Shady Girl Yesung’s Story [Part 6]

Tittle : Shady Girl Yesung’s Story Part 6
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Mistery Case

Main Cast :
Choi Eunri | Yesung

Support Cast :
Suho as Police | Kang Yoo as Yesung’s assisstant

Dha’s Speech :
Yeey.. bisa updet lagi. Aku lagi bagus nih moodnya ^_^
Mumpung debay belum lahir, jadi masih sempetlah lanjutin FF yang tertunda, soalnya kalau debay udah lahir, aku pasti gak fokus bikin FF.

Nah, maaf ya kalau ada typo,cerita jelek, tata bahasa berantakan, dan gampang ditebak. Yesung Story memang minim adegan romantisnya. Maklum, genrenya aja kasus misteri, jadi begitulah…

Happy Reading ^_^

Shady Girl Yesung Story by Dha Khanzaki

=====o0o=====

PART 6

RESMI sudah, Yesung benar-benar ingin menangkap Ox dengan tangannya sendiri setelah pernyataan perang yang diungkapkan pencuri itu. Meskipun hanya sedikit keterangan yang didapatkan dari hasil mewawancarai beberapa orang di TKP, Yesung tetap harus menangkapnya segera.

Namun penyelidikan Yesung terhalang kendala besar. Hari itu di rumah Donghae dan Haebin sedang diselenggarakan pesta dan di TKP tidak terpasang CCTV. Pasangan suami-istri itu mengundang lebih dari dua ratus tamu yang terdiri dari kerabat, kolega dan teman dekat. Pelaku bisa siapa saja di antara mereka. Karena itu Yesung meminta daftar tamu yang hadir di pesta itu. Ia meminta Suho dan Yoo memeriksa latar belakang mereka.

Dua jam kemudian, Suho dengan wajah lelah memberitahukan bahwa tidak ada tamu yang mencurigakan. Tidak ada satu pun di antara mereka yang memiliki ciri-ciri Ox. Bahkan tidak ada yang berhubungan dengan kelima pria yang mereka curigai sebagai Ox dalam penyelidikan sebelumnya.

Yesung kemudian memutuskan bertanya hal lain. Ia memandang wanita di hadapannya. “Aku ingin melihat bentuk gelang yang dicuri Ox. Apakah gelang itu memiliki permata biru?”

Haebin mengerjapkan mata. “Bagaimana kau tahu? Ya, gelang itu memang memiliki permata warna biru.” Ia langsung menunjukkan foto gelang itu pada Yesung.

Diamatinya gelang itu baik-baik dan dibandingkannya dengan gambar perhiasan yang dicuri sebelum ini. Warna semua permata itu identik. Yesung semakin yakin dengan dugaannya.

“Yoo, apa kau sudah berhasil mendapatkan info asal usul semua permata yang dicuri?”

Yoo yang sedang mengobrol dengan tim penyidik segera menghampiri Yesung. “Aku masih berusaha mengumpulkan semua info.”

“Cepat selesaikan penyelidikan itu. Aku yakin informasi tentang permata itu menjadi kunci penyelesaian kasus Ox.”

“Baik. Aku akan melanjutkan investigasinya sekarang.” Yoo bergegas pergi.

Yesung mendesah lelah. Ia melirik si kecil Haeyoung yang sedang tidur di pangkuan ibunya. Hanya dia yang tahu seperti apa wajah si pelaku. Sayangnya anak sekecil itu tidak mungkin diinterogasi. Dia masih belum memahami apa-apa. Tapi kemudian Yesung penasaran, bagaimana caranya si pelaku mengambil gelang dari tangan Haeyoung tanpa membuatnya menangis?

“Apakah Haeyoung tipikal anak yang akrab dengan orang asing?”

“Aku tidak yakin,” jawab Haebin sambil mengusap kepala anaknya. “Tapi biasanya Haeyoung akan menangis jika didekati orang yang mencurigakan.”

Benarkah? Yesung mengerjapkan mata. “Besar kemungkinan anakmu mengenali si pelaku. Bukankah dia tidak menangis saat Ox mengambil gelang itu darinya?”

“Memang benar.” Haebin gusar. “Apa itu artinya salah satu dari tamu yang datang hari ini adalah Ox?”

“Hanya dugaan sementara. Aku tidak yakin dia memang salah seorang tamu atau bukan, tapi Haeyoung jelas mengenalinya. Ox adalah kriminal jenius. Dia mungkin mendekati Haeyoung sebelumnya tanpa diketahui olehmu maupun suamimu. Apa kalian memiliki dugaan siapa pelakunya?”

“Aku tidak bisa mencurigai siapa pun tapi aku tidak akan membantah jika kemungkinan Ox memang seseorang yang kami kenal. Beberapa waktu ini kami sering mengajak Haeyoung ke beberapa pesta dan pertemuan. Mungkin tanpa sepengetahuan kami Ox mendekati Haeyoung.”

“Apa kau mengenal seseorang dengan ciri-ciri seperti Ox?” Yesung menyebutkan ciri-ciri Ox. Haebin tidak bisa mengingat apakah ia berkenalan dengan orang yang menyerupai ciri-ciri pelaku. Akhir-akhir ini dia berkenalan dengan banyak orang. Pertanyaan serupa pun diajukan pada Donghae dan pria itu juga memberikan jawaban yang sama dengan istrinya.

Penyelidikan hari itu pun berakhir tanpa informasi yang berarti selain mereka mengetahui Ox telah terang-terangan menunjukkan diri.

Tetapi Yesung tidak pantang memyerah. Yesung sendiri menganalisis ciri-ciri Ox dan mencoba membandingkannya dengan orang-orang yang dikenalnya. Ia sudah bertemu dengan banyak orang selama berkarier sebagai jaksa. Ia khawatir dugaannya benar, Ox memang seseorang yang ia tahu.

—o0o—

“Jaksa Kim, berita besar!”

