Shady Girl Yesung’s Story [Chapter 4]

Title : Shady Girl Yesung’s Story [Chapter 4]
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Mystery Case, Romance

Main Cast :
Choi Eunri | Yesung a.k.a Kim Jongwon

Support Cast :
Suho as Police | Kang Yoo as Yesung’s assistant
Heechul – Youngjae Couple
Henry Lau

Dha’s Speech:
Sekali lagi, maafkan daku jika banyak typo.
Khusus Shady Girl Yesung versi, adegan romantisnya dikit ya. Jadi jangan pada protes atau minta nambah. Ini sudah porsinya ^_^ Aku fokus untuk penyelesaian masalah kasusnya saja ^_^

Untuk yang sudah mengikuti chapter sebelumnya dan komentar, terima kasih banyak ^_^ komentar kalian merupakan support untukku.

Happy Reading.

Shady Girl Yesung Story by Dha Khanzaki

======o0o======

CHAPTER 4

YESUNG BERHARAP TOPIK tentang pernikahan dan tetek bengeknya tidak dibahas terutama ketika ia ada di sana karena ia tak akan bisa berbohong tentang hilangnya cincin pernikahan. Eunri tidak boleh tahu, belum. Eunri pasti akan sangat kecewa. Insiden ini terjadi karena kecerobohan dan kelalaiannya.

“Apa terjadi sesuatu?” Eunri menggenggam tangan Yesung.

“Tidak.” Yesung berusaha menjaga ekspresinya tetap normal. Ia kembali berpura-pura mendengarkan kedua orangtua Eunri membahas tentang pernikahan. Yesung tersenyum dan sebisa mungkin menanggapi setiap pertanyaan yang diajukan padanya. Meskipun Ayah dan Ibu Eunri serta Eunjo tidak menyadari keanehan sikap Yesung, Eunri mengetahuinya.

Malam ini tabiat Yesung sedikit berbeda. Entah apa yang terjadi, Eunri merasa Yesung sedang berakting untuk menutupi sesuatu. Ia sudah sangat mengenal Yesung. Tunangannya itu sangat sulit berbohong, terutama ketika dia tahu sesuatu yang salah sedang terjadi.

Aku akan bertanya, nanti setelah makan malam selesai. Batin Eunri. Mungkin saja Yesung akan membicarakan apa masalah yang sedang dihadapinya jika mereka sedang berdua saja.

Maka setelah makan malam usai, Eunri mengajak Yesung duduk di teras samping rumahnya yang berhadapan dengan taman bunga. Cuaca malam itu cukup bersahabat. Langit tampak sepi dari awan dan bintang-bintang menampakan diri menghiasi angkasa.

“Sebentar saja. Ayo duduk di sini bersamaku.” Eunri memaksanya duduk di kursi rotan yang menghiasi teras.

“Aku harus kembali ke kantor, sayang. Banyak hal yang harus kulakukan untuk menyelesaikan kasus yang sedang kutangani sekarang. Aku harus segera menangkap pelaku pencurian itu agar kita bisa melangsungkan pesta pernikahan dengan tenang.” Yesung tidak bermaksud mengecewakan Eunri, tetapi berlama-lama di sini membuatnya semakin merasa bersalah karena tidak berkata sebenarnya tentang cincin yang hilang. Lagipula ia memang ingin sekali kembali ke kantor dan bekerja mencari cara untuk menangkap Ox serta mengambil kembali cincin pernikahannya.

“Apa sesuatu terjadi? Aku melihat kau sangat gelisah malam ini.” Tanya Eunri lembut. Ia khawatir.

Yesung menelan ludah. Apa Eunri menyadari sesuatu? “Tidak, mungkin ini hanya stress.”

“Sudah kuduga. Kau pasti pusing memikirkan kasus yang kau tangani. Karena itu sekarang duduk dan relaksasikan dirimu dulu. Minum teh bisa mengurangi stress.” Eunri dengan perhatian mengajaknya duduk lalu memberikan satu cangkir teh pada Yesung. “Kau bisa berkeluh-kesah padaku, kau tahu. Daripada menyimpannya sendiri lebih baik kau bercerita padaku tentang semua hal yang membuatmu merasa terbebani. Aku memang tidak bisa membantu banyak, tapi mungkin jika kita berdiskusi kau bisa menemukan sesuatu yang membantu penyelidikan.”

Kasus pencurian Ox memang sudah berkembang menjadi berita paling menghebohkan tahun ini dan merupakan berita yang paling menyita banyak perhatian. Sebenarnya tidak akan menjadi selarut ini jika media tidak membesar-besarkannya. Semua orang mendesak kepolisian agar segera menangkap pelakunya sehingga Suho serta Yesung yang bertanggung jawab terhadap kasus itu terkena imbasnya.

“Kami semua dibuat kalang kabut karena Ox. Aksinya dilakukan dengan sangat terencana dan tidak meninggalkan jejak satupun. Sekeras apapun penyelidikan dilakukan, kami belum menemukan petunjuk yang bisa membantu mengungkap identitasnya.” Keluh Yesung. “Malam ini Suho dan Yoo harus kembali lembur. Sebenarnya aku tidak tega meninggalkan mereka.”

“Kau sudah berusaha keras. Sekarang sudah saatnya kau beristirahat.” Eunri menggenggam tangannya dengan lembut. “Aku khawatir kau sakit karena terlalu memforsir diri. Tak lama lagi kita akan menikah, jangan lupakan itu.”

