Trouble Namja [Chapter 2]

Judul : Trouble Namja Chapter 2
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance

Main Cast :
Choi Ha Mun | Kim Hee Chul | Kim Ah Ryung

Support Cast :
Choi Si Won | Kim Ki Bum | Eun Hyuk

Dha’s Speech :
DHA KHANZAKI IS BAAACCKK!!! *lambai tangan
halo semua, pada kangen gak nih? hehehehe.. Maaf nih aku baru nongol lagi dan melanjutkan ff yang tertunda. Maklumlah, sekarang Dede Baim lagi lucu-lucunya jadi aku gak tega nelantarin pangeran kecilku itu dan selingkuh sebentar ama laptop. Jadi begitulah, sehariannya waktu aku abisin buat urus Dede Baim. Terima kasih sudah memaklumi ^^

Aku gak akan basa-basi lagi, selamat membaca aja. Maaf kalau ceritanya kurang berkenan, banyak typo dan gak sesuai dengan keinginan. *peace

Trouble Namja by Dha Khanzaki 4

===o0o===

CHAPTER 2
Dilemma

Malam itu Ha Mun tidak bisa memejamkan matanya sekeras apa pun ia mencoba. Pertemuan dengan cinta lamanya siang belum bisa Ha Mun lupakan dan membuatnya begitu dilema. Ha Mun pelan-pelan membalikkan tubuhnya menghadap Ah Ryung yang saat ini sudah tertidur pulas di sampingnya.

“Kenapa, kenapa harus dia? Setelah sekian lama aku berharap bisa bertemu dengannya, dan ketika harapanku itu terkabul, kenapa dia harus menjadi tunanganmu?” Suaranya begitu samar, bahkan nyaris tak terdengar. Beruntung Ah Ryung tertidur nyenyak sehingga tidak mendengar kata-katanya.

Ah Ryung tampak sangat bahagia bersama Hee Chul, Ha Mun tidak pernah melihat ekspresi sahabatnya begitu bersinar seperti ketika Ah Ryung bersama Hee Chul sehingga Ha Mun tidak sampai hati mengakui perasaannya terhadap pria itu. Ha Mun menyembunyikan kegembiraan tidak pantasnya saat bertemu kembali dengan Hee Chul siang tadi, ia juga berusaha menahan kegetirannya mengetahui laki-laki yang ia cintai ternyata telah menjadi milik sahabatnya.

Sekali lagi, mengapa harus Ah Ryung?

Seandainya yang menjadi rival Ha Mun bukan sahabat baiknya sendiri, Ha Mun tidak akan semerana ini. Mengapa Tuhan memberinya ujian seberat ini? Ha Mun masih mencintai Hee Chul, pria itu menjadi alasan utama Ha Mun memilih tetap sendiri hingga saat ini, tetapi ia tidak akan pernah tega menghancurkan kebahagiaan Ah Ryung.

Airmata menetes begitu saja di pipi. Ha Mun lekas menyekanya. Hatinya begitu sakit. Kenyataan yang terpampang di hadapannya begitu kejam dan tidak memberinya jalan keluar sama sekali. Memilih antara Hee Chul dan Ah Ryung tidak akan pernah menjadi solusi atas masalahnya.

Karena itu memang bukan pilihan.

Tidak bisa lagi memejamkan mata, Ha Mun memutuskan keluar kamar. Ha Mun duduk sambil memeluk lututnya di ujung sofa ruang tengah. Pikirannya melayang kembali pada kenangannya bersama Hee Chul bertahun-tahun silam.

Kala itu, usianya masih belasan tahun. Usianya dan Hee Chul pun tidak jauh berbeda. Hubungan mereka sangatlah dekat. Karena terlalu dekat, Ha Mun harus menerima kebencian dari murid perempuan di sekolah karena dekat dengan Kim Hee Chul yang tampan, kaya dan populer.

Ha Mun sudah biasa dijahili dan sore itu bukanlah pengecualian. Beberapa murid perempuan mengeroyok Ha Mun karena mereka iri melihat Hee Chul akrab dengannya. Insiden itu membuat Ha Mun mendapatkan banyak luka. Ha Mun memang jengkel, tapi ia harus berterima kasih pada gadis-gadis yang mengeroyokinya karena berkat mereka, ia menjadi lebih dekat dengan Hee Chul.

“Kau pasti lelah terus dibully oleh monster-monster itu,” decak Hee Chul.

Hee Chul marah sekali begitu mendapati Ha Mun duduk dalam kondisi terluka di depan toilet wanita. Hee Chul ingin membalas dendam pada gadis-gadis yang melukai Ha Mun, tetapi Ha Mun melarangnya.

Diam-diam Ha Mun tersenyum. Ia mengeratkan lingkaran tangannya di leher Hee Chul sambil menekankan pipinya di bahu laki-laki itu. Ia gembira sekali ketika Hee Chul memaksa untuk menggendongnya di punggung saat melihat kaki Ha Mun terluka. Padahal Ha Mun masih bisa berjalan meskipun harus tertatih-tatih.

“Mereka fans-mu, Chulppa,” balas Ha Mun sambil mengulum senyum.

“Sampai saat ini kau tak punya teman karena aku.” Hee Chul menggeram.

“Aku memilikimu. Itu cukup.”

