Trouble Namja [Chapter 4]

Tittle : Trouble Namja Chapter 4
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance

Main Cast :
Choi Ha Mun | Kim Hee Chul | Kim Ah Ryung

Dha Speech :
Bisa updet secepat ini, aku nangis terharu ToT
Jangan kaget ya kalau semakin lama kalian semakin kesel ama Hee Chul, memang begitulah seharusnya *hahahaha*
Jangan bosen dan tetep ikutin ceritanya ^^

Happy reading

Trouble Namja by dha Khanzaki 5

===o0o===

CHAPTER 4
Trouble Tonight

Sejak meninggalkan gedung opera Sydney, pikiran Ha Mun kosong. Ia berjalan sendirian menuju apartemen Ah Ryung sambil menenteng kantong berisi beberapa jus kalengan dan bir. Ha Mun tidak berminat bergabung dengan penari lainnya yang berpesta seusai pertunjukkan. Hatinya begitu kacau. Semuanya karena Kim Hee Chul. Ia ingin melupakan semua kekacauan yang ditimbulkan lelaki itu hari ini. Tetapi semuanya terus meledak-ledak dalam kepalanya sampai membuatnya pusing.

Setelah memaksa Hee Chul agar pergi, cukup sulit karena Hee Chul bersikeras mengikutinya, Ha Mun lekas bicara dengan Si Won yang bersedia menunggu hingga Hee Chul pergi begitu Ha Mun berkata akan menjelaskan situasi yang sebenarnya terjadi. Si Won memang bersedia menunggu, hanya untuk mengomelinya dan dia enggan mendengar alasan apa pun yang dikatakan Ha Mun.

“Apa yang kulihat tadi terlalu nyata, dan jelas sekali kau menikmatinya. Bagaimana bisa kau mengatakan semua itu hanya salah paham? Kau kira aku bodoh? Buta, maksudmu?” tegur Si Won keras beberapa waktu yang lalu. “Aku tidak ingin mendengar pembelaan apa pun. Bagiku sudah cukup aku melihat kau mengkhianati sahabatmu sendiri.”

Ha Mun hanya megap-megap, tak tahu harus berkata apa lagi untuk meyakinkan Si Won bahwa apa yang dilakukannya bersama Hee Chul tadi hanya kegilaan sesaat. Sebuah kesalahan yang dilakukan tanpa pikir panjang dan hanya mengikuti gairahnya saja, dan Ha Mun amat menyesal.

“Sekarang aku meminta padamu agar menghentikan hubungan terlarangmu dengan Kim Hee Chul! Aku berjanji tidak akan mengatakan apa pun pada Ah Ryung.”

Ha Mun ingin menangis rasanya saat mendengar nama Ah Ryung disebut. Oh Tuhan, betapa Ha Mun sadar ia sudah menusuk sahabatnya itu dari belakang. Inikah balasan yang ia berikan atas kebaikan Ah Ryung padanya selama ini?

“Aku..” Ha Mun terisak. “Tidak mengharapkan semua ini terjadi.”

“Ha Mun, dengar,” Si Won memegang kedua bahu Ha Mun dengan tegas, menatapnya dengan binar mata serius. “Kau sahabatnya, semua orang yang mengenalnya pun tahu bahwa Ah Ryung tidak pantas untuk disakiti. Bagaimana kau, sebagai teman terdekatnya, tega melakukan hal itu?”

Kata-kata Si Won menusuk Ha Mun tepat di hatinya. Ia tahu, sungguh, ia menyadari bahwa Ah Ryung terlalu baik untuk dikhianati. Karena itulah Ha Mun merasa begitu bersalah. Satu-satunya cara untuk menyelesaikan semua ini adalah ia harus segera kembali ke Korea. Percuma saja jika ia terus berada di sini. Ia akan kesulitan menghindar dari Hee Chul dan ia pun bingung menjelaskan pada Ah Ryung jika sahabatnya itu bertanya mengapa ia terus menghindari tunangannya. Ah Ryung akan mengira ia tidak menyukai Hee Chul. Ah Ryung pasti akan sedih. Dan jika Ah Ryung tahu yang  sebenarnya, Ah Ryung akan lebih dari sekedar sedih. Ha Mun tidak ingin menyakiti hatinya.

“Nona Choi!”

Ha Mun tidak bisa fokus. Ia bahkan tidak mendengarkan suara yang menyerukan namanya dari belakang. Ia terus berjalan. Seseorang menahan bahunya hingga memaksa langkahnya agar berhenti.

“Tunggu, bisakah kita bicara?”

Sial, Tidak! Ha Mun ingin meneriakkan itu. Dengan kesal ia menengok pada si biang kerok yang dengan berani mengganggunya di waktu yang salah. “Apa?!”

“Wow, sepertinya kau sedang marah.”

Kekesalan langsung lenyap dari wajah Ha Mun, digantikan rasa heran. Ha Mun mengeryit sejenak, lalu tersadar. Ia sedang berhadapan dengan si sutradara keras kepala, Kim Ki Bum.

“Kau!?” pekik Ha Mun tertahan.

Ki Bum menyeringai puas melihat Ha Mun mengenalinya. “Ya, ini aku, Kim Ki Bum. Kita bertemu lagi.” Sedetik kemudian keramahan di wajahnya berubah menjadi sangat serius. “Apakah kita bisa bicara?”

“Tidak!” Dengan lantang dan tegas Ha Mun menolaknya. “Sudah kukatakan berkali-kali aku tidak mau mengambil bagian dalam filmmu! Apa kau tidak bisa mendengarnya? Ini adalah kali terakhir aku memberitahumu. Mulai sekarang jangan temui aku lagi!”

Yang benar saja! Apa kepala Ki Bum begitu bebal sampai tidak mengerti bahwa Ha Mun tidak berminat? Apa yang membuatnya begitu bersikukuh ingin ia ambil bagian? Ki Bum kan belum pernah melihatnya berakting.

Segera setelah meneriakannya, Ha Mun berbalik pergi.

“Kau bisa merasakannya juga, bukan? Degup jantung ini terjadi karena dirimu. Jantungku selalu terasa seperti akan meledak setiap kali kau ada di dekatku. Aku tidak merasakan hal ini terhadap wanita lain. Hanya kau.”

Langkah Ha Mun mendadak terhenti kembali saat ia mendengar suara Hee Chul dan kata-kata yang diucapkan pria itu padanya tadi di ruang ganti. Jantungnya berdebar kencang. Secepat kilat Ha Mun menoleh. Ia tidak melihat Hee Chul di belakangnya, hanya Ki Bum yang dengan santai memperlihatkan sebuah rekaman berisi dirinya dan Hee Chul di ruang ganti yang diambil secara diam-diam memakai handycam.

Kedua mata Ha Mun membelalak. Ia menunjuk handycam di tangan lelaki itu dengan tangan gemetar. Bahkan, suaranya pun bergetar. “Ka..kau! Bagaimana bisa kau mendapatkan gambar itu?!”

Ki Bum segera menutupnya dan dengan sigap memasukkan handycam itu ke dalam tas ketika Ha Mun mencoba merebut benda itu dari tangannya.

