Shady Girl Yesung’s Story [Chapter 9-End]

Tittle : Shady Girl Yesung’s Story Chapter 9-End
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Mysteri Case

Main Cast:
Choi Eun Ri | Ye Sung

Dha’s Speech:
Sesuatu banget ya aku updetnya gak lama ^^
Inspirasi lagi membanjir nih di otak, jadi sayang kalau gak disalurkan, n berhubung Dede Baim juga gak rewel *uuu anak mama tercinta ngertiin mamanya banget* jadi aku nyempetin ngerampungin FF ini.

Maaf ya kalau versi Yesung gak ada romantis-romantisnya. Ini disebabkan karena Yesung memang cowok yang serius dan gak suka beromansa ama ceweknya, meskipun begitu dia tipe cowok yang bakal mempertaruhkan nyawa untuk melindungi orang-orang yang dia sayangin. ^^ Lagipula aku memang pengen coba bikin cerita misteri, tapi ternyata susah ya dan hasilnya begini deh *nangis terharu* Memang gak bisa dibilang bagus, tapi lumayan lah..

So, di ending Yesung’s Story ini aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada teman-teman karena sudah setia membaca cerita ini sampai selesai walaupun yah, masih banyak banget kekurangannya. Shady Girl series belum tamat kok, masih ada Henry, Leeteuk, Kangin, Shindong, ama Zhoumi yang belum ada ceritanya ^^ Siapa tokoh utama Shady Girl berikutnya, bisa ditebak di part epilog nanti. So, ikutin terus ya *yang mau aja sih* hehehehe

Happy Reading

Shady Girl Yesung's Story by Dha Khanzaki

====o0o====

CHAPTER 9

Gedung tua itu sudah terbengkalai sejak sepuluh tahun yang lalu. Ye Sung mendongak menatapnya. Wajahnya tanpa ekspresi. Bisa tiba di tempat ini tepat sebelum waktu yang diberikan si penculik habis merupakan sebuah keberuntungan. Ia melangkah seorang diri memasuki gedung besar berlantai 4 itu. Ia menuju sebuah ruangan di gedung sebelah timur dengan tekad baja.

Ye Sung bersumpah akan memberikan penculik itu pelajaran. Beraninya dia menyeret Eun Ri ke dalam masalah ini.

Di lantai 4, si pelaku tersenyum melihat Ye Sung tiba. Pria itu menepati janjinya dengan datang seorang diri. Ia bisa melihat segalanya dari atas. Ia akan tahu jika Ye Sung secara diam-diam membawa bala bantuan. Seandainya jaksa itu melakukannya, ia hanya tinggal membunuh sanderanya. Dengan seringai jahat di bibir, wanita itu menoleh ke arah Eun Ri yang terikat di kursi.

“Dia datang, sepertinya dia memang mencintaimu,” sahut wanita tenang. “Dia bahkan rela berkorban nyawa untuk menyelamatkanmu.”

Eun Ri tidak menjawab. Ia diam saja, ia tengah berjuang menahan rasa sakit dan perih yang menjalari pipinya setelah ditampar berkali-kali oleh wanita prikopat itu. Sudut bibirnya berdarah. Batal membunuhnya dengan pistol, wanita itu malah menamparnya dengan sekuat tenaga sebagai hukuman berharap Eun Ri akan patuh. Tapi pukulan itu tidak lantas meredupkan keberanian Eun Ri. Alih-alih ia justru semakin bersemangat.

Dasar bodoh, mengapa kau datang? Eun Ri mengomeli Ye Sung dalam hati. Pria itu malah mengantarkan nyawa pada wanita gila di depannya dengan sukarela.

Eun Ri meringis, “Dia memang akan menyelamatkanku, tapi dia tidak akan mati untukku. Aku akan melarangnya mati untukku. Aku tidak mau kisah cintaku berakhir tragis seperti romeo dan juliet. Kami berdua akan hidup dan jika ada satu orang yang mati, itu adalah kau.”

Plak!

Komentar berani Eun Ri telah menyulut kemarahan wanita itu, membuatnya kembali ditampar. Kepalanya sampai terlempar ke samping. Eun Ri sudah tidak terkejut lagi menerimanya. Sekarang, dengan marah ia membelalakkan matanya pada wanita itu.

“Dasar Jalang!” Umpat Eun Ri di sela giginya.

Sorot matanya yang tajam dan dingin menusuk Eun Ri. “Diamlah, kau terlalu muda untuk memahami perasaanku. Dua puluh lima tahun aku hidup menahan kepedihan dan kesendirian. Aku tidak seharusnya merasakan itu. Aku seharusnya bahagia bersama keluarga dan kekasihku. Tetapi keluarga tunanganmu mengacaukannya. Aku gembira karena mereka mati. Dan tunanganmu pun akan menyusul kemudian.”

“Itu adalah harga mahal yang harus kau bayar karena sudah melakukan kejahatan. Paling tidak kau beruntung karena selama dua puluh lima tahun, kau tidak hidup di penjara.” Eun Ri menjawab dengan sinis.

“Kau sangat pemberani.” Wanita itu tergelak. Suara tawanya yang terdengar seperti tawa seorang nenek sihir menggema di seluruh ruangan itu. “Dan tolol, tentunya. Jika kau memang ingin ikut mati bersama kekasihmu, katakanlah. Aku akan dengan senang hati membunuhmu.”

“Akh!” Eun Ri meringis. Wanita itu menjambak rambutnya, membuatnya mendongak.

“Kenapa kau tidak takut padaku, anak muda? Aku sebenarnya tidak mau melukai wajah cantikmu jika saja kau tetap diam dan duduk manis.” Sejak tadi Eun Ri terus melawan kata-katanya sehingga ia terpaksa menyiksa Eun Ri. Gadis muda ini menyakiti mentalnya dengan kata-kata bahwa ia memang pantas menderita.

