Shady Girl Yesung’s Story [Chapter 7]

Judul : Shady Girl Yesung’s Story Chapter 7
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Mystery case

Main Cast :
Choi Eun Ri | Ye Sung a.k.a Kim Jong Won

Support Cast :
Suho as Police
Yoo as Ye Sung’s assisstant

Dha’s Speech:

Ahahaha, aku gak tahu nih harus ngomong apa. Akhirnya berhasil juga menyelesaikan part ini meskipun harus dilakukan di sela-sela kesibukan ngurus dede Baim ^^ Maaf ya kalau postingnya lama dan kalau ceritanya gak memuaskan, please jangan bash aku *peace* bikin cerita itu gak gampang bener deh.

Dan untuk teman-teman semua aku ingin mengingatkan agar menghargai hasil jerih payahku dengan tidak memplagiat semua postingan ff di site ini. Aku gak masalah kalian gak ninggalin komentar dan hanya sekedar membaca, semua itu dibebaskan, tapi gak berarti cerita yang aku buat dicopy paste,di posting ulang tanpa seizin aku apalagi sampai diplagiat *hiks*

Kemaren aku juga dapet laporan kalau FF I Married the Bad Boy ada yang posting ulang di akun wattpad. Aku sempet galau dan pengen tutup site ini aja. Tapi aku ngerasa gak adil banget ama temen-temen yang udah setia baca FF aku sejak site ini dibuat. Meskipun harus menelan pil pahit *cielah* karena dizhalimi ama oknum yang tega memposting ulang ff aku tanpa izin, aku tetap berbesar hati membuka site ini dan membebaskan teman-teman menikmati karya-karya buatanku meskipun yah..masih jauh dari bagus.

So,jadi reader yang jujur dan tertib ya ^^

Happy Reading ^^

Shady Girl Yesung's Story 3 by Dha Khanzaki

CHAPTER 7

“Jaksa kim, aku sudah mengumpulkan data tentang identitas anak kembar Park Ah Ri. Kau pasti terkejut saat membacanya.”

Ye Sung mengambil dengan tidak sabar berkas yang diulurkan Suho. Ia segera membacanya, dan benar seperti yang Suho perkirakan, Ye Sung memang terkejut, bahkan karena begitu terkejutnya ia sampai ingin tertawa.

“Jadi Jin Ki dan Hee Rin adalah seorang mahasiswa? Hanya mahasiswa? Aku tidak percaya.” Ye Sung antara ingin tertawa dan menghancurkan sesuatu begitu tahu kemungkinan Ox hanyalah bocah ingusan. Jadi penjahat jenius yang sudah membuat pihak kepolisian kalang kabut tak lebih dari pemuda berusia 23 tahun!

“Hee Rin mungkin memang tak begitu mencurigakan, dia hanya mahasiswi biasa. Tapi Jin Ki saudaranya, dia adalah mahasiswa terbaik di Universitas Seoul. Dan kau tahu apa yang menarik, Jaksa Kim? Jin Ki adalah murid Cho Kyu Hyun. Menurut teman-temannya, hubungan mereka terbilang dekat. Professor Cho sangat menyukai Jin Ki karena bakat cemerlangnya dalam pembuatan game dan aplikasi perangkat lunak lainnya.”

Mendengarnya Ye Sung langsung terperanjat. “Benarkah? Kalau begitu jika Jin Ki adalah Ox, sekarang kita tahu darimana Ox mendapat informasi mengenai game baru yang akan diluncurkan perusahaan QC Company. Aku sangat mengenal karakter Kyu Hyun, anak itu pasti menyombongkan karyanya pada murid-muridnya. Selain itu tidak heran jika Jin Ki bisa menjebol sistem keamanan paling canggih sekalipun, menyadap kamera cctv dan merencanakan pelarian tanpa meninggalkan jejak. Pemuda itu memang jenius.”

“Aku juga sependapat denganmu.” Suho mengangguk.

Kecurigaan Ye Sung bahwa Jin Ki adalah Ox sudah bulat. Ia kembali membaca informasi dalam berkas di tangannya. “Tunggu dulu, marga Jin Ki dan Hee Rin berbeda. Bagaimana bisa?” Aneh sekali karena dalam biodata yang ditelaahnya Jin Ki bermarga Lee sementara Hee Rin bermarga Park.

“Orang tua mereka sudah lama bercerai sejak keduanya kecil. Hee Rin diasuh oleh ibunya dan memilih menggunakan marga ibunya sementara Jin Ki tetap menggunakan marga ayahnya.” Kali ini yang menjawab adalah Yoo. Mereka bertiga duduk di sofa yang ada di ruangan Ye Sung.

“Ayahnya adalah Lee Jeong Ki, CEO Coral Holding Inc,” tambah Suho.

“Kau bercanda, perusahaan software besar itu?” Bola mata Ye Sung membulat.

“Jin Ki dikabarkan akan menggantikan posisi ayahnya dalam beberapa tahun ke depan dan setelah diselidiki, perusahan itu ternyata menjalin kerjasama dengan perusahaan milik Lee Dong Hae, Lee Hyuk Jae, bahkan Hwang Jin Mi.” Suho menjabarkan hasil investigasinya dengan raut antusias.

“Dia seorang chaebol. Sekarang kita juga tahu alasan Ox memiliki akses dengan para korbannya, mereka pasti pernah bertemu di beberapa pesta atau pertemuan.”

“Semua kemungkinan sudah mengarah pada Lee Jin Ki. Apa kita akan menetapkannya sebagai tersangka utama?” tanya Yoo.

“Kita tidak memiliki bukti dan motif mengapa Jin Ki mencuri perhisan itu. Kita tidak bisa sembarangan menangkapnya tanpa surat penangkapan dan surat penangkapan tidak dapat dikeluarkan jika kita tidak memiliki bukti yang memberatkan,” jelas Suho.

“Suho benar. Tapi bukan berarti kita tidak berhasil menduga motif apa pun. Ada satu kemungkinan alasan Jin Ki beraksi sebagai Ox dan mencuri perhiasan-perhiasan itu.” Ye Sung menatap dua laki-laki di hadapannya dengan penuh keyakinan seakan-akan menyiratkan bahwa mereka seharusnya sudah bisa menebak motif Ox.

