Trouble Namja [Chapter 10]

Tittle : Trouble Namja Chapter 10
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance
Storyline : Arianty Salma

Main Cast :
Choi Ha Mun | Kim Hee Chul | Kim Ah Ryung

Support Cast
Choi Si Won | Kim Ki Bum | Etc.

Dha Khanzaki’s Speech:
Happy Reading deh ^^

Trouble Namja by dha Khanzaki 5

====o0o====

CHAPTER 10

Bibir Kim Ah Ryung terus menyunggingkan senyum. Matanya tak lepas dari deretan pesan di ponselnya. Pesan-pesan yang berasal dari satu nomor yang sama itu telah menghangatkan hatinya. Dan nomor itu adalah milik Choi Si Won.

Ah Ryung menyadari perhatian Si Won menjadi semakin intens sejak dua hari yang lalu. Si Won selalu menyempatkan diri menghubunginya untuk menanyakan kabar atau mengiriminya pesan hanya untuk mengingatkannya agar tidak lupa makan dan menjaga kesehatan. Tapi Ah Ryung tidak mengeluh, ia justru senang menerima perhatian yang begitu hangat dari orang lain.

“Apa yang kau lihat?”

Kemunculan Yong Mi di belakangnya mengejutkan Ah Ryung. Ia buru-buru memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, lalu menyapa sahabatnya yang pintar sekali menyanyi itu.

“Kau datang sendiri? Di mana Hae Bin?”

“Dia masih di perjalanan.” Yong Mi menarik kursi di dekat Ah Ryung lalu duduk.

Hari ini Ah Ryung, Yong Mi dan Hae Bin berjanji untuk menikmati makan siang bersama. Restoran tempat mereka bertemu sekarang adalah restoran langganan mereka. Sebenarnya mereka sudah mengajak Ha Mun serta Je Young untuk bergabung juga, tetapi Ha Mun berhalangan hadir dan Je Young sepertinya tidak akan datang karena ketika Ah Ryung meneleponnya tadi pagi, suaranya terdengar seperti orang yang sedang sakit.

“Aku penasaran sekali kenapa kau tadi tersenyum sendiri sambil memandangi ponsel. Apa ada seseorang yang baru menyatakan cinta?”

“Menyatakan cinta apanya. Aku hanya sedang membaca draft novelku.”

“Begitu? Apa novel terbarumu bergenre komedi?”

“Kau akan tahu saat membacanya nanti.”

Yong Mi menggangguk. Sudah lama ia tidak membaca novel karangan Ah Ryung. “Ah, tiba-tiba aku teringat sesuatu.” Ia menepuk tangan lalu memandang Ah Ryung. “Aku melihat seseorang yang mirip mantan tunanganmu menculik Sung Min Oppa seusai mini konser Soul band beberapa hari yang lalu.”

“Benarkah?” Kedua mata Ah Ryung melebar.

Yong Mi mengangguk yakin.

Selain mengelola sebuah kafe, Sung Min juga seorang gitaris band indie Soul. Bermusik sudah menjadi hobi Sung Min sejak lama dan beberapa hari yang lalu Sung Min memang menggelar konser mini bersama bandnya yang bernama Soul. Kim Myung Soo juga merupakan gitaris band tersebut. Yong Mi pasti datang ke konser itu untuk menonton Myung Soo.

Ah Ryung juga teringat, Sung Min sempat berkata sambil lalu bahwa pria itu mendapat teguran dari seseorang agar tidak dekat-dekat dengannya. Karena Sung Min mengatakannya dengan nada bergurau dan diselingi tawa ringan, Ah Ryung mengira Sung Min hanya sedang menggodanya. Lagipula Sung Min tidak menyebutkan nama orang yang menegurnya dan Ah Ryung pun tidak mendesak Sung Min agar mendeskripsikan ciri-ciri orang itu.

Jadi Hee Chul yang melakukannya. Sungguh aneh. Untuk apa Hee Chul repot-repot menegur Sung Min sementara pria itu sudah tahu bahwa Sung Min adalah kakaknya? Yah, tepatnya kakak angkat.

Ah Ryung mengangkat bahu. Ia menyadari hatinya tidak merasakan getaran apa pun lagi ketika nama Hee Chul disebut. Itu adalah pertanda baik. Ternyata, ia sudah mulai bisa melupakan Hee Chul. Anehnya, sekarang Ah Ryung justru lebih tertarik memeriksa kembali pesan-pesan yang memenuhi kotak masuk ponselnya.

“Maaf aku terlambat.”

Hae Bin akhirnya datang. Ah Ryung dan Yong Mi menyambutnya. Mereka terkejut ketika melihat Ha Mun datang bersamanya.

“Bukankah kau berkata tidak bisa datang?” tanya Yong Mi heran.

“Tadinya, tapi mendadak jadwalku kosong.” Ha Mun tersenyum. Seharusnya ia pergi bersama Hee Chul untuk fitting baju pengantin. Tetapi Hee Chul terpaksa menundanya karena harus menangani pekerjaan yang datang tiba-tiba. Ha Mun tidak bisa protes. Hee Chul harus menyelesaikan semua pekerjaan itu sebelum pesta pernikahan dilangsungkan agar mereka bisa pergi berbulan madu tanpa diganggu tugas-tugas kantor.

“Besok malam aku akan menghadiri konferensi pers film Memories in Korea,” ungkap Ha Mun. Wajahnya tampak berbinar. Ia sangat antusias ikut acara itu karena di sana ia akan bertemu semua pemain film itu.

Ah Ryung, Yong Mi dan Hae Bin senang sekali mendengarnya. Mereka langsung memberinya selamat.

