Crazy Because of You [Chapter 8]

Title : Crazy Because of You Chapter 8
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance

Main Cast :
Min Sora | Lee Donghae

Dha’s Speech:
Hati-hati dengan typo. Kemungkinan kalian merasa jengkel di tengah-tengah cerita. Jangan ngerusuh ya. Kalau keberatan dengan ceritanya cukup tekan tombol back ^_^

Happy Reading

Crazy Because of You by Dha Khanzaki4

=====o0o=====

CHAPTER 8
The Fact

TERKEJUT SAJA MUNGKIN belum cukup untuk menggambarkan perasaan Sora begitu tahu bahwa Donghae dan Narin pernah terlibat hubungan asmara. Selama beberapa detik Sora hanya tercengang. Begitu ia bisa berpikir rasional kembali, rasa cemburu menyerangnya. Terlalu banyak perasaan berkecamuk dalam hatinya hingga Sora tak bisa berkata-kata. Ketika akhirnya ia sanggup bicara, pertanyaan tak terduga meluncur dari mulutnya tanpa sempat dicegah.

“Apa kau tidur dengannya?”

Donghae mendesah, “sudah kukatakan Sora, Narin mengajariku menjadi pria dewasa. Kau bisa menebak apa yang sudah kami lakukan.”

Kini ribuan jarum menghujani Sora. Rasa sakit yang ditimbulkannya membuat Sora meringis. “Berapa usiamu saat pertama kali melakukannya?”

“Tujuh belas tahun dan Narin dua puluh satu tahun. Dia wanita dewasa seutuhnya.”

Tidak, Narin sudah menjajah Donghae diusia semuda itu! Sora geram.

Donghae sudah memperkirakan ini akan terjadi dan ia tidak akan heran apabila Sora membencinya setelah ini. Namun ia ingin berbagi masalahnya dengan Sora.

“Aku adalah pria bodoh yang terpikat pada sosok wanita yang mengingatkanku pada mendiang ibuku.”

Donghae lantas menceritakan kisahnya. Sora tak ingin mendengar, tetapi ia merasa harus mengetahui masa lalu Donghae dengan Narin. Meskipun menyakitkan, Sora akan berusaha tetap berpikiran dingin.

Saat itu, Donghae merasa agak kecewa dan menganggap ayahnya pengkhianat karena menikah kembali setelah ibunya meninggal empat tahun yang lalu. Ia bahkan tidak dikenalkan dahulu pada ibu barunya atau paling tidak ditanyai apakah ia keberatan memiliki ibu baru. Tahu-tahu hari itu, sepulang Donghae dari karyawisata ke Jepang, seorang wanita asing tinggal di rumahnya dan memperkenalkan dirinya sebagai ibu barunya.

Marah? Tentu saja. Donghae sempat merajuk selama beberapa minggu dan bertekad menjadi anak menyebalkan demi menyingkirkan wanita yang telah merebut posisi ibunya di rumah itu. Tetapi seiring berjalannya waktu Donghae sadar bahwa tak ada satu pun hal mengecewakan yang dilakukan ibu tirinya. Malah, Donghae merasa begitu dicintai dan diperhatikan. Ibu barunya adalah wanita yang tulus serta lembut, pantas saja Ayahnya terpikat dengan mudah. Donghae merasa malu karena pernah berpikir ingin mengusirnya. Maka sebagai permintaan maaf–meskipun Donghae tak mengatakannya secara gamblang–ia menjadi anak yang baik.

Lalu masuklah Narin ke dalam kehidupannya. Ibu membawanya ke rumah setelah Ayah memberikan kamar kosong yang dahulunya adalah ruang kerja mendiang ibunya agar ditempati Narin. Sebelumnya Narin menyewa apartemen kecil di dekat kampusnya. Di pertemuan pertama mereka Donghae tak percaya bahwa ia akan mendapatkan seorang kakak seperti Narin, seorang gadis dewasa yang terpaut empat tahun dengannya. Narin tak hanya cantik, tetapi juga penuh perhatian terhadapnya.

Kala itu usia Narin duapuluh tahun dan sedang berada di pertengahan masa kuliahnya. Donghae yang baru menginjak masa remaja berpikir bahwa Narin adalah wanita tercantik yang pernah ditemuinya. Namun Donghae harus membuang jauh-jauh perasaan sukanya kerena Narin tak mungkin menyukai remaja sepertinya. Lagipula Narin memiliki seorang kekasih, pria dewasa yang lebih mapan dan bisa diandalkan Narin dibandingkan dirinya.

Narin menjadi lebih sering frustasi ketika hubungan asmaranya kandas. Pria brengsek itu memutuskan Narin tanpa sebab yang jelas lalu dua bulan kemudian Narin tahu alasannya ketika surat undangan pernikahan dari mantan kekasihnya tiba di rumah. Narin patah hati. Sejak saat itu Donghae bertugas menghibur Narin. Ia tidak suka melihat Narin menangis.

Lambat laun kebersamaan mereka menumbuhkan perasaan yang tak terduga. Mereka merasakan keinginan untuk terus bersama. Narin mulai tidak memperlakukannya seperti seorang adik lagi dan Donghae pun melupakan fakta bahwa Narin adalah kakaknya. Tanpa sepengetahuan kedua orangtua mereka, Donghae dan Narin memulai hubungan terlarang. Orangtua mereka justru menanggapi kedekatan Narin dan Donghae adalah sesuatu yang positif. Mereka bahkan tidak curiga bahwa perasaan sayang yang Donghae berikan pada Narin adalah perasaan kepada wanita yang dicintai. Mereka lebih sering ditinggal berdua saja di rumah sehingga keduanya bebas mengemukakan kasih sayang mereka.

Donghae tidak merasa lebih muda dari Narin karena wanita itu tahu cara menempatkan diri. Ia amat mencintai Narin dan entah apa yang dipikirkan Donghae malam itu, ia dan Narin menghabiskan malam bersama. Paginya ketika ia bangun di tempat tidur Narin, ia merasa bahagia karena hari itu ia terbangun sebagai pria dewasa. Ketika Narin menciumnya dan berkata bahwa semalam sangat luar biasa, Donghae seperti dihadiahi uang milyaran won. Donghae buru-buru turun dari tempat tidur sambil mengumpulkan bajunya sebelum orangtua mereka atau salah satu pembantu memergoki.

Bayangan ketika ia bergegas kembali ke kamarnya masih teringat di kepala Donghae hingga kini. Hanya saja sekarang ia merasa malu dan menyesal setiap teringat hari itu.

“Sejak malam itu aku resmi jatuh cinta pada Narin dan menganggapnya mencintaiku juga karena dia selalu mendekatiku setiap kali kami berdua saja di rumah. Saat itu aku terlalu bahagia sampai tidak memikirkan dampak yang ditimbulkan dari hubungan itu.”

