Trouble Namja [Chapter 6]

Nama : Trouble Namja Chapter 6
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Friendship, hurt
Storyline : Arianty Salma

Main Cast :
Choi Ha Mun | Kim Hee Chul | Kim Ah Ryung

Dha’s Speech:

Hai semuanya, I’m comeback ^^
Sudah berapa bulan ya gak updet FF. Sebelumnya, aku mohon maaf. Karena kesibukan yang tak ada akhir sebagai Mahmud, jadi gak sempat melanjutkan FF yang tertunda. Maklumlah, bayi 11 bulan lagi aktif-aktifnya *jadi curhat*

Okelah, silakan baca kelanjutan ceritanya. Jangan ngambek ya kalau ceritanya bikin kalian marah-marah sendiri, memang begitu kepengennya. hehehehe. Jangan kopi paste juga ya, mikirnya susah tahu *hahaha

trouble-namja-by-dha-khanzaki-1

Happy Reading ^_^

====o0o====

CHAPTER 6
Unbreak My Heart

HA MYUNG memeluk Hee Chul dan Ha Mun bergantian di bandara. Ia akan kembali ke Korea seorang diri. Ia berkali-kali meyakinkan Ha Mun bahwa ia sudah dewasa, dan bisa melakukannya, namun tetap saja Ha Mun terus memberinya wejangan tentang apa saja yang harus ia lakukan selama di perjalanan. Ketika memandang kakaknya, Ha Myung menampilkan raut penuh pengertian. Sambil menepuk pundak Ha Mun, ia bergumam lirih.

“Aku mengerti alasanmu, Nuna. Tindakanmu sudah benar. Aku setuju. Kau tidak boleh menjadi pengganggu hubungan orang lain. Terlebih jika itu teman baikmu sendiri. Imbas yang ditimbulkan terhadap dirimu tidaklah menyenangkan. Tapi Nuna jangan khawatir, aku selalu mendukungmu.”

Ha Mun tidak tahu bagaimana membalasnya. Ia sudah menceritakan pada Ha Myung mengapa ia terlihat menjauhi Hee Chul selama mereka jalan-jalan bersama hari ini. Ia lega adiknya mengerti dan tidak menghakiminya.

“Terima kasih.” Setelah tercenung cukup lama, hanya itu yang bisa Ha Mun katakan. Sejujurnya ia bingung. Untung saja posisi mereka cukup jauh sehingga apa yang baru saja dikatakan Ha Myung tidak masuk dalam jarak dengar Hee Chul.

Setelah memastikan bahwa pesawat yang ditumpangi Ha Myung lepas landas, Ha Mun pulang. Ia tidak menolak saat Hee Chul menawarinya tumpangan kembali ke apartemen. Selain karena ia tidak hafal jalan, ia juga malas berdebat. Kekesalan yang ia rasakan untuk Hee Chul sudah sampai pada taraf enggan berbicara dengan pria itu.

Hee Chul menyadari suasana hati Ha Mun yang memburuk, tetapi ia tidak menyerah mencoba mengajak gadis itu bicara selama perjalanan pulang. Ha Mun tidak meresponnya. Hee Chul sepenuhnya diabaikan. Pandangan Ha Mun tak sekali pun teralih padanya. Ha Mun hanya mengangguk sesekali, terkadang bergumam, dengan perhatian tertuju ke pemandangan di luar jendela.

Sikap Ha Mun sungguh berbeda dengan sikapnya ketika Ha Myung masih bersama mereka. Hee Chul tahu apa yang membuat Ha Mun menjadi sedefensif ini, hanya saja ia menolak untuk percaya. Ia yakin Ha Mun tidak membencinya.

Mereka akhirnya tiba di apartemen. Ha Mun yang sudah tidak tahan lagi menghirup udara yang sama dengan Hee Chul, memutuskan keluar secepat mungkin. Hee Chul yang lebih dulu membaca niat Ha Mun, dengan cekatan menahan gadis itu tepat sebelum tangannya menyentuh pintu mobil.

“Tunggu.”

“Lepaskan tanganku,” desis Ha Mun tajam, tanpa memandang Hee Chul.

“Aku tidak suka dengan situasi dingin ini. Mengapa kau tiba-tiba saja menghindariku seolah aku pasien pengidap penyakit kusta?”

“Karena apa yang kita lakukan saat ini salah!” tegas Ha Mun seraya berusaha menarik tangannya. Tetapi Hee Chul tetap bersikukuh mempertahankan genggamannya.

“Apanya yang salah.” Hee Chul sungguh tidak mengerti.

Kesal karena Hee Chul tidak peka dengan kekacauan yang telah ditimbulkannya sehingga menempatkan Ha Mun dalam situasi serba salah, dengan penuh keterpaksaan Ha Mun memandang tajam lelaki itu.

“Aku akan mengatakan ini untuk yang terakhir kalinya, kumohon berhentilah menggangguku!” Ha Mun membelalakkan mata, berharap bisa mengintimidasi Hee Chul meskipun pada akhirnya ia menyadari tindakannya tidak memberikan efek apa pun melihat pria itu bergeming, menatapnya seakan ia berbicara bahasa alien.

“Tapi mengapa? Aku tidak melihat ada yang salah,” ujar Hee Chul dengan nada dan ekspresi polos.

Mimik wajah itu membuat Ha Mun murka. Apa dia bilang? Tidak ada yang salah? Tidak ada yang salah!!!

“Hubungan kita sudah berakhir sejak kau meninggalkanku bertahun-tahun yang lalu!”

“Aku tidak pernah meninggalkanmu,” sela Hee Chu sabar.

Ha Mun belum selesai meneriakkan unek-uneknya, “..dan kau sudah meninggalkanku sejak kau menjadi tunangan sahabatku! Kau yang lebih dulu melupakanku. Bagaimana bisa kau bersikap seakan-akan situasi di antara kita tidak berubah? Aku tidak bisa menganggap keadaan di antara kita sama seperti dulu. Kau sekarang milik Ah Ryung dan aku memilih mati daripada menyakitinya!”

Luapan emosi Ha Mun membuat Hee Chul tak bisa berkata-kata. Pria itu menatap sendu Ha Mun. Ia mengerti dilema yang dirasakan Ha Mun dan tidak tahu cara untuk keluar dari masalah itu sehingga ia hanya bisa terdiam dan menatap nanar sosok Ha Mun yang bergegas turun dari mobilnya dan Hee Chul pun tak lagi menahan Ha Mun agar tetap bersamanya lebih lama.

Hee Chul meremas tangannya kuat-kuat. Sial, bagaimana ia bisa melupakan Ah Ryung dan kenyataan bahwa masih ada hati lain yang harus ia pertimbangkan?

