Trouble Namja [Chapter 1]

Tittle : Trouble Namja Chapter 1
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Friendship

Main Cast :
Choi Ha Mun | Kim Hee Chul | Kim Ah Ryung

Support Cast :
Kim Ki Bum | Eun Hyuk | other cast

Dha’s Speech :

Akhirnya bab pertama selesai juga ^^ Cerita trouble namja ini diperkirakan akan panjang episodenya, teman-teman karena menceritakan kisah cinta Ha Mun dan Ah Ryung yang panjang dan berliku ^^ Semoga temen-temen gak bosen ngikutin ceritanya.

Sekali lagi aku mengingatkan, jadi reader yang tertib dan jujur ya ^^ heheheh.. Aku menerima semua pembaca termasuk silent reader dengan tangan terbuka, kecuali para plagiator dan oknum-oknum yang mampir dengan maksud tidak baik. hahhaha…

Happy Reading

Trouble Namja by Dha Khanzaki 4

===o0o===

Chapter 1
(Un) Expected Meeting

Teriakan beserta jeritan heboh terdengar riuh-rendah, menyambut buket bunga yang dilemparkan kedua mempelai ke arah kerumunan muda-mudi yang berkumpul di belakang mereka. Para gadis yang masih lajang berusaha mendapatkan buket itu berharap mereka akan segera menemukan jodoh dan menikah.

Buket yang tersusun dari rangkaian bunga mawar putih itu melayang dan ditangkap sebelum sempat jatuh oleh dua tangan yang berhasil meraihnya lebih dulu dibandingkan puluhan tangan lain yang berusaha mendapatkannya juga. Beberapa langsung mendesah kecewa, bahkan mengeluh karena tak berhasil meraihnya sementara itu dua orang yang berhasil menangkap buket itu saling berpandangan dengan raut wajah tercengang.

Sejenak suasana di antara kedua gadis cantik itu, Choi Ha Mun dan Kim Ah Ryung menjadi hening, kendatipun keadaan di sekitar mereka berisik oleh tepuk tangan dan desahan kagum. Bahkan pasangan pengantin yang sedang berbahagia hari itu, Cho Kyu Hyun dan Shin–sekarang sudah berubah menjadi Cho–Je Young ikut bergembira, mereka tetap membisu sambil menatap satu sama lain. Yang lain mengira akan melihat perdebatan tentang siapa yang berhak memiliki buket itu sesaat lagi menyaksikan situasi keduanya, namun semuanya dibuat terkejut kala melihat Ah Ryung maupun Ha Mun tertawa.

Suasana langsung kembali meriah.

“Sepertinya salah satu dari kita akan menikah menyusul Je Young,” ungkap Ha Mun sambil melepaskan tangannya dari buket itu dan secara tidak langsung membiarkan Ah Ryung memilikinya. “Dan aku memutuskan kaulah orangnya. Kau sudah memiliki kekasih dan aku tidak, jadi kau boleh memiliki itu.”

Sisa tawa masih menghiasi wajah Ah Ryung saat berkata, “Jangan berkata begitu, kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, bukan? Bagaimana jika ternyata Tuhan mempertemukanmu dengan jodohmu dan mempersatukan kalian lebih dulu dibandingkan diriku dan pria yang akan menjadi suamiku?”

“Aku tidak bisa membayangkannya,” ungkap Ha Mun sambil lalu. Ia menganggap ucapan Ah Ryung hanya gurauan. Mana mungkin ia seberuntung itu menemukan pria yang bersedia menikahinya begitu cepat.

“Aku juga,” Ah Ryung setuju, “Kalau begitu lebih baik aku memberikan bunga ini pada teman kita yang ingin sekali menikah menyusul Je Young. Aku berharap keinginannya akan terwujud.”

Kim Myung Soo, pria tampan yang sejak tadi berdiri di dekat mereka dengan tatapan begitu mendamba pada buket bunga itu, terkejut saat Ah Ryung berjalan menghampirinya lalu memberikan benda itu padanya.

“Untukmu. Kuharap kau bisa menikah dengan Yong Mi.”

“Aku tidak tahu harus senang atau merasa tersinggung karena kau membuatku terlihat seperti pria cengeng, tapi terima kasih. Untuk doanya juga.” Myung Soo tersenyum lebar seraya memegang erat buket bunga itu. Ia menoleh ke arah Yong Mi berharap gadis itu mendengar kata-kata sahabatnya barusan, namun Yong Mi tak melihat ke arahnya melainkan ke arah panggung.

Detik itu Myung Soo menyadari MC memanggil nama Yong Mi untuk menyanyi. Je Young memang meminta Yong Mi agar menyanyi di pesta pernikahannya dan Yong Mi yang baik dan periang itu tidak sanggup menolak permintaan sahabatnya.

Myung Soo tersenyum samar. Yong Mi adalah wanita yang paling ia cintai dan ia berharap bisa memilikinya selamanya. Sementara Ha Mun termenung menatap bunga yang tadi sempat dipegangnya. Sebenarnya jauh di lubuk hati Ha Mun berharap ia bisa segera bertemu dengan pria yang ditakdirkan menjadi belahan jiwanya. Namun seperti yang sudah dikatakannya pada Ah Ryung, ia tidak yakin akan menemukannya dalam waktu dekat. Terutama begitu ia teringat pada sesosok laki-laki yang telah lama mencuri tempat di hatinya, dan kini keberadaannya tak diketahui.

Ha Mun berharap ia akan bertemu kembali dengan laki-laki itu. Tapi ia tidak memaksakan keberuntungannya.

***

Cuaca kota Sydney hari itu terik dan panas. Ha Mun harus membenarkan letak kacamata hitamnya begitu ia keluar dari terminal kedatangan. Baru beberapa menit ia tiba di Australia, ia sudah mengeluh. Selain cuaca musim semi Australia yang berbeda dengan di Korea telah membuatnya kesal, Ha Mun pun harus menggerutu karena ia terpaksa berangkat ke Australia seorang diri.

