan keangkuhan dalam dirinya. Kakakmu adalah gadis yang sopan dan baik. Hanya saja, saat itu Appa tidak tahu siapa dirinya. Appa pikir dia adalah gadis tidak jelas yang datang untuk memanfaatkan Donghae. maka dari itu saat Donghae datang meminta restu padaku untuk menikah dengannya, Appa menolak dengan tegas. Appa tidak mau dia mengulangi kesalahan yang sama karena menikah dengan orang yang tidak jelas asal usulnya. Melihat Donghae begitu bersikeras ingin menikah dengannya membuat Appa kesal. Dan kesalahan Appa yang pertama terjadi. Appa meminta agensi tempatnya berlatih untuk mengeluarkan So Yeon.”
Haebin membulatkan matanya. Bibirnya bergetar. “Ja-jadi.. yang sudah melaporkan tentang Eonni yang memalsukan identitas itu..”
Tuan Lee mengangguk pelan. “Itu aku.”
“Mustahil..” gumam Haebin tak percaya. Tangannya otomatis menutup kedua mulutnya. Tenggorokannya tercekat dan dadanya sesak mengetahuinya.
“Sungguh, Appa tidak bermaksud jahat. Appa hanya ingin menggertak So Yeon agar menjauh dari Donghae.” Tuan Lee berhenti sejenak. “Appa kira sudah berhasil memisahkan Donghae dan So yeon, namun ternyata jalinan di antara mereka malah semakin kuat. Karena itu Appa meminta persyaratan agar So Yeon membawa orangtuanya untuk menemui Appa. Jika dia memang bukan gadis tidak jelas asal usulnya..”
Haebin melihat gejolak dari sorot mata Tuan Lee. Airmata pun mulai membendung di pelupuk matanya yang sayu. Haebin bisa merasakan sakitnya. Iya.. penyesalan itu terpancar jelas dalam raut wajah tuan Lee sekarang.

—o0o—

Donghae tengah termenung di taman yang ada di rumah sakit itu. Ia masih menenangkan diri sebelum menjenguk Appanya.
“Appa..Mianhae..” gumamnya.
“Donghae..”
Kepala donghae otomatis terangkat mendengar suara seorang yang dikenalnya. Ia terkejut dan langsung berdiri saat melihat sosok ibunya.
“Umma..” ujarnya seperti melihat hantu. Ia kaget dan tak percaya.
“Bagaimana bisa, Umma di sini?”
“Untuk menjenguk Appamu tentunya..” Umma mendekati Donghae kemudian mengajaknya untuk duduk kembali di bangku taman itu.
“Menjenguk? Darimana Umma tahu?” donghae mengerutkan kening.
“Leeteuk yang memberitahu Umma..”

Donghae mengangguk. Tak lama, ia kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri. Di otaknya, berkelebat silih berganti kejadian-kejadian di masa lalu yang membuatnya kian merasa bersalah.
“Appamu.. dia tetap sama seperti saat sebelum Umma berpisah dengannya..” Donghae menoleh mendengar Ummanya berkata dengan lirih. Sekarang di matanya, ia melihat wajah sedih Ummanya sama seperti yang ia lihat 10 tahun yang lalu, saat Ummanya diusir dari rumah oleh Appanya.
“Dia orang yang tidak bisa membuat orang lain terbebani. Ia lebih memilih menyimpan semua penderitaannya sendiri.”
Donghae mengerjap. Karena sekarang, Ummanya tengah meneteskan airmata. Bukan airmata simpati ataupun sedih. Melainkan airmata penyesalan. Hal itu membuat keinginan Donghae semakin kuat untuk mengutarakan sesuatu yang sudah ia simpan selama 10 tahun terakhir.
“Umma, ada 1 hal yang sangat ingin kutanyakan.” Ucap Donghae sambil menunduk.
“Katakanlah, nak.”
“Dulu, saat Umma diusir oleh Appa, Umma kenapa tidak menolak ataupun membantah?”

Hening..

Suasana mendadak menjadi hening karena Sang Ibu tampak begitu terpukul mendengar pertanyaan Donghae. Sebab pertanyaan itu telah membuka luka lama yang tidak akan pernah sembuh kecuali oleh kata maaf.

@@@

Haebin masih di tempat yang sama. Ia masih memiliki sisa kekuatan untuk mendengarkan cerita Tuan Lee hingga selesai.

“Dan kesalahan kedua pun terjadi. Saat menjemput Appanya, terjadi kecelakaan hebat di jalan tol. So Yeon tewas di tempat bersama Ayahmu. Kematian So Yeon tak kusangka mampu membuat hidup donghae berubah 180 derajat. Sebagai seorang Ayah, aku merasa sangat sakit mengetahui bahwa Ayahnya sendiri yang menghancurkan kebahagiaan anaknya. Appa sangat menyesal, Haebin.. sangat..”

Airmata mulai menetes dari sudut mata Tuan Lee. Haebin pun ikut mengalirkan airmata. Ia menghapus airmata dari pipi Tuan Lee secepat yang ia bisa.
“Dan kenyataan pahit kembali Appa ketahui dari pihak rumah sakit yang mengidentifikasi mayat korban kecelakaan itu. Salah satu korbannya, adalah teman baik yang sudah lama aku cari. Yaitu Appamu.. dan yang lebih membuat Appa menyesal adalah.. bahwa So Yeon adalah putri dari teman baik Appa itu..”
Haebin tidak bisa menahan diri untuk diam, ia mulai terisak. Sesak.. dadanya sekarang terasa sangat sesak dan perih. Sama seperti mata dan seluruh indera di tubuhnya.
“Ja-jadi.. saat Appa bilang Appa adalah teman dari almarhum Appaku itu benar?”
“Iya, Haebin-ah.. itu benar..Mianhae.. seandainya Appa tahu, seandainya Appa tidak egois.. Appa mungkin tidak akan menghancurkan kebahagiaan kau dan Donghae..”

Tanpa disadari, Haebin melepaskan genggaman tangannya. Ia mengingkari janjinya sendiri untuk tidak benci pada Appa mertuanya ini. Karena pada kenyataannya, hatinya begitu sakit dan sangat membenci semua tindakan Tuan Lee terhadap dirinya dan keluarganya.
“Tepat di hari pemakaman Appamu, rasa bersalahku semakin besar saat melihatmu menangis di depan foto Appamu. Sementara Ibumu harus di rawat di rumah sakit karena syok. Aku yang sudah membuatmu begitu menderita. Maafkan Appa, Haebin..”

