Miracle Love Story [Chapter 3]

Title : Miracle Love Story Chapter 3
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : School, Family, Friendship, Romance

Main Cast :
Park Heerin | Kim Kibum

Dha’s Speech :

Wah, ini FF sudah lama juga baru dilanjut. Bagi yang belum baca part sebelumnya, bisa klik link berikut ini:

Part 1 : https://khanzakikyu.wordpress.com/2013/09/20/miracle-love-story-part-1/
Part 2 : https://khanzakikyu.wordpress.com/2014/04/13/miracle-love-story-part-2/

Bagi yang belum tahu juga, cerita ini adalah side story dari FF Cherry Blossom yang khusus menceritakan pasangan ajaib Kibum-Heerin. Setting FF ini ketika Kyuhyun dan kawan-kawan masih SMA, tepatnya berada di akhir masa SMA.

Happy Reading ^_^

Miracle Love Story by DhaKhanzaki

===o0o===

PART 3

@Dandelion Art Museum

“Lihat lukisan ini, bagaimana menurutmu Kibum?” tanya Eunjung lagi. Sekarang ia membawa Kibum ke hadapan sebuah lukisan abstrak dari cat minyak. Kibum tidak begitu mengerti lukisan. Jadi sekarang ia sangat bosan meskipun Ham Eunjung tampak sangat bersemangat.

Sesuai janji, di hari minggu yang cerah ini Kibum terpaksa menjadi baby sitter bagi Eunjung. Gadis itu memaksa untuk menemaninya pergi melihat pameran lukisan Impressionis karya seorang pelukis terkenal. Ia tidak begitu tertarik dengan lukisan sehingga ketika dirinya baru menghabiskan waktu sepuluh menit di dalam museum itu, ia merasa sangat bosan.

Ponselnya berdering di saat yang sangat tepat. Kibum menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan diri dari Eunjung. “Permisi sebentar.” Ucapnya seraya menjauh. Eunjung hanya menggerutu namun tetap membiarkannya pergi. Ketika ia menatap layar ponsel, ia mengerjap menemukan nama Heerin terpampang di layar.

Yeobseo,” tanpa membuang waktu Kibum segera menjawabnya. Suasana di ujung sana sempat hening. Tak lama suara bising lebih mendominasi. Apa yang Heerin lakukan di ujung sana?

Yeobseo,” Kibum bertanya kembali.

“Kibum Oppa, datanglah kemari. Heerin Eonni sejak tadi terus melamun sambil menulis-nuliskan namamu. Sepertinya dia akan gila jika kau tidak datang. Aku sudah menyuruhnya meneleponmu tapi dia tidak mau.” Kibum mengerutkan kening karena suara yang didengarnya sama sekali bukan suara Heerin. Siapa yang sedang berbicara sekarang? Suara kasak-kusuk di ujung telepon semakin kentara. Kibum menatap ponselnya sejenak. Tidak salah, ini memang nomor ponsel Heerin. Tetapi kenapa suara yang ia dengar bukan suara Heerin?

“Maaf, siapa ini?” Kibum bertanya dengan hati-hati. Kemudian suara jeritan perempuan terdengar, sepertinya orang lain merebut ponsel itu. Detik berikutnya Kibum mendengar suara Heerin.

“Maafkan Heejin karena sudah bicara melantur. Aku, aku tidak sengaja menuliskan namamu aku hanya teringat dirimu dan tanpa sengaja menuliskannya. Oh, tidak, aku memang melakukannya.”

Meskipun terkejut dan sempat tidak mengerti dengan apa yang Heerin katakan, Kibum menahan tawa mendengar suara polosnya. Gadis itu sangat manis, bahkan sangat menggemaskan ketika sedang bertingkah polos dan jujur seperti ini.

“Tidak apa-apa. Aku hanya heran kenapa kau tiba-tiba meneleponku.”

“Aku tidak meneleponmu. Heejin yang melakukannya!”

“Aku tahu.” Kibum tersenyum. “Apa yang kau lakukan di sana? Kudengar banyak suara ribut.” Kibum terbayang suasana ramai di rumah Heerin. Sepertinya sangat menyenangkan tinggal bersama keluarga besar. Meskipun rumah terasa berisik dan sempit, setidaknya lebih baik daripada tinggal sendirian.

