Shady Girl Yesung’s Story [Chapter 2]

Title : Shady Girl Yesung’s Story Chapter 2
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Case

Main Cast :
Choi Eunri | Yesung/Kim Jongwon

Support Cast :
Suho as Police | Kang Yoo as Yesung’s Assistant
Lee Hyukjae/Eunhyuk

Dha’s Speech :

Warning! Banyak typo!
Kangen juga gak ama FF ini. Lama banget ya baru dilanjut ^^
Aku baru dapet mood lagi nih. hehehhe..
kalau ceritanya jelek jangan dibash ya. Sumpah mati deh, bikin cerita misteri tuh susah banget. Tanya deh ama mereka yang udah jadi maestro cerita misteri.

Oh ya, special Yesung version, ceritanya minim romance yah. Adegan romantis Eunri-Yesung cuma selingan doang. Jadi jangan protes ^_^

Happy Reading..

Shady Girl Yesung's Story by Dha Khanzaki

====o0o====

CHAPTER 2

CHOI EUNRI MENATAP nisan yang berderet rapi itu dengan perasaan tak menentu. Hari itu Yesung mengajaknya berziarah ke makam orang tua kandungnya yang telah meninggal dunia. Tentu saja ia mengetahui semua tentang Yesung termasuk sejarah masa lalunya.

Kedua orang tua Yesung meninggal saat usianya masih sangat kecil. Ayah Yesung adalah seorang polisi dan ibunya pengacara. Mereka berdua meninggal ketika terjadi perampokan besar 25 tahun yang lalu.

Yesung saat itu baru berusia 7 tahun diadopsi oleh Na Jaehoon yang merupakan teman terdekat Ayahnya. Yesung menolak mengganti marga sebagai penghormatan atas dedikasi Ayah kandungnya dalam menegakkan keadilan. Itu sebabnya mengapa Yesung yang notabene-nya anggota keluarga Na memiliki marga yang berbeda dengan keluarga itu. Ia hanya anak angkat, namun dianggap lebih dari itu oleh keluarga barunya. Yesung amat mencintai keluarganya yang sekarang.

“Aku masih ingat bagaimana wajah kedua orang tuaku.” Yesung bergumam setelah mereka selesai berziarah. Eunri menoleh. Mereka kembali ke mobil sambil berpegangan tangan.

“Kebaikan mereka tidak pernah aku lupakan. Mereka tewas dalam keadaan terhormat, aku tahu itu. Karenanya aku tidak bersedia mengganti margaku.”

Eunri tersenyum, “Karena itu kau ingin menjadi seorang jaksa? Tekad untuk menegakkan keadilan mengalir dalam darahmu.”

“Yah, tetapi bagiku Ayah yang sebenarnya adalah Na Jae Hoon.” Yesung menatap Eunri sambil tersenyum penuh arti. “Dia membesarkanku penuh kasih sayang, memperlakukanku seperti anaknya sendiri dan memberiku fasilitas pendidikan yang layak sehingga aku bisa meraih posisiku sekarang. Tanpa jasanya, aku tidak akan pernah ada di sini, menggenggam tanganmu seperti ini.”

Eunri amat terharu mendengarnya, “Kau ingat saat pertama kali kita bertemu?”

Yesung tertawa, “Tentu saja. Saat itu kau panik karena adikmu diculik.”

“Tapi kau berhasil menemukan adikku. Karena itu aku jatuh cinta padamu.”

Peristiwa itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Eunri dan ibunya kalang kabut ke kantor polisi untuk melaporkan bahwa Choi Eunjo, anak bungsu keluarga mereka diculik. Yesung yang saat itu ada di sana untuk membantu polisi mengurus berkas kasus pembunuhan, memutuskan membantu karena tidak tega melihat cara ibu Eunri menangis. Yesung melakukan penyelidikan dan dua puluh empat jam setelahnya, Eunjo berhasil diselamatkan. Ternyata pelakunya adalah mantan pegawai di perusahaan Ayah Eunri yang dendam karena dipecat dengan alasan yang tidak jelas. Padahal Ayah Eunri sudah memberitahu pegawai-pegawainya bahwa akan ada restrukturisasi di perusahaan untuk menghemat biaya operasional sehingga beberapa posisi yang tak begitu produktif terpaksa ditiadakan.

“Apakah kau jatuh cinta padaku sejak hari itu?”

“Tentu saja.” Eunri memeluk lengan Yesung. “Aku ini sangat pemilih untuk urusan kekasih. Aku hanya akan mengencani pria hebat. Karena it u bersyukurlah karena aku sudah memilihmu.”

“Lihat siapa ini yang bersikap begitu sombong?” Yesung mengacak-acak rambutnya.

“Yaak, aku menghabiskan waktu setengah jam untuk menata rambutku!”

Yesung tertawa, “Kenapa aku bisa jatuh cinta pada wanita yang menghabiskan waktu lebih banyak untuk bersolek daripada mengurus rumah.” Meskipun begitu bukan berarti Eunri seorang pemalas. Dia adalah wanita paling gigih dan pekerja keras yang Yesung kenal. Semenjak kursi pimpinan Ribbon–redaksi majalah fashion terkemuka yang didapat Eunri dari ibunya–jatuh ke tangannya, Eunri bekerja keras memajukan perusahaan itu. Ketekunannya dan kecakapannya memimpin berhasil membawa Ribbon Magazine menjadi majalah fashion nomor 1. Yesung amat bangga padanya.

