School in Love (Chapter 26)

Title : School in Love Chapter 26
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, School Life, Friendship

Main Cast :
Bae Suzy | Park Jiyeon | Im Yoona
Cho Kyuhyun | Kim Kibum | Lee Donghae

Dha’s Speech :
Hati-hati typo deh. Aku bingung mau ngomong apa yah, hehehehe
Cerita ini akan tamat satu atau dua part lagi lah.
Pada gak sabar yah pengen tahu endingnya? Hehehehehe

Happy Reading ^_^

School In Love [Nitha & Satya] 3 by Dha Khanzaki

=====o0o=====

Sebelumnya,

“Maafkan aku. Aku tidak bahu bagaimana menjelaskan tentang kesalahpahaman di antara kita. Tetapi aku sangat menyesal sudah menuduhmu yang bukan-bukan. Maaf karena dulu aku tidak bisa berpikir dengan jernih.” Kyuhyun mengulurkan tangannya. Siwon diam sejenak menatap tangan Kyuhyun. Untuk sesaat tampak tidak mau menjabatnya.

“Semudah itu kau meminta maaf setelah memusuhiku sekian lama?” sindirnya dengan alis terangkat sebelah. Kyuhyun tersentak mendengar nada sinis Siwon. sambil mendengus pria itu hendak menarik kembali uluran tangannya saat Siwon tiba-tiba saja menyeringai lebar.

“Aku bercanda.” Ia lalu menjabat tangan Kyuhyun, “Kau tidak perlu memikirkannya.”
Kyuhyun mendengus antara lega dan kaget, “Yang benar saja, pria ini!” tak lama kemudian ia ikut menyeringai dan mereka berbagi tawa bersama. Jiyeon tidak bisa diam saja di tempatnya langsung menggandeng kedua pria itu dengan bangga.

“Bukankah seru jika semuanya berbaikan seperti ini?”

Part selanjutnya;

—o0o—

CHAPTER 26
The Prince’s Secret

YOONA melempar tasnya ke tempat tidur. Ia tidak bisa melupakan percakapannya dengan Donghae. Ia merebahkan tubuhnya yang lemas di atas tempat tidurnya. Ia ingin memejamkan mata untuk tidur, namun percakapannya bersama Donghae terngiang kembali dalam pikirannya seperti ia sedang mendengarkan kaset yang diputar ulang.

Flashback

“Bagaimana jika ternyata aku tidak sehebat itu?” ketenangan Donghae saat mengatakannya membuat Yoona mengeryitkan dahi. Gadis itu tidak paham.

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak sehebat julukan itu. Kyuhyun dan Kibum mungkin cocok dengan sebutan ‘prince of school’. Mereka hebat, pintar, populer dan kaya. Tetapi aku..”

“Hanya karena mereka kaya dan kau biasa saja kau merasa rendah diri begitu?” potong Yoona tegas. Ia mulai mengerti apa yang ingin disampaikan Donghae, tetapi ia tidak bisa menerima alasan Donghae yang menganggap dirinya lebih rendah daripada orang lain. Apa terlahir dalam keluarga sederhana begitu menyedihkan?

“Tidak, aku tidak malu. Walau keluargaku miskin sekalipun aku tidak akan merasa malu. Tetapi aku berbeda dengan mereka.”

“Apa bedanya? Kau manusia juga, sama seperti aku dan yang lain.”

“Yoona, kau tidak mengerti.” Donghae harus bersabar begitu Yoona mulai menunjukkan emosinya. Gadis itu terus menerus memotong kata-katanya dengan nada sarkastis seolah berusaha menyalahkannya atas semua hal buruk yang terjadi, sama seperti yang dilakukan keluarganya.
Menyadari api pertengkaran mulai terpercik di antara mereka, Yoona lekas menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam. Ia tidak mau berdebat. “Yeah, aku memang tidak mengerti. Karena itu ceritakanlah padaku.” Lanjutnya dengan suara yang lebih lembut berharap Donghae akan luluh.

Tidak, Donghae sama sekali tidak luluh dengan sikap lunaknya, “Kenapa kau bersikeras mencampuri masalahku?” tandas Donghae tajam. Keningnya mengeryit, ia tidak bermaksud menyentak siapapun dan ketika menyadari nada suaranya telah membuat Yoona terbelalak kaget, rasa bersalah mengguyur sekujur tubuhnya seperti air dingin.

Sementara itu Yoona tersadar. Ia terlalu memaksakan kehendaknya pada Donghae. Apa yang terjadi pada dirinya hari ini, ia bersikap sangat aneh. Hari ini ia merasa begitu terobsesi terhadap kehidupan Donghae. Ia ingin tahu segalanya tentang pria itu. Ada apa dengannya?

“Mianhae.” Gumam Yoona penuh sesal.

Donghae lega, tetapi di lain pihak ia pun merasa menyesal. Ia tidak berniat memarahi Yoona, tetapi apa boleh buat. Masalah yang dialaminya bukanlah sesuatu yang bisa dibagi-baginya begitu saja. Namun apa ia tetap bisa merahasiakannya dari Yoona, gadis yang memiliki arti besar dalam hidupnya? Bisakah Yoona menjadi pengecualian? Jika hanya ada satu orang yang bisa mengerti masalahnya di dunia ini, dia adalah Yoona.

“Masalah yang kualami berbeda dengan masalahmu. Aku juga tidak terlalu yakin perasaanmu akan sama setelah mendengar ceritaku.”

Jantung Yoona berpacu cepat melihat Donghae membuang napas berat. Ia berharap itu adalah pertanda bahwa pria itu siap bercerita padanya.

“Aku dibuang oleh keluargaku.” Donghae berkata dengan sangat tenang.

Keterkejutan tak sempat Yoona sembunyikan. Napasnya tercekat.

Dibuang, oleh keluarga sendiri?

Sudah kuduga seperti itu reaksinya. Donghae tersenyum miring.

“Mengapa?” Astaga, Yoona sadar suaranya sendiri bergetar. Ia ketakutan, simpati, atau merasa sedih mengetahui hal itu?

