Trouble Namja [Chapter 5]

Tittle : Trouble Namja Chapter 5
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance

Main Cast :
Choi Ha Mun | Kim Hee Chul | Kim Ah Ryung

Support Cast :
Choi Si Won | Kim Ki Bum
Other Cast

Dha’s Speech :
Untuk chapter ini agak lama postingnya karena aku masih harus memulihkan diri setelah kasus plagiat yang lagi-lagi menimpa karyaku *hiks* Selain itu, kuota modem aku juga abis TT_TT
Nah, jangan ngerusuh ya kalau kalian makin benci ama Hee Chul, hohohohoo, dia memang begitu karakternya. Tapi dijamin cerita ini happy ending dan gak bakal ninggalin luka satupun untuk para castnya ^_^ so, ikutin terus cerita ini ya ^_^

Happy Reading

Trouble Namja by dha Khanzaki 5

====o0o====

 

CHAPTER 5
Liar

Pintu akhirnya dibuka juga setelah hampir lima belas menit mereka menunggu. Ha Mun muncul di balik pintu dengan rambut berbalut handuk.

“Kalian?!”

Ha Mun berpura-pura mengerjap kaget dan tak percaya, tangannya menutup mulutnya. Ia harap sandiwaranya tidak disadari teman-temannya. Melihat mereka tersenyum dan berseru heboh Ha Mun lega. Mereka tidak mencurigai apa pun. Ia memeluk mereka satu persatu.

“Mengapa lama sekali? Kakiku sudah pegal,” keluh Je Young. Teman-temannya yang lain hanya mendesah maklum sambil melirik high heels yang dikenakan Je Young. Mereka tahu Je Young sebenarnya tidak suka memakai sepatu wanita, tapi demi suaminya Je Young rela memakai benda itu.

“Maaf, aku baru selesai mandi. Jadi agak lama membuka pintu.” Ha Mun menggosok rambutnya.

“Ada kejutan untukmu,” seru Yong Mi.

Bukankah kalian sudah merupakan kejutan, batin Ha Mun sambil memaksakan senyuman. Ia yakin tidak ada yang lebih mengejutkannya lagi.

Ha Myung mendadak muncul dari balik tubuh Myung Soo. “Taraaa! Nuna, ini aku!”

Ha Mun membelalakkan mata. Oke, aku benar-benar terkejut sekarang. Untuk apa adiknya ikut kemari?! Ha Mun pasrah saja saat Ha Myung dengan semangat memeluknya. Ia memaksakan diri tampak senang.

Nuna, kudengar kau jadi aktris juga,” ujar Ha Myung dengan seringaian lebar. “Omong-omong, bagaimana kabarmu?”

Tidak baik. Sangat tidak baik. Andai kau tahu di dalam sana ada dua pria yang mengacaukan duniaku, batin Ha Mun pening. Ia ingin sekali menceritakan masalahnya pada Ha Myung. Tapi sebelum ia mengatakan masalahnya pada sang adik, ia harus menceritakannya pada sahabat-sahabatnya lebih dahulu.

Nuna, kenapa kau diam? Sepertinya kau tidak senang kami datang,” celetuk Ha Myung setelah mengamati ekspresi tertegun Ha Mun.

“Apa?” Ha Mun mengerjap, ia membalas dengan gugup. “Kau ini jangan asal menyimpulkan, tentu saja aku senang. Aku merindukanmu. Kau semakin tampan.”

Ha Myung memandang kakaknya dengan curiga. Ia merasa sikap Ha Mun agak berbeda. Ha Mun terlihat sentimentil, seakan sesuatu sedang mengganggu pikirannya. Ha Myung penasaran apa yang membuat kakaknya berakting aneh. Selain itu Ha Mun jarang sekali memanggilnya tampan.

“Kenapa kalian diam saja di sini? Ayo masuk.” Ha Mun membiarkan teman-temannya menghambur memasuki kamarnya. Ah Ryung yang masuk paling terakhir. Senyuman ramahnya membuat jantung Ha Mun seperti tertusuk duri. Ia merasa bersalah.

Selama kunjungan, teman-temannya banyak menanyakan seputar pertunjukkan Ha Mun dan proses syuting. Ha Mun mencoba bersikap normal seolah tidak ada apa pun yang ia sembunyikan. Tetapi sulit rasanya, terutama ketika teman-temannya tidak hanya duduk diam dan mengobrol.

Bagaimana jika mereka menemukan Hee Chul dan Ki Bum yang bersembunyi di kamarnya? Penjelasan apa yang akan ia berikan pada mereka? Terutama pada Ah Ryung di saat gadis itu mengetahui tunangannya melakukan kunjungan rahasia pada sahabatnya sendiri.

Memikirkannya saja, Ha Mun sudah berkeringat dingin.

Ha Mun bahkan nyaris terkena serangan jantung ketika Ha Myung mendekati jendela di mana Ki Bum bersembunyi. Untung saja, Ha Mun berhasil menjauhkan adiknya dari jendela dengan dalih udara di luar sangat dingin dan ia tidak mau jendela itu dibuka. Ia hanya bisa berharap kunjungan mereka akan segera berakhir.

Tepat sebelum tengah malam, Je Young dan yang lainnya akhirnya memutuskan pergi. Ha Mun lega sekali, namun ia menyembunyikannya dengan berpura-pura kecewa.

“Kalian bisa menginap,” ucap Ha Mun dan langsung disesalinya. Bodoh! Jika mereka menginap, bagaimana ia mengeluarkan dua pria itu tanpa ketahuan?

“Tidak, terima kasih. Kami sudah memesan kamar,” kata Ah Ryung.

Betapa Ha Mun lega mendengarnya.

“Lagipula kami tidak ingin menyusahkanmu. Kau harus beristirahat.” Hae Bin tersenyum.

“Selain itu aku yakin Putri Je Young tidak akan mau tidur tanpa suaminya,” goda Yong Mi sambil melirik Je Young.

“Jangan meledekku!” dengus Je Young. Meskipun kesal, pipinya tetap memerah. Yang lain tertawa melihat Je Young tersipu.

“Kau akan tidur di mana?” tanya Ha Mun pada adiknya, lalu menambahkan pada Ah Ryung, Hae Bin, dan Yong Mi dengan tajam. “Jangan katakan kalian membiarkannya tidur satu kamar dengan kalian. Aku tidak mengizinkannya! Meskipun masih polos dan bodoh, dia tetap pria!”

Yak! Nuna..” Ha Myung protes, tidak terima disebut bodoh dan polos. Myung Soo tertawa puas.

“Tenang saja. Dia akan tidur satu kamar denganku dan Dong Hae Hyung.”

“Oh, begitu. Syukurlah.” Ha Mun lega.

Tadi Ha Mun sempat bertanya mengapa Dong Hae dan Kyu Hyun tidak ikut ke kamarnya, mereka bilang Kedua pria itu memutuskan menunggu di kamar karena lelah. Padahal Ha Mun ingin sekali bertemu dengan mereka, terutama pamannya. Ia ingin menggoda Kyu Hyun tentang statusnya yang sudah berubah. Sejak menikah dengan Je Young, Ha Mun jarang sekali melihatnya.

Ha Mun melambaikan tangan pada teman-teman dan adiknya saat mereka pergi. Begitu mereka menghilang di belokan, Ha Mun segera menyuruh dua pria yang bersembunyi itu keluar dari tempat persembunyian mereka. Hee Chul keluar dari lemari sambil memijat bahunya sementara Ki Bum sibuk menghangatkan tangannya yang nyaris mati rasa. Ia harus berada di luar selama teman-teman Ha Mun datang tadi.

