Shady Girl Yesung’s Story [Chapter 8]

Judul : Shady Girl Yesung’s Story Chapter 8
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Mystery Case, Romance

Main Cast
Choi Eun Ri | Ye Sung

Dha’s Speech:

Happy Reading, n jadilah reader yang jujur, tertib, dan cinta damai. ^^

Shady Girl Yesung's Story 3 by Dha Khanzaki

 

===o0o===
CHAPTER 8

Pikiran Ye Sung dipenuhi dugaan mengenai siapa yang berani mencurangi Ox. Meskipun belum ada bukti, Ye Sung yakin yang mencuri di rumah orang tua Suho bukanlah Ox. Ia kembali ke kantor kejaksaan seorang diri. Suho memutuskan berada di TKP untuk menyelidiki lebih mendalam kasus itu sekaligus menenangkan Ibu serta Bibi Jang. Sementara Yoo ditugaskan Ye Sung di sana untuk mengawasi menggantikan dirinya.

Alangkah terkejutnya Ye Sung ketika memasuki ruang kantornya, ia menemukan sosok Jin Ki di sana, menunggunya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Ye Sung menaruh curiga. Ia tengah memikirkan tentang Ox, dan siapa pencuri satunya lagi. Karena itu ia tak menyangka Jin Ki si tersangka akan muncul di sana. “Jika kau kemari untuk mencuri, kau salah alamat. Kau tidak akan menemukan permata yang kau cari di sini.”

“Bukan aku yang mencuri kali ini,” tegas Jin Ki tenang.

“Aku tahu,” gerutu Ye Sung kesal.

Jin Ki mengerjap, “Kau tahu?”

“Ya. Metode yang dilakukan pencuri kali ini berbeda denganmu. Ox yang asli tidak akan bertindak seceroboh pencuri kali ini dengan melukai korban.” Melihat Jin Ki tersenyum mendengar penjelasannya, Ye Sung buru-buru menambahkan. “Tetap saja aku tidak akan membebaskanmu dari tuduhan pencurian yang kau lakukan sebelum ini.”

“Aku tidak akan mencegahmu.” Jin Ki mengangkat bahu dengan santai, lalu duduk di sofa tanpa menunggu dipersilakan oleh Ye Sung. “Tentu saja kau boleh menangkapku jika kau memiliki bukti yang kuat. Oh ya, selain itu kau juga harus berhadapan dengan tim pengacaraku karena aku tidak akan membiarkan diriku ditangkap begitu saja.”

“Lalu apa tujuanmu kemari? Apa kau ingin berkoar-koar hal tidak penting seperti ‘aku bukan pelakunya’? Dasar Bocah Sombong!”

Jin Ki tergelak melihat Ye Sung emosi. “Aku hanya tidak mau dituduh melakukan sesuatu yang tidak kulakukan. Tapi sepertinya orang-orang percaya bahwa pencurian kali ini pun dilakukan oleh Ox. Tentu saja hanya kau yang tidak berpikir begitu. Seperti yang kau katakan tadi, aku tidak akan melukai orang lain, tidak seperti pencuri pengecut yang memukul seseorang tak berdaya dan menjatuhkan tuduhan pada orang lain.”

“Lalu?” Ye Sung mengangkat alisnya. Sebenarnya apa yang ingin disampaikan Jin Ki?

“Aku kemari untuk memperingatkanmu, Jaksa Kim. Kau harus berhati-hati karena kemungkinan si pencuri kali ini adalah seseorang yang ingin membalas dendam padamu. Mungkin saja si pelaku mencuri berlian terakhir sengaja membuat perbedaan untuk menarik perhatianmu.”

“Perhatianku?” Ye Sung terperanjat.

Jin Ki berkata dengan nada yang lebih serius. “Apa kau memiliki seseorang yang benar-benar membencimu hingga ingin membunuhmu?”

“Membu,” Ye Sung kehilangan kata-kata. Ia dengan marah bertanya pada Jin Ki, “Apa tujuanmu datang kemari?”

“Aku ingin membantumu menemukan pelaku pencurian itu. Aku membutuhkan berlian yang terakhir untuk menyempurnakan tujuanku.”

Ye Sung lebih terkejut lagi dengan penuturan itu. Jin Ki menambahkan, “Jika kau memberiku berlian terakhir itu, sebagai kompensasi aku akan menyerahkan diri.”

***

“Apa? Itu ide yang gila, Jaksa Kim! Bagaimana bisa kau setuju berkomplot dengan Lee Jin Ki?!” Yoo terperanjat kaget seusai Ye Sung mengatakan seluruh rencana yang disepakatinya bersama Jin Ki. Ia setuju dengan usul Jin Ki, ia akan menangkap pencuri berlian terakhir, menyerahkan berlian itu pada Jin Ki dan pemuda itu akan menyerahkan diri. Masalah selesai.

Ye Sung meringis. “Bukan berkomplot, tapi bekerja sama.”

“Tetap saja kita tidak boleh membiarkan Jin Ki berkeliaran begitu saja. Dia sudah mengaku, bukan? Sebaiknya kita tangkap saja.” kata Suho menggebu. Suho masih marah karena rumah orang tuanya dijarah pencuri dan pengasuh kesayangannya dilukai.

“Tanpa bukti?” tanya Yoo.

Suho terdiam sesaat. “Tapi bagaimana jika ini hanya jebakan Jin Ki? Tidak menutup kemungkinan pelaku terakhir itu masih satu komplotan dengan Jin Ki.”