“Kami sekeluarga sedang piknik. Mereka semua bersenang-senang di sini. Pamanku membawa pemanggang dan membuat barbeque. Ibuku membuat sandwich kesukaanku dan rasanya sangat enak. Adikku dan keponakanku yang lain bermain kejar-kejaran di pinggir danau.”

“Dan kau, apa yang kau lakukan?” membayangkannya saja Kibum sungguh iri dan ingin merasakan kebahagiaan seperti itu juga.

“Aku? Hanya diam dan menonton Ayah bermain catur melawan kakek.”

Tiba-tiba saja, Kibum ingin berada di sana juga. “Apa aku boleh bergabung denganmu?”

“Eeeh, kau ingin kemari?” Heerin menjerit kaget. Kibum tertawa membayangkan ekspresi histerisnya.

“Ya. Bolehkah?”

Heerin diam sejenak, lalu berkata dengan suara yang sangat pelan. “Tapi keluargaku sangat berisik.”

“Tidak masalah. Aku sudah bosan dengan tempat sepi.” Ia merujuk pada rumah dan museum yang sedang ia kunjungi.

“Kau serius ingin bergabung dengan keluargaku?” Heerin sepertinya masih tidak percaya. Memang seaneh itu jika Kibum ingin merasakan kehangatan keluarga?

“Tentu saja. Aku yakin keluargamu menyenangkan. Bagaimana?”

“Tentu saja boleh.” Kibum bisa mendengar nada gembira Heerin meskipun gadis itu mengatakannya dengan suara pelan, mungkin tersipu. Heerin lalu menyebutkan alamat taman tempat mereka melangsungkan piknik. Setelah menyudahi pembicaraan, ia segera mengirim pesan pada Eunjung bahwa ia harus pergi karena ada urusan mendadak lalu pergi mencegat taksi.

—o0o—

Taman itu tampak ramai di hari libur seperti sekarang. Tetapi Kibum tidak kesulitan menemukan Heerin karena keluarga besar yang berlibur bersama sangat menarik perhatian. Benar seperti kata Heerin, seluruh keluarganya yang Kibum temui di rumahnya berkumpul di sana, di dekat danau. Mereka menggelar tikar, meja lipat yang muat untuk dua puluh orang dan alat pemanggang. Orang-orang tua berkumpul di sekitar panggangan dan anak-anak berlarian di tepi danau. Ada juga yang memancing di sana.

Kibum berdecak takjub. Ia tak pernah menyangka kumpul keluarga bisa tampak menakjubkan seperti ini. Kelak ia harus memiliki keluarga besar juga agar bisa melakukan kegiatan bersama seperti ini.

“Kibum Oppa!!” Yang menyadari kehadirannya lebih dulu adalah Heejin, adik Heerin yang lebih muda dua tahun. Gadis itu melambaikan tangannya yang memegang penjepit dengan heboh. Dia berdiri di dekat pemanggang bersama Heerin. Gadis itu sendiri terkejut. Dari jauh Kibum bisa melihatnya merona malu dan refleks menyembunyikan diri di balik tubuh Heejin yang lebih tinggi dua cm darinya.

Heerin benar-benar menggemaskan.

Kibum mendekati mereka dan memberi salam pada seluruh keluarga Heerin. “Selamat siang semuanya. Aku Kim Kibum, teman Heerin.”

Dalam gerakan serempak seluruh keluarga Heerin menoleh. Mereka terpesona menatapnya sampai kegiatan mereka terhenti. Kibum yang pertama kalinya ditatap seperti itu sempat gugup dan salah tingkah.

“Oh, kau Kibum yang itu!” seru bibi Heerin, entah siapa namanya. Kibum tersenyum.

“Ya.”

“Dia yang membantu menaikkan nilai-nilai Heerin!” begitu sang bibi mengatakannya, Kibum langsung disambut dengan sangat hangat. Mereka dengan ramah menawarinya makanan sambil memperkenalkan diri. Kibum yang pintar pun kewalahan mengingat nama-nama mereka. Mungkin karena ini pertama kalinya ia diterima bagaikan bagian dari keluarga mereka sehingga mengaburkan ketajaman otaknya. Ia terlalu bahagia.

