Crazy Because of You (Chapter 7)

Title : Crazy Because of You Chapter 7
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance

Main Cast :
Min Sora | Lee Donghae

Dha’s Speech :
Udah lama ya gak ngeposting. PADA KANGEN AKU GAAAAAK? ^_^
Okeh fix, kayaknya lebih kangen ama postingan aku. hihihihi, gak apa-apa no problem.
Aku mengucapkan sejuta maaf atas keterlambatan posting. Selain karena sibuk sebagai Ibu rumah tangga, mood aku juga lagi amburadul nih, jadi baru sekarang deh bisa mood lagi ^^
Untung itu juga ngada-ngadain waktu buat lanjutin FF yang tertunda. Kangen sih ama dunia karang-mengarang.

Kalau di tengah cerita kesandung typo yang pasti banyak, maafkan daku yang tak teliti ini. Anggap aja itu seni tulis-menulis ^^ Kalau ceritanya jelek dan feelnya gak dapet harap maklumin, sudah lama gak nulis jadi agak pikun gitu ama nyusun kalimat. Yang penting kalian jangan ngerusuh deh, kalau gak suka cukup tekan tombol back aja okeh. ^_^

Semoga berkenan di hati.
Happy Reading

Crazy Because of You by Dha Khanzaki 5

=====o0o=====

previous part,

Mimpi itu buyar seperti layar televisi yang mati tiba-tiba. Sora terperanjat bangun karena suara teriakan itu terdengar begitu nyata. Ia ingin memaki, meneriaki siapapun yang dengan lancang menganggu mimpinya, dan ketika ia mengedarkan padangan dengan wajah mengantuk, matanya bersirobok dengan sepasang mata tajam dan kaget seorang wanita paruh baya.
“Ya Tuhan,” Sora terkejut. Siapa wanita yang berdiri di ambang pintu dengan marah dan tak percaya. Sora langsung menutupi tubuhnya dengan panik ketika pandangan wanita itu terpaku pada kamisolnya yang terangkat hingga dada.
“Siapa kau?” tanyanya dengan suara lantang yang menggema dengan mengerikan di seluruh penjuru kamar.
“A-aku..” Sora tergagap.
“Apa yang kau lakukan dengan anakku?!”

Anakku?

Sora kembali terperanjat. Jadi wanita marah ini adalah ibu Donghae? Seperti tersambar petir, tiba-tiba saja ia teringat pada posisi dan kondisinya. Ya Tuhan, betapa memalukannya, entah apa yang dipikirkan wanita itu melihatnya tidur di ranjang putranya dengan pakaian serbaminim seperti ini.
“Donghae..” Sora dengan panik dan takut mencoba membangunkan Donghae yang masih tertidur pulas. Ia merasa sedang diteror. Pria itu menggeliat lalu bangun.
“Hai cantik, bagaimana tidurmu?” dengan polosnya Donghae justru mengajukan pertanyaan yang membuat Sora lebih panik lagi. Tarikan napas tajam terdengar di belakangnya.
“Ayo cepat bangun, ibumu datang.”
“Ibuku?” Donghae menaikkan alis lalu menoleh ke arah pintu. Ia membelalak menyadari ibunya berdiri di sana.

Diam, melotot dan marah.

Next Part..

—o0o—

CHAPTER 7
Protective Sister

DONGHAE TIDAK memekik ketika bertatapan dengan sepasang mata tajam milik ibunya. Pria itu bahkan tidak panik ataupun melompat mundur menjauh dari Sora seperti menghindari wabah penyakit. Alih-alih histeris, Donghae justru tersenyum manis.

“Ibu,” panggilnya santai.

Sora menarik napas ngeri ketika menyaksikan kilatan marah yang terlintas di bola mata wanita yang berdiri di ambang pintu menyadari anak lelakinya begitu santai meskipun telah dipergoki ‘tidur’ bersama seorang wanita. Ia hampir saja mendorong Donghae agar jauh-jauh darinya, namun Donghae lebih dulu bergerak turun dari atas tempat tidur dan menyelamatkan mereka berdua.

“Kejutan yang menyenangkan, tidak biasanya Ibu kemari.” Donghae menghampiri ibunya lalu memeluknya dengan manja. Sora mendesah lega dari jauh karena ekspresi mengerikan perlahan terhapus dari wajah wanita paruh baya itu. Ia beringsut turun dari ranjang dan berdiri dengan kikuk di sudut ruangan, kedua matanya ragu-ragu menonton Donghae dan ibunya yang tengah melepas rindu, sepenuhnya mengabaikan keberadaan dirinya.

“Mengapa Ibu datang sepagi ini?” Donghae bertanya dengan santai yang membuat siapapun yakin bahwa dirinya adalah anak manis yang polos dan selalu berbuat baik. Mengapa dia begitu tenang setelah hampir saja membuat ibunya terkena serangan jantung? Sora diam-diam mendengus kesal. Apa dia terbiasa dipergoki sedang tidur dengan wanita lain sebelumnya? Sora langsung menjengit ngeri membayangkan hal itu.

“Kau lupa sekarang jadwal kita makan bersama? Ibu sudah menghubungi ponselmu beberapa kali, tapi kau tidak kunjung menjawabnya. Ternyata kau sedang tidur dengan wanita itu,” mata ibunya melirik tajam ke arah Sora yang seketika kaku mendapatkan sambutan ‘sehangat’ itu.

“Siapa dia, mengapa dia tidur di ranjang bersamamu?” interogasi ibunya tanpa basa basi. Sekujur tubuh Sora langsung tegang. Caranya menyebut Sora seolah ia adalah seorang wanita bayaran. Sora sesak, ia sedih sekaligus takut.

“Ah, dia Min Sora. Kekasihku.”

Sora bersiap menerima makian macam apapun begitu Donghae mengklaimnya. Tetapi yang terjadi sungguh di luar dugaan. Ekspresi seram wanita paruh baya itu perlahan memudar, digantikan dengan seraut wajah bahagia dan sukacita seolah Donghae baru saja memberitahunya bahwa putra tercintanya itu memenangkan hadiah nobel.

