Hello My Charming Wife [Chapter 4-End]

Title : Hello My Charming Wife Chapter 4 – END
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Married Life

Main Cast :
Shin Jeyoung | Cho Kyuhyun

Dha’s Speech :
Yeei part ending. Semoga memuaskan yah.
Konfliknya emang gak rumit kok. Partnya sangat panjang dan pasti bertebaran puluhan typo.

Happy Reading ^_^

Hello my Charming Wife by Dha Khanzaki

===o0o===

Part Sebelumnya…

Ketika ia melirik Sungmi, gadis itu tersenyum kecil padanya. Jeyoung sungguh ingin menjambak rambutnya. Tetapi menyadari penampilannya begitu sempurna, ia tidak sanggup melakukan itu. Jeyoung bahkan merasa terintimidasi. Sungmi tinggi semampai, cantik, dan tubuhnya membentuk lekukan di tempat yang pas. Jauh berbeda jika dibandingkan dengannya. Wajar saja jika Kyuhyun menjadikannya wanita kedua.
Tidak, tolong hentikan itu!

Karena itu, kini Jeyoung bertekad untuk meraih kembali bentuk badannya yang dulu. Ia tidak mau mengalah begitu saja. Sungmi memang belum menunjukkan gelagat untuk merebut Kyuhyun darinya, tetapi cepat atau lambat hal itu akan terjadi. Karena itu Jeyoung siap mempertahankan Kyuhyun bagaimana pun caranya.

Jeyoung bahkan sudah memasang target. Tiga minggu dari sekarang, akan ada jamuan makan malam bersama rekan kerja suaminya yang akan dilangsungkan di sebuah restoran terkenal. Jeyoung ingin mengejutkan suaminya malam itu. Ia harus tampil memukau malam itu.Ia akan memperlihatkan hasil latihannya di depan suaminya. Ia ingin Kyuhyun tahu bahwa ia masih wanita yang dulu pernah mempesonanya. Dan ia ingin Sungmi tahu bahwa Kyuhyun telah memiliki seorang istri yang sangat dicintainya sehingga Sungmi akan mundur dengan terhormat.

Jeyoung berhenti berlari di atas treadmill ketika ia mendengar suara tangis Jinwoo.

Part Selanjutnya..

—o0o—

CHAPTER 4-END
Jeyoung’s Action

“SEMUANYA sudah siap, Presdir. Acara jamuan makan malam akan dimulai tepat pukul 7 malam ini.”
Kyuhyun menggumamkan terima kasih sambil tersenyum sekali lagi pada sekretarisnya. Setelah ditinggalkan sendirian, Kyuhyun kembali mematut pantulan dirinya di cermin. Kini ia sedang bersiap-siap untuk memenuhi acara makan malam bersama beberapa kolega penting yang sudah ia rencanakan jauh-jauh hari. Kyuhyun tidak sempat pulang ke rumah untuk bersiap-siap, karena itu ia melakukannya di ruang kerja kantornya. Ada sebuah kamar lengkap dengan kamar mandi, dress room, dan dapur kecil di sana sehingga ia tidak akan kesulitan saat ia harus tampil rapi, segar, dan berwibawa dalam waktu yang terbatas.

Ponselnya berdering. Kyuhyun tersenyum saat mengetahui itu adalah panggilan dari Jeyoung, istrinya. “Ya, sayang.” sahutnya penuh gairah. “Tidak masalah bukan jika kau datang sendiri ke restoran itu, aku tidak akan sempat menjemputmu.”
“Tentu saja. Lagipula aku harus menitipkan Jinwoo pada Eomma terlebih dahulu. Aku akan tiba sebelum acara dimulai.” Sahut Jeyoung di ujung sana.

Kyuhyun memang meminta agar tidak membawa Jinwoo, putra mereka ke acara makan malam ini demi menjaga formalitas pertemuan. Meskipun berat pada awalnya bagi Jeyoung, akhirnya beberapa hari lalu istrinya itu setuju untuk menitipkan Jinwoo. “Aku tidak sabar ingin melihatmu. Sampaikan salamku untuk Eomma dan aku titip satu ciuman untuk Jinwoo.”
“Bagaimana denganku?”

Kyuhyun tertawa, “Aku akan memberimu ciuman langsung saat kita bertemu.” Ia membayangkan kedua pipi istrinya merona saat mendengar kalimat yang diucapkannya dengan nada menggoda tadi.
“Sampai jumpa di sana.”
“Aku tidak sabar ingin bertemu denganmu.” Kyuhyun menatap ponselnya karena merasa ada sesuatu yang mengusik benaknya.
Sebenarnya sudah beberapa hari ke belakang Kyuhyun merasa Jeyoung sedikit berubah. Istrinya itu seperti menyembunyikan sesuatu. Tidak hanya pola makannya yang berubah, tetapi ia merasa istrinya semakin kurus. Itu terasa setiap kali ia memeluknya.

Awalnya Kyuhyun tidak menyadari karena Jeyoung selalu memakai pakaian longgar. Ia bertanya-tanya apakah mungkin ada sesuatu yang membebani pikirannya? Apakah Jeyoung cukup makan atau mungkinkah Jeyoung merasa tidak bahagia?
Sikap Jeyoung menjadi berbeda sejak berkenalan dengan Han Sungmi. Kyuhyun khawatir perubahan itu memang berkaitan dengan Sungmi. Akhir-akhir ini mereka menjadi dekat disebabkan oleh hubungan bisnis. Apakah Jeyoung mencurigai ada sesuatu antara dirinya dengan gadis itu? Ya Tuhan, ini akan menjadi pertengkaran yang konyol jika Jeyoung memang menduga demikian.

Melirik jam tangannya Kyuhyun sadar sudah saatnya ia pergi. Tuan pesta tidak mungkin datang terlambat pada acaranya sendiri. Ia menyudahi persiapan sekaligus lamunannya lalu pergi setelah memastikan tidak ada yang tertinggal.

—o0o—

Restoran Prancis yang ada di pusat bisnis Seoul itu sengaja disewa untuk acara yang rutin dilaksanakan setiap tahun oleh perusahaan milik keluarga Cho. Sesampainya di sana Kyuhyun langsung menyapa para tamu yang sudah datang lebih dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah kolega bisnis yang datang jauh-jauh dari luar negeri.

Kyuhyun mengedarkan pandangan ke sekeliling berharap menemukan sosok Jeyoung. Ia tahu Jeyoung belum datang karena ia tak menemukannya di mana pun. Istrinya mengemudikan mobil sendirian kemari, semoga saja tidak terjadi apapun. Kyuhyun akan terus khawatir sebelum melihat istrinya muncul di restoran itu..

“Kyuhyun-ssi,” Kyuhyun menoleh pada Han Sungmi yang baru saja tiba. Gadis itu tersenyum lebar, tampak cantik dengan gaun putih yang dikenakannya. Kyuhyun menunjukkan senyum singkat demi kesopanan, ia tidak peduli betapa cantiknya Sungmi malam ini karena ia khawatir istrinya belum tiba. Kyuhyun menyadari Sungmi menatapnya dengan alis terangkat.
“Kenapa?”
“Kau tampak khawatir.”
“Istriku belum sampai.” Kyuhyun mengedarkan pandangan. Senyum Sungmi memudar, namun Kyuhyun tidak menyadarinya.
“Ada beberapa hal tentang kontrak kerjasama yang ingin aku bahas denganmu.”
“Tunggu sebentar Sungmi-ssi,” Kyuhyun merogoh ponselnya, hendak menelepon Jeyoung untuk mengetahui di mana keberadaannya. Ia tidak bisa memulai acara tanpa istrinya. Sementara hampir seluruh tamu sudah tiba di restoran itu.
Hanya suara nada tunggu yang terdengar, Kyuhyun gusar. Suara-suara ribut mengganggu telinganya, memaksa Kyuhyun untuk menoleh karena ia tidak bisa berkonsentrasi pada ponselnya.

Sedetik setelah menolehkan kepala, dada Kyuhyun berdentum kencang.

Seorang wanita memakai gaun merah, tampak dikelilingi oleh beberapa pria yang berlomba-lomba ingin menarik perhatiannya. Dialah penyebab keributan yang memancing Kyuhyun agar menengok. Wanita itu lebih dari sekedar cantik, senyumnya memikat dan bahasa tubuhnya sanggup memesona seorang pria gay sekalipun. Jika Kyuhyun tidak salah lihat, wanita cantik yang sedang dikerubuni para pria itu adalah istrinya.

Sejak kapan tubuh Jeyoung menjadi seseksi itu? Kyuhyun tahu Jeyoung selalu mengeluhkan berat badannya yang bertambah saat mengandung Jinwoo, bahkan setelah melahirkan pun bentuk tubuhnya tidak kembali seperti semula. Kyuhyun tidak tahu Jeyoung melakukan diet.

Kyuhyun tertohok. Kenyataan bahwa kecantikan dan kemolekan tubuh istrinya telah menarik perhatian pria lain membuatnya marah. Tidak hanya itu saja, ia juga kesal karena Jeyoung sudah datang namun tidak segera menghampirinya. Apakah dia tidak sadar bahwa Kyuhyun mencemaskannya. Kyuhyun terbakar oleh rasa cemburu. Tiba-tiba datang dorongan kuat untuk menyingkirkan pria-pria itu dari hadapan Jeyoung. Tetapi Kyuhyun sadar semua yang ada di ruangan itu adalah kolega dan rekan bisnisnya. Satu hal yang perlu ia lakukan adalah mengumumkan pada para pria itu bahwa wanita yang sedang mereka goda adalah istrinya.