“Untuk ibunya?” tanya Suho sangsi. Ye Sung mengangguk.

“Itu hanya dugaan sementara. Tak ada cara lain untuk memastikannya selain menemui Lee Jin Ki.”

***

“Sial, bocah itu beruntung sekali tinggal di rumah sebesar ini seorang diri. Apa benar rumah ini miliknya?” Yoo berseru kagum saat mereka bertiga berdiri di depan gerbang besi berukir yang memagari sebuah rumah mewah di baliknya.

“Menurut informasi, rumah ini dibeli atas nama Lee Jin Ki dengan uang yang didapatnya dari keuntungan saham yang dimiliki Jin Ki di perusahaan milik ayahnya.” Suho menjawab sambil menekan bel.

“Yang secara otomatis menjelaskan dari mana dia mendapat dana untuk memodali aksi kejahatannya,” timpal Yesung tenang.

Mereka tak lama menunggu di depan gerbang. Setelah bel ditekan, seorang pembantu rumah tangga menjawab dan segera mempersilakan mereka masuk begitu Suho menyebutkan siapa mereka dan apa keperluan mereka. Kebetulan, Jin Ki sedang berada di rumah.

“Ada apa?”

Sosok Lee Jin Ki masuk ke ruang tamu dalam keadaan berantakan di mana Ye Sung dan yang lainnya menunggu. Tampak jelas lelaki muda itu baru saja bangun tidur, atau dibangunkan secara paksa dari tidur nyenyaknya.

Ye Sung agak terkejut saat menatap pemuda tampan yang kini berdiri di depannya dari jarak dekat. Garis-garis wajah laki-laki itu mengingatkannya pada pria misterius yang pernah ditemuinya di rumahnya sebelum cincin pernikahannya hilang dicuri Ox. Mungkinkah laki-laki ini memang Ox? Namun Ye Sung tidak bisa berburuk sangka dulu. Sekarang, ia harus menanyai Lee Jin Ki.

Karena Ye Sung tak kunjung membuka mulut, Suho berinisiatif menjawab pertanyaan Jin Ki.

“Kami dari kepolisian dan kejaksaan. Saya Petugas Kim Joon Myun, dia Jaksa Kim Jong Won dan asistennya Kang Yoo, kami datang kemari untuk menanyai Anda beberapa hal mengenai Ox. Apa Anda tahu tentang kasus pencurian perhiasan yang heboh diberitakan akhir-akhir ini?”

Suho memerhatikan setiap ekspresi yang diperlihatkan Jin Ki setelah mengajukan pertanyaan itu berharap menemukan petunjuk yang akan mengarahkannya pada kesimpulan bahwa dugaan mereka benar. Lee Jin Ki memang Ox. Tetapi Jin Ki tidak menunjukkan reaksi yang diharapkannya. Ekspresi lelaki itu datar, malah terkesan tak tahu menahu tentang hal yang baru saja dikatakan Suho.

“Lalu, apa hubungannya denganku? Apa kalian berpikir akan menemukan perhiasan yang dicuri itu di sini?” ucap Jin Ki lalu menguap sambil menggaruk kepalanya sampai rambutnya berantakan.

Yoo mengeryit jijik melihat tingkah Jin Ki, tiba-tiba saja ia berpikir Jin Ki bukanlah Ox seperti yang mereka curigai. Laki-laki ini tampak bodoh dan tidak peka, tidak sesuai dengan citra Ox sama sekali.

“Jaksa Kim, kita mungkin salah. Laki-laki ini tidak mungkin Ox.” Yoo membisikkan unek-uneknya pada Ye Sung.

Ye Sung malah tidak sependapat dengan Yoo. Sekarang Jin Ki memang tidak tampak cerdas ataupun berbahaya, namun lelaki itu jelas menunjukkan aura berbeda. Ini adalah instingnya sebagai jaksa yang sudah dilatihnya selama bertahun-tahun dan instingnya itu tidak pernah salah. Ye Sung selalu bisa mendeteksi aura kriminal dalam diri seseorang.

“Jangan biarkan penampilan menipumu. Ingat, Ox adalah pencuri yang piawai menyamar,” balas Ye Sung dengan suara rendah. Ia lalu memandang Jin Ki dan berkata dalam suara yang lebih tegas.

“Sayang sekali kami harus mencurigai Anda menyimpan perhiasan-perhiasan itu karena hasil penyelidikan yang kami lakukan terhadap pelaku pencurian itu mengarah pada Anda. Karena itu kami datang kemari untuk memeriksa rumah ini dan mengajukan beberapa pertanyaan pada Anda.”

Jika tadinya Jin Ki masih dalam transisi tidur ke mode bangun, kini pemuda itu terjaga sepenuhnya ketika menyadari ketiga orang itu melewatinya untuk memeriksa rumahnya setelah menunjukkan padanya surat izin penggeledahan. Kedua mata Jin Ki terbelalak lebar, tak lagi mengantuk melihat Ye Sung, Suho dan Yoo berpencar di sekitar rumahnya untuk mencari atau menemukan apa yang mereka cari.

“Hei, apa-apaan kalian menggeledah rumahku seenaknya! Aku tidak terima ini, aku akan menghubungi pengacaraku dan mengajukan tuntutan!” teriak Jin Ki.

Tapi Ye Sung mengabaikan peringatan Jin Ki, malah menyuruh Suho dan Yoo memeriksa seluruh rumah itu tanpa menyisakan satu tempat pun. Mereka berharap bisa menemukan bukti yang menunjukkan bahwa Jin Ki memang Ox. Beberapa asisten rumah tangga di rumah itu terkejut dengan serbuan tiga penegak hukum itu, salah satunya bahkan tergopoh-gopoh menghampiri Jin Ki dengan wajah gelisah.

“Tuan Muda, bagaimana ini? Mengapa Anda membiarkan mereka mengobrak-abrik rumah ini?”

Jin Ki menjawabnya disertai dengusan sebal. “Biarkan saja. Aku menjamin mereka tidak akan menemukan apa pun yang mereka cari. Tapi untuk berjaga-jaga hubungi Pengacara Song.”

