Trouble Namja [Chapter 3]

Tittle : Trouble Namja Chapter 3
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance

Main Cast :
Choi Ha Mun | Kim Hee Chul | Kim Ah Ryung

Support Cast :
Kim Ki Bum | Choi Si Won | Eun Hyuk

Dha’s Speech:
Senangnya bisa posting FF lebih cepat dari yang diperkirakan. Hehehehe.Mumpung Dede Baim lagi anteng, aku jadi sempet meluangkan waktu untuk menyelesaikan chapter ini ^^

Dari judulnya, sudah bisa ketebak dong gimana ceritanya? Yup, Hee Chul memang jadi semacam biang kerok di cerita ini. Jadi aku memaklumi kalau kalian kesel ama karakternya. hohohohoho *ketawa jahat

Nah, aku gak akan ceramah panjang lebar lagi. Aku cuma mau mengingatkan untuk tidak menjiplak atau memposting ulang FF di situs ini tanpa izin ya. ^^ Aku gak maksa kalian untuk komentar kok, kalian baca cerita aku aja aku udah seneng. Aku juga welcome untuk para sider. hehehehe. Jadi aku mohon sekali lagi untuk menjadi pembaca yang bijak, tertib, dan jujur ya ^^

Terima kasih banyak dan selamat membaca ^_^

Trouble Namja by Dha Khanzaki 4

=====o0o=====

CHAPTER 3
Don’t Tease Me with Your Love

Pagi itu Ha Mun bangun dalam keadaan kacau. Rambutnya berantakan karena dikacaukan oleh jari-jarinya sendiri semalaman. Ha Mun mendengus, kesal, dan kembali dilema tatkala ia teringat apa yang membuatnya begitu frustasi.

Kim Hee Chul.

Segala yang dilakukan pria itu semalam telah mengguncang sanubari Ha Mun, membuat hatinya sakit. Bagaimana bisa seorang pria memeluk kekasihnya tetapi matanya tertuju pada wanita lain saat mengatakan I Love You? Apa yang Hee Chul inginkan dengan melakukan itu? Membuatnya sadar? Sadar pada apa? Atau mungkin menghukumnya? Demi Tuhan, Ha Mun tidak tahu kesalahan apa yang dilakukannya sampai ia harus dihukum dengan cara seperti itu.

Ha Mun tidak akan merasa begitu tertekan seperti sekarang seandainya wanita yang ditatap dan dibisikkan kata-kata itu oleh Hee Chul bukanlah dirinya.

Ponselnya berbunyi. Sambil mendengus Ha Mun menggeser dirinya ke sisi ranjang agar bisa meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Sebuah pesan masuk dari Hee Chul membuat Ha Mun terkejut dan terjaga sepenuhnya.

Bagaimana kabarmu? Semalam kau tidur nyenyak?

Deg.Deg.Deg

Ha Mun tersentak saat jantungnya berdegup kencang. “Berhenti, berhenti!” Ha Mun kesal karena jantungnya berkhianat. Apa yang ia rasakan sungguh tidak pantas. Ha Mun tidak semestinya berdebar hanya karena membaca pesan dari Hee Chul, yang notabene-nya adalah kekasih sahabatnya sendiri.

“Ha Mun, kau tidak boleh menyimpan perasaan untuk laki-laki itu lagi! Kau harus melupakannya! Lagipula bagaimana dia bisa tahu nomorku? Ah, pasti Ah Ryung yang memberikannya.” Ha Mun memang telah memutuskan, ia akan melupakan Hee Chul. Ia akan merelakan Ah Ryung memiliki Hee Chul.

Bicara memang mudah. Kenyataannya, melepaskan cinta yang telah dijaga selama bertahun-tahun amatlah sulit. Namun bagi Ha Mun, kebahagiaan Ah Ryung jauh lebih penting. Sebagai sahabatnya, Ah Ryung paling tahu bahwa selama ini kehidupan Ah Ryung cukup berat. Ah Ryung berhak bahagia dan Ha Mun tidak boleh merampas kebahagiaan Ah Ryung demi perasaan sepihaknya pada Hee Chul. Selain itu, Ha Mun belum siap memberitahukan pada Ah Ryung tentang Hee Chul, bahwa mereka saling mengenal sejak dulu dan Ha Mun memendam perasaan untuknya.

Tidak, Ha Mun tidak akan mengatakannya. Ah Ryung terlalu baik hati. Ah Ryung pasti akan memutuskan Hee Chul dan memberikan Hee Chul padanya. Ha Mun tidak akan membiarkan Ah Ryung merusak kebahagiaannya sendiri.

Karena itu, Ha Mun memutuskan mengabaikan pesan Hee Chul. Melirik jam, Ha Mun menyadari sudah waktunya ia pergi latihan.

***

“Lepaskan, Lepaskan. Aku hanya ingin bertemu Candace!”

Keributan yang terjadi di pintu masuk ruang latihan telah menghentikan sejenak kegiatan latihan untuk pertunjukan hari itu. Beberapa orang penari menoleh ke arah sumber suara, namun sebagian besar lain memutuskan mengabaikannya. Pertunjukkan tinggal menghitung hari, tidak ada waktu untuk bermain-main. Sayangnya, Ha Mun terpaksa menunda latihannya karena suara ribut itu menyebutkan namanya.

“Ada masalah?” tanya Ha Mun pada dua orang panitia yang tengah menghalau pengganggu itu di ambang pintu.

“Pria ini telah menyusup dan mengambil video Anda diam-diam. Kami mencoba mengusirnya, tetapi dia begitu keras kepala dan bersikukuh ingin bertemu denganmu,” jelas salah satu panitia.

Ha Mun mengeryit, sedikit kaget dan takjub juga mendengar ada seseorang yang begitu terobsesi ingin bertemu dengannya. Ia memang sering tampil di berbagai pertunjukkan, tetapi ia yakin ia tidak sepopuler selebritis sampai dibuntuti seorang sasaeng fans seperti ini. Diam-diam Ha Mun melirik pria itu. Ia ingin melihat wajahnya. Tepat saat itulah, matanya dan mata pria itu bertemu.

“Oh, Nona Choi!” Pria itu berseru heboh sambil melambai-lambaikan tangannya pada Ha Mun menyadari Ha Mun melirik padanya.

Tidak, pria ini.. Ha Mun terperanjat. Apa yang dilakukannya di sini. Apa yang harus ia lakukan? Apa lebih baik ia pura-pura tidak melihat dan pergi dari sini?

“Nona Choi, kau mau pergi ke mana?” Pria itu panik melihat Ha Mun memalingkan pandangan dan berniat berbalik pergi. “Aku Kim Ki Bum, kita pernah berkenalan tempo hari!”

Tentu saja Ha Mun tidak lupa. Si sutradara keras kepala yang bersikukuh ingin ia ikut berpartisipasi dalam filmnya. Ha Mun menoleh melalui bahunya.