“Jadi dia Min Sora, Min Sora yang itu?” serunya disertai seringaian lebar. “Ya Tuhan, ternyata kau orangnya.” Sora terkejut ketika wanita itu menghampirinya lalu memegang kedua tangannya dengan hangat.

“Setelah mendengar banyak cerita dari Donghae tentangmu, aku sungguh tidak sabar ingin segera bertemu denganmu.”

Sora tersenyum di antara ringisan sakit karena Ibu Donghae meremas tangannya kelewat antusias, “senang bertemu Anda, Nyonya Lee. Maaf karena kita bertemu dalam keadaan seperti ini.”

“Tidak apa-apa. Maaf sudah menakutimu, nak. Tadi kukira anak ini bersama dengan perempuan tidak jelas, jika sampai ayahnya yang memergoki bisa-bisa dia digantung terbalik di puncak Namsan Tower.” Candanya sambil tertawa. Sora ikut tertawa demi kesopanan. Sebenarnya ia seram juga membayangkan Donghae digantung seperti itu oleh ayahnya. Ia melirik ke arah Donghae yang tersenyum penuh simpati, dari ekspresinya Sora menebak Ayahnya mungkin tidak akan menggantungnya, melainkan langsung mencekiknya di tempat.

“Oh iya, kakakmu sedang dalam perjalanan kemari, dia harus membeli beberapa bahan makanan di supermarket.”

“Begitu,” Donghae diam sejenak, melirik Sora yang gugup lalu kembali pada ibunya, “Aku antar ibu ke dapur.”

Setelah Donghae menggiring ibunya keluar kamar dan menyelamatkan hari, Sora bergegas mengganti bajunya. Ia meminjam kaus dan celana tidur milik Donghae. Ia tidak sempat mandi, hanya mencuci muka dan menggosok gigi. Ia terlalu gugup untuk bersantai sehingga semua kegiatan itu ia lakukan dengan perasaan campur aduk. Sora membayangkan ia akan diinterogasi saat berhadapan lagi dengan Ibu Donghae kelak, belum lagi ia harus bertemu dengan kakak Donghae, yang entah mengapa Sora merasa pendapatnya pun patut diperhitungkan.

Sora takut setelah mereka mengenalnya, mereka memutuskan ia tidak cocok untuk Donghae dan meminta Donghae memutuskannya. Astaga, memikirkannya saja Sora sampai tidak sanggup bernapas.

Hampir lima belas menit setelahnya, ia berhasil menata diri serapi mungkin lalu menemui Donghae dan ibunya yang sedang mengobrol santai di dapur. Wangi roti panggang dan omelet tercium di seluruh ruang makan. Perut Sora otomatis berbunyi nyaring. Ia kelaparan.

Donghae melihatnya lebih dulu. Pria itu tersenyum lalu bangkit dari kursi untuk menghampirinya. “Hei,” Sora tersenyum gugup ketika Donghae menggamit tangannya kemudian mengajaknya duduk bersama di meja makan. “Kau harus mencoba omelet buatan ibuku, rasa omeletnya paling lezat sedunia.” Imbuhnya seraya meletakkan sepiring omelet yang masih mengepulkan asap di hadapannya.

“Anu, maaf sudah merepotkan Anda, Nyonya Lee.” Sora mendadak merasa canggung. Seharusnya ia yang menyiapkan sarapan sebagai bentuk sopan santun terhadap orangtua dan seharusnya sejak awal ia menyambut Ibu Donghae dalam kondisi yang lebih baik lagi.

“Tidak apa-apa, sayang. Aku suka mengurus kalian. Karena kau kekasih Donghae, maka kau akan kuperlakukan seperti anakku sendiri, tidak perlu sungkan.”

“Ibu benar, nikmati saja.” Donghae tersenyum sembari mengerlingkan mata. Ibunya tersenyum penuh arti, dari tatapannya tampak seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi ditahannya. Sora terkejut kala tiba-tiba tatapan itu teralih padanya.

“Maaf tadi hampir membentakmu.” Sesalnya sungguh-sungguh. Sora mengerjap, langsung kembali teringat pada momen ketika ia dipergoki tidur bersama Donghae, hampir saja ia habis dimarahi. Ia menyesal sudah membuat wanita itu terkejut, tetapi ia juga terkejut dan malu karena tertangkap dalam kondisi paling memalukan.

“Tidak-apa-apa, Nyonya.” Sora tersenyum penuh minta maaf, “semalam tidak terjadi apa-apa, sungguh.”

“Kau yakin?” sahut Donghae jahil, Sora langsung memelototinya. “Tidak terjadi apa-apa bukan?” tegasnya dengan suara pelan namun tajam. Donghae ingin sekali tertawa melihat ekspresi Sora yang seolah berkata akan mencekiknya jika ia sampai mengaku melakukan hal lain selain tidur.

“Memang tidak terjadi apapun,” ia tersenyum manis, “aku hanya tidur sambil memelukmu seperti ini.” Donghae melingkarkan tangannya di sekeliling Sora, memeluknya persis sama seperti yang dilakukannya semalam. Ibu Donghae menarik napas kaget dan Sora panik bukan kepalang.

“Oke-oke, Ibu mengerti.” Potong wanita paruh baya itu menyerah, ia mengangkat tangan seolah tidak kuat melihat Donghae memeluk Sora. Donghae melepaskan pelukannya melihat ibunya memegang kening lalu mendesah. “Nak, jika kau begitu mencintainya mengapa kau tidak menikah saja?”
Sora dan Donghae terkejut mendengarnya. Keduanya memekik serempak.

“A-apa?”

“Ya, kalian menikah. Dengan begitu aku tidak akan terkena serangan jantung lagi seandainya melihat kalian berdua seperti tadi.”

Donghae menerima tatapan serius ibunya dengan jantung berdegup kencang, apa ibunya akan mengatakan sesuatu tentang.. apa saja, masa lalunya mungkin. Ia belum siap menceritakannya pada Sora, apalagi membiarkan gadis itu mendengarnya dari mulut orang lain.

“Apa?” tuntutnya menyadari ibunya masih menatapnya dengan sorot yang sama. Donghae menggeliat gugup di kursinya, rasanya seperti akan diinterogasi saja.

