Tag Archive | Jinyoung

Shady Girl Sungmin’s Story (Part 4)

Tittle : Shady Girl Sungmin’s Story Part 4
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Family

Main Cast :

  • Shin In Sung
  • Lee Sungmin

Support Cast :

  • Jun Jinyoung
  • Meng Jia
  • Lee Donghae
  • Shin Dong Hee / Shindong

Warning : typo bertebaran

Shady Girl Sungmin's Story by Dha Khanzaki5

—–o0o—–

Part 4

Jinyoung mengepal erat tangannya. Sekarang ia tengah duduk frustasi di dalam kamar apartement kecilnya. Rambutnya berantakan begitupun bajunya. Otaknya terus terbayang kejadian yang dilihatnya kemarin. Saat ia baru pulang kuliah-Jinyoung mengambil program pascasarjana-tanpa sengaja ia melihat In Sung sedang makan malam bersama seorang namja yang ia lihat tempo hari di sebuah restoran steak terkenal. Hatinya terasa sakit sekali melihatnya. Ia ingin masuk, tapi ia merasa tidak pantas mengganggu In Sung yang sepertinya bahagia bersama namja itu. Jadi ia hanya bisa menatapnya dengan pandangan sedih+sakit.

Dalam hatinya berkelebat banyak hal. Apakah In Sung sudah tidak mencintainya lagi? Ataukah namja itu adalah namja pilihan Ummanya. dia dan namja itu memang berbeda jauh. Dirinya siapa? Hanya mahasiswa biasa yang datang dari kampung untuk menuntut ilmu. Tidak lebih. Tidak bisa dibandingkan dengan namja itu yang kelihatannya bukan namja sembarangan.

Drrtttt..drrrttt..

Ponselnya berdering. Ia melihat layar ponsel. Dahinya berkerut ketika mendapati nomor tak dikenal. Tanpa ragu ia segera mengangkatnya.
“Yeobseo..”
“Apakah kamu Jun Jinyoung?”
Jinyoung mengerjap. “Iya. Anda siapa?”
“Aku Ummanya Shin In Sung. Bisa kita bertemu hari ini di restoran xxxxx?” ia makin terkesiap. Tuhan.. sekarang bahkan Umma In Sung mengajaknya bertemu. Bisa ditebak apa yang ingin dibicarakannya.
“Baiklah. Aku akan segera ke sana.” Jinyoung tidak mempunyai pilihan lain. Setelah menutup telepon, ia segera merapikan dirinya dan mengambil jaket.

@@@

In Sung sudah menemukan apartement untuk ia tinggal sementara. Meskipun kecil, tapi ia senang. Akhirnya keinginannya untuk hidup mandiri tercapai juga.
“Oke, sekarang aku harus belanja keperluanku.”
Baru ia akan berangkat, ponselnya berbunyi. Senyumnya terbit saat ia melihat layar ponsel ternyata Jinyoung meneleponnya. Ia memang sudah merindukan kekasihnya itu.
“hallo..” In Sung menjawabnya dengan suara ceria.
“Di mana kamu? Aku dengar kau pergi dari rumah?”
In Sung tidak terkejut Jinyoung bisa tahu hal itu. Mungkin saja kan Shindong oppanya sudah memberitahu Jinyoung.
“Iya. Aku sekarang ada di apartement baruku. Kenapa?”
“Bisa kita bertemu? Ada yang ingin kubicarakan.”
“Tentu saja.”

@Central Park
Jinyoung tersenyum manis dan membalas lambaian tangan In Sung. Gadis itu segera memeluknya kala ia sudah berada di hadapannya.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” In Sung sangat penasaran. Jinyoung mengajaknya duduk di tepian kolam.
“Em, kenapa kau kabur dari rumah?”
“Aku tidak ingin menikah dengan pria tua itu. Bagaimanapun aku kan kan menyukaimu. Umma tidak pernah bisa paham perasaanku.”
“Tapi menurutku kau terlalu berlebihan. Haruskah kau pergi dari rumah? Kau tidak memikirkan perasaan Ummamu? Dia pasti sangat sedih”
In Sung kaget mendengar ucapan Jinyoung. Ia tersinggung. “Aku melakukan ini demi kita.”
Jinyoung menoleh menatap In Sung dengan tatapan sedih dan senang. Entahlah, sepertinya Jinyoung sedang menahan emosinya sendiri. Tapi namja itu tetap berusaha untuk tenang dan tersenyum.
“Kau bukan melakukan kita. Tapi kau menuruti egomu sendiri.”
“Apa!!” In Sung tersentak. Ia memang merasa Jinyoung tengah menyembunyikan sesuatu. Yah.. sepertinya memang begitu.
“Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan? Apa kita bertemu hanya untuk mendengar ceramahmu?” nada suaranya meninggi
Jinyoung menghela napas berat. “In Sung, sebaiknya kita akhiri hubungan kita saja.”
“Mworago!!” teriaknya kaget.
“Kita putus saja. Diteruskan pun Ummamu tetap tidak akan merestui kita.” Ucapnya dengan suara tenang. padahal gejolak emosi dalam hatinya memberontak tak terkendali.

In Sung semakin yakin memang ada yang tidak beres dengan Jinyoung. “katakan padaku, apa Umma yang memintamu agar menjauhiku?” cecarnya tidak sabar.
Jinyoung menggeleng. Ia tidak mau menatap In Sung. “Bukan. Ini murni karena aku yang menginginkannya. Aku sudah lelah menghadapi hubungan ini.”
“Bohong! Katakan yang sebenarnya! Apa kau tidak tahu, aku kabur, aku menentang Umma, aku tidak ingin menikah dengan Tuan Cha semua karena aku mencintaimu. Aku sangat tersiksa kemarin tapi kenapa kau malah meminta hal yang membuat semua hal yang kulakukan itu sia-sia. Kumohon Jinyoung, katakan alasan yang sebenarnya. Aku tidak ingin kita putus dengan cara seperti ini.” In Sung seperti orang bodoh saja, memohon-mohon seperti ini.
Jinyoung menoleh. Ia menatap In Sung dengan sorot mata penuh kepedihan. “Lalu kenapa kau tidak mencariku kemarin? Kenapa saat kau sedih kau tidak mendatangiku dan malah pergi bersama namja lain?”

