School in Love [Chapter 27 – END]

Title : School in Love Chapter 27 – END
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, School Life, Friendship

Main Cast :
Bae Suzy | Park Jiyeon | Im Yoona
Cho Kyuhyun | Kim Kibum | Lee Donghae

Dha’s Speech :
Tiba juga di bab ending ^^ setelah melewati episode yang panjang, FF ini selesai juga.
Seneng deh. Aku suka banget ama cerita ini. Karena itu semoga kalian pun suka dengan ceritanya hingga akhir.

Terima kasih ^_^

School in love by Dha Khanzaki2

====o0o====

CHAPTER 27
Never Say Goodbye

KESENDIRIAN DI MALAM ITU dihabiskan Suzy untuk merenung. Nasehat Jiyeon dan Yoona tentang Kibum membuatnya memiliki sesuatu untuk dipikirkan. Suzy sebenarnya tahu apa ia rasakan terhadap Kibum, tetapi ia takut mengakuinya. Keraguan dan rasa takut kehilangan membuatnya menahan diri. Ia tidak pernah ingin menyakiti siapapun, ia pun terluka melihat Kibum tersiksa karenanya, tetapi ia masih memiliki masalah yang lebih penting diselesaikan daripada membalas perasaan cinta seseorang.
Lalu di saat masalah itu selesai, apa ia siap mengakui hal sebenarnya?

Bahwa ia mulai menyukai Kim Kibum?

Suzy tidak yakin apakah Kibum pantas untuknya. Ia pernah mengatakan hal jahat padanya. Ia menyentuh dadanya, terkejut karena jantungnya berdetak begitu cepat. Bahkan hatinya pun protes jika ia tetap memilih membohongi diri.

—o0o—

Suzy sudah lebih baik setelah mendapat perawatan yang lebih intens. Seluruh ubuhnya sudah kembali dalam kondisi prima dan bisa berfungsi dengan semestinya. Ia bahkan sudah bisa bercanda dengan keluarganya seperti sedia kala meskipun terkadang denyutan ringan terasa menusuk kepalanya. Jiyeon dan Yoona rajin menjenguknya sepulang sekolah, membawakannya bingkisan berupa buku pelajaran dan kisi-kisi untuk ujian kenaikan kelas. Suzy benci fakta bahwa ia harus masuk sekolah untuk ujian, tetapi ia senang bisa kembali bersama teman-temannya.

Pagi itu, Kibum datang menjenguknya. Suzy terkejut melihat Kibum datang begitu pagi, bahkan membawakan sarapan untuknya.
“Ibumu menitipkan ini padaku, dia bilang akan pulang sebentar ke rumah untuk menjemput Minji.” Alasan itu membuat Suzy tidak membalas. Ia membiarkan Kibum melakukan apapun yang dia mau.
“Senang melihatmu semakin membaik, dan semakin cantik.” Kibum mengedipkan mata, lalu menyiapkan sarapan untuk Suzy.

Sejujurnya, Suzy merona. Tetapi ia masih gengsi menunjukkannya.

Kibum bisa tersenyum bebas walau ia masih tidak percaya Suzy lebih memikirkan Jiwon dibandingkan dirinya. Tapi tak mengapa, setidaknya sekarang ia bisa menatap Suzy dengan bebas tanpa takut akan menyakiti siapapun. Jiwon sudah memaafkan Suzy, bukan?
“Ayo makan,” Kibum mengulurkan sesendok bubur padanya. Suzy menatapnya dengan kening berkerut.
“Kenapa di hari senin pun kau datang? Kau tidak pergi sekolah?”
“Aku akan pergi setelah yakin kau baik-baik saja. Lagipula tidak akan ada murid yang datang ke sekolah sepagi ini.” Kibum menunjukkan senyum lebar dua senti yang membuat Suzy tercenung. Sikap Kibum tidak berubah meskipun ia telah menyakitinya berkali-kali.
“Ayo buka mulutmu. Kau membuat tanganku pegal.”
“Aku bisa makan sendiri.”
“Aku tidak suka dibantah, anak manis.” Kibum tetap menjejalkan bubur itu ke dalam mulut Suzy hingga mulutnya penuh. Gadis itu ingin protes tapi tidak bisa. Terpaksa menelannya lebih dulu.
“Kau tidak pernah mau mendengar penolakan, menyebalkan sekali!”
“Kau sudah mengomel seperti ini artinya kau memang sudah sembuh.” ia mengulurkan minum setelah Suzy menghabiskan buburnya. Gadis itu terdiam menatap gelas minumnya. Kibum memiringkan kepala, heran.
“Kenapa?”

Suzy merenung, “Aku tidak mengerti mengapa kau tetap baik padaku.” Lirihnya lalu menatap pria di depannya. “Kau seharusnya menjauh dariku, aku adalah gadis jahat dan penggerutu. Entah sudah berapa banyak kata-kata pedas yang kulayangkan padamu.”
“Justru jika kau tidak seketus itu, mungkin aku tidak akan menyukaimu.”
“Tapi kau tahu bukan, aku sudah mengatakan hal buruk.”
“Tentang Jiwon yang menyukaiku?”

Rona wajah Suzy bersemu merah. Ia memilih bungkam karena membahasnya hanya memancing perdebatan yang lain.
“Kau pasti begitu menyayanginya sampai tidak mau menyakiti perasaannya sama sekali.”
“Kau tidak tahu bagaimana rasanya diteror oleh rasa menyesal bertahun-tahun.” Suzy mengerjapkan mata begitu ia merasa airmata berkumpul di sudut matanya.
Kibum tersentuh melihat Suzy begitu menyayangi Jiwon. Tak pernah ia melihat sedikit pun kebencian untuk Jiwon di mata gadis itu. Ia duduk di sisi tempat tidur Suzy lalu menggenggam tangannya.
“Yaa!!” serunya protes. Tetapi Kibum enggan melepaskannya.
“Aku tahu bagaimana rasanya, sungguh.” Ungkap Kibum penuh simpati. “Tapi aku yakin Jiwon sudah memaafkanmu.”
“Bagaimana kau begitu yakin?”

