School in Love [Chapter 25]

Tittle : School in Love Chapter 25
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, School in Love, Friendship

Main Cast :
Bae Suzy |Park Jiyeon | Im Yoona
Cho Kyuhyun | Kim Kibum | Lee Donghae

Support Cast :
Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk

Dha’s Speech :
Maaf lama yah post FFnya. Biasalah kesibukan baru sebagai Ibu rumah tangga ^^
Kalau ada typo anggap saja itu karya seni. Gak perlu ngebashing juga kalau tidak suka dengan ceritanya ataupun dengan pairing dalam FF ini. Jangan ngerusuh okeh, kalau gak suka cukup tekan tombol back kok. ^_^
Percuma saja komen kalau isinya cuma pengen nyinggung perasaan orang. Hehehe. *peace* Lebih mulia menjadi silent reader yang cinta damai. *muah*

Happy reading ^^

School in love by dha khanzaki 9

===o0o===

CHAPTER 25
Finally, The Problems are Solved

“JADI Kyuhyun marah begitu kau menyebut Eunhyuk yang menuduh Kyuhyun bersamamu hanya karena kau mirip Tiffany?”

Jiyeon mengangguk. Latihan rasanya menjadi tidak menyenangkan ketika otak sedang terbebani masalah. Mereka sudah menyelesaikan sesi latihan Judonya sehingga dia dengan senang hati mendengarkan keluh kesah Jiyeon tentang Kyuhyun. Jiyeon berpikir Siwon adalah teman lama Kyuhyun sehingga ia tidak akan keberatan berbagi masalah dengannya.
Sudah beberapa hari ini Kyuhyun tampak tak mau bicara

“Dia tampak keberatan ketika Eunhyuk membandingkanku dengan Tiffany. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya membuat Kyuhyun marah. Jika dia tidak suka menyamakanku dengan Tiffany, seharusnya dia tidak mendingin seperti itu.”

“Sepertinya bukan itu alasannya.” Timpal Siwon. Jiyeon menoleh heran. Pria itu menerawang ke depan, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Apa maksudmu?”

“Sebenarnya, aku juga sependapat dengannya.”

“Setuju bahwa aku mirip dengan Tiffany?” Jiyeon melebarkan mata kaget.

“Bukan soal itu. Sejak dahulu aku selalu merasa hubunganku dengan Kyuhyun memburuk karena campurtangannya. Bukan bermaksud menuduh, tetapi jika dilihat dari kenyataan bahwa Eunhyuk mengetahui apa yang seharusnya tidak diketahui olehnya, sepertinya itu benar.”

“Kau bermaksud mengatakan secara tidak langsung Eunhyuk memanasi pertengkaran kalian dan putusnya hubungan Kyuhyun dengan Tiffany?”

“Aku tidak sepenuhnya yakin. Namun ada Eunhyuk memiliki motif untuk menghancurkan Kyuhyun. Kemungkinan Eunhyuk menyimpan dendam pada Kyuhyun karena Kyuhyun selalu mengalahkannya dalam kategori apapun. Dia berjuang sekuat tenaga untuk menjadi lebih unggul dari Kyuhyun, tetapi Kyuhyun selalu mendapatkan tempat pertama. Coba kau bayangkan, apa yang mungkin dilakukan oleh seseorang yang mendendam?”

Pertanyaan itu membuat Jiyeon berpikir dan sesaat kemudian dia tahu jawabannya, “menghancurkan lawan bagaimanapun caranya.” Ia seketika melebarkan mata.
Astaga.

Siwon menjentikkan jarinya. “Bingo.”

“Setidaknya itu juga yang akan kulakukan jika aku dendam pada orang lain.” Tambah Jiyeon.

“Tapi itu hanya sekedar teori. Aku tidak menjamin Eunhyuk benar-benar melakukannya.”

Benar. Menuduh seseorang tanpa bukti adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab. Tetapi ada satu cara yang bisa dilakukan untuk membuktikan semuanya. Satu-satunya cara adalah bertanya langsung pada orang yang bersangkutan. Jiyeon bangkit.

“Yak, Park Jiyeon!” panggil Siwon melihat gadis itu bergegas pergi.

—o0o—

Sudah hampir satu jam mereka hanya duduk saling berhadapan tanpa mengeluarkan suara. Donghae membisu, hanya menatapi cangkir capuccino yang isinya mulai mendingin. Yoona pun melakukan hal serupa. Diam. Namun ia tak fokus pada minumannya, melainkan memandang Donghae berharap laki-laki itu mau membuka mulutnya untuk bercerita.

Keduanya masih sama-sama keras kepala untuk memulai pembicaraan, terlebih setelah Donghae membongkar rahasianya secara tidak sengaja pada Yoona. Entah apa yang dipikirkan Yoona tentangnya dan Yoona pun tak akan menginterogasi Donghae saat pria itu tak mau bercerita apapun padanya.

“Tak ada salahnya berbagi kesulitanmu dengan orang lain.” Pada akhirnya Yoona harus mengalah dan berbicara lebih dahulu. “Kau tampak seperti bom yang siap meledak kapan pun. Terlalu banyak hal yang kau simpan sendiri hanya akan membuatmu merasa bersalah, tak berdaya, sekaligus marah.” Itulah kesimpulan yang ia ambil dari beberapa hari mengamati tingkah Donghae. Apa sebenarnya masalah yang sedang ia hadapi?

Sesaat Yoona melihat raut wajah Donghae tegang, kemudian pucat pasi. Donghae mengangkat wajahnya. Ia merasa seperti orang lemah yang tertangkap basah melakukan kesalahan.

“Meskipun aku bercerita, itu tidak akan menyelesaikan masalahku.”

“Ya, tapi paling tidak bisa meringankan beban di hatimu, bukan?” Yoona tidak mau kalah. Donghae mendengus karena tidak bisa membalas.

“Jadi kau marah padaku karena aku tidak jujur tentang kemampuan beladiriku?” ia balas menatap wajah cantik Yoona. Gadis itu mengerjapkan mata.

“Bukan itu yang ingin aku dengar. Aku tidak peduli apakah kau bisa bela diri atau tidak atau fakta bahwa selama ini kau menyembunyikan kemampuan menakjubkan itu. Aku hanya heran denganmu yang selalu menyimpan masalahmu sendiri. Bahkan kau pun menutupinya dari sahabatmu. Kau seolah-olah sedang membuat benteng tebal di sekelilingmu agar orang-orang tidak mengetahui siapa kau sebenarnya.” Yoona berhenti sejenak, lelah karena sudah berbicara panjang lebar. Ia mengambil cangkir ice chocolatenya lalu meneguknya hingga tandas. Donghae melongo melihatnya.

