Crazy Because of You [Chapter 9]

Tittle : Crazy Because of You Chapter 9
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Hurt

Main Cast :
Min Sora | Lee Donghae

Dha’s Speech :
Tinggal satu episode lagi sebelum ending ^_^ semoga ceritanya tidak membosankan.
Terima kasih sudah mengikuti FF ini sampai chapter ke 9. Aku seneng banget.
Maaf kalau aku masih belum bisa menyajikan cerita yang lebih berkualitas. Maaf juga kalau disetiap postingan aku masih banyak kesalahan dan typo. Namanya juga manusia, suka banget khilaf.

Kalau ceritanya aneh, maaf yah. ^_^

Happy Reading ^_^

Crazy because of You By Dha Khanzaki 6

=====o0o=====

CHAPTER 9
Growing Pain

SORA MEMANTAPKAN DUDUKNYA. Ia telah memasang tekad seteguh karang. Ia bisa menebak apa yang ingin Narin katakan. Hanya saja ia tak mengerti mengapa Narin begitu ingin ia dan Donghae berpisah. Bukankah wanita itu seharusnya bahagia mengetahui adiknya bahagia bersama kekasihnya, seperti sikap seorang kakak pada umumnya. Sikap Narin terlalu ganjil untuk seorang kakak yang telah menikah dan memiliki anak.

“Ayo cepat katakan, aku tidak memiliki banyak waktu.” Sora tidak sabar ingin segera pergi dari tempat ini. Dadanya terasa sesak berada satu ruangan bersama Narin terlalu lama.

Narin mengamatinya. Sadar bahwa Sora bukanlah gadis yang mudah dijatuhkan, wanita itu menyunggingkan senyum sinis.

“Kau tahu, aku dan Donghae pernah menjalin hubungan di masa lalu.”

Sudah kuduga itu yang akan dikatakannya. Sora memutar bola mata sambil mendengus. “Ya. Donghae sudah mengatakannya. Karena kalian bukanlah saudara kandung dan kalian tinggal di bawah atap yang sama, secara tidak sengaja tumbuh rasa cinta di antara kalian. Meskipun pada akhirnya Donghae sadar kau tidak mencintainya, melainkan mempermainkannya. Dia sakit hati dan memutuskan meninggalkanmu. Aku sudah tahu. Lalu?”

Reaksi Narin adalah; menganga. Wanita itu terkejut karena Sora sudah mengetahuinya. “Jadi Donghae sudah memberitahumu.”

“Ya. Dia tidak ingin ada rahasia apapun di antara kami.”

Narin tertawa hambar, “jadi karena inikah sikapmu padaku begitu sinis? Kau cemburu karena Donghae pernah mencintaiku, ah tidak, mungkin dia masih mencintaiku hanya saja dia terlalu keras kepala untuk mengakuinya.”

Sora mengeryitkan kening. Ya Tuhan, apa wanita ini sedang mabuk karena kata-katanya sangat tidak masuk akal. “Kau bilang Donghae masih mencintaimu? Yang benar saja. Dia bukan pria yang akan tetap berkubang pada kesalahan yang sama.”

“Jadi kau bermaksud mengatakan bahwa mencintaiku adalah kesalahan baginya?” suara Narin meninggi.

“Ya. Donghae amat menyesal dan malu karena pernah mencintai wanita sepertimu. Mengapa kau mempermainkan perasaannya yang tulus? Meskipun saat itu Donghae hanyalah remaja, dia sangat menyayangimu. Mengapa kau menjadikannya pelampiasan? Aku tidak mengerti mengapa justru kau yang bernafsu ingin menghancurkan kebahagiaan Donghae. Apa Donghae bersalah padamu sampai kau memperlakukannya seperti ini? Kau seharusnya sadar. Kau sudah bersuami. Bahagialah dengan suamimu dan biarkan Donghae bahagia. Apa perlu kuingatkan bahwa Donghae adalah adikmu? ADIKMU?” cerocosnya menggebu. Sora tak segan lagi mengutarakan kata-kata yang sudah ingin sekali ia tumpahkan tepat di depan muka Narin. Seharusnya seseorang menyuruh Narin memeriksakan diri ke psikiater karena kejiwaannya sedikit terganggu.

Ekspresi Narin berikutnya sama sekali tak diduga oleh Sora. Kedua mata wanita itu berkaca-kaca. Sepertinya ada sesuatu dalam kata-kata Sora yang menelaknya dengan keras sampai wanita itu sakit hati.

“Suamiku sudah meninggal dunia.”

Apa?

Sora membeku. Tenggorokannya tercekat dan tiba-tiba saja rasa sakit menyengat dadanya. Ini bukan berarti ia bersimpati pada wanita ini, tetapi Sora bisa merasakan sedih dan berdukanya Narin hanya mendengar nada suaranya saja. Ya Tuhan, ia tidak tahu hal ini. Mengapa Donghae tidak pernah menceritakannya?

“Aku tidak tahu. Maafkan aku.” kata Sora refleks. Ia ingin tahu mengapa suami Narin meninggal, tetapi ia tidak tahu cara menanyakannya tanpa terdengar seperti bersimpati.

Menyadari tatapan penasaran Sora, Narin berkata. “Suamiku seorang pilot pesawat komersial. Tapi dia tidak meninggal ketika sedang bertugas melainkan karena kecelakaan mobil saat akan kembali ke rumah enam bulan yang lalu. Kejadiannya terlalu mendadak. Aku tidak pernah mempersiapkan diri menerima berita kematian suamiku. Tidak, wanita mana yang siap dengan hal ini?”

Aku turut berduka cita. Batin Sora. Ia menolak menunjukkan sisi lemahnya dan justru membuat wajahnya tak berekspresi. “Maaf jika aku jahat, tetapi aku kemari bukan untuk mendengar hal ini.”

Narin kali ini benar-benar terpukul. “Kau benar. Aku mengajakmu bicara untuk memberitahumu satu hal yang sangat penting.”

“Kurasa kau baru saja mengatakannya.”

“Tidak, aku belum mengatakannya.” Sanggah Narin kasar.

Ayo katakanlah. Aku penasaran sampai sejauh mana pengakuanmu itu bisa menyakitiku. Sudah terlambat untuk mundur. Batin Sora.

Senyum bangga Narin terbit di bibirnya, “aku sudah pernah tidur dengan Donghae.”

Yeah, ini pun tidak mengejutkan. Sora mendesah berat kembali. “Lalu?” tanyanya datar.

Alhasil Narin mengeryit bingung. “Kau mengerti maksudku bukan, yang kukatakan adalah aku sudah pernah bercinta dengan kekasihmu.” Sepertinya melihat Sora tak tergubris sama sekali sangat mengejutkan baginya.

“Karena itu sudah menjadi bagian dari masa lalu, kupikir tidak masalah. Aku yakin Donghae saat remaja sangat menggiurkan sampai kau mau tidur dengannya.” Nada Sora sungguh merendahkan Narin. Nafas wanita itu tersentak.

“Kau pikir aku wanita jalang yang akan tidur dengan siapapun?”

“Lalu apa yang harus kupikirkan tentangmu? Jika kau wanita baik-baik kau tidak akan merayu adik tirimu darimu meskipun dia memiliki perasaan padamu.”