Eun Ri sudah sering mendengar keluhan dari teman-teman, keluarga dan karyawannya bahwa ia berlidah tajam dan kerapkali melontarkan komentar pedas. Eun Ri merasa itulah kekurangan yang terkadang ia benci. Namun sekarang, ia bersyukur dianugerahi kemampuan mengkritik orang dengan tajam, karena ia bisa balas menyakiti wanita gila ini dengan kata-katanya.

Pintu terbuka dan Ye Sung menghambur masuk. Ia mengedarkan pandangan berkeliling ruangan dengan liar. Saat matanya terhenti pada pelaku yang berdiri tak jauh darinya, Ye Sung mengerjap.

“Ternyata bocah itu benar, dia seorang wanita.” Itulah kata yang pertama kali diucapkan Yesung.

Wanita itu menoleh. Ye Sung semakin kehabisan kata-kata mengetahui si penculik seorang wanita yang lebih pantas menjadi ibunya. Penculiknya seorang wanita tua! Ye Sung lekas mencari Eun Ri. Ia baru menemukannya saat pelaku itu bergeser.

“Eun Ri!” Ye Sung nyaris berlari menghampirinya karena terlalu bahagia.

“Tetap di tempatmu!”

Langkah Ye Sung terhenti. Ia terkejut melihat si pelaku menodongkan pistol padanya.

“Bergerak sedikit saja, aku akan menyakiti tunanganmu.”

Ye Sung membelalakkan mata saat tangan pelaku itu bersarang di rambut Eun Ri, menariknya dengan tidak berperasaan. Eun Ri meringis.

Tuhan, wanita itu menyakiti Eun Ri! Hati Ye Sung seakan diiris-iris melihat Eun Ri terluka. Ia menatap wanita itu dengan kemarahan yang nyata.

“Lepaskan Eun Ri!”

“Kau tidak menghormatiku, bagaimana pun aku lebih tua darimu,” sahut wanita itu santai.

“Maaf, tapi penghormatanku tidak aku berikan pada seorang penjahat.” Ye Sung menimpali. Ia menggertakkan gigi dalam diam. Ia tidak bisa membiarkan Eun Ri terus disakiti seperti itu. Ia memutuskan diam. Ia berdiri santai seraya menjejalkan tangannya di saku celana. Ia mencoba mengabaikan Eun Ri untuk menjaga keselamatannya.

“Cih,” cibir wanita itu. “Sekarang mana perhiasan yang kuminta? Kau tidak datang ke sini dengan tangan kosong, bukan? Karena jika kau melakukannya, tunanganmu akan mati.”

Ye Sung mengangkat kedua tangannya yang kosong. Ia berusaha tidak memandang Eun Ri. “Sebelum aku memberimu perhiasan itu, apa boleh aku bertanya sesuatu?”

“Silakan,” kata wanita itu santai. Dia tidak curiga sedikitpun pada Ye Sung.

“Apa benar kau satu-satunya komplotan Black Mask yang selamat?”

“Yeah bodoh, tentu saja. kau pikir mengapa aku sampai harus repot-repot menculik tunanganmu yang tidak berharga ini?” ia menarik rambut Eun Ri. Ringisan kesakitan Eun Ri menggoyahkan ketenangan Ye Sung.

“Lepaskan tanganmu darinya!” geram Ye Sung. “Atau aku tidak akan memberimu perhiasan yang kau inginkan.”

Ancaman itu berhasil. Ye Sung tak menduga si pelaku akan langsung melepaskan Eun Ri. Ye Sung melihat tubuh Eun Ri membungkuk ke depan, terengah-engah. Sialan! Ye Sung tidak akan memaafkan wanita itu tas perbuatannya pada Eun Ri.

“Lihat, aku mudah diajak bekerja sama. Maka kau pun harus melakukannya. Kau tidak mau bukan melihat kepala tunanganmu bolong karena peluru yang kutembakkan.”

Ye Sung menelan ludah. Ia harus lekas menyelesaikan ini. “Pertanyaanku yang lain, mengapa kau menginginkan perhiasan-perhiasan yang dicuri OX dan mengapa kau berpura-pura menjadi dirinya dalam kasus terakhir? Apa kau dendam pada OX?”

“Tidak dan ya. Aku tidak dendam pada pencuri amatiran itu, tetapi aku memang menginginkan perhiasan itu. Benda itu adalah benda berharga yang diberikan kekasihku. Ketika merampok dahulu, dia menyadari aku menyukai kalung yang dipakai salah satu sandera. Dia mengambilnya untukku dan memberikannya padaku sebelum menyuruhku kabur saat mobil yang kami kendarai selip di ujung jurang. Kalung itu hilang dan aku mencarinya selama dua puluh lima tahun. Ketika aku menemukannya, OX lebih dulu mencurinya. Dan kau tahu apa yang menyebalkan, kau yang menangani kasusnya. Kau adalah anak polisi sialan yang membunuh kekasih dan keluargaku. Aku ingin sekali balas dendam padamu dan kemudian orang-orang akan berpikir bahwa kau dibunuh oleh OX. Aku akan mengkambing hitamkan OX.”

“Rencana yang bagus. Aku akui, aku bahkan tidak berpikir bahwa kau telah memata-mataiku selama ini.”

“Kau terbukti sama tidak pintarnya dengan ayahmu. Kau bahkan tidak bisa menangkap OX meskipun dia sudah mengaku. Kau payah dan lemah. Sekarang mana perhiasanku! Aku menginginkan berlian itu kembali!”

“Maksudmu, perhiasan yang kaucuri?” Ye Sung dengan sinis merogoh saku jasnya dan melemparkan kantong berisi perhiasan-perhiasan itu.

