Romance Scandal [Chapter 2]

Tittle : Romance Scandal Chapter 2
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance

Romance Scandal by Dha Khanzaki

Dha’s Speech:
Eehh.. kok langsung ceramah aja… hehehe.. aku bingung nulis castnya nih.
Maaf ya baru diposting lagi sekarang setelah kemarin ada kesalahan, terus karena FF ini masuk project novel baru, jadi maaf juga kalau postingnya tidak menentu ^_^
Aku kadang-kadang labil sih, kadang pengen diposting, kadang gak mau diposting, jadinya lama deh. hahahahahaha

Oh iya, untuk seemua temen-temen pembaca setia di sini, sekali lagi aku imbau untuk tidak mengkopi paste, posting ulang, apa lagi plagiat ff di sini ya, aku gak mau sampai kejadian seperti FF-FF sebelumnya, jadi terpaksa aku password FFnya, aku gak suka loh ngepassword FF, tapi terpaksa yah kalau aku dijahatin duluan *hiks* dan buat yang kasih saran supaya postingannya gak bisa dikopi paste, makasih banyak atas sarannya ^^, aku udah coba tapi sayang banget gak bisa karena blog ini bukan blog berbayar alias gratis *sedih* jadi aku cuma bisa berharap kejujuran dan ketertiban temen-temen semua. Biar kita sama-sama enak, temen-temen enak dan bebas baca FF di sini, aku bisa tenang dan gak perlu khawatir dengan keamanan FF aku ^^

Tersinggung atau gak suka sama kebijakan yang aku terapkan di sini? Monggo klik tombol kembali. Jadi gak perlu lagi nulis komentar-komentar bernada menghujat atau menghina. Toh selama ini aku gak pernah larang siapapun baca FF di sini, gak ngemis like atau komentar juga, aku juga welcome ama sider, aku cuma minta untuk tertib dan jujur aja kok, gak susah kan. hehehehe.

Terima kasih atas pengertiannya, dan selamat membaca ^_^

===o0o===

CHAPTER 2
Haunted by Dangerous Man

KEESOKAN HARINYA, Anne masih ketakutan akan dibunuh oleh pengawal Sang Pangeran. Ia sangat berhati-hati ketika berangkat ke kampus. Semalaman Anne tidak bisa tidur. Selain mengerjakan tugas Mr. Garrick ia juga merasa paranoid, waspada pada suara sekecil apapun. Anne takut orang-orang itu berhasil menemukannya. Anne tidak bisa memberitahu Steph tentang apa yang dilihatnya di dermaga. Ia tidak ingin Steph terseret bahaya.

Ketika keluar apartemen, Anne sadar berpakaian agak berlebihan. Ia memakai sweter berhoodie untuk menutupi kepalanya. Anne melirik kanan-kiri, hati-hati keluar dari apartemen sewaannya. Steph sudah berangkat lebih dulu sehingga Anne tidak bisa ikut mobilnya. Setelah ia tidak mendapatkan satu pun situasi mencurigakan, Anne sadar keadaan di luar aman-aman saja. Ia merasa konyol karena khawatir secara berlebihan. Melirik ke samping gedungnya, Anne menahan nafas melihat Brian sedang mengeluarkan mobil dari garasi gedung apartemennya. Gedung apartemen tempat Brian tinggal jauh lebih baik kondisinya dan harga sewanya pun lebih mahal sehingga terkadang Anne malu saat Brian menangkapnya keluar dari gedung apartemennya yang sederhana dan usang.

Brian menyadari sedang ditatap Anne. Tepat sebelum Anne sadar bahwa ia sedang memerhatikannya, Brian menoleh tepat ke mata Anne. Pertemuan pandangan itu menyentak Anne secara fisik dan mental, membuatnya salah tingkah.

“Hai.” Seru Anne malu, terlanjur pasca tertangkap basah. Tak disangka Brian tersenyum.

“Berangkat ke kampus? Mau ikut bersamaku?”

“Sungguh?” Anne tanpa sadar memekik. Bayangan Brian mengajaknya naik mobil bersama tidak pernah terlintas dalam mimpi terliar Anne sekalipun. Bagaimanapun mimpi itu terlalu indah untuk diimajinasikan dan Anne tidak berani berkhayal karena takut ia akan kecewa pada akhirnya.

Brian tertawa melihat Anne terkesima, “Tentu saja, ayo.”

Sebelum Brian berubah pikiran, Anne berjalan mendekat, menyapanya sekali lagi untuk memastikan ia tidak salah dengar. Begitu Brian membukakan pintu untuknya, Anne tersipu lalu menyelinap masuk ke dalam mobil. Sejenak, Anne mengamati interior mobil Brian yang mewah dan serba-canggih. Semuanya tampak eksklusif sehingga Anne tidak berani menyentuh apapun selain hoodie-nya lalu menurunkannya secara perlahan.

Mobil pun mulai bergerak.

“Terima kasih sebelumnya karena sudah memberiku tumpangan.”

“Senang bisa membantu teman.” Brian tersenyum sambil mengemudikan mobil.

