Trouble Namja [Chapter 9]

Tittle : Trouble Namja Chapter 9
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance
Storyline : Arianty Salma

Main Cast :
Choi Ha Mun | Kim Hee Chul | Kim Ah Ryung

Support Cast :
Choi Si Won | Lee Sung Min | Kim Ki Bum

Dha Khanzaki’s Speech :
Hmm.. Ga usah tunggu lama, capcus aja ^^

Happy Reading

Trouble Namja by dha Khanzaki 5

===o0o===

Chapter 9
Meet Again

“Berhenti sebentar.”

Mobil itu menepi ke sisi trotoar sebelum akhirnya berhenti. Si Won menurunkan kaca jendela agar bisa melihat lebih jelas. Tidak salah lagi. Gadis yang berdiri di depan kantor penerbitan terbesar di Seoul itu memang Kim Ah Ryung. Sosok itu membuat senyumnya tersungging begitu lebar hingga lesung pipinya terlihat. Si Won lekas turun sebelum Ah Ryung terlanjur pergi.

“Ah Ryung,” panggil Si Won. Ah Ryung menoleh dan tersenyum.

“Si Won-ssi, senang bertemu denganmu. Apa yang sedang kau lakukan di sini?”

“Aku hanya kebetulan lewat. Aku melihatmu berdiri di sini dan menyempatkan diri menyapamu. Bagaimana kabarmu?”

“Aku baik-baik saja,” ucap Ah Ryung ringan. Melihat Si Won menatapnya iba, Ah Ryung menyadari bukan itu yang dimaksud Si Won. “Aku baik-baik saja, sungguh. Aku tidak akan terus bersedih hanya karena pertunanganku berakhir.”

“Benarkah? Aku lega mendengarnya.” Si Won sungguh lega. Ia merasa bertanggung jawab atas perasaan Ah Ryung mengingat adiknya lah yang membuat Ah Ryung bersedih. “Omong-omong, apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku baru saja menyerahkan naskah novel baruku. Sekarang aku sedang menunggu kakakku. Kami akan berziarah ke makam ibu dan kakak kandungku.”

“Ah, ya.” Si Won tidak tahu bagaimana membalasnya. Ia sudah mendengarnya dari Ha Mun. Ah Ryung sudah tidak memiliki orang tua. Keluarga yang merawatnya kini hanyalah keluarga angkat. Ia sungguh sedih mengetahui keadaan Ah Ryung, dan ingin sekali melakukan sesuatu. Tapi apa? Lagipula mengapa ia harus melakukannya?

“Kakakku sudah datang!”

Si Won menoleh. Ia baru menyadari keberadaan mobil yang berhenti di dekat mereka. Ah Ryung segera pamit kemudian berlari ke sisi mobil itu sebelum Si Won sempat membalas. Si Won melihat seorang pria muda keluar untuk membukakan pintu.

Dia kah sosok kakak Ah Ryung? Si Won merasakan aura persaingan saat melihatnya. Ia pun tidak mengerti mengapa ia merasa terancam saat melihat kakak Ah Ryung. Gadis itu melambaikan tangan padanya sebelum masuk dan Si Won membalas dengan anggukan kepala serta senyum hangat.

Melihat Ah Ryung pergi, Si Won sungguh tidak rela. Ia masih ingin bicara lebih lama dengan gadis berhati baik itu. Di sisi lain, kakak angkatnya pun mencurigakan. Gelagatnya terlihat terlalu protektif dan posesif. Entah mendapat dorongan dari mana, secara tiba-tiba Si Won ingin mengetahui lebih banyak mengenai Ah Ryung. Sepertinya ia harus mendekati Ha Mun untuk menggali informasi tentang Ah Ryung walaupun sebenarnya ia malas karena keberadaan Hee Chul di sisi adiknya.

Si Won kembali ke mobilnya dengan raut wajah meredup, sangat kontras dengan ekspresinya saat melihat Ah Ryung dan ketika pria itu turun dari mobil.

“Tuan, Anda menyukai gadis tadi?” Sopirnya bertanya karena penasaran.

Si Won terkesiap, sama sekali tidak tersinggung dengan sikap ingin tahu sopirnya. “Apa aku terlihat seperti itu?”

“Gadis itu cantik.”

Tanpa sadar Si Won mendesah. “Ya, dia memang sangat cantik.”

Sopir tua itu tersenyum melihat raut mabuk kepayang di wajah bosnya. Tanpa berkomentar apa-apa lagi ia melajukan mobilnya.

***

“Sayang sekali ayahmu tidak dimakamkan di dekat sini. Aku ingin sekali mengunjunginya,” ucap Tuan Kim.