“Karena aku, kakakku tewas.” Walaupun kelihatannya Donghae bercerita dengan cara biasa saja namun jelas tampak segurat kesedihan jauh di dalam sorot mata hitam kelam itu. Yoona hanya bisa tercengang mendengarnya. Ia tak menyangka Donghae mengalami nasib serupa dengannya. Ia diam menatap Donghae dengan sorot prihatin.

“Kakak perempuanku adalah anak kebanggaan keluargaku. Dia cantik dan pintar. Semua orang menyayanginya, sementara aku hanya si pembuat masalah, anak tidak berguna yang hanya bisa membuat orangtuaku malu karena seringnya aku terlibat perkelahian di sekolah, bahkan dikeluarkan beberapa kali. Dialah yang menyarankanku belajar beladiri, agar aku bisa belajar mengontrol emosiku.” Donghae menunduk menatap gelas minumannya sejenak, matanya tampak bergerak karena luka yang sekian lama tertahan di sana.

“Kecelakaan itu terjadi seusai turnamen beladiri yang kuikuti. Kakak tertabrak mobil ketika akan menyeberang bersamaku. Kami hampir tiba di mobil yang diparkir di seberang jalan, tetapi begitu beberapa langkah lagi aku tiba di sana, aku teringat sepatuku tertinggal di ruang ganti, aku bermaksud kembali dan aku tidak melihat ada mobil yang melesat ke arahku, aku pikir saat itu semua mobil masih berhenti karena lampu merah. Kakakku yang menyadarinya menarikku. Aku memang selamat. Namun saat itu lampu sudah berubah hijau dan kakakku, dia tertabrak oleh mobil yang melaju dari arah lain.” Donghae menarik napas dalam. Yoona bisa merasakan seperti apa sakit dan pedihnya dari caranya menarik napas sampai ia tidak bisa berkata-kata.

“Keluarga besarku menganggap kecelakaan itu terjadi karena diriku. Aku adalah si pembuat onar sehingga mereka dengan mudah menyalahkanku. Ayah ibuku menyerah padaku dan menyuruhku tinggal di tempat lain. Pada akhirnya aku hidup bersama Paman Hoon. Hanya dia yang bersedia menampungku setelah keluargaku mengusirku pergi.”

Di akhir cerita, Yoona menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia tak percaya ada keluarga yang tega memperlakukan seorang anak seperti itu. Ia mencoba mengatakan sesuatu untuk menghiburnya tetapi sungguh, cerita Donghae membuat kepalanya kosong. Sekarang ia memahami perasaan takut yang membuat Donghae enggan menceritakan masalahnya. Yoona tahu seperti apa rasanya dianggap hama oleh keluarga. Lebih menyesakkan daripada perasaan tercekik ketika menghirup udara beracun. Ia merasa sendirian, tak berdaya, dan hina. Tetapi meskipun begitu ia tak sampai diusir pergi.

“Mereka menganggapku si pembawa sial karena sejak kejadian itu hal-hal buruk lainnya dialami keluargaku.”

Detik itu juga Yoona harus bersyukur hidupnya lebih baik, dan saat itu juga sesuatu di hatinya bergetar. Ia kagum pada Donghae yang sanggup bertahan dari semua siksaan itu. Kesendiriannya membuat Donghae tegar sekaligus membenci keluarganya. Setelah tahu alasan mengapa Donghae begitu menutup diri dari orang lain, Yoona merasa tidak berhak lagi menghakimi Donghae.

“Maafkan aku.” kata Yoona menyesal, “jika aku tahu masalahnya sekompleks ini, aku tidak akan memaksamu bercerita.” Ia menundukkan kepala.

Donghae tersenyum. Sejujurnya, sekarang ia merasa lebih tenang, seolah seluruh beban dunia terangkat dari pundaknya setelah ia menceritakan masa lalunya pada Yoona, “lalu bagaimana pandanganmu sekarang terhadapku?”

Yoona menegakkan tubuh. Ia dilanda kebingungan. Apa yang baiknya ia katakan? Ia takut satu kata saja yang salah akan memberikan efek fatal terhadap Donghae. Tetapi melihat Donghae begitu tenang, kepanikannya melayang pergi. Mengapa ia begitu khawatir, Yoona memberi Donghae senyum terbaiknya, “Bagiku kau tetap Lee Donghae. Yang terpenting bagiku bukanlah seperti apa kau di masa lalumu, tetapi bagaimana dirimu saat ini. Kau sudah membuktikan diri bahwa kau bisa menjadi seseorang yang lebih baik dari sebelumnya. Kau lebih dari sekedar hebat, kau bahkan mengagumkan. Kau baik dan kau setia kawan. Kau bukanlah si pembuat onar ataupun pembawa sial, kau adalah..” lidahnya mendadak kelu. Yoona diam, ia menunduk menatap tangannya sejenak.

Kau adalah seseorang yang berarti bagiku. Mengapa ia berpikir demikian? Ya Tuhan, apa ia sudah gila, hampir saja ia mengatakan itu dan mempermalukan diri sendiri.

“Ya,” Donghae menantikan kelanjutannya dengan penuh harap.

Tersadar, Yoona buru-buru melanjutkan, “kau adalah pria yang hebat. Aku yakin Kibum, Kyuhyun, Suzy dan Jiyeon akan berpendapat sama denganku.”

Ekspresi Donghae tidak tertebak, untuk beberapa detik Yoona merasa Donghae sedang mencoba membaca pikirannya. Begitu memutuskan bahwa dia tidak menemukan apa yang dicarinya dalam diri Yoona, Donghae mendesah pelan. “Terima kasih.” Lirihnya. Ia memandang Yoona lama. Terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi pria itu memilih diam.

Tanpa disadari wajah Yoona kini memerah. Bagaimana pun cara Donghae menatapnya, ia merasa berdebar sekaligus bahagia.

Flashback end

Yoona merenung memandangi langit-langit kamarnya. Ia penasaran apa yang ingin dikatakan Donghae selanjutnya. Pria itu terlihat menanggung beban yang berat. Ia mengira wajah sedih Donghae muncul karena kisah masa lalunya, tetapi setelah pria itu bercerita dia masih terlihat sedih. Lalu masalah apa yang sedang membebani Donghae sebenarnya?