“Tapi sayang sekali acara itu tertutup. Padahal aku ingin sekali mengundang kalian semua. Tapi kalian semua harus menonton film itu, kalian berjanji? Meskipun aku hanya muncul di scene-scene terakhir, tapi aku tetap ingin kalian menyaksikan aktingku.”

“Baiklah, katakan saja kapan premier film itu. Aku akan mengosongkan jadwalku hari itu,” ucap Yong Mi. Sebagai guru sekolah dasar, ia tidak bisa bolos kerja begitu saja.

“Yah, semoga hari itu tidak ada seminar atau acara apa pun yang harus kuhadiri,” kata Hae Bin.

Hae Bin bekerja sebagai penerjemah bahasa Inggris-Korea dengan jam kerja yang cukup padat. Jasa Hae Bin akan sangat diperlukan pada saat seminar bertaraf internasional. Hae Bin akan bekerja menerjemahkan semua yang dikatakan pembicara kepada para perwakilan pertemuan yang berasal dari Korea. Hae Bin sebenarnya tidak perlu bekerja karena keluarganya merupakan keluarga berada, sama halnya seperti Je Young. Tetapi He Bin lebih suka hidup dengan penghasilannya sendiri.

Berbeda dengan Je Young yang memilih hidup seperti putri raja. Namun semenjak menikah dan hidup bersama suaminya, Je Young perlahan-lahan belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik.

“Kalian berjanji akan datang, bukan?” desak Ha Mun was was. “Kau juga Ah Ryung. Kuharap kau belum akan kembali ke Australia saat itu.”

“Tenang saja, aku tidak berencana kembali ke sana sampai kau menikah.”

Senyum tulus Ah Ryung membuat Ha Mun salah tingkah. Hingga detik ini, ia masih merasa tidak enak hati setiap kali menatap sahabatnya yang satu ini. Ah Ryung tetap memperlakukannya dengan begitu baik. Ha Mun sangat salut pada betapa mudah Ah Ryung memaafkannya. Jika Ha Mun menjadi Ah Ryung, ia memilih membenci orang yang merebut pria yang paling dicintainya. Karena itu Ha Mun sangat bersyukur Ah Ryung memiliki hati yang sangat lembut dan baik.

Tiba-tiba saja, ponsel mereka berdenting secara bersamaan. Ah Ryung, Yong Mi, Ha Mun dan Hae Bin segera mengecek ponsel masing-masing dan menemukan satu pesan masuk dari orang yang sama.

“Kalian harus datang malam ini ke rumahku. Jika tidak, aku tidak akan membiarkan anakku memanggil kalian Immo.” Yong Mi membaca pesan itu dengan suara keras.

Sejenak mereka saling bertatapan karena harus mencerna informasi itu lebih dahulu. Ketika pemahaman menghinggapi pikiran mereka, semuanya bergembira. Mereka sangat senang menerima kabar kehamilan Je Young. Pantas saja Je Young terdengar seperti sedang sakit tadi pagi. Sepertinya dia mengalami morning sickness pada awal kehamilannya.

“Aku akan memastikan kabar itu!” Ha Mun langsung menelepon Je Young. Yang lain mengamatinya dengan penuh minat. Je Young menjawabnya pada deringan pertama.

“Jadi, kau benar-benar hamil sekarang?” tanya Ha Mun senang. “Mengapa Kyu Hyun tidak memberitahuku? Semalam dia sempat mengunjungi aku dan Ibu.”

“Aku juga baru mengetahuinya pagi ini. Kukira aku hanya masuk angin. Kau tahu, aku sangat terkejut ketika aku memeriksakan diriku ke dokter, dokter berkata bahwa aku sedang hamil. Ini..sangat tidak bisa dipercaya.”

Ha Mun memutar bola mata. “Justru akan aneh jika kau sampai tidak hamil. Kudengar kau dan pamanku bercinta setiap malam.”

Yong Mi, Hae Bin dan Ah Ryung langsung cekikikan mendengarnya. Ha Mun memang terkenal paling blak-blakan di antara yang lain.

“Ha Mun, astaga, dari mana kau mendengarnya!” Je Young terdengar gelagapan. Wajahnya pasti sangat memerah saat ini.

Ha Mun tertawa. Sebenarnya ia hanya asal bicara. Tidak ada seorang pun yang memberitahunya informasi yang terlalu pribadi semacam itu, bahkan Kyu Hyun. Ia tidak menyangka jika kata-katanya ternyata benar. Dan Je Young bisa saja membantah hal tersebut, bukan? Tapi Je Young tidak menyangkalnya sama sekali.

“Apa yang lain ada di bersamamu sekarang? Ya Tuhan, memalukan sekali jika mereka sampai mendengarnya.”

“Ya, mereka memang ada bersamaku,” kata Ha Mun. Yang lain langsung meneriakkan kata-kata selamat dan Ha Mun mendekatkan ponselnya pada mereka agar Je Young bisa mendengarnya.

“Baik, jadi perayaan itu malam ini di rumah ayahmu? Tunggu, kenapa bukan di rumah kalian saja? Ah, Yuri Eonni memaksa ternyata. Tentu saja kami semua akan datang. Ini adalah acara perayaan kehamilan pertamamu, mana mungkin kami melewatkannya.”

Setelah pembicaraan berakhir, Ha Mun segera menyampaikan kembali undangan Je Young yang akan dilangsungkan di kediaman Ayah Je Young. Yuri, ibu tiri Je Young ingin agar perayaan itu dilaksanakan di sana. Yuri hanya berbeda beberapa tahun dengan mereka sehingga mereka memilih memanggilnya kakak daripada bibi ataupun ibu.