“Yak, Min Sora! Kau sangat kurang ajar!”

“Kau lebih dulu kurang ajar padaku, Nyonya.” Sambar Sora marah. “Kau memanggilku kemari hanya untuk memberitahuku semua hal yang sudah pernah Donghae katakan. Rasanya menggelikan mengetahui kau sedang mencoba membuatku goyah. Aku tidak mengerti mengapa kau melakukan semua ini. Apa kau masih mencintai Donghae? Atau kau menyesal karena telah menyia-nyiakannya selama ini?”

Narin menggertakkan gigi dan tampak ingin sekali menyembur Sora. Tangannya bergerak hendak meraih gelas namun Sora bergerak lebih dulu. Ia mengambil gelas minuman milik Narin dan menumpahkan isinya ke atas makanan. Wanita itu membelalakkan mata tak percaya.

“Tadinya aku berharap pembicaraan ini akan membuatku memahami mengapa kau begitu protektif pada Donghae. Kau akan membuatku berpikir bahwa kau adalah kakak yang baik. Tetapi ternyata yang kudapat adalah fakta bahwa aku tidak akan pernah menyukaimu. Kau menyebalkan, pencemburu, dan tidak suka melihat adikmu bahagia. Kita tidak cocok satu sama lain. Aku tahu kau akan membenciku saat kelak kita menjadi keluarga, tetapi kutegaskan; aku tidak akan pernah meninggalkan Donghae.” Sora memberi ultimatum itu sampai Narin tak bisa membalasnya. Ia sudah muak berada di sini. Ia ingin sekali pergi. Ketika ia bergerak bangun, wanita itu kembali bicara.

“Sungguh kau tidak akan meninggalkan Donghae?” mata Narin menyala-nyala. Sora berhenti dan menatapnya. “Bagaimana jika kau tahu bahwa Donghae sesungguhnya tidak mencintaimu dan hanya menjadikanmu sebagai pelarian saja?”

“Berhenti bicara melantur, Nyonya. Itu akan membuatmu tampak semakin menyedihkan.” Cibir Sora. “Aku, pelarian? Tidak mungkin.”

Kedua tangan Narin mengepal marah. “Donghae mendekatimu karena dia sedang menghindariku!” tukasnya.

“Oh ya, mengapa, dia muak melihatmu?”

“Meskipun Donghae berkata bahwa dia membenciku, aku bisa merasa bahwa Donghae sebenarnya masih menginginkanku. Hanya saja karena aku sudah bersuami, dia tidak menunjukkannya.”

“Itu hanya anggapanmu saja.”

“Apa kau ingat kapan Donghae pertama kali mendekatimu dengan gencar?”

Pertanyaan ini memaksa Sora memutar otaknya kembali. Kapan tepatnya? Mereka bertemu lebih dari setahun yang lalu ketika Jeyoung menikah. Tetapi mereka mulai sangat dekat beberapa bulan ini. “Sekitar enam bulan yang lalu. Memang kenapa?”

Narin tersenyum sinis. “Lihat, itu membuktikan bahwa kau hanya pelarian saja.”

“Apa maksudmu?” Sora benar-benar tersinggung. Wanita ini, mengapa dia selalu bisa membuat emosinya naik ke ubun-ubun?

“Suamiku meninggal sekitar enam bulan yang lalu. Saat itu dia kembali menunjukkan perhatiannya denganku. Dia menghiburku, memperhatikan kesehatanku, dan selalu bertanya apakah aku baik-baik saja. Sejujurnya aku sangat senang, tetapi tiba-tiba saja dia bersikap acuh tak acuh padaku. Dia tidak mau kembali ke rumah setiap kali aku ada di sana dan memilih tinggal di apartemen. Aku sadar dia sedang menghindariku karena takut akan kecewa seperti dulu. Dia masih mencintaiku, tetapi bersikap seolah dia membenciku. Akhirnya, untuk menegaskan padaku bahwa dia tidak memiliki perasaan padaku lagi, dia mendekatimu dan beberapa gadis lainnya. Aku marah karena Donghae tak mau jujur dengan perasaannya, karena itu aku berusaha menyingkirkan semua gadis yang dia dekati. Termasuk kau. Aku tidak membenci kalian, aku kasihan pada kalian. Aku tidak ingin kalian menjadi korban pelarian Donghae saja.”

Ya Tuhan, Sora menghembuskan napas dengan tajam. Jadi ini senjata mematikan yang dimaksud Narin yang akan menguji kesetiaannya pada Donghae? Ia akui, ia memang sedikit terguncang mendengarnya. Tetapi ia tidak akan percaya kata-kata Narin. “Kau sungguh pandai mengarang. Kau hanya terlalu percaya diri dan menebak-nebak saja. Aku sedih karena kau tidak bisa membedakan antara kasih sayang seorang adik dan kekasih. Apa kau begitu kehausan dengan cinta sampai kau menjadikan Donghae sasaranmu?” ia bertanya-tanya dalam hati bagaimana ada wanita yang begitu keras kepala seperti Narin. Wanita ini benar-benar perlu berdiskusi dengan psikiater. Sora yakin kejiwaannya terganggu pasca kematian suaminya.

“Aku tidak mengarang!” tegas Narin marah sampai Sora merasa di kepalanya tumbuh tanduk iblis. Ia heran bagaimana mungkin Donghae tidak melihat sisi monster dalam diri Narin? “Baik, sepertinya aku memang harus menunjukkan bukti padamu.”

Apa yang akan dilakukannya? Sora tegang melihat Narin merogoh sesuatu dalam tasnya. Oh, rupanya wanita itu mengeluarkan ponsel. Tetapi apa yang ingin dia tunjukkan melalui ponsel itu? Narin menekan sederet nomor dengan tenang lalu menekan tombol loudspeaker agar Sora bisa mendengarnya juga.

“Apa maksudmu?” cecar Sora.

“Ingin menunjukkan padamu siapakah sesungguhnya yang memiliki di hati Donghae.”

Jalang ini! Narin bermaksud menunjukkan padanya bahwa Donghae masih mencintainya dan ia hanya pelarian.

“Hallo. Ada apa?”

Sora mengerjap mendengar suara Donghae. Ia menatap Narin murka. Beraninya wanita ini menghubungi Donghae!

“Badanku terasa pusing. Sepertinya aku sakit. Apa kau bisa menjemputku? Aku tidak bisa mengemudi sendiri ke rumah.” Narin berakting sakit. Suaranya dibuat-buat lemas. Sora tidak mengerti sebenarnya apa yang wanita ini ingin lakukan.

Percuma saja. Donghae tidak mungkin meladeninya.

“Apa kau sudah meminum obat?”

Jantung Sora menghentak dadanya. Donghae merespon, bahkan dengan suara khawatir!

“Aku sedang di restoran setelah bertemu dengan klien. Aku tidak membawa obat. Apa kau bisa datang?”

Kumohon katakan kau tidak bisa. Kau sedang ada janji denganku. Mohon Sora dalam hati. Melihatnya cemas bukan main, Narin tersenyum puas. Sora ingin sekali pergi menghampiri Donghae sekarang juga dan membuatnya memutuskan panggilan telepon Narin. Tetapi anehnya, ia tidak bisa melakukan itu.