Awalnya ia akan pergi bersama Choi Si Won, kakak tirinya yang tampan itu namun mendadak Si Won membatalkan rencananya di detik terakhir dan membuat Ha Mun merajuk. Meskipun Si Won sudah berjanji akan menyusul beberapa hari kemudian, fakta itu tak membuat suasana hati gadis itu membaik. Masalahnya, Ha Mun tidak bisa berbahasa Inggris! Jadi bagaimana mungkin ia pergi seorang diri ke negara dengan bahasa utamanya bahasa Inggris. Ia bisa tersesat atau mungkin ditipu dan banyak kesulitan lain yang akan ditemuinya jika ia pergi ke tempat semacam itu seorang diri.

“Kau tenang saja, bukankah temanmu itu berjanji akan menjemputmu? Kau tidak perlu bercakap-cakap dengan orang asing sama sekali,” hibur Si Won kemarin, ketika laki-laki itu berkata pada Ha Mun bahwa dia terpaksa menunda kepergiannya ke Australia karena masalah bisnis.

“Berapa kali kubilang berhenti memanggil Ah Ryung dengan sebutan ‘temanmu’, dia memiliki nama. Lagipula kau mengenalnya,” dengus Ha Mun sambil bersedekap.

“Ha Mun, aku tahu kau marah karena penundaan ini–”

“Jelas sekali.” Ha Mun menyela dengan tajam.

“Tapi kau tetap harus pergi. Bukankah kau harus meninjau lokasi pertunjukkan tarianmu besok lusa?”

Dengusan Ha Mun semakin keras dan ia semakin kesal karena ucapan Si Won benar. Esok hari ia harus sudah berada di Australia. Tidak boleh tidak. Ia tidak mau memberikan kesan buruk pada panitia penyelenggara pagelaran seni budaya Korea Selatan di gedung Opera Sydney. Ini adalah kali pertamanya tampil di luar negeri, terlebih di depan para duta besar dan tamu penting lainnya, karena itu ia harus memberikan yang terbaik.

Choi Ha Mun sangat suka menari dan merupakan bakat yang sangat dibanggakan olehnya. Ha Mun mengasah kemampuan menarinya sejak kecil sehingga membuatnya tidak hanya bisa menari, Ha Mun sangat piawai menari. Sudah banyak penghargaan diraihnya dari berbagai lomba yang diikutinya dan puncaknya beberapa bulan lalu Ha Mun mendapatkan tawaran tampil di acara pagelaran seni budaya yang dilaksanakan Kedutaan Besar Korea Selatan di Australia. Pihak panitia sudah mendengar prestasi Ha Mun dan tanpa ragu menelepon sanggar tari tempat Ha Mun bergabung untuk memberitahu kabar baik itu.

Tentu saja Ha Mun menyambutnya dengan suka cita. Tawaran itu akan menjadi batu loncatan untuk karier menarinya. Karena itulah hari ini Ha Mun berada di Australia untuk tampil di acara penting kenegaraan itu. Tapi di hari pertamanya di Sydney, suasana hatinya sudah memburuk.

Ha Mun kembali mengeluh, hal kedua yang membuatnya keki ia alami saat mengaktifkan ponselnya, ia justru mendapati pesan dari Ah Ryung yang memberitahukan bahwa sahabatnya itu tidak bisa menjemputnya.

“Sial, lalu bagaimana aku bisa sampai di apartemenmu?”

Setelah membaca pesan itu, timbul desakan dalam diri Ha Mun untuk mematahkan ponselnya menjadi dua. Tapi sadar ia tidak bisa melakukannya karena ponsel menjadi benda berharga di tempat asing seperti ini. Ia harus tetap memiliki ponsel untuk tetap terhubung dengan Ah Ryung.

Seakan bisa mendengar keluhannya, sedetik kemudian masuk lagi pesan dari Ah Ryung, yang berisi petunjuk arah yang akan mengantarkannya ke apartemen, tapi sebelumnya Ah Ryung juga meminta Ha Mun agar mampir ke kafe yang dikelola Ah Ryung di Sydney, berikut petunjuk arah tambahan untuk mencapai tempat itu.

Kim Ah Ryung membuka usaha itu bersama seorang kenalan yang juga berkebangsaan Korea. Awalnya Ah Ryung melakukan hal itu hanya untuk mengisi waktu luang sekaligus mencari uang tambahan untuk biaya sehari-harinya, namun belakangan Ah Ryung mendapati dirinya menikmati mengelola kafe dan memutuskan untuk mulai menekuni bisnis itu. Kafe yang dikelolanya selalu ramai karena menyajikan makanan dan minuman yang unik dengan harga terjangkau. Ha Mun sangat bangga pada Ah Ryung yang tekun, penyabar dan pintar itu karena telah berhasil mengembangkan bisnisnya di negri asing.

Ha Mun memutuskan pergi sambil menyeret kopernya dan langkahnya kembali terhenti begitu ia melihat nama inggrisnya tercantum di salah satu kertas yang dibentangkan seorang pria berambut pirang keperakan dan berkacamata hitam. Senyum Ha Mun mengembang cerah dan matanya berkedip takjub ketika ia mengenali laki-laki itu. Seraya menaikkan kacamatanya dan menyangkutkan benda itu di atas kepalanya, Ha Mun berseru. “Spencer Lee?” ia nyaris tak percaya melihat pasangan menarinya saat tampil nanti berada di sana.

Spencer Lee ikut tersenyum sampai menampilkan deretan giginya yang rapi dan putih. Ia menurunkan papan nama itu dari depan dadanya lalu merentangkan tangannya menyambut Ha Mun yang tengah bergegas menghampirinya.

“Aku merindukanmu, Kawan.” Ha Mun memeluknya. Pria tampan yang juga kerap dipanggil Eun Hyuk itu balas memeluk Ha Mun.