Sementara ia membiarkan Ye Sung dan yang lainnya menggeledah setiap jengkal kediamannya, Jin Ki duduk di salah satu sofa di ruang tengah dan membuat dirinya sendiri nyaman. Ia menengadah ke arah tangga. Seandainya Ye Sung melihat, ia akan menemukan seulas senyum misterius tersungging di bibir Lee Jin Ki.

***

Ye Sung sungguh kecewa. Setelah mencari ke seluruh penjuru rumah dan yakin sekali tidak ada satu bagian pun yang terlewat, mereka tak menemukan apa pun yang membuktikan bahwa Jin Ki adalah Ox selain ruang bermain yang penuh dengan peralatan bermain game termutakhir. Semua itu tidak bisa dijadikan bukti yang kuat dan alasan untuk menangkap Jin Ki.

Mereka bertiga kini duduk di ruang tengah bersama Jin Ki dengan ekspresi lesu. Jin Ki bersedekap, kedua tangannya terlipat di depan dada. Pemuda itu memandang Ye Sung dengan alis terangkat.

“Apa Anda sudah puas mengobrak-abrik rumahku, Jaksa Kim? Apa salah satu di antara kalian berhasil menemukan sesuatu?”

Wajah Ye Sung merona merah, bukan karena malu melainkan kesal. Tidak mungkin penyelidikan mereka bertemu jalan buntu lagi, bukan? “Tidak, sayang sekali.” Geramnya rendah.

“Aku sungguh tidak mengerti bagaimana kalian bisa menyimpulkan aku pelaku kriminal yang kalian cari.”

Suho baru membuka mulut hendak menjawab pertanyaan itu namun terhalang karena seseorang tiba-tiba saja menerobos masuk.

“Onew, aku akan mencekikmu karena membuat Ibu cemas! Di mana kau!!!”

Suara melengking perempuan menggema dari arah pintu depan. Seketika, semua kepala berputar ke arah ambang pintu pembatas antara ruang tamu dan ruang tempat mereka berada untuk menyambut sosok yang berteriak itu. Tak lama kemudian, seorang gadis dengan rambut panjang terurai, memakai jins, sepatu converse dan kaus putih longgar menerobos masuk. Gaya berpakaian yang cukup tomboy untuk ukuran seorang wanita muda. Gadis itu memiliki wajah yang cantik memikat, namun sayang sekali saat ini kemarahan mendominasi paras memesona itu.

“Cantik sekali.” Tanpa sadar Yoo bergumam, terpana pada kecantikan gadis itu. Suho harus menyikutnya agar pria itu kembali fokus.

Jin Ki, laki-laki yang menjadi objek kemarahan gadis itu hanya memutar bola mata. “Ada apa, Oline?”

Gadis yang dipanggil Oline oleh Jin Ki itu memberengut kesal, tidak hanya padanya tetapi pada ketiga laki-laki kain di ruangan itu. “Ada apa ini? Mengapa petugas polisi datang menemuimu? Oh, jangan katakan kau membuat masalah! Tak heran Ibu terlihat sangat cemas saat aku menjenguknya hari ini. Ibu memang tidak mengatakan apa pun, tapi aku tahu penyebab kekhawatirannya adalah kau. Sekarang aku tahu alasannya.”

“Ada apa?” Jin Ki mulai kesal karena Oline langsung mengoceh sesuatu yang tidak dimengertinya sama sekali. Sementara itu Ye Sung, Suho dan Yoo hanya diam termangu.

“Kau masih bertanya ada apa?” Oline naik pitam karena Jin Ki tidak bisa menebak penyebab kemarahannya. Ternyata Jin Ki tidak sepintar yang ia kira.

“Kau mendadak masuk sambil berteriak begitu, dan aku bukan cenayang yang bisa menebak isi hati seseorang.”

“Yang membuktikan kau memang pria berotak bebal!”

“Ayolah, aku sedang tidak berminat bermain tebak-tebakan hari ini. Katakan saja langsung.”

“Aku akan mengatakannya, tapi hanya saat kita berdua. Aku akan menunggu di kamarmu!” Tanpa menunggu persetujuan Jin Ki, gadis itu melengos ke arah tangga dan menghilang dari pandangan.

Jin Ki hanya mendesah lalu mengibaskan tangan. “Abaikan dia. Sudah hal lumrah baginya muncul di hadapanku dengan wajah semurka itu.”

“Siapa dia?” Yoo bertanya penasaran.

“Dia adik kembarku.” Jin Ki tersenyum bangga sementara ketiga pria lain terkesiap.

“Itu adik kembarmu? Sama sekali berbeda dengan yang kulihat di foto!” Ucap Suho dengan suara tercekat.

“Benarkah? Aku yakin kalian akan lebih tertarik saat melihat fotonya di majalah atau papan reklame. Oline seorang model.”

Ye Sung berdeham menghentikan diskusi itu. Ia menyadari obrolan mereka sudah melenceng dari topik yang sedang mereka bahas. “Bukankah kau tadi bertanya mengapa kami bisa menuduhmu sebagai Ox?”

“Nah, pertanyaan itu nyaris saja kuajukan.” Jin ki tersenyum miring. “Aku ingin mendengarkan alasanmu mencurigaiku. Aku yakin akhir-akhir ini tidak berkeliaran untuk mencuri sesuatu.”

“Benarkah?” Ye Sung mengangkat alis. “Kau benar-benar tidak ingat? Bukankah kita bertemu saat aku pindah rumah? Kau pemuda yang kutabrak waktu itu, bukan?”

Saat diajukan pertanyaan menjebak itu ekspresi Jin Ki tak berubah. “Benarkah? Kita pernah bertemu?”

“Kau tak ingat padaku?”

“Tidak.” Jin Ki menjawab dengan nada datar. Suho yang sudah tidak sabar lagi langsung menyela.

“Sudah kami katakan sebelumnya hasil penyelidikan kami mengarah padamu, Jin Ki-ssi. Kami memang belum menentukan dirimu sebagai tersangka, tapi kami menemukan beberapa hal mengenai dirimu yang secara langsung merujuk pada Ox.”

“Oh ya, hal apa yang kaumaksud?” Jin Ki mengangkat dagunya.