Barulah Kibum tersenyum begitu bangga, “aku bertemu dengannya semalam. Dia berkata akan menjengukmu besok. Dari nada suaranya dia tidak terdengar membencimu.”
“Apa?” Suzy tak bisa menyembunyikan senyumnya, “sungguh?” hatinya seketika berbunga-bunga melihat Kibum mengangguk menegaskan.
“Jika dia mengizinkan, apa kau bersedia menerimaku sepenuhnya?”
Senyum Suzy memudar, “ Itu.”

Suzy semakin tidak berani melanjutkan saat ia menyadari ekspresi Kibum berubah. Pria ini menatapnya dengan sorot mata penuh luka. “Kau tahu, aku merasa gembira saat kau terbangun tempo hari. Senang mengetahui kau baik-baik saja.” Ia diam sesaat lalu kembali memandang Suzy, “Sebenarnya bagaimana caramu memandangku?”
Mata Suzy berkedip beberapa kali. “Caraku memandangmu?”
“Apa kau memandangku sebagai teman, pria yang kau benci, atau..” Kibum mendekati bibirnya ke telinga Suzy dan berbisik, “Pria mempesona yang kau sukai?” satu kecupan ringan mendarat di bibir Suzy. Seharusnya itu menjadi momen yang romantis. Tetapi karena ciuman tiba-tiba Kibum membuat jantung Suzy terhenti, tangannya tanpa sadar melayang begitu saja menampar Kibum.
“Yaaa!!” Kibum melotot sambil memegangi pipinya yang memerah. Ia tak percaya Suzy akan memukulnya hanya karena ciuman ringan, uh well, ia mencium di tempat yang salah. Tetapi gadis lain menyukainya, kenapa Suzy tidak?
“Siapa suruh kau menciumku! Pergi sana, aku tidak ingin melihatmu!!” Suzy melempari Kibum dengan bantal yang menjadi tempatnya bersandar. Pria itu bangkit dengan panik menjauhi Suzy.
“Baik, baik aku pergi! Lihat saja, setelah ini aku jamin kau akan merindukanku!” dengan penuh percaya diri Kibum memberikan kutukan itu pada Suzy.

“Never!!” teriaknya bersamaan dengan pintu ruang rawat yang ditutup. Kini Suzy sendirian di kamar dengan kondisi perasaan yang porak poranda. Ia diam memegangi dadanya. Jantungnya berdebar tidak normal. Tangannya beralih menyentuh sudut bibirnya. Kibum baru saja menciumnya di sini? Oh tidak? Suzy mengacak rambutnya sendiri. Jangan katakan ia sedang tersipu saat ini, atau lebih parah. Ia terpesona pada Kim Kibum, jatuh cinta semakin dalam padanya!
Sementara itu di luar kamar, Kibum tersenyum geli melihat Suzy kewalahan. Dilihat dari reaksinya, Kibum menyimpulkan tadi adalah ciuman pertama Suzy.
“Rasakan itu. Siapa yang menyuruhmu menggantungkan perasaan Prince of School sepertiku?” ini adalah pukulan yang tepat. Kibum yakin tak lama lagi Suzy akan tergila-gila padanya.

—o0o—

Jiyeon melirik ponselnya sekali lagi untuk memastikan bahwa ia tidak salah tempat. Pagi tadi tidak biasanya Kyuhyun mengiriminya pesan singkat agar menunggunya di depan pintu masuk sekolah. Kyuhyun tidak mengatakan alasan mengapa Jiyeon harus menunggunya karena biasanya mereka jarang sengaja bertemu di sekolah.

“Mungkin dia lupa,” putus Jiyeon setelah lima belas menit ia menunggu, Kyuhyun tak muncul juga. Jiyeon memutuskan pergi.
“Berani maju selangkah lagi aku akan mengutukmu!”

Jiyeon menoleh dengan cepat, “Kyuhyun.” bisiknya. Kyuhyun baru saja keluar dari mobilnya. Pria itu tampak marah. Oh, apa salahku? Jiyeon menarik napas gugup.
Kehadiran Kyuhyun di mana pun selalu menarik perhatian murid-murid Royal President. Mereka sepertinya terkejut karena tak biasanya Kyuhyun repot-repot menegur. Terlebih murid-murid yang membuatnya sebal. Bukankah Jiyeon masuk daftar hitam Kyuhyun, mengapa pria itu mau menyapanya. Mereka semua menyempatkan diri untuk berhenti dan mengamati apa yang akan Kyuhyun lakukan dengan penuh minat.
“Kyu, kau harus berhenti menggandengku seperti ini.” cicit Jiyeon malu. Ia berusaha menurunkan tangan Kyuhyun yang melingkar di pundaknya. Ia merasa risih dengan tatapan aneh yang dilayangkan seluruh penghuni sekolah padanya.

Waeyo? Apa tindakanku ini melanggar hukum?” kilah Kyuhyun tak peduli. Ia terus berjalan sambil menggandeng Jiyeon, melewati pelataran sekolah yang dipenuhi murid-murid yang berdatangan.
Jiyeon hanya takut, ia akan dibully kembali seperti dahulu oleh anak-anak kelas Platinum. Apalagi karena saat ini ia memiliki hubungan khusus dengan siswa terpopuler dari kelas seleb itu. Ia memalingkan wajahnya takut saat beberapa gadis memandangnya tajam, iri karena dirinya bisa mendapatkan perhatian Cho Kyuhyun.
“Tak peru menyembunyikan wajahmu seperti itu.” Bisik Kyuhyun menjawab ketakutan Jiyeon, “Siapapun tidak akan berani mengganggumu selama kau bersamaku.” Dia benar-benar tak menghiraukan pandangan aneh orang-orang. Malah dengan gamblang mengumumkan bahwa Jiyeon resmi menjadi pacarnya.

Praktis, berita itu menggemparkan seisi sekolah. Bahkan beberapa murid perempuan menangis histeris ketika kabar itu menyebar dari satu mulut ke mulut yang lain seperti virus. Jiyeon hanya bisa mendesah pasrah. Kyuhyun sungguh tak bisa dicegah jika sudah bersikeras.
“Bagaimana jika orang-orang membenciku dan aku tidak memiliki teman lagi.”
“Bukankah masih ada Suzy dan Yoona?” Kyuhyun berpaling padanya. “Kau juga memiliki Donghae, Kibum, dan Siwon.”
Senyum Jiyeon terbit, “Kau benar, aku tidak sendirian.” Ia memeluk pinggang Kyuhyun. Jika bisa, ia berharap keadaan seperti ini akan bertahan selamanya.
“Pulang sekolah nanti mari kita jenguk Suzy.”
“Ah, aku malas bertemu gadis sangar sepertinya.”
“Cho Kyuhyun, dia sahabat terbaikku.”
“Baiklah.”

