Crazy Because of You [Chapter 10 – END]

Title : Crazy Because of You Chapter 10 End
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance

Main Cast :
Min Sora | Lee Donghae

Dha’s Speech :
Akhirnya tiba juga di part ending ^_^ *hiks berpisah ama FF ini deh.
Aku lega dan seneng juga karena bisa merampungkan satu FF lagi. Artinya yang tersisa tinggal FF When I Lost, Dangerous Boy, Shady Girl, Miracle Love Story, ama Our Love is Started with Friendship yah.. itu sih bukan ‘tinggal’, tapi masih banyak -_-

Oke deh, semoga menikmati part ending ini. Maaf ya kalau ceritanya masih banyak kekurangan baik dari segi tata bahasa, setting, ataupun jalan ceritanya. Ini juga sudah berusaha ^_^

Happy Reading ^_^

Crazy Because of You by Dha Khanzaki 5

====o0o====

CHAPTER 10 – ENDING
The Last Choice

SUDAH SEMINGGU Donghae berusaha mencari titik terang keberadaan Sora namun tak berhasil menemukan di mana gadis itu. Sora menghilang. Donghae bahkan menjadi stalker Kyuhyun dan memaksa lelaki itu untuk memberinya informasi tentang ke mana Sora pergi karena seperti yang sudah diketahui, sehari sejak insiden itu Sora mengajukan surat cuti. Kyuhyun jelas tidak tahu, sebagai CEO mana sempat ia menginterogasi seorang Manager Personalia yang mengajukan cuti. Donghae juga menyesal karena terlambat menemui Sora di kantornya. Tahu-tahu gadis itu sudah raib. Fakta yang sungguh menyesakkan hati Donghae dan membuatnya semakin yakin bahwa Sora menghindarinya. Jeyoung pun sama sekali tak membantu. Malah balik bertanya mengapa Sora sampai kabur seperti itu.

Donghae menyalahkan menghilangnya Sora sepenuhnya pada Narin. Sejak keluar dari rumah kakak tirinya itu tempo hari ia enggan bicara apalagi bertatap muka dengannya. Meskipun Narin mencoba meminta maaf, ia bertekad selama posisi Sora belum diketahui ia tidak ingin mendengar kata-kata apapun yang keluar dari mulut Narin. Sebut ia kekanakan atau bahkan cengeng sekalipun, ia tak bisa memaafkan Narin begitu saja setelah apa yang dilakukannya telah membuat Sora menjauhinya seperti ini.

Malam itu Donghae duduk merana di balkon apartemennya, memandang langit hitam pekat tanpa bintang. Udara dingin menusuk hingga ke tulang-tulang, namun rasa sakitnya tidak sebanding dengan rasa sakit karena tak melihat Sora selama berhari-hari.

“Mengapa kau menghindariku? Beritahu aku di mana kau berada..” Donghae memandang sendu ponsel Sora. Benda itu menjadi benda yang paling sering menemaninya selama seminggu ini. Donghae berharap Sora akan menghubungi ponselnya sendiri begitu sadar telah menghilangkannya. Tetapi ponsel di tangannya ini tak pernah berdering. Bahkan pesan masuk pun tak ada. Donghae hanya bisa menatap foto tersenyum Sora yang menjadi wallpaper ponsel itu.

Hatinya bergetar oleh perasaan rindu dan sakit yang bercampur aduk. Jari-jarinya menyentuh layar ponsel dengan penuh kehati-hatian seakan takut sentuhannya akan merusak wajah Sora di layar. Donghae berkedip sedih. Oh Tuhan, Donghae amat merindukan Sora. Timbul desakan kebutuhan untuk melihat wajah cantiknya secara langsung, memeluk tubuh hangatnya, dan membisikkan padanya kata-kata cinta demi membahagiakannya.

Melihat satu foto saja rasanya tidak cukup. Donghae sadar ia belum pernah melihat-lihat isi ponsel itu. Ia membuka folder foto dan binar bahagia menari-nari di matanya kala mendapati puluhan foto Sora di dalamnya. Dari gambar yang hanya menampilkan Sora seorang dalam berbagai pose dan latar sampai fotonya bersama Jeyoung dan beberapa teman. Donghae tersenyum gembira ketika melihat terdapat satu foto dirinya di sana. Sepertinya di ambil secara diam-diam karena ia tidak ingat kapan gambar itu diabadikan. Namun tidak ada foto mereka berdua. Donghae sedih sekali saat menyadarinya. Di akhir tampilan foto ia melihat foto Sora bersama keluarganya berlatar belakang sebuah pantai.

Kemudian seperti disengat listrik, Donghae teringat bahwa Sora pernah mengatakan bahwa kedua orangtuanya tinggal di Mokpo. Mungkinkah Sora pulang menemui mereka?

Donghae terperanjat bangkit. Kedua matanya terbelalak oleh rasa antusias dan kegembiraan. “Bodohnya aku, mengapa aku tak pernah memikirkannya?!”

Tentu saja, ke mana lagi Sora pergi jika bukan kembali ke rumah orangtuanya. Baiklah, ia akan menyusul Sora ke Mokpo. Bagaimana pun caranya ia harus bicara dengan gadis itu, menjelaskan kesalahpahaman di antara mereka. Pertama-tama, ia harus tahu alamat rumah orang tua Sora. Jeyoung pasti mengetahuinya.

—o0o—

Seminggu setelah pertemuannya dengan Narin, Sora merasa lebih baik. Berada jauh dari hiruk pikuk pusat kota membuat penatnya berkurang banyak. Ia menghirup sebanyak mungkin udara asin sambil berdiri atas pasir pantai yang dingin. Ia tidak sedang melarikan diri dari masalah apapun, ia hanya butuh jarak untuk berpikir. Terutama dari pria tampan bernama Lee Donghae. Ironisnya, ia sangat mencintai pria itu.

Di hari pertamanya berada di Mokpo, di rumah kedua orangtuanya Sora sudah merindukan Donghae. Segala hal tentang Donghae muncul silih berganti di dalam benaknya setiap kali ia melamun. Ia mencoba mengabaikan detak jantung yang menggila dengan mengingat rasa sakit yang ditorehkan Narin padanya.

Sora percaya bahwa Donghae mencintainya. Donghae tidak menganggapnya hanya sebagai tempat pelarian saja. Namun tiap kali ia meyakinkan diri, kata-kata Narin menusuk dengan tajamnya bagaikan anak panah.