Bulu roma Sora berdiri, dampak yang ditimbulkan? Mungkinkah? “Apa mungkin Minwoo adalah…”

“Sora, aku bukan pria sebejat itu.” potong Donghae seraya menggelengkan kepala dengan lesu. “Aku pasti akan bertanggung jawab jika Narin memang mengandung anakku. Lagipula hubungan kami berakhir enam tahun yang lalu dan usia Minwoo baru empat tahun. Dia adalah anak Narin dan suaminya.”

Oh, betapa leganya Sora! Ia tak bisa bernafas selama menunggu jawaban Donghae.

“Kami hanya melakukannya sekali setelah itu tidak ada kesempatan lagi karena ketika kami hendak melakukan yang kedua kalinya, Ibu menangkap basah kami.”

“Tidak mungkin.” Sora membekam mulut.

“Dia sangat terkejut dan tanpa kata memisahkan kami berdua. Kami diceramahi semalaman dan dia mengancam akan mengadukan kelakuanku pada Ayah. Aku sangat ketakutan dan Narin memohon pada Ibu agar tidak memberitahukannya pada Ayah. Narin kembali dimarahi karena menggodaku. Ibu percaya bukan aku yang memulainya. Ibu berkata bahwa aku terlalu muda untuknya, aku adalah adik yang harus dijaganya. Aku tak pernah merasa begitu tidak berguna karena tak bisa melakukan apa-apa dan tidak bisa melindungi orang yang kucintai. Beruntung Ibu tidak mengadu pada Ayah namun sebagai gantinya aku tersingkir ke Amerika.”

“Apa itu juga perintah Ibumu?” bisik Sora prihatin.

Donghae menggeleng, ekspresinya makin muram. “Ayahku. Dia ingin aku belajar bisnis di Amerika. Lagipula aku memang tidak bisa tinggal satu atap bersama Narin lagi.”

“Mengapa, bukankah kau mencintainya?” mengapa aku menanyakan itu, pikir Sora. Apa kau ingin bunuh diri?

“Kupikir begitu.” Helaan nafas Donghae semakin berat hingga membuat Sora mengira kisah yang akan diceritakannya lebih tragis lagi. “Aku mengira Narin mendekatiku karena dia mencintaiku, maka aku dengan bodohnya jatuh cinta. Tetapi kusadari aku telah salah sangka ketika aku diberitahu oleh ibu bahwa Narin akan menikah. Saat itu aku yang baru tiga bulan tinggal di Amerika kembali ke korea dalam keadaan kalut dan patah hati. Sepanjang perjalanan aku menganggap Narin dipaksa menikah oleh Ibu untuk menghentikan hubungan terlarang kami. Tapi anggapanku salah ketika aku melihat Narin tergila-gila pada calon suaminya.”

Sora memegang dadanya. Ia tengah mempersiapkan hati sebelum mendengar yang terburuk.

“Sungguh, pria itu sangat baik dan mencintai Narin. Hal yang mengejutkan adalah, mereka sudah dekat sejak Narin putus dengan mantan kekasihnya.”

“Itu artinya selama kalian berhubungan, Narin dan calon suaminya sudah..,” Sora tak berani melanjutkan. Ia tercengang melihat Donghae mengangguk.

“Saat aku mengetahui hal itu, aku merasa dibodohi. Aku tahu aku tak berpengalaman, tapi aku tidak menyangka Narin akan memanfaatkanku sebagai pelampiasan. Bahkan ketika dia dan pria itu memulai hubungan Narin tetap meladeniku. Aku marah karena ternyata Narin mempermainkan perasaanku. Aku ditipu hanya karena aku anak kecil, dia meladeniku karena tidak tega membuatku patah hati. Tapi kenyataannya dia malah menghancurkan hatiku. Aku membenci Narin, sungguh. Rasa cintaku yang tulus untuknya ia balas dengan kebohongan. Aku malu jika teringat setiap malam aku mengatakan cinta padanya tanpa tahu bahwa dalam hati kemungkinan Narin menganggapku menggelikan.”

Narin sungguh kejam! Donghae tak layak diperlakukan seperti itu. Sora ingin sekali melingkarkan tangannya di sekeliling bahu Donghae namun sebelum ia selesai mendengar keseluruhan cerita, ia menahan kedua tangannya tetap di sisi tubuhnya.

“Aku kembali ke Amerika dalam kondisi hancur secara mental. Cintaku pada Narin yang tak terbalas membuatku muak hingga aku berusaha melakukan segala cara untuk melupakannya. Lalu aku bertemu dengan Kyuhyun yang saat itu pun mengalami nasib yang sama sepertiku. Kami berusaha melewati masa-masa pahit itu bersama. Aku tumbuh sebagai penghancur perasaan wanita hanya untuk melindungi perasaanku dari sisi kejam jatuh cinta. Yeah, jatuh cinta memang tak selalu berarti siap untuk patah hati. Tetapi tanpa merasakan patah hati kau tidak akan tahu bahwa kau pernah jatuh cinta.”

Sora merasa seperti baru ditikam. Sekarang ia paham mengapa Donghae kesulitan mengungkapkan cinta. Siapapun yang mengalami trauma seperti itu akan melakukan hal yang sama sebagai perlindungan diri.

Donghae menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan. Ia merasa sangat lega setelah mengeluarkan seluruh beban yang ia pikul selama bertahun-tahun. Ia memandang Sora yang terdiam sepenuhnya. Ia memaklumi bila Sora terkejut. Gadis itu membisu cukup lama dan Donghae sangat menyesal dan tak bisa melakukan apapun untuk memperbaiki keadaannya.

“Inilah diriku, Sora. Sekarang kau tahu mengapa sulit bagiku mengatakan cinta. Aku akan sangat bahagia bila kau masih tetap ingin bersamaku. Tapi jika kau memutuskan mundur, aku tidak akan memaksa. Aku mengerti sepenuhnya. Kau pasti merasa menyesal telah mencintai pria sepertiku.”

“Pria sepertimu?” Sora menatapnya nanar. Sorot matanya memancarkan kepedihan dan Donghae amat menyesal karena telah menorehkan binar itu di wajah cantik Sora. Ia tahu ia telah melukai Sora dengan ceritanya dan ia akan berusaha melepaskan Sora jika gadis itu tidak ingin bersamanya lagi.

“Pria dengan masa lalu buruk sepertiku. Teman-temanku mengira aku pria yang polos dan baik, tapi aku lebih buruk dari mereka. Aku tidak bisa mengubah masa lalu yang kubenci, maka aku melampiaskannya pada apapun yang kulakukan hari-hari berikutnya. Aku menggoda para wanita tetapi dengan tegas kukatakan pada mereka bahwa aku hanya bermain-main.”