“Aku..” Donghae terdengar ragu-ragu. Sora ingin meneriakan; mengapa kau bimbang? Ayo tolak Narin dengan tegas! Namun lagi-lagi, Sora membeku.

Tidak, Donghae akan goyah!

“Kumohon. Aku tidak tahu meminta bantuan pada siapa lagi.” suara Narin memang terdengar begitu memelas karena wanita itu pandai sekali melakukannya. Tetapi wajahnya menunjukkan senyum penuh kemenangan. Sora tercekat. Ia beralih menatap takut ponsel di atas meja seolah akan keluar hantu dari benda itu. Ia tak berani mendengar apa yang akan Donghae katakan. Jika pria itu setuju, benarkah sesungguhnya Donghae masih mencintai Narin? Benarkah bahwa ia hanya menjadi pelariannya saja? Sora amat takut mengetahuinya.

“Tapi aku sudah memiliki janji dengan Sora.”

Donghae menyebut namaku. Sora amat lega mendengarnya. Ia sangat berharap Donghae akan menolak datang karena dia memang memiliki janji dengannya. Ayo Donghae, tolak dan buktikan bahwa kau mencintaiku.

“Apa kau sedang bersamanya?”

“Tidak. Sepertinya Sora masih dijalan, mungkin terjebak macet.”

“Kalau begitu kau bisa menjemputku. Sebentar saja. Aku tidak yakin bisa tiba di rumah jika memaksakan diri naik taksi.”

Sora ingin sekali mendengar Donghae berkata tidak bisa agar Narin berhenti menunjukkan ekspresi menjijikan di wajahnya dan sebenarnya apa yang dia inginkan jika kelak berhasil memisahkannya dengan Donghae. Menunggu Donghae menjawab rasanya begitu lama. Ketika akhirnya ia mendengar suara pria itu, tanah tempatnya berpijak terasa berguncang.

“Baiklah. Katakan di mana kau.”

Donghae akan kemari! Kepala Sora berputar dan terasa pening. Pria itu lebih mementingkan keadaan kakaknya daripada dirinya yang tak kunjung tiba. Donghae memilih datang kemari daripada tetap menunggunya. Apakah..apakah Donghae memang benar masih memiliki perasaan kepada kakak tirinya?

“Oh, kau sangat baik.” Narin tersenyum puas sampai mungkin kepalanya akan terbelah menjadi dua. Sementara Sora merasakan paru-parunya diremas hingga menimbulkan sakit dan perih yang luar biasa. Ia tak ingin mempercayai Narin, tetapi mengapa pria itu menunjukkan sikap yang membuatnya berpikir bahwa Donghae memang hanya memanfaatkannya sebagai pelarian saja?

Narin mematikan sambungan dengan anggun, lalu menatap Sora dengan sorot penuh kemenangan. “Lihat, Donghae tidak benar-benar mencintaimu. Jauh di lubuk hatinya, Donghae masih menyukaiku. Dia bahkan memilih meninggalkanmu untuk menemuiku, Donghae lebih mencemaskan diriku dibandingkan dirimu. Kau hanyalah makanan camilan bagi Donghae dan aku adalah hidangan utama.” Tiba-tiba saja kedua mata Narin dipenuhi binar kegelapan, kebencian dan ancaman. “Karena itu menyerahlah sebelum Donghae membuatmu patah hati. Cepat atau lambat, aku yakin Donghae akan mengakui perasaannya padaku dan memutuskan meninggalkanmu.”

Hati Sora hancur berkeping-keping. Ia menatap nanar Narin. Ia resmi membenci wanita ini sekaligus mengutuknya. Kata-kata Narin sungguh keterlaluan. Tak peduli benar atau tidak apa yang baru saja dikatakannya, akan lebih bagus bila wanita tua ini bisa menjaga mulut. Tangan Sora gemetar, lalu tanpa sempat ia sadari, ia menyambar gelas minuman miliknya dan membuang isi gelas itu ke muka Narin seolah ia ingin membersihkan kotoran dari depan wajahnya.

“Kau sungguh wanita menjijikan.” Desis Sora dingin dan menusuk. Suaranya bergetar oleh rasa sakit hati yang sangat dalam. “Sekarang aku sangat paham mengapa mantan kekasihmu hingga Donghae meninggalkanmu.” Ia sekuat tenaga menahan airmata. Kedua mata Narin membelalak marah. Ia beranjak pergi dari tempat itu sebelum Narin sempat membalas perbuatannya.

Wanita licik! Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Sora merapalkan berbagai sumpah serapah dalam hati. Mulai dari ia berharap Narin mengalami kecelakaan parah hingga wanita itu mati. Ia tak pernah berpikir seganas itu tentang orang lain sebelumnya. Tetapi karena Narin amat menyakiti hatinya, berharap kematian Narin adalah satu-satunya obat untuk luka yang ditorehkan wanita itu.

Narin membuatnya meragukan perasaan Donghae. Wanita itu telah menggoyahkan keyakinannya pada Donghae. Wanita sialan!

Sora tak memedulikan tatapan heran pengunjung restoran ketika ia bergegas melintasi ruang makan menuju pintu keluar restoran. Airmatanya sudah berlelehan di pipi dan Sora tidak peduli. Ia hanya berpikir untuk meninggalkan tempat itu sesegera mungkin.

—o0o—

Donghae tiba di restoran tempat Narin berada dan langsung menemukan kakak tirinya berdiri di depan restoran. Raut wajahnya terlihat muram. Ia mengeryit ketika menghampirinya lebih dekat, baju bagian atas Narin basah dan wajahnya tampak seperti baru saja dicuci oleh air. Aneh sekali, penampilannya memang menyedihkan. Tetapi Narin tak terlihat seperti orang sakit sama sekali. Wanita itu dalam keadaan bugar, hanya saja Narin sedang bermuram durja.

Apa maksud semua ini?

“Kau bilang kau sakit.” Donghae heran, ia tak memiliki waktu untuk berbasa basi. Jika Narin memang sudah membaik, maka ia harus secepatnya pergi karena mungkin saja Sora sudah tiba di tempat mereka akan bertemu malam ini. Ia tak mau Sora menunggu.

Narin menatapnya, senyum miring tersungging di bibirnya. “Sepertinya kau tidak senang aku sehat.”

“Apa? Jadi kau tidak apa-apa? Lalu mengapa kau menyuruhku kemari?” ia sungguh tidak mengerti dengan situasi yang sedang di hadapinya. Sebenarnya permainan apa yang sedang Narin lakoni? Mengapa dia bertindak kekanakan begini?

“Aku hanya ingin menguji apakah kau masih peduli padaku atau tidak. Sekarang aku sudah mengetahuinya. Kau memang masih peduli padaku. Kau mungkin masih mencintaiku, benar bukan?”

Donghae mendesah berat. Ia melongo menatap Narin tak percaya. Akhir-akhir ini tingkah laku kakaknya semakin tidak masuk akal. Ia sungguh tidak bisa memahaminya. Mengapa Narin bersikap seperti ini? Lagipula apa maksud Narin bahwa ia masih mencintainya?

