Tag Archive | Hangeng

Romance Scandal [Chapter 2]

Tittle : Romance Scandal Chapter 2
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance

Romance Scandal by Dha Khanzaki

Baca lebih lanjut

Iklan

All My Heart (Part 4)

Tittle : All My Heart Part 4
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, sad,

Main Cast :

  • Lee Jiyeon
  • Cho kyuhyun

Support Cast :

  • Leeteuk
  • Seohyun
  • Hangeng
  • Kibum

Ceramah Author : Bingung juga. apa yah? gak ada deh.. selamat membaca aja ^_^
Warning :
Banyak typo di mana-mana
Bahasa tidak sesuai EYD
Maaf kalau feelnya gak dapet
Maaf kalau ceritanya makin gak rame

Happy Reading ^^

All My Heart by Dha Khanzaki1

Baca lebih lanjut

Shady Girl Kibum’s Story (Part 10) End

Tittle : Shady Girl Kibum’s Story Part 10 END
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Family

Main Cast :

  • Cho Jarin
  • Kim Kibum

Support Cast :

  • Tan Hangeng
  • Cho Kyuhyun

Warning : typo bertebaran

Okelah, karena author udah males ngetik kata-kata pembukaan, so, let’s read aja ^^

Shady Girl Kibum's Story by Dha Khanzaki1

Baca lebih lanjut

Shady Girl Kibum’s Story (Part 9)

Tittle : Shady Girl Kibum’s Story Part 9
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Family

Main Cast :

  • Cho Jarin
  • Kim Kibum

Support Cast :

  • Tan Hangeng
  • Cho Kyuhyun
  • Choi Siwon
  • Lee Donghae

Akhirnya, ada waktu juga buat update FF. Semoga reader-deul gak bosen baca FF aku yah. *nyengirkuda*
Nah, tetep aku mau minta maaf kalau-kalau terdapat typo, feel gak dapet, bahasa amburadul, dan tidak sesuai EYD.

Happy Reading ^_^

Shady Girl Kibum's Story by Dha Khanzaki1

Baca lebih lanjut

Shady Girl Kibum’s Story (Part 8)

Tittle : Shady Girl Kibum’s Story Part 8
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance

Main Cast :

  • Cho Jarin
  • Kim Kibum

Support Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Hangeng
  • Lee Donghae
  • Lee Sungmin
  • Lee Hyukjae / Eunhyuk
  • Leeteuk
  • Choi Siwon

Warning : Typo bertebaran

ahahah.. aku udah males ceramah nih. jadi langsung aja yah.
Happy Reading ^_^

Shady Girl Kibum's Story by Dha Khanzaki1

Baca lebih lanjut

Shady Girl Kibum’s Story (Part 7)

Tittle : Shady Girl Kibum’s Story Part 7
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Family

Main Cast :

  • Cho Jarin
  • Kim Kibum

Support Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Lee Donghae
  • Choi Siwon
  • Hangeng

Udah lama juga gak posting FF lagi akhirnya dapet kesempatan juga. meksipun malem-malem tapi aku tetep meluangkan waktu untuk posting ^^ *curcol*

Okelah, daripada membuang waktu, lebih baik check this out aja ^^

Warning : typo bergentayangan

Shady Girl Kibum's Story by Dha Khanzaki1

Baca lebih lanjut

No Other (Part 4)

Tittle : No Other Part 4
Author : Dha Khanzaki a.k.a shin Je Young
Genre : School Life, Friendship, Family, Romance

Main Cast :

  • Lee Jiyeon
  • Cho Kyuhyun

Support Cast :

  • Kim Kibum
  • Lee Donghae
  • Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk
  • Im Yoona
  • Hankyung
  • Choi Siwon
  • Choi Sooyoung
  • Kim Jong Woon a.k.a Yesung
  • Kim Ryeowook
  • Kim Heechul
  • Seo Joo Hyun a.k.a Seohyun
  • Leeteuk
  • Bae Suzy

Warning : typo bertebaran di setiap sudut, bahasa kamseupay

No Other by DhaKhanzaki

——–0.0——–

Besoknya,
Kaki Jiyeon sudah sedikit sembuh. Ajaib sekali. Ia bisa sekolah. Eomma, Appa dan kedua Oppanya juga tidak melarangnya sekolah. Tapi sebelum ke sekolah, ia mampir untuk melihat motor yang sedang di perbaiki di bengkel milik orangtuanya Donghae.
“Bagaimana, tidak ada yang rusak parah kan?” tanya Jiyeon. Donghae berdiri di sampingnya.
“Tidak. Hanya lampu depannya saja pecah” jawab montir yang memperbaikinya. Jiyeon dan Donghae mengangguk paham.
“Syukurlah” Jiyeon lega sekarang. Motor itu motor kesayangan Sungmin. Jiyeon tidak tega membuat oppanya sedih.

“Aku dengar dari Sungmin Hyung kakimu terluka. Kenapa mondar-mandir seperti ini? Kau
harusnya istirahat!” tegur Donghae. Jiyeon meliriknya tajam. “Apa kamu juga ingin menceramahiku? Tenang, aku baik-baik saja”
“Aku ini mencemaskanmu.” Ujarnya. Jiyeon ini tidak bisa melihat ekspresi cemasnya sekarang apa?
Jiyeon langsung memegang pundak Donghae dengan kedua tangannya.
“Gomawo atas perhatianmu, aku harap kamu bisa mendapatkan gadis yang baik juga”
Donghae mengerutkan kening bingung. “Hei, apa maksudmu?”
“Tenang, aku akan membantumu mendapatkan hati Yoona” ucap Jiyeon seraya mengacungkan jempolnya. Donghae terperanjat, cepat-cepat dia menepis tangan Jiyeon dari pundaknya.
“Kau bercanda? Memang apa hubungannya?”
Jiyeon berdecak “Kamu pikir aku tidak tahu. Hah, sikapmu pada Yoona itu mudah sekali
ditebak.” Ucapnya. Jiyeon lalu pergi. meninggalkan Donghae yang menatapnya dengan ekspresi bingung luar biasa.

@@@

*di sekolah*

“Aigoo,, Jiyeon. Memangnya kamu sudah sembuh?” seru Yoona ketika bertemu Jiyeon di depan gerbang.
“Tentu saja! Lihat, aku bisa berjalan normal” jawab Jiyeon enteng. Yoona geleng-geleng kepala. “Berarti kamu siap untuk tes menari nanti?”
“Tentu!” Jiyeon mengangkat jempolnya. Sesaat kemudian ia teringat sesuatu. “Oh iya, kamu tahu namja yang bernama kyuhyun tu kelas berapa?”
“Dia sekelas dengan Wookie. Kenapa memangnya?”
“Ini, aku mau mengembalikan ponselnya. Kemarin tidak sengaja tertinggal.” Jiyeon mengeluarkan ponsel Kyuhyun dari dalam saku jas seragamnya.
Yoona belum sempat menjawab karena Ryeowook datang menghampiri mereka.
“Pagi…” ucapnya dengan wajah cerah seperti biasa.
“Pagi..” balas Yoona.
“Wookie kebetulan sekali..” Jiyeon bermaksud mengatakan sesuatu ketika tiba-tiba suara klakson mobil mengejutkan mereka bertiga. Otomatis ketiga orang itu menoleh bersamaan.
“hei, kalian, bisa kan kalian tidak berdiri di tengah jalan” ucap Kyuhyun kesal. Mobilnya jadi tidak bisa lewat karena ada orang yang memblokir jalan. Sedetik kemudian raut wajahnya berubah terkejut saat melihat Jiyeon.
“Ah Kau?”
“Kau” Jiyeon pun ikut terkejut.
Kyuhyun malas berhadapan dengan Jiyeon, lantas ia kembali menjalankan mobilnya.
“Hoi kau, tunggu!!” Jiyeon ingin mengejar, tapi kakinya kan baru saja sembuh. Jadi niatnya ia batalkan. Sekarang perhatiannya teralih pada Ryeowook.
“Wookie, aku minta tolong padamu” ucap Jiyeon.
“Apa? Soal Hyung lagi?” goda Ryeowook. Sejauh ini Jiyeon selalu meminta bantuannya jika menyangkut masalah Heechul.
“Bukan!” Jiyeon diam. Ah, apa sebaiknya ia serahkan sendiri saja. Itu lebih terkesan sopan. Baiklah..”Tidak jadi deh.”

__o0o__

Waktu istrahat, Jiyeon menolak ketika diajak makan di kantin oleh Yoona. Alasannya karena ia ingin mencari Kyuhyun untuk mengembalikan ponselnya.
“Jiyeon!” panggil Siwon. Langkah gadis itu terhenti. Tubuhnya segera membalik bersamaan dengan sosok Siwon yang semakin dekat dengannya.
“Oppa.. Ada apa? Ah, mian. Kemarin aku telat menyerahkan CD-nya” Jiyeon menyesal. Siwon tidak terlihat marah. Malah raut wajahnya begitu khawatir.
“Kau tidak apa-apa kan? Aku dengar kemarin kau kecelakaan”
Jiyeon sempat takjub juga. Ternyata, Oppa kandungnya ini menaruh perhatian juga padanya. “aku baik-baik saja. Lihat” ia menunjukkan dirinya yang tampak segar bugar agar Siwon percaya.
“Kamu ini, membuatku cemas setengah mati”
“Maaf” Jiyeon bukannya merasa bersalah ia justru merasa sangat senang. Ternyata oppanya yang satu ini juga tidak kalah baik dengan Sungmin dan Eunhyuk. Saking terharunya tanpa sadar Jiyeon memeluk Siwon. Padahal di sana kan koridor yang tidak sepi.

“Huuu~” orang-orang langsung berseru melihat kejadian itu.
“Jiyeon, di sini banyak orang. Lepas!” ucap Siwon panik. Mengingat statusnya juga seorang publik figur. Jiyeon sadar, ia lekas melepaskan pelukannya.
“Mian” Jiyeon membungkuk meminta maaf lalu pergi sebelum ada fans Siwon yang membantainya.

Baru pergi beberapa langkah saja ia sudah kembali berhenti. Di hadapannya kini berdiri Kibum tengah menatapnya dengan pandangan datar.
“Emh, hai” Jiyeon salting sambil mengangkat tangannya. Kibum malah memalingkan pandangannya. Ioh, reaksi yang mneyebalkan!
Tanpa diduga dia berjalan melewati jiyeon tanpa berkata sepatah katapun.
“Yesung oppa, apa dia sudah lebih baik sekarang?” tanya Jiyeon. Kibum berhenti. Itu membuat Jiyeon lega, entah kenapa. Kibum membalikkan badan.
“Aku tidak akan bertanya kenapa kamu bisa mengetahuinya” ucapnya datar. Jiyeon mngerutkan kening.
“kau, marah padaku?” tanya Jiyeon heran.
“Ani” kibum hendak pergi. Tapi Jiyeon menghalanginya.
“lalu kenapa kau bersikap seolah-olah kita ini musuh? Setidaknya kita bisa berteman lagi kan, setelah.. Setelah..” Jiyeon tidak berani melanjutkan kalimatnya.
“Aku tidak akan pernah menjadikanmu temanku” jawab Kibum datar. Jiyeon terkejut.

“kenapa?”
“karena aku tidak akan jatuh cinta pada temanku!” setelah menjawabnya Kibum pergi. Jiyeon terpaku. Otaknya bekerja lambat siang itu.
“Apa maksudnya?” Jiyeon tidak mengerti sama sekali. 5 detik kemudian ia baru mengerti.
“ah!” tapi ketika berbalik sosok Kibum sudah menghilang. Loh, kemana anak itu?

—-o0o—-

Jiyeon mencari Kyuhyun, seperti yang dikatakan teman sekelasnya selalu berada di ruang praktek saat istirahat.
Beberapa langkah lagi menuju ruangan itu sudah terdengar dentingan alunan piano. Jiyeon membuka pintu sedikit dan mengintip.

_coz’ there’s something in the way.. You look at me.. It’s as if myheart knows.. You’re the missing piece.._

Kyuhyun duduk di balik grand piano menyanyikan lagu Christian Bautista diiringi permainan indah jari-jarinya diatas piano. Tidak hanya permainannya, namun, suara dan cara namja itu menyanyikannya pun mampu membuat Jiyeon terasa seperti terlempar ke dunia lain. Seolah dunia di sekitarnya memudar dan ia hanya melihat sosok Kyuhyun dengan jelas.

Lagi-lagi, dan lagi-lagi Jiyeon dibuat terhanyut. Ternyata benar, lagu yang didengarnya kemarin adalah lagu yang dinyanyikan oleh Kyuhyun sendiri.
Begitu nada berhenti Jiyeon merasa alam khayalnya hancur dan ia tersadar kembali. Segera saja ia menghampiri Kyuhyun sebelum dia menghilang lagi.
“Sedang latihan untuk tes nanti?” tanya Jiyeon polos. Mengingat ujian tes sebentar lagi.
“Ah, kau! Jangan membuatku kaget!” seru Kyuhyun kaget. Jiyeon muncul tiba-tiba sih.
“Aku tidak sedang latihan. Ini hanya keisenganku saja” elak Kyuhyun. ia menutup piano itu lalu bangkit.
“Tapi suaramu bagus” Jiyeon berkata jujur. Selama ini ia hanya mengakui suara Sungmin saja yang bagus. Jika ia memberikan satu jempol untuk Oppanya itu, maka ia memberikan 2 jempol untuk Kyuhyun
“Semua orang juga tahu” jawabnya pede seraya mengendikkan bahu. Ia melirik Jiyeon datar.
“Apa maumu? Kau bukan secara kebetulan kemari kan?”
Jiyeon menjentikkan jarinya “Binggo!! Nih” Jiyeon menyerahkan ponsel Kyuhyun. Tapi dia melengos pergi melewatinya. Jiyeon terpaku. Dia serasa jadi orang bodoh.
“Ya!” Seru Jiyeon jengkel.

“Aku hanya ingin mengembalikan ponselmu!” teriak Jiyeon sambil mengejarnya. Kyuhyun berhenti. Ekspresinya saat menatap Jiyeon tetap datar dan dingin.
“Ponsel itu untukmu saja. Aku sudah tidak suka” Kyuhyun pergi lagi.

Jiyeon kaget mendengarnya. “Mwo, tapi ini terlalu mahal, hei Kyu!” Jiyeon mengejarnya lagi sambil berteriak di koridor. Kyuhyun menghentikan langkahnya lagi. Teriakan Jiyeon benar-benar mengganggu dan membuatnya kesal.
“Siapa yang menyuruhmu memanggil Kyu, HAH? Jangan sok akrab, ok!” Kyuhyun memasang tampang evilnya.
“Tapi, semalam…” ucapan Jiyeon terpotong karena tiba-tiba Heechul datang memanggil. Ah, Itu pangeran berkuda putihnya. Bagaimana ini.