“Aku tidak tahu Heerin memiliki teman setampan dirimu. Apa kau benar-benar temannya?” goda salah satu keponakan Heerin ketika Kibum diseret duduk dengannya di atas tikar. Ia melirik Heerin yang masih malu-malu di sisi pemanggang lalu menjawab dengan canggung.

“Aku temannya.”

“Ah, dia sangat beruntung. Sekalinya memiliki teman, dia mendapat spesimen terbaik seperti ini.”

“Hanah, tutup mulutmu! Eonni bukannya tidak memiliki teman, hanya terlalu canggung untuk berteman.” Celetuk Heejin. Heerin dengan malu memukul lengannya.

“Sebenarnya yang ingin dikatakan mereka adalah; Heerin tak pernah mengajak temannya untuk bertemu keluarganya seperti ini. Kau adalah yang pertama.” Jelas Ibu Heerin sambil meletakkan segelas jus di depan Kibum.

“Benarkah?” Kibum heran. Apa yang salah dengan keluarganya? Mereka menyenangkan. Ia melirik Heerin sekali lagi yang kini menundukkan kepala sambil mengemut sebuah lolipop. Kibum sepertinya bisa memahami perasaan Heerin. Gadis itu tidak malu dengan keluarganya, tetapi dia khawatir keluarganya yang suka bicara itu mengatakan hal-hal aneh tentang dirinya pada teman-temannya.

“Heerin, apa yang kau lakukan di sana? Ayo temani Kibum di sini.” Suruh Ibunya. Heerin mematuhi kata-kata ibunya. Dia duduk dengan manis di samping Kibum.

“Kau ingin permen?” tanyanya sambil menyodorkan permen loli rasa jeruk pada Kibum.

“Terima kasih.” Kibum menerimanya. Heerin tampak sangat takjub ketika ia membuka bungkus permen itu lalu menghisapnya. Mulutnya sampai menganga. Kibum tersenyum geli.

“Mulutmu bisa kemasukan lalat jika kau membukanya selebar itu.”

Heerin buru-buru mengatupkan bibir dan langsung salah tingkah. Keluarganya tertawa melihat Heerin gugup. Tebakan Kibum benar, Heerin adalah gadis yang sangat ekspresif. Jika ingin mengetahui apa yang ada dalam pikirannya, bisa ditebak dari bahasa tubuh dan raut wajahnya.

“Hei, nak. Kau bisa bermain catur?” seru Ayah Heerin pada Kibum. Yang lainnya berhenti tertawa dan langsung berpandangan. Kibum tidak tahu apa arti ekspresi mereka dan ia juga tidak mungkin menolak permintaan Ayah Heerin. Namun ketika ia akan bangkit, Heerin memegang ujung bajunya. Gadis itu menggeleng. Kecemasan tampak jelas di wajahnya.

“Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja.” Kibum mengusap kepala Heerin. Gadis itu langsung merona dan sontak melepaskan Kibum. Ia menghampiri meja lipat di mana Ayah Heerin duduk di sana. Pria itu menyuruhnya duduk di hadapannya. Lalu mereka pun mulai bermain catur. Keluarga Heerin yang lain tiba-tiba saja tertarik melihat permainan catur itu. Mereka penasaran juga apa yang ingin dibicarakan kepala keluarga Park itu.

“Apa benar kau yang telah membantu Heerin belajar?”

Kibum menatapnya terang-terangan. Apa ini semacam wawancara layak atau tidaknya Kibum menjadi teman Heerin atau…Kibum menepis pikiran melanturnya. “Benar. Pak Nickhun memintaku membimbing Heerin.”

“Mengapa harus kau?”

Sebenarnya Kibum tidak ingin menyombong, tetapi ia tak memiliki jawaban lain yang lebih baik. “Aku adalah juara umum di sekolah.”

“Hebat!!!” seru yang lain. “Sudah tampan, pintar pula!!”

Ayah Heerin mendesis menyuruh mereka diam. Suasana pun kembali senyap. “Apa kau tinggal dengan orangtuamu?”