Ah Ryung dan yang lainnya tanpa ragu sepakat untuk datang. Mereka kemudian melanjutkan obrolan seputar hadiah apa yang akan mereka bawa untuk Je Young sambil menikmati makan siang.

***

Pesta perayaan itu cukup sederhana untuk ukuran pesta yang biasa diadakan keluarga Shin. Tamu yang diundang pun hanya kerabat dan teman-teman terdekat saja. Meskipun begitu, bagi Ah Ryung pesta itu terlihat seperti resepsi sebuah pernikahan. Makanan dan minuman yang disajikan beragam jenisnya. Bahkan ruang duduk yang menghadap kolam renang sengaja disulap menjadi ruang pesta didekor dengan cantik, layaknya ruangan untuk pesta besar. Mungkin karena pesta ini untuk menyambut cucu pertama keluarga itu, pesta yang direncanakan hanya berupa makan malam biasa berubah menjadi pesta sungguhan.

Je Young terlihat sangat bahagia. Kecantikannya semakin berkilauan, mungkin pengaruh dari kehamilannya. Ah Ryung mengamati orang-orang yang sedang bersenda gurau dari sisi kolam renang. Di sini suasananya lebih tenang.

Aku mungkin sedang melarikan diri, desah Ah Ryung putus asa setelah sesaat meresapi kesendiriannya. Ia meminum cocktailnya tanpa minat. Di dalam sana ada Hee Chul yang terlihat gembira bersama Ha Mun. Ia senang melihat sahabat dan mantan tunangannya bahagia, tetapi Ah Ryung terkadang merasa tidak nyaman terlalu lama berada di sekitar mereka. Ia takut kehadirannya mengganggu keharmonisan Ha Mun dan Hee Chul.

“Kenapa kau menyendiri di sini?”

Kedatangan Si Won agak mengejutkan. Pria itu menunjukkan senyum hangat lalu duduk di sisi Ah Ryung tanpa menunggu respon dari gadis itu.

“Aku ingin menghirup udara segar sejenak,” jawab Ah Ryung kalem. Ia diam, tidak tahu apa lagi yang harus dikatakannya. Meskipun ia sering menghabiskan waktu bersama Si Won akhir-akhir ini, hubungan mereka masih tetap canggung. Ah Ryung belum begitu mengenal Si Won secara pribadi. Mereka bukan teman akrab walaupun sebelumnya sudah pernah diperkenalkan.

Si Won teman yang menyenangkan. Bahkan begitu perhatian dan lembut. Ah Ryung tidak menyangka bisa menjadi dekat dengannya. Padahal sebelumnya mereka tidak pernah bertegur sapa. Dulu, Ah Ryung mengira Si Won sosok pria yang kaku dan keras kepala, paling tidak itulah kesan yang didapatkannya berdasarkan cerita Je Young maupun Ha Mun. Kenyataannya, Si Won jauh lebih perhatian dari seorang kekasih sekalipun.

Kekasih? Astaga, apa yang kupikirkan? Ah Ryung segera menepis pikirannya yang mulai melantur. Mengapa tiba-tiba ia memikirkan Si Won sebagai sosok kekasih impiannya?

“Ah Ryung,” ucap Si Won. Nada suaranya terdengar gugup. Ah Ryung menoleh. Si Won memang terlihat gugup saat ini.

“Ada apa?”

“Apa sabtu nanti kau ada acara?”

Acara? Ah Ryung memiringkan kepala mencoba mengingat jadwal kegiatannya seminggu ke depan. “Seingatku tidak ada. Kenapa?”

“Aku ingin mengajakmu makan malam hari sabtu nanti. Kebetulan, aku mendapatkan undangan dari kolegaku untuk makan di restorannya. Karena aku tidak memiliki teman wanita lain yang bisa kuajak, aku teringat padamu.”

Kedua mata Ah Ryung melebar mendengarnya. Keterkejutannya bukan disebabkan oleh ajakan Si Won, tetapi apa yang dikatakan pria itu di akhir kalimatnya. Teringat padaku? Betapa kata-kata itu menggetarkan hati Ah Ryung. Kata-kata itu memang diucapkan secara tidak sengaja, tetapi bukankah seuatu yang tidak sengaja terungkapkan merupakan isi hati yang sebenarnya?

Si Won menjadi cemas dan semakin gelagapan begitu melihat reaksi Ah Ryung. “Maaf jika permintaanku lancang. Aku tidak akan memaksa jika kau tidak mau.”

Ah Ryung masih belum menjawab. Si Won menambahkan. “Aku tidak akan memaksamu menjawab sekarang juga. Pikirkanlah dulu. Masih ada tiga hari untuk memutuskannya.” Setelah mengatakan itu, Si Won pergi dengan alasan mencari Kyu Hyun.

Keheningan kembali melingkupi dunia Ah Ryung. Ia menjadi linglung seperti ini hanya karena ajakan Si Won. Pria itu hanya mengundangnya untuk makan malam, bukan menyatakan cinta!

“Apa yang Si Won katakan padamu?”

Ah Ryung tersentak sadar. Ia mendongak dengan cepat. Yong Mi dan Hae Bin sedang menatapnya penasaran.

“Tadi aku melihat kalian duduk bersama, lalu Si Won pergi dengan salah tingkah. Sepertinya dia mengatakan sesuatu yang penting sampai wajahmu merona seperti ini,” ucap Hae Bin sambil menahan senyum.

Sentak Ah Ryung memegang kedua pipinya. “Aku tidak merona,” katanya gagu.