Akhirnya, setelah perdebatan sengit, Ye Sung berhasil membujuk Jin Ki agar menyerahkan perhiasan itu padanya. Ye Sung menerimanya dengan perasaan pilu. Menerima perhiasan itu, artinya Ye Sung telah melenyapkan kesempatannya menangkap Jin Ki. Ye Sung akan menebusnya nanti, setelah ia menyelamatkan Eun Ri.

Wanita itu dengan gembira meraih kantong yang dilemparkan Ye Sung dan memeriksa isinya. Ia gembira melihat perhiasan-perhiasan itu. Ia menarik bros yang ia curi di rumah Suho dan menyatukannya dengan perhiasan di kantong. Ia tertawa.

“Aku berhasil mendapatkannya! Sayang, aku berhasil memiliki perhiasan pemberianmu!”

“Sekarang lepaskan Eunri dan biarkan kami pergi,” ujar Ye Sung.

Tawa puas wanita itu terpotong. Kini ia menatap Ye Sung sinis. Sebelum ia membuka mulut, Eun Ri lebih dulu berteriak protes dengan sisa suaranya yang terdengar serak dan terpatah-patah.

“Kau gila, kau membiarkannya pergi begitu saja? Jaksa Kim, apa kau pantas menyebut dirimu sebagai penegak hukum?” teriak Eun Ri.

Ye Sung memelototinya agar diam. Apa Eun Ri mengira Ye Sung datang kemari tanpa persiapan? Seharusnya dia diam saja dan membiarkan Ye Sung menyelesaikan segalanya.

“Kekasihmu benar. Kau tidak bisa membiarkanku lari begitu saja.” Wanita itu menyeringai. Ia mengarahkan pelatuknya pada Ye Sung. Eun Ri ketakutan dan panik melihatnya.

“Tidak!”

“Karena kau sudah melihat wajahku, aku tidak bisa membiarkanmu hidup.” Wanita itu menoleh pada Eun Ri. “Kau tenang saja, kau akan segera menyusulnya beberapa detik kemudian. Kalian bisa menikah di alam baka sana.” Ia tertawa keras sekali.

“Kau melanggar perjanjian! Kau berkata tidak akan melukai Eun Ri dan akan melepaskannya begitu aku memberimu perhiasan!” Ye Sung tidak bisa fokus karena perhatiannya tertuju pada pistol yang mengarah pada Eun Ri.

“Ya, tetapi aku tidak menjamin akan membiarkan kalian pergi setelah melihat wajahku.”

Ye Sung tegang, Eun Ri pun tegang. Bagaimana ini? Apa mereka akan dibunuh? Eun Ri tidak mengira negosiasi mereka akan berakhir seperti ini. Ia tidak bisa membiarkan Ye Sung mati karena dirinya. Eun Ri menggeleng kencang. Ia menangis.

“Pergilah, selamatkan dirimu!”

“Kau gila. Aku tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi. Aku tidak ingin kehilanganmu.”

“Jaksa Kim, kubilang pergi!”

“Selama ini aku selalu menurutimu, tetapi kali ini aku tidak akan melakukannya.”

“Kau sudah berjanji tidak akan mati seperti ayah ibumu! Kita akan menikmati masa tua bersama dan mati sambil berpelukan.” Eun Ri terisak. Ia benar-benar tidak bisa membiarkan Ye Sung mati di sini, dengan cara seperti ini. Ye Sung layak melanjutkan hidupnya. Masih banyak orang yang memerlukannya.

“Oh, aku sangat terharu mendengarnya.” Wanita itu memutar bola mata melihat pertengkaran antar kekasih. “Nah, karena kau begitu mencintai tunanganmu, bagaimana jika kau duluan saja yang mati?”

Eun Ri terkesiap saat wanita itu mengarahkan pistol ke dahinya. Ia memejamkan mata. Jantungnya berdegup kencang menyadari sekarang adalah saatnya ia pergi. Selamat tinggal, Ye Sung. Hiduplah dengan bahagia sekalipun aku sudah tidak ada. Eun Ri berdoa dalam hati.

Ye Sung menggeleng. Tidak! Ia tidak bisa membiarkan pelaku itu lagi. Jika ia tidak bertindak secepat mungkin, Eun Ri bisa mati. Seharusnya sekarang saatnya. Wanita itu bersiap menarik pelatuknya dan Yesung berteriak.

Suara letusan terdengar. Tiga jeritan bersahutan di ruangan itu.

Jantung Ye Sung terhenti. Sedetik keheningan terasa setahun lamanya. Ye Sung terbelalak memandang Eun Ri, begitu pun sebaliknya. Eun Ri menantikan rasa sakit itu, bertanya-tanya kapan tubuhnya akan jatuh terjerembab ke tanah dalam keadaan tak bernyawa.

Secara mengejutkan, Eun Ri tidak merasakan sakit, tubuhnya pun tetap terduduk di kursinya. Ia memekik saat melihat wanita yang semula menodongkan pistol padanya mendadak ambruk. Wanita itu mengerang kesakitan. Lengannya mengucurkan darah terkena tembakan. Tunggu! Siapa yang menembaknya? Pistol yang digenggam wanita tadi terlempar hingga ke dekat kakinya.

Eun Ri langsung memandang Ye Sung yang menghela napas lega. Melihat pria itu tersenyum, Eun Ri seketika merasa bahagia hingga air matanya tidak bisa ia bendung. Seharusnya ia tahu. Ye Sung tidak mungkin datang begitu saja kemari tanpa sebuah rencana penyelamatan yang brillian. Seseorang pasti membantunya dari tempat yang tak terlihat.

Ye Sung bersyukur segalanya berjalan sesuai rencana. Ia melemparkan pandangannya ke arah gedung kosong yang berdiri berseberangan dengan gedung tempatnya berada dan tersenyum. Ia harus berterima kasih pada Suho karena telah melaksanakan tugasnya dengan baik.