Haebin menggelengkan kepalanya cepat di tengah isakannya yang tertahan dan airmata yang terus bergulir jatuh.
“Jangan minta maaf, Appa.. semua tidak ada gunanya sekarang..” isak Haebin. berbeda dengan hatinya yang menuntut maaf dari Tuan Lee. Bahkan maaf saja tidak cukup untuk mengobati semua penderitaan yang sudah dialaminya.
“Kau benar.. dan.. Appa sudah melakukan kesalahan yang ketiga..” Tuan Lee menarik napas beratnya. Ekspresi penyesalan makin kental menghiasi wajahnya. “Ummamu.. tewas bunuh diri karena aku..”
“Cukup Appa!! Jangan diteruskan!!” pinta Haebin seraya menutup telinganya. Ia benar-benar memohon agar Tuan Lee tidak menceritakan apapun lagi. Atau hatinya akan semakin sakit dan rasa benci itu tidak akan bisa dihilangkan lagi.

“Karena itulah..kenapa dulu Appa memintamu menikah dengan Donghae..” lirih Tuan Lee membuat Haebin mengerjap.
“Apa? Jadi..waktu itu appa memintaku menikah untuk menebus rasa bersalahmu karena sudah membuat hidupku menderita? Menebus Appaku dan kakakku yang meninggal dengan uangmu??”
Haebin mulai lepas kendali. Nada bicaranya semakin tinggi. Ia tidak bisa menahan dirinya lagi. Namun emosinya masih bisa ia tahan sekarang.
“Apa harta bisa menebus nyawa manusia? Begitu??” Haebin berdiri. Ia lebih baik pergi daripada ia harus meluapkan semua kekesalannya di depan Tuan Lee.
“maaf Appa, akan kupanggilkan seseorang kemari untuk menjagamu. Aku harus pergi sekarang.” Haebin menahan emosi dan airmatanya. Lalu ia bergerak meninggalkan ruangan bersamaan dengan Leeteuk yang memasuki ruangan itu.
“Omo..Haebin, kau mau ke mana??” teriak Leeteuk. Ia segera mengabaikan Haebin setelah ia sadar bahwa Tuan Lee sudah siuman.
“Tuan..” serunya senang. “Tuan baik-baik saja??”

Tuan Lee tidak menjawab. Ia hanya menerawang dengan lelehan airmata yang masih tersisa.
“Bukan Haebin-ah.. aku tahu uang tidak bisa membeli nyawa manusia ataupun kebahagiaan seseorang. Aku ingin kau menikah karena hanya kau yang bisa membuat Donghae kembali bahagia. Kau dan So Yeon memiliki kemiripan. Kalian sama-sama baik hati dan gigih..”
Leeteuk mengerutkan kening. Kenapa Tuan Lee berbicara seperti itu? Apakah ia pikir sedang berbicara dengan Haebin??
“Tuan..Tuan Lee????” Haebin mengguncang pelan tangan Tuan Lee. Namun perlahan mata tuan Lee yang semula terbuka menutup begitu saja. Hal itu membuat Leeteuk panik luar biasa.
“TUAN LEE!!!!” teriaknya.

@@@

Donghae masih menanti jawaban dari mulut Ummanya. Sementara Ummanya masih juga terdiam.
“Umma, jebal jawab. Jika tidak, aku akan terus berprasangka buruk pada Appa. Aku pasti akan berpikir Appa sangat kejam karena sudah mengusirmu dari rumah.”
Ummanya tampak bereaksi. Ia cepat menatap Donghae. “Tidak. Kau salah. Appamu bukan orang yang kejam.” Tukasnya. Hal itu semakin membuat kebingungan di otak Donghae.
“Appamu adalah seorang laki-laki yang baik, yang mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya sendiri. Hanya saja..” Ummanya menunduk. “Umma sudah menghianatinya..”
“A-apa?” Donghae tidak percaya ketika mendengarnya. Matanya membelalak kaget.
“Appamu sangat mencintai Umma. Ia bahkan tidak peduli saat Umma tidak ingin menceritakan keluarga Umma padanya. Namun saat kami menikah dan mempunyai anak, Umma..bermain api dengan pria lain. Dan itu, membuat Appamu sangat kecewa pada Umma. Dan mengusir Umma.”

Pusing.. kepala Donghae terasa berdenyut sakit begitu mendengar penjelasan Ummanya yang menyakitkan. Jadi.. selama ini..
Umma segera menggenggam tangan anaknya itu. Ia tahu, pengakuannya akan membuat donghae kecewa. “Umma sangat menyesal Donghae-ah. Tolong maafkan Umma..” kini Umma mulai terisak. Sementara Donghae memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tidak ingin melihat wajah Ummanya.

Selama ini, ia sangat menyesali kenapa Appanya mengusir Ummanya begitu saja. Tapi setelah mendengar alasan dibalik semua itu, ia bisa memaklumi tindakan Appanya.
“Karena itu Donghae-ah.. tolong jangan benci Appamu. Tolong mengertilah semua sikap kerasnya padamu. Yang dipikirkannya hanyalah kebahagiaanmu. Ia tidak ingin kau mengulang kesalahan yang dilakukannya.”
Donghae menoleh. Ia menatap wajah Ummanya lekat-lekat. Ia tersenyum pahit. Sekarang ia bisa memahami kenapa Appanya bersikeras melarangnya menikah dengan gadis yang tidak jelas asal usulnya. Ia tidak mau Donghae dikhianati seperti dirinya? Begitukah??
“Donghae-ah..Sekarang berdamailah dengan Appamu. Kau tidak boleh membencinya lagi. Bagaimanapun dia sangat menyayangimu.”
Donghae merasakan sakit dan perih menyerang hatinya sekarang. Sedetik kemudian ia segera bangkit. Mendadak ia merasakan sesuatu yang tidak enak.
“Appa..” lirihnya teringat pada Appanya yang masih berbaring di kamar rawatnya. Kenapa sekarang ia merasa begitu takut? Firasat apa ini?
“Umma, aku harus kembali. Apa kau ingin ikut bersamaku?”
“Tidak. Umma harus kembali. Bagaimanapun Appamu pasti tidak ingin melihatku.” Lirih Ummanya.
“Baiklah. Umma, kalau begitu aku pergi.”