Perhatian Yesung teralih dari berkas yang sedang dipelajarinya pada Yoo dan Suho yang tersenyum cerah. Satu hari setelah aksi Ox di rumah Donghae, Yesung kembali disibukkan dengan berkas-berkas yang berdatangan dari kepolisian. Semua itu harus diselesaikan sebelum Ox kembali beraksi—Yesung berharap pencuri keparat itu tidak melakukannya lagi.

“Apa?” Yesung harap berita yang mereka bawa akan membawa kemajuan besar terhadap penyelidikan pencurian Ox.

“Bukankah Anda pernah meminta penyelidikan untuk mencari asal usul permata biru itu?” tanya Yoo.

“Ya.” Tentu saja Yesung tidak akan lupa. Ia mengerjap. “Kau sudah menemukannya?”

“Tepat sekali.”

“Kami sudah berhasil menemukan di mana para desainer perhiasan itu mendapatkan berlian biru yang dipakai pada rancangan yang dicuri Ox,” terang Suho antusias. Kegembiraan dan suka cita terpancar jelas di wajahnya. “Anda ingat saat kita mewawancarai Ma Byungseok, pria itu mengatakan bahwa berlian yang digunakannya dibeli di sebuah toko di distrik Daegu? Rupanya, perhiasan lain pun menggunakan berlian yang sama yang didapatkan dari toko itu.”

“Benarkah?” Yesung terperangah.

Suho mengangguk. “Pemilik toko itu seorang kakek, seperti yang juga pernah dikatakan Ma Byungseok. Cukup sulit menemukannya, karena toko itu terletak di daerah yang sedikit sulit dijangkau. Orang biasa tidak banyak yang mengetahui keberadaan toko itu. Sepertinya toko itu hanya dikenal oleh para pengrajin perhiasan dan pemburu perhiasan antik.”

Yesung bangkit. “Kalau begitu apa lagi yang kita tunggu? Kita ke sana sekarang juga.” Informasi mengenai permata itu sangat penting dan kemungkinan besar akan mengarahkan mereka pada kesimpulan tentang motif Ox mencuri seluruh perhiasan dengan rancangan yang sama. Suho sama semangatnya dengan Yesung. Ketiga orang itu segera melesat menuju Daegu.

—o0o—

Matahari sudah digantikan bulan di singgasananya. Walaupun langit malam tak berawan, angin bertiup kencang. Namun cuaca yang sedikit tak bersahabat itu tak menyulutkan semangat jaksa, asistennya dan petugas polisi itu. Mereka kini berdiri di depan sebuah bangunan yang tampak tua meskipun masih terawat baik.

Toko itulah yang menjadi tujuan utama Yesung dan yang lainnya mengunjungi daerah pinggiran di distrik Daegu itu. Keadaan toko benar-benar mencerminkan sosok si pemilik, seorang kakek berusia 80 tahun yang masih nampak sehat dan bersemangat ketika Yesung, Yoo dan Suho menemui kakek itu.

Setelah diantar cucu perempuannya menuju kediaman sang kakek yang berada di belakang toko, mereka duduk di teras belakang rumah. Kakek itu mengenalkan diri sebagai Chae Bokyung.

Yesung tak berbasa-basi terlalu lama. Begitu mengatakan identitas dan tujuannya datang kemari, ia langsung mengajukan pertanyaan.

“Apa Anda ingat pernah menjual berlian biru beberapa tahun yang lalu?” Yesung menunjukkan foto berlian yang tersemat pada salah satu perhiasan yang dicuri Ox. Chae Bokyung harus menyipitkan mata dan mendekatkan foto itu ke depan wajahnya untuk mengenalinya.

“Ah, ya. Aku ingat.” Wajah kakek itu bersinar. Ingatannya masih setajam ingatan lumba-lumba. “Meskipun usiaku sudah renta, aku tetap ingat semua benda yang pernah kujual.”

Yesung dan yang lainnya berpandangan senang. Mereka menatap Chae Bokyung dengan lebih seksama, menunggu kakek itu melanjutkan penjelasannya.

“Sekitar beberapa tahun yang lalu, ada tiga orang yang datang menemuiku di hari yang berbeda. Mereka mengaku sebagai desainer perhiasan yang sedang mencari permata untuk rancangan mereka. Kebetulan sekali saat itu aku memiliki permata bagus yang baru saja kupotong menjadi tiga bagian. Ketiga orang itu langsung menyukai berlian biru yang kutunjukkan. Masing-masing dari mereka membeli satu bongkah berlian biru itu,” jelas Chae Bokyung panjang lebar. Ada kesenangan di wajah penuh kerutannya saat mengenang kejadian yang seakan-akan baru terjadi kemarin.

“Dari mana Kakek mendapatkan berlian itu?” tanya Suho.

“Aku membelinya. Berlian itu berasal dari satu liontin besar sebuah kalung yang sudah cacat. Rantai kalung yang cacat itu sendiri masih kusimpan karena aku merasa sayang sekali sampai tidak tega menjualnya. Siapa pun yang membuatnya, dia seorang yang jenius. Apa kalian ingin melihatnya?”

“Tentu saja!” Yesung dan yang lainnya menjawab dengan penuh semangat.

Chae Bokyung terkekeh. “Kalian benar-benar anak muda yang bersemangat.” Ia segera menyuruh cucu perempuannya mengambil sesuatu di ruang kerjanya. Sebuah kotak dengan ukiran antik kini terpampang di atas meja yang dikelilingi ke empat orang itu.

Yesung, Suho serta Yoo menatap kotak itu dengan penasaran. Chae Bokyung membukanya. Sebuah kalung dalam bentuk rantai kecil tergeletak di dasarnya. Ukirannya indah, namun sedikit cacat di bagian ujung. Kaitan yang biasanya digunakan untuk menyatukan kedua ujung rantai rusak. Beberapa mata rantai pun tampak penyok seperti pernah ditindih benda berat.

“Ini adalah sketsa kalung itu saat masih utuh. Aku sengaja membuatnya karena desainnya sangat indah.”