—o0o—

Keadaan Suzy sudah mengalami kemajuan. Dokter mengatakan mungkin tidak akan lama lagi Suzy akan siuman karena dari hasil pemeriksaan tubuh Suzy mulai memberikan beberapa reaksi. Tetapi hingga seminggu setelah dokter mengumumkan hal itu, Suzy masih tertidur dengan tenang. Keluarganya pasrah. Mereka hanya bisa berharap agar Suzy bisa siuman secepatnya.
Ibunya duduk di samping tempat tidur Suzy, membelai keningnya dengan lembut.

“Sudah terlalu lama kau tertidur, nak. Sekarang sudah saatnya kau bangun.” Ia terpaksa berbisik karena menahan airmata yang hampir mendesak keluar. Ibu manapun di dunia ini tidak akan sanggup menahan kesedihan melihat anaknya dalam kondisi antara hidup dan mati. Tetapi ia tidak mau membuat Suzy sedih. Putri sulungnya itu tidak akan suka melihatnya menangis. Ia tertawa sendiri saat teringat bagaimana Suzy menggerutu setiap kali ia menitikkan airmata.

“Ibu, sudah kukatakan jangan menangis karena hal-hal tidak penting!”

Suzy selalu protes jika melihat ibunya menangis saat menonton film sedih ataupun mendengar cerita sedih. Dan kini ia sangat merindukan suara putrinya. Jika menangis bisa membuat Suzy bangun dan mengomel seperti biasanya, sebagai ibu ia siap menangis sekeras apapun.

Yoona dan Jiyeon yang melihatnya saling melempar pandangan sedih. Mereka segera mendekat untuk menghiburnya. Cerita-cerita menyenangkan tentang Suzy ketika bersama mereka berhasil menghapus airmata di wajah Ibu Suzy, namun pada akhirnya kenangan-kenangan itu justru membuat suasana semakin pilu.

Tanpa disadari ketiga gadis di dalam, Kibum tertahan di luar dengan tangan memegang kenop pintu. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk menyadari kehadirannya tidak akan terlalu membantu. Hatinya tersayat. Ia masih merasa bertanggung jawab atas kecelakan yang Suzy alami dan ia menyesal karena tidak bisa membujuk Jiwon agar datang membesuk Suzy. Andai saja dirinya adalah pangeran yang ditakdirkan untuk membangunkan sang putri yang tertidur, pasti ia tidak akan segundah ini. Namun sayang sang putri tidak tidur karena tusukan jarum ataupun pengaruh ramuan sihir. Semua yang terjadi sekarang adalah bagian dari takdir Tuhan. Ia tidak bisa melakukan apapun selain meminta Tuhan untuk membangunkan sang putri. Ia mencengkeram kenop pintu dengan erat.

“Kibum,” seseorang menyentuh bahunya. Kibum terperanjat lalu menolehkan kepala melewati bahunya secepat kilat. Ia membelalakkan mata melihat Kim Jiwon berdiri di hadapannya dengan raut sedih bercampur bingung.

“Jiwon, kau..” rasa bahagia membuncah di benak Kibum melihat Jiwon ada di sana. “Kau datang kemari. Aku tidak percaya.”

Jiwon tersenyum, dalam hati ia sedih karena kegembiraan itu bukan ditujukan untuknya, tetapi untuk Suzy. “Setelah kupikir-pikir, sebaiknya aku datang menjenguk. Bagaimanapun kami pernah menjadi sahabat baik.”

Sebelum Kibum membalas, Jiwon menuduk lalu mendahuluinya masuk ke dalam ruang rawat Suzy. Kibum dengan senyum gembiranya ingin ikut masuk, tetapi kemudian langkahnya tertahan. Setelah dipikir-pikir, sebaiknya ia tidak masuk. Ia memutuskan menunggu di lorong, duduk di kursi yang tersedia di sana sambil merenung.

Jika setelah ini Suzy masih tidak sadar juga, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Sementara itu di dalam, Jiwon kaku saat ditatapan tiga pasang mata begitu ia masuk.

“Permisi,” gadis itu masuk dengan langkah ragu. Yoona dan Jiyeon mengerjap tak percaya melihatnya, tetapi tidak mengatakan apapun.

Ibu Suzy kebingungan karena ia tidak mengenal gadis itu, tapi sesaat kemudian dia tersadar bahwa gadis manis yang berdiri di depannya adalah Kim Jiwon, sahabat putrinya ketika duduk di bangku sekolah dasar.
“Jiwon”

Jiwon tersenyum lalu membungkukkan badan. “Annyeong haseyo, Eomma-nim. Lama tidak berjumpa.” Dengan langkah perlahan ia menghampiri mereka. Ibu Suzy menyambut kedatangannya dengan senyum lebar.

Aigoo, bagaimana gadis kecil itu bisa tumbuh menjadi gadis secantik ini,” serunya sambil memeluk Jiwon. “Suzy bilang kau pindah sekolah tiba-tiba. Dia sedih sekali saat itu dan dia tidak bilang kau pindah ke Seoul. Dia pasti sangat senang melihatmu datang.”
Pandangan Jiwon teralih pada Suzy yang terbaring di tempat tidur. Ekspresi gadis itu berubah sedih.

“Wajahnya pucat sekali.” gumam Jiwon sedih. “Kuharap dia bangun dan memelukku.” Ia berjalan mendekat, hatinya perih melihat kondisi Suzy. Pelan-pelan tangannya menyentuh tangan gadis itu yang terasa dingin. Airmata mendesak pelupuk matanya. Seluruh kenangannya bersama Suzy yang dulu terasa samar-samar tiba-tiba terbayang dengan jelas. Saat-saat mereka bermain bersama, tertawa bersama, berceloteh riang sebagaimana anak-anak. Kenangan itu begitu indah sampai membuat airmata Jiwon meleleh dengan sendirinya.