“Berikan padaku! Kau harus menghapusnya!”

“Loh, mengapa? Kupikir itu adegan yang menarik.” Ki Bum menyeringai manis, tampak puas sekali karena telah mendapatkan respon yang diinginkannya.

Menarik! Rekaman tadi adalah bencana! Ha Mun menderap mendekati Ki Bum. Laki-laki itu berdiri dengan penuh percaya diri.  “Aku tidak mau tahu. Cepat serahkan handycam-mu dan hapus rekaman tadi!”

“Tidak mau,” jawab Ki Bum tenang.

“Apa?!”

Mendadak saja senyum Ki Bum tersungging manis di bibirnya. “Kita bisa bernegosiasi di sana. Bagaimana?” Ia mengerling ke arah sebuah kafe.

“Aku tidak mau!” Ha Mun bersedekap. Ia enggan mengalah. Ia tidak akan membiarkan Ki Bum memerasnya.

“Ah, jadi kau lebih memilih membiarkan rekaman ini jatuh ke tangan temanmu yang bernama Ah Ryung? Sepertinya dia akan terkejut jika melihat rekaman ini.”

Ki Bum tidak tahu siapa itu Ah Ryung dan apa hubungannya dengan Ha Mun juga pria yang bersamanya dalam rekaman, ia hanya mendengar nama itu disebutkan Ha Mun. Tapi sepertinya Ki Bum memilih ancaman yang tepat, karena saat ini Ha Mun tampak pucat pasi seperti mayat.

“Jangan. Kau jangan memperlihatkannya pada Ah Ryung,” lirih Ha Mun gamang. Pandangannya kosong.

Entah mengapa Ki Bum merasa agak bersalah. Sepertinya ia sudah bertindak terlalu jauh. Ia tidak bermaksud menakuti Ha Mun. Namun tinggal sedikit lagi ia sampai pada tujuannya, karena itu ia akan terus menggunakan rekaman ini untuk menekan Ha Mun agar bersedia berperan dalam filmnya.

“Jadi, kau akan ikut denganku untuk mendiskusikan hal ini?”

Kali ini, meskipun masih tampak keberatan, Ha Mun mengangguk.

***

Ha Mun tidak percaya sekarang ia sedang duduk berhadapan dengan Ki Bum di sebuah coffee shop, dengan dua gelas cangkir kopi yang mengepul di antara mereka. Jika saja tadi ia lebih tenang, ia masih memiliki peluang untuk memenangkan perdebatan dan merebut rekaman itu dari Ki Bum. Namun pemikiran tentang rekaman itu jatuh ke tangan Ah Ryung sungguh menakutinya hingga membuat kepala Ha Mun kosong.

Sekarang setelah akal sehatnya kembali, Ha Mun merasa kesal pada Ki Bum karena telah memperdayanya sehingga tanpa sadar ia kembali bersikap angkuh dan melemparkan pandangan tajam pada lelaki itu.

“Aku tidak suka berbasa basi. Bagaimana kau mendapatkan rekaman itu? Kau menguntitku? Apa kau penggemar fanatikku? Sudah sejauh mana kau mengetahui tentang kehidupan pribadiku?”

Ki Bum tidak terlihat terintimidasi. Dengan santai ia menyeruput kopinya. “Kau benar-benar ingin tahu?”

“Tentu saja! Kau gila jika aku tidak penasaran!”

“Baiklah.” Ki Bum mengangkat bahu. “Aku sedang mencarimu saat aku tanpa sengaja masuk ke ruang ganti itu.”

“Mencariku?”

Ki Bum menggangguk santai. “Aku masih terobsesi untuk menjadilanmu sebagai pemeran utama dalam filmku sehingga aku ingin mengetahui semua hal tentangmu. Saat aku memasuki ruang ganti itu dengan harapan bisa menemukanmu, aku mendapati ruangan itu kosong. Awalnya aku hendak keluar, tetapi lebih dulu kau keluar dari ruang bilas. Aku panik dan tanpa sadar aku sudah bersembunyi di balik rimbunan kostum panggung yang tergantung.”

“Sudah kuduga, kau memang menguntitku!” Ha Mun mendesis tajam.

“Jangan marah dulu. Aku tidak bermaksud melakukannya. Aku juga tidak mau terus bersembunyi. Aku berniat menyapamu saat melihatmu mengeringkan rambut. Tetapi laki-laki yang kau cium itu masuk tepat ketika aku hampir menunjukkan diri.”

“Laki-laki yang ku..” Ha Mun menahan lidahnya. Ia tidak akan mengumpat di sini. Ia tidak mau diingatkan pada Hee Chul. “Dan bukannya menunjukkan diri seperti laki-laki sejati, kau malah merekam semua percakapan kami untuk memerasku?”

Ha Mun tahu ia tidak semestinya marah pada Ki Bum, tetapi mungkin jika Ki Bum muncul, pria itu bisa menyelamatkannya dari kekacauan yang akan terjadi.

“Aku juga tidak sengaja merekamnya. Begitu aku kembali bersembunyi karena kemunculan laki-laki itu, aku hanya diam melihat semuanya. Aku baru menyadari bahwa aku merekamnya begitu aku memeriksa handycamku tadi, saat aku akan kembali ke apartemen. Ternyata, aku handycamku berada dalam mode merekam selama aku berada di ruangan itu. Tentu saja aku akan menghapusnya, tetapi kemudian aku sadar, aku bisa menggunakan rekaman ini untuk membujukmu.”

“Memeras,” ralat Ha Mun sinis.

“Membujuk,” Ki Bum bersikeras. “Aku akan membujukmu agar kau bersedia berakting untuk filmku.”

“Aku tidak mau main dalam film-mu,” tegas Ha Mun untuk ke sekian kalinya. “Mengapa kau begitu keras kepala?”

“Jadi begitu? Baiklah,” Ki Bum mendesah berat. “Aku juga tidak mau membuang rekaman ini. Bagaimana jika orang media tahu bahwa Candace Choi, seorang penari internasional yang sedang naik daun memiliki hubungan dengan kekasih sahabatnya sendiri. Sepertinya akan menarik.”

Ha Mun tersentak. “Kau mengancamku?”

“Sepertinya.” Ki Bum mengangkat bahu.

Ini tidak bisa dibiarkan! Ha Mun tidak mau bermain dalam film Ki Bum karena ia harus lekas kembali ke Korea. Namun ia juga tidak bisa membiarkan rekaman itu begitu saja. Ia tidak mau mengambil resiko rekaman itu jatuh ke tangan yang salah.

Ha Mun melirik ke arah handycam Ki Bum yang tergeletak di atas meja. Ha Mun menahan seringaiannya. Mendadak saja ia mendapat ide. Ia bangkit begitu cepat sehingga tanpa sengaja menyenggol meja hingga terguncang hebat. Ha Mun berhasil menumpahkan kopi dari cangkirnya dan cangkir Ki Bum hingga berceceran di atas meja dan kamera itu jatuh dengan suara keras ke lantai. Ha Mun tersenyum dalam hati, rencananya berhasil. Ki Bum tersentak kaget.

