Shady Girl Yesung’s Story [Chapter 3]

Title : Shady Girl Yesung’s Story Chapter 3
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Mystery Case, Romance

Main Cast :
Choi Eunri | Kim Jongwon/Yesung

Support Cast:
Suho as Police | Kang Yoo as Yesung’s Assistant
Kyuhyun – Hyunjung Couple
Henry Lau

Dha’s Speech :
Selamat menikmati ^_^ Aku tahu bikin cerita detektif itu susahnya luar biasa. Ini sudah hasil pemikiran aku sampai otakku ngebul. Syukur kalau kasusnya masih susah ditebak. Kalau ketebak ya ga apa-apa sih. Itu pertanda aku masih amatiran untuk cerita bergenre begini. Hehehehe..
Jadi aku sangat berharap tidak ada bashing, ejekan, hujatan atau komentar menjatuhkan yang ngatain FF ini jelek karena authornya gak bisa bikin cerita misteri yang bermutu. Kalau tidak suka, tekan tombol back saja ^_^

Untuk yang sudah komentar chapter sebelumnya, terima kasih banyak. Semoga Allah membalas kebaikan kalian. Saranghaeyo, muuaaah *kecupbasah*

Happy Reading ^_^

Shady Girl Yesung's Story 3 by Dha Khanzaki

=====o0o=====

CHAPTER 3

BAYANGAN SOSOK OX masih membekas di pikiran Yesung dan terus terbawa hingga seminggu kemudian. Ia masih menebak-nebak, mencari serta menyelidiki identitas Ox yang sebenarnya. Suho sudah meneliti semua yang dipakai Ox saat beraksi di QC Company, namun belum juga mendapat titik terang. Untungnya, Ox tidak berulah lagi setelah mencuri flaskdisk game milik Kyuhyun.

“Hati-hati, kotak itu berisi barang-barang pecah belah.” Yesung menoleh ke arah Eunri, tunangannya yang sedang sibuk memberi komando pada agen pindah rumah yang membantu mereka memindahkan barang ke rumah baru.

Hari ini Yesung resmi hijrah ke rumah yang baru dibelinya. Eunri, Hyunjung serta Kyuhyun ikut membantu. Barang-barang yang harus diangkut ke dalam rumah lumayan banyak karena Yesung membeli beberapa furnitur baru untuk mengisi setiap sudut rumah. Sekitar dua truk besar dan satu truk kecil terparkir di depan rumah. Untuk sejenak, Yesung lupa pada penatnya tentang Ox.

“Hei, Hyunjung. Kau tidak boleh mengangkat yang berat-berat. Kau sedang hamil.” Yesung menghampiri adiknya yang nyaris saja mengangkat kotak yang ditumpuk di samping truk kecil.

“Tapi aku ingin membantu.” Hyunjung mengerucutkan bibir.

“Tidak. Aku akan lebih senang jika kau diam saja. Mengerti?” Yesung menyuruh Hyunjung menepi agar tidak tersenggol oleh orang-orang yang sedang mengangkut barang-barang ke dalam rumah.

“Aku tidak bisa diam saja. Setidaknya beri aku sesuatu untuk dikerjakan.”

“Baik, baik.” Yesung merogoh sesuatu dari dalam jasnya lalu memberikannya pada Hyunjung. “Tolong pegang ini untukku. Aku takut menghilangkannya.”

“Apa ini?” Hyunjung menatap kotak kecil di tangannya. Ia menyadari kotak itu berisi cincin pernikahan Yesung.

Omo.” Ia terkesiap. “Aku akan menjaganya untukmu.” Buru-buru ia memasukannya ke dalam tas dan memutuskan menyusul suaminya yang ditugasi Yesung menata perabotan di dapur.

Yesung menatap kepergian Hyunjung sambil tersenyum. Ia pun ikut mengangkat kotak dan membawanya ke dalam rumah. Ia menurunkan kotak yang ia bawa di dekat tangga dan sejenak beristirahat. Ia merogoh ponsel untuk mengecek apakah ada pesan dari Yoo atau tidak. Eunri muncul entah dari mana dan tanpa disadari mengambil ponsel dari tangannya.

“Hei!” Yesung protes.

“Apa yang kukatakan padamu tadi pagi, tidak ada pesan atau panggilan apapun yang berhubungan dengan kantor. Kau sedang cuti.”

“Tapi..”

“Sudah kembali bekerja saja sana!” Eunri mendorong Yesung.

“Kau berjanji akan memberitahuku jika ada pesan dari Yoo? Dia sedang kutugasi menyelidiki tentang Ox.”

“Kau kan bisa bertemu lagi dengannya besok.” Eunri mengusirnya pergi.

Yesung kembali mengangkut barang-barang sambil mengeluh. Eunri tertawa melihatnya, “kau terlihat seperti kakek-kakek jika sedang mengomel!” Seru Eunri.

“Awas kau nanti!”

Eonni, berhenti menggodanya.” Tegur Hyunjung geli namun menikmati melihat kakaknya menggerutu. Yesung memang terkenal hobi sekali menggerutu.

“Aku suka. Dia sangat lucu saat marah. Hei, ayo bantu aku membereskan barang di kamar.” Eunri mengajaknya ke lantai atas tempat kamar utama berada.

Satu jam kemudian, semua barang sudah diangkut dan tinggal dibereskan saja. Yesung akan meminta Kyuhyun dan yang lainnya saja untuk itu. Ia sudah tidak memerlukan jasa agen pindah rumah lagi.