Suho dengan tenang menjabarkan fakta-fakta yang ditemukan mereka. Mulai dari sosok Ox yang tertangkap kamera CCTV yang mirip sekali dengan bentuk tubuh Jin Ki, statusnya sebagai seorang putra pengusaha kaya yang berhubungan dengan banyak perusahaan besar dan sebagai mahasiswa jenius sekaligus murid Cho Kyu Hyun sampai fakta bahwa Jin Ki merupakan keponakan Choi Seung Hwa, salah satu orang yang dicurigai sebagai Ox sebelumnya karena memiliki topi yang sama dengan yang dipakai Ox. Dan yang paling menentukan, Jin Ki merupakan putra Park Ah Ri, pemilik kalung berliontin berlian biru sebelumnya yang kini berlian itu telah terpecah dan disematkan pada semua perhiasan yang dicuri Ox. Semuanya fakta itu telah memberatkan Jin Ki dan membuatnya dicurigai. Mereka pun bisa menduga motif Jin Ki mencuri semua perhiasan itu jika Jin Ki memang terbukti sebagai sosok Ox. Di akhir penjelasannya, Suho menatap Jin Ki yang berdecak kagum.

“Wow, kalian benar-benar hebat bisa menemukan fakta tentang diriku sebanyak itu dan mengaitkannya dengan Ox. Tapi itu hanya dugaan, bukan?”

“Kau ingin menyangkal?” tanya Ye Sung tajam.

Jin Ki tak ragu membalas, “Tentu saja. Walaupun deduksi kalian sangat meyakinkan dan cukup untuk menjadikanku sebagai tersangka, kalian melupakan beberapa poin penting. Pertama, kalian tidak bisa menuduhku hanya karena aku memiliki bentuk tubuh yang sama dengan Ox, kedua, apa salahku jika aku memiliki ayah pengusaha terkenal? Aku bahkan tidak berkecimpung dalam bisnis ayahku untuk tahu dengan siapa saja ayahku bekerja sama. Ketiga, aku memang akrab dengan Professor Cho, tapi kami tidak pernah membahas tentang game setiap kali berdiskusi, kau bisa bertanya padanya. Lalu soal topi itu, katamu pamanku memberikannya pada adikku? Asal kalian tahu, Oline sangat pelit. Dia tidak mungkin memberikan barang-barang miliknya begitu saja padaku, aku bahkan tidak tahu adikku memilikinya. Dan terakhir, jika memang aku mencuri perhiasan-perhiasan itu untuk kuberikan pada ibuku yang ingin melihat kembali kalung lamanya yang hilang, bagaimana caranya aku mencopot semua permata itu dan menyatukannya? Aku bukan seorang pengrajin perhiasan. Kalian bahkan tidak memiliki bukti kuat yang membuktikan bahwa aku memang Ox.”

Ye Sung dan yang lainnya terperangah mendengar penjelasan panjang lebar dan mereka menyadari bahwa pembelaan Jin Ki masuk akal. Tapi Suho yang sudah begitu bersemangat ingin menyelesaikan kasus Ox kembali berkata dengan tidak sabar.

“Bagaimana kita permudah penyelidikan ini dengan kau mengaku bahwa kau memang Ox? Tak perlu menyangkal lagi, kau memang pelakunya, bukan?”

“Kau ingin berhadapan dengan pengacaraku rupanya.” Jin Ki tidak terlihat kesal sudah dituduh sebagai pencuri, pemuda itu malah tampak gembira. “Tapi jika aku mengaku bahwa aku memang pelakunya, apa kalian akan menangkapku begitu saja? Tanpa bukti?”

Ye Sung menggertakan gigi kesal. Bocah ini menganggap remeh kasus Ox. Sialan. Apa yang membuat Jin Ki begitu tenang dan percaya diri? Apa karena dia memang bukan Ox ataukah karena dia b3gitu yakin Ye Sung tidak akan bisa menangkapnya? Untuk pertama kalinya Ye Sung tidak bisa membaca ekspresi seseorang sehingga ia tidak bisa menebak apakah Jin Ki sedang berbohong atau tidak.

Hanya Yoo satu-satunya orang di ruangan itu yang menganggap serius ucapan Jin Ki. “Jadi kau memang pelakunya?” seru Yoo tercengang. “Jaksa Kim, tangkap dia! Dia sudah mengaku!”

“Tidak bisa. Jin Ki benar, kita tidak memiliki bukti.” Suho menggerutu. Keluhan itu membuat senyuman Jin Ki semakin melebar.

“Baiklah, kalau begitu kusimpulkan kalian telah datang ke rumah yang salah. Interogasi berakhir. Aku akan mengantarkan kalian ke depan pintu.” Secara halus Jin Ki telah mengusir mereka. Pemuda itu bangkit.

Suho dan Yoo tidak bisa menahan kekecewaan mereka begitu tersadar penyelidikan mereka kembali membentur jalan buntu. Apa itu berarti mereka harus memulai lagi dari awal? Ya Tuhan, mengapa mereka harus menangani kasus serumit ini? Mereka ikut bangkit mengikuti Jin Ki. Ye Sung yang paling terakhir meninggalkan kursinya karena ia sibuk dengan pikirannya.

Yesung kesal, dan marah karena kecurigaannya terhadap Jin Ki keliru. Instingnya tidak pernah meleset sebelum ini. Ia yakin J n Ki memang pelakunya. Tapi bagaimana ia membuktikan bahwa laki-laki muda itu bersalah sementara ia sendiri yang menggeledah rumah Jin Ki dan tidak menemukan apa pun. Rumah Jin Ki ‘bersih’.

“Tunggu dulu.”

Kepala Ye Sung menoleh menatap Lee Jin Ki yang tengah bersandar pada ambang pintu depan rumahnya. Langkahnya terhenti menyadari Jin Ki kini menunjukkan raut berbeda. Pemuda itu tampak lebih serius meskipun masih ada kilauan jahil di matanya. Suho dan Yoo sudah lebih dulu meninggalkan rumah Jin Ki dan sedang menuju mobil mereka yang diparkir di luar pagar.

“Ada apa? Apa sekarang kau ingin mengajukan tuntutan?” tanya Ye Sung menyelidik.

“Aku tidak keberatan sama sekali dengan kunjungan mendadak kalian, sungguh. Aku mencegatmu karena aku ingin menanyakan sesuatu pada jaksa paling terkenal di seluruh Seoul.”