“Tak perlu menaruh curiga sampai seekstrem itu. Jin Ki bekerja sendiri, dia tidak mungkin memiliki komplotan. Aku percaya padanya. Tapi aku tahu maksudmu. Kita harus tetap waspada,” terang Ye Sung tenang.

Sebenarnya Ye Sung juga menentang keras ide itu pada awalnya, namun Jin Ki menjanjikan padanya sesuatu yang secara otomatis melunakkan kekeraskepalaannya.

“Kau benar-benar tidak tahu malu. Berani sekali kau menawariku kerjasama! Bagaimana kalau aku memberimu cara yang lebih mudah? Kau menyerahkan diri saja tanpa perlu tawar menawar denganku karena kau memang seorang kriminal!” kata Ye Sung dua jam yang lalu saat Jin Ki menawarinya genjatan senjata.

“Aku masih warga negara biasa yang taat pada hukum sampai kau menemukan bukti, Jaksa Kim. Apa sekarang kau sudah memiliki bukti itu?” tanya Jin Ki polos. Ye Sung mengumpat. Ia kesal karena tidak bisa membalas kalimat itu.

Jin Ki tampak sedang melamun saat Ye Sung bertanya, “Kenapa kau mencuri?”

“Apa?”

“Kenapa kau mencuri? Kau tidak terbilang miskin. Kau bisa mendapatkan perhiasan semacam itu dengan uangmu sendiri, bukan?”

“Kupikir aku tidak perlu menjawabnya. Kau sudah mengetahui jawabannya.”

“Karena ibumu?”

Jin Ki mengangguk tanpa mengatakan apa-apa.

“Apa kau berpikir ibumu akan menerima benda hasil curian?”

“Tidak jika dia tahu. Tapi aku menjamin ibuku tidak akan mengetahuinya.”

“Aku yakin dia akan bisa menebaknya setelah aku datang menemuinya tempo hari. Aku menanyakan soal kalungnya yang hilang dan dirimu.”

Ekspresi wajah Jin Ki berubah tegang selama beberapa detik. Ye Sung tak menyangka akan menyaksikan pemuda itu terkejut. Dia tidak tahu bahwa Ye Sung menemui ibunya? Aneh sekali, apakah adiknya tidak mengatakan apa-apa tentang itu?

“Ibu akan tetap menerimanya, aku yakin. Ibu sangat merindukan kalung itu.”

“Aku meragukannya. Untung saja ibumu tidak melihat berita tentang Ox karena aku yakin ibumu pasti akan langsung mengenalimu saat melihat sosokmu yang tertangkap kamera CCTV.”

“Bisa jadi. Ibuku memiliki penglihatan super tajam.”

Anak ini tidak terlihat menyesal atau takut seperti sebelumnya. Ye Sung memutuskan bertanya hal lain.

“Kenapa kau tidak mencoba membeli permata-permata itu alih-alih mencurinya?”

“Kau pikir aku tidak mencobanya? Aku sudah pernah menemui pemilik permata-permata itu tapi mereka menolak memberikannya. Hwang Jin Mi menolak dengan alasan benda itu karya seni kebanggaan museumnya, baik Lee Dong Hae maupun Lee Hyuk Jae berdalih permata itu adalah hadiah untuk istri mereka. Aku yakin kau pun tidak akan menyerahkan cincin pernikahanmu begitu saja.”

Ye Sung tak menjawab, hanya menggertakkan gigi.

“Selain itu aku putus asa. Kau akan merasakannya di saat orang yang kau sayangi berada di ambang kematian, kau membutuhkan sesuatu untuk menyelamatkannya sementara apa yang kau inginkan tidak bisa kau dapatkan sekuat apa pun kau berusaha. Aku tidak memiliki banyak pilihan.”

“Dan kau pikir mencuri adalah satu-satunya cara?”

Kata-kata Ye Sung ternyata membuat kesedihan memancar dalam sorot mata Jin Ki.

“Aku sudah berusaha menghentikan diriku sendiri saat aku gagal melakukan pencurian pertama. Dengan meninggalkan tanda.”

“Maksudmu tanda O dan X?”

“Ya. O adalah inisial untuk Onew, nama panggilanku dan dalam sebuah peta harta karun, X merupakan sebuah tanda yang merujuk pada harta karun. Jadi Ox adalah tanda bahwa di situlah harta karunku berada.”

Kedua mata Ye Sung melebar menyadari nada suara Jin Ki berubah dalam dan serius.

“Aku tidak ingin menjadi pencuri, sungguh, dan aku tidak akan melakukannya jika tidak terpaksa. Aku sudah berusaha menunjukkan diriku dengan tanda itu berharap seseorang akan menyadarinya dan mencegahku mencuri. Tetapi tidak ada satu orang pun yang mengenaliku. Mengapa kau tidak mengenaliku lebih awal, Jaksa Kim?”

Ye Sung mengerjap, rupanya dugaan Suho tentang Ox yang ingin dirinya dikenali memang benar. Ia mendengus.

“Kau pikir mudah menebak pelaku di antara sekian juta penduduk Seoul? Karena sekarang aku sudah mengenalimu, apa kau ingin aku menangkapmu?”

Jin Ki tersenyum miring. “Sudah terlambat untuk menangkapku. Tidak ada jalan bagiku untuk kembali. Selain itu, jika kau membantuku mendapatkan berlian terakhir, cincin pernikahanmu akan kukembalikan.”