Yesung menelan ludah, tak berani membalas. “Kau mempersiapkannya dengan sangat baik. Jangan terlalu memaksakan diri. Kau masih bisa meminta orang lain untuk melakukannya, bukan?”

Eunri mengangguk. “Kau tahu ibuku sangat bersemangat melakukannya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika sampai pernikahan kita tidak terlaksana sesuai dengan rencana. Karena itu kau harus memastikan meluangkan waktu untuk pernikahan kita.”

Yesung tak sanggup lagi berbohong ketika ia melihat senyum tulus Eunri dan betapa ia akan menyakitinya saat tahu cincin pernikahan mereka hilang. Ia membeku menatap tunangannya. Apa sebaiknya ia jujur saja? Cepat atau lambat Eunri pasti tahu.

“Sepertinya dugaanku benar.” Kedua alis Eunri bertautan. Yesung mengerjapkan mata. “Ada sesuatu yang kau sembunyikan. Apa itu?”

“Hanya perasaanmu saja.” Yesung tersenyum menenangkan. Eunri menggeleng menyanggah bahwa firasatnya tidak beralasan.

“Tepatnya semenjak kau pindah rumah, sikapmu selalu aneh setiap kali kita membahas masalah pernikahan. Apa sesuatu terjadi?”

“Tidak ada. Jangan khawatirkan apapun.”

Eunri mengerutkan kening tak percaya, “aku ingat. Kau seperti ini sejak kau bertanya tentang cincin pernikahan pada Hyunjung. Apa yang sebenarnya terjadi?”

Jantung Yesung berhenti berdetak. Ia mengepalkan tangannya dengan gugup. “Tidak ada apa-apa.”

“Bohong. Kau pikir sudah berapa lama aku mengenalmu? Kau jelas sedang menyembunyikan sesuatu.”

“Eunri, semuanya baik-baik saja.”

“Jaksa Kim, kau tahu aku tidak suka dibohongi. Jika kau tidak mengatakannya sekarang juga, aku akan terus menduga-duga hingga akhirnya kau berkata jujur padaku. Aku mengkhawatirkanmu sejak kau pertama kali menunjukkan raut itu tetapi aku menahannya. Aku takut kau depresi atau tertekan karena kasus yang kau tangani. Jadi katakanlah padaku.” Kata Eunri panjang lebar. Nadanya mendesak. Ia sungguh ingin membantu Yesung.

Mulut Yesung membuka dan menutup beberapa kali. Ia berusaha membalas kata-kata Eunri namun yang terjadi malah jantungnya berdebar semakin kencang. Yesung kesulitan berbohong. Terutama di hadapan Eunri. Ia mengurut pelipisnya. Jika Eunri sudah seperti ini, ia tak akan bisa lagi menghindar.

“Eunri, jangan terkejut setelah mendengarnya.” Diberikannya Eunri tatapan serius.

Eunri menarik nafas tajam. Tiba-tiba saja ia diserang firasat buruk. Ekspresi Yesung tampak menyesal, sedih, frustasi dan bingung. Apa yang terjadi sebenarnya?

“Cincin pernikahan kita hilang dicuri oleh Ox.”

Mendadak dunia mereka berubah hening. Tubuh Eunri kaku bak patung lilin. Ia tercengang sampai tak bisa berkata-kata. Ia menatap Yesung tanpa mengedipkan mata untuk memastikan bahwa apa yang baru didengarnya merupakan sebuah lelucon.

“Kau pasti bergurau.” Bisiknya tanpa sadar.

Yesung mengusap wajahnya dengan gusar. “Aku tidak sedang bercanda. Ini sungguhan, cincin pernikahan kita hilang diambil Ox. Aku berkata yang sebenarnya. Fakta itulah yang membuatku stress akhir-akhir ini.” Jelasnya dengan suara memelas. Kali ini ia sungguh berharap pengertian Eunri.

Eunri menatap tunangannya lekat-lekat berharap menemukan binar kebohongan namun menyadari Yesung bersungguh-sungguh, wajah Eunri menjadi pucat pasi.

“Cincin kita hilang?” Desisnya dengan gigi bergemeretak. Yesung mengangguk dengan berat hati.

“Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi!” Eunri berteriak sekuat tenaga. Reaksi seperti ini sudah Yesung prediksi sehingga ia hanya bisa menanggapinya dengan kepala dingin dan sabar.

“Eunri, dengar…”

“Mengapa kau tidak menjaga baik-baik cincin itu?! Kau tahu benda itu sangat penting untuk acara pernikahan kita?”

“Aku tidak..”

“Bagaimana bisa kau menjadi seceroboh ini? Seharusnya kau bisa menjaga cincin itu! Apa itu terlalu sulit untukmu? Tahu akan terjadi hal ini aku yang akan menjaga cincin itu!”

Sekujur tubuh Yesung menjadi kaku melihat kemarahan Eunri. Ia yang semula merasa bersalah menjadi kesal karena dituduh lalai dan ceroboh oleh Eunri.

“Apa aku salah karena tidak sadar ketika cincinku diambil Ox? Kau pikir aku sengaja melakukannya?” Tegasnya jengkel. Ia kan tidak meminta Ox mencuri cincinnya. Mana ia tahu pencuri itu akan mengambil cincinnya juga. Eunri selalu seperti ini. Tidak pernah memahami pekerjaan dan tanggung jawabnya sebagai seorang jaksa. Kerap kali Eunri marah karena Yesung lebih mendahulukan urusan pekerjaannya daripada kencan mereka.