Sekarang, Ah Ryung beserta suami istri Kim—orang tua Hee Chul yang baru tiba di Korea pagi ini—baru selesai berziarah ke makam ibu dan kakak Ah Ryung. Ayah dan Ibu Ah Ryung dimakamkan di tempat yang berbeda. Seperti itulah berita yang Ah Ryung dapat, sebelum ia tahu bahwa ayah kandungnya ternyata masih hidup. Sebelumnya Ah Ryung tidak pernah berziarah ke makam ayahnya karena letaknya di luar kota. Ia juga tidak pernah bertanya mengapa ayah kandungnya dimakamkan begitu jauh. Ternyata, berita itu dibuat untuk menutupi fakta sesungguhnya.

“Maaf, Ayah,” tutur Ah Ryung penuh sesal. Ia merasa tidak enak karena harus menyembunyikan fakta itu dari orang tua Hee Chul.

Sung Min sudah pucat sejak Tuan Kim menyinggung soal berziarah ke makam ayah Ah Ryung. Ia khawatir hal itu membuat Ah Ryung syok dan pingsan. Untung saja ketakutannya tidak terjadi.

“Ada apa, Nak? Kau terlihat khawatir,” tanya Nyonya Kim heran.

“Tidak apa-apa.” Sung Min tersenyum. Ia lekas menyingkirkan kegelisahannya.

Seusai sesi ziarah itu, Tuan dan Nyonya Kim ingin mengunjungi keluarga angkat Ah Ryung. Mereka ingin bertemu dengan orang tua yang sudah membesarkan gadis mengagumkan seperti Ah Ryung. Sung Min menyambut keinginan mereka dengan suka cita.

Di pertemuan yang terjadi di rumah Sung Min itu, Nyonya Kim dan Nyonya Lee langsung akrab. Mereka mengobrol layaknya teman lama yang baru bertemu kembali setelah sekian tahun. Tuan Kim sesekali ikut menimpali, tetapi pria itu lebih banyak mengobrol dengan Sung Min.

“Oh, jadi kau mengelola sebuah kafe? Luar biasa. Usiamu bahkan sebaya dengan putra kami, Hee Chul. Tapi di usia semuda ini kau sudah bisa membangun usaha secara mandiri.”

“Terima kasih. Tidak mudah mengembangkan sebuah bisnis dengan persaingan yang seketat saat ini,” ucap Sung Min kalem.

“Paling tidak, kau berani mencoba.” Tuan Kim merasa bangga seolah Sung Min adalah putranya sendiri.

Tak lama Tuan Lee datang setelah menjemput adik Sung Min yang masih sekolah. Ia terkejut melihat tamu yang datang, dan langsung ikut berbaur dalam obrolan. Sejak lama keluarga Lee memang ingin sekali bertemu dengan keluarga Kim yang selalu diceritakan Ah Ryung. Meskipun mereka batal menjadi keluarga, karena batalnya pertunangan Ah Ryung dan Hee Chul, hal itu tetap tidak menyurutkan keakraban di antara mereka. Keluarga Lee adalah keluarga yang ramah, menyenangkan, dan easy going sehingga obrolan mereka selalu diselingi dengan canda dan tawa.

“Mengapa Ayah dan Ibu tidak menginap di rumah keluarga Choi? Kupikir mereka pasti akan menerima kalian dengan senang hati. Selain itu, rumah mereka sangat besar,” tanya Ah Ryung sambil memandang Tuan dan Nyonya Kim bergantian.

Sung Min merasa tidak nyaman mendengarnya, terutama melihat ayah dan ibunya mengerut bingung begitu Ah Ryung menyebut-nyebut tentang keluarga Choi. Ayah dan ibunya belum tahu bahwa Hee Chul akan menikah dengan Choi Ha Mun, sahabat Ah Ryung. Tetapi syukurlah mereka memutuskan menyimpan rasa penasaran mereka dalam hati. Sung Min akan menceritakannya nanti.

Tuan Kim langsung tertawa, “Kami masih sanggup membayar biaya sewa kamar hotel, Nak,” katanya dengan nada bergurau.

Ah Ryung tersenyum kecil. Ia khawatir keluarga Kim tidak akan cocok dengan keluarga Ha Mun. Walaupun sekarang Ha Mun memiliki ayah yang terpandang, tetap saja ibunya merupakan mantan asisten rumah tangga keluarga Kim. Bisa jadi Tuan dan Nyonya Kim belum bisa menerimanya.

Suasana sempat canggung. Tuan Kim memutuskan mengalihkan topik. “Jadi kalian adalah tetangga Ah Ryung sejak Ah Ryung lahir?”