“Dengar Narin, sudah beberapa kali kubilang aku sudah tidak mencintaimu. Perasaanku untukmu dahulu sudah hilang seutuhnya. Aku mencintai Sora, saat ini, esok dan seterusnya. Jadi kumohon jangan berbuat seperti ini lagi. Aku tidak ingin kehilangan wanita yang kucintai saat ini.”

“Kau bohong.” Potong Narin. Wanita itu menatapnya marah dan yakin. “Kau hanya menghindariku, benar bukan? Sebenarnya kau masih mencintaiku tetapi kau takut akan mengulang kesalahan yang sama. Kutegaskan, aku tidak akan memperlakukanmu seperti dulu lagi. Aku—“

“Narin!” tegas Donghae. “Kau adalah kakakku, sadarlah bahwa hubungan kita tak bisa lebih dari sekedar kakak-adik. Dan aku tidak sedang menghindarimu, berapa kali harus kukatakan? Aku memang jatuh cinta pada Min Sora, kau menganggapnya demikian karena hal itu terjadi di saat kau sedang berduka pasca kematian suamimu.” Ia sudah lelah menjelaskan ini pada Narin. Sepanjang apapun kalimat yang ia katakan, Narin tak pernah mau mengakui bahwa ia tak mencintainya, tetapi ia menyayanginya sebagai saudara. Narin selalu beranggapan bahwa perasaannya masih sama seperti bertahun-tahun yang lalu ketika mereka terlibat affair. Apa yang membuatnya berpikir demikian? Donghae sudah menegaskan bahwa perhatiannya terjadi hanya karena dia menganggap Narin sebagai kakak.

“Tidak, Donghae akuilah.” Narin mendekat, ekspresinya penuh penderitaan. “Kau masih mencintaiku. Apa yang kau lakukan hari ini adalah bukti yang sangat nyata. Kau mengutamakan diriku, bukan kekasihmu. Kau lebih mengkhawatirkanku daripada wanita itu.”

Donghae menatapnya nanar, ia menjauh seiring langkah pendekatan Narin. “Apa sebenarnya maksudmu memanggilku kemari?”

“Permisi, Nyonya..” seorang pelayan menginterupsi di saat Narin membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Donghae.

“Apa!” Narin menoleh kesal padanya. Pelayan itu mengerut mundur sambil mengulurkan tangan dengan takut dan ragu.

“Ponsel Anda tertinggal.”

Narin langsung menatap benda yang disodorkan pelayan itu dengan bingung. Ponsel itu bukan miliknya. Dengan kata lain, ponsel itu milik Min Sora. “Oh, terima kasih.” Dengan cepat Narin merenggut ponsel itu dari tangan pelayan yang buru-buru menyingkir karena takut terkena semburannya. Narin berniat menyembunyikan ponsel itu dari Donghae namun terlambat, pria itu terlanjur melihat bahkan mengenali ponsel yang kini dipegangnya.

“Itu ponsel milik Sora!” katanya tak percaya, suaranya tercekat. Matanya melebar menatap Narin, menuntut penjelasan.

Dengan gugup Narin mengelak, “bukan. Ini milikku.”

“Tidak!” Donghae merebut ponsel itu dari tangan Narin dan wanita itu tak bisa mempertahankannya. Ia berdebar melihat Donghae menatap nyalang ponsel yang amat dikenalinya. “Ini ponsel milik Sora, aku yakin sekali karena aku yang membelikannya gantungan ponsel ini.” Donghae menunjuk gantungan ponsel berbentuk boneka beruang berwarna merah muda yang ia beli ketika ia pergi ke luar kota.

Mulut Narin kaku tak bisa menjawab. Wajah bingung Donghae digantikan dengan raut marah. “Mengapa ponsel ini bisa ada padamu!” tuntutnya keras. Tiba-tiba saja Narin kehilangan seluruh keterampilannya berbicara serta keberanian yang ia miliki saat berhadapan dengan Sora tadi. Di hadapan Donghae kini ia menjadi wanita pengecut. Ia dilema di antara keinginan untuk mengaku dan menyembunyikan pertemuannya dengan Sora tadi dari Donghae. Namun ia takut Donghae akan menuduhnya macam-macam jika ia tidak berkata apapun dan jika ia tetap nekad memberitahu apa yang terjadi, ia lebih takut lagi Donghae akan membencinya.

Narin baru menyadari betapa beresikonya mengajak Sora bertemu dan memanggil Donghae kemari. Seharusnya ia tidak melakukannya. Apa yang ia pikirkan ketika meminta Sora dan Donghae datang? Ia membuat diri sendiri berada dalam situasi sulit.

“Baiklah, aku mengajak Sora bertemu tadi sebelum kau datang!!” tegas Narin menyerah dengan perdebatan yang terjadi di dalam dirinya.

“Apa?!” Dongahe kini benar-benar marah. Pantas saja ia menunggu begitu lama dan Sora tak kunjung muncul. Jadi bukan macet penyebab keterlambatan Sora, tetapi wanita ini! Donghae mengepalkan tangannya. Sekuat tenaga ia mengontrol dirinya agar tidak menyerang Narin. Segala hal jahat kini menyelimuti dirinya karena Narin berani mengusik Sora. “Mengapa kau melakukannya! Apa yang sudah kau katakan pada Sora?!”

“Kami tidak sempat berdiskusi banyak, tetapi aku sudah mengatakan maksudku dengan jelas padanya; jauhi dirimu.”

“Kau meminta Sora menjauhiku?” kedua mata Donghae melebar ngeri.

“Aku tidak memiliki pilihan lain. Aku tidak suka dengan kedekatan kalian, karena itu menyuruh Sora pergi dari hidupmu. Tetapi sayangnya dia melawan sekuat tenaga, berkata bahwa dia tidak akan pernah meninggalkanmu. Maka aku pun menceritakan apa yang pernah terjadi di antara kita. Aku kecewa karena dia sudah mengetahuinya lebih dulu darimu.”

Donghae tak percaya mendengarnya. Narin bahkan berani membeberkan hubungan terlarang mereka di masa lalu pada Sora? Ia tak bisa membayangkan wajah sakit hati Sora ketika mendengar cerita itu dalam versi Narin. “Beraninya kau melukai Sora dengan kata-kata busukmu! Sora adalah wanita yang sangat kucintai. Dia adalah calon istriku. Kami sudah berencana membeli cincin malam ini—“ Ia kemudian teringat waktu ketika Narin meneleponnya agar ia datang menjemput. Mungkinkah Sora ada di sana ketika Narin memelas dan memohon agar ia datang? Jantung Donghae berdebar kencang memikirkannya. Ya Tuhan, bagaimana jika Sora salah paham?

“Apakah Sora ada di sini ketika kau menghubungiku?” tanya Donghae waspada.

Narin dengan tidak sopannya tersenyum. “Tentu saja. Dia mendengar semua pembicaraan kita. Dia tampak terkejut dan langsung pergi begitu saja setelah kau berkata akan menemuiku. Gadis malang, wajahnya sangat pucat ketika dia meninggalkanku.”

Sora telah salah paham! Donghae memejamkan mata sambil menggeram membayangkan wajah kesakitan Sora.

“Gadis itu tidak mencintaimu, berhentilah menginginkannya. Aku yang lebih—“

“TUTUP MULUTMU!”