“Apa kau pun menganggapku sama seperti wanitamu yang lain? Sebagai pelampiasan?”

Donghae tercekat seakan Sora menamparnya. “Tidak Sora, kau berbeda. Aku sudah menyadarinya sejak pertama kali bertemu denganmu. Karena itu aku tidak bisa menegaskan bagaimana perasaanku padamu karena aku bingung menentukan apa yang kurasakan untukmu.” Dan itu benar. Sora telah membawa Donghae pada perasaan yang lebih dalam daripada yang ia rasakan pada Narin. Sebuah perasaan yang membuatnya tidak bisa membayangkan hidup tanpanya. Ia menggenggam tangan Sora begitu erat. Sora merasa dadanya sesak.

“Lalu mengapa kau ragu padaku?” lirih Sora pedih, membuat Donghae mengerjap. “Mengapa kau mempertanyakan apakah aku masih ingin tinggal di sisimu atau memilih pergi setelah aku tahu sisi tergelapmu?”

“Karena begitulah biasanya yang para gadis lakukan, mereka akan mundur begitu tahu aku adalah pria yang tidak pantas untuk mereka.” Gumam Donghae, memalingkan wajahnya. Sekarang ia merasa sangat malu untuk menatap Sora, wanita yang terlalu baik untuknya.

“Lee Donghae, tatap aku!” Sora tak percaya Donghae bahkan tidak ingin memandangnya. Apa dia pikir aku merasa jijik padanya? Ia menunggu hingga Donghae menoleh padanya lalu berkata, “Aku tidak mengerti mengapa kau berpikir aku hanya akan menerimamu jika kau pria yang sempurna. Aku mengerti setiap manusia memiliki kekurangan bahkan sisi gelap yang ingin disembunyikan. Aku memang sakit dan sedih mendengar masa lalumu dan kau benar kita tidak bisa mengubahnya. Tetapi aku tidak akan meninggalkanmu hanya karena itu. Tak peduli kau menganggap dirimu begitu buruk aku tidak akan percaya karena Lee Donghae yang kukenal tidaklah seperti itu. Kau luar biasa baik dan perhatian. Kau juga setia kawan serta seorang penolong yang ada kapanpun kubutuhkan. Di luar kebiasaanmu yang pandai sekali menggantung perasaanku, aku menganggap itu karena kau masih terpaku dengan masa lalumu dan aku benar, bukan? Hal buruk yang baru kauceritakan adalah bagian dari dirimu juga. Aku justru senang karena kau bersedia membaginya denganku. Kau membiarkanku tahu masa lalumu dan bahkan memberiku kesempatan untuk mundur.”

Donghae menunggu Sora menyelesaikan kalimatnya, jantungnya berdebar hebat. Ia sungguh takut Sora akan meninggalkannya seperti Narin meninggalkannya. Ia takut Sora akan memilih Soohyun serta mencampakkannya seperti Narin memilih lelaki itu dibandingkan mengejarnya ke Amerika. Sora tidak menganggapnya anak kecil yang mudah dibohongi, bukan?

“Apa kau ingin mundur?” tanya Donghae dan sangat berharap Sora mengatakan tidak. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri dengan menatap Sora lekat-lekat. Tetapi ia tak bisa menerka jawaban Sora dari ekspresinya. Sora tampak bimbang, ragu, dan kalut.

“Jika aku ingin mencintaimu, maka aku harus menerima kekurangan dan kelebihanmu karena aku pun bukan manusia sempurna. Aku memiliki kelebihan serta kekurangan dan kuharap pria yang kucintai bisa menerimanya. Aku telah memilih untuk jatuh cinta padamu, maka aku akan menerima konsekuensinya selama kau tidak mengkhianati perasaan yang sudah kucurahkan untukmu.”

Sora belum sempat menyelesaikan karena Donghae memeluknya. Pelukan itu terasa hangat dan menggebu seolah Donghae sedang mencurahkan seluruh perasaannya. Sora bisa merasakannya, perasaan cinta Donghae dan rasa terima kasihnya. “Aku sudah menduganya. Kau memang gadis yang berbeda, Sora. Kau adalah malaikat penyelamat yang dikirimkan Tuhan untukku. Terima kasih karena masih bersedia mencintaiku.”

“Jangan berterima kasih, kumohon. Kau membuatku merasa seperti aku melakukannya karena bersimpati padamu.” gumam Sora di dadanya.

“Apa aku harus menunjukkan terima kasihku dengan cara yang lain?”

Jantung Sora berdebar. Apa yang ingin Donghae lakukan? Darah berdesir hebat dari jantung ke seluruh tubuhnya. Donghae menjepit dagu Sora dengan jari lalu menariknya hingga mata mereka bertatapan dan saat itulah Sora tak bisa bernapas. Mata Donghae memakunya hingga Sora tak berani memalingkan pandangan.

“Menikahkan denganku.”

Oh my..

Apakah Donghae tadi baru saja melamarnya? Tak ada kata-kata yang sanggup Sora ucapkan karena ia terkejut. Kerja otaknya macet. Ia berpikir telinganya salah dengar. Mungkin karena ia terlalu bahagia dan berharap sehingga ia berpikir Donghae mengatakan demikian.

Donghae menangkup wajahnya dengan kedua tangan, menegaskan kesungguhannya memperistri Sora sekali lagi. “Aku serius, Min Sora. Aku ingin kau menjadi istriku.”

Sora mengerjap. Ternyata ia tidak sedang bermimpi! Dan Donghae bahkan tidak bertanya apakah ia bersedia menjadi istrinya, tetapi pria itu berkata dengan tegas bahwa ia harus menjadi istrinya. Menyadari bahwa Donghae benar-benar melamarnya, airmata terbendung di sudut matanya lalu menitik secara perlahan tanpa sempat dicegah.

“Hei, aku melamarmu bukan untuk membuatmu menangis.” Donghae mengecup kedua pipinya dengan lembut, “Maaf jika aku mengejutkanmu.” Ia tidak akan melakukan ini jika tahu Sora akan begitu syok.

“Apa seorang gadis tidak boleh menangis ketika sang kekasih melamarnya?” isak Sora. “Meskipun sebenarnya aku berharap suasana yang lebih romantis saat dilamar, aku tetap gembira mendengar kau ingin menikahiku.”

Mau tak mau Donghae tertawa. Sungguh, Sora adalah gadis paling tak bisa ditebak yang pernah Donghae kenal, dan dia selalu berhasil membuat perasaannya jungkir-balik. Ia sudah takut ia telah menyakiti Sora karena masa lalunya, tetapi gadis itu justru mengatakan hal yang membuat Donghae sangat mencintainya. Rasa haru dan bahagia membuncah di hatinya. Ia menarik Sora ke dalam pelukannya lalu memagut bibirnya dengan mesra.