Hee Chul tidak mengatakan apa-apa. Ha Mun mendadak merasakan udara di sekitar mereka berubah dingin. Ha Mun mengenali tanda-tanda ini. Hee Chul marah. Ya Tuhan, bagaimana ini? Hee Chul menurunkan Ha Mun di atas ranjang klinik sekolah. Murid yang biasanya bertugas di klinik tidak ada sehingga Hee Chul harus merawat Ha Mun sendiri. Ia mengambil kotak P3K dari dalam kabinet kaca, kemudian mulai membersihkan luka Ha Mun.

Selama lukanya diobati, Ha Mun tak berani bicara. Ia takut Hee Chul akan semakin marah. Ia tidak bermaksud membuat Hee Chul kesal dan Ha Mun mulai menduga-duga alasan pria itu marah.

Mungkinkah karena aku sudah menyusahkan Chulppa? Ha Mun gemetar memikirkannya.

“Maafkan aku.”

Ha Mun mengerjap. Hee Chul meminta maaf? Seharusnya ia yang meminta maaf.

“Aku bersalah dan aku menyesal karena tidak bisa melindungimu dari orang-orang jahat. Karena aku juga kau dibenci sebagian besar murid perempuan di sekolah. Aku tidak suka melihatmu dilukai seperti ini, dan aku lebih marah mengetahui kau disakiti karena diriku.”

Kata-kata Hee Chul begitu tulus. Sudut terdalam hati Ha Mun tersentuh, membuat matanya berkaca-kaca. Perhatian Hee Chul terhadap dirinya sungguh membahagiakan Ha Mun. Ia hanya gadis biasa. Bisa bersama Hee Chul yang luar biasa adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup Ha Mun yang sedikit suram. Ha Mun mengangkat wajah Hee Chul dengan kedua tangannya. Ia memberi Hee Chul senyuman lebar diiringi tawa kecil.

Ha Mun pun tak mengerti mengapa ia tertawa. Ia hanya merasa bahagia.

Awalnya Hee Chul mengeryit kebingungan, namun lambat laun kerutan di dahinya menghilang dan digantikan senyuman lebar.

“Aku baik-baik saja. Asal kau selalu di sisiku, tak memiliki siapa-siapa bukan masalah lagi.”

“Whoaa, Nona Jang, kau benar-benar jatuh cinta padaku.” Hee Chul terkekeh.

“Dan kau tergila-gila padaku. Kemarilah.” Ha Mun menarik Hee Chul agar duduk di sampingnya begitu Hee Chul selesai mengobatinya dan membereskan peralatan ke dalam kotak P3K. Ha Mun menyandarkan kepalanya di bahu Hee Chul.

“Saat kita SMA nanti, aku berharap tidak akan ada siapa pun yang mengetahui bahwa kita adalah pembantu dan majikan. Kenyataan sedikit merepotkan, karena orang-orang akan berpikir aku tak pantas untukmu. Apa begitu hina jika ibuku adalah pembantu di rumahmu dan ayahku adalah sopir ayahmu.”

Sudah beberapa tahun terakhir keluarga Ha Mun mengabdi pada keluarga Hee Chul. Ibu Ha Mun, Cho An Na, atau Jang An Na, bekerja sebagai pembantu yang bertugas membersihkan seluruh rumah keluarga Kim yang luas sementara Ayah Ha Mun menjadi supir pribadi Tuan Kim, Ayah Hee Chul. Karena rumah Hee Chul yang luas dan kedua orang tua Hee Chul yang baik hati, terkadang Ha Mun dan adiknya Ha Myung menginap di sana. Karena Hee Chul anak tunggal dan hampir sebaya dengan Ha Mun, mereka bisa akrab dengan cepat dan mudah.

Ha Mun menyayangi kedua orang tuanya. Ia pun tidak merasa malu dengan pekerjaan mereka meskipun terkadang ia kesal saat ada orang lain yang menyebutnya anak pembantu. Ha Mun marah karena orang itu menghina kedua orang tuanya. Memangnya salah jika bekerja sebagai pembantu? Itu pekerjaan yang halal, bukan?

Hanya saja saat ini Ha Mun merasa kenyataan itu agak menyedihkan karena ia menyukai anak majikan kedua orang tuanya. Status sosial Ha Mun yang rendah akan menyulitkannya untuk bisa bahagia bersama Hee Chul.

“Itu bukanlah sesuatu yang memalukan,” desah Hee Chul. Nada suaranya terdengar keberatan sekaligus pasrah. “Tapi baiklah, aku akan berusaha agar tidak ada yang mengetahuinya. Aku tidak mau ada yang menyiksamu lagi. Aku heran, mereka selalu menemukan waktu ketika kau tidak bersamaku.”

“Sudahlah tidak apa-apa. Yang penting kita selalu bersama.”

“Bagaimana jika di SMA sana banyak gadis cantik. Sepertinya aku akan tergoda.” Hee Chul menggoda. Ha Mun langsung mengerucutkan bibir.

“Silakan saja. Kau tidak menemukan gadis cantik, pintar, dan pandai menari sepertiku.”

“Baiklah, kau menang.” Hee Chul tersenyum, lalu mencium puncak kepala Ha Mun.

Kebahagiaan Ha Mun terasa memuncak hari itu. Ia menyayangi Hee Chul dan telah menetapkan Hee Chul sebagai satu-satunya pria yang akan dicintainya seumur hidup. Keputusan itu terlalu gegabah. Nyatanya, kebahagiaan Ha Mun tak bertahan lama. Beberapa waktu kemudian Ha Mun harus menelan kegetiran karena mimpi-mimpinya hancur.