“Aku tidak menemukan gadis lain yang lebih cocok daripada dirimu! Apa kau sudah mempertimbangkan permintaanku? Apa kau sudah berubah pikiran?”

Ha Mun mendesah. Ternyata dia belum menyerah juga. Ha Mun memaksakan diri menghadapinya. Rasanya tidak sopan jika ia pergi begitu saja.

“Aku ingat, tentu saja. Tapi maaf, aku masih belum mengubah pikiranku.”

“Kau tidak boleh begitu!” Ki Bum terkejut. Wajahnya yang tampan merengut kecewa. Sayang sekali, batin Ha Mun. Wajah tampanmu tidak cukup mempan untuk mengubah pendirianku. Ia mengabaikan keluhan Ki Bum lantas berbalik untuk berkata pada panitia yang sejak tadi menahan pria itu.

“Sebaiknya pria ini cepat diusir. Dia mengganggu latihan kami.” Setelah mengatakan itu, Ha Mun melengos pergi.

Ki Bum terperanjat. “Apa?! Aku tidak—Nona Choi!” Ia tidak panik karena dituduh sebagai pengganggu, melainkan karena usahanya merayu Ha Mun agar ikut ambil bagian dalam filmnya gagal total.

Ha Mun mengabaikannya. Eun Hyuk menghampirinya saat ia berada di tengah ruangan. “Siapa laki-laki itu? Kuperhatikan dia sering berkeliaran di sekitarmu akhir-akhir ini.”

Bahu Ha Mun terangkat tak peduli. “Mana kutahu.”

“Kau yakin? Mungkin dia penggemarmu.” Eun Hyuk kelihatannya benar-benar penasaran terhadap Ki Bum.

“Sudahlah. Lupakan orang itu. Ayo kita kembali latihan.” Ha Mun mengapit lengan Eun Hyuk.

***

Hee Chul sekali lagi melemparkan pandangannya pada layar ponsel. Ia gelisah di tempat duduknya. Ha Mun tidak menjawab satu pun pesan yang ia kirimkan pagi dan siang ini. Panggilannya pun tidak diangkat. Ia mulai khawatir. Apa terjadi sesuatu pada Ha Mun?

Tatapan Hee Chul teralih ke arah Ah Ryung yang sedang bercengkerama dengan ayahnya. Apa sebaiknya ia bertanya saja pada Ah Ryung? Tidak. Hee Chul menahan diri. Ia tidak memiliki alasan menanyakan keadaan Ha Mun. Selain itu, ia harus menjelaskan tentang pesan-pesan yang ia kirimkan pada Ha Mun sementara Ah Ryung tidak tahu bahwa diam-diam ia mencuri nomor Ha Mun dari ponselnya.

“Ada apa? Sejak tadi kau tampak mengkhawatirkan sesuatu?”

Hee Chul memandang kaget ibunya. “Apa? Tidak. Aku hanya teringat pekerjaan kantor yang kutinggalkan.”

“Kau hanya pergi selama satu atau dua jam. Tidak akan ada masalah. Jangan khawatir,” hibur ibunya sambil menepuk tangan Hee Chul lembut.

Sudut bibir Hee Chul terangkat membentuk seulas senyum tipis. Yeah, jika memang itu yang dipikirkan olehnya, Hee Chul tidak akan segelisah ini. Pekerjaan yang Hee Chul tinggalkan bisa menunggu. Tapi masalah Ha Mun tidak bisa.

Tuhan, karena memikirkan Ha Mun, Hee Chul hampir melupakan bahwa ia sedang makan siang bersama orang tuanya di rumah. Biasanya pikirannya tidak pernah sampai begitu teralihkan seperti ini. Hee Chul sadar dirinya menjadi sering melamun sejak kemunculan Ha Mun.

Hee Chul menoleh kembali mendengar ibunya tertawa.

“Lihat ayahmu! Dia senang sekali bermanja-manja pada anak perempuannya.”

Hee Chul mengikuti arah pandang ibunya dan mau tidak mau ikut tersenyum melihat ayahnya disuapi oleh Ah Ryung. Beliau terlihat gembira. Ah Ryung pun terlihat senang bisa memanjakan ayahnya. Sama seperti dirinya, ayahnya pun sengaja menyempatkan diri untuk meninggalkan kantor sejenak mengetahui Ah Ryung memasakkan makan siang di rumah. Masakannya lezat sekali. Itu salah satu alasan Hee Chul mencintai Ah Ryung.

Orang tua Hee Chul malah lebih mencintai Ah Ryung dan sudah menganggapnya selayaknya anak perempuan sendiri. Hee Chul gembira sekali karena Ah Ryung pun memperlakukan orang tuanya begitu baik. Ah Ryung memang baik hati dan selalu memperlakukan semua orang dengan penuh kasih sayang. Berkat Ah Ryung pula, keluarga Kim selalu berkumpul dan tertawa.

Tiba-tiba saja Hee Chul merasa bersalah karena saat ini ia tidak memikirkan Ah Ryung, melainkan Ha Mun. Hee Chul merindukan gadis itu sejak bertemu dengannya. Rindu akan kedekatan dan keakraban mereka. Hee Chul ingin sekali melihat Ha Mun tersenyum penuh cinta untuknya. Matanya yang berkilauan setiap kali menatapnya kini sudah tidak ada lagi.

Semuanya karena pertemuan mereka yang terlalu canggung. Hee Chul tak mengira sahabat yang ingin diperkenalkan Ah Ryung adalah Ha Mun. Hee Chul senang bertemu dengannya, tentu saja. Tetapi rasanya salah jika sikap Ha Mun menjadi berbeda hanya karena Ha Mun memikirkan Ah Ryung.

Tentu saja Hee Chul tidak menyalahkan Ah Ryung. Dia tidak tahu apa-apa. Hee Chul belum berterus terang mengenai masa lalunya dengan Ha Mun. Ia tidak akan melakukannya. Ia akan menyerahkan tugas itu pada Ha Mun, sebagai hukuman karena sikap dingin gadis itu kepadanya.

Hee Chul ingin sikap Ha Mun padanya kembali normal seperti dulu. Karena itu ia mencoba bersikap seperti biasanya, tetapi lihat balasan gadis itu! Ha Mun justru mengabaikannya. Sial! Hee Chul tidak bisa berdiam diri lagi. Ia harus melakukan sesuatu.

Semua orang di meja menoleh melihat Hee Chul mendadak bangkit. Orang tuanya terkejut sementara Ah Ryung mengerjap.

“Maafkan aku, tapi aku harus segera kembali ke kantor.” Hee Chul menampilkan raut menyesal, terutama pada Ah Ryung.

“Paling tidak, habiskan dulu makananmu,” ujar ibunya.

Hee Chul menyadari ia baru menghabiskan setengah makan siang siangnya.