Sora menyambut dan membalasnya dengan tarian bibir yang tak kalah menggebu. Ia merasakan tangan Donghae merayap ke atas punggungnya, menyentuh tengkuknya. Sentuhan itu membuatnya menggigil namun ia merasa suhu tubuhnya meningkat. Ketika Donghae menggigit bibirnya, Sora melenguh.

Donghae langsung menjauhkan wajah dan tangannya dari Sora sebelum ia berbuat terlalu jauh. Ia terengah, Sora pun susah payah mendapatkan kembali napasnya. Mereka bertatapan. Donghae tertegun menatap wajah Sora yang merona. Jika ia tidak berhenti, ia yakin mereka akan berakhir di atas ranjang. Ia tidak akan menodai Sora sebelum janji suci mengikat mereka.

“Aku harus memberimu cincin untuk membuktikan bahwa aku sudah melamarmu. Bagaimana jika kita pergi memilih cincin besok?”

Sora hanya mengangguk, ia masih terhipnotis senyuman Donghae. Apa ia kembali menjadi Sora si bodoh? Biarlah, selama Donghae mencintainya ia tak peduli. Donghae tersenyum tulus lalu maju untuk mengecup puncak kepala Sora.

“Aku akan menghubungimu besok. Sekarang aku harus pulang.”

Ya Tuhan, besok Donghae akan memberinya cincin! Sora dengan bahagia menantikannya.

—o0o—

“Donghae melamarmu?”

Sora masih merasa seperti mimpi. Karena itu ketika ia menceritakan lamaran Donghae pada Jeyoung keesokan sorenya, ia tetap saja merona. Ia mengabaikan Jeyoung yang membelalakkan mata dan lupa bahwa ibu muda itu sedang menidurkan putrinya. Ia menganggukkan kepala.

“Kau tak perlu sehisteris itu, kau bisa membangunkan Ahyoon.” Bibir Sora berkedut menahan senyum. “Lagipula memang kenapa jika pada akhirnya Donghae melamarku?”

“Aku hanya tidak menyangka.” Jeyoung menggelengkan kepala, “bagaimana bisa kau mengubah pikirannya? Apa dia melakukan sesuatu padamu? Apa dia menidurimu?”

“Jeyoung!” Sora cemberut. Ia tersinggung karena bukannya bahagia, Jeyoung justru menuduhnya melakukan hal yang tidak-tidak. “Donghae tidak sebejat itu. Dia mencintaiku. Bisakah kau tidak selalu berpikir negatif tentangnya? Tanpa bantuan Donghae hubunganmu dengan Kyuhyun tak akan berhasil hingga sekarang.”

“Ah, kau mengungkitnya lagi.” Jeyoung mendesah kalah. Sora benar, tanpa bantuan Donghae pernikahannya dengan Kyuhyun mungkin sudah berakhir. Tiba-tiba ia merasa bersalah karena telah menuduh Donghae. Hanya karena pria itu menggantungkan perasaan Sora bukan berarti Donghae mempermainkannya, bukan. “Baiklah maafkan aku karena sudah bersikap seperti kakak yang protektif. Aku hanya mengkhawatirkanmu. Aku tidak ingin kau terluka.”

“Aku tidak suka ide kakak yang protektif.” Gerutunya. Gagasan itu membuat Sora teringat pada Narin sekaligus apa yang dilakukannya pada Donghae hingga membuatnya merasakan trauma mendalam. “Tapi aku terima semua nasehatmu.”

Jeyoung mengelus pundak Sora sebagai bentuk dukungan. Telapak tangan yang semula membelai bahu Sora merayap lebih jauh lagi hingga akhirnya Sora berada di pelukan Jeyoung. “Selamat, tak lama lagi kau akan menikah. Aku berdoa untuk kebahagiaanmu.”

Sora tersentuh, tiba-tiba suasana menjadi mengharu-biru. “Jeyoung, aku benci padamu karena membuatku terharu.” Rasa bahagia merasuk hatinya dan Sora yang semula berjanji tidak akan menjadi cengeng terpaksa mengingkari janji. Ia menarik napas dalam sambil menekan rasa sesak di tenggorokannya. Ia balas memeluk Jeyoung. “Terima kasih karena selalu mendukungku selama ini. Aku tidak akan pernah memiliki sahabat sepertimu lagi.”

Sudah lama sekali mereka tidak bercerita dari hati ke hati seperti ini. Dahulu sebelum Jeyoung menikah dan memiliki anak, mereka selalu meluangkan waktu untuk saling berbagi cerita di sela jadwal padat mereka. Selain bisa mempererat hubungan persahabatan mereka, Sora juga merasa tidak sendirian. Jeyoung sudah ia anggap keluarganya sendiri. Sekarang Sora amat merindukannya dan mungkin ia akan semakin merindukan momen ini setelah ia menikah.

Tiba-tiba pintu kamar dibuka.

“Ya Tuhan, siapa yang meninggal dunia?”

Dua wanita yang sedang berpelukan itu sontak melarikan pandangan ke arah Kyuhyun yang membatu di ambang pintu. Jelas sekali terkejut menyaksikan suasana ganjil yang melingkupi istrinya dan Sora.

“Tidak ada yang meninggal, Presdir. Apa kau tidak biasa melihat gadis-gadis berpelukan?” umbar Sora sambil menjauh dari Jeyoung.

Kyuhyun mengendikkan bahu, lalu mendekati istrinya. “Suasana kamar begitu dingin dan menyesakkan saat aku masuk. Kupikir salah satu dari kalian sedang berduka.” Kyuhyun menatap wajah Sora yang sembab dan mengerjap, “tunggu, apa Donghae baru saja memutuskanmu?”

“Cho Kyuhyun!”

Yeobo!”

Sora dan Jeyoung menegurnya bersamaan. Mereka menjengit karena Kyuhyun seenaknya menebak-nebak begitu melihat ada jejak airmata di wajah Sora.

“Sshhh, pelankan suara kalian. Ahyoon bisa bangun.” Kyuhyun mendekat ke sisi ranjang bayinya dan mendesah lega melihat gadis kecilnya masih tertidur nyenyak. “Aku tidak bisa bermesraan dengan Jeyoung malam nanti jika Ahyoon terjaga.” Ekspresinya begitu serius sampai siapapun yang melihatnya mengira Kyuhyun sedang membahas rancangan proyek di dalam rapat.

Sora memutar bola mata sementara Jeyoung hanya menepuk keningnya. “Oh please, aku benar-benar tidak ingin tahu cerita kamar kalian.”