“Permisi Tuan-Tuan,” Kyuhyun tersenyum kepada beberapa klien dan relasinya yang berkerumun di sekitar Jeyoung. “Aku ingin menyapa istriku sebentar.”
Beberapa pria itu mengerjapkan mata sadar siapa wanita yang sedang mereka coba rayu, terlebih ketika Kyuhyun menoleh ke arah Jeyoung lalu berkata, “Mengapa kau lama sekali, sayang?” Kyuhyun melingkarkan tangan di pinggang Jeyoung lalu mencium pipinya.
Jeyoung tersenyum geli karena aksi Kyuhyun, pria ini bertingkah seperti anak kecil yang merajuk karena mainannya hampir diklaim orang. Ia penasaran apakah penampilannya mengejutkan suaminya ini. “Maafkan aku, ponselku tertinggal di mobil sehingga aku tidak bisa memberitahumu bahwa aku sudah datang.”

“Tidak masalah, yang penting kau sudah tiba.”
Kyuhyun mengenalkan Jeyoung kepada seluruh tamu yang hadir. Mereka semua memujinya cantik. Jeyoung berkali-kali tersipu, bahkan terkesan dengan beberapa rekan bisnis Kyuhyun yang berasal dari luar negeri. Kyuhyun diam-diam cemburu. Ia lebih suka Jeyoung hanya untuk dirinya seorang. Ia tidak masalah dengan bentuk tubuh Jeyoung yang tidak seproporsional dulu karena dengan begitu ia tidak perlu khawatir istrinya akan menarik banyak perhatian. Tetapi kini, setelah Jeyoung mendapatkan kembali bentuk tubuh idealnya, Kyuhyun tidak bisa menerima kenyataan bahwa banyak pria yang menginginkan Jeyoung.

“Kyuhyun-ssi, aku ingin memperkenalkanmu pada Mr. Robert. Kau ingat dia bukan, dia investor asing yang membuat proyek kita lebih lancar.” Kyuhyun dan Jeyoung dicegat Sungmi. Wanita itu mengajak serta seorang pria bule dengan postur tubuh tinggi besar.
Kyuhyun tak punya pilihan lain selain menyapa Mr. Robert dengan ramah. Segera, Jeyoung dilupakan. Mereka begitu asyik mengobrol, Jeyoung bukannya tidak mengerti bahasa Inggris, tetapi ia merasa tidak dilibatkan dalam percakapan itu. Lebih baik ia menyingkir daripada hanya melongo di sana seperti orang dungu.
“Mau ke mana?” Kyuhyun menahan tangannya. Suaminya tahu Jeyoung akan melarikan diri.
“Aku ingin ke toilet, sebentar saja.”
“Baiklah, hati-hati.” Jeyoung berharap Kyuhyun akan menemaninya pergi. Tetapi rupanya berbincang dengan Sungmi jauh lebih menarik. Jeyoung pergi dengan hati terguncang. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Ia sudah berdandan total demi memesona Kyuhyun. Tetapi pria itu tak memujinya dan hanya menatapnya dengan pandangan tidak setuju. Apa gunanya semua ini jika Kyuhyun tetap tak bisa mengalihkan perhatiannya dari Han Sungmi. Lihat bagaimana mereka akrab dengan cepat dan Jeyoung secara naluriah tersingkir dari lingkaran mereka. Jeyoung bahkan mengakui bahwa Han Sungmi malam ini tampak sangat memukau.

“Malam ini menyenangkan bukan?”

Jeyoung tersadar, ketika ia menoleh ia terkejut mendapati Han Sungmi berdiri di sampingnya dan sedang merapikan riasan wajahnya.
“Ya.” Tenggorokan Jeyoung terasa kering. Mengapa ia terjebak berdua saja dengan Sungmi di sini? Rasanya ia ingin pergi saja.
“Kau pergi terlalu lama. Apa kau tidak cemas, mungkin Kyuhyun sekarang sedang mencarimu.”
“Tidak, dia pasti sedang sibuk mengobrol dengan kolega-koleganya saat ini.”

Sungmi menatapnya dari cermin, “kau sangat santai, Nyonya Cho. Kau begitu memercayai suamimu rupanya. Kau tidak takut dia digoda oleh seseorang di luar sana? Banyak sekali rekan-rekan bisnis wanitanya yang datang dan mereka lebih dari sekedar menarik.”

Termasuk dirimu? Jeyoung mencibir dalam hati. Lagipula sebenarnya apa yang Sungmi inginkan dari perkataannya itu?
“Aku percaya padanya. Aku bukan seseorang yang posesif dan pencemburu.” Jeyoung mencoba tersenyum meski rasanya bibirnya begitu kaku untuk dilengkungkan.
“Oh begitu. Aku tidak heran.” Sungmi memoleskan lipstick di bibirnya dengan santai, “Reaksimu tidak seperti kebanyakan istri ketika memergoki suaminya bersama wanita lain dan sedang melakukan sesuatu yang tidak semestinya.”

Jeyoung tercekat. “Sebenarnya apa yang ingin kau katakan, Sungmi-ssi?” ia tidak ingin bertengkar, tapi Sungmi sungguh memancing emosinya.
“Aku hanya ingin tahu wanita seperti apa yang Kyuhyun cintai, kau tahu, kami berdua lebih dari sekedar dekat. Beberapa waktu ini kami berbagi masalah bersama dan kau tahu, dia terkadang mengeluh betapa kau meragukan cintanya dan kau terlalu merasa bahwa dirimu tidak pantas dicintai olehnya.”
Jantung Jeyoung berdegup kencang. Kedua matanya melebar. Ia terkejut mengetahui Kyuhyun menumpahkan seluruh keluh-kesahnya pada Sungmi, bukan pada dirinya.

“Tidak semua pria menerima sikap pasrah istrinya, Kyuhyun adalah tipikal pria pelindung. Dia akan dengan senang hati menjadi sandaran hidupmu dan terkadang juga dia berharap melihatmu cemburu hanya untuk memastikan bahwa dia memiliki tempat yang berarti di hidupmu. Tetapi kau, melihatnya bersama wanita lain pun kau tidak marah. Kyuhyun selalu bertanya-tanya apakah kau mencintainya atau tidak.”
Jeyoung pening mendengar penuturan Sungmi. Gadis ini tidak tahu apapun dan tidak berhak menghakiminya seperti ini. Ia ingin protes, sungguh, tetapi ia berdebat dengan Sungmi, ia takut akan berpengaruh pada bisnis suaminya. Ia benci mengetahui bahwa ia telah menyebabkan kegagalan untuk Kyuhyun.
“Kyuhyun mengeluhkan semua itu ketika bersamamu, hebat. Apa kalian menjalin suatu hubungan tanpa sepengetahuanku? Atau kau diam-diam mendambakan suamiku?” tukas Jeyoung pedas.
Sungmi menganga selama beberapa saat, “bagaimana menurutmu? Apa kami terlihat sedang menjalin hubungan terlarang?”
Beraninya gadis ini mengatakan kalimat itu! Jeyoung berang.

Kemarahannya yang tertahan itu menyumbat jalan pernapasannya dan Jeyoung mendadak kesulitan bernapas. Ia langsung teringat pada penyakit asmanya. Ia tidak boleh panik atau marah. Ia menarik napas perlahan-lahan lalu menghembuskannya perlahan-lahan juga. Ia menatap Sungmi datar.
“Jika kau sudah selesai dengan keluh kesahmu, aku akan pergi. Terima kasih sudah memberitahuku, Sungmi-ssi, apa yang kau katakan tentang suamiku sangat membantu dan tentang urusan rumah tanggaku, izinkan aku dan Kyuhyun yang menyelesaikannya berdua tanpa bantuan darimu. Permisi.” Jeyoung menarik dengan kasar clutch perak yang dibawanya lalu keluar dari toilet dengan terburu-buru.

Jeyoung harus berhenti sejenak ketika akhirnya ia tiba di ruang pesta. Berusaha menormalkan laju udara yang masuk ke paru-parunya. Orang-orang tampak berinteraksi dengan normal, ketiadaan Jeyoung di pesta itu memang tidak berdampak banyak. Mungkin tidak masalah jika ia pergi dari sini.
“Kau tampak sakit, Nyonya Cho.”

Menengadah, Jeyoung langsung berhadapan dengan sesosok pria. Jeyoung mengenalnya, dia salah satu rekan bisnis suaminya yang berasal dari Incheon. Tetapi Jeyoung lupa siapa namanya.
“Aku hanya tidak terbiasa dengan pesta.” Jeyoung menegakkan tubuhnya. Bibirnya tersenyum. Ia harus menjaga citra dirinya agar tidak mempermalukan Kyuhyun.
“Mungkin segelas sampanye bisa membantumu.” Pria itu memberikan Jeyoung gelas tinggi berisi cairan keemasan.
“Terima kasih. Aku memang membutuhkan ini.” dusta Jeyoung. Ia menerima gelas itu demi kesopanan, ia pura-pura menyesapnya sedikit. Ia tidak akan meminum alkohol karena Jinwoo masih membutuhkan ASInya.
“Mengapa tidak bersama Kyuhyun-ssi?”
Jeyoung otomatis mencari keberadaan suaminya. Kyuhyun tampak masih berbincang dengan Mr. Robert di seberang ruangan sana. Secara total mengabaikan Jeyoung. Pria itu tidak terlihat khawatir mengapa ia lama tak kembali. Jeyoung sedih mengetahui ternyata keberadaannya di pesta ini memang tidak begitu penting. Apa ia pulang saja? Tiba-tiba Jeyoung merindukan rumah dan Jinwoo.