“Terima kasih atas bantuan kalian semua.” Kata Yesung pada orang-orang dari agen pindah rumah yang satu persatu keluar dari rumahnya. Tanpa sengaja Yesung menabrak salah satu petugas agen pindah rumah.

“Maaf.” Yesung menyesal. Lelaki itu tersenyum, menundukkan kepala sambil membenarkan topi dan kacamatanya. Yesung menunduk minta maaf dan lelaki itu pergi.

Oppa, makan siang sudah siap. Ayo kita makan.” Panggil Eunri dari ambang pintu dapur.

“Baik.” Sahut Yesung. Ia berbalik menuju ruang makan. Baru beberapa langkah ia berhenti, ia memiringkan kepala heran. Entah mengapa rasanya ada yang mengganjal. Mungkin hanya perasaannya saja. Yesung bergegas menuju ruang makan yang berada tepat di sebelah dapur. Di sana sudah duduk Kyuhyun, Hyunjung, dan tunangannya Eunri sedang meletakan sup di tengah meja.

“Ayo.” Eunri membawanya duduk. Yesung takjub melihat banyaknya makanan lezat yang terhidang di atas meja.

“Makan siang yang mewah.”

“Untuk selamatan pindah rumah, kupikir ini termasuk biasa.” Kata Kyuhyun.

Oppa, makanlah yang banyak.” Hyunjung mengisi penuh mangkuk nasi Kyuhyun sampai membentuk bukit kecil. “Kau pasti lelah setelah mendekor dapur Yesung Oppa.”

Yesung memandang dapur barunya. Memang harus diakui, penataannya tidak mengecewakan. “Tidak buruk.”

“Tidak buruk? Ini indah dan rapi.” Sambung Eunri sambil mengeryit. “Akui saja Jaksa Kim, adik iparmu pintar bisa mendekor dapur ini seorang diri.”

“Benar. Kau jarang sekali memujiku. Ah tidak, kau tidak pernah memujiku.”

Yesung tidak enak hati juga ditatap seperti orang jahat oleh mereka bertiga, “Baiklah. Kerjamu bagus.”

Ketiga orang itu langsung tersenyum puas. Yesung memutar bola mata.

“Dari mana kau belajar mendekor?” Tanya Eunri menatap Kyuhyun.

“Aku tumbuh besar bersama seorang arsitek terkenal. Aku belajar darinya.”

“Choi Siwon?” Sambung Hyunjung.

“Ya. Siwon juga pandai dalam mendekor ulang isi rumah. Siapa lagi yang mendekor rumah kita kalau bukan dia.”

Mereka pun makan siang sambil berbincang hangat. Karena lelah, makanan pun terasa sangat enak di mulut. Yesung tidak terlalu ikut dalam perbincangan seputar rencana pernikahan yang dipaparkan Eunri karena ia masih teringat pada kasus pencurian yang harus diselesaikannya. Melirik ke ponsel yang sudah Eunri kembalikan, ia belum mendapat pesan dari Yoo yang sibuk menyelidiki kasus itu bersama Suho dengan mengunjungi semua lokasi kejadian.

Sebenarnya siapa Ox dan apa tujuannya, Yesung masih belum bisa menebaknya. Dengan sedikitnya petunjuk dan bukti, sulit rasanya menangkap pencuri seperti Ox meski hanya ekornya saja.

“Oh ya, Oppa. Bagaimana perkembangan kasus yang kau tangani?”

Pertanyaan Hyunjung membuatnya berpaling. “Masih dalam tahap penyelidikan.”

“Cepatlah tangkap dia, Hyung. Ox sudah mencuri flaskdisk berisi game-ku yang sangat berharga. Rapat sponsor akan dilangsungkan dua minggu mendatang. Aku bingung bagaimana mengatakannya pada mereka.” Kata Kyuhyun.

“Kau tidak terlihat panik.” Yesung mencermati raut wajah Kyuhyun yang tidak seperti orang kehilangan aset sebesar lima ratus juta. Kyuhyun malah terlihat bahagia. “Lagipula bukankah kau jenius, buat saja lagi.”

“Kau pikir membuat game sama seperti membuat telur gulung? Meskipun aku jenius aku butuh waktu satu bulan untuk merampungkannya.”

“Bukankah game yang dicuri masih prototipe?”

“Tetap saja!” Kyuhyun bersikukuh.

“Tapi benar juga, kau tidak terlihat panik.” Eunri setuju dengan Yesung. “Jika itu aku, aku tidak akan bisa tenang sepertimu.”

Kyuhyun tiba-tiba menyeringai. “Kasus pencurian Ox yang melibatkan perusahaanku entah mengapa telah menaikkan harga saham perusahaan. Dengan kata lain aku mendapat untung dari kejadian ini.”

“Pantas saja.” Ketiga orang itu memutar bola mata sambil mendesah.

“Aku penasaran dengan apa yang akan dilakukan Ox pada semua barang curiannya.” Pikir Eunri. “Apa dia akan menjualnya?”

“Aku sudah meminta Suho memeriksa pasar gelap karena berpikir mungkin Ox akan menjualnya karena membutuhkan uang. Tapi tidak, bahkan pasar gelap pun bersih dari jejak Ox.” Yesung sudah menyuruh Suho melakukan itu beberapa hari yang lalu tetapi mereka tetap tidak bisa menemukan satu petunjuk pun tentang pencuri itu.

“Aku sekarang benar-benar mengagumi Ox setelah dia berhasil menerobos sistem keamanan perusahaanku yang merupakan sistem keamanan tercanggih di Korea.” Renung Kyuhyun entah bingung atau sedang menyombong.