Siapa yang mengira Suho ternyata seorang sniper. Dia ahli menggunakan senjata. Dahulu, saat masih di camp pelatihan, Suho dilatih khusus untuk menjadi seorang penembak jitu. Seharusnya dia bergabung dengan tim pasukan khusus kepolisian yang menangani aksi terorisme setelah lulus dari akademi kepolisian. Namun Suho justru memilih masuk divisi di kepolisian yang menangani kriminalitas.

Umpatan wanita itu menyadarkan Ye Sung dari lamunannya. “Sial, siapa yang menembakku!” Wanita itu melirik marah pada Ye Sung. “Kau berjanji tidak akan membawa siapapun!”

Ye Sung mendekati tubuh wanita itu yang terkapar di lantai, “Maaf, tapi aku bukan seseorang yang mudah diajak bekerja sama.”

“Kurang ajar!” Wanita itu berusaha meraih pistolnya yang terjatuh di sekitar kaki Eun Ri. Tentu saja Eun Ri tidak akan membiarkan wanita itu bertindak sewenang-wenang lagi. Ia dengan sigap menendang pistol itu menjauh. Si wanita mengerang.

Tak lama kemudian Suho dan Yoo masuk. Suho membawa senjata api laras panjang yang biasa digunakan para sniper bahunya. Sesuai rencana, selama Ye Sung bicara dengan wanita tadi, Suho dan juga Yoo mengawasi dari gedung di seberang. Mereka berhasil tiba di sana tanpa terlihat. Ketika Ye Sung berteriak, itu adalah kode dan Suho yang memang dilatih untuk menembak jitu dalam jarak jauh berhasil mengenai sasaran.

“Terima kasih.” Ye Sung berkata pada Suho.

“Jangan sungkan,” Suho tersenyum lebar. Ia tampak puas karena rencana mereka berhasil. Ia segera memborgol lengan si wanita yang mengaduh-aduh karena sakit. Ia menelepon rekan-rekan polisinya dan berkata bahwa OX, si pelaku pencurian telah ditangkap.

Wanita itu histeris. “Apa kau bilang, aku bukan OX!”

Yoo menyambung. “Maaf, tapi kau tertangkap bersama barang bukti.” Yoo memperlihatkan perhiasan yang ada dalam kantong.

“Aku tidak mencuri!! Bukan aku yang mencuri semua perhiasan itu!”

“Katakan itu di pengadilan,” sahut Ye Sung. “Kau harus membayar kejahatan yang sudah kau lakukan.”

Wanita itu dibekuk dan dibawa Suho keluar ruangan. Setelah keadaan aman, Ye Sung menghampiri Eun Ri, perlahan-lahan membuka ikatannya. Ia berlutut di depan Eun Ri, menatap kekasihnya yang terluka dengan pilu.

“Maafkan aku. Aku benar-benar gagal melindungimu. Aku selalu berkata tidak akan membiarkanmu terluka, tetapi demi melindungiku malah kau yang terluka.” Ye Sung menyentuh pipi Eun Ri yang tampak memar, Eun Ri meringis. Ia lekas menarik tangannya karena terkejut. “Apa sakit?”

“Tentu saja!” Eun Ri menggerutu. “Wanita psikopat itu menamparku terus menerus di saat aku mengatakan yang sebenarnya. Awas saja jika kau sampai tidak memenjarakannya seumur hidup. Aku yang akan datang ke selnya untuk membalas dendam.”

Ye Sung terkekeh. Melihat Eun Ri menggerutu, ia tahu tunangannya itu baik-baik saja. “Aku tidak akan membiarkanmu mengotori tanganmu.” Ia memang tangan Eun Ri. “Balas dendam bukan penyelesaian. Biarkanlah hukum negara kita yang membalaskan dendammu.” Ia memerhatikan luka Eun Ri sekali lagi. Rasa sakit menyengat ulu hatinya.

“Aku sungguh bodoh. Seandainya aku bisa menyelesaikan kasus ini lebih cepat, kau tidak akan mengalami ini.”

Eun Ri terkesima. Ia tersentuh melihat kedua mata Ye Sung dipenuhi oleh rona penyesalan, rasa bersalah dan cinta. Ia tidak mau membuat Ye Sung sedih. Ia tidak akan membiarkan rasa bersalah menggerogoti batin tunangannya. Semuanya telah berakhir. Ye Sung menyelamatkannya dan ia baik-baik saja walaupun menderita beberapa memar. Sudah sepantasnya mereka melupakan kejadian hari ini. Ia mencubit pipi Ye Sung.

“Jika kau merasa bersalah. Cepat selesaikan kasus ini dan nikahi aku.”

Betapa gembira Ye Sung mendengarnya. “Tapi cincinnya..” kegembiraan Ye Sung lenyap secepat senyum itu muncul. Sial, ia melupakan bagian yang penting. Ia lupa mengambilnya.

Eun Ri menggeleng pelan. “Aku tidak peduli. Aku hanya ingin menikah denganmu.” Ia memeluk Ye Sung. Ketegangan seketika mencair dari tubuh Ye Sung. Pelukan Eun Ri menghangatkannya seperti sinar matahari melelehkan salju.

“Selama disekap aku ketakutan. Wanita itu terus berkata akan membunuhmu di depan mataku dan ketika melihatnya tadi hampir menembakmu, aku nyaris mati rasanya. Aku sadar bahwa aku mungkin saja tidak bisa bertemu denganmu lagi, jika aku memiliki waktu untuk melanjutkan hidup, aku tidak akan menyia-nyiakan waktuku denganmu. Tak peduli cincin apapun yang kau berikan padaku, aku akan menerimanya.”

Ye Sung balas memeluknya. Ia sangat bahagia. “Oh Tuhan, Eun Ri.. aku sangat lega kau baik-baik saja. Aku berjanji akan segera menikahimu begitu kasus ini selesai. Sekarang sebaiknya kita pergi. Kita ke rumah sakit. Luka-lukamu harus diobati.” Ia membopong Eun Ri ke dalam pelukannya.