Berdua saja dengan Brian membuat Anne gugup. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Anne akhirnya memeluk tasnya. Ia tidak mau tangannya yang canggung menyentuh instrumen apapun. Interior mobil Brian sangat mewah dan berkelas. Tentu saja, Ford Mustang adalah jenis mobil yang diinginkan hampir seluruh anak remaja di Amerika. Brian beruntung bisa mendapat Mustang sebagai mobil pertamanya.

Mobil pertama Anne adalah sebuah Volkswagen Beetle model lama dan sudah tua yang dibeli ayahnya dari tempat penjualan mobil bekas. Benda rongsokan yang entah bagaimana Anne anggap sebagai hartanya yang berharga. Mobil itu pun menjadi salah satu benda yang dilelang bank. Sekarang Anne tidak punya mobil, hanya sepeda lama hadiah natal terakhir dari Ibunya. Anne menolak melelang benda itu. Sepeda itu adalah satu-satunya benda yang membuatnya teringat bahwa ia sangat disayangi.

“Apa yang membuatmu bertengkar dengan Silvia kemarin? Tidak biasanya.”

Kemarin, benarkah aku terlibat adu mulut dengan barbie berotak kosong itu kemarin? Rasanya sudah bertahun-tahun yang lalu. Seketika Anne pun teringat bahwa kemarin pula ia menyaksikan kejahatan Sang Pangeran.

“Hanya urusan wanita.” Anne tersenyum kecut. Lihat saja, setelah tugasnya dibaca Mr. Garrick, semua orang akan tahu identitas Sang Pangeran lengkap dengan pekerjaan kotor yang dilakukannya. Anne tidak sabar untuk segera memberikan makalahnya pada dosennya itu. Lebih cepat menguak kejahatan Sang Pangeran, lebih baik.

“Silvia bercerita bahwa kau gadis berbahaya dan aku harus menjauh darimu.”

“Itu yang dia katakan?” Anne tertarik. Tidak heran Silvia berkata begitu. Silvia pasti dendam karena Anne sudah mempermalukannya. “Jadi kau akan menjauhiku mengikuti kata-kata Silvia?” Anne akan sakit hati jika Brian berkata iya.

“Itu konyol sekali, Anne. Aku tahu kau tidak berbahaya. Kau bukan tipe gadis yang akan menjerumuskanku ke dalam musibah.”

Anne merinding. Ia sadar bahwa kemungkinan Brian akan terancam bahaya jika terus ada di dekatnya. Siapa yang tahu, mungkin saja sekarang Anne sedang diincar oleh pembunuh bayaran atas perintah Sang Pangeran. Anne agak panik. Ia tidak boleh berada terlalu lama di dekat Brian, ia tidak ingin melibatkan Brian ke dalam masalahnya.

Tepat saat itu mereka sudah tiba di area parkir kampus UCLA. Anne lekas melompat turun dari mobil Brian.

“Sekali lagi, terima kasih sudah memberiku tumpangan!” Seru Anne terburu-buru. Brian tak sempat menjawab karena Anne sudah menghilang dari pandangannya. Ia heran, sikap Anne berubah drastis sejak ia menyinggung tentang Silvia.

—o0o—

“Aku tidak akan membiarkan Brian terseret bahaya. Mulai sekarang aku harus menjauh darinya. Tapi sebelum itu..” Anne menarik napas. Ia sudah tiba di ruang Mr. Garrick, siap menyerahkan tugas sebelum jam pertama kuliahnya dimulai. Anne sangat yakin tugasnya akan diterima dengan tangan terbuka. Karenanya Anne begitu percaya diri ketika menunggu Mr. Garrick memeriksa lembar-perlembar tugasnya dengan sangat serius.

Aku akan mendapatkan penghargaan karena sudah mengangkat topik yang amat berguna untuk tugasku, paling tidak penghargaan Pulitzer ada di tanganku.

Anne diam-diam menyeringai. Ia membayangkan Mr. Garrick dengan ekspresi bangga bangkit dari tempat duduknya lalu menjabat tangan Anne sambil memberinya selamat; kau sungguh jenius Julianne Shin, bagaimana pun aku tidak pernah mendapatkan berita semengagumkan ini selama sepuluh tahun! Kau berhak mendapatkan nilai A plus untuk tugasmu. Berita yang kau sajikan bisa menyelamatkan banyak orang. Oh Tuhaan, aku tidak percaya bahwa aku hampir saja menggagalkan masa depanmu yang cemerlang!

“Ini tidak bisa diterima. Topik yang kau angkat sangat tidak masuk akal.”

Lamunan Anne buyar. Anne terperangah tak percaya. Ia berharap telinganya salah dengar. “Sir, Anda mengatakan aku harus mengangkat topik yang lebih menggigit. Aku sudah mengikuti saran Anda. Tidak ada topik yang lebih pantas untuk dibahas daripada topik mengenai Sang Pangeran. Anda sudah membacanya bukan, sosok misterius yang dikagumi para gadis itu ternyata seorang kriminal.”

Mr. Garrick melempar tugas Anne ke atas meja dengan tampang kesal. Anne tersinggung melihat hasil kerja kerasnya semalaman diperlakukan bagai sampah. “Topik yang kumaksudkan adalah topik yang menginspirasi dan berguna untuk kepentingan orang banyak. Sementara berita yang kau ulas tidak berguna apalagi menginspirasi. Kau menyajikan sebuah gosip, sebuah skandal. Apa setelah lulus kau berniat bekerja di sebuah majalah gosip picisan?”