“Sejujurnya, aku mengira kau bukan istri Cho Kyuhyun.”
Oh, pria ini masih bersamanya. Jeyoung hampir melupakan keberadaannya.
“Kenapa?”
“Kau terlalu cantik, muda dan tidak terlihat seperti wanita yang sudah menikah pada umumnya. Apa benar kau sudah melahirkan? Tubuhmu tidak memperlihatkan bahwa kau pernah hamil.”
Pipi Jeyoung merona, inilah pujian yang sebenarnya ingin ia dengar dari Kyuhyun. Jeyoung ingin Kyuhyun bangga karena memiliki istri yang tampak muda, bertubuh langsing dan cantik. Tetapi sepanjang pesta, Kyuhyun malah mencoba memblokir semua pujian yang dilayangkan padanya. Kyuhyun sepertinya tidak suka ia menjadi pusat perhatian.
“Saat acara dansa nanti, apa kau bersedia berdansa denganku?”
Apa? Jeyoung tersentak. Ia tak menyangka akan menerima ajakan dansa dari pria lain lebih dulu.
“Sayangnya, dia akan berdansa lebih dulu denganku, Jaemin-ssi.”

Jeyoung dan pria itu menoleh bersamaan. Jeyoung mengerjapkan mata melihat suaminya berdiri di hadapannya dengan ekspresi ramah yang dibuat-buat. Ia sudah menghabiskan waktu yang lama untuk menyadari bahwa Kyuhyun saat ini sedang marah.
Jaemin tersenyum tipis, tampak tidak enak hati. “Tentu saja.”
“Boleh aku membawa istriku pergi?”
Tentu saja Jaemin tak memiliki hak untuk menolak. Sebelum Jeyoung setuju, tangannya sudah ditarik Kyuhyun dari samping Jaemin. Ia terkejut dengan cara Kyuhyun membawanya, nyaris menyeret.
“Kau harus menjaga sikapmu. Aku tidak mau ada yang berpikir bahwa istriku main mata dengan pria lain.” Desis Kyuhyun. Jeyoung mendelik padanya. Ia ingin menyangkal bahwa ia sedang bermain mata tetapi ia memilih tidak mengatakan apa-apa. Ia tidak ingin bertengkar di tengah pesta seperti sekarang.
“Wah, akhirnya kau menemukan istrimu.” Mereka berpapasan dengan Sungmi. Jeyoung tak dapat menahan diri untuk memutar matanya. Ia benci melihat senyum ramah Sungmi. Kini senyum itu tak tampak tulus lagi di mata Jeyoung, lebih terlihat seperti senyum mengejek.
Ajaib, Kyuhyun tersenyum. Tentu saja, Kyuhyun pasti tersenyum pada Sungmi. Demi menjaga hubungan bisnis mereka.
“Tidak sulit menemukannya, dia satu-satunya yang memakai gaun warna merah mencolok.”
Secara tidak sadar Jeyoung melirik ke bawah ke arah gaun merah selutut yang dikenakannya. Meskipun bibirnya tersenyum namun Jeyoung tahu Kyuhyun tidak suka dan Jeyoung marah karena itu. Apa yang membuat gaunnya tampak begitu memalukan? Jeyoung menginginkan kesan dramatis ketika memutuskan mengenakan gaun dengan potongan dada rendah yang otomatis akan menonjolkan payudaranya dengan indah namun tak terkesan menggoda. Jeyoung sudah membayangkan Kyuhyun akan kehilangan napas ketika melihatnya, tetapi yang ia dapat justru ejekan terselubung. Jeyoung sedih mengetahui usahanya mengesankan Kyuhyun gagal total. Sekarang ia merasa konyol karena menjatuhkan pilihannya pada gaun ini.
“Mr. Robert masih ingin berdiskusi denganmu.” Sungmi berkata. Kyuhyun tampak tergoda dan Jeyoung memutuskan pulang jika Kyuhyun meninggalkannya sendiri lagi.
“Maaf, ada hal penting yang harus kubicarakan dengan istriku.” Kyuhyun menyesal. Tak ayal pernyataan itu mengejutkan Jeyoung. Tangannya kembali ditarik. Dari sudut mata, Jeyoung menangkap ekspresi dingin Sungmi. Apa pedulimu, tinggalkan kami berdua! bentak Jeyoung lewat tatapannya.

—o0o—

Mereka menyeberangi ruangan menuju pintu keluar. Kyuhyun membawanya ke halaman samping restoran yang sepi. Jeyoung bisa menebak apa yang membuat Kyuhyun sekesal ini, tetapi ia tidak suka dengan cara Kyuhyun memperlakukannya begitu kasar. Ketika mereka tiba di teras samping, Jeyoung menyentakkan tangannya lepas dari genggaman Kyuhyun.

“Apa yang salah denganmu?” tegur Jeyoung kesal. Ia memegangi pergelangan tangannya yang memerah, berdenyar panas akibat genggaman Kyuhyun yang terlalu kuat.
Kyuhyun berbalik menghadapnya. Tanpa memerhatikan ringisan Jeyoung, Kyuhyun mengeraskan ekspresinya. “Apa aku lupa memintamu memakai pakaian sopan ke acara ini?”
Tersinggung, Jeyoung menjawabnya dengan tegas, “Apakah bagimu gaun yang kupakai tampak tidak pantas?”

Kyuhyun melangkah lebih dekat sehingga tanpa sadar Jeyoung sudah terpojok di dinding. “Aku tidak menyuruhmu mengenakan baju yang membuat mata para pria di ruangan tadi melotot. Kau tidak lihat tatapan mereka terang-terangan menunjukkan niat ingin menelanjangimu?” matanya berkilat marah, dan nada suaranya begitu menuduh seolah Jeyoung baru saja berselingkuh.

“Apa aku bisa melarang para pria itu untuk tidak menatapku? Lagipula kupikir rekan-rekan wanitamu mengenakan gaun yang serupa denganku. Kau tidak perhatikan Sungmi, bajunya bahkan lebih ringkas dan ketat dibanding yang kupakai.”
Kyuhyun menggertakan gigi, marah. “Aku tidak peduli apa yang dipakai wanita lain! Aku bahkan tidak memerhatikan mereka. Hanya kau.”
Keryitan kesal di kening Jeyoung mengendur. Gelombang dingin menyapu tubuhnya, membawa amarahnya lenyap bersama angin yang berhembus. Ia tertegun melihat kilatan sedih, bingung, dan marah di mata suaminya.
“Melihatmu memakai gaun ini membuatku sedih, Jeyoung. Gaun ini menunjukkan betapa aku tidak memerhatikanmu selama ini. Kau terlihat begitu kurus, entah berapa berat badan yang hilang sejak terakhir kali aku membelikan baju baru ketika baju lamamu tidak muat lagi karena mengandung. Apa yang terjadi? Kau tidak bahagia hidup bersamaku, atau aku tidak cukup memberikan perhatian padamu? Apa aku membuatmu terlalu lelah? Aku tahu bagaimana lelahnya mengurus Jinwoo dan rumah sendirian,tapi aku tidak menyangka semua itu akan membuatmu kehilangan bobot sedrastis ini.”

Tenggorokan Jeyoung tercekat. Sekarang ia berada di antara rasa bersalah, terharu, dan sedih. Semua yang dikatakan Kyuhyun tidak ada yang tepat dengan usaha yang ia lakukan untuk menurunkan berat badan. Ia tidak mengeluh sama sekali tentang tugasnya mengurus rumah tangga serta Jinwoo. Ia juga sangat bahagia menikah dengan Kyuhyun dan mencintainya meskipun Kyuhyun akhir-akhir ini menjadi lebih sibuk bekerja.
Jeyoung tidak bisa jujur bahwa ia memutuskan mengembalikan bentuk tubuhnya seperti semula karena kedekatan Kyuhyun dengan Sungmi. Dengan kata lain, ia ketakutan Kyuhyun akan berpaling pada Sungmi. Tetapi begitu mendengar Kyuhyun justru khawatir dengan perubahannya, Jeyoung merasa bersalah.
“Aku tidak mengira kau akan berpikir sejauh itu.” gumam Jeyoung. “Aku tadinya berharap akan mendapatkan pujian darimu ketika aku memakai ini.” renungnya.

Kyuhyun tersinggung mendengarnya. “Jadi kau menginginkan pujian? Kau sengaja memakainya untuk menarik perhatian semua orang? Menunjukkan setiap lekuk tubuhmu pada pria mana saja, aku tidak tahu kau begitu haus dengan pujian. Apa aku tak pernah mengatakan padamu bahwa kau sangat cantik dan aku menerima dirimu apa adanya? Kau bahkan tersipu ketika kau mengobrol dengan pria tadi! Dia menawarimu dansa dan kau hampir menerimanya jika saja aku tidak datang untuk mencegahmu!” nada Kyuhyun semakin tinggi dan akhirnya tak bisa ditahan lagi.