“Alfred!” Ki Bum mengambil handycamnya dengan cepat. Ia menatap nanar benda itu begitu menyadari guncangan tadi membuatnya rusak.

“Oh maaf, aku tidak sengaja!” Seru Ha Mun dengan ekspresi penyesalan yang dibuat-buat. Bibirnya  berkedut menahan senyum. “Sepertinya handycam itu rusak. Film yang baru saja kau rekam pasti hilang. Uh, sayang sekali. Kau tidak bisa lagi menggunakan itu untuk mengancamku.”

Ha Mun menyampirkan tasnya, bersiap pergi. “Karena itu urusan kita..”

“Kau pikir aku bodoh?” potong Ki Bum dingin, masih menatap Alfred-nya yang kini rusak. Ia mendongak menatap Ha Mun disertai seringaian licik di bibirnya. “Aku sudah mengkopinya.” Ia merogoh saku jaketnya dan mengangkat sebuah kartu memory dengan bangga. “Salinan rekaman tadi ada di sini.”

“Aaarrgh, kau membuatku gila!” Ha Mun memekik frustasi menyadari usahanya telah gagal. Ia menjatuhkan dirinya kembali ke atas kursi.

Adakah yang lebih buruk dari ini? Ingin rasanya ia melakukan kekerasan pada Ki Bum agar lelaki itu berhenti menambahkan deretan masalah dalam hidupnya namun ia sadar, pengunjung coffee shop sedang memperhatikan mereka. Selain itu, jika sekarang ia masih bersikukuh menolak, ia yakin Ki Bum tidak akan berhenti menerornya.

“Baiklah, aku menerima tawaranmu. Tapi kau harus berjanji akan segera melenyapkan semuanya. Aku tak peduli kau hendak menghancurkan karirku atau apapun dalam hidupku, tapi tidak dengan persahabatanku.”

Ki Bum tercenung sejenak melihat kesungguhan di wajah Ha Mun. “Oke, aku setuju.” Ia mencondongkan tubuhnya melewati meja agar bisa berada begitu dekat dengan Ha Mun. Gadis itu mengerjap. Jarak antara wajah mereka terlalu dekat. Ha Mun yakin hidung mereka akan bersentuhan jika ia bergerak sedikit saja.

“Setelah syuting berakhir, aku akan segera melenyapkan rekaman itu. Tidak akan lama, tergantung berapa cepat kau menghasilkan adegan yang sesuai dengan keinginanku,” ujar Ki Bum pelan.

“Kau memang pemeras tidak bermoral!” Ha Mun mendorong Ki Bum, merenggut tas tangannya lalu bergerak cepat menuju kasir. Ia menolak ditraktir pria pemeras itu, ia akan membayar bagiannya.

Ha Mun bahkan tidak mau menengok kembali ke arah Ki Bum ketika bergegas meninggalkan tempat itu. Ki Bum bersiul rendah di kursinya. Ia tersenyum puas.

Akhirnya ia mendapatkan apa yang ia inginkan.

***

“Ha Mun belum pulang.”

Ah Ryung sekali lagi melemparkan pandangannya ke luar jendela, ke arah jalanan berharap ia akan melihat Ha Mun berjalan di sana. Tetapi selama satu jam terakhir, Ha Mun tidak kunjung tampak. Sudah beberapa jam berlalu sejak pertunjukkan berakhir, semestinya Ha Mun sudah pulang.

Apa dia sedang bersenang-senang merayakan keberhasilan pagelaran? renung Ah Ryung sambil memain-mainkan mouse komputernya dengan malas. Tapi jika Ha Mun akan pulang terlambat, dia pasti memberi kabar. Ia mengabaikan lembar presentasi yang sedang dikerjakannya.

Suara pemberitahuan pesan masuk mengalihkan Ah Ryung dari lamunannya dan rasa khawatir karena Ha Mun. Ia mendapatkan email dari Ki Bum.

I got her.

Her?

Yep, my main cast.

Wow, congratulation. Wish it run well.

Thank you. This is our schedule, hope you come.

I hope so. I’ll compare with my schedule. Good luck.

Ah Ryung segera mengunduh jadwal syuting yang dikirimkan oleh Ki Bum. Setelah mengeceknya sekilas, ia melirik jam dinding. Sudah waktunya makan malam. Ia pun kemudian teringat bahwa esok hari adalah jumpa fans Ha Mun dan beberapa jam kemudian, Ha Mun akan kembali ke Korea.

Teringat akan hal itu, Ah Ryung menjadi sedih. Ia akan kembali sendirian sepeninggal Ha Mun. Jika ia bisa, ia tidak akan mengizinkan Ha Mun buru-buru pulang.

Ah Ryung mendegar pintu depan dibuka. Ia mengerjap senang. Ha Mun pulang! Ia bangkit untuk menghampiri sahabatnya. Wajah Ha Mun tampak letih saat Ah Ryung melihatnya sedang melepaskan mantel dan sepatu.

“Sudah bersenang-senang? Kau terlihat lelah. Apa yang ingin kau makan untuk makan malam? Aku akan mempersiapkannya untukmu, sebagai perayaan atas kesuksesanmu.”

Ha Mun menatapnya sejenak, mengerjap, lalu tertawa rikuh. “Apa saja, terserah padamu. Kau tahu aku selalu menyukai semua masakanmu. Ah, aku akan mandi dulu, setelah itu aku akan membantumu.” Setelah mengatakannya, Ha Mun bergegas pergi ke kamar.

Apa yang salah? Ha Mun tidak terlihat bahagia. Ah Ryung justru merasakan kesedihan dan keputusasaan dalam sorot matanya. Mungkin Ha Mun akan menceritakannya saat makan malam nanti.

***

Bagaimana ini? Apa yang harus dilakukannya? Tidak, Ah Ryung tidak boleh tahu. Hee Chul juga tidak akan membongkarnya pada Ah Ryung, bukan? Tapi demi Tuhan, sekarang Ha Mun merasa tidak nyaman duduk bersama Ah Ryung dalam satu ruangan, sambil menikmati makan malam yang terhidang di atas meja.

Ah Ryung memasak semua itu untuknya, untuk merayakan kesuksesannya. Perhatian Ah Ryung lebih menusuk hati Ha Mun lagi. Saat ini Ha Mun merasa sangat jahat.

“Besok penerbanganmu jam berapa?”

“Apa?” Ha Mun mengerjap, ia tak mengira bereaksi terlalu cepat dan keras hingga membuat Ah Ryung terkesiap kaget. “Maaf,” sesalnya.

Ah Ryung tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku mengerti. Kau pasti masih lelah. Jangan khawatir, aku akan membantumu mengemas barang-barang. Jadi, kapan pesawatmu akan berangkat besok?”

Ah, Ha Mun ingat. Ia belum memberitahu Ah Ryung perubahan rencananya “Sebenarnya, aku tidak akan pulang besok. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di sini selama beberapa hari.”

“Benarkah? Kau akan tinggal lebih lama di sini?” Ah Ryung mengerjap senang, bahkan terlalu senang.