Seketika suasana di antara mereka menjadi sunyi senyap. Donghae melotot, segala kemarahan dan kekecewaan di hatinya ia tujukan pada Narin. Sementara wanita itu melongo ngeri serta terkejut karena untuk pertama kalinya ia melihat Donghae semurka ini dan dirinyalah penyebab semua itu. Ia tak menyangka Donghae akan meledak. Teriakan Donghae membuat sekujur tubuhnya gemetar sekaligus kaku.

“Kali ini kau benar-benar mengecewakanku. Sebelumnya aku masih bisa menahan diri karena aku tidak mencintai wanita-wanita yang coba kau singkirkan dari hidupku. Tetapi sekarang ketika kau melakukannya pada Sora, pada wanita yang kucintai, kemarahan yang kurasakan cukup untuk membuatku tidak bisa memaafkanmu lagi. Kau menyakiti Sora, itu berarti kau menginginkan kehancuran hubungan baik kita. Kau mencoba memisahkanku dengan Sora, artinya kau sudah tidak ingin aku mengenalmu lagi.”

“Donghae, tolong jangan salah paham. Aku melakukan ini karena mencintaimu.”

“Kumohon sadarlah, Kim Narin!” Bentak Donghae lagi-lagi membungkam mulut kakak tirinya. Narin tercengang menatapnya.

“Kau tidak mencintaiku. Kau hanyalah wanita yang haus perhatian dan kasih sayang. Karena kau baru saja kehilangan cintamu, kau mencoba mendapatkannya kembali dariku. Aku bukan pria bodoh seperti bertahun-tahun yang lalu, yang terpikat padamu yang patah hati dan berharap dicintai kembali. Aku tidak akan bisa kau manfaatkan untuk kedua kalinya. Mungkin dahulu aku bisa kaubodohi begitu saja karena aku tidak mencintai wanita lain. Tetapi sekarang, aku mencintai Min Sora. Aku tidak mendekati Sora hanya untuk menghindarimu. Aku sudah menyukainya sejak pertama kali kami bertemu dan itu terjadi jauh sebelum suamimu meninggal dunia! Karena itu berhentilah salah paham dan sadarlah. Kau hanya wanita yang sedang berduka dan ingin mendapatkan perhatian lebih dari seorang pria. Lalu kau menjadikanku sasaranmu hanya karena aku dulu pernah mencintaimu.”

Narin menggeleng. Ia bukan wanita serendah itu. Ia ingin membantah apa yang Donghae katakan padanya namun sisi dirinya berkata bahwa adiknya memang benar. Tidak, Donghae memang mencintainya. Pria itu hanya tidak mau mengakuinya dan tugasnyalah membuat Donghae menyadari bahwa di hatinya masih ada cinta.

“Donghae, dengar..” Narin memegang tangannya. Donghae menepis tangan itu dengan jijik, membuat Narin membeku.

“Aku tidak ingin mendengar apapun lagi. Aku akan pergi menemui Sora dan menjelaskan padanya sekali lagi bahwa tidak ada hubungan apapun di antara kau dan aku selain saudara tiri.” Donghae berbalik pergi.

Narin buru-buru mencegah, egonya terluka “lalu kau akan meninggalkanku di sini sendiri? Teganya kau!”

Pria itu berpaling padanya dengan raut bingung bercampur kesal. “Tega? Jika aku tega padamu, aku sudah bersikap kasar padamu sejak jauh-jauh hari.” Ia merogoh kunci mobilnya lalu melemparkannya pada Narin. “Pulanglah sendiri. Mulai sekarang aku tak mau berada satu ruangan denganmu lagi. Kau membuatku muak. Dan jika Sora sampai tidak ingin bertemu denganku lagi karena ulahmu, kau pun enyahlah dari hidupku. Jika kau tidak mau, maka aku yang akan pergi.” Setelah mengatakannya, Donghae benar-benar pergi setelah menyetop taksi, bahkan tanpa menoleh ke arah Narin lagi.

Sementara Kim Narin hanya terpaku di tempat. Ia menatap ke bawah, ke arah kunci mobil Donghae yang tergeletak di dekat kakinya. Ini bukanlah akhir yang ia bayangkan. Seharusnya ia pulang bersama Donghae, bukan ditinggal seorang diri di sini dan dicampakkan seperti sampah.

—o0o—

Donghae lekas turun ketika ia tiba di depan gedung apartemen Sora. Gadis itu tidak mungkin pergi ke tempat mereka bertemu. Mengingat sifat Sora, ia yakin Sora akan kembali ke rumah atau ke tempat manapun selama tempat itu bisa dipakai untuk bersembunyi.

“Sora, apa kau ada di dalam? Bukalah. Ini aku.” Donghae menggedor pintu apartemen Sora setelah menekan bel berkali-kali tak kunjung mendapat respon darinya.

Dari dalam tidak terdengar suara apapun. Donghae mulai ragu Sora ada di rumah. Jika memang tidak ada, lalu ia mencarinya ke mana? Sora tidak bisa ia hubungi karena ponsel gadis itu ada di tangannya. Sekarang Donghae sangat mengkhawatirkan keadaan Sora. Setelah menerima pukulan dari Narin, sekuat apapun Sora pasti akan terluka juga.

“Sora? Dia tidak ada di sini. Apa terjadi sesuatu pada Sora?” Suara Jeyoung terdengar sangat cemas. Donghae menyesal sudah mengganggu malamnya seperti ini. Tetapi ia tidak tahu bertanya pada siapa lagi. Ia terpaksa meneleponnya.

“Tidak apa-apa. Dia hanya tidak ada di rumahnya. Kupikir dia pergi ke rumahmu.” Donghae tidak bisa mengatakan apa yang terjadi sesungguhnya. Masalah ini disebabkan olehnya. Ia tak mau melibatkan orang lain.

“Kau sudah mencoba menghubungi ponselnya?”

Sontak Donghae menatap ponsel Sora di tangannya. Ia tersenyum pahit. Sebenarnya ia bisa, tetapi bukan Sora yang akan menjawabnya.

“Ponselnya tidak bisa dihubungi.” Jelas Donghae.

“Apa kau butuh bantuan untuk mencarinya? Dari suaramu sepertinya masalah genting sedang terjadi.”

“Tidak apa-apa. Jangan khawatir.” Sela Donghae. Ia jadi tidak enak hati karena sudah menyusahkan orang lain. “Aku pasti bisa menemukan Sora. Selamat malam.” Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana lalu pergi dari apartemen Sora. Sepertinya gadis itu memang tidak ada di sana. Ia harus menemukannya malam ini juga dan menjelaskan padanya bahwa yang dikatakan Narin hanyalah bualan belaka.

Seandainya ia mendapat petunjuk tentang keberadaan Sora.

Sementara itu di tempat yang berbeda, Sora duduk sambil memeluk lututnya di sebuah sauna tak jauh dari apartemennya. Sauna itu selalu menjadi tempat pelariannya jika ia sedang gusar. Untungnya, Donghae tidak tahu kebiasaannya ini. Ia memang tak ingin siapapun tahu karena terkadang ia butuh tempat menyendiri di mana tidak ada seorang pun yang akan menegurnya karena ia melamun ataupun merenung terlalu lama.