“…Donghae tidak benar-benar mencintaimu. Jauh di lubuk hatinya, Donghae masih menyukaiku. Dia bahkan memilih meninggalkanmu untuk menemuiku, Donghae lebih mencemaskan diriku dibandingkan dirimu. Kau hanyalah makanan camilan bagi Donghae dan aku adalah hidangan utama.”

Hidangan utama, bah!

Seseorang harus membawa Narin ke psikiater. Wanita itu jelas gila. Donghae mencintaku, batin Sora yakin. Ingatlah bagaimana gencarnya usaha Donghae saat mengejarnya.

Donghae hanya menganggapmu sebagai tempat pelarian. Suara Narin menggaung di telinganya seperti bisikan setan. Sora menggelengkan kepala sekeras mungkin untuk menyingkirkan suara-suara itu sampai kepalanya pening. Ia tidak akan percaya kata-kata Narin.

Tangannya terangkat menyentuh dada. Sora mencelos menyadari sensasi perih di ulu hatinya. Lalu mengapa hatimu sakit jika kau tak memercayai kata-kata Narin?

“Aku percaya Donghae. Aku yakin Donghae tidak mempermainkanku!” Sora merapalkan doa itu dengan kedua mata terpejam. Kumohon hati.. bekerjasamalah..

Selama beberapa hari pengasingannya Sora terus didera dilema. Dua pendapat saling bersilangan di kepalanya. Sisi gelap dan terangnya berperang untuk memperebutkan pendapat mana yang paling benar. Ia percaya pada Donghae, namun ia juga ragu. Otaknya pusing memikirkan di mana ia harus menempatkan keyakinan.

Jalan satu-satunya adalah ia harus bertanya langsung pada Donghae. Ia tak bertemu pria itu setelah lari dari restoran. Di sisi lain, ia takut mendengar jawaban Donghae. Bagaimana jika memang benar, Donghae hanya memanfaatkannya saja? Ia tidak siap patah hati.

Diam saja di rumah orangtuanya juga bukan pilihan. Sejak pulang beberapa hari yang lalu Ayah dan Ibunya selalu mengajukan pertanyaan yang sama seperti: kapan kau akan menikah? Atau mengapa kau tidak mengajak pacarmu kemari? Sora bingung bagaimana menjawab pertanyaan mereka karena ia tidak tahu apakah hubungannya dengan Donghae sudah berakhir atau belum. Ia juga tidak bisa memastikan ia akan menikah dengan Donghae.

Sora pusing sekali memikirkannya.

“Min Sora..”

Siapa yang memanggilku? Kaget, Sora menegakkan tubuhnya lalu menoleh. Ia tak bisa mengelak dari keterkejutan melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya. Ia tak mungkin melupakan wanita jahat yang sudah menjatuhkannya pada situasi ini. Kim Narin.

“Bagaimana kau bisa tahu aku berada di sini!?” tanya Sora waspada.Sial, darimana wanita ini tahu aku sedang berada di Mokpo? Apa dia menguntitku untuk membuat hidupku semakin kacau?

Narin tersenyum pahit kala tatapan tajam Sora begitu menghakiminya. “Aku mengetahuinya dari Donghae. Kebetulan, hari ini aku ingin melihat sesi pemotretan untuk majalahku yang dilaksanakan di sekitar sini.” Jelasnya. Sora seperti dihujam sebilah belati. Donghae mengetahui di mana ia berada namun tidak mencoba menemuinya dan malah menyuruh Narin? Apa lelaki itu menyuruh Narin untuk mengirimkan berita yang lebih menyakitkan lagi seperti; sudah saatnya mengakhiri hubungan?

“Aku ingin bicara denganmu.” Ujar Narin melihat Sora masih memandanginya dengan curiga.

“Tidak, tidak ada yang harus kita bicarakan. Lebih baik kau pergi karena aku tidak memiliki niat sama sekali untuk bicara denganmu.” Tandas Sora kejam. Ekspresi Narin berubah pucat.

“Ini tentang Donghae.”

“Apa masih ada fakta yang ingin kau beberkan padaku? Oh, apa mungkin kau ingin mengatakan bahwa kau dan Donghae akan menikah?” Sora sinis.

Narin menghela napas berat, “Aku tahu, aku bersalah. Aku menyesal sudah menghancurkan hubunganmu dengan Donghae.”

“Mengapa kau tiba-tiba menyesalinya? Kedengarannya sangat aneh bagiku.”

“Karena semua yang kukatakan padamu saat itu hanyalah karanganku semata.”

Apa!! Seluruh aliran darah dalam tubuh Sora seperti tersumbat. What the hell!! Setelah menghancurkan hatinya hingga luluh lantak, memberitahunya dengan begitu meyakinkan bahwa Donghae tidak mencintainya sekarang wanita ini berkata bahwa semua kata-kata menyakitkan itu hanyalah…karangan?

Permainan seperti apa yang sedang Narin mainkan sekarang?

“Karangan? Apa maksudmu sebenarnya?!” Sora tanpa sadar membentak. Tak peduli Narin lebih tua darinya, saat ini ia benar-benar marah.

Narin tampak goyah, tetapi tak mundur sedikit pun menerima bentakan Sora. “Aku salah mengartikan bentuk perhatian Donghae. Aku..”

“Apa kau gila? Apa otakmu tidak berfungsi? Aku sungguh tidak mengerti dan frustasi mendengar satu atau dua patah kata saja darimu. Minggu lalu kau bilang dengan begitu yakin bahwa Donghae tidak mencintaiku, dia mencintaimu. Kau mengacaukan kepercayaan yang kupegang teguh untuk adikmu dan sekarang kau datang padaku mengatakan bahwa semua itu hanya karanganmu sendiri? Sebenarnya apa tujuanmu melakukan itu semua?!! Jika kau memang tidak setuju aku berpacaran dengan adikmu seharusnya kau lakukan dengan cara yang normal! Semua yang kau lakukan minggu lalu sungguh..aaarrgggghh!!!” Sora mengerang sendiri. Ia ingin sekali melampiaskan rasa frustasinya dengan mencekik Narin.

Sora menengadahkan kepalanya ke langit-langit, mencoba mengatasi ledakan amarah di dalam benaknya. Tuhan, mengapa kau mempertemukanku dengan manusia seperti Narin? Selain itu bagaimana nasib hubungannya dengan Donghae?

“Karena itu berikan aku kesempatan untuk menjelaskan sekaligus meminta maaf.”Mohon Narin sambil mencoba mendekati Sora. Gadis itu mengangkat tangannya meminta Narin berhenti.