Tuan Lee mengangguk. Rumah keluarga Lee dahulu tepat berada di samping rumah lama Ah Ryung. Setelah insiden itu terjadi, keluarga Lee memutuskan mengadopsi Ah Ryung yang sebatang kara dan pindah dari daerah itu karena tidak ingin Ah Ryung mengalami trauma.

“Jadi, Anda ada di rumah saat rumah Ah Ryung dirampok?” tanya Nyonya Kim pada Nyonya Lee.

Pertanyaan itu membuat Nyonya Lee kebingungan. Dirampok? Siapa yang dirampok? Ah, Ah Ryung pasti bercerita pada mereka bahwa keluarganya tewas dibunuh oleh perampok. Karena memang itu cerita yang diketahui olehnya. Ah Ryung tidak mengingat penyebab kematian Ibu dan kakaknya yang sebenarnya. Mata Nyonya Lee lantas mencari mata Sung Min. Diam-diam Sung Min mengangguk, memberi isyarat pada ibunya agar mengikuti semua pertanyaan Nyonya Kim.

Ah Ryung tampak menyimak dengan seksama ketika Nyonya Lee bercerita dengan suara agak tersendat.

“Kebetulan aku sedang tidak ada di rumah. Saat insiden itu terjadi, semua keluargaku sedang keluar rumah,” jawab Nyonya Lee. Dalam hati ia berharap jawabannya tidak keliru.

Nyonya Kim langsung mendesah berat. “Pantas saja tidak ada yang menolong Ayah Ah Ryung. Kudengar dia mungkin masih bisa diselamatkan seandainya saat itu ada yang datang menolongnya. Lalu siapa yang membawa Ah Ryung ke rumah sakit?”

Sung Min segera mengambil alih dan mencoba menjawab semua pertanyaan Nyonya Kim melihat ibunya gelagapan. Dari sudut matanya, Sung Min melihat Ah Ryung tersenyum ketika mendengar ia menjawab pertanyaan Nyonya Kim tadi.

“Aku yang menyelamatkan Ah Ryung, kebetulan saat itu aku pulang karena harus mengambil sesuatu. Aku mendengar suara aneh dari rumah Ah Ryung dan sungguh terkejut melihat keadaan di sana. Setelah menelpon polisi, aku lekas membawa Ah Ryung ke rumah sakit. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan yang lain. Ketika keadaan Ah Ryung pulih, aku membujuknya agar tinggal bersama keluargaku.” Sung Min benar-benar menyelaraskan penjelasannya dengan cerita versi Ah Ryung yang diceritakan kepada keluarga Kim.

“Oh ya Tuhan, malang sekali,” desah Nyonya dan Tuan Kim ngeri. “Apa penjahatnya sudah tertangkap?”

Sung Min menggeleng. “Sampai saat ini polisi masih memburunya.” Kemudian ia tersenyum kepada Ah Ryung. “Kami senang sekali Ah Ryung bersedia tinggal bersama kami. Keberadaannya membuat keluarga kami semakin hidup. Apalagi Ibu, dia senang sekali akhirnya memiliki anak perempuan.”

Semua orang di ruangan itu tertawa, tanpa terkecuali Ah Ryung. Sung Min senang sekali melihatnya kembali cerita. Ia harap, tidak ada lagi airmata mengaliri wajah Ah Ryung yang cantik.

Nyonya Kim bisa melihat sorot kagum saat Sung Min menatap Ah Ryung dan entah mengapa, ia menyukai perhatian Sung Min pada Ah Ryung. Jika Ah Ryung memang ditakdirkan untuk bahagia bersama laki-laki lain, maka Sung Min adalah kandidat yang sempurna.

“Apakah kau menyukai Ah Ryung?”

Sung Min yang ditodongkan pertanyaan tak terduga itu oleh Nyonya Kim sempat membeku selama beberapa saat. Ia terkejut, tak pernah mengira akan ada seseorang yang akan mengajukan pertanyaan semacam itu padanya. Tetapi bukan berarti ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Ah Ryung tidak bisa menganggapku lebih dari kakak, dan aku pun tidak berencana untuk mengubahnya,” jawab Sung Min sambil tersenyum.

“Aku pun berpikir sama dengannya,” timpal Ah Ryung.

Nyonya Kim menghormati jawaban mereka. Ah Ryung pasti akan bertemu dengan pria yang bisa membahagiakannya. Ia hanya berharap, Ah Ryung tidak akan pernah melupakannya setelah kelak dia menikah dengan lelaki yang dicintainya.

***

Irama musik beat mengentak-entak memenuhi seluruh ruangan tempat mini konser band Soul itu berlangsung. Hwang Yong Mi tampak tengah berlompat-lompat mengikuti entakan musik yang beritme cepat. Ye Sung sang vokalis melemparkan jaketnya ke arah penonton hingga membuat kerumunan penonton itu bersorak. Ketika lagu berakhir, teriakan kembali membahana. Mereka meminta band menyanyikan satu lagu lagi. Namun sayang, lagu tadi merupakan lagu penutup konser mini mereka hari itu.

