School in Love [EPILOG STORY]

Title : School in Love EPILOG STORY Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung Genre : Romance

Main Cast: Bae Suzy – Kim Kibum | Park Jiyeon – Cho Kyuhyun | Im Yoona – Lee Donghae

Dha’s Speech : Menjawab rasa penasaran teman-teman, inilah tambahan cerita School in Love. Mereka sudah dewasa yah di cerita ini ^_^

Semoga memuaskan. Happy Reading ^_^

School in Love by Dha Khanzaki Suzy-Kibum moment

=====EPILOG STORY=====

8 YEARS LATER..

Blitz kamera menyambar silih berganti mengiringi langkah Suzy dalam acara Incheon Film Festival. Ia tampak memesona dalam gaun cantik rancangan Kim Tae Hee yang memang dibuat khusus untuknya. Para awak media begitu semangat mengambil setiap detail gerakan Suzy. Lambaian, postur tubuh, hingga langkahnya yang luwes dan anggun tampak sempurna dalam lensa kamera.

Bae Suzy kini tidak hanya nama seorang gadis remaja biasa, sekarang nama itu lebih dari sekedar terkenal. Suzy telah menjadi nama seorang model international dan aktris. Paras cantiknya menghiasi setiap cover majalah ternama Korea. Berbagai macam merek parfum, pakaian, hingga kosmetik rela membayar mahal hanya untuk menjadikan Suzy sebagai brand ambassador mereka. Suzy pun telah membintangi lusinan CF, video musik dan serial drama yang membuat namanya kian melambung tinggi dan berdiri kokoh di puncak popularitas. Gelar sebagai bintang Hallyu telah Suzy raih. Kehidupan pribadi Suzy tak pernah menjadi rahasia, tanpa terkecuali hubungan asmaranya dengan fotografer terkenal, Kim Kibum. Suzy memang tidak berniat menyembunyikannya, karena itu ketika paparazzi mengabadikan momen ketika ia dan Kibum berkencan, ia sama sekali tidak membantah. Ia hanya kebingungan ketika dihujani pertanyaan kapan ia dan Kibum akan menikah. Seperti yang diajukan mereka kali ini.

“Kalian akan tahu jika saatnya telah tiba.” Suzy menempelkan senyum terbaik di bibirnya.

“Apa kalian akan mengumumkan kabar baik itu?” Suzy diam cukup lama sebelum menjawab, “jika dia telah kembali dari luar negeri.”

Awak media terkejut dan berikutnya ledakan pertanyaan menghujani Suzy. Beruntung beberapa bodyguard segera menggiringnya masuk dan ia bebas dari serbuan para wartawan yang penasaran.

Suzy sebenarnya tak bermaksud mengumumkan bahwa Kibum akan melamarnya tepat setelah pria itu kembali dari luar negeri. Kibum tak menunjukkan tanda-tanda itu. Lebih baik ia lupakan Kibum sejenak dan fokus untuk bekerja. Suzy duduk di belakang panggung, ia baru saja selesai mengerjakan tugasnya sebagai pembaca nominasi. Penata rias baru saja pergi selepas membetulkan riasannya. Seharusnya ia bergabung dengan tamu lain di hall, tetapi ia memilih diam di sana dan merenung.

Lima tahun yang lalu, Kibum pergi tepat ketika ia resmi memulai karir sebagai model di bawah asuhan Kim Tae Hee setelah dua tahun menjalani masa training. Pria itu pergi meninggalkannya demi meraih cita-cita. Suzy membiarkannya karena ia pun bertekad akan menjadi wanita yang pantas bersanding dengannya. Melirik ponsel, senyum Suzy terbit ketika matanya terpaku pada gambar yang menghiasi layar ponselnya.

Betapapun indahnya pemandangan di sini, bagiku kaulah yang terindah.

Itu segelintir kata-kata yang tertulis di foto yang menampilkan pemandangan matahari terbenam di Grand Canyon, Amerika. Sosok Kibum tak tampak dalam foto, tetapi Suzy bisa merasakan kehadirannya karena Kibum-lah yang memotret pemandangan spektakuler itu. Hanya Kibum yang bisa membuat hal yang tampak sederhana menjadi luar biasa. Kemampuan yang sudah Suzy ketahui semenjak ia melihat foto dirinya hasil jepretan Kibum.

Kim Kibum pergi ke Amerika untuk belajar menjadi seorang photografer profesional dan pria itu berhasil mewujudkannya. Pameran foto hasil jepretannya tahun lalu yang dilangsungkan di Las Vegas sukses besar. Tidak hanya meraih keuntungan fantastis, tetapi juga berhasil mencatatkan namanya dalam daftar duapuluh pria tersukses tahun ini versi majalah People.

“Aku penasaran apakah dia akan datang pada acara itu?” Suzy bergumam. Ia sudah memberitahu Kibum bahwa hari ini adalah hari yang penting dan meminta pria itu agar kembali. Tetapi hingga saat ini Kibum tak memberi kabar padanya. Kibum sepertinya membalas dendam, karena akhir-akhir ini Suzy merasa pria itu sedang menggantung perasaannya seperti yang pernah ia lakukan bertahun-tahun yang lalu.

“Tentu saja kau harus kembali. Hari ini hari penting untuk kita.” Gerutunya pelan. Karena itu ketika acara selesai, ia segera pergi ke tempat itu. “Jika sampai tidak datang aku akan..”

“Lalu jika aku tidak datang kau akan apa?”

Suara itu! Suzy terperanjat kaget, kepalanya berputar dengan cepat ke arah samping. Ia terbelalak, hampir saja terjerembab jatuh dari tempat duduknya.

“Kau!” Suzy pucat seolah baru saja melihat hantu. Kim Kibum tertawa geli.

“Itu sambutan darimu setelah satu tahun kita tak bertemu?”

Suzy megap-megap. Kemunculan Kibum di tempat dan waktu yang tak terduga membuat jalan pikirannya macet. “Sejak kapan kau ada di sana!” Ia masih histeris. Mungkin saja ini hanya halusinasinya. Kibum tak pernah berkata dia sudah tiba di Korea. Mungkin karena pekerjaan yang menumpuk dan efek samping merindukannya, ia jadi berkhayal.

“Sepertinya kau tidak senang dengan kepulanganku.” Kibum menaikkan alis sebelah, heran sekaligus geli melihat ekspresi Suzy. Jika dia tidak seterkejut ini, Kibum sudah menciumnya tak peduli berapa banyak orang yang akan menyaksikannya di belakang panggung ini.

Suzy tampak sangat cantik. Bukan karena gaun ataupun riasan wajahnya, kedua hal itu hanyalah pelengkap. Aura Suzy memancar begitu terangnya hari ini sehingga menampakkan kecantikan alaminya dengan sempurna. Kibum sudah tahu sejak dulu bahwa Suzy akan tumbuh menjadi wanita menawan, namun ia tak menyangka Suzy akan menjadi selebriti papan atas. Kibum hanya iseng ketika berkata Suzy sangat cocok menjadi seorang model dan kini ia menyesali perkataannya karena tidak hanya ia yang menikmati kecantikan Suzy, ada ribuan orang di luar sana yang terpikat juga padanya. Kibum tidak bisa membiarkan Suzy sendirian lebih lama lagi. Terutama semenjak ia dan Suzy resmi menjalin hubungan asmara beberapa tahun lalu.

Kedua mata Suzy masih tak berkedip menatapnya yang menyadarkan Kibum bahwa; gadis ini tak percaya ia benar-benar ada di sana. Nyata, hidup dan dapat disentuh. “Hei.” Kibum menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajah Suzy.

Gadis itu berkedip. Sekali, dua kali, lalu akhirnya tersadar. “Ya, Kim Kibum, kau benar-benar ada di sini!” Pekiknya sambil membulatkan mata. Suzy tak pernah menunjukkan ekspresi seperti itu di depan kamera, hanya di depan Kibum.

“Sepertinya kau tidak senang melihatku.” Gumam Kibum entah senang atau sedih. Suzy akhirnya menyadari bahwa Kibum bukanlah imajinasinya. Seperti di film-film romantis seharusnya ia menyambut Kibum dengan sebuah pelukan menggebu. Namun yang terjadi justru kebalikannya. Suzy marah besar.