“Tak perlu malu pada kami,” Yong Mi menggoda Ah Ryung. “Jadi apa yang dikatakannya? Ayolah, kami sangat penasaran.”

Ah Ryung tahu teman-temannya tidak akan menyerah sebelum ia mengungkapkan semuanya. Lagipula, Ah Ryung memang tidak berniat menyembunyikannya. Teman-temannya mungkin bisa memberinya saran selepas ia bercerita.

“Si Won mengajakku makan malam.”

“Benarkah?” Hae Bin dan Yong Mi berseru histeris. Ah Ryung kembali salah tingkah. Reaksi mereka yang berlebihan membuatnya semakin gugup.

“Lalu apa jawabanmu?”

Ah Ryung menggeleng. “Aku belum menjawabnya. Aku masih bingung.”

“Ya Tuhan..” erang Yong Mi gemas. “Apa yang membuatmu bingung? Terima saja ajakannya. Hanya makan malam, bukan? Si Won bukannya sedang mengajakmu menikah dengannya.”

Itulah yang coba kutekankan sejak tadi, keluh Ah Ryung dalam hati. Tetapi sensasi yang ditimbulkan dari ajakan itu memang terasa seperti sebuah pernyataan cinta.

“Lagipula bukankah itu pertanda bagus?” timpal Hae Bin senang.

“Pertanda bagus apanya?” desah Ah Ryung bimbang. “Aku tidak mengerti apa maksud sesungguhnya Si Won mengajakku.”

Yong Mi dan Hae Bin saling berpandangan sejenak. Mereka bingung bagaimana Ah Ryung tidak bisa melihat sesuatu yang sudah jelas.

“Tentu saja karena dia tertarik padamu,” ujar Hae Bin.

“Benar. Si won menyukaimu,” sambung Yong Mi.

“Itu tidak mungkin.” Ah Ryung menyanggah dengan kedua mata melebar.

Ekspresi kedua sahabatnya langsung tidak setuju. “Mengapa tidak mungkin?”

“Si Won tidak mungkin memiliki perasaan semacam itu terhadapku. Kalian tahu aku bukan tipe wanita yang akan Si Won sukai. Pria itu menyukai wanita yang ceria dan kuat seperti Je Young, sangat berbanding terbalik dengan kepribadianku. Kalian pasti salah menebak.” Ah Ryung tidak mengerti mengapa semangatnya menjadi berkurang setelah ia mengatakannya.

“Kau tidak bisa menyimpulkan wanita seperti apa yang akan Si Won sukai hanya dengan melihat gadis yang pernah disukainya di masa lalu. Ada lebih dari seribu alasan untuk Si Won bisa jatuh cinta padamu,” jelas Yong Mi.

“Selain itu, kau gadis yang baik dan menyenangkan. Pria mana pun akan dengan mudah menyukaimu begitu menghabiskan waktu bersamamu beberapa kali. Justru kami akan sangat heran jika Si Won tidak sampai jatuh cinta padamu.”

Suasana hati Ah Ryung semakin memburuk setelah mendengar ucapan Hae Bin. Ia tak mengira perasaannya akan berkembang ke arah yang tidak terduga. Sekarang, ia menjadi lebih bingung harus menerima atau menolak ajakan Si Won karena ia tidak mengenali perasaannya sendiri.

Tuhan, apa yang harus ia lakukan?

***

“Apa maksudmu mendekati Ah Ryung?”

Si Won menahan godaan untuk mendengus begitu mendengar pertanyaan yang diajukan Hee Chul dengan nada santai namun tajam. Ia sibuk menyalahkan diri sendiri karena tidak melihat kedatangan pria ini. Jika ia lebih dulu menyadarinya, ia akan sebisa mungkin menghindarinya. Hee Chul menawarinya segelas wine. Si Won menolaknya. Ia membalas pertanyaan Hee Chul dengan tatapan sinis.

“Apa aku harus menjawab pertanyaanmu?”

Hee Chul tidak menyukai kesombongan Si Won. Pria ini begitu sok dan arogan, batinnya kesal. Bagaimana bisa Ah Ryung tahan didekati pria semacam ini?

“Percuma saja kau mencoba mendekatinya. Ah Ryung tidak akan menerimamu. Aku sangat mengenal Ah Ryung. Aku tahu apa saja dan pria seperti apa yang disukai Ah Ryung. Dan kau, sama sekali bukan tipe idamannya.”

“Oh, begitu? Kau bermaksud mengatakan bahwa kau adalah tipe idaman Ah Ryung?” ejek Si Won.

Hee Chul menyeringai, lalu mengangkat bahu. “Bagaimanapun, kami pernah bertunangan. Bukankah sudah jelas bahwa aku adalah tipe idamannya?”

Nada banggamu itu sungguh tidak pada tempatnya. Si Won berusaha keras menahan diri agar tidak memukul Hee Chul hanya untuk melenyapkan seringaian sombongnya. Detik itu ia sungguh heran bagaimana bisa Ha Mun tergila-gila pada pria semacam ini? Kepribadian pria ini jelas sekali bermasalah. Apa Ha Mun buta? Ah, tentu saja, Ha Mun dibutakan oleh cinta. Ia lupa bahwa Ha Mun sudah mencintai Hee Chul sejak lama. Tetapi yang Ha Mun cintai adalah diri Hee Chul beberapa tahun yang lalu. Siapa yang tahu jika sikap dan kepribadian Hee Chul berubah selama mereka tidak bertemu?

“Apa kau memiliki perasaan terhadap Ah Ryung?” tanya Hee Chul lagi.