“Aku bisa berjalan.” Eun Ri mengeluh, namun sebenarnya ia tidak keberatan.

“Ssst, kau terluka. Dan kau pasti lelah setelah melewati hari yang begitu berat.”

Ye Sung memang benar. Eun Ri merasa sangat lelah, seperti baru saja berlari maraton seharian. Eun Ri menyandarkan kepalanya pada bahu Ye Sung. Ia lega, semuanya sudah berakhir. Kini, ia bisa tidur dengan tenang.

***

Dokter mengatakan memar-memar yang didapat Eun Ri tidak terlalu parah. Akan sembuh setelah beberapa hari beristirahat. Ye Sung lega. Ia meminta agar Eun Ri dirawat saja, namun Eun Ri menolak keras dengan dalih banyak pekerjaan kantor yang tidak bisa dia tinggalkan mengingat beberapa hari lagi majalah Ribbon akan segera terbit.

Setelah perdebatan panjang–yang berhasil menarik perhatian suster dan penghuni rumah sakit lain–akhirnya Ye Sung mengalah. Tetapi Eun Ri akan tinggal di rumahnya agar Ye Sung bisa mengawasinya.

“Kau tidak memberitahu orang tuaku tentang kejadian ini, bukan?” tanya Eun Ri. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran rumah sakit. Langit sudah gelap. Eun Ri menyadari ia disekap seharian di gedung itu.

“Tidak. Kau tenang saja.”

“Syukurlah. Aku tidak mau membuat mereka khawatir. Terutama ibuku.”

Mereka tiba di samping mobil. Ye Sung membukakan pintu untuk Eun Ri, membantunya duduk, setelah itu ia menutup pintu. Ye Sung hendak masuk ke sisi lain mobil, namun ia berhenti ketika ia melihat sosok Jin Ki berdiri di bawah pohon. Kegelapan nyaris menelan sosoknya. Orang lain mungkin akan melewatkan keberadaannya di sana jika tidak memerhatikan dengan seksama. Tetapi Ye Sung tidak, ia sudah melatih sensitivitas inderanya sehingga ia tidak akan melewatkan sesuatu semacam ini.

Jin Ki melambaikan tangan. Ye Sung paham isyarat itu. Ia meminta Eun Ri untuk menunggu sebentar sementara ia akan bicara pada Jin Ki. Ia ingat, urusannya dengan bocah itu belum selesai.

“Kau benar-benar keras kepala.” adalah kalimat pertama yang Ye Sung lontarkan begitu tiba di hadapan Jin Ki.

Pemuda itu mengangkat alis sebelah. “Keras kepala? Aku hanya menagih janji.”

“Huh? Bertransaksi dengan kriminal memang tidak pernah menyenangkan.” Ye Sung menggerutu, tetapi tetap merogoh saku jasnya lalu melemparkan pada Jin Ki benda yang dijanjikannya sebagai alat tukar jikalau Jin Ki membantunya membebaskan Eun Ri.

Ye Sung tidak akan pernah mau berlutut lagi. Tetapi ia tidak bisa melupakan apa yang terjadi di rumah Jin Ki beberapa jam yang lalu. Setelah beberapa waktu Jin Ki tetap menolak menyerahkan permata sebagai tebusan untuk nyawa Eun Ri, akhirnya Jin Ki setuju juga.

“Baiklah.”

“Benarkah?” Ye Sung mengerjap gembira. “Kau bersedia menyerahkan permata-permata itu?”

“Tidak.”

Ye Sung merengut. “Apa maksudmu dengan tidak?”

“Aku bermaksud memberimu solusi alternatif.” Jin Ki menyeringai. Ye Sung tidak mengerti sementara Suho dan Yoo hanya berpandangan ketika Jin Ki pergi sejenak ke kamarnya lalu kembali tak lama kemudian. Ia melemparkan sebuah bungkusan pada Ye Sung.

“Berikan itu pada si penculik. Dia hanya amatiran. Aku yakin dia tidak akan tahu perbedaannya.”

Ye Sung yang penasaran dengan maksud ucapan Jin Ki segera mengeluarkan isi bungkusan itu ke telapak tangannya. Ia terkejut saat mendapati permata-permata yang dicuri itu. Bukankah Jin Ki bilang dia tidak akan menyerahkan permata itu? Ye Sung memandang Jin Ki tidak mengerti.

Sebagai jawaban, Jin Ki mengangkat bahu. “Semua itu permata imitasi.”

“Apa?” Ye Sung dan yang lainnya menatap permata-permata itu dengan takjub. Tidak tampak seperti permata palsu karena kilauannya nyaris menyerupai yang asli.

“Aku menukar permata asli yang kucuri dengan permata imitasi. Hanya permatanya saja. Sisanya, mereka tetap rangka sama seperti yang kuambil dari pemiliknya. Sebenarnya aku bermaksud mengembalikannya setelah ditukar, tapi karena kau lebih membutuhkan mereka, ambil saja.” Jin Ki menyilangkan tangan di depan dada. “Dengan dua syarat, jika kau menerima saranku, kau tidak boleh menangkapku dan berikan padaku bros dengan berlian biru asli yang ada pada si pelaku.”

Ye Sung menggenggam bungkusan di tangannya,sejenak ia bimbang. Tidak ada waktu lagi. Ia harus puas dengan tawaran yang diberikan Jin Ki. Ia berharap Jin Ki benar, pelaku itu tidak akan menyadari perbedaannya. Sekarang prioritas utamanya adalah menyelamatkan Eun Ri.

“Baiklah. Aku akan menggunakan ini.”

Jin Ki menyeringai puas. “Apa kau setuju juga dengan syarat yang kuajukan?”