***

Ha Mun memandang pintu apartemen Ah Ryung sebelum ia memutuskan masuk. Sekali lagi ia mengembuskan napas berharap sesak yang menghimpit dadanya sedikit berkurang. Tapi ternyata tidak. Hatinya tetap sakit. Padahal semestinya ia merasa tenang. Hari ini semuanya telah berakhir. Ki Bum berkata sudah menghapus rekaman bermasalah itu, ia tidak akan lagi bertemu dengan cinta pertamanya, dan cinta pertamanya akan menikah dengan sahabatnya.

Ya, memang sudah berakhir. Lalu kenapa ia tidak merasa lega atau bahagia? Paling tidak, ia harus gembira demi Ah Ryung. Sahabatnya itu harus bahagia. Ah Ryung memiliki masa lalu yang lebih kelam dari dirinya. Sekarang tiba waktunya bagi Ah Ryung untuk berbahagia. Ha Mun berusaha melatih senyumnya agar terlihat alami sambil memandang pantulan wajahnya melalui cermin rias kecil yang selalu ia bawa di dalam tasnya. Setelah cukup meyakinkan, ia masuk.

“Aku pulang,” serunya ketika memasuki apartemen.

Tidak ada jawaban.

Aneh, mengapa begitu sepi? Melirik jam tangan, Ha Mun yakin Ah Ryung seharusnya sudah bangun dan sarapan. Matahari memang baru saja terbit, dan sekarang sudah cukup pagi untuk memulai aktivitas. Dan ia lelah sekali karena tidak tidur semalaman.

Ha Mun bergerak menuju kamar berharap akan menemukan Ah Ryung masih terlelap di atas tempat tudur. Lagi-lagi ia dikejutkan saat menemukan kamar tidur dalam keadaan kosong. Tempat tidur bahkan dibiarkan dalam kondisi berantakan. Ke mana perginya Ah Ryung? Ah Ryung tidak ada di kamar maupun di ruangan lain di seluruh apartemen. Ha Mun dilanda kepanikan, dan cemas. Ia takut telah terjadi sesuatu pada Ah Ryung. Ha Mun segera menghubunginya.

Sudah tujuh kali Ha Mun mencoba menelepon sahabatnya itu, Ah Ryung tetap tidak mengangkatnya. Ha Mun mulai curiga memang telah terjadi sesuatu tanpa sepengetahuannya. Dan yang membuat Ha Mun ngeri, mungkin sesuatu itu berkaitan dengan dirinya.

Begitu percobaan yang ke delapan, akhirnya Ah Ryung menjawab. Ha Mun memanggil namanya berkali-kali, tapi tidak terdengar suara sedikit pun.

“Ah Ryung, kau baik-baik saja? Kau di mana?”

Masih tidak ada respon. Karena Ah Ryung tak menjawab sama sekali, Ha Mun semakin khawatir. Hampir saja ia menutup komunikasinya saat ia mendengar Ah Ryung menghela napas napas letih.

“Choi Ha Mun, bisakah kau melihat film yang sedang diputar di laptopku di kamar? Setelah kau memiliki penjelasan untukku, aku akan pulang.”

Setelah mengatakan hal yang amat mengejutkan sekaligus membingungkan, Ah Ryung mematikan sambungan. Ha Mun megap-megap antara tidak percaya dengan telinganya sendiri, dan keinginan untuk menemui Ah Ryung dan meminta penjelasan atas instruksi anehnya tadi. Ha Mun menatap ponselnya dengan bingung.

Satu-satunya cara untuk mendapatkan jawaban adalah dengan memenuhi apa yang diminta Ah Ryung. Ha Mun bergegas mengecek laptop Ah Ryung dengan was-was. Tak lama lagi ia akan tahu alasan Ah Ryung memintanya melakukan hal aneh. Ha Mun menyadari jantungnya berdegup kencang seakan-akan tak lama lagi ia akan menghadapi tiang gantungan.

Hanya ada satu film yang baru ditonton Ah Ryung dan temannya itu bahkan belum menutup tampilan pemutar film. Ha Mun memutarnya dari awal. Detik pertama menyaksikannya, Ha Mun merasa seluruh aliran darahnya tersumbat, ia kesulitan bernapas.

Rekaman terkutuk itu!

Tuhan, apa Ah Ryung akhirnya menonton rekaman dirinya dan Hee Chul di ruang ganti? Ini bencana, BENCANA!

Ha Mun tertusuk perasaan panik, bersalah dan marah. Hal pertama yang terlintas dalam benaknya adalah, bagaimana Ah Ryung mendapatkan rekaman ini?!

Kim Ki Bum! Pasti pria itu yang melakukannya

***

Kim Ah Ryung memandang langit Australia yang mulai terang melalui jendela trem. Tanpa terasa semalaman ia sudah terduduk di sana dalam perjalanan yang tidak terencana serta tujuan yang tak tentu. Semalam begitu ia melihat rekaman yang berhasil meluluh lantakkan hatinya, ia segera angkat kaki dari apartemen. Ia mengira udara segar akan membuat perasaannya menjadi lebih baik, ternyata tidak. Ia masih tak percaya, dan berharap semua itu hanya rekayasa semata. Tetapi apa yang dilihatnya terlalu nyata. Hee Chul dan Ha Mun tidak mungkin berbuat sampai sejauh itu hanya untuk memberinya bahan gurauan.

Mereka pasti memiliki alasan, sisi baik Ah Ryung berbisik lembut, mencoba menenangkan hatinya yang bergolak hebat. Semakin Ah Ryung mencoba untuk berpikir positif, semakin menusuk sakit yang menekan dadanya. Rasa perih itu membuat matanya terasa panas dan airmatanya meleleh, perlahan, dan semakin lama semakin deras meluncur menuruni pipinya yang putih.

Gambaran Hee Chul memeluk dan mencium Ha Mun kembali berputar dalam kepala Ah Ryung. Mengingatnya, hatinya seakan diremas-remas.

Casey-nya, tunangannya tercinta ternyata Chulppa, cinta pertama Ha Mun. Bagaimana mungkin ia tidak menyadarinya? Jika berputar kembali pada ingatan di hari ia memperkenalkan Hee Chul pada Ha Mun, tatapan mereka menyiratkan perasaan terkejut serta rindu yang mendalam. Bagaimana bisa ia melewatkannya?

Dalam video itu, jelas sekali Hee Chul masih mencintai Ha Mun dan meskipun Ha Mun menolak, masih ada rasa yang sama terpancar dari setiap bahasa tubuhnya. Lalu Ah Ryung, sebagai orang bodoh yang tak tahu apa-apa, terjebak di antara kisah cinta tunangan dan sahabatnya.