Anne naik pitam, “Sir, aku tidak memberi Anda sebuah gosip, itu fakta. Aku bahkan melampirkan bukti yang kuambil langsung pada hari kejadian.” Dengan tidak sabar Anne menunjukkan foto-foto yang dilampirkan di halaman terakhir tugasnya berharap Mr. Garrick bisa melihatnya dengan jelas. Tetapi Mr. Garrick justru menepis tugas itu, raut wajahnya semakin menyeramkan.

“Omong kosong! Kau tahu, Joshua Tan, orang yang kau sebut dalam tugasmu adalah pahlawan bagi kampus kita. Dia telah memberikan hibah yang amat murah hati untuk dana pendidikan dan beasiswa bagi mahasiswa yang membutuhkan. Berani-beraninya kau menuduh dia sebagai otak kriminal. Kau mungkin saja salah orang.”

Mulut Anne menganga lebar. Ia tidak percaya Mr. Garrick bahkan menuduhnya mengada-ngada sementara ia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk mendapatkan info eksklusif ini. Memang kenapa jika Joshua Tan adalah seorang dermawan, itu bisa saja topeng yang dia pakai untuk menutupi kejahatannya. Lagipula ia bodoh sekali, mengapa ia tidak menyelidiki fakta bahwa Sang Pangeran memiliki hubungan dengan kampusnya? Jika ia tahu ia yakin bisa membalas kata-kata menyebalkan dosennya.

“Tapi Sir,”

“Tugasmu kembali kutolak. Maaf, aku sepertinya tidak bisa mengizinkanmu ikut prom.”

Anne mencelos. Bahunya merosot ke bawah. Hasilnya sungguh di luar dugaan. Anne tidak percaya setelah ia berjuang begitu keras, ia tetap tak bisa pergi ke prom.

Selamat tinggal prom, batinnya.

Mr. Garrick menangkap kesedihan Anne, pria paruh baya itu bersimpati. “Baiklah. Aku beri kau kesempatan terakhir. Dapatkan berita lain untuk tugasmu dan dua hari lagi kau harus menyerahkannya padaku. Terlambat sedikit saja, kau harus menyerah dengan kelasku dan kau benar-benar tidak boleh datang ke prom akhir pekan nanti. Mengerti!”

Meskipun itu adalah berita menggembirakan, Anne tidak terhibur sedikit pun. Ia tidak menyembunyikan kekecewaannya ketika keluar dari ruangan Mr. Garrick. Ia terpuruk di sudut lorong dekat toilet wanita.

“Anne,” Steph menyentuh bahunya. “Jangan menyerah, sayang. Kau masih memiliki waktu untuk memperbaiki tugasmu. Aku yakin kau bisa melakukannya. Tiket masuk untuk prom masih bisa kau dapatkan.”

Anne menggelengkan kepala yang terbenam di lututnya. “Matahari untukku sudah terbenam. Tidak ada harapan lagi. Aku tidak mendapat ide apapun. Meskipun sudah kuserahkan tugas itu, terlambat untuk mencari pendamping. Saat itu semua pria pasti sudah memiliki pasangan. Selamat bersenang-senang untukmu, Steph. Aku tidak akan ikut.”

“Jangan khawatir, Anne. Aku yakin beberapa pria culun belum mendapat pasangan.” Hibur Steph. Anne mengangkat kepala, menatap sahabatnya dengan jejak airmata berlelehan di pipi.

“Siapa yang akan kau ajak?”

“Mungkin Charlie.” Steph mengangkat bahu.

“Kudengar dia sudah mengajak Dominique.”

“Oh sial, aku terlambat. Mungkin aku akan mengajak bayanganku sendiri.”

Candaan Steph menggelitik rasa humor Anne, ia terkekeh geli. “terima kasih sudah menghiburku, Steph. Perasaanku sudah lebih baik sekarang.”

“Jadi kau tidak akan berhenti, bukan?”

“Paling tidak aku harus berusaha sampai titik darah penghabisan.”

“Benar!” Steph lalu mengajaknya pergi menuju kelas pertama mereka hari itu.

—o0o—

Anne menolak ajakan Steph pergi ke spa seusai jam kuliah berakhir. Ia harus bekerja, ia juga tidak bisa bersantai karena masih harus memikirkan ide baru untuk tugasnya. Anne belum menemukan ide. Mengapa otaknya menjadi sulit sekali bekerja? Apa yang salah? Apa sebaiknya ia menyerah saja?

Konsultasi dengan rekan satu pekerjaannya pun tidak banyak membantu. Anne pulang dalam keadaan hampa. Malam sudah larut dan jalanan yang dilalui Anne sangat sepi. Anne mencoba tenang tetapi pikirannya dipenuhi bayangan tentang hal-hal buruk yang mungkin terjadi di jalanan sepi pada malam hari. Bukankah tindak kriminal paling mudah dilakukan di waktu seperti ini? Meskipun daerah itu aman, tetap saja Anne merasa bahaya sedang mengintainya.