Yesung melipat kedua tangannya di depan dada. Alisnya naik sebelah dengan bingung. “Aku heran dengan orang-orang yang terpesona pada aksi Ox. Apa kalian tidak berpikir bahwa dia seorang kriminal. Penjahat seharusnya dibenci, bukan dikagumi.”

“Kau hanya iri karena tidak bisa menangkapnya.” Ujar Kyuhyun yang langsung mendapat tatapan tajam Yesung. Kyuhyun menggigit bibirnya, tetapi ia enggan menarik kata-katanya kembali. Ox memang keren, seluruh Korea mengakuinya.

Sekalipun Yesung ingin sekali rasanya mencekik Kyuhyun karena membela Ox dan mengejek para penegak hukum, namun Kyuhyun benar. Ia kesal karena hingga kini belum berhasil menangkap Ox.

Awas jika aku berhasil menangkapmu! Karena sulit mengungkap identitasnya, dendam kesumat Yesung pada pencuri itu semakin menjadi-jadi. Ulahnya menyusahkan semua orang.

Yesung lagi-lagi merasa bahwa ia melewatkan sesuatu. Firasat aneh ini muncul sejak ia bertabrakan dengan pria dari agen pindah rumah. Yesung memikirkan cara pria itu tersenyum. Aneh, namun terasa familiar. Senyum tenang namun juga angkuh yang mengingatkannya pada….Ox!!!

Mungkinkah? Sekujur tubuh Yesung kaku. Tidak mungkin, Yesung tertawa menyadari kekonyolan jalan pikirannya. Untuk apa Ox kemari? Tepatnya apa yang dilakukan Ox di rumahnya? Ia tidak memiliki perhiasan langka maupun mahal yang bisa dicuri. Ia juga tidak memiliki harta benda dengan harga yang fantastis. Satu-satunya benda berharga yang ia miliki hanyalah cincin pernikahan. Ox tidak mungkin mengincar cincin pernikahannya hanya karena cincinnya juga dihias dengan berlian biru.

Tunggu, berlian biru?

Yesung pucat pasi. Kedua matanya melebar menyadari kemungkinan yang ia abaikan. Demi Tuhan, mengapa ia tidak memikirkan hal ini sebelumnya? Ox tidak mengincar perhiasan langka, mahal ataupun dibuat oleh orang yang sama. Ox mengincar perhiasan yang tersemat berlian yang sama! Tentu saja, semua perhiasan yang dicuri bertatahkan berlian berwarna biru safir!

Oh tidak, cincin pertunanganku pun bertatahkan berlian biru safir! Tidak, Tuhan kumohon jangan..

“Hyunjung, apa cincin pernikahan yang kutitipkan padamu masih kau simpan?” Yesung bertanya dengan suara gemetar dan jantung berdebar.

“Aku menyimpannya di lemari pakaianmu di kamar atas.”

“Apa!!!” Yesung kaget bukan main mendengarnya. “Mengapa kau menyimpannya di sana! Mengapa benda itu tidak kau bawa ke mana-mana?” Yesung amat marah. Bagaimana jika dugaannya benar?

“Kau senapa?” Tanya Eunri heran.

Hyunjung yang dibentak oleh Yesung untuk pertama kalinya merasa sakit hati. Matanya mulai berkaca-kaca. Mungkin karena pengaruh hormon kehamilan ia jadi mudah menangis.

Hyung, kenapa kau memarahi Hyunjung? Dia tidak menghilangkan cincin punyamu, dia hanya menyimpannya di tempat yang lebih aman!” Tegur Kyuhyun.

“Kyuhyun benar. Lagipula aku yang menyuruh Hyunjung agar meletakkan cincin itu di sana.”

“Mwo?” Yesung menatap Eunri tak percaya. Ia membuka mulut hendak memarahi tunangannya juga, tetapi Yesung lekas mengatupkan bibirnya kembali. Ia tak bisa memarahi Eunri. Lagipula ia tidak boleh menghakimi sebelum memastikan bahwa dugaannya benar. Yesung bangkit dari kursinya lalu melesat pergi.

“Oppa!!”

Eunri, Kyuhyun dan Hyunjung tercengang menatap aksi Yesung. “Kenapa dia?” Tanya Kyuhyun. Eunri hanya mengangkat bahu karena ia pun tak mengerti. Tetapi ia yakin sesuatu mengganggu pikiran kekasihnya. Semoga bukan sesuatu yang buruk.

—o0o—

Yesung mengabaikan teriakan Eunri karena sekarang ia dalam situasi genting. Ia menaiki tangga secepat yang ia bisa. Ia harus memastikan bahwa cincinnya memang aman. Setibanya di kamar, dilihatnya tempat itu sudah rapi. Tempat tidur sudah bisa dipakai, namun segala perlengkapan kamar masih tersimpan di dalam kotak kardus dan ditumpuk di dekat lemari.

Lemari! Ia bergegas menghampiri lemari dengan banyak pintu yang baru dibelinya. Ia membuka salah satu pintunya dan terkunci. Yesung mendesah lega. Mungkin ia hanya terlalu paranoid. Ox tidak mungkin datang dan mengambil cincinnya. Benda itu pasti aman di dalam lemari ini. Tapi jangan senang dulu. Ia membuka satu persatu pintu dan mulai panik ketika ia tidak menemukan kotak cincinnya. Tangannya gemetar saat ia menyadari ada satu pintu yang tidak terkunci. Kotak cincinnya pun tak ada di sana.