—o0o—

Yoona ikut bahagia melihat Jiyeon bahagia. Meski tak bisa dipungkiri ia pun terkejut ketika Kyuhyun mengakui status pacaran mereka ke seluruh isi sekolah. Ia senang Jiyeon pada akhirnya bisa bersama dengan orang yang dicintainya. Sementara itu, Yoona tak bisa tenang karena sampai saat ini pun Donghae tetap tidak muncul di sekolah. Kibum dan Kyuhyun seperti menghindar ketika ia sengaja bertanya tentang Donghae pada mereka.

Apa Donghae frustasi karena interogasiku tempo hari? Yoona benar-benar cemas. Ia takut Donghae mengalami trauma atau mungkin saja saat ini pria itu sedang sakit parah.
Mengapa aku jadi mencemaskannya seperti ini? Yoona mendesah berat.
Sekembalinya dari sekolah, tidak langsung menjenguk Suzy seperti biasanya. Ia pulang dulu ke rumahnya untuk ganti baju lebih dulu. Setelah itu ia baru akan pergi melihat kondisi sahabatnya.
“Nona, ada surat untuk Anda.” Seorang pelayan mencegat Yoona ketika ia akan menaiki tangga.
“Terima kasih,” Yoona menerima surat beramplop violet itu dengan alis bertaut bingung. Seingatnya ia tidak menunggu surat dari siapapun. Lalu siapa yang mengiriminya? Daripada bertanya-tanya lebih baik ia membaca isinya.

Dear Yoona,

Sebelumnya maaf karena aku memakai surat untuk memberitahumu. Aku tidak tahu cara apa yang lebih tepat untuk menjelaskannya tanpa membuatmu terluka, karena hal yang akan kusampaikan ini sangat penting untuk kau ketahui. Aku tidak akan bisa menjelaskannya lewat kata-kata secara langsung.

Aku yakin aku terlalu lancang untuk seseorang yang baru masuk ke dalam kehidupanmu. Ada hal yang ingin kusampaikan. Aku yakin Donghae pasti marah jika aku memberitahu hal ini padamu. Sebenarnya kedatanganku ke Korea adalah untuk membawa Donghae kembali ke Swiss. Bibi Lee, Ibu Donghae memintaku melakukannya. Aku tidak pernah menyangka saat aku pertama kali menemuinya, Donghae tidak mengharapkan kedatanganku sama sekali. Dia membenci kehadiranku secara terang-terangan. Dia sepertinya tahu aku datang untuk mengajaknya pergi.

Aku terpaksa membohonginya. Aku berkata bahwa aku sedang berlibur. Kubujuk dia perlahan-lahan. Tetapi dia selalu menolak berbicara denganku. Dia seperti anak kecil yang sensitif. Keluarganya sudah tidak mempermasalahkan kejadian dulu lagi dan ingin dia kembali. Tak kusangka sangat sulit membujuk Donghae di saat hatinya telah terluka. Tapi aku tidak menyerah. Akhirnya dia mengerti ketika aku menjelaskan alasannya secara baik-baik dan dia bersedia ikut bersamaku ke Swiss. Dia pasti tidak mengatakannya padamu bukan? Aku tahu itu, si bodoh itu memang tukang penyendiri yang suka memendam masalah.

Mendadak, dunia Yoona berguncang. Ia limbung ke belakang sampai punggungnya bersandar pada tembok mengetahui Donghae akan pergi. Tidak, tidak boleh!

Karena itu sebelum kami benar-benar pergi aku ingin memberitahumu satu hal lagi. Kau tahu, Donghae selalu memperlihatkan senyum yang berbeda setiap kali menatapmu. Aku sangat yakin dia menyukaimu. Firasatku tidak pernah salah.

Temanmu, Choi Sooyoung.

PS: Kami akan pergi tgl 20 pekan ini.

Yoona berdebar saat membaca paragraf terakhir. Kepalanya pening. Donghae menyukainya? Itu terlalu mustahil. Donghae tidak pernah menunjukkan tanda-tanda itu terhadapnya. Tetapi mengapa hatinya berharap seperti itu? Sekarang ia tahu mengapa sebelumnya Donghae selalu terlihat berbicara di telepon dengan raut jengkel. Pria itu berteriak karena seseorang di teleponnya membahas tentang ‘come back home’. Jadi inikah yang dimaksud?
Tapi, tunggu Donghae akan pergi ke Swiss tanggal 20, bukankah itu hari ini!!! Apa alasan Donghae tidak masuk hari ini karena pria itu memutuskan pergi? Dirogohnya ponsel di dalam tasnya dengan terburu-buru. Ia harus menghubungi Donghae untuk memastikannya.
Percobaan pertama gagal. Yoona mencobanya kembali hingga akhirnya Donghae menjawab panggilannya.
Yeobseo.”

Yoona tidak boleh langsung menuduh Donghae pergi tanpa berpamitan dengannya, ia harus tenang. “Lee Donghae, kenapa kau tidak masuk hari ini? Apa kau sakit?”
“Aku baik-baik saja.” pria itu menjawab dengan tenang. Suara berisik sayup-sayup terdengar. Sepertinya Donghae berdiri di tengah keramaian.
“Kau ada di mana sekarang?” inilah yang paling ingin diketahui Yoona. Bila mengingat surat Sooyoung tadi, muncul kemungkinan Donghae dalam perjalanan ke Swiss.
Hening sesaat, lalu suara Donghae kembali terdengar.
“Aku ada di bandara.”