@@@

Haebin menangis di atap rumah sakit itu sendirian. Ia duduk seraya memeluk lututnya erat. Kini yang dirasakannya adalah penyesalan yang mendalam.
“Kembalikan keluargaku sekarang juga..” lirihnya di sela isak tangis. “Aku tidak mau hartamu Tuan Lee!! Aku ingin keluargaku..” ia membenamkan kepalanya di antara lutut dan tubuhnya.

Bayangan saat-saat ia bahagia bersama keluarganya muncul silih berganti. Hatinya begitu miris, semua itu sekarang hanya tinggal memori. Tidak mungkin menjadi kenyataan kembali. Sekuat apapun ia berteriak, sekencang apapun ia menangis,dan sebanyak apapun airmata yang ia keluarkan, tidak akan bisa mengulang semua kenangan bahagia itu.

@@@

“Appa!!!!” Teriak Donghae tak percaya. Leeteuk segera menenangkannya. Donghae merosot dan terduduk di lantai, menangis penuh penyesalan sekarang.
“Appa.. kumohon jangan pergi..Aku..aku bahkan belum meminta maaf padamu..” lirihnya. Sekarang ia baru sadar, bahwa kehadiran sang Ayah memang sangat mempengaruhinya. Ia tidak bisa menjadi seperti sekarang jika bukan Appanya yang mendidiknya dengan begitu keras.
“Tenanglah. Dia tidak akan apa-apa..” Leeteuk berusaha membuat Donghae tenang. Ia pun sebenarnya panik. Kini, Tuan Lee sedang menjalani operasi keduanya setelah mendadak pingsan tadi.
Donghae terus meyakinkan diri bahwa Appanya tidak apa-apa. Ia berdoa sepenuh hati. Walaupun rasa takut dan sedihnya tidak kunjung hilang juga. Donghae melihat kiri kanan, hanya menemukan Leeteuk yang berdiri mondar-mandir di depan ruang operasi. Donghae mengerjap karena merasa ada sesuatu yang hilang.
“Hyung, Haebin mana?” ia mengerjap saat tersadar ia tidak menemukan istrinya di sana. Bukankah Haebin berjaga di ruang rawat Tuan Lee saat ia tinggalkan?
Leeteuk menoleh ke sekitarnya. “Oh, tadi sesaat sebelum Tuan pingsan, dia pergi entah kemana.” Leeteuk perlahan menyadari sesuatu. “Ah, sepertinya dia sedih karena kulihat dia hampir menangis saat keluar dari ruangan. Mungkin Tuan Lee sudah menceritakan sesuatu padanya.”

Langsung berkelebat bayangan Haebin sedang menangis sendirian dalam otaknya. Hatinya kembali tidak tenang. Tanpa membuang waktu, ia segera berlari mencari Haebin. di tengah pencariannya, ia merasa takut. Mengingat Haebin sedang hamil. Ia takut terjadi apa-apa padanya.

Saat ia kebingungan karena tidak kunjung menemukan Haebin, keberuntungan menghampirinya. Ia melihat Haebin berjalan linglung tak jauh di hadapannya. Donghae menghela napas lega. Ia segera menghampiri istrinya itu.
“Haebin..” Donghae langsung memeluknya erat. Walaupun ekspresi Haebin tampak begitu lesu pada awalnya, ia kaget juga saat dipeluk tiba-tiba begitu.
“Oppa..” suara Haebin bergetar.
“Ini aku.. kau kemana saja? Aku mencari-carimu..” ucapnya. Pelukannya begitu mengisyaratkan kerinduan yang mendalam.
“Aku..” Haebin bertahan agar tidak terisak. “Aku.. hanya ingin pergi.. sebentar..” lirihnya.
“Haebin.. Appa.. masuk ruang operasi lagi..” ucap Donghae berat. Haebin mengerjap. Tidak..
Batinnya kian berkecamuk. Berbagai perasaat campur aduk dalam hatinya sekarang.
Pelukan Donghae kian erat. Membuat Haebin serasa terjepit dan sesak. Namun ia tahu Donghae melakukannya untuk menyalurkan ketakutannya. Haebin berusaha menggerakkan tangannya untuk balas memeluk donghae, memberinya kekuatan.
“Tenanglah Oppa.. tidak akan ada yang terjadi pada Appa..” ucapnya sambil mengusap-usap punggung Donghae.
Donghae mengangguk dalam pelukan Haebin. “Aku tahu.”
Haebin terus menenangkannya. Meskipun sekarang hatinya terasa sakit, namun ia pun berharap tidak akan ada yang terjadi pada Tuan Lee. Karena..ia tidak mau membuat Donghae sedih dan merasa bersalah.

@@@

Di depan ruang Operasi, Haebin tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Donghae. ia tahu suaminya itu butuh kekuatan. Detik-detik penantian ini terasa sangat menyiksa. Ia ingin segalanya cepat selesai. Ia ingin pergi dari tempat ini dan menenangkan diri. Menghilangkan penat yang saat ini sangat menghimpit dirinya.
Pintu ruang operasi terbuka. Dokter keluar bersama dengan beberapa asisten dan perawat. Leeteuk dan donghae berhambur mendekati mereka.
“Bagaimana keadaan Appaku, Dok?” cecar Donghae tak sabar.
“Tidak bisa dikatakan baik. Sebaiknya dia melakukan operasi transplantasi jantung secepatnya. Kami sudah menemukan donor yang cocok. Hanya saja, operasi itu hanya bisa dilakukan dengan peralatan lengkap di Jerman.”
“Jerman?”
“Benar”
“Tidak masalah Dok. Bisakah Anda mengurus itu secepatnya?”
“Baiklah. Jika semua Dokumen sudah ditandatangani, kita bisa segera memberangkatkannya untuk operasi sesegera mungkin.”
Donghae merasa beban di hatinya hilang separuhnya. Setidaknya harapan untuk Appanya masih ada. Haebin tersenyum simpul. Ia senang. Ternyata Tuhan masih memberikan kesempatan pada Tuan Lee untuk hidup. Namun, kini, perasaan sedih melanda dirinya.

To be continued….