“Wanita gila. Dia pikir aku akan menangis setelah mendengar pengakuan dosanya? Aku tidak bisa ditindas semudah itu!” Omel Sora sambil membuka kulit telur rebus dengan ganas. Ia sudah puas bersauna dan kepalanya yang penuh oleh dendam pada Narin sedikit dibersihkan. Meskipun ia sudah tenang, rasa kesal pada Narin masih ada.

“Dia sudah menyakiti diriku dan Donghae. Wanita gila itu mencoba memisahkanku dan Donghae. Aku akan mencari cara untuk membalas dendam padanya.” Ia memakan telur rebus hingga mulutnya penuh. Ia pergi dari medan pertempuran dengan Narin bukan karena ia kalah ataupun menyerah. Tetapi karena ia tidak ingin berbuat brutal pada Narin. Kata-kata Narin yang menyakitkan tentang Donghae yang masih mencintainya sungguh membuat Sora ingin menjambak rambutnya hingga rontok seluruhnya.

“Apa sebenarnya yang dimakan wanita itu sampai begitu yakin bahwa Donghae masih menyukainya. Apa karena dia sudah tua sampai tidak bisa membedakan antara perhatian karena simpati dan perhatian karena memang mencintai?” Gerutu Sora lagi.

Bayangan seringaian puas Narin ketika Donghae setuju datang menjemputnya, menghadirkan kembali sensasi tercekik di tenggorokan Sora. Ia menelan makanannya dengan susah payah. Tiba-tiba saja Sora tercekat. Berbagai pertanyaan muncul simpang siur di otaknya.

Apa Donghae memang masih memiliki perasaan pada Narin?

Apa aku hanya menjadi pelarian Donghae saja?

Keputusan Donghae menjemput Narin sedikit menggoyahkan keyakinannya pada Donghae. Ia mencoba percaya, tetapi kenapa hatinya sakit? Apa ia cemburu karena Donghae lebih mengkhawatirkan Narin? Apakah amarahnya muncul karena ia setuju dengan kata-kata Narin?

Tidak! Sora menggelengkan kepala. Aku yakin bahwa Donghae tidak berpura-pura mencintaiku. Donghae memang menyayangiku. Narin yang berbohong.

“Ya, Narin sedang membohongiku.” Sora tercenung.

Lalu mengapa hatinya sakit? Jika ia memang mempercayai Donghae, mengapa sekarang ia menangis?

Sora tidak sadar airmata berlelehan di pipinya saat ini sampai tetesan itu jatuh ke punggung tangannya. Ia tercengang menatap setitik air di tangannya dan perlahan-lahan terus bertambah titik-titik yang lain hingga ia terisak menyadari bahwa ia telah kalah.

Tidak, Sora. Tetapkan hatimu. Donghae memang mencintaimu. Jangan dengarkan Narin.

Membesarkan hati sendiri di saat seperti ini adalah sesuatu yang sangat sulit dilakukan.

—o0o—

Narin masih terlarut dengan pikirannya di ruang tengah rumahnya ditemani ibunya yang hari ini menginap di tempatnya untuk menemani Minwoo. Sekarang putranya sudah tertidur nyenyak.

“Apa yang terjadi padamu? Sejak pulang kau terus melamun. Apakah ada masalah serius di kantormu?” Bahkan pertanyaan ibunya pun tak berhasil menembus alam bawah sadar Narin. Pandangannya masih menerawang, mencerna kembali kata-kata Donghae sebelum pria itu pergi meninggalkannya.

“Kau tidak mencintaiku. Kau hanyalah wanita yang haus perhatian dan kasih sayang. Karena kau baru saja kehilangan cintamu, kau mencoba mendapatkannya kembali dariku. Aku bukan pria bodoh seperti bertahun-tahun yang lalu, yang terpikat padamu yang patah hati dan berharap dicintai kembali. Aku tidak akan bisa kau manfaatkan untuk kedua kalinya. Mungkin dahulu aku bisa kaubodohi begitu saja karena aku tidak mencintai wanita lain. Tetapi sekarang, aku mencintai Min Sora. Aku tidak mendekati Sora hanya untuk menghindarimu. Aku sudah menyukainya sejak pertama kali kami bertemu dan itu terjadi jauh sebelum suamimu meninggal dunia! Karena itu berhentilah salah paham dan sadarlah. Kau hanya wanita yang sedang berduka dan ingin mendapatkan perhatian lebih dari seorang pria. Lalu kau menjadikanku sasaranmu hanya karena aku dulu pernah mencintaimu.”

Benarkah? Saat ini ia adalah wanita yang sedang mencari perhatian karena sedang berduka? Itukah alasan mengapa ia begitu membenci semua wanita yang bahagia bersama satu-satunya pria yang memperhatikannya? Karena ia iri pada kegembiraan mereka?

Kepala Narin mendongak menatap figura besar berisi foto pernikahan dirinya dan mendiang suaminya lima tahun yang lalu. Ia sangat mencintai suaminya yang telah memberinya seorang putra yang tampan. Kehidupan pernikahannya sedang dalam masa keemasan, tetapi mengapa Tuhan lagi-lagi mengakhiri kisah cintanya dengan cara yang menyakitkan?

Apakah karena rasa sakit yang tak tertahankan itu ia menjadi salah mengartikan perhatian Donghae padanya?

Donghae mencemaskannya karena ia adalah kakaknya yang sedang bersedih, tidak lebih. Hanya karena dia pria pertama yang memeluk dan memberinya kekuatan saat ia berduka, ia mengartikan hal itu sebagai bentuk rasa cinta Donghae kepadanya sehingga tanpa sengaja ia berpikir Donghae masih menyukainya seperti dahulu? Kesedihan membuat akal sehatnya tidak bekerja. Ia jadi membenci semua wanita yang dekat dengan Donghae dan berpikir bahwa mereka adalah pengganggu dan menyingkirkan mereka.

Narin seperti ditampar dengan keras. Ia sadar bahwa ia memang sudah salah mengartikan situasi yang terjadi di antara dirinya dan Donghae. Ia salah telah mencoba menjauhkan Donghae dari wanita yang disukainya.

Astaga, betapa mengerikannya. Mengapa ia bertindak sekejam ini? donghae tidak seharusnya diperlakukan seperti ini.

Suara bel pintu terdengar. Narin mengerjap sadar dari lamunannya dan ketika ia mendongak, ibunya sedang membuka pintu depan.

“Oh nak, Ibu tidak menyangka kau akan datang kemari.” Ibu memeluk Donghae. Narin terperanjat dari tempat duduknya melihat Donghae mengunjungi rumahnya, untuk pertama kali. “Ayo masuk, Ibu akan menyiapkan teh untukmu.”

“Tidak perlu repot-repot bu. Aku kemari hanya untuk mengambil kunci mobilku.” Ibu hanya melongo menatap Donghae yang berjalan dengan tenang menuju Narin.

Narin terpaku pada wajah tanpa ekspresi Donghae. Dilihat dari caranya menatap yang tajam dan Dingin, Narin yakin saat ini Donghae murka dan kesal…padanya.

“Kunci mobilku.” Donghae memintanya pun dengan nada acuh tak acuh. Narin menyerahkan kunci itu pada Donghae tanpa melepaskan mata dari wajah Donghae.