“Tidak. Mereka tinggal di Amerika. Aku hanya sendiri di Korea. Tetapi aku memiliki paman yang tinggal di Korea juga.” ia bersyukur karena Paman Lee, Ayah Donghae tidak memutuskan tinggal di luar negeri juga.

“Jadi kau mengurus dirimu sendiri?” Ayah Heerin terperanjat kaget. “Anak seusiamu sudah bisa hidup mandiri, luar biasa.”

Kibum tak sengaja tersipu. “Jika aku tidak mengurus diri sendiri, lalu siapa lagi.”

“Kau benar. Anak lelaki memang harus bisa hidup dengan keras. Aku pun dahulu sepertimu. Aku selalu merasa sangat kesepian. Karena itu setelah menikah dan sukses, aku membangun rumah yang besar dan membawa semua keluargaku agar tinggal satu rumah.”

Kibum mengangguk takjub, tak menyangka apa yang baru saja dipikirkannya sudah dilakukan lebih dulu oleh Ayah Heerin. “Paman membangun kerajaan paman sendiri.”

Ayah Heerin sontak tertawa. “Lebih tepatnya negara kecil.” Ia lalu menoleh ke arah keluarganya, termasuk Heerin. “Anak ini sangat pintar bicara. Aku menyukainya.”

Pipi Heerin memerah. Mengapa dirinya yang merasa tersanjung? Ia merasa gembira sekali karena Kibum bisa berbaur dengan keluarganya. Tadinya ia takut Kibum akan menganggap aneh ia dan keluarganya sehingga ia ragu membiarkan Kibum datang. Tetapi sekarang sepertinya rasa cemasnya tidak beralasan. Kibum berhasil memikat seluruh keluarganya. Jantungnya tiba-tiba saja berdebar kencang.

Kenapa dengan jantungku?

“Kau berencana akan masuk universitas mana?” tanya Ayah Heerin setelah ia puas tertawa. “Dengan otak pintar sepertimu pasti tidak sulit memilih. Apa kau akan kuliah ke luar negeri?”

“Ah tidak, sebenarnya aku berencana masuk Universitas Kyunghee.”

Ayah Heerin tercengang menatapnya seolah Kibum baru saja bicara akan pergi ke planet Mars. “Kebetulan sekali Heerin pun ingin masuk universitas itu. Bagaimana bisa kebetulan seperti ini. ” Ayahnya melirik Heerin dengan sorot penuh arti.

Heerin membelalakkan mata, “Ayah!” serunya dengan pipi merona. “Itu masih rahasia.” Bisiknya pelan.

“Wah, jangan-jangan dia alasanmu memilih universitas dengan level tinggi itu.” Heejin menggoda kakaknya lagi. Heerin menutup wajah dengan kedua tangannya. “Diamlah!”

Heejin tertawa puas melihat kakaknya salah tingkah. Ia langsung diam begitu ibunya menyuruhnya tenang.

“Sebenarnya, bukan aku meragukan kemampuan anakku. Tetapi kupikir dia tidak akan bisa masuk universitas itu dengan kemampuannya sekarang. Kau bujuklah dia agar memilih universitas biasa saja. Aku tidak ingin dia kecewa ketika kelak tak diterima masuk.” kata Ayah Heerin mengejutkan Kibum. Diam-diam Kibum menangkap persetujuan keluarga Heerin yang lain. Bahkan ibunya pun menatap kasihan Heerin. Sementara Heerin, gadis itu terlihat sangat terpukul karena tak mendapatkan dukungan dari keluarga sendiri.

“Kupikir tidak mustahil Heerin bisa diterima di universitas itu. Masih ada waktu bukan untuk mengejar ketertinggalannya. Lagipula menurutku Heerin tidak bodoh. Dia hanya sulit berkonsentrasi. Maaf jika kata-kataku menyinggung Anda, tetapi mungkin karena di rumah Heerin terlalu berisik sehingga dia kesulitan belajar. Berilah kesempatan Heerin belajar dengan tenang. Aku yakin kemampuan belajarnya bisa meningkat.” Kibum hanya mengutarakan apa yang ia lihat dari lingkungan tempat Heerin dibesarkan.

Ayah Heerin mengangguk dan keluarganya yang lain pun setuju bahwa Heerin memang kesulitan belajar karena setiap kali gadis itu akan membuka buku ataupun mengerjakan PR, saudaranya yang lain pasti datang mengganggu.