“Sebagai pimpinan majalah fashion, tentu penampilanku harus menjadi panutan.” Kata Eunri.

“Baikah, aku kalah lagi berdebat denganmu.” Yesung mencubit pipi Eunri sambil tertawa ringan. “Kau tidak sedang sibuk bukan?”

“Kenapa memangnya?” Eunri berkedip heran.

“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.” Wajah Yesung menjadi berseri-seri.

—o0o—

Oh no, kau pasti sedang bercanda denganku.” Eunri mengomel, namun bibirnya tersenyum dan suaranya pun mengandung ledakan suka cita.

“Tidak. Rumah ini memang rumah yang akan kita tempati setelah menikah.” Yesung mendekati Eunri yang masih terpesona dengan rumah mungil berlantai dua di depan mereka. Ia memang mengharapkan ekspresi ini. “Bagaimana, kau suka?”

Eunri tidak mengalihkan tatapannya sama sekali dari rumah masa depan mereka. “Suka? Aku mencintai rumah ini! Sejak dulu aku selalu membayangkan tinggal di rumah seperti ini.” Eunri memeluk Yesung. Ia tak menyangka Yesung membeli rumah untuk hadiah pernikahan mereka.

“Sejak kapan kau membeli rumah ini?” Mata Eunri berbinar-binar, menghangatkan hati Yesung. Membuat pria itu merasa puas karena telah memilih rumah dengan benar.

“Satu bulan yang lalu. Surat-suratnya masih perlu diurus tetapi minggu depan kita sudah bisa menempatinya.”

“Benarkah?” Keceriaan semakin memancar di wajah Eunri. Yesung menyeringai lebar melihatnya.

“Ya. Bagaimana kalau kau ikut pindah bersamaku di sini. Pernikahan kita hanya tinggal tiga bulan lagi bukan?”

“Kau sungguh penuh muslihat.” Eunri mencubit lengan Yesung gemas. Matanya menyipit. “Aku tahu apa yang akan kau lakukan jika kita berdua saja di rumah itu.”

Ekspresi Yesung menggelap. Secara mengejutkan Yesung merapatkan tubuh mereka, “kau pikir apa yang akan terjadi?”

Kenapa suasana berubah menjadi sensual? Eunri mengerjap, ia gugup. Ia ragu-ragu mendongak dan langsung memalingkan pandangan menyadari Yesung menatapnya seduktif. “A-apa saja.”

“Kau ingin masuk agar kita bisa melihat apa yang akan terjadi?” Yesung ingin tertawa melihat Eunri benar-benar kewalahan.

“Bagaimana kalau kau makan malam saja ditempatku?” Eunri mengalihkan topik sambil mencoba menggeliat dari pelukan Yesung. Sebentar saja Yesung menggodanya seperti ini, jantungnya bisa meledak.

Tawaran yang sangat menggoda. Yesung menikmati waktunya bersama Eunri, selalu. “Hmm..” Yesung memiringkan kepala berpura-pura bimbang. Eunri menggembungkan pipi.

“Jangan katakan kau masih harus bekerja di akhir pekan seperti ini? Ayolah, kasus pencurian itu masih bisa menunggu.” Eunri memasang puppy eyes yang menggemaskan, cara terampuhnya untuk meluluhkan Yesung. Tetapi Yesung tidak luluh. Pria itu malah termangu. Pikirannya jelas melayang entah ke mana.

Berkat kata-kata Eunri, Yesung jadi teringat dengan kasus besar yang sedang ditanganinya. Ia mendesah berat. Dalam hati ia mengutuk siapapun yang memberinya beban sebesar ini karena di saat ia sibuk menyiapkan segala hal menjelang hari terpentingnya, ia harus bekerja lebih keras dari sebelumnya.

“Kenapa?” Eunri heran karena Yesung tiba-tiba saja membisu dengan raut menerawang.

Sebelum Yesung menjawab, dering ponsel mengagetkannya. Yesung merogoh benda itu dari dalam saku jaketnya dan mendesah berat saat melihat nama Kang Yoo berkedip di layarnya.

“Ada apa, Yoo?” Tanya Yesung lelah.

“Kabar buruk, Jaksa Kim. Ox berulah lagi. Suho baru saja mengabariku.”

“Apa?!” Yesung memekik begitu kencang sampai Eunri menoleh. “Baik. Aku akan segera ke sana.”

“Apa yang terjadi?” Cecar Eunri setelah Yesung selesai bicara. Dari caranya mendesah, Eunri tahu sesuatu yang buruk telah terjadi.

“Pencuri itu beraksi lagi.” Yesung memberi tahu Eunri dengan penuh penyesalan.

“Maksudmu Ox?” Mata Eunri membulat. Yesung mengangguk.

“Karena itu maafkan aku, sekarang juga aku harus ke kantor.”

Sebenarnya ingin sekali Eunri mengeluh, tetapi mendapat panggilan tak terduga dari kantor sudah termasuk resiko pekerjaan Yesung. Ia tidak bisa protes.