Astaga, bagaimana bisa selama ini ia mengabaikan memori bahagia itu? Suzy adalah sahabat pertamanya, satu-satunya teman yang paling membekas di hatinya. Bagaimana bisa ia kesal pada seseorang yang sudah memberinya kenangan seindah itu? Hanya karena satu kesalahan ia ingin memusnahkan saat-saat bahagianya bersama Suzy? Teman macam apa a?

“Suzy, ini aku Jiwon. Sahabatmu..” Jiwon menggenggam tangan dingin itu dengan erat. “Kau tidak bisa terus seperti ini. Kau harus bangun dan bertengkar denganku. Karena aku..aku..” Jiwon terisak, “memiliki banyak hal yang ingin kukatakan padamu. Tetapi yang paling ingin kuucapkan adalah. Maafkan aku.” rasa bersalah begitu kental terasa. Meskipun ia sempat mengharapkan Suzy mengalami kecelakaan parah, tetapi melihat temannya seperti ini, ia tidak sanggup menahan penyesalannya.
Semuanya ikut melelehkan airmata melihat Jiwon menangis.

Udara di ruangan sesaat terasa begitu menyesakkan bagi Jiwon. Ia keluar ruangan dengan berderai airmata. Kibum yang melihat Jiwon lari melintasinya terkejut, terutama ketika melihatnya menangis. Ia bergegas menyusulnya. Jiwon terus berlari hingga akhirnya jatuh terduduk di atas kursi di dekat lobi rumah sakit. Diam sejenak untuk meredakan sakit yang menyerang paru-parunya. Dadanya sesak saat kata-kata Suzy terngiang jelas di telinganya.

“Aku rela melepaskan Kibum asalkan kau tetap bersedia menjadi sahabatku.” Suzy meneriakkan kalimat itu dengan jelas. Ia tahu bahwa Suzy mengatakannya dengan tulus untuk memulihkan persahabatan mereka. Tetapi yang ditakutkan Jiwon bukanlah tentang pengkhianatan Suzy di masa lalu. Percuma saja Suzy melepaskan Kibum karena pria itu tidak akan pernah menyukainya.

“Jiwon,” suara Kibum memanggil namanya. Jiwon menoleh sesaat lalu kembali menundukkan kepala, ia malu tertangkap dalam kondisi menyedihkan. Sejak kapan Kibum berdiri di dekatnya?
Tampak berbagai emosi di wajah Kibum. Memang, ada banyak hal yang ingin dikatakan pemuda itu pada Jiwon, tetapi yang terucap hanya; “Terima kasih sudah datang.”

“Aku kemari bukan karena permintaanmu. Semua kulakukan untuk Suzy.”

“Kalau begitu aku harus lebih berterima kasih lagi.” ia duduk di samping Jiwon, memandang gadis itu dengan senyum di bibirnya. “Kau tenang saja. Suzy akan baik-baik saja. Kau tahu, dia selalu menunggumu datang. Aku yakin setelah kau mengunjunginya ia akan segera terbangun.”
Bukannya terhibur, Jiwon menangis sejadi-jadinya. Ia menangis penuh kegetiran. Suzy tidak mungkin menunggunya. Gadis itu tidak akan menunggu sahabat yang kejam seperti dirinya.
Tangisan Jiwon membuat penyakit Kibum kembali kambuh.

Aigoo,” Kibum kalang kabut mencari saputangan, tissue atau apa saja yang bisa diberikannya pada Jiwon agar gadis itu berhenti menangis. Kibum mendesah lega saat ia menemukan saputangan di saku sweatshirtnya. Ia segera memberikan benda itu pada Jiwon.

“Terima kasih,” gumam Jiwon sambil menyeka airmatanya. Setelah perasaannya lebih baik, ia menghela napas untuk menenangkan hatinya. Ia melirikkan matanya pada Kibum, tersenyum. “Sejak dulu kau tetap baik, tidak pernah berubah.”

Kibum mengusap tengkuknya dengan canggung, “Aku tidak bisa melihat perempuan menangis. Entah kenapa, mungkin karena rasa bersalahku pada gadis di TK dulu. Aku membuatnya menangis karena aku menolak suratnya untukku.” ia terdiam, sekarang ia tahu bagaimana perasaan Suzy yang terus menanti maaf. Ia berharap gadis yang menangis karena dirinya waktu itu mau memaafkannya. Memendam rasa bersalah itu luar biasa menyebalkan.

Jiwon tercengang. “Apa karena itu itu kau menjadi seorang playboy, karena tidak bisa melihat gadis menangis kau menerima setiap gadis yang menyatakan cinta padamu meskipun kau tidak menyukainya?”

Kibum tercengang Jiwon bisa menebaknya begitu tepat, dengan mirisnya mengangguk.
“Jika aku berkata aku menyukaimu, apa kau juga akan menerimaku?”

Ide bagus untuk membuat impiannya terwujud. Kibum tersentak kaget. Ia menoleh pada Jiwon yang menanti jawabannya. Ia lalu menatap tangannya sendiri. Tidak bisa. Dulu ia menerima setiap perempuan yang menyatakan cinta padanya karena ia belum merasakan apa itu cinta tetapi sekarang setelah ia bertemu Suzy, ia tidak bisa. Ia diam seribu bahasa.

Sayangnya tanpa Kibum berterus terang Jiwon bisa menebak apa jawaban Kibum sehingga gadis itu tersenyum pahit, “ternyata memang tidak bisa.”

Kibum masih enggan menjawab. Terlalu takut mengatakannya.

“Kenapa?”

Mulut Kibum masih terkunci.

“Karena kau menyukai Suzy?”

Kepala Kibum menoleh padanya dengan cepat. Reaksinya, wajah terkejutnya, telah memberikan penjelasan yang cukup bagi Jiwon. Ia tertawa kecil.

“Tertebak dengan mudah, bukan?” gadis itu tersenyum karena Kibum menampakkan ekspresi aneh. Seperti tercengang, tidak percaya, dan panik. Jiwon menghela napas. Baiklah, ia kalah kali ini.