Chae Bokyung memperlihatkan selembar sketsa hitam putih yang menampilkan desain kalung dengan liontin besar bertatahkan permata. Yesung menahan napas kagum melihatnya. Sketsanya saja sudah menakjubkan. Yesung penasaran bagaimana kenampakan kalung ini saat masih utuh dulu.

“Apakah Anda tahu siapa yang mendesainnya?” Yesung mengalihkan tatapannya sejenak dari sketsa itu pada Chae Bokyung.

Sayangnya kali ini kakek itu menggeleng, mimik wajahnya tampak muram. “Aku membelinya dari seorang pria yang sedang membutuhkan uang. Pria itu bukan perancang kalung itu. Kemungkinan dia mewarisinya dari keluarga atau kerabatnya.”

“Apa Kakek masih ingat identitas si penjual kalung itu?” Kali ini Yoo yang bertanya.

“Aku tidak ingat dengan jelas. Aku hanya ingat pria itu terpaksa menjual kalungnya karena krisis keuangan yang melanda keluarganya. Awalnya aku ingin menjual kembali kalung itu secara utuh, namun aku berpikir untuk menjual berliannya saja. Keputusanku tepat, karena setelah berlian itu kupecah menjadi tiga, semuanya terjual dengan mudah.”

“Apa Anda juga ingat sudah menjual permata itu pada siapa saja?” tanya Yesung kali ini. Ia benar-benar berharap Chae Bokyung bisa mengingatnya.

“Aku hanya ingat salah satunya,” jawab kakek itu, membuat Yesung mendesah lega meskipun ia merasa akan lebih bagus jika sang kakek bisa mengingat ketiganya. “Salah satunya adalah Ma Byungseok. Aku mengingatnya karena pria itu adalah seniman ternama.”

Tak heran jika kakek ini tahu, Ma Byungseok memang sosok terkenal dalam dunia seni, bahkan Hwang Jinmi sang kurator Hwang Art Museum pun sampai mengoleksi karya-karyanya.

Yesung dan Suho langsung berpandangan. Mereka memikirkan hal yang sama. Tanpa ragu Yesung menyodorkan foto Kang Jungmo pada Chae Bokyung.

“Apa Anda juga menjualnya pada pria ini?” Jika kakek ini berkata ya, maka penyelidikan mereka selama ini memang benar. Ox, mengincar perhiasan bertatahkan berlian biru yang sama dan kemungkinan besar, kunci penyelesaian kasus ini terletak pada pemilik sesungguhnya kalung cacat yang kini dimiliki Chae Bokyung.

Kakek itu memandangi foto sejenak, lalu mengangguk. “Ya, benar. Aku ingat pria ini datang sehari setelah aku menjual satu permata pada Ma Byungseok.”

Jawaban kakek itu sungguh menggembirakan Yesung. “Apakah Anda mengingat siapa pembeli ketiga?” Sepertinya Yesung bisa menebak sosok terakhir itu, namun ia tetap ingin memastikannya. Jika memang benar, maka jalan mereka untuk mengungkap kasus itu tidak akan menemukan jalan buntu lagi.

“Dia..” Chae Bokyung berusaha mengingat-ingat. Yoo dan Suho sudah tampak tidak sabar ingin segera mendengar jawabannya sementara Yesung semakin mengerutkan kening.

“Apakah kebetulan dia wanita bernama Shin Hana?” tanya Yesung. Yoo dan Suho langsung memandangnya, kaget. Mereka tampak ingin melayangkan pertanyaan namun Yesung malah menyodorkan selembar foto pada Chae Bokyung, yang menampilkan seorang wanita cantik berusia 30 tahunan.

Wajah Chae Bokyung seketika berbinar penuh rindu. Ia mengangguk perlahan, “Kau benar sekali anak muda, aku juga menjualnya pada wanita ini. Ah, aku lupa menanyakan namanya, namun aku ingat wajahnya karena dia mengingatkanku pada mendiang istriku.”

Suho mendesah takjub, “Bagaimana kau mengetahuinya, Jaksa Kim?” Polisi muda itu menatap Yesung penasaran, begitu pun yang dilakukan Yoo.

Keantusiasan tidak tampak di wajah Yesung seperti sebelumnya, kini Yesung justru menggeram kesal. “Shin Hana adalah adalah orang yang merancang cincin pernikahanku.”

“Apa?” Suho dan Yoo berseru kaget di saat yang bersamaan.

Sekarang semuanya sudah jelas. Ox memang mengincar seluruh perhiasan bertatahkan berlian biru yang semula berbentuk liontin. Penyelesaian kasus itu sudah tampak di depan mata. Mereka hanya tinggal menemukan siapa pemilik semula kalung itu dan motif Ox mengincarnya. Kemungkinan besar Ox memiliki hubungan dengan si pemilik asli.

Sepulangnya mereka dari rumah Chae Bokyung, Yesung segera meminta Suho untuk menyelidikinya.

—o0o—

Keesokan harinya semangat ketiga orang itu kian membara. Yesung segera mengajak asistennya dan Suho pergi menemui Kang Jungmo, perancang sepasang anting-anting yang dibeli oleh Eunhyuk. Beruntung pria itu sudah kembali dari lawatannya ke luar negeri dan sedang disibukkan oleh pesanan rancangan baru saat Yesung dan yang lainnya datang menemui pria itu di kantornya.

Kang Jungmo seorang pria yang menyenangkan. Pria itu menyambut kedatangan Yesung dan yang lainnya dengan baik. Yesung awalnya sempat khawatir akan mendapat perlakuan buruk dari perancang itu, namun syukurlah Kim Bokyung bersedia bekerja sama dan menjawab dengan jujur ketika ditanyai seputar rancangannya yang menggunakan berlian yang dibelinya dari Chae Bokyung.

“Aku hanya menggunakan berlian itu pada dua rancanganku, dan kedua rancangan itu dibeli oleh toko perhiasan Blue Jewel.”

Wawancara dengan Kang Jungmo memberikan banyak informasi bagi penyelidikan.