“Maaf, aku tidak bermaksud menceramahimu. Aku hanya ingin kau belajar untuk memercayai orang lain.” Yoona terdiam, “tetapi melihatmu akhir-akhir ini aku merasa seperti bercermin pada diriku sendiri beberapa tahun yang lalu. Entah mengapa, tiba-tiba saja timbul dorongan dalam diriku untuk membantumu keluar dari masalahmu.” Ucapnya pelan dan sungguh-sungguh. “Aku tidak mau kau terpuruk dan berkubang dalam rasa bersalah.” Ia kemudian menatap Donghae, “Tetapi jika kau merasa keberatan, aku paham. Setiap orang memiliki alasan untuk menyimpan sendiri masalahnya.”

Donghae bisa menangkap maksud baik Yoona. Sejujurnya ia tak bermaksud membuat benteng tebal di sekelilingnya agar orang tidak mengetahui sisi kelam yang ia sembunyikan. Ia hanya tidak mau orang lain mengasihaninya setelah mendengar ceritanya. Ia menghela napas. Mungkin tak ada salahnya jika ia berbagi sedikit dengan Yoona.

“Kau tahu bukan di sekolah orang-orang menjulukiku prince of school?”

Yoona mengangguk meskipun tidak paham mengapa mereka membahas tentang ini.

“Bagaimana jika kenyataannya aku tidak sehebat itu?”

“Apa maksudmu?” Yoona mengerutkan kening.

—o0o—

Jiyeon mencari-cari Eunhyuk di tempat biasa pria itu berkumpul bersama teman-temannya. Ini sudah malam tetapi ia yakin pria itu masih berada di sana. Ia sudah mencari informasi dari beberapa teman SMP Kyuhyun bahwa Eunhyuk kemungkinan berada di lapangan sepakbola tak jauh dari sekolahnya. Tempat itu sudah sepi, Jiyeon berhasil tiba di sana. Ternyata informasi itu benar. Ia segera mendekati pria itu begitu menemukannya sedang bergurau dengan teman-temannya di tepi lapangan.

“Lee Eunhyuk.” Panggil Jiyeon dengan berani. Eunhyuk belum menoleh sampai salah satu teman menyikutnya.

“Ada seorang gadis mencarimu.”

Eunhyuk menoleh. Dilihatnya Jiyeon berdiri tak jauh darinya. Pria itu tersenyum lalu menghampiri Jiyeon.

“Kyuhyun’s girlfriend, right? Ada perlu apa?”

“Ada yang ingin kutanyakan. Tetapi tidak di sini.” Jiyeon melirik teman-temannya yang memperhatikan. Eunhyuk paham lalu membawanya menjauh ke tempat lain yang lebih tak terjangkau pendengaran teman-temannya.

“Apa masalahmu? Tunggu, biar kutebak. Semua ini tentang Kyuhyun, bukan?”

“Tentu saja. Kau pikir apa lagi.”

“Aish, sudah kuduga.” Eunhyuk menepukkan tangannya. Jiyeon kesal dengan sikap main-main pria ini.

“Aku selalu bertanya-tanya mengapa kau begitu bernafsu mengusik hidup Kyuhyun?” Jiyeon tak mau berbasa-basi lagi. Ia langsung pada inti masalah yang ingin ia bahas.

“Apa maksudmu?” Eunhyuk mengerutkan kening.

“Kau membenci Kyuhyun, benar bukan!”

Eunhyuk mengedip-ngedipkan mata mendengar tuduhan Jiyeon. Pria itu lalu tertawa kencang seolah Jiyeon baru saja berkata bahwa katak bisa terbang.

“Yak! Kau pikir kata-kataku lucu?” Jiyeon sewot. Apa yang diinginkan pria ini sebenarnya? “Cepat jawab pertanyaanku!”

Eunhyuk menghentikan tawanya sejenak, “Menurutmu bagaimana?”

Jiyeon melipat tangannya di depan dada, “Aku yakin benar. Jika tidak, mengapa kau selalu memanas-manasi Kyuhyun tentang Tiffany. Lalu kenapa juga kau selalu membuat Siwon seperti orang yang sudah menghancurkan kisah cintanya?”

Eunhyuk benar-benar berhenti tertawa kali ini. Pandangannya menajam. Gadis ini sudah tahu sesuatu tentangnya dan Kyuhyun, tidak bisa dibiarkan. Jiyeon mundur perlahan merasakan aura dingin menyebar di sekeliling tubuh Eunhyuk.

—o0o—

Kyuhyun merasa tindakannya bodoh sekali. Mengapa ia marah dan meninggalkan Jiyeon begitu saja hanya karena mereka membahas sedikit tentang Tiffany? Tindakannya seperti remaja wanita yang cengeng, sensitif, dan bodoh. Ia adalah pria, mengapa tidak bertindak selayaknya pria?

Karena itukah sekarang ia berdiri di depan rumah Jiyeon? Untuk meminta maaf sekaligus memberinya penjelasan tentang tindakan pengecutnya? Tapi ke mana Jiyeon, ia sudah menekan bel rumahnya beberapa kali tetapi tidak ada respon sama sekali dari dalam. Apa semua orang di rumah ini tidak ada? Aneh sekali, di jam seperti ini seharusnya Jiyeon sudah tiba di rumah. Lalu ke mana perginya gadis itu?

Tiba-tiba ponselnya berdering. Kyuhyun melonjak, mungkin saja itu Jiyeon. Ia tersenyum saat mengetahui dugaannya tepat.

“Kau ada di mana? Aku sedang menunggu di depan rumahmu!” tegur Kyuhyun. Ia kesal sekaligus khawatir karena Jiyeon tidak berada di rumahnya. Keheningan di ujung sana membuatnya mengeryitkan dahi.

“Maaf, aku bukan Jiyeon.” Kyuhyun yang terkejut mendengar suara lelaki segera menatap layar ponselnya kembali. Tidak salah, nama yang muncul memang nama Jiyeon. Tetapi kenapa suara pria yang menjawab. Apa mungkin, Kyuhyun menempelkan ponselnya ke telinga lagi.

“Kau Siwon?” tanyanya ragu. Ia mengenal suara pria itu.

“Ya, benar.”

Kyuhyun terkesiap, “Ke mana Jiyeon dan kenapa kau menelepon memakai ponselnya?”

“Ponselnya tertinggal di dojo karena itu aku meneleponmu. Yah, siapa tahu kau sedang bersamanya. Kukira dia buru-buru pergi karena ingin menemuimu.”