Membelalakkan mata, Jeyoung terkesiap. Untuk pertama kalinya selama mereka menikah Kyuhyun membentaknya dengan nada sekeras ini. Dia telah salah menangkap maksud Jeyoung. Hati Jeyoung sakit sekali mengetahui Kyuhyun menuduhnya berselingkuh. Ia tidak pernah menggoda siapapun, dan ia bahkan tidak berniat menerima ajakan pria tadi berdansa. Mata Jeyoung terasa pedih. Dadanya sesak oleh amarah yang meningkat secara drastis.
Baik, jika Kyuhyun menginginkan penjelasan jujur mengapa ia berdandan total untuk acara ini Jeyoung akan mengatakannya sekarang juga.
“Kau membicarakan banyak hal dengan Sungmi.”

Kening Kyuhyun mengerut, tampak terkejut sekaligus bingung dengan perubahan topik yang tiba-tiba, “Tentu saja, kami rekan bisnis.”
“Tapi mengapa aku merasa kau dan Sungmi lebih dari sekedar rekan bisnis. Apa kalian menjalin hubungan khusus di luar itu?” sinis Jeyoung.
“Kau menuduhku menyeleweng dengannya?” Kyuhyun terengah kesal.
“Aku tidak menuduhmu. Hanya saja, aku menyimpulkan demikian setelah beberapa kali melihat kalian bersama di waktu yang sangat aneh. Aku bahkan menemukan kalian bersama di toko perhiasan. Aku tidak tahu kau mengadakan pertemuan dengannya di tempat seperti itu.”

Wajah Kyuhyun pucat pasi. Entah karena terkejut Jeyoung mengetahuinya atau marah. “Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Aku hanya mengantar Sungmi.”
“Oh, kau bahkan mengantarnya membeli perhiasan? Atau kau memang ingin membelikannya perhiasan?”
“Shin Jeyoung, kami tidak memiliki hubungan apapun!”
“Tidak memiliki hubungan atau belum mau mengakuinya?!”
“Aku tidak tahu apa yang membuatmu demikian, aku dan Sungmi tidak terlibat hubungan asmara.”
“Bagaimana aku bisa percaya?” Jeyoung terengah, “Sungmi berkata padaku bahwa kalian telah berbagi banyak hal bersama. Kau seringkali bercerita padanya tentang betapa aku tidak memahamimu. Dia berkata aku egois, keras kepala, kekanakan dan aku sangat bodoh karena tidak bisa melihat betapa tulusnya cintamu. Dia berkata seolah-olah seharusnya aku enyah saja dari hidupmu agar kalian berdua bisa resmi menjalin hubungan.” Suara Jeyoung serak karena airmata yang mendesak keluar, tetapi ia menahannya sekuat tenaga.

“Jadi kau mempercayai kata-katanya? Lalu bagaimana dengan pengakuanku bahwa aku mencintaimu, setiap harinya aku mengulangi kata-kata itu padamu.” tuntut Kyuhyun, tak lagi ada kelembutan dari suaranya. Hanya ketidaksabaran dan kemarahan. Jelas sekali Kyuhyun tidak terima dituduh berselingkuh.
“Akhir-akhir ini kau menunjukkan gelagat demikian, sepertinya kau tidak ingin bersamaku lagi. Hari ini pun kau lebih banyak tersenyum padanya daripada kepadaku. Kau lebih senang bersamanya daripada denganku dan kau bahkan tidak memikirkanku ketika kau bersamanya.” Jeyoung ingin berteriak, ia tidak tahu harus berkata apa lagi.

Kyuhyun mengerang lalu mengacak rambutnya dengan frustasi, “Sudah kubilang kami tidak memiliki hubungan apapun! Kata-kata siapa yang ingin kau percaya, aku atau Sungmi, itu terserah padamu!” bentaknya kesal. “Aku sudah lelah mencoba untuk meyakinkanmu, Jeyoung. Kau selalu meragukanku. Segala yang kulakukan untuk membuatmu bahagia selalu kau artikan sebaliknya. Aku memberimu dunia, kau berpikir aku terlalu berlebihan. Kau membuatku selalu merasa bersalah dan ragu apakah kau mencintaiku atau tidak.”

Jeyoung terguncang. Kata-kata Kyuhyun begitu menyakiti hatinya. “Kau meragukanku?”
“Kau membuatku lelah dengan sikapmu. Mungkin Sungmi benar, kau memang keras kepala dan egois!” Kyuhyun melampiaskan seluruh emosinya. Jeyoung hanya menatapnya dengan mata terbelalak dan bibir yang kelu. Ia terlalu sakit hati untuk menjawab. Airmata semakin mendesak pelupuk matanya.
“Kalau begitu kupikir tidak ada gunanya lagi aku di sini.” Bisik Jeyoung lemah.
“Yeah, pergilah. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri.”
Hati Jeyoung patah. Ia telah diusir. Kyuhyun menginginkannya enyah dari hadapannya, mungkin besok ia akan diminta menghilang dari hidup Kyuhyun selamanya.
“Baik, aku akan membiarkanmu merasionalkan akal sehatmu.” Jeyoung pergi dari hadapan Kyuhyun sambil membekam mulutnya sendiri dengan punggung tangan. Ia tidak bisa membiarkan Kyuhyun mendengar isak tangisnya.

Jeyoung tidak berlari kembali ke dalam ruang pesta, melainkan langsung melesat menuju area parkir. Tangisan dan langkahnya yang cepat membuat dadanya sesak. Jeyoung menepuk-nepuk dadanya dengan panik ketika ia hampir mendekati mobilnya. Mengapa asmanya kambuh di saat seperti ini? Ia membutuhkan Inhaler(obat hirup)nya. Dokter menyarankan Jeyoung agar mengendalikan emosinya. Rasa takut, depresi, sedih, ataupun marah, ataupun kaget yang melonjak tinggi secara tiba-tiba bisa memicu penyakitnya kambuh kembali. Karena itu Jeyoung selalu berusaha tenang.

“Ke mana Inhalerku?” Jeyoung yakin ia memasukannya sebelum berangkat, tetapi benda itu tidak ada di dalam clucthnya. Ia kesulitan bernapas, paru-parunya seperti disumbat sesuatu. Ia mencoba mencari kunci mobilnya atau kembali saja ke dalam untuk meminta bantuan, tetapi ia kesulitan bergerak. Jeyoung mencengkeram bajunya di bagian dada, tasnya terlepas dari tangan dan ia berusaha menggapai sesuatu ketika kakinya lemas. Jeyoung terpuruk di sisi mobilnya. Mulutnya megap-megap mencoba meraup udara tetapi percuma, ia tercekik.
Siapapun tolong aku. Seluruh udara seperti direnggut paksa dari tubuhnya dan perlahan-lahan penglihatan dan kesadaran Jeyoung memudar.

—o0o—

Keheningan total telah mendinginkan perasaan Kyuhyun. Pasca Jeyoung meninggalkannya, ia masih merasakan kemarahan sampai ingin menyakiti Jeyoung agar ia puas. Kyuhyun kesal karena Jeyoung menuduhnya berselingkuh dengan Sungmi. Sungguh, sedetikpun ia tak pernah berpikir untuk meninggalkan Jeyoung. Malah, setelah Jinwoo lahir rasa cintanya pada Jeyoung semakin mendalam. Ia rela melakukan apapun untuk Jeyoung dan putra mereka. Inikah balasan atas semua usahanya itu? Jeyoung menuduhnya mengencani Sungmi diam-diam?

Namun apakah ia juga berhak memarahi Jeyoung atas hal itu? Akhir-akhir ini ia memang terlalu akrab dengan Sungmi. Hubungan bisnis memaksa Kyuhyun memperlakukan Sungmi dengan baik, tidak lebih dari itu. Ia bahkan setuju saja menemani Sungmi ke toko perhiasan demi kesopanan. Sungmi memperlakukannya dengan sopan dan baik, karena itu Kyuhyun merasa tidak enak hati jika tidak membuka diri ketika gadis itu bertanya tentang pernikahannya.

Kyuhyun tidak bermaksud mengatakan Jeyoung egois, kekanakan dan keras kepala. Ia hanya heran dengan perubahan sikap Jeyoung. Ia merasa bersalah karena tidak memberikan perhatian penuh pada istrinya. Dan malam ini adalah puncak dari bencana itu.
Detik pertama ketika Kyuhyun melihat sosok Jeyoung, ia terpesona. Jeyoung tampak sangat cantik dan memikat. Kyuhyun nyaris berderap menghampiri istrinya lalu menciumnya penuh gairah. Jeyoung dengan gaun merah seksi yang pas di badannya itu adalah paduan yang mematikan. Kyuhyun ingin sekali mengurung Jeyoung dalam pelukannya dan berkata dengan sepenuh hati bahwa dia tampak cantik. Tetapi kemudian kekaguman itu berubah menjadi kesedihan dan rasa bersalah begitu Kyuhyun menyadari bahwa berat badan Jeyoung hilang begitu banyak.

Perut Jeyoung menjadi lebih ramping, lengan dan pinggulnya yang berisi tidak lagi tampak. Pipinya lebih tirus dan tulang selangkanya terlihat jelas. Kyuhyun tidak menyalahkan Jeyoung atas penurunan berat badan itu karena dengan begitu dia mendapatkan kembali tubuhnya yang semula, tubuh remaja yang ranum dan menggoda. Jeyoung kembali seksi dan memikat seperti sedia kala, dan Kyuhyun sedih melihatnya. Pertanyaan besar muncul dengan cepat di otak Kyuhyun; Apa yang membuatnya menjadi sekurus itu? Kyuhyun menduga Jeyoung diet, tetapi mengapa Jeyoung memutuskan diet? Atau mungkinkah Jeyoung begitu karena tidak bahagia?

