Arsip

Celebrity Girlfriend

FF Special Donghae’s Birthday

Tittle : Celebrity Girlfriend
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, School
Length : Oneshot

Main Cast :

  • Lee Donghae
  • Jung Seohee

Sebenernya author iseng sih bikin FF ini. Udah lamaaaaa banget tapi baru diposting sekarang di moment yang pas banget yaitu ulang tahun abang Ikan paling kece di SJ. Semoga ceritanya berkenan di hati. Ini adalah hadiah dari author buat temen-temen yang mengagumi Uri Donghae Oppa *salah satunya author* ^_^

Happy Reading

My Rival My Boyfriend (Celebrity Girlfriend)

Baca lebih lanjut

Iklan

Shady Girl Siwon’s Story (Part 11-End)

Tittle : Shady Girl Siwon’s Story Part 11
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance Sad

Main Cast :

  • Choi Siwon
  • Lee Sunhee

 

Jinjja.. akhirnya tiba juga di part end. Gak nyangka yah. Seharusnya Author bikin syukuran nih soalnya ini Seri Shady Girl yang ke-6 yang selesai bentar lagi masuk seri yang ke 7.. *tebar confetti. Kira-kira siapa yah main Castnya???

Yah udah Happy Reading dan jangan lupa follow twitter author yah, @julianingati23 ^_^

Shady Girl Siwon's story by Dha Khanzaki12

Baca lebih lanjut

Cherry Blossom Minwoo’s Story (Oneshot)

Tittle : Cherry Blossom Minwoo’s Story
Length : Oneshot
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance

Main Cast :

  • Park Minwoo
  • Kang Soo Joon

Support Cast :

  • Jeyoung – Kyuhyun Couple

Ekhem *check sound* Tau gak siiih.. ini adalah FF bagian dari FF Cherry Blossom loh.
#reader : tau, kan liat di judulnya *gak nyante*
#Me : Ok ok.. *angkat tangan

pada tau kan Minwoo yang jadi adeknya Jeyoung? Nah,berhubung dia adalah cast kesayangan author.. so, author bikinin deh cerita khusus Minwoo. coz dia sendiri ngambek ampe ngacak-acak kamar Lee Soo Man cuma buat ngerayu author agar mau bikinin FF khusus dia. *diamuk Sooman

Okelah, daripada banyak ngegaje.. Happy Reading

Warning : typo bertebaran

Cherry Blossom Minwoo's Story by Dha Khanzaki

Baca lebih lanjut

Cherry Blossom (Epilog Story)

Tittle : Cherry Blossom Epilog Story
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Happy End

Main Cast :

  • Shin Je Young / Cho Je Young
  • Cho Kyuhyun

Support Cast :

  • Choi Siwon & Kae Nichan couple
  • Lee Hyukjae & Lee Eunri couple
  • Lee Donghae & Song Raeseok couple
  • Kim Kibum & Park Heerin couple

Ternyata eh ternyata, Cherry Blossom ada juga epilog storynya loh…
di sini bakal diceritain semua yang mengganjal dari cerita sebelumnya. so,bagi yang gak baca rugi deh ^^

Maaf untuk typo, bahasa amburadul, atau Feel yang gak dapet

Happy Reading ^^

Cherry Blossom By Dha Khanzaki2

Baca lebih lanjut

[Kyuhyun-Aira] Happy Birthday

Tittle : Happy Birthday (Oneshot)
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance-Comedy, Married Life

Main Cast :

  • Shin Nara a.k.a Aira
  • Cho Kyuhyun Super Junior

Support Cast :

  • *find by yourself*

Sebenernya FF ini mau diposting pas ultah nae nampyeon tanggal 3 kemaren *lirik Kyu* tapi berhubung ada something, jadilah tanggal terbitnya molor seminggu -_-
gak papa yah.. yang penting kan bisa dibaca.. kekekek…
masih inget kan ama cerita Would You Marry Me? ini masih lanjutannya juga loh. tapi ini side story. *penjelasan macam apa ini?*

okelah, happy reading ^^

Warning : Typo di mana-mana

After Wedding Story - Happy Birthday by Dha Khanzaki

Baca lebih lanjut

When We Meet..

Judul: When We Meet
Author: Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre: Romance sad
Rating: Teenage
Length : Oneshoot

Main cast:
~ Choi Siwon
~ Shin Min Ji (OC)

Cuap-Cuap Author: Halo.. Shin Je Young imnida… ini adalah FF pertama Author yang castnya Bang Wowon.. Biasanya sih suami Author Si evil Kyu yang selalu jadi main castnya…hehehe *minta dihajar massa*
Mianhae kalau ada kesalahan ketik, kengawuran karakter, ataupun ada tata bahasa yang amburadul. Maklum, Author masih dalam tahap pembelajaran..
Warning: FF ini kemungkinan bikin reader ngantuk atau ngebosenin.. tapi Author harap readerdeul semua menikmati (?) cerita yang disajikan Author… #bahasa lo Thor!!!

Happy Reading..^_^

When We Meet by Dha Khanzaki

@@@

“Tidak ada pertemuan yang abadi”

(Sunny Quotes, dalam filim ‘Cinta Pertama’)

__o0o__

Langit sore itu tidak secerah biasanya. Mendung dengan awan hitam bergulung di ujung cakrawala. Angin musim semi menerbangkan daun-daun kering berwarna kecoklatan di area pemakaman itu.

Siwon belum juga beranjak dari tempatnya berdiri. Pandangannya sendu. Matanya tampak bengkak setelah seharian terus mengalirkan airmata. Yah, menangisi kepergian orang yang sangat dicintainya.

“Kenapa kau pergi tanpa berpamitan denganku?” suaranya serak. Napasnya tercekat dan dadanya terasa perih ketika kalimat itu terucap. Matanya menatap lurus pusara bertuliskan ‘Shin Min Ji’ di atasnya. Kini wanita itu, wanita yang sangat dicintainya dengan sepenuh hati, telah pergi menyisakan kehampaan bagi jiwanya.

Min Ji adalah separuh jiwanya. Itu benar. Dia mendadak hadir di hidupnya dan kemudian menghilang tanpa bekas bagai asap.

“Kau ingat saat pertama kita bertemu? Mungkin saat itulah aku jatuh cinta padamu..” gumam Siwon sambil menatap lekat nisan yang tidak mungkin bisa menjawab pertanyaannya. Kenangan-kenangan itu kembali berkelebat di otaknya. Memori yang tidak akan terhapus sampai bertahun-tahun ke depan bahkan sampai ia mati sekalipun. Yaitu kenangan saat ia bertemu dengan Min Ji..

*Flashback*

“Aduh, sayang banget kalau dibuang” keluh Min Ji karena kue Black Forest yang dibuatnya lebih mengenaskan dari kue semacam itu pada umumnya.
“Wow, yakin itu bisa dimakan? Kurasa tidak” ucap Park Hye Neul, teman satu kelasnya mengomentari kue hasil karya Min Ji dalam praktek PKK tadi. Min Ji mengangguk lemah.
“Araseo. Ini bahkan jauh lebih berantakan dari kota Texas yg luluh lantak karena badai Kathrina”
Hye Neul menepuk pundak Min Ji untuk menyalurkan spirit pada sahabatnya.
“Ayolah, gagal adalah kesuksesan yang tertunda. Masih ada lain hari” hiburnya.
Min Ji menghela napas berat. Iya, lain hari.. Batinnya mencelos. Bagi Min Ji, kata ‘lain hari’ itu bagai mimpi buruk. Selalu membuat bulu kuduknya meremang dan tubuhnya bergetar.

“Ah, akan kuberikan kue ini pada Choi Siwon! Bukankah sebentar lagi dia ulang tahun?” Min Ji dan Hye Neul menoleh ke arah belakang. Tepat ke kerumunan Kim Chae Rin dan dayang-dayangnya. Mereka memang fans setia Choi Siwon, namja yang berada di urutan no. 1 di daftar murid terpopuler di SMU Byung Moon, sekolah mereka.
“Benar juga! Kue ku juga akan kuberikan padanya ah..” celetuk Hye Neul membuat Min Ji tersentak. Bahkan sahabatnya juga sudah kecanduan Siwon? Oh, dear..

Niatnya Min Ji akan membuang kue gagalnya ke tempat pembuangan sampah yang ada di belakang sekolah. Koridor di sana sepi. Karena sebagian besar murid masih di kelasnya. Saat itu, di detik itu, duduk Siwon di lantai sambil meneguk air dari botol.
Min Ji mengerutkan kening. Sedang apa Siwon di sana? Sepertinya dia sedang istirahat sehabis olahraga. Bisa dilihat dari wajahnya yang basah oleh keringat dan baju olahraganya tampak lusuh oleh debu.
“Ehem..” Min Ji berdehem memberi isyarat bahwa dirinya ada di sana. Siwon justru kaget melihat Min Ji.
“Wae.. Waeyo!” tanyanya gugup seraya berdiri dan bertingkah sok keren.
“Mianhae, membuatmu terkejut. Aku hanya ingin lewat” Ucap Min Ji tanpa ekspresi. Siwon kaget. Kebanyakan yeoja pasti akan kelabakan dan gugup setengah mati ketika berhadapan dengannya. Tapi yeoja ini, dia malah memasang ‘poker face’ seperti ini.

Min Ji memang tidak ikut terjebak dalam ‘Siwon fever’ seperti teman-temannya yang lain. Alasannya sederhana, karena ia takut. Banyak sekali ketakutan dalam hidupnya. Termasuk takut ia akan jatuh cinta pada Siwon, oh bukan, sepertinya ia memang sudah jatuh cinta padanya.. Karena itu, untuk menutupi perasaannya, ia lebih baik acuh tak acuh pada namja tampan di hadapannya.

Siwon mengerutkan kening melihat yeoja di hadapannya melamun. Sesaat kemudian yeoja itu menggeleng dan bergerak melewati Siwon.
Sekilas Siwon melihat raut takut dan sedih di sorot mata yeoja itu. Tapi ia mencoba mengabaikannya.

Kriuukkk~

Langkah Min Ji terhenti. Sementara Siwon membatu di tempat. Min Ji menoleh dengan wajah bertanya-tanya.
“Kamu lapar ya?”
Glek! Siwon menelan ludah. Aduh, malunya! Perut sialan! Kenapa berbunyi di saat begini sih! Gerutunya dalam hati.
Siwon perlahan membalikkan badan, lalu ia tersenyum kikuk pada yeoja poker yang sedang menatapnya masih dengan pandangan datar.
“Eh, sebenarnya.. Iya, aku kelaparan” aku Siwon sambil cengengesan.

Min Ji berusaha agar tidak tertawa, namun usahanya gagal. Ia tetap tertawa meski pelan dan hanya sudut bibirnya yang naik dan membentuk senyuman.

Siwon terdiam lagi. Ia dibuat takjub. Wajah tanpa ekspresinya kenapa jadi tampak menawan ketika dia tersenyum? Meskipun di wajahnya bertengger kacamata tebal dan penampilannya lebih mirip Betty La Fea, tapi di balik semua itu terpancar pesona tersendiri dan Siwon bisa melihatnya dengan jelas.

“Em, siapa namamu?”
Pertanyaan Siwon membuat senyum Min Ji terhenti. Wajah poker itu muncul kembali. Aargh, Siwon mengutuk dirinya sendiri mengapa bertanya hal memalukan begitu.
“Shin Min Ji” jawab Min Ji singkat.
“Oh, aku Choi Siwon. Kau tahu kan?”
Min Ji mengangguk singkat. Siwon melirik sekilas ke arah kue ‘naas’ yang dipegang Min Ji.
“Em, kue itu..” Siwon menunjuk ke arah kue Black Forest yang gagal di tangan Min Ji.
“Oh, ini. Kenapa? Jelek ya? Memang akan kubuang kok”
Min Ji hendak melangkah namun Siwon menahannya.
“Chakkaman, boleh kucoba?”