Anne mempercepat langkahnya begitu ia merasa diikuti. Ia tidak berjalan sendirian. Seseorang yang tak terlihat wujudnya sedang diam-diam membuntutinya. Siapa? Mungkinkah salah satu anak buah Pangeran? Anne nyaris berlari. Tinggal satu blok lagi ia akan tiba di gedung apartemennya.

“Stop there, lady!”

Seluruh langkah Anne tersendat. Sebelum ia menyadari maut sedang menghampirinya, ia sudah dikelilingi oleh beberapa pria berjas hitam. Anne terkepung beberapa detik kemudian. Tak ada jalan kabur. Anne memandangi mereka dengan galak. Meskipun tampak rapi dan berkelas, tampang mereka tetap membuat Anne resah.

“Siapa kalian!” teriak Anne. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru berharap menemukan ide untuk melarikan diri atau lebih beruntung, bantuan dari seseorang.

“Kau tidak ingat pernah pergi ke dermaga kemarin?” tanya salah seorang. Anne pucat pasi begitu mengenali sosok pria yang kemarin mengawal Sang Pangeran. Jadi gerombolan pria ini adalah suruhan pria itu?

“Apa yang kalian inginkan?” Anne mundur. Ia mencengkeram tasnya.

“Kau. Master menginginkanmu ikut dengan kami.”

“Jangan harap!” dengan gesit Anne mengambil tutup tong sampah yang ada di dekatnya lalu melemparkannya ke salah satu dari mereka. Anne berhasil membuka jalan untuk melarikan diri.

“Kejar dia, jangan sampai lepas!” Ia menggunakan kemampuan berlari cepatnya semaksimal mungkin, tetapi Anne sadar ia berlari ke arah yang salah. Bukannya menuju gedung apartemennya, Anne justru berlari semakin menjauh. Ia memasuki gang gelap di antara gedung perkantoran yang kosong di malam hari. sepatu ketsnya berdecit di lantai ketika Anne melihat pria-pria itu menghadang jalannya. Ia memutar arah namun jalan yang satunya pun telah diblok. Ia kembali terjebak.

“Aku berjanji tidak akan menceritakan apa yang kulihat pada siapapun.” Anne terengah. Rambutnya semakin berantakan karena teracak-acak angin saat berlari. Ia berkeringat, ketakutan, dan panik. Ia memohon belas kasihan pada mereka.

“Percuma saja kau memohon.”

Pria-pria itu langsung membukakan jalan dan Anne melihat seseorang berjalan memasuki lingkaran dengan langkah luwes dan tenang. Anne tersentak ketika mengenali Joshua Tan, sosok Sang Pangeran yang ia tahu telah menembak dua orang mafia kemarin malam di dermaga.

“Kau harus ikut kami, Julianne Shin.”

Anne tercengang ketika Sang Pangeran menggumamkan namanya dengan nada misterius. Pria itu sudah tahu identitasnya!

“Aku berjanji akan tutup mulut tentang identitasmu. Aku tahu kau tidak ingin para gadis mengetahui fakta bahwa pria pujaannya adalah seorang otak kriminal. Bukan begitu, The Prince?” Anne meninggikan nada suaranya saat menyebut Sang Pangeran, semacam sindirian sekaligus menegaskan bahwa ia tidak takut.

Joshua memiringkan kepala, tampak geli. “Kau salah orang, nona. Aku bukanlah Sang Pangeran. Aku hanya pesuruhnya yang tak berguna dan lemah.”

“Apa?” Anne terkejut. “Aku tidak akan tertipu bualanmu.” Pria ini pasti mencoba menipunya, dia hanya sedang menutupi kedoknya dengan kebohongan lain.

“Aku memberimu kesempatan memutuskan,” Joshua berjalan memutarinya dengan santai, “Ikut denganku secara sukarela, maka aku tidak akan menyakitimu.”

“Jika aku memilih tidak?”

“Maka aku akan memakai cara keras untuk membawamu pergi.”

“Apa yang akan kau lakukan padaku jika aku ikut bersamamu?”

Joshua berhenti, ia menatap Anne dengan raut tertarik. “Sayangnya bukan aku yang memutuskan apa yang harus dilakukan padamu. Master yang menentukannya.”

“Master?”

“Sang Pangeran yang sesungguhnya.”

Anne tersedak. Jadi Sang Pangeran memang orang lain, Mr Garrick benar, Anne telah salah menuduh orang. Tidak, ia harus pergi. Tidak ada alasan untuk ikut bersama pria ini.

“Aku tidak mau ikut denganmu!” Anne berbalik pergi.

Joshua mendesah, “pilihan yang pintar.” Ia mengeluarkan pistol lalu mengarahkannya pada Anne yang sudah melarikan diri. Dalam hitungan detik pistol itu meletus, mengarah tepat ke tengkuk Anne.

Tubuh Anne tersentak ketika menerima tembakan itu. Anne merasakan sakit di lehernya lalu dengan cepat tubuhnya ambruk ke tanah dan kesadarannya menguap bersama napas yang keluar dari paru-parunya.

Joshua memasukkan pistolnya kembali ke balik jas. Ia menghampiri sosok Anne yang terkapar di tanah dengan ekspresi lelah tapi lega. Ia mengeluarkan ponsel lalu menghubungi seseorang.

“Kau sudah mendapatkannya?”