“Kalau begitu bagaimana jika kau saja yang bercerita tentang ‘cerita kamar’mu.” Usul Kyuhyun dengan santainya. Ia duduk di samping istrinya. Sora mengerjap gugup begitu Kyuhyun menembakkan pertanyaan semacam itu padanya. “Ayolah, kau dan Donghae pasti memiliki beberapa cerita mesum bersama bukan?” Kyuhyun menaik-turunkan alisnya penuh semangat.

Mungkin di kepala Sora sudah keluar asap karena ia merasa sangat malu saat ini. Pipinya seperti terbakar. Mengapa semua orang ingin tahu apakah ia sudah tidur dengan Donghae? Ia teramat heran dengan hal itu.

“Berhentilah menggodanya. Donghae tidak sepertimu, dia cukup tahu diri untuk menjaga Sora hingga mereka resmi menikah.” Jeyoung mencubit pinggang Kyuhyun. Pria itu meringis, tapi bukannya marah justru menyeringai. Ia heran mengapa Kyuhyun muncul di saat ia dan Sora sedang asyik mengobrol. Biasanya Kyuhyun lebih senang mendekam di ruang kerja daripada mendengarkan obrolan konyol para gadis.

“Apa aku tidak boleh tahu apa yang sudah Donghae capai dalam hubungannya dengan Sora? Sejak dahulu aku selalu penasaran dengan kisah cintanya. Donghae sangat tertutup untuk yang satu itu.”

Sora mengeryitkan dahi. Jadi Donghae tidak menceritakan masa lalunya pada Kyuhyun? Ia heran, bukankah mereka berbagi banyak hal ketika di Amerika dulu. Ah, tentu saja Donghae merasa sangat muak dan menganggap cintanya pada Narin yang tak terbalas terlalu memalukan untuk diceritakan. Ia mendesah lega, untung saja ia belum menceritakannya pada Jeyoung. Jika Donghae tak bisa membaginya dengan Kyuhyun yang merupakan sahabat terdekatnya maka Sora pun akan sekuat tenaga menjaga rahasia Donghae dari Jeyoung.

“Kami hanya berkencan seperti biasa.” Ucap Sora ketika ia akhirnya menemukan suaranya. “Tidak ada rahasia kotor yang kami simpan. Dan jangan menatapku seperti itu! Kami belum ‘tidur’ bersama seperti yang kau bayangkan.” Tambah Sora dengan tegas ketika Kyuhyun menyipitkan mata tak percaya padanya. Lagipula mengapa pria ini begitu memaksa ingin tahu apa yang ia lakukan dengan Donghae? Sejak kapan Kyuhyun sangat bersemangat dengan kehidupan sahabatnya?

“Aneh sekali. Semua wanita yang berkencan dengan Donghae tidak pernah lolos dari rayuannya. Dia memang tidak berganti pacar sesering Kibum, Donghae adalah tipikal yang sangat pemilih, tetapi Donghae selalu berhasil membawa wanita-wanita itu ke atas ranjang—“ suara Kyuhyun langsung lenyap karena Jeyoung membekam mulutnya begitu ia sadar ucapannya membuat Sora pucat pasi.

“Jangan dengarkan Sora, kau bukan wanita sembarangan. Donghae tidak akan tega menodai wanita yang dicintainya. Lagipula dia sudah melamarmu, bukan.”

Ironisnya, Donghae telah menodai wanita pertama yang dicintainya. Batin Sora pilu.

Kyuhyun membelalakkan mata. Ia susah payah melepaskan tangan Jeyoung dari mulutnya, “Tunggu, Donghae melamarmu? MELAMARMU?” dari ekspresinya tampak jelas dia terkejut.

Sora sudah terlanjur memikirkan kata-kata Kyuhyun barusan sehingga tidak begitu antusias menjawab pertanyaannya. “Ya.”

Sikap Kyuhyun tiba-tiba saja berubah, pria itu kini tampak salah tingkah. “Um, Sora. Lupakan kata-kata yang kuucapkan tadi. Donghae adalah pria yang sangat baik. Aku yakin kau akan bahagia dengannya.”

“Mengapa kata-katamu bertolak belakang dengan sebelumnya?” Jeyoung heran sekali. Kyuhyun mengabaikan kata-kata sinis istrinya dan hanya fokus pada Sora.

“Aku hanya tidak percaya Donghae akan melakukannya.” Kyuhyun menunjukkan raut penuh penghormatan. “Kau sudah mengubah Lee Donghae. Sahabatku yang paling sulit berkomitmen itu akhirnya melamar seorang gadis.”

Perlahan, ketegangan di wajah Sora mengendur. Ia tahu Kyuhyun hanya menggodanya dengan mengumbar sisi buruk Donghae karena pria itu langsung menyesal begitu tahu Donghae ternyata serius dengannya. Sora bisa merasakan bahwa Kyuhyun pun sama seperti Jeyoung, berusaha memastikan sahabatnya mendapatkan yang terbaik.

“Terima kasih.” Sora tersipu. Ia melirik jam tangannya dan menyadari sudah waktunya ia pergi. Donghae mungkin sudah menunggunya di tempat mereka akan memilih cincin pertunangan.

“Sepertinya aku harus pergi. Aku akan datang kembali kemari dengan kabar yang lebih baik.” ia menghampiri Jeyoung lalu memeluknya.

“Aku menanti kabar itu.” ujar Jeyoung. Sora tersenyum lalu beralih memeluk Kyuhyun.

“Jika kau bertemu Donghae, aku ingin kau memberinya satu pukulan di kepala.” Pesan Kyuhyun.

Sora membelalakkan mata. “Wae! Aku tidak akan melakukan permintaanmu yang aneh-aneh!”

“Anggap saja sebagai pembalasanku karena tidak memberitahuku bahwa dia akan menikah. Apa dia bermaksud menikah diam-diam di belakangku?” tuntut Kyuhyun dengan ekspresi yang membuat orang lain salah paham.

“Kau menggelikan, Presdir Cho!” Sora merinding. Kyuhyun tertawa lalu merangkul pinggang Jeyoung dengan mesra. Ia menoleh ketika sadar Sora masih berdiri di depannya.

“Mengapa kau tetap di sini, pergilah! Aku ingin bermesraan dengan istriku.” Jeyoung langsung memukul bahu Kyuhyun dan Sora mendengus jengkel.

“Aku tidak percaya aku harus diusir dulu baru pergi.” erangnya lalu pergi diiringi kekehan geli Kyuhyun.

Dasar bos menyebalkan!

—o0o—

Sora mengemudi sambil berkali-kali mengecek jam di dasbor mobil. Mungkin ia harus memberitahu Donghae bahwa ia akan datang terlambat. Jalanan yang ia lalui macet karena bertepatan dengan jam makan malam. Tiba-tiba ponselnya mendentingkan nada yang mengisyaratkan bahwa ada pesan masuk. Ia membukanya.