Hari itu, Ha Mun sangat marah pada ibunya. Semua rencana untuk bersekolah di sekolah yang sama dengan Hee Chul hancur sudah. Padahal Ha Mun sudah berusaha mati-matian untuk bisa masuk ke SMA yang sudah Hee Chul pilih. Penyebabnya karena insiden tak menyenangkan yang dilakukan ayahnya, yang membuat Ha Mun dan keluarganya diusir dari rumah Hee Chul. Ha Mun tidak tahu dengan lebih jelas penyebab yang membuat orang tua Hee Chul murka dan mengusir mereka secara tidak hormat. Namun dengan begitu Ha Mun sadar bahwa kesempatannya bersama Hee Chul telah hilang selamanya.

Segalanya terjadi begitu cepat. Kejadian itu membuat keluarga Ha Mun tercerai-berai. Ayahnya pergi membawa Ha Myung. Tak lama kemudian kedua orang tua Ha Mun bercerai. Ha Mun merasa sangat hancur. Ia tak percaya orang-orang yang ia sayangi akan meninggalkannya.

Di saat Ha Mun masih berduka, ibunya justru memutuskan menikah kembali dengan Tuan Choi. Pada awalnya Ha Mun dan ibunya tinggal di kediaman keluarga Choi untuk bekerja. Ha Mun memutuskan ikut bekerja membantu ibunya mengurus rumah seusai sekolah. Tuan Choi, majikan barunya adalah pria yang baik dan hidup sendiri setelah ditinggal mati istrinya beberapa tahun yang lalu dan hanya memiliki satu orang anak, Choi Si Won yang langsung tidak disukai Ha Mun karena laki-laki itu tampak sok di mata Ha Mun.

Tuan Choi terpikat pada Ibu Ha Mun dan langsung meminangnya. Ha Mun mengakui ibunya memang wanita yang sangat cantik, karena itu ia tidak heran Tuan Choi akan melamar ibunya, namun ia kaget ketika mendengar ibunya menerima lamaran itu. Ha Mun berpikir ibunya menikah hanya demi harta Tuan Choi. Ternyata tidak, lambat laun Ha Mun menyadari ibunya menikah kembali karena mencintai Tuan Choi. Lagipula Tuan Choi pria yang penuh kasih sayang, dan sangat menyayangi Ha Mun seperti anaknya sendiri. Karena itu, Ha Mun pun memutuskan bahagia untuk ibunya. Secara perlahan, Ha Mun pun mulai menerima Tuan Choi sebagai ayahnya serta Si Won sebagai kakak tirinya. Tak dikira Si Won bisa menjadi kakak yang baik meskipun terkadang sikapnya masih menyebalkan.

Kehidupan baru Ha Mun yang berubah 180 derajat tetap tak membuatnya melupakan Hee Chul. Hidupnya masih terasa hampa tanpanya. Terkadang Ha Mun seringkali sengaja melewati rumah Hee Chul berharap bisa bertemu dengannya, namun harapannya tidak terkabul. Hingga pada suatu hari, Ha Mun terkejut melihat Hee Chul keluar dari rumahnya sambil membawa ransel sementara beberapa koper sedang dimasukkan sopir ke dalam bagasi mobil. Tanpa pikir panjang, Ha Mun langsung berlari menghampiri Hee Chul.

“Oppa, kau akan pe gi ke mana?”

“Ha Mun!” Hee Chul sangat terkejut melihat kemunculan Ha Mun yang tak terduga di rumahnya. Kenapa Ha Mun harus muncul di saat seperti ini? Melihat wajahnya Hee Chul merasakan sakit yang menyiksa menyerang jantungnya.

“Aku dan keluargaku akan pindah ke New Zealand.”

“Apa? Pindah?” Ha Mun tak percaya. Hee Chul akan pergi ke tempat yang begitu jauh. Tak cukupkah jarak yang memisahkan mereka sekarang telah menyiksa Ha Mun begitu kejam? Sekarang Hee Chul ingin menyakitinya lebih dalam dengan pindah ke benua lain?

“Pekerjaan Ayah memaksa kami pindah.” Ekspresi Hee Chul benar-benar memperlihatkan penyesalan. Seketika Ha Mun panik dan tidak bisa lagi menahan airmatanya.

“Tapi kenapa harus ke tempat sejauh itu? Aku tidak akan bisa melihatmu lagi. Kumohon jangan pergi, Oppa. Jika kau tidak ada, bagaimana denganku?” Ha Mun memohon pada Hee Chul dengan airmata bercucuran.

“Untuk apa putra kami menuruti kata-katamu?”

Ha Mun tersentak lalu menoleh pada sosok Tuan Kim, Ayah Hee Chul yang baru keluar dari dalam rumah. Nyonya Kim menyusul di belakang suaminya. Ekspresi mereka masih tidak ramah, seperti ketika mereka menendang keluarga Ha Mun dari rumah mereka.

“Hee Chul akan tetap pergi sekalipun kau berlutut di kakinya sambil menangis darah,” timpal Nyonya Kim pedas, yang seketika membuat Ha Mun mundur karena syok.

Hee Chul terlihat tegang dan ingin sekali melindungi Ha Mun dari kemarahan kedua orang tuanya namun Hee Chul tidak bisa melakukan apa pun. Hee Chul mengepalkan tangannya kesal.

“Mengapa kau berdiri di situ, ayo masuk! Kita sudah hampir terlambat!” Nyonya Kim berseru sebelum memasuki mobil.