“Sekarang kita tahu mengapa Lee Hyukjae dan Lee Donghae menjadi korban. Perhiasan mereka yang dicuri Ox merupakan rancangan Kang Jungmo yang dipamerkan oleh Blue Jewel dalam pameran perhiasan beberapa tahun lalu,” kata Yesung sambil mengemudikan mobil.

Mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat berikutnya, hendak menemui Shin Hana.

“Aku masih belum bisa memperkirakan maksud Ox mencuri semua perhiasan itu. Sampai saat ini belum banyak informasi yang bisa kudapat dari pasar gelap sehingga kita hanya bisa menduga bahwa Ox tidak akan menjual perhiasan-perhiasan yang dicurinya,” sambung Suho yang duduk di samping Yesung.

“Apakah kemungkinan Ox memang perancang perhiasan atau kolektor?” tanya Yoo yang duduk di kursi belakang.

“Kemungkinan itu masih ada, namun kita tidak mungkin menyelidiki semua perancang di Korea, bukan?” respon Yesung. Kerutan di keningnya semakin dalam. Ia menyuruh Yoo menelepon Ma Byungseok, untuk menanyakan berapa banyak perhiasan buatannya yang memakai berlian biru yang didapat dari Chae Bokyung.

“Pria itu berkata hanya membuat satu rancangan dengan berlian itu dan Hwang Jinmi membelinya,” lapor Yoo setelah mengakhiri panggilannya.

Yesung mengangguk. Artinya untuk sementara ini tidak perlu mencemaskan kemungkinan Ox beraksi lagi. Mereka hanya tinggal menyelidiki berapa rancangan yang dibuat oleh Shin Hana. Sejauh ini mereka hanya tahu bahwa Ox mencuri rancangan Shin Hana yang dibeli Yesung.

Karena itulah sekarang mereka dalam perjalanan menemui perancang itu.

—o0o—

Kantor Shin Hana terletak di kawasan sibuk di distrik Gangnam. Wanita itu sosok yang cantik serta ramah. Shin Hana tampak terkejut ketika Yesung datang menemuinya. Wanita itu tak mengira bahwa cincin rancangannya yang dibeli Yesung termasuk dalam salah satu benda yang dicuri Ox. Wajar jika tidak ada yang tahu karena Yesung memang merahasiakannya dari pemberitaan media.

“Aku membuat dua rancangan perhiasan dengan batu berlian biru itu,” jelas Shin Hana setelah Yesung menanyainya seputar rancangannya.

“Dua rancangan?” Yesung dan yang lainnya mengerjapkan mata.

“Artinya kemungkinan Ox akan melakukan aksinya sekali lagi,” gumam Suho.

“Apakah kau ingat pada siapa Anda menjual rancanganmu yang satunya?” tanya Yesung tak sabar.

“Seorang ibu sosialita. Aku tidak tahu namanya. Asistennya yang datang kemari. Aku membuat rancangan itu atas permintaannya.”

“Kalau begitu aku memerlukan identitas asisten itu.”

“Aku tidak bisa menyerahkannya begitu saja? Aku harus melindungi hak-hak pelangganku.”

“Ini demi penyelidikan pencurian Ox, Nyonya,” sambung Suho. “Apa Anda bermaksud menghambat penyelidikan polisi?”

“Tentu saja tidak.”

Mereka segera kembali ke kantor kejaksaan seusai mewawancarai Shin Hana. Yesung langsung membagi-bagi tugas. Ia menyuruh Yoo untuk menyelidiki asisten yang datang membeli rancangan terakhir Shin Hana untuk mencari tahu identitas ibu-ibu sosialita yang memiliki rancangan dengan batu berlian biru terakhir. Besar kemungkinan Ox akan mencurinya. Pihak kepolisian pun berpeluang besar menangkap Ox saat pencuri itu beraksi, seperti yang mereka rencanakan.

Segalanya mungkin akan lebih mudah setelah mereka tahu target terakhir Ox.

Sementara itu Suho harus menyelidiki identitas pria misterius yang menjual kalung itu pada Chae Bokyung.

—o0o—

Sore harinya Suho datang bersama kabar baik. Identitas penjual kalung itu sudah diketahui, Suho sudah meminta salah seorang rekannya menyelidiki dan mewawancarai pria itu.

“Nama pria itu Han Jinguk. Usianya empat puluh delapan tahun. Han Jinguk memang menjual kalung itu pada Chae Bokyung, namun dia bukan pemilik aslinya. Pria itu mengakui menemukan kalung itu ketika sedang mencari kayu bakar di hutan tak jauh dari rumahnya sekitar dua puluh tahun yang lalu.” Suho menyebutkan sebuah tempat yang membuat jantung Yesung mengentak dadanya dengan kencang.

“Han Jinguk sengaja menyimpannya untuk berjaga-jaga dan ketika ia butuh biaya pengobatan untuk putrinya yang sakit keras beberapa tahun yang lalu, dia menjualnya,” lanjut Suho.

Yesung tak lantas berkomentar seperti biasanya, ia malah merenung karena lokasi ditemukannya kalung itu dekat sekali dengan tempat kejadian insiden jatuhnya ayahnya bersama komplotan pencuri dua puluh lima tahun yang lalu.

Tiba-tiba saja perasaannya memburuk. Mungkinkah pelakunya masih orang yang sama, yakni satu-satunya anggota komplotan pencuri Black Mask yang menghilang dan mungkin masih bertahan hidup. Tapi apa hubungannya dengan kalung berliontin berlian biru yang ditemukan di sana? Lagipula komplotan itu spesialis perampok bank.

Semua ini terlalu kebetulan, atau mungkin memang hanya kebetulan. Tapi tidak menutup kemungkinan Ox memang masih berhubungan dengan pencuri itu.

“Kau baik-baik saja, Jaksa Kim?” Yoo cemas melihat wajah Yesung berubah pucat pasi.