“Baiklah.” Meskipun berat rasanya, Eunri mencoba mengerti. Yesung mencium pipinya. Ia menghibur Eunri yang cemberut.

“Aku akan mengantarmu pulang. Untuk makan malam di tempatmu, masih bisa lain hari bukan?”

Demi Yesung, Eunri hanya tersenyum sambil mengangguk.

—o0o—

“Siapa korban Ox kali ini?” Serbu Yesung begitu ia tiba di kantor. Yoo dan Suho yang sudah menunggu sejak setengah jam yang lalu bergegas memberikan laporan pada Yesung.

“Anda tahu Lee Hyukjae, CEO SJ Tv?” Tanya Yoo. Yesung mengangguk dengan kening berkerut. “Aku pernah bertemu dengannya sekali ketika pernikahan adikku.”

Yoo melanjutkan sambil memberikan pada Yesung berkas berisi data-data mengenai benda yang dicuri. “Ox mencuri anting milik istrinya, Lee Mira yang tersimpan di dalam kotak perhiasan di kediaman mereka.”

“Hmm..” Yesung mencermati data itu dengan serius. “Bagaimana cara Ox menerobos masuk?”

“Tim penyidik menduga Ox masuk begitu saja tanpa disadari pemilik rumah yang saat itu sedang berkumpul di ruang makan.” Suho menimpali.

“Bukankah ada penjaga keamanan di rumah itu?”

“Ox membuat mereka tertidur.”

“Sial. Bagaimana dengan CCTV dan alarm keamanan? Pasti rumah orang sepenting itu pasti dilengkapi sistem keamanan canggih.”

Yoo dan Suho berpandangan dengan gugup seolah merekalah yang bertanggung jawab atas lolosnya Ox. “Tidak ada rekaman cctv atau alarm yang berfungsi pada saat kejadian.”

“Bagaimana bisa?”

“Ox beraksi tepat ketika di kawasan rumah tempat CEO SJ Tv tinggal sedang dilakukan pemadaman listrik karena ada perbaikan instalasi listrik di sana. Generator pembangkit di rumah Lee Hyukjae pun dilaporkan tidak berfungsi karena sedang dalam perbaikan sehingga ketika Ox mencuri, sistem alarm serta cctv semua mati. Termasuk cctv di jalan-jalan. Kami benar-benar kehilangan jejaknya.” Jelas Suho panjang lebar.

“Ox pasti sudah memperhitungkan segalanya.” Kata Yoo setengah kagum setengah jengkel. Tetapi ketika melihat ekspresi tidak suka Yesung, ia segera menambahkan. “Bagaimanapun, dia harus segera ditangkap.”

Yesung memdesah dramatis. “Apa ada saksi mata?”

Yoo dan Suho takut-takut menggeleng. “Mereka tidak menyadari sebelumnya bahwa pencurinya adalah Ox sampai polisi datang dan memeriksa TKP. Polisi menemukan tanda Ox di cermin meja rias korban. Kotak yang semula diletakkan di dalam laci meja yang dikunci rapat tiba-tiba saja sudah berpindah ke atas meja. Lee Hyukjae-ssi semula mengira itu hanya ulah orang iseng,tetapi ketika Nyonya Lee memeriksa isinya dan sadar bahwa antingnya menghilang, dia tahu pencuri telah memasuki kamar mereka.” Suho memaparkan kembali laporan yang ia dapat dari tim penyidik.

“Aneh, mengapa dia tidak memasukkan kembali kotak itu sehingga korban tidak menyadari perbuatannya?” Yesung memeriksa kembali lembar laporan itu dengan teliti.

“Aku juga sependapat. Jika aku pelakunya, aku tidak akan berbuat begitu.” Yoo memiringkan kepala.

“Mungkin Ox ingin dirinya dikenali.” Pikir Suho.

Yesung dan Yoo kompak memandangnya. Suho salah tingkah. “Tidak mungkin. Pencuri mana yang ingin dikenali? Itu sama saja dengan menyerahkan diri.” Ia tertawa kikuk. Namun Yesung rupanya berpikir bahwa tebakan Suho mungkin saja benar. Tapi mengapa Ox ingin dirinya dikenali? Tepatnya oleh siapa?

“Kita tidak boleh lengah mulai sekarang. Bagaimana pun kita kini menghadapi pencuri yang tidak hanya pintar, tetapi seorang ahli muslihat. Kita harus segera menangkapnya.” Yesung menepuk meja. Ia harus bekerja sungguh-sungguh mulai sekarang. Ox tidak boleh dibiarkan merajalela. Jika kasus ini tidak segera diselesaikan, ia tidak akan bisa menikah sesuai dengan rencana.

Untuk mencari petunjuk, Yesung beserta asistennya dan Suho pergi mengunjungi lokasi kejadian. Mereka ingin melihat sendiri kondisi terkini tempat dengan sistem keamanan canggih yang berhasil dilumpuhkan Ox.

“Tidak ada yang tahu kapan Ox menyelinap masuk. Semua asisten rumah tangga kebetulan sedang beristirahat.” Jelas petugas polisi yang ditemui mereka di TKP. Yesung mencermati segala hal yang ada di sana. Ia lalu menemui Eunhyuk si pemilik rumah yang kebetulan berada di sana.