Min Ji terkejut luar biasa. Siwon, namja keren sepertinya ingin mencoba kue hancur yang bahkan dirinya sendiri ragu untuk mencobanya? Aneh tapi ajaib.
“Benar tidak apa-apa? Jika kau keracunan atau sakit perut jangan salahkan aku. Oke!” ucap Min Ji menasihati.
Siwon mengangguk. Ia mungkin gila. Tapi hati nuraninya mengatakan ia harus mencoba kue itu. Dan perutnya juga tidak bisa diajak kompromi. Ia memang belum sempat makan tadi pagi.
Min Ji menyerahkan kue ditangannya ragu-ragu.
Siwon segera meraih kue itu.
“Tunggu, biar aku belah dulu. Dan kau juga makan pake ini” Min Ji menyerahkan sendok pada Siwon. Ia mengambil kue, dan membelahnya.

Karena sudah terlalu lapar, Siwon tidak mempedulikan tampilan luarnya dan segera melahap kue itu. Min Ji menggigit jari ketika Siwon menyuapkan kue ke mulutnya.
“Gimana rasanya? Gak enak ya?” tanya Min Ji takut-takut.
Siwon sedang menikmati bagaimana rasa itu di mulutnya.
“Em.. Enak kok..” gumam Siwon. Lalu menghabiskan sepotong kue lagi.
Min Ji tidak yakin dengan ucapan Siwon, lantas mencobanya sendiri.
“Ah, benar. Tidak buruk. Untung belum kubuang”
Siwon tersenyum. Mereka akhirnya menghabiskan kue itu.
“Anu, itu di bibirmu ada sisa krim” ucap Siwon sambil menunjuk ke sudut bibir Min Ji.
“Jinjja?” Min Ji segera mengelapnya dengan punggung tangan.
“Masih ada” gumam Siwon. Ia berinisiatif mengelap sendiri krim yg masih tersisa dengan ibu jarinya.
Drrttt.. Sengatan listrik ringan menerjang pembuluh darahnya saat tangan Siwon menyentuh sudut bibirnya. Min Ji terdiam sesaat.
“Udah dulu ya. Karena tadi aku kabur dari pelajaran olahraga. Nanti ketahuan lagi” Siwon mengedipkan mata sekilas sebelum pergi. Tapi baru beberapa langkah, ia kembali menatap Min Ji.
“Lain kali, boleh kan aku mencoba kue buatanmu lagi?”
Min Ji yang masih membeku mengangguk saja. Entah sadar atau tidak dengan ucapan Siwon.

__o0o__

Sejak saat itu, Min Ji selalu memberikan kue hasil eksperimennya pada Siwon dan namja itu seolah menjadi juri yang menilai hasil karyanya itu. Dan Min Ji melakukannya secara terang-terangan. Sampai orang-orang tercengang dan menganga tiap kali Min Ji dengan entengnya meminta atau lebih terlihat seperti menyuruh Siwon agar menerima kuenya.

“Cih, dasar yeoja tak tahu diri! Dia pikir dia cantik apa! Menyebalkan sekali!” cibir Kim Chae Rin, jelas sekali yeoja cantik itu iri pada Min Ji yang bisa akrab dengan Siwon. Sementara dia yang sudah berusaha mati-matian mendekati Siwon selalu gagal.
“Hmm.. Sepertinya aku harus memberi sedikit peringatan padanya” gumam Chae Rin dengan segudang rencana licik tersusun di otaknya. Ia menyeringai pelan sebelum pergi.

“Wow, tuan Choi dapat kue dari si otaku Min Ji lagi!!” teriak Ryeowook, membuat seisi kelas menengok ke arahnya dan tergelak beberapa saat kemudian.
“Shut up!!” Siwon menjitak kepala Ryeowook sekencang yang ia bisa. Namja itu meringis kesakitan karenanya.
Siwon sebenarnya agak risih juga jika harus menjadi kelinci percobaan Min Ji. Namun entah mengapa kue pemberian Min Ji selalu membuatnya merasakan sesuatu yang aneh. Semacam perasaan senang.
Siwon membuka kotak kue yang baru diberikan Min Ji pagi tadi, dan tampaklah sebuah kue tart berlapis coklat.
Seulas senyum tipis merekah di bibirnya. “Kuenya lebih bagus dari kue yang pertama kali kumakan” gumam Siwm senang. Min Ji pasti sudah berusaha mati-matian untuk membuat kue ini.

__o0o__

“Aduh, obatku mana ya?” lirih Min Ji sambil mengaduk-aduk isi tas sekolahnya. Setelah bergelut selama 10 menit, akhirnya ia menemukan juga botol kecil berwarna coklat berisi obat yang dicarinya.
Min Ji mengeluarkan 1 pil dan segera meminumnya. Dadanya terasa lapang dan rasa sakit yang tadi sempat berdenyut di kepalanya perlahan hilang. Yah, Min Ji memang harus meminum obat itu. Baginya, obat itu seperti penyambung tali kehidupan yang sewaktu-waktu bisa putus ataupun bahan bakar untuk tetap membuat api kehidupannya menyala.

Min Ji benci kenyataan dirinya lemah dan tidak berdaya. Hidup rasanya tidak berharga lagi. Min Ji selalu berpikir sebaiknya ia mati saja. Setidaknya ia tidak perlu merasa sakit lagi atas penyakitnya.
Tapi kini ia punya 1 alasan untuk tetap hidup. Choi Siwon, dialah alasan utama Min Ji berusaha melawan penyakitnya. Sejak bertemu namja itu untuk pertama kali, saat itu juga ia memutuskan untuk tetap bernapas. Sejak saat itu ia memutuskan bahwa hidup panjang adalah impian terbesarnya. Ya.. Ia harus sembuh. Agar ia bisa melihat Siwon setiap hari, membuatkan kue untuknya, dan melihatnya tertawa.
“aku akan membuatkan Siwon kue lagi.. Dan kali ini harus super enak!” ucap Min Ji. Tanpa di duga, Kim Chae Rin mencegatnya tepat ketika koridor yang dilaluinya sepi.
“Kamu tadi bilang apa? Membuatkan kue untuk Siwon?” tanya Chae Rin dengan nada menyindir. Matanya yang hitam menatap Min Ji dengan tatapan pembunuh. Min Ji dibuat merinding. Chae Rin mendekat, membuat Min Ji terdesak hingga punggungnya membentur tembok dan membuatnya tidak bisa kabur.
“Heh, kamu percaya diri juga merayu Choi Siwon. Tampang pas-pasan sepertimu mana cocok bersanding dengan Siwon!” gertaknya. Suaranya lebih mirip naga yang tengah menyemburkan api. Menakutkan.
Min Ji tidak mengatakan apapun. Dia juga tidak menunjukkan tanda-tanda ingin melawan. Hal ini justru membuat amarah Chae Rin meluap.
“Kenapa tidak dijawab?!” teriak Chae Rin sambil menjambak rambut Min Ji.
“Auch” Min Ji meringis pelan. Namun ia tetap saja tidak membalas.
Chae Rin menyeringai ala Madam Gothel di cerita Rapunzel. “Oh, jadi kamu menantangku?! Baiklah..” Chae Rin menyeret Min Ji pergi sambil terus menjambak rambutnya. Min Ji hanya meronta tanpa ada perlawanan. Tenaganya terlalu lemah untuk menepis jeratan tangan Chae Rin di kepalanya.

Siwon sedang berjalan pulang, tanpa sengaja ia melihat Min Ji. Tapi tunggu, kenapa ia diseret dengan paksa begitu oleh Chae Rin? Lalu kenapa juga dia menjambak rambut Min Ji, memperlakukannya seperti hewan? Dan kenapa juga Min Ji tidak berusaha melawan?
Siwon terus bertanya-tanya. Dan amarahnya mendadak memuncak. Ia harus melakukan sesuatu!

Kakinya melangkah cepat menyusul mereka. Dan begitu jaraknya dengan Chae Rin sudah dekat, Siwon segera berteriak.
“STOP!” matanya terbelalak kaget melihat keadaan Min Ji yang sudah berantakan karena perlakuan Chae Rin. Siwon menderap dengan langkah lebar. Wajahnya menampakkan aura membunuh pada Chae Rin. Otomatis gadis itu ketakutan dan akhirnya kabur sebelum Siwon benar-benar membunuhnya.

Min Ji lega luar biasa mengetahui Siwon membantunya keluar dari masalah. Ia jatuh terduduk di lantai.
“Gwaenchana?” tanya Siwon berhambur ke hadapan Min Ji, berlutut lalu membantunya berdiri. Min Ji mengangguk.
“Aku tidak apa-apa”
Siwon meneliti setiap inchi tubuh Min Ji. Takut ada yang terluka. Tapi semua baik-baik saja kecuali rambutnya yang berantakan. Siwon jadi merasa bersalah. Mendadak muncul perasaan yang mendesak dirinya untuk membalas perbuatan Chae Rin pada Min Ji.
“Tadi kenapa kau diam saja? Jika diperlakukan semena-mena begitu harusnya kamu melawan” tegur Siwon. Tangannya dengan cekatan merapikan rambut Min Ji.

Min Ji merasakan pipinya memanas. Ia sangat senang Siwon memperhatikannya.
“Bukan masalah besar. Biarkan saja”
“Memang ada masalah apa kau dengannya?”
Min Ji menatap wajah serius Siwon. Sedetik kemudian ia memalingkan wajah. Lagi-lagi rasa takut itu muncul.
“Aku hanya berpikir kalau aku ini tidak pantas ada di dekatmu” ujar Min Ji.
“Kenapa? Apa yang tidak pantas?” Siwon tidak paham.
“Diriku. Kau tidak lihat? Penampilanku lebih buruk dari bebek buruk rupa!”
Siwon tersenyum. “Hanya itu? Penampilan luar tidak penting. Semuanya bisa diubah”

Sekarang justru Min Ji yang tidak mengerti.
“Baik, akan kutunjukkan. Ikut aku!” Siwon menarik Min Ji pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Mereka masuk ke salah 1 butik langganan orangtua Siwon.
“Nah, di sini bebek buruk rupa akan di sihir menjadi putri yang sangat cantik” ucap Siwon sambil tersenyum. Min Ji kehabisan kata-kata. Ia terlalu kagum untuk mengutarakan isi hatinya. Gomawo.. Hanya kata itu yang terucap di hatinya.

Siwon menarik Min Ji ke hadapan cermin besar. Ia menatap Min Ji dari cermin. Min Ji tersipu karenanya. Siwon kemudian melepaskan kacamata yang dipakai Min Ji.
“Lihat, tanpa ini kau sangat cantik” puji Siwon jujur. Min Ji memang tampak berbeda tanpa kacamata.
“Sekarang coba baju sana”

Penjaga toko membantu Min Ji memilih baju. Setelah itu meminta Min Ji agar mencoba salah satunya. Pilihan Min Ji jatuh ke baju sackdress dengan bagian atas dikerut dan bagian roknya berbentuk ruffle yang indah.
Min Ji agak malu ketika menunjukkan dirinya pada Siwon. Tapi namja itu tersenyum cerah dan mengatakan dirinya cantik. Syukurlah.
“Em, kenapa kau juga ganti baju?” tanya Min Ji bingung. Baju seragam yang Siwon kenakan tadi kini berubah jadi celana jeans, kaus berwarna putih dan kemeja kotak-kotak. Siwon tidak berkata apa-apa. Masih dengan wajah cerianya dia menggandeng tangan Min Ji.
“Kita kencan hari ini. Oke”
“Mwo?” Min Ji kaget setengah mati. Namun ia tidak bisa menolaknya. Mana mungkin, ini kesempatan sekali seumur hidup.