Seharusnya Ah Ryung senang mengetahui Ha Mun telah menemukan cinta pertamanya. Ia sangat mengetahui betapa Ha Mun sudah melewati ratusan hari menunggu bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Tapi mengapa harus Hee Chul? Mengapa cinta pertama Ha Mun harus laki-laki yang juga dicintai olehnya?

Sungguh tidak bisa dipercaya. Ah Ryung tidak mau keadaan di antara dirinya dan Ha Mun menjadi canggung, namun ia masih belum bisa menerima kenyataan ini.

Ah Ryung menangis tanpa suara, sendirian di dalam trem yang membawanya menuju tempat yang tak diketahui.

***

Berjalan sendirian di pusat kota Adelaide hanya membuat kesepian yang dirasakan Ah Ryung semakin dalam. Keramaian yang terjadi di sekitarnya sama sekali tak menghibur ataupun mengalihkan pikirannya dari masalah. Ia tetap merasa sedih dan kesepian. Ia merasa sendiri lagi, tak memiliki siapa pun, seperti yang pernah ia alami sebelumnya. Ia tidak tahu kepada siapa ia bercerita, bahkan mengadu. Hanya pada Tuhan.

Ah Ryung tidak sadar ia berjalan melintasi kantor calon ayah mertuanya, Tuan Kim. Suara panggilan pria paruh baya itu menyadarkan Ah Ryung. Gadis itu mengerjap, sesaat bingung bagaimana ia bisa berada di depan kantor Tuan Kim, ayah Hee Chul, pikirannya sungguh-sungguh telah mengambil alih akal sehatnya sampai ia tidak mengetahui ke mana ia melangkah. Begitu sadar Tuan Kim menantikan responnya, Ah Ryung segera menghampiri pria itu.

Tuan Kim berdiri di dekat mobil, baru saja turun dan hendak bergegas memasuki gedung kantor. Ia sangat gembira melihat calon menantunya.

“Sungguh kejutan yang menyenangkan melihatmu di sini. Apa yang kau lakukan?”

Ah Ryung memaksakan senyum setulus mungkin saat tiba di hadapan Tuan Kim. Ia tidak ingin pria itu mengetahui bahwa ia tengah berduka, apalagi sampai tahu yang menyebabkan sedih itu adalah putra kesayangannya sendiri.

“Aku .. aku sedang ingin jalan-jalan saja.”

“Kau sedang sakit, bukan? Wajahmu tampak pucat.”

“Aku baik-baik saja.” Ah Ryung gelisah.

“Kau bukan pembohong yang baik, Nak. Ayah tahu kau sakit. Ayo ikut Ayah sekarang.”

“Tidak Ayah, aku baik-baik saja. Lagipula bukankah Ayah akan masuk kerja.”

“Apakah Ayah sedang ditolak?” Kedua mata pria itu memancarkan kekecewaan yang dalam.

Ah Ryung tertikam perasaan bersalah serta panik. Ia tidak sanggup berbohong pada Tuan Kim yang sudah dianggapnya seperti ayah kandungnya sendiri dan sangat menyayanginya itu. Akhirnya ia memutuskan mengikuti kemauan Tuan Kim.

“Tapi, bukankah Ayah seharusnya bekerja?” tanya Ah Ryung saat di dalam mobil. Ia masih berharap bisa menghindar dari Tuan Kim walaupun hal itu mustahil.

“Jangan khawatir, perusahaan akan tetap berjalan tanpa kehadiran Ayah.”

Memang benar. Selain itu, Tuan Kim adalah pemiliknya. Ah Ryung tahu kesempatannya kabur telah hilang. Ia tak ingat apa saja yang dibicarakan Ayah Hee Chul selama perjalanan. Pikirannya tertinggal di tempat lain. Ketika sadar, ia sudah berada di rumah Hee Chul.

Perasaan gelisah mendera Ah Ryung saat melihat Nyonya Kim begitu mengkhawatirkannya karena ia tampak pucat dan matanya sembab. Ah Ryung berkilah semeyakinkan mungkin, ia berbohong bahwa ia hanya lelah dan kurang tidur. Dan ia buru-buru melakukan perjalanan dari Sydney menuju Adelaide karena merindukan mereka.

Nyonya Kim begitu gembira mendengarnya dan tidak lagi menginterogasi Ah Ryung, kemudian membiarkan Ah Ryung pergi mandi. Seusai mandi, Nyonya Kim lekas mengajak Ah Ryung menikmati sarapan. Tuan Kim sudah kembali pergi bekerja. Di ruang makan itu hanya ada mereka berdua.

Ah Ryung tidak berani menanyakan perihal Hee Chul. Ia hanya duduk di kursinya dengan canggung. Pikirannya berkecamuk. Apa yang akan terjadi seandainya hubungannya dan Hee Chul berakhir? Ah Ryung akan berusaha merelakan Hee Chul, namun ia tidak mau kehilangan kasih sayang yang diberikan kedua orang tua Hee Chul padanya. Ia akan memastikannya. Ia lalu memandang Nyonya Kim ragu.

“Ibu, seandainya aku dan Hee Chul tak jadi menikah, apakah aku masih bisa mengunjungimu dan Ayah?”

Nyonya Kim berkedip kaget. Cangkir tehnya berhenti di sudut bibirnya yang terpoles lipstik merah. “Kau bicara apa, Sayang? Mengapa kalian tidak jadi menikah?”

Ah Ryung mengangkat bahu, “Tak ada yang tahu masa depan.”

Untuk sejenak Nyonya Kim terdiam. Ah Ryung menantikan jawabannya sambil berdoa dan memohon pada Tuhan semoga harapannya agar ia tidak kehilangan mereka dikabulkan. Ia menatap sendu Nyonya Kim.

Setelah lima belas detik yang menyiksa, Nyonya Kim pun menjawab dengan santai dan yakin. “Menikah atau tidak, kau tetap anak Ibu.”

Ah Ryung merasa begitu lega. Jantungnya berdegup oleh rasa bahagia. Ia bangkit untuk memeluknya dengan erat. “Terima kasih. Aku menyayangimu, Ibu ”

Nyonya Kim tertawa. Ia tidak mencurigai pertanyaan Ah Ryung karena sebelumnya pun Ah Ryung selalu bersikap manja dan penuh kasih sayang seperti ini. “Kau putriku yang berharga.”

Ah Ryung sekarang tak perlu lagi merasa sedih dan bimbang. Ia akan berusaha merelakan Hee Chul seandainya tunangannya itu memang masih mencintai Ha Mun.