“I miss you more, Candace.” Eun Hyuk mengeratkan pelukannya.

Ha Mun menarik diri dari pelukan Eun Hyuk sampai ia bisa berpandangan dengan pria itu. “Apa akhirnya kau memutuskan untuk ambil bagian dalam pertunjukan ini?” godanya.

Eun Hyuk terkekeh kecil dengan rona malu menghiasi wajahnya. Selama survei dan latihan bulan lalu, Eun Hyuk tidak datang sama sekali. Manajernya berkata bahwa Eun Hyuk harus tampil dalam lomba tari internasional di London, bahkan hampir saja menolak tawaran tampil di acara kedutaan ini. Namun ketika mengetahui bahwa pasangan menarinya adalah Candace Choi, penari sekaligus gadis yang dikaguminya, Eun Hyuk segera membatalkan rencananya yang lain.

“Manajermu yang bawel itu berkata kau menolak tawaran tampil bersamaku. Kau tidak tahu betapa kecewanya aku saat mengetahuinya? Apa yang membuatmu berubah pikiran?”

“Tentu saja kau, Cantik. Begitu mengetahui kau yang akan menjadi pasangan menariku, aku langsung menyetujuinya tanpa berpikir panjang lagi.”

“Kau benar-benar pandai membuat seorang wanita merona.” Ha Mun tertawa lalu menggandeng lengannya, menarik Eun Hyuk pergi dari tempat itu. “Lalu bagaimana kau tahu aku akan datang hari ini?”

“Aku melihat kicauanmu di twitter kemarin. Bukankah kau menggunggah jadwal keberangkatanmu di sana? Kau ingin pamer bahwa kau akan pergi ke luar negeri, ya?”

“Omong kosong. Aku mengunggahnya agar aku tidak lupa. Sekaligus pengalihan kekesalanku.”

“Kekesalan? Siapa yang membuatmu marah? Apa seorang pria? Pacarmu? Ah, kau membuatku cemburu di saat kita resmi menjadi pasangan.”

Ha Mun memukul pundak Eun Hyuk main-main. Pria ini suka sekali bergurau. “Kakakku membuatku marah. Seharusnya dia pergi bersamaku hari ini. Tapi dia membatalkan rencananya tiba-tiba. Aku berpikir aku harus menderita karena pergi sendirian ke negara di mana orang-orang berbicara dengan bahasa yang tidak kumengerti.”

“Kalau begitu aku benar dengan menjemputmu. Jika tidak, kau mungkin sudah tersesat begitu meninggalkan bandara.”

“Karena itu aku sangat berterima kasih padamu. Sebagai gantinya, aku akan mentraktirmu secangkir kopi.”

“Benarkah?” Mata Eun Hyuk langsung berkilauan.

“Tapi kau harus membantuku lagi.” Ha Mun menyeringai. “Kau bisa berbahasa Inggris, bukan? Karena aku membutuhkan seorang pemandu untuk pergi ke kafe milik temanku.”

***

Tulisan The Sunrise yang terukir di sebuah papan kayu masih berkilauan dan terpajang dengan kokoh di depan pintu masuk kafe itu. Kim Hee Chul atau Casey Kim memandanginya dengan tenang sambil sesekali mendesah nikmat berkat sepotong kue baru buatan kekasihnya, Kim Ah Ryung serta secangkir kopi kesukaannya. Ia memandang Ah Ryung yang sedang melayani tamu dari balik konter dengan penuh kasih sayang. Meskipun Ah Ryung bukan pegawai di sana dan merupakan partner bisnis yang ikut memiliki kafe itu, Ah Ryung tetap melakukan pekerjaannya sepenuh hati.

Hee Chul amat bangga menjadi kekasihnya. Selain berparas cantik dan pintar, Ah Ryung merupakan wanita paling lembut, penyabar dan besar hati yang pernah dikenalnya. Hee Chul hampir tidak pernah melihatnya marah, bahkan melihatnya menggembungkan pipi karena kesal pun tidak pernah.

Kebaikan hatinya pula lah yang membuat Ah Ryung disukai ibunya dan ibunya yang terkenal keras itu luluh dengan mudah jika sudah berhadapan dengan Ah Ryung. Ibunya tidak ragu ketika mengajak Ah Ryung mengelola The Sunrise bersama. Ah Ryung piawai sekali berbisnis dan selalu memiliki ide cemerlang untuk memajukan kafe. Dari promosi hingga pembuatan menu baru semua adalah ide brilian Ah Ryung. Hasil kerja kerasnya terbayar karena kini The Sunrise menjadi kafe favorit di wilayah itu.

Kepandaian dan kecantikan paras serta hati Ah Ryung telah memesona Hee Chul. Ia menyayangi Ah Ryung. Ibunya langsung merestui ketika Hee Chul menjalin hubungan dengan Ah Ryung dan sangat gembira ketika Ah Ryung setuju menikah dengannya. Ibunya gembira memiliki Ah Ryung sebagai menantunya.

Lamunan Hee Chul buyar. Senyumannya pun memudar ketika ia mendapatkan tepukan keras di bahunya. Hee Chul tidak bisa marah karena yang melakukan itu adalah ibunya sendiri.

“Ada apa?”

Nyonya Kim berkata begitu terburu-buru. Hee Chul hampir tidak bisa menangkap kata-kata yang diucapkan dengan cepat itu. Namun ia bisa menarik kesimpulan bahwa ibunya ingin diantar ke suatu tempat saat itu juga.

Seperti menyadari sesuatu yang tidak beres terjadi saat melihat wajah Nyonya Kim, Ah Ryung bergegas menghampiri mereka dan bertanya dengan raut khawatir.

“Bukan masalah serius. Kau tidak perlu khawatir.” Nyonya Kim kemudian mencium pipi Ah Ryung seakan Ah Ryung adalah anak kandungnya. “Ibu akan menceritakannya padamu setelah kembali nanti.”