Kyuhyun begitu ingin menyakiti diri sendiri ketika memikirkannya.
Lalu sekarang mereka bertengkar. Ini adalah kali pertama mereka bertengkar hebat. Kyuhyun kira ia puas telah melampiaskan seluruh keluh-kesahnya pada Jeyoung. Tetapi tidak, Kyuhyun tak pernah merasa sesedih ini. Ia sudah menyakiti Jeyoung dan butuh waktu puluhan tahun untuk menyembuhkan lukanya.
Kyuhyun memutuskan kembali ke dalam. Ia akan bicara dengan Jeyoung sekali lagi, namun kali ini ia akan berusaha meminta maaf dan meminta pengertian. Mereka harus membahas hal ini secara mendalam bersama-sama. Mengoreksi apa yang salah dan memperbaikinya.
“Jeyoung tidak ada di sini. Bukankah kalian bersama?” Sungmi heran melihat Kyuhyun kembali seorang diri.

Terkejut, Kyuhyun mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan liar. Sungmi benar, Jeyoung tak ada di mana pun. Seperti alarm, kata-kata Jeyoung langsung berdengung di telinganya.

Kalau begitu kupikir tidak ada gunanya lagi aku di sini.
Yeah, pergilah. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri.

“Oh sialan!” Kyuhyun mengumpat penuh penyesalan. Ia sudah mengusir Jeyoung pergi! Ia panik mengetahui Jeyoung tidak lagi ada di pestanya. “Tidak, Jeyoung. Tidak!” firasatnya tidak enak. Ia tidak bisa membiarkan Jeyoung mengemudi dalam kondisi kacau secara mental. Sesuatu bisa saja terjadi.

Demi Tuhan, apa yang otaknya pikirkan? Bagaimana bisa ia secara tidak sadar mengusir Jeyoung pergi? Kyuhyun mengira Jeyoung akan kembali ke ruang pesta, bukannya pergi begitu saja tanpa berpamitan.
Kyuhyun berlari seperti dikejar polisi menuju tempat parkir. Ia mendesah lega ketika melihat mobil Jeyoung masih ada di sana, mungkin Jeyoung belum pulang. Namun Kyuhyun nyaris terkena serangan jantung ketika melihat Jeyoung terkapar di tanah di samping mobil.

“Jeyoung!” ia menghampiri istrinya yang tak sadarkan diri. Ia memeriksa nadinya yang lemah. Apa yang terjadi? Kyuhyun menemukan tas tangan Jeyoung jatuh di tanah dengan sebagian isinya berhamburan keluar. Jeyoung mencari sesuatu dengan panik.
Seketika itu juga Kyuhyun langsung menyimpulkan Jeyoung sedang berusaha mencari obat hirupnya. Nasib buruk, benda itu tidak ditemukan di tasnya.

Ya Tuhan, Jeyoung pingsan karena penyakit asmanya kambuh!
Dan Kyuhyunlah penyebabnya!

“Jeyoung, bertahanlah kumohon.” Kyuhyun menghubungi rumah sakit dengan tangan gemetar. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk pertolongan pertama. Ia tak pernah menangani ini sebelumnya dan Kyuhyun menyesal mengapa ia tidak mencari tahu, sementara ia memiliki istri yang menderita penyakit asma.
Bagaimana jika Jeyoung tidak tertolong? Bagaimana jika Jeyoung mati? Kyuhyun akan menghabiskan sisa hidupnya dalam penyesalan dan rasa bersalah.
Seharusnya ia tidak memarahi Jeyoung. Seharusnya ia bisa mengontrol emosinya. Seharusnya mereka tidak bertengkar.
Kyuhyun begitu ketakutan sampai nyaris menangis meraung-raung. Ia takut tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka.

Demi kesempatan itu, Jeyoung tidak boleh mati.

—o0o—

Jeyoung berdiri di dermaga St Jean de Luz di tengah sinar matahari pagi yang hangat. Ia tersenyum menyadari dirinya berada di Prancis. Tetapi tempat itu sepi, dermaga tempat tertambatnya belasan perahu dan yacth tak tampak satu orang pun, bahkan kafe-kafe, penginapan, dan pantai pasir putihnya kosong tak berpenghuni.

Ke mana orang-orang? Detik berikutnya Jeyoung sadar ia sedang bermimpi. Menoleh ke samping, Jeyoung melihat dinding bangunan dua lantai. Aneh, karena ia bukannya melihat cat putih bernoda melainkan sebuah layar yang tengah memutar film, seperti layar bioskop. Meskipun sinar matahari begitu terang Jeyoung bisa melihat film itu dengan jelas.

Bukan sekedar film biasa yang sedang diputar, Jeyoung mengerjap menyadari gambaran hidup yang sedang dilihatnya adalah potongan kejadian yang sudah ia alami. Momen demi momen terulang silih berganti. Semuanya adalah kenangan indah. Ketika pertama kali ia bertemu Kyuhyun, mendapatkan gangguan darinya, kemudian jatuh cinta. Kyuhyun yang menawan berhasil mengubah perasaan tidak sukanya menjadi cinta. Gambar itu kemudian berganti pada saat Kyuhyun melamarnya, mereka menikah dan saat-saat paling indah dalam hidupnya terputar kembali.
Mengandung Jinwoo adalah momentum paling berharga seumur hidupnya, saat itu ia merasa menjadi wanita yang sempurna. Ia bahagia, dan sangat mencintai Kyuhyun yang telah memberinya kesempatan menjadi ibu. Lalu kebahagiaan itu memucak ketika ia melahirkan anaknya secara normal. Menyakitkan, tetapi luar biasa menggembirakan setelahnya. Saat pertama kali mendengar suara tangis bayinya, ia dan Kyuhyun menangis. Mereka sadar detik itu mereka telah menjadi orangtua. Karena terlalu gembira Kyuhyun sampai mengumumkan dia telah memiliki anak pada seluruh penghuni rumah sakit.

Jeyoung menangis melihat kenangan dirinya dan Kyuhyun menggendong Jinwoo untuk pertama kali. Mereka membesarkan Jinwoo bersama-sama, berbagi rasa lelah, sedih, susah, dan senang. Hati Jeyoung sungguh tersentuh. Memori itu mengingatkan dirinya kembali pada kenyataan bahwa Kyuhyun sangat mencintainya. Pria itu baik hati, bertanggung jawab serta tulus. Kyuhyun melakukan segala hal untuknya, selalu mengutamakan kebahagiaannya dan kenyamanannya. Jeyoung terpukul, ia teringat bahwa ia bertengkar dengan Kyuhyun dan menuduhnya berselingkuh. Dengan semua kebaikan itu, bagaimana bisa ia berpikir negatif tentang suaminya?

Seperti mendapat respon, detik itu kenangan tentang pertengkaran mereka terulang kembali. Di sana Jeyoung baru menyadari ekspresi kecewa Kyuhyun. Ia tidak melihat ada luka besar tertoreh dalam sorot matanya. Jeyoung telah menyakitinya dengan kata-kata.
Sungmi benar, ia egois, kekanakan dan keras kepala. Begitu banyak cinta di matanya namun Jeyoung tidak melihatnya sama sekali? Mungkin saja ia memang salah mengartikan hubungan Sungmi dan suaminya. Mungkin saja Kyuhyun benar, mereka tidak berselingkuh.
Kata-kata siapa yang ingin kau percaya, aku atau Sungmi, itu terserah padamu
Jeyoung menangis. Ia sungguh bodoh. Bagaimana bisa ia tidak yakin pada Kyuhyun? Jeyoung ingin sekali meminta maaf. Ia harus berkata bahwa ia menyesal karena selama ini telah salah menilai. Ia dangkal dan selalu menyimpulkan apa yang dilihatnya mentah-mentah.

Apakah ia memiliki kesempatan untuk itu? Ia harap Tuhan memberikannya.

—o0o—

Kyuhyun, Ayahnya dan Ibu Jeyoung berkumpul di sekitar ranjang tempat Jeyoung berbaring. Mereka cemas karena sehari telah berlalu namun Jeyoung masih tenang dalam tidurnya. Malam itu Jeyoung dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan kritis, beruntung dia ditemukan segera setelah pingsan sehinga dokter masih bisa menyelamatkan nyawanya. Terlambat beberapa menit saja, nyawa Jeyoung bisa melayang.

Setelah Jeyoung dipindahkan ke ruang rawat biasa, Kyuhyun tak pernah meninggalkan sisi Jeyoung, terus menggenggam tangannya dengan harapan Jeyoung siuman. Ia melirik ke arah putranya yang sedang tidur dalam pangkuan Ibu mertuanya. Seperti mendapat firasat buruk, Jinwoo terus menangis selama Jeyoung di ruang operasi dan terus menangis sampai akhirnya tertidur karena lelah. Kyuhyun iba melihatnya. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Hanya Jeyoung yang tahu bagaimana cara menenangkan Jinwoo. Seperti dirinya, mungkin Jinwoo pun merasakan maut sedang mengintai wanita tercinta mereka.

Kyuhyun memandang Jeyoung. Dalam balutan pakaian rumah sakit, Jeyoung terlihat sangat kurus. Ia membelai wajahnya yang pucat. Lagi-lagi Kyuhyun merasakan desakan kuat untuk menyakiti diri sendiri. Tidak seharusnya Jeyoung mengalami ini. Jeyoung tampak sangat rapuh hingga Kyuhyun takut sentuhannya bisa meremukkan kulitnya.
“Bangunlah sayang, aku sangat merindukanmu. Suaramu, sentuhanmu, semuanya.” Kyuhyun menundukkan kepala. Ia sudah berjaga sepanjang hari. Tubuhnya mulai memprotes dan kelelahan. Kyuhyun tidak sadar kapan ia terlelap dengan kepala bersandar pada tangan Jeyoung.