Apa kau ada waktu? Bisa kita bicara sebentar?

Pesan itu dari nomor yang tak dikenal. Sora mengerutkan kening heran. Siapa yang memintanya bertemu di jam seperti ini? Mungkinkah seseorang salah mengirim pesan ini padanya? Penasaran Sora membalasnya.

Siapa kau?

Pandangan Sora teralih sejenak ke depan untuk memastikan ia berada dalam jarak yang aman dengan mobil di depannya sampai pesan balasannya masuk.

Aku Narin, kita berkenalan tempo hari di apartemen Donghae.

Sora nyaris menjatuhkan ponselnya karena kaget. Ia mengumpat. Sial. Darimana Narin tahu nomor ponselnya? Seingatnya ia tak membagikan nomor ponselnya pada ibu-ibu protektif itu. Ia menggigit bagian dalam bibirnya, jawaban apa yang harus ia berikan pada Narin? Ia sungguh tidak ingin bertemu dengan wanita itu lagi tak peduli bahwa Narin adalah calon kakak iparnya. Ralat, calon kakak ipar tiri yang sialnya adalah mantan wanita yang disukai Donghae.

Maaf, tetapi hari ini aku memiliki janji dengan Donghae.

Narin tidak akan berani membalas lagi. Sora amat yakin setelah ia mengetik kata-kata itu lalu mengirimkannya. Ia yakin Narin tahu diri. Lagipula apa yang ingin dibicarakannya? Apa dia masih ingin mewawancarai Sora atau justru ingin menyingkirkannya dari hidup Donghae? Demi Tuhan, mengapa Narin repot-repot melakukannya, bukankah wanita itu sudah bersuami?

Apa yang Narin khawatirkan sebenarnya? Sora bukan wanita jahat yang datang untuk menghancurkan hidup Donghae ataupun memeras harta kekayaannya. Suara denting tanda pesan masuk mengagetkan Sora. Ia buru-buru membacanya.

Hanya sebentar saja. Kumohon.

Sial, dia berani menjawab bahkan memaksanya datang! Sora sungguh tidak mengerti jalan pikiran Narin. Apa yang sebenarnya diinginkan wanita itu? Ia menghembuskan napas dan memutuskan mengalah. Ia ladeni saja Narin hanya untuk mengetahui sampai sejauh mana wanita itu berani ikut campur urusannya dengan Donghae. Bagaimana pun mereka akan segera menjadi keluarga, bukan? Ia hanya tak percaya akan memiliki kakak ipar menyebalkan sepertinya.

Baiklah. Di mana kita akan bertemu?

Jawaban Narin datang satu menit setelahnya yang memberitahukan ke mana Sora harus pergi. Ia lekas mengirim pesan pada Donghae bahwa ia akan datang terlambat karena jalanan macet. Begitu tiba di persimpangan, Sora segera memanuver mobilnya ke jalan menuju tempat pertemuannya dengan Narin yang berlawanan arah dengan tempat ia dan Donghae akan bertemu.

Sora tak sabar ingin mengetahui apa yang ingin dibicarakan Narin.

—o0o—

Restoran yang dipilih sebagai tempat pertemuan itu dalam kondisi ramai. Sora agak kesulitan menemukan Narin. Rupanya wanita itu menyewa tempat yang lebih privat. Beruntung Sora bertanya lebih dulu pada pelayan yang langsung mengantarnya menuju ruang makan dengan dinding penyekat. Sepertinya Narin sengaja memilih tempat itu agar mereka leluasa berbicara tanpa takut akan adanya pencuri dengar.

“Maaf aku terlambat.” Sora menundukkan kepala pada Narin yang duduk di depan salah satu sisi meja setelah pelayan yang mengantarnya pergi dan menutup pintu ruang makan. Meninggalkannya hanya dengan Narin. Ruangan makan berukuran 4×4 meter itu didesain menyerupai ruang makan keluarga bangsawan tempo dulu dengan meja rendah dan segala perabotan keramik era Joseon. Melirik ke atas meja, sudah tersedia berbagai macam hidangan tradisional Korea. Sora tertawa sinis dalam hati, ia bahkan tak diberi kesempatan untuk memesan makanan yang ingin ia santap.

“Tidak apa-apa, aku pun baru tiba.” Narin tersenyum lalu mempersilakan Sora duduk. Sora melepas sepatu dan memilih tempat berseberangan dengan Narin. Ia heran mengapa Narin memilih rumah makan tradisional yang mengharuskannya melepas sepatu. Apa dia ingin membuat Sora duduk bersimpuh terlalu lama? Ia benar-benar merasa seperti akan diinterogasi.

Mereka duduk dan hanya bertatapan selama beberapa detik. Keheningan yang menyesakkan menggantung di udara. Sora melihat kegusaran dalam sorot mata Narin dan Narin melihat binar permusuhan di mata Sora. Ia tak bisa menahan senyum ironisnya. Ia yakin Sora mencurigai ada motif jahat di balik pertemuan mereka kali ini. Sebenarnya, itu tidak sepenuhnya salah.

“Maaf karena sudah memaksamu datang. Apa kau ingin menikmati makan malam lebih dahulu atau kau ingin memulai pembicaraan saja?” tanya Narin dengan santai. Ia menawarkan soju pada Sora yang langsung membuat gadis itu gusar.

“Aku tidak akan bisa lama. Lebih baik kita mulai saja pembicaraannya.” Jawab Sora tegas. Ia membiarkan Narin menuangkan soju untuknya demi kesopanan. Ia pun menyesapnya sedikit untuk menghormati Narin.

Narin mengulum senyum, “kau tidak lapar? Hmm, baiklah jika itu maumu.”

“Bagaimana kabar ibu dan Minwoo?” Sora memilih bertanya karena ia khawatir Narin akan menjatuhkan bom padanya jika ia terus menunggu.

Sekelebat raut kaget melintasi wajah Narin, sepertinya dia tidak menyangka Sora akan menanyakan kabar Ibu dan anaknya. “Mereka baik. Sekarang mungkin mereka sedang bermain bersama, kebetulan Ayah baru kembali dari perjalanannya di luar negeri.”

Oh, ini berita baru. “Apa Ayah juga sehat?” Sora tak pernah bertemu dengan Ayah Donghae tetapi ia merasa ingin tahu kabarnya juga.

“Ya.” Narin mengeryit dan memberinya tatapan curiga. Sora mendengus. Apa aku juga tidak boleh tahu kabar calon ayah mertuaku? Batinnya.

“Lalu apa yang ingin kau bicarakan?”

“Mengapa kau bicara dengan bahasa tidak formal padaku? Aku lebih tua darimu.” Serobot Narin tampak jelas tersinggung.