“Aku akan menyiapkan makan siang untuk kau bawa ke kantor.” Ah Ryung bangkit, dalam sekejap gadis itu menghilang ke dapur sebelum Hee Chul sempat mencegahnya.

“Ah Ryung benar-benar sosok istri idaman. Kelak kau akan bahagia setelah menikah dengannya,” kata ayahnya dengan senyum bangga.

Hee Chul pun merasa demikian. Ah Ryung amat perhatian, tampaknya gadis itu gembira bisa mengurus orang lain. Sebelumnya ia merasa senang dengan sikap itu, namun sekarang entah mengapa perasaannya menjadi agak terbebani.

Ah Ryung kembali dengan kotak bekal di tangannya. “Ada beberapa sandwich kesukaanmu dan potongan buah apel. Kau bisa tetap memakannya sambil bekerja.”

Hee Chul berdiri. “Sebenarnya kau tidak perlu melakukannya.”

“Aku memaksa. Aku tahu kau akan sibuk bekerja sampai lupa makan.”

Dengan canggung Hee Chul menerima kotak makanan yang disodorkan Ah Ryung. Sial, Hee Chul tidak pernah merasa secanggung ini! Ia ingin menolaknya tapi tidak bisa. Senyuman tulus Ah Ryung membuatnya mengurungkan niat. Senyuman itu selalu berhasil meluluhkan hatinya.

“Terima kasih.” Hee Chul mengecup kening Ah Ryung. Ia berpamitan kepada kedua orang tuanya sekali lagi lalu pergi.

Hanya saja, Hee Chul tidak kembali ke kantor seperti yang dikira Ah Ryung dan kedua orang tuanya, ia justru memutuskan mengunjungi tempat latihan Ha Mun.

***

Sudah hampir seminggu Ah Ryung tidak mengecek kotak masuk email-nya. Ia memang tidak menunggu email dari siapa pun, namun sudah menjadi kebiasaannya memeriksa email sejak ia tinggal di Australia. Sepulang dari kediaman keluarga Kim, Ah Ryung duduk di balik meja kerjanya sambil memeriksa semua pesan yang masuk di akun email-nya. Ia memeriksa pesan dari deretan paling bawah. Ada beberapa pesan dari teman-temannya di Korea, dari Sung Min, kakaknya, yang menanyakan kabar. Ah Ryung membalas semua pesan itu dengan semangat.

Ah Ryung mengerjap saat ia menemukan satu pesan menarik yang masuk ke emailnya baru-baru ini. Pesan itu membuat senyumnya melebar. Surat dari sahabat penanya di Amerika.

Dear Ashley,

Aku sudah tiba di Australia. Seperti yang sudah kukatakan, aku akan melakukan syuting di beberapa tempat di sini. Aku harap kau memiliki waktu untuk melihat proses syuting. Selain itu, aku juga ingin melihat wajah penulis skenarioku.

Akan kukirimkan jadwal syutingnya padamu setelah aku berhasil menemukan orang yang cocok memerankan karakter Min Na Yeon dewasa.

See you soon, Ashley
Kim Ki Boem

Rasanya bagai mimpi. Ah Ryung tidak mengira naskah yang ia perlihatkan pada sahabat penanya itu akan digarap menjadi sebuah film layar lebar. Ki Bum menganggap cerita buatannya amat menarik dan layak dijadikan film. Ah Ryung tentu saja menyambut baik usulan Ki Bum itu dan dengan senang hati menjadi penulis skenario untuk film yang diangkat dari naskah novelnya.

Ah Ryung memang belum pernah bertemu Ki Bum, dan tidak cukup mengenalnya. Namun Ah Ryung tahu Kim Ki Bum adalah pria baik-baik dan bukan penipu. Ah Ryung membuktikannya ketika ia secara iseng mencari tahu informasi mengenai Ki Bum yang mengaku sebagai asisten sutradara di Hollywood itu melalui internet. Ah Ryung terkejut ketika menemukan banyak artikel tentang Ki Bum. Pria itu benar-benar berbakat. Ah Ryung kagum begitu menemukan nama Ki Bum tercantum di beberapa film terkenal produksi Hollywood.

“Ini adalah film debut pertamaku, aku ingin menggarap cerita berlatar belakang kampung halamanku, kebetulan sekali aku menemukan naskah yang sempurna. Kau adalah malaikat penolongku.” Itu yang Ki Bum tuliskan dalam suratnya ketika meminta izin pada Ah Ryung agar membiarkan naskahnya dibuatkan film.

Ah Ryung tersenyum mengenangnya. “Dia benar-benar membuat film berdasarkan naskah ceritaku.” Ia lekas membalas pesan Ki Bum.

Hallo Mr. Kim,

Apakah kau menunggu balasanku? Maaf, aku baru membaca pesanmu. Senang mendengar kau sudah sampai di sini. Akan kuusahakan untuk datang ke lokasi syuting filmmu. Aku ingin menyaksikan pengambilan gambar untuk scene terakhir. Kuharap kau segera menemukan bidadari untuk mengisi layar dengan senyuman di akhir cerita.

CU soon, too Mr. Kim
Ashley

Ah Ryung menengadahkan pandangannya sambil menerawang jauh. Ia mendesah puas, senang karena naskah yang berdasarkan pada kisah sahabatnya akan dibuat film. Ah Ryung berharap kisah sahabatnya juga akan berakhir bahagia sebagaimana akhir bahagia yang Ah Ryung buat untuk ceritanya.

Sayang sekali Ah Ryung belum bisa bertemu Ki Bum. Ia tidak sabar untuk mendiskusikan banyak hal dengan laki-laki itu berkaitan dengan filmnya. Ia penasaran apakah Ki Bum akan terkejut kalau mengetahui Ashley ternyata orang Korea? Ah Ryung mengaku sebagai orang Australia. Semua percakapan dan naskahnya pun menggunakan bahasa Inggris. Awalnya Ki Bum pun terkejut saat membaca naskahnya yang berlatar di Korea, kampung halaman pria itu, namun Ah Ryung dengan lihai berkelit bahwa ia mendapat banyak informasi tentang Korea dari sahabatnya yang kebetulan berasal dari Korea.

Ah Ryung berharap, segalanya bisa berjalan lancar.

***

Sesi latihan telah berakhir. Eun Hyuk mengikuti Ha Mun yang beranjak dari ruang latihan dengan tas tersampir di bahunya.

“Ha Mun, tunggu!” Eun Hyuk menahan tangannya. Ha Mun menoleh. Ia terkesiap heran melihat raut serius menghiasi wajah Eun Hyuk yang biasanya dipenuhi tawa dan jenaka.

“Ada apa?”

Ruang latihan hampir kosong dan Ha Mun ingin bergegas pulang agar ia bisa beristirahat sebelum membantu Ah Ryung menyiapkan makan malam. Seharian ini ia latihan terlalu keras hingga menguras banyak tenaganya hanya untuk mengenyahkan segala pemikiran mengenai Hee Chul.

“Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku gembira sekali bisa berpasangan denganmu,” kata Eun Hyuk kaku. Pria itu tampak kesulitan mengutarakannya. Suaranya agak bergetar dan pipinya merona.

“Aku juga,” Ha Mun tersenyum. “Kau penari yang hebat. Sebuah kehormatan bisa menari bersamamu.”

“Benarkah?” Eun Hyuk mengerjap takjub, tampak tersanjung sekali. “Ya, maksudku, terima kasih.”

Sebenarnya apa yang ingin dikatakan Eun Hyuk? Ha Mun melirik sekilas ke arah tangan Eun Hyuk yang masih memegang tangannya.

“Jika kau sudah selesai..,” Ha Mun benar-benar ingin pulang dan beristirahat.

“Tidak, aku belum selesai!” sela Eun Hyuk terlalu cepat, mengejutkan Ha Mun. Pria itu terlihat lebih gugup dari biasanya. Ha Mun mengedipkan mata menyadari satu kemungkinan yang membuat Eun Hyuk tampak seperti ini. Ia sudah hafal tanda-tandanya karena terlalu sering menghadapi situasi semacam ini seumur hidup.

Ha Mun sudah terlalu sering menerima pernyataan cinta, dan lebih sering lagi menolak pria-pria yang mendekatinya. Ia berharap tebakannya salah. Eun Hyuk menahannya seperti ini untuk alasan lain.

Eun Hyuk menatap langsung ke matanya saat berkata, “Aku mencintaimu, Choi Ha Mun.”

Tidak! Tepat seperti yang ia duga. Eun Hyuk akan menyatakan perasaannya. Ha Mun memejamkan mata sejenak. Eun Hyuk tidak boleh menyukainya. Ha Mun tidak ingin membuat laki-laki itu kecewa karena ia tidak berminat untuk menerima cintanya. Dan merusak persahabatan mereka, tentunya.

“Jika kau berkenan, aku ingin kau menjadi kekasi–”

“Maaf, aku tidak bisa,” tolak Ha Mun cepat, bahkan sebelum Eun Hyuk menyelesaikan pernyataan cintanya.

Eun Hyuk tercengang. Kaget karena ditolak terlalu cepat, langsung dan tegas. “Aku tidak meminta jawabanmu secepat ini. Kau bisa memikirkannya lebih dulu.”

Sayangnya, tidak perlu. Ha Mun sudah sangat yakin dengan jawabannya. Tetapi ia tidak ingin menyakiti hati Eun Hyuk. Ia melepaskan tangan Eun Hyuk dengan perlahan, lalu tersenyum hangat. Eun Hyuk tampak benar-benar kecewa dan patah hati. Ha Mun sampai tidak enak hati.

“Sebelumnya, aku benar-benar berterima kasih karena kau memiliki perasaan sehangat itu untukku. Tapi, aku tidak bisa menerimamu. Tidak sekarang, tidak juga nanti. Aku sudah cukup gembira dengan persahabatan kita dan berharap akan tetap seperti itu.” Ha Mun mengatakannya dengan nada selembut mungkin.

“Kenapa? Apa aku pria yang buruk untukmu?”

“Astaga,” Ha Mun mengerjap, lalu tertawa. “Kau pria yang menyenangkan dan sangat baik. Kau terlalu baik untukku dan aku berharap kau bisa mendapatkan gadis yang jauh lebih baik dariku.”

“Kalau begitu, mungkin karena pria lain?” tanya Eun Hyuk penasaran.

Seketika, Ha Mun langsung teringat pada Hee Chul. “Tidak. Saat ini aku hanya ingin fokus pada pertunjukkan.”

“Begitu.” Eun Hyuk menghela napas panjang. “Ah, jadi begini rasanya patah hati, sama sekali tidak menyenangkan.”

“Kau akan segera pulih. Masih banyak gadis cantik di dunia ini.” Ha Mun menepuk-nepuk bahu Eun Hyuk. Ia lega karena Eun Hyuk bukanlah laki-laki yang suka memaksakan kehendak. Ia senang karena Eun Hyuk bisa berlapang dada dan menerima penolakannya dengan baik.

“Aku benar-benar serius ingin kita menjadi pasangan kekasih yang sesungguhnya. Apa kau tidak merasakan sesuatu setiap kali kita bersama? Tidakkah kau memikirkannya lagi? Kita sangat cocok dalam banyak hal. Aku berjanji akan menjadi kekasih yang baik untukmu. Aku ingin membahagiakanmu.”

Ralat! Ternyata Eun Hyuk pun sama seperti laki-laki kebanyakan. Ha Mun tersenyum kikuk saat Eun Hyuk menggenggang tangannya lagi dan menatapnya sungguh-sungguh, berharap Ha Mun akan berubah pikiran.

“Jawabanku tetap tidak.”

Tentu saja Ha Mun sudah menetapkan jawabannya sejak awal. Ia tidak merasakan apa-apa untuk Eun Hyuk selain perasaan bahwa pria itu merupakan teman yang baik dan menyenangkan. Ia tidak mau menjalin hubungan tanpa merasakan apa-apa terhadap kekasihnya. Bahkan tatapannya pun tak membuatnya gugup, apalagi membuat jantungnya berdebar-debar. Bagaimana ia bisa nyaman dengan hubungan semacam itu? Ia tidak mau menyakiti Eun Hyuk.

Eun Hyuk sangat kecewa. Ha Mun akan menghiburnya nanti saat suasana hatinya sudah lebih baik. Ia berpamitan. Kini ia benar-benat ingin pulang.

Sambil berjalan Ha Mun merenungkan kejadian tadi. Entah sudah berapa hati pria yang ia patahkan selama ini. Ha Mun lebih sering menolak mereka dengan keras dan tanpa memberikan penjelasan apa pun. Ia heran apa yang dilihat pria-pria itu darinya. Teman-temannya memang mengatakan ia cantik dan berbakat. Tapi rasanya aneh jika menyukai seseorang hanya dari penampilan luarnya saja. Lagipula Ha Mun tidak menyukai satu pun dari laki-laki yang pernah menyatakan perasaan padanya.

Ha Mun berhenti melangkah saat menyadari alasannya menolak semua pernyataan cinta karena ia hanya mengharapkan hal itu dari satu orang pria.

Kim Hee Chul.

Hatinya mendadak disesaki perasaan cintanya yang tidak akan berakhir bahagia. Ha Mun mencintai Hee Chul dan dengan bodohnya mengharapkan laki-laki itu karena mengira Hee Chul pun merasakan perasaan yang sama dengannya. Tidak, Ha Mun sangat yakin Hee Chul pun menyukainya. Oleh sebab itu Ha Mun bersedia menunggu laki-laki itu kembali sambil bermimpi suatu hari nanti mereka bisa bersama.