“Jangan coba-coba mendekat. Aku tidak menjamin akan menjaga tanganku jika kau berada dalam jarak satu meter denganku.” Peringat Sora dengan nada tajam. Narin menatapnya nanar. Ia memahami jika Sora menjadi jijik padanya, karena itu ia mengurungkan niat mendekati Sora.

“Maafkan aku. Kau boleh menganggapku gila, tak tahu diri, atau apapun yang kau suka. Tetapi aku tetap harus memberimu penjelasan. Aku merasa sangat bersalah pada Donghae. Selama seminggu ini dia begitu tersiksa karena kehilanganmu.”

Gemuruh dalam dada Sora menguap mendengar Donghae tersiksa karena ketidakhadirannya. Ia menatap Narin, mencari tahu apakah wanita itu hanya bergurau. Tetapi tidak, Narin terlihat sungguh-sungguh. Sora sadar ia ingin mengetahui bagaimana kabar Donghae, perasaannya, dan apa yang sedang dilakukannya saat ini. Ia menatap Narin, waspada, dan ia mencoba memberinya memberinya kesempatan.

“Baik, aku memberimu waktu untuk menjelaskan.”

Rasa lega melintasi wajah Narin melihat Sora mulai melunak. “Selama ini aku salah mengartikan perhatian Donghae padaku. Sikap lembutnya saat aku sedang berduka telah menggelapkan mata hatiku. Sisi gelap diriku mulai mengklaim Donghae sebagai milikku dan aku cemburu untuk alasan yang tidak pantas melihatnya bersama wanita lain meskipun aku sadar bukan hakku melarang Donghae berhubungan dengan wanita mana pun. Aku didesak keinginan untuk menghancurkan hubunganmu dengannya. Aku tidak mengerti apa yang merasukiku hingga aku berbuat seperti itu. Aku sangat puas melihatmu sedih, aku puas melihatmu putus dengan Donghae. Aku merasa Donghae menjadi milikku kembali. Namun kemudian Donghae marah mengetahui aku telah menghancurkan hubungannya denganmu. Dia membenciku dan tidak mau bicara denganku lagi. Donghae mengatakan aku gila, bahwa aku sedang melampiaskan rasa dukaku padanya. Perkataan Donghae waktu itu menyambarku bak petir, aku tersadar bahwa aku memang salah.”

Sora terkejut melihat Narin terisak. “Aku dalam masa duka setelah kehilangan lelaki yang sangat kucintai. Aku kesepian dan depresi. Aku sudah berkonsultasi dengan salah seorang psikiater dan dia mengatakan bahwa gelagatku itu timbul karena duka yang kualami setelah kematian suamiku. Aku masih belum bisa menerima kepergiannya. Aku terlahir sulit untuk menerima kenyataan bahwa orang yang kucintai pergi, aku tidak tahan dengan luka yang kualami saat aku patah hati. Aku cenderung melampiaskan perasaan itu pada orang pertama yang memberikan perhatian padaku.”

Sungguh penyakit kejiwaan yang kompleks. Sora mengeryit ngeri. Ia pernah mendengar kasus seperti yang Narin alami. Kebanyakan dari penderita penyakit itu cenderung tidak menyadari bahwa sebenarnya apa yang mereka rasakan hanyalah delusi, khayalan yang timbul karena depresi atau rasa kehilangan yang besar. Kebencian Sora untuk Narin berubah menjadi rasa kasihan. Ia takjub karena Narin masih bisa bekerja dengan normal dan mengurus anaknya tanpa masalah.

Perasaan bersalah Narin bisa dirasakan Sora, tetapi bukan berarti ia memaafkannya setelah kebohongan besar yang ia katakan. “Lalu mengapa kau mencoba memisahkan kami dengan berkata bahwa Donghae hanya menjadikanku sebagai pelarian? Apa kau begitu bahagia melihat kami berdua menderita.”

Narin tertohok. Dia maju selangkah dan Sora mengambil langkah mundur. Narin menunduk, ia merasa seperti makhluk menjijikan sampai Sora tidak ingin berada dalam jarak dekat dengannya, seperti yang Donghae lakukan akhir-akhir ini. “Aku ketakutan.”

Sora mengerjapkan mata kaget. “Apa?” desisnya.

“Ini bagian dari mekanisme pertahanan diri—itu yang psikiaterku katakan. Aku takut aku akan tenggelam dalam kesakitan dan kesedian mendalam sehingga alam bawah sadarku bergerak dengan sendirinya.”

“Kau seperti kerasukan?” Sora ngeri.

“Tidak. Aku sadar sepenuhnya apa yang kulakukan. Aku hanya tidak mengerti mengapa aku melakukannya.”

Sora secara refleks memeluk dirinya sendiri. Ia mencoba mengerti Narin, memahami kondisinya. Tetapi semua itu tidak mengubah apa yang sudah terjadi. “Sudah terlambat menjelaskannya. Hubunganku dan Donghae sudah berakhir. Dia mungkin sudah melupakanku.”

“Tidak!” Narin menggeleng. “Sora, Donghae mencintaimu.”

“Kau bilang Donghae mencintaiku? Minggu lalu..”

“Tolong jangan pedulikan kata-kataku minggu lalu. Aku sudah mengatakan bahwa aku sedang dalam kondisi terguncang saat itu. Aku menyakitimu dengan kata-kata, itu benar. Tetapi sebenarnya aku sedang menyakiti diriku sendiri. Donghae tidak mencintaiku. Rasa itu sudah hilang sepenuhnya sejak dia bertemu denganmu. Aku..aku merasa sangat bersalah padanya. Jika aku tak berhasil membawamu kembali padanya, dia mungkin tidak akan pernah memaafkanku.” Kedua mata Narin berkaca-kaca. “Faktanya, akulah yang memanfaatkan Donghae sebagai pelarianku. Maafkan aku Sora, kumohon kembalilah padanya.”

Sora tercekat. Kembali pada Donghae sepertinya tawaran yang sangat menggoda. Tetapi Sora merasa takut. Bagaimana jika Donghae tidak mau kembali padanya? Jika memang Donghae ingin hubungan mereka kembali normal, mengapa bukan Donghae yang datang mencarinya?

Melihat Sora kebingungan, Narin paham sulit bagi Sora untuk percaya kata-katanya. “Aku sudah mengatakan apa yang harus kukatakan. Selanjutnya, itu terserah padamu. Tapi, pertimbangkanlah baik-baik. Donghae sungguh ingin kau kembali.” Mengulurkan tangannya, Narin menyerahkan sebuah ponsel yang Sora kenali. Ponselnya.

“Ini tertinggal saat kau pergi dulu.”