Ponsel Nyonya Kim berdering. Wanita itu menjawabnya dengan bahasa Inggris yang cepat sampai Ah Ryung tidak bisa menangkap apa yang dikatakannya. Hee Chul berpandangan dengan Ah Ryung, mereka saling melemparkan tatapan penuh arti.

Interaksi nonverbal mereka terpotong saat Nyonya Kim menyelesaikan perbincangannya di telepon lalu menepuk bahu putranya sambil berkata dengan tergesa-gesa. “Cepat ambil mobilmu. Kita pergi sekarang.” Setelah itu melenggang pergi meninggalkan kafe.

Hee Chul mendesah begitu sosok ibunya menghilang dari pandangan, “Ibu sepertinya lupa kalau aku anaknya, bukan sopirnya.” Ia mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja lalu mendekati Ah Ryung untuk mencium bibirnya.

Ah Ryung mengerjap. Ia masih belum terbiasa dan kerapkali terkesiap setiap kali Hee Chul menciumnya di tempat umum. Tapi sekali lagi ia mengingatkan diri bahwa ia berada di Australia, tempat yang menganggap pertunjukkan kemesraan di muka umum merupakan hal lumrah sehingga ia pasrah-pasrah saja. Jika Hee Chul melakukannya di Korea mungkin mereka akan menjadi bahan gosip hangat selama sebulan.

“I’ll be back, sweetheart,” bisik Hee Chul mesra lalu pergi.

***

Jalanan Sydney yang lengang sungguh menarik hati Ha Mun sampai ia tak bisa mengalihkan matanya dari pemandangan menakjubkan yang disaksikannya berkat tidak banyaknya mobil yang melintas. Saat ia tengah asyik menyaksikan panorama tepi pantai, tiba-tiba saja ia merasa ada angin kencang menerbangkan rambutnya. Ia menyadari atap mobil convertible yang dinaikinya terbuka. Ia dengan cepat Ha Mun menoleh pada Eun Hyuk yang tengah asyik mengemudi. Pria itu menyeringai sementara Ha Mun mengeluh.

“Kau merusak penampilanku.”

“Kau tetap cantik.”

“Aku tahu. Tapi kenapa kau membuka atapnya? Kau membuat rambut yang kutata dengan susah payah menjadi kacau-balau.” Dengan kesal Ha Mun berusaha membuat anak-anak rambutnya yang melambai-lambai karena tiupan angin tetap rapi namun gagal.

“Kau tampak sangat terkesan dengan pemandangan karena itu aku membuka atapnya. Kau bisa lebih leluasa memanjakan matamu dengan atap mobil terbuka. Pemandangan yang bisa kau saksikan hampir tak terbatas.”

Saran Eun Hyuk memang ada benarnya. Ha Mun jadi lebih bebas menikmati pemandangan setelah atap mobilnya dibuka. Tak lama kemudian mobil berbelok memasuki kawasan yang dipenuhi aneka toko serta restoran. Ia sudah memberitahukan alamat kafe Ah Ryung pada Eun Hyuk dan tak mengira ia akan sampai secepat ini.

“Nah, kita sudah sampai.” Eun Hyuk menunjuk papan nama kafe itu dengan telunjuknya. “Kafe temanmu.”

“Ternyata kau hebat juga bisa menemukan kafe ini begitu cepat. Sepertinya kau jauh lebih mengenali Sydney dari yang kukira,” ucap Ha Mun sambil melepas sabuk pengaman lalu melompat turun dari mobil.

“Kau tidak tahu kafe temanmu cukup terkenal di daerah ini. Aku bahkan mendapatkan rekomendasi kafe ini dari manajerku. Kudengar pemiliknya orang Korea, dan aku tidak menyangka ternyata pemiliknya adalah temanmu.”

Ha Mun menatap kafe itu dengan bangga. “Ah Ryung memang hebat,” gumamnya. Ia menoleh pada Eun Hyuk yang berdiri di sampingnya. “Ayo masuk, akan kukenalkan kau pada temanku itu.”

“Apa temanmu itu cantik?”

“Sangat cantik.”

“Sepertimu.” Eun Hyuk tersenyum

“Iya, sepertiku,” balas Ha Mun sambil membuka pintu.

Kebetulan ketika Ha Mun memasuki kafe itu, suasana tidak seramai sebelumnya sehingga Ah Ryung yang sedang bersantai di salah satu meja yang sudah dibersihkan langsung melihat kedatangannya.

“Ha Mun!” Ah Ryung berseru gembira seraya bangkit lalu menghampiri sahabatnya. Mereka berpelukan saling melepas rindu.

“Mengapa kau batal menjemputku di bandara? Kau tahu aku tidak bisa bahasa Inggris. Bagaimana jika aku tersesat?”

“Maaf. Aku harus bertemu dengan investor baru, pertemuannya sangat mendadak karena itu aku terpaksa membatalkan rencanaku menjemputmu. Tapi syukurlah kau bisa sampai di sini dengan selamat.”

“Berkat pria ini.” Ha Mun menarik Eun Hyuk ke sisinya. “Dia penyelamatku.”

Setelah itu Ha Mun langsung memperkenalkan Eun Hyuk pada Ah Ryung. Kedua tamu itu kemudian diajak Ah Ryung untuk duduk di meja yang tadi ditinggalkannya lalu memanggil pelayan agar membawakan minuman untuk Ha Mun dan Eun Hyuk.

“Sepertinya aku akan sering mampir kemari selama aku di Australia,” kata Eun Hyuk sambil menyeruput kopi yang tadi disajikan pelayan. “Kopi di sini enak dan pemiliknya pun cantik.”

Ah Ryung mengerjap saat Eun Hyuk mengedipkan mata padanya.

