School in Love [Chapter 24]

Tittle : School in Love Chapter 24
Auhthor : DHA KHANZAKI a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, School Life, Friendship

Main Cast :
Bae Suzy | Park Jiyeon | Im Yoona
Cho Kyuhyun | Kim Kibum | Lee Donghae

Dha’s Speech :
FF ini akan tamat dalam beberapa Chapter lagi. Maaf kalau ceritanya jelek dan penyelesaian masalahnya tidak maksimal. Aku sudah berusaha. Ngarang cerita itu gampang-gampang susah loh. Kalau tidak percaya, silakan buktikan. *yang merasa author FF pasti ngerti* Heheheheheee ^_^

Happy Reading dan maaf kalau ditemukan banyak typo, tata bahasa yang amburadul dan kurang feel.

School in Love by Dha Khanzaki 8

=====o0o=====

CHAPTER 24
Forgive for Suzy

KIBUM tak bisa berkata apa-apa lagi melihat Suzy digiring masuk ke ruang IGD. Lampu ruangan itu menyala, operasi sedang berlangsung di dalam sana. Ia meraba dinding terdekatnya, lalu jatuh terperosok ke lantai, tubuhnya bergetar hebat. Ia bahkan tidak peduli bahwa bajunya kotor oleh darah Suzy yang tertinggal karena ia sempat memeluk gadis itu sebelum petugas medis datang.

Kejadian itu berlangsung amat cepat. Sampai kini Kibum masih tidak percaya Suzy terluka parah setelah tertabrak mobil. Mengapa ini harus terjadi? Seandainya ia menuruti ucapan Suzy, gadis itu tidak akan berakhir di ruang IGD seperti ini.
Menghadapi situasi mencekam ini sendirian, Kibum merasa sangat tidak berdaya. Ia sudah menghubungi keluarga Suzy dan teman-temannya saat dalam perjalanan kemari. Untuk sementara, ia harus melewatinya sendirian.

Suara derap kaki di lorong sepi itu membuat Kibum mendongakkan kepala. Seluruh keluarga Suzy tiba di saat yang hampir bersamaan. Kibum mengenali wajah-wajah mereka dari foto keluarga yang ia lihat di rumah Suzy beberapa waktu lalu.
“Apa yang terjadi dengan Suzy kami,” ibu Suzy langsung menangis begitu tiba di depan Kibum.
“Dia tertabrak mobil saat akan menyeberang. Dokter sedang menanganinya di dalam.” Jelas Kibum terbata, ia menyalahkan diri atas kecelakaan yang menimpa Suzy.
“Ya Tuhan, semoga dia tidak apa-apa.” wanita itu langsung menghambur ke pelukan suaminya. Ayah Suzy yang baru pertama kali Kibum lihat berdiri di samping istrinya. Minji, adik Suzy memeluk lengan Ayahnya karena ketakutan sementara Seungjo, kakak laki-laki Suzy tidak mengatakan apa-apa. Hanya menatap pintu ruang operasi dengan pandangan khawatir.

Meskipun rasa cemas dan takut belum juga lenyap, Kibum mendesah lega karena ia tidak lagi sendirian. Akan lebih baik jika teman-temannya pun ada di sana. Tak lama kemudian, terdengar derap kaki lain. Kyuhyun, Jiyeon, Donghae dan Sooyoung sampai bersama-sama. Yoona menyusul kemudian di belakang mereka.
“Bagaimana keadaan Suzy?” Yoona langsung mencecarnya dengan pertanyaan bernada panik.
“Ya Tuhan, aku baru meninggalkannya dua jam yang lalu!” Jiyeon sudah berlinangan airmata, merasa bersalah karena tidak memastikan Suzy tiba di rumahnya dengan selamat.
“Semoga dia baik-baik saja.” Donghae berkata, diiringi anggukan setuju Sooyoung.
“Bajumu kotor sekali.” Kyuhyun justru mengomentari hal yang tidak penting. Ia meringis melihat sweter dan kaus Kibum penuh dengan darah.
Kibum menghela napas, “Jangan paksa aku menceritakan apa penyebabnya.”