“Akhirnya mereka pergi. Ah, aku lupa malam ini angin berembus kencang dan dingin. Aku nyaris mati kedinginan di luar sana,” ucap Ki Bum dengan suara terpatah-patah. Pria itu menggigil.

Ha Mun sama sekali tidak terlihat iba akan kondisi Ki Bum. Ia justru menyipitkan mata. “Salahmu sendiri mengapa memilih tempat persembunyian di sana. Sudah kukatakan kau bisa bersembunyi di bawah ranjang.”

“Aku tidak ingin mengambil resiko tertangkap oleh teman-temanmu! Aku harus menjaga citra!” seru Ki Bum jengkel sambil membelalakkan mata. Sikap Ha Mun yang sedingin udara di luar membuatnya kesal.

Dasar ratu es! Dia sama sekali tidak merasa kasihan pada keadaanku yang hampir mati kedinginan! Dan dia malah mengomeliku!

“Sudah, jangan cerewet! Pakai ini!” Ha Mun menyerahkan sarung tangan rajutan berwarna pink pada Ki Bum. “Itu bisa menghangatkan tanganmu.”

Ki Bum memandang sarung tangan itu dengan jijik seolah Ha Mun baru saja memberinya kodok berlendir. “Kau memintaku memakai benda ini?” tanyanya tak percaya. “Ini merah muda!”

“Ya, lalu?”

“Dan bergambar Hello Kitty!” Ki Bum berkata dengan nada seolah Ha Mun menyuruhnya menelan sianida. Sampai kapan pun Ki Bum, seorang pria sejati tidak akan membiarkan dirinya sendiri memakai benda semacam ini!

“Ya Tuhan, pakai saja! Sudah bagus aku bersedia meminjamimu sarung tanganku! Jika kau tidak suka, kembalikan!” Ha Mun mencoba merebutnya lagi namun Ki Bum menjauhkan sarung tangan itu.

“Baiklah! Aku akan memakainya!”

Ha Mun menahan senyum melihat Ki Bum memakai sarung tangan itu sambil menggerutu, “Mengapa perempuan suka sekali membeli barang berwarna merah muda.”

Hee Chul yang sejak tadi diabaikan kesal dan cemburu melihat Ha Mun hanya mengurusi Ki Bum saja, padahal ia juga ada di sana dan ingin diperhatikan.

“Hei, jangan lupakan keberadaanku di sini!” Mendengar suaranya, barulah Ha Mun menoleh. Hee Chul kembali memijat bahunya sambil meringis.

“Bersembunyi di lemari cukup melelahkan juga. Bahuku sampai terasa kaku.”

“Lalu apa yang harus kulakukan?” tanya Ha Mun skeptis.

Hee Chul tercengang. Ha Mun tidak mencemaskannya? “Kau bisa memberiku obat pegal atau..”

“Tidak!” potong Ha Mun tegas. “Kau harus keluar dari sini. Sekarang!”

“Apa?!” Perintah yang dilontarkan dengan dingin itu membuat Hee Chul syok. Ia diusir begitu saja? DIUSIR?!

Tiba-tiba saja kemarahan Hee Chul menggelegak. “Aku masih memiliki sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu!” tegasnya tajam.

“Dan aku tidak mau bicara denganmu. Semua sudah berakhir malam ini. Kau harus keluar sekarang juga.” Dengan agak kasar Ha Mun mendorong Hee Chul ke arah pintu depan.

“Jang Ha Mun!” protes Hee Chul tak percaya. Ha Mun balas memelototinya.

“Jang Ha Mun sudah mati! Sekarang aku Choi Ha Mun!”

“Tapi..” Hee Chul gelagapan. Ia tidak ingin pergi karena masih banyak hal yang ingin dikatakannya pada Ha Mun. Hee Chul mendelik tajam pada Ki Bum yang menyeringai sinis padanya.

“Sayang sekali, kau terusir bahkan sebelum kau mengatakan tujuanmu.”

Ha Mun berbalik pada Ki Bum lalu berkacak pinggang. “Kau juga, Tuan Kim Ki Bum. Keluar dari kamarku!”

Seringaian Ki Bum terputus. Ia balas mendelik pada Hee Chul yang tertawa menghinanya. Sial, Ki Bum tidak akan membiarkan dirinya dipermalukan.

Well, aku memang akan pergi!” ujarnya dengan dagu terangkat.

“Bagus! Kalau begitu kalian pergi!”

Ki Bum membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu namun Ha Mun menolak mendengarkan. Dengan kesal ia mendorong kedua pria itu agar keluar dari kamarnya.

“Sekarang pergi dan jangan ganggu aku lagi!” tegas Ha Mun lalu membanting pintu. Ia ingin sendirian dan istirahat. Hari ini sungguh melelahkan.

Di luar, Ki Bum dan Hee Chul masih melongo menatap pintu yang ditutup tepat di depan wajah mereka. Setelah sadar bahwa mereka sudah tidak bisa lagi mengganggu Ha Mun, keduanya saling melemparkan tatapan bengis satu sama lain.

“Jangan berpikir kau bisa merebut Ha Mun dariku,” ancam Hee Chul dengan suara rendah dan tegas.

Ki Bum tidak merasa terintimidasi sedikit pun oleh peringatan tegas itu. “Merebut? Jangan asal bicara. Kau pikir kau pantas memilikinya? Lebih baik kau berkaca diri sebelum kau berpikir bisa mempermainkan perasaan seorang gadis seperti Ha Mun.”

“Apa kau bilang?” Kini Hee Chul benar-benar membenci Ki Bum. Ia menahan kepalan tangannya erat-erat. Ia tidak boleh membuat keributan di sini. Ia melemparkan tatapan permusuhan sekali lagi pada Ki Bum, lalu berbalik pergi. Melihat Hee Chul melenggang pergi, Ki Bum pun melakukan hal yang sama, ia pergi ke arah yang berlawanan.

“Apa sebenarnya yang terjadi?”

Tanpa diketahui Hee Chul maupun Ki Bum, Ha Myung tanpa sengaja mengamati sejak mereka diusir dari kamar Ha Mun. Laki-laki itu bermaksud kembali ke kamar kakaknya karena topinya tertinggal. Tetapi niatnya itu diurungkan saat Ha Myung melihat dua orang laki-laki keluar dari kamar kakaknya.

Ada sesuatu yang coba disembunyikan kakaknya. Itulah kesimpulan yang Ha Myung dapatkan dari pengamatannya. Semuanya masuk akal jika dikaitkan dengan sikap aneh Ha Mun.

Entah mengapa ia merasakan firasat buruk tentang ini. Ha Myung berjanji ia akan mencari tahu.

***

Sarapan pagi itu terasa ramai. Ha Mun dan teman-temannya makan bersama di satu meja di restoran hotel. Ha Mun telah melupakan kegundahannya semalam dan menggantikannya dengan tawa bahagia. Ia senang akhirnya bisa menikmati makanannya. Rasanya seperti berada di rumah.

Ha Mun menepati janjinya, ia benar-benar menggoda Kyu Hyun saat bertemu dengan pamannya itu. Kyu Hyun sama sekali tidak kesal seperti biasanya jika diledek olehnya. Alih-alih, Kyu Hyun justu terlihat bahagia dan memegang tangan Je Young dengan lebih mesra. Ha Mun bertanya-tanya, apa kehidupan setelah pernikahan memang sebahagia itu?

“Tentu saja menyenangkan. Terlebih saat kau menjalaninya dengan orang yang kau cintai,” ucap Je Young sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Kyu Hyun.

Apa dia baru saja membaca pikiranku? Ha Mun tercengang menatap Je Young. Melihat Je Young tersenyum pada Ah Ryung, bukan padanya, Ha Mun sadar Je Young baru saja menjawab pertanyaan yang diajukan Ah Ryung. Ha Mun menghela napas lega.