Namun kenyataan yang terpampang di hadapannya sungguh menyakitkan. Hee Chul memang kembali, mereka akhirnya bertemu kembali namun Hee Chul tidak dengan cinta yang ia harapkan akan dijaga pria itu. Hee Chul telah memberikan hatinya untuk wanita lain, membuat Ha Mun kecewa dan patah hati. Hee Chul telah menghempaskan harapan Ha Mun, menghancurkan mimpi indahnya menjadi debu. Dan yang lebih menyakitkan lagi, Hee Chul menyerahkan cintanya kepada sahabat baiknya.

Airmata menggenang di pelupuk matanya. Ha Mun tidak akan pernah sanggup bersaing dengan Ah Ryung. Ia tidak bisa. Ah Ryung sahabat baiknya, gadis pertama yang tidak memusuhinya, menawarinya pertemanan dan menerima dirinya apa adanya. Seseorang yang memperkenalkan pada Ha Mun indahnya sebuah persahabatan.

Jika Ha Mun sampai menghancurkan kebahagiaan Ah Ryung, ia adalah manusia paling kejam di dunia.

Tiba-tiba saja seseorang menyentuh lengannya dengan lembut. “Ha Mun.”

Suaranya langsung menghentikan detak jantung Ha Mun. Tidak, jangan dia! Jangan sekarang! Dia adalah orang terakhir yang ingin Ha Mun temui hari ini. Ha Mun lekas menyeka air matanya lalu berbalik untuk bertatapan dengan wajah tampan Kim Hee Chul.

Oppa,” sapanya mencoba ramah. Ha Mun pun memaksakan seulas senyum.

Kedua alis Hee Chul merengut saat mengamati wajahnya. Ha Mun luar biasa gugup. Reaksi itu hanya terjadi saat ia berdekatan dengan Hee Chul. Ha Mun kesal karena setelah bertahun-tahun, tubuhnya tetap memberikan respon yang sama terhadap laki-laki itu.

“Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat dan matamu sembab. Apa terjadi sesuatu?”

Apa Hee Chul melihat air matanya? “Tidak. Aku hanya lelah setelah seharian latihan.”

“Tentu saja. Bukankah besok pertunjukkannya?”

Ha Mun mengangkat wajahnya dan mata mereka bertemu. Melihat senyum tersemat di bibir dan sorot mata tajamnya, jantung Ha Mun berdrbar kencang. Ha Mun panik. Ia sontak menutup mata berharap tidak melihat senyuman itu dan menyesal terhadap reaksi tubuhnya yang terlalu berlebihan.

Kendalikan dirimu! Ha Mun menarik napas lalu mengembuskannya. Ia harus mengenyahkan perasaan tidak pantas itu dengan mengingat bahwa saat ini Hee Chul merupakan tunangan Ah Ryung.

“Wah, Hee Chul-ssi, apa kabar? Apa yang kau lakukan di sini?”

Sikap pura-pura ramah dan sopan yang Ha Mun suguhkan membuat Hee Chul sebal. Ia menarik Ha Mun ke koridor sepi yang mengarah ke gudang. Ha Mun tak sempat menolak. Ia terlalu kaget karena Hee Chul menyeretnya tiba-tiba.

Hee Chul menyudutkan Ha Mun hingga punggungnya menempel tembok. “Hentikan sikap sok formalmu. Kau bisa bersikap seperti biasanya di saat hanya ada kita berdua.”

Posisi mereka yang terlampau dekat membuat Ha Mun bergetar oleh perasaan rindu, jantungnya berdebar kencang. Meskipun gugup, Ha Mun memaksakan diri menatap Hee Chul. “Sayang sekali tidak bisa. Kau adalah tunangan sahabatku. Jika tidak ada yang ingin kau katakan lagi, aku ingin pergi.”

“Tidak bisa.” Hee Chul menahan Ha Mun yang hendak melarikan diri dengan meletakkan tangan di tembok di kedua sisi tubuh Ha Mun. Alhasil, tertutup sudah akses Ha Mun untuk pergi.

Ha Mun kesal. Mengapa Hee Chul mengganggunya seperti ini di saat ia sedang berusaha menerima kenyataan bahwa cintanya telah kandas? “Sebenarnya apa yang kau inginkan dengan menemuiku di sini?”

“Aku merindukanmu,” bisik Hee Chul gamblang.

Tuhan! Hee Chul merindukannya? Merindukanku? Tidak mungkin! Hee Chul mustahil merindukannya!

“Apa?!”

Kesalahan besar. Seharusnya Ha Mun tidak menoleh. Jantungnya nyaris jatuh ketika menyadari posisi wajah mereka begitu dekat. Bergerak sedikit lagi saja, bibir mereka bisa bersentuhan. Dengan panik Ha Mun kembali menempelkan punggungnya serapat mungkin dengan dinding berharap bisa memberi jarak yang cukup untuknya bernapas dan menghindar dari insiden yang tak diinginkan.

“Kau mendengarnya.”

Hee Chul kesal karena Ha Mun masih juga bersikap sekaku ini dan terkesan menarik diri. Tapi ia senang melihat gadis ini panik dan gugup. Ia sangat mengenal Ha Mun. Artinya, Ha Mun masih menyimpan perasaan untuknya. Kalau memang begitu, kedatangannya kemari tidak akan sia-sia.

“Selain itu aku ingin menyampaikan sesuatu,” Hee Chul mencondongkan wajahnya mendekati wajah Ha Mun. Gadis itu mengerjap. “Terima kasih untuk tidak menerima pria tadi. Kuuharap alasanmu menolaknya karena diriku.”

Jadi sejak tadi Hee Chul memata-matainya? Apakah dia telah melihat semuanya? Betapa memalukan! Dan beraninya Hee Chul melakukan itu padanya! Ha Mun langsung membelalakkan mata. “Sayangnya bukan karena dirimu. Maaf Tuan Kim, seharuskah aku mengingatkanmu bahwa KAU adalah calon suami sahabatku.”

Sorot mata Hee Chul yang awalnya berkilat oleh semangat secara mengejutkan meredup bagai sinar matahari yang terhalangi awan kelam. “Apakah aku harus membatalkan pernikahanku dengannya?”

Apa?!

“Jangan!” Hee Chul gila jika melakukannya. Meninggalkan Ah Ryung, membuatnya patah hati demi dirinya? Ha Mun tidak akan membiarkan itu terjadi!

Hee Chul menyeringai angkuh melihat Ha Mun panik. “Baiklah, aku tidak akan mengatakan apa pun pada Ah Ryung, selama kau membalas semua pesanku.”

“Apa? Jangan mengusulkan sesuatu yang menggelikan!”