Kyuhyun terbangun karena usapan lembut di keningnya. Ia mengerjapkan mata lalu mendongak. Hal pertama yang Kyuhyun lihat adalah senyum Jeyoung, kemudian mata indahnya yang bersinar. Terkejut, Kyuhyun menegakkan tubuh begitu cepat sampai orang mengira mungkin dia baru saja menduduki paku.
“Jeyoung, kau sadar.”
“Kau sepertinya tidak senang.” bisik Jeyoung dengan bibir tersenyum. Ia geli melihat ekspresi Kyuhyun sehingga tanpa sadar malah menggodanya.
“Bodoh!” Kyuhyun membentak. Jeyoung terkejut melihat Kyuhyun tersinggung. “Mengapa kau tidak membawa Inhalermu? Mengapa kau tidak berbalik dan berteriak meminta tolong saja? Ya Tuhan, kau sendirian di parkiran itu. Jika aku tidak datang untuk mencarimu, mungkin kau sudah..” aliran kata-kata Kyuhyun terhenti. Pria itu membungkuk untuk memeluk Jeyoung. Terisak di bahunya. “Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku tidak rela jika kau pergi meninggalkanku begitu saja terutama setelah aku menyakitimu.”

Jeyoung tersenyum di rambut Kyuhyun, “aku baru siuman dan kau sudah meneriakiku seperti ini?” candanya.
“Aku minta maaf atas semua kata-kataku. Aku tidak bermaksud memarahimu, sungguh. Malam itu aku sudah membuatmu kecewa. Seharusnya aku memujimu, bagaimana pun kau berusaha keras untuk menyenangkanku, tetapi aku justru menuduhmu bermain mata dengan pria lain.”

Kedua tangan lemah Jeyoung memeluk kepala Kyuhyun lalu mengusapnya dengan lembut, “kau tidak seharusnya meminta maaf. Aku yang bersalah padamu. Seharusnya aku tidak menuduhmu berselingkuh dengan Sungmi. Kau bertanggung jawab, dan kau mencintai kami dengan tulus. Sifat egois, keras kepala dan kekanakanku telah menutupi pandanganku dari semua fakta itu.”
“Oh Jeyoung,” Kyuhyun mengangkat kepalanya. Ketika mereka bertatapan, Jeyoung melihat penyesalan yang sangat besar di sana. “Kau tidak tahu betapa aku ketakutan melihatmu terbaring tak sadarkan diri malam itu, aku takut tidak bisa mendengar suaramu lagi. Aku takut kau pergi selamanya.”

Jeyoung mengusap airmata di pipi Kyuhyun dengan jarinya. “Kau berpikir terlalu berlebihan, seperti biasanya. Aku tidak meninggalkanmu, bukan?”
“Yah, aku sangat gembira melihatmu sadar. Jangan tinggalkan aku tanpa seizinku, kumohon.” Kyuhyun untuk pertama kalinya mengiba. Ia duduk di kursi kembali. Ia membelai pipi Jeyoung sambil tersenyum.
“Kita berbaikan?”
Kepala Jeyoung mengangguk. “Berapa lama aku di sini?”
Barulah begitu Jeyoung menanyakan hal itu Kyuhyun mengedarkan pandangan ke sekeliling. Hari sudah sore. Ibu mertua serta Ayahnya tidak ada di kamar.
“Satu hari.” ekspresi Kyuhyun melunak, ia menatap Jeyoung sungguh-sungguh, “dokter mengatakan kau kekurangan vitamin dan cairan. Katakan padaku apa yang terjadi? Aku memang memerhatikan kau jarang sekali makan, tetapi aku tidak tahu kau bahkan tidak memakan makanan bergizi yang sudah diresepkan untukmu?”

Ekspresi Jeyoung berubah khawatir, “aku berdiet dan olahraga dengan keras.”
“Aku tahu, tapi kenapa?”
“Aku ingin mengembalikan bentuk badanku seperti semula.”
“Itukah sebabnya kau sekurus ini?” Kyuhyun mencelos, “kenapa? Kau tidak pernah mengeluh sejak berat badanmu naik karena mengandung dan kau tahu aku tidak keberatan dengan itu.”
Kepedihan tampak dalam ekspresi Jeyoung. “Aku ketakutan.”
“Takut?”
“Aku takut kau berpaling pada wanita lain karena aku sudah tidak cantik dan langsing lagi.”
Kyuhyun memejamkan mata. Rupanya penyebab Jeyoung kehilangan bobot tubuh memang karena dirinya.
“Sejak melihatmu bersama Sungmi untuk pertama kali, aku dihantui bayangan kau bersama gadis itu pergi meninggalkanku dan Jinwoo. Setiap malam aku diteror oleh mimpi kau mendepakku begitu aku bertambah gemuk dan tidak memerhatikanmu karena sibuk mengurus Jinwoo. Aku selalu bangun di tengah malam dalam kondisi frustasi. Aku selalu memastikan kau masih berada di sampingku, tidak menyelinap keluar malam-malam untuk menemui gadis itu.” airmata menggenang di pelupuk mata Jeyoung.

“Namun ketakutanku semakin nyata ketika melihatmu bersama Sungmi di ruang kerjamu. Kau bersikap biasa saja dan tidak mencoba menjelaskan padaku apa yang kau lakukan dengannya sehingga aku menarik kesimpulan kau menyembunyikan sesuatu dariku. Kemudian hari itu aku kembali memergokimu bersama Sungmi di toko perhiasan. Aku sangat takut hari itu, aku membayangkan kau membeli cincin pernikahan di sana. Aku mencoba percaya bahwa kau tidak mungkin meninggalkanku dan Jinwoo, tetapi kemudian sikapmu secara perlahan berubah. Kau tidak lagi senang berada di rumah, kau kerap kali melakukan panggilan rahasia bersama seseorang di ruang kerjamu dan kita bahkan jarang sekali bermesraan.”

Kyuhyun sangat terpukul. Ia sakit mendengar cerita itu, sekaligus merasa bersalah.
“Aku bertanya-tanya apa yang salah denganku sampai kau tertarik pada gadis itu. Aku berpikir mungkin aku tidak cantik lagi, badanku memang tidak sebagus Sungmi. Berdasarkan pemikiran itulah, aku berusaha membentuk diriku kembali. Aku tidak ingin kehilanganmu, aku sangat mencintaimu. Membayangkan kau akan mencampakkanku saja membuatku ingin mati.”

Di sisi lain, Kyuhyun terharu mendengar pengakuan Jeyoung. Ternyata tindakannya meragukan cinta Jeyoung salah besar. Jeyoung sangat mencintainya dan detik ini Kyuhyun sadar bahwa cinta tidak berarti harus diungkapkan. “Untuk ke sekian kalinya, aku minta maaf.” Kyuhyun mencondongkan tubuhnya untuk mengecup bibir Jeyoung. “Aku lelaki lamban dan tidak peka. Dengan tindakanku dan asumsiku yang salah aku membawamu ke situasi sekacau ini.”
“Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Aku juga minta maaf karena menuduhmu menyeleweng.” Bisik Jeyoung.
Dan Kyuhyun menciumnya sebagai bukti bahwa ia sudah memaafkan Jeyoung. Kali ini Jeyoung menikmatinya, meresapi setiap sentuhan dan belaian Kyuhyun dengan hati bahagia.
“Aku merindukanmu.” Bisik Kyuhyun. lega bisa mengatakannya secara langsung, “aku juga mencintaimu.”
Jeyoung tersenyum. “Aku juga.”

Momen mesra mereka terinterupsi oleh suara anak kecil. Kyuhyun menegakkan tubuhnya lalu berbalik. Ibu mertuanya datang bersama Jinwoo yang sudah dimandikan dan diganti bajunya.
“Kau sudah siuman!”
“Eomma,” Jeyoung tersenyum pada ibunya yang langsung menghampirinya. Kyuhyun mengambil alih Jinwoo sehingga wanita itu bisa memeluk putrinya degan leluasa.
“Syukurlah kau baik-baik saja. Seharian menunggumu sadar sungguh menyiksa. Mengapa kau tidak membawa obat hirupmu? Sudah kukatakan berkali-kali bawa benda itu untuk keadaan darurat.”
Jeyoung cemberut, “apa semua orang akan menceramahiku mengenai ini?”

Ibunya tidak berkata apa-apa. Sebaliknya, Jinwoo begitu rewel menyadari ibunya sudah bangun. Tangannya yang mungil menggapai-gapai ke arah Jeyoung sambil berceloteh seolah sedang memanggil-manggil ibunya.
“Ah, ini dia satu lagi orang yang merindukanmu.” Kyuhyun menyerahkan Jinwoo pada Jeyoung.
“Oh sayang,” Jeyoung begitu gembira ketika Jinwoo berada dalam dekapannya. “Merindukan ibumu, hmm” Jeyoung mencium pipinya yang gemuk. Ia memeluk putranya. Jinwoo tertawa gembira. Kedua tangan kecilnya memeluk leher Jeyoung dan kepalanya beristirahat di lekukan antara bahu dan leher Jeyoung yang amat ia rindukan. Matanya langsung menutup, Jinwoo mengantuk. Jeyoung langsung menepuk-nepuk punggungnya dan tak lama kemudian bayinya tertidur.