Panggilan dari Ha Mun menyela pelukannya. Hatinya berdesir. Sekarang adalah waktu baginya untuk menyesaikan masalahnya dengan Ha Mun.

***

“Dasar sutradara bodoh! Pembohong! Kau melanggar kesepakatan kita! Kau sudah berjanji tidak akan menyebarluaskan rekaman itu, bahkan kemarin kau berkata sudah menghapusnya! Bagaimana bisa kau mengkhianatiku!!”

Tak ada suara di ujung sana. Ha Mun tahu ia pasti mengejutkan Ki Bum. Pria itu pasti bingung karena Ha Mun langsung memarahinya begitu tombol hijau ditekan. Ia tidak bisa menahan diri untuk memaki pria itu, sekalipun melalui telepon. Ia kesal dan tidak mengerti bagaimana bisa Ki Bum memberikan rekaman itu, pada Ah Ryung pula!

Setelah terdiam selama beberapa saat, Ki Bum akhirnya angkat bicara. Suara pria itu terdengar bingung. “Apa maksudmu? Rekaman yang mana?”

“Tak perlu berlagak amnesia! Hanya ada satu rekaman yang menjadi alasanku setuju bermain dalam filmmu!”

“Aahh, jadi maksudmu rekaman itu.” Ki Bum terdiam, suara yang dikeluarkannya kali ini lebih bingung bercampur heran. “Tapi aku memang sudah menghapusnya.”

“Bohong! Lalu bagaimana rekaman itu bisa ada pada Ah Ryung!”

“Ah Ryung siapa?”

“Temanku! Dia dan teman-temanku yang lain pernah datang ke lokasi syuting. Mengapa kau memberikan rekaman itu padanya? Mengapa harus kepadanya?! Kau tahu dia adalah tunangan Kim Hee Chul? Karena kecerobohanmu dia salah paham!” Ha Mun terengah-engah.

“Teman yang mana?”

“Sudahlah! Aku akan melanjutkan perkara ini denganmu nanti!

“Tunggu, aku tidak tahu teman ma..”

Ha Mun tidak mendengarkan karena ia sudah lebih dulu memutuskan sambungan. Ia sama sekali tidak ingat bahwa Ki Bum belum pernah diperkenalkan kepada Ah Ryung. Ki Bum mengetahui Ah Ryung sebagai Ashley Kim. Tentu saja Ha Mun tidak mengetahuinya, ia terlalu marah sehingga ia melupakan poin penting itu.

Setelah puas mencaci Ki Bum, Ha Mun lekas menghubungi Ah Ryung. Ia ingin menjelaskan semuanya. Untung saja Ah Ryung bersedia menjawab panggilannya. Jika Ah Ryung sampai menolak berbicara dengannya, ia tidak tahu apa lagi yang harus ia lakukan dan ia tidak tahu di mana ia bisa menemukan Ah Ryung.

“Sekitar satu jam lagi aku akan sampai di apartemen. Kita akan bicara di sana.”

Jantung Ha Mun berdegup kencang karena senang, lega dan panik. “Baiklah. Aku menunggumu. Hati-hati di jalan.”

Ha Mun berjalan mondar-mandir selepas panggilan berakhir. Ia sibuk menyusun skenario tentang penjelasan apa yang akan ia berikan pada Ah Ryung agar sahabatnya itu mengerti dan tidak membencinya. Rasanya sangat sulit. Ia memang yakin rahasia ini tak bisa ia sembunyikan selamanya dari Ah Ryung namun ia pun tak mengira Ah Ryung akan mengetahuinya dengan cara seperti ini. Semuanya karena kecerobohan Kim Ki Bum!

Kepala Ha Mun seakan-akan meledak memikirkan reaksi Ah Ryung saat melihat rekaman itu. Ia kesal, ia marah dan ingin sekali menghancurkan semua benda.

Ketika ia mendengar suara pintu apartemen dibuka, tubuhnya melonjak kaget. Ha Mun bergegas menyongsong Ah Ryung yang datang. Raut wajah gadis itu terlihat sangat letih. Ha Mun merasa bersalah. Sebaiknya ia segera menyelesaikan masalah ini. Ia tidak mau membebani pikiran Ah Ryung. Ia menarik Ah Ryung duduk bersamanya di sofa.

Ha Mun menceritakan kronologis bagaimana video itu tercipta berikut tentang Hee Chul yang mendesaknya dan ia sudah berusaha menghindari pria itu, lalu Ki Bum memerasnya dengan video itu sehingga Ha Mun terpaksa ikut berperan dalam film garapannya.

Selama Ha Mun menjelaskan, Ah Ryung menjadi pendengar yang sangat baik. Tak menyela, bahkan tak menunjukkan raut permusuhan sama sekali. Justru aksi diam Ah Ryung ini semakin membuat rasa bersalah Ha Mun kian membengkak hingga dadanya terasa sesak.

“Sungguh, tidak sedikit pun ada niat dalam hatiku untuk merebut Hee Chul darimu. Aku menyadari bahwa dia adalah tunanganmu, milikmu, karena itu aku sudah memutuskan untuk meninggalkan Hee Chul, bahkan hidup kalian–”

Kata-kata itu terhenti. Ha Mun memandang nanar tangan Ah Ryung yang menggenggam tangannya dengan lembut. Mengapa? Mengapa Ah Ryung bersikap setenang ini, yang mana berhasil membuat dada Ha Mun teremas kencang.

“Aku hanya ingin bertanya satu hal padamu.”

Ha Mun dengan susah payah mengangguk.

“Jadi benar, Casey adalah Chulppa?”

“I-tu.., Ah Ryung, aku yakinkan padamu aku tidak..”

Ah Ryung mengangkat tangannya menginterupsi, Ha Mun mengatupkan bibir. Ia tidak butuh narasi panjang-lebar tentang keputusan Ha Mun mengalah, ia hanya butuh penegasan.

“Ya, atau tidak?”

Ha Mun menundukkan kepala. Sambil menekan perih di tenggorokan, ia mengangguk

“Ya. Chulppa adalah Kim Hee Chul, Casey Kim.”

Detik itu Ha Mun sungguh berharap matanya menjadi buta karena ia tidak sanggup menatap mata Ah Ryung dan menyaksikan perubahan ekspresi di wajah sahabatnya itu. Hatinya sakit oleh rasa bersalah. Tapi ia siap menerima seluruh kemarahan Ah Ryung, karena ia pantas mendapatkannya.