“Baiklah!” Ye Sung menggeram.

Setelah itu mereka segera menyusun rencana penyelamatan. Rencana berjalan lancar. Tak disangka Jin Ki memang benar, pelaku itu memang tidak bisa membedakannya, hanya menerima perhiasan-perhiasan itu begitu saja. Si pelaku telah terpedaya oleh perhiasan palsu.

Sekarang setelah segalanya usai, Ye Sung harus menepati janji. Ia menyerahkan bros milik Ibu Suho pada Jin Ki. Suho dengan wajah sebal menyerahkan padanya sore tadi. Wanita pelaku penculikan sendiri kini tengah berada di kantor polisi. Perhiasan palsu ditangannya dijadikan sebagai bukti. Kepolisian akhirnya mengumumkan bahwa Ox si pencuri telah tertangkap. Suho akan menanganinya. Dan ketika berhadapan dengan Jin Ki saat ini, Ye Sung benci pada dirinya sendiri karena merasa berterima kasih pada seorang pencuri.

“Kembalikan setelah kau menyelesaikan urusanmu dengan semua permata itu,” ujar Ye Sung pada Jin Ki yang masih menatap bros di tangannya.

“Terima kasih, Jaksa Kim, karena telah percaya padaku dan tidak menahanku.” Jin Ki tersenyum.

Ye Sung menggerutu. “Jangan berterima kasih. Kau membuatku merasa bersalah.”

“Tentu saja.” Jin Ki memasukkan bros itu ke dalam saku jaketnya.

“Omong-omong, bagaimana bisa kau menyatukan berlian-berlian itu?” tanya Ye Sung bingung.

“Aku merakitnya. Kau tidak tahu bahwa aku mendapatkan kemampuan istimewa ini dari ayahku? Dia juga yang membuat kalung yang dulu di berikan pada ibuku. Maka dari itu ibuku amat mengistimewakan kalung itu,” jawab Jin Ki dengan bangga.

“Baiklah. Sepertinya kau memang memiliki banyak keterampilan.”

“Kalau begitu, selamat tinggal. Semoga kau sukses dengan pernikahanmu.” Untuk pertama kalinya, Jin Ki membungkukkan badan sebagai bentuk penghormatan. Ye Sung mengerjap. Ia memerhatikan sosok Jin Ki sampai lenyap ditelan kegelapan malam.

Ye Sung mendapatkan firasat, urusannya dengan Jin Ki belumlah usai.

***

Beberapa hari kemudian, Eun Ri sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Ye Sung lega. Ia pun disibukkan mengurus berkas-berkas kasus Ox untuk diserahkan ke pengadilan. Ia melirik kalendar dan menyadari tanggal pernikahannya sudah semakin dekat. Tersisa satu minggu lagi untuk mempersiapkan segala keperluan resepsi pernikahan. Ia gembira, tidak sabar untuk segera menjadikan Eun Ri istrinya. Namun, ada satu hal yang membuatnya merasa kurang.

Cincin pernikahannya. Benda itu masih ditahan sebagai barang bukti, sememtara berlian biru aslinya berada di tangan Jin Ki. Ye Sung tidak menginginkan cincin lain. Cincin itu begitu istimewa, dibuat memang untuk dirinya dan Eun Ri. Yeah, walaupun Eun Ri berkata tidak masalah, Ye Sung tetap merasa sedih.

Mungkin ia harus mencari cincin yang lain.

“Jaksa Kim, kita kedatangan tamu.”

Ye Sung tersadar dari lamunannya lalu menatap Yoo. Asistennya itu tersenyum lebar sambip menunjuk ke arah pintu. Ye Sung menoleh dan mengerjap. Lee Jin Ki melambaikan tangannya. Ye Sung langsung berdiri.

“Lihat siapa yang datang.”

“Kukira kau akan senang melihatku.” Jin Ki memasuki ruangan. Sebelum Ye Sung menyuruhnya, Jin Ki sudah lebih dulu duduk di sofa set yang disediakan di ruangan itu.

Ye Sung ikut duduk. “Sepertinya kau datang kemari bukan untuk memberi salam.”

“Memang bukan.” Jin Ki merogoh saku jasnya, lalu meletakkan sebuah bungkusan di atas meja lalu mendorongnya ke arah Ye Sung yang duduk di sofa di seberangnya. “Aku datang untuk mengembalikan permata-permata itu.”

“Oh,” Ye Sung mengerjap. “Apa ibumu menyukainya?”

Keceriaan di wajah Jin Ki meredup. “Dia tidak menyukainya. Tapi dia senang bisa melihat kalungnya kembali.” Ia diam, pandangannya menerawang. “Ibuku sudah meninggal dunia.

Ye Sung dan Yoo mengerjap mendengarnya.

Jin Ki terkenang kejadian dua hari yang lalu, ketika ia menemui ibunya yang terbaring di ranjang rumah sakit. Ia sempat mendapatkan kesulitan ketika akan mengajak ibunya keluar. Adiknya, Hee Rin sempat menentang tetapi untung saja ibunya menengahi dan bersedia pergi bersama Jin Ki ke atap rumah sakit. Jin Ki tidak bisa menyerahkan kalung itu di ruang rawat. Rawan sekali saksi dan ia bingung bagaimana menjelaskannya pada Hee Rin.

“Apa ini?” Ibunya bertanya-tanya saat Jin Ki memberinya kotak kado.

“Hadiah. Untuk Ibu. Kuharap Ibu akan menyukainya.” Ucap Jin Ki sambil merapatkan selimut yang menghangatkan tubuh ibunya. Angin di atap lumayan kencang walaupun matahari bersinar cerah hari itu

“Sekarang bukan ulang tahun Ibu.”

“Aku tahu. Tapi aku ingin memberi Ibu hadiah. Bukalah.”