Sora mengerjap. Apa ia bicara dengan bahasa tidak formal? Mungkin karena pengaruh rasa curiganya ia menjadi tidak sadar dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ia langsung meminta maaf. “Maafkan aku.” ia menundukkan kepala. Meskipun ia tidak menyukai Narin, ia tidak boleh sampai memiliki hubungan buruk dengannya.

Narin menarik napas lalu menghembuskannya. “Apa sikapku terlalu menyebalkan sampai membuatmu lupa memakai sopan santun?”

Aha, kau mengetahuinya? Sora ingin sekali mengatakan itu. Tetapi ia justru mengucapkan kalimat lain, “Mungkin karena aku terlalu lelah setelah aktivitas padat di kantor.”

“Apa pekerjaanmu?” Narin tidak tertarik dengan jawaban Sora dan justru menanyakan pertanyaan lain. Sungguh sikap yang menyebalkan.

“Aku menjabat sebagai Manager HRD di Cho Corp.” Tutur Sora bangga. Untuk pertama kalinya ia merasa sangat bersyukur karena memiliki jabatan yang cukup disegani di kantor. Mungkin jika Narin tahu sebesar apa uang yang sanggup dihasilkannya wanita itu tidak akan berulah lagi.

Narin hanya mengangguk, sepertinya dia menganggap jabatan Sora tidak terlalu penting. Sora jengkel dan ia balik bertanya. “Lalu apa pekerjaanmu, Eonni?” ia sengaja menekankan kata ‘Eonni’ sehingga membuat Narin tak berkedip menatapnya.

“Donghae belum menceritakannya padamu? Aku adalah pemilik Aurora Magazine.”

Sora terperanjat mendengar Narin menyebutkan sebuah majalah wanita ternama di Seoul. Ia malah lebih terkejut lagi ketika tahu bahwa Narin adalah pemiliknya. Diulang; PEMILIKNYA. Bukan hanya pegawai ataupun manager. Detik itu Sora merasa seperti jatuh dari atas pesawat tanpa memakai parasut. Ia mematung di tempatnya. Jelas sekali jabatan dan uang yang dihasilkan Narin jauh lebih tinggi darinya. Ia kalah.

“Dilihat dari ekspresimu, sepertinya Donghae belum bercerita apapun tentang keluarganya padamu.” Narin menyunggingkan senyum sombong.

Sora buru-buru menormalkan wajah tercengangnya. Ia tak boleh memberikan Narin kegembiraan. “Pembicaraan kami belum sampai tahap itu, maaf sekali. Lagipula sejauh yang kutahu, sepertinya Donghae justru enggan menceritakan apapun yang berhubungan denganmu.” Tandas Sora. Ia sangat puas begitu melihat Narin terpukul.

“Begitukah?” gumam Narin, “sepertinya Donghae memang membenciku.”

Apa? Sora mengerutkan kening bingung karena Narin menyetujui ucapannya. Seharusnya dia tersinggung!

“Jadi sebenarnya apa tujuanmu memintaku kemari?” Sora berusaha mengatakannya dengan kalimat yang sopan. Tiba-tiba saja ia ingin keluar dari tempat ini. Ia kesulitan bernapas jika terus berada satu ruangan dengan Narin dan berbicara dengannya.

“Ah ya, tujuan kita bertemu. Aku memang memiliki sesuatu yang penting untuk kukatakan. Ini berkaitan dengan hubunganku dan Donghae. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya padamu tetapi aku harus melakukannya. Aku tidak ingin ada rahasia karena sepertinya Donghae ingin menjadikanmu bagian dari keluarga kami.”

Tangan Sora yang ia tumpukan di atas pahanya mengepal erat. Ia menantikan dengan waspada apapun yang ingin Narin katakan. Sebenarnya ia sudah bisa menebak, tetapi ia membiarkan Narin melanjutkan kata-katanya.

“Kulihat Donghae sangat mencintaimu. Aku tidak pernah menyaksikannya begitu melindungi seseorang sebelumnya. Apa yang sudah kau lakukan pada Donghae?”

Ini tidak seperti yang Sora pikirkan. “Aku tidak melakukan apapun padanya. Kami hanya saling jatuh cinta.”

“Ah,” Narin mengangguk, “Jadi kau sudah tidur dengannya?”

“Maaf,” potong Sora dengan nada tinggi. Ia tersinggung. “Itu bukan sesuatu yang pantas untuk dibahas. Pertanyaanmu melanggar privasiku.”

“Tak perlu menyembunyikannya dariku. Aku sudah melihat bagaimana cara kalian berinteraksi. Kutebak hubungan kalian sudah lebih dari sekedar saling berpelukan dan berciuman.”

Apa sebenarnya yang ingin Narin ketahui? Sora menatap tajam wanita itu. Runtuh sudah segala sikap hormat yang sudah Sora jaga sejak ia duduk. “Apapun yang kami lakukan itu adalah urusan kami.” Tegasnya.

“Aku harus tahu. Aku adalah kakaknya. Aku ingin tahu seperti apa gadis yang berhubungan dengan adikku.” Suara Narin ikut meninggi.

“Apa kau selalu bersikap sekeras ini pada semua wanita yang menjalin hubungan dengan adikmu?”

“Ya, apa kau keberatan?”

“Apa hakmu melakukannya?”

“Apa?”

Mereka saling melemparkan tatapan tajam dan dingin. Sora bertahan menerima pelototan Narin. Ia tidak akan gentar hanya karena menerima pertanyaan yang sangat menyinggung dan bahkan lebih kejam dari pertanyaan yang diajukan pada pelaku pembunuhan. Narin tidak berhak menindasnya meskipun tujuan wanita itu adalah untuk melindungi Donghae.

“Aku tahu kau melakukan ini karena menyayangi Donghae, tetapi apa kau tidak sadar bahwa yang kau lakukan kemungkinan bisa menyakiti hati Donghae? Dia berhak memilih wanita manapun yang disukainya. Aku tidak mengerti wanita seperti apa yang kau anggap pantas mendampingi adikmu jika kau terus menyerang semua kekasih Donghae seperti seorang wanita yang cemburu dan takut kekasihnya direbut wanita lain.”

“Kau..” Narin terkejut dan kehabisan kata-kata. Mulut wanita itu menganga tanpa suara. Sepertinya dia tidak pernah mendapat perlawanan dari kekasih Donghae yang sebelumnya sehingga sikap Sora yang menantang amat mengejutkannya. Hal itu bisa dilihat dari caranya membelalakkan mata.