Kaki Ha Mun gemetar ketika Ah Ryung memandangnya tajam. Ia akan dimarahi. Ia akan dibenci, dan yang lebih buruk, ia akan kehilangan sahabat yang berharga.

“Itu. Itu yang aku sesalkan. Itu yang membuatku marah padamu.”

“Eh?”

Ha Mun sungguh tercengang. Perkataan Ah Ryung sangat tidak terduga. Itukah yang membuat Ah Ryung syok? Karena Ha Mun tidak pernah menjelaskan bahwa Hee Chul adalah Chulppa, cinta pertamanya? Bukan karena apa yang terekam dalam video? Napasnya tercekat ketika Ah Ryung bergeser agar lebih dekat dengannya.

“Ah Ryung, aku benar-benar minta maaf karena tidak menceritakan lebih awal padamu soal Hee Chul..”

Lagi-lagi Ah Ryung membuat Ha Mun tercenung kaget. Ah Ryung memeluknya, membuat gerak tubuh dan suaranya terhenti.

“Maafkan aku. Karena aku tidak peka, karena aku hampir saja mengambil kebahagiaanmu.”

Airmata Ha Mun langsung membanjiri pipinya mendengar Ah Ryung justru meminta maaf, bukan memakinya. Ah Ryung, mengapa kau begitu baik hati? Jelas sudah ia bersalah, mengapa Ah Ryung malah menyalahkan dirinya sendiri karena mengira sudah merebut kebahagiaan orang lain.

“Tidak. Tidak seperti itu.” Ha Mun tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia justru menangis meluapkan seluruh perasaan yang tertahan di benaknya. Bukan ini yang ia harapkan setelah menjelaskan semuanya. Bukan ini…

Ha Mun mengharapkan Ah Ryung mengerti dan melanjutkan hubungannya dengan Hee Chul.

“Kembalilah padanya.”

Apa? Ha Mun membelalak pada Ah Ryung. Kembali pada Hee Chul? Ah Ryung sudah gila!

Ha Mun menggeleng, “Tidak. Aku tidak bisa.”

Sungguh tidak adil jika ia menuruti kata-kata Ah Ryung setelah ia menghancurkan kebahagiaan gadis itu. Apa yang terjadi antara dirinya dan Hee Chul sudah berakhir.

Selamanya hal itu tidak akan berubah.

***

Ah Ryung mendesah. Ia mencoba meredakan rasa tercekat di tenggorokannya. Ia gagal membujuk Ha Mun agar kembali pada Hee Chul. Ha Mun malah menyebutnya gila. Ah Ryung tidak peduli. Ia sudah memutuskan bahwa ia akan mengembalikan Hee Chul pada Ha Mun. Ia tahu walaupun Ha Mun menolak, jauh di dalam lubuk hati gadis itu masih tersimpan rasa untuk Hee Chul. Ha Mun hanya terlalu memikirkan kebahagiaannya.

Gadis bodoh! Bagaimana mungkin Ah Ryung tega tetap mengklaim Hee Chul sementara ia mengetahui betapa besar rasa cinta Ha Mun untuk cinta pertamanya itu. Ia tidak mau menjadi penghalang. Ha Mun lebih berhak atas diri Hee Chul karena gadis itu jauh lebih dulu mencintai Hee Chul.

Ah Ryung akan berusaha merelakannya. Langkah pertama yang ia ambil adalah; memutuskan pertunangannya dengan Kim Hee Chul. Hari ini ia akan bertemu dengan Hee Chul, mereka berjanji di salah satu kafe dekat kantor pria itu. Setelah menunggu selama sepuluh menit, pria itu muncul.

Hee Chul bersikap romantis seperti biasanya. Pria itu mengecup kening Ah Ryung kemudian duduk.

“Ada apa? Tidak biasanya kau menyuruhku datang di tengah jam kerja seperti ini.” Hee Chul tersenyum.

Ah Ryung menahan napasnya sejenak. Ia mengulum senyum kala menyerahkan sebuah kotak beludru berwarna hitam ke hadapan Hee Chul.

“Aku ingin mengembalikan ini.”

Senyum di wajah Hee Chul memudar. Pria itu mengerutkan kening. Ia tahu isi kotak itu adalah cincin yang ia berikan saat melamar Ah Ryung. Yang tidak ia pahami adalah, mengapa Ah Ryung melepaskan cincin itu, menaruhnya dalam kotak dan menyerahkan benda itu padanya?

“Aku tidak mengerti. Mengapa kau mengembalikannya?”

“Aku ingin menghentikan pertunangan dan membatalkan pernikahan kita,” tutur Ah Ryung dengan ketenangan yang mengagumkan.

Hee Chul membelalakkan mata. Pernyataan itu sungguh mengejutkan! “Kenapa tiba-tiba?”

“Aku sudah mengetahui semuanya. Rahasia yang kau dan Ha Mun sembunyikan dariku, tentang masa lalu kalian. Begitu mengetahuinya, aku sadar kalian berdua masih saling mencintai. Aku tidak ingin menjadi penghalang bagi kalian berdua.”

Ah Ryung mengharapkan Hee Chul terkejut atau paling tidak merasa bersalah karena sudah merahasiakan sesuatu yang penting darinya. Akan tetapi, pria itu justru terlihat tenang seakan memang berharap ia mengetahui semuanya. Ah Ryung sudah menduga akan seperti ini, namun tetap saja hatinya terasa sakit melihat pria yang dicintainya melepaskannya begitu saja.

Jadi memang benar, cinta Hee Chul selama ini tidak jauh lebih besar dari cintanya untuk pria itu. Kenapa Hee Chul melakukan ini padanya? Kenapa Hee Chul membiarkannya mencintai pria itu sementara di hatinya masih tertulis nama wanita lain?

Hati Ah Ryung terasa amat perih.

Sekarang, Hee Chul menatapnya dengan raut simpatik. Tidak, aku tidak mau dikasihani! Ah Ryung menguatkan hati.

“Ah Ryung, maafkan aku karena tidak mengatakannya lebih cepat. Aku bukannya ingin membohongimu, aku hanya tidak tahu bagaimana menjelaskannya tanpa menyakiti perasaanmu.”

Tapi pada akhirnya kau tetap melukaiku, batin Ah Ryung pahit.

“Apa kau masih mencintai Ha Mun?”

Hee Chul terdiam cukup lama, namun pria itu tetap mengangguk. “Sejujurnya, aku ingin memilih Ha Mun. Tapi kau tahu, Ha Mun tidak ingin menjalin hubungan apa pun denganku lagi.”