“Tak perlu dikatakan. Tampak jelas di wajahmu,” sahut Yong Mi santai.

“Kau iri, bukan?” Je Young terkekeh. “Myung Soo, cepatlah kau melamarnya.”

Myung Soo hanya tersenyum tanpa mengatakan apa-apa. Tapi lirikannya pada Yong Mi begitu penuh arti dan mengisyaratkan banyak hal. Ha Mun mengerjap melihat banyaknya cinta pria itu untuk Yong Mi. Begitu tulus dan murni. Sayang sekali Yong Mi masih belum menyadarinya.

Ha Mun merasa iri. Ia pun ingin ditatap dengan sorot seperti itu oleh pria. Ha Mun belum menemukannya. Bahkan sorot mata Hee Chul tidak pernah menampakkan binar cinta tulus dan murni. Hanya gairah dan kasih sayang.

“Aku juga ingin segera menikahi Hae Bin.” Dong Hae berkata. Ia menggenggam tangan Hae Bin lebih erat sambil menatap kekasihnya itu dengan lembut.

Ah, satu lagi pria yang mencintai kekasihnya dengan tulus. Ha Mun selalu mengagumi cara Dong Hae mencintai Hae Bin. Pria itu penuh pengertian dan perhatian pada Hae Bin. Jika pria lain berada di posisi Dong Hae, mungkin Hae Bin sudah ditinggalkan. Ha Mun bahagia karena Hae Bin dicintai lelaki seperti Dong Hae.

“Kalau begitu menikah saja. Bukankah kedua orang tua kalian sudah merestui,” komentar Ha Myung polos. Suasana yang tadinya penuh tawa mendadak berubah hening.

“Apa aku salah mengatakan sesuatu?” Ha Myung cemas. Ha Mun ingat, adiknya itu belum tahu problematika yang membuat Hae Bin dan Dong Hae belum melangkah ke jenjang itu. Tapi tentu saja seluruh sahabat Hae Bin sudah tahu.

“Tidak, kau hanya terlalu cerewet.” Ha Mun terkekeh kecil seraya menjewer telinga adiknya dengan gemas. Ha Myung mengaduh lalu mengomel.

Hae Bin balas menatap Dong Hae dengan senyuman lembut, dan ada jejak kesedihan di matanya. “Aku tidak akan mengubah keputusanku,” ucap Hae Bin tenang. “Aku tidak akan menikah sebelum menemukan donor dan menjalani operasi.”

Ha Mun dan yang lainnya sungguh menyesali keputusan Hae Bin itu, dan mereka selalu sedih setiap kali teringat bahwa Hae Bin, sahabat mereka yang selalu tersenyum harus berjuang melawan penyakit yang menggerogotinya sejak lama. Ha Mun heran mengapa Hae Bin begitu bersikukuh ingin terbebas dari penyakitnya lebih dulu sebelum menikah dengan Dong Hae sementara…

Tidak, Ha Mun tidak ingin menerka apa pun. Tapi tetap saja matanya terasa berat oleh airmata. Hae Bin pasti terbebas dari penyakitnya. Hae Bin gadis yang kuat, dia tidak akan kalah oleh penyakitnya.

“Hei, mengapa kalian memasang wajah seperti itu?” Hae Bin tertawa hangat. “Berhentilah bersedih karena penyakitku. Aku tidak akan mati sekarang. Kalian lihat, aku masih cukup sehat.”

Senyum ceria Hae Bin tertular pada yang lain. Semuanya berhenti memasang ekspresi sedih. Ha Mun mengerjapkan mata, airmatanya mendadak kering melihat senyuman Hae Bin. Benar, tidak ada gunanya bersedih. Hae Bin sudah berjuang untuk tetap sehat, ia hanya bisa memberinya semangat dan dukungan.

Dong Hae masih menatap Hae Bin dengan pilu. “Kau berjanji tidak akan meninggalkanku begitu saja? Aku sudah berjanji akan terus menunggu sampai kau setuju. Karena itu…”

“Karena itu berhentilah mencemaskanku,” sela Hae Bin lembut. “Aku tidak akan pergi ke mana-mana.”

“Baiklah, putri,” Dong Hae mengecup tangan Hae Bin, membuatnya merona. Tatapannya menyiratkan sesuatu yang hanya dipahami mereka berdua. Dan jenis tatapan itu membuat Ha Mun iri.

Ha Mun pun menginginkan seorang pria yang setia mencintainya, tidak meninggalkannya walaupun ia dalam keadaan terburuk.

Demi memecahkan suasana tidak mengenakkan itu, Je Young bertanya. “Omong-omong tentang pernikahan, kapan kau dan Casey menikah?”

Jantung Ha Mun berhenti berdetak mendengar nama Casey. Je Young tidak mengajukan pertanyaan itu padanya, namun mengapa Ha Mun merasa begitu panik? Apa karena ia merasa bersalah karena telah menyembunyikan pertemuan rahasianya dengan Hee Chul dari teman-temannya terutama Ah Ryung? Ia melirik Ah Ryung dengan gelisah.

“Kami belum memutuskan tanggal pastinya, tapi sesuai rencana, pernikahan itu akan dilaksakanan sesegera mungkin.” jawab Ah Ryung tenang.

Ha Mun tercekat. Ia memegang sendoknya lebih erat. Jadi mereka bahkan sudah merencanakan akan menikah dalam waktu dekat, namun Hee Chul tetap nekat mendekatinya? Ha Mun merasa benar-benar dipermainkan.

“Aku juga minta maaf karena dia tidak bisa datang kemari. Pekerjaannya di kantor sangat menumpuk,” tambah Ah Ryung penuh sesal.

Cih, jadi itu alasan yang diberikan Hee Chul pada Ah Ryung? Ha Mun tersedak karena merasa bersalah. Ia tidak bisa mengatakan bahwa Hee Chul berada di hotel ini semalam, mungkin pagi ini juga. Ia harus mengalihkan pembicaraan. Ia tidak bisa bertahan dalam percakapan tentang Hee Chul tanpa disesaki rasa bersalah seperti seorang pencuri yang takut kejahatannya terbongkar.

“Berbicara soal menikah, apa kalian tahu, kisah cinta dalam film yang kumaikan sungguh mustahil,” kata Ha Mun dengan suara agak keras demi mendapatkan perhatian. Ia mendapatkan keinginannya. Kini, semua orang di meja itu menoleh padanya.

“Tokoh utamanya memendam cinta begitu lama terhadap seorang pria, dan rela menunggunya hingga bertahun-tahun. Ketika bertemu, mereka kembali saling jatuh cinta dan menikah. Apakah menurut kalian itu masuk akal?”

“Benar sekali, pada kenyataannya, hanya sedikit sekali wanita yang mau membodohi dirinya sendiri dengan mencintai laki-laki yang keberadaannya dipertanyakan, apalagi perasaannya.” Je Young mengangguk setuju.

“Terlebih tidak bisa dijamin apakah laki-laki yang ditunggunya mencintainya juga atau tidak. Dan meskipun mencintainya, apakah perasaan itu masih bertahan selama bertahun-tahun atau tidak.” Yong Mi menimpali.

Ha Mun tertohok mendengar pendapat itu. Ia sadar ia telah memilih topik yang salah, karena bukannya merasa lebih baik, hatinya malah berdenyut perih. Ha Mun tersinggung karena itulah yang ia lakukan selama ini, bertingkah seperti wanita bodoh karena tetap mencintai laki-laki yang pergi entah ke mana. Akibatnya tepat seperti yang diutarakan Yong Mi, Hee Chul tidak menjaga perasaannya. Laki-laki itu sudah melabuhkan hatinya pada wanita lain.

Aku memang bodoh.