No Other (Part 4)

Tittle : No Other Part 4
Author : Dha Khanzaki a.k.a shin Je Young
Genre : School Life, Friendship, Family, Romance

Main Cast :

  • Lee Jiyeon
  • Cho Kyuhyun

Support Cast :

  • Kim Kibum
  • Lee Donghae
  • Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk
  • Im Yoona
  • Hankyung
  • Choi Siwon
  • Choi Sooyoung
  • Kim Jong Woon a.k.a Yesung
  • Kim Ryeowook
  • Kim Heechul
  • Seo Joo Hyun a.k.a Seohyun
  • Leeteuk
  • Bae Suzy

Warning : typo bertebaran di setiap sudut, bahasa kamseupay

No Other by DhaKhanzaki

——–0.0——–

Besoknya,
Kaki Jiyeon sudah sedikit sembuh. Ajaib sekali. Ia bisa sekolah. Eomma, Appa dan kedua Oppanya juga tidak melarangnya sekolah. Tapi sebelum ke sekolah, ia mampir untuk melihat motor yang sedang di perbaiki di bengkel milik orangtuanya Donghae.
“Bagaimana, tidak ada yang rusak parah kan?” tanya Jiyeon. Donghae berdiri di sampingnya.
“Tidak. Hanya lampu depannya saja pecah” jawab montir yang memperbaikinya. Jiyeon dan Donghae mengangguk paham.
“Syukurlah” Jiyeon lega sekarang. Motor itu motor kesayangan Sungmin. Jiyeon tidak tega membuat oppanya sedih.

“Aku dengar dari Sungmin Hyung kakimu terluka. Kenapa mondar-mandir seperti ini? Kau
harusnya istirahat!” tegur Donghae. Jiyeon meliriknya tajam. “Apa kamu juga ingin menceramahiku? Tenang, aku baik-baik saja”
“Aku ini mencemaskanmu.” Ujarnya. Jiyeon ini tidak bisa melihat ekspresi cemasnya sekarang apa?
Jiyeon langsung memegang pundak Donghae dengan kedua tangannya.
“Gomawo atas perhatianmu, aku harap kamu bisa mendapatkan gadis yang baik juga”
Donghae mengerutkan kening bingung. “Hei, apa maksudmu?”
“Tenang, aku akan membantumu mendapatkan hati Yoona” ucap Jiyeon seraya mengacungkan jempolnya. Donghae terperanjat, cepat-cepat dia menepis tangan Jiyeon dari pundaknya.
“Kau bercanda? Memang apa hubungannya?”
Jiyeon berdecak “Kamu pikir aku tidak tahu. Hah, sikapmu pada Yoona itu mudah sekali
ditebak.” Ucapnya. Jiyeon lalu pergi. meninggalkan Donghae yang menatapnya dengan ekspresi bingung luar biasa.

@@@

*di sekolah*

“Aigoo,, Jiyeon. Memangnya kamu sudah sembuh?” seru Yoona ketika bertemu Jiyeon di depan gerbang.
“Tentu saja! Lihat, aku bisa berjalan normal” jawab Jiyeon enteng. Yoona geleng-geleng kepala. “Berarti kamu siap untuk tes menari nanti?”
“Tentu!” Jiyeon mengangkat jempolnya. Sesaat kemudian ia teringat sesuatu. “Oh iya, kamu tahu namja yang bernama kyuhyun tu kelas berapa?”
“Dia sekelas dengan Wookie. Kenapa memangnya?”
“Ini, aku mau mengembalikan ponselnya. Kemarin tidak sengaja tertinggal.” Jiyeon mengeluarkan ponsel Kyuhyun dari dalam saku jas seragamnya.
Yoona belum sempat menjawab karena Ryeowook datang menghampiri mereka.
“Pagi…” ucapnya dengan wajah cerah seperti biasa.
“Pagi..” balas Yoona.
“Wookie kebetulan sekali..” Jiyeon bermaksud mengatakan sesuatu ketika tiba-tiba suara klakson mobil mengejutkan mereka bertiga. Otomatis ketiga orang itu menoleh bersamaan.
“hei, kalian, bisa kan kalian tidak berdiri di tengah jalan” ucap Kyuhyun kesal. Mobilnya jadi tidak bisa lewat karena ada orang yang memblokir jalan. Sedetik kemudian raut wajahnya berubah terkejut saat melihat Jiyeon.
“Ah Kau?”
“Kau” Jiyeon pun ikut terkejut.
Kyuhyun malas berhadapan dengan Jiyeon, lantas ia kembali menjalankan mobilnya.
“Hoi kau, tunggu!!” Jiyeon ingin mengejar, tapi kakinya kan baru saja sembuh. Jadi niatnya ia batalkan. Sekarang perhatiannya teralih pada Ryeowook.
“Wookie, aku minta tolong padamu” ucap Jiyeon.
“Apa? Soal Hyung lagi?” goda Ryeowook. Sejauh ini Jiyeon selalu meminta bantuannya jika menyangkut masalah Heechul.
“Bukan!” Jiyeon diam. Ah, apa sebaiknya ia serahkan sendiri saja. Itu lebih terkesan sopan. Baiklah..”Tidak jadi deh.”

__o0o__

Waktu istrahat, Jiyeon menolak ketika diajak makan di kantin oleh Yoona. Alasannya karena ia ingin mencari Kyuhyun untuk mengembalikan ponselnya.
“Jiyeon!” panggil Siwon. Langkah gadis itu terhenti. Tubuhnya segera membalik bersamaan dengan sosok Siwon yang semakin dekat dengannya.
“Oppa.. Ada apa? Ah, mian. Kemarin aku telat menyerahkan CD-nya” Jiyeon menyesal. Siwon tidak terlihat marah. Malah raut wajahnya begitu khawatir.
“Kau tidak apa-apa kan? Aku dengar kemarin kau kecelakaan”
Jiyeon sempat takjub juga. Ternyata, Oppa kandungnya ini menaruh perhatian juga padanya. “aku baik-baik saja. Lihat” ia menunjukkan dirinya yang tampak segar bugar agar Siwon percaya.
“Kamu ini, membuatku cemas setengah mati”
“Maaf” Jiyeon bukannya merasa bersalah ia justru merasa sangat senang. Ternyata oppanya yang satu ini juga tidak kalah baik dengan Sungmin dan Eunhyuk. Saking terharunya tanpa sadar Jiyeon memeluk Siwon. Padahal di sana kan koridor yang tidak sepi.