“Tidak ada yang berubah. Hanya kotak perhiasan saja yang tiba-tiba ada di atas meja. Tidak ada jendela yang dibuka paksa. Bahkan laci tempat kotak itu disimpan pun dibuka kuncinya dengan sangat rapi.” Eunhyuk berkata. Istrinya Mira berada di ruangan lain.

Dia juga pintar membuka kunci. Yesung semakin kesulitan menebak gambaran si pelaku. Mengapa kali ini Ox mencuri perhiasan milik seseorang, bukan perhiasan langka dan mahal seperti yang dipajang di Hwang Art Museum? Hanya anting-anting biasa. Mengapa Ox repot-repot melakukannya dan bagaimana dia bisa mengincar perhiasan milik istri Eunhyuk?

“Sebenarnya apa keistimewaan benda yang dicuri Ox? Apa perhiasan itu sangat mahal?” Tanya Yesung.

Eunhyuk pun bingung, “Aku pun heran. Anting-anting itu hanya perhiasan yang kubeli secara iseng ketika aku mengunjungi sebuah pameran. Harganya pun tidak terlalu mahal. Sekitar sepuluh juta.”

Tidak terlalu mahal? Mungkin bagi seorang milyarder sepertinya sepuluh juta hanya uang receh. Yesung ingin memutar mata tetapi ia tidak melakukannya demi menjaga kesopanan.

“Hanya saja desainnya sangat indah. Mengingatkanku pada tetesan air dari es yang meleleh.” Lanjut Eunhyuk sambil mengenang betapa cantiknya Mira saat memakai anting itu. Ah, sayang sekali sekarang benda itu dicuri.

Yesung meminta gambar anting itu dan memang seperti yang dikatakan Eunhyuk. Anting-anting itu indah. Permata-permatanya berwarna sebiru es dan ada satu permata lebih biru dan berkilau, terletak di tengah. Warnanya mengingatkan pada berlian biru yang tertempel di kalung milik Jinmi yang dicuri. Mungkinkah?

“Yoo!” Yesung memanggilnya. Yoo bergegas menghampiri. “Selidiki apakah anting ini dirancang oleh orang yang sama dan beritahu aku jika ada kesamaan sekecil apapun antara kasus ini dan kasus sebelumnya.”

Yoo mengangguk lalu pergi. Yesung mengajukan beberapa pertanyaan kembali pada Yesung saat Suho mendatanginya. “Jaksa Kim, seorang asisten rumah tangga berkata bahwa generator listrik yang biasa dipakai setiap kali terjadi pemadaman listrik rusak tepat di hari kejadian. Generator itu baru saja diperbaiki seminggu sebelumnya. Dan penyebab kerusakannya pun aneh. Generator itu bukan rusak begitu saja, tetapi dirusak. Salah satu komponennya diganti dengan komponen lain yang hanya bertahan selama tujuh hari. Maka tepat di hari kejadian, generator itu tak berfungsi.”

“Apa? Bagaimana bisa ada kebetulan seperti itu?” Yesung mengerjap. “Apa kau sudah memeriksa tukang reparasi yang memperbaiki generator itu?”

Suho mengangguk, “mereka mengaku mengganti komponen itu dengan yang biasa digunakan. Benda itu baru mereka beli dan ketika kami bertanya pada toko yang menjualnya, memang benda yang dijual bukan yang ditemukan polisi di generator. Apa kau berpikir seperti yang kupikirkan, Jaksa Kim?”

Tentu saja, Ox yang melakukannya.

“Ox benar-benar mempermainkan kita.” Yesung meremas tangannya.

“Sepertinya Ox sudah menyelidiki segala hal tentang calon korbannya hingga yang terkecil. Dia bahkan memperhitungkan segala kemungkinan. Ox juga sangat yakin dengan benda yang akan dicurinya. Ini jelas pencurian yang sudah direncanakan dengan matang. Bagaimana cara kita menangkap pencuri seperti ini?” Suho menghela napas, pria muda ini tampak ingin sekali memukul Ox.

“Tangkap saat dia beraksi.” Gumam Yesung. Ia menerawang ke depan. “Tapi bagaimana kita tahu kapan dia beraksi lagi?”

Yoo tergopoh-gopoh menghampiri Yesung dan Suho. Ekspresinya tampak suram.

“Bagaimana?” Serbu Yesung tak sabar.

“Anting yang dibeli Le Hyukjae-ssi tidak dirancang oleh orang yang sama, Jaksa Kim. Aku sudah menanyakannya langsung pada toko perhiasan yang menjualnya. Anting itu bahkan dibuat di tahun dan tempat yang berbeda. Sepertinya Ox tidak mengincar perhiasan yang dirancang oleh orang yang sama.” Yoo terengah-engah setelah mengatakannya.

Bahu Yesung merosot mendengarnya. “Terima kasih atas kerja kerasmu, Yoo.” Sekarang segalanya menjadi lebih buram lagi.

“Sepertinya akan sulit melacak pergerakan Ox. Metode pencurian yang dilakukannya dari ketiga kasus yang telah terjadi, semuanya berbeda.” Renung Suho.