“Ya, Master.” Ungkap Joshua singkat. “Dia sedikit sulit diajak bernegosiasi. Terpaksa aku menembakkan peluru bius padanya. Dia sekarang tidak sadarkan diri tepat di dekat kakiku.”

“Bawa dia ke mari.”

“Maaf?” Joshua merasa ia salah dengar. “Maksud Anda ke rumah?”

“Ya, ke mana lagi. Malam ini aku ingin bersenang-senang dengannya.”

“Master, dia hanya anak-anak. Dia tidak akan memuaskanmu.” Joshua menyimpulkan hal itu setelah mengamati wajah Anne. Gadis ini tidak mungkin berumur lebih dari dua puluh tahun.

“Apa kau menyelidikinya dengan benar? Dia seorang mahasiswa. Umurnya sudah dua puluh satu tahun. Secara hukum dia sudah bisa meminum alkohol.” Sang Master mengejek ketika mengatakan kalimat terakhir. Joshua membungkuk lalu menggeledah tas Anne, ia menemukan tanda pengenal Anne lalu membacanya. “Kau benar Master, dia bukan anak-anak.”

“Nah, kau tunggu apalagi. Bawa dia padaku.” Joshua mengangguk patuh meskipun sedang bicara di telepon. Setelah mengakhiri pembicaran, ia menatap Anne sejenak.

Joshua memiliki firasat gadis ini akan menyulitkan.

“Jangan sentuh, biar aku saja.” cegahnya ketika salah satu anak buahnya akan membopong tubuh Anne. Ia berjongkok lalu mengangkat tubuh Anne dengan mudah, melemparkan Anne ke bahunya seperti sekarung beras.

—o0o—

Bau harum teh melati membawa Anne kembali ke dunia nyata. Terakhir kali yang ia ingat ia jatuh terjerembab ke tanah setelah merasakan sentakan nyeri di tengkuknya seperti benda tajam ditusukkan di sana secara tiba-tiba. Anne membuka mata perlahan-lahan. Pemandangan yang ia lihat sekarang bukanlah gang gelap tempat ia terjatuh, melainkan langit-langit putih dengan ukiran indah dan lampu kandelar mewah yang memancarkan sinar kekuningan.

Di mana aku? Aku pasti sedang bermimpi.

Anne merasa disorientasi. Ia tidak mengenal tempatnya berada dan tidak ingat bagaimana ia bisa berada di sana. Anne menjulurkan tangan dan menepuk-nepuk tempat di sampingnya. Kulit Anne merasakan alas yang lembut dan empuk. Ia berbaring di sebuah ranjang dengan seprai berbahan sutera dan bed cover dari bulu angsa. Ranjang itu sangat nyaman hingga membuat Anne berpikir untuk tidur kembali. Tetapi tenggorokannya terasa kering. Menoleh, Anne menemukan segelas jus jeruk yang terlihat segar. Ia meraihnya lalu meneguk isi gelas itu hingga tandas. Ia mendesah lega lalu kembali membaringkan diri.

Mungkin aku berada di surga. Pria tadi pasti sudah membunuhnya. Anne tersenyum, tempat ini lebih baik. Siapa tahu ia bisa bertemu dengan orang tuanya.

“Jika kau sudah sadar, bisakah kita bicara?”

Suara dari mana itu? Anne tersentak sadar begitu ia mendengar suara seorang pria tak jauh dari tempatnya. Matanya menatap nyalang ke langit-langit. Ia menoleh ke kiri dan kanan, menangkap sebagian besar dekorasi kamar yang sangat mewah, bergaya serta rapi. Interiornya mirip seperti gambaran dalam otaknya tentang sebuah kamar tidur di istana.

Tunggu, kamar tidur? Anne bangkit dengan cepat dan memekik menyadari dirinya hanya memakai celana dalam serta bra. Mengapa ia berbaring dalam kondisi hampir telanjang? Ke mana bajunya?

“Kau sangat lucu saat panik.”

Pandangan Anne tertoleh ke sumber suara. Nyaris menjerit begitu menemukan sosok pria dalam balutan jas kasual sedang duduk di kursi di tengah ruangan, menghadap ke arahnya. Pria itu sedang menikmati teh dan pemandangan Anne yang panik.

“Siapa kau, apa yang kau lakukan di sana!” Anne melayangkan tatapannya yang paling kejam. Tangannya menarik bed cover hingga menutupi lehernya. Mengapa Anne tidak menyadari keberadaan pria asing itu lebih cepat?

“Tidak sopan berkata begitu pada tuan rumah.” Pria itu meletakkan cangkir tehnya, lalu bangkit. Anne menatapnya waspada saat pria itu mendekati tempat tidur, “Tapi karena kau sudah bertanya, perkenalkan namaku Marcus Cho.” Menarik tangan Anne tanpa diduga, Anne mengerjapkan mata begitu satu kecupan manis menempel di punggung tangannya. “Oh ya, kau juga berada di rumahku, tepatnya di kamarku.”

“Apa?!” terlalu kaget Anne menarik tangannya dari genggaman Marcus. “Siapa kau sebenarnya!”

Marcus Cho menatapnya penuh minat, “Kau tidak ingat aku? Bukankah kemarin malam aku baru saja mengakuimu sebagai kekasihku?”