Detik itu Heerin hanya bisa termangu menatap Kibum. Ia tidak menyangka ada satu orang di dunia ini yang memahaminya bahkan tak perlu ia mengatakan apa yang ia mau. Apa mungkin karena Kibum pintar? Tidak, bahkan orang cerdas pun tidak akan bisa memahaminya jika tidak memiliki hati yang baik.

Kibum adalah pria yang baik. Heerin tahu.

—o0o—

“Maaf, jika keluargaku membuatmu gusar.” Heerin menundukkan kepala saat ia mengantar Kibum ke tempat supirnya menunggu. Acara piknik sudah selesai dan Heerin meninggalkan keluarganya yang sedang membereskan peralatan dan memilih mengantar Kibum yang sudah menyuruh supirnya datang menjemput.

“Bukankah sudah kukatakan tidak masalah? Aku bersedia kemari karena aku bisa menebak seperti apa keluargamu.” Benar sekali. Hari ini ia bersenang-senang. Ia pun tak tahu bahwa hanya mengobrol dan berbagi makanan dengan keluarga bisa menjadi kegiatan yang luar biasa menyenangkan.

“Seperti apa?” Heerin membulatkan mata. Wajahnya tercengang dengan cara yang lucu sekali. Kibum susah payah menahan tawa. Ya Tuhan, Heerin benar-benar memiliki jalan pikiran yang sederhana. Sepertinya dia khawatir sekali Kibum akan berpikiran buruk tentang keluarganya. Tentu saja tidak.

“Mereka luar biasa menyenangkan. Sudah lama aku tidak merasa bahagia karena berkumpul dengan keluarga. Mereka terlalu sibuk bekerja.”

“Kau pasti kesepian.” Heerin menunjukkan raut benar-benar prihatin. “Jika aku bisa, aku ingin membagi mereka padamu.”

“Sebaiknya jangan. Kelak kau akan menyesal.”

“Habiis.. mereka selalu menganggapku bodoh dan aneh. Apa aku memang seperti itu?”

“Tidak. Kau lucu, baik, dan kau hanya terlalu berpikiran sederhana.” Kibum menatapnya penuh arti.

“Apa itu berarti buruk?” Heerin tercengang.

Kibum menggeleng, “Tipe orang sepertimu akan hidup bahagia, aku menjamin karena kau tidak akan memikirkan sesuatu terlalu rumit seperti kebanyakan orang.”

“Aku akan bahagia?” Perlahan, senyum di bibirnya mengembang. Kibum sangat menyukai cara Heerin tersenyum. Sangat murni dan mencerminkan isi hatinya. Sepertinya ia akan merindukan senyum ini saat ia tak bisa melihatnya.

Kibum mengerjap. Tunggu, ia akan merindukan Heerin? Bagaimana bisa ia berpikir seperti itu?

“Aku ingin tahu. Apa menurutmu aku memang tidak akan pernah bisa masuk Universitas Kyunghee?”

Pertanyaan Heerin menyadarkan Kibum. Ia menoleh dan langsung disuguhkan pemandangan raut wajah Heerin yang sedih.

Kedua mata Kibum mengerjap, “Aku tidak bilang kau tidak bisa. Kau hanya perlu perjuangan yang sangat keras untuk bisa diterima di sana. Apa kau begitu yakin ingin masuk universitas itu? Mengapa?”

Heerin menunduk menatap tangannya yang terjalin. “Aku ingin terus bersamamu.”

Deg. Jantung Kibum berhenti berdetak. Mengapa ia terkejut sekali mendengar Heerin mengatakan keinginan untuk terus bersamanya?

“Tak peduli betapa sulitnya masuk universitas itu, aku tidak akan menyerah. Sekarang aku masih bisa berusaha bukan?” Heerin mengepalkan kedua tangannya dengan yakin.

“Mengapa kau ingin terus bersamaku?” Kibum tak merencanakan pertanyaan itu. Mulutnya bekerja dengan sendirinya.

“Apa tidak boleh?” Wajah Heerin menekuk sedih. Bibirnya mengerucut.