Tidak, kumohon jangan! Dengan tangan gemetar ia merogoh senter sinar hitam yang ia pinjam dari Suho ketika ia ingin melihat sendiri tulisan tangan Ox di rumah Eunhyuk tempo hari. Ia menyalakan senter itu dan menyoroti seluruh bagian lemari yang tak terkunci itu sambil berdoa dalam hati semoga ia tidak menemukan goresan yang berpendar membentuk huruf O dan X.

Kedua matanya terbelalak dan jantungnya terasa jatuh ketika ia menemukan tanda itu di pintu lemari.

Ya Tuhan, betapa kaget Yesung bahwa dugaannya tepat. Ox datang ke rumah ini dan mencuri cincin pernikahannya!

Ox keparat!

Dan bodoh sekali mengapa ia tak mengenalinya lebih cepat tadi ketika ia bertabrakan dengan pemuda pemilik senyum misterius itu! Ia telah bertemu pelakunya. Celakanya, karena ia tak memerhatikan, ia lupa seperti apa wajahnya. Hanya caranya tersenyum yang teringat dengan jelas.

Yesung menyandarkan punggungnya ke lemari. Sekujur tubuhnya lemas. Bagaimana ia menjelaskannya pada Eunri bahwa cincin pernikahan mereka digasak Ox juga? Pernikahannya sudah terancam semenjak ia ditugasi untuk menangani kasus Ox, sekarang nasib pernikahannya benar-benar berada di ujung tanduk karena cincin mereka hilang. Bagaimana jika Eunri menolak memakai cincin lain? Bagaimana jika Eunri kexewa? Bagaimana…

Aku bisa gila! Yesung memukul lantai. Semua ini karena Ox! Tiba-tiba saja hatinya dipenuhi nafsu yang sangat besar untuk menangkap pencuri itu. Ia amat marah dan ingin sekali mencekik Ox.

—o0o—

Eunri sangat menyadari Yesung menjadi pendiam sejak Yesung kembali ke ruang makan dengan wajah pucat seperti baru saja mendengar bahwa seseorang telah meninggal dunia. Saat ia bertanya ada apa, Yesung langsung tersenyum dan berkata bahwa semuanya baik-baik saja.

Tapi Eunri tahu sesuatu telah terjadi. Ia tidak berani menerka-nerka karena khawatir keadaan yang membuat kekasihnya itu gelisah jauh lebih buruk dari yang ia duga. Ia hanya bisa berdoa semoga masalah apapun yang sedang dihadapi Yesung bisa selesai secepatnya.

“Makan malam di rumah orangtuaku besok.” Eunri mengingatkan sekali lagi sebelum ia turun dari mobil. Karena terlalu sibuk merenung, ia tidak menyangka sudah tiba di depan apartemennya.

Yesung tersenyum sambil mengangguk, tapi senyum itu tidak sampai pada matanya. “Aku tidak akan melewatkannya. Kau tenang saja.”

Eunri diam menatapnya. Yesung menyadari Eunri ingin bertanya sesuatu tetapi gadis itu bimbang. “Ada apa?”

“Tidak.” Eunri mendesah. “Pikiranku sedang melantur.”

“Apa yang kaupikirkan?” Yesung menyentuh dagunya. Ekspresinya begitu lembut dan tanpa beban sampai Eunri merasa bahwa pikirannya memang terlalu berlebihan. Yesung mungkin hanya lelah. Ia pun lelah setelah seharian membereskan perabotan di rumah mereka kelak.

“Bukan apa-apa.” Senyum ringan Eunri terbit. Ia tak mau kekhawatiran tak beralasannya membebani Yesung.

“Kau yakin?”

“Emm..” Eunri maju untuk memberikan Yesung ciuman selamat malam di bibirnya. Yesung memberinya respon yang tak terduga, mereka berciuman hingga ia merasa napasnya habis. Pipinya merona. Ia mengucapkan selamat malam sekali lagi setelah itu ia turun.

“Telepon aku jika sudah sampai rumah.” Kata Eunri dijawab dengan anggukan semangat Yesung. Ia melambaikan tangan sampai mobil kekasihnya tak terlihat lagi. Setelah itu ia bergegas masuk apartemennya.

Ketika ia membuka pintu apartemen, suara mesin fax menyambutnya. Eunri mengerang menyadari semua fax yang masuk adalah dokumen dari kantornya. Karena hari ini ia cuti, seluruh asistennya mengirim dokumen yang perlu ia periksa dan setujui ke apartemennya.

“Aku harus lembur malam ini.” Dengan kesal Eunri melempar tasnya ke atas sofa. Ini memang sudah tugasnya sebagai pimpinan sebuah majalah. Sesekali ia pernah berpikir untuk keluar dari tanggung jawab ini dan mencari pekerjaan lain, tetapi ia tidak tahu harus melakukan apa untuk hidup. Ia tak memiliki bakat khusus yang bisa ia gunakan untuk mencari uang.

Sudahlah, lebih baik sekarang ia jalani saja apa yang ada. Mengeluh terus tidak akan membuat tugasnya selesai.

Eunri menyalakan televisi agar ia tak jenuh saat bekerja. Kebetulan, channel yang ia tonton sedang menayangkan berita tentang Ox. Narasi seru yang diucapkan pembaca berita membuat Eunri mendongak menatap layar. Gambar di televisi menunjukkan kondisi TKP dan bagaimana cerdiknya Ox menerobos seluruh sistem keamanan dan hingga kini pihak berwenang masih belum bisa mengungkap identitas pencuri itu karena sedikitnya petunjuk.