Kedua mata Sora mengedip kaget. Ia tahu benda itu hilang setelah ia bicara dengan Narin, hanya saja ia tidak menyangka Narin akan menyimpannya. Tanpa bisa berkata-kata Sora mengambilnya. Ia menggumamkan terima kasih dengan begitu pelan karena masih terpukau pada benda yang sempat hilang dan akhirnya kembali padanya. Apakah ini pertanda baik? Ketika mengangkat kepalanya, Sora mengerjap melihat Narin pergi meninggalkannya. Langkah gontainya membuat Sora iba. Ia sendiri heran, bagaimana bisa ia mengasihani Narin setelah wanita itu menyakitinya?

Dengan perasaan berkecamuk Sora memutuskan kembali ke rumah. Ayah dan Ibunya adalah seorang petani sehingga di siang hari seperti ini biasanya mereka masih bekerja di ladang. Sora duduk di bangku kayu yang ada di halaman rumahnya, tepat di bawah pohon yang rindang.

Sora menatap ponsel di tangannya. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Ia sungguh dilema. Haruskah ia sekarang kembali ke Seoul dan menemui Donghae agar semua permasalahan di antara mereka selesai? Tapi bagaimana jika saat ia kembali nanti ternyata Donghae sudah melupakannya dan menjalin hubungan dengan wanita lain? Sora tidak akan pernah siap menyaksikan Donghae menggandeng wanita lain.

“Andaikan saja Jeyoung ada di sini. Dia selalu memberiku saran yang bagus.” Mungkin sekarang sudah waktunya ia menelepon sahabatnya itu.

Sora sedang membuka-buka isi ponselnya saat tidak sengaja ia menemukan satu file yang tidak dikenalinya. File itu berupa video yang diberi nama ‘Everything’.Seingatnya ia tak pernah merekam video apapun dan menamainya seperti itu.Sora hampir saja menghapusnya karena mengira file itu adalah virus saat rasa penasaran mengalahkannya. Ia harus melihatnya dulu sebelum menghapusnya. Jika memang terbukti rekaman tidak penting, akan langsung ia lenyapkan.

“Min Sora, apa kabar?”

Suara itu..

Kedua mata mengerjap tak percaya saat ia mendengar suara Donghae dan jantungnya seketika berdebar kencang saat ia menatap wajah Donghae yang memenuhi layar ponsel. Kapan video ini direkam? Sora pasti ingat jika ada video seperti ini dalam ponselnya.Lagipula bagaimana bisa video ini ada dalam ponselnya? Jika Donghae merekamnya sendiri, artinya selama ini ponselnya dipegang oleh pria itu!

Donghae tampak gugup dalam rekaman itu. Latar belakangnya adalah sebuah taman yang tampak tak asing bagi Sora. Tapi di mana ia pernah melihatnya?

“Aku tidak tahu alasanmu menjauh dariku apakah karena kau terpengaruh kata-kata Narin ataukah kau tidak percaya padaku lagi, namun aku ingin menegaskan satu hal padamu..” Donghae menunduk. Angin semilir menerbangkan helaian rambutnya. “Aku tidak akan pernah mempermainkanmu. Perasaanku untukmu sangatlah tulus. Kau bukanlah tempat pelarian bagiku melainkan sebuah pelabuhan, sebuah tempatuntukku berpulang.”

Sora menahan napas. Ya Tuhan…

“Aku sangat berharap kau percaya padaku, tidak meragukanku lagi. Dan aku tahu ini mungkin terlalu cepat dan mengejutkan. Tapi aku tidak bisa menundanya,” Donghae diam. Sora menahan napas menunggunya bicara. Ketika akhirnya tatapan Donghae kembali pada kamera, Sora tercekat.

“Min Sora, aku mencintaimu. Maukah kau menjadi istriku dan menghabiskan sisa hidupmu bersamaku?”

Ya Tuhan…

Setitik airmata tanpa diduga Sora jatuh membasahi pipinya. Ia tak sanggup bersuara. Ia terlalu terkesima, terkejut dan berdebar mendengar pernyataan Dong Hae. Sebelah tangannya membekam mulutnya untuk menahan desahan haru.

“Aku tahu aku laki-lakidengan banyak kekurangan. Aku tidak peka, buta arah, tidak romantis dan masih banyak lagi. Dan kau Sora, kau adalah wanita sempurna secara fisik dan kepribadian. Aku tak akan menemukan wanita sepertimu lagi di dunia ini. Aku sungguh egois karena menginginkan wanita sepertimu sebagai istriku. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku sudah jatuh cinta padamu dan tak akan bisa merasakan hal yang sama untuk wanita lain. Karena itu maukah kau menjadi pendampingku?”

Maukah aku? Sora tercekat.

“Jika kau bersedia, datanglah kemari. Aku menunggumu.” Setelah kalimat itu berakhir, rekaman pun selesai.

“Tunggu,” Sora mengerjapkan mata.”Kau memintaku datang ke mana? Yaak, Lee Donghae!” Ia panik karena tidak tahu tempat yang dimaksud Donghae. Bagaimana bisa ia menemui lelaki itu untuk memberikan jawaban sementara ia sendiri tidak tahu ke mana ia harus pergi.

Apa Lee Donghae sudah gila? Menyuruh Sora datang menemuinya tanpa menyebutkan di mana tempatnya dania dibuat panik karena harus memberikan jawaban secepatnya.

“Apa dia lupa aku berada di Mokpo sementara dia..”Sora tak melanjutkan gerutuannya. Ia terdiam karena menyadari sesuatu yang nyaris luput dari perhatiannya. Dengan jantung berdebar kencang ia kembali membuka video itu.

Dugaannya benar. Sora memang mengenali lokasi yang menjadi latar dalam video lamaran Donghae. Beruntung sekali, karena Sora yakin tempat itu tidak berada di Seoul, melainkan di sini, di Mokpo! Karena terlalu terkesima pads wajah tampan Donghae, Sora tak mengenalinya.

Ya Tuhan, Donghae merekam video ini di kota kelahirannya, itu berarti Donghae tahu Sora berada di Mokpo dan pria itu berlari kemari untuk menemuinya.

Sora tak membuang waktu. Ia langsung bangkit dari tempat duduknya begitu ia tahu di mana ia bisa menemukan Donghae. Ia tak akan membuat Donghae menunggu. Tidak. Ia akan memberikan jawaban itu secepatnya.

—o0o—

Donghae menunggu dengan was-was di taman tempat ia merekam video itu. Sudah setengah hari ia menunggu dan nyaris putus asa karena Sora tak kunjung muncul. Berbagai pertanyaan terus bergulir silih berganti dalam benaknya.