Hee Chul mengabaikan umpatan kemarahan Ha Mun. “Respon semua panggilan dan pesanku, maka aku takkan meninggalkannya.” Ia mengecup kening Ha Mun, meninggalkan jejak panas yang berhasil membakar diri Ha Mun. Dan sebelum Ha Mun sempat merespon, Hee Chul meninggalkannya dalam keadaan terpana.

Ha Mun melongo tak percaya. Apa Hee Chul baru saja memerasnya? Menyuruhnya tetap merespon pria itu seperti dulu agar kebahagiaan Ah Ryung tidak hancur?

Apa-apaan! Hee Chul tidak boleh melakukannya! Apa alasan laki-laki itu mempermainkan perasaannya seperti ini? Ha Mun sungguh tidak dapat memahami maksudnya.

Untuk pertama kalinya, Ha Mun merasa tidak mengenal Hee Chul lagi.

***

Pagelaran seni budaya itu berjalan sukses. Ha Mun dan penari lainnya berhasil memukau para penonton, wartawan yang meliput dan para duta besar yang hadir untuk menonton acara itu. Sungguh pertunjukkan yang megah dan menakjubkan. Orang-orang berdecak kagum dan mengakhiri apresiasi mereka dengan bertepuk tangan.

Ha Mun merasa puas, lega dan juga lelah. Ia menerima banyak sekali ucapan selamat dan juga karangan bunga dari berbagai kalangan dan penggemar. Sebagai bintang utama penampilan itu, pujian tak pernah berhenti menghampiri Ha Mun. Bahkan Ha Mun telah mendapatkan beberapa tawaran tampil berskala internasional. Ha Mun gembira dengan sambutan baik ini, namun ia masih harus memikirkannya. Ha Mun belum berminat mengibarkan sayapnya ke panggung internasional. Ha Mun merasa sangat nyaman dengan kehidupannya saat ini sehingga bayangan menjadi penari professional bertaraf internasional terasa begitu kabur dan jauh.

“Bukankah tadi itu pertunjukkan yang sangat indah?” desah Ah Ryung bangga sambil menoleh ke samping, ke arah Hee Chul. Berkat bantuan Ha Mun, ia mendapatkan kursi dengan posisi terbaik sehingga bisa menyaksikan penampilan Ha Mun dengan sempurna.

“Tentu saja. Temanmu itu telah berjuang dengan sangat baik. Penampilannya mengagumkan. Aku sepertinya bisa memahami mengapa kau begitu membanggakannya.” Hee Chul tidak bisa mengenyahkan bayangan sosok Ha Mun yang menakjubkan di atas panggung. Tarian Ha Mun seakan-akan menyihirnya. Hee Chul mendapati dirinya masih terkesima meskipun pertunjukkan telah usai dan mereka diam di lobi.

Ah Ryung meninggalkan Hee Chul sejenak ke toilet untuk merapikan tata riasnya. Ia sempat menangis karena terharu tadi. Riasan matanya pasti membutuhkan perbaikan. Sekembalinya dari toilet, ia melihat kerumunan wartawan dan orang-orang di dekat ruang ganti. Ah Ryung tersenyum. Ia yakin mereka sedang mengerumuni Ha Mun.

Seseorang tiba-tiba saja menabrak Ah Ryung hingga membuatnya terhuyung dan nyaris jatuh.

“Maaf,” kata orang itu terburu-buru, dan tidak menolong Ah Ryung sama sekali. Alih-alih dia justru berlari seperti orang kesetanan ke arah kerumunan. Ah Ryung ingin menggerutu, namun melihat aksi orang yang menabraknya tadi, ia justru tertegun.

Pria yang menabraknya tadi meletakkan kursi yang diambilnya entah dari mana dengan terburu-buru, lalu menaikinya dengan cepat seakan seekor anjing sedang mencoba menggigit kakinya. Aksi tidak biasa pria itu menarik perhatian Ah Ryung. Ia penasaran, apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya.

Ah Ryung mengedipkan mata takjub saat melihat laki-laki itu mengeluarkan handycam dari dalam tasnya lalu sibuk merekam Ha Mun dari atas kepala orang-orang yang berkerumun. Ah Ryung tertawa kecil. Ia memuji upaya keras laki-laki itu mendapatkan gambar Ha Mun. Dia pasti penggemar fanatik Ha Mun, atau mungkin salah satu wartawan berita online. Pria itu benar-benar gigih. Meskipun berkali-kali nyaris jatuh karena desakan orang-orang di sekitarnya, dia tetap berjuang mempertahankan posisinya.

Kerumunan itu mulai membubarkan diri saat sesi wawancara selesai. Pria itu belum sempat turun dari kursinya sehingga tanpa sengaja terdorong oleh orang-orang sampai jatuh terjerembab ke lantai.

“Ah sial! Padahal tinggal sedikit lagi aku mendapatkan gambarnya!”

Ah Ryung mendengar pria itu menggerutu saat ia mendekatinya. Pria itu berusaha bangkit dan tersenyum saat melihat hasil rekamannya tadi. Dari penampilannya, dia tak terlihat seperti seorang pemburu berita, lebih mirip dengan turis. Pria itu berwajah oriental, mungkin saja berasal dari Korea.

“Sepertinya kau penggemar berat Candace Choi. Besok sebelum Candace kembali ke Korea akan diadakan jumpa fans.” Ah Ryung tidak tahu mengapa ia berkata demikian, tetapi setelah melihat usaha pria ini. Ia ingin membantunya.

Pria itu mendongak, terkejut melihat Ah Ryung bicara dengannya. “Candace? Oh ya, Candace Choi. Sebenarnya aku bukan penggemarnya. Tapi, kau bisa menyebutnya seperti itu.” Pria itu terkekeh kikuk sambil menggaruk kepalanya.

Ah Ryung tertawa kecil mendengar ucapannya yang tergagap-gagap. Seandainya saja pria ini berwajah kejam, bukannya tampan, Ah Ryung mungkin tidak akan berani melakukannya. Orang aneh, batin Ah Ryung.

“Apa kau tahu kira-kira ke mana Candace akan pergi setelah acara ini?”

“Sebaiknya kau tidak mengikutinya. Candace membutuhkan istirahat.”

“Ah, benar juga. Aku yakin dia lelah setelah pertunjukkan besar tadi.”

“Senang kau mengerti.” Ah Ryung tersenyum. “Kalau begitu aku pamit.” Hampir saja ia melupakan Hee Chul yang ia tinggalkan di lobi. Lebih baik ia segera kembali. Ia lalu meninggalkan pria aneh itu.

Kim Ki Bum dengan polosnya mengangguk menanggapi ucapan gadis tak dikenal itu. Entah mengapa Ki Bum merasa tidak asing dengannya, padahal mereka tidak pernah bertemu. Mungkin mereka pernah bertemu namun ia tidak menyadarinya? Ia menelengkan kepala berusaha mengingat-ingat.