Ibunya membuka kotak itu dan terkejut saat menemukan seuntai kalung bertatahkan berlian biru yang sangat indah. Modelnya memang berbeda, tetapi entah mengapa ia merasa tidak asing lagi. Tiba-tiba saja matanya berkaca-kaca untuk alasan yang tidak dipahami.

“Jin Ki, ini,” ia terbata-bata.

“Bagaimana? Ibu mengenalinya?” Senyum Jin Ki terbit. Ia tahu ibunya akan mengenali kalungnya yang dulu hilang walaupun bentuknya sekarang telah jauh berbeda. “Ibu benar, berlian pada kalung itu berasal dari kalung berlian milik Ibu yang dicuri dahulu.”

Ibunya seketika membekam mulut. “Tidak mungkin.”

“Ibu senang melihatnya lagi, bukan?” Jin Ki dengan bahagia berlutut di depan ibunya. “Aku sengaja mencarinya untuk Ibu. Aku ingin Ibu memilikinya lagi. Aku tahu Ibu merindukannya, sama seperti Ibu merindukan Ayah. Kalung ini hadiah dari Ayah yang pertama dan terakhir kalinya sebelum kalian..”

“Nak..,” ibunya menyela. Dengan tangannya yang lemah ia mengusap kepala Jin Ki. “Jangan ungkit-ungkit masalah itu lagi. Ibu mengerti maksudmu. Ibu memang merindukannya. Kalung ini, pernikahan kami. Tapi Ibu tidak akan pernah kembali pada ayahmu. Lihat kondisi Ibu sekarang, Ibu hanya akan menjadi beban bagi ayahmu.”

Jin Ki iba melihat kesedihan berpendar di bola mata ibunya. Ia memang berharap orang tuanya bisa kembali bersama, karena itu ia mati-matian mencari kalung yang hilang itu untuk menyatukan kembali ayah dan ibunya. Tapi ternyata memang tidak mungkin.

“Ibu bahagia, bukan? Aku memang berharap Ibu kembali pada Ayah, tapi aku ingin Ibu bahagia.” Jin Ki mengatakannya dengan nada memohon. “Karena itu, aku ingin Ibu menerima kalung ini.”

Jin Ki mengerjap ketika ibunya mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang. Ia mendongak. Bola matanya bergetar melihat ibunya tersenyum. Entah mengapa, seperti ada palu yang menghantam hatinya hingga membuat tenggorokan Jin Ki seakan tercekik.

“Ibu menghargai niatmu itu, tapi Ibu dengan tegas menolaknya.”

Jin Ki tersentak. Dari ekspresi ibunya, ia merasa ibunya tahu. Ia tidak berani menatap mata ibunya.

“Kalung ini, kau buat dari hasil mencuri, bukan?”

Tak ada jawaban dari mulut Jin Ki.

“Kau adalah orang yang dicari polisi dan jaksa itu, bukan?”

Dengan enggan, Jin Ki mengangkat wajahnya hingga berpandangan dengan mata ibunya. “Aku..”

“Ibu tidak ingin menerima benda hasil curian. Meskipun dahulu kalung itu dicuri dariku, sekarang kalung itu bukan milik Ibu lagi, melainkan milik orang lain.” Ibunya menyentuh pipi Jin Ki, menjalarinya dengan kehangatan. Dan detik itu, Jin Ki merasa sangat menyesal karena telah mengecewakan ibunya.

“Kau harus mengembalikannya.” Senyum ibunya semakin dalam. “Ibu tak memerlukan kalung itu untuk bahagia. Ibu memiliki kau dan Hee Rin. Kalian adalah anak-anakku yang paling berharga.”

Jin Ki memeluk ibunya. Ia meminta maaf karena sudah melakukan kesalahan. Ia terlalu naif, ia hanya melakukan apa yang menurutnya benar. Ia tidak memikirkan perasaan ibunya. Jin Ki sama sekali tak mengira hari itu merupakan pelukan terakhir ibunya. Beberapa jam kemudian, ibunya mendadak kritis dan menghembuskan napas terakhirnya.

Ingatan itu buyar. Jin Ki dengan cepat menghentikan lamunannya. Dengan cepat pula Jin Ki mengerjapkan matanya demi menghalau airmata yang mendadak mengumpul.

“Aku turut berduka.” Ujar Ye Sung sungguh-sungguh.

“Terima kasih. Ibuku meninggal dengan senyuman di bibirnya. Aku dan Hee Rin berada di sisinya hingga akhir.” Jin Ki merenung sesaat. “Kau benar jaksa Kim, ibuku tidak akan menyukai barang curian. Karena itu aku mengembalikannya secepat mungkin.”

“Memang sudah seharusnya.”

“Apakah aku masih harus menyerahkan diri?”

Ye Sung sambil tersenyum menjawab, “Tidak perlu. Karena kau mengembalikannya, Aku anggap kau hanya meminjam perhiasan itu dari pemiliknya. Lagipula kita sudah menangkap pencuri asli perhiasan itu, bukan?” Jika Jin Ki saja sudah menunaikan janjinya, maka Ye Sung pun harus melakukannya.

“Aku sudah menduga kau akan berkata begitu. Karenanya, sebagai ucapan terima kasih aku memberimu hadiah spesial.” Jin Ki memberikan kotak kecil pada Ye Sung. Apa lagi itu? Semoga bukan benda yang aneh.

Ye Sung segera membukanya begitu kotak itu berpindah ke tangannya. Ia langsung tersentak takjub. Isi kotak itu adalah sebuah cincin, ya, cincin pernikahannya yang hilang dicuri. Hanya saja cincin ini memiliki desain yang berbeda. Lebih indah, manis, dan langsung mengingatkannya pada Eun Ri.

“Lebih bagus dari rancangan Shin Ha Na, bukan?” ucap Jin Ki santai. Melihat Ye Sung melongo, tampaknya jaksa itu puas dengan cincin buatannya.

