Trouble Namja [Chapter 8]

Tittle : Trouble Namja Chapter 8
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Hurt, Romance
Storyline : Arianty Salma

Main Cast :
Choi Ha Mun | Kim Hee Chul | Kim Ah Ryung

Support Cast :
Choi Si Won | Lee Sung Min | etc.

Dha Khanzaki’s Speech :
Hoollaa,, happy new year all my beloved friends and visitors of this blog.
Seneng ya bisa updet lagi, maaf ya chapter ini baru bisa diposting sekarang. Maklum ibu rumah tangga punya seabrek pekerjaan, belum lagi urus anak–Baim baru sehat lagi setelah hampir seminggu sakit *alhamdulillah *curcol

Semakin kemari, cerita ini semakin pelik guys, kalian akan merasa kesel sendiri n pasti pengen bejek-bejek tokoh utamanya. So, tetep ikutin ceritanya, n semoga ak bosen yaaa

*pssstt.. chapter ini pendek banget*

Happy reading

trouble-namja-by-dha-khanzaki-3

====o0o====

CHAPTER 8
Tangled

Kim Hee Chul mengajak Ha Mun menikmati makan malam di sebuah restoran bergaya klasik dan santai lebih dulu sebelum mereka pulang dan bertemu dengan orang tua Ha Mun. Keduanya asyik bersenda-gurau, terkadang diselingi tawa sambil mengenang masa SMP mereka. Hee Chul juga bertanya tentang masa kanak-kanak Ha Mun, ketika mereka belum bertemu.

Hee Chul sungguh merindukan Ha Mun setelah mereka terpisah dulu, Ha Mun pun mengaku merasakan yang sama. Hingga akhirnya, topik pembicaraan mereka sampai pada asal usul terciptanya nama Casey dan Candace.

“Tidak ada alasan khusus. Nama Casey tercipta begitu saja saat Ayah dipindah tugaskan ke Amerika,” ujar Hee Chul sambil mengangkat bahu.

“Aku saja bahkan terkejut ketika tahu bahwa nama Ibuku adalah Laura Kim dan Ayah menjadi William Kim. Ayah selalu dengan bangga mengenalkan dirinya sebagai Will, dari William Kim. Nama yang kuat dan berkarakter, sesuai dengan dirinya, begitu katanya.”

Hee Chul kemudian menirukan cara ayahnya mengenalkan diri sebagai William Kim dengan sempurna, kemudian tertawa. Ha Mun pun ikut terkekeh.

“Bagaimana kabar Eonni?” Ha Mun tiba-tiba saja teringat pada kakak perempuan Hee Chul yang kini tinggal bersama suaminya.

“Tae Hee Nuna? Dia baik-baik saja. Sekarang dia sudah menjadi ibu dari dua anak. Kau harus berhati-hati saat bertemu dengannya nanti. Nuna menjadi super cerewet dan suka mengajur sejak menikah.”

“Eonni akan datang saat kita menikah nanti?”

“Tentu saja. Nuna tidak mungkin melewatkan pernikahan adiknya sendiri.”

Ha Mun mengangguk. Ia juga merindukan sosok Tae Hee yang baik hati namun tegas itu. Ha Mun tidak pernah bertemu dengannya lagi sejak bertahun-tahun yang lalu. Bahkan ketika keluarga Hee Chul pindah pun, Tae Hee sudah berada di Amerika untuk menyelesaikan kuliahnya. Ha Mun kemudian menceritakan perjalanan kariernya hingga menjadi penari internasional seperti sekarang.

“Pada awalnya ibu melarangku mengikuti jejak Ayah yang sangat suka menari. Ibu tidak mau aku menekuni bidang itu, aku tidak menghiraukannya dan tetap menari, bahkan setelah mengetahui kelakuan ayah. Terkadang, aku merasa larangan ibu ada benarnya karena setiap menari, aku selalu teringat pada kelakuan Ayah yang sudah mempermalukan keluarga kami. Namun aku tidak bisa berhenti. Aku sudah terlanjur sangat mencintai seni tari. Karena itu aku gembira ketika kerja kerasku berbuah manis. Aku memulai debut pertamaku sebagai penari internasional di Amerika.”