Detik itulah Anne baru mengenali sosok Marcus yang sebenarnya. Bagaimana bisa ia melupakan pria aneh yang mengaku sebagai pacarnya hanya untuk menolongnya masuk Emperor Club?

“Kau..kau..” Anne gemetar menyadari fakta lain. Bukankah pria ini adalah ajudan Sang Pangeran, tetapi Sang Pangeran yang ia duga bukanlah sosok Sang Pangeran yang sebenarnya. Lalu siapa Marcus Cho ini?!

“Aku sungguh terkesan dengan keberanianmu, Julianne Shin. Kau mengikutiku dan secara tidak sengaja menyaksikan transaksi rahasia kelompokku dengan salah satu geng mafia paling berbahaya di California.” Pria itu berjalan kembali ke kursinya hanya untuk menarik sebuah dokumen yang sangat dikenali Anne sebagai tugasnya untuk Mr. Garrick.

“Hei, siapa yang menyuruhmu menggeledah tasku!” teriak Anne. Ia ngin merebutnya tetapi ia tidak mungkin bangkit dan mempertontonkan tubuhnya yang terbuka pada Marcus.

Tetapi Marcus tidak memedulikan teriakan Anne, pria itu membaca tugas yang dibuat Anne tentang Sang Pangeran dengan santai, “Wow, kau bahkan memuat artikel tentangku ke dalam tugasmu.” Marcus kemudian membaca sepenggal paragraf dalam makalah yang Anne buat dengan susah payah dengan nada menyebalkan, “Sang Pangeran si penakluk wanita dari California ternyata seorang penjual senjata ilegal. Siapa yang menyangka, wajah tampan yang selama ini digunakannya untuk menarik banyak wanita ke tempat tidur hanyalah sebuah topeng. Joshua Tan, adalah nama Sang Pangeran yang sebenarnya. Berdasarkan beberapa bukti yang di ambil langsung dari tempat kejadian, dia bersama beberapa anak buahnya melakukan transaksi ilegal di sebuah dermaga dan melibatkan kelompok mafia terkemuka Los Angeles. Whoaa, kau sangat lugas dan langsung. Kau sepertinya menuangkan begitu banyak dendam dalam artikelmu.” Marcus terkesan. “Tapi sayang sekali, kau menyebutkan orang yang salah.” pandangannya yang dingin memaku Anne. Seketika, Anne seperti sedang disiram air es dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Joshua Tan bukanlah Sang Pangeran, dia adalah ajudanku.” Marcus menyunggingkan senyum mematikan, “akulah Sang Pangeran.”

Mustahil! Anne begitu tercengang hingga ia tak bisa berkata-kata. Mulutnya nyaris menganga menatap sosok Pangeran yang sebenarnya. Pantas saja ketika pertama kali bertatapan dengan Marcus, Anne merasakan aura yang kuat, begitu mengintimidasi dan tegas. Dibantu dengan penampilan yang rupawan, pembawaan tenang namun dominan menjadikan sosok Marcus Cho sebagai seorang Pangeran yang keluar dari negeri dongeng.

Tetapi di balik kesempurnaan itu, Marcus adalah sosok yang kejam, bengis, dan tak kenal ampun.

“Dilihat dari betapa lugas dan menggebunya artikel buatanmu, aku menyimpulkan kau sangat bernafsu membeberkan kejahatanku pada semua orang.” ungkap Marcus menyadarkan Anne kembali ke dunia. Ia ketakutan, tetapi ia berusaha menyembunyikannya.

Pria ini akan membunuhku, cepat atau lambat. Pikir Anne.

“Tapi seperti yang kau bilang, aku menyebutkan orang yang salah. Kalau begitu aku tidak berhasil membongkar identitasmu, bukan? Lagipula tugas yang kubuat itu tidak diterima oleh dosenku. Karena itu kau jangan khawatir, rahasiamu tetap aman.” Tugas Anne.

“Hmm, poin yang bagus.” Marcus mengangguk setuju. “Tapi, aku tetap tidak bisa membiarkanmu berkeliaran dengan bebas di luar sana.”

“Aku berjanji tidak akan berkata apapun tentangmu.” Janji Anne.

“Jaminan apa yang kau miliki agar aku percaya kau bisa memegang janjimu?” balas Marcus dingin. Kekejiannya mulai terasa. Keberanian Anne menciut seperti balon kempes. Ia tidak memiliki harta benda yang berharga sebagai jaminan, kecuali jika Marcus bersedia menerima sepeda bututnya.

“Karena itu,” Marcus mendekati perapian yang menyala lalu melemparkan tugas Anne ke dalam api.

“Yak, aku membuatnya dengan susah payah!” Anne protes. Meskipun tugasnya telah menjadi sampah, bukan berarti ia ingin benda itu dimusnahkan.

“Dan satu lagi.” Marcus tersenyum misterius, “Aku tidak akan melepaskanmu. Mulai detik ini, kau tinggal bersamaku. Di sisiku. Selamanya kau tidak bisa lari dariku. Kau akan berada di bawah pengawasanku sehingga kau tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menyebarkan omong kosongmu tentangku pada siapapun. Jika kau berani melakukannya, kau akan mati.” Dan Marcus tidak terlihat bercanda saat mengatakannya.