Yoona mencelos karena dugaannya benar. Apa Donghae akan sungguh-sungguh pergi? Ia tidak mau itu terjadi. Ia tidak rela Donghae pergi meninggalkannya. Ia tidak sadar sejak kapan pandangannya mengabur.
“Apa yang kau lakukan di sana?” tanyanya dengan suara tercekat.
“Maafkan aku Yoon,” suara Donghae terdengar berat. Tidak kumohon, jangan katakan apapun lagi! Jerit Yoona dalam hati.
“Aku ingin mengatakannya saat kita bertemu tempo hari bahwa aku akan kembali ke keluargaku di Swiss. Mungkin aku tidak akan kembali lagi ke Korea, karena itu..”
“STOPP!!” teriak Yoona, airmatanya terburai sudah. “Jangan pernah mengatakan selamat tinggal padaku!”
“Im Yoona..”
“Kapan pesawatmu take off?”
“Satu jam lagi.”
“Tunggu aku di sana!” Yoona memutuskan sambungan dan segera bergegas pergi ke bandara. Ia sendiri tidak mengerti bagaimana bisa beberapa patah Donghae membuat perasaannya kacau balau. Airmatanya tak bisa terbendung lagi. Sepanjang perjalanan Yoona terus menyalahkan orang-orang. Mulai dari Kyuhyun dan Kibum yang menolak memberitahunya tentang kepergian Donghae. Ia yakin mereka pasti tahu. Ia juga menyalahkan Sooyoung karena terlambat memberitahunya. Lalu yang terakhir ia menyalahkan Donghae, mengapa pemuda itu harus menyembunyikan kepergiannya segala? Tidak, ia tidak akan membiarkan Donghae begitu saja, meninggalkan dirinya dalam keadaan berantakan seperti ini.

—o0o—

Suzy bosan karena yang bisa dilakukannya hanya berbaring di tempat tidur. Sekarang ia sendirian. Kedua orang tuanya pergi keluar membeli makan sementara kakaknya pergi menjemput adiknya.
“Bae Suzy!” Kibum masuk dengan wajah cerah ceria. Dia masih memakai seragam sekolahnya. Suzy tersenyum kecil. Melihat pria itu selalu menimbulkan getaran-getaran aneh di hatinya.
“Kenapa kau kemari? Setidaknya pulang dan berganti bajulah dulu!”
“Aku hanya ingin cepat-cepat melihatmu.” Bibirnya tetap dihiasi senyum innocent. Bahaya! Suzy langsung memalingkan pandangan. Ia panik karena jantungnya hampir melompat keluar melihat senyum itu.
“Jika memang berniat menjenguk kau harus membawakanku sesuatu.” gerutunya karena Kibum tidak membawa apapun selain tas.
“Kau meremehkanku. Tentu saja aku membawa sesuatu untukmu, sebentar.” Kibum mengeluarkan sebuah kotak terbungkus kertas kado dan pita dari dalam tasnya kemudian menyerahkan benda itu pada Suzy.
“Apa ini?” Suzy melebarkan mata. “Sekarang bukan hari ulang tahunku.”

Kibum menunjukkan senyum misterius. “Buka saja.”
Suzy membuka kotaknya. Ia mengerjap menemukan syal rajutan berwarna kuning. Ia terpana. Selain karena benda ini dirajut dengan begitu indah dan apik, tetapi karena Suzy mengenal dengan jelas siapa tangan rajin yang membuat syal ini.
“Cantik bukan?” sela Kibum bangga. Suzy menatapnya dengan senyum lebar.
“Gomawo.”
“Jangan padaku,” Kibum menggeleng sambil mengangkat kedua tangan, “Berikan ucapan terima kasihmu pada orang yang merajutkannya untukmu.”
Kibum menunjuk kotak kado itu. Suby melihat ada selembar kartu tergeletak di dasar kotak. Ia mengambil lalu membacanya.

Aku buatkan sesuai warna kesukaanmu. Kim Jiwon.

Ini benar-benar syal rajutan dari Jiwon! Kembang api terdengar meletus-letus di kepala Suzy. Ia menjerit.
“Kyaaa..jeongmal gomawo, Jiwon-ah!” Suzy mendekap erat syal itu dengan airmata menetes. Ia menatap Kibum yang tersenyum gembira.
“Apa itu artinya dia memaafkanku?”
“Pasti. Bukankah dia sahabatmu?” Kibum mengambil syal itu dari dekapan Suzy lalu melilitkannya ke leher Suzy. Pria itu menyeringai puas melihat hasilnya.
“Lihat, syal ini sangat indah jika kau yang memakainya. Jiwon memang hebat. Dia tahu apa yang terbaik untukmu.”

Suzy tahu kata-kata itu membuat wajahnya memanas, “Kau mencoba merayuku lagi?” dengusnya bermaksud untuk mengalihkan kegugupan. Kibum memeluk lehernya.
“Menurutmu?” ia malah balik bertanya. Suzy mengerjap menyadari posisi mereka terlalu dekat. Desiran hebat menghantam dadanya. Mulutnya tak bisa melayangkan protes atau keluhan. Ia hanya terpaku menatap mata Kibum.
“Ke-kenapa?” Suzy merasa malu karena Kibum memandangnya terlalu intens. Pria itu memiringkan kepalanya.
“Aku sedang berpikir apa kau akan memukulku kali ini.”
“Kenapa aku harus memukulmu?” Suzy tidak bisa berpikir jernih karena tiba-tiba saja Kibum tersenyum.
“Karena aku akan menciummu lagi.” bahkan sebelum Suzy memasang kuda-kuda Kibum sudah menempelkan bibirnya. Tidak melakukan apa-apa, hanya menempelkannya saja tetapi hal itu sanggup membuat hati Suzy jumpalitan. Dengan gugup Suzy menutup matanya, tidak sanggup untuk melawan apalagi membalasnya.

Ketika tahu Suzy mulai menerima, Kibum sedikit menggerakkan bibirnya. Melumatnya untuk beberapa saat lalu menjauhkan wajahnya. Alangkah gembiranya ia ketika ia menyadari Suzy membiarkan ia menciumnya. Ia sempat takut Suzy akan marah lalu memukulnya seperti tempo hari. Apa ini artinya Suzy mulai membuka hati untuknya?
Suzy dengan ragu-ragu membuka matanya. Ia yakin wajahnya kini sudah semerah tomat karena Kibum tersenyum simpul melihatnya.
“Ternyata aku tidak mendapat pukulanmu, gomawo.” Kekehan membuat Suzy sangat malu sampai ia ingin menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Dalam hati Suzy memaki dirinya sendiri karena membiarkan dirinya diperdaya oleh Kim Kibum. Seharusnya ia ingat bahwa Kibum adalah seorang lady killer. Sangat mudah baginya mempesona seorang gadis. Aarrgghh..kenapa aku bisa terjebak dengan mudah! Makinya dalam hati.
“Berhenti merayuku!” Suzy kesal. “Lebih baik kau terima saja Jiwon, dia jelas menyukaimu tanpa perlu kau rayu.”