“Menurutku tetap mencintai seseorang selama bertahun-tahun tanpa tahu apakah perasaannya akan terbalas atau tidak, bukanlah sesuatu yang bodoh,” ujar Hae Bin. “Bukankah apa yang dilakukannya menunjukkan bahwa ia adalah wanita setia?”

Ha Mun tersenyum miring. Setia? Ia bahkan tidak pantas disebut sebagai wanita setia. Paling tidak, pada sahabatnya sendiri.

Ah Ryung sejak tadi tidak berkomentar. Benaknya penuh dengan pertanyaan. Ia merasa familiar dengan kisah itu. Secara garis besar, kisah yang diceritakan Ha Mun mirip dengan naskah film yang sedang digarap Ki Bum. Ia mengerjap, mungkinkah?

“Ha Mun, kau belum memberitahu judul film yang kau mainkan.” Ah Ryung berharap dugaannya benar.

Ha Mun memiringkan kepala sambil bergumam, “Memories in Korea.”

Ternyata benar! Ha Mun memang bermain dalam film yang digarap Kim Ki Bum. Semuanya berkaitan. Ki Bum berkata sudah menemukan pemain utamanya bersamaan dengan Ha Mun berkata akan berakting untuk sebuah film! Ah Ryung begitu senang sampai ingin memeluk Ha Mun. Tapi ia menahannya. Ha Mun atau teman-temannya belum boleh tahu bahwa ia yang membuat naskah skenario untuk film itu.

Meskipun begitu, Ah Ryung tidak bisa menahan diri untuk mengirimkan pesan pada Ki Bum bahwa ia sudah tahu di mana Ki Bum berada.

***

Sebenarnya Ha Mun ingin mencegah teman-temannya melihat lokasi syuting, tapi ia tidak bisa melakukannya. Tepatnya, ia tidak menemukan alasan mengapa mereka tidak boleh melihat. Ia hanya berharap Ki Bum tidak keberatan ia membawa beberapa teman.

“Semua sudah lengkap?” Ha Mun mengecek teman-temannya yang berkumpul di lobi hotel. Mereka akan pergi bersama-sama ke lokasi syuting dengan berjalan kaki karena letaknya tidak jauh. Lagipula cuaca di luar indah dan pas untuk berjalan-jalan.

“Masih kurang Myung Soo, Yong Mi dan Ha Myung,” sahut Je Young.

“Bocah itu, dia pasti masih sibuk di kamar mandi! Ha Mun, aku heran sekali pada adikmu. Dia sangat suka bersolek!” dengus Dong Hae. Kesimpulan itu diambilnya setelah ia mengamati perilaku Ha Myung semalam.

“Wajar saja. Dia sedang berada pada fase puber. Semua remaja juga melakukannya. Kau tidak ingat? Dulu kau seperti itu.” ujar Kyu Hyun sambil menyeringai jahil.

“Berisik! Tutup mulutmu!” Pipi Dong Hae memerah menahan malu.

“Kalau begitu aku akan menjemput mereka.” Ha Mun ingin tahu apa yang membuat mereka bertiga begitu lambat sementara yang lainnya sudah menunggu.

Untung saja, Ha Mun berpapasan dengan mereka yang baru saja keluar dari lift. Ha Mun mendesah lega. Ia tak perlu menunggu lebih lama lagi.

“Kenapa kalian lama sekali?”

“Yong Mi kesulitan menemukan syalnya. Jadi kami menunggu cukup lama,” tutur Myung Soo santai.

“Benarkah?” Ha Mun melirik syal yang melingkari leher Yong Mi dengan alis terangkat sebelah. Yong Mi terlihat merona malu lalu merapatkan syalnya. Ha Mun yakin syal itu sangat berharga bagi Yong Mi karena dia bersikukuh ingin memakainya.

Ha Mun kemudian melemparkan tatapannya pada Ha Myung. “Kupikir kalian terhambat karena adikku terlalu lama menata rambutnya.”

Nuna!” Ha Myung tersinggung oleh tatapan mencela kakaknya. “Aku hanya sedikit lebih lama menata rambut. Aku terpaksa melakukannya karena topiku tertinggal di tempatmu.”

“Ck, model rambut kuno seperti ini kau sebut tatanan rambut?” Ha Mun mengacak rambut Ha Myung dengan gemas. “Kau terlihat seperti orang dari tahun tujuh puluhan!”

Nuna!” Ha Myung malu sekali. Tindakan Ha Mun membuat Myung Soo dan Yong Mi tertawa dan menarik perhatian penghuni hotel yang lain. “Aku menemani Myung Soo Hyung menunggu Yong Mi Nuna.”

“Dasar Fans Yong Mi!” Kali ini Ha Mun menyentil dahi adiknya. Ha Myung mengaduh kesal. Myung Soo menyeringai puas melihat Ha Myung disiksa. Baginya itu pemandangan indah setelah ia dibuat kesal karena Ha Myung terus menempel pada Yong Mi.

“Sudah, sekarang ayo pergi. Yang lain sudah menunggu,” ujar Yong Mi. Ha Mun mengangguk setuju.

“Omong-omong, tadi aku bertemu Chulppa-mu sebelum masuk lift.”

Deg. Deg. Deg.

Langkah Ha Mun terhenti seketika. Jantungnya pun berdegup kencang. Ia tercengang menatap Yong Mi. Tadi dia bilang apa?

“Apa kau bilang? Chullpa?” Ha Mun tergagap. Untung saja Myung Soo dan Ha Myung tidak mendengar percakapan mereka karena berjalan lebih dulu di depan.

“Iya, cinta pertamamu. Satu-satunya pria yang kau sukai.”

“Bagaimana kau tahu pria itu adalah Chullpa? Kau tidak pernah bertemu dengannya.” Dan Ha Mun tidak pernah memperlihatkan foto Hee Chul pada Yong Mi.

“Awalnya juga aku tidak tahu. Tapi Ha Myung mengenalinya. Dia juga tidak memperkenalkan kami, hanya berbincang-bincang sebentar lalu pergi. Kau tahu aku ini mudah sekali penasaran, aku menanyakannya pada adikmu. Ha Myung berkata dia adalah Hyung-nya, pacar kakaknya dan orang yang mengajarkannya roller blade. Aku langsung teringat pada ceritamu dan menyimpulkan pria itu adalah Chullpa-mu,” jelas Yong Mi panjang lebar.

Entah Ha Mun harus merasa lega atau tidak mengetahui Yong Mi tidak berkenalan langsung dengan Hee Chul. Secara otomatis, rahasia tentang Chullpa dan Casey tunangan Ah Ryung merupakan orang yang sama belum terungkap.

“Yeah, sayang sekali aku tidak sempat bertemu dengannya.” Ha Mun mengusap tengkuknya dengan salah tingkah.

“Dilihat dari reaksimu, sepertinya kau tahu dia berada di sini, atau malah kau sudah bertemu dengannya,” Yong Mi menyeringai.

“Itu…” Ha Mun tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. Pipinya merona tanpa sebab yang jelas.

“Tidak masalah. Jika kau malu menceritakannya,” ujar Yong Mi pengertian. “Masih ada lain waktu.”

Lain waktu? Ha Mun berharap ‘lain waktu’ itu tidak akan datang karena Ha Mun tidak berani menghadapi kenyataan ketika teman-temannya terutama Ah Ryung mengetahui siapa itu Chullpa.

Tunggu! Ha Mun tiba-tiba saja tegang. Jika Ha Myung bertemu Hee Chul di sini, ada kemungkinan Ah Ryung akan melihatnya juga! Mungkin saja kini Hee Chul sedang berpapasan dengan Ah Ryung di lobi dan terbongkarlah semua!