“Bodoh! Kenapa kau mendadak muncul di hadapanku!” Kibum terperanjat melihat Suzy menuduhnya seperti penjahat.

“Aku tidak tiba-tiba muncul di hadapanmu. Aku sebenarnya sudah berada di sisimu sejak kau duduk di sini. Salahmu mengapa tidak menyadarinya. Kau terlalu tenggelam sambil menatap ponselmu. Sebenarnya apa yang kaupikirkan di kepalamu yang cantik ini? Kutebak kau merindukanku?” Ia menyeringai, menggoda.

“Siapa yang merindukanmu, pria bodoh!” Suzy bangkit setelah meneriakinya. Kibum tak sempat membalas, hanya menatap kepergian kekasihnya dengan raut melongo.

“Apa aku melakukan kesalahan?” Batin Kibum heran. Ia bermaksud memberi kejutan. Ia tak menyangka Suzy akan marah. Ia kira paling tidak ia akan dihadiahi satu ciuman. Jangankan ciuman, senyuman atau ucapan selamat datang saja ia tak dapat.

Rasakan itu! Suzy sangat puas sudah mengerjai Kibum. Siapa yang menyuruhnya datang tiba-tiba, mengejutkannya di saat kerinduan yang ia pendam untuk pria itu sudah tak tertahan lagi. Sungguh, Suzy ingin sekali memeluk Kibum. Ia sangat gembira karena akhirnya bertemu dengan Kibum. Tetapi ketika melihat Kibum tersenyum jahil bahkan menggodanya, Suzy kesal. Ia merasa dipermainkan. Pria ini tidak berubah sama sekali, selalu suka mengobrak-abrik perasaannya.

Sekarang ketika Suzy mendapatkan kembali akal sehatnya, ia menyesal sudah bertingkah sangat buruk. Seharusnya tadi ia tidak berteriak pada Kibum. Demi Tuhan, pria itu bahkan layak mendapat perlakuan lebih baik. Apa salah jika pulang tanpa memberitahunya lebih dulu? Kibum memang pria penuh kejutan sejak dulu.

Acara penghargaan itu telah berakhir. Meskipun Suzy pulang membawa satu buah tropi, ia tidak begitu bahagia. Banyaknya ucapan yang ia terima tak sebanding dengan ucapan selamat Kibum yang mungkin didapatnya jika ia tidak bersikap seperti wanita jalang. Bermaksud menemuinya kembali untuk meminta maaf, Suzy kecewa karena Kibum sudah tidak ada di belakang panggung.

“Ke mana dia? Apa dia meninggalkanku di sini?” Renungnya sedih. Ia akhirnya pulang tanpa Kibum. Di perjalanan di dalam limousine, ponselnya berbunyi. Suzy menerima pesan dari Kim Taehee, calon ibu mertuanya sekaligus orang yang amat berjasa dalam hidupnya.

Selamat atas penghargaannya sayang, kau layak mendapatkan itu setelah kerja keras yang kau lakukan. Oh ya, Ibu juga menerima banyak pujian untuk gaun yang kaukenakan. Kau pasti yang mengatakannya pada wartawan.

Suzy mengulum senyum. “Tidak mungkin aku merahasiakan si tangan emas yang membuat gaun ini.” Pagi tadi Kim Taehee memang memberitahunya agar merahasiakan fakta bahwa gaun yang Suzy kenakan adalah hasil rancangannya karena dia berniat mengambil cuti dari dunia desainer untuk sementara. Sekarang karena sudah terlanjur, akan banyak pesanan yang masuk untuk meminta rancangan Kim Taehee.

Maafkan aku, tapi wartawan terus mendesakku. Apa yang bisa kulakukan. Aku tidak mungkin menyimpan sendiri kesenangan karena memakai gaun indah ini. Semua orang harus tahu siapa pembuatnya. Suzy membalas.

Anak ini!

Suzy tertawa membaca pesan bernada gemas dari Kim Taehee. Ia membaca sisa pesan yang belum dibacanya.

Bicara tentang anak, apa kau sudah bertemu anakku yang tampan? Kibum berkata akan pulang hari ini. Dia pasti langsung datang menemuimu.

Suzy berdebar-debar. Entah apa yang akan dikatakan Kim Taehee jika ia jujur bahwa hari ini ia dan putranya bertengkar. Wanita itu sangat senang ketika ia dan Kibum resmi menjadi sepasang kekasih. Suzy tidak tega melihatnya kecewa.

Jiyeon dan Yoona juga memberinya ucapan selamat lewan SNS. Pesan lain datang dari Jiwon yang juga berisi ucapan selamat untuknya. Suzy membacanya sambil tersenyum.

Selamat atas kemenanganmu. Aku membacanya dari salah satu fansite-mu. Kau tahu aku adalah fans nomor satumu dan aku sangat bangga padamu.

Aku juga bangga padamu. Gumam Suzy. Jiwon kini sudah menjadi seorang pattisier terkenal. Persahabatan mereka pun semakin erat sejak masalah di antara mereka terselesaikan.

Tunggu, pesan Jiwon ternyata masih berlanjut.

Tolong katakan pada sahabatmu aku tidak bisa datang. Aku berjanji pada Siwon akan menemaninya pergi ke Sapporo. Aku tidak tahu apa rencananya, tetapi aku menduga ia akan melamarku di sana. ^_^

Omo! Suzy terkesiap.

“Pengkhianat!” Cibir Suzy namun bibirnya tersenyum. Ini sungguh berita eksklusif. “Kau bilang tidak akan jatuh cinta dengan mudah lagi, tapi sekarang kau terlena pada Siwon seperti orang mabuk?” Suzy mengetik pesan itu lalu mengirimkannya. Ia tak sabar menanti jawaban Jiwon. Ia tertawa geli memikirkan saat awal Jiwon dipertemukan dengan Siwon, sahabatnya itu menolak setengah mati dan ia tak pernah menyangka pada akhirnya Jiwon akan jatuh cinta pada pemuda tampan sahabat Kyuhyun dan Jiyeon itu.

Entah bagaimana mereka menjadi dekat, Suzy menduga Jiyeon pelaku di balik semua itu. Semenjak masalah Kyuhyun-Tiffany-Siwon selesai, Jiyeon menjadi terobsesi ingin menjodohkan Siwon dengan seseorang. Suzy iseng menyarankan Jiwon karena ia pikir Jiwon pantas mendapatkan seorang pria yang baik dan tampan.

Balasan dari Jiwon masuk.

Cinta selalu berakhir tak terduga, kawan. Sedetik kau kasmaran, detik berikutnya kau patah hati. Sedetik kau senang, sedetik kemudian kau menangis. Meskipun cinta dikelilingi suka duka, aku selalu berharap mendapatkan keberuntungan dan aku meminta satu keberuntungan, dilamar oleh pria yang kucintai.

Suzy tertegun, dilamar oleh pria yang dicintai. Jauh di lubuk hati ia pun berharap mendapat keberuntungan itu. Lamunannya buyar ketika pesan lain masuk. Suzy mengerjapkan mata. Ini pesan dari Kibum.

Kutunggu kau di tempat biasa.

Apa, hanya itu? Suzy sudah panas dingin saat membukanya. Ia kira Kibum akan menjelaskan mengapa pria itu meninggalkannya atau paling tidak memberinya ucapan juga. Pria itu cari mati. Suzy dengan kesal membalasnya.

Apa yang akan kudapat jika aku datang? Kau sudah membuatku kesal hari ini, Tuan Kim.

Datanglah, kumohon.

Suzy geram. Baik jika itu maunya. Ia penasaran apa yang sedang direncanakan Kibum. Suzy langsung menyuruh supir mengantarnya ke tempat yang dimaksud Kibum. Tak butuh waktu lama, setelah tiba Suzy yang telah berganti baju bersiap-siap dan ia memantapkan penyamarannya lalu turun dari mobil. Ia menatap ke sekeliling dan meringis. Seharusnya ia tahu Myeong-Dong ramai di akhir pekan seperti ini. Tetapi ia tidak peduli. Ia berjalan anggun menuju tempat di mana Kibum pertama kali berbohong bahwa mereka adalah sepasang kekasih.