Kibum mengerang karena lagi-lagi ia mendengar kalimat yang sama. “Perasaan seseorang tidak bisa dipaksakan, sayang.”
“Hanya karena itu kau menolak Jiwon, biasanya kau menerima pernyataan gadis manapun dengan mudah.”
Sudut bibir Kibum mengeluarkan desisan gemas. Gadis ini benar-benar. Suzy belum juga menyadari perasaannya? Haruskah ia mengakuinya sekarang juga?
“Karena aku menyukaimu, gadis bodoh!” akhirnya kalimat itu keluar juga. Kibum tidak bisa menahannya lagi. Ia ingin Suzy tahu isi hatinya.

Kata-kata itu lagi. Darah berdesir dengan cepat dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sekarang setelah semua masalah diselesaikan, apa yang semestinya ia katakan pada Kibum?
“Naega wae? Kenapa aku!!” Suzy masih belum bisa menerima, “Bukankah aku sudah pernah berkata bahwa aku membenci playboy sepertimu!”
Kibum mengangkat alisnya sebelah, “Kau serius tidak menyukaiku? Kehormatan besar bisa disukai pria pintar, tampan dan berkarisma sepertiku.”

Aigooo, Suzy mengerang dalam hati. Kibum memiliki kepercayaan diri yang melebihi ambang batas orang normal kebanyakan. Meski tidak bermaksud menyombongkan diri, tetapi Kibum tetap terdengar memamerkan dirinya.
Kibum menatap Suzy dalam diam, “Aku ingin meminta maaf, karena aku kau..” ia menghembuskan napas berat lalu menatap Suzy dengan perasaan bersalah. “Aku benar-benar payah dan tidak berguna.” Ia kesal pada dirinya sendiri karena pada saat kejadian ia ada di sana namun tidak bisa melakukan apapun.

Suzy yang kesal mencupit pipi pria itu, “Aku tidak suka melihat seseorang cemberut. Jangan sia-siakan pengorbananku dengan memperlihatkan wajah sedih di depanku.” Ia memang benci melihat ekspresi Kibum saat ini. Musibah yang menimpanya bagaimana pun bukan salah Kibum.
Mendadak senyum dua senti Kibum muncul. Dengan riang pria itu memeluknya, “Jadi kau berkorban untukku? Kau manis sekali, apa kau tidak ingin kehilanganku?”
“Yaa! Lepaskan!” Suzy meronta panik, “Bukan itu maksudku. Siapa yang berkorban untukmu? Kau tahu ibumu bisa menuntutku jika kau sampai celaka. Lagipula, kecelakaan itu karena kesalahanku juga. Tidak ada hubungannya denganmu.”
Kibum menyeringai. Ia bisa menangkap maksud tulus dari ucapan Suzy. “Arraseo,” ia melepaskan Suzy. “Jadi, apa kau menerimaku?”
“Menerima apa?” Suzy gelagapan. Otaknya tiba-tiba macet. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia menatap ke sekeliling ruangan dengan gugup.
“Aku penasaran kapan teman-temanku menjengukku. Apa mereka tidak tahu aku merindukan mereka dan aku sudah lama tidak bertemu Donghae.”

Ekspresi Kibum tiba-tiba saja meredup saat Suzy menyebutkan Donghae. “Donghae, dia..” ia buru-buru menutup mulutnya kembali saat sadar ia hampir saja mengatakan hal yang tidak boleh ia katakan. Tetapi terlambat, Suzy terlanjur mendengarnya. Dengan kening mengerut gadis itu menatapnya.
“Kenapa, apa dia sakit? Kuharap tidak terjadi apapun padanya.” Suzy terlihat cemas. Kibum hanya melengos malas. Kenapa Suzy masih memikirkan Donghae?
“Dia akan pergi ke Swiss.”
“MWORAGO, SWISS!!!” Suzy terperanjat, pekikannya menggelegar ke seluruh penjuru ruangan, “Kapan?”

Kibum disengat rasa cemburu yang membuatnya menjawab dengan malas-malasan, “Jika tidak ada halangan, beberapa menit lagi.” ah, ia menyesal sudah kelepasan bicara.
Suzy termangu di tempat tidurnya. Donghae akan pergi. “Kenapa kau tidak memberitahuku sebelum ini?”
Kibum mendesah, “Donghae tidak ingin siapapun tahu.” ia menatap Suzy hati-hati sambil menekan perasaan cemburu, “kau sedih mendengarnya akan pergi?”
“Sedih? Tentu saja. Kau tidak sedih mengetahui esok hari kau tidak akan melihat Donghae di sekolah lagi?”
Tentu saja Kibum sedih. Tetapi bukan berarti mereka tidak bisa bertemu lagi bukan? Selagi Donghae masih hidup, selama apapun kepergiannya mereka masih bisa bertemu. “Donghae adalah sahabatku, tentu saja aku merasa kehilangan. Tetapi aku tidak sedih karena masih banyak cara untuk menghubunginya, mengetahui kabarnya.” Kibum memaku Suzy dengan kedua matanya yang sendu. “Aku justru ingin tahu perasaan sedih seperti apa yang kau rasakan ketika tahu Donghae sudah pergi.”
Suzy berdebar. “Aku merasa sedih. Seperti aku telah kehilangan mainan kesayanganku yang berharga.”
“Tapi kau selalu bisa mencari mainan baru bukan?”
“Ya—“
“Lalu bagaimana perasaanmu ketika kau tahu aku akan pergi?”
Napas Suzy seperti direnggut paksa. “Kau akan pergi juga?” kedua matanya terbelalak.
“Mungkin.” Kibum mengendikkan bahu. Ia menatap Suzy dengan penuh harap, menantikan jawabannya.