Yesung mengangguk setuju. “Di kasus pertama, pencurian toko Enchant Ox berhasil melumpuhkan sistem keamanan tanpa mematikan listrik lebih dahulu. Bahkan semua lampu masih menyala. Hanya alarm anti-maling dan cctv yang malfungsi. Kasus ini dilakukan malam hari. Lalu dikasus pencurian kalung Hwang Art Museum, Ox mematikan listrik di seluruh area museum sehingga cctv dan sistem keamanan tidak berfungsi. Ox mencuri benda paling biasa di galeri penuh perhiasan langka dan mahal. Ox melakukannya di tengah malam di hari paling sedikit orang mengunjungi museum itu. Dia juga mematikan pengaman ganda yang melindungi kalung itu. Beberapa hari sebelum kejadian orang mencurigakan tertangkap kamera. Aneh, bukan? Ox yang begitu teliti sampai membiarkan dirinya tampak di cctv.”

“Mungkin dia tidak sadar cctv sedang merekam gerak-geriknya.” Sahut Yoo.

“Tidak. Ox tak mungkin melakukan sesuatu tanpa alasan. Jaksa Kim benar. Ox pasti sengaja membiarkan polisi menyadari gerak-geriknya.” Kening Suho mengerut.

“Apa Ox bermaksud memberi kita petunjuk?” Yoo mengerjap. Yesung dan Suho berpandangan. “Mungkin saja!” Seru mereka berbarengan.

“Kita kembali ke kantor dan selidiki rekaman cctv itu lebih teliti lagi. Mungkin ada petunjuk lain yang akan membawa kita pada identitas Ox.” Yesung berpamitan pada Eunhyuk lalu pergi diikuti Yoo dan Suho.

—oOo—

“Tetap saja, beratus kali diselidiki pun aku tak menemukan petunjuk apapun.” Yoo menyerah. Suho dan Yesung pun tak menemukan petunjuk apa-apa.

“Andaikan Ox meninggalkan tanda lain selain huruf O dan X, kita bisa menyelidikinya.” Gerutu Suho. Yesung langsung memeriksa laporan penyidikan TKP dan memang benar, sidik jari, jejak sepatu atau helaian rambut tak tertinggal satu pun di lokasi pencurian. Ox benar-benar menghilangkan jejaknya sendiri.

“Banyak sekali pengujung yang datang ke Museum Seni Hwang hari itu. Kita tidak mungkin memeriksa seluruh pengunjung. Anehnya lagi, orang mencurigakan itu hanya terlihat di satu cctv.” Yoo sudah pusing. Ia berjanji jika ia bertemu Ox, ia akan mencekiknya terlebih dahulu. Siapapun dia sungguh membuatnya frustasi.

“Bukankah sudah jelas maksud Ox, dia ingin menguji kita.” Dengus Yesung. Ia melirik jam dan menyadari sudah waktunya pulang. Ia memutuskan menyudahi penyelidikan hari ini karena sudah terlalu malam. Suho dan Yoo pamit pulang. Yoo begitu gembira ketika Suho menawarinya tumpangan pulang. Yesung tertawa melihat keduanya. Mereka tampak tanpa beban. Tak ada kekasih ataupun istri yang harus mereka khawatirkan. Tidak seperti dirinya.

Yesung seketika teringat Eunri. Bagaimana kabarnya hari ini? Yesung meneleponnya sambil mengendarai mobil pulang menuju rumah.

“Hai cantik, sudah tidur?” Tanya Yesung dengan headset menempel di telinga sementara tangannya sibuk mengemudi.

Yesung sepertinya memang membangunkan Eunri karena ia mendengar nada kantuk dalam suaranya. “Belum. Kau di mana?”

“Aku masih di jalan.”

“Semalam ini?” Yesung mendengar suara gemerisik selimut. Ia menebak Eunri bangun dan menyalakan lampu di samping tempat tidurnya.

“Kami terlalu asyik memeriksa data-data pencurian hingga lupa waktu.” Yesung mengatakannya seringan mungkin agar Eunri tidak berpikir ia terlalu gila bekerja lagi. “Apa yang kau lakukan seharian ini?”

Eunri mendesah. Yesung menyiapkan diri mendengar ocehannya namun rupanya Eunri sedang tidak mood mengomel. “Setelah kau pergi aku memutuskan menyeret Youngjae makan siang bersama. Sorenya aku mengganggu Henry dan memaksanya datang untuk rapat mendadak bersamaku. Kami membahas konsep majalah bulan ini hingga waktu makan malam tiba.” Yesung tersenyum. Eunri memang hobi sekali mengganggu teman dan rekan-rekan kerjanya. Tapi sebenarnya itu hanya alasan agar dia tak menghabiskan waktu luang seorang diri.

Eunri melanjutkan, “setelah itu aku pulang ke rumah orangtuaku dan makan malam bersama. Mereka titip pesan untukmu. Mereka bilang agar kau jangan terlalu memforsir waktu dan tenagamu untuk bekerja. Kau bisa sakit jika kau terlalu sibuk mengurus kasus-kasusmu.”

“Kupikir itu bukan pesan dari orangtuamu. Tapi pesanmu.” Yesung mengulum senyum.

“Oke baiklah, kau memang tak bisa kubohongi.” Omel Eunri. “Karena berkali-kali kunasehati kau tak mau dengar, mungkin jika kukatakan orangtuaku yang menyuruhmu jangan gila kerja, kau akan mendengarkan.”