Cerita Ha Mun membuat Hee Chul sangat bangga. Ia memegang tangannya sebagai bentuk dukungannya terhadap Ha Mun.

“Di Amerika aku berkenalan dengan penari kontemporer terkenal, Spencer Lee, dan tampil bersamanya. Aku terkejut dia bisa bahasa Korea. Walaupun dia terlihat berasal dari Asia, kukira dia hanya bisa bahasa Inggris. Spencer sempat menanyakan nama Amerika-ku, tentu saja aku tidak punya saat itu. Dan Spencer yang memberiku nama Candace. Candace Choi. Spencer bilang nama itu sangat cocok denganku, permen yang dingin, Candy Ice. Manis diluar, tapi dingin di dalam.”

Hee tersenyum mendengar cerita tersebut. “Itu memang nama yang bagus, tetapi aku tidak akan menyebutmu dengan nama itu.”

“Kenapa?” Ha Mun terkesiap.

“Aku merasa Candace adalah bentuk pernyataan cinta dari pria berambut perak itu untukmu.”

“Spencer menyukaiku?” Ha Mun sentak tertawa. “Tidak mungkin.”

“Ha Mun, jelas sekali dia menyukaimu.” Hee Chul gemas karena Ha Mun mengira ia hanya bergurau.

“Bagaimana kau tahu? Kau sudah bertanya padanya?”

“Aku tidak perlu bertanya. Karena sebagai lelaki, aku bisa menebak apa yang dirasakannya untukmu setiap dia menatapmu.”

Ha Mun masih tidak percaya. Spencer Lee menyukainya? Itu benar-benar gagasan konyol.

“Tapi kau tidak perlu mencemaskannya, aku tetap memilihmu,” hibur Ha Mun. Ia iseng menulis nama mereka di atas kertas memo dan menggabungkan huruf C mereka, hingga membentuk huruf C yang besar dan menghiasnya agar terlihat lebih berseni.

Hee Chul memuji gambar Ha Mun. “Itu bagus sekali, tapi sejujurnya gambar Ah Ryung jauh lebih bagus. Ah Ryung pernah menyatukan nama kami dan menggambar huruf E dan Y dengan sangat indah. Casey dan Ashley.”

Informasi yang diceritakan oleh Hee Chul secara tidak sengaja itu membuat Ha Mun membisu. Lagi-lagi Ah Ryung. Kenapa? Ha Mun tahu Hee Chul tidak sengaja melakukannya, tetapi entah sudah berapa kali Hee Chul memasukkan nama sahabatnya itu dalam percakapan mereka. Hee Chul tidak menyadarinya, dan Ha Mun tidak bisa marah, hanya bisa memendam rasa cemburunya dalam hati. Terkadang hal itu membuatnya bertanya, mungkinkah jauh di lubuk hati Hee Chul, masih ada cinta untuk Ah Ryung?

***

Kegusaran Ha Mun akan perasaan Hee Chul terhadap sahabatnya terlupakan begitu mereka tiba di rumahnya. Apalagi saat Ha Mun melihat ibunya yang sudah menunggu kedatangannya di teras rumah. Ha Mun sangat gembira, sehingga ia langsung memeluk ibunya begitu turun dari mobil jemputan yang dikirim ayahnya.

Hee Chul menyapa Choi An Na dengan ramah. Wanita itu masih tampak sama seperti saat terakhir ia melihatnya. Kecantikannya tidak berubah. Choi An Na membalasnya dengan senyum sopan.

“Tuan Muda, senang bertemu denganmu lagi,” ucap Choi An Na refleks, kemudian mengerjap. Ia tanpa sadar terbawa kebiasaannya saat masih menjadi asisten rumah tangga di rumah orang tua Hee Chul dulu.

“Bibi, kumohon berhenti memanggilku Tuan Muda. Aku sudah bukan majikanmu lagi. Bibi juga akan menjadi ibu mertuaku tak lama lagi. Karena itu bibi harus mulai memanggilku dengan namaku saja.” Hee Chul tersenyum.