Mata ibunya menyipit, “kau masih bermain-main atau sudah mencoba serius menjalin hubungan? Kau bukan anak remaja bodoh berusia 17 tahun lagi.”

Donghae tiba-tiba tertarik menatap sarapannya. Sora penasaran sekali mengapa Donghae mendadak gelisah. Ia yakin sesuatu yang sedang ibunya bicarakan menyangkut masa lalu yang membuatnya trauma. Ia berharap salah satu dari mereka akan kelepasan membahas hal itu sehingga ia tidak perlu menerka-nerka ataupun memaksa Donghae bercerita.

“Aku harap dia tidak menyusahkanmu dengan keplin-planannya, nak,” Ibu Donghae menatap Sora, meminta pengertiannya.

Sora menahan tawa. Detik itu juga Sora ingin sekali mengeluh bahwa sebelum ini Donghae memang bersikap brengsek dan sangat lambat. Ia ingin bertanya apa yang membuat Donghae seperti itu, tetapi melihat Donghae mencengkeram garpunya dengan kaku, Sora mengurungkannya.

“Aku cukup tahu apa yang terbaik untukku, ibu tak perlu cemas.” Donghae berkata dengan dingin mendahuluinya. Donghae tidak memandang Sora maupun ibunya saat mengatakan hal itu. Sora ingin mengatakan sesuatu tetapi tersendat oleh suara pintu depan yang dibuka.

“Neneeek.” Suara cempreng anak kecil menggema lebih dulu dari arah ruang tamu. Semua orang menoleh ke arah pintu. Seorang wanita masuk membawa dua kantong besar bahan makanan dari supermarket sementara anaknya yang berusia 4 tahun berlari menghampiri neneknya, Ibu Donghae yang langsung membungkukkan badan untuk menggendongnya.

“Kau lama sekali.” komentar Ibunya.

Sora tegang begitu mengenali sosok wanita itu. Bukankah dia wanita yang datang bersama Donghae di restoran waktu itu? Mengapa dia ada di sini?

“Supermarket hari ini ramai sekali. Aku harus bekerja ekstra, menjaga Minwoo dan membawa belanjaan ini.” jelasnya sambil tertawa. Matanya bersinar ramah dan Sora seketika bermandikan keringat dingin. Wanita itu sangat cantik saat tersenyum. Siapa sebenarnya dia?

Wanita itu memandang Donghae, “Hei dik, tahu kau sudah bangun aku akan memintamu menjemputku.” Candanya. Donghae hanya mendengus lalu melanjutkan memakan sarapannya tanpa membalas kata-katanya. Ketika perhatian wanita itu teralih pada Sora, senyum di wajahnya memudar. Sora bisa merasakan aura permusuhan dari cara wanita itu menatapnya, hanya sesaat karena senyumnya kembali merekah.

“Ya Tuhan, aku tidak tahu kita kedatangan tamu lain di sini.”

“Asal kau tahu, dia pacarku, Sora.” serobot Donghae lebih dulu. Sora mengatupkan bibirnya yang hampir saja mengeluarkan kata-kata perkenalan.

“Pacar?” wanita itu menatap Ibu Donghae yang langsung paham lalu memperkenalkan mereka.

“Narin, dia Min Sora, kekasih adikmu dan Sora, dia Narin.”

Kakak?

Sora baru bisa tersenyum dengan tenang begitu sadar wanita itu adalah saudara perempuan Donghae. Mereka berkenalan. Narin adalah wanita cantik dengan anak satu bernama Minwoo. Sora mendesah lega dan detik itu juga ia tersadar bahwa beberapa hari yang lalu ia cemburu buta. Ia menuduh Donghae sedang mempermainkannya padahal pria itu hanya keluar bersama dengan kakak perempuannya. Sora sangat malu bila teringat hal itu.

“Jadi kau wanita yang sudah membuat Donghae jatuh cinta?”

Pipi Sora merona. “Sebenarnya itu terlalu berlebihan.” jelasnya malu.

“Tidak, Sora. Aku memang jatuh cinta padamu.” tegas Donghae sambil memberinya tatapan penuh cinta. Sora semakin tersipu sementara dari sudut matanya ia menyadari Narin memandangnya dengan waspada.

“Sungguh?”

Jantung Sora berdegup kencang dan entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari cara Narin mengatakannya, semacam ketidaksukaan. Tetapi itu mungkin hanya perasaan Sora saja karena pada kenyataannya Narin tersenyum hangat. Narin tidak mungkin membencinya karena menjadi pacar adiknya, bukan?

“Sudah hentikan dulu pembicaraan ini, bukankah kita datang untuk membuat pesta besar di sini? Sekarang kita memiliki alasan untuk melakukannya.” Ibu Donghae berkata sambil mengeluarkan bahan makanan dari kantong belanjaan. Minwoo berlari-lari kecil di sekitar ruang tamu, sesekali melompat-lompat riang di sofa berwarna putih gading.

“Wow, bocah, pelan-pelan. Kau bisa jatuh!” Donghae bangkit dari kursinya, panik melihat keponakan kecilnya bermain sendirian di sana. Ia langsung menangkap anak kecil itu yang hampir saja menjatuhkan diri sendiri ke atas karpet.

Sora ikut bangkit tapi ia tidak tahu ke mana ia harus pergi. Apa sebaiknya ia menghampiri Donghae saja dan ikut menjaga Minwoo? Tetapi ia tidak mau tampak seperti wanita pemalas, karena itu ia memilih ikut bersama Ibu dan kakak Donghae menyiapkan makanan di dapur meskipun rasanya canggung luar biasa.

Namun Sora agak menyesali keputusannya karena begitu ia bergabung, ia langsung ditanyai macam-macam oleh dua wanita itu. Sora menceritakan segalanya, tentang orangtuanya, di mana mereka tinggal dan pekerjaannya.

“Jadi kau tinggal sendirian di Seoul? Apa orangtuamu tidak cemas?” ucap Ibu dengan wajah khawatir bercampur prihatin sementara tangannya sibuk mengaduk-aduk sepanci sup.

“Mereka cemas, setiap malam ibuku meneleponku untuk memastikan aku baik-baik saja.”

“Lalu, apa yang kalian rencanakan untuk masa depan?” serobot Narin. Sora berhenti memotong sayuran. Ia menatap gugup wanita itu.