Udara di sekitar mereka terasa berat dan pengap. Operasi berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Berjam-jam mereka menunggu diluar dalam ketidakpastian. Kebanyakan dari mereka berdoa, ada juga yang merenung seperti Kibum. Jiyeon tak bisa berhenti menangis, Kyuhyun merangkulnya berharap keadaan Jiyeon bisa lebih baik. Sooyoung memerhatikan hal itu, penasaran ia bertanya pada Donghae.
“Gadis yang dipeluk Kyuhyun itu, apakah dia kekasihnya?”
“Memang.” Sahut Donghae ringan. Sooyoung meringis. Ternyata Donghae tidak berbohong tentang hal itu.

Waktu terasa berjalan lambat. Semuanya berharap penantian ini segera berakhir. Berjam-jam kemudian lampu ruang IGD pun padam. Semua orang melompat berdiri melihat pintu ruang operasi terbuka disusul seorang dokter keluar, masih memakai masker yang menutupi mulutnya. Dokter itu tampak lega sekaligus pucat, memberikan spekulasi buruk wajah-wajah cemas di depannya. Membuka masker, dokter itu berkata sebelum dicecar salah satu dari mereka.
“Operasi berjalan sukses dan masa kritis pasien telah lewat.”

Hembusan lega terdengar di mana-mana.

“Apakah putri kami baik-baik saja?” tanya pria tertua di antara mereka, Ayah Suzy. Ketegangan kembali menggantung kala dokter menjawab dengan nada pelan dan serius.
“Pasien baik-baik saja, tetapi karena benturan keras di kepalanya,” dokter itu diam sejenak, rasanya berat mengumumkan hal ini kepada mereka, “saat ini pasien mengalami koma.”

Koma.

Ibu Suzy langsung pingsan sementara yang lain tercengang.

Koma….komaaa…KOMA !!

—o0o—

Berita tentang Bae Suzy yang koma adalah pukulan keras terakhir untuk Kim Kibum. Ia semakin menyalahkan diri atas apa yang terjadi pada gadis itu. Meskipun tak ada yang terang-terangan menuduhnya, Kibum tetap merasa bertanggung jawab. Ia harus mencari cara agar gadis itu lekas terbangun.

Tapi apa?

Apa yang harus dilakukan agar Suzy sadar dari koma?

Kibum memandangi Suzy yang terbaring di dalam ruang rawat melalui jendela pintu. Ia tidak sanggup masuk untuk menghadapi wajah Suzy yang pucat dan terpejam.
“Kau tidak masuk?” pertanyaan Yoona mengejutkan Kibum, ia menoleh.
Yoona tersenyum, memegang sebuket bunga di tangannya. Mereka sama-sama datang untuk menjenguk Suzy. Ini adalah hari ketiga pasca kecelakaan Suzy.
“Aku tidak berani melakukannya,” Kibum tersenyum pahit.

Yoona mengerti. Ia sudah mendengar cerita lengkap tentang kronologi kecelakaan versi Kibum—pria itu terus menyalahkan diri sepanjang cerita dan menuduh diri sendiri sebagai penyebab kecelakaan yang dialami Suzy—Ia bisa melihat segaris penyesalan di mata Kibum. Sama seperti ketika ia harus menerima kematian Ayahnya akibat ulahnya sendiri.