Tepukan Yoo di bahunya membuat Yesung mengerjap sadar. Sekarang bukan saatnya mencemaskan sesuatu yang belum pasti. Ia tak boleh sampai hilang fokus karena rasa sentimentilnya terhadap kelompok pencuri yang sudah membuat kedua orang tuanya tewas.

“Sekarang kita harus mencari tahu siapa pemilik kalung itu sebenarnya atau jika bisa siapa yang merancangnya. Selain itu, kita juga perlu memeriksa semua toko perhiasan yang sudah berdiri lebih dari tiga puluh tahun. Mungkin salah satu di antara mereka memiliki informasi tentang pemilik kalung itu yang akan membawa kita pada pengungkapan sosok Ox,” tutur Yesung. Baik Suho maupun Yoo mengangguk mengerti.

“Lalu bagaimana dengan wanita pemilik perhiassn rancangan Shin Hana? Ox mungkin akan mencurinya untuk melengkapi seluruh potongan berlian biru,” kata Yoo cemas.

“Tetap lanjutkan penyelidikan untuk agar identitas wanita itu cepat diketahui sehingga kita bisa melakukan tindakan pencegahan. Suho, kau sudah menyiapkan tim untuk menyergap Ox, bukan?”

Suho mengangguk.

—o0o—

Hari itu berakhir cukup melelahkan. Ketika mengemudikan mobilnya dalam perjalanan pulang, Yesung menyadari pernikahannya akan terlaksana dua minggu ke depan, jika merujuk pada rencana yang sudah mereka buat berbulan-bulan yang lalu. Ia sungguh berharap semuanya akan terlaksana sesuai dengan rencana, tanpa halangan apa pun. Ia sudah mendengar dari ibunya bahwa persiapan pernikahan sudah sempurna, hanya tinggal menunggu waktu saja.

Yesung sungguh khawatir karena hingga saat ini kasus Ox belum juga terselesaikan sementara ia sudah berjanji pada Eunri akan mendapatkan kembali cincin pernikahannya yang dicuri sebelum waktu pernikahan tiba. Ia tak mau mengecewakan siapa pun, apalagi Eunri.

Mengingat Eunri, mendadak saja Yesung merindukannya. Sudah beberapa hari ini Yesung tak bertemu dengan tunangannya itu karena disibukkan dengan penyelidikan. Mendengar suaranya saja melalui telepon tidaklah cukup. Yesung harus bertemu dengannya.

Yesung membatalkan niatnya pulang. Ia memutar mobilnya menuju ke arah apartemen Eunri. Setidaknya malam ini ia harus menatap wajah cantik Eunri, menghirup bau tubuhnya sambil memeluknya erat.

Astaga, Yesung sungguh-sungguh merindukannya sampai ia tanpa sadar menambah kecepatan laju mobilnya.

Setibanya di depan apartemen Eunri, Yesung diserang perasaan yang tak bisa dijelaskannya. Entah mengapa Yesung merasa tidak pantas berada di sana. Ia merasa tengah menjadi seorang pendusta saat ini. Namun ia menegaskan sekali lagi bahwa ia tidak mencoba membohongi siapa pun. Ia sudah berusaha melakukan yang terbaik.

Yesung menekan nomor kombinasi keamanan apartemen Eunri. Sekarang sudah terlalu larut, Eunri pasti sudah tidur. Meskipun tunangannya itu masih terjaga, ia ingin mengejutkannya.

Dugaannya memang benar, lampu apartemen sudah mati. Pertanda bahwa Eunri sudah tidur. Yesung segera menghampiri kamar Eunri, senyumnya tak bisa dicegah kala ia melihat Eunri tertidur di tengah ranjangnya. Yesung mendekat lalu menurunkan diri di dekat kepala Eunri dengan perlahan, berharap tidak membangunkannya.

Eunri tampak sangat damai dalam tidurnya. Yesung tersenyum penuh kasih, merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Eunri ke belakang telinganya.

“Maafkan aku karena bekerja sangat lambat. Aku tidak sehebat ayah dan ibuku.” Ada nada getir dalam suara Yesung, dan ia memang merasa sangat bersalah karena belum bisa memenuhi janjinya. Yesung khawatir ia tidak bisa mengambil cincin pernikahan mereka hingga hari pernikahan mereka tiba.

Sentuhan Yesung di wajah Eunri membuatnya terusik. Kelopak matanya perlahan membuka.

“Hei,” Eunri bergumam, tersenyum manis ketika menyadari keberadaan Yesung di dekatnya. “Apa aku sedang bermimpi saat ini atau aku memang melihat tunanganku duduk di hadapanku?”

Senyum itu menular pada Yesung. “Ini benar-benar aku, sayang. Maaf karena tidak memberitahumu dulu. Aku sangat merindukanmu karena itu aku datang kemari tanpa berpikir.”

“Tidak apa-apa. Aku juga merindukanmu. Sudah beberapa hari ini aku tidak melihatmu. Kita berdua sama-sama sibuk.” Eunri menepuk tempat di sampingnya. “Ayo tidur bersamaku. Kau terlihat kelelahan.”

Jika biasanya Yesung akan menolak karena ide tidur di samping Eunri bisa menghasut pikirannya ke arah yang tidak diinginkan, kali ini Yesung menerimanya.

“Itu undangan terbaik yang pernah kuterima. Aku tidak akan melewatkannya.” Yesung melepaskan sepatunya dan juga jas serta kemejanya. Ia lalu menyelipkan diri di balik selimut kemudian berbaring di samping Eunri, memeluknya lembut.

“Selamat tidur, cantik.” Yesung mengecup keningnya. Eunri hanya tersenyum sebagai balasan, lalu berbaring lebih dekat ke dada Yesung, terlelap dalam dekapannya.

Meskipun mereka sudah lama menjalin hubungan asmara, mereka jarang sekali tidur sambil berpelukan seperti ini. Eunri selalu merasa nyaman berada dalam pelukan Yesung dan ia bersyukur ia akan terus tidur dalam kondisi seperti ini seterusnya setelah mereka menikah nanti.