Ha Mun panik. Ia berharap bisa tiba di lobi secepat mungkin untuk mengetahui apakah ketakutannya terwujud atau tidak.

***

Ha Mun sungguh lega. Ketika ia menemui Ah Ryung dan yang lainnya di lobi hotel, mereka tidak menunjukkan ciri-ciri bahwa mereka sudah bertemu Hee Chul. Semuanya tampak normal. Begitu mereka berkumpul, mereka lekas berangkat ke lokasi syuting.

Mereka hanya datang untuk melihat-lihat sejenak. Mereka belum sempat bertemu Ki Bum dan pemain lainnya. Mereka justru sepakat untuk bertamasya keliling kota dan berbelanja. Sayang sekali Ha Mun tidak bisa ikut dengan mereka karena harus bekerja. Padahal bagi Yong Mi, Myung Soo, Hae Bin dan Dong Hae, hari ini adalah hari terakhir mereka di Australia. Mereka akan kembali ke Korea sore harinya. Ah Ryung pun harus pergi karena ingin mengunjungi orang tua Hee Chul.

Sementara Kyu Hyun dan Je Young memutuskan pergi ke Perth untuk melanjutkan bulan madu mereka. Ha Myung akan tetap di Australia dan tinggal di kamar yang sama dengan kakaknya.

Ha Mun sedih ketika sebagian teman-temannya pergi, namun ia juga lega. Ia tak perlu didera rasa takut dan bersalah lagi karena menyembunyikan fakta tentang Hee Chul.

“Malam ini aku boleh tinggal di sini, bukan? Aku masih belum terbiasa dengan Si Won Hyung. Rasanya aneh laki-laki sepertinya menjadi kakak tiriku,” ucap Ha Myung sambil menyilangkan kaki di atas sofa. Ha Mun menyarankan Ha Myung agar tinggal bersama Si Won, tetapi Ha Myung menolaknya karena tidak terlalu akrab dengan pria itu.

“Aneh bagaimana maksudmu?” Ha Mun berhenti dari kegiatannya menyisir rambut mendengar penuturan adiknya. Ia mendelik tajam pada Ha Myung.

“Yah, jujur saja aku selalu merasa canggung setiap kali bersamanya. Si Won Hyung berbeda dengan Kyu Hyun Samchon dan..” Ha Myung menahan lidahnya. Sudut matanya melirik Ha Mun ragu.

“Daaan..” Ha Mun meminta Ha Myung meneruskan.

“Hee Chul Hyung.”

Ha Myung mencengkeram erat sisir di tangannya. Ia benar-benar tidak sanggup mendengar nama itu disebutkan. Ia tidak ingin memperlihatkan kegelisahannya pada adiknya.

“Aku sudah mendengarnya dari Yong Mi. Kau bertemu dengannya di hotel, bukan?” Ha Mun mengatakannya sambil membelakangi adiknya. Nada suaranya datar. Ia berpura-pura sibuk membereskan peralatan make up yang tersebar di atas ranjang. Padahal sebenarnya Ha Mun tidak ingin Ha Myung melihatnya gusar. Ia tidak mau Ha Myung mengetahui bahwa Hee Chul sudah menjadi tunangan Ah Ryung.

Nuna tidak terlihat senang. Bukankah Nuna sudah tidak bertemu dengannya selama bertahun-tahun.” Ha Myung menatap punggung kakaknya. “Apa ini ada hubungannya dengan apa yang kulihat malam itu? Hee Chul Hyung dan seorang pria datang mengunjungimu malam itu setelah kami pergi, bukan?”

Suara benda jatuh berdentingan saat menabrak lantai. Ha Mun menyadari ia menjatuhkan kotak bedaknya karena syok. Ha Myung melihat Hee Chul keluar apartemennya?!

Ha Myung meneruskan tanpa menyadari bahwa ucapannya telah membuat Ha Mun mematung. “Mungkinkah terjadi sesuatu? Apa yang sedang dilakukan kedua pria itu di kamarmu?”

Katakan sesuatu! Ha Mun tidak boleh diam saja atau Ha Myung akan mencurigai bahwa sesuatu memang terjadi. “Dia hanya menanyakan kabarku. Tidak ada hal serius yang terjadi.”

“Tapi Nuna terlihat marah.”

“Marah? Kau salah lihat!” Ha Mun tertawa canggung. Ia sebisa mungkin terlihat tenang begitu duduk di sofa di hadapan adiknya.

“Kalau begitu siapa pria yang bersamanya?”

“Ah, sutradara film. Datang untuk mendiskusikan soal adegan syuting berikutnya.” Ha Mun juga malas menyebutkan nama Ki Bum. Lagipula Ha Myung tidak akan memiliki kesempatan bertemu dengannya.

Ha Myung mengangguk. Sepertinya penjelasan Ha Mun cukup membuatnya puas. Meskipun sepertinya masih banyak hal yang ingin ditanyakan Ha Myung, laki-laki itu menahan diri dan Ha Mun pun segera mengalihkan topik.

“Omong-omong, bagaimana kabarmu?”

“Ya Tuhan, Nuna! Setelah sehari semalam aku bersamamu, kau baru menanyakan kabarku sekarang?” Keluh Ha Myung.

“Maksudku, aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu yang tinggal bersama Ayah. Kuharap minatnya yang tidak biasa itu tidak mempengaruhimu. Dan aku bersumpah akan membunuh Ayah jika dia sampai menurunkannya padamu!” Ha Mun melotot penuh ancaman.

Tidak banyak yang tahu, dan merupakan rahasia tergelap yang Ha Mun, ibu dan adiknya jaga bahwa Ayah mereka, seorang biseksual. Dengan kata lain, ayah Ha Mun penyuka sesama jenis dan juga lawan jenis. Namun belakangan, minat ayahnya lebih condong kepada sesama jenis. Itulah yang menjadi alasan mengapa orang tuanya bercerai.

Sebelum menikah dan memiliki anak, Cho An Na tidak tahu bahwa suaminya menderita kelainan itu, sang suami baru memberitahunya setelah anak-anak mereka tumbuh dewasa. Ha Mun luar biasa marah dan jijik saat mengetahui kenyataan itu sehingga ia memilih pergi bersama ibunya dan tidak mau tahu menahu tentang ayahnya lagi. Ha Myung memutuskan pergi bersama sang ayah karena tidak tega membiarkan ayahnya sendirian. Ha Mun sudah berkali-kali merayu Ha Myung agar tinggal bersamanya namun Ha Myung selalu menolak. Kabar terakhir yang diketahuinya, Ha Myung tinggal bersama ayah mereka dan kekasih prianya.

Ha Myung tertawa kencang melihat kekhawatiran Ha Mun yang berlebihan. “Nuna, kau tak perlu khawatir. Ayah mengurusku dengan baik dan dia tidak pernah mencoba menjerumuskanku pada minatnya yang tidak biasa itu. Malah, Ayah menyuruhku agar tidak mengikuti jejaknya.”

“Tapi dia membawa pacarnya tinggal satu atap denganmu!” sungut Ha Mun. “Jika pacarnya itu menggodamu atau mengajakmu agar menjadi sepertinya, kau harus segera kabur dari rumah itu!”

“Untungnya, aku masih normal dan waras hingga saat ini. Sudah kukatakan Ayah melindungiku dari kebiasaan anehnya. Lagipula pacarnya itu baik, bahkan memberiku uang saku yang banyak.” Ha Myung menyeringai. “Nuna pikir darimana aku memiliki uang untuk datang kemari? Yah, untuk tiket memang Samchon yang membayarnya, tapi seluruh biaya pengeluaranku selama di sini berasal dari uang jajanku yang diberikan olehnya!”