Apakah Narin sudah bertemu Sora dan mengembalikan benda itu pada pemiliknya?

Apakah Sora sudah melihat rekamannya?

Apa yang dipikirkan Sora setelah melihatnya? Marah, senang, atau semakin membenci Donghae?

Kumohon datanglah! Donghae bisa saja berhenti menunggu dan langsung saja menemui Sora untuk mendapatkan jawabannya. Tetapi ia tidak bisa. Ia takut Sora akan menolaknya. Ia takut melihat kebencian di wajah gadis yang ia cintai itu. Donghae sadar ia pengecut karena bukannya menemui langsung untuk menjelaskan masalah yang membuat hubungan mereka berada di ambang kehancuran, ia justru membuat video konyol dan menyatakan keinginannya memperistri Sora.

Bagaimana jika Sora memutuskan tidak datang? Apakah itu berarti ia ditolak? Atau gadis itu malah belum melihat rekamannya sama sekali?

Orang bodoh mana yang memberi ide membuat video itu alih-alih melakukan tindakan nyata selayaknya laki-laki sejati? Donghae sungguh ingin memakinya. Tapi sayang, orang tolol yang ingin ia marahi adalah dirinya sendiri. Ide itu datang dari dirinya setelah ia sadar Sora memang pergi ke Mokpo. Jeyoung baru mengakuinya setelah Donghae meneror wanita itu selama seharian penuh. Jeyoung kesal karena Donghae bersikap plin plan. Semestinya malam itu Donghae mengabari Sora saatmemutuskan pergi menjemput Narin, tentu saja itu sebelum Donghae menceritakan bahwa Narin sedang membohonginya.

“Kau tidak bisa menegaskan perasaanmu, itulah yang membuat Sora marah. Dia mengira kau hanya menjadikannya pelarian saja.”Tegur Jeyoung saat itu. Setelah menasehatinya dengan gaya Ibu-ibu protektif dan Donghae mengaku bahwa ia sangat mencintai Sira dan ingin menikahi Sora, barulahJeyoung memberitahu keberadaan sahabatnya itu.

Karena itu sekarang disinilah ia. Menunggu Sora datang menemuinya. Ia akan menunggu gadis itu kembali karena ia tak akan mendesak Sora. Ia ingin gadis itu menemuinya karena keinginan sendiri. Tapi bagaimana jika Sora tidak datang?

Maka Donghae akan patah hati dan ia tidak akan pernah memaafkan Narin.

Donghae melirik jam tangannya lagi. Ia tidak akan menyerah. Ia akan menunggu di sini hingga Sora datang menemuinya. Ia tak peduli meskipun akan memakan waktu lama.

Hujan turun. Donghae mendongak ke langit saat tetesan air terasa membasahi kepalanya. Awan-awan tampak bergelung kelabu di atas sana dan perlahan-lahan mulai menumpahkan muatannya. Donghae segera berlari mencari perlindungan. Sebuah pohon rindang dijadikannya sasaran untuk tempat berteduh.

Semua orang berlarian menghindari hujan dan Donghae tertinggal sendiri di taman itu. Ia mendesah. Sedih dan galau. Sora tidak akan datang, pikirnya.

“Apa kau gila?!”

Pandangan Donghae langsung terangkat. Ia terkejut dan harus mengedipkan mata berkali-kali untuk meyakinkan bahwa apa yang dilihatnya bukanlah sebuah hayalan.

“Sora.” Bibirnya berucap tak percaya. Hatinya dipenuhi rasa bahagia melihat Sora berdiri di hadapannya dengan raut wajah yang…, well, marah.

Astaga.

Sora menderap mendekatinya dengan kemarahan nyata di wajah cantiknya. Meskipun hujan membuat rambut dan baju Sora basah, Donghae menyadari gadis itu tak kehilangan pesonanya sedikit pun. Malah Donghae disergap keinginan untuk menarik Sora ke pelukannya sambil membisikkan kata-kata penuh kerinduan di telinga gadis itu. Namun Donghae terpaku hingga tidak sanggup bergerak. Ia terpaku pada emosi yang Sora tunjukkan. Apa ekspresi itu merupakan pertanda buruk?

“Kau datang.”Donghae berkata begitu Sora berdiri di hadapannya.

“Kau pikir aku tidak akan datang? Aku tahu kau tidak peka dan buta arah, tapi aku tidak tahu kau juga bodoh! Mengapa kau menungguku di sini? Bagaimana jika aku belum melihat video itu? Apa kau akan diam di sini selamanya?”

“Tapi kau datang, bukan?” Donghae menahan diri untuk tidak tersenyum lebar.”Artinya kau sudah melihat rekamanku.”

“Ya aku tahu.” Sora terbata-bata. “Tapi sekarang hujan, demi Tuhan! Kau seharusnya mencari tempat berteduh yang lebih layak. Untuk apa kau datang kemari dan membuat dirimu sendiri tampak begitu menyedihkan!”

“Karena aku mencintaimu!”

Sora tercengang dan pernyataan singkat itu menelan semua kemarahannya. Donghae melanjutkan dengan perasaan yang lebih menggebu begitu ia mendapatkan perhatian Sora seutuhnya.

“Bukankah sudah kukatakan, aku mencintaimu dan ingin hidup selamanya bersamamu. Alasan itulah yang menjadikanku seorang lelaki bodoh dan tak masuk akal.” Donghae terdiam sejenak karena mendadak saja ia merasa mulutnya pahit.

“Aku sungguh menyesal, Sora karena membuatmu terlibat masalahku dengan Narin yang belum kuselesaikan. Aku juga ingin meminta maaf padamu karena aku tidak bisa menegaskan perasaanmu dan membuatmu meragukan perasaanmu. Tapi sungguh, aku tak memiliki perasaan apapun pada Narin selain menganggapnya sebagai kakak dan aku tidak menjadikanmu pelarian. Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali bertemu denganmu dan perasaan itu semakin terpupuk begitu aku mengenalmu lebih dekat. Kau adalah wanita yang sangat mengagumkan. Aku sadar berada di dekatmu, aku merasakan kebahagiaan yang berbeda dari yang kurasakan saat berdekatan dengan wanita mana pun.”

Donghae mendekat melihat Sora menatapnya dengan matanya yang membulat.Seandainya ia bisa membaca pikiran, ia ingin tahu apa yang sedang dipikirkan Sora saat ini karena Donghae tak bisa membava ekspresinya.