“Yeah, aku tidak akan menyangkal tempat itu adalah tempat paling nyaman untuk tidur.” gumam Kyuhyun.
“Ssttt.” Jeyoung menyuruh Kyuhyun diam. Kyuhyun mengangkat bahu.
“Kami berdua memiliki tempat favorit yang sama.” Ia lalu duduk di samping istrinya. Mereka berdua mengamati putra mereka yang tengah tertidur, untuk sesaat mereka merasa seperti kembali pada momen ketika Jinwoo lahir.
“Kau tahu, selama kau tertidur Jinwoo tidak bisa berhenti menangis.” ujar ibunya. Jeyoung mengalihkan pandangan dari Jinwoo pada ibunya.
“Benar, sepertinya Jinwoo pun merasa takut kau akan meninggalkannya, sama sepertiku.”
Jeyoung menatap Jinwoo penuh sayang, lalu beralih pada Kyuhyun dengan ekspresi yang sama. “Sulit meninggalkan dua pria paling menawan di dunia.”

Kyuhyun tertawa, dan Jeyoung yakin Kyuhyun saat ini sedang tersipu. Kyuhyun mengecup puncak kepala istrinya, “aku akan membiarkanmu beristirahat juga.”
“Kau akan ke mana?” Jeyoung kaget.
“Pergi menemui dokter.” Kyuhyun lalu pergi meninggalkan ruangan. Jeyoung membaringkan Jinwoo pelan-pelan di sampingnya. Ia pun ikut berbaring lalu terlelap.

—o0o—

“Tunggu, kita akan ke mana?”

Jeyoung heran ketika Kyuhyun mengajaknya ke luar kamar rawat. Kyuhyun hanya tersenyum sambil mendorong kursi rodanya. Hari sudah malam dan Kyuhyun mendadak saja membawanya berjalan-jalan di sekitar taman rumah sakit. Tidak ada orang di sepanjang lorong yang mereka lewati.
“Nah, kita sampai.” Kyuhyun berhenti. “Lihatlah, sayang.”
Kyuhyun menyuruh Jeyoung menatap ke depan. Menurutinya, Jeyoung tak bisa bernapas. Bukan karena asmanya kambuh, tetapi karena di depannya ia melihat pemandangan yang indah. Di tengah taman terdapat sebuah paviliun kecil, sengaja di bangun untuk tempat berisirahat para pasien yang berjalan-jalan di taman itu dan entah bagaimana bangunan kecil itu kini telah disulap menjadi tempat untuk kencan romantis.

Sekeliling paviliun itu dihiasi dengan berbagai macam bunga dan lampu warna-warni, tampak semarak namun romantis. Sebuah meja bundar dengan dua kursi berhadapan di tata di tengah paviliun yang kosong. Di atas meja dengan taplak putih ditata lilin-lilin, setangkai mawar dalam vas bening, dan peralatan makan dari perak. Sebuah kue dengan satu lilin yang belum dinyalakan diletakkan di tengah meja.
Jeyoung mendongak ke belakang, menatap Kyuhyun dengan takjub. “Untuk apa semua ini?”
Senyum menawan Kyuhyun terbit, “Kau lupa tanggal berapa sekarang?”
“Um..” Jeyoung mengingat-ingat dan ketika ia tahu jawabannya, matanya melebar. Kyuhyun terkekeh puas.

“Ya benar, sayang. Sekarang hari ulang tahunmu. Setidaknya sampai..” Kyuhyun melirik arlojinya, “dua jam kemudian. Setelah tengah malam nanti, bukan hari ulang tahunmu lagi. Tapi sekarang kita masih memiliki waktu untuk merayakan ulang tahunmu.”
Karena terlalu bahagia Jeyoung tak bisa berkata-kata. Kyuhyun berputar lalu berlutut di depannya, “Aku pasti membuatmu begitu stress sampai kau melupakan ulang tahunmu sendiri.” Kyuhyun menyesal.
Jeyoung mendengus, “Berhenti menyalahkan dirimu. Jika kau melakukannya lagi, aku akan marah.”

Kyuhyun membantu Jeyoung berpindah kursi. Mereka kini duduk berhadapan.
“Kau menyiapkan pesta ulang tahun untukku dalam waktu singkat? Aku sangat terharu.” Aku Jeyoung. Ia memuaskan matanya sendiri melirik ke sekeliling paviliun yang terang, hangat, sekaligus harum lalu kembali menatap Kyuhyun. “Kau membuatku merasa sangat disayangi. Terima kasih.”
Kyuhyun tersenyum ragu, “sebenarnya di pesta kemarin aku bermaksud memberimu kejutan ulang tahun, tepat ketika tengah malam. Tapi aku mengacaukannya dan membuatmu masuk rumah sakit.”
Jeyoung mengerjapkan mata. “Apakah pesta kejutan ini yang membuatmu bertingkah tidak biasanya?”
Ekspresi Kyuhyun memelas. Ia mengulurkan tangan melintasi meja untuk menggenggam tangan Jeyoung. “Aku sungguh menyesal karena membuatmu salah paham. Aku dan Sungmi tidak memiliki hubungan apapun. Aku memang bercerita padanya, tetapi semua itu murni tentangmu dan niatku untuk mengadakan pesta kejutan untukmu. Aku meminta saran darinya tentang hadiah apa yang harus kuberikan padamu.”
“Jadi di toko perhiasan itu kau sedang membeli..”
“Tentu saja aku membeli hadiah untukmu.” Tegas Kyuhyun,

“Sebenarnya aku benci harus menyembunyikan ini darimu. Terutama setelah melihatmu memergokiku sedang bersama Sungmi. Aku sangat takut kau marah dan menuntutku menjelaskan segalanya karena aku pasti akan mengaku, aku tidak pernah bisa berbohong padamu. Tetapi aku jauh lebih sakit ketika mengetahui kau tidak curiga atau cemburu sama sekali. Sikapmu pun mulai berubah padaku secara perlahan. Aku berpikir mungkin kau sudah mulai melupakanku karena itu tidak masalah jika aku berselingkuh sekalipun.” Kyuhyun tampak sangat tersiksa. Jeyoung tidak tega melihatnya. Ia menumpangkan tangannya yang lain di atas tangan Kyuhyun lalu mengusapnya.
“Aku benar-benar ingin menunjukkan padamu bahwa aku sangat mencintaimu dengan memberimu pesta kejutan itu. Karena itu meskipun kau mulai berubah, aku mencoba bertahan. Tetapi ternyata keputusanku salah. Aku tahu itu ketika melihatmu di pesta, memakai gaun yang menunjukkan bentuk tubuhmu dengan jelas. Kau berubah secara fisik dan aku bertanya-tanya apakah itu karena sikapku akhir-akhir ini. aku sangat marah pada diriku sendiri dan aku marah ketika kau justru bersenang-senang, tidak menyadari betapa aku merasa bersalah melihatmu kehilangan berat badan.”

“Ternyata aku memang salah memilih gaun,” renung Jeyoung. “seharusnya aku tidak memakainya. Seperti yang sudah kubilang, aku hanya ingin menyenangkanmu, bukan mencoba menggoda pria lain atau membuat mereka berpikiran tidak pantas.”

“Oh Jeyoung,” Kyuhyun mengerang, “Kau sangat cantik sekaligus menggoda malam itu. Gaun terkutuk yang kau pakai membuat napasku tersendat dan darahku mengalir dari kepala hingga kaki bagai roller coaster. Apa aku pernah bilang bahwa warna merah membuatmu terlihat sangat seksi dan mempesona? Baju itu menonjolkan lekuk tubuhmu secara sempurna dan model atasan berpotongan rendah itu—Ya Tuhan!—aku sampai harus mencubit diriku sendiri karena berpikir ingin mengeluarkan sesuatu yang disembunyikan di sana. Kau tidak gagal memikatku, sungguh. Aku senang sekaligus jengkel karena keindahan itu tidak hanya kunikmati seorang diri. Puluhan pasang mata pun terpukau olehmu, menginginkanmu sama besarnya sepertiku. Mengapa kau melakukannya? Mengapa kau tidak memakai baju seperti itu saat bersamaku? Aku begitu kesal sampai ingin mengusir semua orang dan membiarkan kita berdua saja. Aku ingin memilikimu sendirian, aku tidak mau membagimu dengan orang lain.”

Kedua pipi Jeyoung memerah. Hatinya hangat dan ia merasa sangat malu karena sudah salah paham pada Kyuhyun.
“Kesalah pahaman membuat kita berbuat bodoh.” Jeyoung menatap Kyuhyun intens. “Lain kali, kau tak perlu membuat kejutan untuk membahagiakanku. Cukup menjadi dirimu yang biasa, aku mencintaimu apa adanya.”
“Aku tahu. Aku tidak akan meragukan itu lagi.” Kyuhyun menyalakan lilin di tengah kue. “Sekarang ayo kita rayakan ulang tahunmu.”

Jeyoung berdoa sebelum meniup lilin. Ia harap pernikahannya dan Kyuhyun bertahan hingga ajal menjemput mereka. Ia ingin cinta mereka tetap bertahan selamanya, berkobar dan tak akan pernah redup apalagi mati. Jeyoung memotong kuenya lalu mereka menikmati kue itu dengan saling menatap. Kyuhyun tersenyum dan Jeyoung ikut tersenyum.
Tiba-tiba Kyuhyun bangkit. “Ayo.” Tangannya terulur.
“Apa?”
“Kau berhutang dansa denganku.”
“Oh, my.” Jeyoung mengerjap. Kyuhyun mendekat, meletakkan sebelah tangan di pinggang Jeyoung dan satunya lagi menggenggam tangannya lalu menarik Jeyoung berdiri dengan lembut. Dengan perlahan Kyuhyun membimbingnya ke tempat kosong di taman. Jeyoung tertawa geli karena mereka akan menari di atas rumput.