“Itu bukan urusanmu. Untuk apa kau peduli aku menyukai Ah Ryung atau tidak?”

“Aku tidak ingin Ah Ryung memilih pria yang salah. Aku tidak mau dia disakiti, terutama oleh pria sepertimu.”

“Ah Ryung yang akan menentukan untuk menerimaku atau tidak. Kau sama sekali tidak perlu ikut campur untuk memilihkan Ah Ryung seorang pria yang bisa dicintai olehnya. Kau sudah memiliki tunangan. Dan dia adalah adikku. Lebih baik kau memikirkan cara untuk membahagiakannya. Aku tidak akan ragu untuk mencekikmu dengan kedua tanganku sendiri jika kau sampai membuat adikku menangis seperti yang kau lakukan pada Ah Ryung.”

Hee Chul tanpa sadar mencengkeram erat gelas sampanye di tangannya. Si Won sungguh memiliki lidah yang tajam dan memuakkan. Betapa ingin Hee Chul menghadiahinya satu pukulan karena berani memperingatkannya tentang apa yang harus ia lakukan untuk membahagiakan Ha Mun.

“Aku tidak butuh nasehatmu. Ha Mun sudah bahagia meski hanya bersamaku.”

“Oh ya, jadi kau pikir dia tidak butuh cinta dan kesetiaan utuh darimu?”

“Apa maksudmu? Tentu saja aku hanya mencintai Ha Mun!” desis Hee Chul geram.

“Kau sungguh pria yang tidak bisa dipercaya. Kau berkata mencintai adikku tetapi saat ini kau ada di sini, sibuk mencemaskan keadaan wanita lain.”

“Apa?” Hee Chul tersinggung. Si Won benar-benar memancing kemarahannya. Ia datang memperingatkannya dengan maksud baik. Ia tidak ingin Ah Ryung terluka. Setelah mengamati Si Won selama beberapa waktu, ia menyimpulkan Si Won bukanlah pria yang baik. Pria itu dingin dan menyebalkan. Tidak akan cocok dengan Ah Ryung. Gadis itu pasti akan menderita jika mereka sampai menjalin hubungan. Hee Chul melakukan ini untuk menyelamatkan Ah Ryung. Ia melakukannya demi kebaikan Ah Ryung. Tetapi laki-laki sombong ini malah berbalik menuduhnya!

Si Won balas menatap Hee Chul tajam. “Sebaiknya kau berkonsentrasi untuk membahagiakan adikku, dan kau tidak perlu mengkhawatirkan Ah Ryung karena aku yang akan membahagiakannya,” tegasnya sebelum pergi meninggalkan Hee Chul.

***

Ha Mun menatap orang-orang yang hilir mudik melalui cermin di depannya dengan gugup. Ia sedang menunggu dimulainya acara konferensi sambil dirias. Beberapa kru film yang sudah dikenalnya sempat berhenti untuk menyapa. Ha Mun senang mereka masih menganggapnya. Ia kira mereka akan mengabaikannya karena ia hanya menjadi pemain pendukung saja. Ternyata mereka menyambutnya dengan hangat. Bahkan beberapa pemain film pun mengajaknya mengobrol.

Rasanya bagai reuni saja. Ha Mun merindukan suasana hangat seperti ini, berikut orang-orang ramah yang bekerja bersamanya di lokasi syuting. Berakting dan menari adalah dua hal yang berbeda, namun Ha Mun menikmati keduanya.

Ki Bum belum terlihat. Menurut salah satu panitia, Ki Bum sedang ada pertemuan mendadak dengan pihak sponsor. Padahal Ha Mun sangat ingin bicara dengannya. Ia berniat meminta tiket premier film untuk teman-temannya. Mungkin ia akan menemuinya setelah acara berakhir saja.

Acara konferensi pers pun dimulai. Ha Mun merasa luar biasa gugup, terutama ketika ratusan blitz kamera mengarah padanya setelah ia diperkenalkan. Sebagai pemeran tokoh utama versi dewasa, walaupun hanya muncul di babak akhir cerita, Ha Mun cukup mendapatkan banyak pertanyaan. Ia hanya menjawab seperlunya karena sebagian besar pertanyaan lebih banyak dijawab oleh sutradara sendiri. Dengan kata lain, Kim Ki Bum.

Para pemeran juga bercerita seputar awal mula mereka mengikuti casting hingga akhirnya terpilih, lalu suasana syuting yang menyenangkan, dan kebanggaan mereka bisa bergabung dalam film ini. Ha Mun bahkan sambil bergurau bercerita tentang keteguhan Ki Bum dalam meyakinkan dirinya agar ikut serta. Orang-orang tertawa mendengarnya. Sekilas Ha Mun sempat melihat delikan gemas dari pria itu. Ha Mun membalasnya dengan senyuman manis. Ki Bum pun banyak mendapatkan pujian dari para wartawan dan pemain.

Konferensi pers selesai satu jam kemudian. Ha Mun lega akhirnya sesi ini berakhir. Ini masih tahap awal, tetapi Ha Mun sudah merasa lelah. Karena itu ketika para kru mengajaknya agar ikut tur promosi ke kota-kota setelah acara premier digelar nanti, Ha Mun nyaris menolaknya. Tetapi ia memikirkan sisi menyenangkan pergi tur ke berbagai kota secara gratis, akhirnya ia memutuskan untuk mempertimbangkannya.

Ha Mun bersiap pulang. Ia sudah berpamitan pada semua pemain dan kru yang ditemuinya. Ruang rias pun sudah hampir kosong. Tinggal seorang penata rias yang masih membereskan peralatan ke dalam kopor. Ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya. Ha Mun melihat Ki Bum berdiri di ambang pintu, menatapnya.