Mustahil. Ki Bum terkekeh sambil menggelengkan kepala. Ia tidak mungkin melupakan pertemuan dengan gadis secantik itu. Tapi sepertinya gadis tadi mengetahui banyak hal tentang Candace Choi. Ki Bum tertegun. Mengapa ia tidak menyadarinya?

Benar juga, bisa jadi gadis tadi adalah salah satu panitia penyelenggara pagelaran ini. Wajar saja jika Ki Bum merasa pernah melihatnya dan juga tidak asing. Lebih baik ia mencari gadis itu untuk bertanya lebih jauh tentang Candace Choi.

Siapa tahu gadis itu bisa membantunya membujuk Candace.

***

Ha Mun merasa hidup kembali setelah ia mandi dan berganti pakaian. Ruang ganti itu sudah kosong. Penari lain memutuskan pergi untuk merayakan keberhasilan pertunjukkan mereka. Ha Mun memutuskan menyusul saja karena ia ingin beristirahat sejenak setelah melewati serangkaian penampilan, disusul wawancara dari wartawan dan orang-orang yang datang untuk mengucapkan selamat. Tubuhnya seakan remuk. Karena itu Ha Mun amat mensyukuri suasana sepi saat ini.

Terdengar suara seseorang memutar kenop pintu. Ha Mun kebetulan lupa menguncinya. Ia menoleh ketika seseorang memasuki ruangannya. Ia sedang mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Ha Mun terkejut menemukan sosok Hee Chul berdiri di ambang pintu. Tangannya yang menggenggam pengering rambut tiba-tiba saja terasa tak bertenaga. Matanya terpaku pada wajah pria itu. Hee Chul tersenyum.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku ingin mengucapkan selamat padamu.” Hee Chul memastikan hanya ada mereka berdua di ruangan itu sebelum bergerak mendekati Ha Mun. “Secara pribadi.”

Ha Mun benci pada dirinya yang tetap terpesona melihat senyum Hee Chul. Kesendirian mereka di ruangan itu membuatnya gelisah. Ia berdiri dan bergerak menjauhi Hee Chul. “Kau bisa mengucapkannya nanti. Kita berjanji akan pulang bersama, bukan?”

Hee Chul mendekat. “Aku khawatir tidak sempat mengatakannya dengan pantas. Ah Ryung pasti akan memonopoli sebagian besar obrolan. Dia sangat bangga padamu.”

Begitu nama Ah Ryung disinggung, Ha Mun kembali memundurkan posisinya. Tetapi lagi-lagi Hee Chul melangkah mendekat.

“Lagipula, setelah jumpa fans besok, kau akan langsung kembali ke Korea.”

“Tentu saja.” Memangnya ia akan tinggal selamanya di sini? Ha Mun bersyukur ia akan kembali secepatnya. Ia tidak mau berlama-lama dalam situasi menyesakkan ini. Ia ingin menjauh dari Hee Chul

“Jika aku memintamu untuk tetap tinggal, apa kau bersedia melakukannya?”

Ha Mun menatap Hee Chul dengan mulut menganga. Itu bukanlah permintaan! Ia tak percaya akan mendengar Hee Chul meminta sesuatu yang menggelikan seperti itu.

“Atau aku harus ikut bersamamu ke Korea untuk meminta restu keluargamu lebih dahulu?” lanjutnya membuat Ha Mun semakin tak habis pikir.

Napas Ha Mun tercekat di tenggorokan. “Kim Hee Chul apa yang sedang kau bicarakan sebenarnya?” Hee Chul mungkin sedang mabuk saat ini. Kata-katanya sangat tidak masuk akal.

“Aku akan meninggalkan Ah Ryung dan menikahimu. Kumohon, aku tidak bisa kehilanganmu lagi.” Hee Chul menyambar tangan Ha Mun. Ia mengatakannya dengan penuh kesungguhan.

Sekujur tubuh Ha Mun bergetar mendengar pernyataan itu. Jantungnya berdegup tak terkendali. Sesaat ia terlena, namun saat bayangan Ah Ryung terlintas dalam pelupuk matanya, akal sehat Ha Mun kembali. Ia berusaha menarik tangannya. Hee Chul sungguh gila karena mengira bisa memperdayanya! Meninggalkan Ah Ryung lalu menikahinya? Mudah sekali Hee Chul mengatakannya!

“Kau gila, Chulppa. Itu tidak mungkin. Bagaimana dengan keluargamu? Lalu Ah Ryung? Kau tidak bisa mempermainkan pernikahan seperti ini.” Dan memberiku harapan palsu. Ha Mun ingin menangis.

Menikah dengan Hee Chul memang impiannya, tetapi bukan seperti ini caranya. Ia tidak ingin merebut tunangan sahabatnya sendiri sekalipun Hee Chul berkata tidak apa-apa.

“Orang tuaku akan mengerti. Aku mencintaimu, bukan Ah Ryung. Aku yakin Ah Ryung pun pasti mengerti jika kita menjelaskan situasinya.”

Hee Chul sudah merenungkannya. Alasan mengapa ia tak bisa mengeluarkan Ha Mun dari kepalanya karena ia mencintai gadis itu. Ia baru menyadarinya saat melihat Ha Mun dekat dengan laki-laki lain dan ia menerima perlakuan yang berbeda darinya. Ia tidak ingin kehilangan Ha Mun. Lalu bagaimana dengan Ah Ryung? Hee Chul akan memikirkannya nanti, setelah ia meyakinkan Ha Mun.

Ha Mun berang. Hee Chul benar-benar tidak tahu malu! Ha Mun tidak akan membiarkan Hee Chul menyakiti Ah Ryung.

“Pergi!” bisik Ha Mun tajam. Kemarahan menggelegak dalam benaknya. “Aku tidak mau menikah denganmu dan kau..jika sampai kau berani membuat Ah Ryung menangis..” suara Ha Mun bergetar oleh airmata. “Kau mencintai Ah Ryung. Dia juga mencintaimu. Kau harus membahagiakannya.”

Kata-kata Ha Mun tersendat karena Hee Chul menariknya ke dalam dekapan hangat pria itu. Hee Chul memeluknya begitu erat hingga Ha Mun bisa mendengar detak jantungnya yang menggila. Ia terkesiap. Kemarahan dan kesedihan yang tadi ia rasakan bagaikan tertiup angin. Kini yang Ha Mun rasakan hanyalah kedamaian.

Ha Mun merasa seolah kembali ke masa lalu ketika mereka masih bersama.

“Kau bisa merasakannya juga, bukan? Degup jantung ini terjadi karena dirimu. Jantungku selalu terasa seperti akan meledak setiap kali kau ada di dekatku. Aku tidak merasakan hal ini terhadap wanita lain. Hanya kau.”

Oh Tuhan. Ha Mun pun merasakan hal yang sama. Ia memejamkan mata lalu menyandarkan kepalanya ke dada bidang Hee Chul.