“Kami masih berusaha menangkap pencuri yang menamakan dirinya Ox ini. Kami pun masih belum bisa memastikan apa motif pelaku dan benda apa lagi yang akan diincarnya. Kami hanya berharap Ox tidak lagi melakukan aksinya yang sungguh meresahkan masyarakat.” Ungkap seorang polisi muda bernama Kim Joonmyun yang bertugas menangani kasus itu.

“Dis terlalu muda untuk menangani kasus sebesar ini.” Eunri mengerjap. Dengan kata lain polisi itu bekerja dengan Yesung sekarang. Biasanya Yesung selalu mengeluh jika bekerja dengan polisi muda karena mereka kurang berpengalaman. Tapi sepertinya polisi bernama Kim Joonmyun ini berbakat karena ia tak pernah mendengar kekasihnya mengomel tentangnya.

Berita itu pun menampilkan cuplikan rekaman cctv yang menunjukkan sosok si pelaku berharap masyarakat bisa mengenalinya dan membantu penyelidikan polisi. Eunri mengeryit melihat penampakan Ox.

“Postur tubuhnya seperti Henry..” pikirnya spontan. Eunri buru-buru menepis pikirannya. “Mana mungkin, bodoh! Henry mana sempat berkeliaran untuk mencuri sementara aku membebaninya dengan banyak pekerjaan. Lagipula wajahnya mudah sekali dikenali. Tidak, sosok itu bukan Henry.” Akhirnya ia menjadi fokus mendengarkan berita yang kini sedang menampilkan opini masyarakat. Kebanyakan dari mereka berharap agar Ox segera ditangkap. Tetapi tak sedikit yang menyatakan kekaguman pada Ox. Benar kata Yesung, menurut sebagian orang aksi Ox sangat mempesona.

“Aku tidak menyangka kasus Ox menjadi seheboh ini.” Desahnya. Sepertinya akan memakan waktu yang sangat lama untuk mengungkap siapa pelakunya. Eunri mendadak khawatir dengan nasib pernikahannya. Apa pernikahan mereka bisa terlaksana sesuai dengan rencana?

Tepat ketika ia memikirkan Yesung, ponselnya berdering. “Hai.” Eunri tahu ini adalah panggilan dari Yesung.

“Aku sudah tiba di rumah dengan selamat. Kau belum tidur?”

Eunri sontak menatap tumpukan dokumen yang harus ia periksa. “Belum. Aku harus lembur malam ini.” Desahnya lelah.

“Tugas dari kantor?”

“Ya.”

“Jangan memaksakan diri. Jika sudah lelah istirahatlah.”

“Akan kuusahakan. Kau juga beristirahatlah. Bukankah tugasmu esok hari banyak sekali. Ada seorang pencuri yang harus kau tangkap.” Candanya.

Sepertinya humor Eunri kali ini tidak berjalan lancar karena Yesung justru menghela napas. “Kau benar. Aku sangat sibuk. Pencuri menyebalkan.”

“Kau pasti bisa menyelesaikan kasus ini. Kau adalah jaksa yang hebat, ingat.”

Eunri bisa merasakan Yesung tersenyum. “Terima kasih. Kau adalah penyemangat nomor satuku. Entah bagaimana hidupku jika aku tidak bertemu denganmu. Aku sangat bersyukur kau bersedia menjadi istriku.”

Mengapa tiba-tiba Eunri ingin menangis? Kata-kata Yesung sungguh menyentuh hati. “Aku tak akan menyesalinya.” Suaranya menjadi dalam. “Baiklah. Ini sudah malam. Aku harus membiarkanmu istirahat.”

“Ingat, jangan bekerja sampai larut malam.”

“Yes, sir!” Seru Eunri lalu mereka tertawa. Ah, rasanya lega sekali mendengar suara tawa Yesung. Ia sangat khawatir Yesung stress karena kasus yang sedang ditanganinya. Ia bersyukur Yesung masih bisa tertawa gembira.

—o0o—

“Bagaimana acara pindah rumahmu, Jaksa Kim?” Tanya Yoo ketika Yesung tiba di kantor esok hari. “Ya Tuhan, wajahmu pucat. Apa semalam tidak tidur nyenyak?”

Tentu saja tidak! Dengus Yesung dalam hati. Tetapi ia malah tersenyum. “Tidak. Aku hanya masih lelah.” Ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan cincinnya yang hilang dicuri Ox. Ia bingung bagaimana menjelaskannya pada Eunri. Ia harus memberitahukannya pada Suho dan Yoo, tetapi ia menolak berita ini bocor ke media.

“Maaf aku datang terlambat. Sungguh sulit menghindari wartawan yang mengekoriku terus-menerus.” Suho langsung mengeluh ketika tiba di ruangan itu. “Selamat pagi semua.” Ekspresinya berubah ceria begitu bertatapan dengan Yesung dan Yoo. “Kita mulai bekerja dari mana?” Semangatnya pun belum berubah.

Yesung mendesah. Karena Suho bertanya, dilemanya kini kian besar. Ia bergegas menutup pintu ruangan agar tidak ada yang bisa menguping. Ia lalu memandang asisten dan polisi itu yang keheranan.

“Sebenarnya..semalam Ox mencuri lagi.” Desah Yesung pahit.

“Apa!” Keduanya kompak berseru. “Bagaimana kau bisa mengetahuinya? Aku belum menerima laporan apapun.” Serobot Suho. Ekspresi wajahnya terkejut dan panik.