“Apa kau ada waktu setelah ini?”

“Sepertinya kau ingin mengajakku makan lagi,” tebak Ha Mun asal.

Ki Bum tersenyum. “Tidak, aku ingin mengajakmu ke studioku. Ada yang ingin kuperlihatkan.”

Nada misterius Ki Bum membuat Ha Mun penasaran. Ia memang tidak memiliki acara yang harus dihadiri setelah ini sehingga ia menerima ajakan Ki Bum tanpa pikir panjang.

Studio Ki Bum tidak terlalu jauh dari gedung konferensi. Hanya berjarak sekitar lima belas menit dengan menggunakan mobil. Ki Bum mengajaknya ke sebuah ruangan, disana terdapat layar besar menutup salah satu sisi dinding. Ha Mun duduk di satu-satunya sofa yang kosong. Hampir semua tempat di ruangan itu ditutupi tumpukan buku, gulungan film, gambar-gambar, kepingan CD dan masih banyak lagi. Ruangan itu sungguh berantakan. Tetapi sekarang bukan waktunya mengomentari kekacauan itu karena tiba-tiba saja lampu ruangan itu padam.

“Hei, Kim Ki Bum! Kenapa kau mematikan lampunya?” teriak Ha Mun kaget. Ia panik. Sial, ia tidak memikirkan ini saat memutuskan ikut dengan Ki Bum. Bagaimana jika Ki Bum berniat buruk terhadapnya.

“Pusatkan saja perhatianmu pada layar.”

Layar? Di mana letak layar itu? Karena gelap, Ha Mun sampai lupa di sisi mana layar besar tadi dibentangkan. Kemudian sebuah cahaya memenuhi sisi dinding. Ah, jadi di sana layar itu berada. Ha Mun terpaku pada layar yang sedang memutarkan film pendek. Dari gambar awal film itu, sepertinya sebuah iklan untuk rumah produksi di Amerika. Kemudian napas Ha Mun tercekat ketika ia melihat fotonya terpampang di layar, ditampilkan dalam bentuk slide-slide yang ditata dengan indah, juga video singkat dengan tokoh utama dirinya sendiri.

Ha Mun benar-benar terpukau. Ia terheran-heran melihat dirinya yang terlihat begitu cantik dan fotogenik dalam film itu. Ia melihat banyak ekspresi yang ia tidak ingat pernah ia tunjukkan. Ketika ia tertawa, merengut, bingung, melamun, hingga sedang tersedu. Semuanya diambil tanpa sepengetahuannya. Bagaimana bisa? Apakah itu karena si pengambil gambar dan pembuat film ini adalah orang yang sangat profesional? Entahlah. Ha Mun begitu menikmati film berdurasi hanya sepuluh menit itu sehingga ia begitu kecewa ketika film berakhir dan lampu kembali menyala.

“Bagaimana?”

Perhatian Ha Mun teralih pada Ki Bum yang kini berjalan menghampirinya. Senyum di bibir Ha Mun merekah. Ia tidak tahu apa maksud Ki Bum memperlihatkan film pendek itu padanya, tetapi saat ini ia merasa sangat tersentuh.

“Kuharap senyummu itu bukan berarti tamparan untukku.”

Senyum Ha Mun memudar melihat Ki Bum mengeryit padanya. “Untuk apa aku menamparmu?” tanyanya tidak mengerti. “Film tadi itu sangat indah. Kau benar-benar berbakat menjadi seorang stalker. Bagaimana kau mengumpulkan semua gambar itu? Aku tidak ingat pernah diminta melakukan pemotretan untuk dijadikan film seperti ini.”

Itu adalah pujian, Ha Mun menjaminnya walaupun diucapkan dengan nada sedikit ketus.

Ki Bum ternyata pria yang cerdas. Dia bisa menangkap pujian Ha Mun. Ki Bum tersenyum lebar. “Aku seorang sutradara, dan aku tahu mana yang indah atau tidak.”

“Lalu untuk apa film itu? Sepertinya itu sebuah iklan.”

“Ya, memang.” Ki Bum mendekat. “Aku bermaksud meminta persetujuanmu. Apakah boleh aku memakai wajahmu untuk iklan rumah produksi pamanku?”

Ha Mun terkejut. Apa ia tidak salah mendengar? Ia menjadi bintang iklan?

“Kau tidak sedang bercanda denganku, bukan?”

“Choi Ha Mun, jika kau tidak menyadarinya, saat ini aku sangat serius.” Ki Bum menunjukkan raut seserius mungkin agar Ha Mun percaya.

“Aku hanya memastikan.” Ha Mun termangu.

Keterkejutannya semakin bertambah begitu Ha Mun menyadari bahwa paman yang dimaksud oleh Ki Bum adalah sutradara terkenal asal Amerika. Ha Mun tak menyangka akan mendapatkan tawaran sebesar ini. Jika ia menerimanya, ia akan membintangi iklan yang akan ditayangkan di Amerika atau mungkin di dunia. Iklan itu akan membuatnya semakin dikenal orang. Apa ia siap menjadi pusat perhatian? Apa ia menginginkan hidup seperti itu?

“Dilihat dari ekspresimu, sepertinya kau bersedia.” Ki Bum senang melihat Ha Mun tersenyum gembira seperti itu. Senyum itulah yang membuat Ki Bum terpesona dan memutuskan menawarkan Ha Mun pada pamannya ketika pamannya itu mencari model untuk iklan yang digarapnya.

“Aku belum menjawab apa pun. Aku harus meminta izin orang tua dan tunanganku terlebih dahulu.”