“Kau bisa berhati-hati, bukan?” Tegur Eunri, “lagipula mengapa kau menitipkannya pada orang lain? Jika kau menjaganya sendiri Ox tidak akan memiliki kesempatan mencurinya! Haruskah kukatakan berkali-kali bahwa cincin itu penting sekali untuk pernikahan kita? Tanpanya kita tidak akan bisa menikah.”

“Mengapa tidak, tentu saja kita bisa. Kita masih bisa memakai cincin yang lain.” Marah Yesung.

“Tapi aku tidak ingin cincin yang lain!” Teriak Eunri dengan mata berkaca-kaca. “Aku sudah menganggap cincin itu sebagai lambang cinta kita dan aku tidak ingin menikah tanpa cincin itu!”

Yesung terperanjat tak percaya, “jadi kau bermaksud mengatakan cincin itu lebih penting daripada cinta yang selalu kuberikan padamu dengan tulus?”

Eunri terdiam. Ia sadar sudah mengatakan hal yang keterlaluan. Ia tak bermaksud menyinggung Yesung.

“Baiklah, jika memang kau merasa cincin itu sangat penting, kita bisa menunda pernikahan kita hingga Ox tertangkap dan kita mendapatkan kembali cincin itu!” Yesung membentak terlalu keras karena ekspresi Eunri begitu kaku, matanya membelalak dan gadis itu menatapnya nanar.

Pertengkaran mereka terpotong oleh suara benda jatuh yang terdengar dari belakang diiringi sentakan kaget. Keduanya menoleh bersamaan untuk melihat sumber keributan. Di lantai dekat ambang pintu terdapat pecahan beling, nampan, serta kue yang berserakan dan sudah tak berbentuk. Baik Yesung maupun Eunri tak sanggup berkata-kata melihat Ibu mematung di ambang pintu. Ekspresinya terkejut. Sebelah tangannya mencengkeram dadanya.

“A-apa kalian bilang, pernikahannya akan dibatalkan?” Lirihnya terpatah-patah, seperti menahan sakit. Eunri megap-megap kebingungan, kemudian suasana berubah panik ketika sang Ibu tiba-tiba saja tersentak kesakitan sambil mengusap dadanya.

“Ibu!” Eunri menjerit panik. Ia buru-buru menyongsong Ibunya yang kemudian jatuh pingsan di pelukannya. Tangisan histerisnya pecah melihat ibunya kolaps. Eunjo dan Ayahnya yang datang menghampiri ikut terkejut.

“Panggil ambulans sekarang juga!” teriak Ayah pada Eunjo.

“Tak ada waktu lagi jika kita menunggu bantuan datang.” Balas Yesung panik. Tanpa diduga ia segera menggendong calon Ibu mertuanya, menaikannya ke dalam mobil lalu membawanya ke rumah sakit. Eunri dan keluarganya mengikutinya ke rumah sakit dengan mobil lain.

Kini Yesung serta keluarga Eunri menunggu dengan cemas di depan ruang IGD. Ibu mereka sedang ditangani di dalam. Tidak ada yang berani bicara. Bahkan Eunjo yang biasanya cerewet pun duduk merenung.

“Eunri, tenanglah. Ibu pasti baik-baik saja.” Yesung menenangkan Eunri yang terus-menerus menangis.

“Bagaimana jika Ibu meninggal? Ini semua karena salah kita. Seharusnya kita tidak bertengkar dan kau juga semestinya tidak menyebut-nyebut tentang membatalkan pernikahan.”

Yesung tak menyahut. Hatinya berdenyut sakit menyadari apa yang menimpa Ibu Eunri memang kesalahannya. Seharusnya ia tidak bicara sembarangan, apalagi dengan suara kencang dan bisa mengejutkan siapa saja yang mendengar. Sekarang di hatinya menyebar rasa takut yang sama seperti yang Eunri rasakan. Ia hanya bisa berdoa semoga Ibu Eunri baik-baik saja.

Tak lama kemudian dokter keluar. Eunri dan yang lainnya langsung menyerbu sang dokter, menanyakan bagaimana kabar Ibu.

“Beruntung pasien segera dibawa ke rumah sakit sehingga kami masih bisa menyelamatkan nyawanya. Kondisi pasien sekarang baik-baik saja. Hanya tinggal menunggu hingga pasien siuman nanti jika kalian ingin menemuinya.” Dokter kemudian menjelaskan bahwa Ibu mengalami serangan jantung ringan. Seperti yang sudah dijelaskan, nyawanya masih terselamatkan karena Ibu segera ditangani secara medis.

Ayah berkata Ibu memang menderita penyakit jantung. Namun sudah lama penyakitnya itu tidak kambuh kembali. Ibu pasti sangat syok hingga sampai menimbulkan serangan seperti ini. Eunri mendesah lega mengetahui ibunya baik-baik saja. Ia juga merasa sangat bersalah sekaligus menyesal. Apa yang terjadi pada ibunya adalah kesalahannya.

—o0o—

Ibu Eunri siuman keesokan harinya. Semuanya baru bisa benar-benar bernafas lega. Hal pertama yang ditanyakannya justru Yesung. Untung saja Yesung belum pulang atau pun berangkat kerja sehingga bisa langsung menemui Ibu.

Tangan Yesung langsung digenggam erat ketika ia duduk di sampingnya. “Kau tidak akan membatalkan pernikahan bukan?” Ibu bertanya dengan suara pelan. Raut wajahnya memelas. Melihat keadaannya saja mana tega Yesung berkata tidak.