Kim Myung Soo tersenyum melihat Yong Mi melambai-lambaikan topi yang dilemparnya tadi. Meskipun berada di barisan belakang, Myung Soo tetap bisa melihat gadis itu dengan jelas dari atas panggung.

Dari arah belakang kerumunan penonton, Yong Mi melihat seseorang yang tak asing berjalan mendekati panggung. Ia mencoba mendekati panggung untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Tetapi terganggu oleh arus penonton yang mulai membubarkan diri. Ia tidak mungkin salah lihat. Tetapi ketika ia mengecek kembali ke arah panggung, sosok itu sudah tidak terlihat. Terakhir kali ia melihatnya, sosok itu mendekati Sung Min yang bermain gitar di atas panggung.

Bodoh, mungkin kau hanya salah lihat. Yong Mi menegur dirinya sendiri. Ketika ia masih merenungkan apa yang dilihatnya, Myung Soo mengejutkannya.

***

Ha Mun menggerutu untuk ke sekian kalinya. Ia terus mengeluhkan Hee Chul yang tidak bisa menjemputnya hari ini. Ia masih tidak mengerti mengapa Hee Chul tetap saja sibuk dengan pekerjaannya walaupun sedang berada di Korea. Padahal Ha Mun sudah mengingatkan Hee Chul sejak berhari-hari yang lalu bahwa hari ini mereka akan melakukan survey gedung pernikahan mereka. Tetapi pagi ini, tiba-tiba saja Hee Chul berkata tidak bisa menemaninya pergi.

Sungguh keterlaluan, tidak punya hati! Ha Mun jengkel sekali. Akhirnya ia terpaksa pergi sendiri. berkat ketidak hadiran Hee Chul, ia menjadi kesal sepanjang hari dan terlihat seperti calon pengantin yang menyedihkan di mata wanita perwakilan event organizer yang disewanya untuk mengatur pernikahannya.

“Aku percayakan pemilihan gedung itu padamu sepenuhnya. Pilihlah gedung mana pun yang kau sukai. Kita akan menikah di sana.” Itulah yang dikatakan Hee Chul via skype.

Saat ini Hee Chul pasti sedang sibuk mengerjakan tugas di kamar hotel yang ditempatinya selama berada di Korea. Hee Chul, sama seperti halnya kedua orang tuanya menolak tinggal di rumah keluarga Choi.

Hujan turun dengan deras ketika Ha Mun keluar dari gedung yang sudah disetujuinya akan ia gunakan untuk resepsi dan pemberkatan pernikahannya nanti. Terpaksa Ha Mun menunggu di halte bus untuk berteduh. Air hujan membuatnya basah kuyup. Ia kedinginan. Ia kembali mengeluh saat menyadari tidak ada satu pun taksi yang lewat di jalan setelah ia menunggu di sana selama lima belas menit. Ia pun tidak tahu kapan hujan akan berhenti.

Hari ini Ha Mun terus mengalami kesialan. Ketidakberuntungan ini membuatnya semakin kesal saja.

Sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. Ha Mun mengeryit waspada karena ia tidak mengenali mobil itu. Seorang pria membuka jendela dan memandangnya dengan intens.

“Hai, apa kabar?” serunya dengan bibir tersenyum manis.

Ha Mun menahan napas melihatnya. Kapan terakhir kali ia melihat senyum itu? Ah, tentu saja saat ia berada di Australia. Ha Mun tanpa sadar ikut tersenyum. Tetapi senyumnya perlahan memudar ketika ia teringat obrolan terakhirnya dengan pria itu.

“Mengapa kau memandangiku seperti itu?” cecar Ha Mun ketus.

“Lama tidak melihatku, kau langsung marah-marah. Choi Ha Mun, kau belum berubah.” Kim Ki Bum tersenyum geli.

Sungguh pertemuan yang tidak terduga, Ki Bum nyaris tidak memercayai matanya sendiri ketika melihat sosok Ha Mun berdiri di sisi trotoar. Ia memang berniat mencari gadis itu begitu ia tiba di Korea, tetapi ia tidak mengira akan bertemu dengannya secepat ini. Ia sungguh gembira dengan keberuntungannya hari ini.

Ha Mun hampir saja melupakan sosok Kim Ki Bum yang ceria itu. Apa yang dilakukannya di sini? Ia tidak tahu jika sutradara itu berada di Korea. Tapi Ha Mun enggan menanyakannya di saat suasana hatinya sedang buruk seperti ini.