Tentu saja. Tapi Ye Sung tidak akan mengatakannya karena tidak mau membuat Jin Ki besar kepala. “Eun Ri akan senang menerimanya.”

“Dengan begitu, kita impas.” Jin Ki bangkit. Ia mengulurkan tangan, mengajak Ye Sung untuk menjabatnya. Ye Sung menyambut baik uluran tangan itu. “Aku berharap pernikahanmu berjalan lancar.”

“Terima kasih.” Ye Sung tersenyum.

Demikianlah, kasus Ox pun resmi ditutup. Jejak Jin Ki pun tak pernah tercium oleh polisi dan hanya akan menjadi rahasia di antara mereka. Dengan kasus ini Ye Sung menyadari satu hal, bahwa menyelesaikan sebuah kasus tidak berarti harus menangkap pelakunya. Tiba-tiba saja, Ye Sung ingin sekali bertemu dengan Eun Ri. Ia ingin membagikan kebahagiaan yang dirasakannya pada gadis yang akan menjadi istrinya itu. Ye Sung lekas pergi menemui Eun Ri yang sedang bekerja di kantornya.

“Tidak biasanya kau datang kemari.” Eun Ri terkejut melihat Ye Sung muncul di ruangan kantornya. Ia bangkit untuk menghampiri Ye Sung. “Kau tahu bukan, semestinya calon pengantin tidak boleh bertemu sebelum hari pernikahan tiba.”

Eun Ri nyaris kehabisan napas karena tiba-tiba saja ia dipeluk dengan begitu eratnya oleh Ye Sung. Dadanya berdegup kencang.

“A-ada apa?”

“Aku mencintaimu, Eun Ri,” bisik Ye Sung. “Aku senang memilikimu dalam hidupku.”

Bahu Eun Ri turun, ia lega. Ia mengira kedatangan Ye Sung yang terlalu mendadak disertai berita buruk. Rupanya ia salah. Ye Sung datang justru membawa kabar gembira.

“Aku juga.”

Ye Sung melepaskan Eun Ri. “Aku memiliki kejutan untukmu.” Ia tersenyum lalu menyodorkan kotak kecil ke hadapan Eun Ri. “Bukalah.”

Eun Ri membukanya. Ia mengerjap karena tak mengira akan menemukan sebuah cincin di dalamnya. “Oh Tuhan!” Eun Ri menarik napas tajam. Is membekam mulutnya dengan mata berkaca-kaca. “Kau mendapatkan kembali cincin pernikahan kita?”

“Ya.” Ye Sung bahagia. Ia memegang tangan Eun Ri. “Jadi, apakah kau sudah siap menikah denganku?”

“Tentu saja. Aku siap.” Eun Ri terharu. Kebahagiaan memenuhi setiap relung hatinya. Ia membiarkan Ye Sung menciumnya sebagai tanda cinta di antara mereka.

Mulai sekarang tidak ada lagi yang akan menghalangi mereka menuju ke pernikahan yang suci.

*** END ***

*eit, belum END kok, masih ada chapter epilog ^^

80 thoughts on “Shady Girl Yesung’s Story [Chapter 9-End]

  1. Yesung bener – bener pria yang gak romantis. Tapi syukurlah jinki cepat mengembalikan cincin pernikahannya yesung

  2. Akhirnya pncuri sbnrnya d tngkap,, daebak krja sm gank Yesung ama Jinki Ox brhsil….
    Pncuri itu mudah skli d klabui,, tdiny pncuri itu ingn mngkambing hitamkan Ox,,tdk taunya dy sndri yg d kambing hitamkan ksian skli… Wah gk trasa dgn ini kasusnya resmi d tutup… Dan skrg Yesung mrsa lega cincinnya udh dkmblikn,, jd deh nikah ama Eunrinya heheheheh
    slamat yaaaaa

  3. Wahh.. Akhirnya selesai juga. Keren, Eonn! Maunya d part epilog ada adegan romantis mereka berdua. Maaf y, Eonn, aku jarang komen. Tapi aku slalu ngikutin cerita Eonnie kok.
    Mian and gomawo. Keep spirit! Keep Writing, Je young Eonnie ☺

  4. ouhhh sweeetttt banget…. aku jadi pengen nyubit pipi yesung oppa juga wkwkwk… n kenapa jinki oppa ku jadi pencuri ya😦.. gak tegaaaa… huaaa… semangat ya eonni bwt nulis ff selanjutnya ya….🙂

  5. Huwaaahh keren..keren..
    Syukutlah ada suho,bener2 deg”an oas yesung mau di tembak..penculiknya psikopat,ampe nyakitin eunri juga..
    Untunglah jinki mau diajak kerja sama
    Kasusnya udh selesai..dapet cincin pernikahan yg lebih cantik,hadiah dari jinki..akhirnya mereka bakalan nikah
    Yeaahh selamat^^

  6. Huwaaahh keren..keren..
    Syukutlah ada suho,bener2 deg”an oas yesung mau di tembak..penculiknya psikopat,ampe nyakitin eunri juga..
    Untunglah jinki mau diajak kerja sama,akhirnya jinki sadar abis dpet nasehat dari eommanya
    Kasusnya udh selesai..dapet cincin pernikahan yg lebih cantik,hadiah dari jinki..akhirnya mereka bakalan nikah
    Yeaahh selamat^^

  7. Happy end…terharu adegan jinki dan ibunya..disaat hembusan nafas terakhirnya dia bisa mengenang masa lalunya lewat permata Yg dicuri oleh Ox tapi akhirnya permata itu dikembalikan kepada pemiliknya…

  8. Akhirnya selesai juga sesi penuh ketegangan..berakhir happy..
    Syukurlah jinki mengembalikan semua perhiasan yg dicurinya…
    Dan pernikahan yesung dan eunri pun tidak terancam…

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s