“Jiyeon tidak bersamaku.”

“Apa kau bilang, Jiyeon tidak bersamamu?” suara Siwon terdengar khawatir.

“Kenapa?” Kyuhyun cemas.

“Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir. Tetapi sepertinya Jiyeon pergi mencari Eunhyuk.”

“APA?!” Kyuhyun tanpa sadar berteriak. Siapa yang tidak panik mendengarnya. Ia tahu Jiyeon terkadang bisa menjadi sangat bodoh, tetapi tidak sebodoh itu sampai harus mengorbankan diri mendekati seekor serigala semacam Eunhyuk.

“Mengapa dia mencarinya?!”

“Aku tidak yakin. Tetapi kami sempat membahas tentangnya sebelum dia bergegas pergi. Kudengar kau marah padanya ketika tahu Eunhyuk mengatakan sesuatu tentang Tiffany. Mengapa kau melakukan itu? Kau masih menaruh perasaan pada Tiffany bahkan setelah kalian lama putus? Bukankah kau menyukai Jiyeon?”

Jantung Kyuhyun seperti berhenti mendengar Kyuhyun mengatakan sesuatu tentang dirinya menyukai Jiyeon, “tunggu, kau bilang aku menyukai Jiyeon, bagaimana bisa kau menyimpulkanku menyukainya?”

“Bukankah itu alasan kalian berpacaran?” Siwon diam begitu menyadari Kyuhyun tak merespon kata-katanya sama sekali, “jika bukan itu alasannya lalu kenapa kau menjadikan Jiyeon sebagai kekasihmu? Astaga, Cho Kyuhyun, aku tidak menyangka ternyata kau telah berubah menjadi pria brengsek. Jadi prasangka Jiyeon memang benar, kau menerimanya hanya karena dia mengingatkanmu pada Tiffany?”

Kyuhyun mencengkeram erat ponsel di tangannya. Ia terkejut bukan karena ucapan Siwon tentang Tiffany, tetapi karena jantungnya seolah berhenti bekerja saat ia menyadari sesuatu yang selama ini diabaikan olehnya.

“Bukan, bukan karena itu.” suara Kyuhyun menghilang. Jika bukan itu lalu apa alasan ia memilih Jiyeon dari sekian banyak gadis di sekelilingnya?

Mengapa harus Jiyeon? Apa karena gadis itu menyukainya dan pernah nekat memberinya surat cinta, atau karena mereka menjadi dekat dengan alasan yang sangat aneh; kepadanyalah Kyuhyun meminta maaf untuk pertama kali—seumur hidupnya.

“Tapi sekarang bukan itu hal yang harus kita khawatirkan.” Siwon menyadarkan Kyuhyun dari lamunannya, “kita harus mencari Jiyeon. Jika dia memang menemui Eunhyuk, kita tidak tahu apa yang akan dilakukan pria itu padanya.”

“Sial, kau benar!” Kyuhyun mengutuk. “Pria itu tak pernah berhenti membuat masalah denganku. Sebenarnya apa yang dia inginkan? Apa untungnya dia mengusik hidupku, membuat segalanya menjadi berantakan.” Ia tiba-tiba diam ketika menyadari sesuatu, “jika kuingat-ingat aku baru menyadari bahwa aku bertengkar denganmu karena diprovokasi Eunhyuk. Dia yang memberitahu padaku bahwa kau memiliki surat cinta Tiffany, dia melihat Tiffany memberikannya padamu!”

“Ya Tuhan! Sudah kukatakan berkali-kali, Tiffany tidak memberikannya padaku,aku tidak tahu mengapa surat itu ada di dalam tasku.”

Kyuhyun merenung. Ada yang janggal dengan semua ini. Mengapa ia tidak menyadarinya lebih awal? Tiffany berkata bahwa saat itu dia tidak tahu mengapa surat miliknya ada pada Siwon. Ia terlalu terkejut setelah tahu Tiffany menyukai Siwon sehingga tidak menyimak kata-katanya. Ia lalu memutuskan hubungan mereka setelah lebih dulu bertengkar dengan Siwon karena ia menemukan surat cinta milik Tiffany dalam tasnya. Ia mengira mereka berdua berselingkuh di belakangnya.

“jadi Tiffany tidak menyerahkannya padamu?”

“Cho Kyuhyun? Sampai sekarang kau tidak memercayaiku? Eunhyuk malah berkata dia melihat kau dan Tiffany bertengkar. Karena itu aku buru-buru menemuimu untuk memastikan bahwa kalian baik-baik saja. Ketika aku menemuimu kau sedang memandang surat yang kau temukan di dalam tasku dengan marah. Lalu, kau tahu apa yang terjadi selanjutnya.” Siwon menggeram.

Ya Tuhan. Kyuhyun mengerang. “Eunhyuk sialan, aku akan mencarinya!”

“Tungg—“

Kyuhyun tidak menyimak kata-kata Siwon. Tanpa aba-aba ia memutuskan sambungan lalu berlari mencari Jiyeon. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Eunhyuk pada gadis selemah Jiyeon. Selain itu, ia juga membutuhkan penjelasan dari pria itu.

—o0o—

Jiyeon mempertahankan dirinya agar tidak takut. Ia harus mendesak Eunhyuk agar mengatakan hal sejujurnya.

“Sudahlah, kau tidak perlu berbohong lagi. Apa tujuanmu menyakiti Kyuhyun!”

Eunhyuk tertawa menghina, “Karena dia rival terberatku! Jika dia ada, aku selalu gagal menjadi nomor satu!”

Jiyeon terbelalak.

“Sejak satu sekolah dengannya, aku selalu gagal mengalahkannya dalam berbagai kompetisi, selalu saja dia yang menang dan mencuri perhatian banyak orang. Aku membencinya. Benci ketika dia mengungguliku dalam hal apapun. Yah, kau tahu bukan, dia kaya, pintar, dan semua orang menyukainya. Lalu apa yang tersisa untukku? Siapa yang akan memedulikan aku yang menempati posisi nomor dua. Ah tidak, mungkin nomor tiga setelah sahabatnya Siwon!” Eunhyuk tertawa mengejek.

“Karena itu kau iri? Kau dendam dan ingin membalas Kyuhyun hanya karena dia jauh berada di atasmu?” Jiyeon tak percaya. “Sungguh menggelikan. Balas dendam dengan cara seperti itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang putus asa dan malang.”