“Karena..” Yesung duduk di kursinya. “Aku yang menjadi korban Ox kali ini.”

“Kau bercanda, Jaksa Kim!” Yoo menatap Yesung nanar. Yesung dengan berat hati menggeleng. “Aku tidak bercanda.”

Suho mendekati Yesung. “Benda apa yang dicuri Ox?”

“Benda yang sangat penting untukku. Cincin pernikahanku dan Eunri.” Yesung sangat memelas ketika mengatakannya.

“Oh tidak!!”

“Itu bencana!”

Suho dan Yoo seketika menunjukkan raut histeris yang sama. “Pernikahannya sekitar dua bulan lagi, bukan?” Yoo terdengar lebih bingung dan panik.

“Itulah dilema yang membuatku resah semalaman. Sekarang tak ada pilihan lain lagi. Kita harus menangkap Ox segera.” Yesung meremas tangan, ekspresi wajahnya menggelap. Suho mengangguk tegas, tertular tekad Yesung.

“Bagaimana jika Ox sudah tertangkap, seluruh barang yang dicuri tak berhasil ditemukan?” Yoo justru berpikir yang tidak-tidak.

“Tidak. Jika kita temukan Ox, dia pasti memiliki seluruh barang curian karena dia belum menjualnya.” Suho tiba-tiba sangat bersemangat. “Jaksa Kim, apa kau tahu mengapa Ox sampai mencuri cincin pertunanganmu? Apa benda itu memiliki keunikan khusus?”

“Aku sudah memikirkannya. Ox mengincar cincin pernikahanku karena benda itu memiliki berlian biru seperti semua berlian yang dicurinya. Mungkin dia mengincar seluruh perhiasan dengan berlian biru.”

“Kau benar!” Suho menepukkan tangan menyadarinya. “Tapi bagaimana dia tahu kau memilikinya juga?”

“Entahlah. Mungkin dia melihat cincin itu di situs milik sahabat tunanganku, Youngjae yang berprofesi sebagai desainer. Kebetulan suaminya, Heechul adalah desainer perhiasan. Youngjae mengunggah foto kami saat Eunri memakai cincin itu beberapa minggu lalu. Karena itu, Yoo!”

“Ya, Jaksa Kim!” Yoo menegakkan tubuh, siap menerima perintah.

“Selidiki berlian yang tertempel di semua perhiasan yang dicuri. Termasuk cincin milikku. Kau bisa menanyakannya pada toko perhiasan yang menjualnya.”

“Baik!” Yoo langsung bergegas menuju mejanya, memulai penyelidikan.

“Lalu apa yang akan kita lakukan?” Tanya Suho. Yesung tersenyum miring.

“Kita selidiki kasus ini lebih teliti lagi. Terutama rekaman cctv yang menunjukkan penampakan Ox. Pasti ada petunjuk yang bisa menuntun kita mengungkap identitasnya.”

—o0o—

Malam ini jam 7 di rumah orang tuaku. Jangan lupa.

Eunri mengirim pesan itu pada Yesung sambil tersenyum. Ia baru saja keluar dari ruang rapat. Seperti biasa, Yesung memang harus diingatkan tentang makan malam hari ini. Ia yakin tunangannya itu pasti lupa karena terlalu keasyikan dengan pekerjaannya.

Balasan dari Yesung datang.

Tentu saja aku ingat, sayang. Apa kau ingin kujemput?

Tidak. Kita bertemu di sana saja.

Tak mau menyusahkan, Eunri sengaja menolak. Lagipula arah kantornya berlawanan dengan arah rumah orangtuanya sehingga Yesung harus memutar jika ingin menjemputnya.

“Eunri, hei!!”

Henry memanggil namanya dengan heboh ketika Eunri melintasi ruangan yang sering dipakai untuk studio foto. Dengan kata lain, di sanalah ‘kuil suci’ milik Henry di mana seluruh potret mengagumkan dihasilkannya. Pria tampan itu duduk di salah satu meja sambil memakan burger sementara seorang editor sibuk mengedit foto-fotonya.

“Bukankah sudah kukatakan dilarang makan sambil bekerja. Remah-remah makananmu bisa merusak dokumen-dokumen penting!” Omel Eunri sambil berkacak pinggang ketika mendekati pria itu. Henry justru terkekeh geli.

“Aku tidak sedang bekerja. Lagipula aku lapar. Karena kau selalu cerewet setiap kali kita mendekati deadline, aku berangkat kerja lebih awal tanpa sempat sarapan.”

“Aku ingin tahu seawal apa kau berangkat. Rekor keterlambatanmu hampir menyaingi Youngjae! Ah, sayang dia sudah keluar. Jadi mungkin sekarang kau yang selalu terlambat datang.”

“Jadi kau ingin memecatku?” Henry pura-pura sedih.

“Tidak akan pernah! Awas kalau kau memutuskan mengundurkan diri!” Eunri melotot. Ia sudah gila jika ia memecat karyawan seberbakat Henry. Pria itu adalah aset paling berharga milik perusahaannya. Majalahnya disukai karena Henry membuat banyak foto bagus yang sanggup memikat pembaca.

Henry lagi-lagi tertawa. Sepertinya suasana hati pria ini sedang bagus. Ia tiba-tiba teringat tentang berita pencurian yang dilihatnya tadi malam. Sosok si pelaku mengingatkannya pada Henry.