“Huuu~” orang-orang langsung berseru melihat kejadian itu.
“Jiyeon, di sini banyak orang. Lepas!” ucap Siwon panik. Mengingat statusnya juga seorang publik figur. Jiyeon sadar, ia lekas melepaskan pelukannya.
“Mian” Jiyeon membungkuk meminta maaf lalu pergi sebelum ada fans Siwon yang membantainya.

Baru pergi beberapa langkah saja ia sudah kembali berhenti. Di hadapannya kini berdiri Kibum tengah menatapnya dengan pandangan datar.
“Emh, hai” Jiyeon salting sambil mengangkat tangannya. Kibum malah memalingkan pandangannya. Ioh, reaksi yang mneyebalkan!
Tanpa diduga dia berjalan melewati jiyeon tanpa berkata sepatah katapun.
“Yesung oppa, apa dia sudah lebih baik sekarang?” tanya Jiyeon. Kibum berhenti. Itu membuat Jiyeon lega, entah kenapa. Kibum membalikkan badan.
“Aku tidak akan bertanya kenapa kamu bisa mengetahuinya” ucapnya datar. Jiyeon mngerutkan kening.
“kau, marah padaku?” tanya Jiyeon heran.
“Ani” kibum hendak pergi. Tapi Jiyeon menghalanginya.
“lalu kenapa kau bersikap seolah-olah kita ini musuh? Setidaknya kita bisa berteman lagi kan, setelah.. Setelah..” Jiyeon tidak berani melanjutkan kalimatnya.
“Aku tidak akan pernah menjadikanmu temanku” jawab Kibum datar. Jiyeon terkejut.

“kenapa?”
“karena aku tidak akan jatuh cinta pada temanku!” setelah menjawabnya Kibum pergi. Jiyeon terpaku. Otaknya bekerja lambat siang itu.
“Apa maksudnya?” Jiyeon tidak mengerti sama sekali. 5 detik kemudian ia baru mengerti.
“ah!” tapi ketika berbalik sosok Kibum sudah menghilang. Loh, kemana anak itu?

—-o0o—-

Jiyeon mencari Kyuhyun, seperti yang dikatakan teman sekelasnya selalu berada di ruang praktek saat istirahat.
Beberapa langkah lagi menuju ruangan itu sudah terdengar dentingan alunan piano. Jiyeon membuka pintu sedikit dan mengintip.

_coz’ there’s something in the way.. You look at me.. It’s as if myheart knows.. You’re the missing piece.._

Kyuhyun duduk di balik grand piano menyanyikan lagu Christian Bautista diiringi permainan indah jari-jarinya diatas piano. Tidak hanya permainannya, namun, suara dan cara namja itu menyanyikannya pun mampu membuat Jiyeon terasa seperti terlempar ke dunia lain. Seolah dunia di sekitarnya memudar dan ia hanya melihat sosok Kyuhyun dengan jelas.

Lagi-lagi, dan lagi-lagi Jiyeon dibuat terhanyut. Ternyata benar, lagu yang didengarnya kemarin adalah lagu yang dinyanyikan oleh Kyuhyun sendiri.
Begitu nada berhenti Jiyeon merasa alam khayalnya hancur dan ia tersadar kembali. Segera saja ia menghampiri Kyuhyun sebelum dia menghilang lagi.
“Sedang latihan untuk tes nanti?” tanya Jiyeon polos. Mengingat ujian tes sebentar lagi.
“Ah, kau! Jangan membuatku kaget!” seru Kyuhyun kaget. Jiyeon muncul tiba-tiba sih.
“Aku tidak sedang latihan. Ini hanya keisenganku saja” elak Kyuhyun. ia menutup piano itu lalu bangkit.
“Tapi suaramu bagus” Jiyeon berkata jujur. Selama ini ia hanya mengakui suara Sungmin saja yang bagus. Jika ia memberikan satu jempol untuk Oppanya itu, maka ia memberikan 2 jempol untuk Kyuhyun
“Semua orang juga tahu” jawabnya pede seraya mengendikkan bahu. Ia melirik Jiyeon datar.
“Apa maumu? Kau bukan secara kebetulan kemari kan?”
Jiyeon menjentikkan jarinya “Binggo!! Nih” Jiyeon menyerahkan ponsel Kyuhyun. Tapi dia melengos pergi melewatinya. Jiyeon terpaku. Dia serasa jadi orang bodoh.
“Ya!” Seru Jiyeon jengkel.

“Aku hanya ingin mengembalikan ponselmu!” teriak Jiyeon sambil mengejarnya. Kyuhyun berhenti. Ekspresinya saat menatap Jiyeon tetap datar dan dingin.
“Ponsel itu untukmu saja. Aku sudah tidak suka” Kyuhyun pergi lagi.

Jiyeon kaget mendengarnya. “Mwo, tapi ini terlalu mahal, hei Kyu!” Jiyeon mengejarnya lagi sambil berteriak di koridor. Kyuhyun menghentikan langkahnya lagi. Teriakan Jiyeon benar-benar mengganggu dan membuatnya kesal.
“Siapa yang menyuruhmu memanggil Kyu, HAH? Jangan sok akrab, ok!” Kyuhyun memasang tampang evilnya.
“Tapi, semalam…” ucapan Jiyeon terpotong karena tiba-tiba Heechul datang memanggil. Ah, Itu pangeran berkuda putihnya. Bagaimana ini.

Jiyeon jadi gugup sendiri melihat Heechul berjalan menghampiri Kyuhyun. tampangnya kesal seperti singa kelaparan dan gagal mendapan santapan makan malamnya.
“Dasar bocah tengik! Aku bilang datang ke tempat latihan jam 10. Kau malah berkeliaran di sini” ucapnya sambil berkacak pinggang. Weish! Jiyeon terbelalak. Ia kan belum bilang pada Kyuhyun tentang itu.
“Hyung, memangnya kapan kau bilang?” Kyuhyun bertanya dengan wajah innocent. Heechul menarik napas kesal.
“tadi malam!” tegasnya penuh penekanan. Ada apa ini? Apa Kyuhyun amnesia. Baru saja semalam ia menelepon dan namja ini sudah lupa?