Kafe itu ramai, tetapi Suzy tidak mengkhawatirkan akan dikenali. Ia sudah mengenal pemilik kafe ini yang akan dengan senang hati melindunginya dari serbuan para penggemar. Setelah menyapa sang pemilik yang kebetulan berada di sana, Suzy duduk manis di kursinya yang biasa ia tempati bila berkunjung kemari bersama Kibum. Mereka telah sepakat menjadikan tempat itu sebagai tempat berkencan apabila Kibum sedang pulang ke Korea.

Dua menit sudah Suzy menunggu. Mengapa Kibum lama sekali? Suzy melirik arlojinya dengan kesal. Apa ia datang terlalu cepat?

“Pria macam apa yang membuat wanitanya menunggu?!” Suzy menggerutu. Tiba-tiba sebuket bunga mawar ditodongkan seseorang tepat di depan wajahnya. Ia mengerjap karena kaget.

“Tentu saja pria yang sangat dicintai wanita itu, karenanya sang wanita rela menunggu tak peduli selama apapun waktu yang dihabiskan asalkan pada akhirnya pria tercintanya tiba dan memberikan sebuket bunga sebagai permintaan maaf.”

Suzy bisa merasakan Kibum berdiri di sampingnya sambil mengulurkan sebuket mawar merah muda. Ia sangat senang namun enggan menunjukkannya. Kibum harus sadar bahwa ia masih marah. Dengan mata mendelik ia menyusuri tangan yang terjulur, semakin ke atas lalu tiba pada seraut wajah rupawan yang ia rindukan.

Sialnya, pria itu kini tengah memamerkan senyum menawan, yang membuat hati Suzy meleleh.

“Apa bunga ini kau beli untukku atau untuk meminta maaf karena sudah membuatku marah, Tuan Kim?”

“Apapun alasan yang kau percayai aku tidak peduli.” Masih tersenyum, Kibum mengambil tempat duduk di hadapan Suzy, “karena aku hanya ingin memberi hadiah pada kekasihku. Kebetulan dia sedang marah.” Sebagai pamungkas, Kibum mengedipkan sebelah matanya.

“Mawar merah muda?” Sinis Suzy melirik buket di tangannya. “Mengapa tidak mawar merah saja?”

“Kau tidak tahu bahasa bunga dari mawar merah muda?” Kibum tersenyum miring.

Suzy mengeryit. Ia mencoba mengingat beberapa makna di balik bunga dan warnanya. Ia pernah belajar itu dari Yoona dan Jiyeon, ia kembali menatap Kibum.

“Aku menyerah. Sekarang beritahu aku.” Suzy sungguh penasaran sebab Kibum sepertinya menyembunyikan sesuatu.

Kibum menyematkan senyum misterius, “ulurkan tanganmu.”

Karena sudah tidak sabar ingin tahu, Suzy menurut. Ia mengulurkan tangannya. “Bukan yang itu. Tapi yang satunya.”

“Ya Tuhan,” Suzy memutar bola mata, tapi tetap melakukan perintah Kibum yang langsung menggenggam tangan kirinya.

“Kau sangat cantik saat marah.” Ucap Kibum dengan suara rendah merayu.

“Aku sudah tahu.”

“Lalu kenapa kau tetap marah setelah aku memberimu hadiah permintaan maaf?”

“Kau tidak memberiku ucapan selamat.”

“Untuk?”

Aigoo, kau benar-benar mengesalkan! Tentu saja untuk penghargaan yang kudapat!”

“Oh, kali ini kategori apa yang kau menangkan?”

Sikap Kibum sungguh menguji kesabaran. Suzy tidak mungkin membentaknya di tempat umum seperti ini. Lagipula ia kini seorang publik figur, ia harus menjaga citra di mata masyarakat. “Pemeran utama wanita terbaik.” Ia sudah tak bersemangat lagi.

“Begitu,” reaksi Kibum hanya berucap satu kata sambil mengganggukan kepala.

Suzy tertohok.

“Hanya itu komentarmu?” Suzy membelalakkan mata. Ia ingin sekali mengeluarkan keluh-kesahnya yang ia tahan selama bermenit-menit tadi namun Kibum dengan santai memotong.

“Kau tak membutuhkan ucapan selamat dariku karena aku akan memberimu sesuatu yang jauh lebih mengesankan.”

“Apa?”

“Lihat tanganmu.” Detik itu Suzy menyadari Kibum sudah tidak menggenggam tangannya. Ia melirik ke bawah ke arah tangannya dan ia tercekat. Sesuatu yang berkilau melingkari jari manisnya.

“Sebuah cincin?” Di hatinya kini berkecamuk rasa haru, tak percaya dan kaget sampai membuat kemampuan verbal Suzy tak berfungsi. Hilang sudah semua kekesalannya pada Kibum. Pelupuk matanya terasa perih dan berat. Kibum tersenyum penuh arti melihat Suzy bahagia dan berlinang airmata.

“Sekarang bukan hari ulang tahunku dan hadiah ini terlalu mahal untuk sebuah ucapan selamat.”

“Aku memberimu cincin itu bukan karena kau ulang tahun ataupun hadiah atas kemenanganmu. Aku memberimu untuk sesuatu yang lebih monumental.”

Suzy mengedipkan mata ketika tiba-tiba Kibum menarik tangannya lalu mencium punggung tangannya dengan lembut. Jantungnya menghentak kencang.

“Bae Suzy, will you marry me?”

“Oh Tuhan,” airmata Suzy jatuh tak terhindarkan. Ia tak percaya dengan apa yang sedang dihadapinya. Kibum sedang melamarnya! Dalam mimpi pun ia tak pernah menyangka akan terjadi.

“Aku ingin menghabiskan sisa hidupku untuk mencintaimu. Menjadi pria terakhir dan satu-satunya yang akan menjagamu. Aku ingin tumbuh dan tua bersamamu. Aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anakku. Kau adalah wanita yang sempurna untukku dan aku berharap akupun menjadi pria yang sempurna untukmu.”

Kibum telah mengatakan seluruh isi hatinya, sekarang ia menanti jawaban Suzy dengan perasaan tak menentu. Ia khawatir sudah membuat Suzy panik. Ia tak mengharapkan penolakan karena jika keputusan terakhir Suzy adalah tidak, ia akan patah hati dan sulit untuk menyembuhkan lukanya.

Suzy menatap Kibum begitupun sebaliknnya. Ekspresi Suzy tak terbaca dan detik itu Kibum sadar mengapa Suzy bisa mendapatkan penghargaan sebagai aktris wanita terbaik. Aktingnya sungguh luar biasa. Paling tidak kini Kibum tak bisa menebak suasana hati Suzy. Ia mulai panik.

Dan ketika akhirnya Suzy membuka mulut, Kibum dibuat tegang dengan kalimatnya. “Siapa yang membantumu menyusun dialog itu?”

“Eh, um.. itu bukan karangan. Itu adalah isi hatiku.”

“Kau seorang perayu ulung, mana bisa aku percaya.” Suzy mengusap airmatanya.

Kibum berdebar-debar. Oke, sekarang ia benar-benar panik. Apa Suzy bermaksud menolaknya? “Aku tak pernah berbohong padamu.”

“Sudah banyak gadis yang menjadi korban rayuanmu. Aku bodoh jika percaya.”

Seperti ada palu yang memukul dadanya, Kibum membatu. Ia tak bisa bernapas, hanya melongo menatap Suzy yang bangkit dan berdiri di samping kursi tempatnya duduk. Ia membungkuk untuk berbisik dan Kibum bahkan tak berani menolehkan kepala.

“Tapi untukmu, aku rela menjadi salah satu gadis bodoh itu.”

Kibum memutar kepala menatap Suzy. Kedua matanya melebar dan sepertinya Kibum si jenius pun kesulitan mengartikan kata-katanya barusan. Suzy tersenyum, “jawabanku atas lamaranmu tadi adalah; Yes.”

Mulut Kibum megap-megap dan Suzy tertawa geli melihatnya. Kena kau! Kau tidak menyangka bukan akan kugoda.