Apa yang mereka rencanakan untuk masa depan? Sebenarnya belum ada.

“Kami belum membahas sampai ke sana.” Sora gugup. Diam-diam ia melirik Donghae yang tidak memerhatikannya karena pria itu sedang sibuk bermain dengan Minwoo. Padahal ia sangat berharap Donghae membantunya.

“Oh nak, sebaiknya kalian cepat menikah. Aku tidak berharap selalu mendapat kejutan seperti tadi setiap kali aku berkunjung kemari jika kalian belum menikah.” Sahut ibunya sambil bercanda. Sora nyaris mengiris jarinya sendiri karena kaget. Ia menunduk demi menyembunyikan wajah meronanya.

“Apa yang kalian lakukan?” tanya Narin penasaran

Sora gelagapan. Ia bingung harus menjawab apa.

“Itu tidak penting.” Komentar ibunya menyelamatkan. Sora mendesah lega tak perlu menjawabnya. Ia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana; Oh, tadi pagi aku tertangkap basah tidur bersama adikmu. Mungkin Narin akan langsung mengecapnya sebagai wanita jalang setelah mendengarnya.

“Apa Tuan Lee akan ikut makan bersama?” Sora tersadar akan hal itu ketika semua hidangan sudah siap di atas meja. Mereka duduk mengelilingi meja sementara kursi di bagian kepala meja tidak diduduki siapapun. Kursi itu biasanya ditempati sang kepala keluarga. Jantung Sora kembali berdebar kencang mengingat mungkin hari ini ia akan bertemu Ayah Donghae.

“Ayah sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, dia tidak akan ikut makan bersama kita.” Jawab Donghae mendahului Ibu maupun kakaknya. “Karena ayah tidak ada, maka acara makan bersama seperti ini akan diadakan di rumahku atau rumah Na, eh—kakakku.” Ia langsung menundukkan kepalanya setelah mengatakan hal itu.

Sora menghela napas berat. Entah mengapa ia merasakan atmosfer yang berbeda terjadi di sekeliling Donghae dan ia tidak tahu apa penyebabnya. Pria itu terlihat gugup dan menjaga jarak, tapi terhadap apa?

—o0o—

Acara makan itu telah selesai, meja telah dibersihkan dan peralatan makan pun sudah kembali ke tempat semula. Sora ingin sekali bertanya apakah Donghae baik-baik saja tetapi pria itu seperti menghindarinya. Donghae memilih mengajak Minwoo bermain. Ibu Donghae sedang mengawasi mereka sambil duduk di sofa. Sora hendak bergabung bersamanya ketika Narin dengan lembut menyentuh bahunya.

“Apa kita bisa bicara sebentar?” tanyanya disertai senyum ringan.

“Oh tentu saja.” Sora tidak tahu mengapa ia setuju. Ia mengikuti wanita itu kembali ke dapur. Di atas meja dapur terdapat satu chocolate cake utuh yang belum dipotong-potong. Rencananya akan dihidangkan sebagai makanan penutup.

Narin duduk di kursi tinggi di dekat meja dapur. Ia menyuruh Sora melakukan hal yang sama. Sora duduk dengan gugup di samping Narin. Ia bertanya-tanya apa yang ingin dibicarakan wanita itu dengannya.

“Sudah sejauh mana hubunganmu dengan Donghae?”

Rupanya Narin tidak ingin berbasa-basi lebih dulu. Dia langsung bertanya pada intinya. Sora tidak dalam keadaan siap menjawab pertanyaan apapun.

“Sebenarnya kami baru resmi memulai hubungan tadi malam, tetapi kami sudah saling mengenal lebih dari setahun.” Ajaib sekali Sora bisa menjawab dengan suara tenang dan lancar. Sora harus mengapresiasi dirinya sendiri. Ia tidak gugup.

Alis Narin terangkat, “kau sudah tidur dengannya?”

Pertanyaan macam apa itu? Sora hampir jatuh dari tempat duduknya.

“Ya–eh–maksudku kami hanya tidur. Bukan tidur dalam arti yang lain.” Sora buru-buru meralat ketika disadarinya tatapan Narin menggelap. Ya Tuhan, apa ia sedang berhadapan dengan seorang kakak yang overprotektif?

“Dengar, aku tidak bermaksud mencurigaimu atau apa, tetapi aku hanya ingin kau tahu satu hal, adikku adalah pria yang baik dan aku tidak ingin dia berakhir dengan seorang wanita yang hanya ingin bermain-main dengannya saja. Dia sudah pernah jatuh dalam jurang penderitaan dan sulit untuk bangkit kembali karena seorang wanita,” suara Narin bergetar yang membuat dada Sora ikut mencelos sakit. Jadi memang benar Donghae pernah mengalami trauma dengan seorang wanita?

“Aku tidak ingin dia mengalami hal yang sama untuk ke dua kali, sakit sekali rasanya melihat dia menderita sementara aku tidak bisa membantu meringankan kesedihannya. Sekarang aku melihat Donghae jatuh cinta kembali, karena itu sebelum hal yang sama terulang, aku ingin memperingatkanmu untuk tidak mempermainkan perasaan Donghae. Jika kau memang serius mencintainya, teruslah berada di sisinya. Hal-hal buruk apapun yang kau dengar tentang masa lalunya, atau betapa buruknya dia di masa lalu, aku harap kau tidak meninggalkannya.”

Sora antara ingin mendengus dan mengangguk mengerti. Seharusnya Narin memberitahu adiknya lebih dulu tentang ‘jangan mempermainkan perasaan orang lain’. Wanita itu tidak tahu bahwa selama setahun ini Donghae telah mengaduk-aduk perasaannya, membuatnya berharap tentang cinta yang tak pasti. Bisa-bisanya dia menceramahi Sora dan memberi kesan bahwa dirinyalah yang akan menyakiti hati Donghae.

Apa aku terlihat seperti wanita semacam itu? batin Sora sedih.

“Kenapa kakak bertanya seperti itu? Aku tidak berniat menyakiti Donghae. Aku mencintainya.”
Sora bersumpah ia melihat kilasan rasa kecewa dan terkejut di mata Narin selama beberapa detik, tetapi kemudian wajahnya kembali dihiasi senyum yang entah kenapa kini tampak palsu.