“Sekarang katakanlah padaku, apa kau berlari menemuiku di sini karena kau setuju menjadi istriku?”

Sora merasa bibirnya kelu. Tubuhnya menggigil meskipun kini ia berada dalam pelukan Donghae.

“Kumohon kembalilah padaku. Aku berjanji tidak akan membiarkanmu terluka lagi.”

Sora tidak tahu apa yang membuatnya menangis, tetapi ia tak bisa menahan airmata yang mendesak keluar. Ia begitu terharu sampai kesulitan berkata-kata. Ia ingin mengutarakan semua yang ada dalam kepalanya seusai ia melihat video itu tapi mendengar Donghae kejujuran Donghae secara langsung, ia justru berubah bisu.

“Aku..aku..oh Tuhan!!” Sora merangkul leher Donghae, membuat pria itu mengerjap kaget dan tertarik ke depan. Ia langsung berpegangan pada pinggul Sora untuk menjaga keseimbangan.

“Sora..”

“Diamlah! Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Kau membuatku tak bisa berkata-kata.” Sora menyurukan wajahnya ke lekukan leher Donghae dan ia tercenung merasakan lelehan hangat membasahi bahu dan lehernya.

“Aku akui selama seminggu ini aku mencoba membencimu setelah sadar kau tidak bisa menetapkan pilihan, tapi aku tidak bisa. Dan sekarang kau datang padaku dengan serentetan kata-kata yang begitu mengharukan, aku tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan.” Sora mengangkat wajahnya, menatap Donghae dengan segenap perasaan. “Tentu saja aku menerimamu. Aku bersedia menjadi istrimu. Tapi mulai sekarang berhentilah mengatakan bahwa kau bukanlah pria yang sempurna untukku. Kau bodoh! Bagaimana bisa hal itu terjadi? Aku menyukaimu karena kau pria yang sempurna bagiku, justru akulah yang memiliki banyak kekurangan. Aku terkadang merasa tidak pantas bersanding denganmu. Aku..”

“Nah, kalau begitu kita akan saling melengkapi bukan?” Donghae tersenyum gembira, lega dan lapang mendengar Sora menerima lamarannya. Kini tanpa ragu ia menarik Sora ke pelukannya. Ia mendesah selega-leganya begitu menghirup wangi tubuh Sora yang begitu ia rindukan. “Kau tidak tahu betapa aku merindukanmu. Setiap malam sejak kau menghilang aku selalu membayangkan bisa memelukmu seperti ini.”

Donghae merangkum wajah Sora dengan kedua tangannya yang kekar, mendongakkannya hingga wmata mereka bertemu. “Dan aku juga merindukan ini.” Donghae menunjukkan hal yang juga ia rindukan dengan mencium bibir Sora yang lembut, basah dan siap menyambutnya. Sora mendesah dan melingkarkan tangannya di leher Donghae, menyambut pagutan manis itu dengan segenap hatinya.

Di bawah lindungan pohon dari derai hujan yang turun dari langit, mereka saling berbagi cinta yang murni.

—o0o—

Sora mengejutkan kedua orangtuanya ketika pulang dalam kondisi basah kuyup bersama seorang pria. Ia dan Donghae sempat diinterogasi sebelum akhirnya Sora mengaku bahwa Donghae adalah calon suaminya. Maka setelah pernyataan itu terucap, sikap kedua orangtuanya berubah total. Mereka langsung menyambut Donghae seperti menyambut seorang raja. Donghae lega dengan penyambutan itu dan menjawab semua pertanyaan penasaran mereka dengan senang hati.

“Aku sudah membicarakan tentang pernikahan ini dengan Ayahku dan beliau berjanji akan berkunjung kemari setelah pekerjaannya di Rusia selesai.” Jelas Donghae sambil menikmati secangkir minuman hangat dari ginseng buatan Ibu Sora.

“Kau membahas pernikahan dengan Ayahmu sebelum memastikan aku menerima lamaranmu atau tidak?” Sora terkejut.

Donghae memberinya senyuman manis penuh percaya diri. “Aku tahu kau akan menerimaku. Jeyoung sudah menceritakannya, ternyata kau tergila-gila padaku sejak lama, bukan? Dan aku adalah tipe pria idamanmu. Mana mungkin kau menolakku.”

“Jeyoung, dia mengkhianatiku!” Sora menggerutu. Ayah dan Ibunya tertawa.

Begitu acara perkenalan dan wawancara selesai, Sora dan Donghae ditinggalkan berdua di ruang tengah karena kedua orangtua Sora harus mengambil hasil kebun yang mereka tinggalkan di balai desa karena terburu-buru pulang.

“Mereka orangtua yang menyenangkan dan gigih.”

“Mereka bahagia tinggal di sini dengan bekerja di ladang. Padahal aku sudah berkali-kali membujuk mereka untuk ikut denganku di Seoul. Dengan jabatanku sekarang, aku bisa memberi mereka kehidupan yang lebih baik.”

“Jangan lakukan itu. Mereka mungkin akan kecewa jika kau memaksa mereka meninggalkan hal yang mereka sukai.”

“Benar.” Sora menyandarkan kepalanya di pundak Donghae. Mereka kini duduk di bangku panjang di bawah pohon di depan rumah, memandangi langit tanpa awan. Hujan telah berhenti satu jam yang lalu dan kini menyisakan langit hitam yang jernih dengan bintang dan bulan sebagai hiasannya.

“Bagaimana dengan masalah yang terjadi antara dirimu dan Narin? Siang tadi aku bertemu dengannya dan dia tampak sangat menyesal. Dia menceritakan sesuatu yang mengejutkan dan aku tidak tahu apakah harus percaya padanya atau tidak.” Sora teringat kembali pertemuannya dengan Narin siang tadi. Setelah mendengar ceritanya, bukannya benci ia justru merasa iba.

Donghae tersenyum. “Aku tahu. Narin pun mengatakan penyesalannya padaku. Apa yang bisa kulakukan selain mencoba memaafkannya? Kami memang pernah menjalin hubungan, tapi itu hanya masa lalu. Aku tidak bisa membencinya terlalu lama karena kami terikat dengan hubungan keluarga. Dia kakak tiriku. Selama Ayah dan Ibu masih bersama, aku tidak bisa menghindarinya. Lagipula Narin sudah mengakui kesalahannya dan mencoba memperbaiki diri. Aku memberinya kesempatan membuktikan penyesalannya. Aku ingin dia membawamu kembali padaku. Maka aku memintanya menemuimu dan mengembalikan ponselmu. Tapi aku tidak menyangka dia akan menceritakan masalah psikologisnya padamu.”

