Trouble Namja [Chapter 7]

Tittle : Trouble Namja Chapter 7
Author : Dha Khanzaki
Genre : Romance, Friendship
Storyline : Arianty Salma

Main Cast :
Choi Ha Mun | Kim Hee Chul | Kim Ah Ryung

Dha’s Speech:
Ketemu lagi ^^ Mumpung lagi ada waktu luang, aku posting aja lanjutannya.
Pasti pada berpikir kalau cerita ini bakal tamat di beberapa chapter ke depan ya? Hohohoho, silakan simpan pikiran itu guys, Trouble Namja masiiih panjang dan dijamin konflik yang disajikan lebih pelik dan menguras hati dari When I Lost in Your Memory. Sooo, jangan bosen ikutin ceritanya ya ^^

Terima kasih untuk teman-teman yang masih setia membaca FF di sini *emothatibertebaran* Love uuu
Dan maaf juga jika updet ceritanya gak serajin dulu. Maklum sudah jadi ibu-ibu mah susah. Dede Baim lagi lucu-lucunya ssiih, jadi gak tega buat tinggalin bentar buat maen ama laptop. hehehehe..

Happy Reading

Trouble Namja by Dha Khanzaki 4

====o0o====

 Chapter 7
Engagement

Ha Mun merasa sangat gugup. Tubuhnya panas dingin dan ia pun merasakan tangannya gemetar. Alasannya bukan karena ia terpaksa membatalkan rencananya kembali ke Korea, melainkan karena akhirnya ia menyerah juga pada bujukan Ah Ryung serta Hee Chul sehingga kini ia duduk di ruang tengah keluarga Kim yang megah.

Kekacauan akan berkecamuk di depannya. Ha Mun tahu bencana tak lama lagi akan menghajarnya hingga hancur. Ia takut sekali. Terlebih ketika ia melihat Nyonya Kim berjalan mondar-mandir di hadapannya dengan ponsel menempel di telinga, sibuk menghubungi katering dan entah siapa lagi–hanya Tuhan yang tahu. Ia tidak berani menghapus rona gembira di wajah wanita itu, yang pasti akan terjadi jikalau mereka memberitahu kabar itu.

Ah Ryung dan Hee Chul saling pandang. Kekhawatiran dan kepanikan Ha Mun bisa mereka rasakan dengan jelas. Hee Chul menggenggam tangan Ha Mun untuk menenangkannya.

“Ini benar-benar ide buruk. Bisakah kita pergi dan melupakan semuanya?” bisik Ha Mun.

Hee Chul tersenyum geli. “Berhenti khawatir, semuanya akan baik-baik saja.”

Ha Mun menoleh pada Ah Ryung untuk meminta bantuan. Tapi sinyal SOS-nya hanya dibalas oleh senyuman. Ha Mun mengerang, kesempatannya untuk kabur sudah hilang.

Tubuh Ha Mun kaku ketika Tuan Kim melangkah masuk ke ruangan itu. Pria paruh baya itu tersenyum senang, menyapa Ah Ryung dengan hangat, lalu memeluknya seperti memeluk putri kesayangannya sendiri.

Ha Mun segera menarik tangannya dari genggaman Hee Chul sebelum Tuan Kim mengalihkan perhatian padanya. Pria itu duduk di sofa yang tunggal yang berhadapan dengan sofa yang diduduki Ah Ryung dan dirinya. Hee Chul duduk di sofa yang berbeda. Tuan Kim hanya meliriknya sekilas. Entah Ha Mun harus lega atau tidak, sepertinya Tuan Kim tidak mengenalinya. Pria itu mengira Ha Mun hanya teman Hee Chul dan Ah Ryung saja. Tapi hal itu tidak mengobati kegelisahan Ha Mun.

Tak lama kemudian Nyonya Kim bergabung dengan mereka. Wanita itu pun hanya melihat Ha Mun sekilas, lalu mengalihkan perhatiannya pada Ah Ryung.

“Dia temanmu, Sayang?” tanyanya pada Ah Ryung yang asyik bersenda gurau dengan Tuan Kim.

“Dia teman baikku,” jawab Ah Ryung tenang. Ia bisa merasakan Ha Mun gemetar. Ia menggenggam tangan Ha Mun untuk menguatkannya.

“Wah, kau tidak pernah mengajak temanmu kemari. Apa dia temanmu yang berasal dari Korea?” Barulah detik itu Tuan Kim benar-benar memandang Ha Mun.

Ha Mun dihadang dilema antara membalas tatapan Tuan Kim dengan senyuman atau ia harus menundukkan kepala karena takut dikenali. Namun karena tidak mau dianggap tidak sopan, Ha Mun memilih menampilkan senyum ramah.

Tiba-tiba saja Tuan Kim berhenti tersenyum. Ekspresi wajah pria itu membuat Ha Mun tercekat. “Dia mengenaliku,” batinnya cemas. Ha Mun sudah pasti mengingatkan pria itu pada ibunya, mantan asisten rumah tangga mereka dahulu yang sangat mereka benci.

Ah Ryung yang merasa bahaya akan tiba, melirik Hee Chul. Mereka berkomunikasi melalui tatapan mata mereka. Keduanya sadar sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya. Ketegangan yang muncul di antara Hee Chul, Ah Ryung dan Ha Mun membuat orang tua Hee Chul heran. Ha Mun benar-benar ingin kabur dari ruangan itu.

“Ayah, Ibu, aku ingin mengatakan sesuatu. Aku harap kalian akan menerimanya,” ucap Hee Chul mengawali. Orang tuanya memandangnya dengan penasaran.

Hee Chul memandang Ha Mun sekilas lalu berkata, “Dia adalah Jang Ha Mun. Apa kalian masih mengingatnya?”

Ha Mun berusaha menampilkan senyum alami, namun hujaman tatapan mata kedua orang tua Hee Chul sungguh membuat bulu kuduknya berdiri. Tuan Kim mengenalinya lebih dulu.

“Kau, Jang Ha Mun?” katanya tak percaya. Tentu saja, bagaimana ia bisa melupakannya? Anak ini adalah anak Jang An Na, pembantunya saat di Korea dahulu.

Ha Mun mengangguk kaku, “Lama tidak bertemu.”

Ekspresi Tuan Kim langsung berubah kaku. Mengingat Jang An Na, tentu saja mengingatkannya juga pada kenangan yang tidak menyenangkan, yang cukup mendorongnya untuk meninggalkan ruangan itu tanpa berkomentar apa-apa lagi. Gadis itu bukan hanya anak dari Jang An Na, tapi juga anak dari Jang Han Guk, supir yang telah mengkhianatinya. Tuan Kim tidak sudi bertemu dengan siapa pun yang mengingatkannya pada pria itu.

“Ayah!” Hee Chul tercengang menyaksikan ayahnya pergi.

Ha Mun terpukul. Ia bisa merasakan kebencian Tuan Kim dengan jelas. Pria itu belum memaafkan keluarganya dan sudah pasti tidak akan mau menerimanya.

Nyonya Kim pun terlihat tidak senang. Senyum ramahnya meredup. “Kenapa kau membawanya kemari?”

Hee Chul mendesah keras. Ia tahu akan sulit memberitahu kedua orang tuanya. Tapi tidak ada cara lain untuk membuat mereka mengerti selain mengatakannya secara langsung.

Ha Mun menggenggam tangan Ah Ryung sekedar mencari kekuatan. Ah Ryung mengerjap merasakan getaran kecemasan dan keringat yang meresap ke setiap pori kulitnya dari tangan Ha Mun.

“Kumohon jangan marah, Ibu,” bujuk Ah Ryung. “Ha Mun tidak salah, kami yang memaksanya agar ikut bersama kami.”