Kau mungkin bercanda! Teriak Suzy. Mendengar Donghae pergi ia hanya merasa..kehilangan. Tetapi jika Kibum pergi, mengapa ia merasa tidak rela? Hati Suzy akan sakit jika Kibum tidak ada di sisinya.
“Aku merasa sakit jika kau pergi.” gumam Suzy luluh pada akhirnya.
Kibum mengerjapkan mata. Secercah harapan tiba-tiba bersinar di depan matanya. Ia tersenyum, sangat puas mendengar jawaban Suzy.
“Nah, sekarang kau tahu bukan bagaimana perasaanmu?”
Terkesiap, Suzy mengangkat kepalanya. “Apa maksudmu.”
Kibum tersenyum cerah, “Aku baru saja memberitahumu perbedaan besar antara apa yang kau rasakan terhadap Donghae dan terhadapku.”

Awalnya Suzy tidak mengerti, tetapi kemudian kedua matanya melebar menyadari apa yang sebenarnya ingin Kibum tunjukkan dari pertanyaannya tadi. Suzy memegang dadanya yang terasa berdentum-dentum kencang di telapak tangannya. Melihat kedua mata Kibum yang berbinar, pipi Suzy memerah dengan sendirinya.
Ya Tuhan, ia memang mencintai Kibum.
Sementara kepada Donghae, ia hanya menyayanginya. Seperti ia menyayangi Jiyeon dan Yoona.

—o0o—

Bandara rasanya terlalu luas. Mencari Donghae seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Yoona hanya berdoa semoga pria itu belum meninggalkan Korea. Ia tidak akan menyerah sebelum yakin Donghae sudah tidak ada di sana. Setelah mencari ke sana kemari dengan panik akhirnya ia menemukan pria itu duduk di salah satu deretan kursi menunggu keberangkatan pesawatnya diumumkan.
“Lee Donghae.” Yoona memanggil.

Donghae terkejut melihat Yoona benar-benar datang. Ia berdiri begitu cepat sampai-sampai kacamata yang dipakainya melorot. Yoona tiba di hadapannya.
“Kau benar-benar datang?” lirihnya tak percaya.
“Apa yang sebenarnya kau pikirkan!” bentak Yoona kesal. “Pergi tanpa berpamitan denganku, aku tidak akan membiarkannya!”
Pertama kalinya Donghae melihat gadis kalem sepertinya meledak. Sesuatu yang jarang terjadi namun membuat bibirnya berkedut menahan senyum.
Yoona sepertinya mendapatkan kembali akal sehatnya melihat senyum Donghae. Perlahan-lahan emosinya memudar, ia melirik ke sekeliling dan menyadari orang-orang menatapnya heran. Pipinya memerah karena malu.
Ini benar-benar kejutan di detik-detik terakhir Donghae berada di Korea. Tak pernah ia bayangkan Yoona akan seperti ini mengetahui dirinya akan pergi. Perhatian kecil Yoona telah menghangatkan hati Donghae.
“Maafkan aku karena tidak bisa berpamitan secara langsung padamu.” sesalnya.
“Bagaimana bisa kau tetap mempertahankan keegoisanmu?” Yoona benar-benar sedih karena Donghae masih saja menjaga jarak seperti ini. “Apa yang akan dipikirkan teman-temanmu saat tahu kau sudah pergi? Kau tidak memikirkan perasaan mereka?”
“Maksudmu perasaanmu?”

Yoona gelagapan.
“Aku tidak mencoba menjadi egois saat ini. Aku hanya terlalu pengecut untuk mengucapkan kata-kata perpisahan.” Donghae menjelaskan sehalus mungkin.
Mata Yoona berkaca-kaca, “setidaknya biarkan teman-temanmu tahu.”
“Aku sudah memberitahu Kyuhyun dan Kibum.”
“Bagaimana dengan Suzy? Kau tidak memikirkan betapa sedihnya dia saat tahu kau pergi?”
“Aku yakin dia bisa mengatasinya.”
“Bagaimana jika tidak? Dia menyukaimu.”
“Yoona.” Desah Donghae, “Suzy tidak menyukaiku. Jika dia memang menyukaiku, maka bukan kau yang berdiri di hadapanku saat ini. melainkan dirinya. Menurutku dia hanya mengagumiku sebagai seorang yang pernah menolongnya. Dia tidak pernah mencintaiku sebagai pria.”
Yoona tidak menjawab.
“Lalu, apa alasanmu buru-buru datang kemari setelah mendengar aku akan pergi hanya karena aku tidak berpamitan denganmu?”
Tak ada satu katapun yang Yoona berhasil ucapkan. Ia tercengang menatap Donghae. Ya, mengapa ia buru-buru datang kemari?
“Aku menganggapmu temanku. Kupikir aku akan menyesal jika membiarkanmu pergi begitu saja.” lirih Yoona.

Kini giliran Donghae yang terdiam. “Sejujurnya, aku tidak pernah menganggapmu temanku.” Renungnya.
Hati Yoona sakit. Ternyata kedekatan mereka akhir-akhir ini tak pernah dianggap sebagai bentuk pertemanan.
“Maaf jika aku sudah salah paham.” Desis Yoona. Ia tidak mengerti mengapa ia marah. “Sejak awal kau memang tidak pernah menyukaiku, aku bisa merasakannya.” Dengan kasar Yoona menghapus airmata di pipinya dengan kasar. “Jadi, apa maksud kebaikanmu akhir-akhir ini, apa itu hanya sekedar tata krama?”
Sorot mata Donghae terlihat sedih, “Kau tidak pernah memerhatikanku dengan baik. Aku terluka karena hingga saat ini kau masih tidak mengenaliku seperti aku mengenalmu.”
Yoona tak mengerti maksud Donghae. Sebelum Yoona mengatakan sesuatu, Donghae menyodorkan sebuah scarf padanya. “Kau mengenal benda ini?”

Kedua alis Yoona mengerut bingung. Donghae tersenyum tipis, “benda ini kudapat dari seorang gadis yang menolong kakakku saat kecelakaan menimpanya. Saat itu ambulans belum datang sementara kakakku dalam keadaan sekarat.” Sekelebat ekspresi ngeri bercampur pilu melintasi wajah Donghae, tetapi pemuda itu tetap menatap Yoona. “Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sementara darah mengalir tak terkendali dari tangan dan kepala kakakku. Lalu seorang gadis datang menolongku.”
Saat itulah Yoona merasakan sekelebat memori yang terlupakan menghantam otaknya. Ia menatap Donghae tak percaya.