“Tutup mulutmu!” Ha Mun melempar serbet pada Eun Hyuk. “Percuma saja kau merayu gadis yang sudah bertunangan.”

“Benarkah?” Eun Hyuk melebarkan mata dengan gaya pura-pura terkejut. “Kau membuatku patah hati sebelum aku melakukan pendekatan,” katanya sambil memandang Ah Ryung. “Kenapa semua wanita cantik sudah dimiliki? Aku tidak memiliki kesempatan mendapatkan salah satunya.”

Ah Ryung yang telah pulih dari keterkejutannya menyadari Eun Hyuk hanya merayunya tadi. Ia tersenyum. “Kau bisa mengejar Ha Mun. Dia belum menjadi milik siapa pun.”

“Ah, benar juga.” Eun Hyuk beralih menatap Ha Mun. “Jadi kau masih kosong? Bolehkah…”

“Tidak.” Ha Mun memotong dengan tegas sambil tertawa. “Teruslah bermimpi.”

Eun Hyuk mengerang. “Oh Tuhan, kenapa kau juga membuatku patah hati?” Ha Mun langsung menepuk lengannya karena erangan main-main Eun Hyuk telah menarik perhatian pengunjung lain ke arah meja mereka.

Ah Ryung tersenyum simpul melihat interaksi mereka. Ha Mun menyadari hal itu. “Kenapa kau tersenyum seperti itu?” Sejujurnya, ada yang berbeda dengan cara Ah Ryung tersenyum padanya.

“Aku senang melihatmu akrab dengan pria. Aku tidak pernah melihatmu bersikap seramah ini pada mereka. Biasanya kau akan menanggapi pria-pria yang mendekatimu dengan ketus. Eun Hyuk pasti amat istimewa bagimu.”

Ah Ryung mengatakannya bukan tanpa alasan. Selama mengenal Ha Mun, jarang sekali Ah Ryung menyaksikan Ha Mun bergurau akrab dengan pria. Meskipun banyak sekali pria yang mengagumi Ha Mun, selain karena wajah cantik dan bakatnya, Ha Mun selalu bersikap dingin saat menanggapi pria yang mendekatinya, terlebih para pria yang terang-terangan menyukainya. Bahkan Si Won, kakak tirinya sendiri pun mendapat perlakuan yang sama ketika Ibu Ha Mun baru menikah dengan Ayah Si Won.

Sejauh ini Ha Mun hanya terlihat bersikap baik pada Kyu Hyun–wajar saja karena Kyu Hyun adalah pamannya, Dong Hae–tak aneh karena selain Dong Hae sahabat Kyu Hyun, pria itu juga kekasih sahabat mereka, Hae Bin, lalu Myung Soo–Ha Mun baik padanya karena Myung Soo sangat manis dan jatuh cinta setengah mati pada Yong Mi, sahabat mereka juga, Si Won–setelah Ha Mun menerima Si Won sebagai kakaknya, dan terakhir Ha Myung–adik Ha Mun yang kini tinggal bersama ayah kandungnya.

Ha Mun pun menyadari hal itu sehingga ia merona tanpa sempat dicegah. Ia menepis perasaannya dan bangkit dengan dalih ingin melihat kue yang dijual di kafe itu. Ia mengajak Ah Ryung bersamanya, meninggalkan Eun Hyuk seorang diri. Ha Mun melihat-lihat beberapa kue yang dipajang di etalase.

“Aku tidak keberatan jika kau memang memiliki hubungan khusus dengan Eun Hyuk. Dia pria yang menyenangkan, dan tampan.”

“Satu-satunya hal yang membuat kami menjadi pasangan adalah ketika kami menari di atas panggung,” ujar Ha Mun santai lalu menambahkan karena tampaknya Ah Ryung tak mengerti. “Dia pasangan menariku saat pertunjukkan nanti. Kami tampil bersama.”

“Ah,” Ah Ryung mengangguk paham. “Tapi aku tetap tidak keberatan. Kalian serasi.”

Ha Mun tertawa. “Di atas panggung, ya. Eun Hyuk penari yang hebat.” Ia memperlihatkan profil Eun Hyuk melalui tabnya dengan antusias. Salah satu artikel yang dimuat sebuah situs menjelaskan tentang prestasi Eun Hyuk dan riwayat hidup singkat lelaki itu.

Setelah membacanya Ah Ryung mengangguk setuju. Ia sangat mengenal Ha Mun. Gadis itu selalu bersemangat apabila menunjukkan sesuatu yang menurutnya bagus. Sekarang mungkin Ha Mun masih menyangkal rasa kagum yang dimiliki gadis itu untuk Eun Hyuk, tapi Ah Ryung tahu Ha Mun telah memposisikan Eun Hyuk pada tempat khusus di hatinya.

“Nah, bagaimana perkembangan bisnis kafe milikmu ini? Aku mendengar kafemu cukup diminati di wilayah ini.” Ha Mun mengalihkan topik pembicaraan.

“Sebenarnya kafe ini bukan milikku sepenuhnya. Tempat ini milik Nyonya Kim dan kami bekerja sama mengelolanya. Nyonya Kim menawariku kemitraan setelah melihat kinerjaku mengelola kafe ini. Selain itu aku menikmatinya. Nyonya Kim sangat baik. Kau pasti menyukainya setelah bertemu dengannya nanti.”

“Sepertinya menyenangkan. Kapan aku bisa bertemu Nyonya Kim ini?”

“Dia sedang pergi bersama putranya.” Ha Mun tidak melihat semburat merah yang menghiasi pipi Ah Ryung saat menyinggung putra Nyonya Kim.

“Omong-omong, ke mana calon suamimu, pria asing bernama Casey itu. Aku harap bisa berkenalan dengannya selagi aku berada di sini.”

Ah Ryung langsung tertawa kecil. “Sebenarnya Casey bukan pria bule seperti dugaan kalian selama ini. Casey hanya nama yang dipakainya di sini, sama seperti kau memakai nama Candace dan aku Ashley. Casey tunanganku seratus persen pria Korea.”