Tidak mungkin! Pikiran Anne kosong selama beberapa saat.

“Aku tidak ingin berada di sini! Lepaskan aku!” Anne panik. Enak saja dia memutuskan. Siapa pula yang ingin tinggal di tempat seperti ini. Meskipun ia tinggal di istana, ia tidak ingin hidup sebagai tawanan.

Marcus menyunggingkan seringaian jahat yang Anne lihat kemarin sebelum pria itu memerintahkan Joshua—secara tersirat—untuk membunuh dua orang mafia. Marcus naik ke ranjang, mendekatinya. Anne memundurkan tubuh penuh antisipasi hingga punggungnya menempel ketat di kepala ranjang. Ibu jari dan telunjuk Marcus menjepit dagunya, menengadahkan wajahnya hingga mata mereka bertatapan dalam jarak yang sangat dekat.

Jantung Anne berdegup tak terkendali. Adrenalinnya menggelegak panas.

“Aku hanya ingin melindungi sesuatu yang berarti dalam hidupku. Aku tidak bisa membiarkan seekor itik tak berdaya sepertimu mengacaukan segalanya.”

Lalu detik berikutnya, mulut Marcus menguasai mulutnya. Anne yang terkejut sontak memundurkan kepalanya tetapi sebelah tangan Marcus menahan tengkuknya hingga Anne tidak bisa menghindari ciuman itu. Mulut Marcus bergerak dengan sangat ahli, mencicipi setiap inci bibirnya dengan sentuhan yang cepat, sensual dan menggoda. Anne terpaksa menerimanya. Ia berjanji tidak akan menikmati apalagi membalasnya.

Namun, Marcus adalah seorang dewa pencium! Anne tadinya ingin membiarkan Marcus berhenti sendiri. Kini secara perlahan-lahan ia mulai terpancing. Cara Marcus menciumnya telah menyentuh dan membangkitkan sisi liar Anne. Tubuhnya bekerja secara tidak sadar, Anne tahu akal sehatnya tidak akan pernah mengizinkan tangannya memeluk leher Marcus seperti yang ia lakukan saat ini, apalagi membalas setiap ciumannya.

Demi Tuhan, Anne tidak pernah dicium dengan cara seperti ini seumur hidup. Diam-diam Anne merasa sangat berdosa dan kotor.

Ketika Marcus melepaskannya, Anne terengah-engah. Mereka sama-sama kehabisan napas.

“Cara menciummu cukup menggoda untuk seseorang yang tidak pernah berciuman.” Desah Marcus. Anne begitu malu pada dirinya sendiri. Apa yang ia lakukan tadi? Seluruh tubuhnya kini terasa sangat panas. Kedua mata Marcus menyala oleh gairah sampai Anne kembali menundukkan kepalanya karena malu.

“Jangan malu, sayang. Bibirmu sangat nikmat.” Anne menghindar ketika Marcus akan menciumnya kembali. “Oh ayolah, aku tahu kau menginginkannya lagi.” Marcus mendesah.

Anne mendelik tersinggung, “aku bukan gadis manja yang bisa kau tiduri semaumu. Menjauh dariku!” Anne mendorong tubuh Marcus yang langsung dimanfaatkan pria itu untuk mendorongnya jatuh ke atas tempat tidur. Anne menahan napas, tak menyangka ia begitu mudah ditaklukan oleh Marcus.

“Apa yang kau lakukan, pergi!” kedua tangan Anne ditahan di atas kepalanya oleh Marcus, ia tidak bisa bergerak. Marcus berada di atasnya, menatapnya dengan pandangan membakar. Pria itu sedang bergairah.

Anne merasakan firasat buruk ketika melihat Marcus menyeringai. Pria ini tampak ingin menelannya hidup-hidup.

“Ayo kita bersenang-senang. Aku berjanji akan membawamu ke tempat yang sangat indah.”

“Tidak, tinggalkan aku sendiri!” Anne memberontak namun usahanya sia-sia saja. Penolakannya justru membuat Marcus semakin bergairah.

“Menarik, kau menolakku sekarang, tetapi aku yakin setelah ini kau akan sangat menginginkanku.” Marcus membenamkan kepala di lehernya, memberinya beberapa kecupan basah di sepanjang rahang, bahu dan lehernya. Anne seharusnya berteriak, memaki Marcus dan menolak sikap mesranya. Tetapi yang terjadi justru di luar pikiran Anne. Ia justru mendesah dan membiarkan Marcus menjelajahi lehernya sesuka hati.

“Oh, aromamu sangat memabukkan. Parfum apa yang kau pakai, sayang?”

Apa pertanyaannya? Anne tidak bisa berpikir. Ia justru menggeliat. Ada apa dengan tubuhnya? Mengapa otaknya tidak memerintah tubuhnya untuk mendorong Marcus, bukan ikut dalam permainannya.

“Hmm, bagus. Sepertinya obat itu sudah bekerja.”

“Obat?” mata Anne membeliak. Ia melotot marah pada Marcus, “Kau memberiku obat!”

“Ya sayang, bukankah sudah kukatakan aku akan membawamu ke tempat yang indah?”