“Semula kukira dia lelaki karena dia berpenampilan seperti lelaki. Aku menyadari dia seorang gadis ketika dia melepaskan topi di kepalanya dan membiarkan rambut panjangnya terlihat, tanpa menatapku dia menarik scarf yang mengikat rambutnya lalu membalutkannya pada luka kakakku. Aku melihatnya mengobati kakakku dengan cekatan, tanpa menyadari betapa aku kagum pada setiap yang dilakukannya. Aku ingin berterima kasih, tetapi bahkan hingga ambulans tiba dan kakakku dilarikan ke rumah sakit, aku tak sempat mengucapkannya. Dia menghilang tepat setelah ambulans datang. Meskipun pada akhirnya kakakku tidak tertolong, setidaknya kakakku sempat mendapat pertolongan dari seorang malaikat yang muncul tanpa kuharapkan. Sejak saat itu aku mencoba mencari identitas gadis itu. Bukan tanpa alasan aku menolak kembali pada orangtuaku, aku bertahan jauh dari mereka karena aku harus mengucapkan sesuatu padanya sebelum aku pergi. Sepertinya Tuhan mengabulkan keinginanku. Aku bertemu dengannya tepat ketika aku masuk SMU.”

Tatapan intens Donghae memaku matanya lalu melesak menembus hatinya, membuat jantungnya berdebar kencang. Setiap kata, setiap untaian kalimat yang Donghae katakan, seolah pria itu sedang mencoba mengingatkannya akan sesuatu yang telah Yoona lupakan. Kepingan memori yang sengaja Yoona buang karena masuk ke dalam kejadian tergelap dalam hidupnya dan ia mengingatnya. Kata-kata Donghae berhasil menarik kenangan itu kembali ke permukaan.

“Gadis itu membuatku terkejut dengan penampilannya yang berubah total. Meskipun begitu aku tetap mengenalinya. Aku sedih karena dia tidak mengenalinya. Aku mencoba sebisa mungkin memberinya petunjuk, tetapi dia justru menganggapku seperti orang aneh. Tetapi akhir-akhir ini, kami menjadi akrab. Itu adalah anugerah, karena Tuhan membuat kami dekat di detik-detik terakhir ketika aku memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahiranku.”
Yoona mengerjap ketika Donghae menarik dirinya mendekat, lalu melingkarkan tangannya ke belakang leher Yoona. Ia terlalu terkejut sehingga tidak menyadari bahwa Donghae bukan sedang memeluknya, tetapi mengikat rambutnya dengan scarft itu. Pria itu tersenyum ketika tatapan mereka bertemu kembali, “Nah, inilah malaikat penolongku. Aku kembali bertemu dengannya hari ini.”

Airmata berlelehan di pipi Yoona. Ya Tuhan, bagaimana bisa ia melupakan hari itu? Ia memang pernah menolong seseorang tepat sebelum ia menuju ke tempat ia dan teman-temannya biasa berkumpul. Hari itu ia bertemu Donghae. Bodoh sekali Yoona karena tidak bisa mengenali Donghae ketika mereka bertemu kembali. Pantas saja Yoona selalu merasa ia telah mengenal Donghae sebelumnya.
“Aku selalu berkata bahwa aku jatuh cinta pada gadis penolong kakakku.”
“Jadi orang yang kau maksud..”
“Ya, tentu saja itu kau, Im Yoona.”

Sungguh, Yoona sangat bahagia mendengarnya, teteapi juga ia merasa sedih.
“Aku melupakan kejadian hari itu begitu saja, padahal di hari itu pula kau kehilangan kakakmu.” Isak Yoona. Sebenarnya, hari itu juga Yoona dan kawan-kawannya ditangkap polisi karena tuduhan mengkonsumsi narkoba sehingga ia sengaja melupakan seluruh kejadian hari itu demi ketenangan diri.
“Tidak apa-apa. Aku tahu itu ketika mendengar cerita Ibumu. Tanggal kau ditangkap sama dengan tanggal meninggalnya kakakku.” Seraut kesedihan memancar dari sorot matanya, tetapi Yoona juga melihat binar kegembiraan dalam mata tajam nan jernih milik Donghae.
“Dan beberapa hari kemudian Ayahku meninggal.” Lirih Yoona. Mereka terdiam beberapa saat. Untuk pertama kalinya, Donghae mendekat lalu memeluknya dengan cara yang berbeda. Kali ini lebih lembut, namun juga erat. Donghae seperti ingin menegaskan bahwa ini adalah terakhir kali ia akan memeluknya.
“Terima kasih.” Desah Donghae di rambut Yoona. “Untuk menolong kakakku dan menjadi seseorang yang begitu memperhatikanku akhir-akhir ini.”

Yoona ingin sekali membalas pelukan Donghae, tetapi itu berarti ia membenarkan bahwa hari ini memang hari terakhir mereka bertemu.
“Aku mencintaimu, Im Yoona. Sejak lama.”
Kedua mata Yoona terpejam. Betapa lega hatinya mendengar kata-kata itu. Yoona membuka mulut untuk berkata ‘ya, aku juga mencintaimu’ tetapi kalimat itu tak sempat diucapkan karena sekali lagi nomor penerbangan Donghae disebutkan.
“Aku pergi.”
Hati Yoona menjengit sakit. Tenggorokannya tercekat. “Kau tidak akan pergi untuk selamanya bukan, kita pasti akan bertemu kembali.”
Donghae melepaskan Yoona, ekspresinya menunjukkan penyesalan dan kesedihan. “Ini terakhir kalinya aku berada di Korea.”