“Berhenti pamer. Kau membuat bulu romaku berdiri!” Ha Mun mencibir seraya memeluk tubuhnya sendiri.

Ha Myung mengabaikan sarkasme Ha Mun. Ia bicara dengan nada yang lebih serius. “Berhenti marah pada Ayah. Dia sangat merindukanmu dan ingin sekali bertemu denganmu.”

“Jangan bermimpi. Aku tidak mau bertemu dengannya selama Ayah masih bertingkah abnormal. Kecuali, jika situasinya benar-benar darurat.”

“Baiklah, aku tidak akan memaksa Nuna lagi.” Ha Myung menyerah. “Sebagai gantinya, Nuna harus bersedia menemaniku jalan-jalan setelah proses syuting selesai.”

Ha Mun menyetujuinya begitu saja. Sudah lama ia tidak pergi bersama adiknya. Lagipula, lusa adalah hari terakhir pengambilan gambar.

***

“Aku dan Si Won sepakat akan berkeliling Sidney besok. Apa kau ingin ikut?”

Ah Ryung segera mengutarakan kabar itu begitu Ha Mun mengangkat panggilan telepon darinya. Ha Mun yang sedang menikmati makan malamnya berhenti sejenak.

“Aku tidak bisa, maafkan aku. Besok adalah hari terakhir syuting dan akan ada perayaan selesainya proses syuting di sini. Semua pemain dan kru harus hadir.”

“Ah, begitu. Tidak masalah.”

Ha Mun menatap mangkuk supnya dengan gugup. Sebenarnya ia sedikit berbohong. Hari ini adalah hari terakhir syuting dan besok hanya akan ada pertemuan untuk membicarakan proses syuting berikutnya yang akan dilakukan di Korea. Setelahnya Ha Mun akan pergi berjalan-jalan dengan Ha Myung. Ia tidak mengerti mengapa ia memutuskan untuk berbohong.

Hingga keesokan harinya, Ha Mun masih merasakan ganjalan yang membuatnya gelisah sepanjang malam. Ha Mun berusaha meredamnya dengan memikirkan banyak kegiatan menyenangkan yang akan dilakukannya bersama Ha Myung. Barulah, ia merasa sedikit lapang. Hanya sedikit.

Ha Mun melirik jam tangannya. Ia sadar Ha Myung terlambat. Mereka berjanji akan bertemu di depan hotel pukul 11 setelah Ha Mun kembali dari pertemuan terakhir bersama Ki Bum dan para kru film. Sekarang di mana adiknya? Apa Ha Myung masih di kamar, sibuk menata rambut atau malah masih tidur?

Sebuah mobil berhenti di depannya. Ha Mun tidak mengenali mobil itu sehingga ia bergeser mundur dari tepi trotoar. Siapa pun yang berada di dalam mobil itu, pasti bukan Ha Myung. Kaca jendela depan turun dan menampilkan wajah adiknya yang tersenyum.

“Ha Myung!” pekik Ha Mun kaget. “Bagaimana kau bisa mendapatkan mobil ini..” ia sedikit menundukkan badan untuk melihat siapa pengemudinya. Ha Mun mengira adiknya menyewa mobil sekaligus sopir, ia lebih terkejut lagi saat menemukan Hee Chul di balik kursi kemudi.

Ha Myung yang salah memahami reaksi kakaknya justru tersenyum lebar. “Bagaimana? Bukankah akan seru jika kita berkumpul bertiga lagi seperti dulu?”

Desahan pasrah keluar dari celah bibir Ha Mun. Ia lupa mengatakan pada adiknya agar tidak mencoba mencari Hee Chul lagi atau bicara dengannya. Ia heran sekali bagaimana Hee Chul tahu mereka akan pergi hari ini. Apa Ha Myung memberitahunya? Sial! Mungkin ini alasan mengapa ia merasakan ganjalan sejak semalam. Firasat buruknya terbukti benar. Sekarang bagaimana?

“Kita tak jadi pergi,” putus Ha Mun. Ia tidak mau pergi bersama Hee Chul.

Ha Myung menganga kaget, lalu merengek. “Apa? Kenapa? Aku mohon Nuna, aku ingin kita pergi bersama.”

“Tapi tidak dengan dia,” desis Ha Mun. Dari dalam mobil Hee Chul hanya menatapnya tanpa bersuara.

“Ada apa dengan Hee Chul Hyung? Bukankah Nuna menunggunya selama ini?”

“Kau tidak mengerti, Jang Ha Myung. Turun sekarang juga. Kita akan pergi, tapi tanpa dia.”

Ha Myung dengan keras kepala menolak menuruti perintah Ha Mun. “Jika Nuna tidak mau, tidak masalah. Aku pergi dengan Hyung saja.”

“Ha Myung!”

“Ha Mun, naiklah. Hanya saat ini saja. Lupakan masalah di antara kita, satu hari ini saja.” Hee Chul tidak tahan terus berdiam diri. Jika Ha Mun tetap teguh dengan kekeraskepalaannya, mereka tidak akan pernah pergi. Hee Chul tidak ingin melewatkan kesempatan ini sejak Ha Myung mengajaknya.

“Nuna… ayolah..,” Ha Myung mengedip-kedipkan mata seperti kucing yang mengharapkan belas kasihan.

Dalam pertarungan kali ini, Ha Mun mengakui kekalahannya. Ia menghela napas berat. Dua pria ini benar-benar membuatnya lelah. Ia naik ke bangku belakang tanpa semangat dan terus diam memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi setelah ini.

“Aku lupa hari ini tanggal berapa. Hari ini aku tidak mengecek agendaku.”

Ha Mun mendengar Hee Chul berkata sambil menyetir. Ia iseng mengecek tanggal hari ini di ponselnya, hanya ingin tahu dan tidak berniat memberitahukannya pada Hee Chul. Ketika ia mengetahuinya, kesadaran menghantam Ha Mun dan membuatnya malu menyebut dirinya sendiri sebagai seorang kakak yang baik dan pengertian.

Demi Tuhan! Aku melupakan ulang tahun adikku sendiri!

“Ha Myung!” seru Ha Mun, merasa bersalah dan menyesal. Karena inikah Ha Myung bersikukuh ingin pergi hari ini? Ha Myung menolah untuk mendapati pipinya merona karena malu. Adiknya itu tersenyum lebar sampai deretan giginya terlihat.

“Baru menyadarinya?”

“Maafkan aku.”

“Karena itu, hari ini saja, Nuna ikuti kemauanku,” pinta Ha Myung.

Kali ini Ha Mun tidak mendebatnya dan menyetujuinya sepenuh hati.”Baiklah.” Ha Mun mencondongkan tubuhnya ke depan hingga ia bisa memberikan pelukan singkat untuk adiknya. “Selamat ulang tahun,” ucapnya tulus. “Aku berharap Tuhan mendatangkan segala kebaikan kepadamu.”

Meskipun hanya sederet ucapan sederhana, Ha Myung sangat tersentuh. “Terima kasih, Nuna.”

Ha Mun kembali duduk di kursinya. Ia melihat Hee Chul tersenyum sekilas dan entah kenapa ia merasa kesal. Hee Chul memang sengaja berpura-pura lupa tanggal agar ia menyadari bahwa hari ini ulang tahun Ha Myung, namun hal itu juga membuat Ha Mun malu. Apa dia melakukannya hanya untuk mempermalukanku di depan Ha Myung? batin Ha Mun.

“Hari ini aku ingin rock climbing dan Hyung tahu tempat yang bagus.”

“Kita akan rock climbing?” Ha Mun kaget. Ia ingin protes, tetapi kemudian ia ingat hari ini adiknya berulang tahun dan ia berjanji akan mengabulkan apa pun keinginannya sebagai tebusan karena ia lupa, dengan putus asa Ha Mun mengalah.