Jiyeon jadi gugup sendiri melihat Heechul berjalan menghampiri Kyuhyun. tampangnya kesal seperti singa kelaparan dan gagal mendapan santapan makan malamnya.
“Dasar bocah tengik! Aku bilang datang ke tempat latihan jam 10. Kau malah berkeliaran di sini” ucapnya sambil berkacak pinggang. Weish! Jiyeon terbelalak. Ia kan belum bilang pada Kyuhyun tentang itu.
“Hyung, memangnya kapan kau bilang?” Kyuhyun bertanya dengan wajah innocent. Heechul menarik napas kesal.
“tadi malam!” tegasnya penuh penekanan. Ada apa ini? Apa Kyuhyun amnesia. Baru saja semalam ia menelepon dan namja ini sudah lupa?

Kyuhyun bingung, seingatnya tidak ada yang menelepon semalam “tadi ma–” Kyuhyun berhenti karena ia baru ingat sesuatu. Ia menoleh pada Jiyeon yang memegang ponselnya semalam.
Gadis itu tersenyum serba selah dan mengangkat ponselnya sambil memberitahu dengan bahasa isyarat bahwa Heechul memang menelepon semalam. Ia mengangguk paham.
“Oh ya, aku lupa” ucap Kyuhyun bohong.
“Sekarang mana lagu yang kau janjikan itu?” Heechul mengulurkan tangannya meminta Kyuhyun menyerahkan sekarang juga. tapi Kyuhyun malah menepuk keningnya sendiri.

“Aishy, aku meninggalkannya di kelas”
Heechul mengepal tangannya yang terulur. Uh, dia ingin sekali menjitak kepala Kyuhyun
“Kau ini! Loh, kau kan adiknya Eunhyuk dan Sungmin” seru Heechul saat menyadari keberadaan Jiyeon di sana. Tentu saja di sapa begitu Jiyeon salah tingkah.
“Ne, oppa.” jawabnya sambil tertawa tidak jelas. Kyuhyun tersenyum sinis melihatnya.
“Aku tidak tahu kalau kalian dekat. Jangan-jangan…” Heechul menebak-nebak. Wajahnya tersenyum menggoda Kyuhyun dan Jiyeon

“TIDAK!” tegas Kyuhyun dan Jiyeon bersamaan. Heechul sampai kaget di serbu teriakan oleh dua orang sekaligus.
“Tidak Hyung, aku tidak dekat dengannya” tegas Kyuhyun.
“Iya Oppa, aku juga tidak mau dekat dengan namja tengil ini” jawab Jiyeon panik. Kyuhyun melirik tajam ketika Jiyeon menyebutnya namja tengil.

Heechul tertawa melihat reaksi Jiyeon dan Kyuhyun. mereka seperti baru saja tertangkap basah. Jika memang tidak ada apa-apa seharusnya mereka menjawabnya dengan santai.
“Calm down. Fine, aku tidak akn mengganggu kalian. Kyu, ambil lagumu itu sekarang. Lalu temui kami di ruang latinan. Ok” Heechul menepuk pundak Kyuhyun lalu prgi.

Yah.. Jiyeon hanya memandangi kepergian Heechul dengan wajah pasrah. Kyuhyun membalikkan badannya menghadap Jiyeon. Sudah banyak sekali kekesalan menumpuk dalam dirinya.
“Heh yeoja rese, kenapa kau tiadk bilang Heechul Hyung menelepon semalam?”
Jiyeon balas menatap Kyuhyun, tapi ia tidak bisa membalas melotot seperti yang namja itu lakukan sekarang. “Aku mau bilang, kau saja yang tidak mau dengar”
Kyuhyun mendesah berat. Sebaiknya ia pergi. menghadapi yeoja-yeoja polos seperti Jiyeon membuatnya malas. “Aish!! Gara-gara kamu aku kena semprot dia sekarang!” Kyuhyun lalu pergi sambil menggerutu.
“Dsar namja aneh!” Teriak Jiyeon. Sekarang ia tidak mau mengejar Kyuhyun. malas sekali. Namja seperti Kyuhyun harusnya dilenyapkan dari muka bumi. Ia menatap tangannya dan terkejut saat melihat ponsel namja rese itu masih digenggamnya.
“O?? Ponselnya!!” lagi-lagi ia lupa mengembalikannya.

—-o0o—-

Jiyeon dan Yoona tengah latihan menari unyuk tes nanti di lantai 2 rumah Jiyeon. Musik beat mengalun mengiringi gerakan luwes keduanya. Namun gerakan Jiyeon terbatasi karena kakinya belum sembuh total sementara Yoona bergerak dengan energik.
“aduh, gerakanku payah nih!” keluh Yoona. Ia duduk menyandarkan diri pada tembok yang dingin sambil mengelap keringat yang mengucur.
“Kau masih mending, gerakanku lebih payah lagi” sambung Jiyeon ikut mengeluh.
“kau wajar sedang terluka”
“Ah, harusnya aku minta diajarkan Donghae saja. Dia kan masternya!!” seru Jiyeon. Yoona tertawa. “Kau benar. Harusnya aku juga memintanya mengajariku.”

Jiyeon mendesah. “Kalau padamu Donghae pasti dengan senang hati mengajarkan”
Yoona menoleh bingung “Maksudmu?”
“lupakan” tepis Jiyeon. Ia lupa Yoona sama naifnya dengan Donghae. padahal tingkah Donghae sudah sangat jelas padanya. semua orang juga sudah tahu hal itu. tapi Yoona tidak pernah sadar. Dan anehnya, Donghae juga tidak mau mengakui kalau dia menyukai Yoona. Bagus, pasangan yang serasi!

“Buat apa minta diajarikan Donghae kalau kau punya Oppa sang maestro tari” ucap Eunhyuk mendadak muncul.
“Oppa?! Kau tidak membantu Appa di resto?” Jiyeon setengah senang, setengah bingung. jam segini harusnya kakaknya itu sibuk membantu di restoran. Eunhyuk menggeleng seraya berjalan mendekat.
“Tidak. Hari ini jadwal Hyung yang bertugas. Btw, tadi kalian bicara soal tari. Mau aku ajarkan?” Eunhyuk menawarkan diri dengan sukarela. Jiyeon dan Yoona saling berpandangan. Senyum sumringah pun merekah di bibir keduanya.
“Mau!” seru mereka bersamaan.
“Come on!!” teriak Eunhyuk seraya menarik keduanya berdiri. Yoona beralih menyalakan kembali musik dan Eunhyuk pun mulai mengajarinya.

Di sekolah Eunhyuk terkenal sngt piawai menari. Yang mampu menyainginya dari sekian banyak dancer di sekolah hanya Donghae saja.

Tralilalila..

Jiyeon berhenti latihan sejenak karena ponselnya berbunyi.
“hallo..” ucapnya agak terengah karena baru saja menari.
“my doll?”
Jiyeon mengerjap mendengar suara ibunya. “Mommy!!” serunya senang. ia memindahkan ponselnya ke telinga kanan. Jiyeon berjalan ke beranda untuk mencari suasana tenang.
“Kamu tidak merindukan Mama chagi?”
“Sangat. Ma, kapan Mama pulang?. Aku ingin sekali bertemu denganmu” ucap Jiyeon, ia menyandarkan punggungnya pada pagar beranda. Memandang Yoona dan Eunhyuk yang asyik menari di dalam.
“Mama juga, ingin bertemu dengamu dan Siwon. Oh iya, Mama sudah mengirimkan kartu undangan pesta sayang, Mama ingin kamu dan Siwon datang mewakili Mama.”
“Loh, kenapa? Mama sibuk di Hongkong?”
“Itu sudah sangat jelas.”
Jiyeon mengangguk paham. “Pesta apa?”
“Ulang tahun perusahaan teman Mama. Kamu datang ya sayang. Ajak oppa mu juga”
“oke! Buat Mama apa sih yang tidak, hehe”

Bahkan setelah pembicaraan usai pun, senyum gembira terus menghiasi wajahnya. Jiyeon sangat senang karena sudah berbicara dengan Mama. Sekarang ia bisa lepas menari sepuasnya.

—o0o—

Hari minggu,

Ryeowook mengajak Jiyeon ke suatu tempat siang itu. Jiyeon tidak terlalu keberatan. Ia tidak ada kegiatan dan seharian di rumah bisa membuatnya mati kebosanan. Yah, Sekalian ia juga ingin jalan-jalan.
“Ini kan!” seru Jiyeon ketika tiba di depan sebuah hotel mewah. Ryeowook menoleh kaget.
“kenapa?” tanyanya bingung

Jiyeon tidak cepat menjawab. Ia sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya. Begitu menemukannya, ia meneliti kartu undangan yang dikirimkan Mamanya. Tidak salah lagi, alamat dan nama hotelnya sama. Jangan-jangan…
“Kita mau ngapain kemari?” tanya Jiyeon. Ryeowook mengangkat kamera yang dibawanya.
“Memotret keadaan panggung. Hyung dan bandnya akan tampil pada sebuah pesta di hotel ini”
Mata Jiyeon melebar seketika begitu mendengar nama Heechul. “Heechul Oppa?? Sini, biar aku saja yang memotret” Jiyeon langsung mengambil kamera dari tangan namja manis itu.
Ryeowook mencibir pelan. “Hu! Kalau soal Hyung kau selalu girang”
“Hehe” Jiyeon cengengesan tidak jelas. Ia sudah terlalu sering merepotkan Ryeowook menyangkut Heechul. Jadi bingung harus membalas apa. Mereka pun masuk.

—o0o—

*di rumah sakit*

Kyuhyun baru selesai medical check up. Sekarang ia sedang berjalan di lorong, merenungkan hasil pemeriksaan tadi. Untunglah hasilnya tidak membuat Kyuhyun kehilangan semangat.
Saat mengangkat kepalanya yang tertunduk, tanpa sengaja ia melihat Kibum dan Sooyoung berjalan masuk ke sebuah ruangan. Entah kenapa ia penasaran. Kyuhyun bergegas mengendap-endap seperti mata-mata, lalu mengintip dari kaca pintu.

Di dalam sana ia melihat Kibum, oranh tuanya, Sooyoung, dan Yesung yang terbaring di ranjang. Keningnya berkerut.
“loh, sejak kapan Yesung Hyung masuk rumah sakit? Bukannya seharusnya dia sibuk debut sebagai penyanyi” pikir kyuhyun. Setahunya Yesung adalah bintang yang debut bersama Siwon tahun ini.

Karena terlalu sibuk melamun, ia tidak sadar dari dalam sana ada orang yang berjalan mendekat ke arah pintu. Aishy!! Kyuhyun kaget karena pintu tiba-tiba terbuka. Ia pura-pura sibuk menelepon. Sooyoung mengerjap senang melihat Kyuhyun ada di hadapannya. ini kebetulan yang menyenangkan.
“Kyuhyun..” ucap Sooyoung senang.
Kyuhyun menoleh, dan memasang wajah innocent. Ia pura-pura kaget.
“Hei, Sooyoung” sapanya.
“Sedang apa kau di sini? Oh, kau ingin menjenguk oppa juga?”
“Anii” Kyuhyun mengibaskan tangannya cepat. “tadi aku habis menjenguk saudara di sini” akunya bohong. Sooyoung percaya saja karena ia yakin Kyuhyun tidak pernah membohonginya.

Kyuhyun dan Sooyoung adalah teman sejak kecil. Tapi sekarang hubungan mereka tidak begitu dekat lagi. Entah apa penyebabnya.
“Kau tidak ingin jenguk oppa, dia pasti senang bisa bertemu denganmu”
Kyuhyun tersenyum simpul. Ia ingat dulu ia bersama Yesung selalu latihan bernyanyi bersama saat SMP. Masa-masa yang indah. Dan sekarang kenangan itu hanya tinggal memori. Kyuhyun maupun Yesung sudah mengambil jalannya masing-masing.
“Nanti saja”
“Kenapa? Apa karena ada Kibum? Ada apa dengan kalian berdua.. Kalian perang dingin tanpa sebab”

Kyuhyun berhenti tersenyum. Kibum juga temannya sejak kecil. Dulu mereka sangat akrab. Tapi sekarang. Entahlah, ia merasa Kibum membencinya. Dan sialnya, ia tidak tahu alasannya.
“Soal itu aku juga tidak mengerti” lirih kyu. Kibum tidak pernah menyapanya lagi sejak SMP. Ditambah mreka masuk ke SMP yang berbeda. Jadi sampai sekarang Kyuhyun tetap tidak mengerti.
“Ah, ya sudah, aku pergi dulu. Sampaikan salamku pada Hyung ya”
“oh, ne” ucap sooyoung.

Kyuhyun tidak ingin berlama-lama di sana. Lantas ia pergi. Di tempat parkir ia menghampiri Hankyung yang sedari tadi menunggunya. Ia terkesiap melihat Kyuhyun berwajah suram.
“Lama sekali. Apa hasilnya mengecewakan?”
“Enak saja! Aku baik-baik saja kok!” tepis kyuhyun. Hankyung terkekeh pelan. Ia mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Ia tidak mau mendengar omelan Kyuhyun lebih panjang lagi. Mereka kemudian masuk mobil. Kyuhyun duduk di samping kursi kemudi dan memasang sabuk pengaman.
“Oh iya, tadi Leeteuk Hyung menelepon, katanya kita harus datang ke hotel sekarang. Dia sudah mencoba menghubungimu tapi tidak bisa” jelas Hankyung panjang lebar. Ia mulai menyalakan mobil, kemudian mengemudikannya dengan tenang.
“Oh, tadi ponsel kumatikan. Untuk apa Hyung menyuruh kita ke hotel?”

Hankyung mengendikkan bahunya. “Entahlah, mungkin membicarakan soal pesta”
“Aish! Aku malas, tapi aku tahu Hyung pasti mengamuk jika aku tidak menurutinya” keluh Kyuhyun membuat Hankyung tertawa kencang.
“Hahaha. Kau juga yang tengil”
Kyuhyun menoleh horor pada sepupu Cina-nya itu. “Han, kau jangan memanggilku tengil juga! Aish, menyebalkan!”

—o0o—

*di hotel*

Jiyeon memotret semua sudut ballroom tempat pesta di adakan. sementara Ryeowook melihat-lihat sekitar. Ia menoleh pada Jiyeon yang asyik memfoto beberapa objek. Ia jadi curiga, jangan-jangan Jiyeon hanya menghabiskan memori kameranya dengan memotret gambar-gambar aneh.
“Sini aku liat” Ryeowook mendadak mengambil kamera dari tangan Jiyeon untuk melihat hasilnya. Seperti dugaannya, ia menatap Jiyeon jengkel.
“Aigoo, foto apa ini? Kau hanya mengambil gambar-gambar tidak jelas!” protesnya karen hanya ada gambar dekorasi ruangan dan foto panggung hanya sedikit.