__o0o__

Sepanjang sisa hari itu mereka bersenang-senang. Selayaknya pasangan yang berkencan. Sejenak Min Ji melupakan kenyataan bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Yang dirasakannya kini hanyalah kebahagiaan yang tidak terkira. Ia merasa waktu yang terbatas bukan masalah lagi jika ia bersama Siwon.

Begitupun Siwon. Ia merasa gembira. Rasa senang yang tidak pernah dirasakannya. Setiap Min Ji ada di sampingnya, ia seperti menemukan sesuatu yang sudah lama hilang. Mungkinkah ini cinta?

“Cita-citamu apa?” tanya Siwon saat mereka istirahat di taman. Mereka kini duduk di tepian kolam air mancur.
“Aku ingin jadi Pattisier profesional” jawab Min Ji lantang. Matanya bersinar-sinar saat mengutarakannya.
“Oh, pantas kamu rajin membuat kue” Siwon baru tahu. “Yah, semoga impianmu bisa terwujud”

Min Ji tidak menjawab. Hanya tersenyum lemah. Ia seperti menahan sesuatu. Namun Siwon tidak menyadarinya.

“Boleh aku minta 1 hal?” tanya Siwon lagi. Min Ji menoleh.
“Apa?”
“Di acara ulang tahunku nanti, kau harus datang. Aku mengundangmu sebagai tamu spesial”
Eh.. Min Ji terpaku dan terharu. Siwon mengundangnya? Lalu, apa yang mesti dipikirkan lagi? Tentu harus diterima.
“Baik. Gomawo sudah mengundangku” Min Ji tersenyum. “Aku pasti akan membuatkan kue ultah yang sangat spesial untukmu..”

Siwon mengangguk senang. Ia menarik tangan Min Ji, dan..
Chu~
Min Ji lagi-lagi mematung. Tuhan, katakan ini bukan mimpi! Karena saat ini Choi Siwon, namja yang disukainya sedang menciumnya. Mengecup lembut bibirnya. Omona.
“Aku benar-benar mengharapkan kehadiranmu. Kau harus datang. Araseo” tegas Siwon sekali lagi. Wajah Min Ji memerah dan debaran jantungnya tidak terkendali lagi.
“Saranghae Min Ji..” ucap Siwon. Min Ji terkejut lagi. Siwon menyukainya? Tuhan.. Apa yang harus dilakukannya? Apa yang harus diucapkannya? Ia takut, sangat takut.. Takut ia akan membuat Siwon menyesal telah mencintainya.

__o0o__

“Selesai!” seru Min Ji senang. Akhirnya ia berhasil menghias kue ultah untuk Siwon dengan cantik. Ia juga sudah menyiapkan kado untuk Siwon. Namun, saat akan bersiap-siap, mendadak rasa sakit itu muncul lagi. Kali ini lebih sakit. Tuhan, jangan sekarang.. Batin Min Ji.
Tangannya bergerak meraih botol obat di sakunya. Namun terlambat. Kesadarannya hilang dan akhirnya Min Ji ambruk di lantai dapur rumahnya.

Hari Ulang Tahun Siwon..

Pesta itu dilaksanakan di sebuah hotel mewah. Maklum, Siwon adalah putra tunggal seorang pengusaha kaya.
Semua tamu sudah hadir. Tinggal 1 orang.. Yeoja yang paling dinantinya belum juga muncul.
“Tunggu apa? Acaranya bentar lagi mulai” ujar Ryeowook
“Min Ji.. Dia belum datang” gumam Siwon cemas. Perhatiannya berkali-kali teralih ke jam tangan. Ini sudah terlalu terlambat..

Akhirnya sampai acara selesai pun Min Ji tidak kunjung datang juga. Siwon sangat sedih dan kecewa. Min Ji mengingkari janjinya..
Siwon memandangi cincin di tangannya. Padahal hari ini dia ingin memakaikannya di jari manis Min Ji dan mengumumkan kepada seluruh tamu yang hadir bahwa Min Ji adalah calon pendamping hidupnya. Namun semuanya berantakan karena ketidakhadiran Min Ji. Dan sialnya, Siwon tidak tahu alasannya.

__o0o__

Hari-hari berikutnya, sosok Min Ji tidak terlihat lagi di sekolah. Ia sudah bertanya pada Hye Neul, namun sahabatnya pun tidak tahu. Siwon sudah lebih dari 100 kali menelpon Min Ji. Namun tidak pernah dijawab. Siwon cemas. Sangat cemas.
Kenapa? Kenapa?

Siwon sangat merindukan gadis itu. Segala tentangnya membuatnya rindu. Lalu ditengah kebingungannya, ia justru mendengar kabar buruk.
Berita yang lebih mengejutkan daripada suara halilintar di siang bolong.

Shin Min Ji meninggal dunia..

Dunia serasa runtuh di sekitarnya. Dadanya bergemuruh cepat dan airmata tidak bisa ditahan lagi olehnya. Katakan ini bohong! Siapapun katakan ini hanya mimpi! Jika benar tolong bangunkan ia dari tidurnya segera.

Namun rupanya ini kenyataan yang teramat pahit untuk dirasakannya. Ketika tiba di rumah duka, ia melihat foto Min Ji di altar yang dipenuhi bunga dan lilin.

Siwon tidak sanggup berdiri lagi. Ia terduduk di depan altar Min Ji dan menangis. Batinnya berkecamuk oleh berbagai macam emosi. Kehilangan, sedih, marah, tidak percaya, dan kalut. Semuanya berbaur menjadi 1.
“Kenapa kamu pergi Min Ji.. Mengapa..?” tanya Siwon pada foto Min Ji dengan air mata berderai. Namun tidak ada jawaban. Tentu saja. Min Ji sudah pergi.

Hye Neul pun tampak sangat terpukul. Apalagi keluarganya. Kepergian Min Ji begitu memukul hati mereka. Dan Chae Rin, ia pun menangis di hari duka itu. Ia menyesal karena sempat mengasari Min Ji. Sungguh, ia ingin minta maaf namun tidak sempat..

Kenapa bisa terjadi.. Padahal Siwon tidak melihat tanda-tanda kalau Min Ji sakit atau semacamnya. Tapi umur tidak ada yang dapat menebaknya. Di saat dirinya merayakan hari bertambahnya usia, orang lain harus menutup usianya.. Min Ji.. Kau meninggalkanku tanpa menjawab pertanyaanku..

Apa kau mencintaiku juga?

*flashback end*

“Seandainya aku sadar saat itu bahwa kau adalah sebagian hidupku, aku tidak akan menyia-nyiakan waktuku bersamamu” lirih Siwon. Airmata kembali menggenangi pelupuk matanya.
Setetes airmata jatuh, segera Siwon menghapusnya. Ia harus merelakan kepergian Min Ji.
“Istirahatlah yang tenang di sana Min Ji. Aku mendoakanmu dari sini.” ucapnya dalam. Hatinya sakit. Namun ia harus tersenyum.
“Aku bahagia bisa mencintaimu.. Meski aku tidak tahu kau mencintaiku juga atau tidak”

Saat pulang, Siwon berpapasan dengan Hye Neul. Dia menyerahkan sepucuk surat dari Min Ji yang ditulis untuknya.
Siwon segera menambilnya.
Tanpa menunggu waktu, Siwon membuka surat itu dan membacanya.

_Dear Siwon_

Mungkin aku sudah tidak ada saat kamu membaca surat ini. Jujur saat aku mengenalmu, dunia baru yang bernama kebahagiaan dan harapan tercipta di depan mataku. Kamu datang dalam hidupku yang singkat dan memberiku mimpi indah.
Tapi, semua itu terbatasi oleh ketakutanku. Takut bahwa aku tidak akan bisa membalas semua kebaikan yang kamu beri. Dan aku takut membuat semua orang kecewa.
Terima kasih Choi Siwon karena kamu sudah mau mewarnai hari-hari terakhirku. Yang paling ku syukuri dari hidupku yang singkat ini adalah, aku diperkenalkan denganmu..
Dan ada 1 hal yang harus kuakui.. Aku mencintaimu.. Karena cinta inilah yang membuatku bahagia menjalani hari-hari terakhirku.. Terimakasih.. Hanya ini yang bisa ku ucapkan.

Dari yang mencintaimu,
_Shin Min Ji_

Siwon meneteskan airmata lagi. Hye Neul bisa mengerti perasaannya.
“Min Ji menderita penyakit kanker. Selama ini Min Ji menutupi penyakitnya karena takut menyusahkan orang-orang di sekitarnya..” ucap Hye Neul.
Siwon kaget.. Jadi Min Ji meninggal karena kanker?
“Min Ji selalu tampak gembira. Tapi siapa yang tahu dia menderita diam-diam” suara Hye Neul mulai serak. Dia pun menahan airmatanya.
Hal yang sama pun dirasakan Siwon. Selama mengenal Min Ji, dia selalu gembira dan tidak pernah marah. Siwon jadi ingat saat ia berharap Min Ji bisa mewujudkan mimpinya menjadi Pattisier, Min Ji hanya tersenyum. Apa saat itu dia yakin hidupnya tidak akan lama lagi?
“Min Ji ditemukan pingsan di dapur ketika sedang membuat kue untukmu. Tepat di hari ulangtahunmu..”

“Apa!” Siwon tercengang. Jadi.. Ini alasan kenapa ia tidak datang?
“Dan ketika di bawa ke rumah sakit, dokter bilang kankernya sudah stadium akhir.. Dia sempat koma beberapa hari sebelum akhirnya pergi.. Untuk selamanya” Hye Neul mulai terisak. Namun ia cepat menghapusnya.
“Kau tahu, sepertinya Min Ji menyukaimu. Kau bisa lihat kue yang dibuatnya untukmu..”

Siwon menerima kue yang di buat Min Ji untuknya. Kue ini masih bagus.
Yah.. Karena keluarganya menyimpan kue terakhir Min Ji di lemari pendingin sebelum akhirnya diserahkan pada Siwon.
Di atas kue itu, terdapat tulisan ‘I Love You, my lovely namja’..
Siwon tersenyum.. Ternyata Min Ji juga mencintainya. Baguslah. Hanya tahu itu pun ia sudah sangat senang.

Kemudian Siwon membuka kado untuknya dari Min Ji. Isinya sebuah jam berbentuk kalung. Siwon melihat ada sepucuk kertas di dasar kotak hadiah itu.

_Waktu yang mempertemukan kita, dan waktu pula yang akan memisahkan kita_

Selamanya, Min Ji tetap menjadi anugerah penting dalam hidup Siwon. Meskipun pertemuan mereka begitu singkat, tapi cinta yang dirasakannya akan abadi sampai akhir hayatnya nanti.

“I’m okay Min Ji.. Aku pasti akan merindukanmu, seperti jam ini.. Tiap menit dan detiknya.. Adalah waktu yang berharga untuk mengingatmu” gumam Siwon.

_End_

 

gimana, feelnya dapet gak????

After Wedding Story [Weird First Night]

Tittle : After Wedding Story // Weird First Night
Sequel : Would You Marry Me?
Author : Dha Khanzaki a.k.a shin Je Young
Genre : Romance
Length : Oneshoot

Main cast :
Shin Na Ra a.k.a Aira
Cho Kyuhyun

Ini adalah sekuel dari cerita Kyuhyun-Aira yang Would You Marry Me?. ada yang udah baca??? hmmm..kalau belum sebaiknya baca dulu deh.. hehehhe…
Maaf untuk typo atau semacamnya. Happy reading

After Wedding Story - Weird First Night by Dha Khanzaki

—————–0.0————–

*Author POV*
Pesta pernikahan yang panjang itu akhirnya selesai juga. Tamu-tamu sebagian besar telah pulang dan menyisakan tempat pesta yang berantakan.