Kyuhyun bingung, seingatnya tidak ada yang menelepon semalam “tadi ma–” Kyuhyun berhenti karena ia baru ingat sesuatu. Ia menoleh pada Jiyeon yang memegang ponselnya semalam.
Gadis itu tersenyum serba selah dan mengangkat ponselnya sambil memberitahu dengan bahasa isyarat bahwa Heechul memang menelepon semalam. Ia mengangguk paham.
“Oh ya, aku lupa” ucap Kyuhyun bohong.
“Sekarang mana lagu yang kau janjikan itu?” Heechul mengulurkan tangannya meminta Kyuhyun menyerahkan sekarang juga. tapi Kyuhyun malah menepuk keningnya sendiri.

“Aishy, aku meninggalkannya di kelas”
Heechul mengepal tangannya yang terulur. Uh, dia ingin sekali menjitak kepala Kyuhyun
“Kau ini! Loh, kau kan adiknya Eunhyuk dan Sungmin” seru Heechul saat menyadari keberadaan Jiyeon di sana. Tentu saja di sapa begitu Jiyeon salah tingkah.
“Ne, oppa.” jawabnya sambil tertawa tidak jelas. Kyuhyun tersenyum sinis melihatnya.
“Aku tidak tahu kalau kalian dekat. Jangan-jangan…” Heechul menebak-nebak. Wajahnya tersenyum menggoda Kyuhyun dan Jiyeon

“TIDAK!” tegas Kyuhyun dan Jiyeon bersamaan. Heechul sampai kaget di serbu teriakan oleh dua orang sekaligus.
“Tidak Hyung, aku tidak dekat dengannya” tegas Kyuhyun.
“Iya Oppa, aku juga tidak mau dekat dengan namja tengil ini” jawab Jiyeon panik. Kyuhyun melirik tajam ketika Jiyeon menyebutnya namja tengil.

Heechul tertawa melihat reaksi Jiyeon dan Kyuhyun. mereka seperti baru saja tertangkap basah. Jika memang tidak ada apa-apa seharusnya mereka menjawabnya dengan santai.
“Calm down. Fine, aku tidak akn mengganggu kalian. Kyu, ambil lagumu itu sekarang. Lalu temui kami di ruang latinan. Ok” Heechul menepuk pundak Kyuhyun lalu prgi.

Yah.. Jiyeon hanya memandangi kepergian Heechul dengan wajah pasrah. Kyuhyun membalikkan badannya menghadap Jiyeon. Sudah banyak sekali kekesalan menumpuk dalam dirinya.
“Heh yeoja rese, kenapa kau tiadk bilang Heechul Hyung menelepon semalam?”
Jiyeon balas menatap Kyuhyun, tapi ia tidak bisa membalas melotot seperti yang namja itu lakukan sekarang. “Aku mau bilang, kau saja yang tidak mau dengar”
Kyuhyun mendesah berat. Sebaiknya ia pergi. menghadapi yeoja-yeoja polos seperti Jiyeon membuatnya malas. “Aish!! Gara-gara kamu aku kena semprot dia sekarang!” Kyuhyun lalu pergi sambil menggerutu.
“Dsar namja aneh!” Teriak Jiyeon. Sekarang ia tidak mau mengejar Kyuhyun. malas sekali. Namja seperti Kyuhyun harusnya dilenyapkan dari muka bumi. Ia menatap tangannya dan terkejut saat melihat ponsel namja rese itu masih digenggamnya.
“O?? Ponselnya!!” lagi-lagi ia lupa mengembalikannya.

—-o0o—-

Jiyeon dan Yoona tengah latihan menari unyuk tes nanti di lantai 2 rumah Jiyeon. Musik beat mengalun mengiringi gerakan luwes keduanya. Namun gerakan Jiyeon terbatasi karena kakinya belum sembuh total sementara Yoona bergerak dengan energik.
“aduh, gerakanku payah nih!” keluh Yoona. Ia duduk menyandarkan diri pada tembok yang dingin sambil mengelap keringat yang mengucur.
“Kau masih mending, gerakanku lebih payah lagi” sambung Jiyeon ikut mengeluh.
“kau wajar sedang terluka”
“Ah, harusnya aku minta diajarkan Donghae saja. Dia kan masternya!!” seru Jiyeon. Yoona tertawa. “Kau benar. Harusnya aku juga memintanya mengajariku.”

Jiyeon mendesah. “Kalau padamu Donghae pasti dengan senang hati mengajarkan”
Yoona menoleh bingung “Maksudmu?”
“lupakan” tepis Jiyeon. Ia lupa Yoona sama naifnya dengan Donghae. padahal tingkah Donghae sudah sangat jelas padanya. semua orang juga sudah tahu hal itu. tapi Yoona tidak pernah sadar. Dan anehnya, Donghae juga tidak mau mengakui kalau dia menyukai Yoona. Bagus, pasangan yang serasi!

“Buat apa minta diajarikan Donghae kalau kau punya Oppa sang maestro tari” ucap Eunhyuk mendadak muncul.
“Oppa?! Kau tidak membantu Appa di resto?” Jiyeon setengah senang, setengah bingung. jam segini harusnya kakaknya itu sibuk membantu di restoran. Eunhyuk menggeleng seraya berjalan mendekat.
“Tidak. Hari ini jadwal Hyung yang bertugas. Btw, tadi kalian bicara soal tari. Mau aku ajarkan?” Eunhyuk menawarkan diri dengan sukarela. Jiyeon dan Yoona saling berpandangan. Senyum sumringah pun merekah di bibir keduanya.
“Mau!” seru mereka bersamaan.
“Come on!!” teriak Eunhyuk seraya menarik keduanya berdiri. Yoona beralih menyalakan kembali musik dan Eunhyuk pun mulai mengajarinya.

Di sekolah Eunhyuk terkenal sngt piawai menari. Yang mampu menyainginya dari sekian banyak dancer di sekolah hanya Donghae saja.

Tralilalila..