“Iya, tapi kenapa. Ibu tidak keberatan kau mengajak temanmu, Nak. Tapi anak ini tahu bahwa kami tidak akan bisa menerima gadis ini, tapi dia tetap mengajaknya,” balas Nyonya Kim pedas sambil mendelik pada putranya sendiri.

Ha Mun tercekat. Nyonya Kim bahkan enggan menyebut namanya.

“Aku tahu,” dusta Ah Ryung. Padahal ia tidak tahu sedikit pun bahwa orang tua Hee Chul begitu membenci Ha Mun. “Tapi aku tetap memaksa.”

“Ibu, kumohon dengarkan aku,” sela Hee Chul pelan sambil menyentuh tangan ibunya. Nyonya Kim mendengus kesal, tapi tetap mendengarkan. “Aku dan Ah Ryung sudah sepakat untuk membatalkan pernikahan kami.”

Kedua mata Nyonya Kim membulat lebar. Wanita itu sangat terkejut. “Kau apa?” pekiknya dengan suara melengking.

Hee Chul gelagapan. Ah Ryung menggenggam tangan Ha Mun lebih erat, bersiap menghadapi datangnya badai pertama.

“Kami tidak akan menikah. Aku menyadari aku masih mencintai Ha Mun dan ingin sekali menikahinya. Ibu tahu bagaimana perasaanku terhadap Ha Mun, bukan?”

Kemarahan Nyonya Kim tidak bisa dibendung lagi. Wanita itu luar biasa berang. “Apa-apaan itu?! Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu? Ibu tidak mengizinkan kalian membatalkan pernikahan, apalagi demi bisa menikah dengan gadis ini! Apa sebenarnya yang kau pikirkan? Kau bodoh sekali melepaskan Ah Ryung dan memilih gadis semacam ini!”

Ha Mun mengerjap ketika tatapan tajam Nyonya Kim menghujamnya, menancap dengan menyakitkan di hatinya. Nyonya Kim menuduhnya sebagai penjahat melalui tatapan itu. Ia ingin sekali menangis dan berlari dari tempat itu.

Pandangan Nyonya Kim teralih pada Ah Ryung. “Ah Ryung, mengapa kau diam saja dan tidak mencegah anak ini berbuat bodoh?” tuntutnya tak sabar.

Ah Ryung menampilkan senyum yang selalu berhasil membuat Nyonya Kim tenang, tak terkecuali saat ini. “Ibu, jangan marah pada Ha Mun dan Hee Chul Oppa. Mereka tidak salah. Keputusan ini kami ambil bersama tanpa paksaan apa pun dan merupakan hal yang kami sepakati untuk kebahagiaan kami bersama. Dan aku tidak akan mencegah Hee Chul Oppa menikahi Ha Mun, karena aku lah yang meminta agar mereka bersama.”

Penjelasan Ah Ryung tidak berhasil mendinginkan kemarahan Nyonya Kim, malah semakin memperpanas suasana. Wanita itu membuang napas tajam, tampak kehabisan kata-kata.

“Aku tidak percaya ini!” Nyonya Kim bangkit dengan cepat. Ia mendelik tajam pada Ha Mun sebelum melangkah pergi sambil berkata pedas, “Pepatah itu memang terbukti benar. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dasar keturunan pencuri. Kukira kau akan berbeda dengan kedua orang tuamu. Ternyata tidak, kau mewarisi insting mencuri orang tuamu hingga tetes darah terakhir!”

Seluruh darah di wajah Ha Mun seakan menghilang hingga membuatnya terlihat pucat pasi. Rahangnya mengeras. Ha Mun menoleh pada Hee Chul yang terlihat lebih tegang dari dirinya. Mengapa Hee Chul begitu kebingungan, sementara seharusnya Ha Mun yang merasa seperti itu.

“Apa maksud ucapan ibumu? Pencuri? Siapa yang mencuri?” Ha Mun bertanya pada Hee Chul.

Ha Mun sungguh tidak mengerti alasan Nyonya Kim menuduhnya pencuri seperti kedua orang tuanya. Ia kira ketika Nyonya Kim melayangkan kata pencuri padanya, wanita itu merujuk pada tindakannya merebut Hee Chul dari Ah Ryung, karena itu ia terkejut saat orang tuanya pun ikut disinggung.

Hee Chul menghela napas. “Jadi kau tidak tahu mengapa orang tuaku mengusir orang tuamu?”

Kepala Ha Mun mengangguk tidak yakin. “Kupikir karena sikap abnormal ayahku,” gumamnya dengan suara pelan. Untung saja Hee Chul maupun Ah Ryung tidak mendengarnya.

“Ayahku mendapati ayahmu mencuri barang-barang di rumah kami dan menjualnya. Ayah sangat kecewa dan merasa dikhianati karena ayahmu merupakan sopir sekaligus orang yang dipercayai olehnya. Ayah mengira kedua orang tua kalian bekerja sama, dan memutuskan memecat serta mengusir kau dan keluargamu. Ayahku sangat membenci pengkhianat, dan dia juga orang yang paling keras kepala dalam urusan membenci seseorang. Karena itu, Ha Mun, maafkan ayahku jika hingga saat ini ia masih belum bisa memaafkan keluargamu.”

Dada Ha Mun bergemuruh oleh amarah dan rasa kecewa. Ia merasakan dorongan untuk mencaci maki ayahnya. Namun yang bisa dilakukannya hanya menggigit bibirnya keras-keras sambil menahan jeritan kekecewaannya.

Lagi! Untuk ke sekian kalinya! Mengapa selalu ayahnya yang menjadi sumber masalah dalam hidupnya? Dari kelainan seksualnya hingga kebiasaan mengutilnya! Ya Tuhan, setelah mengetahui tabiat ayahnya, Ha Mun selalu merasa tidak pantas berjalan di muka bumi ini. Mengapa ia harus menjadi anak dari seorang pria seperti Jang Han Guk?

“Ha Mun, tenanglah. Jangan terlalu diambil hati,” hibur Ah Ryung lembut. “Reaksi Ibu tadi sungguh wajar dan dia hanya terkejut. Aku yakin dengan seiring berjalannya waktu dia akan menerimamu lalu merestui kalian. Tolong beri mereka kesempatan menenangkan diri. Kau pun harus melakukan hal yang sama.”

“Tapi mereka sudah terlanjur membenciku,” bisik Ha Mun pilu. Ah Ryung menatapnya sedih. Ha Mun pasti sangat terpukul dengan kenyataan yang baru diketahui olehnya itu. Ah Ryung tidak ingin Ha Mun sedih. Ia ingin agar Ha Mun bahagia.

Ah Ryung merangkulnya. “Kau tidak perlu khawatir. Aku akan mencoba merayu mereka.”

Ha Mun balas memeluk Ah Ryung. Dukungan serta pelukan Ah Ryung sangat melegakannya. “Terima kasih. Ah Ryung, kau begitu baik padaku.”

“Kita adalah sahabat, ingat? Aku ingin kau bahagia.”

Hee Chul tersenyum pada Ah Ryung. Ha Mun sungguh beruntung memiliki sahabat sepertinya. Dan ia pun beruntung karena bertemu dengan seseorang yang begitu baik, pengertian, dan penuh kasih sayang seperti Ah Ryung.

***

Hari itu, pagi-pagi sekali, Ah Ryung datang mengunjungi kediaman keluarga Kim. Ia membantu menyiapkan sarapan dan menyambut Tuan serta Nyonya Kim yang turun untuk menyantap sarapan dengan ceria.

“Pagi-pagi sekali kau sudah ada di sini,” ucap Tuan Kim senang. Tampaknya pria itu sudah tidak marah lagi pasca Ah Ryung membatalkan pertunangannya dengan Hee Chul.