Hee Chul menatap Ha Mun yang menangis sejenak. Ha Mun melihat banyak emosi dan kata-kata yang sepertinya ingin diucapkan Hee Chul padanya. Tetapi hari itu Hee Chul hanya memberinya pelukan singkat.

“Kita akan bertemu lagi. Pasti.” Setelah mengatakannya Hee Chul lalu pergi begitu saja meninggalkan Ha Mun sendiri.

Sejak hari itu, Ha Mun tidak pernah melihat Hee Chul lagi. Sekarang, ketika harapan Ha Mun untuk bertemu dengan laki-laki itu terkabul, keadaan mencegahnya untuk bahagia.

“Kita memang bertemu kembali. Tapi bukan seperti ini yang aku inginkan. Mengapa hanya aku yang menjaga perasaan ini?”

Ha Mun memeluk lututnya semakin erat. Airmatanya kian membanjir. Ia selalu berharap Hee Chul masih menyukainya dan menyimpan perasaan itu hingga saat ini. Tetapi kini Ha Mun menyadari ia hanya bermimpi di siang bolong. Hee Chul telah berpaling. Hee Chul memilih mencintai wanita lain dan itu adalah sahabatnya sendiri. Kenangan indahnya dengan Hee Chul kini benar-benar hanya berupa kenangan masa lalu dan kemungkinan harapannya bisa bersama Hee Chul sudah tidak ada lagi.

***

“Candace, lihat siapa yang datang.”

Suara Miss Chun, salah satu panitia penyelenggara mengganggu sesi latihan Ha Mun. Ia terpaksa menghentikan gerakan tarinya lalu menoleh. Sosok Si Won yang tengah melambaikan tangan padanya membuat Ha Mun tersenyum. Dengan langkah riang ia menghampiri kakak tirinya itu.

“Kapan kau datang?”

Si Won melihat jam tangannya sekilas. “Sekitar empat puluh menit yang lalu. Panitia penyelenggara acara melarang orang luar mengganggu jalannya sesi latihan. Karena sekarang sudah selesai, mereka akhirnya mengizinkanku masuk.”

Berkat Si Won detik itu Ha Mun menyadari latihan telah berakhir. Pantas saja beberapa penari mulai meninggalkan tempat latihan. Ha Mun terlalu larut dalam latihannya sehingga tidak menyadari bahwa latihan telah selesai. Ha Mun sengaja memusatkan pikirannya pada latihan agar ia tidak perlu memikirkan masalah Hee Chul dan Ah Ryung.

Si Won sama sekali tak menyadari kemurungan Ha Mun. Dengan santai Si Won merangkul adiknya, “Temani aku makan siang. Rekan kerjaku mendadak saja membatalkan rencana dan aku tidak ingin makan sendiri. Jangan khawatir, aku akan mentraktirmu.”

“Tapi..”

“Ayolah, sekarang ini kau terlalu kurus, ditambah jadwal latihanmu begitu padat. Jika kau kurang asupan nutrisi, kau bisa sakit.”

Si Won memang benar. Ha Mun pun merasa berat badannya berkurang. Namun bukan latihan keras yang menjadi penyebabnya, melainkan karena kurangnya nafsu makan Ha Mun diiringi stress selama beberapa hari ini. Ha Mun tidak bisa bercerita kepada siapa-siapa mengenai problemanya, terutama pada Ah Ryung. Dan hal itu membuat Ha Mun sangat frustasi.

Kim Hee Chul menyebalkan, baru muncul lagi dalam hidupku sudah membuatku sekacau ini. Awas kau nanti!

Akhirnya, Ha Mun menerima ajakan Si Won.

“Apa kau tahu tempat makan yang enak di sekitar sini?” Si Won bertanya ketika mereka berjalan menelusuri area dengan berbagai restoran dan toko yang berjejer di sepanjang sisi jalan.

“Aku tidak begitu tahu Sydney. Aku bahkan tidak pernah makan di luar. Ah Ryung selalu membuatkanku bekal karena tahu aku pasti kesulitan jika ingin membeli makan. Kau tahu aku tidak bisa berbahasa Inggris.”

“Ah, benar juga.” Si Won mengangguk. “Kalau begitu aku tidak bisa bertanya padamu tentang tempat bagus yang bisa kujadikan kantor jasa travelku di sini.”

Ha Mun angkat tangan. “Aku menyerah. Aku benar-benar tidak tahu menahu tentang negara ini. Kau seharusnya bertanya pada seseorang yang sudah tinggal lama di sini. Tunggu, kau bisa bertanya pada Ah Ryung. Dia pasti tahu.”

Ha Mun dengan semangat merogoh ponsel dari dalam saku sweternya. Namun sesaat ia terhenti. Ha Mun ingat ia bersikap canggung pada Ah Ryung sejak bertemu lagi dengan Hee Chul. Entah mengapa ia merasa bersalah. Ah Ryung pasti menyadarinya. Hanya saja gadis itu tidak mengatakan apa-apa.

“Kenapa?” Si Won heran melihat Ha Mun melamun.

“Apa? Tidak.” Ha Mun lekas menelepon Ah Ryung. “Hallo, Ah Ryung, apa yang kau lakukan sekarang? Apa kau bisa ikut makan siang bersamaku dan Si Won? Hahaha, jangan khawatir akan mengganggu kami, Si Won yang akan mentraktir semua makanannya. Karena itu kau bisa merekomendasikan padaku restoran termahal di area ini.”

“Kau ini, ingin membuatku bangkrut?” gerutu Si Won seusai Ha Mun menyelesaikan panggilannya. “Bagaimana? Apa temanmu bersedia ikut?”