Wajah wanita paruh baya itu tampak merona. “Ah iya. Sepertinya bibi masih tidak percaya bahwa kau dan Ha Mun sudah bertunangan. Rasanya seperti mimpi. Bibi sendiri terkejut ketika mendengar bahwa kau sudah melamarnya. Kalian baru saja bertemu kembali, bukan?”

Ha Mun meringis di belakang ibunya. Ia tiba-tiba merasa takut. Ibunya tahu bahwa ia mencintai Hee Chul, tapi ibunya tidak tahu bahwa Hee Chul sudah menjadi tunangan Ah Ryung ketika bertemu lagi dengannya.

Hee Chul menyadari kegelisahan Ha Mun, segera menjawab dengan santai. “Walaupun kami baru bertemu kembali setelah sekian lama, aku masih mencintainya. Dan kami sudah cukup umur, sehingga tanpa pikir panjang lagi aku segera melamarnya.”

Sepertinya jawaban Hee Chul membuat ibunya tenang. Ha Mun mendesah lega.

Choi An Na segera mengajak mereka masuk. Hee Chul berdecak kagum ketika menjejaki rumah Ha Mun sekarang. Lebih mewah dan besar dari rumahnya sendiri. Ia memang pernah mendengar dari Ah Ryung bahwa hidup Ha Mun sudah jauh lebih baik berkat ayah tirinya, namun ia tak mengira ibu Ha Mun menikah kembali dengan laki-laki sekaya ini sehingga bisa memberi Ha Mun hidup layaknya putri. Dengan keadaan Ha Mun yang memiliki orang tua baru yang berasal dari kalangan berada, mungkin orang tuanya bisa lebih menerima Ha Mun.

“Kapan orang tuamu akan datang kemari?” tanya Choi An Na ketika mereka duduk di ruang tamu.

“Secepatnya. Mungkin besok mereka tiba di sini.”

Ha Mun melihat ibunya mendadak gugup. Kegembiraan dan ketegangan bercampur dalam ekspresinya. Ha Mun merasa iba. Ibunya pasti memikirkan insiden yang membuat keluarganya diusir dahulu. Ibunya mungkin takut orang tua Hee Chul akan mengungkit masalah itu dan akan menggunakannya untuk menghambat rencana pernikahan dirinya dan Hee Chul.

“Ibu, jangan mencemaskan apa pun. Orang tua Hee Chul Oppa sudah merestui kami.” Ha Mun menggenggam tangan ibunya dengan lembut.

“Benarkah? Ah, sungguh melegakan.” Choi An Na melemaskan bahu.

Hee Chul pun ikut menegaskan. Mereka kemudian asyik membahas pengalaman Ha Mun selama di Australia. Sementara itu di luar, sebuah mobil memasuki area rumah. Choi Si Won keluar dari mobil setelah memarkir mobilnya. Pria itu terkejut melihat Ha Mun sudah kembali dari Australia.

“Ha Mun, kapan kau kembali?” serunya.

“Baru saja,” jawab Ha Mun. Setelah mencium ibunya, ia memeluk Ha Mun dan sepenuhnya mengabaikan keberadaan Hee Chul di sana.

“Kenapa kau tidak memberitahuku? Aku mungkin akan meluangkan waktu untuk menjemputmu.”

“Tidak perlu. Aku bersama tunanganku.” Ha Mun menggenggam tangan Hee Chul.

“Oh, ya, aku lupa kau sudah bertunangan,” balas Si Won datar. Ia pamit pergi ke kamarnya untuk beristirahat.

Ha Mun agak kesal karena Si Won memperlakukan Hee Chul begitu dingin. Ibunya berkata Si Won baru saja pulang dari perjalanan bisnisnya di luar kota. Mungkin kelelahan yang menyebabkan sikap dingin Si Won. Ha Mun memakluminya, tapi tidak dengan Hee Chul.

“Sepertinya kakakmu masih tak suka padaku.”

“Tak perlu dipikirkan, dia memang seperti itu.” Ha Mun mencibir melihat tingkah Si Won.