Senyum mengejek di wajah Eunhyuk seketika menghilang, kini raut wajahnya berubah mengerikan, “kau mengatakan itu karena kau tidak pernah berada di posisiku. Kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya ketika kau sudah berjuang sampai titik darah penghabisan, tetapi hasil yang kau dapat justru mengecewakanmu. Aku sudah bertahan, mencoba menerima kenyataan bahwa pria menyebalkan itu—Cho Kyuhyun—lebih baik dariku, tetapi kau tahu apa yang dia katakan ketika aku mencoba memberinya selamat? Dia bilang; aku tidak sudi menerima ucapan selamat dari seorang pecundang sepertimu.”

Jiyeon menutup mulutnya. Ia tak percaya Kyuhyun akan mengatakan itu. “Kau bohong. Kyuhyun tidak mungkin melakukannya.”

“Tapi dia melakukannya!” Eunhyuk membentak. “Dia mengatakannya dengan angkuh seolah seluruh dunia telah menjadi miliknya. Sejak detik itu aku membencinya, membenci apapun yang dia lakukan. Aku mencoba menyembunyikan fakta bahwa aku sangat ingin menghancurkannya. Menurutku cara terbaik untuk menghancurkannya adalah dengan berpura-pura menjadi temannya. Meskipun aku muak bersikap baik padanya, aku bertahan. Ternyata memang jauh lebih mudah mengacaukan hidupnya sebagai seorang teman.”

“Apa mungkin kau juga yang membuat Kyuhyun dan Tiffany—“ Jiyeon ngeri ketika menyadarinya.
Eunhyuk menyeringai begitu lebar, puas karena akhirnya Jiyeon menyadari hal itu juga, “lucu juga, yang tersadar lebih dulu justru kau. Kekasih yang ditipunya. Kyuhyun sama sekali tidak tahu. Pria bodoh dan gadis polos itu tidak tahu sama sekali bahwa aku yang memprovokasi retaknya hubungan mereka, begitupun sahabatnya yang sama-sama menyebalkan—Choi Siwon, pria itu percaya saja ketika kukatakan mereka sedang bertengkar. Diam-diam aku memasukkan surat cinta yang kucuri dari Tiffany.” Pria itu terkekeh, “sungguh menyenangkan melihat mereka bertengkar.”

“KETERLALUAN!!” Jiyeon berteriak kencang.

Melihat Jiyeon begitu murka, Eunhyuk semakin bahagia.

“Aku hancurkan segalanya. Aku memanfaatkan Tiffany untuk merusak persahabatannya dengan Siwon. Lihat bukan hasilnya, dia sendirian, terpuruk, dan tak memiliki harapan.” Tawa puas Eunhyuk menggelegar.

Dada Jiyeon seperti dihimpit batu seberat sepuluh ton. Sungguh jahat, bagaimana bisa ada seseorang yang sekejam itu? “Apa kau juga yang menaruh surat itu ke dalam tas Siwon!”

“Tepat sekali. Tiffany terlalu polos, sungguh gadis malang, dia percaya begitu saja ketika Aku mengatakan Siwon menyukainya dan aku tidak menyangka dia benar-benar menyukai Siwon. Sayang sekali, Siwon menolaknya.” Eunhyuk mengendikkan bahu dihiasi tawa geli dan puas, menurutnya hal itu sangatlah lucu.

Tetapi bagi Jiyeon, pengakuan Eunhyuk sama dengan mimpi buruk. Jiyeon menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia ingin menangis, seolah Eunhyuk menujukan kata-kata itu padanya. Ia tidak bisa membayangkan betapa sakit dan sedihnya perasaan Tiffany Hwang ketika mengetahui ia telah dipermainkan. Apa Tiffany sakit kemudian meninggal dunia karena memikirkan hal ini? Siapa tahu, Kyuhyun tak pernah mengatakan apapun tentang Tiffany padanya dan ia hanya tahu sedikit sekali informasi mengenai mantan kekasih Kyuhyun itu.

“Aku benar-benar ingin tertawa setiap kali mengingat kejadian itu. Setelah aku menaruh surat itu di tas Siwon dan aku sengaja memanasi Kyuhyun bahwa gadis yang dicintainya berkencan dengan sahabatnya. Tak lama, mereka bertengkar dan saling membenci hingga—“

PLAKK!!

Jiyeon menampar Eunhyuk sampai kepala pria itu terlempar ke belakang. Ia benar-benar tidak bisa memaafkannya.

“Kau gila! Tindakanmu sudah membuat Kyuhyun dan Siwon bertengkar! Bahkan kau menyakiti hati Tiffany. Siapapun yang dia cintai, Kyuhyun atau Siwon, haruskah kau memanfaatkan perasaan tulus itu untuk menghancurkannya, menghancurkan persahabatan mereka bertiga? Kau benar-benar seorang monster!”

Eunhyuk menggertakan gigi tak terima ditampar oleh seorang perempuan. Tangan Jiyeon berhasil melukai harga dirinya. Dengan satu gerakan cepat ia mencengkeram lengan Jiyeon hingga gadis itu meringis kesakitan.

“Kau, beraninya menamparku!!”

“Kau pantas mendapatkannya!”

Teman-teman Eunhyuk yang sejak tadi memerhatikan dari jauh mulai gusar melihat Eunhyuk berniat menyiksa Jiyeon.

“Eunhyuk, sebaiknya lepaskan saja gadis itu. Waktu kita menyewa tempat ini sudah habis, seseorang akan menyadari kita belum pergi dan akan datang untuk memeriksa kemari. Jika dia melihatmu sedang menyakiti gadis itu kita akan mendapat masalah.” Seseorang menegur. Mereka terlihat cemas.

“Diamlah, aku tahu apa yang kulakukan!” bentak Eunhyuk tidak sabar. Amarah yang ia rasakan sudah sampai puncaknya. Ia masih memegang tangan Jiyeon sampai membuatnya meringis kesakitan sambil memikirkan segala cara untuk memberi pelajaran pada gadis ini. Lebih baik ia memakai cara apa, memukulnya, atau cara yang lebih keji lagi. Eunhyuk merenggut rahang Jiyeon lalu menarik paksa wajahnya mendekat.

Alarm tubuh Jiyeon membunyikan tanda bahaya. Tubuhnya bergerak sendiri karena ia terbiasa dengan serangan tiba-tiba yang sering dilancarkan Siwon saat latihan intensif bersamanya.

Tangannya bergerak mencengkeram lengan Eunhyuk yang memegang wajahnya, ia berputar lalu membantingnya jatuh ke tanah.

Eunhyuk tercengang menyadari detik berikutnya ia sudah terkapar di atas tanah dalam kondisi seluruh tubuh kesakitan. Ia belum sempat mempertahankan dirinya ketika Jiyeon melemparnya menggunakan jurus bela diri yang aneh. Ia yakin itu bukan karate, lalu apa? Judo?