“Tidak ada musik yang mengiringi kita.”
“Bagaimana jika aku menyalakan musik?” Kyuhyun menarik ponsel dari sakunya dan mereka berbagi headset. Setelah itu Kyuhyun mendekap Jeyoung dalam posisi siap untuk berdansa.
Jeyoung berdebar kencang begitu musik lembut mengalun melalui headset, masuk ke telinganya lalu turun ke hatinya. Mungkin bukan karena musik, tetapi karena tatapan intens Kyuhyun.
Mereka mulai bergerak perlahan. Anehnya, Jeyoung yang tidak bisa berdansa tiba-tiba saja bisa melakukannya.

“Aku penasaran.” Bisik Kyuhyun.
“Apa?” Jeyoung masih terpaku pada mata suaminya. Memandanginya selamanya pun ia tidak keberatan.
“Kau berolahraga dengan keras, bukan? Bagaimana bisa penyakitmu tidak kambuh? Aku bahkan tidak menyadarinya sama sekali.”

Jeyoung merona, ingat pada momen ketika ia berolahraga menggunakan alat-alat fitness milik Kyuhyun. “Aku berolahraga mengikuti peraturan yang seharusnya, Tuan Cho. Aku pemanasan, lalu mulai berlari dalam kecepatan rendah, setelah paru-paruku bisa menyesuaikan secara perlahan aku menambah kecepatan. Baru ketika aku merasa sudah sampai batas, aku menurunkan kecepatan dan melakukan pendinginan. Olahraga semacam itu tidak akan membuat asmaku kambuh, justru melatih organ pernapasanku. Perubahan emosi yang drastis, paru-paruku dipaksa bekerja keras secara mendadak atau aku kehilangan pasokan oksigen dalam waktu singkat, semua kondisi itu yang memicu penyakitku kambuh.”

“jadi jika kau berlari kencang karena panik, kau dicekik atau aku membuatmu marah seperti kemarin penyakitmu akan kambuh?”
Jeyoung mengangguk malu, “karena itu aku diam-diam membawa Inhaler untuk keadaan darurat. Ibuku selalu mengingatkanku tentang itu, tetapi terkadang aku melupakannya.”
“Mulai sekarang aku akan menempatkan benda itu di daftar teratas ‘benda yang tidak boleh lupa dibawa istriku ke mana pun dia pergi’.” teguh Kyuhyun dengan ekspresi serius.

Tawa renyah keluar dari mulut istrinya, lalu kemudian ekspresinya berubah, “Aku berharap tidak mewariskan penyakitku pada Jinwoo.” Renung Jeyoung sedih. “Ayahku yang bajingan itu mewariskannya padaku.”
“Ssstt.. Jinwoo kita sangat kuat.” Kyuhyun memeluknya. “Sekarang maukah kau menutup matamu sebentar?”
“Kejutan lagi?” Jeyoung mendongak padanya, matanya berbinar geli.
“Um.” Kyuhyun mengangguk.

Jeyoung menurut. Ia penasaran apa yang ingin Kyuhyun berikan.
“Buka matamu.”
Kedua mata Jeyoung perlahan di buka. Ia mengedarkan pandangan dengan bingung karena tidak melihat perbedaan. Kyuhyun tertawa melihat raut bingungnya.

“Lihat lehermu, sayang.”
Jeyoung menunduk. Ia terkesiap takjub melihat sebuah kalung emas putih melingkar di lehernya. Kalung itu didesain dengan indah. liontin berbentuk hati dengan berian tersebar di permukaannya tergantung cantik.
“Ini indah sekali.” Jeyoung terpikat. Ia memeluk Kyuhyun penuh terima kasih.
“Kalung ini hanya ada satu di dunia, kurancang khusus untukmu. Perhatikan ini.”
Jeyoung terkejut mengetahui liontin hati itu bisa dibuka. “Ada namamu dan namaku di dalam sini. Dan foto kita bertiga.”
“Ya Tuhan, sekarang kalung ini menjadi lebih indah lagi.” kedua mata Jeyoung berkaca-kaca. Liontin itu diukir dengan sangat ahli, di satu sisi terukir nama Jeyoung dan Kyuhyun dengan indah dan sisi yang lain entah bagaimana caranya diselipkan foto mereka bertiga dalam ukuran kecil.
“Bagaimana jika kita memiliki bayi lagi?” tanya Jeyoung sambil mengusap airmata di ekor matanya. Ia menangis bahagia.
“Aku akan membuatkanmu kalung baru, dengan liontin yang lebih besar.” Kyuhyun menjawabnya dengan enteng. Ia menyeringai, “jadi kau berpikir untuk memberi Jinwoo adik?”

“Oh aku tidak tahu,” Jeyoung merona malu. “Mungkin kau mau?”
Kyuhyun tertawa, mendekapnya lalu mengangkat tubuhnya dan dibawanya berputar-putar. “Mengapa tidak?”
Jeyoung ikut tertawa. Ia memeluk leher Kyuhyun untuk berpegangan. Begitu ia diturunkan, ia merasa pusing namun bahagia.

Kyuhyun menciumnya dengan cepat namun bergairah. “Jadi kapan kita mulai?” bisik Kyuhyun mesra. Jeyoung menolak melepas ciuman Kyuhyun, ia kembali meraup bibir Kyuhyun dan memulai sesi panas yang lain.
“Kita bisa mulai dengan pergi berbulan madu ke Prancis.”
“Bagaimana dengan Jinwoo?” Kyuhyun bertanya di sela ciumannya. Ia teramat gembira mendengar Jeyoung setuju dengan idenya pergi berbulan madu.
“Eomma pasti dengan senang hati mengurusnya selama kita pergi.” Jeyoung berpegangan pada leher Kyuhyun, sebelah tangannya meremas rambut Kyuhyun dan ia mengerang ketika Kyuhyun meliukkan lidah di dalam mulutnya.

“Oke, aku sangat tergoda sekarang.” Kyuhyun mengerang. “Kita harus menghentikan ciuman ini atau aku akan mengajakmu bercinta di atas rumput sekarang juga.”
“Aku tidak pernah bercinta di atas rumput.”
“Tidak,” Kyuhyun menggeleng. Matanya terbakar oleh gairah. “Aku akan membawamu kembali ke kamar rawat. Mungkin jika kita beruntung, di sanalah tempatnya.”

Jeyoung tertawa ketika Kyuhyun menggendong tubuhnya dan mereka bergerak melintasi taman, menyambut malam yang indah dan damai.

FIN

337 thoughts on “Hello My Charming Wife [Chapter 4-End]

  1. Aaaaaaaaaaa akhirnyasampai di part endingnya ;(;( ya ampun ff ini konfliknya sebenernya ringan… Tapi gatau kenapa emosiku terkuras di ff ini eonni …. Ff mu memang tidak diragukan lagi… Ok deh ditunggu karyamu selanjutnya eonni.. Keep writing and fighting🙂

  2. Pengen bgt punya suami so sweet , ganteng, dan kaya raya spt kyu oppa .
    Pelajaran penting , jgn pernah memendam apa yg kita rasakan.
    Sukaaaa deh ! Kiss n Big Hug kyu oppa !!! :*

  3. speechlessssss suwerrrr
    lomantis bingits

    kyu yg aku ngk suka kalo d ff” dia kyk ngk bisa menahan emosi dan juga gampang salah paham

    jinwoo~yaaa itu mau dibuatkan adik, jaa cepat besar nak wkwk

  4. Part ending yg bikin puas~nguras emosi bgt. Haaaaah akhirny happy lg dua jempol bwt author smangat trus bwt bikin karya” slnjty..

  5. Woah… aq ampe terharu pas mereka bertengkar.
    Tapi happy ending… aq suka cerita ending bahagia…
    Semoga program yang kedua bikin adek buat jinwoo berhasil.
    Selamat buat author… ffnya daebak…
    Banyak jempol nemplok… oke…?

  6. 안녕 언니..
    Aku pendatang baru/? nih hehe. Aku langsung klepek klepek sama ff buatan kakaa 😍😍 daebak bisa bikin aku cengar cengir, marah+nangis huhuhu 파이팅 terus ya ka bikin ffnyaa. Ditunggu karya karya berikutnya 😍😍😊

  7. Huaaa.. Akhirnya kesalah pahamannya beres juga yuhuu happy ending !!
    Ah jinja kyuhyun benar-benar suami idaman.
    Di tunggu eonnie kisah cinta mereka di ff baru ^^

  8. Akhirnya kesalahpahaman diantara mereka terselesaikan,fell’nya dapet bnget apalagi waktu mereka bertengkar… Untunglah endingnya sangat mengagumkan😉

  9. Waaaaah aku abis baca my charming yeoja trs lanjut my charming wife (lagi) wkwkwk daaaaan still cant get over your ff(s) omg kaaaaak!!!! Daebak banget laah luvluv pdhl udah baca berkali2 tapi teteuuuup aja deh menguras emosi bacanyaa terbaik daah!! Oiya semoga anaknya tumbuh dengan sehat dan berbakti sama orangtuanya yaa kaak hihi semangat kaaak salam untuk suami dan anakmu kaak^^

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s