“Kim Kibum, jika kau memang tidak menyukaiku kau harus mengatakannya terus terang. Dahulu aku memang cengeng, tetapi sekarang aku sudah besar. Aku bisa menerima kenyataan bahwa kau tidak memiliki perasaan apapun padaku. Aku tidak akan menangis dan lari seperti dulu.”

Pengakuan yang sungguh mengejutkan! Seketika Kibum terperangah. Cara Jiwon mengatakannya, apa mungkin.. “kau, gadis cilik yang memberiku surat dulu?” ia tak percaya dengan pertanyaannya sendiri.

Jiwon diam beberapa saat lalu mengangguk, “Maaf. Karena diriku kau menjadi laki-laki yang tak bisa melihat perempuan menangis.”

Keterkejutan Kibum tak bisa dipendam lagi. Pria itu memperlihatkannya dengan jelas dalam raut wajahnya.

Jiwon terkenang kejadian saat ia berada pada masa taman kanak-kanak. Saat itu untuk pertama kalinya ia merasa sangat kagum ketika melihat anak laki-laki. Kibum adalah anak yang ceria dan luar biasa pintar. Dia bisa menyelesaikan semua soal yang diberikan gurunya bahkan sebelum Jiwon sendiri selesai menyalinnya di buku. Guru selalu memujinya bahkan berkata bahwa Kibum seharusnya sudah masuk sekolah dasar. Ia sangat iri sekaligus kagum. Ia ingin berteman dengannya tetapi Kibum selalu bermain dengan anak laki-laki lain sehingga akhirnya ia memutuskan untuk menulis surat yang berisi kata-kata bahwa ingin berteman dekat dengan Kibum. Tetapi Kibum menolaknya. Untuk pertama kalinya Jiwon merasa begitu sedih dan terpukul. Jika ia sudah paham saat itu, mungkin ia baru saja merasakan pahitnya patah hati. Jiwon yang mendapat syok hebat tidak mau sekolah lagi. Ia malu, ia tidak sanggup melihat Kibum lagi. Ia pun pindah bersamaan dengan pekerjaan Ayahnya yang dipindah tugaskan ke luar kota.

Ketika memasuki Sekolah Menengah Pertama, ia bertemu kembali dengan Kibum. Sesuai dugaannya, Kibum tumbuh menjadi sosok pria yang semakin tampan, pintar, dan semakin dikagumi banyak orang. Ia sadar perasaan kagumnya masih ada, bahkan semakin besar dan berubah menjadi perasaan cinta. Buruknya, Kibum tidak mengenalinya. Bahkan ingat namanya pun tidak. Kesedihan itu kembali menyapanya karena untuk kedua kalinya ketika Jiwon mencoba menyatakan cinta, ia ditolak oleh orang yang sama.

“Terima kasih.” Ucap Kibum tiba-tiba, menyadarkan Jiwon dari lamunannya. Saat menolehkan kepala padanya Jiwon mendapati Kibum memperlihatkan senyum yang membuatnya jatuh cinta, namun kini senyum itu ditujukan untuknya. Jantungnya berdegup kencang.

“Itu kata yang ingin aku ucapkan pada gadis yang menangis di hadapanku dulu. Terima kasih karena sudah menyukaiku.”

Senyum tulus itu meresap jauh ke dalam hati Jiwon, menyejukkannya. Membuat semua perasaan yang mengganjal dalam benaknya lepas, terbang bebas di angkasa. Untuk pertama kalinya Jiwon merasa damai. Seperti terbebas dari belenggu yang telah menyiksanya selama ini. Kini ia sadar, baginya Kim Kibum hanyalah cinta yang tak ditakdirnya menjadi miliknya. Ia harus melepaskannya pergi.

“My pleasure,” Jiwon membalas dengan senyuman tulus.

Kibum tak pernah merasa selega ini. Apa ini rasanya setelah ia meminta maaf dengan tulus dan dimaafkan? “Apa itu berarti kau juga bisa memaafkan Suzy?”

“Tentu, jika kau bersedia menjadi kekasihku.”

Mwoooo!!!” tanpa sadar Kibum memekik. Apa gadis ini sudah gila? Bukankah dia sudah mengetahui alasan mengapa dirinya tidak bisa menerimanya? Ia kira Jiwon mengerti.

Jiwon tertawa puas setelah berhasil membuat pria itu tercengang luar biasa. Ia memukul pundak Kibum. “Aku bercanda.”

Kibum langsung mendesah lega. Jiwon hampir saja membuatnya gila. Gadis itu bangkit. “Aku harus pergi.” lirihnya. Kibum mengantarnya ke kamar rawat Suzy untuk berpamitan. Ia menyapa Yoona dan Jiyeon di sana serta Ibu Suzy. Tetapi ia belum berani bertatapan dengan Suzy. Setelah itu, Kibum menemani Jiwon hingga di depan rumah sakit.

“Katakan pada Suzy agar cepat bangun jika ingin kumaafkan,” ucapnya sebelum masuk mobil. Kibum terkekeh.

“Akan kusampaikan.”

Jiwon melambaikan tangan lalu pergi. Kibum mendesah lega menyadari masalah terbesarnya sudah selesai. Tinggal masalah lain yang masih tersisa, ia mendongak menatap gedung rumah sakit yang tinggi menjulang, tepat ke arah kamar Suzy.

“Kau harus segera bangun.”

Jiyeon dan Yoona melihat sosok Kibum yang berdiri di depan gedung setelah mengantar Jiwon dengan perasaan simpati. Mereka bisa merasakan kesedihan Kibum. Tak pernah sehari pun Kibum absen membesuk Suzy, sekedar ingin mengetahui perkembangan kesehatannya. Mereka bisa merasakan tulusnya cinta Kibum untuk Suzy.

“Kita harus memberitahu Suzy tentang hal ini begitu dia sadar.” Putus Jiyeon.

“Ya, Kibum pantas mendapatkan balasan atas perasaannya.” Yoona setuju. Lama-lama ia tidak tega membiarkan Kibum terus bertepuk sebelah tangan.

—o0o—

Ada yang berbeda dengan suasana kelas hari ini. Yoona menyadarinya dengan jelas. Ketika ia menoleh ke arah bangku tempat Donghae biasa duduk, bangku itu kosong. Apa karena ketidakhadiran Donghae berimbas pada perasaan hatinya? Itu tidak mungkin.