Ha Mun mengangguk. Ah Ryung tersenyum lebar padanya. Reaksinya menyiksa Ha Mun, karena ia tak mengira Ah Ryung akan gembira. Padahal ia berharap Ah Ryung akan keberatan, karena dengan begitu ia akan dengan senang hati keluar dari apartemen ini.

“Bagus sekali. Kau bisa ikut bersamaku dan Si Won Oppa berkeliling Australia.”

Asal kau tidak mengajak Hee Chul saja. Ha Mun memaksakan diri tersenyum. “Akan kuusahakan.”

***

Ha Mun memandang taman bunga di hadapannya. Ia senang karena akan syuting di lokasi seindah ini. Dalam naskah yang sedang dibacanya, ia akan berperan sebagai penari yang sedang melakukan road show di Australia. Perannya akan berjalan-jalan di toko pedesaan dekat dengan taman bunga ini. ‘Ia’ akan bertemu dengan cinta pertama saat masa kecilnya.

Setelah membaca sekilas skenario yang akan dilakoninya, Ha Mun tersenyum. Ia sekarang paham mengapa Ki Bum bersikukuh ingin ia memerankan karakter ini. Pemeran utama dalam film ini memiliki keahlian yang sama dengannya, menari.

Mengapa harus penari? Mengapa harus cinta masa kecil? Ha Mun menyadari banyak aspek dalam skenario ini yang sama dengan dirinya. Pemikiran itu membuatnya geli. Mungkin hanya kebetulan saja. Ki Bum tidak mungkin mengetahui kisah hidupnya.

Lagipula cerita dalam naskah ini terlalu berlebihan jika disamakan dengan kisah hidupnya sendiri. Kenyataannya, cinta masa kecil Ha Mun akan menikah dengan sahabatnya sendiri, bukan masih setia dan pada akhirnya takdir mempersatukan mereka dalam pernikahan.

Konyol sekali!

“Kau sudah siap?”

Ha Mun menoleh. Ki Bum menghampirinya. Jujur saja, Ha Mun nyaris tidak mengenali Ki Bum dalam balutan ‘seragam’ sutradaranya.

“Tentu saja,” ucap Ha Mun seraya bangkit dari kursi. “Aku hanya perlu menghafal dialog bagianku sedikit lagi.”

Ki Bum berkacak pinggang dengan jengkel. “Seharusnya kau membacanya dari semalam, kita tidak bisa menunggu sampai kau hafal dialogmu.”

Diomeli seperti itu untuk pertama kalinya, Ha Mun kesal. “Maafkan aku tuan sutradara, aku tidak akan mengecewakanmu lagi.” ia melengos melewati Ki Bum. Ia terus tersenyum pada semua kru di lokasi syuting sembari meminta maaf karena kesalahannya, syuting terpaksa ditunda.

Ki Bum berdecak. “Ya Tuhan, bagaimana bisa aku memilihnya? Sifatnya benar-benar buruk.”

“Kecantikannya pasti yang sudah membuatmu memilihnya,” sambung salah satu penata rias. Ki Bum ingin membantah, tapi kemudian menggerutu kesal karena harus diakui Ha Mun memang cantik.

Ha Mun melirik ke arah Ki Bum yang bergegas kembali ke tempatnya. Ia mendengus. Entah ia harus kesal atau tidak atas sikap dingin Ki Bum yang tidak terpesona pada senyumannya. Laki-laki itu berubah menjadi pria tegas dan pemarah di lokasi syuting.

Akhirnya setelah semua siap, syuting pun dimulai. Ha Mun bertekad mengerahkan seluruh kemampuan aktingnya yang pas-pasan. Ia menolak membuat Ki Bum marah. Ia tidak akan memberikan laki-laki itu kesenangan meneriakinya karena kesalahannya memerankan karakter yang ia lakoni.

Dan Ha Mun memang berhasil melakukannya. Ia bisa menyelesaikan syuting bagiannya dalam satu kali take. Tapi Ki Bum sempat menghentikannya di pertengahan dialog sebanyak tiga kali untuk alasan yang tidak masuk akal. Ki Bum mengeluh soal suara Ha Mun yang terlalu kecil sampai tatanan rambutnya yang berantakan karena tertiup angin.

Kalau begitu salahkan saja angin! Mengapa dia harus mengomentari caraku mengibaskan rambut? Ha Mun jengkel. Tapi ia menahan diri agar tidak melampiaskan emosinya secara terbuka. Ketika jeda syuting, ia menghampiri sang sutradara.

“Profesionallah, kau bilang kau sutradara handal. Sayang sekali aku tidak melihatnya saat ini,” kata Ha Mun di samping Ki Bum, dengan suara yang amat pelan sehingga hanya Ki Bum yang mendengarnya.

Balasan dari Ki Bum adalah senyuman sinis.  “Ternyata aktingmu sangat baik. Aku sangat terbantu.”

Dia tidak tersinggung? Ha Mun heran. “Aku hanya ingin segera menyelesaikan syuting konyol ini.”

Kali ini Ki Bum tampak tersinggung dengan ucapannya. Mereka saling melemparkan tatapan tajam satu sama lain. Keduanya berlomba menunjukkan siapa bosnya dengan saling membelalakkan mat. Beberapa detik kemudian keduanya tersentak sadar kelakuan kekanak-kanakan mereka diperhatikan oleh seluruh kru. Ha Mun dan Ki Bum lekas memalingkan pandangan lalu tersenyum.

Proses pengambilan gambar selanjutnya diselesaikan dengan cepat dan tanpa hambatan. Ha Mun bisa begitu mudah akrab dengan pemain lain sehingga berdampak pada kualitas akting mereka. Ha Mun pun berhasil membangun chemistry saat beradu akting dengan sang aktor utama, Lee Min Ho. Ha Mun terkejut saat pertama kali berhadapan dengannya, karena ia tidak menyangka Ki Bum akan memasangkannya dengan aktor papan atas Korea.

***

Ah Ryung menanti dengan gembira di terminal kedatangan. Ia langsung melompat bangkit saat melihat sahabat-sahabatnya datang. Ia langsung melambaikan tangan pada pasangan Kyu Hyun – Je Young, Dong Hae dan Hae Bin, Myung Soo juga Yong Mi dan yg terakhir Ha Myung, adik Ha Mun. Mereka semua balas melambai padanya.

Orang pertama yang dipeluk Ah Ryung adalah Ha Myung, yang masih menempel pada Yong Mi sampai Myung Soo yang berdiri di belakang Yong Mi mengerucutkan bibir.

“Apa yang terjadi padamu?”  Ah Ryung cemas melihat wajah Ha Myung pucat.

“Dia mabuk udara, selama penerbangan dia terus demam,” ujar Yong Mi prihatin. Ia mengusap kepala Ha Myung dengan lembut. Ha Myung sangat suka menempel pada Yong Mi karena menurutnya, di antara sahabat-sahabat kakaknya yang tercantik adalah Yong Mi.

“Kasihan sekali,” Ah Ryung menggandeng lengan Ha Myung. “Aku akan membuatkanmu cokelat panas begitu kita tiba di apartemen.”