Ucapan Jinyoung sukses membuat In Sung membungkam mulutnya. Jadi.. Jinyoung melihat apa yang ia lakukan kemarin?
“Jika memang kau menganggapku berarti, harusnya aku orang yang kau pikirkan pertama kali saat kau sedih. Jika kau memang membutuhkanku, harusnya kau mendatangiku saat keadaamu terpuruk. Aku ini kekasihmu. Tempatmu berbagi kesedihan dan kesenangan. Tapi apa yang kau lakukan? Kau malah pergi bersama namja lain. Kau tahu, hatiku ini sakit”
“itu..” In Sung merasa sangat terpukul. Ia ingin menjelaskan pada Jinyoung, namun lubuk hatinya mengakui bahwa ia memang sudah mengkhianati Jinyoung. Ia sepertinya.. sudah jatuh cinta pada Sungmin.
“Sudahlah. Aku tidak marah padamu. Lebih baik kita sudahi saja semua ini. Berakhirnya hubungan kita adalah keputusan terbaik untuk saat ini. Maaf jika selama menjadi pacarmu, aku tidak bisa memberimu apa-apa selain kasih sayang. Kau tahu kan? Aku bukan siapa-siapa.” Jinyoung bangkit dari tempat duduknya. Lalu ia pergi meninggalkan In Sung yang masih terdiam.

Sepeninggal jinyoung, In Sung menangis dalam diam. Ia tidak terisak, namun airmatanya terus mengalir tanpa henti. Perasaan ini benar-benar menyakitkan dan membuatnya sesak.

@@@

Setelah ia putus dari In Sung, Jinyoung mulai membereskan barang-barangnya. Ia mendapatkan beasiswa untuk kuliah S2 di Shanghai. Sekarang ia tengah berada di bandara menunggu pesawat tujuan Shanghai tiba. ia menatapi fotonya bersama In Sung saat pertama kali mereka jadian. “Mianhae In Sung.. sebenarnya aku masih mencintaimu.. tapi Ummamu memintaku untuk menghilang dari kehidupanmu.” Gumamnya dengan nafas tercekat. Ia teringat kembali pertemuannya dengan Umma In Sung di sebuah restoran di Apgujeong-dong.

#Flash back#
“Bisakah kau memutuskan hubungan dengan putriku?” tegas wanita yang duduk di hadapannya itu tanpa ragu. Jinyoung tidak begitu terkejut mendengarnya. Namun ia kaget karena Umma In Sung benar-benar menginginkan ia menjauhi putrinya. Jinyoung menghela napas. Ia sadar diri sepenuhnya.
“Mengapa Anda ingin kami mengakhiri hubungan kami? Dan bagaimana aku akan menjelaskannya pada In Sung?” ujarnya tenang
“Tanpa di jawab pun tentu kau tahu alasannya bukan? Dan soal bagaimana kau menjelaskan pada putriku, kau tidak perlu menjelaskan apapun. Kau cukup mengatakan padanya bahwa kau ingin mengakhiri hubungan kalian. Selesai”
Jinyoung menahan emosi dalam hatinya. Sangat tidak sopan jika ia membentak orang yang lebih tua.
“Jika kau turuti keinginanku, aku akan memberikanmu kesempatan untuk bersekolah di luar negeri. Bagaimana?”
“Baiklah”
Bukan. Jinyoung bukan setuju karena ia akan mendapatkan beasiswa, tapi karena ia memikirkan In Sung. Mungkin dengan begini gadis itu akan bisa hidup lebih baik sesuai dengan apa yang orangtuanya inginkan. Dengan begini tidak akan ada orang yang sakit hati karena hubungan mereka. Hanya dirinya saja yang merasakan sakit itu.
Tanpa dirinya, In Sung tetap akan bahagia. Ia yakin akan hal itu.
#flashback end#

“Jun Jinyoung??”
Jinyoung mengangkat kepalanya. ia terkesiap begitu melihat sosok yang sangat dikenalnya berdiri di hadapannya dengan ekspresi yang begitu manis dan cantik. Di sampingnya berdiri Sano, pengawal pribadinya.
“Meng Jia..” gumamnya tanpa sadar menyebutkan nama gadis di hadapannya. Jia-gadis cantik bertubuh tinggi langsing itu langsung tersenyum lebar dan segera meraih lengan Jinyoung.
“Aku senang bertemu kau kembali” ujarnya dengan mata berbinar.
“Kenapa kau ke Korea? Bukankah kau berada di China?”
“Aku kemari karena ingin membawamu kembali ke China. Tak kusangka kita bertemu di bandara.”
“Tidak perlu repot-repot. Aku memang akan kembali ke sana.” Jinyoung tersenyum tipis.
“Really? Kalau begitu kau harus tinggal denganku di Macau. Ayah ibuku sangat merindukanmu. Mana tiket pesawatmu?” Jinyoung menyerahkan tiket pesawatnya pada Jia. Gadis itu segera meminta pengawalnya mendekat.
“Sano, tukarkan tiket Jin ke tiket untuk kelas VIP segera.”
“Baik, nona” Sano segera pergi untuk menukarkan tiket itu.
“Jia, kau tidak perlu melakukan ini. Aku”
“Sudah. Dari dulu kau selalu menolak pemberianku. Biarkan hari ini aku sedikit membahagiakan calon suamiku. Ayo pergi.” Jia dengan mesra menggandeng lengan Jinyoung dan membawanya pergi. ia tersenyum tipis, setelah ini.. ia harus bisa merelakan In Sung.

@@@

Sudah beberapa kali Ummanya meminta In Sung agar kembali ke rumah. Namun In Sung menolak dengan tegas. Ia tidak mau menuruti perintah Ummanya setelah ia mengetahui alasan Jinyoung putus dengannya. 2 hari lalu, ia pergi ke kampus tempat Jinyoung belajar. Betapa terkejutnya ia ketika tahu bahwa Jinyoung sudah pindah ke China karena mendapatkan beasisiwa di sana. Dan ia semakin sedih saat mengetahui Ummanya yang berada di balik semua ini. In Sung terus didera rasa penyesalan. Bahkan ia tidak mengucapkan selamat tinggal pada Jinyoung. Melihat wajah manisnya untuk terakhir kali sebelum namja itu pergi ke China dan entah kapan kembali lagi. Ia sangat kesal.

@@@

Haebin menatapi ponselnya. Sudah lebih dari 2 minggu ia tidak bisa menghubungi In Sung. Shindong, Oppanya sudah berkali-kali bertanya padanya apakah mendapat kabar dari In Sung, tapi hanya jawaban ‘tidak’ yang bisa ia berikan. Memang begitu kenyataannya. Ia tidak mendapat telepon ataupun pesan dari sahabatnya itu. Sekarang ia begitu cemas. Kemana sebenarnya In Sung? Ia tidak tahu jika In Sung sudah pergi dari rumahnya sejak 2 minggu yang lalu. Karena pertengkaran dengan Ummanya. ia tahu In Sung sangat stress dengan ummanya yang terus memaksanya menikah dengan Tuan Cha.