“Benarkah?” Ha Mun membulatkan mata takjub.

“Dia putra Nyonya Kim.”

Mendengar jawaban malu-malu itu Ha Mun langsung tertawa lepas. “Kalau begitu kau akan menjadi pemilik resmi kafe ini setelah kau benar-benar menikah dengan Casey.”

“Ha Mun, kecilkan suara tawamu,” bisik Ah Ryung dengan pipi memerah karena malu. Ha Mun segera mengatupkan bibirnya menyadari mereka memang menjadi pusat perhatian.

“Tiba-tiba saja aku ingin memberitahu yang lain tentang ini.” Yang dimaksud Ha Mun dengan ‘yang lain’ adalah sahabat-sahabat mereka, Je Young, Hae Bin, dan Yong Mi. Ha Mun mengajaknya kembali ke meja mereka.

“Kau ingin mereka menertawakanku juga?”

“Mereka tidak akan tertawa.”

“Apa yang kalian bicarakan sampai tertawa kencang seperti tadi?” tanya Eun Hyuk ingin tahu begitu kedua gadis itu duduk di kursinya.

“Kau tak perlu tahu. Ini urusan wanita,” jawab Ha Mun sekenanya.

Ha Mun menghubungi teman-temannya via skype sambil menikmati kue yang disajikan pelayan. Begitu tersambung Ha Mun langsung menceritakan hari pertamanya di Australia sekaligus fakta tentang tunangan Ah Ryung yang ternyata pria Korea. Seperti yang Ha Mun katakan, mereka tidak tertawa, malah semakin tidak sabar ingin bertemu dengan laki-laki yang sudah memikat hati Ah Ryung. Mereka lebih senang karena mereka tidak akan kesulitan saat berkomunikasi dengan Casey nanti.

“Aku akan menjadikan Australia sebagai negara ketiga yang akan kusinggahi selama bulan maduku bersama Kyu Hyun,” ucap Je Young mengubah topik pembicaraan.

“Kau masih belum selesai berbulan madu? Negara mana lagi yang ingin kau kunjungi? Apa kau berencana berkeliling dunia? Kau ingin membuat pamanku bangkrut?” kata Ha Mun. Sekarang ini Je Young dan Kyu Hyun sedang berbulan madu di London setelah mengunjungi beberapa negara di Eropa.

Jika dihitung, biaya bertamasya keliling Eropa memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, namun Ha Mun tak perlu khawatir karena Je Young memiliki ayah seorang pengusaha kaya. Selain itu Kyu Hyun sudah menjadi pria yang sukses dan mapan sehingga Ha Mun yakin Kyu Hyun tidak akan membiarkan Je Young mengeluarkan uang sepeser pun.

“Omong-omong, hari ini Ha Myung mengunjungiku. Dia menanyakanmu,” ujar Yong Mi. Di antara ke empat sahabatnya yang lain, adiknya Ha Myung menyukai Yong Mi. Mereka sangat dekat sampai-sampai Myung Soo seringkali cemburu.

“Kalian berdua jaga kesehatan. Aku tidak sabar melihat kalian berdua lagi.” Kali ini Hae Bin yang berkata. “Oh ya, siapa laki-laki di sampingmu?”

“Dari tadi aku pun ingin bertanya,” sahut Yong Mi. Je Young tampak mengangguk di layar lainnya.

Eun Hyuk yang sejak tadi hanya menonton langsung melambaikan tangannya dengan antusias. “Hai semua, senang bertemu kalian. Aku Spencer Lee.” Ia menoleh pada Ha Mun, “Teman-temanmu cantik. Apa aku boleh mendekati salah satu dari mereka?”

Ha Mun memutar bola mata. “Silakan saja jika kau ingin berhadapan dengan suami dan pacar mereka.”

“Ah sial!” Eun Hyuk mengeluh. Ah Ryung terkekeh kecil melihatnya. “Apa itu artinya di antara kau dan teman-temanmu hanya kau yang masih kosong? Kenapa?”

Ha Mun tersentak berkat pertanyaan itu. Kenapa? Ia sendiri pun sudah sering bertanya pada diri sendiri mengapa ia masih tidak memiliki kekasih hingga usianya sekarang. Apa ini ada hubungannya dengan laki-laki yang telah mendiami hatinya sejak lama? Tiba-tiba saja Ha Mun merasa sesak. Hatinya sakit.

Kenapa ia masih memikirkan dan menunggu laki-laki itu? Kesal karena Eun Hyuk membuatnya teringat pada masa lalu yang kurang menyenangkan, ia mendorong Eun Hyuk menjauh.

“Sebaiknya kau pergi sekarang! Kau membuatku kesal!”

“Aduh, kau melukai bahuku yang berharga, Sayang.”

***

Kim Ki Bum terlalu asyik memotret orang-orang yang sedang melakukan gladi resik di panggung itu sampai ia tidak menyadari kedatangan seorang pria. Dengan penasaran laki-laki itu menginterupsi Ki Bum. Ia sedang serius mengawasi jalannya latihan dan agak terkejut karena masih ada orang yang seenaknya mengambil gambar sementara para reporter yang datang untuk menulis berita tentang pagelaran ini sudah pergi sejam yang lalu. Sekarang waktunya para penari berlatih dengan tenang tanpa gangguan apa pun.

“Maaf mengganggu, Anda berasal dari majalah mana? Tolong tunjukkan padaku ID Anda.” Manajer Jo, laki-laki yang bertanggung jawab atas pertunjukan seni budaya itu menagih kartu ID yang seharusnya dimiliki Ki Bum jika pria itu memang reporter yang diundang untuk meliput sesi latihan.