“Sayang sekali dia tidak bisa. Ah Ryung masih berada di kampus, menyelesaikan tugas kuliah.”

“Sayang sekali. Kalau begitu akan kutanyakan nanti saat kami bertemu.”

Mereka makan siang di salah satu restoran yang terletak tak jauh dari tempat latihan. Makan siang itu diramaikan oleh obrolan ringan dan canda. Si Won mengajak Ha Mun menemaninya berjalan-jalan keliling Sydney hanya untuk mengenali seluk-beluk kota itu sebelum memulai bisnis di sana. Ha Mun ingin sekali, namun sayang ia harus menolaknya.

“Tidak ada waktu luang sebelum pagelaran terselenggara. Tapi aku masih bisa menemanimu keliling mall itu,” dengan jahil Ha Mun menunjuk sebuah pusat perbelanjaan yang berada di seberang jalan dengan dagunya.

Si Won yang hafal gelagat Ha Mun saat sedang ingin bermanja-manja hanya berdecak. Ia mengacak-acak rambut Ha Mun dan tersenyum.

“Baiklah.”

“Kali ini kau akan mentraktirku lagi?”

“Memang apa yang ingin kau beli?”

Ha Mun tersenyum sampai giginya terlihat. “Beberapa barang kecil.”

***

Ha Mun berhenti di depan tempat latihan dengan senyum lebar. “Terima kasih untuk hari ini,” katanya pada Si Won yang tampak lelah.

“Itu yang kau sebut barang kecil? Aku tak mengira barang kecil sampai membutuhkan kantong besar untuk membawanya.” Si Won merujuk beberapa kantong belanjaan yang ditenteng Ha Mun.

“Aku ingin memberikan oleh-oleh untuk Ibu, adik dan teman-temanku.”

“Baiklah, tapi lain kali pakai uangmu sendiri.” Si Won mendengus, ia mengeluhkan isi dompetnya yang keluar banyak sekali hari ini. Ia tidak begitu keberatan jika saja Ha Mun melakukannya di Korea. Si Won tidak membawa banyak uang tunai kali ini, namun juga ia tidak tega jika membuat Ha Mun sedih.

“Ha Mun!”

Ha Mun dan Si Won menoleh mendengar teriakan itu. Ah Ryung sedang melambaikan tangan pada mereka dari arah lobi. Bukan kedatangan Ah Ryung ke tempat yang mengejutkan Ha Mun, melainkan keberadaan Hee Chul di sisi Ah Ryung. Sial! Apa yang dilakukan Hee Chul di sana?! Ah Ryung tidak mungkin diam di tempat apalagi kabur, ia terpaksa menghampiri Ah Ryung dengan senyum dipaksakan.

“Ah Ryung, aku tidak tahu kau akan datang dan..membawa tunanganmu.” Ha Mun melirik Hee Chul dengan canggung. Laki-laki itu membalas tatapan ragu-ragunya dengan tajam. Bibir Hee Chul tersenyum. Ha Mun tersentak dan lekas memalingkan pandangannya. Si Won menyapa Ah Ryung ramah dan berkenalan dengan Hee Chul. Ha Mun melihat kilat curiga dalam sorot mata Hee Chul. Pria itu penasaran dengan Si Won dan mengapa Si Won bisa bersamanya.

“Aku dan Hee Chul Oppa berencana akan makan siang, aku ingat tadi kau mengajakku makan, karena itu aku mampir kemari untuk mengajakmu,” jelas Ah Ryung.

“Oh, tapi kami sudah makan.” Kata Si Won.

“Bagaimana jika kita pergi minum kopi bersama?”

“Aku tidak bisa. Sesi latihan kedua akan dimulai satu jam lagi,” balas Ha Mun.

“Sayang sekali.” Ah Ryung tampak benar-benar kecewa. Ha Mun menyesal telah mengecewakan Ah Ryung, tetapi ia tidak mungkin bisa duduk satu ruangan bersama Hee Chul tanpa menunjukkan perasaan rindunya. Ia tidak ingin Ah Ryung tahu.

“Bagaimana dengan makan malam?”

Semua mata tertuju pada Hee Chul yang telah mencetuskan ide itu. Ha Mun tercengang dan hendak menolaknya dengan alasan lelah, namun Ah Ryung memotong dengan semangat. “Benar, itu ide bagus. Kita makan malam bersama malam ini.” Ah Ryung bertepuk tangan gembira menyetujui ide itu.

“Aku setuju.” Si Won tersenyum. Ha Mun memandang kakak tirinya tak percaya. Ha Mun tahu alasan Si Won menyetujuinya karena Si Won memiliki sesuatu yang ingin ditanyakan pada Ah Ryung. Dasar, biasanya dia selalu menolak!

Kesepakatan telah dibuat tanpa sempat Ha Mun cegah. Ia hanya tercengang. Ia tidak sanggup menatap Hee Chul sama sekali. Yang mengejutkan, Hee Chul justru bersikap mesra pada Ah Ryung. Hee Chul tak merasa malu ketika merangkul dan menyentuh wajah Ah Ryung. Ha Mun merasa tertusuk tepat di hati. Ia mengira Hee Chul akan menjaga sikap mengingat keberadaannya di sana, tapi ternyata tidak. Ha Mun merasa dua kali lebih sakit karena ia bisa merasakan kasih sayang yang Hee Chul curahkan pada Ah Ryung.

Oh Tuhan, Hee Chul mencintai Ah Ryung!