“Oppa, tunggu!” seseorang berteriak memanggil namja yang berjalan mendahuluinya. Aira mendengus menatap punggung pria bertuxedo hitam yang berjalan di depannya. Apa dia tuli? Teriakannya yang keras itu tidak digubrisnya sama sekali. Ia berjalan lebih cepat dengan mengangkat gaun pengantinnya. Sementara Kyuhyun, sang suami berjalan lebih dulu. Ia sudah terlalu capek.
Tadi pagi baru saja berlangsung pernikahan sakral keduanya. Mereka menikah karena di jodohkan, namun bukan berarti tidak ada cinta di antara mereka. Mereka saling mencintai, tentu saja.
“Aish, Oppa.. Kau jahat!” sekali lagi Aira merengek berharap Kyuhyun berhenti. Tapi ia terus berjalan sampai akhirnya berhenti di depan tangga villa mewah milik kakek Aira itu.
“Waeyo? Kau lambat sekali!” Kyuhyun mengomel dengan wajah agak jengkel. Aira berhenti tepat di hadapannya, ekspresinya pun tak kalah kesal.
“Mwo? Lambat? Oppa pikir jalan dengan memakai gaun seberat ini gampang apa? Mana ekornya panjang lagi!” keluh Aira sambil mengelap keringat di dahinya. Kyuhyun menahan senyum melihat wajah sebal Aira. sebenarnya ia pura-pura tuli tadi, ia senang sekali mengerjai istrinya ini. Ekspresi sebalnya, Menurutnya itu sangat lucu.
“Mana high heels ini lagi! Kakiku sakit sekali rasanya!” Aira melepas high heels yang dipakainya dan melemparnya sembarangan.
Kyuhyun terbelalak kaget. “Ya! Kenapa kau lempar?” Kyuhyun tidak mengerti, mengapa di dunia ini ada yeoja yang benci pada high heels.
“Aku tidak mau pakai itulagi!”
Kyuhyun menghela napas. “Araseo. Terserah kau” Kyuhyun mulai menaiki tangga. Tapi ia berhenti lagi karena Aira tidak kunjung naik.
“Wae? Ayolah Ai-chan, sekarang apa lagi?”

Aira memandang anak tangga yang begitu banyak di hadapannya. Ia menelan ludah. Bagaimana mungkin ia naik dengan baju seberat ini? Lagipula kenapa kamar mereka harus ada di lantai atas? Kyuhyun seolah bisa membaca pikiran istrinya itu, lantas turun dan menggendong Aira ala bridal. Gadis itu terkesiap.
“Omo, Oppa, apa yang kau lakukan? Turunkan aku! Aku bisa sendiri!” pinta Aira. Kyuhyun menggeleng.
“Shireo. Dengan gaun seperti ini kau pasti kesulitan naik tangga. Jadi biarkan aku menggendongmu sampai atas sana. Oke!”
“Tapi..” Aira ragu.
“tapi apa?”
“Orang-orang memperhatikan kita, oppa” lirih Aira. villa itu memang belum sepenuhnya sepi. Masih banyak orang-orang yang hilir mudik di sekitar mereka sedang membereskan sisa pesta yang berantakan. Daritadi mereka senyam senyum memperhatikan pengantin baru itu. Kyuhyun melengos santai.
“Jangan pedulikan. Lagipula apa salahnya jika aku ingin menggendong pengantinnya ke kamar” ucap Kyuhyun sambil tersenyum evil.

Aira mengangguk pelan. Lalu ia melingkarkan kedua tangannya ke leher Kyuhyun. Perlahan Kyuhyun mulai menjajaki tangga menuju ke lantai atas.
“Oppa, kau tidak berat menggendongku sambil menaiki tangga begini” batin Aira sambil menatap wajah Kyuhyun yang jaraknya begitu dekat. Dari ekspresinya dia tidak terlihat keberatan. Aira mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di bahu Kyuhyun. ia merasa senang sekali sudah diperlakukan begitu istimewa oleh suaminya ini.
“Oppa, saranghae..” bisiknya lembut. Kyuhyun tersenyum.
“Ai-chan..” Kyuhyun memanggilnya.
“Hmm?” tanya Aira seraya mengangkat wajahnya. Kyuhyun langsung mengecup bibir Aira cepat dan tersenyum evil. Gadis itu kembali terkesiap. Jantungnya berdebar kencang dan ia mematung. Matanya fokus menatap wajah tampan suaminya yang tersenyum manis.
“Turun” ucapnya cepat. Aira yang masih kaget belum bisa berpikir jernih karena Kyuhyun menciumnya. Tiba-tiba saja dan tanpa persiapan lebih dulu, Kyuhyun menurunkannya, membuat Aira terhuyung dan jatuh di lantai marmer yang dingin.
“Appo..” Aira meringis kesakitan. Secepat kilat ia menatap Kyuhyun yang hampir masuk ke kamar mereka dengan wajah kesal.
“Ya! Oppa! Kenapa kau menurunkanku dengan kasar? Aduh, pinggangku sakit.” Aira berusaha bangkit. Kyuhyun menoleh, ia lalu meringis sambil merenggangkan tubuhnya.
“Ah, kau kira aku tidak pegal? Kau tahu, pinggangku hampir remuk rasanya. Menggendongmu dari atas sampai sini” ucapnya dengan wajah polos. Lalu masuk dan meninggalkannya di luar. Membuat Aira tercengang.
“Omo, Oppa.. Kau meninggalkanku lagi!” Aira mengejarnya dan masuk ke kamar mereka.

“Ah, lelahnya!” seru Kyuhyun lalu menghempaskan dirinya di kasur empuk. Sementara Aira bingung, apa yang akan mereka lakukan setelah ini? Apa langsung tidur saja? Kyuhyun mengangkat kepalanya dan menyadari Aira masih berdiri.
“Ai-chan, Kenapa berdiri di situ? Ayo sini!” pinta Kyuhyun sambil menepuk tempat di sebelahnya. Dari tadi Aira hanya diam di dekat sofa. gadis itu gugup, ia mengusap lengannya.
“Aku juga capek. Mungkin lebih baik aku mandi dulu.” Aira mengambil handuk yang ada di dekat kamar mandi. Kyuhyun bangkit.
“Mwo, lalu aku? Kalau begitu kita mandi bersama saja. ah, itu usul yang bagus!” ucapnya bercanda. Seperti dugaannya, Aira yang polos wajahnya langsung memerah dan ia panik.

“kyaa.. Dasar namja mesum!” teriaknya. Aira segera berlari ke kamar mandi. Kyuhyun tertawa. Padahal ia hanya bercanda. Tapi Aira panik tidak jelas begitu.
Tok tok tok
tawanya terhenti saat ia mendengar ada yg mengetuk pintu. Kyuhyun bangkit lalu membuka pintu.
“Kyuhyunnie..” Kyuhyun mengerjap ketika melihat wajah ceria Ummanya di balik pintu.
“Umma, wae?”
Umma tersenyum cerah. Agak mencurigakan sih. “Umma bawakan susu hangat untuk kalian. Diminum ya” Ujar Umma sambil memberikan nampan berisi 2 gelas susu.
“Oh, ne. Gomawo” Kyuhyun mengambilnya tanpa rasa curiga sedikitpun.
“Mana Aira?” Umma bertanya karena Aira tidak terlihat di belakang Kyuhyun. namja itu menoleh ke belakang, tepat ke dalam kamarnya lalu kembali menoleh ke arah ibunya.
“Dia sedang mandi”
“Oh” umma mengangguk pelan. Ia lalu tersenyum aneh pada Kyuhyun.
“Ne, setelah ini kamu harus ‘bekerja keras’ membuat cucu untuk Umma. Araseo”

Kyuhyun mengerjap. Wajahnya memerah pelan dan ia menggaruk kepalanya.
“Mungkin. ah, maka dari itu Umma jangan mengangguku dan Aira lagi!” nada bicara Kyuhyun jadi tinggi
“Arra. Kalau begitu, selamat bersenang-senang” ledek Umma seraya pergi. Kyuhyun berdecak jengkel. Ini menyebalkan!

30 menit kemudian..

Aira dan Kyuhyun sama2 sudah mandi. Kini mereka bingung harus ngapain #aduh, pabo.. Ya ‘itu’ dong..#plak! Author ditabok readers

“Apa yang akan kita lakukan sekarang? Tidur?” tanya Aira sambil menyisir rambutnya di depan meja rias. Ia melirik Kyuhyun yang asyik bermain game di laptopnya sambil tiduran di tempat tidur. di tanya seperti itu seketika terlintas ide dalam otak cemerlang Kyuhyun.
“Em, bagaimana kalau kita tanding main game lagi!” seru Kyuhyun sambil bangkit dan duduk di tempat tidur.
“Game? Kau kan sudah kalah melawanku Oppa!” ucap Aira dengan nada meledek.
Kyuhyun teringat insiden itu. tapi kali ini ia tidak akan mengalah. Skillnya sudah di asah sejak hari kekalahan waktu itu. “Ya! Aku kalah karena kau curang! Sekarang tidak akan terjadi lagi!” tekat Kyuhyun
“Tapi tidak ada PS3 di sini” ucap Aira sambil menatap sekeliling.
“Ah, kau benar” Kyuhyun berpikir sambil menggaruk kepalanya.

“Bagaimana kalau main kartu?” tawar Aira. Ia mengeluarkan kartu remi dari dalam laci meja rias. Kyuhyun tersenyum simpul.
“Ayo! Kali ini apa hukumannya untuk yang kalah?”
“Di jitak di kepala!” seru Aira. Kyuhyun pun merasa ide itu sangat bagus.
“Deal. Dan yang kalah harus menurut pada pemenang. Oke!”
“Ayo! Siapa takut!” Aira naik ke atas kasur untuk bermain kartu #first night yang aneh-_-

Sementara itu di luar kamar Kyu Ra.
Umma diam-diam mengendap-endap ke depan pintu kamar pengantin putranya. Ia menempelkan kuping pada daun pintu untuk mendengar kira-kira apa yang terjadi di dalam sana.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Appa penasaran melihat tingkah istrinya. Umma buru-buru menyuruh Appa diam.
“Sssttt, aku hanya ingin tahu mereka sedang apa di dalam” bisik Umma pelan. Appa yang penasaran jadi ikut menguping. #ortu aneh!

“KYAAA.. OPPA SAKIITT!!!”

Umma dan Appa terkejut mendengarnya. Mereka menegang dan saling pandang dengan ekspresi sulit dibayangkan. Umma tampak paling panik dan khawatir.
“Waeyo? Kyuhyun, jangan terlalu ganas, Kasihan Aira..” lirih Umma pelan sambil menggigit jari. Appa mendesah sambil geleng-geleng kepala, memaklumi.
“Namanya juga malam pertama. Jadi pasti begini..” balas Appa dengan suara pelan juga.

“APPO!! Apa tidak bisa pelan-pelan!!” suara teriakan Aira terdengar lagi. Mereka makin menegang. Appa dan Umma makin menempelkan telinga di daun pintu agar bisa mendengar lebih jelas lagi.
“Aku sudah pelan-pelan! Kau saja yang amatir!” kali ini suara Kyuhyun terdengar.

Umma merasa amat bersalah, ia panik sendiri dengan kesimpulan yang di ambilnya. “Ini salah Umma karena sudah memasukkan obat perangsang ke minuman mereka. Bagaimana ini Appa?” Umma jadi cemas. Appa mengibaskan tangannya.
“Sudahlah. Biarkan mereka. Sekarang ayo pergi” Appa mengajak Umma pergi meninggalkan kamar pengantin itu.

Sementara itu, yang sesungguhnya terjadi di dalam kamar..