“Kenapa? Apa aku tidak boleh kemari lagi? Aku sangat merindukan kalian,” keluh Ah Ryung dengan cara yang manis.

“Itu tidak mungkin, Nak. Kau selalu diterima di sini,” balas Nyonya Kim lalu memeluk Ah Ryung sekilas.

“Ya, apalagi kami akan menikmati sarapan bersama putri kesayangan kami.” Tuan Kim duduk dengan tenang di kepala meja.

Hee Chul muncul tak lama kemudian. Pria itu tampak terkejut melihat keberadaan Ah Ryung di rumahnya. Sejenak suasana di antara mereka sempat canggung. Ini pertama kalinya mereka akan makan bersama setelah pengumuman mengejutkan tempo hari. Hee Chul menguasai keadaan lebih dulu. Ia tersenyum pada Ah Ryung.

“Aku senang kau tetap berkunjung kemari. Kukira kau akan melupakan Ayah dan Ibu begitu saja.”

“Mana mungkin,” ucap Ah Ryung tenang, kemudian ia berbisik. “Selain itu aku kemari untuk membujuk kedua orang tuamu.”

“Ah,” Hee Chul mengangguk. “Mohon bantuanmu,” jawabnya Kemudian duduk di kursi dekat ayahnya. Ah Ryung duduk di samping Nyonya Kim.

Hee Chul sangat menghargai usaha Ah Ryung dalam mempersatukan dirinya dengan Ha Mun. Ia tahu hanya Ah Ryung yang bisa membuat kedua orang tuanya mengerti. Mereka sangat mencintai Ah Ryung dan akan mendengar apa pun yang akan dikatakannya. Hee Chul yakin Ah Ryung pasti bisa meredakan kemarahan Ayah dan Ibunya pada keluarga Ha Mun. Hee Chul ingin segera mendapatkan restu untuk menikah karena setelah pengumuman itu, kedua orang tuanya amat marah padanya, dan tidak mau mendengar apa pun penjelasannya tentang Ha Mun dan betapa ia mencintai gadis itu.

Sesi sarapan itu berlangsung dengan hangat. Ah Ryung berhasil membuat mood kedua orang tua Hee Chul melambung. Mereka akan mudah diajak bicara saat sedang senang. Sayang sekali Hee Chul tidak bisa menemani Ah Ryung merayu ayah serta ibunya karena ia harus pergi. Tapi ia senang sekali karena Ah Ryung berhasil membuat mereka setuju untuk bicara.

Di ruang keluarga, setelah Hee Chul berangkat bekerja, Ah Ryung duduk berhadapan dengan Tuan dan Nyonya Kim. Jantungnya berdegup kencang. Tuhan, semoga ia berhasil membujuk mereka agar memaafkan Ha Mun.

“Jika kau ingin bicara tentang temanmu itu, percuma saja. Kami tidak akan mengubah pemikiran kami. Anak itu tidak pantas bersanding dengan putra kami.” Itu adalah penegasan tajam dari Tuan Kim. Ah Ryung menelan ludah. Jadi ini akan menjadi negosiasi yang sulit?

“Ha Mun adalah gadis yang baik, dan dia sangat mencintai Hee Chul, begitu pun sebaliknya. Aku sudah mengenalnya sejak lama. Sejauh yang kuketahui, Ha Mun tidak pernah melakukan kejahatan, bahkan mencuri. Ayah dan Ibu jangan menilainya buruk hanya karena kesalahan yang dilakukan orang tuanya.”

“Tapi dia sudah merebut Hee Chul darimu. Tindakannya sama saja dengan pencuri. Seorang sahabat baik tidak akan melakukannya.”

“Memang, jika aku mencintai Hee Chul Oppa lebih dahulu,” renung Ah Ryung. “Akan tetapi, di sini akulah yang telah mencuri Hee Chul Oppa dari Ha Mun.”

Tuan dan Nyonya Kim berkedip kaget. Ah Ryung memandangi mereka dengan penuh perasaan. “Ayah dan Ibu mungkin tidak tahu, tapi aku sebagai sahabat Ha Mun tahu. Dia sudah mencintai Hee Chul sejak lama dan tetap mencintainya hingga sekarang. Ha Mun sudah menunggu Hee Chul dengan setia. Bayangkan betapa sakitnya hati Ha Mun saat mengetahui pria yang dicintainya bertunangan denganku. Ha Mun patah hati, tentu saja, dan dia malah mendoakan agar aku bahagia. Aku yang tidak tahu apa-apa tersenyum senang, tanpa tahu bahwa aku sudah menorehkan luka di hati Ha Mun. Hee Chul Oppa pun ternyata masih menyimpan perasaan yang sama untuk Ha Mun. Begitu mengetahui kenyataannya, aku sadar aku hanya akan menjadi penghalang. Karena itu aku memutuskan melepaskan Hee Chul Oppa.”

“Kenapa kau melakukannya, Nak? Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri demi sahabatmu? Kau mencintai Hee Chul, bukan? Lalu kenapa kau melepaskannya?”

Ah Ryung menunduk, “Tidak ada wanita yang bermimpi ingin patah hati, Ibu. Aku melakukannya karena dorongan hati nuraniku. Untuk apa aku memaksakan diri jika Hee Chul Oppa mencintai wanita lain? Ha Mun lebih pantas bersamanya. Aku ingin dia bahagia bersama pria yang dicintainya sejak lama. Ha Mun pun sempat menolak, tapi aku memaksanya.”

Isakan mulai keluar dari celah bibir Ah Ryung. “Aku pun sebenarnya tidak rela hubungan ini selesai, bukan karena Hee Chul Oppa, tapi karena aku tidak ingin dipisahkan dari kalian.”

Kedua orang tua itu terenyuh. Mereka saling pandang dan merasa terharu. Nyonya Kim berpindah duduk di sisi Ah Ryung. Ia tidak tega melihat Ah Ryung berlinangan airmata. “Kami mengerti. Kau sungguh berhati besar. Kami sungguh menyayangkan keputusan kalian, tapi kami tetap tidak bisa memberikan restu pada Hee Chul dan Ha Mun begitu saja.”

Ah Ryung sangat lega mendengar Nyonya Kim mulai bersedia menyebut nama Ha Mun. “Aku menjamin kalian tidak akan menyesal.” Ia kemudian menceritakan semua tentang Ha Mun. Kekurangan serta keistimewaan Ha Mun. Untung saja, kedua orang tua Hee Chul mendengarkannya dengan baik.

“Karena itu, kumohon restui Hee Chul dan Ha Mun. Biarkan mereka bahagia setelah penantian yang begitu lama.”

Nyonya Kim memeluknya. Tuan Kim pun hanya mendesah. “Sepertinya memang ini yang terbaik.”

Betapa leganya Ah Ryung, mereka setuju untuk merestui hubungan Hee Chul dan Ha Mun!

“Terima kasih, terima kasih banyak, Ayah Ibu! Aku sangat menyayangi kalian.” Ah Ryung memeluk keduanya bergantian. Kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya membuat Nyonya Kim tersentuh.

“Tolong jangan sungkan, Sayang. Kami masih tetap orang tuamu,” ujar Tuan Kim bijak. Ah Ryung tak kuasa meneteskan airmata mendengarnya. “Sungguh kau sudah tidak mencintai putra kami?” lanjutnya membuat Ah Ryung terpaku.

“Tentu saja aku mencintainya. Tetapi cinta Ha Mun jauh lebih besar. Aku justru baru menyadarinya sekarang, bahwa aku mencintainya bagai seorang kakak, teman. Aku lebih mencintai kalian, aku tidak mau kehilangan orang tua terhebat seperti kalian.”