Ye Sung mendesah berat setelah lamunannya berakhir. Ia yakin keputusannya tidaklah salah. Lagipula bukan tanpa alasan Ye Sung menyetujui saran Jin Ki.  Bocah itu memiliki ke lima barang bukti yang hilang, walaupun hingga kini Ye Sung penasaran di mana Jin Ki menyembunyikan semua permata hasil curiannya. Ye Sung mau tak mau harus menerima kemauan Jin Ki, terutama setelah Jin Ki berjanji akan memberikan cincin pernikahan Ye Sung jika Jin Ki mendapatkan berlian terakhir.

Selain itu Jin Ki sudah berjanji akan menyerahkan diri setelah pencuri yang satunya lagi tertangkap. Kasus ini akan selesai dan Ye Sung bisa melangsungkan pernikahan sesuai rencana. Segalanya akan kembali normal.

Akhirnya, setelah diyakinkan bahwa Jin Ki tidak akan kabur setelah mereka menuruti keinginannya nanti, Suho dan Yoo mau bekerja sama juga.  Kemudian mereka mulai menyelidiki rekaman CCTV dan laporan penyidik. Selagi mereka sibuk, Ye Sung undur diri sejenak. Tiba-tiba saja ia merindukan Eun Ri. Sudah seharian ia tidak ada kabar dari tunangannya itu, padahal Eun Ri telah berjanji akan membawakannya makan.

Ye Sung pergi  ke atap gedung kantornya untuk menghubungi Eun Ri.  Setelah dicoba berkali-kali, Eun Ri tidak kunjung menjawab panggilannya.

“Aneh, tidak biasanya ponselnya sulit dihubungi.” Ye Sung bingung. “Apa mungkin dia sedang rapat?” Mengingat hal itu Ye Sung memandang arlojinya. Tidak, Eun Ri tidak akan mengadakan rapat di jam makan malam seperti sekarang.

Aneh. Tidak biasanya Eun Ri terlambat. Ye Sung merenung, apa ia melakukan kesalahan lagi yang membuat gadis itu marah? Ye Sung kemudian menghubungi ibu Eun Ri, tapi calon mertuanya itu pun berkata bahwa Eun Ri tidak pulang ke rumah. Kalau begitu Eun Ri mungkin sudah pulang ke apartemennya.

Tidak ada tanda-tanda keberadaan Eun Ri begitu Ye Sung tiba di apartemen tunangannya. Kini Ye Sung benar-benar kebingungan. Eun Ri tidak pernah sampai tidak bisa dilacak seperti ini. Mungkin dia berkunjung ke rumah salah satu rekan kerjanya. Ye Sung memutuskan bertanya pada Sung Young Jae dan Henry Lau. Namun sebelum Ye Sung menghubungi salah satu dari mereka, sebuah panggilan dari nomor tak dikenal lebih dulu masuk.

“Ya, ada yang bisa kubantu?” tanya Ye Sung.

“Kutebak, saat ini kau sedang kebingungan mencari tunanganmu.”

Apa? Siapa orang lancang yang berani mengatakan itu? “Siapa kau? Dan bagaimana kau tahu aku sedang mencari tunanganku?”

Orang di ujung sana tertawa. Ye Sung mencengkeram ponselnya lebih erat. Sialan. Suaranya telah disamarkan sehingga Ye Sung tidak bisa menerka jenis kelaminnya. Lagipula mengapa ia harus percaya? Bisa saja ini hanya telepon iseng.

“Apa kau sedang bergurau denganku? Maaf, tapi saat ini aku sedang tidak membutuhkan hiburan!”

“Namanya Choi Eun Ri, bukan?”

Ye Sung batal memutuskan sambungan. Matanya membelalak. Dia tahu!

“Bagaimana..?” Ye Sung tak bisa mengendalikan nada suaranya yang bergetar. Ia mulai panik. Bedebah di seberang sana mengetahui tentang Eun Ri! Apa yang diinginkannya?

“Tunanganmu ada bersamaku.”

“Apa?!” Ye Sung kaget sekali. Ia berteriak. Amarahnya seketika mendidih.

“Tak perlu panik. Aku tidak melakukan apa pun padanya selain membuatnya pingsan. Hmm.. setelah kuperhatikan dia gadis yang cantik.”

“Siapa kau?! Jika kau berani menyentuhnya atau melukainya, aku bersumpah akan membunuhmu!”

“Ho ho ho ho, seorang penegak hukum sepertimu akan membunuh? Tak bisa dipercaya. Hanya demi wanita kau rela melanggar prinsip, seberharga itu kah wanita ini bagimu?”

“Berhenti bicara omong kosong! Katakan siapa dirimu dan di mana Eun Ri sekarang!”

Orang itu lagi-lagi tertawa. Ye Sung sungguh ingin mencekik siapa pun yang berads di ujung sana. Berani-beraninya orang itu mempermainkannya dengan lelucon tak lucu, dengan memanfaatkan Eun Ri.

“Sepertinya kau memang sangat mencintai tunanganmu. Baiklah, jika kau ingin dia kembali, datanglah kemari,” orang itu menyebutkan sebuah alamat yang tak dikenal. “Jangan beritahu siapa pun, datanglah sendiri. Jika kau melanggarnya, aku tidak akan bisa menjamin keselamatan tunanganmu. Mungkin saja, jika kau berani membuatku kesal, aku akan membunuh tunanganmu.”

Sialan!

“Baik. Aku akan melakukannya,” gertak Ye Sung di sela giginya. Sebenarnya siapa orang ini! Beraninya dia mengancam dengan menggunakan Eun Ri!