“Kau bertanya apa bahasa bunga mawar merah muda, bukan? Tentu saja aku tahu.” Suzy mengedipkan mata lalu menegakkan tubuhnya. “Artinya: tolong percayai aku. Setelah memberiku bunga itu kau pikir aku akan mengira kau mempermainkanku, eoh? Kau tetap pria yang polos meskipun kau pintar. Karena itu aku mencintaimu. Ayo kita menikah.”

Kibum menganga. Setelah dibuat panik karena berpikir Suzy akan menolaknya, tiba-tiba saja gadis itu memberitahu bahwa lamarannya diterima? Gadis ini..

“Sudah waktunya. Kita harus cepat pergi sebelum acaranya dimulai. Aku tidak ingin mengecewakan Yoona.” Suzy melirik arlojinya dan dengan santai berbalik pergi.

“Aku yakin Yoona bisa menunggu.” Terdengar geraman Kibum dan ketika Suzy menoleh untuk protes tiba-tiba saja Kibum menariknya ke dalam pelukan lalu mencium bibirnya dengan penuh gairah di tengah kafe yang penuh orang itu!

Bayangkan berapa banyak orang yang terkejut saat menyaksikannya.

Suzy tak sempat memikirkan akibat dari perbuatan Kibum terhadap karir artisnya ataupun gosip menggegerkan yang mungkin dimuat oleh tabloid keesokan harinya karena yang memenuhi otaknya kini hanyalah rasa bahagia. Ia mengabaikan suara-suara kamera yang sedang mengabadikan momen itu karena Suzy terlalu sibuk membalas ciuman Kibum. Ia sedang menunjukkan pada dunia bahwa ia sangat mencintai Kim Kibum.

“Aku merindukanmu.” Suzy lega akhirnya bisa mengungkapkannya.

“Sudah kuduga.” Suzy memeluk Kibum penuh sukacita.

Jika karirnya tamat karena ini, biarlah. Ia dengan senang hati menerima pekerjaan lain: menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga.

—o0o—

“Sayang, kau melihat dasi yang kukenakan kemarin?”

Jiyeon yang sedang menyisir rambut menoleh mendengar teriakan suaminya . “Bukankah disimpan di tempat biasa?” Balasnya.

“Tidak ada. Aku sudah memeriksanya di sana.”

“Sebentar akan kucarikan.” Jiyeon lalu bangkit dari depan meja rias untuk mengambil dasi yang dicari itu di dalam tempat penyimpanan dasi di walk-in closet. Tempat itu penuh dengan baju dan segala aksesorisnya. Jiyeon tersenyum ketika menemukan dasi yang dicari-cari suaminya.

Sejenak, Jiyeon memandang ke sekeliling. Meskipun sudah memasukinya ribuan kali semenjak menikah lima tahun yang lalu, ia tak tahu apa saja yang tersimpan di sana selain baju, tas, sepatu dan atribut lainnya. Tiba-tiba sekarang ia penasaran.

“Sayang, kau menemukannya tidak?” Suara itu memanggilnya.

Jiyeon mengerjap sadar. “Ada, tunggu sebentar.” Jiyeon terburu-buru bergerak sehingga tanpa sengaja ia menubruk tumpukan kotak di salah satu sisi lemari. Salah satu kotak itu jatuh dan isinya berhamburan ke lantai. Jiyeon terperanjat, sesaat kemudian ia mengerang.

“Oh tidak, aku sedang terburu-buru. Mengapa kau memutuskan memuntahkan isi perutmu sekarang?” Omelnya pada kotak berikut isinya yang kini bertebaran di sekitar kakinya. Ibu mertuanya pernah bilang kotak-kotak itu berisi barang-barang masa lalu suaminya dan Jiyeon sekarang paham maksudnya.

Sebagian besar memang benda-benda dari masa lalu. Berbagai macam mainan, buku-buku tua, kepingan lego dan kayu mainan serta kartu hologram yang terakhir kali Jiyeon lihat ketika ia berumur lima tahun.

Detik itu Jiyeon merasa seperti kembali ke masa kecilnya. Ia tersenyum sambil mengusap perutnya. “Baby lihat, semua ini barang-barang ayahmu saat masih kecil.” Tentu saja janin berusia empat bulan masih terlalu muda untuk merespon.

Seandainya Jiyeon memiliki waktu luang, ia akan dengan senang hati mengamati dan membayangkan apa saja yang pernah dilewati suaminya bersama semua benda itu. Ia juga penasaran mengapa semua ini masih disimpan dengan baik hingga sekarang. Sayangnya, ia tidak punya waktu sebanyak itu. Ia dan suaminya harus pergi ke acara penting Yoona. Ia berlutut untuk memasukkan kembali semua itu ke dalam kotak. Sesuatu terjatuh ketika Jiyeon mengangkat salah satu buku. Mungkin dulunya diselipkan di antara lembaran buku. Ia menemukan sebuah dua amlop biru yang sudah kusam. Entah mengapa, sepertinya amplop-amplop itu tampak tidak asing.

Jiyeon kemudian terperanjat. Demi Tuhan, bukankah itu adalah amplop yang sama dengan yang akan ia berikan pada Kyuhyun? Surat itu hilang, bagaimana bisa sampai ada di sini? Jiyeon buru-buru membuka salah satu amplop yang kondisinya lebih baik. Tangannya gemetar saat membaca tulisan tangannya yang tertera di atas kertas. Ini memang surat cintanya untuk Kyuhyun.

Apa Kyuhyun yang menemukannya? Jiyeon lega. Ia lebih senang lagi mengetahui Kyuhyun menyimpannya hingga selama ini. Ia melirik amplop yang lebih tua dan usang. Amplop dengan warna dan motif yang sama. Siapa yang memberi ini pada–tunggu! Jiyeon menyambarnya. Jika ia tidak salah lihat bukankah ini adalah surat yang ia berikan pada cinta pertamanya saat TK dulu?

Jiyeon tak percaya! Jadi bocah laki-laki manis dan pintar yang tak bisa ia ingat namanya pasca ditolak adalah Cho Kyuhyun, suaminya! Ia benar-benar seperti ditarik kembali ke masa lalu, ketika ia menuangkan sendiri seluruh isi hatinya pada selembar kertas untuk pertama kali. Saat itu Jiyeon sangat bahagia.

Kini ketika ia membukanya dan membaca kembali tulisannya saat masih kecil, ia menitikkan airmata. Ini benar-benar surat cintanya yang ia berikan pada bocah lelak yang disukainya dahulu. Ia tidak tahu Kyuhyun akan menyimpannya. Dan yang membuat Jiyeon takjub adalah, Kyuhyun tak pernah mengatakan apapun mengenai surat ini dan masa kecil yang pernah mereka lalui selama mereka bersama. Mengapa? Apakah Kyuhyun melupakan wajah gadis pertama yang menyatakan cinta padanya? Tapi wajar saja, Jiyeon pun lupa wajah Kyuhyun.

Sekarang Jiyeon bisa menjelaskan perasaan aneh yang ia rasakan terhadap Kyuhyun. Ia selalu merasa pernah mengenal Kyuhyun sebelumnya. Ternyata, hatinya tak pernah melupakan Kyuhyun. Tidak aneh ia kembali jatuh cinta saat bertemu Kyuhyun di SMA. Jiyeon bahagia karena cinta pertamanya adalah cinta terakhirnya.

“Sayang, kau baik-baik saja?” Ketika Kyuhyun muncul di ambang pintu, Jiyeon sudah mengembalikan kotak itu ke tempat semula. Ia berpura-pura tidak terjadi apapun. Semua yang ia temukan hari ini biarlah menjadi rahasia. Tuhan tahu ia sangat mencintai Kyuhyun sejak dulu dan mengakhiri pencarian cintanya dengan cara yang tak terduga. Ia sudah sangat puas hanya mengetahui bahwa Kyuhyun menyimpan surat-surat darinya.

“Maaf membuatmu menunggu.” Jiyeon mendekati Kyuhyun kemudian mengajaknya kembali ke dalam kamar.

“Kau lama sekali.” Kyuhyun mengerutkan kening.