“Donghae bilang ada urusan penting yang tak bisa ditinggalkannya.” Jelas Kyuhyun acuh tak acuh ketika Yoona bertanya padanya selepas bel pulang berbunyi. Yoona diam-diam mendesah lega begitu tahu Donghae bukan masuk karena sakit.

“Ah, apa kau akan pulang bersama Jiyeon hari ini?” cegah Kyuhyun ketika Yoona akan pergi.

“Tentu saja. Kami akan ke rumah sakit bersama.”

“Aku ingin kau memberikan ini padanya.” Kyuhyun memberi Yoona selembar tiket.

“Tiket konser?” Yoona mengeryitkan kening heran, ia menatap Kyuhyun yang cemberut dengan alis terangkat sebelah. “kenapa kau tidak memberikan tiket ini langsung padanya?”

“Aku harus pergi ke suatu tempat bersama Kibum.” Dengus Kyuhyun, ia tidak suka diwawancarai. Lagipula mengapa Yoona tidak terima saja tiket itu tanpa bertanya apapun?

Yoona tertawa geli melihat Kyuhyun tersipu, jika Jiyeon melihat ekspresi Kyuhyun saat ini, entah apa yang akan dikatakannya. “Kau manis sekali, mengajak Jiyeon kencan di tempat konser musik klasik.”

Kyuhyun menjengit seakan-akan Yoona menyebutnya dengan kata-kata tak pantas. “Jangan sebut aku manis!” Kyuhyun melenggang pergi mendahului Yoona ke luar kelas. Di ambang pintu, ia berhenti lalu menoleh pada Yoona, “berikan saja tiket itu padanya.”

Tentu saja Yoona menyerahkannya pada Jiyeon. Ketika mereka pulang sekolah bersama-sama. Jiyeon tersedak rasa gembiranya sendiri begitu menerima lembaran tiket bersepuh emas itu dari Yoona.

“Ini konser musik klasik kontemporer yang aku nantikan sejak lama. Bagaimana dia tahu aku ingin menontonnya!” Jiyeon memandang tiket itu seolah benda itu lembaran emas sungguhan.

“Dia pacarmu, tentu saja dia tahu.” Yoona ikut gembira. Jiyeon tersipu sekali lagi. Sebenarnya hingga saat ini ia masih tidak percaya bahwa ia dan Kyuhyun akhirnya berpacaran secara resmi. Memang belum banyak orang yang tahu, tetapi Yoona serta sahabat dekat Kyuhyun mengetahuinya. Jiyeon belum siap memperlihatkan hubungan mereka di sekolah, ia tidak berani membayangkan bagaimana reaksi orang-orang terutama kelas Platinum. Karena itu untuk saat ini di sekolah mereka bersikap seperti biasanya.

Sekarang mereka sekarang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk menengok Suzy menggunakan mobil milik Yoona. Selagi Jiyeon sibuk mengagumi tiket pemberian Kyuhyun, Yoona termangu menatap ke luar jendela.

Moodnya merosot tajam hari ini, entah mengapa. Semangatnya seperti tersedot habis karena sesuatu yang tak dimengerti. Apa karena hari ini Donghae tidak masuk? Mungkinkah ia menjadi begitu tidak bersemangat hanya karena ketidakhadiran Donghae?

Sesungguhnya Yoona mencemaskan pria itu. Akhir-akhir ini ada yang berbeda dengan Donghae, tetapi ketika ia iseng-iseng bertanya kepada sahabatnya, baik Kyuhyun maupun Kibum enggan membuka diri. Apa hanya perasaannya atau memang sedang terjadi sesuatu?

“Kita sebentar lagi sampai di rumah sakit.” Suara Jiyeon menembus lamunannya, tetapi tidak menghentikan Yoona terus memikirkan tentang keanehan perasaannya.

“Aku tahu,” gumam Yoona gamang.

Jiyeon mendesah, “ Aku juga sedih keadaan Suzy tidak mengalami kemajuan. Aku sangat merindukannya.” Ia salah mengartikan ekspresi sedih Yoona. Jiyeon menganggap Yoona sedih karena kondisi Suzy.

Yoona disengat rasa bersalah. Berkat kata-kata Jiyeon ia tersadar. Jahat sekali di saat seperti ini ia justru mencemaskan yang lain. Suzy masih dalam kondisi antara hidup dan mati, dialah yang semestinya Yoona khawatirkan. Ia harus melupakan Donghae sejenak.

Begitu tiba di rumah sakit, mereka langsung menuju ruang tempat Suzy dirawat. Di tengah perjalanan keduanya mengerjap melihat Seungjo, kakak Suzy berlarian dengan wajah panik. Jiyeon dan Yoona menghampirinya untuk menanyakan apa yang terjadi.

Oppa, ada apa?” tanya Jiyeon cemas. Semoga saja kepanikan di wajah Seungjo tidak ada hubungannya dengan Suzy.

“Suzy,” seru Seungjo dengan napas terengah-engah, “dia siuman. Aku harus menjemput Ayah di kantor secepatnya.” Wajahnya langsung dihiasi rona sukacita.

Yoona dan Jiyeon memekik tak percaya, senang, dan lega. Tanpa membuang waktu keduanya bergegas menuju ruang rawat Suzy. Mereka sangat gembira mengetahui Suzy tersadar dari koma.
Setibanya di ruang rawat, dokter masih memeriksa kondisi Suzy. Gadis itu masih terbaring lemah, namun Suzy terjaga sepenuhnya. Malah sedang menatap Ibunya yang kini tengah menangis penuh haru.

“Sudah jangan menangis, aku tidak apa-apa.” suara Suzy terdengar begitu kecil dan lemah. Yoona dan Jiyeon mendesah lega. Bahkan keduanya kompak menangis senang ketika tiba di sisi ranjang Suzy.

“Hei, kawan-kawan.” Suzy tersenyum menyambut kedatangan mereka seperti sedia kala. Senyum yang Yoona maupun Jiyeon rindukan tersungging lemah di bibirnya.