“Tenang saja, tadi pagi aku mendapatkan pesan dari In Sung. Aku akan mengunjunginya sekarang. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya sekarang.” Ucap Sungmin saat Haebin meneleponnya. Ia lansung melonjak senang.
“Jinjja???? Ah.. gomawo Oppa.. kapan kau akan berangkat? Aku ikut yah..”
“jangan. Kau kan sedang hamil. Lagipula Donghae tidak mungkin mengizinkanmu pergi”
“Ah iya.. kalau begitu sampaikan salamku pada In Sung ya.. dan bilang padanya untuk meneleponku segera. Aku sangat mengkhawatirkannya.”
“Baik.”

@@@

Seperti yang sudah ia katakan pada Haebin, kini Sungmin tengah dalam perjalanan menuju apartemen In Sung. Ia melirik Minki yang sudah sangat semangat saat ia bilang akan berkunjung ke tempat In Sung.
“Appa.. Minnie akan bertemu In Sung Eonnie?” tanyanya
“Iya chagi.” Jawab Sungmin senang.
Jujur saja, ia merindukan gadis itu. Sejak terakhir kali ia bertemu dengannya, sejak itu pula pikirannya terus dipenuhi bayangan tentangnya.

Ting tong..

Sungmin memencet bel. Minki sudah tidak sabar ingin segera masuk. Sungmin juga tidak sabar ingin segera bertemu dengan In Sung. Tapi sudah sepuluh menit ia menunggu, pintu tak kunjung dibuka juga. Ia memencet bel sekali lagi.
“Appa.. mana In Sung Eonni..” rengek Minki
“iya. Tunggu sebentar chagi.”
Sungmin merasa ada yang tidak beres saat In Sung tak kunjung membuka apartementnya juga. Ia membuka pintu apartementnya, matanya terkesiap. Tidak dikunci?
“In Sung..” panggilnya seraya masuk. Minki berlarian saat masuk ke apartement itu. Suasana lumayan gelap karena lampu tidak menyala dan semua jendela tertutup gorden. Kamar itu hanya terdiri dari ruangan yang bisa berfungsi sebagai ruang tidur dan ruang tamu. Juga ada dapur kecil dan kamar mandi. Tapi ia tidak melihat In Sung.
“Minki, jangan nakal” ujar Sungmin saat melihat putrinya tengah bermain di kasur In Sung.
Sungmin meraba-raba tembok untuk menyalakan lampu. Suasana sudah lumayan terang sekarang. Ia masuk kamar mandi yang pintunya terbuka sedikit. Melihat pemandangan di hadapannya, Sungmin terbelalak kaget.
“In Sung!!” teriaknya. Dengan langkah cepat ia segera menghampiri In Sung yang tak sadarkan diri dalam kondisi duduk tak berdaya di sudut kamar mandi itu. Sungmin bergetar hebat saat melihat dari pergelangan tangan In Sung mengalir darah. Ya ampun.. apa mungkin ia sedang mencoba untuk bunuh diri?
“huwaaa..Appa..Eonnie kenapa???” Sungmin menoleh cepat mendapati putrinya tengah menangis. ia mungkin syok melihat pemandangan mengerikan saat ini.
“Minnie, kamu cepat pergi.” ujar Sungmin mencoba tenang. padahal sesungguhnya ia bergetar takut. Sungmin segera mengangkat In Sung setelah memeriksa denyut nadinya masih terasa meskipun sangat pelan. Ia memacukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Sesampainya di rumah sakit, In Sung segera di bawa ke ruang operasi. Sungmin menunggu di luar ruangan sambil terus mendekap Minki yang masih menangis.
“Appa.. Eonnie kenapa masuk ke sana.. Minnie ingin ikut masuk..” rengeknya. Sungmin berusaha menenangkan putrinya.
“Iya. Tapi nanti sayang. Jika Pak Dokter sudah keluar.” Ujarnya.

Sungmin tadi sudah menelepon keluarganya. Tak lama, mereka semua tiba di rumah sakit dengan perasaan cemas yang sama dengannya.
“Mana putrikuuu..” teriak Ummanya dengan deraian airmata. Appa In Sung buru-buru menenangkan istrinya.
“Tenanglah”
“Sungmin, katakan padaku kenapa adikku bisa seperti ini?” Shindong segera menginterogasi Sungmin.
“Tadi aku ke apartementnya dan menemukan In Sung sudah seperti ini.” Sungmin berbicara sambil terus menenangkan Minki yang menangis di gendongannya.
“Jadi selama ini kau mengetahui adikku berada di mana? Kenapa tidak memberitahuku?” ujar Shindong dengan nada kesal.
“Aku baru mengetahuinya hari ini.” Jawab Sungmin.
Shindong berdecak kesal. Ia juga tidak bisa menyalahkan Sungmin atas kejadian ini. Sekarang yang ia khawatirkan adalah keadaan adiknya di dalam sana.

“In Sung..” Haebin datang di temani dengan Donghae, suaminya. Ia baru saja sampai sudah berderai airmata. Tadi Sungmin juga sempat memberitahunya. Donghae berinisiatif memeluknya. Ia tidak mengatakan apapun, hanya membiarkan Haebin menangis.

Dokter keluar dari ruangan operasi. Orangtua In Sung segera menghampirinya.
“bagaimana keadaan anak kami Dok?” tannya Appa tidak sabar.
“Dia kehilangan banyak darah. Beruntung tadi cepat dibawa kemari. Jika tidak, entah apa yang terjadi padanya. Tapi tenang saja, sekarang dia sudah tidak apa-apa. Kami sudah memberikannya obat tidur. dia hanya butuh istirahat.”
Orang-orang menghela napas lega setelah mendengarnya. Apalagi Sungmin. Ia sangat bersyukur In Sung baik-baik saja.

@@@

Hidungnya mencium bau obat yang menyengat dari ruangan tempatnya berada. In Sung mulai membuka matanya. Di mana ini? Ia melirik ruangan di sekitarnya. Ia tahu sekarang dirinya berada di rumah sakit. Siapa yang datang menolongnya? Padahal ia ingin mati kenapa masih ada juga yang menyelamatkan nyawanya?
“In Sung..” In Sung mendengar suara yang sudah dikenalnya. In Sung menoleh dengan gerakan pelan dan mendapati Ummanya duduk di samping ranjang dengan tatapan sedih.
“Umma..kenapa Umma berada di sini?” tanyanya pelan. Umma menangis mendengar nada bicara putrinya yang terdengar membencinya. Ia tahu alasan kenapa In Sung memutuskan untuk bunuh diri. Pasti karena tindakannya sendiri. Ia pasti sudah membuat putrinya tertekan karena sudah memisahkannya dengan Jinyoung dan memaksanya menikah dengan Tuan Cha.
“maafkan Umma, In Sung.. Umma merasa sangat bersalah padamu..” Umma memegang tangan In Sung erat sambil terus meneteskan airmata. Selama In Sung belum siuman, ia sudah merenundkan semua tindakannya selama ini. Suaminya pun sudah mewanti-wantinya agar berhenti mencampuri urusan In Sung.
“mulai saat ini Umma akan berhenti mencampuri urusanmu. Kau bebas mencintai siapapun. Umma juga sudah membicarakannya dengan Tuan Cha dan ia setuju untuk membatalkan rencana pernikahannya denganmu. Jadi Umma mohon maafkan Umma.”