“Cukup sulit mencari dasi favoritmu ini.” Jiyeon membantu memakaikan dasi itu. “Mengapa harus pakai setelan resmi seperti ini? Aku tidak ingat Yoona menyuruh tamu undangan memakai pakaian formal.”

“Aku sudah menginvestasikan uang cukup banyak untuk pameran itu. Aku hanya ingin memastikan uangku tidak terbuang sia-sia. Lagipula akan banyak kolegaku yang datang ke acara itu. Secara teknis, ini adalah pertemuan bisnis.”

“Ya Tuhan, sejak Appa pensiun kau jadi terobsesi untuk mendulang keuntungan selangit.” Canda Jiyeon.

Cho Kyuhyun sekarang telah mewarisi kursi pimpinan perusahaan Ayahnya. Semenjak menjadi CEO, Kyuhyun telah memajukan Cho Corp ke level yang lebih tinggi. Jiyeon sangat bangga padanya. Kyuhyun juga seorang suami yang sangat baik dan penyayang.

Kyuhyun tersenyum. “Aku bekerja keras untukmu, Nayeon dan si kecil di perutmu ini.”

Pipi Jiyeon memerah. Tangan Kyuhyun menyentuh perutnya dan mengusapnya dengan lembut. “Dia baik-baik saja bukan?” Tanyanya penuh kerinduan.

Jiyeon mengangguk. Sama seperti Kyuhyun, Jiyeon pun tak sabar menanti anak kedua mereka lahir. Tetapi mereka harus bersabar sampai lima bulan kemudian. Ia memeluk Kyuhyun penuh kasih sayang. “Terima kasih karena masih mempercayaiku untuk menjadi ibu anak-anakmu.”

Kyuhyun mencium bibirnya, “karena aku sangat mencintaimu.” Ia menunduk menatap wajah cantik istrinya. “Ke mana kau menitipkan Nayeon?”

Cho Nayeon, putri kecil mereka baru merayakan ulang tahun yang ketiga minggu lalu. “Ahra Eonni bersedia menjaganya sampai kita pulang nanti.” Jawab Jiyeon.

“Oke. Jadi kita berkencan hari ini.” Kyuhyun tersenyum jahil lalu pergi untuk mengambil jasnya. “Aku menunggu di bawah. Tak perlu berdandan terlalu berlebihan. Kau sudah cantik.”

Jiyeon tertawa. Sebenarnya ia memang tidak mau berdandan. Hormon kehamilan membuatnya malas merias diri. Ia sudah cukup sibuk mengurus suaminya, Nayeon dan restoran yang diwariskan ibu Kyuhyun padanya sehingga ia harus puas dengan sapuan bedak tipis dan pelembab bibir.

Setelah yakin penampilannya sempurna, ia bergegas menyusul Kyuhyun. Tetapi sebelum keluar, ia memandangi figura besar berisi foto pernikahannya dengan Kyuhyun yang dipajang di dinding di belakang dasbor ranjang. Ia sangat mensyukuri pernikahannya. Kyuhyun langsung melamarnya ketika mereka masuk perguruan tinggi. Hingga saat ini Jiyeon masih tak percaya ia bisa menjadi istri Cho Kyuhyun. Hari ini Jiyeon memanjatkan ribuan rasa terima kasih karena Tuhan telah menyatukan dirinya dengan Kyuhyun.

—o0o—

Di sebuah galeri seni di tengah kota, tampak penuh ramai oleh orang-orang yang datang untuk menyaksikan pameran lukisan karya pelukis muda berbakat Im Yoona. Wanita cantik itu terlihat bahagia dan aura positif terpancar dari senyum dan suaranya yang ramah. Yoona dengan senang hati membimbing dan menjelaskan arti lukisan-lukisannya pada orang-orang. Mereka sangat antusias dan sudah mengincar beberapa lukisan yang menarik minat mereka.

Yoona membenarkan kacamatanya lalu mengedarkan pandangan, wajahnya agak khawatir. Teman-temannya belum terlihat di mana pun. Semoga saja mereka tidak lupa datang ke acara pameran lukisannya yang kedua. Ia akui mereka semua sudah menjadi sosok-sosok yang hebat dan bahkan mengagumkan sehingga perlu menyisihkan waktu di sela kesibukan mereka yang padat.

Suzy berhasil menjadi aktris hebat, sesuatu yang tak pernah Yoona sangka.

Kim Kibum menjadi seorang fotografer sukses, Yoona sudah menebaknya sejak ia sering melihat Kibum bermain-main dengan kamera.

Jiyeon melebarkan bakat memasaknya dengan menjadi seorang koki. Kini sahabatnya yang sudah menjadi istri dan ibu itu meneruskan usaha restoran bintang lima milik ibu suaminya, Kyuhyun. Yoona takjub karena hubungan Jiyeon dan Kyuhyun bisa sangat harmonis hingga mereka kini hampir memiliki dua anak.

Kyuhyun sudah menjadi seorang CEO handal. Berkat campur tangannya, Yoona bisa menyelenggarakan pameran hingga dua kali. Kyuhyun selalu menjadi sponsornya. Bahkan gedung yang ia gunakan saat ini pun merupakan salah satu properti milik Cho Corp.

Sementara itu Yoona sangat puas dengan hasil yang dicapainya dengan menjadi seorang pelukis. Meskipun ibunya sudah menawarkan pekerjaan yang lebih baik di perusahaan, Yoona lebih suka bekerja sendiri, tanpa terikat peraturan. Melukis memberinya kesempatan untuk memvisualisasikan ide-ide dan harapannya ke atas sebuah kanvas. Yoona sangat menyukai kegiatan itu dan ketika memamerkannya untuk pertama kali pada teman-temannya mereka menyarankan agar Yoona mengembangkan hobinya itu. Maka beginilah keadaannya sekarang.

Lalu Donghae…

“Semua ini adalah lukisan terindah yang pernah kulihat. Gaya impressionis, huh? Kau bisa menyaingi Monet.”

Lamunannya terpotong. Yoona tersenyum mengenali suara itu. Ia menolehkan kepala dan langsung mengerjap kaget karena Kibum memotretnya tanpa diduga.

“Yak, Kim Kibum!” Protes Yoona.

Long time no see, kakakku tercinta.” Kibum memeluknya. Mau tak mau Yoona tersenyum. Semenjak Kibum berkata bahwa ia mengingatkannya pada sosok seorang kakak idaman, Kibum terus memanggilnya begitu.

It’s nice to see you. Aku tidak tahu kau sudah tiba di Korea.”

“Aku tidak mungkin melewatkan pameranmu.”

“Yoon!!” Yoona langsung menoleh dan tersenyum lebar melihat Suzy yang tergopoh-gopoh menghampirinya. Mereka berpelukan dan saling melepas rindu.

“Kau cantik sekali.” Puji Yoona.

“Ah, ini karena baju dan make up. Kau malah semakin cantik meski tidak berdandan.”

“Kau berlebihan, tapi terima kasih. Bagaimana kabarmu? Semenjak karir artismu melejit kau menjadi orang yang paling sulit kutemui.”

“Aku selalu bisa meluangkan waktu untuk sahabat-sahabatku. Asal kau menghubungiku seperti kemarin.” Karena jadwal syuting Suzy yang padat, Yoona kesulitan menghubungi Suzy. Panggilan darinya selalu diangkat oleh manager atau asisten Suzy. Beruntung kemarin Suzy mengangkat sendiri panggilannya sehingga Yoona bisa mengundangnya datang. Tahun lalu Suzy melewatkan pameran lukisan perdananya karena sibuk syuting film di China.

Suzy sudah mengamati sebagian lukisan ketika masuk tadi dan ia amat terkesan. “Aku benar-benar tidak tahu kau berbakat dalam melukis.”

Yoona tersanjung, “di saat kau mengenal seseorang kau belum tentu tahu segala hal tentangnya.”

Kata-kata yang sarat makna. Suzy menatap Yoona.

“Sebagian besar lukisanmu menyimpan arti yang dalam dan menyentuh. Kutebak kau sedang merindukan seseorang?” Kibum berkata dengan gaya sok detektifnya.