“Maafkan aku. Lagipula bukankan sekarang aku pulang?”

“Kau akan pulang ke tempatku?”

“Eunri, jika aku pulang ke sana, sesuatu akan terjadi.” Goda Yesung. Ia ingat obrolan mereka yang terputus pagi tadi.

“Aku hanya bercanda. Pulanglah dengan selamat.”

Yesung terkekeh. Eunri sungguh menggemaskan saat digoda. “Baik Nyonya. Dan Eunri–” cegah Yesung sebelum Eunri memutuskan sambungan.

“Ya.”

“Aku merindukanmu.”

Mungkin jika Yesung bisa melihatnya, pipi Eunri kini memerah. “Aku juga merindukanmu.” Bisik Eunri. Yesung menghela nafas. Kini ia tergoda ajakan Eunri untuk pergi ke apartemennya. Ia ingin memeluk dan mencium kekasihnya itu. Tetapi Yesung harus bersabar. Sekarang sudah malam dan mereka membutuhkan istirahat karena mereka akan sama-sama sibuk esok hari. Ia mengeratkan tangan di kemudi dan mengemudikan mobil kembali ke rumah.

—o0o—

“Kau serius akan pindah minggu ini?” Ibunya mengeluh. Yesung memberinya senyum minta maaf. Ia sedang menikmati sarapan bersama Ayah dan Ibu yang telah membesarkannya selama ini dan Yesung sangat mencintai mereka.

“Cepat atau lambat aku harus pindah, terutama setelah aku menikah nanti.” Jelas Yesung. Ia sudah mengutarakan rencana kepindahannya setelah ia memberitahu mereka bahwa ia telah membeli rumah untuknya dan Eunri. Mereka terlihat senang, tapi juga sedih dan Yesung memakluminya.

“Jika kau pergi maka akan tersisa kami berdua di rumah ini. Kami akan kesepian.” Ibu terlihat menahan tangis. Mengingat Hyunjung pindah mengikuti suaminya yang mana memang seperti itu tradisi anak perempuan yang telah menikah, ia berharap Yesung tetap tinggal di rumah. Setelah selama dua puluh tahun lebih rumah itu dihangatkan oleh anak-anak, rasanya tidak rela jika sekarang rumah sebesar ini sepi begitu saja.

“Tidak bisakah kau mengajak Eunri pindah kemari?” Ibu tetap bersikukuh sampai Yesung tergagap saat ingin menjawabnya.

“Ibu..” tegur Ayah. “Yesung akan memulai berumah tangga. Sudah sewajarnya dia ingin belajar hidup mandiri bersama istrinya. Lagipula bukan berarti Yesung akan pergi meninggalkan kita selamanya. Kau tidak sesensitif ini ketika Hyunjung pindah.”

Ibu cemberut. Harus bagaimana lagi, dahulu ibunya pun merelakan ia ikut suaminya pindah. Maka ia membiarkan Hyunjung pindah. Sudah tradisi keluarga seperti itu. Lagipula bukankah suaminya yang merengek agar Hyunjung tinggal di rumah saja, mengapa ia tidak boleh mengeluh meminta Yesung tetap tinggal. Semua ibu pasti ingin anak lelakinya tetap tinggal.

“Ibu, Ayah benar. Aku tidak akan meninggalkan rumah ini untuk selamanya. Kelak setiap minggu aku akan mengunjungi Ibu dan Ayah.” Ucap Yesung.

Raut murung di wajah Ibu berkurang, “kau sudah berjanji.”

“Tentu saja.” Yesung melirik jam tangannya. “Ah, aku harus pergi. Asistenku tidak bisa bekerja sendiri.” Yesung bangkit dan memberi ibunya ciuman di pipi. Ayahnya hanya mengangguk dan Yesung pun pergi.

Di perjalanan, ia teringat belum mengabari Eunri. Ia mengambil ponsel hendak mengirimkan pesan namun ketika melirik jam, ia terpikir untuk mengunjunginya saja. Di jam ini Eunri mungkin masih tidur. Jadwal masuk kerjanya lebih lambat satu jam dari Yesung.

Setibanya di depan apartemen Eunri, Yesung dengan antusias menekan bel. Semoga saja Eunri sudah bangun.

“Tunggu sebentar.” Suara Eunri terdengar dari intercom. Beberapa saat kemudian pintu dibuka. Yesung yang berniat mengejutkan Eunri justru dikejutkan lebih dulu oleh penampilan Eunri. Mulutnya menganga.

“Tidak biasanya kau datang berkunjung sebelum kerja.” Kata Eunri santai. Yesung masih tak bisa berkata-kata. Pandangannya tertuju pada rambut Eunri yang basah dengan tetesan-tetesan air membasahi pundak dan lehernya. Tangannya sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk dan badannya yang putih mulus hanya tertutup handuk.

“Kau menyambut setiap tamu yang datang dengan penampilan seperti ini?” Yesung tak bisa bernafas.

Eunri sama sekali tak merisaukan ekspresi histeris Yesung. Dengan tenang ia membuka pintu lebih lebar. “Tidak semua tamu. Ayo masuk.”