Jiyeon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Sorry, habis ballroomnya bagus banget. Interior gaya kastil-kastil Perancis” ucap Jiyeon sambil cengengesan.
“ah, sia-sia aku mengajakmu. Tahu begini aku ajak Yoona saja” dengus Ryeowook sambil lalu menuju keluar ruangan.
“Ya! Jadi kamu nyesel! Ih, namja rese!” Jiyeon mengejar Ryeowook. Tanpa sengaja ia malah menyenggol seorang yeoja.
“Mian” Jiyeon membungkuk menyesali tindakan cerobohnya.
“It’s okay” ucapnya ramah. Jiyeon kagum dengan caranya tersenyum. Cantik. Yeoja ini sungguh cantik.

“Seohyun, kamu sudah lama datang?” seru seseorang. Menyadari namanya di panggil, gadis itu mnengok. Senyumnya merekah sempurna, membuat Jiyeon makin terpesona saja. ia selalu mendambakan bisa menjadi wanita yang anggun dengan senyum menawan seperti itu.
“Oppa, aku baru saja tiba” ucapnya pada seorang namja yang berjalan ke arah mereka. Wow, namja yang keren dan dewasa. Dia adalah Leeteuk. Tentu saja Jiyeon tidak mengenalnya. Jika ia tahu namja keren itu adalah kakak Kyuhyun, entah apa reaksinya nanti.

“Siapa nona ini?” tanya Leeteuk seramah yeoja cantik bernama Seohyun itu. Jiyeon menepis pikirannya yang melantur kemana-mana. Ia segera memfokuskan pikirannya lagi.
“Ani, aku hanya kebetulan menyenggol. Eonni, mianhae.” ucap Jiyeon meminta maaf lagi.
“Aigoo, nona cantik, aku bilang tidak apa-apa” balas Seohyun. Ia senang sekali bisa bertemu yeoja semanis Jiyeon. Ia jadi terpikir ingin menjodohkan Kyuhyun dengannya. Karena beberapa hari yang lalu calon adik iparnya itu mengaku ingin jatuh cinta.

“Kalau begitu aku permisi” Jiyeon bergegas pergi meninggalkan Seohyun dan Leeteuk begitu ia teringat Ryeowook.

Sepeninggal Jiyeon, Seohyun menoleh pada namjachingunya.
“Kyuhyun mana? Dia akan datang juga kan?” Leeteuk mengangguk.
“Sudah ku telepon. Ah, kudengar kemarin lusa dia datang ke tempatmu? Apa yang dilakukanya? Dia tidak membuat keributan di sana kan?”
Seohyun tertawa menanggapi gurauan Leeteuk. “Hanya konsultasi biasa” jawab Seohyun ringan.
“Soal apa?”
“Oppa ini! Untuk apa ingin tahu masalah dongsaengmu? Lagipula sebagai calon psikolog, aku tidak boleh membocorkan masalah-masalah klienku”
“Dasar! Pada pacarmu pun kau tidak ingin memberitahukannya?” tegur Leeteuk jngkel. Terkadang Seohyun sama seperti Kyuhyun. Senang sekali iseng padanya.

—-o0o—

Kyuhyun dan Hankyung baru tiba di hotel. Mungkin hari itu Kyu tidak sedang beruntung, karena di lobi sudah bertemu Suzy. Gadis itu tersenyum lebar lalu berlari kecil menghampirinya. Ah, Kyuhyun ingin kabur tapi sudah terlanjur tertangkap.
“Hallo kyu, hallo Han” sapanya.
“Hallo Suzy” jawab Han sama ramahnya. Tapi Kyu tidak. Dia malah sibuk mengasihani diri sendiri sambil mengumpat pelan.
“Aigoo, mimpi apa aku semalam” lirihnya.
“Kenapa? Kau tidak senang aku disini?” Tanya Suzy. Ia tidak bisa membaca situasi rupanya. Kyuhyun tidak menjawab. Suasana di antara mereka sempat canggung.

Menyadari situasi aneh itu, Hankyung angkat bicara duluan. “Ah, kalau begitu aku duluan. Kalian mengobrol saja dulu” Hankyung inisiatif meninggalkan Kyuhyun dan Suzy.
“Jadi, ada urusan apa kau kemari? Ah, semoga tidak ada kaitannya denganku” ucap Kyuhyun sambil berjalan. Suzy ikut berjalan disamping Kyuhyun.
“Tentu saja ada. Ahjumma, mengundangku datang” ucapnya enteng plus gembira. Kyuhyun mendengus. Tepat sekali dugaannya.
“Eomma? Aish, sudah kuduga!” lirihnya malas.

to be continued….

No Other (Part 3)

Tittle : No Other Part 3
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : School Life, Friendship, family, romance

Main Cast :

  • Lee Jiyeon
  • Cho Kyuhyun

Support Cast :

  • Lee Hyukjae / Eunhyuk as Jiyeon’s Oppa
  • Lee Sungmin as Jiyeon’s Oppa
  • Hankyung
  • Bae Suzy
  • Seo Joo Hyun / Seohyun
  • Kim Heechul
  • Kim Ryeowook
  • etc

Ini FF aku yang paling awal loh. Jadi maaf ya kalau bahasanya masih kaku dan gak baku gitu. Maaf juga buat typo dan sebagainya.
Happy reading ^^

No Other by DhaKhanzaki

——-0.0——–

Part 3

Suasana di antara Eunhyuk dan Jiyeon sempat hening. Eunhyuk tidak tahu apa yang membuat adiknya seserius ini.
“Jika ada. Oppa harus bilang. Aku akan bantu Oppa mendapatkan hati orang itu.” Jiyeon mengatakannya dengan kesungguhan hati.

Seketika tawa Eunhyuk meledak. “Kau ini, aku kira ada apa” ucapnya di sela tawa. Jiyeon gondok di buatnya. Ia menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.
“Oppa aku serius!!” tegas Jiyeon.
Eunhyuk berhenti tertawa. Ia tidak mau membuat Jiyeon cemberut.
“Memangnya kenapa ingin bantu?” Eunhyuk memandangi Jiyeon.
“Habis Oppa baik sekali sih. Aku tidak rela kalau namja sebaik Oppa harus di tolak.”
Eunhyuk tidak bisa menahan senyumnya mendengar penuturan Jiyeon.

“Dasar!!” Eunhyuk mengacak-acak rambut Jiyeon.
“Oppa!” ujar Jiyeon jengkel sambil menyingkirkan tangan Eunhyuk. Sebaiknya ia mengalah saja sebelum Jiyeon mengeluarkan sifat buruknya.
“Oke. Nanti Oppa bilang.” Eunhyuk diam sejenak. “Ah, memangnya kau sedang ditolak namja?” ledeknya.
“Mwo?! Siapa bilang!!” Jiyeon kaget setengah mati. Eunhyuk tersenyum jahil, merasa pertanyaannya itu benar. Jiyeon menautkan kedua jarinya. Ia selalu begitu jika sedang bingung ataupun gugup.
“Habis tiba-tiba bertanya begitu. Ah, aku bener kan..”goda Eunhyuk sambil mencolek dagu Jiyeon.

“Aish!! Kuberitahu, ditolak orang yang disukai itu rasanya sakit sekali.” Jiyeon menengadahkan kepalanya ke langit-langit ruangan. Teringat kenangan buruk yang sudah lama ia kubur di lubuk hatinya yang terdalam.
“Jadi benar kan. Kamu tengah sakit hati kan? Pada siapa?”

Jiyeon terdiam memandangi wajah Eunhyuk yang sepertinya sudah berhasil membaca isi hatinya.
“Ah,,” Jiyeon menegakkan duduknya. “Aku lupa kalau Hyukppa itu pintar membaca isi hati orang” Ia menghela napas berat, bersiap untuk bercerita. Ia selalu tidak tahan menyimpan unek-uneknya di dalam hati.

“Begini, hari ini aku bertemu dengan seseorang yang sudah lama  kulupakan, rasanya aneh. Aku senang dan sedih di saat yang bersamaan. Aku ingin bilang sesuatu, tapi aku tidak bisa. Dan waktu dia pergi…” Jiyeon meletakkan tangan di dada dan pandangannya menerawang.

“Di sini rasanya sakit dan perih. Aku juga tidak mengerti kenap.a Harusnya tidak begitu kan? Harusnya saat bertemu tidak ada perasaan apapun iya kan!?” Jiyeon memandangi Eunhyuk lekat-lekat. Matanya sudah berkaca-kaca. Rasa sakit di hatinya mulai terasa kembali.

Eunhyuk mengangguk-angguk.

“Apa dia Kibum?” tebak Eunhyuk. Jiyeon menoleh cepat. Matanya membulat sempurna. Aigoo.. kenapa bisa sangat tepat begitu?

“Oppa tahu?”

“Dasar! Tergambar jelas di wajahmu. Namja mana lagi yang bisa membuat hati kamu pasang surut dengan cepat selain Kibum. Dan dia satu-satunya orang yang pernah menjadi namja chingumu”

“Mantan tepatnya” ralat Jiyeon sambil bersedekap. Ia merenung, kisah cinta itu seperti baru terjadi kemarin.

*Flashback*
Ketika SMP ia bertemu dengan Kibum. Saat itu Jiyeon menganggap Kibum adalah namja yang sangat lucu dan tampan. Namja itu sangat populer. Tapi di sekian banyak yeoja yang menyukainya, dia justru memilih Jiyeon. Entah apa alasannya.

Baru 2 minggu jalinan cinta itu bersemi. Jiyeon baru tahu alasannya. Kibum berpacaran dengannya demi melupakan yeoja yang sudah menolaknya. Dan ternyata sampai saat itu Kibum masih menyukainya. Jiyeon orang yang tidak mau di duakan. Baik itu secara perasaan ataupun tindakan.

Cinta itu pun berakhir.
*Flashback end*

Eunhyuk menghela napas melihat kegalauan dongsaengnya itu. Haruskah dia mengeluarkan ekspresi sedih itu lagi?
“Menurutku, kamu masih menyukainya” jawab Eunhyuk singkat. Kepala adiknya itu menoleh cepat. Penjelasan macam apa itu?
“Omo?! Tidak mungkin!” tepis Jiyeon.
“Buktinya kamu merasa sedih dan senang di waktu yang bersamaan. Tidak ada jawaban lain selain kamu masih suka padanya.”

Jiyeon terdiam sejenak. Ia merenungi baik-baik perkataan Eunhyuk.
“Lalu  aku harus bagaimana?”
“Saranku, jangan pernah mencoba lupakan ataupun pikirkan dia. Karena semakin kamu ingin melupakannya, semakin kamu sadar kalau kamu suka padanya.”
Otaknya berpikir keras dan hatinya merasa perkataan Eunhyuk ada benarnya.
“Begitu , oke deh!!” ujarnya dengan senyum riang.
“Dan… Secepatnya mencari gebetan baru.” sambung Eunhyuk. Jiyeon mengibaskan tangannya dan senyumnya makin lebar.
“Ah, itu sih sudah ada” ucap Jiyeon senyum-senyum sendiri. Di otaknya sekarang di penuhi oleh 1 nama. KIM HEECHUL.

“Omo. Putriku yang cantik!! Kamu tidak apa-apa kan??” pekik Eomma saat melihat Jiyeon. Ia baru saja pulang belanja. Wanita berusia 40 tahunan itu dengan cepat menghampiri putrinya. Ia sangat terkejut melihat kondisi Jiyeon.
“Anu Eomma, ini tidak apa-apa. Hanya luka ringan” Jiyeon berusaha agar terlihat biasa saja.
“Aigoo,,, sudah Eomma bilang kamu jangan bawa motor. Coba kamu dengarkan ucapan Eomma.”
“Mianhae” ucap Jiyeon menyesal. Eunhyuk yang gemas dengan reaksi adiknya itu hanya mengacak-acak rambutnya.
“Aiishy! Oppa rese!!” ia sangat bingung kenapa Eunhyuk suka sekali menggodanya.

“Jiyeon, ada paket untukmu” Sungmin muncul dari ruang tamu dengan sebuah kotak di tangannya.
“Paket, aku tidak menunggu paket apapun. Siapa pengirimnya?” Jiyeon mengerutkan kening bingung.
“Emm.. Chankaman” Sungmin membaca label yang tertempel di atas kotak. ”
for mybeloved doll, jiyeon. From yourmum” ucapnya dengan dahi berkerut. Jiyeon melonjak senang sesaat setelah Sungmin membacakannya.
“Jinjja?!” seru jiyeon senang. “Sini, aku ingin membukanya!” ia sudah tidak sabar.

Sungmin menyerahkan kotak itu pada Jiyeon. Eomma duduk di samping Jiyeon.
“Dari ibumu, apa isinya?” tanya Eomma penasaran. Jiyeon membukanya dengan tidak sabar.  saat melihat dengan seksama isi dari kotak itu, Matanya membesar. Ternyata isinya sebuah baju musim dingin yang begitu indah lengkap dengan syal dan topi rajutan. Semuanya berwarna putih pastel.
“Owh, ini indah sekali” serunya bahagia. Jiyeon mendekap baju itu dengan hati membuncah oleh aura kegembiraan. Sungmin, Eunhyuk dan Eomma pun ikut tersenyum melihatnya. Jiyeon menemukan secarik kertas di dasar kotak. Ia membacanya:

_untuk boneka cantik Mommy yang lahir di musim dingin, saengil chukhahamnida. Mommy ingin kamu tidak kedinginan di musim dingin tahun ini.
Dari yang mencintaimu, Mommy_

Jiyeon meneteskan airmata haru. “Mommy” lirihnya sambil mendekap surat itu di dada. Rasa rindunya pada sang mama kian besar. sudah lama ia tidak bertemu dengan ibu kandungnya itu. Ia ingin sekali bilang, tapi ia terlalu takut menghadapi wajah tidak setuju yang nanti akan ditunjukkan Appanya bila ia mengutarakan keinginannya itu.

“Hadiah ultah? Ulang tahunmu kan 2 minggu lagi” Sungmin heran.
“Tidak apa-apa. Aku senang” jawab Jiyeon.
“Anak manis” ucap Eomma sambil mengusap-usap kepala Jiyeon.. meskipun Jiyeon bukan putri kandungnya, ia sangat menyayangi satu-satunya anak perempuan dalam keluarga itu.

__o0o__

Malam itu Jiyeon tidak bisa tidur. Ia membaca kemabli surat dari Mom-nya. Meskipun sudah membaca surat itu berkali-kali, Jiyeon tetap meneteskan air mata rindu.

Keadaan keluarganya sangat rumit. Sebenarnya Eomma yang sudah membesarkannya bukanlah ibu kandung. Sungmin dan Eunhyuk juga hanyalah saudara tirinya. Oppa kandungnya sendiri adalah Siwon. Appa dan Momnya bercerai ketika usianya 4th. Siwon memilih ikut bersama sang Ibu dan Appa membawa Jiyeon.