“Dan jangan lupa, bawa juga keempat berlian yang dicuri OX bersamamu.”

“Apa?!” Ye Sung terkejut. Apa lagi ini? “Jika kau menginginkan berlian itu, kau bisa memintanya langsung pada si pencuri tanpa perlu melibatkan Eun Ri!”

“Sekarang bukanlah saat yang tepat untuk tawar-menawar, Jaksa Kim. Jika kau menginginkan tunanganmu selamat, bawa semua perhiasan itu padaku. Lagipula aku tahu kau dan Ox saling mengenal. Memohonlah padanya agar  menyerahkan berlian itu dan kau bisa membawanya padaku sebagai tebusan atas tunanganmu yang cantik ini. Aku beri kau waktu dua jam. Jika kau tidak membawakanku berlian itu, kau harus siap jika bertemu dengan tunanganmu yang sudah tak bernyawa. Jangan bawa polisi atau hasilnya pun akan sama, tunangannya mati.” Setelah itu sambungan terputus.

“Apa?! Hei, tunggu, tunggu!” Ye Sung tersungkur di tanah. Ia benar-benar kebingungan.

Eun Ri dalam bahaya, ia harus segera diselamatkan! Ye Sung tidak boleh membuang waktu. Ia tidak boleh terus cemas dan panik karena nyawa Eun Ri sedang dipertaruhkan. Ia menyudahi keterpurukannya dengan bangkit, lalu lekas menelepon Yoo serta Suho untuk meminta bantuan.

Mengapa musibah ini bisa terjadi?! Dan mengapa harus sekarang, di saat Ye Sung hampir saja menyelesaikan kasus dan ia bisa memusatkan pikirannya pada persiapan pernikahannya dengan Eun Ri. Dasar penjahat sialan! Siapa pun dia, Ye Sung bersumpah akan memberinya ganjaran setimpal karena telah bermain-main dengan dirinya.

Yoo dan Suho mondar-mandir di seputar ruang kantor Ye Sung. Mereka sama-sama terkejut cemas, dan bingung seperti Ye Sung. Sementara Ye Sung sendiri tengah merenung di balik meja kerjanya dengan kepala dipenuhi rencana-rencana cerdas untuk menyelamatkan Eun Ri.

“Bagaimana pelaku itu tahu kita sudah menemukan Ox? Semestinya tidak ada yang tahu selain kita bertiga, bukan? Kita bahkan belum memberitahu polisi karena kita tidak memiliki bukti,” ujar Yoo masuk akal. Ye Sung dan Suho pun berpendapat sama dengannya.

“Mungkin selama ini kita dimata-matai si pelaku tanpa disadari?”

Ye Sung langsung memandang Suho. Wajah mereka berubah pucat karena di kepala keduanya berkelebat pemikiran yang sama.

“Ada apa?” Yoo kaget melihat Ye Sung dan Suho bergerak secara mendadak, berkeliling ruangan itu untuk memeriksa kabel telepon, CCTV dan komputer di kantor, bahkan semua benda di sana diperiksa secara  teliti. Yoo yang tidak mengerti ikut mencari walaupun ia tidak tahu apa yang harus ditemukannya.

“Seperti yang kuduga,” desis Ye Sung rendah dan tajam.

Suho dan Yoo mendekati Ye Sung, mereka terkejut melihat alat penyadap terpasang di dalam salah satu pajangan di meja Ye Sung. Sekarang mereka tahu bagaimana cara si penculik mengetahui rahasia yang semestinya hanya diketahui mereka bertiga. Selama ini mereka tanpa sadar telah dimata-matai.

“Sial!” Ye Sung nyaris meremukkan alat penyadap itu dengan tangan kosong. Semestinya ia memeriksa semua benda yang masuk ke ruang kerjanya. Tentu saja, siapa yang akan mencurigai sebuah pajangan yang merupakan hadiah dari salah satu rekan kerjanya? Ye Sung pun tak bisa menyalahkan si pemberi, karena dia berkata pajangan itu pemberian kliennya.

Kurang ajar! Ye Sung tak mengira telah masuk ke dalam jebakan si penculik begitu saja. Ia hanya tidak menyangka si penculik sudah menyusun rencana kejahatannya sejak Ye Sung menerima kasus Ox.

“Penculik itu sengaja memasang alat penyadap di sinu untuk mencari informasi tentang berlian. Dia melakukannya karena kau yang berwenang menangani kasus itu.” ucap Suho. Ye Sung masih termangu.

Benarkah hanya itu alasannya? Bukan karena ada alasan lain?

“Mengapa penculik itu sangat menginginkan berlian biru yang dicuri Ox? Berlian itu memang berharga, tapi mengapa?” Yoo heran sekali.

Ye Sung menegakkan tubuhnya, ekspresinya kaku seperti marmer. “Mungkin kita akan tahu jika menanyakannya pada Ox.”

Karena satu-satunya orang yang bisa menjawab pertanyaan itu hanyalah Ox.

***

Ye Sung dan lainnya tiba di kediaman Jin Ki tak lama kemudian. Mereka begitu terburu-buru karena tenggat waktu yang diberikan si penculik nyaris habis. Mereka harus mendapatkan jawabannya sekaligus meminta Jin Ki bekerja sama untuk menyelamatkan Eun Ri.

Untungnya, Jin Ki ada di rumahnya saat itu. Tidak beruntungnya, nyaris mustahil meminta agar pemuda arogan itu bersedia bekerja sama. Alih-alih, Jin Ki justru ikut berspekulasi tentang si penculik juga.