Yoona membulatkan mata. Tiba-tiba ia berharap telinganya tidak bisa berfungsi. Apa ia baru saja mendengar Donghae mengatakan dia akan meninggalkan Korea selamanya?
“Tidak, Donghae..kau tidak bisa pergi.” Yoona panik, ia memegang tangannya.
“Maafkan aku. Ini keputusan yang sudah kubuat.”
“Tega sekali kau! Setelah mengungkapkan semua perasaanmu padaku kau akan meninggalkanku begitu saja?”
“Yoona. Aku harus pergi.” ia berjalan mundur, bersiap menarik kopernya.
“Tidak,” Yoona mengambil kacamata Donghae dari wajahnya, pria itu menatapnya dengan wajah menegang. “kau pasti akan kembali. Aku akan menyimpan ini. Jika kau menginginkannya, kelak kembali dan ambillah dariku.”
“Yoona, aku tidak akan pernah kembali ke Korea lagi.”
“Aku tidak akan percaya.” Yoona menutup kedua telinganya sambil menggelengkan kepala dengan keras.

Bersamaan dengan itu dari pengeras suara terdengar nomor penerbangan Donghae disebutkan. Mereka saling pandang. Detik itu Yoona benar-benar ingin menarik Donghae pergi, mencegahnya menaiki pesawat itu. Tetapi seluruh tubuhnya tak bisa digerakkan, ia hanya menatap Donghae dengan airmata tak terbendung lagi.

Ini adalah perpisahan.

Donghae memberinya senyuman yang tak pernah Yoona lupakan. Pria itu menghapus airmata di pipinya, mendekat lalu mencium pipinya dengan lembut. Yoona menutup mata, mencoba merekam momen itu dan menguncinya ke dalam hatinya. Ketika Yoona membuka mata, sosok Donghae telah menghilang. Meninggalkannya sendiri bersama sebuah scarf yang dulu pernah ia berikan pada Donghae.

Yoona menangis. Ia jatuh terduduk di lantai, di antara ratusan orang yang hilir mudik di bandara itu. Ia telah kehilangan kesempatan terakhirnya untuk mengakui perasaannya pada Donghae. Sambil mendekap kacamata Donghae, detik itu Yoona menyadari bahwa ia sangat mencintai Lee Donghae. Entah sejak kapan perasaan itu bersemi di hatinya.
Mungkin ketika pertama kali Donghae memegang tangannya dan menolongnya yang hampir terjatuh di tangga.
Mungkin ketika Donghae melihatnya menangis serta memberinya sup jagung terlezat di dunia.
Mungkin ketika Donghae memeluknya saat ia terpuruk lalu pingsan.
Mungkin ketika ia melihat Donghae menghajar teman-teman lamanya yang kasar demi menolongnya.
Entah sejak kapan Yoona jatuh cinta pada Donghae.
Rasa itu mungkin akan terbalas suatu hari nanti, ketika ia mendapatkan keberuntungan.

Ketika kau tahu seseorang di dekatmu akan pergi, bandingkanlah perasaanmu saat itu dengan perasaan ketika orang lain di dekatmu akan pergi juga. Saat momen perpisahan itulah kau akan tahu siapa sesungguhnya sosok paling penting dalam hidupmu.

—FIN—

School In Love [Donghae-Kibum-Kyuhyun] by Dha Khanzaki

271 thoughts on “School in Love [Chapter 27 – END]

  1. Akhirnya datang juga ending yg ditunggu2 & dipertanyakan dari dulu :v Jiyeon sama Suzy endingnya bahagia tapi Yoona(?) Ah.. semoga donghae bakal balik buat ngambil kacamatanya ;v

    Good job eon😀

  2. Haha tu kibum maen nyosor aj, si suzy kan blom siap :p :p …
    Nah loh,, trz gmn tu, si yoona kan blm sempet nyatain perasaany am hae. Ap hae bnran g bkal kmbli k korea,,,

  3. Suka banget ngeliat moment kibum sama suzy, suzy yg masih malu malu buat ngakuin dan kibum yg ngebet bgt sama suzy.
    Tapi kasihan sama Yoona yg harus d tinggalin sama Donghae mudah mudahan Donghae balik lg ke korea buat ngambil kacamatanya.

  4. Good job eonni,,
    suka banget moment2 yang tercipta di part akhir ini, everyone got their happy ending, tapi kok ending untuk donghae-yoona seperti nggantung ya, semoga Donghae balik lagi ke korea untuk memperjelas hubungan mereka,,

  5. Waa akhirnya bisa ngomen jugaa, ff ini kereeen bangeet thooooorrrrrrrrr. saya lebeh bingit mohon dimaklumi, saya udah kaya orang gila, malem malem pegang hape sambil senyam senyum. Great job thor;)

  6. arghhh udah end yah… thor tapi kenapa ya kalo menurut aku nih ya suzy itu lebih cocok sama kyuhyun, ya mungkin karna peran mereka dsini sering berantem. hehe dtunggu sguelnya thor FIGHTING

  7. Wuah… akhirnya.., school in love endingnya keluarr… Seneng banget bisa liat Suzy sama Kibum jadian.. Pengejaran Kibum yang gak sia-sia… Jeyoung juga bahagia… Yoona-Donghae (?) part di bandara bener-bener bikin nangis.. :”( *cocokbuatngegalau* Feelnya kerasa banget *eaa curhat* *salamdamai*. Padahal Yoona-Donghae couple favorit aku, tapi Yoona ditinggalin gitu aja sama Donghae.. semoga kacamata yang diambil Yoona, bisa bikin Donghae balik ke Korea. Keren, eonni! Fighting!! FF ini paling favorit… Bikin versi novelnya juga dong eonn… kayak IMTBB

  8. suzy masih malu2 untuk mengatakan perasaannya kepada kibum
    si evil akhirnya sama Jiyeon juga
    kasihan yoona ditinggal donghae disaat dia mulai mengetahui persaannya pada donghae

  9. akhirnya *lapkeringet😡
    keren bgt thor. maap comen di part end nya ajha😀
    kkkk kizy couple keren😉 paporit akyu❤
    hmmm apa dongek beneran kagak bakal balik ke korea. hmmm pasti baliklah.

  10. Omo..omo kibum sweet banget dehh, mana main cium” suzy aja lagi >< pasti kaget banget si suzy~wkwkwk
    Duh kasia yoona semoga mereka di persatukan suatu saat nnti dan hae pulang ambil kacamata dan cinta nya😀
    Jiyeon kyu juga. semua nya bahagia kecuali yoon😦
    penasaran lanjut tan akhir nya

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s