Ha Mun merasa sangat bodoh karena mempertahankan perasaan cintanya selama ini hanya untuk Hee Chul. Pria itu telah melupakannya.

“Aku pergi dulu. Latihan baik-baik. Kabari aku jika kau sudah pulang.” Suara Si Won membuyarkan lamunan Ha Mun. Ia tak sempat mengelak dan hanya membiarkan Si Won mencium keningnya sekilas. Ha Mun tersenyum rikuh pada kakaknya yang melesat pergi. Begitu Si Won menghilang, Ha Mun mendengar suara sinis dari belakangnya.

“Memangnya kau memiliki berapa kakak?”

Ha Mun gelagapan. Tatapan tajam Hee Chul menusuknya dan membuatnya heran. Mengapa ia merasa Hee Chul marah karena cemburu? Hee Chul tahu dengan pasti bahwa Ha Mun adalah anak pertama dan hanya memiliki satu adik laki-laki, tapi tadi Si Won mengenalkan diri sebagai kakak Ha Mun. Jelas Hee Chul curiga karena sikap Si Won tadi bisa dianggap sebagai bentuk perhatian seorang kekasih. Tapi Hee Chul tidak mungkin cemburu pada Si Won, bukan?

“Hanya satu, Sayang,” Ah Ryung membantu menjawabnya. Ha Mun mendesah lega dan sangat berterima kasih pada Ah Ryung.

“Si Won kakak tiriku,” Ha Mun menekankan dengan terburu-buru. Ia melihat Hee Chul menyipitkan mata sementara Ah Ryung bertanya apakah Ha Mun sakit karena wajahnya tampak pucat. Ha Mun tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Sebaiknya ia pergi dari sini.

“latihanku akan segera dimulai. Kalau begitu, aku pamit. Sampai bertemu nanti.”

Ah Ryung menatap kepergian Ha Mun dengan sorot mata khawatir. “Akhir-akhir ini Ha Mun bersikap aneh. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya namun dia tidak menceritakannya padaku.”

“Aneh bagaimana?” tanya Hee Chul. Tatapannya terpaku pada sudut di mana Ha Mun menghilang.

“Aku beberapa kali memergokinya melamun. Ha Mun juga tidak banyak bicara lagi. Apa yang terjadi? Apa mungkin aku sudah melakukan kesalahan padanya?” Ah Ryung sangat merasakan perbedaan itu. Entah mengapa ia merasa perubahan sikap Ha Mun diakibatkan oleh dirinya. Tapi Ha Mun tidak bercerita apa-apa, padahal biasanya Ha Mun selalu mengeluh jika ia atau teman-temannya yang lain melakukan kesalahan dan Ah Ryung pun tidak berani bertanya.

“Kau terlalu banyak menduga-duga, Sayang,” ucap Hee Chul seraya mengelus rambutnya. “Ha Mun mungkin hanya lelah karena latihan.”

Ah Ryung mendesah. Hee Chul selalu bisa membuat perasaannya membaik. “Aku harap semoga begitu.”

***

Ha Mun masih bertanya-tanya bagaimana ia bisa berada di sana, duduk bersama Si Won, Hee Chul dan Ah Ryung di satu meja di restoran yang direkomendasikan Hee Chul untuk menikmati makan malam. Seingatnya ia sudah berusaha menghindar. Tapi kemudian ia ingat, Ah Ryung yang memaksanya dan Ha Mun tidak berani memberontak. Ia hanya pasrah ketika Si Won dan Hee Chul datang menjemput mereka.

Seharusnya aku tidak pulang ke rumah saja. Semestinya sejak awal aku meminta bantuan Eun Hyuk, aku bisa menginap di tempatnya, batin Ha Mun putus asa. Ia berpaling memandang ketiga orang lain yang asyik mengobrol lalu mendesah berat.

Ini akan menjadi makan malam terburuk.

Ha Mun tidak menikmati makanannya. Ia juga tidak ikut berkecimpung dalam obrolan. Selain itu Si Won dan Ah Ryung lebih mendominasi pembicaraan. Si Won benar-benar memanfaatkan kesempatan untuk bertanya pada Ah Ryung mengenai tempat bagus untuk bisnisnya. Ah Ryung pun menyarankan tempat yang bagus. Hee Chul maupun Ha Mun tampaknya hanya menjadi pelengkap saja. Mereka sesekali ikut bicara, itu pun jika ditanya. Hee Chul bahkan lebih memilih menikmati wine-nya daripada bicara. Sejauh ini Hee Chul sudah menghabiskan tiga gelas wine. Sepertinya ada yang sedang dipikirkan pria itu. Ha Mun penasaran.

“Wah, ini lagu favoritku,” seru Ah Ryung saat alunan lagu Band yang sedang memainkan live musik di panggung berganti.

Ah Ryung melirik orang-orang yang asyik menari di lantai dansa. Ia ingin sekali berdansa diiringi lagu kesukaannya. Dengan penuh harap ia menoleh pada Hee Chul, sayangnya Hee Chul sedang tidak dalam kondisi prima untuk diajak berdansa. Tunangannya itu terlihat mabuk. Mungkin akibat 4 gelas wine yang dihabiskannya.

Si Won yang bisa membaca situasi langsung berkata, “Mau berdansa denganku?” Si Won mengulurkan tangan. Anggap saja ini adalah ungkapan terima kasihnya karena Ah Ryung sudah berbaik hati membantunya.