Mom-nya adalah wanita berdarah campuran. Jadi itu sebabnya kenapa Jiyeon maupun Siwon berwajah cantik dan tampan. Sekarang Ibunya bekerja sebagai diplomat di kedutaan besar Korea untuk Hongkong.

Tidak banyak orang tahu tentang keadaan keluarganya itu. Dan setelah Siwon menjadi bintang terkenalpun, kenyataan kalau dia adalah Saudara kandung Jiyeon tidak ada yang tahu. Hanya orang-orang terdekatnya saja.

__o0o__

Kyuhyun duduk di sofa, lelah setelah 2 jam bermain game. Ia lagi-lagi merenung. Stik game yang sudah ia pegang selama 2 jam terakhir kini tergeletak tak berdaya di sudut sofa tempatnya duduk.
“Hoi, jangan lupa lusa kamu harus check up ke rumah sakit. Tadi Dr Shin menelefon kemari” ucap Hankyung mengingatkan. Kyuhyun seketika tersadar. Ia melengos malas. Telinganya selalu berdengung tiap kali mendengar nasihat basi dari semua keluarganya tentang madical check up yang menurutnya tidak penting itu.
“Dasar cerewet, sudah kubilang aku baik-baik saja!” Kyuhyun kemudian mencari-cari ponselnya dari dalam tas sekolahnya.
“Loh, mana ponselku?” tanyanya bingung terlebih pada diri sendiri. Ia tidak bisa menemukan ponselnya di dalam sana. Aneh.
“Bukankah kau pinjamkan pada yeoja tadi siang? Siapa namanya, ah, Lee Jiyeon” ucap Hankyung santai. Ia fokus mengotak-atik androidnya.

Kyu teringat. “Ah, kau benar. Aku lupa” kyuhyun tidak mau membuang waktu. ia lalu mengambil kunci mobilnya berniat pergi.
“Kau mau mengambil ponselmu lagi?” tanya Hankyung sebelum namja itu menghilang di balik pintu.
“Tidak. Biarkan saja ponsel jelek itu.  Aku ingin pergi menemui seseorang.” kyuhyun berjalan keluar ruangan, tapi ketika tiba di ruang tamu ia berpapasan dengan Suzy. Gadis cantik dengan rambut panjang dan gaya selayaknya nona muda. Ia tersenyum manis saat melihat Kyuhyun.

“Oh kau” Kyuhyun heran. Malam-malam begini apa yang dilakukannya di rumah orang lain?
“Malam” Suzy tetap memamerkan senyum cerahnya. Ah..semangat Kyuhyun langsung memudar melihat gadis rese yang ditunangkan dengannya itu. Kyuhyun melipat kedua tangannya.
“Untuk apa kau kemari malam-malam begini?” tanyanya malas. Suzy mendekat. Gadis itu seolah tidak menyadari nada ketus dari ucapan Kyuhyun. Apa Kyuhyun kurang memperlihatkan sikap ‘tidak suka’nya pada Suzy hingga gadis itu tidak sadar.

“Menyapa calon suamiku, of course” jawabnya enteng. Kyuhyun tersentak kaget. Enak saja. mengapa Suzy selalu seenaknya seperti ini? Dia benar-benar gadis yang tidak peka.
“Siapa yang calon suami?! kita bahkan belum bertunangan!” bantah kyuhyun tidak terima. Suzy semakin mendekatkan dirinya.  Dengan lancang ia menggaet lengan Kyuhyun.
“Bukankah tidak akan lama lagi? Harusnya kau gembira karena bisa menikah denganku” ujarnya pede.

Kyuhyun memamerkan senyum sinisnya.  “Jadi kau bangga hanya karena kau ini cantik, pintar dan kaya raya?” ucap Kyuhyun sarkastis. Bagi orang lain terdengar sangat ketus.  Tapi kalimat bernada menyindir ini tidak mempan di telinga Suzy.
Gadis itu malah mengangguk senang “Tentu. Tidak ada lagi yang ku inginkan. Kau kandidat paling sempurna untuk menjadi suamiku. Kau tampan, sangat berkelas, tentu saja kaya raya. Sangat cocok disandingkan denganku”

Hah?! Percaya diri sekali. Kyuhyun menarik tangannya dari dekapan Suzy.  Seringaian sinis pun kembali ia tunjukkan. “Omong kosong. Sifatmu sama buruknya denganku. Kita sama sekali tidak cocok. Biarpun menikah, aku yakin tidak akan bertahan lama karena kita sama-sama egois”

Suzy mengangguk pelan. Ucapan sinis Kyuhyun tidak membuatnya goyah sedikitpun. Justru ia suka pada Kyuhyun ketika sifat evil-nya keluar seperti ini.

“Lalu menurutmu apa yang paling penting dari sebuah hubungan?”

Suzy mencoba menguji Kyuhyun. Ia ingin tahu reaksinya. Kyuhyun terlihat melamun. Keduanya sempat terdiam. Kyuhyun sibuk dengan pikirannya sementara Suzy tak bisa memalingkan pandangannya dari wajah menerawang namja di hadapannya ini.

“Rasa saling membutuhkan” jawab Kyuhyun antara sadar dan tidak sadar. Suzy menepuk tangannya.

“Fine. Aku membutuhkanmu. Aku rasa kau juga akan membutuhkanku untuk melanjutkan perusahaan orangtua mu nanti. Benarkan?”

Kyuhyun tersenyum sinis lagi. “Sudah kuduga. Yeoja sepertimu tidak akan pernah mengerti” kyuhyun melangkah meninggalkan Suzy.

“Kau mau kemana?” tanya Suzy mencoba mengejar Kyuhyun.

“Kamu pulanglah. Aku ada urusan. Jadi tidak akan bisa mengantarmu pulang” kata kyuhyun sambil lalu. Namja itu masuk mobil yang terparkir di depan rumah kemudian berangkat meninggalkan rumah.

“Kyuhyun!” panggil Suzy. Haah, ia menghela napas pasrah. Rasanya akan sulit menakhlukan namja seperti Kyuhyun. Entah ini sudah yang keberapa kalinya ia di abaikan seperti ini olehnya.

__o0o__

Malam sudah hampir larut, namun Jiyeon masih juga terjaga di kamarnya. Ketika membereskan buku di dalam tasnya, Jiyeon menemukan sebuah ponsel yang tidak dikenalinya. Keningnya berkerut, ia mencoba memeras otaknya untuk mengingat siapa kira-kira pemilik ponsel ini. Begitu menyadarinya, ia memekik.

“Ah, bukankah ini ponsel namja tengil itu. Gawat! Aku lupa mengembalikannya!”

Bagaimana ini? Ah, nanti dia cari saja namja bernama Cho Kyuhyun itu di sekolah. Bukankah dia terkenal, pasti tidak sulit untuk menemukannya.

Jiyeon iseng mengotak-atik ponsel itu. Mugkin ini lancang tapi siapa peduli, selama pemiliknya tidak melihat. Dia membuka musicplayer yang ada di ponsel itu. Jiyeon terkejut, isinya lagu-lagu klasik dan beberapa judul lagu yang tidak dikenalnya. Ia ingin sekali tertawa di depan namja itu, tertawa mengejek.

“Hah, ternyata selera musiknya buruk.” gumam Jiyeon sinis. Ia iseng memutar salah satu lagu yang berjudul ‘Late Autumn’, karena sesuai dengan keadaan sekarang yang sedang berada di penghujung musim gugur.

Jiyeon mendengarkannya dengan seksama. Alunan nada mulai mengalun. Hmm.. lagu yang lumayan membuat hati tenang. namun beberapa saat kemudian ia mengerjap.

_…geurae neoyeoseo nal derigo naongeon.. Nae jumeoni sog nae soneul kkog jabdeon.. Geuhae neujgaeurui neo ijen eodireul geodni… Neoui balsoriga geuriwo.._

Hati kecil Jiyeon tersentuh mendengarnya. Bukan hanya lirik dan iramanya saja yang indah. Tapi suara si penyanyi pun sangat mengagumkan. Hatinya sukses tersentuh mendengarkan lagu ini.

“Lagu siapa ini? Apa dia sendiri yang membuatnya?” lirihnya kagum. Saat tengah tenggelam dalam lagu, semuanya kacau karena ada panggilan masuk. Ia mengumpati siapapun yang berani mengganggu ketenangannya.

“Aish! Siapa yang mengganggu!” Jiyeon menekan tombol hijau.

“Hallo..” ucap Jiyeon. Tidak ada jawaban. “Hallo..!”ia mencoba lagi dengan nada sedikit lebih tinggi. Keadaan masih sunyi juga.

“Ini ponsel Kyuhyun kan?” seseorang menjawab dari ujung sana. Suara laki-laki.

“Bukan..” jawab Jiyeon tidak sadar. Ya ampun, kenapa ia bisa lupa kalau ponsel yang kini dipegangnya ini bukan miliknya. Ia  kemudian meralatnya secepat mungkin.

“Ne. Ini memang ponselnya” keringat dingin muncul membasahi keningnya. Waduh, gawat. Bagaimana ini.

“Ini siapa? Apa terjadi sesuatu pada dongsaengku?” tanyanya lagi.

Waduh, Jiyeon panik siaga lima. “Eotteokajyo, eotteokajyo..” lirihnya panik. Ia berjalan mondar mandir mengelilingi kamarnya. Ia berhenti. Menarik napas, kemudian duduk kembali di tepi tempat tidur.  Jiyeon mencoba tenang. “Anu, begini, ponselnya tertinggal padaku tadi pagi. Tapi tenang saja. Tidak ada apapun yang terjadi”

“Begitu.. Kalau boleh tahu, kamu siapa?”

Glek. Jiyeon menelan ludahnya dengan susah payah. Waduh. “A-aku Lee Jiyeon. Aku, Teman. Temannya Kyuhyun. Begitulah..” jawab Jiyeon asal. Ia sedikit mual saat menyebut nama namja rese itu.

“oh. Aku Hyungnya. Leeteuk. Sungguh dia tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu kabarnya. Mungkin aku harus menelepon ke rumah. Kalau begitu terima kasih dan maaf sudah mengganggu–tuuut—“  Hubungan langsung terputus. Jiyeon mengerutkan kening.

“Jadi tadi itu Hyungnya? Hh.. perhatian sekali.” Ucapnya sedikit iri. Baru sesaat suasana sepi, ponsel dalam genggamannya kembali berdering.

“Ya ampun, kenapa banyak sekali yang menelepon!”kesal Jiyeon.

“Hallo…” sekarang Jiyeon tanpa ragu mengangkatnya. Siapa tahu ini dari kerabat dekat namja itu lagi.

“Mana Kyuhyun?! Kenapa orang lain yang menjawab?” lagi-lagi laki-laki. sekarang namja di ujung sana terdengar marah.

“Dia tidak ada,.” jawab Jiyeon enteng.

“Aishy! Dia membuatku kesal saja! Bilang padanya kenapa hari ini dia tidak datang latihan?!

Bukankah dia harus menyerahkan musik buatannya juga!” cerocosnya panjang lebar. Entah siapa orang yang sedang menggerutu padanya itu. Jiyeon kebingungan sendiri.

“Tapi..”

“Kenapa? Dia pura-pura sibuk lagi? Atau memang sengaja tidak menelponku dan menyuruhmu menjawab teleponku? Cepat katakan padanya. Kau salah satu pelayannya kan?”

Apa maksud namja ini?! Jiyeon tersinggung. “Oke akan aku sampaikan tapi katakan siapa kamu?”

“Bilang saja dari Kim Heechul. Dia pasti mengerti”

eh, Jiyeon seketika mematung. Kim heechul.. Apa ini benar-benar Heechul pangeran berkuda putihnya? Ya ampun, mengapa ia bisa melupakan seperti apa suara namja yang disukainya?

“B-baik. Nanti aku sampaikan” suara Jiyeon mendadak bergetar. Hatinya berbunga-bunga. Siapa sangka akan berbicara dengan prince-nya.

“Dan bilang padanya besok temui aku di ruang latihan jam 10 tepat!”

“oke, anu” –tuuttt– hubungan terputus. “hallo hallo” Jiyeon tidak terima Heechul menutupnya. Padahal kan ia masih ingin mengobrol lebih lama.

__o0o__

Heechul membanting gagang telepon dengan amarah memuncak. “Bocah tengil itu! Sampai kapan dia akan terus seenaknya!” umpatnya kesal. Ia kembali mengambil gitar untuk menyelesaikan lagu buatannya.

“Masih banyak yang harus diperbaiki” lirihnya. Tapi kemampuannya membuat lagu tidak sehebat Kyuhyun. Jadi ia sangat tertolong atas bergabungnya Kyuhyun dengan grup bandnya.

Pintu kamarnya tampak dibuka. Ternyata yang masuk Ryeowook. “Hyung, aku sudah bawakan buku-buku yang kau minta” ucap Ryeowook, dongsaeng yang lebih muda 2 tahun darinya sambil meletakkan buku-buku itu di atas meja di hadapan Heechul.

“Gomawo” jawab Heechul singkat. Matanya tetap fokus pada kertas di hadapannya.

Ryeowook melihat ada sebuah surat di atas meja itu.

“Loh Hyung, surat apa ini?” tanyanya penasaran. Heechul menoleh sebentar, memperhatikan surat yang sedang diamati adiknya.

“Oh itu, surat undangan pesta perusahaan orangtua Kyuhyun. Band kita akan tampil untuk

mengisi acara di sana”

“Daebak.” kagum Ryeowook. Mulutnya terbuka lebar. Karena Ryeowook menyinggung perihal pesta itu,  Heechul teringat sesuatu.

“Oh iya, minggu nanti kamu bisa kan datang ke lokasi pesta untuk memeriksa keadaan panggung? Aku sangat sibuk minggu-minggu ini. Banyak sekali tugas dari guru” sesalnya.  wajarlah, Heechul sudah ada di tingkat tiga.

“Dengan senang hati!” ucap Ryeowook segera.  “Tapi aku boleh mengajak seseorang kan?”  tambahnya.

“Terserah” ucap Heechul acuk tak acuh.

“Yes!” Ryeowook mengepalkan tangannya. Ia  jadi tidak sabar ingin segera hari Minggu.

__o0o__

Mobil yang dikendarai Kyuhyun berhenti tepat di depan sebuah kantor seorang psikolog. Tanpa ragu namja itu masuk. Ia sudah terbiasa datang ke tempat itu. Ia kemudian bertanya pada resepsionis.

“Apa Seohyun ada?”