In Sung tersentuh mendengar ucapan Ummanya. ia tahu memang tidak pantas ia marah pada Ummanya. dan setelah mendengar permintaan maaf dari Ummanya sendiri ia merasa bersalah sudah marah pada Ummanya selama ini. Bagaimanapun,semua yang dilakukan sang Umma padanya adalah bentuk kasih sayang untuknya. Ummanya hanya ingin yang terbaik untuknya. Benar kata Jinyoung. Ia melakukan ini-kabur dari rumah-hanya untuk mengikuti egonya sendiri.

“Uljima, Umma.. aku sudah memaafkanmu sejak dulu. Maafkan aku juga karena sudah membuatmu khawatir. aku anak yang durhaka.” Ucap In Sung dengan suara pelan. Ummanya tersenyum lalu mengecup kening putrinya dengan penuh kasih sayang.
“Sekarang kau harus cepat sembuh. Dan kembali ke rumah”
In Sung mengangguk lemah. Ia kemudian tersenyum. Hatinya sudah lebih lega dan tidak terasa ada ganjalan sedikitpun.

“Eonnie..” Minki baru saja masuk ke ruangan itu, ia segera berlari menghampiri In Sung.
“Min-chan..” suara In Sung masih lemah. Namun ia tersenyum senang bisa melihat Minki lagi.
“Minnie bawa eskrim untuk Eonnie..” Minki menyerahkan satu cup eskrim rasa cokelat pada In Sung. Gadis itu tersenyum menanggapinya.
“Minnie.. eonni sedang sakit, mana bisa makan eskrim” Sungmin segera menggendong putrinya.
“Maaf, putriku sangat berisik” Sungmin meminta maaf pada Ummanya In Sung.
“Tidak apa-apa. Kalau begitu tolong gantikan aku menjaga In Sung. Aku harus menemui dokter.”
“Baiklah”

Umma segera pergi. meninggalkan In Sung dan Sungmin serta Minki di ruangan itu.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Sungmin. Ia duduk di tempat yang tadi di tempati Umma. Minki sendiri duduk di pangkuannya sambil memakan eskrim.
“Lebih baik. Terima kasih.” Ia terdiam sejenak. “Apa Oppa yang membawaku ke rumah sakit?” tanya In Sung mengingat orang terakhir yang ia kabari adalah Sungmin.
“Begitulah. Beruntung aku datang di saat yang tepat. Kenapa kau melakukan tindakan bodoh itu, In Sung-ah. Kau tahu kan, seandainya saat itu aku tidak datang, kau mungkin sudah berada di surga sekarang” ucapnya tidak terdengar sedang menceramai sedikitpun. Malah lebih terdengar khawatir.
“maaf, saat itu emosiku sedang labil sehingga jalan pikiranku begitu sempit. Tapi sekarang aku menyadari bahwa tindakanku salah” In Sung berkaca-kaca. “Aku sudah gagal menjadi seorang psikolog. Aku bahkan tidak bisa mengontrol emosiku sendiri.” Sesalnya
Sungmin mengusap kepalanya pelan. “Sudahlah. Setiap manusia mempunyai batas kesabarannya masing-masing. Kau tidak sepenuhnya salah. Karena semua sudah terlanjur terjadi, kamu tidak boleh mengulanginya lagi. Arrasseo”
In Sung mengangguk lalu tersenyum.

To be continued

Iklan

Shady Girl Sungmin’s Story (Part 2)

Tittle : Shady Girl Sungmin’s Story Part 2
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, family

Main Cast :

  • Shin In Sung
  • Lee Sungmin

Support Cast :

  • Kim Kibum
  • Kim Heechul
  • Jun Jinyoung

Hallo, ini adalah sekuel dari Shady Girl loh. Cuma di sini cast utamanya bukan abang Nemo tapi abang Aegyeo. Maaf kalau ceritanya gak seru atau banyak typo bergentayangan di sana sini. *bow*

Happy Reading ^^

Shady Girl Sungmin's Story by Dha Khanzaki5

——0.0——

Part 2

“Apa? Hari ini? Di Taman Kota? Baiklah..” In Sung tersenyum cerah begitu Jinyoung meneleponnya untuk mengajaknya kencan. Ummanya segera merebut ponsel In Sung dan mematikannya.
“Umma!!!” protes In Sung. Kenapa sih Ummanya itu selalu mencampuri urusan asmaranya.
“Segera putus dengan namja itu. Carilah namja seperti Appanya Minki atau kau akan Umma nikahkah dengan Tuan Cha!” tegas Umma sambil berlalu ke dapur. In Sung berusaha menahan amarahnya. Ia tidak mau bertengkar di pagi yang secerah ini.
“Umma tidak berhak mengaturku menikah dengan siapa!” teriak In Sung sambil berlalu pergi.


“Appa..Minnie ingin ke tempat In Sung Eonnie.” Rengek Minki saat Sungmin akan mengantarkannya ke rumah Haebin.
“Jangan Sayang.. kamu main di rumah Haebin Eonnie saja ya..” Sungmin tidak enak hati jika harus merepotkan In Sung lagi. Mumpung Haebin hari ini libur, ia akan menitipkan Minki pada gadis itu.
Minki cemberut. Sungmin menggodanya dengan menggelitik pinggang Minki. Gadis cilik itu langsung tertawa geli.
“Appa nakaallll..”

Sesampainya di rumah Haebin, Minki sudah tidak sabar ingin segera masuk.
“Tunggu sebentar, sayang.” Sungmin gemas lalu mencubit pipinya. Tak lama setelah memencet bel, pintu pun dibuka oleh Haebin.
“Omo.. Minki, Sungmin Oppa..” seru Haebin.
“Eonnie..” Minki melambaikan tangannya pada Haebin.
“Aigoo.. kamu makin cantik saja.. sini..”
Minki segera menghampiri Haebin. sungmin tersenyum melihat putrinya begitu lincah.
“Maaf ya merepotkanmu. Andai orang tuaku sudah pulang. Padahal kau kan sedang hamil.”
“Tidak apa-apa. Aku senang menjaga Minki.”