“Jika kau datang hanya untuk mengejekku, lebih baik kau pergi saja. Aku sedang kesal saat ini. Sebaiknya kau menyelamatkan diri sebelum aku mengomelimu habis-habisan.”

Ki Bum mengabaikan sikap dingin Ha Mun. Ia sudah terbiasa mendapatkan perlakukan semacam ini saat di Australia kemarin sehingga menurutnya, omelan Ha Mun saat ini masih termasuk sapaan hangat.

“Sepertinya kau butuh tumpangan. Aku bisa mengantarmu pulang, jika kau mau.”

Ha Mun meliriknya sekilas. Ia melihat Ki Bum hanya seorang diri. Ia ingin menolak, tetapi ia sudah tidak bisa menunggu di halte bus ini lebih lama lagi. Lagipula, ia kedinginan. Tubuhnya yang malang sudah mulai menggigil. Akhirnya, Ha Mun memilih menelan rasa gengsinya dan lebih mengutamakan keselamatan dirinya sendiri. Tanpa berkata apa-apa, Ha Mun menerima tawaran Ki Bum. Ia berusaha mengabaikan senyum geli Ki Bum saat menontonnya masuk. Pria ini pasti menertawakan sikapku. Ha Mun sungguh malu.

“Apa kau lapar? Mau makan bersamaku?” tanya Ki Bum ketika Ha Mun sudah duduk di sampingnya.

“Tidak,” tegas Ha Mun langsung. Tolakan itu segera disambut suara perutnya yang tidak bisa bekerja sama. “Mungkin sedikit,” gumamnya dengan pipi merona. Perut sialan, bisakah kau berbunyi di tempat lain, tidak di hadapan pria yang satu ini?

Kali ini Ki Bum terkekeh. Ha Mun masih gadis yang lucu, di luar dari sikapnya yang dingin dan ketus. Ia tak menyangka akan bertemu dengannya di hari pertama ia berada di Korea. Ada beberapa adegan untuk film garapannya yang berlatar belakang negara ini sehingga ia harus tinggal di sini selama beberapa lama untuk pengambilan gambar.

“Apa kau bisa mengambil salah satu tas di kursi belakang?” ucap Ki Bum santai selagi ia mengemudikan mobil.

Ha Mun menuruti permintaan itu tanpa bertanya. Ada beberapa kantong tas di belakang. Ia mengambil salah satunya dan mendapati beberapa pakaian di dalamnya. Ini pasti milik Ki Bum.

“Pakaianmu basah. Pilihlah salah satu.”

Sentak Ha Mun membelalak pada Ki Bum.”Dan aku berganti pakaian di sini? Kau gila.”

“Aku akan mencari tempat makan, kau bisa berganti pakaian di sana,” jawab Ki Bum sabar.

Ha Mun mengangguk puas dan mulai memilih pakaian Bum yang ia suka. Meskipun pilihannya hanya kaus dan celana pendek, tapi Ha Mun tahu semua pakaian itu tidak dibeli di departemen store biasa. Dilihat dari label yang tertempel di setiap baju, Ha Mun mengetahui setiap helai baju yang dipegangnya merupakan produksi sebuah rumah mode terkenal asal Italia. Apa benar ia boleh memilih salah satu, atau dua pakaian bagus ini?

“Tapi kalau kau memaksa ingin berganti baju di sini, aku tidak keberatan,” gumam Ki Bum ketika Ha Mun asyik memilih baju. Tapi gumaman itu masih bisa terdengar oleh telinga Ha Mun.

“Apa kau bilang? Kau cari mati!”

“Astaga, telingamu tajam sekali,” celetuk Ki Bum sambil menyeringai.

Ha Mun menahan tangannya yang sudah gatal sekali ingin melempar wajah Ki Bum dengan kantong tas yang ia pegang. Tapi rasanya tidak sopan sekali. Terutama setelah Ki Bum dengan baik hati menawarinya tumpangan dan baju gratis.

Mereka sampai di rumah makan khas Korea. Ki Bum sengaja memilihnya karena ia merindukan makanan korea. Selagi Ha Mun berganti pakaian, Ki Bum sudah memesan banyak sekali makanan. Ketika Ha Mun menghampiri meja, mulut gadis itu menganga melihat meja mereka penuh dengan berbagai macam hidangan.

“Apa kau mengundang orang lain untuk makan bersama kita? Banyak sekali makanan yang kau pesan.”

“Aku lapar sekali. Dan tidak, kita hanya akan menikmatinya berdua saja. Karena itu kau tidak perlu khawatir orang lain akan melihatmu berkencan denganku.”

“Berkencan apanya!” dengus Ha Mun.