“Appo..” Aira memegang kepalanya yang berdenyut sakit karena 2 kali dijitak Kyuhyun. Sementara sang pelaku tersenyum puas. Akhirnya bisa menang juga. ia merasa dendamnya selama ini sudah terbalas.
“Siapa suruh kau kalah! Baiklah, jika sekarang kau salah ambil kartu lagi, kau resmi kalah, Ai-chan!” Kyuhyun mengeluarkan evil-smirknya. Aira membenarkan posisi duduknya dan bersiap mencabut satu kartu yang ada di tangan Kyu. Kyuhyun menegang. Gawat, Aira akan mengambil kartu yang benar #Author gak ngerti permainan kartu# ia harus berbuat licik, balas dendam. Sama seperti yang Aira lakukan waktu itu.
“Ai-chan, Aku ingin bertanya” Aira menghentikan tangannya, lalu menatap Kyuhyun.
“Ya! Oppa ingin berbuat licik padaku?” Aira menyipitkan mata curiga.
“Ani. Aku hanya ingin bertanya” Kyuhyun memperlihatkan wajah polosnya agar Aira tidak curiga. Benar saja, istrinya itu mengendikkan bahu lalu kembali menatap kartu yang dipegangnya.

“Ne, tanya apa?” Aira tetap akan mencabut satu kartu. Aah, harus dicegah!
“Kapan pertama kali kita ciuman?” tanya Kyuhyun buru-buru. ia mengusahakan agar suaranya terdengar normal.
Aira menjawabnya tanpa berpikir. “Em, waktu dimeja makan..” Kyuhyun menyeringai saat Aira tampak berpikir dan tidak fokus. Diam-diam ia menukar kartu yang akan dicabut Aira.
“Salah! Tapi di kamar Nuna!”
“MWO!!” Aira berteriak kaget. Ia mencabut kartu dan melihatnya. Saat mengetahui ia mencabut kartu yang salah, Ia berteriak histeris. “Andwae!!!!!”

Kyuhyun tertawa sepuas-puasnya hingga bergulingan di atas tempat tidur. “Hahaha, kau kalah Nyonya Cho! Rasakan!”
“Aish!!” Aira melempar kartu di tangannya ke sembarang arah. Ia lalu menatap Kyuhyun yang tertawa dengan tatapan tajam. Sekarang ia menuntut penjelasan atas apa yang didengarnya tadi.
“Ya! Oppa! Apa maksudmu tadi? Kita berciuman pertama kali dikamar Ahra Eonni? Kapan! Aku tidak ingat! Kau berbohong kan!” protes Aira dengan tangan menunjuk Kyuhyun. Namja itu berhenti tertawa.
“Aku tidak bohong! Dan kau yang menciumku duluan!”
“MWOYA!” Pekik Aira

Kyuhyun mengangguk lantas mendekati Aira. Gadis itu agak panik ketika Kyuhyun bergerak merangkak ke atas tubuhnya dan membuat Aira jatuh lembut ke kasur. Kyuhyun menopang tubuhnya dengan tangan agar tidak menindih Aira. jantung Aira bertalu-talu cepat. Apalagi bibir Kyuhyun memamerkan senyum mautnya. Ia yakin ia bisa pingsan kapan saja jika terus melihat senyum itu.
“Kau tahu, bibirmu ini mencium bibirku entah kau sadar atau tidak” Ucap Kyuhyun sambil menyentuh bibir Aira dengan ujung jarinya. Aira menelan ludah. Pikirannya berputar-putar cepat. Apakah ini saatnya? Apalagi setelah melihat senyum seduktif di wajah Kyuhyun.
“Aku tidak ingat, Oppa..” jawab Aira gugup.
“Mau ku ingatkan?” tanyanya nakal. Mata Aira membulat.
“Oppa, kau~*chu*” kalimat Aira terhenti karena Kyuhyun mengunci bibir Aira dengan bibirnya, mengecupnya penuh nafsu dan gairah. Aira tidak bisa menolak. Karena Kyuhyun sudah menahan tangan Aira dengan tangannya.
“Emh..” Aira mendesah di sela ciuman mereka. Lumatan Kyuhyun semakin liar, lidahnya memaksa masuk kedalam mulut Aira yang masih terkatup. Sadar akan hal itu, Aira membuka mulutnya dan membiarkan lidah Kyuhyun bermain di dalam mulutnya. Entah berapa lama Kyuhyun melumat bibir Aira, hingga keduanya hampir kehabisan nafas.

“Emh, Oppa, sesaakh..” racau Aira. Kyuhyun tersadar dan melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Aira. Nafasnya pun sudah terengah-engah.
“Akhu.. Inghat.. Ko.. Oppha..” kata-kata Aira terbata karena nafasnya yang hampir habis.
Kyu tersenyum. “bagus jika kau ingat” ia lalu bangkit dan duduk di tepi ranjang. Sesaat ia terdiam. Omo, tadi apa yang dilakukannya? Jantungnya berdegup kencang dan ia merasa bagian bawahnya mulai sesak. lebih baik ia segera menghentikan semua ini!

Aira pun ikut bangkit. Ia menatap punggung Kyuhyun dengan wajah bingung. Tadi.. Rasanya ada yang aneh dengan hatinya. Perasaan aneh menyerangnya dalam sekejap. Alisnya bertautan bingung.
“Oppa, memang malam itu kita berciuman seperti tadi?” tanya Aira polos. Kyuhyun menoleh.
“Tentu saja tidak!” tegasnya. Ia kembali mendekati Aira, tepatnya mendekati wajah gadis itu seperti akan membisikkan sesuatu.
“Tadi lebih ‘panas’ dari malam itu” bisiknya di telinga Aira dan membuat gadis itu bergidik. Bagian itu memang titik sensitif di tubuhnya.
“Benarkah? Ah, Oppa kau ini!” Aira cemberut sambil mencubit pipi Kyuhyun. ia tahu tadi Kyuhyun hanya memanfaatkan kesempatan saja. dan ia dengan bodohnya terjebak dengan perangkap yang sudah dibuat Kyuhyun, aigoo..

“Auch.. Sakit Ai-chan!” erang Kyuhyun. Pipinya mulai kemerahan karena cubitan Aira.
“Siapa suruh tadi main serobot!”
“Ya! Kau kan kalah tadi. Yang kalah harus menuruti semua perintah yang menang”
“So?” Aira malah menantang. Ia mengangkat kepalanya dengan pose angkuh. Kyuhyun menyeringai.
“Kita..’itu’ yuk sekarang.. Kita kan sudah menikah. Jadi..” ujar Kyuhyun diiringi senyuman nakal di wajahnya. Otomatis muka Aira memerah sampai telinga. Ia tidak menjawab, malah menutupi wajahnya dengan bantal. Reaksi Aira itu ternyata membuat Kyuhyun tertawa. Ia tahu istrinya itu sangat polos. Ia lalu bangkit dan merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku.
“Ah, hausnya.. Ai-chan, kau mau susu? Tadi Umma membawakannya untuk kita” Kyuhyun beranjak mengambil dua gelas susu dan menyerahkan satu pada Aira.
“Gomawo..” Aira mengambilnya dan keduanya minum bersamaan.
#Author ga mau tanggung jawab kalo terjadi sesuatu. Coz tu susu udah diapa-apain ama Umma’y Kyu.

“Ah, mashita!” seru Aira. Gelasnya sudah kosong. Dan Kyuhyun pun sudah menghabiskan minumannya.
“Kajja, kita tidur. Aku sudah capek” Kyuhyun beranjak ke tempat tidur. Aira bingung menatap Kyuhyun bingung.
“Loh, kita tidak…” tanya Aira tertahan. Kyuhyun menatapnya curiga.
“Kau mau?”
Aira menggeleng cepat dengan tingkah canggung. “Ani. Lupakan!” Aira menarik selimut kemudian berbaring. Kyuhyun tersenyum, ia ikut merebahkan diri di samping Aira dan tangannya terulur memeluk Aira dari samping kemudian memejamkan mata. Ia makin mendekatkan tubuh Aira dengannya, memangkas jarak yang ada di antara keduanya. Kyuhyun tersenyum samar saat ia merasakan punggung Aira yang hangat menempel di dadanya.
“Aku juga ingin, chagi. Tapi jika kau belum siap tidak apa-apa” bisiknya di telinga Aira. gadis itu tersenyum lalu membalikkan badannya, menatap wajah Kyuhyun yang sudah terpejam.
“Gomawo, Oppa” gumamnya lalu balas memeluk Kyuhyun. Ia menutup matanya sambil menempelkan kepalanya ke dada Kyuhyun yang hangat.

—o0o—

Aira sudah terlelap tapi tidak dengan Kyuhyun. namja itu masih terjaga karena merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia bangkit dan kepalanya mengedar ke sekeliling kamar yang remang-remang. Kenapa rasanya panas sekali? Apa AC di kamar ini rusak? Tangannya terulur mengambil remote AC dan merendahkan suhunya. Tapi rasa panas ini tidak kunjung hilang.
“Aish, ada apa denganku!” keluhnya. Badannya mulai berkeringat. Ia membuka bajunya hingga ia topless. Tapi tetap panas. Ah, mendadak ia ingat pada susu yang diberikan Ummanya. Pasti dicampurkan sesuatu oleh Ummanya. wajar, Umman jahil juga seperti dirinya. Ia tersenyum tipis saat menyadarinya. Oh, sialnya, ternyata ia dijahili oleh Umma sendiri. Ia melirik pada Aira. Istrinya itu juga tampak berkeringat dan tidurnya tidak tenang. Mwo? Apa Aira juga merasakan hal yang sama?
“Mmh.. Panas..” racaunya.

Kyuhyun menelan ludah. Mendadak ia merasakan Aliran darahnya mengalir deras. Apalagi Aira mulai mendesah tidak karuan dan membuka piyamanya sendiri di alam bawah sadarnya. Ia panik karena tanpa sengaja melihat pemandangan ‘indah’ di hadapannya.
“Ya! Apa yang kau lakukan Ai-chan!” cerocos Kyuhyun sambil menutupi tubuh Aira dengan selimut. Kyuhyun merasa kesadarannya mulai berkurang. Ia melihat Aira sekali lagi, Rasanya ia ingin sekali menyentuhnya. Umma, ini semua salahmu Dan Ai-chan, mianhae, aku sudah tidak kuat. Batinnya.
#apa yang terjadi selanjutnya? Hanya Tuhan dan Author yang tahu^_^

—o0o—
Paginya, Aira terbangun karena mendengar suara kicauan burung dari luar jendela. Ia mendudukkan dirinya di atas tempat tidur dengan mata memicing mencoba menyesuaikan dengan keadaan sekitar yang sudah terang benderang. Ia merasa ada yang aneh. Kepala terasa pening dan ia merasa dirinya begitu ringan. Apa yang terjadi semalam? Rasanya ada sesuatu yang nyaman..
Ia memegang kepalanya yang masih terasa berdenyut-denyut. Ia menyibakkan selimut dan hendak turun dari tempat tidur, tapi betapa terkejutnya Aira ketika sadar ia tidak memakai baju sehelai pun!!
“Ah! What’s happen!” serunya kaget. Antara bingung dan takut. Ia menoleh pada Kyuhyun yang tertidur pulas di sampingnya. Ragu-ragu dan takut ia menyibakkan sedikit selimut yang menutupi tubuh suaminya itu. Ia mengerjap dan tangannya bergetar kala melihat Kyuhyun pun dalam keadaan serupa. Kepalanya mengedar ke sekitar dan ia melihat pakaiannya dan Kyuhyun berserakan di lantai. Otaknya bekerja dengan cepat! Jangan-jangan mereka semalam.
“Kyaaa!! Eotteohke!!” teriak Aira panik dan mampu membuat Kyuhyun terbangun.
“Kenapa pagi-pagi berteriak Ai-chan..” lirihnya masih setengah sadar. Ia bangun sambil memegang kepalanya yang juga pusing. Aira menoleh cepat pada suaminya.
“Ya! Oppa, apa yang kau lakukan padaku semalam!” cecar Aira sambil menutup badannya dengan selimut. Kyuhyun menguap sebentar sebelum menjawab.
“Apalagi? Yang seharusnya terjadi..” gumamnya linglung. Ia juga sebenarnya tidak ingat. Tapi melihat keadaan sekarang sepertinya memang terjadi sesuatu semalam.