“Aku sudah menduga hal semacam ini akan terjadi,” desah Jin Ki sambil mengusap dagunya dengan angkuh.

Ye Sung, Suho serta Yoo terkejut.

“Mengapa?”

“Dahulu, ketika berlian itu masih berbentuk satu liontin utuh dan merupakan bagian dari kalung ibuku, kalung itu pernah dicuri oleh segerombolan pencuri yang menamai diri mereka Black Mask.” Jelas Jin Ki serius.

“Black Mask?” Ye Sung mengerjap, langsung teringat pada kelompok pencuri yang membuat kedua orangtuanya tewas.

Jin Ki melanjutkan, “Ibuku sedang berada di bank saat pencuri itu beraksi. Salah satu dari mereka tertarik dengan kalung yang dipakai ibuku dan merampasnya lalu kabur begitu polisi datang. Sempat terjadi baku tembak antara polisi dan para pencuri yang berhasil mengambil sejumlah uang dan kalung ibuku. Polisi mengejar mereka hingga ke pedalaman hutan di lereng gunung. Entah apa yang terjadi, pencuri itu kehilangan kalung ibuku di sana. Tak lama kemudian seorang pria tua yang tinggal di sekitar hutan itu menemukannya. Demi mengobati putrinya yang sakit, pria tua itu menjualnya pada kakek pemilik toko perhiasan dan kemudian kakek itu menjual liontin berlian yang sengaja dipecah olehnya itu pada tiga orang pembeli yang ternyata desainer ternama.”

Suho dan Yoo menarik napas tajam. Penjelasan Jin Ki amat sesuai dengan penyelidikan yang telah keduanya lakukan.

“Berkat penyelidikan itulah aku mengetahui bahwa kalung ibuku telah berubah menjadi lima perhiasan yang berbeda. Hanya saja aku tidak tahu siapa mereka karena kakek itu lupa nama-nama orang yang membeli berlian itu. Si kakek hanya tahu bahwa mereka seorang seniman. Akhirnya aku terpaksa mendatangi semua pengrajin perhiasan yang terkenal untuk mencari potongan berlian itu.”

“Dan setelah menemukannya, bukannya meminta dengan cara baik-baik, kau justru merencanakan sebuah pencurian?” cemooh Ye Sung pedas.

“Astaga, Jaksa Kim, kau menyebut aksi ‘meminjam’ yang kulakukan dengan cara sekasar itu!” Jin Ki pura-pura tersinggung. Namun nyatanya, laki-laki itu menyeringai lebar. Ye Sung sangat kesal dibuatnya.

“Kau tahu perbuatan itu salah, bukan? Tak peduli kau melakukannya demi mendapatkan kembali perhiasan yang sudah dicuri dari ibumu,” kata Suho jengkel.

“Sebaiknya kau menyerahkan diri saja.” timpal Yoo.

“Kau pikir aku mau melakukannya? Tidak akan sebelum aku menyelesaikan misiku. Karrna kondisi genting, aku terpaksa mencuri!” Jin Ki mendengus. Raut mukanya mendadak berubah muram. “Aku ingin menghadiahkan kalung kenangan itu untuk ibuku yang tengah sakit keras. Aku takut tidak bisa melihatnya lagi dalam waktu dekat.”

“Itu tidak lantas memaksamu menjadi pencuri, bukan? Selalu ada pilihan,” ujar Ye Sung tajam.

“Oh ya, lalu mengapa sekarang kau menemuiku di sini dan memintaku bekerja sama denganmu agar kau bisa menyelamatkan tunanganmu? Apa kau sudah kehilangan akal sehat? Meminta bantuan pada seorang pencuri untuk menangkap pencuri lain? Kau jelas-jelas sedang putus asa saat ini.”

Bibir Ye Sung terkatup rapat dan jantungnya tertusuk dengan telak sampai ia tidak mampu membalas ucapan Jin Ki. Ia sadar, apa yang dilakukannya saat ini memang tindakan putus asa. Ye Sung hanya memikirkan bagaimana cara menyelamatkan Eun Ri. Suho dan Yoo pun menatap tangan masing-masing dengan sedih, merasa malu.

“Jadi kau tetap menolak permintaan kami?” Akhirnya Ye Sung sanggup bicara. Ia menatap Jin Ki dengan sorot mata bergetar. Ia mulai diserang kepanikan dan berjuang keras mengendalikan dirinya agar tidak mencekik Jin Ki. Sudah tidak ada waktu lagi. Penculik itu bisa saja telah melukai Eun Ri.

“Kau harus mau bekerja sama. Kau sudah berjanji akan melakukannya,” desak Yoo.

“Jika kau masih juga menolak…” Suho mengancam.

“Tidak juga. Aku setuju,” sela Jin Ki mengejutkan sekaligus melegakan hati Ye Sung dan yang lainnya. Akhirnya. “Karena si pencuri itu mengambil berlian terakhir, aku tidak bisa memberikan kalung itu pada ibuku. Lagipula, aku sudah berjanji akan membantu. Kemungkinan besar, si pencuri berlian dan penculik adalah orang yang sama.”

“Jadi kau sudah menyelidikinya?” Ye Sung mendadak melihat secercah harapan. Eun Ri akan selamat.