“Tidak, bu. Kau salah mendengarnya. Aku akan tetap menikahi Eunri.” Yesung bersungguh-sungguh.

Binar bahagia menghiasi wajahnya. “Syukurlah jika memang begitu.”

Yesung mengangguk tegas. “Karena itu ibu istirahatlah dan lekas sembuh. Bukankah pernikahan kami akan dilaksanakan tak lama lagi.” Ibu mengangguk. Kini dia tampak lebih tenang. Yesung kemudian keluar dan membiarkan Ibu Eunri dijaga oleh suaminya. Di luar ruang rawat, ia berpapasan dengan Eunri yang kembali ke sana membawa tas berisi baju ganti untuk Ibunya.

“Kau akan pergi bekerja?” Tanya Eunri cemas melihat Yesung begitu letih.

“Ya. Namun sebelumnya aku harus pulang untuk berganti baju.”

Eunri mengangguk, ia tidak tahu apa lagi yang harus dikatakannya pada Yesung. Untuk pertama kalinya mereka bersikap canggung satu sama lain.

“Aku juga harus pergi bekerja setelah memastikan Ibu tidak apa-apa.” Kata Eunri akhirnya.

“Dia baik-baik saja. Sekarang sedang beristirahat.”

“Begitu.” Eunri mengerjapkan mata lalu kembali terdiam. Yesung menatapnya dengan intens. Ia merasa amat bersalah kerena telah membawa Eunri dalam situasi ini. Melihat Eunri menjadi sangat pendiam, membuat hati Yesung seperti diiris-iris. Ia meraih tangan Eunri. Gadis itu menoleh dengan ekspresi seperti menahan tangis.

“Aku berjanji akan menemukan cincin itu dan menangkap pelakunya.”

“Kau memang harus melakukannya.” Bisik Eunri. “Waktu kita tak lebih dari dua bulan. Kau harus menemukannya sebelum itu. Jika tidak, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan lagi.”

Apa itu berarti pernikahan ini benar-benar terancam tidak terlaksana? Yesung menelan ludah yang terasa begitu pahit. Eunri memang tidak menekannya, tetapi ia membayangkan hal yang lebih buruk akan terjadi pada Ibu Eunri kelak jika tahu pernikahan ini terancam mundur dari tanggal yang sudah disepakati.

Tidak ada cara lain lagi. Ia harus segera menangkap Ox.

Yesung merogoh ponselnya. “Yoo, apakah kau sudah mendapatkan info tentang berlian itu?”

—o0o—

Yesung datang ke kantor dalam keadaan lebih baik. Ia merasa segar dan bersemangat setelah mandi dan berganti baju. Meskipun begitu otaknya dipenuhi cara dan strategi untuk menangkap Ox. Untung saja hingga saat ini pencuri itu tidak berulah lagi.

Yoo langsung menyerbunya ketika Yesung tiba. “Jaksa Kim, aku sudah mendapatkan info tentang berlian biru di setiap perhiasan yang dicuri. Hasilnya sangat menakjubkan!” Serunya.

“Apa?” Tanya Yesung tak sabar sambil menerima laporan dari asistennya itu.

“Berlian biru yang terdapat pada kalung serta anting-anting yang dicuri Ox memiliki spesifikasi yang sama!”

“Apa katamu?” Yesung mengerjap takjub.

“Dengan kata lain kemungkinan besar berlian biru itu berasal dari satu bongkahan berlian yang sama.” Sambung Suho.

Yesung melihat spesifikasi berlian di kalung dan anting-anting tertera pada sertifikat perhiasan itu. Memang sama persis. Bahkan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh sebuah lab penelitian permata pun menyatakan hasil yang sama. Yesung tiba-tiba sangat bersemangat. “Baik, kita tak bisa menunggu di sini saja. Kita harus langsung bertanya pada para perancang perhiasan yang dicuri. Yoo, kau tinggal di sini saja. Aku akan pergi bersama Suho.”

Suho mengikuti Yesung dengan penuh semangat.

“Aku sudah bertanya pada Hwang Jinmi mengenai perancang kalung yang dicuri dari museumnya. Kebetulan, perancang itu sedang mengunjungi putrinya di Seoul.” Kata Suho sementara Yesung menyetir. Pemuda itu menyebutkan sederet alamat yang berada di daerah pinggiran kota. Yesung mengangguk paham lalu memacu mobilnya menuju alamat yang disebutkan Suho.

—o0o—

Eunri merenung selama bekerja. Tumpukan dokumen yang harus ia periksa terabaikan begitu saja di atas meja sementara ia sibuk mengurut pelipisnya sendiri. Ia sudah memikirkan kejadian semalam dan menyadari bahwa ia sudah bersikap jahat pada tunangannya. Seharusnya di saat seperti ini ia bisa lebih mengerti situasi, bukan justru menyalahkannya. Yesung tidak sengaja menghilangkan cincin itu, dia korban Ox juga.

Tiba-tiba saja Eunri merasa konyol karena marah pada Yesung.

“Eum, Eunri…”

Eunri mengangkat kepala dan memandang ke arah pintu. Henry Lau berdiri di sana dengan senyum cerah. Ia mengerjapkan mata, tak biasanya Henry datang mengunjungi ruangannya.

“Ada apa?” Tanyanya heran. Henry masuk lebih dekat, mendadak saja raut wajah pria tampan itu berubah ragu.