Kini Tuan Kim yang memeluk Ah Ryung, “Tentu saja anakku. Tidak ada yang bisa memisahkan anak dan orang tuanya.”

Kedua orang tua Hee Chul kini merestui hubungan Ha Mun dan Hee Chul. Ah Ryung sangat lega rencananya berhasil dan ia tidak kehilangan mereka. Namun Tuan Kim tetap akan ke Korea untuk mengunjungi makam kedua orang tua Ah Ryung.

***

Ketika menatap pantulan dirinya di cermin, Ha Mun tetap tidak bisa percaya. Ia akhirnya akan menikah dengan Hee Chul. Tapi sebelum hal itu terjadi, malam ini ia akan bertunangan.

Pesta itu akan dilangsungkan secara sederhana. Hanya mengundang teman dan kerabat dekat saja. Je Young, Hae Bin dan Yong Mi pun datang tanpa ditemani pasangan masing-masing. Kyu Hyun dan Dong Hae sama-sama sibuk mengurus bisnis mereka sementara Myung Soo tak bisa meninggalkan bandnya yang sedang serius menggarap lagu baru. Mereka berkumpul di ruang rias itu sambil mengamati Ah Ryung yang sedang membantu Ha Mun bersiap-siap.

“Sungguh mengejutkan, kukira ketika Ah Ryung mengirim pesan agar kami terbang ke Australia untuk sebuah acara pertunangan, itu adalah acara pertunangan Ah Ryung dengan Casey, tak kusangka justru kau yang akan bertunangan,” komentar Je Young. “Tapi tentu saja tidak mungkin karena Casey dan Ah Ryung sudah bertunangan.”

“Kau sepertinya tidak suka aku bahagia,” balas Ha Mun santai. Mereka berdua sudah terbiasa saling melemparkan kata-kata pedas sehingga komentar Je Young tadi bisa dimasukkan ke dalam kategori pujian.

Hae Bin tertawa. “Kami hanya tidak menyangka. Kau terkenal paling dingin pada pria di antara kami sehingga aku pun berpikir kau mungkin akan menjadi orang terakhir dalam kelompok kita yang menikah.”

“Sepertinya justru Ah Ryung yang akan menjadi yang terakhir menikah,” sambung Yong Mi sambil menyeringai.

“Kenapa?” Ah Ryung mengedip penasaran.

“Karena dia yang paling baik hati. Lihat saja, yang pertama menikah justru gadis paling arogan di antara kita, lalu disusul si ratu es, mereka berdua berada di urutan satu dan urutan dua yang memiliki karakter paling keras.”

Hae Bin dan Ah Ryung sentak tertawa kencang.

“Yak!” Je Young melempar Yong Mi dengan bantalan sofa.

“Jika aku tidak sedang sibuk merias diri, aku sudah mencekikmu!” geram Ha Mun.

“Yong Mi, bukankah secara tidak langsung kau mendoakan agar pernikahan Ah Ryung ditunda lebih lama, sementara dia dan Casey sudah berencana akan menikah,” ujar Hae Bin polos.

Ah Ryung dan Ha Mun langsung tegang. Mereka saling pandang melalui cermin. Bagaimana ini? Baik Je Young, Yong Mi, maupun Hae Bin belum mengetahui bahwa Chulppa–tunangan Ha Mun yang diketahui mereka–adalah Casey, mantan tunangan Ah Ryung.

Yong Mi salah tingkah. Gadis itu sangat menyesal. “Maafkan aku, Ah Ryung, aku tidak bermaksud..”

“Tidak apa-apa,” jawab Ah Ryung cepat. Ia tersenyum kemudian pura-pura sibuk menata rambut Ha Mun.

“Omong-omong, kau benar akan bertunangan dengan cinta pertamamu itu? Menakjubkan sekali. Takdir memang tidak terduga.” Je Young kagum.

Ha Mun sudah memberikan cerita singkat ketika mereka tiba kemarin, untuk meredakan keterkejutan mereka setelah mendengar bahwa Ha Mun akan bertunangan. Ha Mun berkata ia kembali bertemu dengan cinta pertamanya di Australia, yang ternyata masih mencintainya dan mereka memutuskan untuk menikah.

“Begitulah,” gumam Ha Mun dengan senyum sekenanya.

“Yah, bagaimana pun, selamat atas pertunanganmu. Kami semua senang kau akhirnya menemukan kebahagiaanmu dan berdoa agar kau bahagia bersamanya hingga tua nanti,” ucap Hae Bin tulus. Yong Mi dan Je Young mengangguk. Bahkan Ah Ryung merangkulnya dengan lembut.

Ha Mun bahagia sekali. Ia berdiri. “Terima kasih teman-teman,” kemudian meraih sahabat-sahabatnya ke dalam sebuah pelukan besar.

***

Pesta pertunangan itu berjalan lancar. Ha Mun menitikkan airmata melihat cincin yang melingkar di jarinya. Sekarang ia sudah resmi menjadi tunangan Hee Chul. Pria itu tersenyum padanya, menjaga dirinya tetap di sisi pria itu. Kedua orang tua Hee Chul masih belum sepenuhnya ramah, tapi paling tidak mereka sudah tidak membuang muka lagi setiap kali menatapnya. Kini mereka sedang berbincang dengan Ah Ryung.

“Kenapa, kau terlihat cemas. Kita sudah bertunangan, dan Ayah serta Ibuku pun sudah menerimamu. Apa lagi yang kau khawatirkan?” tanya Hee Chul.

Ha Mun tak lantas menjawab. Ia memang khawatir. Berkali-kali ia melirik teman-temannya yang asyik mengobrol di dekat meja minuman. Ia merasa tidak enak hati karena belum bisa jujur tentang jati diri tunangannya. Ia takut menghadapi reaksi mereka.

“Tidak apa-apa.” Ha Mun memaksakan seulas senyum.

Dahi Hee Chul berkerut penasaran. “Apa kau gusar karena kedua orang tuamu tidak ada di sini?”

“Ah, bukan itu,” bantah Ha Mun cepat.

Ibunya sudah merestui ketika Ha Mun memberitahunya lewat telepon kemarin. Sayang sekali orang tuanya tidak bisa datang karena ayah tiri Ha Mun sedang sakit dan ibunya tidak bisa meninggalkannya. Si Won pun terpaksa pulang untuk mengurusi bisnis ayahnya. Ha Mun tidak mempermasalahkan ketidak hadiran keluarganya di sini, ia justru mengkhawatirkan ketidak hadiran ‘tunangan’ Ah Ryung. Cepat atau lambat teman-temannya akan tahu. Tapi ia tidak mengatakan kegelisahannya itu pada Hee Chul.

Kecemasan Ha Mun terbukti. Je Young, Hae Bin serta Yong Mi memang merasa aneh. Mereka heran karena Ah Ryung tidak membawa tunangannya ke acara sepenting ini. Ah Ryung pun kerap mengubah topik setiap kali mereka bertanya.

“Mungkin sibuk.” Yong Mi mencoba berpikir positif.

“Bahkan di malam hari? Rasanya tidak mungkin. Aku justru merasa tunangan Ah Ryung sepertinya enggan berkenalan dengan kita.” Je Young memandang Hae Bin yang membalasnya dengan mengendikkan bahu.

“Berspekulasi hanya akan membuat kepala sakit. Jadi sebaiknya kita lupakan saja.”

Mereka setuju untuk mengganti topik. Yong Mi kemudian membahas kartu ucapan selamat yang diambilnya di meja tamu. Ia menyuruh Je Young membacanya hanya untuk menguji sudah sejauh mana kemampuan berbahasa Inggris gadis itu.

“Aku tahu kau mengejekku. Kemari, perlihatkan padaku. Jika aku bisa membacanya, aku akan menyuruh Myung Soo menciummu!”