“Nuna, kau sangat baik.” Ha Myung tersenyum manis lalu memilih bermanja-manja pada Ah Ryung. Hae Bin, Je Young dan Yong Mi hanya tersenyum melihatnya sementara para lelaki menjengit ngeri.

“Bisakah kalian memperlakukan pria dua puluh satu tahun ini layaknya pria dewasa? Dia bukan anak kecil lagi,” komentar Kyu Hyun dengan hidung mengerut. Myung Soo dengan semangat mengangguk setuju.

“Tidak bisa!” jawab keempat gadis itu kompak.

“Bagi kami Ha Myung tetap adik kami yang lucu,” ujar Yong Mi.

“Aku tidak keberatan.” Ha Myung tersenyum. Ia diam-diam meleletkan lidah pada para lelaki. Kyu Hyun memutar bola mata sementara Myung Soo harus menahan kepalan tangannya agar tidak melayang ke kepala Ha Myung.

“Tentu saja kau tidak akan keberatan. Siapa juga yang keberatan dimanjakan beberapa wanita sekaligus. Yeah, asal kau tidak memonopoli Hae Bin saja,” Dong Hae menggandeng Hae Bin lebih erat.

“Di mana Casey?” Tanya Je Young tidak sabar.

“Dia sibuk. Maaf tidak bisa menjemput kalian.” Ah Ryung menyesal. Hee Chul berkata pekerjaan di kantornya begitu menumpuk sampai dia tidak bisa meninggalkan ruang kantornya hanya untui menghirup udara segar. Ah Ryung tidak bisa memaksanya lagi.

“Apa kau yakin Ha tidak tahu bahwa kami ke sini?” kali ini Hae Bin yang bertanya.

“Tentu saja. Kalian datang terlalu mendadak,” ujar Ah Ryung sambil membimbing mereka menuju van sewaan yang sudah menunggu di depan sana.

“Siapa yang bisa melawan titah paduka ratu Je Young, sepulang dari London, dia langsung mengajak kita semua kemari saat tahu bahwa Ha Mun belum kembali karena harus syuting,” cerocos Yong Mi. Je Young memelototinya, tampak siap berdebat. Kyu Hyun segera merangkulnya dan memberinya senyuman lembut yang berhasil meleburkan kemarahan Je Young.

Tempo hari, Ha Mun bercerita bahwa dirinya ambil bagian dalam sebuah syuting film di Australia sehingga tidak bisa buru-buru pulang ke Korea. Ah Ryung bangga sekali pada Ha Mun yang berhasil mengembangkan bakatnya, diam-diam memberitahukan kabar itu pada teman-temannya yang lain. Ah Ryung tidak mengira mereka akan langsung terbang kemari untuk melihatnya langsung.

“Ha Mun bergabung untuk syuting film apa? Mungkinkah film produksi Australia?” tanya Hae Bin.

“Bencana. Gadis itu bahkan sama bodohnya denganku dalam bahasa Inggris. Sutradara ceroboh mana yang meminta Ha Mun bermain dalam filmnya?” ujar Je Young.

Meskipun Je Young dan Ha Mun telah terikat secara resmi sebagai saudara begitu ia menikah dengan Kyu Hyun, tak lantas membuat Je Young berhenti mengkritik Ha Mun. Kebiasaan itu belum berhenti sejak Je Young mengira Ha Mun berpacaran dengan Kyu Hyun saat mereka masih SMA dulu.

“Aku tidak tahu tepatnya, tapi sepertinya bukan film produksi Australia. Ha Mun pun tidak begitu mengetahuinya saat  kutanya kemarin. Akan kutanyakan nanti. Sekarang kita pergi mencari restoran untuk makan.”

Mereka lekas naik ke van sewaan. Setelah menikmati makan nanti, mereka berencana akan memberi kejutan pada Ha Mun. Ah Ryung sudah mencari tahu hotel tempat Ha Mun menginap. Letaknya tak jauh dari lokasi syuting saat ini. Ha Mun memilih tinggal di sana agar tidak repot saat harus pulang-pergi ke lokasi syuting. Lagipula sutradara film yang mengakomodasi tempat itu untuk para pemain dan kru dalam filmya.

***

Ha Mun bertanya-tanya mengapa ia berada di sana, di antara para kru yang sedang bersenang-senang merayakan berakhirnya syuting malam itu. Seharusnya ia beristirahat saja di kamarnya, menghilangkan lelah. Namun Ha Mun tahu ia tidak bisa menolak. Selain itu, sayang rasanya melewatkan kesempatan menikmati makanan gratis. Ki Bum telah membooking sebuah restoran China di dekat hotel tempat mereka menginap. Ha Mun cukup terkejut, tampaknya pria itu mendapatkan sponsor yang loyal karena segala fasilitas, setting, tampak begitu berkelas. Jelas sekali film yang disutradarai Ki Bum bukanlah film kelas tiga.

Sekarang ini para kru dan pemain yang duduk satu meja dengannya sedang terlibat permainan seru, semacam tebak-tebakan dan yang kalah harus dihukum meminum satu gelas minuman keras. Semuanya bersenang-senang. Ha Mun melihat sisi lain dari mereka yang biasa mereka perlihatkan semasa syuting berjalan. Ha Mun yang terbiasa melihat mereka supel dan serius kini tampak hangat dan bersahabat.

Tak terkecuali Kim Ki Bum. Ha Mun terkejut juga melihatnya bisa tertawa hingga lebar. Selama proses syuting, Ki Bum selalu tampak serius dan tegas sampai para pemain dan kru tidak berani berbuat kesalahan. Hal itu membuat semua orang bekerja dengan sungguh-sungguh. Keseriusan Ki Bum sangat beralasan karena Ki Bum selalu menghasilkan scene yang menakjubkan dalam angle pengambilan gambar dan jeda pada setiap adegan.

Ha Mun berkali-kali kalah dalam permainan itu, namun ia sungguh-sungguh tidak sanggup minum alkohol lebih dari dua gelas kecil. Untung saja kru lain bersedia menggantikannya menerima hukuman.

“Ah, permisi.” Ki Bum menyingkir dari meja karena mendapat panggilan telepon. Suasana sudah tidak sepanas tadi karena beberapa kru mulai mabuk dan jatuh tertidur. Tapi tetap saja Ki Bum tidak nyaman berbicara dengan resiko didengar orang lain. Ia memilih berbicara di luar.

Angin malam di beranda restoran ini segar sekali. Ha Mun mengembuskan napas lega. Ia memilih melarikan diri sejenak dari permainan gila di dalam. Ia ingin sendirian. Sekarang ia sudah cukup menenangkan diri. Ha Mun hendak kembali ke dalam. Ketika ia akan menggeser pintu, benda itu tergeser lebih dulu.

Ha Mun tidak tahu mengapa ia bersembunyi begitu mengetahui yang muncul dari balik pintu adalah Kim Ki Bum, tapi ia tetap melakukannya. Ia terlalu kaget dan panik dan berembunyi adalah hal pertama yang dipikirkannya. Sekarang, Ha Mun tanpa sengaja menguping pembicaraan Ki Bum dan seseorang di telepon.