Yoona menatapnya prihatin, “Tidak baik terus berprasangka buruk pada diri sendiri. Aku yakin Suzy juga tidak akan menyalahkanmu.”
“Tetapi semua ini terjadi karena diriku. Seandainya saat itu aku mengikuti apa yang Suzy katakan, dia tidak akan..” tenggorokan Kibum tercekat.
“Cukup. Suzy bisa menangis jika melihatmu seperti ini. Sekarang sebaiknya kau masuk bersamaku.” Yoona membuka pintu lalu melangkah masuk. Kibum tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti Yoona di belakangnya. Ruang rawat itu kosong, tadi Yoona berpapasan dengan ibu Suzy di lorong, wanita itu tampak lelah dan bergumam akan membeli makanan sebentar. Yoona dengan senang hati menggantikannya menjaga Suzy.

Setelah menata bunga ke dalam vas lalu meletakkannya di nakas, Yoona duduk di kursi di samping ranjang.
“Suzy, kau harus cepat sadar. Aku sangat menunggumu membantuku merawat bunga lagi.” lirih Yoona. Ia sedih mengetahui Suzy tak bereaksi. Sudah beberapa hari berlalu sejak kecelakaan itu, keadaannya masih sama. Tak ada perubahan yang berarti. Suzy tetap damai dalam tidurnya.

Kibum sangat berharap datangnya keajaiban. Ia ingin sekali mendengar suara Suzy dan melihat senyumnya. Sekarang ia tak benar-benar peduli jika Suzy melemparkan gerutuan dan ekspresi sinis padanya karena Kibum sangat merindukan Suzy.

Sangat berat mengetahui bahwa gadis yang ia cintai berbaring tak berdaya seperti ini.

—o0o—

Keesokan harinya, keadaan masih belum berubah. Suzy tetap damai dalam tidur panjangnya. Dokter sudah mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan Suzy, namun Tuhan-lah yang menentukan kapan gadis itu akan siuman.

Yoona dan Jiyeon merasa sangat kehilangan atas ketidakhadiran Suzy di hari-hari sekolah mereka. Tak ada teman yang sama seperti Suzy. Kepeduliannya, sifat mudah menolongnya dan rasa humornya yang unik membuat hari-hari Jiyeon maupun Yoona terasa berwarna.

“Em..” Kyuhyun ingin bicara karena melihat Jiyeon tidak bersemangat. Gadis itu memandang ke depan dengan mata kosong. Kecelakaan Suzy membuat Jiyeon maupun Yoona sedih bukan main. Ia melihat Yoona tidak bersemangat di kelas. Apalagi Kibum. Donghae tampak sedih untuk alasan yang berbeda, dan ia tidak penasaran karena pria itu tampak lebih suram akhir-akhir ini.

Mereka pulang bersama setelah kegiatan klub selesai. Kebetulan latihan klub mereka diadakan di hari yang sama. Sejauh ini tidak ada sepatah kata pun yang berhasil diucapkan Kyuhyun. Berkali-kali ia membuka mulut ingin mengatakan sesuatu namun memutuskan diam di akhir usahanya.
“Maafkan aku,” gumam Kyuhyun. Jiyeon menengok. Ia bingung mengapa mendadak Kyuhyun meminta maaf.
“Untuk apa?”
“Aku tidak tahu cara menghiburmu.” Kyuhyun canggung.
Jiyeon membelalakkan mata. “Kau mencemaskanku?”
“Itu karena kau terlihat murung.” Jawabnya kaku. Biasanya Kyuhyun akan mengelak dengan tegas apabila ada seseorang yang mengajukan pertanyaan serupa, tetapi pada Jiyeon ia tidak tega berbohong.

Kebaikan dan kepolosan Kyuhyun berhasil membuat Jiyeon tersenyum. Inilah sosok Kyuhyun yang membuatnya terpesona. Dia bukan pria yang pandai menghibur dengan kata-kata manis. Justru sikap canggung dan acuh tak acuhnya yang selalu bisa membuat Jiyeon merasa gembira.
“Tidak apa-apa. Aku sudah lebih baik sekarang.” ucap Jiyeon riang.
Kyuhyun ikut senang mendengarnya. Memang inilah yang ia tunggu, senyum Jiyeon.
Jiyeon tiba-tiba ragu, “Apa kau selalu melakukan hal yang sama ketika Tiffany sedih?” pertanyaan itu keluar dengan sendirinya tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Kyuhyun kaget mendengar pertanyaan Jiyeon yang sangat sensitif di telinganya.