Yong Mi memberikannya dengan santai karena ia yakin Je Young tidak akan bisa. “Dilarang meminta bantuan Hae Bin!”

Je Young mencibir pelan lalu membaca sepenggal kalimat yang tertulis di kartu itu. “Hallo, Casey, ah, atau aku harus memanggilmu Kim Hee Chul? Selamat atas pertunanganmu. Aku tidak menyangka kau akan.. um..mengambil langkah ini..” Je Young tampak terbata dan kebingungan.

Yong Mi menahan tawa.

“Diam kau..!” Geram Je Young. “Namanya sepertinya familiar.”

“Kau benar,” sambung Hae Bin cepat. “Casey? Bukankah itu nama tunangan Ah Ryung?”

“Tapi surat ini jelas ditujukan untuk Kim Hee Chul, tunangan Ha Mun, bukan? Seseorang tidak mungkin salah mengalamatkannya untuk.. tunggu..” Yong Mi mengerjap menyadari kemiripan yang terlalu kebetulan. “Tidak, tidak. Tidak mungkin. Kim Hee Chul, Casey.., Casey Kim?” Rautnya kemudian berubah menjadi tercengang. “Tolong katakan dugaanku salah! Mereka tidak mungkin orang yang sama!”

Celakanya, Je Young dan Hae Bin pun berpikiran sama. Kecurigaan mereka semakin beralasan karena tunangan Ah Ryung tidak datang ke pesta ini.

Je Young menggelengkan kepala. “Mungkin memang kebetulan. Tidak mungkin ini terjadi.”

Mereka akan menemukan jawabannya di kartu yang masih dipegang Je Young. Hae Bin bertindak lebih dulu. Ia menyabet kartu itu lalu membacanya dengan sangat fasih.

“Aku tidak menyangka kau akan mengambil langkah ini, meninggalkan tunanganmu yang setia dan memilih wanita yang muncul kembali di hidupmu. Meskipun aku sangat menyayangkannya, tapi aku tetap harus merestuimu karena kau mencintai pilihanmu. Selamat atas pertunangan kalian. Tolong jaga adikku, aku sangat menyayanginya. Aku akan menuntutmu jika kau berani menyakitinya. Tertanda, Choi Si Won.”

“Choi Si Won?!” Ketiga mata gadis itu membelalak. Terbukti sudah kebenaran dugaan mereka. Casey dan Chullpa adalah orang yang sama!

“Tidak, bisa saja Choi Si Won di sini bukan..”

“Hae Bin, ada seberapa banyak Choi Si Won yang memiliki adik yang kebetulan bertunangan dengan Hee Chul? Ini sudah jelas membuktikan tunangan Ah Ryung..” kata-kata Yong Mi terpotong oleh gerakan tiba-tiba Je Young. Gadis itu merebut kartu di tangan Hae Bin kemudian bergerak melintasi ruangan untuk menghampiri Ah Ryung dan Ha Mun.

Hae Bin dan Yong Mi bergegas menyusul karena mereka khawatir Je Young akan membuat keributan. Je Young dengan marah menarik Ah Ryung dan Ha Mun ke ruangan lain yang jauh dari pendengaran para tamu.

“Ada apa, Je Young?” tanya Ha Mun pelan. Je Young menjejalkan sebuah kartu ke tangannya.

“Jelaslan padaku apa maksudnya, aku sungguh tidak mengerti!”

Ha Mun awalnya mengira Je Young memintanya menerjemahkan isi kartu itu, lantas membacanya. Ia sebenarnya tidak begitu mengerti isinya, yang membuatnya mengira Je Young sedang mengerjainya karena ia tidak fasih bahasa Inggris. Tetapi ketika membaca nama Si Won tertera di akhir, seluruh saraf di tubuhnya menjadi kaku. Sial, sepertinya ia tahu apa arti kata-kata di kartu ini. Hae Bin dan Yong Mi tiba di sisinya ketika wajah Ha Mun berubah pucat pasi.

Ah Ryung yang penasaran ikut membacanya. Tubuhnya pun menjadi tegang. Reaksi mereka menimbulkan kecurigaan pada benak teman-temannya yang lain. Apa sebenarnya yang tengah terjadi?

“Je Young, aku bisa menjelaskan..,” kata Ah Ryung mendahului Ha Mun yang belum bisa mengatasi keterkejutannya.

“Tentu saja harus ada yang menjelaskan, tapi bukan kau, Ah Ryung. Aku ingin dengar penjelasannya langsung dari Ha Mun.” Je Young bersedekap.

Ha Mun menerima tatapan menusuk Je Young dengan pasrah. Ia hanya tidak menyangka semuanya akan terbongkar secepat ini. Ia belum mempersiapkan fisik dan mentalnya.

“Bagaimana kalian bisa menemukan ini?” Tanya Ha Mun pelan.

“Aku mengambilnya di tumpukan kartu ucapan di meja penerima tamu,” ujar Yong Mi.

Dada Ha Mun mencelos. Ia tidak tahu Si Won mengirimkan kartu ucapan ini. Jika ia tahu, ia akan meminta pada Hee Chul agar menyuruh seseorang untuk memisahkan kartu ucapan dari Si Won, bukan malah menggabungkannya dengan kartu ucapan lain. Tapi wajar saja jika ia tidak tahu. Berdasarkan isi pesan, kartu itu ditujukan kepada Hee Chul, bukan dirinya.

“Jadi, sebenarnya apa yang terjadi di sini? Pria yang bertunangan denganmu benar-benar tunangan Ah Ryung?” tanya Hae Bin.

Ha Mun melirik teman-temannya yang lain. Yong Mi menatapnya penasaran, Ha Mun melihat kilat kemarahan dalam sorot matanya sementara Hae Bin tercenung. Ekspresinya sulit dibaca. Sial! Ia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa untuk meyakinkan teman-temannya bahwa apa yang terjadi tidak seburuk yang mungkin mereka bayangkan.

“Itu..”

“Benar. Casey adalah Kim Hee Chul, pria yang bertunangan dengan Ha Mun malam ini dan tunanganku adalah orang yang sama,” jelas Ah Ryung lebih dulu. Ia tidak tega membiarkan Ha Mun mendapatkan penghakiman seorang diri.

“Apa?” Je Young, Hae Bin serta Yong Mi terkesiap kaget.

“Bagaimana bisa?” Itu dari Hae Bin.

“Mengapa kau membiarkannya, Ah Ryung?” Je Young tak habis pikir.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Yong Mi kini terlihat sangat prihatin.

Semua mata tertuju pada Ha Mun yang masih terdiam. Ah Ryung meminta teman-temannya agar tidak terlalu menekan Ha Mun.

“Bukan salah Ha Mun, aku yang memutuskan mengakhiri pertunanganku dengan Casey.”

“Kau tidak perlu membelanya, Ah Ryung, biarkan Nona Ha Mun yang mulia ini mengatakan semuanya,” debat Je Young sinis.

Ha Mun bahkan tidak membalas kata-kata pedas Je Young, ia merasa serba salah. Tetapi ia tetap harus menjelaskannya.

“Aku tidak pernah berencana merebut tunangan siapa pun. Kau pikir aku senang karena berhasil kembali pada laki-laki yang kucintai sementara aku telah mengorbankan kebahagiaan sahabatku sendiri?” ucap Ha Mun dengan suara tercekat.

Kemudian Ha Mun menceritakan semuanya dengan suara tercekat. Je Young dan yang lainnya mendengarkan dengan baik. Ha Mun mencoba menceritakannya sebaik mungkin sehingga ia berharap ketiga sahabatnya akan mengerti dan berhenti menyalahkannya. Tetapi ketika ia selesai bercerita, ekspresi teman-temannya tidak berubah. Malah, Je Young terlihat seperti gunung api yang siap meletus.