Ye Sung langsung waspada dan ia berhasil menyembunyikan reaksi spontannya itu dengan baik. Jin Ki berhenti bersandar dan berjalan mendekati Ye Sung.

“Kulihat kau masih mencurigaiku.” Jin Ki menyimpulkannya setelah melihat Ye Sung mendadak menjadi begitu berhati-hati. “Apa karena cincin pernikahanmu ikut menjadi benda yang dicuri sehingga kau begitu ingin menangkap Ox?”

Sesaat Ye Sung terdiam karena masih harus mencerna pertanyaan itu. Namun saat ia berhasil memahaminya, Ye Sung terperangah. Matanya membelalak kemudian menyipit tajam.

Jin Ki mengetahui cincin pernikahannya hilang! Gemuruh kemurkaan bergolak di dada Ye Sung.

“Keparat! Jadi kau memang pelakunya. Kau memang Ox! Aku tidak pernah membocorkan mengenai hilangnya cincin pernikahanku karena dicuri Ox pada media. Tidak ada yang mengetahuinya selain kami tim penyidik dan si pencuri sendiri. Kau jelas mengetahuinya karena kau ada di sana untuk mencuri cincin pernikahanku! Kau memang pemuda yang menabrakku waktu itu!”

Kepuasan melintasi wajah Jin Ki mendengar kesimpulan Ye Sung yang tepat sasaran. Jin Ki berdiri dengan penuh percaya diri di depan Ye Sung.

“Jika memang aku pelakunya, apa yang akan kau lakukan? Seperti yang sudah kukatakan tadi, kau tak bisa menangkapku tanpa bukti yang kuat.”

Sial, sial, sial! Ye Sung meremas tangannya. Sungguh, detik itu Ye Sung ingin sekali menyeret Jin Ki ke penjara atas pengakuannya. Namun Ye Sung tidak bisa melakukannya. Ia tidak memiliki bukti.

“Aku pasti akan menemukannya, aku bersumpah. Kupastikan kau akan mendapatkan hukuman setimpal atas perbuatanmu!” Ye Sung mengatakannya dengan tegas, tajam dan penuh tekad. Ia serius akan menyeret Jin Ki ke penjara. Pemuda ini sendiri mengakuinya. Ye Sung kesal sekali karena ia tak bisa melakukan apa-apa dan terpaksa membiarkan seorang kriminal mempermainkannya seperti ini.

“Aku doakan semoga kau berhasil.” Jin Ki menyeringai, yang membuat kemarahan Ye Sung naik hingga ke ubun-ubun, membuat seluruh tubuhnya terbakar. “Tapi jika kau memang bernafsu ingin menangkapku, kusarankan kau menangkapku ketika aku sedang beraksi.”

***

“Kau tidak gagal, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan. Aku yakin kau bisa menangkap pelaku pencurian itu.”

Itu adalah kalimat penghiburan ke empat yang dilontarkan Choi Eun Ri hari itu. Ia tidak tega menyaksikan tunangannya uring-uringan selama beberapa hari ini. Eun Ri memang tidak tahu cerita detailnya, tapi ia sudah mendengar dari Yoo mengenai alasan Ye Sung semurung ini.

Yoo mengatakan, Ye Sung menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menangkap Ox di saat mereka sudah mengetahui siapa pelakunya karena kekurangan bukti. Begitu mendengar penyebabnya, Eun Ri langsung bersimpati. Ia sangat memahami Ye Sung yang tidak bisa membiarkan kejahatan yang terjadi di depan matanya begitu saja. Ye Sung pasti akan memikirkan seribu cara untuk menuntaskannya. Tak terkecuali kali ini. Namun Eun Ri heran Ye Sung tidak langsung bangkit seperti biasanya.

Oh Eun Ri tahu. Ye Sung pasti mencemaskan cincin pernikahan mereka, mengingat pernikahan mereka tidak akan lama lagi akan digelar sementara Ye Sung bahkan belum menyelesaikan setengah kasus yang ditanganinya kali ini. Apa mungkin Ye Sung khawatir pernikahan tidak akan terlaksana tanpa cincin itu? Ya Tuhan, sungguh pemikiran yang konyol. Eun Ri harus memberitahu Ye Sung mengenai hal itu.

“Nah, ini baju ibumu.”

Eun Ri mengurungkan niatnya berbicara pada Ye Sung begitu menyadari Sung Young Jae kembali sambil menenteng sebuah baju pesta yang masih dilapisi plastik pembungkus kemudian menghampiri mereka yang duduk di sofa nyaman di sudut butik milik Young Jae.

Hari ini Eun Ri datang mengunjungi temannya itu dengan tujuan mengambil pesanan baju pesta ibunya. Young Jae yang berprofesi sebagai desainer itu sudah menyelesaikannya. Eun Ri memusatkan perhatiannya untuk sementara pada baju yang diserahkan Young Jae padanya.

“Wah, bagus seperti biasanya. Terima kasih.” Eun Ri tak meragukan hasil rancangan Young Jae yang selalu bagus dan memiliki desain yang tak biasa. Sayang sekali Young Jae sudah tidak menjadi desainer untuk majalah yang dikelolanya lagi.

Young Jae tersenyum lalu duduk di samping suaminya, Kim Hee Chul yang sedang bermain bersama putra mereka, Joon.

Ye Sung sendiri masih tenggelam dalam pikirannya sehingga ia tidak mendengar saat Eun Ri meminta pendapatnya soal baju itu. Masih menggema dengan jelas di telinga Ye Sung kata-kata terakhir Jin Ki yang hingga kini selalu membuat darahnya mendidih setiap kali mengingatnya.

“..jika kau memang bernafsu ingin menangkapku, kusarankan kau menangkapku ketika aku sedang beraksi.”

Jin Ki mengatakannya dengan nada mengejek yang malah memperkeruh suasana hati Ye Sung yang sudah buruk. Bocah sombong itu, memiliki nyali dan kepercayaan diri yang begitu besar sampai berani menantang penegak hukum seperti itu. Lihat saja nanti saat Ye Sung berhasil menemukan bukti bahwa Jin Ki adalah Ox, ia ingin melihat Jin Ki mengemis memohon pengampunan.

“Sayang, kau baik-baik saja?”