“Apa aku harus percaya padanya, bahwa dia tidak akan mencoba merayumu lagi? Bahwa apa yang dilakukannya untuk membuatku cemburu hanyalah bagian dari penyakit psikologis yang dideritanya?”

“Narin memilki seorang psikiater jika kau masih meragukannya, kau bisa bertanya padanya.”

“Oh, lupakan masalah ini.” Sora duduk tegak. “Jadi katakan padaku apakah kau akan tegas dengan perasaanmu mulai saat ini. Kau benar-benar mencintaiku, bukan?”

Donghae menghentikan kecemasan Sora dengan menciumnya. “Kau tidak percaya padaku? Apa harus sekarang aku menyeretmu ke gereja dan mengucapkan mengikatmu secara resmi? Jika kau tidak percaya dengan kata-kataku, aku bisa bersumpah di hadapan Tuhan untuk meyakinkan bahwa aku tidak akan berpaling darimu lagi.”

Semburat merah langsung menghiasi kedua pipi Sora. Ia malu dan untuk menyembunyikannya ia mengoceh, “Tapi kau melamarku tanpa memberiku cincin. Kau bahkan tidak berlutut saat memintaku menjadi istrimu. Kau benar, kau memang pria yang tidak romantis.” Sora tercekat ketika tiba-tiba saja Donghae berlutut di hadapannya. Jantungnya mengentak cepat melihat aksi tiba-tiba Donghae.

“Apa yang kau lakukan?”

“Berlutut. Bukankah itu yang kau inginkan?” ucapnya polos.

“Tapi..”

“Diamlah.” Donghae menyentuhkan ujung jarinya di bibir Sora dan gadis itu berhenti bicara. “Aku sudah menunggu kau mengomel seperti itu.” Donghae menjejalkan tangannya ke dalam saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil. Sora tiba-tiba merasa sesak napas. Melihat gadis itu berkaca-kaca, Donghae menyeringai.

“Kau pikir aku datang kemari, melamarmu, tanpa membawa cincin? Aku tidak sebodoh itu, sayang.”

Sora tak sanggup berkata-kata untuk ke sekian kalinya, ia terpaku pada kotak cincin yang dibuka Donghae dan menampilkan sebuah cincin bertatahkan berlian. Sungguh, cincin itu sungguh indah dan membuat Sora semakin kehilangan suaranya. Rasa haru dan gembira menyembur di hatinya, berimbas pada saluran airmatanya yang lagi-lagi mencoba menjebol pelupuk matanya.

Donghae mendongak menatapnya. “Aku tidak akan bosan mengatakan ini padamu. Min Sora, maukah kau menjadi istriku?” diulurkannya cincin itu ke hadapan Sora yang sudah tidak bisa menahan airmatanya lagi. Oke, hari ini ia menjadi perempuan cengeng tapi ia tidak peduli. Wanita mana yang tidak terharu saat dilamar oleh pria yang dicintainya dengan sepenuh hati?

“Tentu saja, aku bersedia.” Sora merasa bibirnya kelu. Ia masih terpaku di tempat duduknya. Ia hanya menatap Donghae ketika senyum pria itu melebar—ia mendapati dirinya tak bisa bernapas melihatnya—dan melingkarkan cincin di jarinya.

“Bagaimana princess, kau suka?” tanyanya setelah cincin itu terpasang. Sora terkesima memandang cincin itu. Ia menatap Donghae, lalu tanpa diduga sama sekali maju dan mencium Donghae dengan intensitas menggebu yang membangkitkan gairah Donghae sampai pada level ‘awas’.

“Sora..berhenti sejenak.” Donghae panik ketika pikirannya mulai dipenuhi oleh hal-hal kotor dan niat untuk membawa Sora ke atas ranjang. Tapi Sora mengabaikan interupsinya, malah terus menciuminya hingga akhirnya ia menyerah. Donghae berdiri sambil merangkul pinggang Sora, membawanya ikut berdiri tanpa melepaskan pagutan bibir mereka.

Ketika akhirnya Sora menjauhkan wajahnya karena kehabisan napas, Donghae mengerang lega. “Sungguh, kau gadis yang tak terduga. Aku bisa menyerangmu jika aku kita tidak berhenti.”

“Dan apakah kau akan melakukannya?” tanya Sora jahil. Pipinya yang memerah tampak sangat memesona di bawah cahaya bulan sehingga tangan Donghae dengan sendirinya membelai pipi itu.

“Tidak sebelum kita menikah.”

“Kapan tepatnya kau akan resmi menjadikanku istrimu?”

“Secepatnya.”

Mata mereka bertemu, saling mencerminkan perasaan takjub dan cinta yang begitu mendalam. Sora memeluk Donghae, pria yang sejak awal pertemuan sudah membuatnya tergila-gila. Ia tak pernah percaya bahwa ia akan berakhir dengan pria yang awalnya ia kira hanyalah bagian dari mitologi, dengan kata lain; tidak nyata untuknya. Jalan cintanya memang berliku, tetapi ia sangat berterima kasih pada Tuhan karena telah mempersatukannya dengan pria yang amat ia cintai. Tak peduli berapa banyak kekurangan Donghae atau pun kekurangan yang ia miliki, ia senang Donghae menerimanya dan ia pun akan menerima Donghae apa adanya. Bukankah di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna? Itulah sebabnya Tuhan menciptakan pasangan untuk saling melengkapi.

===THE END===

Sampai jumpa di I Married The Bad Boy Side Story lainnya ^_^

The Next Story:
Heart Thief

Main Cast :
Choi Siwon | Kim Soeun

Heart Thief by Dha Khanzaki

Sinopsis :

Siapa bilang Choi Siwon, sosok yang dianggap paling alim di antara ke lima sahabat itu–Cho Kyuhyun, Lee Donghae, Kim Kibum, dan Eunhyuk–tidak pernah terlibat skandal dengan seorang wanita sebelumnya? Skandal yang terjadi dalam kehidupan putra mahkota Hyundai Group itu bahkan lebih heboh dan besar dari ke empat sahabatnya yang lain.

Skandal besar apa yang dimaksud dan apa kaitanya dengan Kim Soeun?