“Syukurlah,” desah Yoona. Ia memeluk gadis sejenak. “Aku sudah takut sekali kau akan meninggalkanku.”

“Tidak mungkin,” suara Suzy begitu pelan dan serak.

Jiyeon menangis sambil memeluk Suzy, “maafkan aku, seharusnya aku tidak meninggalkanmu waktu itu.”

Suzy begitu terharu mengetahui kedua sahabatnya begitu lega sekaligus khawatir seperti ini, “Ya Tuhan, pukul aku jika kecelakaan ini salahmu. Aku yang ceroboh karena tidak lihat-lihat jalan ketika menyeberang.” Ia menepuk punggung Jiyeon pelan. Gadis itu masih terisak ketika melepaskan Suzy lalu berdiri di samping Yoona.

“Kau membuat kami semua khawatir.”

“Berapa lama aku tidak sadar?” Suzy menatap ibunya.

“Lebih dari satu bulan, nak.”

“Selama itu?” Suzy pucat pasi.

“Benturan di kepalamu cukup keras. Tapi jangan khawatir, hal itu tidak memberikan dampak serius terhadap organ vitalmu yang lain. Untuk hasil pemeriksaan sementara, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan.”

“Lega mendengarnya. Terima kasih, dokter.” Ibu Suzy menundukkan kepalanya.

“Semoga kau lekas sembuh.” dokter itu tersenyum lalu pergi meninggalkan ruangan. Ibu Suzy ikut keluar untuk berbicara dengan dokter tentang proses pemulihan Suzy sehingga di ruangan itu tinggal Jiyeon dan Yoona yang menemani Suzy.

“Aku senang bertemu kalian lagi,” Senyum Suzy memperindah wajahnya yang pucat. Setelah bangun dari tidur panjang, ia merasa sangat lelah dan tidak bertenaga, tetapi ia tidak akan melewatkan waktu bersama sahabat-sahabatnya. Ia pun merasa badannya bertambah kurus dilihat dari beberapa lemak di lengannya yang menyusut drastis.

“Kami juga. Sekolah terasa sepi tanpamu.” Aku Yoona. Jiyeon mengangguk.

“Tidak ada yang menghabiskan kue buatanku lagi.”

Jiyeon dan Yoona lalu menceritakan apa saja yang terjadi di sekolah selama Suzy absen. Mereka bercerita bahwa ujian kenaikan tingkat akan dilaksanakan dua minggu ke depan dan Suzy mengerang. Ia berkata seharusnya ia bangun nanti saja setelah ujian selesai. Tidak menyenangkan rasanya begitu sembuh dari sakit langsung dihadapkan pada setumpuk soal ujian.

“kau benar-benar jadian dengan Raja sinis itu?” Suzy terkejut ketika mendengar cerita Jiyeon tentang hubungan asmaranya dengan Kyuhyun.

Wajah Jiyeon merona, “kami berencana berkencan minggu nanti.” dengan senang hati ia memperlihatkan tiket konser yang diberikan Kyuhyun. Suzy masih ingin protes dengan keputusan Jiyeon menjalin hubungan dengan pria luar biasa arogan semacam Kyuhyun tetapi diurungkannya begitu melihat kebahagiaan di wajah sahabatnya. Ia tak akan pernah tega merusaknya lagi. Jiyeon pantas bahagia. Lagipula Kyuhyun pasti pria baik jika Jiyeon sampai jatuh cinta seperti itu. Ia akan belajar merestui mereka.

“Apa Donghae sering kemari ketika aku sakit?” Suzy menerawang. Hati Yoona berdegup mendengar nama Donghae disebut namun ia tak berkata apa-apa.

“Sebenarnya, Kibum yang rajin datang kemari. Dia tak pernah melewatkan satu hari pun untuk menjengukmu. Kau lihat tumpukan buku itu, setiap datang kemari Kibum membacakan cerita untukmu berharap kau bangun. Minji bilang kau penyuka cerita-cerita dongeng.”

Suzy melemparkan pandangan pada tumpukan buku yang tersusun rapi di samping vas bunga. Sudut hatinya terketuk membayangkan setiap hari Kibum duduk di sampingnya untuk membacakannya cerita Putri Salju ataupun Peter Pan.

“Huh, Minji selalu berkata ngawur.” Suzy diam-diam merona malu. Untuk menyembunyikan perasaan terharunya ia mendengus. Mengapa pria itu harus repot-repot begitu?

“Suzy, aku tahu kau mungkin tidak mau mendengarnya,” Yoona menyentuh tangannya, “tapi kumohon sekali saja kau mau menganggap Kibum. Perasaannya untukmu sangat tulus.”
Suzy tak bisa menghentikan detak jantungnya yang mendadak menjadi gila. Sejak kapan pembicaraan teralih pada Kim Kibum?

“Yoona benar. Sejak kau dinyatakan koma oleh dokter, dia terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri. Dia menganggap kau tertabrak karena dirinya.”

“Apa-apaan itu? Kecelakaan yang kualami bukan salah siapapun.” Suzy tak habis pikir mengapa Kibum sampai berpikir demikian. “Aku menyeberang lalu tertabrak, tidak ada kaitannya dengan Kibum. Saat itu aku—“

“Suzy,” Yoona menyela, raut wajahnya melembut, “sebenarnya apa hal yang membuatmu begitu sulit menyadari perasaan tulus Kibum? Apa dia belum menyatakan cintanya padamu, atau kau tidak percaya padanya karena dia seorang playboy?”

Mengapa teman-temannya mendadak ingin menjodohkannya dengan Kibum? Suzy jadi tidak bisa menghindar. Ia terlalu lemah untuk menghindar. Tiba-tiba saja ia teringat kembali pada momen sebelum ia mengalami insiden itu. Ia dan Kibum memang terlibat adu argumen yang membawa-bawa Jiwon. Kibum bersikeras ingin memberitahu Jiwon tentang siapa yang disukainya sementara Suzy berusaha mencegah Kibum melakukannya.