Resepsionis itu mengangguk ramah.  “Iya. Dia ada di ruangan ibu Han”

“Kamsahamnida”

Tanpa membuang waktu Kyuhyun segera menuju ruangan tersebut yang ada di lantai 2. Ia mengetuk pintu sebentar. Tak lama ia mendengar suara yeoja dari dalam menyuruhnya masuk.

“Seperti biasa, kamu selalu datang di jam yang tidak terduga, Kyu” ucap Seohyun ketika melihat kyuhyun masuk. Gadis itu sedang mreapikan berkas-berkas di meja kerja ibunya.

Dengan wajah cemberut Kyuhyun membalas ucapan calon kakak iparnya itu. Seohyun, sudah lama berpacaran dengan Leeteuk, Hyungnya. Dan menurut kabar terakhir yang ia dengar dari orangtuanya, mereka akan menikah tidak lama lagi.

“Jadi Nuna keberatan aku datang tiba-tiba? Nuna tahu kan aku orang sibuk” Kyuhyun berjalan menuju kursi tamu dan duduk di atasnya.

Seohyun berbeda 3 tahun dengan Kyuhyun. Sekarang ia tengah belajar psikologi di universitas agar bisa seperti Eommanya yang juga seorang psikolog. Sudah 2 tahun ini Seohyun berpacaran dengan leeteuk yang juga sedang belajar di universitas. Kyuhyun dan Leeteuk sendiri berbeda 4 th.

Seohyun tersenyum tipis menanggapi sikap Kyuhyun yang childish itu. “Bukan begitu. Hanya saja sekarang waktunya kantor tutup. Dan itu jelas sangat mengganggu” Seohyun memandang wajah Kyuhyun yang ekspresinya tidak secerah cuaca siang tadi.

“Tapi kamu adalah pengecualian” ucapnya dengan senyum yang sudah membuat Hyungnya jatuh cinta. Seohyun duduk di kursi lain di sebelah Kyuhyun. Ia menopangkan dagunya bersiap mendengar curhatan Kyuhyun.

“Nah, sekarang apa keluhanmu?” tanyanya penuh perhatian.

Kyuhyun membenarkan posisi duduknya. “Aku hanya ingin bertanya..” wajah Kyuhyun berubah serius. Seohyun jadi penasaran. Suasana hening sejenak. ekspresi Kyuhyun membuat suasana sedikit mencekam. Untung tidak ada suara anjing yang melolong.

“Nuna, Apa kau tahu rasanya jatuh cinta?” tanyanya polos. Seohyun bingung sejenak. Sesaat kemudian ia tertawa lepas. Gantian Kyuhyun yang mengerutkan kening bingung. Memangnya apa yang salah dengan pertanyaannya?

“Nuna aku srius!” umpat Kyuhyun kesal. Seohyun terus tertawa sampai 5 menit kemudian baru berhenti.

“Kamu bukan anak SD lagi kyu, hal sepele saja kamu harus bertanya padaku?”

Kyuhyun sudah menduga reaksinya bakal begini. “Mungkin bagi orang lain sepele, tapi bagiku ini serius!! Amat serius” tegasnya. Kali ini Seohyun memilih untuk mengalah.

“ok, ok. Sekarang dimana letak masalahnya? Apa yang tidak kamu mengerti sampai bertanya dan mengganggu waktu pulang ku.”

Kyuhyun menghela napas. Hanya pada Seohyun dia bisa berterus terang.

“Nuna mengenalku dengan baik kan?” tanyanya mengawali. Seohyun mengangguk mantap.

“Ya, sejak Kita SD”

“Apa selama Nuna mengenalku pernah sekali saja Nuna melihatku bereaksi ketika mengenal seorang yeoja?”

Seohyun memiringkan kepalanya sejenak. “Eopseo” jawabnya ragu. Lalu ia mengangkat bahu. “Entahlah, aku kan tidak bersamamu sepanjang waktu”

Kyuhyun menepuk lengan sofa yang di dudukinya. “ini dia masalahnya!”

“Kenapa bisa tidak terjadi apa-apa. Mungkinkah ada yang salah dengan kejiwaan ku? Atau ini adalah pengaruh dari penyakitku?”

“Termasuk pada Suzy?”

“Ya..”

“Hmm..” Seohyun berpikir sejenak. Kemudian ia tersenyum. “Tidak ada yang salah dengan

kejiwaanmu. Yang kamu alami sekarang juga banyak dialami oleh orang lain. Semua itu tergantung pada situasi dan kondisi”

Kyuhyun memegangi keningnya. Ia meminta Seohyun berhenti sejenak.  “Bicara dengan bahasa yang lebih mudah bisa kan?” kepalanya berdenyut-denyut tidak karuan. Ia benar-benar tidak paham.

“Singkatnya, kamu hanya belum bertemu dengan seseorang yang membangkitkan minatmu”

Kyuhyun diam sejenak. Kepalanya mengangguk pelan. “Begitu, benar tidak ada hubungannya dengan penyakitku?” ia cemas. Seohyun menggeleng kembali.

“Bukan”

Sebenarnya ada yang masih tidak di mengerti olehnya. Kyuhyun meletakkan tangannya di dada. Tatapannya lebih sendu dari sebelumnya. “Lalu kenapa jantungku tidak pernah bereaksi?” lirihnya. Kyuhyun tampak seperti seekor anjing yang kebingungan karena ditinggal majikannya. Itu membuat Seohyun terenyuh hatinya.

“Kalau begitu cobalah untuk menyukai seseorang. Suzy misalnya. Bukankah dia calon tunanganmu. Mulai besok kamu coba berikan perhatian lebih padanya. Mungkin dengan begitu kamu bisa mengerti sesuatu”

Meskipun tidak mengerti namun Kyuhyun tetap mengangguk. Benar juga, bukan hal buruk memberi perhatian pada Suzy. Lagipula yeoja itu sepertinya berharap ia bisa sedikit memperhatikannya.

“Lagipula kenapa kamu ingin jatuh cinta sih. Umurmu kan baru 16 tahun” tanya Seohyun penasaran. Kyuhyun yang sebelumnya tidak pernah memikirkan masalah rumit semacam cinta dan hanya peduli pada game-nya, tiba-tiba saja bertanya hal itu. Siapa yang tidak heran. Kyuhyun menunduk sedih.

“Aku hanya ingin tahu rasanya sebelum… Aku mati” ucapnya lemah.

Seohyun terperangah. Ia tersenyum sambil menyipitkan matanya. “Hei, jangan bicara begitu. Aku yakin kamu bisa merasakannya. Segera.” Terkadang Kyuhyun bisa menjadi namja sensitif memang.

“Em..” Kyuhyun tampak ingin bertanya, namun ia ragu. Seohyun menunggu dengan sabar.

“Nuna, hal yang kamu rasakan terhadap Hyung, apa itu cinta?” tanya Kyuhyun. Ah, lagi-lagipertanyaan anak SD.

“Tentu saja!” tegas Seohyun.  “begitu juga kamu masih bertanya” tambahnya.

“Seperti apa rasanya?” Kyuhyun penasaran sekali untuk  yang ini. Ia pun bingung kenapa.

Seohyun merenung sejenak, bagusnya memakai kalimat apa ya, untuk membuat Kyuhyun paham apa itu cinta.

“Senang, berdebar-debar, rindu, bahagia, kasih sayang, cemburu, khawatir, perhatian, dan

Sedih. Kira-kira seperti itulah cinta.” jawab Seohyun seperti seorang pujangga yang tengah bersajak.

Kyuhyun melongo. “Ha! Nuna bercanda?! Masa begitu” Kyuhyun tidak terima penjelasan seperti itu. Seohyun menghela napas.

“Kyuhyun, yang namanya cinta itu universal. Bagaimana rasanya ya bermacam-macam. Jika kamu bertanya pada setiap orang, jawaban mereka pasti berbeda-beda. Cinta itu satu-satunya perasaan manusia yang tidak memiliki formula.”

Kyuhyun diam. Sebagai orang yang memiliki kecerdasan intelektual di atas rata-rata, ia bisa sedikit memahami ucapan Seohyun. Karena Kyuhyun masih belum bereaksi juga, Seohyun melanjutkan “Bisa datang kapanpun, tidak terduga dan bahkan kau pun bisa saja tidak menyadarinya”

Kyuhyun mengangkat tangannya. Meminta Seohyun untuk berhenti.  “Araseo!” jawab Kyuhyun malas dan bangkit. Ia paling tidak mau mendengar jika Seohyun sudah mulai berkhotbah.

“Terima kasih untuk waktunya. Aku pergi.”

“Lain kali jika ingin berkonsultasi, kamu harus menelpon dulu. Dan ingat, konsultasi ini tidak gratis” ucap Seohyun setengah bercanda. Kyuhyun mendengus.

“Nuna, kau pelit sekali. Kau pasti sudah tertular Hyung.”

“Jangan bawa-bawa Oppa! Asal kamu tahu, professional tidak akan bekerja tanpa dibayar” jawab Seohyun sambil mengedipkan mata.

“Ara!” Kyuhyun berjalan menuju pintu. Sebelum Kyuhyun keluar Seohyun berkata lagi.

“Dan Kyu, kau harus ingat, jika cinta itu datang, sambutlah dengan gembira”

Kyuhyun tersenyum tipis namun tidak menjawab. Ia pergi dari ruangan itu. Cinta, ia bakal merasakannya atau tidak, itu hanya Tuhan yang memutuskan.

To be continued..

 

No Other (Part 2)

Tittle : No Other Part 2
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : School Life, friendship

Main Cast :

  • Lee Jiyeon
  • Cho Kyuhyun

Support Cast :

  • Lee Sungmin (Jiyeon’s Oppa)
  • Lee Hyukjae (Jiyeon’s Oppa)
  • Choi Siwon (Jiyeon’s Oppa)
  • etc..

FF ini agak rumit dan berantakan penulisannya… maaf atas ketidaknyamanan itu semua *bow*

No Other by DhaKhanzaki

————o0o————

Part 2

*di rumah sakit*

“heh, cewek tengil, kau sudah menghubungi keluargamu? Aku tidak bisa menemanimu karena urusanku masih banyak!” ujar kyuhyun. Ia mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya tak sabar. ia teringat janjinya pada Heechul. Dan ia tidak bisa membayangkan betapa menyeramkannya sunbaenya itu saat sedang marah.

Jiyeon mendengus jengkel. Namja ini benar-benar perlu di bawa ke psikolog. Sikapnya sangat menyebalkan.”Tenang saja. Aku sudah menghubungi oppa ku” jawab jiyeon mencoba sabar. “Dan jangan panggil aku cewek tengil. Namaku Lee Jiyeon. Aku lihat seragam kita sama. Kau pasti murid Kirin juga kan!”

Tentu saja. Kyuhyun tahu itu.
“Ah iya, Kita sekalian saja berkenalan. Aku Hankyung dan dia Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Kau tahu kan?” ujar Hankyung dengan tangan menunjuk Kyuhyun. Namja yang ditunjuk tersenyum sinis.
“Sudahlah Han, yeoja seperti dia mana tahu” celetuk Kyuhyun meremehkan. Dia sangat percaya diri bahwa dirinya begitu terkenal sampai seluruh penghuni sekolah tahu siapa dia.

“Memangnya siapa kau? Nama mu baru pertama kali ini aku dengar. Cho kyuhyun, memang ada murid bernama itu di sekolah” Jiyeon menjawabnya acuh tak acuh. Kyuhyun terpaku mendengarnya. Telinganya seolah tak percaya kalau ada juga murid yang akan mengucapkan kata itu. Apalagi di hadapannya.

“Gadis ini benar-benar cari mati!” umpat Kyuhyun kesal. Dia ingin sekali melakukan sesuatu pada yeoja bernama Jiyeon itu tapi tertahan karena pintu ruangn tiba-tiba menjeblak dibuka seseorang.

Muncul Sungmin disusul Yoona masuk ke dalam ruangan. Hankyung maupun Kyuhyun sedikit kaget dibuatnya.

“Oppa?! Yoona!” seru Jiyeon senang. Sungmin segera menghampiri.
“Kau tidak apa-apa kan? Katakan!” Sungmin berkata dengan nada penuh kepanikan. Jiyeon tersenyum lega.
“Hanya terkilir ringan. Sebentar saja juga sudah sembuh”
“Kau ini..” Sungmin langsung memeluk adik kesayangannya itu. Jiyeon mengerjap kaget. Omona.. Sungmin itu meskipun sedikit kejam padanya, tapi terbukti dia adalah seorang Oppa yang sangat perasa dan menyayanginya.
“Kau hampir membuatku mati berdiri. Semua ini salahku. Coba tadi pagi aku tidak membiarkanmu membawa motor sendiri ke sekolah.” ucap Sungmin terus mendekap Jiyeon.
“Bukan salahmu Oppa, aku saja yang kurang hati-hati.”

Setelah Sungmin melepas pelukannya, Jiyeon menoleh pada Yoona, gadis itu pun terlihat menahan air mata.
“Yoona, kau datang kemari karena mencemaskanku juga?” tanya Jiyeon polos. Yoona
berlari menghambur untuk memeluk Jiyeon, menangis di bahunya.
“Gadis jahat! Kamu berhasil membuatku cemas seharian. Bagaimana mungkin aku tidak kemari saat mendengarmu kecelakaan” lirihnya terisak. Jiyeon balas memeluknya.
“Jeongmal mianhae, karena sudah membuatmu cemas. Aku berjanji aku tidak apa-apa.”

Sungmin baru sadar kalau dari tadi ada 2 makhluk asing di dekat mereka. Tatapannya menajam ketika bertemu dengan pandangan Kyuhyun dan Hankyung.
“Kalian siapa? Orang-orang yang sudah mencelakai adikku?” tanya Sungmin curiga. Kyuhyun maupun Hankyung terperanjat.
“Anu. Kami..” mereka gelagapan saat akan menjawab. Pada kenyataannya memang mereka lah yang sudah membuat adiknya seperti ini.

“Bukan oppa, mereka yang sudah menolongku” potong Jiyeon. Sungmin menatap kedua orang itu. Kyuhyun mengangguk mengiyakan. Dalam hati Kyuhyun lega, setidaknya Jiyeon sudah mengatakan hal bagus.
“Begitu, baguslah” ucap Sungmin percaya.

Kyuhyun berdehem sejenak. “Karena kau sudah ada yang menjaga, kalau begitu kami pamit” ucap Kyuhyun. Tak menunggu lama, ia dan Hankyung keluar ruangan itu.
“Kalau begitu aku akan menelepon rumah dulu” Sungmin mengeluarkan ponsel. Jiyeon tertegun sejenak, ia ingin menanyakan sesuatu tapi ragu.
“Eunhyuk Oppa, apa dia tahu aaku kecelakaan?” tanyanya. Sungmin menoleh.
“Tidak. Sudahlah jangan beritahu dia, kamu tahu kan dia kalau sudah panik seperti apa?”
Jiyeon mengangguk paham.
“Arra” lirihnya.