“Aku ingin memberimu ini.” Henry mengulurkan sebuah amplop. Eunri menjengit ngeri melihatnya.

“Kau akan mengundurkan diri?” Tanyanya dengan nada menuduh. Henry mengeryitkan kening antara kaget juga dan bingung. Tetapi kemudian ia merasa sangat geli melihat raut wajah atasannya itu.

“Aku hanya ingin memberimu surat izin. Aku tidak bisa masuk kerja selama seminggu mendatang karena aku harus pergi ke Kanada untuk mengunjungi Ibuku yang sakit.”

Oh, syukurlah hanya surat izin. Eunri mendesah lega. “Maaf, karena terlalu banyak pikiran aku jadi terlalu mudah berburuk sangka.”

Henry mengangkat bahu. “Kemarin Ayah meneleponku bahwa Ibu terjatuh dari tangga.”

“Apa ibumu baik-baik saja?” Eunri jadi ikut khawatir karena sekarang ini Ibunya pun dirawat di rumah sakit.

“Kuharap. Aku belum mendapat berita terbaru.”

“Baiklah, kau boleh pergi. Lagipula kau sudah menyelesaikan tugasmu bulan ini. Tapi kau harus janji, hanya seminggu!”

Henry menyeringai jahil, “kenapa, kau merindukanku?” Tanyanya sambil menaik-turunkan alis.

“Bocah ini!” Eunri ingin sekali memukul kepalanya. Henry terkekeh dan pergi ke luar ruangannya sambil menyerukan terima kasih.

Eunri mendesah berat. Sepertinya minggu ini akan menjadi minggu yang sulit.

—o0o—

Yesung dan Suho kini berdiri di depan sebuah rumah mungil yang diketahui milik putri Ma Byungseok, pria berusia akhir 50-an tahun yang merancang dan membuat kalung yang kemudian dibeli Hwang Jinmi. Beruntung ketika ditemui, Tuan Ma sedang beristirahat di rumah setelah seharian tadi jalan-jalan dengan putrinya ke Insadong.

“Ah, aku ingat sekali dengan rancanganku yang satu ini.” Desah Byungseok penuh rindu ketika Yesung menunjukkan padanya foto kalung yang dicuri. Mereka duduk di kursi yang ada di teras rumah. “Kalung ini adalah mahakaryaku yang sangat kubanggakan. Bahkan Hwang Jinmi pun langsung jatuh cinta dan membelinya ketika pertama kali melihatnya.”

“Apakah Anda ingat di mana Anda mendapatkan permata yang Anda gunakan pada kalung itu?”

“Aku membelinya dari sebuah toko perhiasan saat mengunjungi Daegu.”

“Apa Anda ingat nama toko itu dan kapan Anda membelinya?” Tanya Yesung menggebu.

Ma Byungseok berusaha mengingat-ingat. “Sayang sekali aku tidak ingat nama toko itu. Hanya saja aku sangat ingat aku membeli permata itu dari seorang kakek.”

Yesung memandang Suho yang dengan telaten mendengarkan penjelasan Ma Byungseok sambil merekamnya. Mereka kemudian pamit setelah puas menanyai perancang itu. Sampai di sini mereka masih belum mendapat petunjuk.

“Jaksa Kim, apakah kau berpikir sepertiku juga? Bahwa mungkin Ox mengincar seluruh permata biru dengan spesifikasi yang sama?” Tanya Suho ketika mereka sudah berada dalam mobil.

“Ya. Seperti yang sudah kaukatakan. Besar kemungkinan berlian itu berasal dari satu bongkah berlian besar yang kemudian terpecah menjadi beberapa bagian kecil. Ox mungkin menginginkan seluruh bagian berlian itu. Bisa jadi karena alasan inilah mengapa Ox tidak mengambil perhiasan di Toko Enchant pada kasus pertama. Karena Ox sadar perhiasan itu tidak dihiasi berlian biru yang dicarinya.” Sahut Yesung pasti.

“Ox juga tidak mengambil koleksi lain yang jauh lebih mahal di Hwang Art Museum karena dia memang menginginkan benda yang bertatahkan berlian biru itu!” Lanjut Suho. “Benar juga, semua alasan itu cocok.”

Yesung dan Suho sama-sama tersenyum penuh antusias karena berhasil menyimpulkan sesuatu yang sangat penting untuk penyelidikan. “Karena itu kita harus menyelidiki asal usul permata itu untuk menemukan jejak Ox.”

“Mungkin jika kita berhasil mengetahui keberadaan pecahan berlian yang lain, kita bisa mencegah Ox mencurinya?!” Seru Suho bersemangat. Yesung mengangguk.

“Atau mungkin menyergapnya saat dia beraksi.” Yesung tersenyum puas karena mendapat secercah harapan menangkap pencuri merepotkan itu. Nasib pernikahannya masih bisa diselamatkan.

“Kita sekarang tahu benda apa yang sedang diincar Ox, tetapi kita masih belum bisa menentukan apa motifnya. Lalu bagaimana dengan flasdisk game yang dicuri itu? Bukankah dia hanya mencuri perhiasan? Mengapa dia mencuri flashdisk berisi game?” Suho merenung. Yesung pun memikirkan hal yang sama.

“Mungkin dia ingin menjualnya ke perusahaan game lain. Untuk benda seperti itu bisa dengan mudah ditemukan jika Ox memang menjualnya.” Ujar Yesung. Ia malah membayangkan cincin pernikahannya yang sekarang ada di tangan Ox. Entah akan diapakan benda itu. Jika hanya untuk dikoleksi, pastilah sang pelaku seseorang yang tidak membutuhkan banyak uang. Mungkinkah dia seorang kolektor gila?