Ah Ryung tersenyum getir. Ia tahu. Walaupun Hee Chul tak perlu memilih, tapi sudut kecilnya berharap bahwa Hee Chul akan mempertahannya, paling tidak Hee Chul berkata bahwa pria itu lebih memilihnya meskipun itu hanya sebuah kebohongan. Mereka sudah bersama cukup lama. Selama ini Ah Ryung merasakan kasih sayang Hee Chul untuknya, hanya untuknya. Ia sama sekali tak mengira Hee Chul menyimpan cinta untuk gadis lain. Tak pernah terpikirkan pria yang ia cintai akan melepaskannya begitu saja, tanpa pertanyaan dan tanpa rasa keberatan sedikit pun. Bagaimanapun, rasanya sangat menyakitkan.

Aku tidak boleh egois. Ah Ryung sudah memutuskan akan mempersatukan Hee Chul dengan Ha Mun dan ia tidak boleh mundur hanya karena ia sakit hati.

“Aku akan mencoba membantumu.”

Dan Ah Ryung kembali membuat Hee Chul terperanjat. “Ah Ryung, kau tidak perlu melakukannya. Aku sudah cukup merasa bersalah karena sudah menyakitimu.”

Ah Ryung tersenyum. “Meskipun sekarang kita tidak bertunangan lagi, kita masih bisa menjadi teman, bukan?”

Benar, mereka sekarang adalah teman. Sungguh sebuah ironi.

***

Ah Ryung terkejut melihat Ha Mun keluar kamar sambil menarik kopernya. Ia baru saja selesai mandi. Ha Mun tidak mengatakan apa-apa sebelumnya.

“Ha Mun, kenapa kau mengeluarkan kopermu?”

“Aku akan kembali ke Korea. Urusanku di sini sudah selesai.” Ha Mun menempatkan kopernya di dekat pintu masuk apartemen. Ia kemudian duduk di sofa untuk merapikan isi tasnya.

“Tapi kau bilang masih punya waktu satu minggu lagi.” Ah Ryung kecewa Ha Mun memutuskan pergi tanpa berbicara dengannya. Padahal ia berencana memanfaatkan waktu satu minggu itu untuk mendekatkan Hee Chul dan Ha Mun.

“Maaf, kau terlihat sangat sibuk mengurus kafe. Aku merasa tidak enak karena terus merepotkanmu.”

“Kenapa kau tiba-tiba ingin kembali? Apa karena aku?”

Ha Mun tidak menjawab. Gadis itu tampak merenung. Ah Ryung merasa bersalah. Tak perlu dijawab pun, ia sudah bisa menebak alasan Ha Mun memilih pulang lebih cepat.

Beberapa hari ini ia terus berusaha merayu Ha Mun agar mau kembali pada Hee Chul atau paling tidak bertemu dengan lelaki itu. Tetapi Ha Mun selalu menolak. Ah Ryung tahu Ha Mun masih mencintai pria itu, namun karena tidak enak pada dirinya, Ha Mun mengelak.

“Bukan, aku hanya ingin pulang. Aku merindukan Ibu, dan Ayah.”

“Sungguh, bukan karena aku terus memaksamu bertemu Hee Chul?”

Ha Mun mencengkeram tasnya. Ia menoleh pada Ah Ryung dan menatapnya tegas.

“Kumohon, Ah Ryung, jangan memaksaku untuk kembali pada Hee Chul lagi. Aku tidak bisa. Bukan karena kau dan dia pernah bertunangan, tapi karena aku tidak mau kembali pada perasaan yang sudah kucoba untuk kulupakan.”

Ah Ryung mengangguk mengerti. Senyum yang ia perlihatkan tampak kikuk. Ia tidak akan membahas Hee Chul lagi. Ia membantu Ha Mun mengepak barang-barangnya lalu bersiap mengantarnya ke bandara. Baiklah, karena ini adalah kesempatan terakhirnya, Ah Ryung memutuskan menggunakan cara ekstrem. Ia akan membuat Ha Mun tidak memiliki pilihan lain selain berhadapan dengan Hee Chul. Diam-diam ia mengirim pesan pada Hee Chul, memberitahu pria itu di mana dia bisa bertemu dengan Ha Mun.

***

Ha Mun tahu ia sedang melarikan diri. Ia tidak mengerti mengapa Ah Ryung menjadi begitu gencar mendekatkannya dengan Hee Chul. Sebenarnya apa yang dipikirkan gadis itu? Ia sungguh terkejut ketika mendengar pertunangan Ah Ryung dan Hee Chul dibatalkan dan lebih terkejut lagi ketika Ah Ryung memintanya agar kembali pada Hee Chul.

Satu-satunya hal yang bisa Ha Mun simpulkan adalah, Ah Ryung sudah gila dan Ha Mun semakin merasa bersalah karenanya. Ia adalah penyebab putusnya pertunangan mereka, ia yang telah menghancurkan kebahagiaan sahabatnya sendiri. Oleh sebab itu, Ha Mun harus pergi. Walaupun berat rasanya..

“Ha Mun!”

Seseorang berseru. Ha Mun sedang menunggu jam keberangkatannya bersama Ah Ryung. Ia berdebar mendengar suara itu dan tidak berani menoleh. Ia pasti salah dengar. Hee Chul tidak mungkin ada di sini dan memanggil namanya. Pria itu tidak tahu.

“Ha Mun, kau benar-benar akan pergi?”

Sial! Itu memang suara Hee Chul. Ha Mun bisa merasakan sosoknya mendekat. Ia mendelik sinis ketika pria itu tiba di sisinya.

“Bagaimana kau tahu aku akan pulang hari ini? Tunggu, kau tidak perlu menjawab. Aku sepertinya tahu.” Ha Mun melirik Ah Ryung yang memberinya tatapan permohonan maaf.

“Kalian harus bicara,” tutur Ah Ryung lembut.

“Kim Ah Ryung, haruskah kuulangi bahwa sudah tidak ada lagi yang bisa dibicarakan di antara kami? Tidak ada! Jadi untuk apa kau memanggilnya kemari?” Ha Mun berkata dengan nada tajam. Ia tidak bermaksud memarahi Ah Ryung, namun akal sehatnya tidak bekerja.

Hee Chul dengan sigap menyela Ha Mun dengan memegang tangannya. “Jangan menyalahkan Ah Ryung. Dia hanya membantuku.”

“Membantu untuk apa? Aku tidak ingin bicara denganmu!” Ha Mun menarik tangannya.

“Tapi kita memang harus bicara dan banyak sekali hal yang ingin kukatakan padamu. Selama ini aku tidak bisa mengatakannya karena kau terus menghindar.”

“Aku tidak mau bicara denganmu. Pergilah.”