Ah Ryung senang sekali dengan ajakan Si Won. “Kau baik sekali, Oppa.” Ia menoleh pada Ha Mun. “Tolong jaga Hee Chul Oppa. Aku hanya akan turun satu lagu saja.”

“Eh, kau tidak bisa meninggalkan kami berdua. Ah Ryung!”

Rengekan Ha Mun tidak digubris sedikit pun karena Ah Ryung sudah bangkit meninggalkan meja bersama Si Won. Ha Mun menatap memelas Ah Ryung dan Si Won yang kini sedang asyik berdansa. Semestinya Ah Ryung tidak meninggalkannya sendiri berdua saja di sini dengan Hee Chul. Semua ini karena Kim Hee Chul. Jika dia tidak mabuk, Ah Ryunh tidak akan berdansa dengan Si Won. Dengan kesal ia mendelik tajam pada Hee Chul. Kedua matanya menyipit.

“Berhenti berpura-pura, kau bahkan sudah kuat minum sejak masih SMP.”

Hee Chul benar-benar berhenti berakting mabuk. Dengan santai pria itu duduk tegak di kursinya. Senyum di bibirnya merekah. Hee Chul menyesap minumannya sejenak.

“Aku senang kau masih mengingatnya. Aku yang memesan lagu ini, dan aku sudah meminta band agar memainkannya sedikit lebih lama. Aku sangat mengenal Ah Ryung, dia pasti ingin menari diiringi lagu kesukaannya. Dan aku juga yakin kakak gadunganmu itu pasti dengan senang hati menemaninya.”

Ha Mun terkejut mendengar penuturan itu. Jadi Hee Chul sengaja memanipulasi keadaan agat Ah Ryung dan Si Won pergi dan menyisakan mereka berdua di meja itu? Kenapa?

“Si Won benar-benar kakakku,” geram Ha Mun pelan.

“Oh ya?” Alis Hee Chul terangkat sebelah. Hee Chul tak percaya. “Siapa yang menikah kembali, ibu atau ayahmu? Lagipula sikapnya padamu tidak terlihat seperti seorang kakak memperlakukan adiknya.”

“Orang tuaku sudah bercerai. Ibuku menikah kembali dengan Appa Choi, ayah Si Won Oppa. Apa Ah Ryung tidak menceritakannya?”

“Aku tidak bertanya padanya. Ah Ryung memiliki bakat menjadi psikiater, dia pasti curiga bahwa aku cemburu pada kakakmu itu.”

Nafas Ha Mun tercekat di tenggorokan. “Kau tak berhak cemburu padaku.” Mengapa Hee Chul harus cemburu? Demi Tuhan, dia sudah memiliki Ah Ryung!

Hee Chul tersenyum melihat Ha Mun kesal. “Bagaimana keadaan adikmu?” tanyanya tulus.

Ha Mun lega Hee Chul tak melanjutkan serangannya. “Dia baik-baik saja, dia tinggal dengan Ayah, dan aku tinggal dengan Ibu.”

Hee Chul mengangguk. Ha Mun bersiap menerima pertanyaan Hee Chul berikutnya namun Hee Chul tak berkata apa-apa. Entah mengapa ia justru merasa khawatir. Sebenarnya Ha Mun ingin bertanya mengapa dahulu Hee Chul tak mencarinya, mengapa Hee Chul tak pernah sekali pun menghubunginya setelah pria itu pindah, tapi ia memilih tetap bungkam.

“Dulu aku pernah pulang ke Korea, aku mencarimu ke alamat yang pernah kau tuliskan dulu. Tapi tidak ada rumah di sana. Tempat itu sudah djadikan taman bermain. Aku tak tahu lagi mencarimu ke mana. Lagipula aku tidak bisa terlalu lama berada Korea karena keluargaku sedang bersiap-siap pindah ke Kanada. Aku sudah mencoba mencarimu lagi, tapi nihil.”

Ha Mun merenung, ia mendengarkan dengan seksama. Jadi Hee Chul pernah mencarinya. Ha Mun memang sempat memberi alamat tempat ia dan ibunya tinggal dulu, sebelum ia dan ibunya pindah ke rumah Tuan Choi. Ia tak mengira Hee Chul akan mencarinya ke sana. Ia hanya menempati rumah itu selama beberapa bulan. Hee Chul pasti datang setelah ibunya menikah dengan Tuan Choi. Ia ingin bertanya lagi, tapi Ah Ryung & Si Won sudah selesai menari dan kembali duduk di kursi masing-masing.

“Bagaimana, apa keadaanmu sudah membaik?” Ah Ryung melihat Hee Chul sudah bisa duduk dengan normal.

“Oh, sudah sedikit lebih baik. Tapi kepalaku masih sakit.” Hee Chul meringis sambil memijat keningnya.

“Benarkah? Apa aku perlu minum obat? Aku membawa obat.”

“Tidak perlu. Kau sudah kembali, aku merasa lebih baik.”

Ha Mun memerhatikan setiap interaksi Hee Chul dan Ah Ryung yang mesra dengan intens. Ia sungguh tidak mengerti dengan sikap Hee Chul. Laki-laki itu tampak jelas mencintai Ah Ryung, namun mengapa mengaku cemburu melihat Ha Mun bersama pria lain? Mengapa? Apa yang sebenarnya diinginkan Hee Chul dengan mengatakan itu? Ha Mun sungguh tidak mengerti. Baru beberapa menit yang lalu Hee Chul seperti meyakinkan dirinya bahwa cinta untuknya masih ada. Tapi kini, Hee Chul sudah bermanja pada Ah Ryung. Ini sungguh menyesatkan.