Yesung menepis pikiran yang mulai tidak masuk akal itu. Jelas sekali Ox adalah seseorang yang jenius, bukan gila karena berhasil melakukan aksinya tanpa bisa dideteksi. Daripada menduga-duga lebih baik ia konsentrasi pada pekerjaannya hari ini. Setelah mengunjungi Ma Byungseok, mereka kemudian pergi ke toko tempat Eunhyuk membeli anting-anting untuk istrinya.

Nama toko itu adalah Blue Jewel. Yesung awalnya bertanya-tanya mengapa nama toko itu permata biru, tetapi ketika masuk ke dalam toko, Yesung tahu alasannya. Semuanya langsung terjawab begitu melihat seluruh perhiasan yang dijual di sana bertatahkan permata berwarna biru. Bentuk desainnya pun indah dan tidak biasa. Meski hanya menjual satu warna permata, toko itu cukup ramai dikunjungi.

Yesung dan Suho langsung menemui manager toko.

“Memang benar, beberapa tahun lalu toko kami mengikuti pameran perhiasan itu. Hari itu cukup banyak pengunjung yang tertarik dan membeli beberapa perhiasan yang dipamerkan. Termasuk perhiasan dengan berlian biru ini.” Jelas manager itu sambil menunjuk foto anting-anting yang dibeli Eunhyuk. “Seorang pengusaha kaya membelinya langsung begitu melihatnya. Aku paham mengapa perhiasan ini bisa terjual dengan cepat, berlian biru di tengah ini sangat indah dan ditempatkan dengan begitu tepat oleh perancangnya.”

Yesung dan Suho mengangguk setuju. “Apa Anda memiliki perhiasan lain dengan spesifikasi berlian yang sama dengan berlian pada perhiasan ini?” Tanya Yesung.

“Aku tidak ingat, mana mungkin aku menghafal semua spesifikasi permata pada perhiasan yang dijual toko ini. Untuk yang satu ini kau bisa bertanya langsung pada perancangnya.”

“Kau mengenal perancangnya?” Suho mengerjap senang.

“Tentu saja. Dia perancang perhiasan professional, Kim Jungmo.”

Yesung dan Suho pun sepakat menemui perancang perhiasan yang satu itu.

—o0o—

Penyelidikan terakhir tidak bisa terlaksana karena ternyata saat ditemui Kim Jungmo sedang melakukan perjalanan ke luar negeri dan asistennya pun tidak tahu kapan Kim Jungmo kembali. Meskipun begitu baik Suho maupun Yesung cukup puas karena hari ini mereka mendapat cukup banyak informasi mengenai berlian biru misterius itu namun mereka belum tahu mengapa Ox begitu tertarik mengumpulkan seluruh berlian biru itu. Penyelidikan tentang asal usul berlian masih dilakukan oleh Yoo.

Malam harinya Yesung pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi Ibu mertuanya yang masih dirawat di sana hingga sekarang. Yesung lega karena Ibu tampak lebih bugar dan malah sedang tertawa mendengar lelucon yang dilontarkan Eunjo.

“Apa kau sudah makan?” Tanya Eunri khawatir ketika mengantar Yesung ke depan untuk pulang setelah menjenguk Ibunya. Hari ini Yesung tampak berantakan sekaligus kelelahan.

“Aku sudah makan di kantor bersama asistenku dan Suho. Bagaimana dengan dirimu?”

“Aku akan melakukannya nanti setelah Ayah datang dan menggantikanku menjaga Ibu.”

Langkah Yesung terhenti. “Choi Eunri, kau tahu aku tidak suka mendengar kau melalaikan jadwal makanmu. Bagaimana jika kau sakit?” Tegurnya dengan kening mengerut. Biasanya Eunri akan balas mengomel, namun kali ini Eunri hanya menatapnya intens.

“Kenapa?” Yesung heran.

“Maafkan aku.” Ucap Eunri tanpa diduga membuat Yesung terenyuh. “Sikapku kemarin keterlaluan. Aku seharusnya tidak menyalahkanmu atas dicurinya cincin pernikahan kita.”

Helaan nafas lega keluar dari sela bibir Yesung. Ia langsung menarik Eunri ke pelukannya. Eunri mengerjap ketika sadar kepalanya bersandar pada dada Yesung yang bidang dan hangat. Tangannya yang kekar mengusap rambutnya dengan lembut. “Lega sekali rasanya mendengar kau bisa memaklumi keadaanku. Aku sungguh ketakutan kau akan mundur karena kejadian ini. Bersabarlah demi diriku, aku pasti akan menemukan cincin itu dan kita akan menikah.”

Eunri menarik nafas dan menghirup aroma tubuh Yesung. Ia heran mengapa kemarin ia bisa marah pada Yesung. Pria baik sepert Yesung tidak sepantasnya mendapatkan perlakuan begitu buruk.

“Mulai sekarang aku akan berusaha memahami beratnya pekerjaanmu. Maaf jika aku mudah sekali mengeluh.” Eunri menyurukan kepalanya ke lekukan leher Yesung.

Yesung tersenyum bahagia. Ia memejamkan mata dan menyandarkan pipinya pada puncak kepala Eunri. Ia tidak keberatan dengan kebiasaan Eunri mengeluh karena jika Eunri saja bisa menerima seluruh kekurangannya mengapa ia tidak?