Desahan lega Yesung menerpa puncak kepala Eunri. Memeluk Eunri selalu membuatnya tenang dan ia memang membutuhkannya saat ini.

Yesung mencoba memejamkan mata. Semua akan baik-baik saja, gumamnya dalam hati dan bau harum shampo Eunri yang ia hirup menjadi hal yang mengantarkannya pada tidur lelap.

—oOo—

Suho tampaknya sangat bersemangat menangkap Ox karena keesokan harinya polisi muda itu berhasil mendapatkan identitas si pemilik kalung yang asli. Rupanya tidak sulit mencari informasi tentang kalung itu karena tidak banyak toko perhiasan yang berdiri lebih dari tiga puluh tahun di Seoul.

“Kalung itu dimiliki oleh seorang wanita bernama Park Ahri sekitar dua puluh enam tahun yang lalu. Sekarang ini Park Ahri sedang dirawat di rumah sakit karena penyakit leukimia. Kami masih menyelidiki bagaimana kalung itu bisa terdampar di hutan. Untuk sementara ini hanya informasi itu yang bisa dikumpulkan.” Suho menutup buku catatan kecilnya lalu menatap Yesung dengan mata berbinar. Tingkahnya sama dengan anak kecil yang berhasil memenangkan lotre. “Nah, sekarang apa yang akan kita lakukan?”

Yesung berdiri. “Kita temui Park Ahri. Untuk kronologi bagaimana kalung itu bisa ditemukan di hutan, bukankah wanita itu bisa memberikan jawabannya?”

Mereka segera bergegas menuju rumah sakit tempat Park Ahri dirawat. Ketika ditemui di ruang rawatnya, Park Ahri tampak begitu lemah dan kurus. Wanita itu tampak cantik di usianya yang hampir menginjak 50 tahun. Leukimia benar-benar telah menggerogoti tubuh dan cahaya kehidupannya. Yesung dan yang lainnya merasa iba.

Untung saja, wanita itu bersedia ditanyai meskipun suster yang merawatnya mewanti-wanti agar Yesung dan yang lainnya tidak berlama-lama di sana.

“Ah, ya. Aku memiliki kalung itu sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Suamiku yang memberikannya untuk melamarku. Setahun setelah kami menikah, kalung itu dijual untuk modal usaha dan aku mendapatkannya kembali dua tahun kemudian. Tetapi, kalung itu dicuri setahun setelahnya ketika terjadi perampokan di sebuah bank. Aku berniat menabung hari itu, tetapi bank itu tiba-tiba disabotase oleh sekelompok perampok bermasker hitam.”

Sekujur tubuh Yesung menegang. Ia langsung teringat pada kasus perampokan yang membuat kedua orang tuanya tewas. Tapi tidak mungkin kasus pencurian yang sama, bukan? Mungkin saja kalung Park Ahri dicuri komplotan lain.

“Apa mungkin komplotan perampok itu adalah kelompok Black Mask yang beraksi sekitar dua puluh lima tahun yang lalu?”

Park Ahri mengangguk, malah menambahkan bank tempatnya berada saat itu yang merupakan target perampok itu terakhir kali beraksi. Tubuh Yesung terasa lemas. Setelah mendengarnya tidak ada keraguan lagi, mereka memang kelompok yang sama yang telah menewaskan ayah serta ibunya.

Yesung tak menyangka kasus Ox dan komplotan itu akan berhubungan erat. Apa mungkin Ox juga merupakan salah datu bagian dari perampok itu, dengan kata lain satu-satunya pelaku yang tersisa? Tapi tidak mungkin. Kasus itu terjadi dua puluh lima tahun yang lalu, berapapun usia si pelaku yang lolos saat itu, tidak mungkin akan terlihat pria berusia dua puluh tahunan.

“Salah satu dari mereka merebut paksa kalung itu dariku sambil menodongkan senjata,” tambah Park Ahri sedih. “Kalung itu merupakan benda penuh kenangan antara diriku dan suamiku.”

Yoo dan Suho menunjukkan raut simpati. Mereka terenyuh melihat binar kerinduan dalam bola mata wanita itu.

“Seandainya sekali saja, sebelum aku mati aku bisa melihatnya lagi. Namun sayang polisi tidak berhasil menangkap pelaku yang tersisa.”

Ketiga orang itu semakin kehilangan kata-kata. Tetapi yang dikatakan Park Ahri memang benar, bahkan sejumlah uang yang dirampok pun hilang.

“Jika aku boleh tahu, mengapa kalian menanyakan tentang kalung itu? Bukankah kasus perampokan itu sudah ditutup sejak lama?” tanya Park Ahri heran.

“Sebenarnya kami datang bukan untuk menyelidiki ulang kasus itu, Nyonya, melainkan karena kalung itu merupakan kunci untuk mengungkap kasus pencurian yang dilakukan Ox baru-baru ini,” jelas Yesung setelah pulih dari keterkejutannya. Park Ahri tampak terkejut.

“Benarkah?”

“Apa Anda tahu kasus pencurian perhiasan yang dilakukan pelaku dengan meninggalkan tanda O dan X?”

Park Ahri menggelengkan kepala. “Aku sudah lama tidak mengikuti berita di televisi maupun di koran. Lalu apa hubungannya dengan kalungku yang dirampok dua puluh lima tahun yang lalu?”

“Kebetulan, Ox mencuri semua perhiasan yang bertatahkan berlian biru yang berasal dari liontin kalung milik Anda,” jelas Suho.

“Ya Tuhan,” Park Ahri membekam mulutnya. Kaget. “Apa kalian mencurigaiku?”

“Tentu saja tidak,” sela Yesung. “Kami datang hanya untuk meminta keterangan dari Anda. Kami memang belum memastikannya, namun kami menduga Ox memiliki kaitan erat dengan Anda. Mungkin saja Anda mengenal seseorang dengan ciri-ciri si pelaku.” Yesung langsung menjelaskan ciri-ciri si pelaku berikut memperlihatkan foto Ox yang tertangkap kamera CCTV pada wanita itu.