Ye Sung terhenyak dari lamunannya. Ia mengerjap lalu menoleh ke arah Eun Ri yang menatapnya penuh perhatian seraya menggenggam tangannya. Melihat ekspresi tunangannya Ye Sung tersadar ia telah melamun terlalu lama dan tidak sepantasnya ia membuat Eun Ri khawatir. Ye Sung lekas meminta maaf.

“Maafkan aku sudah membuatmu cemas. Seharusnya aku tidak memikirkan pekerjaanku saat kita bersama seperti ini. Apa aku membuat harimu buruk?” Ye Sung sungguh menyesal.

“Aku mengerti situasimu, tenang saja. Jangan terlalu dipikirkan. Aku yakin kau bisa menyelesaikan kasusmu.” Eun Ri meremas tangannya sebagai bentuk dukungan. Tindakan itu membuat hati Ye Sung menghangat. Untuk pertama kalinya sejak ia keluar dari rumah Lee Jin Ki, perasaannya menjadi damai. Ye Sung tersenyum.

“Terima kasih.” Eun Ri tidak tahu bahwa detik itu Ye Sung merasa sangat beruntung karena memiliki kekasih sepertinya. Ye Sung ingin mengatakannya jika saja detik berikutnya Kim Hee Chul tidak menyela.

“Omong-omong, bagaimana perkembangan kasus yang kau tangani?”

Ye Sung memutar pandangannya pada pria yang duduk di seberangnya. Tiba-tiba saja moodnya kembali jatuh. “Kami sudah menemukan tersangka, tetapi sayangnya kami tidak memiliki cukup bukti untuk menangkapnya.”

“Kupikir itu bagian tersulit dari penyelidikan kasus kriminal,” komentar Young Jae.

Ye Sung mengangguk lemah.

“Aku penasaran orang seperti apa yang kalian curigai. Apakah dia masih muda?”

“Terlalu muda dan arogan.” Ia kemudian menatap Hee Chul. Ia tahu ia tidak seharusnya memberitahu orang luar tentang penyelidikan yang dilakukannya namun Ye Sung nyaris menemui jalan buntu kembali sehingga ia akan dengan senang hati menerima masukan atau bantuan dari siapa saja.

“Dia masih mahasiswa. Mungkin kau pernah melihatnya di galerimu.” Ye Sung memperlihatkan foto Jin Ki. “Kami memang belum resmi menetapkannya sebagai tersangka. Sementara ini kami hanya menduganya karena beberapa hal berkaitan dengannya.”

Ye Sung sungguh terkejut ketika melihat Hee Chul terkesiap. “Kenapa?” tanyanya heran dan kaget.

“Aku tahu pemuda ini!” Hee Chul menunjuk foto Jin Ki dengan telunjuknya, tampak kesal dan geram. Ia menoleh pada istrinya, “Kau ingat bocah ingusan yang meminta bertemu denganku untuk melihat beberapa rancanganku namun pada akhirnya mengatakan bahwa rancanganku tidak ada yang sesuai dengan seleranya?” ucap Hee Chul diiringi anggukan kepala Young Jae. “Dia mahasiswa tengik itu.”

“Benarkah? Kau yakin?” Ye Sung terperanjat. Jin Ki bahkan pernah menemui Hee Chul juga? Apa laki-laki itu sedang mencari pecahan berlian biru itu dengan menemui setiap desainer perhiasan di seluruh Seoul?

“Sangat yakin. Aku tidak mungkin melupakan bocah yang secara terang-terangan mengatakan bahwa karyaku jelek,” gerutu Hee Chul menggebu.

“Ah, pantas saja hari itu kau uring-uringan,” sahut Young Jae sambil tersenyum.

“Dan kau membuat hatiku berbunga-bunga kembali dengan memberitahuku bahwa kau hamil.” Hee Chul balas tersenyum.

Eun Ri terkikik saat melihat wajah Young Jae merona, jarang sekali Eun Ri menyaksikan pasangan itu saling melemparkan rayuan sementara Ye Sung mendadak saja bersemangat. “Apa yang kalian bicarakan waktu itu? Apa dia bertanya mengenai berlian biru atau sejenisnya?”

Hee Chul memiringkan kepala, “Jika diingat lagi, bocah itu memang memintaku membawa rancanganku dengan permata warna biru dan saat aku memperlihatkan padanya, dia hanya mengamati semua rancanganku, menyentuhnya sekilas lalu mencemooh,” cibir Hee Chul jijik dan kesal.

Dugaan Ye Sung benar, mungkin saat itu Jin Ki sedang mencari perancang yang menyematkan berlian biru milik ibunya pada rancangannya.

“Kapan pertemuan itu terjadi?”

“Hampir dua tahun yang lalu.”

Ye Sung mengangguk. Kini ia tidak bisa diam saja di sana. Ia harus menemui Ma Byung Seok, Kang Jung Mo dan Shin Ha Na untuk mencaritahu apakah Jin Ki juga menemui mereka atau tidak. Ia bangkit dengan terburu-buru, tapi kemudian terhenti saat ia teringat pada Eun Ri.

Sial, ia tidak boleh pergi begitu saja dan meninggalkan Eun Ri sendiri di sini.

“Pergilah. Aku tidak akan mencegahmu kali ini.” Eun Ri memberi Ye Sung senyum penuh pengertian. Betapa bersyukurnya Ye Sung mendengar jawaban itu. Ia mendekat untuk mengecup kening Eun Ri lalu pamit pergi.

“Aku akan menemuimu malam ini,” janjinya sebelum melesat meninggalkan butik Young Jae.

Ye Sung menemui ketiga perancang itu dengan pertanyaan yang sama seraya menunjukkan foto Jin Ki. Jawaban mereka pun sama dan membuat Ye Sung yakin memang Jin Ki pelakunya. Ketiganya mengaku pernah bertemu dengan Jin Ki meskipun mereka tidak yakin kapan pertemuan itu terjadi. Setelah meninggalkan kantor Shin Ha Na, perancang ketiga yang ditemuinya, Ye Sung lekas menghubungi Suho dan Yoo yang hari ini bertugas membuntuti Jin Ki. Ia ingin tahu sampai sejauh mana pengintaian yang mereka lakukan

Yoo langsung menjawab pada deringan pertama. “Ya, Jaksa Kim.”