“Kau tahu Ah Ryung masih mencintai Casey, tapi kau tetap menerimanya?!”

Ha Mun terkesiap.

“Je Young, aku sudah merelakan Casey. Tolong jangan menyalahkan Ha Mun lagi.” Ah Ryung membela Ha Mun.

“Tapi Ha Mun memang tega sekali. Jika dia memikirkan perasaanmu, sekalipun dia masih mencintai Hee Chul dan pria itu mencintainya, seharusnya dia menunda menerima Hee Chul demi menjaga perasaanmu, bukan malah justru menerima pinangannya tepat di depan matamu!” Yong Mi pun tidak ikut memihak Ha Mun karena menurutnya, Ha Mun masih bisa mencegah kekacauan ini terjadi.

Ha Mun sangat terpukul karena teman-temannya tidak memihak padanya, kecuali Ah Ryung. Hae Bin memang tidak berkata apa-apa, tetapi itu lebih dari cukup untuk menyimpulkan bahwa Hae Bin sangat kecewa atas sikapnya.

“Oh Tuhan, keadaan ini sungguh membuatku muak dan tertekan!” Je Young langsung merogoh ponsel di dalam tas tangannya untuk menghubungi Kyu Hyun, suaminya.

“Aku ingin pulang sekarang juga! Tolong sampaikan pesan pada Ayah agar mengirimkan pesawat untukku!” gerutunya di telepon.

“Apa yang terjadi? Apa pertunangan Ha Mun tidak berjalan lancar?” Kyu Hyun terdengar cemas.

“Tidak, aku hanya ingin pulang. Aku muak sekali berada di tempat yang sama dengan keponakanmu itu.” Setelah mengakhiri pembicaraan di telepon, Ha Mun berkata dengan marah pada Je Young. Ia tersinggung dengan kata-kata Je Young tadi.

“Tidak bisakah kau memahami perasaanku dan berhenti menyalahkanku karena sudah mencuri tunangan Ah Ryung? Tidak ada satu pun di antara aku, Ah Ryung dan Hee Chul yang merasa keberatan. Bahkan Ah Ryung sendiri yang mendesakku agar menerima Hee Chul Oppa. Kau berpikir hanya Ah Ryung yang perasaannya terluka? Aku pun merasakan hal yang sama ketika aku melihat Ah Ryung bersama pria yang kucintai?”

“Ah Ryung tidak tahu Casey dan Chulppa, cinta pertamamu adalah orang yang sama. Tapi kau tahu Ah Ryung sangat mencintai tunangannya,” potong Je Young tajam.

Ha Mun merasa seakan lidahnya baru saja dipotong. Teman-temannya yang lain pun mengerjap, tapi tidak berani melontarkan satu pata hata pun untuk meredakan ketegangan yang menggantung di antara mereka.

“Kau tahu apa yang membuat aku sangat muak?” ujar Je Young pelan namun menusuk. Ha Mun kesulitan menjawabnya. Ia balas menatap Je Young. “Kau selalu berkata bahwa kau sangat membenci pengkhianatan, dan selalu mencela tindakan orang yang merebut kekasih orang lain, tapi sekarang tanpa berdosa kau justru melakukannya. Dan berani mengklaim diri bahwa kau bukanlah seseorang yang seharusnya disalahkan? Kau tidak punya hati karena menghancurkan kebahagiaan sahabatmu hanya untuk membangun kebahagiaan bagi dirimu sendiri. Kau, Choi Ha Mun, adalah gadis yang munafik.”

Semua orang di ruangan itu menahan napas. Mereka terkejut dengan ucapan Je Young yang begitu menohok dada.

Tak dipungkiri lagi, emosi Ha Mun tersulut. Dengan sigap Yong Mi dan Ah Ryung menahan Ha Mun yang menderap maju untuk melawan Je Young.

“Aku bukan gadis munafik! Siapa memangnya dirimu? Kau tidak berhak menuduhku seperti itu! Kau menjadi begitu sombong hanya karena kau menikah dengan pamanku! Apa hanya kau yang boleh bahagia? Apa aku tidak boleh bahagia?”

“Kenapa kau menyeret pernikahanku dalam pembicaraan ini?” Je Young marah. Ah Ryung dengan segera memotong jalan Je Young sebelum mencapai Ha Mun.

“Kalian berdua sudah hentikan! Apa kalian tidak malu saling berteriak seperti ini?” tegurnya.

“Benar, suara kalian bisa terdengar sampai ruangan sebelah. Kalian tidak mau tamu pesta lain mendengar teriakan kalian dan menghambur kemari?” tambah Yong Mi.

“Aku tidak peduli. Aku ingin Ha Mun minta maaf atas kata-katanya tadi!” Je Young tidak mau berdamai semudah itu.

Ha Mun mengerjap tak percaya. “Apa? Padahal kau yang membuat suasana menjadi runyam?”

“Oh lihat siapa yang bicara, Nyonya pembuat masalah!”

Suasana semakin tak terkendali. Je Young dan Ha Mun yang saling melontarkan cacian sementara Ah Ryung juga Yong Mi menjadi pihak yang berusaha mendamaikan. Hae Bin sudah tidak tahan lagi dengan tekanan emosi yang terjadi di sekitarnya. Ia sejak tadi diam karena menahan sakit yang menerjang kepalanya sejak perdebatan di antara mereka bermula. Ia sedang mencari tempat untuk duduk ketika tiba-tiba saja penglihatannya berubah gelap gulita.

Pertengkaran Je Young dan Ha Mun terhenti, Ah Ryung serta Yong Mi pun melonggarkan pegangan mereka mendengar suara gedebuk keras di dekat mereka. Ke empat gadis itu tercengang melihat Hae Bin tergeletak pingsan di lantai.

Sepersekian detik berikutnya, kepanikan terjadi. Mereka melupakan sejenak pertengkaran yang tengah terjadi dan berhamburan untuk menolong Hae Bin. Ha Mun berlari mencari Hee Chul untuk meminta bantuan. Ah Ryung dan yang lainnya bersama-sama membopong Hae Bin lalu membaringkannya di ranjang di kamar tamu rumah Hee Chul.

Mereka cemas sekali melihat wajah pucat Hae Bin dan menyesal karena tidak menyadari kondisinya lebih awal. Seharusnya mereka curiga melihat Hae Bin terus saja diam. Jika saja salah satu dari mereka lebih peduli, tidak hanya fokus pada masalah Ha Mun dan Ah Ryung, Hae Bin mungkin tidak akan sampai pingsan seperti ini.

Dokter keluarga Kim datang tak lama kemudian. Hae Bin pun diperiksa. Selama proses itu, Je Young dan Ha Mun sepakat melakukan genjatan senjata. Masalah identitas tunangan Ha Mun pun sejenak terlupakan. Mereka semua sibuk mengkhawatirkan keadaan Hae Bin. Meskipun dokter sudah memeriksa Hae Bin dan berkata bahwa keadaan temannya sudah stabil, tetap saja tidak berhasil menghapus rasa khawatir dalam diri mereka.

Hae Bin belum sadarkan diri juga. Kamar itu sudah diubah menjadi ruang rawat, dengan peralatan rumah sakit lengkap dan transfusi darah. Dokter itu serius menangani Hae Bin begitu mengetahui kondisi kesehatannya. Ah Ryung mengikuti dokter keluar ruangan, setelah berbicara dengannya ia langsung menghubungi Dong Hae.

Sementara itu Yong Mi menunggu di ruang tengah sendirian. Semua tamu sudah berpindah ke ruangan lain untuk menikmati jamuan makan malam. Demi meredam kecemasannya, ia duduk di balik piano sambil memainkannya.