In Sung sebal sekali dengan Ummanya. Ia pergi untuk menenangkan diri. Hari ini ia libur dari pekerjaannya dan berniat pergi kencan dengan Jinyoung. Tapi ya begitulah, karena Ummanya ia nyaris membatalkan rencananya itu.
“Jinyoung, Mianhae.. tadi itu Ummaku.. kita tetap jadi kan hari ini?”
“Iya. Kita bertemu di mana?”
“Siang ini, di tempat biasa.”
Seusai menghubungi Jinyoung, In Sung sudah sampai di depan rumah Haebin. ia bergegas masuk. Hari ini ia ingin sekali bercerita pada Haebin. semoga gadis itu ada di rumah.

Namun, karena ia tidak melihat-lihat ke arah depan, In Sung menabrak seseorang hingga ia jatuh terjungkal ke belakang. Tepat di teras rumah Haebin.
“Auch..Ah, sial sekali sih aku hari ini..” In Sung tanpa sadar mengoceh hal-hal tidak jelas. Ia mendongkak ke depan mengira yang menabraknya adalah Haebin. ternyata ia salah besar. matanya membulat saat mengetahui yang kini ada di depannya adalah Sungmin.
“Mianhae.. kau tidak apa-apa?” Sungmin tadi sedang buru-buru jadi tidak begitu memperhatikan kalau ada orang di depannya. Ia segera mengulurkan tangan untuk membantu In Sung berdiri. In Sung menatap ragu tangan Sungmin yang terulur di hadapannya. Entah kenapa, ia merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya.
“Gomawo..” In Sung meraih tangan itu dan berdiri.
“Kamu, Shin In Sung kan?” Sungmin mengerjap takjub saat mengenali gadis di hadapannya itu.
“Iya. Anda juga, Lee Sungmin-ssi kan? Ah, apa Minki juga ada di sini?” tebak In Sung.
“Iya. Dia ada di dalam” Sungmin melirik jam tangannya. “Oh, tidak aku akan terlambat. Kalau begitu aku pergi duluan.”
“Ne. Selamat jalan.” Ujar In Sung. Ia tidak kunjung bergerak dari tempatnya sampai mobil Sungmin menghilang. Barulah ia teringat tujuannya datang kemari sedetik setelahnya.
“Omonaaa…” ia memekik heboh sendiri. Lalu segera berlari ke dalam rumah Haebin.


“Mwo? Kau akan dijodohkan dengan pria yang usianya 20 tahun lebih tua dari mu?” Haebin menutup mulutnya tak percaya. Setelah mendengar cerita In Sung, Haebin bingung harus merasa iba atau sedih menanggapinya.
“Iya.. aku tidak percaya akan mengalami hal yang pernah kau alami..” In Sung merosot di tempat duduknya. Haebin menahan tawanya. Sebenarnya ini bukan waktu yang tepat untuk tertawa.
“Tapi apa kau yakin akan benar-benar menikah dengan Tuan Cha? Siapa tahu dia juga punya seorang putra yang akan dijodohkan denganmu.” Haebin teringat dengan Tuan Lee yang ternyata akan menjodohkannya dengan Donghae.*baca Shady Girl*
“Tidak mungkin. Tuan Cha hanya mempunyai 1 putri dan usianya baru 19 tahun.”
Haebin ikut sedih melihat wajah putus asa sahabatnya. Haebin segera mengusap punggungnya.
“Sudahlah. Ambil saja sisi positifnya. Bukankah kau sendiri juga pernah bilang, jika uang itu sangat penting. Cinta itu bukan segala-galanya. Tapi segala-galanya butuh uang. Termasuk cinta. Lagipula jika menikah dengan tuan Cha hidupmu akan berubah. Kau akan hidup seperti tuan putri.” Haebin membalikkan semua perkataan yang pernah In Sung ucapkan padanya dulu.
“Ah.. aku menyesal sudah mengatakannya. Kau benar Haebin, cinta itu sangat penting. Uang bukan satu-satunya kebutuhan hidup. Jadi jebal, jangan membuatku makin terpuruk.” Ujar In Sung, ia memijat kepalanya yang mulai terasa pusing.
“Arraseo. Maaf.”

“Eonnie..” Minki yang semenjak tadi bermain boneka sendiri berlari kecil menghampiri In Sung. Ia sebenarnya sedang kesal. Tapi melihat wajah tak berdosa Minki, hatinya mendadak tenang.
“Apa, sayang???” In Sung segera menggendong Minki ke atas pangkuannya.
“Minni ingin jalan-jalan..” rengeknya dengan gaya menggemaskan. In Sung mencubit pipinya lagi.
“Baik. Kalau Haebin Eonnie mengijinkan.” Ujar In Sung seraya menoleh pada Haebin.
“Ayo. Aku juga bosan di rumah.”
“Yeeeyyy…!!!” Minki berteriak senang.

Dan siang itu, mereka berjalan-jalan mengunjungi beberapa tempat di Seoul, makan siang, dan berbelanja. Mereka juga mengunjungi Namsan Tower.
“Eonnie..di sini tinggi..” seru Minki. In Sung hanya tersenyum dan menoleh pada Haebin yang berdiri di sampingnya sambil makan eskrim.
“Haebin, kau ini sudah makan eskrim berapa banyak sih? Lihat, badanmu makin gemuk.” Ujar In Sung sambil geleng-geleng kepala.
“Ini bukan keinginanku. Tapi bayiku.” Bela Haebin sambil mengusap perutnya.

“Ah.. Appa..!!!” teriak Minki saat melihat Sungmin tengah berjalan menghampiri mereka. In Sung sedikit bingung. Kenapa Sungmin bisa ada di sana?
“Haebin, Sungmin-ssi kenapa bisa ada di sini?”
“Oh, aku yang meneleponnya tadi. Dan dia bilang ingin menyusul kemari karena pekerjaannya sudah selesai.”
“Oh..” In Sung mengangguk. Minki segera berlari memeluk Sungmin.
“Halo, kita bertemu kembali.” Ujar Sungmin, ia tersenyum hangat. In Sung pasti meleleh jika tubuhnya terbuat dari es melihat senyuman seindah itu.
“Ah, iya..” ujar In Sung tersipu. Haebin ingin sekali mengolok-olok In Sung melihatnya tersipu seperti itu.

Setelah itu, mereka bertiga-termasuk Minki- pergi bersama-sama. Berjalan-jalan di sekitar Namsan Tower yang pemandangannya sangat indah itu.
“Jadi, In Sung itu sahabatmu?” ujar Sungmin. Haebin mengangguk. Ia menatap In Sung yang sedang bermain dengan Minki di dekat kolam sana.
“Aku sudah berteman dengannya sejak jaman SMA. Dia anak yang sangat baik. Dia itu sangat suka anak kecil” jelas Haebin.
“Oh, pantas dia bisa cepat akrab dengan Minki.” Sungmin menatap kembali In Sung dan anaknya Minki. Entah kenapa, ia tidak bisa melepaskan matanya dari setiap gerakan In Sung yang bermain dengan putrinya. Ini aneh.