Aira terdiam. Lebih tepatnya tercengang. Melihat kondisinya, membuat Kyuhyun merasa bersalah.
“Mianhae, Ai-chan. Apa Aku salah?” Kyuhyun mendekat lalu memeluk Aira. gadis itu menggeleng dalam pelukan Kyuhyun.
“Ani, seharusnya aku yang meminta maaf. Aku seharusnya tahu kewajibanku. Tapi aku malah tidur jadi Oppa. Mianhae.” Aira menangis. Kyuhyun merasakan airmata Aira menetes hangat di dadanya. Kyuhyun mengangkat wajah Aira hingga mendongak ke arahnya.
“Uljima..” Kyuhyun menghapus airmata Aira. Perlahan Aira tersenyum.
“Kenapa tersenyum?”
“Aku tidak bisa membayangkan kejadian semalam. Oppa, kau benar-benar melakukannya padaku? Tapi kenapa aku tidak merasakannya?”

Kyuhyun tersentak. Yah, ia juga sebenarnya tidak ingat melakukannya atau tidak. Mereka tidak memakai baju sama sekali bukan berarti melakukannya kan?
“Wajar kau tidak merasakannya. Kau kan tertidur pulas” ucap Kyuhyun. Ya ampun, apa yang dikatakannya? Seolah ia benar-benar melakukannya. #hadoh, ampun deh ni pasangan#
Aira terbelalak. “Mwo? Serius? Umm..” Aira tampak kecewa. Kyuhyun jadi gemas melihat ekspresinya. Tangannya bergerak mengacak-acak rambutnya.
“Aish! Oppa! Kau ini..” Aira bermaksud menyingkirkan tangan Kyuhyun tapi malah membuat tangan Kyuhyun tertarik. Otomatis tubuh Kyuhyun terjatuh dan menimpa tubuh Aira LAGI!! Aira tidak bisa bergerak, takut bergerak. Badannya seolah membeku.
“Omo..” Jantung Aira berdebar kencang. Ia sangat gugup karena jarak wajah Kyuhyun dengan wajahnya sangat dekat. Bahkan hidung mereka saling bersentuhan. Tuhan.. Situasi ini bisa membuat jantungku mati! Batin Aira.

Kyuhyun tersenyum, sesungguhnya ia sangat senang dengan posisi ini. Ia bisa menatap mata Aira langsung karena jarak yang sangat dekat.
“Kau sengaja, yeobo?” tanyanya dengan nada menggoda. Aira makin gugup. Ia melirikkan mata ke arah lain. wajahnya pasti sudah memerah.
“Ani. Aku tidak sengaja. Sungguh..” Aira gelagapan. Matanya masih tidak mau menatap Kyuhyun.
“Hei.. Lihat mataku” pinta Kyuhyun sambil memegang dagu Aira. Ada sengatan listrik menjalar pelan melalui pembuluh darahnya saat matanya menatap mata Kyuhyun.
“Karena kita sama-sama tidak ingat kejadian semalam, bagaimana jika kita ulangi pagi ini?” ucap Kyuhyun pelan tapi jelas terdengar di telinga Aira.

Mata Aira membulat. Tapi bibirnya tidak mampu mengatakan apapun. Sebelum ia sempat menjawab, Kyuhyun mengecup bibir Aira cepat. Membuat Aira makin tak berdaya dan mulutnya bungkam sama sekali.
“Bagaimana?” tanya Kyuhyun lagi setelahnya sambil memainkan helai rambut Aira.

Eotteohke.. Apa yang harus di jawabnya? Aira menelan ludah, ia juga ingin, Tapi malu mengatakannya. Mana sanggup ia menolak setelah melihat ekspresi Kyuhyun yang sangat mempesona. Seperti sekarang.
“Ta-tapi Oppa, memang kau tidak ada jadwal hari ini?” tanya Aira gugup, mencoba mengalihkan pembicaraan. Kyuhyun tersenyum tanpa melihat jam.

“Tenang, jadwalku kosong sampai jam satu siang nanti. Jadi kita ada waktu bermain sekitar, Em, 5 jam?? Bagaimana?” hasrat Kyuhyun sepertinya sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi.
Aira pun mulai terangsang ketika tangan Kyuhyun bergerak membelai bagian belakang telinganya. Bagaimana ia tahu kalau itu salah satu titik rangsangnya?
“Emh.. Oppa.. I don’t know..” Aira mulai mendesah. Kyuhyun tersenyum senang mendengar desahan Aira. Sepertinya Aira juga sudah siap.. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Aira.
“oke baby, let’s do it” ucapnya lembut sambil sesekali meniup pelan telinga Aira. Dan itu berhasil membuat Aira makin mabuk kepayang.
“Yes.. Up to you honey..” jawab Aira yang sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Otaknya seolah lumpuh tak berdaya. Senyum lebar makin tersemat di bibir Kyuhyun. “Ok! It’s time for our game!!” seru Kyuhyun senang. ia melirik Aira sekali lagi dengan sorot menyala-nyala. “Dan Nyonya Cho, aku tidak akan berhenti sebelum aku berhasil membuatmu hamil!!”
“MWORAGO!!!” pekik Aira super kaget. Pandangan Kyuhyun terhadapnya mulai menggila, matanya penuh hasrat yang menyala-nyala seperti harimau lapar yang menemukan daging segar untuk dimakan. Lalu…

“Cho Kyu—mmmmppptt”

_selesai_

How To Make You Jealous

Tittle : How To Make You Jealous
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Married Life, Romance
Length : Oneshoot

Main Cast :

  • Han Ji Jae
  • Lee Donghae

Support Cast :

  • Jessica Jung

Heheh.. ini sebenarnya FF special ultah abang Donghae. tapi telat gini postingnya *telat banget malah*
Maaf untuk typo dan maaf juga kalau feelnya gak dapet.

Happy Reading

How To Make You Jealous by Dha Khanzaki

———–0.0————-

*Donghae POV*

 

Orang sering mengatakan kehidupan setelah menikah itu adalah moment-moment paling membahagiakan dalam hidup seseorang. Tapi sepertinya itu tidak berlaku untukku.

 

Aku sudah menikah? Tentu saja. meskipun usiaku baru 25 tahun, aku muda, tampan dan sukses. Gadis mana yang tidak mau menikah denganku. Hanya gadis bodoh yang menolak lamaranku. Dan hanya ada satu wanita di dunia ini yang beruntung bisa menikah denganku. Namanya.. Han Ji Jae..

 

Dan seperti pagi-pagi sebelumnya, hari ini pun dia membangunkanku dengan cara yang tak biasa..
Chuupp..

 

Yah, beruntungnya aku. Setiap pagi Han Ji selalu memberiku morning kiss meskipun aku tidak pernah memintanya.

“Oppa, bangun..” tangannya membelai pipiku lembut. Aku menggeliat pelan. Mataku terbuka perlahan. Dan pemandangan pertama yang kulihat adalah wajah Han Ji yang tersenyum manis.

“Pagi..” ucapku pelan. Aku beringsut bangun lalu tersenyum padanya.

“sekarang sudah hampir siang. Oppa tidak pergi ke kantor?”

Kepalaku tertoleh pada jam weker di sisi tempat tidur. ah, sial. Sudah jam 8. Appa pasti akan memarahiku..

“Baiklah istriku..sepertinya kau berniat mengusirku dari rumah” candaku. Dia mendelik. Aish, tahukah kalian. Aku suka sekali saat dia menyipitkan matanya seperti itu. Dia sangat cantik saat merajuk seperti itu. Aku jamin, beberapa detik lagi dia pasti akan tersenyum dan bermanja-manja kembali..

“Oppa.. kau lucu sekali..” dia tersenyum lalu mencubit pipiku. “Aku memang mengusirmu..”

Setelah itu dia bangkit dan meninggalkanku.

 

Aku menghela napas berat. 2 tahun sudah aku resmi menjadi suaminya. tapi ada satu hal yang tidak aku mengerti dari istriku. Kepribadiannya.

 

Han Ji itu adalah tipe gadis yang baik, ceria, dan tidak pernah marah. Ingat, TIDAK PERNAH MARAH. Sejak aku mengenalnya—tepatnya 3 tahun yang lalu—aku tidak pernah sekalipun melihatnya berteriak marah. Aku melakukan kesalahan seperti apapun, dia tetap bisa tersenyum dan memaafkanku. Aku jadi ragu.. apa benar Han Ji mencintaiku?

 

Bahkan aku tidak pernah melihatnya cemburu. Sekalipun dia sering memergokiku sedang bersama yeoja lain..

 

—o0o—

 

Setelah selesai bersiap-siap, aku segera menuju dapur untuk sarapan bersama. Yah, bisa kutebak apa menu sarapan kali ini. Seperti biasa, pasti hanya telur goreng dan roti. Hanya itu yang bisa Han Ji siapkan. Tapi tidak masalah. Aku tetap mencintainya. Baru saja menginjakkan kaki di ruang makan,  aku mendapati Han Ji sedang menelepon seseorang.

 

“Iya Appa..jadi jangan marahi menantumu, ok. Hari ini dia akan da—hei!!!”

Aku segera saja mengambil ponsel dari telinganya. Dia ini kebiasaan. Jika aku membuat masalah pasti segera merengek pada Appanya agar tidak memarahiku. Aku tidak suka. Jika aku berbuat salah wajar saja jika Appa—mertuaku—menegurku. Harusnya ia biarkan ini terjadi agar aku bisa bekerja dengan tenang. apa dia tidak tahu bagaimana pegawai kantor menyikapi sikap Appa padaku? Mereka menyangka aku bisa bekerja santai karena Presdir mereka adalah ayah dari istriku. Dengan kata lain, nepotisme.

“Oppa..” rengeknya sambil berusaha merebut ponsel.

“Ya! Sudah berapa kali kubilang.. jangan melakukan itu. Kau ini..” dengusku.

“Tapi aku tidak mau kalau Appa sampai memarahimu. Kau ini tidak tahu betapa menyeramkannya Appa jika sudah marah.”

 

Aish, lihat sekarang.. dia malah mengerucutkan bibirnya. harusnya kan aku yang kesal. Huh.. bikin gemas saja. langsung saja kucium bibirnya yang lucu itu. Seketika pipinya merona kemerahan. Hihi.. padahal aku sering melakukannya kenapa dia masih malu-malu begini juga?

“Maka dari itu jangan berbuat aneh-aneh. Aku berbuat salah kenapa tidak di marahi. Kau tahu apa tanggapan orang lain?”

Han Ji menggeleng.

“Mereka menganggapku seenaknya. Sudah, aku berangkat sekarang. Sekarang lebih dari terlambat..” aku melirik jam. Sial, aku harus mengebut sekarang juga.

 

“Oppa, kau tidak makan???” teriak Han Ji saat aku berjalan cepat menuju pintu.

“Tidak, chagi. Aku akan makan di kantor saja..” balas ku berteriak.

 

—o0o—

 

“Kau yakin? Masih tidak ada perubahan juga?” tanya Jessica. Aku mendesah sambil menggelengkan kepala.

 

Sekarang adalah jam makan siang dan aku selalu bertemu dengan Jessica seperti biasanya. Jangan berpikir Jessica adalah selingkuhanku. Separuhnya memang benar. Tapi aku hanya meminta gadis ini menjadi selingkuhanku—hanya pura-pura—karena aku ingin tahu isi hati Han Ji yang sesungguhnya. Jessica adalah sahabatku yang sudah lama tinggal di luar negeri. Namun tahun lalu ia kembali ke Korea. Dan saat itulah aku meminta bantuannya untuk menjadi ‘teman’ ku. Tujuanku hanya satu. membuat Han Ji cemburu atau marah. Ku harap berhasil. Karena dengan begitu, aku bisa tahu Han Ji mencintaiku.