Tunangan!

Ki Bum langsung mengutuk dalam hati. Kenapa ia selalu lupa bahwa Ha Mun sudah bertunangan dan akan menikah? Ki Bum malu mengakuinya, tetapi sebenarnya, selama ini ia menyimpan perasaan terhadap Ha Mun. Sikap Ha Mun yang tidak terduga telah menawan hatinya. Ki Bum selalu mengagumi Ha Mun dari balik kamera saat di lokasi syuting. Ki Bum menyukai cara gadis itu bicara, tertawa, dan yang utama adalah ketika Ha Mun menari. Kerap kali ia ingin mengatakannya, tetapi selalu terhalang jadwal syuting dan pekerjaan lainnya. Ditambah lagi beberapa waktu yang lalu Ha Mun marah padanya karena ia memberikan rekaman Ha Mun pada temannya—Ki Bum masih tidak ingat kapan ia melakukan itu—sehingga kesempatan bagi Ki Bum untuk mengutarakan perasaannya semakin kecil. Sekarang, sudah terlambat baginya mendapatkan Ha Mun. Gadis itu sudah bertunangan. Ki Bum hanya bisa menyesal.

“Hubungi aku jika kau berminat. Kau masih menyimpan nomorku, bukan?” ucap Ki Bum ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang.

Ki Bum memaksa ingin mengantar Ha Mun pulang. Ia terpaksa menerima kemurahan hati Ki Bum karena tidak tega melihat pria itu memelas. Selain itu, Si Won sudah meneleponnya agar Ha Mun lekas pulang. Hari memang sudah hampir malam.

“Baik, kau tenang saja.”

“Kuharap kau akan menerimanya. Kau tahu, pamanku memiliki rumah produksi paling bergengsi di Amerika. Semua model yang menjadi bintang iklan garapannya dipastikan terkenal hingga ke seluruh dunia.”

“Aku tahu. Tapi aku adalah wanita yang akan menikah. Persetujuan tunanganku sangat penting. Bagaimana jika ternyata Hee Chul Oppa tidak suka wajahku terpampang di setiap baliho yang ada di kota?”

Bibir Ki Bum terkatup rapat. Ia tidak suka diingatkan bahwa Ha Mun akan menjadi pengantin pria lain. Menyebalkan sekali. Mengapa dahulu ia tidak bertindak lebih cepat? Ki Bum menyalahkan pekerjaan yang telah menyita 90% waktunya. Karena sibuknya jadwal syuting pula hingga saat ini Ki Bum tidak pernah memiliki kekasih. Pekerjaan membuat cintanya selalu bertepuk sebelah tangan. Tetapi ia tidak menyesali profesi pilihannya. Malah, ia sangat menyukainya.

“Ah, ya, aku hampir lupa mengatakan ini,” ucap Ha Mun memecahkan lamunan Ki Bum. “Apa teman-temanku boleh datang saat pemutaran perdana nanti?”

Tiket untuk pemutaran film perdana yang akan digelar dua hari lagi sangat terbatas. Ada tiga puluh tiket untuk VIP dan sisanya dikhususkan bagi fans yang beruntung.

“Tentu saja. Berapa orang yang ingin kau undang?”

“Sungguh? Aku boleh mengundang teman-temanku? Sebentar, aku akan menghitungnya.” Ha Mun langsung sibuk menghitung. “Sekitar tujuh orang.”

“Kalau begitu aku akan mengatakan pada panitia agar menyisakan tujuh kursi untuk tamu undanganmu.”

Ha Mun menjerit senang. Ia melonjak sambil bertepuk tangan. “Terima kasih. Kau sungguh baik!”

Ki Bum tersenyum. Ia sangat senang melihat Ha Mun gembira, dan lebih senang lagi saat mengetahui penyebab kegembiraan Ha Mun adalah dirinya. Ia rela melakukan apa pun hanya untuk melihat Ha Mun tetap tersenyum seperti itu.

“Kudengar, setelah pemutaran perdana nanti akan ada tur promosi ke luar kota. Apa itu benar? Aku ditawari untuk ikut serta.”

Ah, promosi itu. Ki Bum hampir saja melupakannya. “Siapa yang menawarimu?” tanyanya skeptis.

Senyum Ha Mun sedikit memudar. “Oh, jadi sebenarnya aku tidak diajak?”

Ki Bum langsung tertawa. “Bukan begitu. Tentu saja kau bisa ikut serta.”

Bayangan bisa bersama Ha Mun selama perjalanan promosi film sungguh membahagiakan. Walaupun perasaannya tidak mungkin terbalas, Ki Bum senang bisa menghabiskan waktu bersamanya. Karena itu, ia sengaja menambahkan dengan lebih antusias berharap Ha Mun akan tergoda dan memutuskan ikut ambil bagian dalam tur.

“Bukan hanya ke semua kota di Korea, promosi juga akan dilanjutkan ke Jepang, Thailand, China, Australia bahkan Amerika. Kau akan menyesal jika sampai melewatkannya.”

“Keren! Aku bisa keliling dunia dengan gratis!” Kedua mata Ha Mun berkilauan oleh antusiasme. Sungguh menyenangkan bisa mendatangi tempat-tempat baru yang sebelumnya hanya bisa ia lihat melalui internet. Tetapi kegembiraannya tidak bertahan lama. Ha Mun sadar impian itu belum tentu terwujud mengingat hari-hari ke depan ia akan terus sibuk mengurus pernikahannya.

“Aku tidak yakin bisa ikut. Kau tahu, pernikahanku tinggal menghitung hari,” lirih Ha Mun murung. Padahal promosi itu kesempatan emasnya untuk pergi bertamasya. Tetapi ia tidak mungkin menunda pernikahannya.