Ki Bum pun belum berubah. Sejak mengenalnya, Ki Bum suka sekali menggodanya. Dari luar, Ki Bum terlihat tidak pernah serius dalam menanggapi sesuatu. Tetapi sebenarnya, Ki Bum sosok yang teliti dan tegas saat sedang bekerja. Semua kru film begitu segan dan menghormatinya.

“Aku masih bertanya-tanya hingga saat ini. Sebenarnya, apa yang membuatmu memaki-maki aku waktu itu di telepon? Apa maksudmu bahwa aku sengaja mengacaukan hidupmu? Aku memberikan rekaman apa dan pada siapa? Seingatku aku tidak melakukan satu pun hal yang kau tuduhkan padaku.”

Ha Mun berhenti makan sejenak. Ia tak menyangka Ki Bum akan mengungkit masalah itu saat ini dan lebih tidak menyangka lagi karena Ki Bum masih belum menyadari kesalahannya.

“Kau sudah memberikan rekaman itu pada temanku. Padahal kau berkata bahwa rekaman itu sudah dihapus. Rekaman itu hampir saja menghancurkan persahabatanku. Aku marah padamu karena kau sudah berbohong padaku.”

Ki Bum masih melongo. Ada satu bagian yang masih tidak dipahaminya hingga saat ini. Mengapa sahabat Ha Mun sampai melihat video itu? Siapa sebenarnya sahabat yang dimaksud Ha Mun? Selain itu, ia tidak ingat pernah menyerahkan video itu pada teman Ha Mun, yang mana pun. Mungkin Ha Mun salah paham.

“Tapi kau tidak perlu mengkhawatirkannya lagi. Aku sudah tidak marah padamu. Lagipula, sekarang aku dan pria dalam video itu sudah bertunangan.”

Ki Bum tersedak. “Kau bertunangan?” Ia sekarang sungguh tercengang. Entah mengapa, ia kurang senang mendengar kabar itu.

Ha Mun mengangguk. Wajahnya yang semula kusut kini dihiasi senyum lebar. “Kau tidak memberi selamat padaku? Bagaimanapun, tanpa kecerobohanmu kami tidak akan pernah bertunangan,” ucapnya polos.

Dan kini Ki Bum sungguh-sungguh tidak suka mendengarnya. Karena kecerobohan yang tidak bisa ia ingat, Ha Mun bertunangan? Konyol sekali! Meskipun kesal, ia tetap memaksakan diri mengucapkan selamat.

“Yeah, kalau begitu, selamat. Semoga kau bahagia.”

“Terima kasih.”

Sisa waktu makan itu dimanfaatkan Ki Bum untuk berbicara tentang film yang sedang digarapnya. Ki Bum memberitahu Ha Mun bahwa pra-premier film Memories From Korea akan diadakan tak lama lagi. Ia meminta Ha Mun untuk ikut acara wawancara itu.

“Aku tidak yakin aku bisa, tetapi aku akan mengusahakan diri untuk datang.”

Ki Bum agak kecewa, meskipun begitu, ia menghormati keputusan Ha Mun. Bagaimanapun, dia wanita yang akan menikah. Waktunya pasti dipenuhi dengan rencana persiapan pernikahan dan resepsi. Setelah acara makan itu selesai, Ki Bum mengantar Ha Mun sampai rumahnya. Ha Mun sempat menolak, tetapi Ki Bum bersikeras. Akhirnya Ha Mun mengalah. Ia sudah lelah berdebat.

“Whoaa, rumahmu besar sekali,” ucap Ki Bum sambil berdecak kagum ketika kepalanya mendongak menatap rumah megah yang membentang luas di depannya. Ia menoleh pada Ha Mun yang berdiri di sampingnya. “Kau tidak pernah mengatakan padaku bahwa kau seorang chaebol.”

Ha Mun tersenyum bangga. “Itulah gunanya memiliki ayah kaya, Choi Jin Hyuk.”

Ki Bum tertawa kecil mendengar nama seorang pemilik perusahaan internasional. Tetapi ada sesuatu yang berbeda dari cara Ha Mun menyebut ayahnya. Tentu saja, Ki Bum tak tahu bahwa Ha Mun adalah anak tiri dari Choi Jin Hyuk.

Sesampainya di kamar, Ha Mun mencoba menghubungi Hee Chul. Ia ingin tahu apa yang dilakukan tunangannya itu saat ini. Setelah deringan kelima, Hee Chul menjawab dengan suara bisikan. “Ada apa?”

Ha Mun tanpa sadar ikut berbisik. “Kau sedang di mana?”

Begitu Hee Chul tersadar bahwa yang bicara dengannya di seberang sana adalah Ha Mun, ia menormalkan suaranya. “Aku masih di jalan. Sebentar lagi sampai hotel.”