Melirik Hee Chul, Ha Mun mendesah lagi. Baiklah, hanya hari ini saja, ia akan melupakan fakta bahwa pria itu adalah calon suami sahabatnya karena prioritasnya adalah membahagiakan Ha Myung. Ia tidak boleh kesal di hari penting adiknya. Ia tidak akan membiarkan keberadaan Hee Chul mengacaukan suasana.

***

Museum yang dikunjungi Si Won dan Ah Ryung hari itu tidak terlalu ramai, namun juga tidak sepi. Ah Ryung menikmati kondisi itu yang memberinya kesempatan mengamati berbagai karya seni di sana dengan lebih baik. Mereka sudah mengunjungi banyak tempat yang bagus dan potensial di Sydney dan Ah Ryung pun sudah memberi Si Won pilihan di mana pria itu akan membangun kantor cabangnya. Mereka akan mendiskusikan mengenai masalah itu lebih jauh lagi nanti setelah Si Won mendapatkan izin resmi.

Mereka berdiskusi tentang banyak hal. Dari obrolan itu, Si Won benar-benar mengetahui bahwa Ah Ryung adalah gadis yang baik, cerdas, dan menyenangkan. Terlalu baik, bahkan. Bukannya ia baru menyadarinya sekarang, Si Won memang tahu Ah Ryung gadis yang baik, tapi tidak mengenalnya begitu jauh seperti sekarang. Seiring percakapan mereka, Si Won merasakan sesuatu membebani benaknya.

Setiap senyum, keramahan, dan tawa Ah Ryung membuatnya teringat pada apa yang dilakukan Ha Mun dan Hee Chul tanpa sepengetahuan gadis itu. Si Won merasa bersalah sekaligus kesal. Sungguh tidak adil. Bagaimanapun, gadis sebaik Ah Ryung tidak seharusnya mendapatkan pengkhianatan dari tunangan dan sahabatnya.

Entah mengapa, Si Won merasa ia harus melakukan sesuatu untuk memperbaikinya.

“Mengapa kau melihatku seperti itu Tuan Choi? Kau membuatku tidak nyaman.”

Apa? Si Won mengerjapkan mata. Ia tersadar ia sedang duduk berhadapan dengan Ah Ryung di restoran dan sedang menikmati makan siang. Mengapa ia bisa membiarkan pikirannya melayang ke mana-mana?

“Maafkan aku.” Si Won menyesal dan malu karena tanpa sadar ia memandangi Ah Ryung sambil melamun.

“Mengapa jadi minta maaf? Kau sebaiknya teruskan makanmu, sejak tadi makananmu itu terus bertanya-tanya, mengapa pria tampan ini tak segera melahapnya.”

Si Won seketika tersenyum mendengar lelucon Ah Ryung. “Tampan apanya,” gumamnya sambil geleng-geleng kepala.

“Oh Tuhan, apa aku harus membelikanmu cermin?” Ah Ryung pura-pura terkejut.

Si Won tertawa. Sudah tidak terhitung banyaknya tawa yang disebabkan Ah Ryung padanya hari ini. Si Won sadar ia tak pernah tertawa sebanyak ini dalam satu hari seumur hidupnya. Ia memandang Ah Ryung dengan takjub. Melihat gadis itu tersenyum, Si Won seketika dipenuhi keinginan untuk terus membuat Ah Ryung tersenyum bahkan tertawa.

Tunggu, darimana pikiran itu berasal?

Sementara itu Ah Ryung merasa takjub. Ia tidak menyangka bisa senyaman ini berbincang dengan Si Won. Ia mengira Si Won akan sulit diajak bicara, itulah yang diamatinya selama ini. Si Won memberikan kesan angkuh dan sulit didekati.

Hari telah sore, mereka memutuskan pulang. Ah Ryung mencoba menelepon Ha Mun untuk mengajaknya pulang bersama. Kebetulan sekali restoran itu berada tak jauh dengan lokasi syuting Ha Mun saat ini.

“Ha Mun, kau berada di mana sekarang?”

“Di hotel. Mengapa?”

“Syutingnya sudah berakhir?”

“Err… ya, baru saja.”

Ah Ryung tersenyum. “Baiklah, aku hanya penasaran. Kalau begitu, sampai nanti.”

“Kenapa?” Si Won penasaran melihat Ah Ryung menyunggingkan senyum misterius.

“Kita akan mengejutkan Ha Mun. Hari ini hari terakhir syuting, aku akan menjemputnya dan kita pulang bersama-sama.”

“Wow, aku jamin Ha Mun akan sangat terkejut melihat kita.” Si Won ikut tersenyum. Ia membayangkan wajah tersenyum Ha Mun, pastilah menyenangkan.

Ah Ryung kemudian teringat pada Ki Bum. Terakhir kali ia tidak berhasil menemuinya karena Ki Bum sibuk sekali dan ia tidak ingin mengganggu. Sekarang ia yakin tidak masalah jika ingin bertemu dengannya. Lagipula ia sudah berjanji akan datang ke lokasi syuting.

Sebelum datang, Ah Ryung harus menghubungi Ki Bum dulu. Pria itu sudah memberinya nomor ponsel yang digunakannya selama di sini.

“Apa? Kau tidak sedang di hotel?” seru Ah Ryung setelah menanyakan keberadaan Ki Bum. Mereka berbicara dalam bahasa Inggris. “Sekarang kau masih di mana? Bukankah syuting sudah selesai.”

“Iya, kemarin. Sekarang aku sedang bertemu dengan sponsor film-ku.”

Apa? Syuting selesai kemarin? Ah Ryung terkejut. Tapi Ha Mun mengatakan hari ini adalah hari terakhir syuting. Mengapa Ha Mun berbohong padanya?

“Aku berniat mengunjungi lokasi syuting dan menemuimu sekarang. Tapi jika ternyata syuting sudah selesai dan kau tidak ada di sana… sepertinya aku harus membatalkan rencanaku itu.”

“Aku jadi merasa tidak enak. Bagaimana kalau begini saja, sebagai gantinya aku akan memperlihatkan padamu cuplikan film yang baru selesai diedit. Itu masih editan kasar, tapi aku menjamin layak untuk ditonton.” Ki Bum tertawa. “Kau bisa mengambilnya di studioku yang berada tak jauh dari Gedung Opera Sydney. Aku akan memberitahu asistenku bahwa kau akan datang. Sebutkan saja namamu, asistenku akan memberikannya padamu.”

Ah Ryung hanya menyetujuinya. Perasaannya masih tak keruan setelah ia tahu bahwa Ha Mun berbohong padanya. Tidak masalah jika Ha Mun ingin merahasiakan sesuatu, tapi mengapa harus berbohong? Ah Ryung sungguh tidak mengerti dan merasakan firasat buruk.

“Sekarang bagaimana?” Si Won khawatir melihat raut wajah Ah Ryung saat ini.

“Kita pergi ke tempat lain,” ujar Ah Ryung dengan suara lesu.

Si Won mengerjap. “Kita tidak jadi menjemput Ha Mun?”

“Tidak perlu. Aku yakin Ha Mun sudah tidak berada di hotel.”

Si Won mengangguk, lalu memutar mobilnya menuju alamat yang diberitahu Ah Ryung. Ia melirik Ah Ryung yang masih termenung menatap ponselnya. Ia diam sejenak, kemudian memutuskan angkat bicara.

“Apa kau baik-baik saja?”

Ah Ryung mengangkat kepala, lalu menoleh padanya sambil tersenyum. “Tentu. Jangan khawatir.”

Artinya, sesuatu telah terjadi sampai membuatmu murung seperti itu, batin Si Won. Setelah itu tidak ada percakapan apa pun lagi hingga mereka tiba di studio yang disebutkan Ki Bum.