Park Ahri tertegun cukup lama. “Aku tidak bisa menduga apa pun, maafkan aku,” sesalnya.

Ketiga laki-laki itu melemaskan bahu. Mereka hampir kehabisan akal karena Park Ahri tidak bisa memberikan petunjuk.

“Mungkin Ox memang anggota komplotan Black Mask yang masih tersisa! Dia mencuri semua perhiasan itu untuk mengambil kembali barang rampasannya yang hilang bertahun-tahun yang lalu. Bukankah Han Jinguk menemukannya di hutan yang merupakan lokasi pelaku terakhir itu menghilang?” Yoo menepukkan tangan, sangat yakin dan bangga dengan kesimpulan yang ditariknya.

Yesung sebenarnya khawatir memang itulah kenyataannya. Jika Ox berkaitan dengan komplotan Black Mask, artinya Yesung sedang berhadapan dengan musuh lama yang telah membunuh orang tuanya. Amarah Yesung tersulut. Yesung tidak akan pernah memaafkannya dan bersumpah akan menjebloskannya ke penjara seandainya Ox, si pencuri pembuat onar itu adalah satu pelaku perampokan yang menghilang.

“Tapi Yoo, Ox adalah pria muda berusia dua puluhan. Jika memang satu perampok yang tersisa itu adalah Ox, pasti dia akan tampak tua di CCTV. Kejadiannya sudah lebih dari dua puluh tahun yang lalu,” Suho mendesah.

“Mungkin saja Ox anak si pelaku,” tambah Yoo tak mau kalah.

Kata-kata Yoo membuat Yesung dan Suho menyadari kemungkinan yang mereka lupakan. Mereka langsung menanyakan isi kepala mereka pada Park Ahri secara bersamaan.

“Apa Anda memiliki anak?”

“Apa Anda mengenal salah satu dari lima orang ini?”

Yesung dan Suho berpandangan sekilas karena mengajukan pertanyaan berbeda. Meskipun begitu jawaban atas kedua pertanyaan itu sangatlah penting. Park Ahri menatap mereka kebingungan.

“Anda lebih dulu, Jaksa Kim.” Suho mempersilakan Yesung melanjutkan karena ia menganggap pertanyaan Yesung jauh lebih penting.

Yesung segera memperlihatkan lima foto pria yang sebelumnya mereka curigai sebagai Ox, orang-orang yang menghadiri seminar untuk para perancang perhiasan di Pulau Jeju.

Park Ahri mengerjap karena mengenali salah satu dari kelima pria itu. “Laki-laki ini, Choi Seunghwa adalah adik iparku. Adikku menikah dengannya dua tahun yang lalu. Selain itu, Seunghwa adalah dokter yang menanganiku saat ini.”

“Benarkah?” Yesung mengerjap senang. Rupanya dugaannya benar. Ox memang berhubungan dengan Park Ahri.

“Tapi..,” ekspresi wajah Park Ahri berubah khawatir. “Kalian tidak mencurigainya, bukan? Seunghwa adalah pria yang baik. Dia tidak mungkin mencuri.” Wanita itu rupanya menduga Yesung dan yang lainnya mencurigai Choi Seunghwa sebagai Ox.

“Anda tenang saja, kami masih menyelidikinya.” Suho menenangkan. Wanita ini sedang sakit, Suho tidak ingin membebani pikirannya.

“Mungkin saja Ox memang dia,” debat Yesung. “Choi Seunghwa memiliki hubungan dekat dengan Park Ahri dan dia bertugas merawatnya.”

Entah mengapa kali ini Suho tidak sependapat dengan Yesung. “Dan jangan lupa, Choi Seunghwa sudah memberikan topi yang sama seperti yang dikenakan Ox pada keponakan perempuannya..” Suho diam sejenak, lali menoleh pada Park Ahri. Ia kembali mengajukan pertanyaan yang sebelumnya ia lontarkan. “Apa Anda memiliki anak perempuan?’

“Ya.” Park Ahri mengangguk. “Dia berusia 23 tahun.”

Melihat Suho menyunggingkan senyum lebar, Yoo menyela. “Tunggu, apa kau mencurigai anak perempuan Nyonya Park sebagai Ox?”

Wajah Park Ahri menegang. “Putriku tidak mungkin melakukannya. Dia terlalu sibuk bekerja.”

“Memang benar, dalam rekaman CCTV Ox memakai topi dan jaket serta celana panjang hitam sehingga kita menerka dia sebagai laki-laki, mungkin saja kita salah dan tidak menutup kemungkinan bahwa sebenarnya Ox seorang wanita, bukan?” ujar Yesung.

“Tapi Ox terlalu tinggi dan kekar untuk ukuran wanita. Bahkan tim penyidik sangat yakin bahwa Ox memang laki-laki.” Suho merenung.

“Apakah Anda kebetulan juga memiliki anak laki-laki?” tanya Yesung hati-hati.

Secara mengejutkan, dengan perlahan dan mimik tak pasti Park Ahri mengangguk. Yesung dan yang lainnya tercekat, mereka menanti penjelasan wanita itu dengan tidak sabar.

“Usianya lebih tua dari anak perempuanku.”

“Siapa nama anak-anak Anda?”

“Heerin dan Jinki. Mereka kembar.”

“Kembar?” Yoo mengerjap.

Yesung maupun Suho tak mempermasalahkan fakta itu. Mereka malah penasaran pada hal lain. “Apa keahlian anak-anak Anda?” tanya Suho. Mereka tidak bermaksud menuduh, namun besar kemungkinan bahwa Ox memang salah satu dari anak-anak Park Ahri.

“Heerin sangat menyukai karate. Meskipun wanita dia tomboy dan bertingkah seperti laki-laki sementara Jinki, dia adalah pecinta game.”

“Pecinta game?” Suho terperangah. “Jaksa Kim, flashdisk berisi game milik Cho Kyuhyun yang dicuri, mungkinkah..”