Menyadari teman-temannya menatap mereka berdua dengan terkejut, Eunhyuk buru-buru bangkit. Ia malu sekali karena dikalahkan dengan begitu mudah oleh seorang perempuan.

“Aku tidak tahu kau bisa bela diri, siapa yang mengajarimu, Kyuhyun-mu tercinta?”

“Bukan, tapi Siwon.” tegas Jiyeon bangga ketika wajah Eunhyuk pucat pasi.

“Kau belajar Judo dengannya?”

“Memang kenapa, apa mungkin kau takut padanya atau takut padaku setelah tahu aku bisa beladiri? Aku bukan gadis lemah yang akan menangis dan menjerit menghadapi pria pengecut sepertimu.”

Eunhyuk tertawa karena kata-kata Jiyeon telah menyinggungnya, “kau sungguh lancang. Aku takut padamu? Silakan simpan pikiran itu dalam otakmu. Kau pikir aku takut melawanmu?” Eunhyuk maju. Ia menyeringai, “apa Kyuhyun tidak pernah bilang padamu bahwa aku dan dia berada di klub yang sama saat SMP?”

Jiyeon tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mundur. Eunhyuk menoleh pada teman-temannya meminta bantuan.

“Yak, kalian kenapa hanya menonton saja!”

Teman-temannya ragu-ragu mendekat. Jiyeon langsung mengancam mereka, “berani mendekat aku akan menghajar kalian!” ia tidak tahu darimana datangnya keberanian itu.

“Apa yang kalian lakukan, cepat tahan dia!” Eunhyuk mendorong teman-temannya. Mereka terpaksa menuruti kata-kata Eunhyuk karena pria itu lebih berkuasa di antara mereka.

“Berani kalian menahanku!” kedua lengan Jiyeon ditahan oleh setidaknya tiga orang laki-laki. Jiyeon yang tadinya melawan tetap saja tidak bisa melawan kekuatan anak lelaki. Ia melemparkan tatapan dengki pada Eunhyuk, “dasar pengecut. Hadapi aku sendiri!”

“Menghadapi gadis menyebalkan sepertimu tidak cukup seorang diri.” Eunhyuk mendekati Jiyeon, sekarang ia bisa melakukan apapun pada gadis itu dengan bebas. “bagusnya kuapakan, ya?” ia menyeringai sambil mencengkeram rahang Jiyeon.

Jiyeon tidak bisa melawan kali ini. Eunhyuk menyeringai.

“Kyaaaa…Kyuhyun!!!!” Jiyeon menjerit ketakutan. Apa yang akan dilakukan pria ini Ia memejamkan mata rapat-rapat, tidak siap menerima apapun yang akan dilakukan Eunhyuk padanya.

Tiba-tiba Jiyeon merasa genggaman tangan Eunhyuk di rahangnya lepas diiringi suara pukulan keras. Ketika ia membuka mata, ia mendapati pria itu terkapar di tanah setelah Kyuhyun melayangkan pukulannya tepat di pipi pria itu lalu melepaskan Jiyeon dari teman-teman Eunhyuk.

Hati Jiyeon mencelos saking leganya. Ia tak percaya melihat Kyuhyun ada di sana untuk menolongnya.

“Kyu,” lirih Jiyeon senang. Ia sekarang berada di sisi Kyuhyun.

Kyuhyun mendelik, ekspresinya terlihat tidak senang. “Sebaiknya kau diam, kau akan berurusan denganku setelah ini. Tetapi sebelumnya..” Pandangannya teralih pada Eunhyuk yang berusaha bangkit dibantu teman-temannya. “Aku ingin membuat perhitungan dengan pria itu.” Kyuhyun menderap Eunhyuk, mencengkeram bajunya dengan kencang.

Eunhyuk langsung bertatapan dengan sorot mata dingin Kyuhyun.

“Aku sudah mendengar semuanya. Ternyata memang kau biang keladinya. Aku sempat menduganya, tidak mungkin Siwon dan Tiffany mengkhianatiku.” Ia mengetatkan cengkeramannya di baju Eunhyuk.

“Jika kau tidak suka padaku, katakan dengan jantan!”

Eunhyuk menepis tangan Kyuhyun, “Bagus jika kau sudah menyadarinya.” Tanpa diduga pukulannya mendarat di pipi Kyuhyun, membuat pria itu terdorong jatuh.

Jiyeon menjerit ketika melihat Kyuhyun terkena pukulan.

“Sejak dulu aku ingin sekali menghajarmu, membalas semua hal menyebalkan yang selalu kau tunjukkan di hadapanku. Aku sangat membenci sikap aroganmu hanya karena kau selalu menjadi nomor satu. Aku tak percaya akan terwujud.” Eunhyuk melirik Jiyeon, “bagaimana jika aku melukai kekasihmu lebih dulu.” Dengan langkah lebar Eunhyuk mendekati Jiyeon. Kyuhyun yang melihatnya beringsut bangun dan dalam kecepatan tinggi menghadang jalan Eunhyuk, mencegahnya menyentuh Jiyeon.

“Kau bisa menghajarku, tetapi aku tidak akan mengizinkanmu melukai Jiyeon meski hanya sehelai rambut!” Kyuhyun menatapnya sengit.

Eunhyuk menyeringai, “Baik, jika itu maumu.” Dengan gerakan tak terlihat ia melayangkan tangannya, memulai aksinya menghajar Kyuhyun. Pria itu terdorong mundur menabrak Jiyeon yang langsung memeganginya.

“Kyu..”

“Jiyeon, pergi menjauh!” bisiknya. “Aku bisa menghajarnya sendiri.”

“Tapi..”

“PERGI!!!” Jiyeon langsung melangkah mundur setelah mendapatkan bentakan Kyuhyun.

“Aku tiba-tiba teringat dengan duel itu, kita berhadapan seperti ini dan bertarung untuk menentukan siapa yang akan maju mewakili sekolah dalam turnamen beladiri tingkat nasional.” Eunhyuk menatap dingin Kyuhyun yang sepertinya siap menghadapinya seorang diri.

“Oh, tentu saja kau ingat bahwa saat itu aku menang dan kau menjadi pecundangnya.”

Rahang Eunhyuk mengencang, pria itu marah. “kau pikir aku akan melawanmu seorang diri?” ia memberi kode pada teman-temannya agar ikut membantu.

“Kau tidak bisa melawanku sendiri, aku benar bukan, kau memang seorang pecundang.” cibir Kyuhyun. Ia tidak takut melawan orang-orang pengecut itu.