“Aku bisa melihatnya. Donghae juga sepertinya mencintaimu. Kalian saling mencintai, itu bagus.” Narin dengan gugup menarik kue untuk dipotongnya. Sora mengeryitkan kening, mengapa dia tampak gugup?

“Jadi kalian akan menikah?”

“Apa?” Sora berusaha memusatkan perhatiannya kembali pada wajah Narin, “aku tidak tahu. Kami belum berdiskusi sampai ke sana.”

“Ibu sepertinya sangat setuju kalian menikah,” Sora mengerjapkan mata. Apa Narin baru saja menggerutu? Tetapi ekspresinya tetap tenang, bahkah tersenyum manis. “Bagus jika kalian sampai menikah.”

Tapi mengapa nada suaranya tidak terdengar tulus, Sora curiga. “Apa kakak keberatan jika kami menikah?”

“Keberatan? Bukan begitu.” Jawabnya cepat hingga Sora merasa ia sedang dimarahi. “Hanya saja aku merasa kau tidak terlihat seperti tipe wanita yang disukai Donghae dari sudut manapun.”
Jantung Sora jatuh ke perutnya mendengar itu. Sebenarnya apa yang ingin dikatakannya? Jika memang tidak setuju ia menjalin hubungan dengan adiknya mengapa tidak langsung mengatakannya saja?

“Jadi maksud kakak aku bukan tipe wanita yang akan disukai Donghae? Lebih tepatnya, seperti apa wanita yang kakak maksud?” Sora tidak mau mendengar jawabannya, tetapi ia sangat penasaran.

Narin tampak bangga saat mengatakannya, “Seorang wanita yang dewasa secara pemikiran dan jika kulihat, kau terkesan kekanakan. Apa benar Donghae menyukaimu? Kulihat beberapa hari yang lalu kau berkencan dengan pria lain. Kau tidak sedang ingin memanfaatkan para pria bukan?”

Sora tercekat, ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak tahu alasan apa yang membuat Narin mengatakan itu, tetapi ia hanya tidak menyangka bahwa Narin membencinya dan tidak mau ia dan Donghae menjalin hubungan. Apa ia tampak seburuk itu di matanya? Narin menyimpulkan Sora tidak pantas hanya karena beberapa hari yang lalu memergokinya makan malam bersama Soohyun. Dada Sora sesak dan airmata mendesak keluar dari kelopak matanya. Ia tidak boleh menangis karena masalah ini. Ia tidak boleh tampak lemah di hadapan Narin.

“Apa yang sedang kalian bicarakan?”

Tersentak, Sora menegakkan tubuh. Kemunculan Donghae membuat airmatanya menghilang. Ia menoleh dan menyadari Donghae menatapnya dengan sorot mata gelap. Tatapan curiganya dilayangkan pada Narin, “kau tidak sedang mencoba membuatku putus dengan Sora, bukan?”

“kau sangat lucu,” Narin tertawa, “untuk apa? Dia sangat manis. Kau seharusnya mengenalkannya pada kami sejak dulu.”

Apa? Sora menatap Narin tidak percaya. Kata-katanya beda sekali dengan tadi. Permainan apa yang sedang dimainkannya?

Donghae sepertinya tidak percaya begitu saja pada kakaknya. Sora ditarik turun dari kursinya. “tidak ada yang harus diluruskan. Sora adalah wanita yang kupilih.” Donghae diam sejenak, tatapan tajamnya bertabrakan dengan tatapan terkejut Narin, “kami akan menikah tak lama lagi.”

APA!!

Sora nyaris memekik kaget. Kapan keputusan itu dibuat? Ia tidak ingat Donghae pernah menanyainya tentang apakahia bersedia menikah dengannya. Oh tentu saja ia mau, tetapi masalahnya mengapa harus diputuskan secara sepihak?

Narin membelalak. “Donghae, aku tidak berkata bahwa wanita pilihanmu tidak baik untukmu tapi apa kau yakin dengannya?”

Sora berusaha untuk tidak meringis karena Donghae sangat erat memegang tangannya. Selain itu dadanya pun sesak mengetahui Narin tidak menyukainya.

“Hentikan, kumohon.” Geram Donghae pelan namun tegas, “cukup sampai di sini saja kau mencampuri urusanku. Aku tahu wanita seperti apa yang kuinginkan dan aku tidak butuh pendapatmu untuk memilih wanita yang akan hidup bersamaku. Ayo Sora.”

Narin ditinggalkan begitu saja dalam kondisi syok secara mental. Sora sedikit mengasihaninya karena telah cemas untuk hal yang tidak semestinya. Dari pertengkaran kecil ini Sora bisa tahu bahwa Donghae dan kakaknya tidak terlalu akrab, mungkin ia bisa menebak apa penyebabnya. Narin memiliki kecenderungan terlalu ikut campur urusan adiknya. Tapi Sora setengah memakluminya, kakak mana yang tidak cerewet jika memiliki adik seperti Donghae. Tampan, kaya raya, menyenangkan sekaligus rapuh. Mengingat trauma yang pernah dialami Donghae dengan wanita, Sora mengerti mengapa Narin begitu selektif terhadap wanita-wanita yang dekat dengan adiknya.

“Seharusnya kau tidak jauh-jauh denganku.” Bisik Donghae ketika mereka menuju ruang tengah untuk bergabung bersama ibunya dan Minwoo. Ia berhenti lalu berbalik menghadapnya saat Sora tak kunjung menjawab.

“Aku yakin kakakku mengatakan sesuatu yang menyinggungmu.”

“Kutebak aku bukan wanita pertama yang mendapatkan perlakuan seperti ini.” Sora tersenyum pahit.

Donghae menggigit bibirnya lalu menunjukkan raut minta maaf, “dia menjadi seperti itu sejak..”

“Aku mengerti,” Sora menggenggam tangannya. Ia tak akan memaksa Donghae bercerita. Ini pasti berkaitan dengan trauma pahit yang Donghae alami.