Yoona mengulum senyum. “Baiklah Tuan Kim, sepertinya kau beralih menjadi seorang kritikus seni sekarang.”

“Jadi memang benar?” Sambung Suzy penasaran. Yoona tidak lantas menjawab yang mana membuat kedua orang itu penasaran. Tapi sepertinya mereka bisa menebaknya.

“Im Yoona, chukkae..” suara ceria Jiyeon terdengar dari arah belakang. Perhatian mereka semua pun teralih pada sosok Jiyeon yang tersenyum bahagia.

“Jiyeon, senang bertemu denganmu. Maaf karena aku tidak bisa datang ke pembukaan restoran barumu minggu lalu.” Yoona sungguh menyesal lalu memeluk Jiyeon.

“Tidak apa-apa. Aku tahu kau sibuk menyiapkan acara ini. Suzy, akhirnya aku bertemu denganmu!!” Jiyeon begitu senang ketika melihat Suzy. Mereka langsung berpelukan.

Yoona tersenyum menyapa Kyuhyun, “kau datang kemari sebagai temanku atau penyumbang dana?” Tanyanya dengan nada menggoda.

“Kedua-duanya.” Sahut Kyuhyun santai. “Kupikir pameran ini akan memberiku keuntungan besar.” Tambahnya membuat Yoona tertawa.

“Aku ingin bertemu Nayeon. Mengapa kau tidak mengajaknya?” Protes Suzy. Terakhir kali ia melihat putri Jiyeon itu ketika baru dilahirkan.

“Aku menitipkannya pada Ahra Eonni. Kau bisa berkunjung ke rumah kami jika ingin menemuinya. Nayeon pasti sangat senang. Dia adalah fans beratmu.”

“Kau membuatku semakin ingin bertemu dengannya. Lalu bagaimana kabar bayimu yang lain?”

“Dia sehat di dalam sini.” Jiyeon mengusap perutnya dengan sayang. Suzy terlihat iri sekaligus takjub. “Oh ya, selamat atas kemenanganmu. Aku bertaruh dengan Kyuhyun bahwa kau pasti menang dan dia tidak percaya. Kubuat dia membayar satu juta untuk taruhan ini.” Lanjut Jiyeon.

“Sayang, diamlah!” Seru Kyuhyun gemas.

Suzy dan yang lainnya tertawa. Mereka rasanya seperti kembali ke masa SMA dulu.

“Sudah kukatakan kau akan mendapatkan penghargaan yang lebih besar.” Ujar Yoona mengacu pada hal yang pernah diucapkannya pada Suzy ketika mereka masih SMA dulu saat Suzy menjadi satu-satunya yang tak memenangkan tropi di antara mereka bertiga.

Suzy mengangguk dengan pipi tersipu, “aku tak pernah menyangkanya.”

Kibum mendekati Kyuhyun sementara para wanita sedang asyik mengobrol. “Bagaimana kabarmu, Cho Sajangnim?”

Kyuhyun meliriknya sekilas, “Baik dan bahagia. Kau sendiri bagaimana, Tuan fotografer?”

“Oohoho, dingin sekali. Kau tidak merindukanku? Kita sudah tidak bertemu selama tiga tahun. Setidaknya beri aku pelukan seperti para gadis ketika bertemu.” Cerocos Kibum.

“Jangan membual, kita bertemu di pameran fotomu enam bulan lalu.”

“Kau benar.” Kibum terkekeh. “Ngomong-ngomong, kau sudah mendapat kabar terbaru dari dia?”

“Dia?” Kyuhyun akhirnya menoleh.

Kibum mengangkat bahu, lalu mengendikkan dagunya ke arah Yoona. “seseorang yang gadis itu rindukan. Dia yang telah menghilang sejak lama.”

“Maksudmu Lee Donghae?”

Kibum mengangguk. Mereka berdua diam-diam melirik Yoona yang sebenarnya menguping pembicaraan mereka sejak tadi namun memutuskan tetap berpura-pura tidak peduli.

Yoona berdebar menanti kabar berikutnya dari Kyuhyun maupun Kibum. Tetapi sepertinya dua pria itu sadar ia memerhatikan karena mereka malah melanjutkan obrolan dengan topik yang lain.

“Yoon, bagaimana kabar kakak ipar dan Taewoo? Jungsoo Oppa terlalu sibuk menjawab pertanyaanku. Apa Ibumu mempekerjakannya seperti budak?” Tanya Jiyeon penasaran.

Enam tahun yang lalu, ia dan Yoona menjadi saudara setelah Jungsoo menikah dengan kakak perempuan Yoona, Im Jina. Mereka baru dikaruniai seorang anak setelah tiga tahun menikah. Karena keluarga Im tidak memiliki anak laki-laki maka Jungsoo didaulat oleh Ibu Yoona sebagai calon penerusnya dan mulai bekerja di perusahaan sebagai manager proyek.

Yoona berusaha menjawab pertanyaan Jiyeon meskipun ia sedikit linglung karena harus fokus pada dua hal secara bersamaan. “Dia baik-baik saja. Taewoo sangat lincah seperti Nayeon. Oh tentu tidak Jungsoo Oppa adalah menantu kesayangan Eomma. Dia bekerja dengan giat.”

“Aku tahu. Oppa sangat serius dengan segala hal yang dikerjakannya.”

“Menakjubkan. Siapa yang menyangka kakak kalian berdua berjodoh hingga kalian bisa menjadi saudara.” Suzy masih takjub setiap kali membayangkannya. Bicara soal takjub ia jadi teringat satu hal, “Oh ya, Yoon. Aku baru teringat, Jiwon berpesan bahwa dia sangat menyesal tidak bisa datang, dia harus menemani Siwon ke Jepang.”

“Aku mengerti.” Yoona sama sekali tidak mempermasalahkannya. Pameran ini masih terselenggara hingga satu bulan ke depan.

“Dan Jiyeon, aku sangat marah padamu!” Suzy mendelik pada Jiyeon.

Omo, apa salahku?” “Karena ulahmu, Jiwon jadi tergila-gila pada Siwon. Seharusnya kau tidak menjodohkan mereka.”

Jiyeon tertawa sambil mengusap dada karena lega. Ia kira Suzy sedang menuntutnya untuk masalah yang lebih besar dan Suzy pun ikut tertawa. “Aku tidak tahan melihat mereka sama-sama sendiri. Kuharap kau memaafkanku, kawan.”

“Yeah, asal Siwon selalu membahagiakannya.” Suzy berhenti tertawa lalu melirik Yoona. “Tinggal satu orang di antara kita yang belum mendapatkan kebahagiaannya.”

Yoona terdiam menerima tatapan penuh empati sahabat-sahabatnya. “Girls, aku baik-baik saja.” Dustanya. Tidak, ia tidak baik-baik saja.

Selama delapan tahun ia mencoba moved on dari Donghae, tetapi ia tidak bisa mengenyahkannya begitu saja. Kenangan tentang Donghae terlalu melekat dalam hatinya sampai Yoona harus menyalurkan rasa rindunya itu dengan melukis. Bukannya ia tidak berusaha, ia sudah mencoba menjalin hubungan dengan berbagai pria tetapi selalu berakhir dengan membandingkan mereka dengan Donghae. Pada akhirnya Yoona menyerah dan membiarkan Tuhan yang memutuskan memberi kisah cintainya akhir bahagia atau tidak.

“Yoon, kau pikir aku tidak tahu bahwa selama empat tahun terakhir kau tak pernah ketinggalan berita tentang Donghae.” Ucap Jiyeon.

Yoona tak tahu harus menjawab apa. Jiyeon memang benar. Semenjak Donghae dikenal dunia sebagai seorang pianis, tak pernah Yoona ketinggalan beritanya sedikit pun. Ia malah mengoleksi album musik Donghae. Ia selalu merindukan pria itu, namun sepertinya Donghae menepati janjinya bahwa dia tidak akan kembali ke Korea.

“Dan kau memakai kacamatanya untuk mengenangnya, bukan?” sambung Suzy.