Pelukan Yesung semakin bertambah erat. Perhatian Eunri seperti ini justru membuatnya ingin segera meresmikan Eunri sebagai istrinya.

—o0o—

“Sudah lama aku tidak makan siang bersama Youngjae. Aku tidak sabar mendengar ceritanya tentang Joonie.” Eunri menepuk tangan girang. Yesung menatapnya sambil tersenyum. Siang itu mereka sepakat makan siang bersama Youngjae dan suaminya, Kim Heechul. Sekarang mereka sedang dalam perjalanan menunu restoran tempat mereka akan bertemu.

“Kau menyukai anak kecil?” Tanya Yesung.

“Tidak terlalu, tetapi Joonie adalah bayi yang sangat menggemaskan.”

Yesung sebenarnya sedang sibuk, tetapi ketika Eunri menelepon dan mengajaknya makan siang, ia berpikir tidak ada salahnya relaksasi sejenak. Lagipula Yoo dan Suho pun kebetulan ada urusan yang harus diselesaikan di luar kantor.

“Youngjae!!!” Eunri melambaikan tangan melihat Youngjae sudah tiba dan kini sedang duduk di salah satu kursi. Joon putranya duduk di pangkuannya dengan manis. Tapi tangannya yang kecil dan gemuk terus bergerak-gerak mencoba meraih gelas minuman di atas meja.

Youngjae balas melambaikan tangan tak kalah heboh. Eunri segera mengajak Yesung duduk di depan pasangan suami-istri itu. Mereka saling menyapa dan menanyakan kabar.

Setelah makanan yang mereka pesan tiba, mereka sibuk makan sambil mengobrol. Eunri dan Youngjae asyik dengan Joon. Yesung senang melihat Eunri gembira, paling tidak Eunri tidak sedang berada dalam masa-masa sulit sepertinya. Yesung mendesah berat.

“Kudengar kasus yang kau tangani sangat besar.” Tanya Heechul membuat Yesung menatapnya. Entah mengapa Yesung merasa lega melihat Heechul benar-benar prihatin.

“Ya. Kasus pencurian Ox. Aku tidak menyangka kasus ini berkembang menjadi sebesar sekarang.” Kata Yesung lelah.

Heechul mencibir, “Aku sangat tidak menyukai Ox. Aksi pencuriannya sangat melecehkan para pembuat perhiasan sepertiku. Aku ingin sekali mencekiknya.”

Yesung membelalakan mata. Ya Tuhan, itu dia!

“Tentu saja!” Heechul dikagetkan oleh seruan Yesung. Bahkan Eunri dan Youngjae pun menoleh menatapnya. “Bagaimana aku bisa lupa kalau kau seorang perancang perhiasan juga.”

“Yaa! Perancang perhiasan juga, apa maksud kata-katamu itu!” Heechul jengkel karena cara bicara Yesung seolah sedang meremehkannya. “Aku bukan perancang perhiasan biasa. Asal kau tahu rancanganku sangat terkenal di antara para selebriti dan kaum sosialita.”

“Maaf jika aku menyinggungmu. Tapi bukan itu maksudku.” Yesung berhenti tertawa lalu berdehem, ia tampak tidak sabar untuk mengajukan pertanyaan. “Apa kau mengenal perancang perhiasan Ma Byungseok dan Kim Jungmo?”

Meskipun bingung, Heechul menjawabnya. “Tentu saja. Keduanya adalah perancang seniorku. Mengapa kau bertanya tentang mereka?”

“Karena informasi tentang mereka sangat penting untuk penyelidikan. Apa kau bisa menceritakan padaku bagaimana kepribadian dan latar belakang mereka?”

“Hmm,” Heechul bergumam. “Keduanya adalah pribadi dan senior yang sangat baik. Mereka tak sungkan berbagi ilmu dan pengalaman pada para perancang muda sepertiku. Mereka juga berasal dari keluarga baik-baik dan tak pernah memiliki catatan kriminal.” Heechul mengangkat alisnya sebelah. “Tunggu, kau mencurigai mereka?”

“Aku bertanya bukan karena aku mencurigai mereka, mungkin saja Ox tertarik pada perhiasan rancangan mereka atau seseorang yang mengenal mereka dengan sangat baik. Tetapi dalam beberapa kasus pencurian karya seni tak dipungkiri pelakunya adalah sang perancang sendiri yang tak puas pada hasil rancangan mereka dan berniat memusnahkannya.” Jelas Yesung membuat Heechul menganga kaget.

“Itu tidak mungkin. Baik Ma Byungseok maupun Kim Jungmo bukan seorang perancang fanatik dan gila seperti itu. Ma Byungseok tidak akan membiarkan karyanya yang gagal dijual ataupun diberikan pada orang lain. Kim Jungmo memang seorang perfeksionis, tetapi dia orang yang sangat jujur. Pria sepertinya tak mungkin mencuri.”

“Kau benar. Lagipula Ox tidak tampak seperti orang tua sama sekali.” Desah Yesung kecewa.

“Kau sudah berusaha semampumu. Aku yakin cepat atau lambat kau bisa menangkap pencuri itu.” Eunri menghibur sambil merangkul pundaknya. Yesung terkadang membenci dirinya sendiri karena ia belum bisa mengungkapkan satu petunjuk pun sementara telah terjadi kasus sebanyak empat–sebenarnya lima–kali yang dilakukan Ox.