“I know, uncle..” hanya itu yang terdengar Ha Mun dengan jelas dan dimengertinya. Selanjutnya, Ha Mun tidak mengerti sama sekali apa yang sedang Ki Bum katakan. Ki Bum berbicara dalam bahasa Inggris yang fasih dan cepat. Ha Mun yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris pas-pasan harus berusaha keras memahami kata-kata Ki Bum.

“Maaf, Paman. Aku tidak bisa pulang sekarang, aku tahu ini tahun ke tiga orangtuaku meninggal. Aku akan segera pulang setelah syuting selasai.”

“Dia bilang tidak bisa pulang, tapi karena apa .. tadi dia bilang tiga tahun, kan? Maksudnya?” Ha Mun penasaran dengan isi percakapan Ki Bum. Ia berpikir sambil menyandarkan tubuh pada jambangan besar berisi hiasan rangkaian bunga sintetis yang menyembunyikannya dari penglihatan Ki Bum.

Tak kuat menahan beban tubuhnya, jambangan itu tertarik jatuh oleh gravitasi. Ha Mun berteriak panik. Tangannya secara refleks memeluk jambangan itu dan ia berhasil menangkapnya sebelum benda itu jatuh membentur tanah. Ha Mun mendesah lega. Syukurlah benda ini tidak pecah. Ia tidak mau memancing keributan. Ketika Ha Mun berusaha bangkit sambil mengembalikan jambangan itu ke posisi semula,  gerakannya terhenti pada sepasang sepatu sneaker yang ada di dekat kakinya.

Buruknya, Ha Mun tahu siapa pemilik sneaker itu.

Si sutradara galak, Kim Ki Bum.

Sial! Ha Mun memejamkan mata, berharap ia bisa menghilang dari tempat itu sekarang juga. Ia sungguh malu tertangkap dalam kondisi menyedihkan. Mengerikannya lagi, ia tidak mau Ki Bum mengira dirinya sengaja menguping dengan bersembunyi di balik jambangan ini.

Demi menyembunyikan rasa malunya, Ha Mun memasang senyum semanis mungkin. “Aku hanya sedang mengagumi betapa indahnya jambangan ini. Aku tahu cina sangat terkenal dengan seni tembikar mereka.” sambil tertawa kecil Ha Mun mengusap jambangan yang baru saja diselamatkannya.

Ki Bum tidak mengatakan apa apa, bahkan merespon pun tidak, hanya memberinya pandangan kosong sejenak, lalu berbalik meninggalkannya. Ha Mun terkesiap. Ki Bum pasti salah paham! Tanpa pikir panjang ia mengejar Ki Bum, mengikutinya di belakang. Ia hendak menjelaskan insiden tadi. Ia ingim Ki Bum tahu bahwa ia bukan seorang penguntit atau penguping.

“Aku tidak menguntitmu! Dan aku tidak sengaja mendengarkan pembicaraanmu. Aku juga tidak bermaksud bersembunyi, aku hanya panik saat melihatmu mendadak muncul. Aku sudah berada di sana saat kau keluar.”

Ki Bum melirik Ha Mun yang berjalan tergopoh-gopoh di sampingnya sejenak. “Sepertinya keajaiban sedang terjadi. Tidak biasanya kau mengikutiku, biasanya aku yang mengikutimu. Ah, atau kau sedang mabuk?”

“Kupikir begitu,” aku Ha Mun. Padahal ia hanya minum segelas alkohol tadi. “Aku penasaran.  mengapa kau bicara bahasa inggris, keluargamu bukan orang Korea? Tadi aku mendengar uncle, itu paman, bukan? Kau disuruh pulang, bukan?” Ha Mun tak bisa menghentikan ocehannya dan rasa ingin tahunya. Biasanya ia tak pernah begitu ingin tahu urusan orang lain. Sepertinya ia memang mabuk.

Langkah Ki Bum terhenti tiba-tiba. Ha Mun tersekat melihat senyum palsu yang tersungging di bibir Ki Bum, tampak seakan-akan sedang mencemooh dan merendahkannya. “Kau tidak mengerti bahasa inggris.”

Itu ejekan! Ha Mun tersingung.

“Aku mengerti, hanya tidak fasih.”

Ki Bum menatapnya datar. Ha Mun panik karena merasa Ki Bum seperti sedang menodongnya dengan pisau, mengancamnya agar ia berkata jujur.

“Baiklah! Aku memang tidak begitu pandai berbahasa Inggris! Aku mengerti beberapa. Kemampuan mendengar dan berbicaraku sama buruknya. Karena itu–jangan tertawa!!”

Ha Mun yakin kini wajahnya sudah semerah lobster rebus. Ia tahu menggelikan rasanya melihat seseorang mengakui kesalahannya dengan panik dan terbata-bata. Tapi yang dilakukan Ki Bum padanya sungguh kurang ajar. Tertawa begitu keras sampai membangunkan para kru yang jatuh tertidur. Ha Mun merass pipinya terbakar ketika kru lain memandanginya dan Ki Bum.

“Ah, Nona Choi..” kata Ki Bum memulai sambil mengusap airmata di sudut matanya. “Aku tak mengira kau memiliki sisi humoris juga.”

“Sudah kukatakan panggil aku Ha Mun!” gertak Ha Mun pelan, menahan malu. “Dan aku tidak sedang melawak! Jadi hentikan gelak tawamu. Kau membuatku malu.” Ia merasa pipinya sepanas ketel berisi air mendidih.

“Maaf, maaf.” Ki Bum menarik napas panjang untuk menenangkan diri meskipun tawanya yang menjengkelkan itu masih tersisa. “Aku tidak bermaksud menertawakanmu. Tapi kau sangat lucu saat kau mencoba menjelaskan tadi. Kau pikir aku mencurigaimu, begitu?”

“Memang begitu, bukan? Kau tidak berkata apa-apa begitu mengetahui aku ada di beranda yang sama denganmu.”

“Aku mengira kau baru saja keluar aku mengganggumu. Karena itu aku pergi.”

“Ah,” Ha Mun mengangguk paham. Jadi Ki Bum tidak mencurigai apa-apa. Syukurlah. Ha Mun mendesah lega.

“Dan menjawab rasa penasaranmu tadi, kau benar, yang baru saja bicara denganku di telepon adalah pamanku, lebih tepatnya sutradara sahabat ayahku yang selama tiga tahun ini menjadikanku asistennya. Besok adalah peringatan tiga tahun kematian orangtuaku, mereka meninggal dalam kecelakaan kapal pesiar ketika sedang liburan di Amerika.”

Ha Mun mengerjapkan mata. Ia antara terkejut, iba, dan sedih mendengar cerita itu. Walaupun kedua orangtuanyabsudah bercwrai, paling tidak mereka masih hidup. Ha Mun bisa menemui mereka kapan pun yang diinginkan. Bahkan sekarang ia memiliki Appa Choi, yang menurut Ha Mun merupakan ayah terbaik baginya karena bersedia memberikan segala hal yang dimilikinya pada anak tiri seperti dirinya. Hanya dengan menyebutkan nama ayah tirinya saja, Ha Mun bisa kuliah dengan lebih mudah, dan bekerja dengan mudah pula. Di atas semuanya, Ha Mun lebih tidak menyangka lagi Ki Bum akan membagikan kenangan menyedihkan semacam itu dengannya.