Jiyeon berhenti latihan sejenak karena ponselnya berbunyi.
“hallo..” ucapnya agak terengah karena baru saja menari.
“my doll?”
Jiyeon mengerjap mendengar suara ibunya. “Mommy!!” serunya senang. ia memindahkan ponselnya ke telinga kanan. Jiyeon berjalan ke beranda untuk mencari suasana tenang.
“Kamu tidak merindukan Mama chagi?”
“Sangat. Ma, kapan Mama pulang?. Aku ingin sekali bertemu denganmu” ucap Jiyeon, ia menyandarkan punggungnya pada pagar beranda. Memandang Yoona dan Eunhyuk yang asyik menari di dalam.
“Mama juga, ingin bertemu dengamu dan Siwon. Oh iya, Mama sudah mengirimkan kartu undangan pesta sayang, Mama ingin kamu dan Siwon datang mewakili Mama.”
“Loh, kenapa? Mama sibuk di Hongkong?”
“Itu sudah sangat jelas.”
Jiyeon mengangguk paham. “Pesta apa?”
“Ulang tahun perusahaan teman Mama. Kamu datang ya sayang. Ajak oppa mu juga”
“oke! Buat Mama apa sih yang tidak, hehe”

Bahkan setelah pembicaraan usai pun, senyum gembira terus menghiasi wajahnya. Jiyeon sangat senang karena sudah berbicara dengan Mama. Sekarang ia bisa lepas menari sepuasnya.

—o0o—

Hari minggu,

Ryeowook mengajak Jiyeon ke suatu tempat siang itu. Jiyeon tidak terlalu keberatan. Ia tidak ada kegiatan dan seharian di rumah bisa membuatnya mati kebosanan. Yah, Sekalian ia juga ingin jalan-jalan.
“Ini kan!” seru Jiyeon ketika tiba di depan sebuah hotel mewah. Ryeowook menoleh kaget.
“kenapa?” tanyanya bingung

Jiyeon tidak cepat menjawab. Ia sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya. Begitu menemukannya, ia meneliti kartu undangan yang dikirimkan Mamanya. Tidak salah lagi, alamat dan nama hotelnya sama. Jangan-jangan…
“Kita mau ngapain kemari?” tanya Jiyeon. Ryeowook mengangkat kamera yang dibawanya.
“Memotret keadaan panggung. Hyung dan bandnya akan tampil pada sebuah pesta di hotel ini”
Mata Jiyeon melebar seketika begitu mendengar nama Heechul. “Heechul Oppa?? Sini, biar aku saja yang memotret” Jiyeon langsung mengambil kamera dari tangan namja manis itu.
Ryeowook mencibir pelan. “Hu! Kalau soal Hyung kau selalu girang”
“Hehe” Jiyeon cengengesan tidak jelas. Ia sudah terlalu sering merepotkan Ryeowook menyangkut Heechul. Jadi bingung harus membalas apa. Mereka pun masuk.

—o0o—

*di rumah sakit*

Kyuhyun baru selesai medical check up. Sekarang ia sedang berjalan di lorong, merenungkan hasil pemeriksaan tadi. Untunglah hasilnya tidak membuat Kyuhyun kehilangan semangat.
Saat mengangkat kepalanya yang tertunduk, tanpa sengaja ia melihat Kibum dan Sooyoung berjalan masuk ke sebuah ruangan. Entah kenapa ia penasaran. Kyuhyun bergegas mengendap-endap seperti mata-mata, lalu mengintip dari kaca pintu.

Di dalam sana ia melihat Kibum, oranh tuanya, Sooyoung, dan Yesung yang terbaring di ranjang. Keningnya berkerut.
“loh, sejak kapan Yesung Hyung masuk rumah sakit? Bukannya seharusnya dia sibuk debut sebagai penyanyi” pikir kyuhyun. Setahunya Yesung adalah bintang yang debut bersama Siwon tahun ini.

Karena terlalu sibuk melamun, ia tidak sadar dari dalam sana ada orang yang berjalan mendekat ke arah pintu. Aishy!! Kyuhyun kaget karena pintu tiba-tiba terbuka. Ia pura-pura sibuk menelepon. Sooyoung mengerjap senang melihat Kyuhyun ada di hadapannya. ini kebetulan yang menyenangkan.
“Kyuhyun..” ucap Sooyoung senang.
Kyuhyun menoleh, dan memasang wajah innocent. Ia pura-pura kaget.
“Hei, Sooyoung” sapanya.
“Sedang apa kau di sini? Oh, kau ingin menjenguk oppa juga?”
“Anii” Kyuhyun mengibaskan tangannya cepat. “tadi aku habis menjenguk saudara di sini” akunya bohong. Sooyoung percaya saja karena ia yakin Kyuhyun tidak pernah membohonginya.

Kyuhyun dan Sooyoung adalah teman sejak kecil. Tapi sekarang hubungan mereka tidak begitu dekat lagi. Entah apa penyebabnya.
“Kau tidak ingin jenguk oppa, dia pasti senang bisa bertemu denganmu”
Kyuhyun tersenyum simpul. Ia ingat dulu ia bersama Yesung selalu latihan bernyanyi bersama saat SMP. Masa-masa yang indah. Dan sekarang kenangan itu hanya tinggal memori. Kyuhyun maupun Yesung sudah mengambil jalannya masing-masing.
“Nanti saja”
“Kenapa? Apa karena ada Kibum? Ada apa dengan kalian berdua.. Kalian perang dingin tanpa sebab”

Kyuhyun berhenti tersenyum. Kibum juga temannya sejak kecil. Dulu mereka sangat akrab. Tapi sekarang. Entahlah, ia merasa Kibum membencinya. Dan sialnya, ia tidak tahu alasannya.
“Soal itu aku juga tidak mengerti” lirih kyu. Kibum tidak pernah menyapanya lagi sejak SMP. Ditambah mreka masuk ke SMP yang berbeda. Jadi sampai sekarang Kyuhyun tetap tidak mengerti.
“Ah, ya sudah, aku pergi dulu. Sampaikan salamku pada Hyung ya”
“oh, ne” ucap sooyoung.

Kyuhyun tidak ingin berlama-lama di sana. Lantas ia pergi. Di tempat parkir ia menghampiri Hankyung yang sedari tadi menunggunya. Ia terkesiap melihat Kyuhyun berwajah suram.
“Lama sekali. Apa hasilnya mengecewakan?”
“Enak saja! Aku baik-baik saja kok!” tepis kyuhyun. Hankyung terkekeh pelan. Ia mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Ia tidak mau mendengar omelan Kyuhyun lebih panjang lagi. Mereka kemudian masuk mobil. Kyuhyun duduk di samping kursi kemudi dan memasang sabuk pengaman.
“Oh iya, tadi Leeteuk Hyung menelepon, katanya kita harus datang ke hotel sekarang. Dia sudah mencoba menghubungimu tapi tidak bisa” jelas Hankyung panjang lebar. Ia mulai menyalakan mobil, kemudian mengemudikannya dengan tenang.
“Oh, tadi ponsel kumatikan. Untuk apa Hyung menyuruh kita ke hotel?”