Tidak, ini tidak benar. Anne berusaha merasionalkan pikirannya. Ia sekuat tenaga menolak ledakan gairahnya sendiri. Ia bertarung dengan dirinya sendiri melawan godaan tangan dan bibir Marcus yang merajalela di tubuhnya. Seluruh pakaian mereka ditanggalkan. Anne sungguh ingin menampar Marcus, tetapi tubuhnya sendiri terasa terbakar oleh sesuatu yang sangat asing.

“Kau memberiku obat perangsang? Kau monster! Kau memaksa seseorang untuk melayanimu?”

Marcus mengangkat kepala dari payudaranya, matanya berkedip seperti anak kecil tanpa dosa, “Kau tidak bisa kuajak dengan cara baik-baik. Jadi terpaksa aku memakai cara ini. Aku berjanji kita akan bersenang-senang. Kau tidak akan pernah melupakan malam ini.”

Mulut Anne dibungkam, jeritannya tertelan oleh ciuman panas Marcus.

—tbc—

235 thoughts on “Romance Scandal [Chapter 2]

  1. ah anne malang sekali nasibmu, anne kasian marcus kau tega sama anne huft!
    anne kau tau kn sekarang siapa pangeran itu fighting anne
    fighting kaka maaf baru coment:)

  2. salam kenal authornim =)
    sebenernya aku sudah lama jadi siders, karena tidak tahu gimana cara komen di blog hehehe sekali lagi aku minta maaf dan terimakasih =)

    dan mulai sekarang aku bakal komen di setiap ff yang aku baca di sini dan semua karena sudah bisa hehehe(gaje)

    ff onnie dhakhanzaki is the best deh pokoknya🙂

    di tunggu kelanjutan nya ya onnie🙂 semangaaaatttt…!!!!!!🙂😉

    see yoouu…..

  3. Udah lama aku gk ngunjungi blog ini, baru keinget tadi langsung kesini dech, terrnyata udah banyak yg dipost
    Akhirnya ff ini yang kutunggu muncul juga#yeeeaaay. Suka bgt sama critanya jangn lama2 ya eonni nglanjutinnya
    Oh ya ff ini bkal jadi project novel baru? Nantinya gk bakal diposting lagi donk??!!! Yaaaaah -.-

  4. Udah lama g buka blog kmu dha.. Ternyt gw bnyak tertinggal.. Jujur gw pembc lama tpi jd SR.. Bru bsa ngoment sekarang.. Izin baca kelanjutan ff ff kmu yg daebak ea.. Trus semangat nulisnya

  5. Akhirnya di lanjut jugaa.
    Marcus kejam banget! Greget deh padahal Anne udah janji gak bakal bongkar identitasnya dia tapi malah di tawan.
    Apalah daya.. pesona dan kekejaman Marcus terlalu mengintimidasi Anne(?)
    Cepetan di lanjut ya kak ^^

  6. udah lama gk buka blog ini,ternyata udah banyak yg kelewat dan baru sempet coment. hehe
    suka sama cerita y. sosok marcus yg kejam emang bikin greget sekaligus ngeri >_<.. di tunggu next chapter y eonn fighting ^^

  7. astaga kyuhyun-ssi jngan lakuin “itu” ama anne.
    trus anne msih bsa ikut prom gak ya?
    kira-kira di ijinin ama kyuhyun ga ya?
    mungkin malah dateng tp di kwal ama kyuhyun??!!

  8. Gak tau beruntung apa sial nasib Anne ditawan sama pria panas seperti Cho Kyuhyun , udah susah payah pergi ke Club dikejar mafia eh makalah malah ditolah dan dibakar dan sekarang dinistain sama Cho Kyu kedepannya hubungan mereka gimana ya ditunggu next Chapt nya Eon 😊😍😘
    Anne ke Prom gagal apa nanti malah diajak Cho Kyu 😊

  9. Waaaaah eoonnnn… Lama ga baca ff yang cast nya “Marcus”….
    ^ ^ karya2 mu memang keren…
    Salah satu penulis yg wajib di baca karya nya..
    Maaf eonn, dulu aku termasuk silent reader..
    #sekalin mau ngucapin minal a’idzin walfaidziiin sama penduduk sini..

  10. Udh bisa ketebak sih klo sang pangeran itu kyuhyun, cma ttp aja penasaran gmn lanjutannya heehehehe

    Anne bakal dtg k prom ma kyuhyun ato sama yg satunya(namanya lupa :D)?
    Hhmmm bakal ada jeles2an nih…kkkk

  11. Tugasnya anne ditolak lagi,tpi msih dikasi kesempatan..baguslah
    Waahh..mengejutkan,bikin tegang bacanya..kyu kalo udh bilang kyk gitu pasti bakal dilakuin,ngeri
    Kasian anne,ampe dikasih obat..bener” bakal jdi tawanan kyu klo kyk gini

  12. wooaaaaaah…
    marcus tega ih jadi orang.
    dasar PK (penjahat kelamin).

    eh kira2 lo anne mw nurut ma marcus,dia bisa ikut prom g yaaa…secara td dia g bolh kemana2 trs siapa tau aja marcus tau alasan anne membuat artikel tentang si prince trs di tolak ma dosen jd mw bantuin anne

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s