Suara Hee Chul melembut merasakan ketegangan menguap dari tubuh Ha Mun. “Katakan kau masih mencintaiku, Ha Mun.”

Bagaimana ini? Apa yang harus Ha Mun katakan. Ia tidak dapat memungkiri bahwa ia mencintai Hee Chul. Masih. Ia bahagia bisa berada dalam pelukan Hee Chul lagi. Ia merindukannya. Tetapi keadaan menjadikan apa yang ia rasakan untuk Hee Chul sesuatu yang terlarang.

“Aku..” Ha Mun mendongak. Pandangan mereka bertemu. “Masih belum bisa melupakanmu.” Ha Mun lega akhirnya bisa mengatakannya. Namun kelegaan itu disusul oleh perasaan tersayat.

Hee Chul hanya tersenyum sebagai jawabannya. Ketika pria itu menundukkan kepala mendekati wajahnya, semestinya Ha Mun menghindar. Ha Mun tidak melakukannya. Ia begitu terlena pada perasaan cintanya dan membiarkan Hee Chul mencium bibirnya.

Baiklah, Ha Mun akan membiarkan dirinya berbahagia sejenak. Ia membiarkan dirinya terbakar api. Setelah ini, ia akan kembali ke dunia nyata dan merelakan perasaannya untuk Hee Chul kandas. Ia pun membalas ciuman Hee Chul dengan berani. Dan saat Hee Chul memperdalam ciumannya, Ha Mun lupa dengan semua rencana yang telah ia susun. Ia benar-benar tenggelam.

Lalu detik itu, wajah Ah Ryung terbayang dalam otak Ha Mun. Seketika, seluruh api gairah yang berkobar dalam dirinya padam. Ha Mun menyadari apa yang dilakukannya salah. Benar-benar salah.

Ha Mun tidak boleh mengkhianati Ah Ryung! Ia tidak mau menusuk Ah Ryung dari belakang!

“Hentikan,” Ha Mun memberontak dalam pelukan Hee Chul. Tetapi Hee Chul kembali membungkam bibirnya dengan ciuman yang lebih panas.

“Ha Mun, apa kau di sini? Kami sudah menunggumu selama..Oh Tuhan.”

Suara tercekat seseorang membuat Ha Mun tegang dan Hee Chul pun berhenti menciumnya. Ia menoleh untuk menemukan Si Won membeku di ambang pintu.

Si Won tercengang, dan kehilangan kata-kata. Wajah sumringahnya serta niatnya untuk mengucapkan selamat pada Ha Mun lenyap begitu saja. Ia tak percaya akan mendapati adiknya berpelukan dengan seorang pria dan bercumbu.

“Si Won..”

“Maaf, aku akan kembali nanti,” sela Si Won kaku. Ia tidak terlalu suka ikut campur urusan asmara adiknya. Lagipula Ha Mun bukan gadis lemah dan bodoh. Ha Mun sanggup menghajar laki-laki mana pun yang dianggapnya brengsek. Jika Ha Mun membiarkan laki-laki itu menciumnya, mungkin saja Ha Mun mencintainya.

“Tunggu…” Ha Mun panik melihat Si Won hendak menutup pintu. Si Won tidak boleh meninggalkannya berdua saja dengan Hee Chul!

“Biarkan saja.” Hee Chul berkata.

Gerakan Si Won terhenti karena ia mengenali suara itu. Ia berbalik dengan cepat. Kedua matanya membulat saat ia mendapati dugaannya benar. Kim Hee Chul berdiri di sana, mendekap adiknya dan baru saja…

Tunggu dulu! Bukankah Hee Chul adalah tunangan Ah Ryung? Lalu mengapa mereka…

Kemarahan memenuhi ekspresi wajah Si Won tatkala sebuah pemahaman menghantamnya seperti peluru. Ia menatap tajam Hee Chul dan Ha Mun.

“Apa yang sedang kalian lakukan?!”

“Tidak, kau salah paham!” Ha Mun berteriak ketika Si Won memutuskan angkat kaki secepatnya dari ruangan itu seakan-akan berada satu ruangan bersama mereka merupakan sesuatu yang menjijikan. Si Won memang tampak jijik dan marah. Ha Mun sekilas melihat ekspresi itu sebelum Si Won berbalik pergi.

Hee Chul membiarkan Ha Mun lepas dari pelukannya dan pergi mengejar Si Won. Ia tidak merasa bersalah ataupun malu karena dipergoki oleh Si Won.

Bagaimanapun, situasi ini mungkin akan membantunya mendapatkan apa yang ia inginkan. Hee Chul menyeringai.

Lalu bagaimana dengan Ah Ryung? Hee Chul akan harus menemukan waktu untuk menjelaskan segalanya pada gadis itu.

***tbc***

70 thoughts on “Trouble Namja [Chapter 3]

  1. Selamat kakak, amu buat aq pengen nonjok mukanya heechul. Kasian ah ryung ditusuk dari belakang secara gak langsung. Mungkin hamun juga gak maksud gitu tp tanpa dy sadari dy udh buat ah ryung terluka. Awalnya pengen kim bum ma hamun tp setelah baca ni part malah pengennya ma ah ryung hehheheheeh
    Atau ah ryung ma siwon aja hehehhehe biar siwon move on dari jeyoung😊

  2. ah ryung terlalu baik untuk mereka .
    biarkanlah mereka bahagiah diatas penderitaan ah ryung .
    semoga mereka merasakan apa itu yang akan dirasakan ah ryung saat tau semuanya .

  3. Sebenarnya apa mau chulei… semoga dia sungguh2 dgn hamun…. tpi aq suka klw hamun sama hyukjae… trus Ah ryung dgn kibum…. itu jg gk masalah….. lalu chulei cari lagi…kkkkkkk

  4. Tu kan bener,ya amapun ah ryung????
    Berharap kelakuan ha kun ke heechul bisa kekontrol dan dia bisa jaga hati.

    Dan berharap ah ryung bisa tau segalanya lebih cepet

  5. orang tuanya Heechul aja sudah suka sama Ahryung, kayaknya kalau sama Hamun nggak begitu mungkin. Si Heechul tuh maunya sama siapa sih, persahabatan mereka dipertaruhkan hanya gara-gara Kim Heechul

  6. gak di dunia nyata nggak di dunia maya. sama. sama sama ngeselin tuh orang hahaha

    heechul menyebalkan.

    semangat thoorrr🙂😉

    aku lanjut yaaaa🙂 ya ya iyaaain aja deeh hehehe

    semoga dede baimnya gak rewel dan anteng supya mommynya bisa lanjutin buat nulis karyanyaaa…. :-):-):-):-)

  7. Heechul bener bener menyebalkan. Kenapa Hamun gak bisa move on dari heechul? Bagaimana selanjutnya hubungan antara ah ryung dan Hamun?

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s