“Eonnie bunga ini untukmu..” Minki memasangkan sebuah bunga di telinga In Sung.
“Aigoo.. gomawo..” In Sung mengusap kepala Minki. Ia sangat senang melihat gadis itu tertawa seperti sekarang. Sungguh menggemaskan.
Drrttt..ddrrrtt..
Ponselnya mendadak berdering. In Sung segera mengangkatnya.
“Yeoboseo..”
“Chagi, kau ini dimana? Aku sudah menunggumu dari tadi.”
In Sung mengerjap kaget begitu mendengar suara protes dari namjachingunya, Jinyoung. Bagaimana mungkin ia melupakan janji kencannya bersama Jinyoung.
“A-anu..” ia benar-benar menyesal sudah mengabaikan janjinya.
“Apa alasanmu sekarang? Apa ibumu melarangmu? Atau..kau sedang berjalan-jalan dengan namjachingu barumu?”
In Sung kaget, ia cepat menoleh kiri dan kanan takut Jinyoung berada di sekitarnya dan sedang menyaksikan apa yang ia lakukan sekarang. Tapi ia tidak menemukannya di manapun.
“Tidak. Tentu saja tidak. Kamu di mana? Aku akan segera ke sana.”
“Aku ada di bawah Namsan Tower. Cepatlah kemari.”
Mendengar tempat Jinyoung berada, In Sung semakin merasa yakin kalau namjachingunya itu memang melihat apa yang ia lakukan.
“Ah, baiklah. Aku akan segera ke sana. Tunggulah..” setelah menutup teleponnya, In Sung segera mengajak Minki ke hadapan Sungmin dan Haebin yang sedang mengobrol di bangku taman.
“Mianhae.. sepertinya aku harus pergi.” ujar In Sung penuh penyesalan.
“Kenapa?” tanya Haebin kaget. Sungmin pun menunjukkan reaksi yang sama.
“Aku sudah ada janji dengan Jinyoung.”
“Jinyoung? Ah, namja chingumu itu?” Haebin mengangguk paham. Tapi pernyataan Haebin membuat Sungmin sedikit tersentak. Jadi.. In Sung sudah mempunyai namja chingu?
“Begitulah” In Sung segera mengelus kepala Minki. “Minki, Eonni pergi dulu ya.. nanti kapan-kapan kita main lagi. Oke”
“Shireo.. Minnie ingin ikut dengan Eonnie..” rengek Minki sambil menarik-narik sweter yang In Sung pakai. Sungmin segera menggendongnya.
“jangan sayang. Eonnie ada janji. Jadi lain kali saja ikutnya ya..”
“tidak mau!!!” Minki merengek dengan mata berkaca-kaca. In Sung tidak tega melihatnya.
“In Sung-ssi, kau bisa pergi. Minki, biarkan saja.” Ujar Sungmin sambil mengelus-elus kepala putrinya. In Sung mengangguk. Lalu ia berlari pergi. hal itu membuat Minki menangis kencang.
“Huwaaaa… Appa..Minnie ingin ikuuuttt..”

—-
In Sung lega ketika melihat Jin Young masih ada di sana. Dengan langkah cepat ia segera menghampiri Jinyoung.
“Chagi..” ujarnya sambil memeluk Jinyoung dari belakang karena namja itu membelakanginya.
“Aigoo..kau mengagetkanku!!” seru Jinyoung. Namja itu tersenyum manis. “Kenapa lama sekali? Aku hampir pingsan karena bosan.”
“Aish..Maaf. tadi aku..”
“Tidak perlu dijawab. Aku tidak ingin tahu apapun tentang namja yang bersamamu tadi.” Cegah Jinyoung. In Sung menatap heran namjachingunya itu.
“Kau melihatnya?” tanyanya ragu-ragu
“Begitulah.”
“Chagi, tadi itu..”
“Sudah kubilang, aku tidak ingin tahu! Sudah, sekarang kita berkencan saja. Jangan ungkit soal apa yang kulihat tadi dan kau pergi dengan siapa tadi. Oke.” Jinyoung tampak menahan emosinya. In Sung menghela napas berat. Entah apa yang tadi dilihat Jinyoung, namun sepertinya namja itu mengira In Sung hanya pergi berdua saja dengan Sungmin. Padahal kan tidak.. entahlah..
Jinyoung namja yang tidak banyak protes. Meskipun marah, dia tidak akan meluapkannya pada In Sung. Termasuk tadi, In Sung tahu ada sesuatu yang membuatnya marah. Tapi Jinyoung selalu menahan emosinya itu. Sekarang yang hanya bisa ia lakukan hanyalah menunggu Jinyoung mengatakannya sendiri.

“Chagi, bagimana? Apa Ibumu masih belum merestui hubungan kita?” tanya Jinyoung saat mereka makan malam. In Sung menghela napas berat, lalu menggeleng pasrah.
“Kau tahu kan, Ibuku seperti apa..”
Jinyoung mengangguk, lalu tersenyum. “Baiklah. Aku mengerti. Kita hanya perlu bersabar. Iya kan..”

@@@

Sesaat setelah mengantarkan Haebin pulang, Sungmin memacu sedikit lebih cepat mobilnya. Ia menoleh ke arah jok belakang, Minki tertidur pulas. Dia tersenyum, hari ini akhirnya bisa menemani putrinya bermain setelah selama beberapa bulan terakhir ia terus sibuk bekerja. Saat ia menoleh ke arah pinggir jalan yang dilaluinya, matanya agak terbelalak ketika melihat sosok In Sung sedang berjalan bergandengan tangan dengan seorang namja. Mereka tampak begitu akrab, sesekali In Sung tertawa mendengar lelucon yang dilontarkan namja itu. Apa namja itu adalah namjachingunya? Ah, kenapa mendadak ia peduli sekali dengan hal itu. Bukankah In Sung bersama dengan siapapun bukan urusannya.