“Ha Mun pernah berkata bahwa dia memiliki teman seorang musisi, kutebak itu adalah kau. Permainan pianomu indah sekali.”

Yong Mi tidak menyadari Hee Chul ada di ruangan itu. Ia memberikan senyum separuh sebagai tanda terima kasih, ia masih mengkhawatirkan Hae Bin sehingga sulit untuk merasa tersanjung. Hee Chul memahami perasaan Yong Mi.

“Maafkan aku.”

Yong Mi terkejut. “Untuk apa?”

“Penyakit temanmu kambuh pasti karena berita mengejutkan tentang diriku dan Ha Mun.”

Ekspresi Yong Mi berubah murung, “Bukan salahmu. Hae Bin memang kerap kali sengaja tidak meminum obatnya. Tapi sejak lama tubuhnya memang lemah. Kami lah yang bersalah. Kami sudah tahu Hae Bin tidak boleh terlalu lama berada di bawah tekanan yang membuatnya stress, tapi kami tetap melibatkannya dalam perdebatan.”

“Sisi baiknya, pingsannya Hae Bin membuat pertengkaran kalian berhenti,” ujar Hee Chul sambil tersenyum.

“Kau memang benar.” Yong Mi mengangguk. Karena Hee Chul mengingatkannya pada penyebab perdebatan panas antara mereka tadi, ia terdorong untuk bertanya, “Aku benar-benar penasaran mengapa kau lebih memilih Ha Mun daripada Ah Ryung. Kau dan Ah Ryung sudah bertunangan, bukan? Kau tidak akan melamarnya jika tidak mencintainya. Aku benar, bukan? Tapi kenapa kau melepaskannya dan lebih memilih Ha Mun?”

Hee Chul tersenyum tipis mendengarnya. “Apa yang membuatmu keberatan dengan keputusanku?”

“Aku bukannya keberatan. Aku juga tidak bermaksud berkata bahwa pilihanmu salah. Tapi kau baru bertemu dengan Ha Mun baru-baru ini. Walaupun kau masih menyukainya, tapi bukankah seharusnya kau memikirkan perasaan Ah Ryung. Mereka bersahabat. Tidakkah kau berpikir bahwa rasa sukamu pada Ha Mun akan membuatnya berada di posisi serba salah? Kau tidak khawatir perasaanmu akan merusak persahabatan Ah Ryung dan Ha Mun?”

“Aku tahu,” gumam Hee Chul getir.

Yong Mi mengerjap. “Kalau begitu kau lebih mencintai Ha Mun dan tidak peduli apabila keputusanmu akan menyakiti hati Ah Ryung dan membuat persahabatannya dengan Ha Mun renggang?”

“Aku peduli, sungguh, aku sangat peduli. Kau pikir aku tidak dilema saat tahu Ha Mun adalah sahabat tunanganku?” aku Hee Chul. Yong Mi mengerjap melihat Hee Chul frustasi.

“Aku menyadari aku masih mencintai Ha Mun ketika bertemu kembali dengannya, rasa cinta itu begitu kuat sampai bisa membuatku gila. Namun di satu sisi aku juga menyayangi Ah Ryung karena sudah terbiasa dengannya. Aku benar-benar bingung apa yang harus kulakukan, keputusan apa yang kuambil yang terbaik untuk kami bertiga. Aku tidak bisa berdiam diri saja. Aku harus memutuskan.”

“Dan kau memutuskan memilih Ha Mun? Sekali lagi, kenapa? Apa Ah Ryung kurang baik untukmu.”

“Tentu saja tidak. Ah Ryung gadis yang sangat baik. Tapi Ha Mun…, aku ingin bersamanya.”

“Cukup, sepertinya aku mengerti.” Yong Mi tahu ia sudah melewati batas, karena itu ia tidak memaksakan kehendaknya lagi. Tiba-tiba saja ia terdorong untuk memainkan jari-jarinya di atas piano. Sebentuk melodi sendu terlintas dalam benaknya dan sayang sekali jika diabaikan begitu saja. Bibirnya pun bersenandung tanpa sadar.

“Aku tak mengerti perasaan ini.. Bisakah terwujud menjadi kenyataan.. Aku mencintai dua insan berbeda.. Yang mana pun tak bisa kulepaskan..”

Hee Chul tahu Yong Mi sengaja karena lagu yang sedang dinyanyikan gadis itu sungguh menyindirnya.

“Ya Tuhan, maafkan aku. Mendadak saja kata-kata tadi terbesit dalam benakku,” sesal Yong Mi namun tak terlihat menyesal sedikit pun.

Sudut bibir Hee Chul naik membentuk senyum ironi. “Tidak masalah. Mungkin memang itulah yang kurasakan saat ini. Tapi aku sudah menetapkan pilihan dan kuharap pilihanku tidaklah salah.”

***

Begitu keadaan Hae Bin jauh lebih baik, mereka kembali ke Korea. Dong Hae datang keesokan harinya setelah Ah Ryung mengabari kondisi Hae Bin dan kembali ke Korea bersama-sama hari berikutnya. Hee Chul, Ha Mun dan Ah Ryung pun memutuskan ikut serta. Ha Mun sudah tidak sabar ingin pulang. Ah Ryung mendadak rindu rumah sementara Hee Chul ingin sekali bertemu dengan kedua orang tua Ha Mun untuk bicara lebih serius dengan mereka tentang niatnya menikahi Ha Mun. Orang tua Hee Chul akan menyusul juga.

Uniknya, Ayah Je Young benar-benar mengirimkan sebuah pesawat untuk menjemput Je Young sehingga mereka tidak perlu repot membeli tiket. Untung saja pesawat itu bisa menampung hingga sepuluh penumpang. Sesampainya di Korea, mereka berpisah di bandara. Myung Soo dan Kyu Hyun sudah menunggu untuk menjemput Yong Mi serta Je Young. Dong Hae langsung pamit untuk membawa Hae Bin pulang. Menyisakan Hee Chul, Ha Mun dan Ah Ryung di sana.

“Ikutlah dengan kami ke rumah, Ah Ryung. Ibu pasti senang bertemu denganmu,” ajak Ha Mun.

Ah Ryung senang dengan ajakan itu dan ingin sekali ikut bersamanya namun ia sudah memiliki rencana sendiri. Lagipula, ia tidak mau menjadi pengganggu.

“Terima kasih. Tapi aku ingin sekali pulang. Aku merindukan ibu dan kakakku.” Ah Ryung pamit dan langsung menaiki taksi pertama yang berhenti di dekatnya.

Hee Chul bertanya pada Ha Mun dengan heran, “Bukankah orang tua Ah Ryung sudah meninggal? Seingatku dia juga tidak memiliki saudara.”

“Ah Ryung tinggal bersama keluarga angkatnya. Dia belum menceritakannya padamu?”

Kepala Hee Chul dimiringkan, berusaha mengingat. “Sepertinya pernah, namun aku menganggap Ah Ryung hanya sedang bergurau.”

“Ah Ryung tidak akan bercanda untuk urusan keluarga. Kau seharusnya bertemu mereka. Keluarga Lee sangat ramah.”

“Benarkah? Tapi aku tidak sabar untuk bertemu keluargamu.”

Pipi Ha Mun menghangat. “Kau juga akan menyukai mereka.”

“Sepertinya, kecuali kakak tirimu,” dengus Hee Chul, masih teringat pada kartu yang dikirim Si Won untuknya, yang telah menimbulkan kekacauan di hari pertunangannya.

“Jangan khawatir. Kau juga akan menyukainya.”

“Entah kenapa aku meragukannya.”