“Sejak dulu kau memang arogan.” Eunhyuk tersinggung, “kau sangat sok, sombong, dan ahli dalam meremehkan orang lain.”

Eunhyuk menyuruh teman-temannya maju. Mereka menyerang bersamaan. Melayangkan jurus-jurus yang mudah terbaca dari segala arah. Kyuhyun yang sudah terlatih membalas sambil sebisa mungkin tidak menimbulkan luka parah.

Jiyeon panik. Ia kebingungan di tempatnya berdiri. Kyuhyun memang memiliki kemampuan beladiri yang hebat, tetapi jika diserang bersamaan ia tidak yakin Kyuhyun bisa bertahan. Ia merogoh saku jaketnya mencari ponsel. Saat itulah Jiyeon tersadar ia kehilangan ponselnya. Bagaimana ini?

“Mencari ini?” seseorang menyodorkan ponsel padanya.

“Ponselku!” seru Jiyeon gembira. Ia lantas mengambilnya. Pandangannya lalu naik pada seseorang yang mengulurkan benda itu, matanya mengerjap. “Choi Siwon!”

Pria itu melebarkan senyumnya. Ia lalu beralih pada beberapa pria yang sedang berkelahi di depannya. “Sepertinya ada yang membutuhkan bantuan.” Ia mengusap dagunya. Sebelum Jiyeon menjawab pria itu menghampiri Kyuhyun yang sudah terdesak untuk membantunya. Dengan berkolaborasi, jauh lebih mudah mengalahan Eunhyuk beserta teman-temannya. Mereka segera pergi meninggalkan arena setelah di knock out oleh Kyuhyun dan Siwon.

Keduanya kelelahan dan berkeringat. Kyuhyun segera menghampiri Jiyeon yang mulai menangis. Gadis itu merasa sangat khawatir sekaligus lega.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Kyuhyun cemas. Jiyeon semakin sedih saat melihat Kyuhyun terluka di beberapa bagian tubuhnya.

“Maaf, luka-luka ini ada karena diriku..” ia menyentuh wajah Kyuhyun yang sedikit memar dengan hati-hati. Ia merogoh sapu tangan dari dalam tas kecilnya lalu menyeka sudut bibir Kyuhyun yang berdarah. Tangan gadis itu bergetar, begitu pun bibirnya.

“Maaf..ini salahku..” Jiyeon tak kuasa menahan tangisnya lagi.

Sudut hati Kyuhyun tersentuh. Melihat Jiyeon mencemaskannya sampai seperti ini menyadarkannya akan sesuatu. Tiffany tak pernah menangis sampai seperti ini untuknya. Ia hanya melihat Tiffany menangis sebelum gadis itu meninggal, ketika meyakinkannya bahwa Siwon tidak bersalah dan menyuruhnya agar tidak membenci Siwon.

Tiffany menangis untuk Siwon, Tiffany menangis karena Siwon.

Kyuhyun terkekeh dalam hati menyadari bahwa sebenarnya Tiffany memang tidak mencintainya. Tiffany mencintai Siwon. Tiffany menerimanya hanya karena gadis itu tidak ingin mengecewakannya. Jika Tiffany memang mencintainya, gadis itu akan mencemaskannya seperti cara Jiyeon mencemaskannya. Selama ini ia bukannya tidak sanggup melupakan Tiffany, tetapi ia tidak mau mengetahui bahwa sebenarnya ia tak pernah dicintai oleh Tiffany. Ia tidak mau mengakui bahwa penyebab rasa sedih di hatinya adalah karena ia sedang patah hati.

Karena Tiffany, ia membenci setiap gadis yang memberinya surat cinta, tetapi kenapa ia mau menerima Jiyeon? Meskipun ia bersikap dingin, angkuh, tidak peduli dan segala hal menyebalkan lainnya, Jiyeon tetap menyukainya dan mengapa ia tidak keberatan? Mengapa ia tidak sanggup mengusir Jiyeon malah meminta gadis itu tetap bersamanya?

Itu karena Jiyeon datang padanya, membawakan cinta dalam bentuk yang baru. Cinta yang sama sekali berbeda dengan yang pernah ia rasakan pada Tiffany. Jiyeon mengajarinya cara mencintai tanpa syarat. Tanpa ia sadari, kehadiran Jiyeon dalam hidupnya secara perlahan membuat luka di hatinya sembuh.

Mengapa aku begitu bodoh? Sudah saatnya aku melupakan Tiffany.

Kyuhyun memegang tangan Jiyeon, menurunkannya dengan perlahan. Ia menggunakan tangannya yang lain untuk menghapus airmata di pipi gadis itu lalu mengecupnya. Jiyeon mengerjapkan mata, tangisannya terhenti seketika karena perhatiannya kini terpaku pada detak jantungnya yang menggila. Kyuhyun baru saja menciumnya. Apa ia tidak sedang berhalusinasi?

Ketika pandangan mereka bertemu, Jiyeon mengerjap sadar Kyuhyun sedang menatapnya penuh arti.

“Bukankah sudah kukatakan, aku belajar ilmu beladiri agar bisa melindungi orang-orang yang kusayangi.” Bisik Kyuhyun pelan. Kegugupan menyerang Jiyeon. Ia bertanya-tanya apakah saat ini Kyuhyun sedang menyatakan perasaan padanya atau ia hanya salah mengartikan.

“Apa itu artinya kau menyukaiku?” tanya Jiyeon tak percaya. “Bukankah kau hanya menganggapku sebagai pengganti Tiffany?”

“Kau bukan Tiffany, kau Park Jiyeon. Bagaimana mungkin aku menganggap kalian sama.”

“tapi selama ini kau selalu marah setiap nama gadis itu disinggung.”

“Aku hanya belum bisa memaafkan diriku sendiri. Mendengar nama itu otomatis akan mengingatkanku pada penyesalan yang kulakukan.”

“Apa itu?”

“Aku telah menghancurkan hubungan persahabatanku dengan Siwon dan Tiffany. Meskipun ini mungkin karena campur tangan Eunhyuk, tetapi sebenarnya aku bisa mencegah hal itu terjadi. Rasa sukaku membuat hubunganku dan Tiffany berakhir dan rasa cemburuku membuat persahabatanku dengan Siwon hancur. Mengingat kebodohanku itu, aku sangat membenci diriku sendiri dan melampiaskannya pada orang-orang yang ada di sekitarku.”

Jadi itu alasannya mengapa Kyuhyun menjadi sosok yang begitu arogan, pemarah, dan mudah sekali menindas orang?