“Um itu,” Pria itu malah kelihatan bingung. Manajer Jo mencium sesuatu yang janggal. Apa dia seorang penyusup? Mata-mata? Atau mungkin teroris mengingat acara ini kelak akan dihadiri para duta besar dan pejabat penting Australia serta Korea Selatan. Pengamanan area pertunjukkan diperketat hingga tiga kali lipat dan Manajer Jo tidak akan membiarkan siapa pun mengacaukan acara yang sudah diaturnya dengan sepenuh hati begitu saja

“Aku bukan wartawan,” ujar Ki Bum perlahan. Bingung mulai menjelaskan maksud kedatangannya dari mana. “Sebenarnya saya hanya seorang sutradara yang sedang melakukan survey.”

“Survey untuk apa?” Manager Jo tampak tidak setuju karena Ki Bum adalah orang asing yang bahkan tidak terdaftar untuk mempromosikan acara ini. Dugaannya benar, dia memang penyusup! “Maaf Tuan, aku tidak bisa membiarkan sembarang orang berkeliaran di sekitar venue tanpa identitas dan maksud yang jelas. Sebaiknya Anda pergi atau aku akan memanggil security.” Ia mengeluarkan ponsel untuk melaksanakan niatnya itu.

“Tunggu-tunggu!” cegah Ki Bum panik. Ia terburu-buru mengeluarkan kartu identitasnya kemudian menunjukkannya pada Manajer Jo. “Namaku Brian Kim, co sutradara untuk film-film hollywood. Aku sedang membuat film perdana di Korea, tapi ada beberapa adegan yang mengambil lokasi di Australia saat pemeran utamanya sudah dewasa dan aku tertarik dengan Candace Choi. Aku bermaksud memintanya berperan dalam film baruku itu.”

Manajer Jo membaca kartu identitas Ki Bum dengan alis terangkat sebelah. Sesekali pria itu mengamati Ki Bum untuk memastikan bahwa Ki Bum tidak berbohong. Untuk meyakinkan, Ki Bum memperlihatkan beberapa fotonya bersama sutradara terkenal Hollywood dan ketika ia sedang bertugas sebagai asisten sutradara. Setelah melihatnya barulah Manajer Jo percaya.

“Baiklah. Sepertinya kau tidak bohong. Aku akan memanggilkan Candace untukmu.”

Ki Bum langsung bersemangat saat laki-laki itu memanggil seseorang yang sedang berlatih di panggung. Ia membaca ID yang tergantung di leher Manajer Jo untuk mengetahui namanya tanpa harus bertanya.

Tak lama, seorang wanita menghampiri mereka. Ki Bum agak terkesiap karena tak mengira Candace Choi tampak sangat cantik saat dilihat dari dekat.

“Ada apa?” Ha Mun heran. Tak biasanya Manajer Jo mengganggu proses latihan.

“Ada yang ingin bertemu denganmu. Dia Brian Kim, co sutradara film-film hollywood. Dia berkata tertarik dengan bakatmu,” jelas Manajer Jo sambil memperkenalkan mereka. Ha Mun menjabat tangan Ki Bum selagi mereka berkenalan. Alisnya bertaut bingung.

“Apa ada yang bisa kubantu?” Tidak biasanya seorang asisten sutradara datang menemuinya.

“Begini, aku sedang menggarap sebuah film yang mengisahkan perjalanan cinta seorang wanita dari kecil hingga dewasa dan aku bermaksud menggunakanmu sebagai pemeran utama wanita saat sudah dewasa.”

Tepat setelah Ki Bum selesai menjelaskan, Ha Mun terpaku. “Kau memintaku berperan dalam filmmu, dengan kata lain kau menginginkanku berakting untuk filmmu?” tanyanya tak percaya.

“Tentu saja.” Ki Bum begitu bersemangat melihat reaksi Ha Mun. “Kau sangat sesuai dengan citra tokoh utama wanita setelah dewasa. Aku sudah mencoba mendatangi setiap aktris di Korea, tapi tak satu pun yang memenuhi standarku. Hanya kau yang langsung memikatku.”

Ha Mun tak bisa menahan tawanya lagi. Ki Bum langsung merengut bingung. Apa yang dikatakan olehnya barusan terdengar begitu lucu? Ia tidak sedang bercanda sama sekali. Tapi sayangnya Ha Mun memang menganggap tawaran Ki Bum untuknya terlalu menggelikan.

“Maaf, tapi aku serius, Nona.”

“Aku tahu..” ucap Ha Mun geli sambil memegang perutnya. “Tapi aku berakting, aku tidak bisa membayangkannya. Berakting bukan bidangku sama sekali, Tuan Kim. Memintaku berakting sama saja dengan menghancurkan filmmu sendiri. Satu-satunya yang piawai kulakukan hanya menari.”

“Jadi?” Ki Bum tak bisa menahan rasa kecewanya setelah mendengar kata-kata Ha Mun tadi.

Ha Mun menghentikan tawanya lalu bicara dengan nada yang lebih serius. “Aku menolak tawaranmu. Maaf. Lebih baik kau mencari seseorang yang benar-benar pandai berakting. Jika kau sudah selesai, aku akan kembali latihan. Permisi.”

Ki Bum hanya melongo menyaksikan Ha Mun melenggang pergi. Ia datang kemari dengan harapan tinggi bisa mengajak Ha Mun bergabung dalam filmnya. Ia tak mengira Candace Choi akan menolak tawarannya. Tapi ia tak akan menyerah. Ki Bum pasti menemukan cara yang akan membuat gadis itu tak sanggup menolak permintaannya lagi.

“Kita lihat saja, aku pasti mendapatkanmu, Candace Choi.”

***

Hee Chul memarkirkan mobilnya di area parkir tak jauh dari Gedung Opera Sydney. Hari ini ia mengantar tunangannya Ah Ryung kemari karena gadis itu berkata ingin menemui temannya yang akan tampil di sana dan meminta diantar olehnya. Hee Chul tak keberatan. Ia suka melakukan apa pun untuk Ah Ryung asalkan gadis itu bahagia.