“Kenapa kau begitu keras kepala? Apa yang membuatmu begitu keberatan? Ah Ryung bahkan sudah mengakhiri pertunangannya denganku demi dirimu! Kau seharusnya menghargai usahanya.”

“Itu yang membuatku semakin tidak mau bicara denganmu, karena kau, Kim Hee Chul, seharusnya membahagiakan Ah Ryung! Hubungan kita sudah berakhir sejak kau pergi bertahun-tahun yang lalu!”

Ha Mun tidak bisa mengendalikan amarahnya lagi, juga airmatanya. Ia sudah hampir menangis dan berusaha keras menahan genangan air yang sudah membendung di sudut matanya.

“Sekarang biarkan aku sendiri. Baiklah, kau mungkin memang sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan Ah Ryung, tapi aku tetap tidak mau menerimamu. Karena itu jangan muncul lagi di hadapanku.”

“Ha Mun, kumohon!” Hee Chul menahan tangan Ha Mun ketika gadis itu bersiap pergi.

Ha Mun tidak mendengarkan. Ia berusaha menarik tangannya. Hee Chul kehabisan akal, akhirnya ia mengejutkan Ha Mun ketika ia berlutut di hadapan gadis itu. Ha Mun menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangan. Ia tak percaya Hee Chul telah merendahkan harga dirinya dengan berlutut seperti itu.

“Aku mencintaimu, Ha Mun. Aku menyadari aku masih mencintaimu hingga saat ini ketika aku bertemu denganmu lagi. Aku sungguh menyesal karena aku tidak menjaga perasaanku sebelumnya. Aku menyayangi Ah Ryung, benar, dan ingin menjaganya. Tetapi, kau tetap gadis yang masih mengisi hatiku hingga saat ini.”

Aksi Hee Chul telah menarik perhatian semua orang di sekitar mereka. Aktivitas di bandara sedang padat saat itu sehingga bisa dipastikan ratusan pasang mata sedang melihat mereka dengan beraneka ragam ekspresi.

“Karena itu, maukah kau kembali padaku?”

Benarkah apa yang Ha Mun dengar dan lihat sekarang? Hee Chul mengacungkan sebuah cincin padanya! Jantungnya berdebar keras.

Pipi Ha Mun basah oleh airmata. Ia melirik Ah Ryung. Sahabatnya itu mengangguk, dan Ha Mun pun menerimanya sebagai tanda bahwa gadis itu merestuinya dengan sepenuh hati. Menyadari hal itu, airmata tak bisa ia bendung lagi. Ha Mun terisak. Akhirnya ia menyerah pada perasaan yang ia coba padamkan selama ini

Tuhan, ia masih mencintai Kim Hee Chul.

Ha Mun menerima cincin yang diberikan Hee Chul. Pria itu tersenyum begitu cerah, dan tak membuang waktu lagi untuk memeluk Ha Mun.

“Terima kasih sudah bersedia kembali padaku.”

Ha Mun tak menjawab. Hanya menganggukkan kepala. Hee Chul memakaikan cincin ke jarinya. Ha Mun masih tak percaya. Akhirnya, ia bisa bersatu dengan pria yang dicintainya.

Tak jauh dari sana, berdiri dan hanya menjadi penonton, Ah Ryung tersenyum lega. Ia senang akhirnya Ha Mun menemukan cintanya. Walaupun tak bisa dipungkiri, sudut hatinya terasa sakit. Satu tahun yang lalu, Hee Chul memberikan cincin itu untuk melamarnya. Ia berpikir cincin itu ditakdirkan untuk menjadi miliknya. Sekarang ia sadar, cincin itu telah menemukan pemilik aslinya. Ha Mun lebih pantas mendapatkan cincin itu. Di hati Ha Mun selalu ada Hee Chul begitu pun sebaliknya.

Sekarang, Hee Chul benar-benar bukan miliknya lagi. Detik itu Ah Ryung memahami perasaan Ha Mun saat melihatnya bersama Hee Chul. Sedih mengetahui pria yang kau cintai bersama dengan sahabat yang paling kau sayangi. Tapi Ah Ryung akan berbahagia untuk mereka dan berdoa agar hubungan Hee Chul dan Ha Mun akan berakhir pada pernikahan yang bahagia.

Dering ponsel Hee Chul membuatnya berhenti memeluk Ha Mun. Panggilan masuk dari ibunya.

“Ya, Ibu?” Hee Chul menjawabnya. Ha Mun terlihat pucat saat tahu itu dari Ibu Hee Chul.

“Apakah Ah Ryung sedang bersamamu?” tanya sang Ibu dengan riang.

Hee Chul kebingungan. Ia lekas menoleh pada Ah Ryung yang berdiri tak jauh dari dirinya. “Ya, dia ada bersamaku. Ada apa?”

“Bagus sekali. Ajaklah Ah Ryung pulang ke rumah malam ini. Ibu ingin berdiskusi dengannya tentang konsep pesta pertunangan kalian dua minggu lagi.”

“Apa?” Hee Chul sentak diserang kepanikan. Ia gelagapan, tak tahu bagaimana menjawabnya. Ia belum memberitahu Ibu serta Ayahnya bahwa pertunangannya dengan Ah Ryung sudah berakhir. Astaga, bagaimana ia bisa melupakan poin penting itu?

“Baiklah, aku akan mengatakan padanya. Tapi jangan berharap, Ah Ryung kelihatan sangat sibuk.”

“Ayolah, bujuk dia. Ibu yakin Ah Ryung akan bersedia. Katakan padanya Ibu akan menyiapkan makanan kesukaannya jika dia datang. Lagipula ini tentang pertunangan kalian, Ah Ryung tidak akan menolak.”

“Ada apa?” Ah Ryung menghampiri Hee Chul yang terlihat kebingungan setelah berbicara dengan ibu pria itu.

“Ibu ingin kau datang untuk bicara soal pertunangan.”

“Apa? Cepat sekali. Kalian berdua baru saja..”

“Bukan pertunanganku dengan Ha Mun, tapi pertunangan kita. Ibu dan Ayah belum mengetahui kita sudah tidak bertunangan lagi.”

“Kau benar. Bagaimana ini?” Ah Ryung pun ikut panik. Ia berbalik menatap Ha Mun yang sudah pucat pasi. Tidak ada pilihan lain. Ia harus mengatakannya pada orang tua Hee Chul sekarang juga dan memberitahu mereka tentang Ha Mun dan Hee Chul yang akhirnya bersama.

“Ha Mun, kau harus ikut kami.”

Ha Mun terperanjat. “Ti-tidak!”