Mata Yesung masih terpaku pada tubuh Eunri. Meskipun bukan model, Eunri memiliki tubuh proporsional seperti para model yang biasa berpose untuk majalahnya. Kakinya pun jenjang dan ramping sehingga akan tampak sangat menggiurkan jika memakai rok mini atau hotpants, tak terkecuali dalam balutan handuk yang hanya menutupi setengah pahanya. Bahkan wangi sampo dan sabun yang dipakainya sungguh menggoda.

Alihkan fokus! Yesung memarahi diri. Ia tak boleh berpikiran kotor di hari sepagi ini. Ia harus pergi bekerja.

“Aku harus pergi.” Yesung berseru begitu lantang. Eunri yang sedang menyiapkan minuman untuk Yesung menoleh kaget.

“Kau baru saja datang. Duduklah dahulu.”

“Aku hanya ingin melihatmu. Kemarin kita baru bertemu sebentar.” Ucap Yesung lembut. “Sekarang setelah melihatmu, lega rasanya.”

Eunri tersipu. Perhatian Yesung seperti ini sungguh manis. Karena sikap Yesung seperti inilah yang membuat Eunri jatuh cinta. Yesung bukan tipe pria pemberi bunga, dia bahkan cenderung tidak romantis. Tetapi Yesung begitu perhatian dan sangat menjaga dirinya. Eunri merasa sangat aman dan nyaman bila ada di dekatnya.

“Baiklah. Aku paham kau sangat sibuk dengan pekerjaanmu.”

Yesung mendekatinya. “Aku ingin sekali tinggal. Tapi kita sama-sama sibuk hari ini.”

“Ah, ya. Aku pun harus segera menyuruh asistenku bekerja cepat. Masih banyak artikel yang belum disunting ulang.” Eunri memang selalu mengeluh tentang banyaknya tugas yang harus diselesaikan. Tetapi ia tak pernah membenci pekerjaannya.

“Kalau begitu aku pergi dulu. Cepat pakai baju sebelum kau masuk angin.” Yesung mengusap pipinya lalu pergi. Eunri menatapnya dengan hati berdesir. Belum apa-apa ia sudah rindu. Baru beberapa langkah Yesung tiba-tiba berhenti.

“Kenapa?” Eunri mengerjap melihat Yesung terburu-buru menghampirinya.

“Aku lupa sesuatu.” Ungkapnya dengan raut serius. Eunri baru akan bertanya apa yang terlupa ketika tiba-tiba saja Yesung mencium bibirnya. Sebelum Eunri bereaksi, Yesung menjauhkan diri.

“Aku sudah mengambil apa yang kulupakan. Aku bisa pergi dengan tenang sekarang.” Yesung menyeringai. Lagi-lagi mengabaikan keterkejutan Eunri, ia melengos pergi begitu saja. Mendengar pintu apartemennya ditutup, Eunri baru tersadar.

“Ya Tuhan pria itu..” dengusnya kewalahan. Jantungnya berdebar kencang. Apa yang harus dilakukan Eunri dengan kelakuannya?

—o0o—

“Jaksa Kiim..”

Yesung baru saja tiba di kantor dan suara Yoo sudah menyambutnya. Wajah asistennya itu panik dan khawatir.

“Ada apa? Apa kau menemukan petunjuk penting?”

“Bukan, Ox…pencuri menyebalkan itu berbuat ulah lagi semalam.”

“Apa kau bilang?” Bentak Yesung kaget. “Ox baru saja beraksi kemarin!”

“Aku pun terkejut. Ah, kasus ini membuatku gila.” Yoo mengacak-acak rambutnya.

“Apa kau sudah mendapat laporan dari polisi?” Tanyanya lalu menatap ke sekeliling. “Ke mana Suho?” Biasanya petugas muda itu selalu datang lebih pagi darinya ataupun Yoo.

“Dia harus menangani wartawan yang memadati kantor kepolisian Seoul. Entah bagaimana media mengetahui kasus pencurian kali ini. Mereka sangat antusias ketika tahu korban-korban Ox adalah orang-orang terkenal yaitu Hwang Jinmi, CEO SJ tv, dan kali ini adalah CEO QC Company, Cho Kyuhyun.”

“Apa!” Yesung lebih terkejut lagi mendengarnya sampai Yoo merasa Yesung sedang membentaknya.

“Ke-kenapa sehisteris itu?”

“Dia adalah adik iparku!”

“Yang benar,” Yoo ikut kaget. “Mengapa aku tak tahu sebelumnya. QC Company adalah perusahaan pembuat game terbesar di Korea.”

“Aku tahu. Adikku menikah dengannya beberapa tahun yang lalu. Nah sekarang perhiasan seperti apa yang dicuri Ox dan di mana lokasi kejadiannya?”

“Eum, kali ini Ox tidak mencuri perhiasan, melainkan sebuah flashdisk berisi game terbaru perusahaan itu yang rencananya akan diluncurkan dalam waktu dekat ini.”

Yesung ingat, Kyuhyun memang pernah mengatakan akan meluncurkan game baru setelah contoh game buatannya dipresentasikan pada sponsor.

“Tapi kenapa flashdisk game?” Yesung sungguh tak mengerti. “Bukankah Ox pencuri perhiasan?”