Benar, mengapa tidak boleh? Bahkan Kibum si jenius pun kesulitan menjawabnya.

“Bukan tidak boleh, tetapi bagaimana jika aku ternyata tidak masuk ke sana? Katakanlah aku berubah pikiran dan memutuskan belajar di luar negeri. Apa kau akan ikut menyusul ke leuar negeri juga?”

“Apa kau sekarang memutuskan kuliah di luar negeri?” Tanya Heerin sedih. Ia tak percaya Kibum akan pergi ke tempat yang di luar jangkauannya. “Aku tidak bisa mengikutimu ke luar negeri. Aku kesulitan belajar bahasa asing, terutama bahasa Inggris.” Kedua matanya berkaca-kaca. Selama masih di universitas dalam negeri ia masih bisa memperjuangkannya. Tetapi jika ke tempat dengan bahasa yang berbeda, Heerin terpaksa menyerah.

“Tidak, bukan begitu.” Kibum mengibaskan tangan dengan panik menyadari Heerin akan menangis. Ia hanya berandai-andai, tetapi Heerin menganggap ucapannya terlalu serius. Ia lupa bahwa jalan pikiran Heerin berbeda dengan kebanyakan gadis seusianya. Bukan berarti Heerin aneh, dia hanya terlalu polos dan jujur.

“Apa keberadaanku sangat mengganggumu?” Ratap Heerin.

“Tidak, Heerin. Keberadaanmu tidak menggangguku sama sekali. Aku senang bersama denganmu. Kau gadis yang sangat menyenangkan.” Kibum tersenyum tulus.

Tanpa disangka Heerin melongo sambil menatapnya. Kedua pipinya dihiasi semburat merah muda yang membuatnya tampak cantik. Kibum terdiam. Sesuatu dalam diri Heerin telah memikatnya, ia tidak mengerti mengapa ia merasa tertarik menatap gadis ini lambat-lambat. Jantungnya berdebar-debar.

Ini adalah perasaan yang aneh. Kibum mengerjap. “Aku harus pergi.”

Heerin mengangguk tanpa mengatakan apapun. Kibum lekas menghampiri mobilnya. Ia menengok pada Heerin sejenak sebelum ia masuk. Gadis itu masih menatapnya. Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan dirinya? Heerin bisa sangat mengintimidasi dengan cara yang tak terduga.

Sesuatu berdesir kencang ke seluruh pembuluh darah Heerin. Ia tak mengerti kenapa, namun ia yakin Kibum yang membuat jantungnya berdebar kencang, ia mudah sekali tersipu dan rasa bahagia yang aneh saat Kibum memperlakukannya dengan baik.

Tekad Heerin sudah bulat. Ia akan mundur lagi. Ia ingin terus bersama Kibum.

—o0o—

“Apa yang kau lakukan? Seharusnya kau belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi.”

“Yak! Majalah itu baru kubeli kemarin!”

Eunhyuk protes saat Siwon merebut majalah otomotif yang sedang serius ditekuninya. Seperti biasa, di jam istirahat mereka selalu berkumpul di kelas yang sengaja mereka kosongkan. Tempat itu menjadi daerah teritorial mereka setiap istirahat tiba. Saat lapar saja mereka akan pergi ke kafetaria sekolah.

“Daripada membaca majalah lebih baik kau membaca buku!” Sambung Kyuhyun tanpa menatap mereka berdua.

“Kau sendiri hanya bermain game seharian.” Omel Eunhyuk yang tak ikhlas dikatai oleh orang yang menghabiskan waktu senggang sambil bermain game.

“Bagiku ini sama seperti belajar!” Katanya santai.

“Belajar apanya?”

Eunhyuk dan Kyuhyun berdebat tentang makna belajar yang sebenarnya sementara Siwon menjadi sibuk membaca majalah yang tadi disitanya dari Eunhyuk.

“Sepertinya yang benar-benar belajar di antara kita hanya Kibum.” Donghae yang baru saja masuk sambil membawa banyak makanan bersamanya langsung berkomentar tentang keadaan yang dilihatnya.