“Kau tidak berpikir kalau dia cemburu, bukan?”

“Tentu saja tidak. Dia kakakku, dan dia sudah mengganggapku seperti adik kandungnya sendiri.”

“Kau yakin? Aku lega mendengarnya.”

***

Sung Min tidak bisa berhenti mengkhawatirkan Ah Ryung. Setelah gadis itu sadar dari pingsannya, Ah Ryung menyapa dirinya dan ibunya dengan ceria. Ah Ryung sepertinya lupa bahwa dia sempat pingsan sebelumnya setelah mendengar percakapannya dengan sang ibu. Malah, begitu pulih keesokan harinya, Ah Ryung langsung meminta Sung Min agar menemaninya pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi untuk novel terbarunya. Sung Min dan ibunya tidak mengatakan apa-apa demi kesehatan Ah Ryung.

Setelah melihat Ah Ryung kesakitan sebelum jatuh tak sadarkan diri, mereka takut sekali untuk menyinggung masa lalu Ah Ryung dan bertanya apa yang membuat Ah Ryung kesakitan.

“Oppa, bisakah kau menemaniku mengunjungi makam ibu dan kakakku dua hari lagi?” tanya Ah Ryung ketika ia mereka sedang berjalan menelusuri trotoar seusai keluar dari perpustakaan.

Sung Min terkesiap dari lamunannya. “Um, itu..” Tadi Ah Ryung hanya menyebut makam Ibu dan kakaknya, apa Ah Ryung ingat bahwa ayahnya masih hidup?

“Kenapa Oppa diam saja? Apa aku mengganggu rencanamu? Tunggu, mungkinkah Oppa akan kencan dengan pacarmu hari itu?” Ah Ryung mengarang alasan sendiri melihat Sung Min terus diam.

“Pacar apa? Aku tidak memiliki pacar. Tentu saja aku akan mengantarmu.”

“Syukurlah.”

Karena sudah memasuki waktu makan siang, Sung Min mengajak Ah Ryung makan di sebuah kafe yang cukup terkenal di area itu. Sung Min yakin Ah Ryung akan menyukai makanan yang disajikan di sana. Ah Ryung hanya tersenyum. Ia bukan tipe orang yang pilih-pilih makanan sehingga tidak merasa keberatan dengan makanan jenis apa pun.

Keadaan kafe cukup penuh siang itu. Sepertinya kafe ini memang tempat favorit sebagian besar orang untuk makan. Mereka beruntung bisa menemukan meja kosong. Ah Ryung sama sekali tidak menyangka di sana ia akan bertemu dengan Hee Chul juga Ha Mun. Dan ia sempat kebingungan menunjukkan ekspresi seperti apa ketika Ha Mun dan Hee Chul pun melihat keberadaannya.

“Bukankah itu Ha Mun?” ucap Sung Min lebih dulu. “Siapa pria yang bersamanya?”

“Dia tunangan Ha Mun.” Ah Ryung bersyukur ia bisa tersenyum dengan tulus. Sebelum ia sempat memikirkan apa yang harus ia lakukan, Ha Mun terlanjur mengajak mereka duduk bersama.

Alhasil, di sanalah Ah Ryung, menikmati makan siang bersama dengan Hee Chul juga Ha Mun. Sung Min yang tidak tahu apa pun tentang Hee Chul dan kisah pertunangan mereka yang kandas, sibuk mewawancarai Ha Mun tentang pertunjukkan tarinya di Australia.

Ah Ryung sudah bercerita pada ibu angkatnya dan Sung Min bahwa pertunangannya dibatalkan, tetapi tidak pernah bercerita bahwa tunangannya memilih sahabatnya sendiri. Mereka tidak tahu rupa tunangannya, hanya tahu dia bernama Casey. Karena itu Sung Min tidak menyadari bahwa kini dia sedang berhadapan dengan mantan tunangan Ah Ryung.