@@@

“In Sung.. Tuan Cha mengajak kita pergi makan malam lusa.” Ucap Ummanya. padahal sekarang masih pagi tapi Ummanya sudah mulai merecokinya dengan hal-hal tidak penting seperti itu.
“Ayolah Umma, aku bahkan belum mandi.” Ujar In Sung sambil membuka pintu kamar mandi.
“Pokoknya kamu harus setuju!!” teriak Ummanya sementara In Sung membanting keras pintu kamar mandi. Ia kesal. Lagi-lagi ia dipaksa melakukan hal yang tidak diinginkannya. Makan malam dengan pria tua itu? Dipaksa sambil diembel-embeli uang 1 milyar pun ia tidak mau.
“Dasar Umma, apa ia ingin melihat putrinya masuk rumah sakit jiwa!” gerutunya lalu mulai menggosok gigi. Kepalanya kembali berdenyut tajam. Aish..jika terus seperti ini ia harus berkonsultasi pada psikolog atau ia akan stress. Tapi tunggu, bukankah ia seorang psikolog? Huh, ironis sekali jika seorang psikolog mengalami tekanan mental karena orangtuanya sendiri.


Sungmin sudah rapi dan hendak membangunkan Minki. Tapi ia mendadak panik saat memegang kening putrinya, suhu tubuhnya tinggi dan berkeringat.
“Appa..” Minki menangis karena merasakan ada yang tidak beres dengan badannya.
“Aigoo.. kau demam sayang..Appa akan membawamu ke tempat Kibum Shamchon..” Sungmin sepertinya harus membatalkan niatnya untuk bekerja hari ini. Ia harus membawa Minki yang tidak sehat ke rumah sakit. Kalau ia kerja, ia tidak akan tenang. pikirannya pasti akan terus tertuju pada putrinya.

—o0o—-

@Seoul General Hospital
“Nah, Minki.. sementara waktu harus tinggal di sini. Arracchi..” ujar Kibum setelah memeriksa Minki. Ia merapatkan selimut agar Minki bisa tidur dengan tenang. gadis kecil itu mengangguk patuh.
“Kibum shamchon..peluk Minnie..” pinta Minki manja. Kibum langsung memeluknya.
“Aigoo.. anak ini.. kenapa selalu bermanja-manja pada pamannya..” Sungmin menggeleng-gelengkan kepalanya. tidak hanya pada Donghae, pada Kibum pun Minki selalu bermanja-manja.
“Mungkin karena aku tampan, Hyung.” Ucap Kibum narsis.
“Ah, benar juga.” Sungmin baru menyadari kalau Donghae dan Kibum sama-sama tampan.

@@@

Drrttt…drrrttt..
In Sung mengangkat ponselnya dengan buru-buru. Ia sedang sibuk menemani anak-anak kecil itu bermain.
“halo..”
“In Sung.. bisa kau datang ke rumah sakit??” ujar Haebin dari ujung sana. In Sung mengerutkan kening.
“Kenapa? Kau sakit?” tanyanya was was mengingat haebin tengah hamil.
“Bukan. Minki yang sakit.”
“nde??? Baiklah. Aku akan kesana.” In Sung meminta izin pada guru-guru lain yang mengajar di TK. Setelah itu, ia segera mengambil langkah cepat menuju rumah sakit tempat Minki berada. Ia sendiri merasa aneh, kenapa ia mendadak cemas seperti ini mendengar Minki sakit. Ah, pasti ia sudah menganggap Minki seperti murid-muridnya di TK.

Begitu sampai di rumah sakit, ia segera menuju ruang rawat Minki dengan langkah cepat. Sesaat ia ragu saat akan masuk. Namun ia tetap memaksakan diri untuk masuk.
“In Sung!!” seru Haebin lalu memeluknya begitu ia masuk.
“Eonni!!” teriakan Minki membuat In Sung cepat-cepat melepaskan pelukan Haebin dan menghampirinya. Sebenarnya ia malu juga karena Sungmin memperhatikannya.
“Aigoo..Min-chan kenapa bisa sakit??” In Sung duduk di tepian ranjang sambil mengusap keningnya.
“Dia demam. Tapi tidak terlalu parah kok..” jelas Sungmin.
“Aku sudah menyuapinya makan, tapi dia tidak mau.” Tambah Haebin. “Dia ingin makan di suapi olehmu..” tambahnya membuat In Sung sedikit kaget.
“Jadi Min-chan belum makan?” tanya In Sung cemas.
“Iya. Minnie ga suka makanan di sini..Minnie ingin eskrim..”
“Aish..kalau lagi sakit mana boleh. Min-chan makan ya..Eonnie suapin.”
Haebin segera memberikan bubur yang tadi di siapkan oleh rumah sakit untuk Minki pada In Sung. Anehnya, anak itu langsung makan dengan patuh.
“Ah, ini menyebalkan. Tadi aku juga bersikap lembut kenapa tidak ditanggapi..” keluh Haebin

Sungmin lagi-lagi tersenyum melihat Minki bisa makan dengan lahap seperti itu. Sepertinya Minki menyukai In Sung. Mendadak ia teringat pada Taeyeon. Andai saja istrinya itu masih hidup, pasti sekarang ia yang mengurus Minki dan ia tidak perlu setiap hari setiap detik mencemaskan putrinya.

“Min-chaan.. waktunya minum obat..” Kibum datang dengan wajah ceria. Ia ditemani seorang suster membawakan obat untuk Minki minum.
“Ah, maaf merepotkanmu. Kau pasti sibuk menangani pasien lain.” Ucap Sungmin.
“Jangan sungkan begitu Hyung. Minki kan keponakanku juga..” Kibum melihat Minki makan di suapi oleh In Sung.
“Kau Shin In Sung kan?” Kibum mengenali In Sung. Gadis yang ia temui saat menjemput Haebin dulu di kampusnya. Sungmin lagi-lagi harus sedikit terkejut.
“Oh, kau Kim Kibum-ssi..” In Sung berdiri lalu menundukkan kepalanya sekilas. Ia takjub juga melihat Kibum dalam seragam khas dokter yang dipakainya sekarang.
“Jadi, Kibum-ssi itu Dokter?” In Sung mengerjap takjub. Kibum menanggapinya dengan senyuman manis.
“Ah, iya. Kau datang kemari dengan Haebin?”
“Aku yang memintanya datang. Karena Minki merengek ingin makan disuapi olehnya.” Jawab Haebin mendahului.
“Benarkah? Minki.. kau bisa bermanja-manja pada orang lain juga rupanya..” Kibum mengucap kepala Minki. “Sekarang minum obat ya…”