“Bagaimana? Apa kau menemukan sesuatu? Apa yang dilakukan bocah itu sekarang?” Ye Sung bergegas masuk ke mobilnya. Ia duduk di balik kursi kemudi dengan ponsel yang masih menempel di telinga.

“Sejauh ini kami berhasil mengikutinya tanpa ketahuan. Tidak ada aktivitas yang mencurigakan. Lee Jin Ki hanya pergi ke kampus seperti biasa lalu pergi ke perpustakaan nasional. Benar-benar tipikal anak pintar..”

“Temui aku di kantor. Kau dan Suho. Aku ingin mendengar cerita selengkapnya dari kalian.”

Tak lama setelah mengakhiri obrolannya dengan Yoo, Ye Sung melesat kembali ke kantor. Di sanalah ia bertemu dengan asistennya dan Suho dan segera mendengarkan hasil pengintaian mereka. Seperti yang sudah dijelaskan Yoo sebelumnya, tidak ada aktivitas mencurigakan dari yang dilakukan Jin Ki hari ini. Segalanya berjalan normal dan wajar-wajar saja.

“Tapi ada satu kabar buruk,” ujar Suho jengkel. “Kami kehilangan Jin Ki di perpustakaan nasional.”

“Apa?!” Ye Sung kaget sekali. “Bagaimana bisa? Bukankah kalian tidak melepaskan pandangan sedikit pun darinya?”

“Iya. Tapi sepertinya Jin Ki mulai menyadari keberadaan kami dan memutuskan menghilang dari pengawasan. Perpustakaan itu penuh hari ini sehingga sulit tetap menjaga mata pada satu orang saja.”

“Benar.” Yoo setuju. “Kebetulan sekali Anda menelepon tepat setelah kami kehilangan jejak Jin Ki.”

“Ini tidak bisa dibiarkan.” Ye Sung bangkit dari kursinya lalu berjalan mondar-mandir dengan perasaan cemas yang berlebihan. “Bagaimana jika Jin Ki ternyata beraksi kembali dan kita tidak sempat menangkapnya saat dia melakukan pencurian?”

Suho dan Yoo tak bisa membalas. Mereka berdua pun merasakan kegelisahan yang sama. Sejam kemudian mereka lalui dalam kondisi tersiksa oleh perasaan gusar dan tidak sabar. Kecemasan mereka berakhir saat telepon di ruang kerja Ye Sung berdering keras. Ye Sung langsung melompat mengangkatnya. Ekspresinya langsung berubah, percampuran antara rasa puas, marah dan gemas. Ye Sung menoleh ke arah Yoo dan Suho setelah mengakhiri pembicaraannya. Dari ekspresi Ye Sung, keduanya bisa menebak inti pembicaraan di telepon tadi.

“Pencuri itu beraksi lagi?” tebak Yoo. Ye Sung dengan santai mengangguk.

“Tepat seperti dugaan kita.” Ye Sung beralih menatap Suho. “Rekanmu tidak bisa menghubungi ponselmu. Dia kesal sekali karena tidak bisa memberitahumu tentang pencurian itu padamu lebih cepat.”

“Ponselku rusak. Walkie-talkie-ku pun tertinggal di mobil.”

“Begitu. Sebaiknya kita pergi sekarang. Tampaknya Ox menyasar rumah pemilik perhiasan bertatahkan berlian biru yang terakhir.”

Mereka bergegas pergi.

“Aku tidak menyangka, lagi-lagi pencuri itu mendahului kita! Seandainya kita tahu siapa pemilik permata terakhir itu lebih dulu. Kita bisa mencegahnya.” Yoo menggerutu sambil bergerak mengikuti Ye Sung.

“Dia selalu berhasil selangkah lebih maju di depan kita,” kata Suho.

“Di mana dan siapa pemilik permata terakhir itu?” tanya Yoo.

Ye Sung menyebutkan sebuah alamat yang seketika membuat Suho berhenti melangkah, wajahnya mendadak berubah pucat pasi.

“Kenapa?” Yoo kaget melihat Suho berubah tegang.

Suho memejamkan mata lalu mengumpat marah. “Ox brengsek, dia menjarah kediaman orang tuaku!”

Pernyataan itu membuat dua orang lain terkejut bukan main. “Apa?!”

“Kau yakin?” Ye Sung gusar. Suho mengangguk keras. Bagaimana mungkin ia melupakan alamat rumah tempatnya dibesarkan.

“Memang kenapa?” Yoo heran karena Ye Sung ikut-ikutan tegang seperti Suho.

“Sebaiknya kau berharap itu bukan kediaman orang tuamu karena kali ini aku mendapatkan laporan bahwa ada korban terluka.”

***

Dalam perjalanan menuju rumahnya, Suho didera perasaan cemas luar biasa. Ia berharap korban terluka yang dimaksud Ye Sung bukanlah ibunya, atau Bibi Jang, pembantu kesayangannya yang telah mengasuhnya sejak kecil. Suho mengutuki ponselnya yang memutuskan rusak hari ini. Jika tidak, ia bisa mengetahui pencurian ini lebih awal.

“Kau tidak pernah berkata padaku kalau kau seorang chaebol,” komentar Yoo takjub ketika mereka tiba di tempat kejadian perkara alias rumah keluarga Kim Juno, Ayah Suho. Rumah megah dengan halaman luas itu kini dipenuhi polisi dan beberapa wartawan berkerumun di depan pagar berharap bisa mengambil berita.

Suho meringis. “Itu bukan sesuatu yang penting.”

Sebenarnya Suho tidak terlalu suka kembali ke rumah itu karena hubungannya dengan sang ayah kurang baik. Ayahnya menentang Suho yang memilih menjadi polisi daripada bekerja di perusahaan. Mereka kerapkali bertengkar karena hal itu. Tapi sebagai putra kedua, Suho tahu ia berhak memilih pekerjaan apa pun yang diinginkannya karena ada kakak laki-lakinya yang sudah mengisi peran sebagai si ahli waris perusahaan besar milik keluarga Kim.