“Kau tidak berkeliaran untuk mencuri akhir-akhir ini, bukan?” Ia bertanya penuh selidik, matanya menyipit.

Raut wajah Henry berubah. Pria itu melongo menatap bosnya. “Mengapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu? Apa tampangku mirip pencuri?” Henry bingung sekali. “Kau sendiri tahu aku selalu menemanimu lembur. Bagaimana bisa aku mencuri di saat pekerjaanku sangat menumpuk dan kau selalu menjadi tante-tante cerewet jika aku terlambat menyelesaikan tugasku.”

“Apa, tante-tante cerewet?” Eunri tersinggung. Apa ia tampak setua itu? Memang Henry lebih muda darinya, tapi tante-tante.. Astaga..

“Ups,” Henry menggigit bibir, merasa bersalah tapi tidak menyesal sama sekali sudah mengatai Eunri.

“Baiklah, baiklah.” Eunri mengalah setelah menyadari editor yang sejak tadi serius mengedit foto diam-diam tertawa. “Maaf karena sudah menuduhmu sebagai pencuri. Tapi jika lain kali kau memanggilku tante-tante lagi aku akan memotong gajimu!” Sambil mengibaskan rambut, Eunri melenggang pergi.

“Ya! Kumohon jangan gajiku!” Teriak Henry.

—o0o—

Yesung mengurut pelipis. Makan malam bersama orang tua Eunri akan dimulai satu jam lagi dan dilema yang ia rasakan semakin besar. Ia tidak yakin apakah ia bisa tetap menyembunyikan masalah cincin yang hilang dicuri Ox. Ia tidak pandai berakting, terutama di depan Eunri. Bagaimana jika keluarga Eunri kebetulan menanyakan tentang cincin itu. Bisa habis Yesung. Ia hanya berharap makan malam kali ini keluarga Eunri tidak membahas masalah pernikahan.

Melirik jam, sudah saatnya ia pergi. Ia berpamitan dengan Yoo dan Suho. “Jangan pulang terlalu malam.” Tutur Yesung. Keduanya menjawab dengan kompak. Meskipun sudah malam, mereka sepertinya masih semangat. Ia jadi agak tidak enak hati meninggalkan mereka. Jika saja ia tak memiliki janji, ia memilih menemani mereka. Tetapi karena ia tak ingin mengecewakan Eunri, ia harus pergi.

Setengah jam kemudian ia sudah tiba di kediaman orangtua Eunri. Langkah pertama ia memasuki rumah, adik Eunri, Eunjo menyambutnya.

Hyung, kau datang juga!” Choi Eunjo masih mengenakan seragam SMP-nya saat pemuda itu terburu-buru menghampiri Yesung dengan gembira.

“Hei!” Yesung tersenyum lalu merangkul Eunjo. “Whoaa, kau semakin tinggi saja. Bagaimana kabarmu?”

“Baik, Hyung. Ayo masuk, Ayah dan ibu juga si nenek sihir itu sudah menunggu kita di ruang makan.” Eunjo mengajaknya masuk. Dia menjadi penggemar berat Yesung sejak ia menyelamatkannya dari penculik beberapa tahun yang lalu. Eunjo menjadi lebih patuh padanya daripada pada Eunri, kakaknya sendiri. Yesung pun menyukainya karena ia tak pernah memiliki adik laki-laki. Lagipula Eunjo sangat pintar dan jujur, kedua sifat itu semakin membuat Yesung menyayanginya.

“Eunjo, kau harus belajar menghormati kakakmu. Berhenti memanggilnya nenek sihir.” Tegur Yesung sambil mengulum senyum.

“Lalu harus kupanggil apa wanita cerewet dan suka sekali mengomel seperti Nuna?”

“Anak nakal! Itu karena kau susah sekali diatur!” Entah bagaimana caranya tiba-tiba saja Eunri sudah berdiri menghadang jalan mereka. Sorot matanya menusuk, memancarkan kejengkelan. Eunjo sontak merapatkan dirinya kepada Yesung.

Hyung, kau lihat sekarang mengapa aku memanggilnya nenek sihir?”

“Choi Eunjo!” Eunri meringsek maju untuk menjewer telinganya tapi Yesung dengan bijaksana menengahi.

“Kalian berdua berhentilah. Sekarang sudah waktunya makan malam. Kasihan Ayah dan Ibu sudah menunggu di dalam.” Yesung mendorong kakak dan adik itu agar berdiri berjauhan lalu membimbing keduanya menuju ruang makan.

Orangtua Eunri menyambut kedatangannya dengan gembira. Yesung memberi salam pada keduanya lalu duduk di kursi samping Eunjo yang lebih dulu menempati kursi terdekat dengan Ayahnya yang duduk di kepala meja.

“Ribut-ribut apa tadi di luar?” Tanya Ibu Eunri heran. Wanita itu tampak cantik untuk wanita yang berusia di atas lima puluh tahun.

“Kalian bertengkar lagi?” Tanya Tuan Choi sambil melirik kedua anaknya yang langsung salah tingkah. Pria itu pun terlihat kuat dan bugar meski usianya sudah menginjak enam puluh. Dia adalah tipe kepala keluarga yang difavoritkan Yesung karena masih bisa mengontrol anak-anaknya meskipun mereka nakal dan susah diatur.

“Eunjo yang memulai lebih dulu!” Eunri menuding adiknya dengan sumpit.

Nuna, kau juga menyebalkan.” Cibir Eunjo.

“Ya!!”