Sungmin lalu keluar ruangan. Yoona segera duduk di samping Jiyeon begitu Sungmin tidak berada lagi di sana.
“Namja tadi, bukannya dia Cho Kyuhyun dan sepupunya Hankyung ya?” selidik Yoona. Jiyeon agak terkejut. Kenapa Yoona bisa tahu?
“Bagaimana kau tahu? Memangnya dia terkenal?”
Yoona menepuk pundaknya pelan. “Tentu saja! Kamu tahu, keluarganya itu sangat kaya. Selain berbakat dalam bidang musik, dia juga tampan dan pintar. Seluruh sekolah tahu dia.”
“Masa? Terus kenapa aku tidak tahu?” Jiyeon memiringkan kepalanya, berpikir mengapa ia bisa melewatkan hal yang umum seperti itu.
“Kau saja yang kuper.” Yoona diam sejenak, ia ingat kejadian tadi di lorong.
“Pantas saja tadi Heechul oppa mencari-cari Kyuhyun. Ternyata dia ada disini”
“Apa? Heechul oppa? Mau apa dia cari-cari namja tengil itu?” semangat Jiyeon tersulut begitu saja ketika nama Heechul disebutkan. Yoona mendecak.
“Huu! Aku baru sebut namanya saja kau sudah segirang itu. Kau menyukainya apa dongsaengnya?” sindir Yoona. Jiyeon berhenti cengengesan. Mendengar kata ‘dongsaengnya’, otaknya langsung terpikir pada Ryeowook.
“Wookie? Untuk apa aku suka padanya?. Dia itu hanya sebatas chingu bagiku” Jiyeon bingung kenapa mendadak Yoona berkata seperti itu.

Mata sahabatnya itu menyipit. Yoona duduk semakin merapat pada Jiyeon. “heh, kau tidak tahu gosip yang beredar di sekolah?” tanyanya dengan nada penuh misteri.
“Andwae,” jawab Jiyeon polos. Yoona menepuk keningnya. Jiyeon, kau kelewat kuper. Batin Yoona.
“Orang-orang bilang kamu suka pada Ryeowook!”
“MWO!” pekik Jiyeon kaget.
“Darimana datangnya gosip itu!” seru Jiyeon dengan suara keras. “Memangnya sikapku pada Wookie selama ini memperlihatkan kalau aku suka padanya…ah–” Jiyeon mengatupkan bibirnya. Ia seakan tersadar sesuatu. Jika dipikir-pikir, sikapnya pada Ryeowook memang sedikit berbeda. Dia selalu berbagi makan siang denganya, karena Ryeowook itu pandai memasak, dan Jiyeon juga suka memasak. Jadi mereka sering sekali bertukar bekal makan siang. Terkadang juga pulang dengannya. Ha! Jangan-jangan itu yang membuat orang-orang curiga.

“Aku memang sedikit berlebihan pada Wookie.” lirih Jiyeon lemas.
“Tuh kan!” Yoona mengiyakan.
“Tapi semua itu kulakukan karena aku ingin tahu soal Chullppa!” bela Jiyeon. Sebenarnya itu motif utama mengapa ia bisa akrab dengan Ryeowook.
“Tapi orang-orang tidak tahu kau suka pada Heechul Oppa”
“Bagaimana ini…” Jiyeon menatap Yoona dengan wajah khawatir. tangannya menggenggam erat lengan Yoona.
“Tenang, aku dukung kau apapun yang terjadi.” Yoona menepuk-nepuk pundak Jiyeon untuk menyemangatinya.

“Ah, Yoona. Bagaimana perasaanmu sekarang?” mendadak Jiyeon mengalihkan pembicaraan.
“Memangnya kenapa?” Yoona tak paham dengan pertanyaan Jiyeon.
Jiyeon menyikutnya. “Bilang saja lagi kalau kamu sekarang sangat bahagia. Tadi kan kau kemari bersama Sungmin Oppa” ledek Jiyeon. Pipi Yoona seketika memerah. Ia teringat saat ia memeluk pinggang Sungmin karena mereka kemari menggunakan motor milik namja itu.
“Kau ini apaan sih? Memangnya kenapa aku dengan Sungmin Oppa” Yoona berusaha mengelak. Padahal terlihat jelas di wajahnya.
“Kau suka padanya. Iya kan!!” Jiyeon berkata dengan suara keras sehingga Yoona. Terpaksa membekam mulutnya.

Bersamaan dengan itu Sungmin masuk ke dalam ruangan. Yoona menghentikan tindakannya
begitupun Jiyeon. Suasana hening seketika.
“Kok kalian berhenti? Aku mengganggu ya” tanya Sungmin heran. Kedua yeoja itu langsung duduk manis seolah tidak terjadi apapun.
“Tidak kok. Oppa tadi mendengar pembicaraan kita?” Jiyeon menyelidik ekspresi Sungmin sekarang. Yoona tampak memucat melihat Sungmin diam menatap mereka secara bergantian. Jiyeon ikut cemas.

“Tidak. Memang kalian membicarakan apa?” Sungmin bingung.
fuuh.. Untung tidak dengar. Secara bersamaan Jiyeon dan Yoona menghela napas lega.
“Kalian ini, ada apa sih sebenarnya?” Sungmin dibuat penasaran. Tapi baik Jiyeon maupun Yoona tidak berniat untuk menjawab.
“Ah, Jiyeon kau bisa pulang sekarang. Dokter sudah mengizinkan” ia teringat tadi ia sempat menemui dokter. Jiyeon mengerjap senang.
“Jinjja? Ayo pulang” ucap Jiyeon semangat.

__0.0__

*di kamar lain di rumah sakit yang sama*
“Hyung, aku sarankan jantungmu segera dioperasi sebelum kondisinya makin memburuk.” saran Kibum dengan wajah cemas. Yesung yang terbaring lemah hanya tersenyum sambil menepuk tangan Kibum yang terus menggenggam tangannya.
“Aku masih baik-baik saja. Jangan terlalu mencemaskanku. Bagaimana dengan sekolahmu? Kamu jangan terus membolos hanya untuk menjengukku” ucap yesung lemah.

Kibum menghela napas berat.
“Itu bukan hal penting. Bagiku yang terpenting sekarang adalah melihatmu sehat kembali”
Yesung tersenyum. “Maaf sudah membuatmu susah. Kau tidak perlu terlalu mencemaskan ku. Kau bisa lakukan apa saja yang kau inginkan”

Hati Kibum sakit atas ucapan Hyungnya. Ia sedih karena Yesung tidak bisa melakukan hal yang paling disukainya: menyanyi.
“Aku berharap segera ada donor jantung untukmu, Hyung” harap Kibum.
“Jangan terus cemas tentang penyakitku. Sekarang kau sekolah saja baik-baik.” ucap Yesung sambil tersenyum lemah.
Kibum mengangguk. Ia sangat menyayangi Yesung. Apapun akan dilakukannya asal bisa
melihat Hyungnya tersenyum seperti sekarang.

Terdengar pintu dibuka seseorang. Kibum menoleh, Sooyoung gadis cantik yang begitu anggun masuk dengan membawa sekeranjang buah. Senyumnya mengembang bergantian memandang Kibum dan Yesung.
“Seperti biasa, aku datang Oppa” ucapnya hangat sambil duduk di sisi tempat tidur yang lain. Pandangan matanya meredup ketika melihat orang yang dicintainya lemah tak berdaya.

“Oppa terlihat lebih baik.” Sooyoung berkata sambil menahan airmata meskipun di bibirnya tersungging seulas senyum manis.
“Gomawo. Berkat dirimu juga” Yesung menggenggam tangan Sooyoung dengan kasih sayang tulus seperti biasanya. Dan hal itu membuat Sooyoung merasa tenang. di saat suasana sedih seperti ini, senyuman Yesung-lah satu-satunya obat paling ampuh untuk meredakan tangisannya.

Kibum terguncang menyaksikan adegan itu. Bagaimanapun Sooyoung pernah menjadi pujaan hatinya dan mungkin sampai sekarangpun hal itu belum berubah. Kibum memilih menyingkir dari ruangan itu. Dia ingin mencari udara segar.

__o0o__

“Oppa, kau bilang semua pada Appa? Soal kecelakaanku?” tanya Jiyeon tiba-tiba. mereka sekarang sedang dalam perjalanan pulang. Jiyeon terpaksa harus dipapah Sungmin dan Yoona saat berjalan.
“Tentu. dan dari suaranya Appa terdengar sangat terkejut. Terlebih eomma.”
“Ah, sudah kuduga. Siap-siap kena semprot deh” Jiyeon menghela napas berat. Sungmin dan
Yoona secara kompak tertawa.

“Loh Ji, itu kan Kibum” ucap Yoona. Jiyeon menengok ke arah yang dimaksud. Matanya melebar. Ya. Dia melihat sosok orang yang tidak asing lagi baginya itu berjalan tak jauh di hadapannya. Jiyeon terpaku sesaat.

Kibum pun merasakan hal yang sama. Tubuhnya membeku ketika melihat Jiyeon. Ia melrik ke arah kaki Jiyeon yang dibebat. Kenapa dia? Kibum ingin bertanya, tapi ego membuatnya memilih pergi melewati Jiyeon tanpa menyapanya sedikitpun.
Jiyeon tidak percaya Kibum bersikap seolah-olah tidak mengenalnya. Hatinya terasa sangat pedih.
“Kenapa dia? Bahkan menyapa pun tidak!!” ucap Sungmin heran. Ia mengenal Kibum karena Kibum adalah juniornya di klub yang sama dengannya di SMA Kirin.
“Dia kenapa ada di sini?” tanya Yoona heran.
“Yesung, Hyungnya sakit dan dirawat di sini. Mungkin dia datang untuk menjenguk”
jawab Sungmin.

Jiyeon tidak berkomentar. Ia tadi sempat melihat wajah Kibum yang kelelahan dan sedih. Itu sangat mengganggu pikirannya. Ia terus melamun sampai akan masuk taksi.

“Ah!” mendadak Jiyeon berseru. Membuat Sungmin dan Yoona terperanjat.
“Kenapa? Ada yang salah?” tanya Sungmin cemas. Jiyeon menggeleng cepat. Ia hampir saja melupakan sesuatu yang sangat penting. Ia akan kehilangan seorang Oppa jika ia sampai melalaikan hal yang dilupakannya ini.
“Siwon oppa!” jiyeon baru ingat. CD rekaman lagu yang diminta Siwon masih ada di tangannya. Ia menoleh pada Sungmin dengan tatapan penuh harap.
“Oppa, kau mau menolongku?”
Sungmin tidak mengerti tapi dia mengangguk. Jiyeon mengambil sebuah kotak CD lalu menyerahkannya pada Sungmin. “Tolong berikan itu pada Siwon Oppa. Aku yakin sekarang dia sedang kelimpungan menunggu CD itu kuantar.”
Sungmin mendengus malas. “Hah?! Si bintang baru tidak jelas itu?” sindir Sungmin.
“Oppa! Kamu jangan bilang begitu. Meski tidak jelas dia itu Oppaku juga” bantah Jiyeon kesal.
“Arra, arra. Ok, kalau begitu aku pergi kembalikan ini dulu. Yoona, aku titip adikku tercinta ini yah” Sungmin mencubit pipi Jiyeon.
“n-ne” jawab Yoona gugup.
“Oppa!!” seru Jiyeon jengkel. Sungmin langsung kabur sebelum Jiyeon balas memukulnya.

__o0o__

JRENGJRANG!!
Suara dentang piano terdengar tidak karuan dari ruang latihan. Rasa kesal Siwon sudah memuncak hingga ubun-ubun. Kemarahannya terlampiaskan pada piano.
“Calm down” sahut Kangin santai. Dia tengah asyik memainkan gitar listrik dan sedikit bersenandung. Siwon tidak mendengarkan. Sekarang ia benar-benar sudah kehabisan kesabarannya. Bagaimana mungkin Jiyeon tidak kunjung menyerahkan CD itu juga padanya!!
“Lain kali kalau bertemu awas ya! Beraninya dia tidak datang sama sekali!” Siwon mengepal erat tangannya.
“Coba hubungi sekali lagi. Aku cemas terjadi sesuatu padanya” ucap Kangin. Siwon tersenyum sinis.
“Datang terlambat memang sudah menjadi keahliannya. Ini juga bukan pertama kali!” Siwon mencoba menelepon sekali lagi. Hasilnya tetap sama. Ponsel Jiyeon tidak aktif. Hal ini membuatnya makin sebal saja.
“Aish!! Kemana dia? Harusnya dia bawakan CD itu!” gerutu Siwon pada ponsel di tangannya. Kangin hanya bisa cengengesan melihat tingkah Siwon.

“Kau butuh ini?”

Siwon menoleh cepat mendengarnya. Ia kira Jiyeon ternyata bukan. Siwon mengerutkan kening bingung. Apa yang dilakukan Sungmin di sana?
“Kenapa kamu yang datang? Mana Jiyeon?!”
Sungmin memutar bola matanya, malas. Siwon itu benar-benar hanya memikirkan karir keartisannya saja.
“Dia baru pulang dari rumah sakit.” Jawabnya dengan wajah datar.

Raut wajah Siwon langsung berubah, ia terkejut.
“Rumah sakit? Kenapa?! Apa dia kecelakaan?” Siwon buru-buru mendekati Sungmin dengan wajah tak kalah cemas. “Apa parah? Dia baik-baik saja kan?”
“Tidak ada yang serius. Hanya terkilir” Sungmin mengatakannya dengan ekspresi datar. Ia ingin mellihat reaksi Siwon.
Siwon menghela napas lega. Hanya sesaat. Setelah itu ia kembali menjadi Siwon yang menyebalkan. “Lalu mana CD-nya? Kau kemari untuk mengantarkan itu kan?”
“Nih!!” Sungmin menekankan CD itu tepat di dada Siwon, lalu pergi dengan sikap dingin. Siwon tersenyum sinis menanggapi kelakuan Sungmin.
“Lihat dia! Dia pikir dia siapa?”