“Joon Myun anakku!” Ibu Suho seorang wanita cantik yang terlihat masih muda, langsung berhambur memeluk putranya ketika Suho datang. Tindakan itu membuat Suho malu, karena dilakukan di depan Ye Sung dan petugas polisi lainnya yang berkeliaran di sekitar TKP. Suho membiarkan ibunya memeluknya sejenak, ia selalu dimanjakan oleh sang ibu sejak dulu dan sudah terbiasa menerima luapan kasih sayang ibunya yang berlebihan.

“Ibu, kau tidak apa-apa?”

“Tentu saja, Sayang. Ibu beruntung karena saat pencuri itu menyelinap masuk, Ibu sedang di dapur, mengawasi persiapan makan malam. Kau tahu ayahmu akan menjamu beberapa rekan bisnisnya untuk makan malam di sini, bukan?”

“Tidak, aku tidak tahu.” Suho mengeryit. Apa ibunya lupa bahwa Suho tidak menginjak rumah ini lebih dari dua bulan?

“Selamat siang, Nyonya Kim saya Kim Jong Won, dari kantor kejaksaan Seoul.” Ye Sung menyela sambil mengulurkan tangan. “Saya dan putra Anda bertanggung jawab dalam menangani kasus pencurian ini. Saya menengar ada korban kali ini, boleh saya tahu siapa?”

Nyonya Kim menyalami Ye Sung kemudian terkesiap, “Ah,” ia menatap Suho dengan sedih lalu berkata. “Dia Jang Hwa Seo, salah satu asisten rumah tangga di sini.”

“Apa? Bibi Jang terluka?”

“Jangan khawatir, Bibi Jang hanya terluka ringan di kepalanya karena dipukul si pencuri saat memergokinya masuk ke kamar Ibu. Sekarang dia sedang mendapatkan perawatan medis di ruang tengah.”

Suho tak mendengar penjelasan ibunya hingga akhir karena ia lebih ingin tahu kondisi pengasuhnya. Ibu Suho hanya menggelengkan kepala melihat Suho melesat pergi. Ia tahu Suho sangat menyayangi Bibi Jang dan sebagai ibu ia tak keberatan.

Jang Hwa Seo baru selesai diobati dan sedang berbaring di atas sofa ketika Ye Sung dan Yoo bergegas menghampirinya. Suho sedang menanyakan keadaan wanita paruh baya itu dan dibalas dengan elusan penuh kasih sayang di bahu Suho.

Wanita itu hanya mengalami memar ringan di pelipis, itu yang dikatakan tim medis pada Ye Sung dan bisa langsung ditanyai. Ye Sung mengajukan beberapa pertanyaan pada Bibi Jang. Wanita itu menjawab setiap pertanyaannya dengan baik.

“Benda apa yang dicuri Ox, apa Anda tahu?”

“Sebuah bros,” ujar Ye Sung sebelum Bibi Jang menjawabnya.

“Bagaimana Anda tahu?”

“Shin Ha Na mengatakannya.”

“Aku tidak tahu kalau ibu-ibu sosialita yang dimaksud Shin Ha Na adalah ibuku. Seandainya aku tahu lebih awal,” gumam Suho.

“Semuanya bukan salahmu,” hibur Bibi Jang.

“Apa Bibi kebetulan melihat wajah pencuri itu?”

Jang Hwa Seo menggeleng dengan sedih. “Dia memakai topeng dan sweter hitam serta celana longgar berwarna cokelat. Pelaku itu masuk saat aku kebetulan hendak mengambil gaun Nyonya untuk disetrika. Aku juga mengambil bros itu karena Nyonya mengatakan akan memakainya sebagai hiasan. Saat itulah aku melihat si pencuri masuk. Aku sempat menjerit sebelum akhirnya pencuri itu menikam kepalaku dengan sesuatu. Aku terjatuh dan pencuri itu mengambil bros dari tanganku. Pencuri itu kabur, namun aku masih memiliki sisa tenaga untuk memberitahu penjaga keamanan. Hanya sayang, pencuri itu berhasil melarikan diri.”

Ye Sung langsung mengajak Suho dan Yoo melihat TKP, yaitu kamar kedua orang tua Suho. Tim penyidik masih berkeliaran di sana tengah memeriksa setiap sudut ruangan berharap bisa menemukan jejak si pelaku yang bisa dijadikan petunjuk untuk menangkapnya.

Sebenarnya sejak mendengar penuturan Jang Hwa Seo, Ye Sung sudah merasakan ganjalan aneh dan perasaan tidak nyaman itu semakin membesar begitu ia melihat keadaan TKP. Entah mengapa ia merasa pencurian kali ini tidak dilakukan oleh Ox. Jika dilihat dari beberapa pencurian sebelumnya, Ox adalah tipikal pencuri yang sempurna dan memperhitungkan segalanya dengan baik. Namun melihat kondisi TKP saat ini, jelas si pencuri terlalu terburu-buru datang dan pergi seolah pencurian itu dilakukan secara spontan dan tidak terencana. Sungguh bukan gaya Ox.

Selain itu, Ox tidak akan melukai korbannya. Terbukti ketika pencurian di rumah Dong Hae, Ox tidak melukai Hae Young. Ini bukan pencurian yang dilakukan Ox. Ia yakin dan langsung mengatakan itu pada Suho serta Yoo.

“Mustahil, Jaksa Kim. Jika bukan Ox lantas siapa lagi?” seru Suho. “Bahkan ada tanda Ox tertulis di jendela kamar tempat pencuri itu kabur.”

“Tanda itu bisa dibuat siapa saja,” menurut Ye Sung. Dengan pemberitaan tentang Ox yang gencar di media, siapa pun pasti bisa meniru metode pencurian Ox. Tetapi tetap saja tidak bisa menyamai si pencuri jenius itu. Setidaknya, pencurian kali ini tidak dilakukan oleh Lee Jin Ki.”

“Apa Anda bermaksud mengatakan bahwa Jin Ki bukanlah Ox?” tanya Yoo.

“Tidak, bukan begitu.” Ye Sung sangat yakin Jin Ki memang Ox, bahkan pemuda itu sudah mengakuinya. Namun kali ini bukan Jin Ki pelakunya. Pencurian ini dilakukan oleh orang lain yang ingin mencuri dan membersihkan tangannya sendiri dari tuduhan.

Pertanyaannya adalah siapa yang berani melakukan itu?

-tbc-

103 thoughts on “Shady Girl Yesung’s Story [Chapter 7]

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s