“Kenapa kau melihatku seperti itu? Kau menyukaiku?”

Oh Tuhan, Ha Mun seketika memutar bola mata. Baru saja ia merasa prihatin pada pria ini, tapi dalam sedikit Ki Bum membuatnya kesal. Ha Mun tidak mengira ia akan terpengaruh oleh kata-kata Ki Bum. Ekspresi Ki Bum saat bercerita mengenai kedua orang tuanya menimbulkan reaksi aneh, Ha Mun merasakan tubuhnya meremang. Ha Mun menyadari Ki Bum adalah pria kedua yang membuatnya merasakan reaksi aneh ini setelah… Kim Hee Chul.

Ini bencana! Ha Mun tidak boleh merasakan apa pun terhadap pria ini! Semuanya karena Ki Bum! Ha Mun jengkel. Ia harus buru-buru pergi dari hadapan Ki Bum.

“Tidak sama sekali.” Ha Mun melengos melewati Ki Bum, lalu kembali ke mejanya sambil mengentak-entakkan kaki.

Tingkah aneh Ha Mun itu membuat Ki Bum tersenyum. Ia penasaran mengapa Ha Mun semarah itu. Harus diakuinya, melihat ekspresi jengkel di wajah Ha Mun sangatlah menyenangkan.

Pikiran itu teralihkan saat ponselnya lagi-lagi berbunyi. Ki Bum melirik ponsel dan mengembuskan napas berat. Tadi pamannya, sekarang bibinya–istri pamannya–yang menelepon. Tampaknya akan membujuknya juga. Sayang sekali kali ini Ki Bum pun akan memberikan jawaban yang sama, tak peduli siapa pun yang akan memintanya.

***

Mengapa dia ada di sini?

Pertanyaan itu telah muncul dalam benak Ha Mun sejak ia melihat sosok Hee Chul di depan pintu kamar hotelnya. Bagaimana dia bisa mengetahui keberadaannya di hotel ini? Oh, tentu saja Ah Ryung yang memberitahunya! Ha Mun lupa memberitahu pada Ah Ryung agar tidak memberitahukan di mana ia tinggal selama ia syuting pada siapa pun. Ha Mun hendak melarikan diri, namun Hee Chul terlanjur menyadari kehadirannya. Akhirnya, Ha Mun terpaksa menghadapinya.

“Kau sudah pulang?”

“Tentu saja. Kalau tidak aku tidak akan berada di sini.”

Semestinya Hee Chul bisa membaca tanda peringatan dari nada sinis Ha Mun bahwa ia ingin agar pria itu pergi. Sayangnya tidak, Hee Chul malah tersenyum dan menunjukkan tanda ingin tinggal di sana lebih lama.

“Bagaimana pekerjaanmu? Apa berjalan lancar?”

“Bukan urusanmu. Pulanglah. Aku lelah sekali, ingin sekali beristirahat.”

“Aku tidak akan pulang. Aku merindukanmu.”

Ha Mun berhenti memutar kenop pintu. Lagi-lagi Hee Chul melakukannya. Apa laki-laki ini tidak bisa membaca isyaratnya, bahwa Ha Mun enggan bertemu dengannya? Ia mendesah berat.

“Lalu jika rindu, kau harus datang menemuiku, begitu? Memang apa yang kau inginkan dariku dengan mengatakan itu? Kau kira aku akan senang?” ujar Ha Mun pelan. Ia sudah lelah. “Pulanglah.”

“Tidak bisa. Aku sudah sangat lelah menunggumu dan mencari tempatmu menginap. Kuharap kau tidak keberatan jika aku beristirahat sejenak di kamarmu.”

“Apa?” Ha Mun terperanjat kaget.  Sebelum Ha Mun menyadari dan melarangnya, Hee Chul mendesak masuk ke dalam kamarnya. Ha Mun tersentak. Ia buru-buru masuk untuk mengusir Hee Chul. Namun terlambat. Hee Chul sudah melepas mantelnya dan kini sedang duduk di salah satu sofa. Ha Mun mendesah pasrah. Kalau sudah begitu ia tidak bisa mengusir Hee Chul dan terpaksa menerimanya.

“Baiklah, malam ini aku membiarkanmu tinggal di sini. Tapi besok, kau harus pergi dan…. berhenti mencariku. Aku sudah cukup pusing menghadapi masalah yang kau timbulkan.”

“Berhenti mencarimu?” Hee Chul bangkit, ia tampak marah dan tersinggung. “Kau pikir mudah melakukannya? Aku menyukaimu, dan aku yakin kau pun sebenarnya senang dengan kehadiranku, bukan? Kau ingin tetap berada di sisiku, karena itu kau memutuskan tinggal lebih lama di sini.”

“Kau mabuk.” Ha Mun terlalu tercengang mendengar tuduhan Hee Chul. Jika bukan karena Ah Ryung, mungkin memang itu alasannya tinggal lebih lama. Entah mengapa kekukuhan Hee Chul akan perasaannya itu membuat Ha Mun kesal. “Tapi sayang sekali, anggapanmu salah. Aku tidak tinggal karena dirimu. Aku menerima pekerjaan ini bukan karena ingin lebih lama melihatmu!”

“Jika tebakanku salah, lalu karena apa?” Hee Chul mendekat, sorot matanya penuh tekad ingin melalukan sesuatu.

Debaran jantung Ha Mun menggila. Ha Mun bergerak mundur karena takut. Ia tidak mau berada dalam jarak yang terlalu dekat dengan Hee Chul. Ia takut ia akan kehilangan kendali diri seperti sebelumnya.

Bel pintu yang berbunyi menyelamatkannya. Ha Mun mendesah lega. Siapa pun yang datang, ia sangat berterima kasih padanya. Hee Chul mendahului Ha Mun mencapai intercom, untuk melihat siapa yang datang.

“Apa karena dia?” geram Hee Chul sambil menunjuk layar. “Jadi dia pria yang membuatmu tetap tinggal di sini?”

Ha Mun menggigit bibir saat ia melihat Kim Ki Bum berada di balik pintu. Apa sebaiknya ia membenarkan tebakan Hee Chul hanya untuk membuat pria itu berhenti mengganggu hidupnya?

“Secara tak langsung, iya. Tapi tidak seperti yang kau pikirkan.”

“Apa?”

Tanpa pikir panjang Hee Chul langsung menyentak pintu hingga terbuka. Ha Mun tercengang kaget melihat Hee Chul menarik Ki Bum dengan ganas ke dalam kamar lalu membanting pintu.

Astaga, Ha Mun sadar ia telah memancing badai kemarahan Kim Hee Chul. Ia harus mencegaj sebelum timbul bencana yang lain.