Yoona mengerjap lalu menyentuh kacamatanya tanpa sadar. Sudah bukan rahasia lagi bahwa kacamata yang selalu dipakai Yoona sejak Donghae pergi adalah milik pria itu yang diambilnya sebelum Donghae pergi. Kacamata itulah yang memberi Yoona harapan bahwa suatu hari nanti Donghae akan kembali untuk mengambilnya.

Kibum dan Kyuhyun bertukar pandang. Tetapi mereka tidak mengatakan apa-apa.

Acara pembukaan pameran pun dimulai. Yoona memberikan pidato yang menyentuh tentang latar belakangnya membuat lukisan-lukisan itu. Suzy dan seluruh tamu yang datang bertepuk tangan. Setelah itu semua orang dipersilakan untuk menikmati jamuan yang tersedia.

Jiyeon sangat bersemangat makan mengingat ia harus memberi makan bayi dalam perutnya sementara Suzy bingung akan menikmati apa karena khawatir makanan itu membuatnya gemuk. Atas paksaan Kibum akhirnya ia memindahkan beberapa potong sushi ke piringnya. Mereka menikmati makanan sambil menikmati musik yang dimainkan sebuah orkes kecil di atas panggung.

Yoona mencoba mengembalikan keceriaannya dan melupakan Donghae. Ia akhirnya bisa mendapatkan kembali moodnya ketika secara mengejutkan ia mendengar simfoni lagu yang dikenalnya karena sering ia dengarkan setiap hari. Itu adalah salah satu lagu dalam album pertama Donghae yang berjudul Eternity.

Terkejut dan takjub Yoona memutar kepalanya ke arah panggung dan tak bisa bernafas karena ia melihat sebuah fatamorgana. Lee Donghae ada di atas panggung sana tengah memainkan piano! Tak hanya Yoona yang mengerjap takjub tapi juga tamu lain dan teman-temannya yang membuat Yoona sadar bahwa ia tidak sedang berhalusinasi.

Donghae nyata. Pria itu ada di hadapannya!

Yoona limbung oleh perasaan haru, bahagia, takjub dan rindu yang berputar-putar dalam hatinya kini. Matanya masih terpaku pada sosok yang dirindukannya di atas panggung sana. Dan ketika musik berhenti lalu Donghae bangkit disambut oleh tepuk tangan, hatinya berdesir hebat. Donghae hanya membungkukan badan lalu turun dari panggung.

Tunggu!

Yoona menahan desakan untuk mengejar Donghae karena ia masih berpikir mungkin ia hanya bermimpi.

“Yoon..” matanya mengerjap saat menerima sentuhan halus Suzy di bahunya. Menoleh, gadis itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya ke arah depan. Yoona mengikuti arahan Suzy dan ia tak bisa bernafas melihat sosok Donghae yang berjalan di antara kerumunan. Menuju ke arahnya. Mata Yoona berkaca-kaca. Ia tidak sedang bermimpi.

Oh Tuhan ..

Teman-temannya tidak ada yang merespon ketika Donghae tiba di depan mereka dan tersenyum.

“Lee Donghae!” Jiyeon menyapa lebih dulu lalu memeluknya. Kyuhyun sebenarnya cemburu tetapi ia membiarkan Jiyeon melakukannya.

Hallo Jiyeon, kau terlihat luar biasa.” Donghae memujinya.

Yoona gemetar mendengar suara Donghae yang lebih berat dan dewasa. Pria ini justru semakin tampan setelah tak terlihat selama delapan tahun. Tubuhnya lebih tinggi dan kekar, garis wajahnya lebih tajam dan menawan. Yoona sudah menyaksikan perubahan itu tetapi tetap saja takjub saat melihatnya langsung. Donghae juga tampak berbeda, lebih bersinar dan bahagia.

“Aku tidak percaya kau kembali.” Suzy memeluk Donghae. Untuk pertama kalinya akhirnya ia bisa memeluk Donghae tanpa merasa histeris.

“Kau sangat cantik. Bagaimana rasanya menjadi terkenal?” Suzy merona dan Kibum mendengus. Donghae masih bisa membuat tunangannya merona hanya dengan satu pujian! Mereka bahkan baru bertemu lagi hari ini!

“Aku bisa mengajukan pertanyaan yang sama padamu.” Ucap Suzy. Bagaimana pun cinta pertama sulit dilupakan, bukan? Donghae tetap menjadi pahlawan dalam hati Suzy meski pria itu diciptakan bukan untuknya.

“Aku tidak seterkenal dirimu.”

“Tidak terkenal, kau bercanda!” Kibum merangkul bahu Donghae dengan gemas. “Apa konser keliling benua Eropa tidak cukup membuatmu terkenal?”

Seperti yang Kibum katakan, Donghae adalah pianis yang telah melangsungkan tur kelilimg Eropa tahun lalu dan tahun ini berencana melebarkan sayapnya ke Hollywood. Semua orang memperlihatkan senyum bangga untuk Donghae.

“Mengapa kau kembali ke Korea? Kau bilang tidak akan kembali lagi kemari.” Tanya Kyuhyun heran.

Donghae melepaskan diri dari Kibum, “Aku hanya ingin memenuhi janji pada seseorang bahwa kami akan bertemu kembali.”

Pandangan semua orang langsung tertuju pada Yoona yang sejak tadi terdiam. Matanya masih menatap Donghae dengan takjub dan tak mengedipkan mata ketika Donghae berjalan lalu berdiri di tepat di depannya. Ia mendongakkan kepala. Ia terkesima melihat senyuman Donghae.

“Selamat datang, Lee Donghae..” bisik Yoona, suaranya dalam dan penuh perasaan. Sebagai balasan, Donghae tersenyum tenang.

“Aku ingin mengambil kembali kacamataku yang diambil olehmu.” Yoona mengedipkan mata berkali-kali dan tak sempat menghindar ketika tangan Donghae meraih kacamata di wajahnya lalu melepaskannya. “Benda ini milikku.” Lanjut Donghae tanpa dosa seraya mengenakan kacamata itu ke wajahnya sendiri.

Yang lain hanya menganga takjub melihatnya. Bahkan Yoona sendiri sampai tak bisa berkata-kata.

“Kau mengingat kata-kataku dulu?” Tanya Yoona terbata.

“Aku tidak mungkin melupakan ucapan gadis yang paling kusukai di dunia ini. Sejak kau mengatakannya kalimat itu terpatri di hatiku dan selalu mengingatkanku bahwa aku harus kembali untuk menemuimu. Untuk mengatakan bahwa aku merindukanmu, Im Yoona dan aku masih mencintaimu hingga saat ini.” Tutur Donghae tulus. Yoona tercekat takjub, bahagia, dan terharu. Jantungnya berdebar kencang.

“Oh Tuhan..” Jiyeon ikut tersentuh mendengarnya.

How romantic..” Sebagai aktris yang sudah mendengarkan ribuan dialog romantis dari lawan mainnya, bagi Suzy apa yang baru saja dikatakan Donghae yang paling menyentuh. Mungkin karena Donghae mengucapkannya dengan tulus.

Kibum dan Kyuhyun saling melemparkan senyum. Sebenarnya mereka-lah yang memiliki andil membawa Donghae kembali ke Korea. Kyuhyun yang membujuk Donghae pertama kali ketika mereka bertemu di London saat Donghae menyelenggarakan konser di sana. Ia merasa simpati setelah melihat lukisan Yoona pada pameran lukisan pertamanya. Lalu beberapa bulan terakhir Kibum menemui Donghae di kediamannya di Jenewa, Swiss. Mereka kira Donghae tidak akan luluh karena pria itu tak mengatakan apapun. Karenanya mereka takjub melihat Donghae ada di sana dan tak bisa menyombong bahwa mereka-lah yang berjasa karena sepertinya Donghae datang untuk alasan lain.

Donghae dan Yoona masih berpandangan. Yoona tak bisa mengalihkan pandangan, rasanya seperti tak ada di dunia ini yang lebih penting dari Donghae.

“Aku juga merindukanmu, dan..” Yoona menarik napas, “aku juga mencintaimu.” Ia merasa amat lega setelah mengatakannya dan lemas juga malu.

“Apa aku harus melewati masa delapan tahun untuk mendengarmu mengatakannya?”