“Oh, kukira kau sedang di hotel saat ini. Jadi, kau tadi ada di mana?”

“Aku menemui klien yang kebetulan tinggal di Seoul. Tadi aku bertemu dengannya di sebuah restoran.”

“Lalu kenapa kau berbisik tadi?”

“Aku tidak sengaja melakukannya. Kau tahu, aku masih terbawa suasana rapat tadi.” Hee Chul tertawa ringan.

Ha Mun merasa alasan itu terlalu mengada-ada. Tetapi Ha Mun sedang tidak ingin membahasnya. Ia memutuskan menceritakan kegiatannya hari ini. Ha Mun juga jujur bahwa ia bertemu dengan sutradara filmnya.

“Apa aku boleh ikut konferensi pers pra-premier film itu? Kupikir akan menyenangkan.”

“Tentu saja, Sayang. Sudah kukatakan, apa pun yang kau suka, lakukan saja.” Hee Chul menjawabnya terlalu lancar dan tanpa berpikir panjang. Pria itu diam sejenak, “Ah, maafkan aku, sepertinya aku harus menghentikan pembicaraan kita untuk sejenak, ada polisi yang menghentikanku.”

Sebelum Ha Mun menjawab, sambungan telah terputus. Ha Mun memandang layar ponselnya dengan kening mengerut. Ada apa dengan Hee Chul hari ini? Padahal masih banyak yang ingin Ha Mun ceritakan padanya. Tapi tidak masalah, cepat atau lambat ia akan bertemu dengan pria itu. Mungkin Hee Chul memang sedang sibuk.

Ha Mun meletakkan ponselnya. Ia harus mandi karena ia sempat tersiram air hujan. Ia tidak boleh sampai sakit. Ia sama sekali tidak mencurigai gelagat Hee Chul hari ini, atau bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang dilakukan tunangannya itu.

***

Hee Chul tidak sempat merasa bersalah begitu ia memutuskan pembicaraannya dengan Ha Mun. Ia dengan cepat memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, lalu mempercepat langkahnya. Sudah sejak tadi ia mengintai di tempat yang tak terlihat, terutama oleh Kim Ah Ryung.

Dari tempatnya mengintip, Hee Chul melihat Ah Ryung berjalan santai di samping Si Won. Mereka bersama-sama menghampiri Sung Min yang baru saja datang. Ah Ryung tampak gembira dan dengan senang menawarkan kantong kertas berisi jajanan malam yang baru saja gadis itu dan Si Won beli kepada Sung Min.

Apa yang mereka bicarakan? Hee Chul sangat penasaran. Sayang sekali ia tidak bisa mendengarnya dari tempatnya berada. Ia tidak mungkin mendekati mereka tanpa ketahuan. Hee Chul masih tidak mengerti mengapa ia bisa menjadi penguntit hari ini. Begitu pekerjaannya selesai, ia berniat menemui Ha Mun, namun rencananya berubah ketika ia melihat Ah Ryung bersama Si Won. Ia sangat penasaran mengaba Ah Ryung bisa pergi dengan kakak tiri Ha Mun yang sangat angkuh itu. Tanpa sadar, Hee Chul sudah mengikuti kedua orang itu ke mana-mana. Dan sekarang, Ah Ryung malah menemui kakak angkatnya yang sepertinya jatuh cinta padanya, Lee Sung Min!

Hidup Ah Ryung sepertinya baik-baik saja setelah pertunangan mereka batal. Dengan mudah, Ah Ryung bisa menemukan dua pria sekaligus sebagai pengganti dirinya. Entah mengapa, Hee Chul merasa tidak rela.

Hee Chul melihat Ah Ryung memeluk lengannya. Malam ini angin berembus cukup kencang. Betapa Hee Chul ingin sekali menawarkan pelukannya pada Ah Ryung. Biasanya itulah yang ia lakukan jika Ah Ryung berada di dekatnya. Sayangnya, sekarang ia tidak bisa melakukannya.

Si Won sepertinya menyadari Ah Ryung kedinginan. Dengan penuh perhatian, Si Won melepaskan jasnya lalu menyampirkannya pada bahu Ah Ryung. Senyum manis Ah Ryung yang biasanya ditujukan pada Hee Chul, kini diberikan gadis itu pada Si Won. Hee Chul tanpa sadar mengepalkan tangannya.

Detik itu ia menyadari perasaan terbakar yang menghanguskan hatinya saat ini adalah rasa cemburu. Sial, sepertinya ia masih belum bisa melepaskan Ah Ryung.