“Entahlah. Kyuhyun-ssi mengatakan  prototipe game yang ada dalam flashdisk itu jika dijual harganya bisa mencapai lima ratus juta.”

Ya Tuhan, lima ratus juta!

“Dia ada di sini?”

“Tidak, tadi aku bertemu dengannya di kantor polisi saat Suho menghubungiku.”

Yesung mengambil kembali kunci mobilnya. “Ayo kita temui Suho.”

—o0o—

Kantor polisi itu sudah sepi dari wartawan. Rupanya bagian humas telah berhasil mengendalikan awak media yang memburu berita Ox. Suho baru saja keluar dari ruangan atasannya ketika Yesung dan Yoo datang.

“Apa kau sudah mendapat laporan dari tim penyidik?” Tanya Yesung ketika mereka sudah duduk di depan meja kerja Suho.

“Ya. Aku baru saja menerimanya.” Suho menyerahkan berkas penyidikan itu pada Yesung. “Ox melakukannya tadi malam. Dia menerobos masuk kantor pusat QC Company dan membobol brankas di ruang CEO tempat flashdisk itu berada. Semua aksinya dilakukan dengan rapi dan teliti.” Jelas Suho sementara Yesung menelaah berkas laporan.

“Bagaimana dengan sistem keamanan?”

“Ox kali ini tidak mematikan sistem keamanan. Dia berhasil masuk tanpa terdeteksi oleh alarm anti maling.”

Yesung mengerutkan kening bingung. “Seperti bukan dilakukan oleh Ox.”

“Tidak, polisi yakin memang Ox pelakunya. Ada tanda yang sama ditemukan di pintu brankas kantor korban.” Suho memperlihatkan foto bukti yang menunjukkan goresan spidol yang tampak bercahaya berbentuk huruf O dan X. Tiba-tiba saja Suho tersenyum. “Kali ini Ox meninggalkan petunjuk yang sangat penting.” Suho mengacungkan sebuah CD. “Dia tertangkap kamera cctv ketika sedang beraksi.”

“Benarkah?” Seru Yoo girang. “Ayo kita lihat!”

Suho langsung memutar CD itu di laptopnya. Mereka bertiga dengan serius menonton rekaman cctv itu. “Ah, dia muncul” seru Yoo.

Pelaku yang tertangkap di kamera adalah sosok pria setinggi 170 lebih. Memakai sweter hitam dan celana jeans robek serta sepatu olahraga warna putih. Wajahnya tak terlihat karena memakai topi hitam.

“Akhirnya aku melihatmu beraksi.” Bisik Yesung. Tanpa sengaja tangannya meremas pena yang ia genggam.

“Sepertinya Ox tidak menyadari ada cctv tambahan yang sengaja difungsikan secara terpisah oleh pemilik perusahaan itu. Buktinya hanya rekaman cctv di koridor menuju kantor itu dan di dalam kantor yang berfungsi karena dijalankan dengan tenaga baterai oleh sang pemilik sementara cctv yang difungsikan menggunakan listrik mati seluruhnya.” Tambah Suho sementara gambar di layar menunjukkan aksi Ox sedang membuka pintu ruang Presdir dengan tenang.

“Bagaimana dia melakukannya?” Tanya Yoo heran. “Bukankah ada sistem pengamanan ganda untuk ruangan itu.”

“Ya. Tapi seperti yang kita tahu, Ox adalah ahli kunci. Dia sepertinya sudah tahu cara menonaktifkan alarm yang akan berfungsi jika ada yang mencoba membuka pintu tanpa memasukkan kode dan sidik jari yang benar.”

Di layar, Ox membuka brankas yang terletak di dinding belakang meja kerja Kyuhyun. Setelah berhasil mengambil flasdisk di dalamnya, Ox menutup pintu brankas lalu mencoret ‘tandanya’ di pintu. Ox berdiri lalu menelengkan kepala ke arah kamera sehingga Suho, Yesung dan Yoo bisa melihat sudut bibirnya. Ketiga pria itu dikejutkan ketika mereka melihat sudut bibir Ox naik, pria itu menyeringai!

Mereka bahkan dibuat berang ketika tangan Ox terangkat dan dia mengacungkan dua jari berbentuk huruf V ke arah kamera, sosoknya masih membelakangi kamera.

“Di-diaa!” Yoo tergagap melihatnya.

“Mempermainkan kita!” Sambung Suho.

Setelah itu tiba-tiba saja dua jari itu diturin dan digantikan dengan jari jempol yang teracung lalu diarahkannya ke bawah seolah Ox ingin berkata pada ketiga pria yang melongo menatap layar bahwa ‘kalian semua payah’ lalu sosok itu kabur.

“Brengsek!” Umpat Yesung.

—TBC—

153 thoughts on “Shady Girl Yesung’s Story [Chapter 2]

  1. Kereeeen….butuh kerja keras nih bwt nulis ff ini…..semangat thor 👍

    Ox makin berulah…..siapa ox sebenernya????

  2. Waduh,,banyak banget korban si OX ini,,tapi skarang krnapa korbannya orang yang berhubungan dengan yesung? Sepertinya sengaja ingin buat yesung kalang kabut..
    Kayaknya si OX kenal banget yesung?

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s