Donghae memberikan senyum penuh terima kasih, “aku mencintaimu, Sora.” Ia mengecup bibir Sora. Mengakhiri perdebatan. Dengan pipi merona malu ia mengikuti Donghae menuju ruang tengah. Narin muncul beberapa lama kemudian dengan beberapa piring kue dan satu poci teh.

Suasana menjadi lebih hangat dengan perbincangan ringan yang terjadi di antara mereka. Sora senang ternyata Narin tidak lagi bersikap protektif seperti tadi ketika mereka berdua saja. Wanita beranak satu itu ternyata suka sekali bercanda, dan cantik. Bahkan sangat cantik dengan tubuh langsing yang masih tampak seperti gadis remaja. Sikap hangatnya membuat Sora lupa bahwa beberapa waktu lalu wanita itu nyaris menyuruhnya putus dengan Donghae—secara tersirat. Siapapun tidak akan menyangka dia memiliki lidah tajam.

Donghae pun sepertinya sudah melupakan situasi tegang antara dirinya dan kakaknya karena sikap cerianya memancar dengan kekuatan penuh, terutama ketika dia bercanda dengan Minwoo.

“Sora, kapan kami bisa bertemu dengan orangtuamu?”

Sora tersedak tehnya saat Ibu Donghae mengajukan pertanyaan itu. “Bertemu orangtuaku?”

Bagaimana ia menjawabnya? Semua orang kini menatapnya, menanti jawabannya. Ia melirik Donghae yang tegang di tempat duduknya, hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa untuk menyelamatkan keadaan.

“Bukankah Donghae bilang kalian tak lama lagi akan menikah.” Narin kini kembali pada mode kakak protektifnya. Wanita itu menanyainya dengan begitu tenang namun Sora yakin di telinganya suara halusnya begitu sinis dan tajam.

“Benarkah? Kalau begitu untuk apa ditunda-tunda lagi?” sorot mata Ibu Donghae memancarkan kebahagiaan.

Uhh, bagaimana aku menjawabnya?

Sora mengerang. Ia panik dan bingung.

—o0o—

“Kukira aku harus minta maaf atas apa yang terjadi hari ini, mulai dari kedatangan keluargaku yang tiba-tiba sampai kata-kata kakakku yang sedikit keterlaluan.”

Sora tak langsung menjawabnya. Ia membuka pintu apartemennya lalu berbalik menghadap Donghae yang menatapnya harap-harap cemas, tampak ketakutan kejadian hari ini akan berdampak buruk terhadap hubungan mereka yang baru saja dimulai.

“Jujur saja, aku memang sedikit terkejut ketika ibumu memergoki kita tadi pagi.” Sora menatapnya lalu tertawa geli, Donghae ikut terkekeh. “Kata-kata kakakmu memang menyakitiku,” senyum di wajah Donghae lenyap seketika dan Sora membenci ekspresi sedihnya. Ia menempelkan telapak tangannya di pipi Donghae lalu mengusapnya dengan lembut, “tetapi selebihnya menakjubkan. Menyenangkan bisa mengenal seluruh keluargamu. Kecuali Ayahmu, entah kapan aku bisa bertemu dengannya.”

“Aku yakin tak akan lama lagi. Bukankah kedua orangtua kita akan bertemu.” Donghae menyeringai.

Sora berkedip takjub, “jadi kau serius dengan ucapanmu tentang pernikahan itu.” jantungnya membentur dadanya dengan kencang. Ia tak percaya karena tadi ketika ia tak sanggup menjawab pertanyaan ibunya tentang pertemuan kedua orangtua mereka, Donghae tak mengatakan apa-apa untuk membantunya. Karena itu ia hanya menjawab akan membahas hal itu lebih lanjut nanti dengan Donghae. Ia pikir Donghae hanya bergurau untuk menyelamatkannya dari Narin.

“Kau pikir aku bercanda?” seringaian jahil di bibirnya memudar, kini digantikan dengan tatapan tajam yang menusuk sekaligus menggoda. Menantang Sora agar setuju dengannya.

“Begitulah yang kupikir.” Tatapan Donghae membuatnya gugup dan Sora lekas memalingkan pandangannya ke arah lain. Detik itu juga ia tersadar bahwa mereka masih berdiri di depan pintu apartemennya.

Donghae menangkap pinggangnya lalu mendorongnya masuk, dengan kakinya ia menutup pintu apartemen Sora. Mengunci mereka hanya berdua di tempat itu. Tatapannya tak pernah meninggalkan wajah Sora, membuat gadis malang itu gugup, terengah dan merona.

“Aku tak pernah bermain-main denganmu, Sora. Bahkan sejak awal aku bertemu denganmu.”

“Tetapi mengapa kau baru menyatakan cintamu akhir-akhir ini?”

“Itu karena aku seorang pengecut yang takut dengan masa lalu.”

“Kau mencium wanita di klub malam itu.”

“Ya Tuhan, itu kebodohanku yang lain.” Donghae menggeram dengan kedua mata memejam rapat. “Sudah kukatakan aku tak memiliki perasaan apapun padanya. Lagipula kau juga berkencan dengan pria lain. Kau berniat mendepakku, hmm?”

Sora tidak tahu posisi mereka saling mendekat, ia baru menyadarinya ketika napas Donghae terasa begitu hangat di pipinya. “Kau-Tuan-Pemberi-Harapan-Palsu. Aku tidak mungkin menunggumu selamanya di saat aku tidak mendapat kepastian, bukan?”

“Beruntungnya aku kau menolak pria itu.”

“Yah, aku sadar pada detik terakhir bahwa sebenarnya aku sedang membodohi diriku sendiri. Yang kucintai hanyalah dirimu, Tuan Lamban. Meskipun kau luar biasa menyebalkan karena sudah membuatku berharap selama berbulan-bulan aku tetap menginginkanmu.”

“Senang mendengarnya. Aku juga mencintaimu. Karena itulah kuputuskan untuk mengikatmu selamanya dalam hidupku. Kita akan menikah.”

Sora merasakan tangan Donghae di tengkuknya, membuatnya kepalanya mendongak ke atas dan detik berikutnya bibirnya dicium dengan penuh hasrat. Ciuman itu telah menggolakkan darah di seluruh nadinya, membuat suhu tubuhnya naik beberapa derajat dan jantungnya berdebar tak terkendali.