Jin Ki mengangguk. “Dan tentu saja dia adalah orang yang mungkin sudah kau duga. Seseorang yang sudah kita tebak.” Ia diam sejenak, menatap ketiga orang lain dengan wajah dihiasi senyum misterius. Melihatnya, sebuah pemahaman berpendar dalam ekspresi Ye Sung, Suho serta Yoo

Suho mengerjap, “Apa mungkin, dia adalah satu-satunya komplotan Black Mask yang selamat sekaligus seseorang yang telah mencuri kalung itu dari ibumu dan menginginkan kalung itu kembali?”

Jin Ki menyeringai, “Ya, dan tebakanku, dia seorang wanita.”

“Apa? Wanita?” Tidak mungkin. Ye Sung yakin sekali suara yang ia dengar di telepon adalah suara pria. Tapi itu bukanlah sesuatu yang harus dipusingkan saat ini. Ada hal lain yang lebih penting. Menyelamatkan Eun Ri.

Ye Sung bangkit dengan terburu-buru. “Baiklah, kita sudah menebak pelakunya, sekarang kita harus bersiap-siap,” katanya pada Suho dan Yoo. “Lalu kau, berikan padaku perhiasan-perhiasan yang sudah kau curi. Aku akan menggunakannya sebagai alat untuk bernegosiasi dengan si penculik.”

“Tidak mau. Untuk apa aku melakukannya?” Jin Ki balas menatap Ye Sung datar.

“Apa?” Ye Sung menegang. Suho dan Yoo yang sudah bersiap pergi pun ikut menatap  Jin Ki dengan jengkel.

“Kau sudah berjanji akan membantu!”

“Tidak, aku berjanji akan membantu menemukan si pelaku, bukan menyerahkan permata-permata itu. Jika kau ingin menyelamatkan tunanganmu, silakan pikirkan cara lain.” Jin Ki mengeraskan ekspresinya. “Kau menyuruhku menyerahkan hasil kerja kerasku serta mimpiku pada si penculik yang telah mencuri kalung itu dari ibuku? Tidak akan pernah.”

Emosi Ye Sung mulai terpancing. Dengan marah ia membalas, “Nyawa Eun Ri dalam bahaya. Aku harus menyelamatkannya. Aku sangat mencintainya.”

“Aku juga mencintai ibuku, sangat mencintainya. Dia sedang sekarat saat ini dan aku ingin menghadiahkan kalung itu untuk kebahagiaannya di akhir hayatnya,” balas Jin Ki tajam.

“Kau mencurinya dari orang lain, apa kau pikir ibumu akan menerima hadiah kalung hasil curian?”

Suho dan Yoo terpaku melihat mereka beradu argumen dengan sengit sementara waktu terus berjalan. Tenggat yang diberikan si penculik hampir habis.

“Jadi menurutmu nyawa tunanganmu lebih berharga dari kebahagiaan ibuku? Dia sangat merindukan kalungnya. Benda itu adalah satu-satunya kenangan indahnya bersama ayahku sebelum mereka berpisah,” tukas Jin Ki.

“Kau!”

“Jaksa Kim!” Yoo dan Suho terkejut setengah mati melihat Ye Sung menarik baju Jin Ki hingga nyaris mencekik pemuda itu.

Ye Sung yang tengah dikuasai amarah menjadi gelap mata, sehingga ia tidak sadar ia telah bersikap kasar. Tetapi cengkeraman kuat Ye Sung tak membuat Jin Ki kesakitan. Ekspresinya tetap tenang. Kini mereka saling melempar tatapan membunuh dalam jarak dekat. Keduanya menunjukkan kekeraskepalaan sekuat baja demi mempertahankan keteguhan masing-masing.

“Meskipun kau membunuhku, aku tetap tidak akan menyerahkannya,” desis Jin Ki tajam.

Cengkeraman Ye Sung mengendur perlahan. Matanya yang membelalak pun pelan-pelan normal kembali. Ye Sung tersadar sekeras apa pun ia memaksa, usahanya sia-sia begitu melihat tekad besar di mata Jin Ki. Ia pun tersadar ia telah melakukan kekerasan. Ini pertama kalinya ia kehilangan kendali diri.  Sekarang setelah kemarahannya mereda, Ye Sung merasakan desakan kesedihan dan keputus asaan.

Ketakutan Ye Sung bahwa ia tidak akan bisa menyelamatkan Eun Ri membesar dan semakin meneror pikirannya. Ia tidak akan pernah bisa mengangkat kepalanya lagi jika ia gagal menjaga Eun Ri. Lebih baik Ye Sung mati saja jika Eun Ri sampai terbunuh karena kesalahannya. Tidak!

Suho dan Yoo mendekat, mereka tidak tega melihat sosok panutan mereka begitu tak berdaya. Ye Sung melepaskan Jin Ki dengan perlahan. Ia menatap Jin Ki. Ekspresi lelaki itu tidak berubah dan seakan menantang Ye Sung untuk melakukan sesuatu untuk memaksanya mengubah pikiran.

“Jaksa Kim. Sudah tidak ada waktu lagi. Kita harus pergi sekarang.” Entah Suho atau Yoo yang berkata, Ye Sung terlalu terkejut pads kenyataan bahwa waktu yang diberikan si penculik hampir habis

Tidak, Ye Sung panik! harus melakukan sesuatu sekarang! Ye Sung memalingkan pandangan pada Jin Ki kembali. Kebulatan tekad di matanya membuat Jin Ki mengerjap.

Apa, apa yang akan dilakukan Ye Sung? Jin Ki waspada. Dan Ye Sung mengejutkan semua orang ketika secara mendadak ia bersimpuh di depan Jin Ki. Suho dan Yoo menjengit ngeri.