“Ha Mun, kau ingin lihat foto bulan madu Kyu Hyun dan Je Young yang terbaru? Mereka sekarang berada di London.” Si Won mengalihkan perhatian Ha Mun pada layar ponselnya yang menampilkan foto Kyu Hyun dan Je Young yang tengah berpose di depan kantor CS Travel, perusahaan travel milik Si Won yang ada di London. Mereka berpelukan, dan terlihat sangat mesra. Di bawah foto itu bertuliskan, “We’ll pray for CS Travel. So far so the best.”

“Aku tidak tahu Je Young bisa bahasa Inggris,” komentar Ha Mun.

Si Won langsung tertawa. “Sudah pasti Kyu Hyun yang menuliskannya.”

“Sudah kuduga.” Ha Mun memaksakan senyumnya. Si Won merasa agak aneh melihat reaksi Ha Mun.

Setelah menikmati makanan penutup, mereka memutuskan pulang. Para lelaki mengantar Ha Mun dan Ah Ryung kembali ke apartemen. Si Won pamit lebih dulu sementara Hee Chul memutuskan singgah sejenak untuk meminum minuman herbal buatan Ah Ryung, karena Ah Ryung bersikeras agar Hee Chul meminumnya, untuk mengurangi efek mabuknya. Ha Mun tak mengatakan apa-apa selama Hee Chul ada di sana meskipun Ah Ryung memaksanya agar bergabung dengan mereka di ruang tamu.

“Sudah terlalu malam, waktunya aku pulang.” Hee Chul bangkit. Ah Ryung dan Ha Mun ikut bangkit. Ah Ryung mengantar Hee Chul hingga ambang pintu. Ha Mun tidak berniat menyaksikannya, namun dari posisinya berdiri ia bisa melihat saat Hee Chul memeluk Ah Ryung dan menciumnya.

Ha Mun tercekat. Ah Ryung tidak melihat ekspresinya karena gadis itu berdiri membelakangi Ha Mun, sementara Hee Chul menyadari dengan jelas raut tercengangnya. Jantung Ha Mun seakan berhenti melihat seulas senyum penuh kemenangan merekah di bibir Hee Chul.

I love you.”

Napas Ha Mun terhenti. Hee Chul memang berbisik pada Ah Ryung, namun jelas sekali mata pria itu tertuju padanya.

Apa artinya itu?!

***tbc***

79 thoughts on “Trouble Namja [Chapter 2]

  1. Q agak2 lupa am crta ny.. mgkin krn trlu lama ngpost kali y..
    Nah loh.. sbnrny ap sih mksd ny heechul? Klo dy sk am hamun knp malah jalin hubngn am ah ryung….

  2. Apa maksutnya si heechul cobaa -__- nggemein dehh — kan kasiann hamun nyaa —
    Eonii ganti id soalnya yg lama aku lupaa ‘-‘

  3. apa apaan si Heechul ini, bingung banget sama sikap Heechul ini kayaknya ada hubungan sama kejadian yang ayah Hamun sama ayahnya Heechul itu, eh tapi gatau juga sihhh

    ayo kak dilanjut terus yaaa, gabtung banget kalo selesai disini :v

  4. heechul jahat, secara tidak langsung dia nyakitin 2 perempuan yg saling bersahabat,,, gak bisakah heechul dan hamun move on dri masa lalu kasian ah ryung😦

  5. I-Itu si Chullie ngapain?!?! minta ditabok, bilang i love you sma siapa tapi matanya lirik siapa ?!?! uuugghh kak, jan lama-lama postnya ya! kburu penasaran nih

  6. aduh c heenim maksud.a apa c…(?)
    jangan kasih harapan palsu ke ha mun donk
    jangan mempermainkan hati 2 cewek sekaligus donk
    blom lagi nnti c ah ryung tau cerita masa lalu mereka

  7. huaseemmm… kok gitu sih?? masihkah ada rasa untuk ha mun dari heechul?? heechul cemburu sama siwon dan ha mun yg terlihat mesra.. tapi knpa??

  8. Sikap heechul membingungkan,apa maksudnya sebenarnya ?
    Apa kalimat itu ditujukan untuk hamun ? Trus gimana dengan ahryung ? Siapa sebenarnya yang dihati heechul ?
    Aku malah inginnya hamun dengan siwon tapi yang aku tahu disana mereka gak bisa menikah walaupun gak sedarah karena mereka saudara tiri,benar gak sech seperti itu ?

  9. Tubkan ketakutan aku udah mulai di.part ini

    Tunggu buknanya di part awal bilang heechul sayang buka cinta ma ah ryung???
    Dan maksudnya hub nya sama ahrung itu ya jalanin aja …..perasaannya mah aslinya masih ke ha mun.

    Dan sekarang dia ketemu lagi ma ha mun otomatis perasaan itu muncul dan membludag

  10. ada masalah apa antara keluarga Heechul dan Hamun. Wahhh si Heechul benar-benar membuat Hamun bingung dengan sikapnya

  11. waaahhhh makiinnn penasaran sama lelanjutanya??? dan sikap heechul di sini benar benar membingungkan?

    eonnieee aku lanjut yaaa
    penasaran banget soalnya… hehe😀

    semangat eonnie dan semangat buat ngurus dedek baimnya…🙂😉😀

  12. Apa sih maksudnya heechul bilang cinta sama Ar rhyung tapi matanya melihat Hamun? Bagaimana selanjutnya hubungan antara Hamun dan heechul

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s