Tuhan, aku akan meledak karena cinta yang diluapkan pria ini.

“Jadi sebenarnya sekarang kau sedang melamarku?” Sora terengah, keduanya sama-sama terengah. Setelah sesi ciuman yang panjang dan menakjubkan, akhirnya Donghae melepaskannya. Jarak di antara mereka masih terlalu dekat.

Seringaian manis khas Lee Donghae itu tersungging indah di sudut bibirnya, “Ya.” Desahnya.

“Ck, sungguh lamaran yang tidak romantis.” Sora mencibir.

Donghae menjauhkan tubuhnya agar bisa menatap Sora lebih jelas lalu memiringkan kepala, “kau benar, tidak ada makan malam, lagu romantis dan sebuah cincin berlian. Tapi meskipun begitu aku tetap peduli pada hasil akhirnya. Kau pasti akan menerimaku, bukan?”

“Kita lihat saja nanti,” Sora memutar bola mata, pura-pura marah. Ia tertawa geli mendengar Donghae mengerang.

“Yak, Min Sora!”

Mereka tertawa lalu berpelukan dan berciuman kembali. Tak ada yang bisa menandingi kebahagiaan yang Sora rasakan hari itu. Ia berharap tidak akan ada apapun yang sanggup merusaknya.

—o0o—

Satu minggu berikutnya adalah satu minggu paling membahagiakan dalam hidup Sora. Untuk pertama kalinya ia tahu bagaimana rasanya dicintai dengan begitu besar oleh seorang pria. Donghae menunjukkan sikap seorang kekasih sejati padanya. Pria itu menjaganya, mendampinginya dan yang pasti, selalu ada untuknya. Mereka mencoba saling mengenal satu sama lain lebih jauh dan kini Donghae menjadi semacam tempat pengaduan yang Sora miliki selain Jeyoung.

“Apa kau pernah jatuh cinta sebelumnya?”

Sora menggeliat tidak nyaman dalam pelukan Donghae ketika kekasihnya itu mengajukan pertanyaan yang aneh. Mereka sedang menonton film bersama di apartemen Sora. Ditemani seember besar popcorn karamel dan bergelas-gelas softdrink Sora bergelung dalam pelukan Donghae, mata mereka semula fokus menonton film kini tak lagi terpaku pada layar televisi. Sora mendongak menatap mata indah Donghae saat tiba-tiba saja pria itu bertanya.

“Maksudmu sebelum denganmu?”

Donghae mengangguk. Ia menyelipkan helaian rambut yang jatuh di sisi wajah Sora ke belakang telinganya. Sikap lembutnya itu menghangatkan hati Sora, membuatnya terlupa bahwa mereka sedang menonton dan lebih memilih menempelkan pipinya di dada Donghae.

“Tidak pernah. Kau adalah pengalaman pertamaku.” Sora mengusap dada Donghae.

“Aku tahu.” ujarnya bangga dengan bibir menyeringai.

“Tapi kau bukan kekasih pertamaku, aku sudah berpacaran beberapa kali sebelum ini.” lanjut Sora membuat seringaian sombong Donghae lenyap.

“Kenapa kau putus?”

“Karena mereka pria brengsek. Beberapa dari mereka kutinggalkan karena berselingkuh.”

“Apa mereka buta? Mengapa mereka berselingkuh sementara mereka memiliki kekasih yang sempurna sepertimu?”

Sora tertawa, “pujianmu membuatku berdebar, Tuan Lee. Tapi sebenarnya aku dicampakkan karena aku tidak bisa memberi mereka sesuatu yang sangat penting. Kau tahu bukan, aku yakin kau tahu.”

“Eum,” Donghae malu menjawabnya. Tetapi kemudian ia merasa marah, “Para mantan kekasihmu itu mengajakmu tidur?”

“Ya.” Aku Sora pilu, ia memeluk pinggang Donghae karena tiba-tiba ia merasa ketakutan. “Salah satu dari mereka bahkan hampir saja—“

“Katakan padaku mereka tidak menyakitimu.” Donghae marah. Ia tidak terima mendengar Sora disakiti meskipun itu hanya masa lalu.
“Apa, tidak. Aku berhasil menjaga diriku. Keesokan harinya aku langsung memutuskannya.”

“Meskipun begitu aku masih ingin menghajar mereka.”

“Tak perlu melakukan itu. Mereka hanya masa laluku. Bukankah sekarang ada kau yang akan melindungiku.”

“Kau benar.” Donghae tidak lagi marah, sikapnya melunak. Ia tersenyum dengan kedua tangan memeluk erat Sora. “Aku tidak akan menyakitimu. Dan eum.. maaf jika sebelumnya aku bersikap seenaknya padamu. Memelukmu sesuka hatiku ataupun menciummu kapanpun aku bisa. Sungguh, aku melakukan itu bukan karena aku terbiasa melakukannya. Semuanya kulakukan karena aku menganggap kau wanita yang sangat istimewa.”

Mereka bertatapan dilatarbelakangi suara televisi, mereka bahkan tidak peduli sama sekali dengan jalan cerita film yang sedang mereka tonton karena tak ada hal yang lebih penting untuk dilihat selain mata masing-masing.

Donghae tidak tahan menatap paras cantik Sora terlalu lama, ia memiringkan kepala lalu mencium Sora. Dalam dan intens. Sora berpegangan pada Donghae dan membalasnya dengan sukacita.

“Kau memaafkanku bukan?”

Senyum di bibir Sora merekah, “tak mudah marah terlalu lama pada pria manis dan tampan sepertimu.”

Donghae tertawa, ia memeluk Sora dengan begitu eratnya karena luapan kegembiraan yang tak terkira. “Kau sangat menggemaskan.”

“Sekarang giliranku.” Inilah saatnya ia mengetahui masa lalu Donghae. Ia menatap kekasihnya itu lekat-lekat. Secara perlahan keceriaan memudar di wajah tampannya.

“Apa kau mau bercerita tentang wanita di masa lalumu, wanita yang membuatmu begitu sulit mengatakan cinta?”

Dunia terasa seperti berhenti berputar. Donghae membeku, bahkan Sora bisa merasakannya. Pelukan Donghae tak lagi hangat dan nyaman.