“Di mana temanmu?” tanya Hee Chul ketika mereka sudah memasuki lobi gedung. Ah Ryung segera menghubungi temannya melalui ponsel.

“Dia berkata ada di tempat latihan di dalam. Dia akan menjemput kita karena pihak keamanan tidak bisa membiarkan sembarang orang masuk. Kita harus menunggunya di sini.” Ah Ryung menjelaskan setelah ia mengakhiri pembicaraannya.

“Baiklah.” Hee Chul mengangguk. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling lalu tertarik pada poster yang tertempel di dinding, yang menjelaskan pertunjukkan seni budaya yang akan digelar tak lama lai di gedung itu.

“Temanmu bintang utama dalam pertunjukkan ini, bukan? Mengapa aku tidak menemukan nama korea di sini?”

Ah Ryung ikut membaca poster yang tengah diperhatikan Hee Chul. “Tentu saja kau tidak akan menemukannya. Namanya Candace, Candace Choi. Temanku menggunakan nama internasionalnya, sama seperti kau dan aku saat berada di luar negeri.” Ah Ryung menunjuk nama yang disebutkannya tadi, tertera dalam deretan teratas bintang-bintang yang akan mengisi acara itu.

Hee Chul mengangguk acuh tak acuh. Mereka menunggu kedatangan Ha Mun cukup lama. Ah Ryung akhirnya pamit ke toilet sebentar dan meminta Hee Chul agar menunggu jika nanti temannya sudah tiba.

Ha Mun sudah tiba di lobi, tadi ia tersesat karena masih belum hafal jalan dari pintu masuk ke ruang latihan di belakang gedung. Untung saja ada seorang panitia penyelenggara yang bisa berbahasa Korea dsn dengan baik memberinya petunjuk jalan. Sekarang ia mencari-cari Ah Ryung yang menunggu di sana. Lobi dalam suasana cukup ramai hari ini. Ia tidak menemukan Ah Ryung walaupun sudah mengedarkan matanya ke penjuru ruangan. Alih-alih, ia justru melihat seseorang yang sudah lama tidak ditemuinya dan langsung membuat jantung Ha Mun berhenti berdetak.

Tidak mungkin!

“Chulppa.” Ha Mun tanpa sadar membisikkan nama itu. Ia segera membekam mulutnya sambil menggelengkan kepala. Tidak, ia pasti salah lihat. Tidak mungkin laki-laki yang sedang berdiri di dekat poster itu adalah Chulppa, laki-laki yang disukainya sejak lama.

Pria itu hanya mirip, Ha Mun yakin sekali pria itu bukan Chulppa walaupun ia yakin Chulppa pasti akan setampan itu setelah dewasa. Ha Mun baru akan memalingkan pandangannya saat secara tak terduga laki-laki itu menoleh tepat ke arahnya.

Deg.

Jantung Ha Mun kembali berhenti berdegup. Laki-laki itu terpaku, sama sepertinya. Mata lelaki itu melebar yang menunjukkan tanda bahwa laki-laki itu mengenalinya. Apakah mungkin…

“Ha Mun, Jang Ha Mun?” Terdengar laki-laki itu menyebutkan namanya. Ha Mun tercekat. Laki-laki itu memang mengenalinya dan yang lebih tak terduga lagi adalah, pria itu memang Chulppa! Hanya Chulppa-nya lah yang tahu marga Ha Mun sebelum orang tuanya bercerai dan ibunya menikah dengan Tuan Choi–teman-teman dekatnya memang tahu, tapi mereka terkadang melupakannya.

Kini, Ha Mun memberanikan diri berkata, “Chullpa.”

Hee Chul tersenyum lebar. Ia tak menyangka akan bertemu Ha Mun, gadis istimewa di masa lalunya di tempat seperti ini. Perasaan rindu langsung meluap-luap sehingga Hee Chul tanpa sadar melangkah tergesa menghampiri Ha Mun yang masih menatapnya tak berkedip. Hee Chul hampir saja menarik Ha Mun ke pelukannya jika Ah Ryung tidak lebih dulu melakukannya. Mereka berdua terperanjat sadar.

“Aku sudah menunggumu sejak lama.” Ah Ryung memeluk Ha Mun lalu melepaskannya. “Kenapa kau lama sekali?”

“Ah Ryung, kau mengenalnya?” Hee Chul kaget sekali, dan tak percaya melihat Ah Ryung memeluk Ha Mun.

Ah Ryung yang tak menyadari situasi aneh di antara tunangan dan sahabatnya dengan bangga memperkenalkan mereka. “Dia temanku itu, Candace Choi atau Choi Ha Mun. Ha Mun, perkenalkan dia Casey Kim atau Kim Hee Chul, tunanganku. Aku senang akhirnya bisa memperkenalkan kalian juga.”

Hee Chul dan Ha Mun menarik napas tajam bersamaan. Mata mereka terpaku satu sama lain. Ha Mun bahkan nyaris jatuh ke lantai karena lemas. Ia sangat terkejut akan bertemu dengan Hee Chul, dan baru merasa bahagia karena kembali dipertemukan dengan pria pujaannya ketika detik berikutnya Ah Ryung datang dan menjatuhkan bom tepat di depan wajahnya.

Kenapa Hee Chul harus menjadi tunangan Ah Ryung, sahabatnya. Bukan teman atau pun pacar, melainkan tunangan.

TUNANGAN!

Apa yang harus Ha Mun lakukan? Ia tidak mungkin menghancurkan kebahagiaan sahabatnya sendiri demi kebahagiaan dirinya.

–tbc–

103 thoughts on “Trouble Namja [Chapter 1]

  1. Baru episode pertama sudah nyesek bacanya. Hamun bisakah dia move on dari heechul? Bagaimana selanjutnya hubungan antara heechul aryung dan Hamun?

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s