“Apa kau sudah bertemu dengan Sora?” Tanya Narin pelan.

Donghae mendelik, “mengapa kau peduli aku menemukannya atau tidak? Bukankah kau yang membuatnya melarikan diri dariku?”

Ibu mengerjapkan mata mendengarnya. Ia juga terkejut karena kedua anaknya berbicara dalam suasana dingin dan tidak menyenangkan. Apa sesuatu yang buruk sedang terjadi? “Ada apa dengan Sora? Mengapa kalian bertengkar?”

“Tanyakan saja pada putri kesayanganmu tentang apa yang sudah diperbuatnya pada Sora.” Donghae berbalik pergi namun Ibu menahannya.

“Tunggu. Jelaskan apa yang terjadi? Narin, apa yang lakukan pada Sora sampai adikmu seperti ini?” Ibu menatap Narin sementara tangannya tetap memegang Donghae. Ia tidak akan membiarkan pertengkaran di antara anak-anaknya begitu saja.

“Dia memprovokasi Sora dan menyuruhnya meninggalkanku.” Tukas Donghae tajam.

Narin tercengang menatapnya dan Ibu terkejut.

“Donghae, itu…”

Ibu memotong, “mengapa kau melakukannya, Narin? Sora adalah wanita yang baik.”

“Baik, aku tahu aku salah. Aku tidak bermaksud melakukannya.” Narin menyesal.

“Tidak bermaksud? Kau jelas sekali tidak suka aku dekat dengan Sora. Apa sebenarnya yang kau inginkan? Kau bahagia melihatku dan Sora putus?” Donghae menjadi emosi kembali. “Karenamu hari ini aku kehilangan Sora. Aku tak berhasil menemuinya di mana pun. Kami sudah berjanji akan membeli cincin pertunangan tapi kau mengacaukannya.”

“Apa?” Ibu terkejut. “Narin, apa sebenarnya yang kau lakukan?”

Narin menundukkan kepala sejenak. “Aku hanya ingin melindungi Donghae.”

“Melindungiku dari apa? Dari wanita-wanita yang mungkin mendekatiku hanya untuk memanfaatkanku?” Sinis Donghae.

“Aku hanya ingin kau mendapatkan wanita yang baik.”

“Siapa, kau?” Donghae mencibir dan Narin menatapnya nanar. “Kau tidak sedang melindungiku. Kau melakukannya untuk kepuasanmu sendiri. Lagipula bukan urusanmu jika aku ingin berkencan dengan wanita jahat, matre ataupun seorang pelacur. Aku menyukai mereka. Mengapa kau sebegitu keberatan sampai mengusir mereka satu persatu dari hidupku. Apa karena kau sedih lagi-lagi ditinggalkan oleh pria yang kau cintai sampai kau tidak rela aku pun meninggalkanmu? Sadarlah, aku sudah tidak menyukaimu sebagai wanita lagi. Aku menyayangimu sebagai kakak.”

Ibu menutup mulutnya tak percaya.

“Donghae, kau tahu aku ingin kau bahagia.” Narin berkata.

“Pembohong! Jika kau ingin bahagia, mengapa kau tidak berusaha membiarkanku bahagia dengan wanita yang kucintai? Kau tidak seperti ini ketika suamimu masih hidup. Tingkah tidak masuk akalmu terjadi ketika kau kehilangan suamimu. Mengapa kau melampiaskan kesedihanmu padaku? Apa salahku padamu? Selama ini aku diam saja dengan sikap semena-menamu karena aku menghormati ibu. Aku tidak mau menyakiti perasaannya karena aku membenci putrinya. Aku tidak ingin memancing pertengkaran denganmu yang masih berduka. Aku mencoba berpikir positif bahwa kau melakukannya karena tidak ingin aku berakhir dengan gadis yang jahat. Tetapi ketika kau melakukannya juga pada Sora, aku tidak bisa menahan diri lagi.” Suara Donghae bergetar. “Kenapa kau ingin menghancurkan hubunganku dengan Sora? Aku sangat mencintainya.”

Narin membuka mulut untuk membela diri tetapi tiba-tiba saja ia lupa apa yang harus dikatakan. Ucapan Donghae membuatnya kembali teringat pada perasaan yang berkecamuk di hatinya ketika ia pertama kali menerima pelukan Donghae setelah suaminya meninggal, juga perasaan aneh yang ada di hatinya setiap kali ia melihat Donghae dekat dengan wanita lain. “Aku menyayangimu..”

Kepala Donghae menggeleng tak percaya, “Tidak. Kau membenciku.”

“Aku mencintaimu, karena itu aku berusaha melindungimu dari wanita-wanita itu.”

“Narin cukup!” Ibu membentak. Ia melepaskan Donghae dan menghampiri putrinya. Narin menatapnya dengan airmata berlinang. Ia memegang pundak putrinya dengan kencang.  “Sadarlah, bahwa apa yang kau lakukan pada Donghae berlawanan dengan apa yang dikatakan hati nuranimu. Kau sedang berduka. Berhenti melampiaskan rasa sedihmu pada Donghae..” ia terisak sambil memeluk Narin. Ia sangat mengenal putrinya. Narin memang selalu seperti ini setiap kali merasa patah hati.

Karena itu dulu, ketika Narin dan Donghae terlibat hubungan ia tidak menyalahkan Donghae, ia tahu Narin yang memulai lebih dahulu. Itulah yang menjadi dasar keputusannya meminta Donghae pergi ke luar negeri, tak lain untuk melindunginya. Sekarang ketika kembali Narin patah hati, ia juga yang meminta Donghae agar segera mencari pendamping karena ia khawatir Narin akan kembali melampiaskannya pada Donghae. Inilah alasan mengapa ia ingin Donghae cepat menikah, demi melindungi kedua anak-anaknya dari jalan yang salah. Sebagai ibu, ia merasa gagal. Ia sedih melihat Narin dan Donghae menderita.

“Kau bisa melewatinya. Kau dan Minwoo akan baik-baik saja.” Ibu kemudian menatap Donghae yang detik itu menunjukkan raut prihatin dan kasihan. “Ibu harap kau memaafkan Narin, nak.”

“Aku akan memaafkannya saat aku tahu hubunganku dengan Sora baik-baik saja.” Balas Donghae dingin. “Sebaiknya ibu bawa dia pergi berkonsultasi dengan psikiater agar kelak dia tidak mengacaukan hidupku lagi.” ia lalu berbalik pergi.

“Donghae,” ibu memanggil dengan panik. “Jangan pergi!” ia ingin menjelaskan mengapa sikap Narin menjadi seperti ini.

“Maafkan aku, Ibu. Tapi jangan khawatirkan aku. Aku bukan anak kecil lagi seperti beberapa tahun lalu. Aku tahu apa yang harus kulakukan.” Setelah mengatakannya, Donghae benar-benar pergi. Ia mengabaikan tangisan memilukan Narin. Sekarang itu bukan urusannya lagi. Ia tidak akan menghibur, bersimpati ataupun merasa kasihan. Ia tidak ingin kebaikannya disalahartikan kembali oleh kakak tirinya itu.

Sekarang, ia hanya ingin menemui Min Sora.