 

Tapi sejauh ini, setiap kali melihat aku bersama Jessica, Hanji tidak pernah menunjukkan ekspresi cemburu ataupun marah. Ini membuatku pusing dan lemas. Sepertinya Han Ji memang tidak mencintaiku.

 

“Kau yakin masih ingin melanjutkan sandiwara kita? Sebagai sesama wanita, aku tidak tega melakukan ini pada istrimu.” Lanjut Jessica memecah lamunanku.

“Sedikit lagi” ucapku yakin. Yah..aku memang ingin sekali melihat istriku cemburu meskipun sedikit saja.

 

Jessica meletakkan cangkir kopinya. “Lagipula apa untungnya bagimu melihat kecemburuan di wajah Han Ji? Kurang baik apa dia padamu? Han Ji tidak pernah menuntutmu melakukan ini itu, dia  juga tidak pernah marah padamu. Katakan padaku, di mana lagi kamu bisa menemukan wanita seperti istrimu sekarang? Kau ini bodoh, Lee Donghae.” tegur Jessica.

 

Aku mengerjapkan mata. Omona.. sekarang dia malah menceramahiku. Memang benar. Han Ji tidak memiliki kekurangan apapun sebagai seorang wanita. Dia cantik, tinggi semampai, badannya sexy, meskipun cerewet, tapi dia yeoja pintar, tahu tata krama, dan berasal dari keluarga berada. Pria bodoh mana yang menolak jika di ajak menikah olehnya. Sama sepertiku. Asal kalian tahu, aku menikah dengan Han Ji karena dia yang memaksaku untuk segera melamarnya. Padahal waktu itu kami masih berada di tingkat akhir sebagai mahasiswa.

 

“Kau tidak tahu rasanya. Aku memang di manja. Entah sudah berapa kali kata ‘saranghae’ keluar dari mulutnya. Bahkan dia tidak mengijinkan Appanya memarahiku jika aku berbuat kesalahan. Iya, kau benar. Aku beruntung sekali” ucapku entah bangga atau sombong. Tapi terdengar nada jengkel saat aku mengucapkannya.

 

Jessica mengangguk asal seolah tak peduli. Aish, dia pasti sudah bosan mendengar keluh kesahku yang sama setiap harinya.

“Oh God.. ternyata Lee Donghae memang bodoh. Dengar ya.. Han Ji mungkin memang tidak pernah marah. Siapa tahu itu karena didikan keluarganya sejak kecil. Dan apa kau tahu, jika seorang istri marah. Hanya 2 kemungkinan, dia tempramental atau overprotektif padamu. Lihat, Han Ji bukan keduanya. Betapa beruntungnya dirimu. Harusnya kau bersyukur.” Jelas Jessica panjang lebar. Oke, cukup, aku malas diceramahi. Bukannya bersimpati malah menusukku dengan kata-katanya. Dasar putri es!!

 

Aku membuka mulut untuk protes. Namun Jessica kembali mendahuluiku. “Aku malah bingung pada Han Ji. Apa yang dilihatnya darimu. Dia bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik darimu. Kenapa dia bisa tergila-gila setengah mati padamu? Bahkan mengetahui suaminya bersama yeoja lain pun dia tidak marah.” Ucapnya sambil mengerutkan kening.

 

“Tuh, kau tahu masalahnya. Aku yakin pasti ada yang salah dengan kejiwaan Han Ji. Apa aku harus membawanya ke psikiater?”

“Kau gila. Yang harus dibawa ke psikiater itu dirimu!! Bahkan seharusnya kepalamu itu digetok oleh palu seberat 100 kg!!”

“ah, aku sudah malas berbicara denganmu. Aku harus kembali ke kantor. Dan ingat, perjanjian kita masih belum selesai…” ucapku seraya bangkit.

“dan jangan lupa tas prada-ku..” seringai Jessica. Ah, aku hampir lupa. Aku sudah berjanji akan memberikan tas Prada untuknya jika dia mau membantuku. Dasar, dia tidak berubah sejak dulu. selalu memanfaatkanku.

“Iya, aku tahu.”

 

*Donghae POV end*

 

—o0o—

*Han Ji POV*

 

Kreeekkk..

 

Sial!! Kaleng minuman yang kupegang sekarang mulai berubah bentuk karena pengaruh cengkraman tanganku yang terlalu kuat. Segera kulemparkan kaleng kosong itu ke dalam tempat sampah, tanpa membuang waktu kutinggalkan tempat menyebalkan ini.

 

Sepanjang perjalanan aku mendengus sebal dan sekuat tenaga aku menepis rasa kesal di hatiku ini. Tahu kenapa? lagi-lagi aku melihat suamiku bersama yeoja itu!! Yeoja yang bernama Jessica itu. Aku marah? Jelas sekali. Namun aku tidak pernah sanggup memperlihatkannya pada suamiku sendiri. Karena yah.. ada alasan yang kuat kenapa aku tidak bisa melakukannya. Alasan utamanya karena aku takut..

 

Sesampainya di rumah, aku segera mengeluarkan kotak berisi berbagai macam kertas berwarna. Seperti kebiasaanku ketika sedang kesal, aku langsung saja melipat kertas-kertas itu menjadi bentuk burung bangau. Lalu menatapnya saat sudah selesai.

 

“Lee Donghae, apa aku kurang cantik di matamu? Apa aku kurang baik di matamu? Apa aku kurang kaya? Aku kurang pintar? Katakan apa yang tidak kumiliki sehingga kau memilih berselingkuh dengan yeoja itu..” ucapku berat. Aku merasakan tenggorokanku tercekat dan dadaku terasa sesak.

“Apa dia pintar memasak? Atau dia lebih romantis dariku? Dia lebih rajin atau dia tidak terlalu memanjakanmu sepertiku??” sial.. kenapa mataku terasa mengabur sekarang?? Dan tanpa izin, pipiku mulai di aliri tetesan bening dari mataku. Aku menangis.

 

Tentu saja, istri mana yang tidak sakit hati mendapati suaminya selingkuh. Donghae adalah lelaki yang begitu sempurna di mataku. Saat pertama kali bertemu dengannya, awalnya aku tidak tahu kalau aku akan jatuh cinta padanya. Dia sangat sederhana sebagai seorang namja. Aku tahu dia bukan orang biasa. Tapi dia selalu merendah dan tidak ingin menyulitkan orang lain. Aku juga tahu dia itu kesepian karena orang tuanya tinggal di luar negeri dan ia sendiri di Korea. Karena itu aku selalu memperhatikannya. Aku tidak ingin dia merasa kesepian hingga akhirnya justru aku jatuh cinta pada seorang Lee Donghae.

Semuanya terasa begitu singkat. Masih segar di ingatanku saat pertama kali aku terpesona pada namja sederhana sepertinya. Namun sepertinya semua itu adalah takdir. Pertemuan tak terduga yang berujung pada akhir bahagia.

 

Rasanya tidak percaya juga  saat aku bisa menikah dengannya. setelah aku merayunya selama 3 tahun dia bersedia juga menikah denganku. Eits, kenapa malah terkesan aku yang begitu tergila-gila pada Lee Donghae? entahlah. Tapi sepertinya namja itu memang sudah membuatku tergila-gila setengah mati. Aku sudah sepenuhnya tenggelam dalam oase pesonanya yang tumbuh subur dalam padang gersang jiwaku. Sungguh ini bukan puisi ataupun rayuan gombal. Memang seperti itulah kenyataannya.

 

Bahkan aku masih ingat betapa beratnya perjuanganku meyakinkannya untuk segera melamarku..

 

#Flashback

 

Sudah hampir 2 jam aku menunggu. Ingat, 2 jam. Sudah hampir 4 gelas Milkshake yang kuhabiskan dan namja itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya juga. Untung aku mencintaimu, Lee Donghae! jika tidak, mungkin isi caffe ini sudah ku obrak-abrik saking kesalnya.

 

“Mianhae..mianhae..hosh..aku terlambat..”

 

Senyumku merekah indah. Akhirnya namja idamanku datang juga. Perlu diketahui, tujuanku mengajaknya bertemu hari ini adalah untuk meminta jawabannya atas permintaanku 2 hari lalu. Aku memintanya melamarku.

 

“Gwaenchana..em..kau berkeringat. Minum dulu..” Aku menyodorkan milkshake ke-5 ku yang belum ku sentuh padanya.

“Kau tahu kan ayahmu.. dia benar-benar ingin segalanya sempurna..tadi dalam meeting..”

“Iya, aku paham. Sudah kubilang tidak apa-apa..” Inilah yang membuatku jatuh cinta setengah mati padanya. Dia berbeda dengan namja kebanyakan. Donghae-ku begitu polos, jujur, dan sederhana. Dan sikapnya juga yang membuatku tidak pernah bisa marah padanya.

 

Aku tahu kok seperti apa Appa-ku. Dia sangat tegas dalam pekerjaan. Dan oh iya, Donghae ini bekerja sebagai Manager perencanaan di perusahaan milik Appa. Dia masuk ke sana bukan mengandalkan koneksiku. Tapi kemampuannya-lah yang membuat Appa menerimanya untuk bekerja di sana. Dia sangat hebat.

“Jadi, bagaimana jawabanmu?” aku menopangkan dagu seraya menatap Donghae lekat-lekat. Ia sempat termenung sesaat sampai akhirnya senyumnya yang indah itu terbit.

“baik, aku akan melamarmu. Dan kita menikah satu bulan lagi.”

Mataku membulat . sungguh, ini adalah kalimat terindah sepanjang hidupku. Aku lantas berdiri, berjalan ke sampingnya, dan dengan mata berbinar aku segera memeluknya.

“Gomawo Donghae-ah.. kau sudah mewujudkan satu mimpiku..”

“Ne..” ucapnya. Kurasakan tangannya menepuk-nepuk punggungku.

#Flashback end

 

Donghae benar-benar melakukannya. Ia melamarku keesokan harinya. Appa sempat terkejut saat Donghae bilang ingin menikahiku sebulan kemudian. Tapi aku memasang tampang memelas padanya dan sukses membuat kedua orang tuaku luluh lantak dan menyetujui permintaan Donghae. Mereka memang sangat menyayangiku.

 

Sekarang pun, jika aku sudah mengatakan pada Appa agar tidak memarahi Donghae, Oppa sungguh melakukannya. Kenapa? karena Appa tidak ingin aku sedih melihat Donghae menderita di kantor.

 

Sekali lagi, memang apa kekuranganku? Padahal aku sudah berusaha tampil secantik dan seseksi mungkin demi dirinya. Kenapa dia tidak meninggalkan wanita itu juga? Oh, apa dia bosan sudah menikah denganku? Atau ada yang tak memuaskan dari diriku?

 

Aku tidak bisa memasak? Itu kah yang membuatnya malas memakan sarapan yang kubuatkan? Baiklah, aku akan belajar memasak.

 

Hatiku ini masih terasa sakit. Karena itu aku terus saja melipat kertas sampai hatiku benar-benar tenang.

 

*Han Ji POV end*

 

—o0o—

 

*Author POV*

 

Han Ji bertekad, ia ingin menjadi wanita yang diidamkan Donghae. ia ingin tahu apa yang Donghae lihat dari yeoja bernama Jessica itu. Lebih cantik? Tidak juga. Pasti ada sesuatu yang membuat Donghae mengalihkan perhatiannya pada Jessica.

“Wah, tumben makan malamnyamewah sekali?” tanya Donghae takjub. Han Ji tersenyum manis. Dia meminta Donghae duduk di salah satu kursi dan meletakkan mangkuk nasi di hadapannya.

“Kau memesan makanan di mana?” Donghae penasaran sekali. Dia belum pernah melihat masakan seperti ini sebelumnya.

“Aku membuatnya sendiri Oppa, cicipilah..” ucap Han Ji. Donghae tercengang. Ia tak percaya begitu saja dengan ucapan istrinya.