343 thoughts on “Crazy Because of You [Chapter 10 – END]

  1. Daebaaakkkkkkk. Ah kece pisan euy. Happy ending nih. Aduh gatau mau komen apa. Alurnya, ceritanya, semuanya aku sukaaaaaaa. Dongek romantis bangetttt. Ngeliat jeyoung disini jdi kangen imtbb, dimana kyu yg mati2an dapetin jeyoung. Aaaa aku kangen kyu di ff kak Dha ♡♡♡ Perasaan sih ya kalo ff kak dha itu cowonya romantis semua, idaman cewe semua, kaya, ganteng, romantis, aaaa suka pokonya.
    Pengen deh sekali2 eonni bikin ff yg sad ending, kayaknya belom ada. Tapi mungkin kalo eonni buat genre yg bisa bikin nangis bombay, aku yakin bakal byk yg nangis bombay disni. Aduh eonni, pengen bgt bsa nulis kaya kamu. Tulisannya itu sederhana, singkat, padat dan jelas. Sampai skrg aku susah bljr bagian ini, soalny kdg2 aku trlalu lebay menggambarkannya *nangis dipelukan kyu*
    Love you kak dha. Semoga bayinya sehat dan projek terbaru kak dha bisa segera diterima penerbit😉

  2. Wah ka.. Ini keren banget akhirnya!! Happy ending😀 Seneng banget Donghaenya jadi terbuka dan jujur.
    Sekarang aku sangat menunggu Dangerous Boy😀

  3. Oww sweet…
    Akhirnya setelah kbur sana sini, mrk nikah jg…
    Dan akhirnya stelah sbulan publish saya bru baca dan komen…
    Maaf ya…

    Mau dong after story donghae-sora pas mrk udh nikah atau pas persiapan pernikahan mrknya…
    #dikatagampangbikinff

  4. keren authornim..
    aku kira bakal ada adegan sensornya…..wkwkwkwkkwkwkwkw

    keep writing dah buat authornya.. Dangerous boy nya selalu kutunggu, gak maksa siiih…wkwkwkwkwkwkwkw

  5. as hae ada g. mrk abis nikah gitu, hihihi. Tn Choi Siwon, kisahnya paling menggemparkan???? wah g sbr nungguin skandal apa yg dilakuinx, ditunggu bu ceritanya

  6. alhamdulillah ahrnya happy ending donghae dan sora menikah.
    trs bgaimana klnjutan ksh prcntaan siwon.
    ok deh eon ditunggu cerita siwonnya.
    oya eon ini bkln ada after story nya gak
    keep spirit n writing eon.

  7. kak kalau mau nglike atau komentar di blog kakak itu gmana cranya? soalnya belum paham .. tolong dikasih tau ya Oh iiya kak, novel nya masih ada gak??

  8. Ahh udah abis aja ceritanya abang ongek,abang ongek udah wamil:'(
    Aku suka eon,ini romantis aku jadi kangen kyuhyun-jeyoung:’D tapi karn selera readers berbeda² , aku gak begitu suka alurnya karena terlalu romantis#plak :v hehe FF ini keren,cuma kadang aku terlalu realistis dan berpikir didunia nyata udah mustahil ada orng se romantis cem abang ongek:v hehe tapi inikan fiksi jd kan bebas aja gitu.comment aku cuma itu:D tapi aku suka ff ini eon^^ cuma bagian akhirnya terlalu romantis#plak
    Eon,kalo gak salah eon sedang mengandung ya? Selamat eon, semangat juga untuk nerusin ff when i lost in your memoey yg lagi greget² nyahehe

  9. aku suka a a a a a a a a a a…
    hae walauppun awam ama kta romance tp skarang aku akan kasih hae 2 jempooooollll…..po……..po….po…llll
    akhir’y happy end jg…..
    kutunggu ff mu yg lain ….. oceh…..
    jjnngan lupa jga kesehatan mu dan debay’y yea……..😉
    itu apaan ….. siwon pnya cerita heboh apa tu…. kyak’y seru… ff baru kah…. oceh lah aku tnggu aj kapan publish’y ..hihihihi

  10. Cieeeeeee yg udah mau nikah ditunggu undangannya hahahahaaa. Benar tu gimana kalo sora gak otakatik hp nya ya seharian donghae nunggu nya.
    Gak buat mereka nya nikah?? ditunggu lanjutannya

  11. Yeeyyyyy, EONNI!!!
    Baper bacanya 😢 sampe nangis loh ini…
    Finally, akhirnya bisa juga ngeluangin waktu buat baca ff eonni lagi🙆🙆
    Sekalinya baca ko nangis ya, jadi baper sama abang donge, sambil bayangin abang disana lagi wamil laah 😂
    Sekitar 3 bulan nggak pernah nyentuh e-mail yg ngasih notif kalau itu ff dan harus dibaca secepatnya, tapi apalah-apalah baru sempetnya sekarang disaat besok itu UTS😅
    HAHA DAH BIASA…
    Eonni, kangen ih sama ff nya ini yg pertama aku buka looh :””” dan memang ngena, sampe baper bacanya huhu

  12. akhirnya setelah konflik yang berat donghae – sora mau nikah juga , sesek napas yah baca part narin yg ketemu sora di restaurant nyeseeeek banget tapi sora cewek strong hehe , ditunggu side story lainnya author ^^

  13. akhirnya happy ending juga…. selamat deh buat jae dan sorga..
    ga sabar nunggu ff baru nya choi siwon… oke deh di tunggu ff baru nya .. tapi jangan maksain deng… jaga badan kasian debay nya…

  14. Keren. Donghae bagaikan prince dan sora bagaikan princess.
    Sabar.soro kau akan melakukannya setelah.menikah. hihihi.

    Itu yg siwon sinopsisnya kece thor. Ditunggu ya ^^

  15. Oh so sweet ^_^ tapi kenapa END -_- kan menikah aja blm & sangat penasaran Malam Pertama Donghae & Sora :v sequel’nya dong author ?!
    Kg sabar nunggu main cast selanjut’nya yaitu Daddy Choi :* alias Choi Siwon

  16. Waaahhhh.. . Ceritanya Keren seperti biasa eonni.. . aku baru baca ff yg ini eonni. Mian aku baru bisa komen d Chapter terakhirnya eonni.. . gk smpt ngsi komen d chapter yg lain, soalnya stiap slsai 1 chapter aku udah gk sabar pngn baca chapter slanjutnya. hehe.. .

  17. Fiuuuuhhh…. akhirnya sora & donghae bersatu jg ^_^ yaaaeyy HAPPY ENDING :* :*
    oya eonni, btw aku tertarik bangeet ma ff siwon so eun “HEART THIEF” yg mau dibuat itu ^_^ jgn lama2 dipublishnya yaa… ditunggu :* gomawo ^_^

  18. Ping-balik: REKOMENDASI FANFICTION | evilkyu0203

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s