Seorang asisten Ki Bum memberi Ah Ryung satu keping dvd berisi film garapan pria itu. Si Won mengantar Ah Ryung pulang karena sepertinya gadis itu sedang tidak sehat sejak bicara dengan pria bernama Ki Bum. Si Won penasaran apa yang mereka bicarakan. Ia sedang menyetir sebelumnya sehingga tidak terlalu memerhatikan percakapan mereka.

Ah Ryung berusaha tidak terlalu mengkhawatirkan Ha Mun sesampainya ia di apartemen. Ia akan meminta maaf pada Si Won karena bersikap dingin selama perjalanan pulang tadi, padahal tidak seharusnya ia melakukannya di depan pria itu. Ah Ryung mencoba menghubungi Ha Mun kembali untuk menanyakan keberadaannya. Sayangnya kali ini ponsel Ha Mun tidak bisa dihubungi.

Tiba-tiba saja Ah Ryung ingin menghubungi Hee Chul. Sudah tiga hari terakhir ia tidak mendapat kabar dari tunangannya itu. Biasanya Hee Chul tidak pernah absen memberinya kabar. Anehnya, ponsel Hee Chul pun tidak bisa dihubungi.

Sungguh kebetulan yang aneh. Jika diingat-ingat lagi, Hee Chul mulai bertingkah aneh sejak ia membahas perilaku aneh Ha Mun dengan tunangannya itu. Tingkah Hee Chul pun semakin tak terbaca setelah pementasan tari berakhir. Tapi Ah Ryung tidak ingin berburuk sangka dulu. Ia tahu akhir-akhir ini Hee Chul jarang menghubunginya karena sibuk bekerja.

Tapi tunggu, Ah Ryung ingat kemarin saat ia berkunjung ke rumah kedua orang tua Hee Chul, ibunya berkata bahwa Hee Chul sedang berlibur.

Berlibur? Padahal sebelumnya Hee Chul mengaku pekerjaannya begitu menumpuk sampai dia tidak sanggup meninggalkan meja walau hanya untuk menghirup udara segar.

Yang paling meresahkan Ah Ryung adalah kebohongan yang Ha Mun lakukan padanya. Ha Mun pun seringkali tersedak atau terbatuk apabila ia sedang membicarakan tentang Hee Chul. Tapi tingkah aneh mereka berdua tidak mungkin berkaitan. Pasti hanya kebetulan. Ah Ryung tersenyum. Ia hanya sedang sensitif hari ini. Ia tidak boleh mencurigai tunangan dan sahabatnya.

Setelah mandi dengan air hangat, pikiran Ah Ryung kembali jernih dan ia sudah jauh lebih tenang. Ah Ryung ingin menonton film itu. Ia sudah mengirim pesan pada Ki Bum sebelumnya, bahwa ia sudah mendapatkan film itu dan hendak menontonnya. Ia memutar dvd itu di laptopnya.

Ada beberapa file di dalamnya. Ah Ryung memilih file pertama. Ketika gambar mulai memenuhi layar laptopnya, Ah Ryung tersenyum karena film itu benar-benar editan kasar. Rasanya Ah Ryung seperti menonton film yang direkam menggunakan handycam. Beberapa detik kemudian senyumnya memudar kala ia melihat sosok Ha Mun dan, tunggu dulu, Hee Chul? Sedang apa mereka di ruang ganti Ha Mun setelah pertunjukkan waktu itu?! Ia tidak tahu Hee Chul ternyata mengunjungi Ha Mun. Untuk apa?

Kemudian Ah Ryung melihat mereka bertengkar. Percakapan yang mereka ucapkan lebih membuatnya terkejut lagi dan membuat mulutnya menganga. Jantungnya berhenti berdetak ketika ia melihat Ha Mun dan Hee Chul berciuman.

Apa yang sebenarnya terjadi? Dan rekaman apa yang sedang ia lihat ini?!!!

***tbc***

73 thoughts on “Trouble Namja [Chapter 5]

  1. Part 6….part 6….part 6….
    Penasaran banget cerita selanjutnya…
    Jangan buat aku menunggu lama ya…
    Aku fans kamu kak,selama ini aku jadi silent reader tapi aku rasa karya kamu terlalu luar biasa untuk didiemin aja.
    Aku harus membanjiri kamu dengan pujian.
    Kamu luar biasa kak…
    Fighting ✊
    Jangan lama2 ya kak part 6 nya 😊😊

  2. Aduuhh.. . ketauan kaaann.. . ksian Ah Ryung😦 sebenarnya apa sih mau nya Heechul??? iihh.. . nyebelin tu namja, udah gk waras tu orang. Ah Ryng yg sabar ya ;(
    Dan buat Ha Mun, kmu gk bs dsalahin jg sih.. . karna Heechul kan yg maksa. hhhhmmmm

    eonni, cepetam buat part selanjutnya.. . aku udah gk sabar nie. eonni Dha Hwaiting!!! ff eonni tetap yg terbaik deh pokoknya❤

  3. Mungkin ini satu2nya fanfic yg bikin aku benci sama tokoh utama pria (kim heechul) dan berdoa semoga ha mun berakhir bahagia dgn kibum..

  4. woow the trouble is coming
    siap siap aja hamun dapet semprotan dari ahryung.
    dan kenapa juga kibum malah memberi kepingan cd yg ada adegan hamun dan heechul nya ?

    hamun aku rasa kau cocok dengan siwon oppa😀
    kalau nanti kamu sakit hati sama heechul maka datanglah pada siwon.😀

  5. omg, aku pnasaran bnget ama klnjutan ff ini.
    kira-kira apa yg akan dilakuin ama ah ryung stelah liat video itu?

    penasarannn…..

  6. annyeong unnie😄
    aku readers baru,aku suka deh sama fanfict ini padahal baru pertama kali baca udah gt bacanya ngacak lagi hehehe xD ohh yah aku udah keliling”/? di blog unnie,tapi blognya di pw’in semua…aku cari email unnie buat minta pwnya juga gak ada,jd aku minta pwnya lewat commet deh hehe😂😂 ohh yah aku mau minta izin berjelajah di blog unnie boleh? seklian mau minta pwnya eon😄😁 boleh yahh??😢 pleaeseeee *brlutut/?
    ini emailku eon: alfiatu3424@gmail.com gomawoooo😄😄😁 mohon bantuannya eon^^

  7. “Nuna… ayolah..,” Ha Myung mengedip-kedipkan mata seperti kucing yang mengharapkan belas kasihan.

    Aku suka banget bagian ini xD
    dan jangan-jangan nanti Siwon adalah penyembuh luka Ahryung? Wahwahwah.
    Aku melotot bagian akhirnya. Itu Kibum gimana bisa ceroboh begitu Ya Tuhan. Aku nggak sanggup bayangin perasaan Ahryung T_________T

  8. wahh ketahuan juga akhirnya, gara-gara Kibum nih. Apa yang akan dilakukan Ahryung, langsung tto the point apa mau pura-pura dulu untuk nyelidikin hubungan Hamun sama Heechul lebih jauh. Tapi kayaknya Siwon bisa menjadi pengganti Heechul sih buat Ahryung

  9. Aduh Thor, lanjut plis ke part 6…😣 aku suka banget sama alur ceritanya, makin penasaran sama part selanjutnyaa..Jeballl ya ke part selanjutnyaa😉aku menunggu,wkwk..gomawo

  10. Rupanya Kibum salah memberikan filenya. Gimana reeaksinya ah ryung ketika melihat video antara Hamun dan heechul? Bagaimana selanjutnya hubungan antara Hamun dan ah ryung? Ditunggu lanjutanya keep writing and fighting..

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s