Selagi Ha Mun sibuk mengobrol dengan Sung Min, Hee Chul diam-diam memandangi Ah Ryung. Jujur saja, ia tidak begitu menyukai Sung Min. Sikapnya, caranya menatap Ah Ryung begitu berbeda. Sung Min memandang Ah Ryung bukan sebagai adik, melainkan sebagai wanita. Entah kenapa hal itu sangat mengganggu Hee Chul. Apalagi begitu ia tahu bahwa mereka tidak terikat pertalian darah. Ah Ryung bercerita bahwa keluarga Sung Min mengadopsinya setelah seluruh keluarganya meninggal dunia.

Ha Mun menyadari Hee Chul terus menatap interaksi antara Sung Min dan Ah Ryung dengan pandangan sinis. Ada apa dengannya? Ha Mun berusaha mengalihkan perhatian Hee Chul dengan menggenggam tangannya. Ha Mun memperlihatkan sebuah selebaran pada Hee Chul.

“Apa ini?” Hee Chul penasaran.

“Surat penawaran untukku. Salah satu rumah produksi memintaku ikut berperan dalam pertunjukan tari teatrikal sekitar dua bulan lagi. Bagaimana menurutmu?”

“Bukankah itu bagus? Kau tidak boleh melewatkan kesempatan ini.” Hee Chul mendukung sepenuhnya karier Ha Mun. Ia gembira mengetahui semakin banyak pihak yang melirik bakat tunangannya itu.

Ha Mun sangat senang. “Sungguh? Kalau begitu aku akan memberitahu mereka secepatnya.”

Betapa Ah Ryung ingin ikut bahagia melihat Ha Mun dan Hee Chul semakin dekat. Namun rasanya sulit sekali karena ia masih belum bisa melupakan kenangannya bersama Hee Chul. Tuhan, ia sahabat yang buruk. Ia berkata akan merelakan Hee Chul, tapi ternyata ia masih belum bisa. Mengutip apa yang Je Young katakan, ia adalah gadis munafik.

“Ada apa?”

Sung Min heran sekali. Ah Ryung menjadi sangat pendiam dan murung sepulang mereka dari makan siang. Apa yang membuatnya sedih? Seingatnya tidak ada hal apa pun yang berpotensi menyinggung perasaan Ah Ryung.

“Tidak ada.” Ah Ryung duduk diam di sofa. Buku yang tadi dibacanya terabaikan di atas pangkuannya.

“Bohong. Jelas sekali ada sesuatu yang mengganggumu. Apa aku melakukan sesuatu yang salah?”

Ah Ryung menggeleng. “Ini tidak ada hubungannya denganmu, Oppa.”

“Begitu, syukurlah. Tapi tetap saja aku penasaran. Kau menjadi seperti ini sejak kita makan siang bersama temanmu.”

Ah Ryung bereaksi. Sung Min menjadi yakin penyebabnya memang berkaitan dengan pertemuan di kafe tadi.

“Kau bisa menceritakan apa masalahmu padaku.”

Pada mulanya Ah Ryung menggeleng, tetapi Sung Min mendesak karena khawatir. Akhirnya Ah Ryung pun mengalah. Ia mendesah.

“Aku sungguh gadis yang munafik,” gumam Ah Ryung pelan.

Pernyataan pertama itu membuat Sung Min mengerjap. “Apa maksudmu?”

Ah Ryung menerawangkan pandangannya ke depan. Dalam retina matanya berkelebat kilasan kenangan bahagianya saat masih bersama Hee Chul. Rasa sakit menusuk dadanya setiap satu memori bahagia terlintas kembali, dan semakin parah saat sadar Hee Chul tidak lagi menjadi miliknya.

“Ah Ryung, apa yang terjadi?” Sung Min terkesiap melihat airmata menetes di sudut mata Ah Ryung.

“Aku pernah berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku bisa melepaskan pria yang kucintai untuk temanku dan akan berbahagia untuknya. Namun melihat mereka bersama, dadaku tetap terasa sakit.” Ah Ryung meletakkan tangan di atas dadanya. “Pedih yang terasa hanya mengingatkanku bahwa aku sedang membohongi diriku sendiri. Apa yang sebaiknya kulakukan?”