Sora sadar kata-katanya memang keterlaluan namun ia tak peduli, karena itu ia melanjutkan. “Jika kau memang seorang kakak, seharusnya kau mendukung keputusan apapun yang diambil adikmu. Donghae bukan pria bodoh. Dia tahu apa yang terbaik untuknya. Dia adalah pria yang luar biasa baik dan hanya wanita tolol yang tega mengingkari kebaikannya. Aku tidak pernah memiliki niat untuk menyakitinya, jika itu yang membuatmu sulit menerimaku.” Napas Sora memburu ketika ia mengambil jeda untuk menenangkan diri. Ia memperlihatkan sikap seteguh karang di depan Narin yang masih tercengang, tak percaya akan ada wanita di dunia ini yang berani melawannya.

Narin membuang napas tak percaya, “jadi kaupikir kau adalah wanita yang pantas untuk Donghae?” sindirnya.

“Mengapa aku harus berpikir bahwa aku tidak pantas?” balas Sora sengit.

“Kau sungguh gadis yang lancang!” Narin tertawa mengejek. “Kita lihat apa kau masih seteguh ini setelah kau mendengar apa yang sesungguhnya ingin kukatakan padamu.”

Jantung Sora menghentak dadanya dengan kencang. Rahangnya mengeras.

“Aku ingin tahu sampai sedalam apa kau mencintai Donghae. Jika kau masih bertahan di depanku bahkan setelah aku membeberkan segalanya, aku akan berusaha menerimamu. Tetapi jika kau pergi seusai aku menjelaskan, jangan harap aku merestui hubunganmu dengan Donghae.” tambah Narin penuh ancaman seolah menantang Sora untuk pergi dari hadapannya. Sora tidak akan membiarkan Narin menang. Ia sudah tahu segala hal mengenai masa lalu Donghae dengan kakak tirinya itu.

Karena itu ia akan tetap diam dan mendengarkan.

—TBC—

387 thoughts on “Crazy Because of You [Chapter 8]

  1. aarggghhhh kenapaaaaa kenapaaaa TBC……??!!!

    padahal lafi seru serunya penasaran banget apa sih yg mau si narin sialan itu sampeinn ke soraaa….
    .

    huhh thour ini ceritanya makin lama makin bikin emosi jiwa… kerennnnn….!!!

    lanjutannya jangan lama- lama yaaa.. ini aku udah ga sabar pengen ngejambak si narinnn…

  2. kayaknya aku masih curiga deh kl minwoo emang bener anaknya donghae… mungkin narin sengaja bilang sama donghae kl minwoo itu anak suaminya…. aku rasa sebenarnya narin itu beneran suka sama donghae tpi mungkin dia ga mau nyakitin ibunya dia nikah sama orang lain yg dia akuin kl dia cinta sama tuh cowok… dan mungkin fakta ini yg mau di ungkap sama narin ke sora..

  3. Kak Dha… bisa nggk jangan lama lama TBCnya? heheh Greget nih.. berbulan-bulan Aku nunggu setiap DH versionnya apalagi yang ini.
    kadang ngingetin Aku ke drama ‘Innoucent Man’… Tapi sumpah ini lebih baik 250% dari Innoucent Man.
    Keep Writing dan jangan kelamaan Kak Dha…!!
    Nanti kalo dibuat buku bilang2 ya Kak Dha… heheh
    SEMANGAT! Kak Dha
    Semangat DH!
    Semangat Sora!

  4. Bngung,, sbnarx ap sih maux si narin?? Bner twuh kta sore, mcam keksih yg tkut pocarx d rebut saja. Omg….. Gaa nyangkaa, narim cwe prtma yg ngerusak donghae

  5. Baru baca ini, astagaa, seru banget, ayo sora! Lawan narin, kamu pasti bisa demi donghae🙂 Awas aja narin klo ganggu hubungan hae-sora

  6. Aku nunggu bgt eon ya akhirnya post juga kemana ajah -_- gak ngepost2 .
    Sumpaaaah udh giliran donghae jujur udh terbbuka
    Narin GILA ngapain lg sih? Dia gk rela donghae sm org lain?
    aaa udh deh kasian donghae sora TmT
    Happpy love nyaaaaa eonnn

  7. ahhhh dasar narin nyebelin.
    , , ahhh aku telat ei bacanya, eshhhh pokoknya keren deh ff’nya eonny. eonny tetep semangat

  8. aaaaaa rameeee >.< narin oh narin.. kenapa kau overprotektif seperti itu. smacem cemburu buta, gitu .-.
    ayo sora. teguhkan niatmu. aku menundukungmu!😀
    jgn sampai goyah ya soraaaa🙂 smangat!
    smoga nanti narin sadar & merestui mereka.

    lancar yaaa pernikahannya sora dongek😀 hwaiting! (^^)/

    *maaf nongolnya di ending lg😀 ehehhehe

  9. wuiiishhh tbc y ky sinetron….. ni keren bgt thorr…. jd donghae dan narin sodara tiri … ky y da rahasia lg dech yg narin mo ungkapin deh…. pa minwoo ank donghae ….. ???????

  10. Waa donghae bakalan nikah dgn sora..!!
    Finally mereka berdua ngaku jg dgn perasaan masing2
    Tp ada narin yg sangat menyebalkan dan mau rusak hubungan mereka
    Ugghh rasax mau jambak narin
    Kira2 fakta apa yg bakal terkuak lagi nih?? Penasaran banget eon
    Ayoo dilanjut eon..ditunggu kelanjutanx

  11. huh sebel banget sama narin di part ini pingin jambak tu si narin upsss hehehe
    semoga aja hubungan sora ma donghae berjalan lancar.
    trus apalagi yg mau diungkapkan narin ke sora ya ?hemm penasaran.
    DAEBAK
    #HWAITING~

  12. Narin, apa yang ingin dia bicarakan? Apa tentang ‘tidur bersama’? Jika, ya apa Sora akan sanggup bertahan mendengar keseluruhan cerita itu? Aku pusing mengapa sikap Narin yang menyayangi adiknya yang sedang ingin mempersunting Sora sebagai istrinya kenapa terlalu berlebihan seperti itu yah, apa dia cinta kepada Donghae-adiknya sendiri? Jika, ya kenapa? Bukan kah dia sudah memiliki suami dan anak yang berumur 4 tahun? Apa dia menikah hanya ingin mekelabui Donghae supaya dia tidak terlalu berharap lebih karena mereka itu secara hukum adalah saudara, lebih tepatnya saudara tiri. *maaf kalau kata2nya muter2 di situ2 aja*

  13. Aku sempat berfikir kalau minwoo anak donghae, bersyukur ternyata bukan. Astagaa semuanya mengejutkan! Eish kyuhyun mulutnya -_- ikutan emosi dengan pembicaraan mereka. Narin you’ll die >,< semoga sora bertahan disamping donghae.

  14. Ping-balik: REKOMENDASI FANFICTION | evilkyu0203

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s