“Yang benar? Kau belajar memasak?” Donghae jujur saja terkejut sekali. Ini adalah sesuatu yang tak pernah di sangkanya. Seorang Han Ji Jae, yeoja yang tidak suka berlama-lama tinggal di dapur belajar memasak?

Han Ji tersenyum. “Tentu saja. aku tidak suka Oppa makan di luar. Jadi lebih baik aku belajar memasak”

“Aigoo..kau manis sekali..gomawo..” Donghae bangkit lalu mengecup pipi istrinya. Sejujurnya setelah semua yang dilakukan Han Ji, ini adalah yang paling membuatnya terharu.

 

Donghae mencicipi masakan yang di buat Han Ji satu persatu. Meskipun rasanya belum seenak buatan para chef di restoran mahal, tapi ini sudah sangat lumayan. Tanpa sengaja ia melirik tangan Han Ji yang tidak semulus biasanya. Dia berhenti makan.

“Tanganmu kenapa?” tanya Donghae curiga. Han Ji segera menarik tangannya.

“tidak apa-apa.”

“Bohong. Ulurkan!!” perintahnya tak sabar. dengan pelan dan takut Han Ji mengulurkan tangannya ke arah Donghae. seketika namja itu terbelalak. Ia melihat tangan Han Ji terluka di beberapa bagian dan terdapat bekas terkena cipratan minyak panas.

“Ini tidak masalah Oppa. Tenang saja.” ucap Han Ji menenangkan begitu melihat muka suaminya pucat pasi.

 

Tidak ada suara yang keluar dari mulut Donghae. namja itu langsung bangkit pergi. han Ji menundukkan kepalanya. ia yakin Donghae pasti marah.

 

“Ulurkan tanganmu..” tak di sangka Donghae kembali lagi membawa kotak P3K. Han Ji sempat terkejut melihat Donghae mengobati tangannya.

“Kenapa kau belajar masak sampai seperti ini? Seharusnya, jika memang tidak bisa jangan  diteruskan..” ujar Donghae.

“Aku ingin membuatmu terkesan Oppa..” ucap Han Ji pelan.

“Terkesan?” Donghae mulai mengangkat kepalanya dan menatap mata Han Ji. “Kenapa?”

“Akhir-akhir ini Oppa dingin sekali padaku. Aku takut Oppa akan pergi meninggalkanku. Jadi, mungkin jika aku bisa memasak, Oppa akan sering berada di rumah..”

 

Donghae terdiam beberapa saat. Ia melihat kesungguhan di mata istrinya. Tak ada jawaban. Setelah selesai mengobati Han Ji, Donghae memasukkan obat kembali ke dalam kotak P3K lalu pergi.

 

Han Ji terdiam. Apa tindakannya salah? Bukankah ia memang tidak mau  Donghae pergi ke pelukan Jessica? Lalu apa yang membuat Donghae marah?

 

Tanpa sepengetahuan Han Ji, di dalam kamar Donghae merenung sendirian. Hatinya sakit sekali. Ia merasa sangat bersalah melihat Han Ji begitu berusaha demi dirinya padahal ia tidak pernah meminta Han Ji melakukannya. Ia mencintai Han Ji apa adanya. Tapi kenapa ia malah menyakiti Han Ji?

 

Mungkin Han Ji memang tidak pernah mengatakannya secara langsung, namun Donghae yakin istrinya itu marah atas ‘perselingkuhannya’ itu. Tapi kenapa Han Ji tidak meluapkan emosinya saja? memarahinya atau mungkin menamparnya. Dengan begitu ia tahu bahwa Han Ji hanyalah wanita biasa. Dan pada saat itu pula ia akan memutuskan untuk menyudahi rencana konyolnya itu.

 

—o0o—

 

*Han Ji POV*

 

Nenekku pernah bilang, jika aku sudah menikah semarah apapun aku pada suamiku, jangan pernah meluapkannya pada suami. Dan beliau menyarankan saat aku marah agaraku membuat burung origami untuk meredakan amarahku. Dan entah sudah berapa banyak burung origami yang kubuat. Semua ini karena Lee Donghae!! dan aku berharap bisa menyelesaikannya hingga jumlah seluruhnya seribu buah.

 

Sesuai dengan sebuah legenda di Jepang, jika kita membuat burung origami berjumlah seribu buah dan menggantungkannya di beranda rumah dan membuat satu permohonan, maka permohonan itu akan terkabul.

 

Dan ku harap Donghae Oppa berhenti berselingkuh dan kembali padaku.

 

Tapi…

 

Suamiku yang bodoh namun kucintai setengah mati itu terus saja berbuat ulah meskipun sudah beberapa kali tertangkap basah olehku. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?

Segala macam cara sudah kulakukan untuk membuatnya berhenti menyakitiku.

 

“Akh..” aku merasakan kepalaku sakit sekali. Sebenarnya aku sudah merasakan gejala aneh ini beberapa hari yang lalu. Tapi karena terlalu memikirkan Donghae Oppa, aku tidak menghiraukannya. Dan sekarang rasa sakitnya semakin terasa.

 

Pandanganku mulai berkunang-kunang. Dan kepalaku rasanya tertimpa sesuatu yang berat hingga akhirnya aku jatuh tak sadarkan diri.

 

Hening.. hitam..berangsur-angsur terlihat cahaya putih menyeruak masuk celah-celah mataku. Aku terbangun dan mendapati diriku terbaring di ruangan putih. Dan apa ini..ada selang infus tertempel di tanganku. Rupanya aku ada di rumah sakit.

 

“Kau sudah bangun..” seru seseorang. Aigoo..ini dia wajah yang amat kurindukan. Donghae Oppa tersenyum bahagia melihatku sudah tersadar kembali.

“Oppa..” suaraku serak sekali. “Kenapa aku di sini??”

“Kau jatuh pingsan di rumah saat aku pulang. Han Ji-ah..kau ini kenapa? dokter bilang kau stress berat.” Tangannya mengusap-usap keningku. Aku terdiam menatap wajah khawatirnya. Aku stress kan karena dirimu, bodoh.. batinku. Tapi mulutku terkatup rapat. Aku tidak sanggup memarahinya. Aku takut mendengar pada cerita nenekku bahwa seorang suami akan bosan pada istrinya jika istrinya itu tempramental dan terlalu mengekang. Aku takut Donghae Oppa akan meninggalkanku.

 

Akhirnya hanya airmataku yang keluar. Donghae Oppa mengerjap dan langsung mengusap airmata di pipiku.

“Ada apa, chagi? Apa aku membuat kesalahan? Ceritakanlah..aku tidak suka melihatmu menderita sendirian seperti ini..” ucapnya khawatir. sejujurnya dadaku sesak sekali. Aku harus mengatakannya sekarang. Aku juga tidak mau terbebani sendiri. Aku harus menanyakan apa kekuranganku hingga dia berselingkuh di belakangku.

“Oppa..katakanlah apa yang membuatmu tidak puas padaku?” tanyaku sehalus mungkin. Aku tidak ingin membuatnya tersinggung.

 

Donghae Oppa terbelalak kaget. “Apa maksudmu? Kau sudah sangat sempurna sebagai istriku, chagi..”

“Lalu kenapa Oppa berselingkuh dengan yeoja bernama Jessica itu? Apa dia memiliki sesuatu yang tak kumiliki?”

 

Mulut Donghae Oppa langsung terkatup rapat. Segurat rasa bersalah tampak sekali di wajahnya.

“Sejujurnya aku tidak paham. Aku sudah melakukan segala cara agar Oppa tidak berselingkuh. Tapi kenapa oppa..” sial..aku mulai terisak. Air mata ini tak henti-hentinya keluar.

Donghae Oppa langsung bangkit lalu memelukku. “Mianhae..mianhae..” tangannya tak henti-hentinya mengusap rambutku.

“Aku sudah bersalah padamu, Han Ji-ah.. maaf..” donghae Oppa melepaskan pelukannya.

“Sebenarnya aku berselingkuh karena ingin melihatmu marah. Tapi tak kusangka aku malah membuatmu seperti ini”

“Marah.?” Tanyaku terkejut. inikah kekuranganku? Aku tidak pernah marah? Karena itu?????? Ini sangat tidak masuk akal..

“Aku pikir kau tidak menyayangiku karena kau tidak pernah marah. Maaf..” Donghae Oppa menggenggam tanganku erat.

“Jadi Oppa berpikir jika seseorang marah atau cemburu itu membuktikan bahwa dia mencintai pasangannya? Pikiranmu ini kekanakan sekali..” ucapku. Donghae Oppa menundukkan kepalanya.

 

“Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu, Oppa. Apa semua yang kulakukan belum juga membuktikan bahwa aku ini sangat mencintaimu?  Jadi, aku harus marah dulu lalu bisa membuatmu percaya?” tanyaku dengan suara tercekat. Aku sedih sekali. Ternyata Oppa melakukan ini semua hanya ingin melihatku berteriak marah padanya?

Donghae Oppa menggeleng keras. “Tidak. Aku yang salah. Maafkan aku. Tentu saja aku tahu kau sangat mencintaiku dan aku juga melakukan sandiwara itu karena aku sangat mencintaimu..”

 

Donghae Oppa mendekat lalu mencium bibirku dengan lembut. Kali ini aku merasakan ciumannya penuh dengan cinta.

 

“Jadi, apa Oppa akan menyudahi sandiwara konyolmu itu?” tanyaku kemudian. Donghae opp tertawa lalu mengangguk.

“Tentu saja istriku yang cantik. Jessica hanya sahabatku. Aku meminta bantuannya untuk membuatmu cemburu. Dan sekarang aku sudah menghentikannya. Bukankah aku sudah memiliki istri sempurna?” ucapnya membuatku tersenyum. Ah, Donghae Oppa memang selalu membuat ku terkejut.

 

Besoknya, setelah aku keluar dari rumah sakit Donghae Oppa mengajakku bertemu dengan Jessica. Ternyata gadis itu memiliki hati yang baik. Dia bercerita bahwa sudah berapa kali dia memperingatkan Donghae Oppa agar tidak menyakiti istri sebaik diriku. Dan mendengarnya membuatku ingin sekali menjitak kepala suamiku itu. Huuh.. sandiwara mereka memang berhasil membuatku cemburu berat. Namun aku tidak mengungkapkannya pada Oppa.

 

—–

 

“Ini apa?” tanya Donghae Oppa bingung melihat di beranda rumah yang tidak pernah di singgahinya selama tinggal di sini, sudah penuh dengan seribu burung origami yang di gantung. Aku selalu melarangnya kemari. Karena ini adalah tempat privatku di lantai 2 rumah kami ini.

“Aku ingin mengajukan permohonan Oppa. Legenda Zuru mengatakan bahwa dengan menggantung seribu burung akan mengabulkan satu permintaan.” Ucapku memandang senang burung di hadapanku.

Donghae Oppa tertawa pelan lalu memelukku dari belakang. “lalu apa permintaanmu?”

 

Aku menangkupkan tangan dan mulai berdoa. Setelah itu aku menolehkan kepalaku ke samping, untuk membisikkan sesuatu padanya.

 

“Aku ingin Donghae junior, Oppa..” bisikku. Matanya melebar begitu mendengar permohonanku. Ia tersenyum kemudian.

“Permintaanmu kukabulkan..” ucapnya dengan seringaian lebar. Aku bergidig melihatnya. Dan tiba-tiba saja Donghae Oppa menarikku ke dalam rumah.

“Oppa.. kau mau apa???” pekikku mencoba melepaskan cengkraman tangannya.

“mau apa lagi? Bukankah kau ingin Donghae junior? Ayo kita buat..”

“Mwo???”

 

Baiklah, sekarang aku akui bahwa kehidupan setelah menikah itu..100% menyenangkan.. hahaha..—Donghae–

 

THE END