Sung Min mengerutkan dahi. “Apa maksudmu? Pria yang kau cintai bersama temanmu? Apa kau sedang membicarakan tunanganmu? Jadi alasan kau membatalkan pertunanganmu dengannya karena dia memilih wanita lain, dan wanita lain itu adalah temanmu? Tunggu dulu, tunggu dulu.” Bola mata Sung Min melebar menyadari sesuatu. “Jangan katakan teman yang kau maksud adalah Choi Ha Mun! Jika benar, itu berarti Kim Hee Chul adalah mantan tunanganmu?”

Ah Ryung tidak menjawab, hanya memalingkan pandangan agar Sung Min tidak melihat airmatanya. Namun hal itu merupakan jawaban yang cukup bagi Sung Min. Ia merosot dari tempat duduknya ketika mengetahui berita mengejutkan itu. Situasi ini menjelaskan banyak hal. Sekarang Sung Min mengerti alasan Ah Ryung bermuram durja. Tetapi di sisi lain ia sungguh kagum pada Ah Ryung jika mengingat betapa tenang dan santainya sikap gadis itu siang tadi, ketika mereka makan siang bersama Ha Mun dan Hee Chul. Sung Min sungguh tidak menyangka bahwa ada luka tersembunyu di setiap senyum yang diperlihatkan Ah Ryung.

Sung Min merangkul Ah Ryung ke dalam pelukannya. “Sssh, sudah. Jangan menyia-nyiakan airmatamu lagi. Keadaan tidak akan berubah tak peduli kau menangis darah sekali pun. Hee Chul sudah bahagia bersama Ha Mun. Aku mengerti jika kau belum bisa merelakannya. Hee Chul pernah menjadi pria yang kau cintai. Tentu akan sangat sulit menghapus cintanya. Apa yang kau rasakan merupakan sesuatu yang wajar. Kerena itu berhenti meratapi nasib. Aku yakin kau akan menemukan cinta lain yang kelak akan lebih membuatmu bahagia.”

Pelukan hangat Sung Min, belaian lembut pria itu di rambutnya, membuat Ah Ryung tenang. “Terima kasih, Oppa.” Ia sangat bersyukur memiliki Sung Min sebagai kakak. Sung Min selalu bisa menghiburnya, kapan pun dan di mana pun.

Ah Ryung merasa lebih baik setelah menangis. Ia lega bisa meringankan beban di hatinya. Ia akan mencoba melupakan Hee Chul lagi. Sung Min benar, hidupnya masih panjang. Meratapi apa yang telah terjadi hanya membuang-buang waktu dan tenaga. Sekarang, ia lebih baik fokus pada apa yang ingin diraihnya. Ah Ryung akan bahagia, mencari cinta yang baru untuk menggantikan Hee Chul, dan meraih cita-citanya.

–to be continued–

Iklan

32 thoughts on “Trouble Namja [Chapter 8]

  1. Astagaa…. Chull bnr” dehhhh…
    Mw.a apa cb… -_- sikut sana sikut sini .. Aslii…
    Pan kasian.. Ha mun ama Ah Ryung.. Mg aja dua.a” dpt cow yg lbh ketjehh dr heenim.. Biarin dahhh.. Gigit jari gk dpt apa”. *EvilLaugh

  2. apa sebenernya maunya heechul .
    tapi aku memang lebih berharao Heechul menyadari cintanya terhadap ahryung .
    kalo dipikirkan Hamun sama Heechul dah lama gag ketemu dan apalagi heechul pernah bertunangan sama ahryung . bohong kalo heechul gag cemburu atau gag cinta ahryung
    memang maunya heechul disentil dulu biat sadar ama perasaannya sendiri dan gag labil .

  3. Bingung deh kak sm heechul bimbang bgt jd laki….hmmm sebenernya dia itu cintanya sama siapa hamun apa ah ryung????
    Trus nanti kibum sama siapa jdnya???