“Kumohon, aku tidak ingin kehilangan Eun Ri.” Ye Sung bersungguh-sungguh memohon bantuan Jin Ki. Ia telah menanggalkan semua harga dirnya sebagai seorang penegak hukum dengan memohon pada seorang pencuri. Apapun akan ia lakukan asalkan memberi peluang pada Eun Ri untuk diselamatkan.

Jin Ki menatapnya datar. Walaupun tak tampak simpati di wajahnya, tetapi Ye Sung bisa melihat lelaki itu goyah, terpengaruh.

“Jika kau memang mencintai ibumu, kau pasti mengerti apa yang kurasakan saat ini. Kau pasti tahu betapa besarnya ketakutan yang kau rasakan saat nyawa orang yang kaucintai sedang dipertaruhkan.”

Hempat  terjadi keheningan yang mencekik selama beberapa waktu. Jin Ki tampak membuka mulut, tetapi cepat menutupnya kembali. Ye Sung berdoa pada Tuhan berharap hati Jin Ki akan luluh. Ia hampir bersorak ketika melihat Jin Ki mendesah.

“Perhiasan-perhiasan itu adalah barang bukti berharga, bukankah jika aku menyerahkannya pada si penculik, kau tidak akan pernah bisa menangkapku dan kau tidak bisa melanjutkan pernikahan? Tanpa cincin itu, kau tidak bisa menikahi tunanganmu,” balas Jin Ki membuat Ye Sung terdiam cukup lama.

Keheningan yang terjadi kali ini terasa lebih mencekam. Ye Sung merasakan pertarungan keras antara menyelamatkan Eun Ri dan kewajibannya sebagai jaksa dalam benaknya. Ye Sung tidak mungkin melepaskan kesempatan menangkap kriminal seperti Ox tetapi lebih mustahil lagi jika ia mengabaikan keselamatkan Eun Ri. Jika kasus Ox tidak lekas dituntaskan, ia tidak bisa mendapatkan cincin pernikahan. Tetapi tanpa Eun Ri, tidak akan ada pernikahan.

Ya Tuhan.. Apa tidak ada solusi untuk menyelamatkan Eun Ri dan pernikahannya? Ye Sung amat frustasi.

***

Di suatu kawasan pabrik yang telah terbengkalai, Eun Ri mengerjap kaget mengetahui dirinya terbangun dalam keadaan diikat di kursi.

Di mana aku?

Eun Ri mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia tidak mengenali tempatnya berada. Dari pengamatan yang dilakukannya dalam waktu singkat,  mungkin sebuah gudang tak terpakai karena ruangan tempat ia disekap kini adalah sebuah ruangan luas dengan barang-barang ditumpuk di sudut ruangan.

“Ah, senang melihatmu terbangun.”

Seseorang berkata di sampingnya, Eun Ri menoleh. Ia menemukan seorang wanita yang tersenyum. Ditilik dari wajah dan beberapa kerutan di sekitar mata dan mulutnya, wanita itu mungkin seumuran dengan ibunya. Siapa dia? Mungkinkah dia orang yang membawanya kemari?

“Aku hampir tertidur karena bosan.” Lanjut wanita itu mengabaikan tatapan menyelidik Eun Ri.

“Siapa kau?” Eun Ri merass tenggorokannya kering. Suara yang keluar terdengar serak. Sudah berapa lama ia tertidur? “Di mana aku? Dan mengapa aku berada di sini dalam keadaan terikat?”

Eun Ri mencoba tenang dengan tidak memikirkan kemungkinan terburuk. Ia tidak diculik atau semacamnya. Eun Ri sudah berusaha berpikir positif, itu sebelum ia melihat sepucuk pistol di tangan wanita itu. Apa? Pistol?! Eun Ri tidak salah lihat. Yang digenggam wanita itu memang senjata api. Napas Eun Ri tertahan seketika. Ia terkejut sekali. Ia disergap kepanikan dalam hitungan detik. Eun Ri berusaha melepaskan ikatan tali yang menyatukan tangannya di belakang tubuhnya.

Gerak-gerik Eun Ri dan usahanya untuk meloloskan diri terbaca oleh wanita itu.

“Hentikan. Usahamu sia-sia,” katanya.

“Siapa sebenarnya dia dan di mana aku?”

“Oh, kau lupa bagaimana kita bisa bertemu?”

Eun Ri berusaha mengingat apa yang terakhir kali ia lakukan hingga ia terjebak di sini. Ah, saat itu ia sedang berjalan menuju mobilnya dengan kotak bekal di tangan. Tiba-tiba seseorang menyekapnya dari belakang. Ia pingsan.

Setelah ingatannya tersusun, Eun Ri berteriak marah. “Kau menculikku? Apa tujuanmu?! Aku tidak mengenalmu!” Eun Ri yakin ia tidak pernah bertemu dengan wanita ini sebelumnya.

“Kau tidak perlu mengetahui siapa aku. Tapi aku tahu siapa dirimu.”

“Apa?! Berhenti membual dan lepaskan aku!” Eun Ri memberontak. Teriakan marahnya menggema di seluruh ruangan yang luas dan kosong itu.

Wanita itu terkekeh geli. “Tenang cantik, kau tidak boleh membuat keributan. Kau tahu, benda ini tidak suka keributan.” Wanita itu mengusap pistolnya seperti mengusap kucing kesayangan. “Kau tidak mau dia melukaimu bukan,” tambahnya.

Eun Ri bergidig.

“Hahaha, kau takut?”