“Sudah cukup.” Relai sang ibu. “Apa kalian tidak malu bertengkar di saat ada tamu? Eunri, kau sudah akan menikah sebentar lagi. Bersikap dewasalah dan mengalah pada adikmu.”

“Dengar itu, nenek!” Ledek Eunjo sambil tertawa.

“Kau juga. Hormatilah kakakmu.” Tegur ibu. Eunjo hanya mendengus dan Eunri tersenyum puas. Yesung tersenyum dengan situasi ini. Ia dan Hyunjung jarang sekali bertengkar seperti ini karena Hyunjung adalah tipe adik yang penurut sehingga Yesung yang lebih sering mengganggunya sampai Hyunjung jengkel.

“Yesung, maafkan kedua anakku. Mereka pasti membuatmu kesal.” Sesal ibu Eunri sambil menatapnya.

“Tidak masalah.” Yesung tersenyum.

“Kau pasti selalu bertengkar juga dengan adikmu.” Kata Eunjo.

“Sebenarnya tidak. Hyunjung dan aku sangat akur dan jarang sekali beradu argumen kecuali aku membuatnya kesal lebih dulu.”

“Kau membuat Hyunjung kesal?” Eunri menahan tawa. Membayangkan gadis semanis Hyunjung jengkel rasanya lucu.

“Yeah, kau tahu aku terlalu protektif padanya dan dia akan jengkel padaku setiap aku mulai mengusir beberapa pria yang mencoba mendekatinya. Kebanyakan karena aku tidak menyukai mereka.”

“Ya Tuhan, Kyuhyun pasti hebat karena bisa menaklukanmu.”

Yesung hanya tersenyum kecil. Sebenarnya ia masih tidak mau mengakui bahwa Kyuhyun memang sudah mengalahkannya secara mental. Pria itu memiliki jiwa petarung yang mungkin terbentuk karena otaknya selalu dipakai untuk merancang pertarungan yang sulit dan menantang dalam game buatannya.

“Tapi bagaimana pun kedua orangtuamu pasti bahagia karena tidak pernah mendengar kalian bertengkar.” Sahut Ibu.

“Mereka memang bahagia.” Yesung setuju.

“Bagaimana kabar mereka?” Kali ini Ayah Eunri yang bertanya.

“Mereka baik, tetapi Ibu akhir-akhir ini sering mengeluh karena aku akan meninggalkan rumah setelah menikah.”

“Semua ibu seperti itu, terutama saat anak-anak mereka akan menikah. Istriku saja akhir-akhir ini sering mengomel karena khawatir Eunri tak bisa menjadi istri yang baik.” Jelas Ayah.

“Itu karena aku merasa bersalah pada suami Eunri jika dia tidak bisa apa-apa. Itu berarti aku tidak mendidik putriku dengan baik.”

Eunri menunduk malu. Benar kata Ayah, belakangan ini Ibu seringkali meneleponnya dan menyuruhnya belajar memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah yang lain. Awalnya ia mengabaikannya, tetapi setelah dipikirkan saran-saran Ibu memang benar.

Yesung hanya tersenyum. Ia tak pernah menuntut Eunri agar bisa memasak segera setelah mereka menikah. Semua keterampilan sebagai ibu rumah tangga itu akan bertambah baik seiring berjalannya waktu.

Makan malam pun berlangsung. Sejauh ini Yesung tenang karena tidak ada pembicaraan seputar cincin pernikahan. Eunri hanya membahas tentang dekorasi dan makanan yang akan dihidangkan dalam pesta resepsi.

“Bagaimana dengan gaun pengantinmu?” Tanya Ibu Eunri. Yesung terlalu kaget sampai ia tak jadi menyuapkan udang ke dalam mulutnya.

“Sudah selesai. Youngjae membuatnya sangat sesuai dengan cincin pernikahan kami. Benar bukan?” Eunri melemparkan pandangan pada Yesung. Pria itu gelagapan. Keringat dingin bermunculan di pelipisnya. Reaksi yang sangat aneh.

“Ya. Gaunnya sangat indah.” Yesung mengunyah makanannya dengan gugup. Eunri memiringkan kepalanya heran. Ketika pria itu mengetahui Eunri sedang menatapnya penasaran, Yesung memalingkan pandangan ke arah lain. Mengapa sikap Yesung aneh sekali?

Apa sesuatu telah terjadi?

—TBC—

159 thoughts on “Shady Girl Yesung’s Story [Chapter 3]

  1. Ahhhhhh…..maksudnya OX apa?????? Apa OX adalah org yg dikenal yesung oppa????apa mngkin bnr henry sperti dugaan eunri!!! Good job!!nextttt

  2. Yesung kenapa nggak langsung jujur aja sama Eun-Ri? Khawatirnya kalau Eun-Ri tau belakangan, malah merasa kecewa. Biar gimana juga kan itu cincin buat di hari pentingnya mereka. Sayang kalau Yesung nggak terbuka gitu;;)
    Tapi tetep keren kok Kak! Aku penasaran sama si Ox itu. Apa jangan2 itu Henry? Entahlah, liat kelanjutannya aja , hihi

  3. Ksian abang Yesung jd trtekan gini,, krna msalah cincin,, sbaiknya jujur aja,,smg Eunri bsa mnrima klo cincinnya hilanga…

  4. Wah, skarang gilirannya bang yesung yang kemalingan sama si OX..
    Kasian bang yesung, galau gara-gara cincin pernikahannya hilang..
    Mendingan jujur bang, biar plong hatinya 😃
    Makin penasaran siapa sebenarnya si OX ini…

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s