“Brengsek! Memangnya siapa kau sampai menarikku seperti itu!” Bentak Ki Bum marah. Ia mengusap lengannya yang tadi ditarik Hee Chul. Ia memelototi Hee Chul tajam.

“Dan siapa kau?! Apa hubunganmu dengan Ha Mun!”

“Kalian hentikan!” Ha Mun panik saat melihat Hee Chul mencengkeram baju Ki Bum.

Ki Bum tampak tidak terintimidasi apalagi takut. Dengan mudah tangan Hee Chul ditepis hingga ia bisa lepas dari cengkeramannya.

“Bukan urusanmu.” Ki Bum berpaling pada Ha Mun dengan jengkel. “Kau masih berhubungan dengan pria ini?” tatapannya berubah melecehkan ketika ia mengenali pria di hadapannya.

Ha Mun tidak suka Ki Bum memandang rendah dirinya, seakan-akan ia yang sengaja mengundang Hee Chul atau pria mana pun ke kamarnya di malam hari. Dasar laki-laki menyebalkan!

“Itu juga bukan urusanmu! Lagipula mengapa kau kemari? Seingatku aku tidak mengundangmu kemari.”

“Ah itu,” sikap Ki Bum mendadak berubah. Raut kerasnya melembut. Ha Mun mengerjap menyadari perubahan itu. “Aku hanya ingin meminta maaf padamu. Sepertinya kau marah padaku karena sesuatu yang kukatakan di restoran tadi.”

Ha Mun berkedip heran. Ia malah tidak ingat ia sedang marah pada Ki Bum saat meninggalkan restoran. Memangnya mereka bicara tentang apa sampai membuatnya marah?

“Hei..” Hee Chul kesal karena keberadaannya di sana sepenuhnya dilupakan. Dan ia lebih marah lagi melihat Ha Mun bicara akrab dengan pria lain.

“Benarkah? Aku lupa.” Ha Mun benar-benar mengabaikan Hee Chul.

“Kalian berdua! Aku masih di sini!” Hee Chul yang kesal menarik Ha Mun dari hadapan Ki Bum.

“Aku belum selesai bicara dengannya!” Ki Bum berusaha menarik Ha Mun kembali namun Hee Chul menghalau jalannya. Kedua lelaki itu saling melemparkan tatapan tajam. Ha Mun berusaha melerai mereka ketika lagi-lagi bel kamar berbunyi.

Siapa lagi yang datang! Ha Mun kali ini kesal sekali. Bisakah semua orang meninggalkannya sendiri dan membiarkannya istirahat dengan tenang?

Bel itu terus berbunyi. Ha Mun bergegas menghampiri pintu sambil sesekali melirik ke arah Ki Bum dan Hee Chul, memastikan mereka tidak memulai perkelahian. Tidak sekarang, tidak di dalam kamarnya.

“Oh tidak!” desis Ha Mun. Nyawanya seakan melayang melihat sosok Hae Bin terpampang di layar intercom. Ini merupakan akhir untuk dunianya. Di tambah lagi, Hae Bin tidak datang sendirian,  sahabatnya yang lain berdiri di belakangnya. Ah Ryung pasti ada di antara mereka. Mereka semua akan membunuhnya jika ia tahu siapa yang ada di kamar ini bersamanya.

“Siapa lagi sekarang?” Hee Chul berdiri di belakang Ha Mun, ikut melihat ke layar. Ki Bum pun buru-buru menyusul.

“Sahabat-sahabatku.”

“Apa?” yang tersentak kaget itu Ki Bum.

“Kau harus bersembunyi!” Ha Mun dengan panik mendorong Hee Chul masuk. “Mereka tidak mungkin datang kemari. Ah Ryung pasti bersama mereka. Aku tidak mau mereka menemukanmu di sini.”

“Kenapa aku harus bersembunyi?” Hee Chul protes, tapi tidak menghentikan Ha Mun yang sibuk mencari-cari tempat persembunyian yang pas untuk Hee Chul.

Ha Mun berhenti membuka pintu lemari. Ia heran melihat Ki Bum ikut panik mencari tempat untuk bersembunyi.

“Kenapa kau juga bersembunyi? Kau tak harus melakukannya.”

“Aku tidak ingin membuat gossip terlihat berada di kamar artis pada malam hari,” jawab Ki Bum masuk akal.

Benar juga. Ha Mun mengangguk setuju. Ia pun tidak ingin teman-temannya menemukan Ha Mun bersama seorang laki-laki di kamar hotel, pada malam hari pula.

Mereka terlalu sibuk mencari tempat bersembunyi sampai Ha Mun lupa bahwa ia sudah cukup lama mengabaikan teman-temannya yang menunggu di pintu depan.

Bel yang dibunyikan dengan tidak sabar itu menyadarkan Ha Mun. Ia menatap pintu depan dengan nanar.

“Bagaimana ini?”

***tbc***

77 thoughts on “Trouble Namja [Chapter 4]

  1. Aku juga terhura eonni apdet secepet ini T-T *nangisbombay* ff eonni menyelamatkanku dr malam kelam tanpa ff :’ *alaymodeon*

    Nah kan! Sudah kyuduga kalo si hamun ntar ada hubungan ama kibum :’v semoga aja ya biar hamun nggk terperangkap ama si heechul terus :b hahaha
    fighting eonni bikin epepnyaa ^-^)9

  2. Ha mun pasti dilema ,
    Tpi untuk saat ini dia kekeh sama keputusannya buat ngindarin heechul , mesti kadang khilaf kayak kemarin itu , untung yang liat cuman choi siwon oppa jadi dia cuman diomelin ajaaa

  3. qu stuju bgtz klw akhirx ha mun jatuh cinta sma ki bum. kesel sma hee chul oppa, skax bkin mslah za dech. .
    ksian dgn ha mun, yg sdh mulai ngerelain dy untuk ah ryung

  4. Knp pada smbunyi ??? Ntar kalo ktauan pasti brabe hhhhh
    hamun ama siapa jd.nya ???
    Trz ah ryung skit hati psti klo tau..
    Chuli juga… Udh ada ah ryung masih aja mau hamun….
    Kibum ama hamun aja… :-D:-D
    Kya.a hamun jg care ama
    kibum
    next eonni… G sabar nunggu…

  5. Heechullll kau benar benar nappppeeeeuuuunnnn. Kasihan ha mun nanti di cap jelek ma semuanya.

    Akhir part ini jadi lucu apalagi kibum. Kibum ma hamun aja de.

  6. waaaaahhh
    bagaimana iniii
    aku terlanjur penasaran eonnn….

    gimana ini
    gimanaaaa kelanjutanyyaaaa!!!!!!

    ehhhmm eonnie akuuu lanjut yaaaaa
    yaaa(maksaaa)
    🙂🙂🙂😉😉😉😉

  7. Kibum ada aja kesempatannya manfaatin keadaan. Wah dimana mereka akan sembunyi dari teman-teman Hamun, kalau ketahuan kan Hamun susah cari alasan kenapa dua orang laki-laki ada di kamarnya. Apalagi si Heechul, bisa timbul masalah besar

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s