“Kenapa kau ingin mengetahuinya?”

“Aku penasaran.” Sora sedih melihat Donghae membisu. Apa topik ini masih menjadi topik yang sangat sensitif untuk dibahas?

“Setidaknya beritahu aku siapa wanita itu dan apa yang terjadi sampai kalian berpisah.”

Donghae menggeleng, ia menghindari tatapan Sora. “Kau akan membenciku saat kau mengetahuinya.”

Apakah seburuk itu? “Aku berjanji aku tidak akan membencimu. Kumohon, aku sangat ingin mengenalmu dan kupikir hanya sisi itulah dari dirimu yang kurasa sangat asing.”

Selama beberapa detik Donghae bimbang. Ia gelisah, bergerak tidak tenang dan secara perlahan Sora melepaskan diri dari pelukannya. “Kau berjanji tidak akan berubah saat kau tahu tentang masa laluku.”

“Ya.” Persetujuan itu memicu adrenalin Sora. Secara mental ia menyiapkan diri dari cerita jenis apapun yang akan disampaikan Donghae.

Donghae menghela napas berat. Ia duduk menghadap Sora, raut wajahnya tampak lelah sekaligus sedih, “Jujur saja, saat itu aku masih merupakan remaja bodoh dan polos.”

“Aku ragu kapan kau menjadi remaja bodoh dan polos,” celetuk Sora. Donghae mendengus gemas, “berapa tepatnya usiamu saat itu.”

“17 tahun. Sekarang dengarkan atau aku akan berhenti.”

“Baiklah Tuan-Gampang-Merajuk, lanjutkan.”

“Aku jatuh cinta dengan begitu mudah pada seorang wanita yang secara intens menjadi wanita pertama yang peduli padaku. Dia selalu ada untukku, kapanpun aku membutuhkannya. Mengiburku di saat aku sedih, dan mengajariku menjadi pria dewasa.”

Sora bisa melihat perubahan dalam ekspresi Donghae. Senyum lembut penuh kerinduan yang tak pernah dilihat Sora terukir di bibirnya. Sora berdebar. Kenangan itu, pasti sangat membekas dalam hati Donghae.

“Dia pasti sangat berarti bagimu. Apa kau pernah menemuinya setelah kalian, em, berpisah?”
Donghae tersenyum miris, “selalu.”

Apa? Sora terperanjat. “Benarkah?”

“Aku yakin kau pun mengenalnya.”

Oh tidak ini buruk. Sora merasa bom atom akan meledak beberapa detik lagi. “Siapa?” sekujur tubuhnya menegang.

“Kim Narin, kakakku.”

Dunia hening selama beberapa detik. Sora terlalu terkejut untuk berkata-kata sehingga ia hanya menatap Donghae dengan mata melotot dan mulut terbuka. Ia berharap Donghae sedang bercanda ketika menyebut nama kakaknya.

“Kau pasti bercanda.” Merasa lelucon itu sangat lucu, Sora tertawa. Donghae tidak ikut tertawa ataupun tersenyum. Pria itu memandangnya dengan kedua matanya yang memancarkan aura kesedihan. Sora mencelos, tawa di bibirnya memudar bak asap tertiup angin.

“Aku tahu ini akan terdengar sangat konyol dan bodoh. Tapi aku serius.” Desah Donghae.
Sora gemetar. Ia tak percaya apa yang didengarnya ini bukanlah candaan Donghae. “Tapi kalian bersaudara.”

Kepala Donghae menggeleng, dengan berat hati ia berkata. “Kami saudara tiri. Bukankah aku sudah bercerita ayahku menikah kembali, Narin adalah anak yang dibawa oleh Ibuku saat ini. Dia bukan kakak kandungku.”

Oh tidak.

Jadi ini alasan sebenarnya mengapa Narin begitu membencinya?

Demi Tuhan, mereka pernah menjalin hubungan di masa lalu.

To Be Continued

443 thoughts on “Crazy Because of You (Chapter 7)

  1. omg… narin? Knp musti kknya? huaaa sora harus berhati² dgn narin kalo begitu
    d tunggu next chap nya thor^^
    hwaiting nah^^

  2. hahhh apa ternyata cinta masa lalu donghae itu narin,pantesan ajanarin kaya yang ngga suka sama sora…
    yeeee selamat akhirnya donghae ngga php lagi dan udah berani ngambil keputusan buat nikah.ceritanya makin daebak nih…
    next part di tunggu ya kaka author,fighting

  3. What?????
    Bener2 melenceng dari prediksiku, aku kira wanita masa lalu donghae udah ilang ke luar negri ato apa gitu, trnyata narin.
    Bagus ternayata ff ini bisa buat aku ndak konsen di awal soalnya terlalu berporos pada sikap donghae yg trauma akan masa lalu jdi lupa kalo emang di awal udah ada penjelasan kalo dia hidup dg ibu tiri, tapi bisa aja kan qt berpikir kalo ibu tirinya ndak punya anak sebelumnya….
    Good ndak pernah terbayangkan, daebak…
    Next part lebih seru niiih…

  4. sumpah… ini gila… Donghae pernah deket sama kaka (tiriny) pantesan aja… kok ada yg ngeganjel banget… gk nyangka sumpah…

  5. membuat saya syock jadi wanita itu wanita masa lalu donghar adalah kakaknya kim narin . wanita itu yang srkarang menjadi kakak tiri Donghae .
    oh pantas narin terlihat protektiv .

  6. OMG!!
    Jadi wanita itu narin? Astaga. Jinja! Aku harus mutar kembali cerita mengenai wanita masa lalu donghae. Astaga, ini sungguh ‘menggelikan’ Lee -_-

  7. Udh feeling kalo Narin adalah Kakak Tirinya Donghae,tapi kg pernah menyangka kalo Narin adalah wanita di masa lalu Donghae >_< gw kira Narin suka sama Donghae tapi Donghae'nya kg -_-

  8. Tdak menyangka sma skali ternyata msa,lalunya si dongek sms kakaknya sndri..
    Gak menduga sma skalilah..bner2 bnyak kejutan dipart ini

  9. Ping-balik: REKOMENDASI FANFICTION | evilkyu0203

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s