    *kebiasan baca karakter hamun jd hanum :D*

  4. Pendek ya… Atau cuma perasaanku saja ?
    Aku gak ngerti dengan heechul, sebenarnya dia cinta sama siapa sech ? Dia melepaskan ahryung demi hamun tapi dia gak suka liat ahryung dekat dengan sungmin berarti dia jealous kan. True ngapain did jealous liat Sungmin demean ahryung,kan did Sudan gal Ada givings lag demean ahryung

  5. Hechul g konsisten banget.. Dia akan selalu nyakitin banyak pihak klo gitu
    Kasian ahryung 😐
    Ahryung sama siwon aj gmn?
    Kan mereka sma 2 pernah patah hati

  6. Aku pikir hee chul dan ah ryung masih saling mencintai
    Dan hubungannya dengan ha mun mungkin karna hee chuk gagal move on aja
    Ditambah heechul mencintai keduanya
    Serakah kamu kalo kayak gitu bang

  7. berharap hamun ninggalin heechul aja biar heechul tegas. mau sama hamun atau ahryung sihh. tapi aku berharap tetep sama hamun si ini cuma perasaan sesaatnya heechul sama ahryung karena rasa bersalah.

  8. Heechul, apa masih menyimpan perasaan ke Ah ryung ya? Dia mencintai Ha Mun tapi juga mencintai Ah Ryung… Walahhh bener2 deh Heechul..
    Tapi sepertinya benar pemikiran Heechul, Sungmin melihat Ah Ryung bukan sebagai adik nya tetapi sebagai wanita… Duh jadi bingung, siapa yg tepat untuk Ah Ryung, Ki Bum or Sung Min?
    Ditunggu kelanjutannya ya…

  9. Makin ga suka sama heechul, perasaan dia plin plan, pengennya dapat dua duanya kayaknya.
    Masih menyesali keputusan ha mun yang gitu aja menerima hee chul.
    Ki bum dimana kamu?

    Dan ah ryung, kamu memang gadis yang kuat. Cepat aja deh bisa melupakan heechul dan dapat pengganti yang setia.

  10. Si heechul kok kyk plinplan sih. G tegas pndirian ny. Wkt dy msih jd runangn ah ryung dy kekeh bgt brusha kmbli k wnita yg dy cintai yaitu hamun tp stlh kmbli am hamun knp dy kyk g suka gt liat ah rtyng dekat sungmin. Klo kyk gini sm aj u nyakitin mrk berdua bang…hadeuhhh sbnrny gmn prasaanmu itu si bang.
    Kasian jg jd ny liat ah ryung. Dy brusaha ttp tegar d depan mntan tunangnny n shbt ny. Pst g gampang y huhuhu.

  11. hmm nampaknya heechul mulai menyebalkan lagi nihh
    akan berakhir dng siapa heechul, hamun ahryung??
    kalo bisa jng sama keduanya, bener bener heechul bikin emosi pingin pukul tu orang biar sadar

  12. Kasian ah ryung dia menutupi luka d hati ny dgn senyuman palsu ketika bertemu heechul dan hamun
    Kira2 ah ryung akan bersama siapa kelak pasangan ny jgn smpe ah ryung ga dpt pasangan yg membuat hidup dia bahagia lg ah ryung berhak bahagia krna dia wanita baik2
    Lanjut jgn lama iya eon
    Happy New Year 2017 eon
    Semoga blog eon d thn 2017 ini jd makin sering update ff2 baru mengenai kyu-young couple hihi
    Sukses trs iya eon 😉

  13. kasian ah ryung dia ga tau apa2 harus relain heechul
    v sebel juga sama heechul kenapa gampang banget buat lepasin ah ryung c

  14. Hee chul maunya apa sii?
    Sebenarnya dia benaran cinta ga sii sama Ha Mun atw sebenarnya rasa cinta ke Ha Mun sudah menghilang tp krna dia masih mengingat kenangan dl jadi dia merasa masih memiliki perasaan itu ke Ha Mun?
    Atau krna sebenarnya Hee Chul uda mulai memiliki rasa ke Ah ryung?

  15. Ckckck dasar Heechul saat bersama Hamun ngmgin Ahryung dan tidak sadar dia sudah menyakiti perasaan Hamun mungkin lebih baik heechul tidak mendapatkan Hamun maupun Ahryung

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s