“Tidak. Dia juga tidak belajar.” Bantah Siwon. “Perhatikan saja.” Dia mengendikkan dagunya ke arah tempat duduk Kim Kibum. Donghae memerhatikan sepupunya itu dengan seksama. Ternyata Siwon memang benar. Kibum memang tampak seperti serius membaca buku, tetapi pandangan matanya kosong.

Kibum sedang melamun! Sangat tidak biasa.

“Hei, Kibum! Kau masih di sini bukan?” Donghae menggerak-gerakkan tangan di depan wajah Kibum. Lelaki itu barulah mengerjap sadar.

“Ada apa?” Kibum menatap Donghae linglung.

Donghae merengut heran sekaligus bingung. “Aneh sekali melihatmu melamun. Kau bukan orang seperti itu. Kau selalu serius, lurus dan tenang. Ini pertama kalinya aku melihatmu kebingungan. Apa sesuatu terjadi?”

“Kudengar kemarin kau berkencan dengan Eunjung.” Tanya Eunhyuk.

Kibum menoleh. Alisnya mengerut menunjukkan ketidaksetujuan. “Aku tidak berkencan dengan Eunjung, kami hanya mengunjungi museum dan melihat-lihat lukisan.”

“Apa kalian bertengkar?”

“Atau kau membuatnya kesal?”

“Apa? Tidak. Kemarin aku pulang lebih dulu dari Eunjung lalu..” Kibum terdiam. Ia merunduk menatap buku yang terbuka di atas meja. Tiba-tiba saja jantungnya berdebar ketika ia teringat apa yang ia lakukan bersama Heerin dan keluarganya. Ia mendesah berat seraya menggelengkan kepala.

“Sebenarnya apa yang terjadi padaku?”

“Kenapa?” Keempat teman-temannya menoleh. Penasaran sekaligus kaget dengan nada frustasi Kibum.

“Sejak kemarin hatiku selalu berdebar-debar setiap kali mengingat semua tentangnya. Aku sudah memikirkannya semalaman. Tetapi aku tak menemukan jawabannya.” Untuk pertama kalinya Kibum tampak kebingungan. Alisnya mengerut tanda bahwa pemuda itu sedang berpikir keras.

Kyuhyun, Siwon, Eunhyuk dan Donghae tercengang lalu mereka saling berpandangan. “Kau berdebar-debar?” Tanya Donghae tak mengedipkan mata.

Kibum mengangguk. “Apa sesuatu yang salah terjadi?”

“Apa itu karena wanita?” Sambung Eunhyuk.

Seketika Kibum teringat Heerin. Bukankah dia juga wanita? Ia hanya merenung, ragu menjawab pertanyaan Eunhyuk. Namun teman-temannya sepertinya sudah bisa menyimpulkan apa yang sedang dialami Kibum.

“Kim Kibum, sikap tidak masuk akalmu itu terjadi karena kau sedang jatuh cinta.” Kata Kyuhyun disambut anggukan setuju ketiga temannya yang lain.

Kibum tercengang. Wajah tampannya pucat pasi seolah Kyuhyun baru saja memberitahunya bahwa ia menderita penyakit mematikan. “Tidak mungkin!” Ia menggeleng, membantahnya. Tiba-tiba saja Kibum bangkit mengagetkan teman-temannya. Dengan sikap linglung Kibum bergegas keluar kelas. Yang lainnya melongo menyaksikan untuk pertama kalinya sikap Kibum yang aneh.

“Aku tidak menyangka Kibum akan mengalami ini.” Ujar Siwon dengan kepala menggeleng.

“Aku salut pada Ham Eunjung yang sudah membuat Kibum jatuh cinta.”

Teman-temannya saling melempar pandangan. Mengapa rasanya mereka tidak yakin Eunjung yang membuat Kibum seperti ini?

Di luar, tanpa sepengetahuan mereka, Ham Eunjung berdiri di samping pintu. Wajahnya semula kesal karena tujuannya datang ke kelas Kibum untuk menegur pria itu mengapa meninggalkan dirinya. Ia melihat Kibum keluar dan hendak mengejarnya, namun sejak ia tanpa sengaja mencuri dengar pembicaraan teman-teman Kibum, senyum di wajahnya merekah.

Jadi Kibum menyukainya, benarkah itu?

—To Be Continued—

106 thoughts on “Miracle Love Story [Chapter 3]

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s