—TBC—

399 thoughts on “Crazy Because of You [Chapter 9]

  1. di tunggu kelanjutannya eonnie … gila coba aja aku jdi sora udah aku cakar tuh muka nya, aku gebukin sampe masuk rumah sakit aja sekalian -> woow saya berlebihan😀 .. tp emang kesel banget tuh sama Narin :@

  2. huft huft huft .. ayo eon semangat tulis next chapt nya .. aaaahhhh aku makin penasaran, narin bener2 bikin emosi. next chapt jangan lama lama ya eonni cantiiikk ^^

  3. Udah lama nggak komen ff nya,,,,selalu buat aku puas membaca setiap ff mu,,,,,
    Keren selalu,,,,dan bikin penasaran,,,, suka sm sora yg teguh mempertahankan cintax,,,,,,,,,,ditunggu part selanjutnya,,,ama DB ama WIYLM,,,,,
    Thor lg hamil muda ya,,,,,moga sehatselalu

  4. Sebenarnya jujur setiap ff ini d post aq selalu baca ulang karena yahh lama..
    tpi tak apa ..
    aq tegang bangettt di part ini and q kira sora akan pergi jauh beberapa hari bahkan bulan ampek donghae kelimpungan, tpi ternyata cuma sampai d sauna dekat rumah…
    jujur ini pendapat q dari awal part sora selalu ngambek and menghilang tpi gak pergi jauhh and yang pasty dia selalu gak bakal kerumah dulu sampek bsok siang baru akhirnya pulang and gak laluin apa2 d rmh Biar terkesan gak ada orang d rumah. Keadaan ini aq ngeh beberapa kali moga bsok gak ada adegan seperty itu….
    buat kk nya donghae pastiin dia akit jiwa karena gak thu malu…
    makasiii sekian semangattt yahh lanjutinnya selalu d tunggu

  5. Kak Dha astagah aku baca lagi nih, ya ampun baper lagi kan ….. 😭😭😭
    Kapan di lanjut lagi nih kirain udah di post lagi,biasanya poat nya klo gk sabyu ya minggu,,
    Oh iya kak nanti bisa jelaskan gk di part selanjutnya yg donghae klo tidur di posisinya sama terus ehehe…
    Maap ya kak komen mulu deh 😂
    Dan cepet di lanjut part 10 nya udah penasaran bngttt.
    .

  6. Sedih banget lihat sora yg digoyahkan kepercayaannya sma narin..
    Tpi puas jga + sedih pas penjelasan donghae dpan restoran, sambil membayangkan skit htinya sora kya yg di bolang donghae..

    Skarang gmna nsib hub mreka berdua ??
    Ya tuhan tolong jgan bwat mreka slah pham dan berpisah…

    Ok eonnnie lanjuttt

  7. Sumpah rasa” ny pngen ngejenggutin rambut narin, bikin emosi tingkat dewa. Nyari perhatian ampe segitu ny, bener” menyedihkn. Penasran ama klnjutan ny gimana donghae ama sora

  8. Rasanya pengen ngejambak rambutnyta narin, biar dia itu sadar kalo donghae itu udah gak suka sama narin
    Tpi dia mencintai sora

  9. berhubung authornya lagi hamil. aku sebagai readers maklum aja dah, kapanpun kelanjutan ff ini dipost. tetap setia menunggu.
    lancar buat kelahirannya entar kaka. ^^ semoga aeginya sehat.🙂

  10. Eon kpn post klnjtan ff ini ma lost in my memory…..
    Dah kgen dan dah lm ga dpost…..ff nya bgus bgus bgt jd dtggu trs…

  11. pengen banget nampar narin,uh untung sora kuat dan gak gampang terprovokasi ma narin.
    narin jga pantas tuh diperlakukan kyk gitu ma donghae biar jera.
    okey ditunggu next chapternya eonni
    #HWAITING EONNI🙂

  12. Annyeong unnie~ salam kenal🙂
    sebenarnya aku udah sering baca ff mu, tapi baru bisa komen skrg,mianhae😦
    aku tunggu kelanjutan ff crazy because of you, dangerous boy, when i lost in your memory.. Unnie fighting !!!

  13. Keren …aku suka dengan alurnya..Ini story yg aku sukai selain when i lost in your memory..Heheheh…Unnie fighting…!! Aku tunggu kelanjutan ff crazy because of you and when i lost from in your memorry nya.. Fighting !!😀

  14. astaga narin bnar2 keterlaluan untung saja sora bsa kuat tapi sekuat2 nya perasaan narin akirnya goyah jga…q harap mereka berdua bersatu ngk da hlangan lage…

  15. Hai eon!, aku reader baru. Aku suka banget sama cerita ini. Seandainya kalau aku jadi sora, sekalian aja aku minta air raksa buat nyiram mukanya narin. Gregetan banget. Ditunggu next chapternya!

  16. wuuuaaaahhhh ini ff yang menurut aku bagus bangeeeetttt!!! Biasanya aku selalu baca ff dengan cast utama kyuhyun, dan ini pertama kalinya baca ff sebagus ini dengan cast utamanya donghaeeee… OMG part 8 dan 9 bener2 dehhhh! Aku ikut kebawa emosi jugaaaa hahaha… maaf banget baru review setelah baca sampe part ini.. Aku harap part 10nya cepet di update. Fighting!!

  17. Gila Narin jahat banget ye. Kupikir Sora akan menunggu Donghae di toko perhiasan, ternyata dia sedang menyendiri di sauna🙂 uuh keren dah kata-kata Donghae walaupun terdengar dingin, kejam, dan menakutkan tapi itu bagus untuk mempertegas kepada Narin si wanita yang haus akan kasih sayang

  18. Bener kata hae oppa, narin butuh psikiater. Parah banget masa mau merusak hubungan adeknya dan calon istrinya. Parah bangeett, eon aku harap di lanjutin ff ini ya fighting eonni😉

  19. Waahhh di part ini gw mewekkkkkk😥
    narin ahh gw pengen maki” dya tapi pasti bakal panjang cerita nya , semogaaja sora gg salah faham lgy , kasian hae udda stresss kayak nya:/

  20. Stlh muncul part trakhir baru brani bc part ni,, klo bc dari dulu dh pst nyesek abis,, sktg z dongkol juga. Author emg daebak, sk bikin pmbca hanyut ma suasana crtnya.

  21. Astaga, benar-benar menguras emosi baca part 9 ini! Eish jadi pengen jambak rambut narin kuat-kuat dan berteriak ditelinganya sambil berkata ‘kau gila? Kau harus ke psikiater nyonya !!’ arggh, kesaalll!!

  22. Duh aduh untung soranya kuat banget cintanya sama donghae malah mikirin mau bales dendam ke narin wkwk si abangnya kelabakan nyariin sora yaaaa tenang soranya ga kabur ko hehe

  23. Oh..oh..oh…
    narin emang menyebalkan…sakit jiwa itu pasti..
    moga msalah cpt selesai..
    lucu juga liat sora lampiasin kemarahannya

  24. Golok mana golok
    Narin sumpah nyebelin banget… Bikin greget…bosen hidup kali ya
    semoga sora ga ninggalin donghae dan tetep tegar

  25. Ping-balik: REKOMENDASI FANFICTION | evilkyu0203

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s