Hankyung mengendikkan bahunya. “Entahlah, mungkin membicarakan soal pesta”
“Aish! Aku malas, tapi aku tahu Hyung pasti mengamuk jika aku tidak menurutinya” keluh Kyuhyun membuat Hankyung tertawa kencang.
“Hahaha. Kau juga yang tengil”
Kyuhyun menoleh horor pada sepupu Cina-nya itu. “Han, kau jangan memanggilku tengil juga! Aish, menyebalkan!”

—o0o—

*di hotel*

Jiyeon memotret semua sudut ballroom tempat pesta di adakan. sementara Ryeowook melihat-lihat sekitar. Ia menoleh pada Jiyeon yang asyik memfoto beberapa objek. Ia jadi curiga, jangan-jangan Jiyeon hanya menghabiskan memori kameranya dengan memotret gambar-gambar aneh.
“Sini aku liat” Ryeowook mendadak mengambil kamera dari tangan Jiyeon untuk melihat hasilnya. Seperti dugaannya, ia menatap Jiyeon jengkel.
“Aigoo, foto apa ini? Kau hanya mengambil gambar-gambar tidak jelas!” protesnya karen hanya ada gambar dekorasi ruangan dan foto panggung hanya sedikit.

Jiyeon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Sorry, habis ballroomnya bagus banget. Interior gaya kastil-kastil Perancis” ucap Jiyeon sambil cengengesan.
“ah, sia-sia aku mengajakmu. Tahu begini aku ajak Yoona saja” dengus Ryeowook sambil lalu menuju keluar ruangan.
“Ya! Jadi kamu nyesel! Ih, namja rese!” Jiyeon mengejar Ryeowook. Tanpa sengaja ia malah menyenggol seorang yeoja.
“Mian” Jiyeon membungkuk menyesali tindakan cerobohnya.
“It’s okay” ucapnya ramah. Jiyeon kagum dengan caranya tersenyum. Cantik. Yeoja ini sungguh cantik.

“Seohyun, kamu sudah lama datang?” seru seseorang. Menyadari namanya di panggil, gadis itu mnengok. Senyumnya merekah sempurna, membuat Jiyeon makin terpesona saja. ia selalu mendambakan bisa menjadi wanita yang anggun dengan senyum menawan seperti itu.
“Oppa, aku baru saja tiba” ucapnya pada seorang namja yang berjalan ke arah mereka. Wow, namja yang keren dan dewasa. Dia adalah Leeteuk. Tentu saja Jiyeon tidak mengenalnya. Jika ia tahu namja keren itu adalah kakak Kyuhyun, entah apa reaksinya nanti.

“Siapa nona ini?” tanya Leeteuk seramah yeoja cantik bernama Seohyun itu. Jiyeon menepis pikirannya yang melantur kemana-mana. Ia segera memfokuskan pikirannya lagi.
“Ani, aku hanya kebetulan menyenggol. Eonni, mianhae.” ucap Jiyeon meminta maaf lagi.
“Aigoo, nona cantik, aku bilang tidak apa-apa” balas Seohyun. Ia senang sekali bisa bertemu yeoja semanis Jiyeon. Ia jadi terpikir ingin menjodohkan Kyuhyun dengannya. Karena beberapa hari yang lalu calon adik iparnya itu mengaku ingin jatuh cinta.

“Kalau begitu aku permisi” Jiyeon bergegas pergi meninggalkan Seohyun dan Leeteuk begitu ia teringat Ryeowook.

Sepeninggal Jiyeon, Seohyun menoleh pada namjachingunya.
“Kyuhyun mana? Dia akan datang juga kan?” Leeteuk mengangguk.
“Sudah ku telepon. Ah, kudengar kemarin lusa dia datang ke tempatmu? Apa yang dilakukanya? Dia tidak membuat keributan di sana kan?”
Seohyun tertawa menanggapi gurauan Leeteuk. “Hanya konsultasi biasa” jawab Seohyun ringan.
“Soal apa?”
“Oppa ini! Untuk apa ingin tahu masalah dongsaengmu? Lagipula sebagai calon psikolog, aku tidak boleh membocorkan masalah-masalah klienku”
“Dasar! Pada pacarmu pun kau tidak ingin memberitahukannya?” tegur Leeteuk jngkel. Terkadang Seohyun sama seperti Kyuhyun. Senang sekali iseng padanya.

—-o0o—

Kyuhyun dan Hankyung baru tiba di hotel. Mungkin hari itu Kyu tidak sedang beruntung, karena di lobi sudah bertemu Suzy. Gadis itu tersenyum lebar lalu berlari kecil menghampirinya. Ah, Kyuhyun ingin kabur tapi sudah terlanjur tertangkap.
“Hallo kyu, hallo Han” sapanya.
“Hallo Suzy” jawab Han sama ramahnya. Tapi Kyu tidak. Dia malah sibuk mengasihani diri sendiri sambil mengumpat pelan.
“Aigoo, mimpi apa aku semalam” lirihnya.
“Kenapa? Kau tidak senang aku disini?” Tanya Suzy. Ia tidak bisa membaca situasi rupanya. Kyuhyun tidak menjawab. Suasana di antara mereka sempat canggung.

Menyadari situasi aneh itu, Hankyung angkat bicara duluan. “Ah, kalau begitu aku duluan. Kalian mengobrol saja dulu” Hankyung inisiatif meninggalkan Kyuhyun dan Suzy.
“Jadi, ada urusan apa kau kemari? Ah, semoga tidak ada kaitannya denganku” ucap Kyuhyun sambil berjalan. Suzy ikut berjalan disamping Kyuhyun.
“Tentu saja ada. Ahjumma, mengundangku datang” ucapnya enteng plus gembira. Kyuhyun mendengus. Tepat sekali dugaannya.
“Eomma? Aish, sudah kuduga!” lirihnya malas.

to be continued….