__o0o__

Bukannya pulang Jiyeon malah mampir ke restoran ayahnya. Mendadak ia ingin mencicipi lagi masakan sang Appa. Jadi ayah adalah seorang chef professional dan sudah membuka restoran sejak Jiyeon berusia 5 tahun.
“Aigoo, Jiyeon, apa yang terjadi padamu?!!” pekik Eunhyuk ketika melihat kaki Jiyeon diperban dan berjalan sambil dipapah oleh Yoona. Belum apa-apa namja itu sudah mondar-mandir panik gak jelas. Entahlah apa yang dilakukanya. Ia segera menata salah satu meja kosong agar Jiyeon bisa duduk di sana.
“Ayo duduk di sini. Sebentar…” Eunhyuk menarik kursi lalu menyandarkan kaki Jiyeon di atasnya. ia lalu pergi mengambil bantal untuk pengganjal kaki yang diperban.
“Sudah nyaman? Masih ada yang sakit?” tanyanya cemas. Jiyeon menggeleng pelan.
“Tidak ada. Gomawo..”ucap Jiyeon terharu dengan sikap perhatian Eunhyuk. Kekhawatiran belum juga lenyap dari wajah Eunhyuk. Namja itu terus saja bergerak-gerak gelisah.
“Sebentar, aku panggil Appa..” ia mengambil langkah seribu.
“Oppa..” baru Jiyeon hendak mencegah Eunhyuk keburu pergi ke dapur. Untung saat itu restoran sedang sepi. ia tidak menjadi pusat perhatian di sana.

“Eunhyuk Oppa tidak berubah ya, apa dia memang selalu begitu?” Tanya Yoona kagum
sambil menggeleng-gelengkan kepala. Jiyeon mengangguk setuju.
“Begitulah. Keahliannya adalah bersemangat setahun pnuh!”
Mendengarnya Yoona tertawa. Tiba-tiba sebuah suara menggelegar yang amat ditakuti oleh Jiyeon terdengar nyaring. Membuat gadis itu kaku seketika.

“LEE JIYEON, apa yang terjadi sebenarnya?!” Appa muncul dari dapur masih mengenakan pakaian chef lengkap terburu-buru menghampirinya. Disusul Eunhyuk. Waduh, Jiyeon bergetar.
“Mianhae Appa.. Kejadian ini murni karena kecerobohanku” jawab Jiyeon sambil menunduk. Takut melihat wajah seram Appa. “kakiku terkilir sedikit. Tapi tidak ada yang serius kok. Aku janji.”
Appa mendekat lalu dengan gerakan cepat tangannya menjitak Jiyeon. Yoona dan Eunhyuk sampai kaget.
“aw!” Jiyeon meringis.
“Sudah Appa bilang, perempuan jangan sembarangan membawa motor! Lihat ini akibat dari tidak menuruti ucapan orangtua!” tegur Appa. Jiyeon makin menundukkan kepalanya. ia akan tahu akan diceramahi seperti ini oleh sang Appa.
“mianhae..” lirihnya seperti suara cicak. Sangat pelan.

Sungmin baru saja tiba disana. Melihat suasana tampak ‘tidak biasa’, Ia segera mencairkan keadaan.
“Jiyeon, kau tiba selamat sampai di sini? Syukurlah” Sungmin menghampiri mereka dengan wajah cerah ceria. Appa masih tampak kesal sementara Jiyeon tetap pada posisi yang sama. Ah, ia harus melakukan sesuatu.
“Appa, aku lapar. Aku ingin sekali makan sup tulang sapi buatanmu.” Ucap Sungmin mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Kau ini, adikmu kecelakaan kau masih bisa meminta makan dengan wajah ceria begitu?”
“Sudahlah Appa, ayo aku bantu siapkan.” Sungmin mendorong tubuh Appa pelan kembali ke dapur. Ia menoleh sebentar ke arah Jiyeon sambil mengedipkan sebelah matanya.

“oppa…jeongmal gomawo” lirih Jiyeon terharu. Ia tahu Sungmin pasti akan menyelamatkannya.
Eunhyuk tertawa ringan. Ia berbisik pelan pada adik perempuannya itu. “lihat, ada-ada saja cara Hyung menolongmu.”
“Ne” ia mengangguk. Jiyeon tahu tu. Meski kadang menyebalkan, tapi ia harus mengakui bahwa Sungmin adalah kakak paling baik di dunia. Ia melirik Yoona yang duduk di sampingnya. Aishy!! Gadis ini malah diam terpaku ke arah dapur. Ia juga tahu, Yoona pasti terpesona pada Sungmin. Seperti biasa. Jiyeon tertawa dalam hati.
“hei, aku tahu. Oppaku yang satu itu memang sangat mempesona” kata jiyeon sambil menyikut Yoona. Otomatis gadis itu sadar dari lamunannya.
“Kenapa?” tanyanya heran. Melihat kepolosan sahabatnya Jiyeon benar-benar tertawa. Meskipun tidak mengerti, namun Eunhyuk juga ikut tertawa.

__o0o__

Mereka akhinya makan siang bersama. Sepanjang makan Appa terus mengobrol dengan Sungmin dan Eunhyuk sementara Jiyeon didiamkan. Akhirnya ia menusuk-nusuk ayam goreng dengan garpu, melampiaskan kekesalannya.
“Menyebalkan! Ternyata Appa memang lebih suka anak laki-laki!” gumamnya jengkel.
Yoona hanya bisa menahan tawa. Tapi Jiyeon tidak bisa membenci oppadeul-nya sedikitpun. Terkadang ia hanya kesal.

Tiba-tiba tercium aroma wangi. Jiyeon mengangkat kepalanya. ternyata Eunhyuk menyodorkan secangkir teh beraroma karamel ke hadapannya. Aigoo.. Ini kan teh kesukaannya. Senyum di bibir Jiyeon pun mengembang.
“Hyukppa, kau memang Oppa ku yang paling pengertian di dunia” seru Jiyeon terharu. Sudah berapa kali hari ini ia dibuat terharu. Eunhyuk tersenyum jahil.
“Araseo. Cepat minum sebelum tehnya dingin. Yoona, kau juga harus coba!” Eunhyuk pun menuangkan secangkir lagi untuk Yoona.
“Gomawo” Yoona menyesapnya sedikit. Ekspresinya langsung berubah. Melihat ekspresi yang ditunjukkan Yoona, Eunhyuk tersenyum lebar.
“Enak kan?” tanya Jiyeon.
“iya.” Yoona mengangguk.
“Itu oleh-oleh dari my mommy. Dia membelinya di Hongkong.”
Appa menoleh mendengar Jiyeon menyebut kata Mommy.

“Jinjja? Wah, tapi aku lebih suka teh hijau” ucap Yoona.
“Begitu. Selera kita ternyata berbeda.” Jiyeon mengangguk-angguk.

__o0o__

Begitu sampai rumah, Jiyeon dipapah Eunhyuk duduk di sofa ruang keluarga. Ketika Eunhyuk akan pergi, Jiyeon menahannya.
“Oppa, jangan pergi” Jiyeon menahan tangan Eunhyuk dengan nada memelas. Ah, Eunhyuk bisa membaca apa mau yeodongsaengnya ini. Lantas ia duduk di samping Jiyeon.
“Ada apa?” tanya Eunhyuk. Ia yakin Jiyeon pasti ingin curhat padanya. Selama ini
Eunhyuk memang selalu menjadi tong sampah semua unek-unek Jiyeon dan ia tidak keberatan sedikitpun. Jiyeon juga merasa Eunhyuk adalah seorang pendengar yang baik.
“Eunhyuk Oppa,.. Apa ada seseorang yang kau sukai?”

Eunhyuk terkejut dengan pertanyaan itu. “Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?” Eunhyuk heran. Jiyeon menatapnya dengan pandangan serius.

To be continued…

No Other (Part 1)

Tittle : No Other Part 1
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : School life, friendship

Main Cast :

  • Lee Jiyeon
  • Cho Kyuhyun

Support Cast :

  • *find by yourself*

Meskipun baru diposting sekarang, tapi gini-gini ini FF aku yang paling awal loh.. *gak nanya*. FF ini udah lama diem di dalem lappy. nah, daripada terus nganggur di sana, lebih baik aku posting aja. Bener gakkk…

Karena FF lama, makanya maaf kalau ada typo, atau bahasa yang dipakai terlalu kamseupay gitu..
Happy reading ^_^

No Other by DhaKhanzaki

———–0.0————-

Part 1

Telaaaat!!!!

Jiyeon baru sadar kalau dirinya terlambat pergi ke sekolah ketika melihat jam Mickey Mousenya menunjukkan pukul 7.00.
“Jiyeon sarapan!!” teriak eomma dari lantai 1 dan itu membuatnya semakin panik. Dengan cepat ia memasukkan semua buku pelajaran hari itu dan sebuah CD yang di minta Siwon, oppanya.
“CD ini, jangan sampai lupa di bawa. Bisa di gorok Oppa kalo aku sampai lupa” batin Jiyeon. Setelah selesai ia bergegas turun ke lantai 1 menuju ruang makan. Di sana sudah duduk Appanya tercinta, Sungmin, Eommanya yang sedang sibuk menata makanan dan Eunhyuk.

“Kenapa kamu berdiri disitu? Ayo duduk!” ucap Appa. Jiyeon menggaruk kepalanya kemudian duduk di sebelah Sungmin.
“Anu, aku jadi malu. Harusnya aku bantu Eomma menyiapkan sarapan. Eomma, mian aku bangun kesiangan” sesal Jiyeon.
“tidak apa-apa. Eomma dibantu Eunhyuk pagi ini”

Jiyeon melirik pada Eunhyuk dengan tatapan penuh penyesalan dan Eunhyuk hanya tersenyum manis.
“ah, kalau aku sih sudah maklum dengan kebiasaanmu itu. Pasti semalam pun kamu memimpikan Heechul lagi kan?!” ledek Sungmin sambil memakan roti.
“Oppa!!” bentak Jiyeon kaget. Yang lainnya ikut kaget juga.
“Kenapa? Tadi waktu aku akan membangunkanmu, kamu mengigau seperti ni: ‘Chullppa, kamu memang pangeran berkuda putihku yang sangat tampan.’. Dan suaramu sangat keras.—umph!” Jiyeon lekas menutup mulut Sungmin sebelum dia berkoar-koar hal yang memalukan. Yang lain hanya melongo melihat tingkah Jiyeon.

“hoo.. Siapa itu Heechul?” tanya Eomma penasaran dengan nada meledek.
“Anii! Bukan siapa-siapa! Oppa, kau ini pagi-pagi sudah melantur” Jiyeon makin panik. Sungmin melepaskan tangan Jiyeon dari mulutnya.
“Ya! benar atau tidak yang pasti kamu menyebut namanya” oceh sungmin.
“Jiyeon, siapa Heechul?!” ini yang bertanya Appa. Suaranya terdengar mrah. Appa memang tidak suka mendengar putri semata wayangnya itu dekat dengan pria manapun. Karena Jiyeon baru kelas 1 SMA. Jiyeon harus mengutamakan pendidikannya dulu di bandingkan urusan cinta.

“Bukan siapa-siapa, Appa. Hanya teman…” Jiyeon tidak melanjutkan kalimatnya.
“teman..?” tanya Appa makin curiga.
“Dia temanku dan Sungmin Hyung di sekolah” jawab Eunhyuk menengahi. Jiyeon menghela napas lega. Dengan wajah berbinar-binar dia tersenyum pada Eunhyuk.
“Gomawo Oppa” ucap Jiyeon dalam hati. Appa mengangguk percaya saja. Jiyeon semakin lega. Kini dia sebal sekali pada Sungmin. Dia menoleh pada oppanya itu dengan tatapan marah. Sungmin segera mengalihkan perhatiannya pada jam tangannya.

“Aish, sudah jam segini. Eunhyuk, ayo kita berangkat!” sungmin meraih tasnya lalusegera pergi diikuti eunhyuk. Didepan rumah, jiyeon mencegah sungmin yang akan menaiki motornya.

“Oppa kau ini tega sekali. Kau tahu kan Appa sangat sensitif soal ‘pacar’. Kau ingin aku diberangus oleh Appa” ucap Jiyeon dengan menekankan kata ‘pacar’.
“Kamu berlebihan. Appa tidak sekejam itu” ucap Eunhyuk.
“Tapi kan tetap saja” Jiyeon menautkan kedua jari telunjuknya tanda kalau dia gusar.
Eunhyuk mengusap-usap kepala Jiyeon dengan lembut.
“Tenang. All is well. Ok”
“Emm!” Jiyeon mengangguk cepat. Perasaan Jiyeon langsung tenang jika Oppanya yang satu ini mengelus kepalanya.

“Ok, sampai bertemu di sekolah, dongsaengku sayang. Ayo Hyuk, naik” Sungmin menyuruh Eunhyuk naik motor dibelakangnya.
“Loh Hyung, Jiyeon bagaimana?”
“Biarkan. Bukannya dia bisa bawa motor sendiri.” Ujar Sungmin. Eunhyuk menurut saja. Jiyeon terperangah sendiri.

“Oppa!!” Jiyeon berteriak ketika motor yang dibawa Sungmin melaju pergi.
“Oppa jahat!!” lirihnya menahan tangis. Tapi tidak jadi karena dia melirik jam tangannya.
“aigoo!! sudah jam segini!!” ia bergegas pergi.

__o0o__

*disebuah rumah mewah*

Kyuhyun bersama sepupunya yang dari luar negeri, Hankyung sedang berjalan menuju mobil yang terparkir di depan rumah.

Rumah itu besar sekali. Beberapa pelayan memberi salam ketika dia lewat. Kyuhyun memang tidak membalasnya, tapi pelayan-pelayan itu tersenyum puas melihat majikannya yang super keren.

Seorang pelayan pria datang menghampiri Kyuhyun untuk menyerahkan sebuah surat undangan.
“Apa ini?” tanya Kyuhyun bingung.

“Itu surat undangan untuk pesta minggu depan Tuan”
“Pesta?” tanya Kyuhyun bingung
“Pesta apa?” Hankyung ikut penasaran.
“Ah, hanya pesta biasa. Tidak begitu penting.” Kyuhyun melengos pergi begitu melihatnya sekilas.
“Loh kenapa? Memangnya kamu tidak akan datang?”
“Tidak!” jawab Kyuhyun tegas sambil membuka pintu mobil. Hankyung beralih membuka pintu yang satunya.
“Kenapa? itu pesta kawan. Pasti menyenangkan” Hankyung duduk di kursi kemudi.
“Percaya padaku, itu pesta biasa antar perusahaan dan sangat-sangat membosankan” ucap Kyuhyun sambil mengenakan sabuk pengaman.
“benarkah! Tapi aku ingin tetap datang.” Hankyung mulai menstarter mobil Pagani Zonda milik Kyuhyun itu.
“Kalau begitu datang saja.”
“Boleh?”
“hei, kau kan anggota keluarga juga”
“Ah kau benar”

mobil mulai melaju. Ditengah perjalanan Kyuhyun mlamun sementara Hankyung sibuk mnyetir mobil.