–to be continued–

26 thoughts on “Trouble Namja [Chapter 9]

  1. Hadehhh Heechul bikin geregetan nih… Labil banget…
    Jangan sampe Heechul melukai Ah Ryung dan Ha Mun kembali…

    Beneran ceritanya bagus dan buat penasaran sama kelanjutannya…

    Ditunggu kelanjutannya ya Dha…

  2. Heechul bner2 mmbingungkn
    Wktu brtunangan dg ahryung heechul nguntit hamun n nyakitn ahryung
    Tp skrg saat tunangan dg hamun heechul nguntit ahryung n sptx akan nyakitn hamun
    Heechul plin plan egois gk tegas sma prasaanx
    Aq brharap ahryung jdi sma siwon n hamun jdi sma kibum
    Biar heechul tau rasa gk dpt apa2
    Sptix stlah ni hamun yg bkal disakitii sma heechul

  3. bener bener itu heechul belum pernah dibunuh yaa
    dng mudahnya bilang masih suka sama ah ryung
    knpa wktu itu ngelepasin ah ryung dasar bajingan heechul
    smoga saat heechul nyakitin hamun, hamun bisa lepasin heechul dng mudah da smoga heechul gak dapet keduanya kalo bisa gak dapet jodoh skalian
    tega bnget heechul

  4. Hahaha ahirnya heechul cemburu jga lia ah ryung gampang move on.

    Bukan ga sayang saka ha mun,tapi sampe detik ini masih marah ma keputusan hamun yg nerima heechul gtu gampangnya padahal tau hub siapa yg di usik so cara ga langsung

  5. As ta ga… Pengen ngejitak pala.a chullpa bnr..
    Apaan.
    Ish jinja…
    Bnr” trouble namja…
    Mg” ha mun ama kim bum aja..
    Ah Ryung ama wondadd..
    Kalo gk sung min jg gk masalah…
    Biarin si chullppa ileran..
    Habis.a gk konsisten bgt..
    #keselparahh

  6. arghhh sebel sebel sama heechul 😡😡😡 makin ribet masalahnya huhuhu tapi suka kkkkk
    alhamdulillah eonni bisa update cepet wkwkw next chapnya bisa cepet updatenya juga kali ya nanti 😂😂😂

  7. Hee chul nyari masalah mulu nich
    Jangan jangan nanti pernikahan nya dengan ha mun pun batal kayaknya sich gitu
    Dasar pria maruk mau dua cewek sekaligus

  8. Jadi ngga rela hamun sama heechul ataupun hrrchul sama ah ryung. Mendi mereka sama yg lain aja deh. Biar heechul sendirian 😂

  9. iih.. serius yaa disini karakter heechul nyebelin banget. plin-plan gitu… arrggh
    tapi alur ceritanya makin seru sih..
    keep going ya kak..

  10. Waaah….Hee Chul, kalo masih blm rela ngapain di lepas.
    Makanya sebelum memutuskan di pikir dulu..Nyesel datengnya belakanga, ya iyalah kalo Dateng duluan itu namanya pendaftaran.

  11. Aneh bgt ni org.. dsar plin plan.. mau lu sbnrny ap si bang?.. g sadar kah dirimu scra g lngsg udh nykitin hamun. G kbyang klo hamun tau. Dy pst bkal kcwa am heechul. Klo g yakin mending jgn d teruskan. Ksian hamun…

  12. nihhhhh heechul trouble bgt ya klo gx bisa ngelepasin ah ryung seharusnya dari awal gx usah dekati ha mun emg mak cabe satu cwex aja gx cukup ya #plak klo gitu ha mun ma ki bum aja tu cocok sutradara ma artis klo ha mun mau jadi artis

  13. si heechul kenapa sih?? waktu ama ahryung dia msih mikirin hamun tapi wktu ama hamun dia msih blom rela si ahryung dket ama cowok laen…
    ohh abang… mntapkan hatimu dongg bang !!
    keep writing,, next chapter!

  14. Siapa sech sebenarnya yang dicintai heechul ? Hamun atau ahryung ? Bikin sebel liat tingkahnya. Saat dia bersama ahryung heechulberpaling memilih hamun. Sekarang saat dia bersama hamun,heechul malah cemburu melihat ahryung dengan pria lain. Dasar trouble namja…

  15. Wahhhh mak hicol aseemm bgt dah, kaya bau keteknya kyuhyun. Upssss!! hihh jahat kali kau ni. Kudoakan kau tak dapat dua2nya. Ha mub sama ki bum, ah ryung sama siwon. Kau sama papihh hankyung atau papih eeteuk saja. Btw chukkae eonnie, udah berhasil bikin readers geregetan, terutama aku yg sampe nendang2 bantal sambil jambak rambut saking gemesnya sama mak hicol. Daebak as always pokoknya👏

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s