***

Ah Ryung berencana mengejutkan ibu angkatnya. Karena itu ketika ia sampai di rumah, ia mengendap-endap. Untung saja pintu rumah terbuka lebar sehingga ia bisa masuk tanpa disadari mereka. Ah Ryung yakin ibu angkatnya ada di rumah, mungkin sedang menonton drama favoritnya.

Alangkah terkejutnya Ah Ryung ketika mengintip ke ruang keluarga ia melihat Lee Sung Min, kakak angkatnya duduk di sana bersama sang Ibu. Mereka terlihat sedang terlibat pembicaraan serius. Ekspresi mereka menyiratkan hal itu. Niat Ah Ryung untuk mengejutkan mereka pun urung saat ia mendengar namanya disinggung dalam percakapan mereka.

“Ibu yakin itu ayah Ah Ryung?”

“Ibu sangat yakin, ibu kenal baik dengannya. Kim Do Jun. Pria itu sudah bebas.”

“Ya Tuhan… apakah dia mencari Ah Ryung?”

“Tentu saja. Tidak mungkin dia berkeliaran di daerah rumahnya dulu tanpa alasan. Ibu tidak sempat menyapanya, Do Jun lebih dulu pergi. Apakah kita harus memberitahu Ah Ryung?”

“Jangan. Lebih baik Ah Ryung tidak tahu. Ini demi kebaikannya.., ” ucapan Sung Min terpotong oleh suara benda terjatuh membentur lantai.

Ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka!

Sung Min sentak berdiri. “Siapa?!” Teriaknya seraya mendekat perlahan ke arah sumber suara. Mungkinkah pencuri? Sung Min ingat ia meninggalkan pintu depan dalam keadaan terbuka. Atau mungkin kucing atau tikus?

Sementara itu Ah Ryung terpaku menatap pecahan jambangan yang tanpa sengaja disenggolnya tadi hingga hancur. Pandangannya menjadi tidak fokus. Ah Ryung masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

Ayahnya masih hidup! Tuhan, ini merupakan berita yang sangat mengejutkan. Selama ini Ah Ryung mengetahui bahwa seluruh keluarganya sudah meninggal.

Tiba-tiba, sebuah suara tembakan menggema dengan jelas dalam kepalanya. Seolah-olah seseorang sedang meletuskan pistol tepat di samping telinganya. Kepalanya seketika berdenyut sakit, membuat Ah Ryung mengerang kesakitan.

“Tuhan, Ah Ryung?!”

Sung Min sangat terkejut menemukan Ah Ryung tak jauh dari pintu masuk, terduduk sambil mengerang kesakitan sementara tangannya memegang kepalanya. Sung Min melupakan semua pertanyaannya tentang kapan Ah Ryung pulang dan mengapa dia pulang tanpa pemberitahuan, ia berteriak memanggil ibunya dengan panik. Ibunya berada di sisinya secepat kilat, ikut terkejut melihat keadaan Ah Ryung.

“Ah Ryung, kau kenapa, Nak?”

Ah Ryung tidak merespon, jeritannya semakin memekakkan telinga. Kini, justru diiringi dengan isakan pilu yang seolah diucapkan lewat alam bawah sadarnya.

“Ayah.. Ibu…” adalah rintihan terakhir yang diucapkan Ah Ryung sebelum gadis itu ambruk ke lantai dan tak sadarkan diri.

–to be continued–

25 thoughts on “Trouble Namja [Chapter 7]

  1. Part ini menegangkan…
    Kasihan Ha Mun karena teman2nya jadi marah sama dia, padahal ini bukan sepenuhnya kesalahan Ha Mun..
    Tapi apa yang terjadi dengan Ah Ryung? Ada kisah apa di masa lalu Ah Ryung?
    Jadi penasaran dengan kelanjutannya… Ditunggu ya Dha…

  2. Ya perkataan hamun bener si..tapi lebih suka ma jawaban je young.munafik ha mun.dia sendiri yg bikang brnci penghianat dan peraelingkuhan tapi apa?????

    Ah ryoung masih puny appa?? Kwluar penjara? Dan kenapa ah ryoung kaya gtu??? Dia hilang bingatan kah??

    Kalopun ini bakal lebih pelit dari kehidupan kyuje dulu aku berharap heechul menyesal ngelepaa ah ryoung

  3. apa ahryung ketembak?? knpa tiba tiba ad suara pistol??
    cepet bnget pertunangannya
    hahh jeyoung pedes bnget perkataannya
    lagian hamun ahryung gak ada yg salah wktu aja yg kurang tepat
    hahh knpa hrus scepat itu kasian hamun jd disalahin
    tp juga andai hamun gak nerima… ah entahlah hahaha
    aaa rindu pasangan jeyoung kyuhyun hahaa
    knpa ahryung tau orang tuanya mati. tp ini ayahnya baru kluar dri penjara kah? apa yg trjd dng kluarga ahryung?

  4. Ya tuhaaaann… Eon… Ah ryung baik bgt… Tp emg sihh apa yg d.blg je young k.Ha mun itu ada bener.a jg… Kirain d.sini ha mun bakalan ama kibum.. Biar sama” happy gitu… Ya tuhan.. Ah ryung.. Sabar yahh.. Org baik itu banyak cobaan.a
    Semoga ntar.a kamu dpt yg jauh jauh jauuuuuhhh.. Lebih baik drpd chulppa

  5. Astaga kenapa bisa jadi begini sich
    Semus pada emosi
    Dan paling akhir malah ah ryung kena tembak
    Apa yang terjadi sich
    Jadi deg degan

  6. satu sisi sakit jadi ah ryung satu sisi pengen ha mun seneng
    ah bingung dewh mana baik.a aja
    ah ryung ingen masa lalu.a kah(?)
    kasian ah ryung…

  7. Kshn ah ryung dia q bnr” salut sm sikap tegar ah ryung mslh muncul lg blum reda mslh hati nya krn hrs ngelepas tunangan buat sahabat nya sendiri hueeeeee sedih bgt eon neeeeeeext fighting 😀 tambah keren eon crtny g sabar ^^

  8. huahhhhh dilema bgt gue je young n ha mun susah bgt akur nya gemes gue ma mereka berdua gue karungin ntar btw ah ryung kasihan bgt smga ah ryung bisa bahagia #amin

  9. Rada kecewa sedikit, aku setuju ma je young. Kenapa ha mun begitu mudah menerima heechul kembali padahal masih ada ah ryung.
    Aku kira ha mun tidak akan menerima heechul lagi dan membuka hatinya untuk orang lain, Kibum mungkin.
    Tapi ternyata, ah sudahlah.
    Semoga mereka bahagia aja.
    Dan Ah Ryung menemukan pria yang jauh lebih baik.
    Dan itu Ah Ryung kenapa?
    Dia pernah hilang ingatan kah?

  10. Kasihan hamun disalahkan teman – temanya yangctak ada mendukungnya sama sekali. Kalo kata jeyoung hamun gadis munafik karena hamun sangat membenci seorang penghianat tapi malah hamun sendiri yang menghianati ahryung menurutku aku tak setuju dengan jeyoung. Hamun tak pernah menghianati ahryung bahkan dia mati – matin menjaga jarak dari heechul demi ahryung dan menolak mentah – mentah heechul tapi ahryung sendiri yang terus membujuk hamun untuk menerima heechul dan perihal putusnya pertunangan antara ahryung dan heechul itu adalah kehendaknya ahryung sendiri vahkan hamun tak tahu menahu dengan Keputusanny ahryung tersebut

  11. Akhirnya Hamun dan heechul bertunangan. Tapi kasihan Hamun dihari bahagianya dia harus berantem dengan sahabat nya. Bagaimana selanjutnya hubungan Hamun dan para sahabatnya? Apakah yang terjadi pada Ar hyung? Ditunggu lanjutanya keep writing and fighting

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s