__o0o__

*di jalan*
Ponsel Jiyeon berdering. Terpaksa Jiyeon menghentikan motor sejenak.
“Hallo…” ucapnya pelan.
“APANYA YANG HALLO BODOH!!” suara teriakan langsung menerjang telinganya begitu Jiyeon menjawab. Jiyeon menjauhkan ponselnya sejenak. Tanpa menyakan identitas pun Jiyeon tahu yang membentaknya adalah Siwon.
“Sekarang jam berapa, hah!! Kenapa masih belum datang juga?! Kamu kira aku ini pengangguran? Setiap detik waktuku satu juta kali lebih berharga dari waktumu!” Siwon terdengar sangat marah. Suaranya menggelegar seperti petir di siang bolong. Jiyeon menganggukkan kepalanya berkali-kali walaupun Siwon tidak mungkin melihatnya.
“Araseo, mianhae. Aku sedang perjalanan ke sekolah. Jika ingin aku cepat sampai, tutup ponselnya segera!”
“Cepat kemari atau aku tidak akan mengakuimu sebagai dongsaeng lagi!”
“Oke! Tunggu aku di gerbang Oppa, aku ngebut sekarang!”

__o0o__

*di sekolah*

Yoona menunggu Jiyeon harap-harap cemas di depan gerbang.
“Anak itu kemana! 10 menit lagi gerbang akan ditutup!” Yoona mondar mandir gelisah.
“Kamu kenapa?” tanya Donghae dari kaca mobilnya. Yoona mendekat.
“Jiyeon belum sampai. Kamu lihat dia di jalan?”

“Tidak.” Donghae kemudian turun dari mobilnya. Sementara mobilnya itu melaju meninggalkan gerbang sekolah.
“Kenapa kau turun?” tanya Yoona bingung.
“Untuk menemanimu”
“What?!” Yoona kaget. Donghae buru-buru meralat.
“Maksudku, menemanimu menunggu Jiyeon. Ah, kemana anak itu, kenapa lama sekali..” Donghae mengalihkan pandangannya ke arah luar gerbang, pura-pura ikut mencemaskan Jiyeon juga. Ia jadi sedikit salah tingkah.

“Kalian mengapa mengumpul disini? Ah, aku tebak. Jiyeon datang terlambat lagi kan?” tebak Ryeowook yang mendadak muncul.
“Iya” ucap Yoona. Ia bersedekap jengkel “Dasar! Anak itu bikin cemas orang saja”
Ryeowook memiringkan kepalanya, ia merasa heran. “Aneh, tadi kulihat Sungmin Hyung dan Eunhyuk Hyung sudah datang”
Yoona mengerjap mendengarnya. “Jinjja!! Terus bagaimana Jiyeon?” wajahnya mendadak memucat.

Tiba-tiba terdengar suara cewek-cewek menjerit histeris. Yoona, Ryeowook dan Donghae serentak menoleh ke arah asal keributan. Rupanya disana ada Siwon, sang bintang di sekolah itu bersama temannya Kangin.

“Mana anak itu! Sebentar lagi gerbang akan ditutup” Siwon bergantian melihat kedepan dan ke jam tangannya. Kangin hanya mengangkat bahu.

Oh iya, sekolah tempat mereka belajar itu merupakan sekolah seni yang sangat terkenal bernama Kirin Art School. Bintang-bintang baru banyak dihasilkan sekolah tu. Salah satunya Siwon dan Yesung.
“Dia benar-benar sudah mempermainkanku! Bisa-bisanya aku membuang waktuku yang berharga demi menunggu hal tidak berguna”
“Tapi tanpa dia, kau tidak bisa tampil hari ini. Dia membawa rekaman lagu barumu kan” ucap Kangin sambil memainkan ponselnya.
“Tentu saja! Aku akan memastikannya, ah sial!” umpat Siwon
“Kenapa?” Kangin kaget.
“Ponselku mati. Pinjami aku ponselmu” paksa Siwon penuh emosi. Kangin menyerahkan ponselnya. Siwon segera menelpon Jiyeon namun tidak ada jawaban.
“Kenapa ponselnya dimatikan!” Siwon melirik Kangin dengan pandangan menyala-nyala kesal. Sahabatnya itu tenang-tenang saja, malah tertawa.
“Di saat seperti ini kamu masih bisa tertawa?” Siwon bertolak pinggang. Sikap angkuhnya mulai bangkit.
“Tenang. Semuanya bisa aman terkendali.” Kangin menenangkan dengan menepuk pundaknya.

“Lihat, Siwon Hyung kelihatannya panik” ujar Ryeowook yang menyaksikan mereka dari jauh.
“Pasti lagi nungguin orang juga” jawab Donghae.
“Siapa?” tanya Yoona penasaran. Donghae dan Ryeowook saling pandang karena tidak tahu jawabannya.
“Biar aku tanya.” Donghae hendak pergi tapi Ryeowook menahannya.
“Jangan. Buat apa. Memang dia mengenalmu?”
Donghae langsung diam. Benar juga sih. Siwon tidak mungkin mengenal murid biasa sepertinya.
“Paling dia cuma mau minta tanda tangan aja. Dia kan fansnya” ledek Yoona.
“Kalian!!” teriak Donghae jengkel.

__o0o__

Jiyeon memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Sehingga ia tidak begitu memperhatikan mobil-mobil lain yang berlalu lalang di sekitarnya hingga tiba-tiba ada mobil yang melintas di depanya.
Jiyeon cepat mengerem namun terlambat, motornya menabrak mobil itu dan ia jatuh dari motornya. Kecelakaan pun tidak dapat terhindarkan.

Braaakkk!!!

“Aduh!” erang Jiyeon menahan sakit di kakinya yang terkilir saat jatuh tadi.

Hankyung dan Kyuhyun terdiam saling pandang setelah mobil yang mereka kendarai menabrak motor. Hankyung segera keluar mobil diikuti Kyuhyun. Kyuhyun melihat seorang yeoja terduduk di aspal. Dia memakai seragam sekolah yang sama dengannya.
“Naneun gwaenchana?” tanya Kyuhyun hati-hati.
“Gimana bisa tidak apa-apa! Aku jatuh dan motorku rusak! Kamu tahu rasanya? Sakit sekali, aduuh” Jiyeon meringis sambil memegang kakinya.

Hankyung segera menghampiri Jiyeon.
“Mianhae. Ini semua salahku.” Hankyung membantu Jiyeon berdiri sementara Kyuhyun terus melihat jamnya. Tak ada segurat rasa bersalah sedikitpun di wajah dinginnya.
“Han, kita sudah terlambat sekolah. Ayo pergi” ia tampak tidak sabar.

Apa? Jiyeon pun melirik jamnya. Matanya terbelalak. Jam masuk sekolah sudah hampir tiba! Tidak! Dia juga sudah terlambat!
“kamu ini, Kita harus bertanggung jawab. Yeoja ini terluka dan motornya rusak.” Hankyung menatap Kyuhyun berharap namja itu mengerti kondisi sedikit saja.
“Aish, menyebalkan!” Kyuhyun dengan hati jengkel menelpon rumah sakit dan bengkel.
“Semuanya sudah kuurus. Han, ayo pergi.” Kyuhyun bergerak menuju mobilnya. Hankyung menurut, ia mengikuti Kyuhyun meskipun sebenarnya ia tidak tega meninggalkan yeoja itu sendirian. Apalagi saat kondisinya seperti itu.

Apa?? Etiket macam apa itu? Tidak sopan sekali! Jiyeon jengkel sekali dengan sikap namja menyebalkan itu. Ia lantas berteriak.
“Ya!! Kalian ingin seenaknya pergi meninggalkanku sendiri? Dasar namja tidak berperasaan!”
Kyuhyun berhenti berjalan mendengar bentakan yeoja yang tak dikenalnya itu. Ia lantas berbalik dengan kening berkerut kesal.
“Mwo?!” Ia tidak terima. Kyuhyun berkacak pinggang.
“Hei, tunggu saja. Sebentar lagi akan ada petugas rumah sakit datang dan motormu itu akan
kami betulkan di bengkel” Jiyeon mencoba bangkit dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya an dengan langkah diseret-seret dia mendekati Kyuhyun. Berdiri tepat di hadapannya.
“Ini bukan soal ganti rugi ok, aku hanya minta pertanggung jawaban dari kalian. Setidaknya temani aku sampai semuanya selesai. Kalian ingin kabur dari masalah?!”

“Kau!!” kyuhyun menggeram sambil telunjuknya ia arahkan tepat ke depan wajah Jiyeon. Ah, bisa terjadi perang sipil jika tidak segera dicegah.
“Hei hei” Hankyung menengahi mereka. “dia benar. Kita memang harus bertanggung jawab” ujar Hankyung. Kyuhyun melayangkan death glarenya pada Hankyung. Ia tidak suka dengan gagasan itu.
“Han, kau malah membela yeoja gak jelas ini?” tuduhnya. Tangannya tetap menunjuk Jiyeon.
“Heh, siapa yang kau panggil yeoja gak jelas? Dasar namja tengil!” ucap Jiyeon seraya menepis tangan Kyuhyun.
“Kau cari mati!!” namja itu kini memelototinya.
“hei hei!” lagi-lagi Hankyung harus menengahi. Akhirnya Kyuhyun memilih menyerah dari perseteruan ini. Ia kembali melirik jam tangannya.
“Waktu kita sudah habis. Kita terlambat sekarang” ujar kyuhyun mendesah kesal. ia orang yang ontime. Sangat benci dengan kata ‘terlambat’.

Suasana sempat hening.

“Ah!” pekik Jiyeon tiba-tiba. Jiyeon kelimpungan mencari ponselnya yang jatuh entah dimana. Ia harus menelpon seseorang.

Kyuhyun melihat ponsel tergeletak dekat mobil. Lantas ia mengambilnya.
“Ini milikmu?” Kyuhyun mengulurkan ponsel ke hadapan Jiyeon.
Gadis itu menoleh. “Ah benar!” ia segera merebutnya. Sayang ponselnya tidak bisa menyala lagi karena tadi berbenturan dengan aspal menyebabkan layarnya retak..
“Haa! Bagaimana ini! Aku harus mengabari oppaku” lirih Jiyeon panik. Dia langsung melirik pada Kyuhyun.
“Apa?!” tanya Kyuhyun heran. Ia merasa ada yang tak beres dengan tatapan Jiyeon.

“Pinjam ponselmu sebentar!” paksanya. Kyuhyun mengerjapkan mata.
“Tidak mau!” tegas Kyuhyun.
“Pinjam cepat!” Jiyeon tetap memaksa. Kyuhyun mendengus jengkel. Yeoja ini benar-benar selalu mencari masalah.
“Kau ini!” pada akhirnya-dengan kesal Kyuhyun menyerahkan ponselnya. Jiyeon mengambilnya dengan wajah sumringah. Tanpa menunggu, Jiyeon segera menghubungi Siwon. Tapi, tidak dijawab. Jiyeon makin panik. Jangan-jangan Siwon marah dan membanting ponsel sampai mati. Waduuh….

—-0.0—-

*di rumah sakit*
“Kau harus istirahat. Jangan melakukan gerakan-gerakan berlebihan selama 2 minggu”
ucap dokter yang bernama Shindong itu begitu selesai membalut kaki Jiyeon dengan perban. Pernyataan yang dilontarkan dokter itu bagaikan petir yang menyambar tepat di dekat telinga Jiyeon.
“APA?! Tapi dokter, minggu depan aku ada tes menari” pekik Jiyeon. Kyuhyun dan Hankyung yang ada disana sampai kaget lalu menoleh. Dokter Shindong adalah dokter keluarga Kyuhyun.
“Sayang sekali kalau begitu” jawab dokter singkat sambil tersenyum ramah. Kyuhyun menyunggingkan senyum evilnya melihat wajah Jiyeon memelas.
“Jadi dok, tidak ada yang terlalu serius kan?” tanya Hankyung.

Dokter Shindong menggeleng. “Tidak ada. Hanya terkilir. Yang lainnya baik-baik saja”
“Kau dengar itu cewek tengil? Hanya terkilir.” ulang kyuhyun penuh penekanan pada tiap kata yang di ucapkannya. Jiyeon melayangkan tatapan sinisnya pada Kyuhyun.
“Ara! Aku denger kok” balas Jiyeon jengkel.

Ah, Jiyeon ingat. Dia harus segera menghubungi seseorang.

__o0o__

“Siapa dia? Teman sekolahmu?” tanya dokter Shindong pada Kyuhyun dan Hankyung karena Jiyeon memakai seragam yang sama.
“Ya begitulah. Tapi aku tidak mengenalnya” jawab kyuhyun acuh tak acuh. Dokter Shin mendadak teringat sesuatu.
“Ngomong-ngomong, minggu ini jadwalmu melakukan pemeriksaan rutin. Kamu harus meluangkan waktu. Jika tidak maka orangtuamu akan mengeluh padaku”
Kyuhyun malas sekali jika mendengar ia harus kembali melakukan medical check up seperti biasanya. Uh,… ia sehat koo.. kenapa harus diperiksa secara rutin segala sih? Orang tuanya terlalu cemas berlebihan.
“Ya,ya. Aku tahu” ucap Kyuhyun malas. Setelah dokter pergi, mereka kembali ke kamar Jiyeon.

__o0o__

*di sekolah*
Yoona cemas karena Jiyeon akhirnya tidak datang juga. Sudah ia hubungi tapi ponselnya tidak aktif.
“Ah! Aku harus bertanya pada Sungmin Oppa!” Yoona bergegas keluar dari kelas, dalam perjalanan menuju kelas Sungmin, tanpa sengaja ia melihat Ryeowook sedang bersama Heechul, hyungntya. Mereka seperti sedang serius membahas sesuatu. Mendadak Yoona tertarik untuk mengetahui apa yang mereka bicarakan.

“kemana Kyuhyun! Dia harusnya menyerahkan partitur musik hari ini, dia ingin band kita tidak bisa latihan?!” Heechul tampak jengkel. Ia meninju pelan tembok di sampingnya.
“hari ini dia tidak masuk Hyung. Mungkin dia sakit” jawab Ryeowook. Kebetulan mereka sekelas.

Kyuhyun sakit? Pikir Yoona heran. Anak orang kaya raya itu bisa sakit juga. Karena ia terlalu cemas pada Jiyeon, Yoona langsung berlari menuju kelas Sungmin. Tanpa sengaja, Sungmin justru menabraknya hingga terjatuh. Yoona sedikit tersipu malu ketika tahu di hadapannya ada Sungmin.
“Mian, aku tidak sengaja” ucap Sungmin sambil membantu Yoona bangun. Yoona masih juga tersipu namun sedetik kemudian ia teringat pada tujuannya menemui Sungmin.
“Oppa kebetulan sekali.. Jiyeon..”
Mendengar kata Jiyeon disebut, Sungmin juga terkesiap. Ia segera memotong ucapan Yoona. Raut kepanikan jelas terlihat di wajah aegyeonya.
“Maaf Yoona, aku sedang buru-buru. Jiyeon kecelakaan” Sungmin tampak sangat panik.
“Ne?!!” Yoona pun memekik kaget.
“aku harus segera ke rumah sakit”
“oppa aku ikut”

To be continued…