“Mungkin akan lebih bagus jika kau bisa membantuku mencari petunjuk tentang pelakunya.” Yesung memperlihatkan pada Heechul foto buram penampakan Ox yang terekam kamera cctv di kantor pusat QC Company beberapa waktu yang lalu. Ia berharap Heechul bisa membantu. Youngjae ikut melihat foto yang kini ada di tangan suaminya.

Heechul mengerutkan kening. Tiba-tiba saja pria itu mengerjap. “Tunggu, aku mengenali topi yang dipakai pencuri ini!”

“Benarkah?” Yesung terperanjat. Heechul menunjuk topi yang dipakai Ox, tepat pada logo di topi itu yang tampak tidak jelas bagi Yesung namun Heechul mengenalinya dengan baik.

“Topi yang dipakai pencuri ini adalah topi yang menjadi souvenir untuk peserta seminar pengrajin perhiasan beberapa tahun yang lalu di Pulau Jeju. Karena desainnya yang langka dan unik, aku jadi mengingatnya dengan jelas.”

“Kau yakin?” Tanya Yesung takjub. Ia memerhatikan logo di topi itu dengan seksama. Sayang sekali bentuknya tampak tidak jelas dalam foto itu.

“Yakin seratus persen karena aku menjadi pembicara dalam seminar itu.” Jelasnya bangga yang membuat Yesung lebih takjub lagi. “Kau tidak akan menemukan topi dengan desain itu di tempat lain karena panitia penyelenggara seminar sengaja membuatnya sebagai benda langka yang hanya bisa didapat jika kau mengikuti seminar itu. Uniknya, setiap tahun desain dan warnanya berbeda. Karena itu warna hitam, aku sangat yakin pencuri itu mendapatkannya pada seminar di mana aku yang menjadi pembicaranya saat itu.”

Kedua mata Yesung melebar menyadari hal penting yang ia lewatkan dan Heechul telah mengingatkannya. “Dengan kata lain pencuri itu bisa saja seorang desainer perhiasan juga. Mengapa aku tak pernah memikirkan kemungkinan ini?” Ia bangkit lalu menepuk bahu Heechul penuh terima kasih. “Kau sudah memberiku pencerahan yang luar biasa. Kau hebat.” Setelah mengatakannya Yesung merogoh ponselnya untuk menghubungi Yoo.

“Yoo, maaf mengganggu acaramu. Tetapi aku memiliki hal yang harus kauselidiki sekarang juga.” Yesung pamit pada Eunri dengan isyarat bahwa ia harus pergi ke tempat yang lebih tenang. “Aku ingin kau mencari tahu daftar orang-orang yang mengikuti seminar untuk perancang perhiasan di Pulau Jeju..” setelah itu suara Yesung tak terdengar lagi.

Eunri dan yang lainnya menatap kepergian Yesung dengan berbagai ekspresi.

“Dia benar-benar jaksa yang gigih.” Desah Youngjae kagum. Heechul masih melongo menatap ke arah Yesung pergi.

“Kupikir itulah daya tariknya.” Balas Eunri penuh cinta. Ia tersenyum bangga. Yesung tak akan menyerah sebelum pelaku pencurian itu dijebloskan ke penjara, itulah yang Eunri tahu.

—TBC—

165 thoughts on “Shady Girl Yesung’s Story [Chapter 4]

  1. Wahh kerenn,,maaf baru komen dii part ini,,genre ini ygg paling disuka,,sp bilang kakak gaa bisa bikin FF dg genre ini,,nyatanya hasilnya DAEBAKKK,,keren abiss,,ditunggu next partnya smga gaa kelamaan :J

  2. Aaa greget.. Kenapa sikap Ox itu pengen aku timpuk aja. Ox itu Henry kan??
    Yesung benar-benar stres dan gigih itu yang bikin greget juga. Kasus nya juga masih misteri dan apa tujuan nya?? Mengincar Yesung biar.batal nikah??
    Penjelasan di ceritain ini bener membuat masuk dalam cerita, tenggelam, misteri nya keren.. Rumit dan menyebalkan..
    Walaupun jarang momen manis Yesung sama Eunri tapi cinta mereka tersampaikan
    Penasaran penasaran kelanjutan itu gimana.. Di tunggu kelanjutan nya ChinguπŸ™‚

  3. waw daebak ff. nya keren bikin penasaran siapa sebenarnya pencuri itu sebenarnya di tunngu next part.nya jangam lama2πŸ˜€

  4. wah wah, kayaknya so ox akan segera tertangkap,, tapi itu kalau ox itu seorang pengrajin perhiasan buat apa dia curi flasdisk kyuhyun yang beisi game,,
    jadi kagum sama kegigihan yesung buat cari identitas si ox, senang juga eunri bisa mengerti yesung

  5. Qu gak tega liat Yesung galau tingkat tinggi krna khilngan cincin prnikahan…
    Apalg liat tempramen Eunri yg galak itu,,huh sngguh gk tega euyyy udah trtekn tmbh trtekan lg liat Eunri marah,,,
    sykurlh,, skrg Yesung dpt pencerahan dri Heechul tntng Ox,,jd agk smngat deh tuk cpt mngungkap pelakunya…

  6. Akhirnya ada titik terang untuk mencari OX πŸ‘ŒπŸ˜˜ kenapa yesung gak inget punya teman perancang perhiasan ya (a.k.a. Heechul) 😜
    Untung aja gak terjadi sesuatu yg berbahaya sama Eommanya Eunri πŸ˜‡
    Moga cepat ketangkep si OX yg udah bikin heboh dunia shady girl 😎

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s