Sebelum Yoona mencerna seluruh kata-kata Donghae, tiba-tiba saja ia sudah berada dalam pelukannya.

“Maaf aku baru menemuimu sekarang.”

Yoona menggelengkan kepala. “Terima kasih sudah kembali.”

Donghae melepaskan pelukannya.

“Sejujurnya aku takut kau tak akan pernah kembali dan aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku.”

Donghae mengusap pipi Yoona begitu lembut, “Tak perlu sedih, I’m here now.” Ia tersenyum.

Teman-teman mereka saling melempar senyum. Kibum melirik pada Suzy yang terkesima. Lagi-lagi Suzy menyaksikan adegan yang sama seperti dulu ketika Donghae memperlihatkan senyum terindahnya hanya untuk Yoona.

“Aku sudah menduga pada akhirnya Donghae dan Yoona akan bersama. Mereka memiliki chemistry itu sejak awal.” Gumam Suzy.

“Tentu saja mereka punya. Seperti kita, serasi layaknya Romeo dan Juliet.” Sambar Kibum.

Suzy tertawa. “Aku tidak mau kisah cinta kita berakhir tragis seperti mereka.” Ia menatap Kibum yang menganggukan kepalanya setuju seraya bergumam, “kau benar.” Kalau dipikir-pikir, karena menyukai Donghae Suzy bisa mengenal pria jenius seperti Kibum yang mencintainya dengan tulus. Yeah, bukankah Donghae memang pahlawannya?

“Ngomong-ngomong, kapan kita akan memberitahu teman-teman tentang rencana pernikahan kita?” Tanya Suzy.

“Itu…” Kibum tak menyelesaikan kalimatnya karena mendadak terdengar suara ribut dari luar gedung.

Suara letusan kembang api terdengar semarak. Para tamu bergegas keluar untuk menyaksikan pertunjukkan kembang api yang telah disediakan panitia acara. Hari sudah gelap sehingga percikan api warna-warni itu tampak indah di langit yang hitam. Semua orang menyaksikannya dengan gembira.

Jiyeon memeluk pinggang Kyuhyun dari samping. Ia tersenyum pada Suzy yang balas mengedipkan mata, Kibum merangkul bahunya dengan mesra. Dan Yoona, ia merasa kembang api yang dilihatnya malam ini adalah yang terindah terutama karena kini ia menyaksikannya sambil berpegangan tangan dengan Donghae. Dan ini bukanlah akhir, melainkan awal yang indah.

END

School in Love by Dha Khanzaki Yoona's HobbySchool in Love by Dha Khanzaki Donghae-Yoona long distance loveSchool in Love by Dha Khanzaki Jiyeon-Kyuhyun weddingSchool in Love by Dha Khanzaki ending moment

232 thoughts on “School in Love [EPILOG STORY]

  1. akkhhhh sumpah keren thor , awal” aku masih bingung couplenya pertangahan cerita sempet gak srekk sama couple”nya tapi pas Ending Sukaaaaaaaaaaaaaaa banget sama couple dan semua alur ceritanya , konflik”nya semua deh , Ditunggu cerita” serunya lagi thor ^^ daebakk #twothumbs for author

  2. ternyata dibuat endinyaa!! good job thor.. jadi sering di depan laptop gara” FF ini.. kagum sama cara author nyampein cerita. daebak!!

  3. Wahh seneng nya,ngerasain juga kebahagian nya mereka semua🙂
    Kibum dan suzy akhirnya mereka bisa menjadi pasangan romantic hihihi
    Apalagi kyuyeon omg, ini yg paling sweet. Awal nya gak percaya mereka bersatu. Tapi ternyata,, aww mereka yg dlu-an nikah dan mempunyai baby :^
    Akhirnya couple yg lama terpisahkan bisa saling berbagi perasaan rindu dan saling mengucap cinta😀 Ciee jungsoo nikah sama jina, dan jiwon sama siwon

    semoga mereka selalu bersama dan awet sampe kakek nenek, persahabatan nya

  4. Wahh seneng nya,ngerasain juga kebahagian nya mereka semua🙂
    Kibum dan suzy akhirnya mereka bisa menjadi pasangan romantic hihihi
    Apalagi kyuyeon omg, ini yg paling sweet. Awal nya gak percaya mereka bersatu. Tapi ternyata,, aww mereka yg dlu-an nikah dan mempunyai baby :^
    Akhirnya couple yg lama terpisahkan bisa saling berbagi perasaan rindu dan saling mengucap cinta😀 Ciee jungsoo nikah sama jina, dan jiwon sama siwon

    semoga mereka selalu bersama dan awet sampe kakek nenek,persahabatan mereks

  5. thor keren banget nih huhu… ada di side story gitu gk? seperti lanjutannya donghae-yoona atau kisahnya jungsoo-jina. pingin tau banget bagaimana mereka bisa nikah. ditunggu karnyanya yg lain^^

  6. Uhhhh co cuwitttt ><
    eonni d bkin side story atuhhh, suka bnget sama ff eonni^^ ,, ff ke-2 dsini stelah IMTBB yg mskpun udah end tp ttep msih pngen ada side story.y😀
    keep writing eonni… Fighting ! ^^ ff "Crazy Because Of You" & "Dangerous Boy" d tungguu…😀

  7. awesome…..bca dri awal smpai akhir bwt trkesima…ff ny bner2 daebak.g bosen2 ny bca.dri awal nebak2 tpi tbakanny slah mulu…dikiranny suzy bkal sma khuhyun tpi tk tauny sma kibum…
    well..prshbatan yg mngagumkn mkna dri ff ni..
    authorny jjang….!!!!

    keep fighting n writting….

    we lov u….

  8. happy ending..aq suka sekali..sorry aq ga komen pd tiap part..
    ditengah2 cerita mgkn agak muter2 yg ceritanya tp pas ending semua bahagia n dpt pasangan masing2..legaaa sekali..trims ya krn udah mengahasilkan karya2 yg baik

  9. Aku sebenarnya gak terlalu suka ff school life. Tpi krna ini kak Dha yg bikin jdi coba baca dan ternyata keren banget. After story Donghae-Yoona dong. Suka banget couple ini ><
    Shady Girl-nya juga. Udah penasaran siapa penjahatnya.
    Pokoknya ffnya keren2. Author fave aku kak Dha ^^

  10. Eonni emang daeeebaak deh.. .
    jujur ya eonni, tiap kali baca ff”nya eonni aku gk kyk baca ff, tp aku ngrasa kyk lg nonton drama. Pokoknya eonni Author trbaik deh menurut aku.
    Terus semangat buat ff yg bagus” lg ya eonni

  11. happy ending buat smuanya,
    pasanganya di luar dugaanku,
    kirain Suzy sm Kyuhyun,
    Yoona sm Kibum,
    Jiyeon sm Donghae krn sama2 baik hati..

  12. woahhhhhh kerennnnn….
    sampe” aku dibilang gila krna senyum” sndri….

    baca ff ini jadi keinget masa lalu bareng temen”😊

  13. school in love keren bgt thor, kalau aku pikir nggak mirip kok sama bbf, cuma mungkin ada beberapa yg sama konsep tapi secara keseluruhan beda. aku suka sama alur & pemikiran author. awalnya aku pikir ini ff perchapternya panjang udah gitu banyak bgt chapternya, pgn cepet2 sampai chapter bagian akhir karena di awal pasangan dan alurnya itu susah ditebak. mungkin kalo yg dansa kibum sama suzy nggak bakal ada kejadian yoona shock. awalnya juga aku pikir pasangannya tuh kyu-suzy kibum-yoona hae-jiyeon tapi ternyata salahhhh, omg kakak author keren bgt buat ceritanya. pgn baca terus dan terus.
    maaf juga baru muncul di akhir cerita karena nggak sempet buat komen di tengah2 serunya baca. author keren, semangat terus buat nulis yaaa thor.
    oh iya satu lagi, kayanya ada beberapa ff yg yg dilock, kalau boleh tau caranya biar bisa dapat passwordnya gimana yaa thor?? mohon dijawab.
    terimakasih dan maaf komennya panjaaaaaang bgt. salam kenal.

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s