Ingatan itu membuat kepala Suzy berdenyut kencang. Keningnya mengeryit merasakan gelombang rasa sakit menyengat otaknya.

“Jangan terlalu dipikirkan. Kau baru saja siuman. Kami hanya ingin mengutarakan pendapat kami saja.” jelas Yoona cepat-cepat begitu sadar ia terlalu cepat memberitahu Suzy. Tidak, Suzy memutuskan untuk memberitahu Jiyeon dan Yoona tentang apa yang terjadi sekarang juga. Ia tidak bisa memendam masalah ini sendirian. Ia butuh saran dari mereka berdua.

Suzy merenung cukup lama sebelum bergumam lirih, “hari itu aku dan Kibum bertengkar tentang Jiwon. Kami berdebat cukup lama tentang perasaannya. Kibum berkata dia menyukaiku tapi aku tidak bisa menerimanya.”

Yoona dan Jiyeon tercengang, “lalu kau menolak Kibum?”

Suzy mengangguk getir.

“Kenapa?”

“Jiwon menyukainya.” Suzy menggeleng lemah, “aku tidak bisa menyakiti Jiwon lebih dalam lagi jika aku sampai menerima Kibum. Aku meminta Kibum berpacaran dengan Jiwon karena hanya dengan begitulah aku bisa mendapatkan maaf dari Jiwon.”

“Ya Tuhan.” Jiyeon menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kedua sahabatnya kehabisan kata-kata mendengar penjelasan itu.

“Itu kejam, Bae Suzy.” Desah Yoona. “Kau tidak bisa bertindak seegois itu pada Kibum. Lebih baik kau menolaknya daripada kau menyuruhnya melakukan hal konyol seperti berpacaran dengan gadis yang tak disukainya.”

Tentu saja Suzy tahu. Suzy teramat tahu bahwa ia sudah melakukan hal kejam pada Kibum. “Tidak masalah bukan, dia seorang player. Aku yakin dia bisa berpacaran dengan gadis manapun meski tanpa cinta.” Suzy membela diri.

“Dan kau tidak memikirkan perasaan Jiwon? Apa yang akan dirasakannya saat tahu Kibum mendekatinya karena perintah darimu?” sela Jiyeon.

Suzy terpukul dengan telak. Ia terdiam seribu bahasa. Kibum sudah memberitahunya tentang bagaimana perasaan Jiwon jika Kibum mengabulkan permintaannya tetapi Suzy mengabaikan hal itu. Sekarang ketika ia diingatkan kembali tentang betapa sakit hatinya Jiwon saat tahu kejahatan yang ia lakukan, ia merasa begitu malu dan rendah diri. Ia merasa jahat serta kejam. Ia penjahat yang memikirkan diri sendiri. Ia hanya mementingkan kepuasan hatinya serta mengabaikan perasaan Kibum maupun Jiwon.

“Aku tidak bermaksud melukai siapapun,” ratap Suzy. Kedua matanya berkaca-kaca, “Aku hanya ingin permintaan maafku dikabulkan Jiwon. Dia sahabat pertamaku, kesalahan yang pernah kulakukan dulu telah melukainya dan aku teramat menyesal hingga saat ini. Jika aku menerima Kibum, Jiwon tidak akan pernah memaafkanku.”

Jiyeon memeluknya. “Dia akan memaafkanmu. Dia sahabatmu bukan? Seorang sahabat memang bisa saling bertengkar, tetapi akan mudah memaafkan.”

Yoona mengangguk setuju, “omong-omong, kemarin Jiwon menjengukmu.”

“Benarkah?” Suzy terkejut mendengarnya. Genangan airmata di ekor matanya lenyap seketika, kedua bola mata hitam itu kini berbinar-binar gembira. “Jiwon kemari, datang menemuiku?”
Suka cita Suzy menular pada Jiyeon dan Yoona. “Lihat, dia pasti sudah memaafkanmu.”

Sementara itu di luar,

“Kenapa tidak masuk?” Kyuhyun menatap Kibum yang lagi-lagi urung membuka pintu kamar rawat Suzy. Begitu mendapat pesan singkat dari Ibu Suzy bahwa Suzy sudah siuman, ia langsung kemari. Ia sangat gembira dan tak sabar untuk melihat wajah cantik Suzy. Tetapi ketika ia tiba di sana dan hampir saja menerobos masuk, tanpa sengaja ia mendengar pengakuan Suzy.

Jiwon menyukainya. Aku tidak bisa menyakiti Jiwon lebih dalam lagi jika aku sampai menerima Kibum. Aku meminta Kibum berpacaran dengan Jiwon karena hanya dengan begitulah aku bisa mendapatkan maaf dari Jiwon.

Kibum memejamkan mata. Hatinya mencelos, ternyata bagi Suzy posisi Jiwon jauh lebih penting darinya. Ia bukan siapa-siapa bagi Bae Suzy sebesar apapun ia berusaha. Apa perasaannya tidak cukup berharga untuk diperhitungkan? Ia tidak bisa begitu saja menjalin hubungan dengan gadis yang tidak disukainya.

Tidak masalah bukan, dia seorang player. Aku yakin dia bisa berpacaran dengan gadis manapun meski tanpa cinta.

Terkutuklah aku di masa lalu! Kibum kini sangat menyesal mengapa ia memutuskan menjadi seorang playboy hanya karena takut melihat perempuan yang ditolaknya menangis. Karena perilaku bodohnya itu sekarang ia tidak dipercayai oleh gadis yang benar-benar ia sukai.

Aku tidak bermaksud melukai siapapun, aku hanya ingin permintaan maafku dikabulkan Jiwon. Dia sahabat pertamaku, kesalahan yang pernah kulakukan dulu telah melukainya dan aku teramat menyesal hingga saat ini. Jika aku menerima Kibum, Jiwon tidak akan pernah memaafkanku.

Kibum merasa dirinya dihempaskan ke tanah dengan cepat menyadari Suzy tak akan pernah menerimanya selama Jiwon belum memberinya maaf. Untuk pertama kalinya ia tahu bagaimana rasanya patah hati.

—TBC—

206 thoughts on “School in Love (Chapter 26)

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s