“Tetapi kau datang padaku, dengan polosnya memberiku surat itu,” Kyuhyun tiba-tiba salah tingkah,

“surat itu membuatku marah karena langsung mengingatkanku pada Tiffany, pada akhirnya sebagai perlindungan diri aku berusaha membencimu. Aku berusaha membuatmu membenciku, tetapi kau tetap bersikukuh menyukaimu. Aku sungguh tidak mengerti.”

Melihat betapa gugup dan gelisahnya Kyuhyun saat menuturkan hal itu, diam-diam Jiyeon tersenyum. Ia tahu ia tidak pernah salah memilih seseorang untuk disukai. Kyuhyun bukanlah pria jahat seperti yang dikatakan Suzy. Sesuatu yang terlihat buruk tidak berarti bahwa itu buruk, bukan.

Jiyeon berdebar karena tiba-tiba saja Kyuhyun menatapnya intens, “ada sesuatu dalam dirimu yang membuatku merasa sangat akrab.”

Hati Jiyeon mencelos, “Jadi Eunhyuk benar, aku memang mengingatkanmu pada Tiffany.”

“Bukan, bukan itu.” tegas Kyuhyun putus asa. Ia sendiri hingga kini belum menemukan apa sebenarnya yang membuatnya merasa bahwa sebenarnya ia sudah mengenal Jiyeon sejak lama.

“Seberapa besar pun aku mencoba mengusirmu, aku justru semakin memikirkanmu. Ini aneh, aku bahkan menginginkanmu berada di dekatku meskipun aku sadar aku tidak memiliki perasaan apapun padamu.” ia diam sejenak lalu memandang Jiyeon kembali meminta jawaban, “apa kau tahu apa arti perasaan ini?”

Jiyeon menelan ludah. Jantungnya berdetak kencang. Apa ia boleh mengatakannya sekarang? “kau menyukaiku.” Cicitnya ragu.

Kyuhyun mengerjap, kaget. “Apa?”

Akhirnya Jiyeon berani untuk mengatakannya dengan suara yang lebih kencang, “Kau menyukaiku, Cho Kyuhyun. Kau mungkin terlalu lambat untuk menyadarinya tapi perasaan aneh yang ada di hatimu adalah perasaan suka.”

Jiyeon begitu takut saat berpandangan dengan raut kosong Kyuhyun. Ia takut kemudian Kyuhyun akan memakinya, menegaskan bahwa kata-katanya tadi hanyalah omong kosong. Ia akan patah hati untuk ke sekian kali.

Tetapi betapa terkejutnya Jiyeon ketika sadar detik berikutnya ekspresi Kyuhyun melunak. Apa arti tatapannya kali ini? Ia berada di antara perasaan takut dan gugup melihat Kyuhyun mulai mendekatkan wajahnya.

“Ya, aku mengakuinya.”

Apa?

Jiyeon tidak yakin dengan yang ia dengar sehingga ia mengeryitkan kening. “Aku mengakui, kau mungkin benar, aku menyukaimu.”

Kelegaan bak air penghilang dahaga memenuhi setiap jengkal tubuh Jiyeon. Ia tak percaya pada akhirnya akan mendengar pengakuan itu dari Kyuhyun.

“Benarkah?” bisiknya, saking terharunya kedua mata Jiyeon berkaca-kaca.

“Apa aku harus mengulanginya?” tegas Kyuhyun dengan kening mengerut. Jiyeon menggelengkan kepala, begitu senang sampai ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Jiyeon memejamkan mata ketika Kyuhyun memiringkan kepalanya. Detik berikutnya material lembut mendarat di bibirnya dalam durasi beberapa detik, mengecupnya dengan intens.

Siwon hanya tersenyum melihat kejadian itu.

Jiyeon merasakan ledakan kegembiraan dalam benaknya. Ia tak pernah menyangka sama sekali bahwa sebuah ciuman bisa menimbulkan sensasi luar biasa seperti ini dan ketika Kyuhyun menjauhkan wajahnya, ia merasa kehilangan.

“Aku mencintaimu, Park Jiyeon.” Kyuhyun mempertegas pengakuannya. Jiyeon tersenyum cerah lalu meraih bahu Kyuhyun, memeluknya dengan erat. Pria itu meringis.

“Yaa, sakit!” meskipun mengeluh Kyuhyun mendapati bibirnya ikut tertawa gembira seperti Jiyeon.

“Ekhem..” Siwon tidak bermaksud mengganggu kegembiraan itu, tetapi ia tidak terbiasa diabaikan. “Kalian tidak melupakanku, bukan?”

Jiyeon dan Kyuhyun kompak menoleh. Mereka mengerjapkan mata melihat Siwon masih berdiri di sana. Ketika mata Kyuhyun bertemu dengan Siwon, tiba-tiba ia merasakan kecanggungan. Jiyeon yang menyadari hal itu langsung melepaskan pelukannya. Ia menyikut Kyuhyun.

“Saatnya kalian berbaikan.” Bisiknya pelan. Kyuhyun mendelik. “You wish!” cibirnya tidak suka. Tetapi Jiyeon tidak mendengarkan. Gadis itu mendorong Kyuhyun sampai pria itu berdiri tepat di hadapan Siwon. Kyuhyun langsung menegakkan diri. Ia tidak bisa membiarkan dirinya tampak begitu lemah. Ia berdehem. Setelah dipikir-pikir, Jiyeon memang benar. Sudah terlalu lama mereka berkelahi dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengakhirinya. Terlebih di saat semua masalah sudah dijelaskan.

“Maafkan aku. Aku tidak bahu bagaimana menjelaskan tentang kesalahpahaman di antara kita. Tetapi aku sangat menyesal sudah menuduhmu yang bukan-bukan. Maaf karena dulu aku tidak bisa berpikir dengan jernih.” Kyuhyun mengulurkan tangannya. Siwon diam sejenak menatap tangan Kyuhyun. Untuk sesaat tampak tidak mau menjabatnya.

“Semudah itu kau meminta maaf setelah memusuhiku sekian lama?” sindirnya dengan alis terangkat sebelah. Kyuhyun tersentak mendengar nada sinis Siwon. sambil mendengus pria itu hendak menarik kembali uluran tangannya saat Siwon tiba-tiba saja menyeringai lebar.

“Aku bercanda.” Ia lalu menjabat tangan Kyuhyun, “Kau tidak perlu memikirkannya.”

Kyuhyun mendengus antara lega dan kaget, “Yang benar saja, pria ini!” tak lama kemudian ia ikut menyeringai dan mereka berbagi tawa bersama. Jiyeon tidak bisa diam saja di tempatnya langsung menggandeng kedua pria itu dengan bangga.