Yesung pun memikirkan hal yang sama namun ia tak akan membahasnya di sana karena wajah Park Ahri sudah begitu pucat, selain itu suster masuk untuk memberitahu bahwa waktu besuk mereka telah habis. Yesung dan yang lainnya segera kembali ke kantor dengan semangat membara.

“Aku yakin sekali laki-laki bernama Jinki itu pelakunya! Dia memiliki motif yang kuat untuk mencuri permata-permata itu!” ucap Suho menggebu ketika mereka tiba di kantor Yesung.

“Kita tidak boleh menyimpulkan terlalu cepat. Kita harus menyelidiki latar belakang kedua anak-anak Park Ahri. Tapi aku pun setuju denganmu. Laki-laki bernama Jinki itu memang mencurigakan.” Yesung duduk di kursinya.

“Serahkan saja padaku. Aku akan mengumpulkan semua hal tentang Jinki.” Yoo bersemangat. Ia langsung berkutat dengan ponsel dan laptopnya.

Yesung merenung. Segalanya memang baru dugaan, namun segala pertanyaan seputar Ox bisa dijawab dengan mudah jika salah satu dari anak kembar Park Ahri ditetapkan sebagai tersangka. Yesung tidak mengerti mengapa flashdisk game Kyu Hyun dicuri, namun jika merujuk pada hobi Jinki terhadap game, hal itu masuk akal. Jika Jinki adalah Ox, maka alasan flashdisk itu dicuri hanya untuk kesenangan.

Tapi jika Heerin yang melakukannya, itu pun masih masuk akal karena bisa saja Heerin mencuri game itu untuk kakak kembarnya, selain itu dia tomboy, pasti terbiasa berpenampilan seperti laki-laki. Lagipula mereka kembar. Mudah bagi Heerin menyamar sebagai laki-laki.

Tentang motif Ox mencuri pun bisa ditebak dengan mudah. Ox pasti menginginkan seluruh perhiasan bertatahkan batu berlian biru itu untuk dihadiahkan pada ibunya. Bukankah tadi Park Ahri berkata bahwa dia ingin sekali melihat kalungnya yang dicuri sebelum mati? Sepertinya memang mereka, semuanya cocok. Dari usia, motif hingga petunjuk-petunjuk yang sudsh dikumpulkan selama ini, besar kemungkinan Ox adalah salah satu di antara Jinki dan Heerin.

Masalahnya adalah, bagaimana Yesung menentukan siapa di antara mereka yang merupakan sosok Ox? Yesung bahkan belum mendapatkan bukti bahwa mereka mencuri perhiasan-perhiasan itu.

Selain itu Yesung bersyukur karena Ox bukan seseorang yang dikenalnya, dan juga bukan anggota terakhir komplotan perampok Black Mask yang menghilang lebih dari dua puluh tahun yang lalu.

===TO BE CONTINUED==

123 thoughts on “Shady Girl Yesung’s Story [Part 6]

  1. meskipun banyak kemungkinan tapi semuanya masih tampak abu-abu, karena belum ada bukti yang spesifik ke pada seseorang yang diduga OX. Harus hati-hati nih karena banyak banget kemungkinan siapa yang jadi tersangka. Apa mungkin kedua anak kembar itu

  2. Akhirrnnyyyaaaaa nemu titik terangnya jugaa..
    Tapi mnrt ku sh pasti ada hbungnnya sma masa lalu yeye..
    Cuma bisa nebak gtu saya mh😀
    blank gk bisa nebak secara spesifik..
    Ini susah banget

  3. Waaaah ff ini bener2 keren, bikim kita nebak2 siapa pelaku sebenernya. Meskipun sudah ada beberapa petunjuk tapi mereka juga belum bisa ditetapkan sebagai tersangka karena mereka juga belum punya bukti yang kuat untuk itu. Tapi apa mungkin ya dugaan yesung salah, apa yang nyuri perhiasan itu emang bukan orang yang yesung kenal. Entahlah malah nebak2 sendiri kan aku. Pokoknya sukses terus buat author buat dedek bayinya juga ya semoga sehat dan semuanya dilancarin. Amiiiiin

  4. Ahhhhh….jadi Ox bukan salah satu komplotan perampok itu jadi tebakannya salah nech,petunjuk kasus ini sedikit demi sedikit sudah menunjukkan titik terang sedikit lagi Ox tertangkap

  5. Kerennnn plusss tegangggg. Blm trtebak. Bhkn olehku yg suka komik aoyama gosho pun blm trtebak.. Analisis yesung msh bsa bnar dan msh bsa salah.. Smngat thorrrr

  6. Kerennnn.. Jadi speechless.. Msh bsa smwnya sbgai trsangka.. Bsa jdi henry lau atau si kembar.. Sdh mngerucut sih.. Tpi msh abu2.. Lanjutt thorrr.. Waiting2.. Prmainan analisisny buat pnasaran.. Sbgai sesama pnyuka novel yg ada misteri2nya sprti aoyama gosho.. Ni kerennn.. 4 jempol utkmu thor..

  7. Wooooow amaizing!!!!
    Kerrrreeen baanget DAEBAKK!! Udh kaya drama korea kasus penyelidikan, yg berakhir mengharukan..🙂 kereeen sumvaaaah..
    Salut suh sm sikembar. Tapi, kalo hasilnya dari mencuri gimana dong??

  8. Hai.. Q reviewer baru disini🙂. Yah sbnrnya q udah baca yeaung dri chap 3 sih, tpi baru review skrg. Mianhe ne!
    Suka banget karalter yesung disini. Ide dan penulisannya bagus banget kyk penulis trknl. Ditunggu next ya

  9. Genre ff yang paling kusuka, dengan main cast yang kuidamkan. Sudah berjumpa dengan titik terang. Apa akan ada kemelut yang membutakan mereka lagi? Kutunggu lanjutan ceritanya🙂

  10. Akhirnya kasus berlian biru mnmukn titik terang???
    Qu ucapkn slmat buat Jaksa Kim and the gank yg udh bkrja kras mmcahkan ksus rumit ini,,,,
    fighting….

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s