Enak saja, Eun Ri tidak sudi merasa takut karena ancaman wanita pengecut yang berlindung di balik sebuah senjata. “Kenapa kau membawaku kemari, apa salahku!”

“Ah, kau tidak salah. Aku membawamu kemari untuk memancing seseorang datang,” kata wanita misterius itu.

Seseorang? Tunggu, mungkinkah.. Eun Ri tahu, tetapi ia takut mengatakannya.

Wanita itu sepertinya bisa membaca pikiran Eun Ri. Dia tertawa.

“Yah, sayang. Tunangan tercintamu. Aku ingin dia datang. Kau adalah orang yang paling dicintainya. Dia akan rela melakukan apapun untuk menyelamatkanmu.” Wanita itu tertawa seperti orang kerasukan.

“Tolong jangan lukai Ye Sung. Aku yakin kau hanya salah paham padanya. Sesungguhnya Ye Sung adalah pria yang sangat baik.” Eun Ri juga tidak menyangkal fakta bahwa sebagai penegak hukum yang kesehariannya menangani kasus-kasus kriminal, Ye Sung akan memiliki musuh. Tapi sampai saat ini tidak ada yang sampai berani mengusik kehidupan pribadi Ye Sung.

Kalau begitu, siapa sebenarnya wanita ini?

“Tidak, aku tidak mungkin salah paham. Aku sudah menyelidiki latar belakangnya seumur hidupku. Dia adalah putra polisi dan pengacara sialan itu, dua orang bajingan yang membuatku kehilangan seluruh keluargaku.”

Eun Ri mengeryit. Ia sangat tidak mengerti apa yang dimaksud wanita itu. Ye Sung tidak pernah sampai membunuh orang, sepengetahuannya pun kedua orang tua Ye Sung tidak melakukannya.

‘Kau masih tidak menyadarinya? Hari itu, polisi dan bawahannya yang bersenjata membunuh beberapa orang keluargaku. Aku dan satu rekanku yang tersisa pergi menyelamatkan diri ke gunung namun polisi itu membunuh rekanku dan aku berhasil selamat dengan kabur sebelum polisi itu tiba. Kau tahu, polisi itu terbunuh bersama rekanku. Hari itu aku kehilangan keluargaku dan pria yang kucintai.”

Eun Ri langsung teringat dengan kisah yang diceritakan Ye Sung mengenai perampokan yang membuat kedua orang tua tunangannya itu tewas. Jadi keluarga yang dimaksud wanita ini adalah…. Dengan terbata ia berkata, “kau adalah perampok terakhir yang selamat itu!”

Kengerian yang terlihat begitu jelas di wajah Eun Ri membuat wanita itu senang. Ekspresinya pun berubah keji dan dingin. Suara tawa melengking yang menguar dari bibirnya membangkitkan bulu kuduk Eun Ri.

“Selamat, kau ingat rupanya.” Wanita itu tersenyum lebar. “Sekarang kau paham bukan mengapa kau di sini untuk memancing jaksa Kim Joong Won? Karena aku akan membalas dendam. Aku juga ingin tahu apakah dia rela melakukan apapun untuk menyelamatkanmu, bahkan sampai berkorban nyawa seperti yang dilakukan tunanganku dahulu.”

Tidak! Ye Sung tidak boleh sampai kemari menolongnya! Eun Ri merasakan firasat buruk. Ia harus melakukan sesuatu. Ia sedang memikirkan jalan keluarnya ketika menyadari wanita itu sudah berada tepat di depannya. Eun Ri tidak bisa kabur. Dengan tubuh gemetar takut serta panik, Eun Ri mendongak menatap tepat ke arah mata kejam si penculik.

Wanita itu menusuknya dengan sinar mata setajam pisau.

“Jika ternyata dia tidak bisa memenuhi permintaanku, aku ingin dia merasakan sakitnya kehilangan orang yang paling dicintai.” Sorot mata wanita itu menggelap dan dia mengarahkan pistolnya tepat ke kepala Eun Ri. “Karena itu berdoalah agar tunanganmu menyelamatkanmu atau hari ini adalah hari terakhirmu di dunia.”

***tbc***

63 thoughts on “Shady Girl Yesung’s Story [Chapter 8]

  1. Jd benar penjahat yg tersisa memang wanita dan ia ingin jaksa kim sgr dtg u mempertanggung jawabkan kesalahan org tuanya dulu, eun ri bingung dan takut, ia tdk ingin tunangannya kenapa2, seru bgt ff nha chingu

  2. Sngguh tdk trduga Yesung ampe brsimpuh d hdpn Jinki sking ptus asanya,,,
    yg mngjutkn lg pnculik Eunri seorng wanita,,, huh hbat jg ya heheeheh
    trnyata wanita itu adlh sgrmbolan pncuri yg mnybabkn kedua ortunya Yesung meninggal…
    Smga Eunri cpt d slmatkan???

  3. dendam masa lalu…..
    pedahal kan harusnya ga bw2 yesung secara dia ga tau apa2 …?toh orang tua yesung pun melakuakan itu karna memang pekerjaannya kalo emang ga mau pada mati dulu ngapain pke rampok …. itu kan kriminal…..

  4. Semuanya udh terungkap..makin menegangkan,siapa coba yg nyulik eunri..gk nyangka kalo wanita,segitu kuatnya keinginan buat balas dendam ke yesung..
    Itukan kesalahan di masa lalu,moga aja penculiknya cepet sadar sama tindakannya dia..miga eunri gk kenapa2,yesung dateng tepat waktu
    Onew apa kabar?ayolah bantu yesung..

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s