“Kenapa? Kau tidak bisa kembali ke Korea begitu saja setelah semua ini,” cecar Ah Ryung. Ha Mun memang terlihat panik dan gelagatnya seperti akan bersiap lari tunggang-langgang meninggalkan mereka.

Ha Mun meremas tangannya. Ekspresinya seperti orang yang baru saja menerima kabar bahwa dunia akan kiamat besok. Ha Mun menatap Hee Chul nyaris memelas. Suaranya bergetar.

“Aku tidak bisa pergi menemui orang tuamu. Kau lupa? Mereka tidak menyukaiku. Mereka akan menolakku dan mengusirku.”

Hee Chul membelalakkan mata. Ia baru tersadar akan hal penting itu. Tuhan, ia benar-benar lupa bahwa ibu maupun ayahnya membenci orangtua Ha Mun, tak terkecuali Ha Mun dan adiknya. Ah Ryung menahan napas mendengarnya.

Sekarang, apa yang harus mereka lakukan?

–to be continued–

*FYI*

img-20161007-wa0000

Trem merupakan kereta yang memiliki rel khusus di dalam kota. Trem yang berselang waktu 5-10 menit berangkat, bisa merupakan solusi untuk kemacetan. Rangkaian trem umumnya satu set (terdiri atas dua kereta) agar tidak terlalu panjang. Disebut Light Rail karena memakai kereta ringan sekitar 20 ton seperti bus, tidak seberat kereta api yang 40 ton. Letak rel berbaur dengan lalu-lintas kota, atau terpisah seperti bus-way, bahkan bisa pula layang (elevated) atau sub-way, hanya untuk sebagian lintasan saja.

Source by : Wikipedia

30 thoughts on “Trouble Namja [Chapter 6]

  1. hoho buka email ada info update ff dari kak Dha hehe langsung buka ehh lanjutan trouble namja part 6 hehe
    astaga ah ryung udah bener bener gila rupanya bagaimana bisa semudah itu mutusin tunangannya
    hahh beneran itu heechul gak punya harga diri dan rasa malu.
    baru aja saling mutusin pertunangan ehhh langsung taik ha mun buat diajak nikah
    trus nnti ah ryung sama siapa? siwon kah? kibum kah?
    jd orang tua heechuk gak suka hamun? knpa?
    bgaimana heechul nyelesein masalah itu?

  2. Kenapa,? KeNapa ahirnya begini?
    Kenapa ah ryung baik bgt bgtu??? Apa dia bakal sama kibum??
    Apa nanti ahirnya haechul sadar yg sebenernya yg dia cintai itu buka hamun? Karana cinta nya ma hamun hanya cinta yg belum terselesaikan.
    Jadi masih ada rasa mengannjal yg buat dia makasa buat tetep sama hamun?

    Trus ah ryung gimana???

  3. Wahh senangnya karena ada kelanjutan dari ff ini…
    Ah Ryung baik banget dan benar2 setia kawan, rela mengalah demi kebaikan Ha Mun..
    Semoga Ah Ryung bisa segera menemukan kebahagiannya juga…
    Ditunggu kelanjutannya ya….

  4. Akhirnya di publish jg eonn,, heeee
    Entah harus senang atau tidak dg bersatunya hamun n heechul karena ada ah ryung yg tersakiti
    N masalah baru, apakah orangtua heechul merestui mereka y

  5. Aaaaa akhirnya di lanjutin juga setelah sekian lama nungguin…
    OMG Ah Ryung, hatimu begitu baik.. kaya malaikat.. hmm sabar yah.. ntar juga kamu ketemu jodoh yg bener mencintai kamu… 😭😭😭😭

  6. Finally! Update juga~

    wow! Gak nyangka akan secepat dan segampang ini Ha Mun dan Heechul kembali bersama, agak kurang greget sih sebenarnya apalagi dgn respon Ah Ryung but it’s okay.
    Dan sekarang halangan terbesar menanti yaitu ortu Heechul.

    Btw kak, ff Romance Scandal jg dilanjut dong. Udah jd butiran debuh ini lama2 karena nunggunya

  7. Yahhh baru aja ha mun menerima hee chul sekarang masalah yang sebenarnya kedua orang tua hee chul yang gk menyukai ha mun dan keluarganya
    Makin penasaran kelanjutannya ditunggu selalukelanjutan ceritamu dha

  8. wadoh kok orang tua heechul gak menyukai ha mun n orang tuanya??wah disaat ha mun udah kembali sama heechul tp ada masalah datang lagi,semoga mereka bisa melewati masalah tsb

  9. aku telattt…
    penasaran, siapa yang ngasih video hamun sama heechul..??
    masalah sama ah ryung dah kelar sekarang masalah sama orang tua heechul..
    kyaknya bakbal panjang den perjuangannya untuk bisa bersatu..

  10. ya ampun ah ryung baik banget sama ha mun di ngerelain hee chul bwat ha mun
    v hee chul ga sadar yah klo ortu.a ga suka sama keluarga.a ha mun
    aduh gimana jadi.a nih c hamun klo tau balikan lagi sama hee chul

  11. Kasihan ah ryung
    tp dia juga sahabat terbaik yang merelakan kebahagiaannya demi kebahagiaan sahabatnya
    Saatnya ha mun menghadapai orang tau hee chul
    Semoga ha mun dan hee chul berakhir bahagia
    dan ah ryung semoga bersama dengan ki bum kkkkkk

  12. huahhhhh mak heechul kok blm ngomong ma orang tua nya sih>< huahhhhh tbh seru eon kira2 ortu heechul mau nerima ha mun gx ya???? ah ryung kamu baik bgt

  13. Ahryung benar – benar gadis yang baik yang mempunyai hati yang besar disaat seseorang berada diposisi ahryung sekarang mereka cenderung akan bertindak egois dengan kepemilikannya tanpa memikirkan perasaan orang lain tapi ahryung adalah gadis yang berbeda,dia bahkan merelakan heechul untuk hamun karena sebenarnya mereka saling mencintai. Lalu bagaimana dengan orang tua heechul ? Apa mereka akan menentang hubungan heechul dan hamun ?

  14. Ah Ryung yang malang harus mengorbankan perasaannya sendiri demi sahabat nya. Bagaimana selanjutnya hubungan antara Ha mun dan heechul? Apakah orang tuanya akan merestui hubungan mereka?

  15. Si ah ryung baik bgt. Dy dg berbesar hati mau nglepasin heechul unk hamun. Pdhl mrk ntr lg nikah loh y.. tp gmn tu ortu mrk mlah blom tau. Gmn reaksi ny ntr klo tau heechul balikan am hamun? Ap klurga ny bakal stuju….

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s