Pernikahan lagi! Ki Bum menggerutu. Jika sampai ia sekali lagi diingatkan tentang pernikahan Ha Mun, ia akan membenturkan kepalanya ke roda kemudi.

Hari sudah benar-benar gelap ketika Ha Mun tiba di area rumahnya. Ha Mun menyipitkan mata melihat sepasang laki-laki dan perempuan sedang berpelukan di depan rumahnya. Siapa mereka? Ketika mobil semakin mendekat, Ha Mun baru bisa mengenali identitas dua orang itu. Napas Ha Mun seakan terhenti ketika ia mengetahuinya.

Apa maksud semua ini?!

—to be continued—

Iklan

35 thoughts on “Trouble Namja [Chapter 10]

  1. Jangan bilang itu chull ama Ah Ryung…
    Asli… Gk ikhlas.. Kalo Ah Ryung ama chullppa.. Abis Ah Ryung terlalu baek kalo buat cow kaya chullppa..
    Smg Ha mun sadar lh dr khilaf.a
    Mg dy ama kibum aja…
    Biarin chullppa gk dpt cp”

  2. Ihhh si heechul aneh bgt. Knp emg ny klo siwon suka am ah ryung. Gpp dunk kan jstru bgus stidakny dg bgtu ah ryung bisa mnemukn pria yg bisa mncintai dy dg tulus. Kok mlah sewot gt..cmburu lu bang. Ingat skrg u udh am hamun jd please deh jgn main2 lg.
    Tu kan bnr tyta si ki bum diam2 ada rs am ha mun. Tp syg ha mun ny udh am heechul.
    Nah loh cp tu yg kpergok lg pelukan?….

  3. Entah kenapa benci banget sma heechul. Sebel juga sama keplin-planannya semoga pernikahannya sma hamun batal trus dia merana engga dapet dua2 nya 😈😣

  4. yaahh…. kok udah slsai… siapa itu yg diliah Ha Mun? jadi penasaran niee… eonni, aku tunggu ya next part. nya… jangan lama” ngpost. nya eonni. hehehe…. eonni Dha Hwaiting!!!

  5. Hohohoho siapa itu yg lagi pelukan?? siwon ah ryung kah? udahlah siwon dengan ah ryung aja ha mun dengan ki bum.. heechul ke lautin aja wkwkwkwk

  6. Siapa yang berpelukan yang dilihat Ha Mun ? Heechul dan Ah Ryung kah ? Tapi gak mungkin mereka, buat apa ahryung di rumah Ha Mun ? Kecuali Ha Mun melihat mereka berpelukan di depan rumah Ah Ryung atau Heechul ? Itu lebih masuk akal

  7. aaa udah hamun sama kibum aja, lepasin aja itu haechul orang nyebelin gtu gak tau diri bener bneer sialan
    untng aja perkataan siwon pedes biar tau rasa tu cowok
    hamun sama kibum, ahryung sama siwon udah cocok bngt itu hehe
    rindu kyuhyun jeyoung hehe

  8. Mgkinkh yg dliat hamun tu siwon n ahryung?
    Heechul makin geje. Aq brharap ahryung sma siwon j n hamun sma kibum j.
    Kibum lbh baik dbandingkn heechul
    Kibum jg satu jlan sma hamun cz sma2 ddunia film, entertain
    Siwon cocok sma ahryung cz siwon bsa lindungi ahryung dri ayhx yg kyajx jahat

  9. Yg pelukan ah rhyung sama siwon atau ah rhyung sama chulppa ? Semoga bukan heechul. Bakal kacau lagi ceritanya kalo sampe itu heechul.
    Yg sabar buat kesayangan ki kibum. Kakak bikin pemeran perempuan yg nntinya jadi pasangannya kibum dong, biar gak kegantung gitu dianya. Kan kasihan kesayangan aku sendirian. Please ya

  10. itu heechul ya huahhhhh gue cekik tu cabe2an mdg ah ryung ma siwon n ha mun na kibum klo heechul ngejones aja habisnya nyebrkin bgt trouble maker lho mak

  11. Heechul nyebelin banget sihh??
    pengen mnta tonjok klii, sibuk ngrus org laen mulu
    urus aja prnikhan nya ama hamun
    trus yg pelukan itu siapa ya??
    keep writing!!
    dtnggu next chap!

  12. Sapa tuh..?? Ap mungkin Siwon ama Ah Ryung..??

    Dah deh tnggalin Heechul sndiri aja. Ah Ryung ama Siwon trus Hamun ama Kibum. Dah cocok bgt..

  13. Egak tau nau mau komen apa geecul sungguh ngeselin banget , ah ryung kan udah jadi mantan knp masih di baperin. Dan ha mun sama kim bum aja lakwes kesel akunya hecul plin plan

  14. Semangat kibum…… Fighting buat dapetin hati ha mun, singkirkan hee chul sang pembuat masalah, ohhhh siapa tuh yang pelukan?? jangan** hee chul sama ah ryung….. Wahhhhhhhh super kepoooooo…. Lanjut jangan lama* dek baim jangan rewel ya.. Biar bunda cepet lanjutnya :* ❤ 🙂 8)

  15. Aku harap itu heechul dan ah ryung, dan aku harap siwon akan sama dngan ahryung sementara hamun dan kibum fix.
    Heechul?? Sama tiang listrik aja biar konslet sekalian dia ngerasain gimana posisi hamun dan posisi ahryung gara2 dia..
    Jadi orang koq sok kegantengan kali 😠😠

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s