“Bukankah seru jika semuanya berbaikan seperti ini?”

—TBC—

246 thoughts on “School in Love [Chapter 25]

  1. aaaahh thor pliss bgt laah bahagia bgt part ini msalah kyu siwon selesai yaah akhirnya terkuak segalanyaaa
    suzy kibum mana thooorr aduh aku kangen bgt sm mereka.. nasibnya gimanaaa pliss bahagia jg dong
    aduh di tunggu lanjutannya

  2. ahhh akhirnya mereka berbaikan :)) seneng banget akhirnya juga kyuhyun nyatain perasaan yang sebenernya :))) lanjut thor mesih penasaran gmna nasib nya suzy & kibum dan yoona & donghae :)) ditunggu part selanjutnya

  3. Ahhh akhirnya mereka berbaikan juga.. Seneng bngt akhirnya juga kyuhyun nyatain perasaan yang sebenernya.. Lanjut thor masih penasaran gmna nasibnya Suzy & Kibum dan Yoona & Donghae🙂 part selanjutnya Suzy Kibum ya thor

  4. Kyaaa~ author!!! Kenapa moment Suzy-Kibum kaga ada?? Aisshh -_-
    Waaa~ Kyuhyun sudah mengakui kalo dia menyukai Jiyeon, trus udah baikan juga sama Siwon.. Tapi, Eunhyuk gimana tuh? Apa masih ingin blas dendam? Haha :v
    Oiya, next chapter moment Kibum-Suzy bnyakin ya?😀

    Keep Writing Thor!! Ternyata author udah berkeluarga toh? Kirain masih kuliahan gitu hehe😀

  5. Heol.. part ini khusus jiyeon. Ok.. ternyata kyunya kagak peka toh. Mikirnya dia msh suka ama tiffany. Dan hyuk.. astaga. Dia bner2 dendam aya kyu… ok thor.dtggu part slnjutnya. Hwaighting.!!!

  6. eonni,pengakuan cintanya menyentuh sekaleeeeeee~
    akhirnya,cintanya uri Jiyeon terbalaskan. setelah sekian lama ngebaca ini ff dan sempet kesel sama tingkah cast yang aneh-anah tapi serius,ini bener-bener DAEBAK!!!

  7. akhirnya kyuhyun nyadarin juga perasaannya dan ngakuin klau dia mencintai jiyeon,cie cie ini soo sweet banget
    tinggal dua pasangan lagi yg harus nyadarin perasaan mereka.
    okey ditunggu next chapternya eonni🙂
    #HWAITING

  8. Maav yaa kak dha, aku padahal udah baca lama tapi baru ninggalin jejaknya sekarang. soalnya ada masalah dengan email saya yang akhirnya saya harus buat email lagi.
    tapi sekarang mau komen apa juga bingung, soalnya ff nya kakak emang selalu bagus, nggak bisa komentar apa-apa, cuma bisa bilang ff mu emang bagus bgt kak!!!

  9. Satu masalah trselesaikan dan satu couple resmi trbentuk kekeke tgl 2 couple lg nih,part’a suzy kibum bnar2 ga ada eon.dtggu next chap’a

  10. Huaaa akhirnya baikan juga^^ aih makin iri aja sama jiyeon :’) mau dong jadi jiyeon:’D romantis amat yak abang kyu :’D daebak nya^^ makin suka.orang bodoh aja comment ff ini ngebashing, bagus dan nge feel banget:D sampe iri sama jiyeon:’D daebak:)

  11. 1 masalah udah kelar
    tinggal nunggu masalah kedua, yaitu masalahnya dongek
    aku berharap yoona bisa ngebuat dongek cerita, itu aja udah cukup, setidaknya utk sekarang
    trus…hmm aku juga masih nunggu kelanjutan ceritanya kibum sama suzy aaalkk
    gak sabar nunggu next partnya
    jangan lama-lama ya di post next partnya hehe
    hwaiting mbak

  12. Annyeonh eonni!! Aku silent ridernya ff school in love ini^^ hehe, mian eon, gini2 sbnernya aku males ngomen sesuatu. Tapi krn yah..aku ngrsa bersalah, yah akunya ngaku deh skrg klo aku tu silent rider sejati disini :$
    Eon, semua ff yang eonni buat semuanya baguuuuusssss banget. Gak ada yang gak bagus, asli. Tapi mngkin ff pertama2ny eonni masih agak bingung penempatan bahasanya. Tapi skrg wow, kata2 di ff eonni hmpir smuanya kyk puisi. Dan itu yang bkin aku suka.. kata2 yang eonni buat itu mlah bkin aku termotivasi, jdi pngin meluk eonni deh,, *hug*

    Terus berkarya ya eon, lanjutin juga ni ff smpe slsai, cepetin ya..hehe, *maksa*😀

  13. Yee,,sesuai prediksiku kyuhyun sama jiyeon.. lanjut thor..
    Oiya thor,,aku mau nanya shady girl yesung story kok blm keluar..aku tunggu.ya thor..
    Oiya aku juga mau promosi ni,,boleh ya thor hehe..
    Bagi para pecinta ff super junior jangan lupa kunjungi blog kami ya di
    byuwoon.wordpress.com
    Terima kasih..
    Ps : jangan lupa shady girl yesung story nya ya thor..

  14. Next .. Eonn aq ska banget ceritanya..
    Bner bner bca ini smpe berjam jam. Smpe lpa wktu lgi…
    Critanya bgus.. Kisahnya jga..
    Pling ska sma couplenya kibum suzy … Next y eonn
    D tunggu ..🙂
    Maaf komennya d part ini . Abisnya k asikan bca dri chap 1-25..haha
    KEEP WRITING!!

  15. Eeooo~ eonni, sekarang agak lama ya klo update… Humz aq udh kangen nih nunggu kelanjutan ff ini sm dangerous boy, promise, apalagi sma kyuhyun oppa assshhh… Udh kngen bgt dah sm ff yg lainnya juga…
    Moga ajj ntar banyak waktu luang eonni, buat ngelanjut ff nya… Biar cepet baca deh hhihi^😀

  16. Tnyta eunhyuk dalang dr pmasalahan ini.. Syukur deh mslahny udh slsai. N kyu am siwon g slah faham lg. Ikut sng akhrny mrk baikan lg😀

  17. Aigooo masih gak kebayang adegan hyuk, ih dasar penakut! lawan kyu aja gak berani ckckck
    Ciee yang udah baik kan, seneng deh ngeliat nya. makin seneng lagi pas kyu sam jiyeon. aaa sweet nyaa ><
    Tp gmn sama suzy n kibum -____-

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s