In Sung mendekati Haebin. “Wah, Kibum-ssi semakin tampan dari yang terakhir kali kulihat.” Bisiknya.
Haebin terkekeh pelan. “Kau terpesona padanya?”
“Tidak..” ujar In Sung cepat. “Kau tahu kan aku sudah punya Jinyoung. Tapi sepertinya Minki juga akrab dengan Kibum-ssi..”
Haebin menoleh cepat pada In Sung. “Aku belum cerita ya kalau Minki itu keponakannya.”
Gantian In Sung yang kaget. “Jinjja? Kok bisa?”
“Istrinya Sungmin Oppa, Kim Taeyeon, itu kan kakaknya Kibum.”
“Nde??” In Sung menutup mulutnya cepat sebelum pekikannya keluar memenuhi kamar rawat itu. Ia menatap lagi Kibum yang sedang memberi Minki obat dan Sungmin duduk di sampingnya, membuatnya tersadar sesuatu.
“Oh iya, aku tidak melihat Ummanya Minki. Kemana dia?” In Sung bertanya dengan polosnya. Ia tidak tahu apapun tentang Taeyeon, istri Sungmin itu sudah meninggal.
“Itu..Taeyeon Eonnie, sudah lama meninggal”
“Apa?” In Sung kaget. Ia tak menyangka ternyata Minki sudah tidak memiliki ibu. Itu artinya Sungmin selama ini membesarkan Minki seorang diri? Ya ampun.. dia pasti orang yang sangat tegar. In Sung takjub juga melihat Sungmin yang masih bisa tersenyum senang seperti itu dalam kondisi yang dialaminya sekarang. Apa ia tidak merasa kesepian?

“mana keponakanku yang lucu? Kudengar ia sakit!!” seseorang berseru saat memasuki ruangan. Semua orang menoleh ke arah pintu dan mendapati Kim Heechul masuk dengan wajah tanpa dosa.
“Chullie Shamchoon!!” seru Minki girang. Heechul senang sekali melihat keponakannya yang ia sayangi itu tampak ceria padahal sedang sakit. Ia segera menghampiri Minki.
“Boneka barbie-ku..” seru Heechul heboh sendiri. Ia segera memeluk Minki. Kibum sampai harus menyingkir.
“Hyung, jangan berlebihan. Dia sedang sakit.” Ujar Kibum.
“Maaf, dokter Kim. Aku terlalu senang. Sudah lama aku tidak melihat barbie-ku..” Heechul mengacak gemas rambut Minki. Kibum memutar bola matanya malas mendengar ucapan Heechul yang cuek dan seperti menyindirnya itu.
“Aigoo.. kau harus cepat menikah, Hyung. Jadi kau bisa mempunyai anak selucu putriku.” Ujar Sungmin.
“Aku ingin sekali. Tapi tidak ada wanita yang bersedia menikah denganku. Bagaimana ini? Apa karena aku terlalu tampan?”

“Siapa dia? Kenapa senarsis itu?” In Sung entah harus menunjukkan ekspresi apa melihat Heechul yang begitu membanggakan dirinya.
“Dia kakaknya Kibum juga. Dan istrinya Sungmin Oppa itu adiknya.” Jawab Haebin
“Ah, aku sedikit paham sekarang.” In Sung mengangguk.

“Eh, nona yang di sana? Kau mau menikah denganku?” tanya Heechul membuat In Sung kaget.
“He? Aku ?” In Sung menunjuk dirinya sendiri. Heechul mengangguk lalu menghampirinya.
“Lihat, mereka terus mendesakku agar segera menikah. Tapi berhubung tidak ada wanita yang berminat padaku, bagaimana kalau kau saja yang jadi calonku?”

In Sung langsung mematung karena ini pertama kalinya ada orang yang melamarnya dengan cara mendadak seperti itu. Haebin yang berdiri di sampingnya hanya tertawa. Ia tahu selera humor Heechul terkadang memang bisa membuat orang lain salah paham.
“Sudahlah Oppa, dia tidak akan mau.” Jawab Haebin.
“Benarkah? Padahal jika dia mau sudah aku siapkan cincin yang sangat indah. Masterpiece kebanggaanku.” Pamernya
“Rumah sakit bukan tempat yang cocok untuk mempromosikan karyamu, Hyung. Menyerahlah.” Ujar Kibum. Ia lalu memutuskan untuk pergi karena masih ada pasien yang harus ia periksa.
“Ah, sayang sekali.. lagi-lagi aku ditolak..” Heechul berakting lebay selayaknya orang yang baru ditolak.
Haebin menepuk pundak In Sung untuk menyadarkannya. “jangan anggap serius. Heechul Oppa memang suka seperti itu”

—-o0o—–

Tak disangka, Kibum memperbolehkan Minki pulang malam harinya. Haebin pulang di antarkan oleh Heechul. Sementara In Sung tentu pulan diantarkan oleh Sungmin karena Minki merengek ingin pulang bersamanya.
“Min-chan.. cepat sembuh ya.. dan turuti semua perintah Appamu. Arra..” titah In Sung sebelum ia turun.
“Baik Eonnie..” Minki mengangguk patuh. Ia kemudian mencium pipi In Sung sekilas lalu melambai-lambaikan tangannya.
“Sungmin-ssi, terima kasih sudah mengantarku.” In Sung menundukkan kepalanya cepat.
“harusnya aku yang berterima kasih. Minki sudah banyak merepotkanmu hari ini.”

In Sung tersenyum lalu menggeleng. “Bukan masalah. Aku senang menjaga Minki.”
Sungmin juga tersenyum. “Kalau begitu, aku pamit.”

Dari kaca spion, Sungmin bisa melihat In Sung masih berdiri di tempatnya tadi. Ia merasakan ada sesuatu yang terjadi dalam dirinya setiap kali menatap gadis itu. Ia buru-buru menepis pikirannya yang sudah mulai liar. Sekarang ia harus lebih memikirkan Minki. Bukan hal lain. Mungkin ia harus kembali mengabaikan hatinya. Bagaimana perasaannya, karena dari dulu sampai detik ini, dalam hatinya hanya ada Taeyeon. Tidak mungkin ada yang bisa menggantikannya.

“Appa..Minnie rindu pada Umma..Umma kemana? Minnie ingin bertemu dengannya..” suara Minki membuyarkan lamunan Sungmin. Ia cepat menoleh pada putrinya yang kini menatapnya dengan sorot mata meredup. Apa yang harus dijawabnya kini? Ia selalu bingung tiap kali harus menjawab pertanyaan Minki mengenai ibunya..
“Itu..Umma sekarang sudah beristirahat di tempat yang sangat indah. Jadi Minnie tidak perlu mencemaskan Umma” Sungmin mengusap kepala Minki dengan sebelah tangannya.
“Apa Minnie bisa mengunjunginya?”
“Tentu saja tidak. Minnie kan sudah punya Appa. Apa Minnie ingin meninggalkan Appa dan membuat Appa sedih?”
Minki menggeleng cepat. “Tidak. Minnie senang ada Appa bersama Minnie..”
Sungmin tersenyum namun dalam hatinya ia sedih. Minki masih kecil. Ia belum memahami arti sebenarnya dari apa yang ia ucapkan. Jika ia dewasa nanti dan mulai memahami apa yang ia katakan sekarang, Sungmin tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya.

To be continued…