Apa yang harus dikatakannya tentang ini?

“Sejujurnya, hal yang sama selalu kulakukan saat melihat Tiffany sedih. Gadis itu selalu memikirkan sesuatu secara berlebihan. Dia terlalu peduli pada orang lain sampai tidak memikirkan kesehatannya sendiri.” Kyuhyun terlihat senang saat membicarakan Tiffany. Dari ekspresi itu Jiyeon bisa tahu bahwa Kyuhyun masih menyukai Tiffany dan mungkin kedekatan Kyuhyun dengannya hanya karena dirinya mirip dengan Tiffany.

Mungkin Eunhyuk memang benar, Kyuhyun bersamanya karena ia mirip Tiffany.

“Menurutmu, apa ada sesuatu dalam diriku yang mengingatkanmu pada Tiffany?” Jiyeon bertanya tanpa memandang Kyuhyun. Ia tidak sanggup melihat reaksinya.
“Kenapa bertanya seperti itu? Kau berpikir aku memutuskan bersamamu karena kau mirip dengan Tiffany? Tentu saja tidak!” Kyuhyun terkejut.
Jiyeon mengangkat bahu, “Aku hanya berpikir, selama ini di matamu aku hanyalah Tiffany dalam wujud orang lain. Kau tidak melihatku sebagai Park Jiyeon.” Ia menunjukkan senyum pahit.

Kyuhyun membisu, langkahnya terhenti. Ia merasa aneh melihat Jiyeon tersenyum dipaksakan, hatinya seperti disayat-sayat pisau. Benarkah? Benarkah selama ini Jiyeon berpikir seperti itu? Kyuhyun memang sempat berpikir Jiyeon mengingatkannya pada Tiffany tetapi itu dulu sekali sebelum ia mengenal gadis itu dengan baik.
“Mengapa kau berpikir begitu? Apakah ada seseorang yang mengatakan sesuatu tentang Tiffany padamu?”
“Eh, tidak..” Jiyeon langsung salah tingkah. Ia tidak bisa berterus terang tentang hasutan Eunhyuk. Ia tidak ingin memicu perkelahian apapun.
“Kenapa, katakan padaku.”

Jiyeon belum menjawab. Ia masih mencerna kata-kata apa yang sebaiknya diucapkan. Ia juga masih bingung dengan hal-hal yang membuat Kyuhyun amat membenci Siwon. Entah kenapa, ia merasa ada suatu kesalahpahaman di antara mereka. Ia berjalan dengan linglung.
“A-aku harus menjenguk Suzy.” Putusnya tiba-tiba. Kyuhyun menatap Jiyeon curiga, tetapi ia tak mengatakan apapun.

—o0o—

Eonni, Minji membawa buku yang bagus, Eonni pasti suka,” Bae Minji memperlihatkan sebuah buku pada Suzy yang masih tertidur. Dengan semangat gadis cilik itu menceritakan isi buku yang dibawanya. Namun perlahan-lahan semangat Minji menghilang karena kakak perempuannya itu tidak memberikan respon apapun. Minji mendekat dan memegang tangan kakaknya dengan mata berkaca-kaca.
Eonni kau harus bangun, Eomma bilang tidur lama-lama tidak baik untuk tubuh. Jika Eonni tidak bangun lalu siapa yang akan Minji ajak bermain? Siapa yang bisa Minji ajak bertengkar..” akhirnya Minji menangis. Meskipun Minji sering bertengkar dengan Suzy, namun gadis cilik itu sangat menyayangi kakaknya. Seungjo yang sejak tadi hanya diam memerhatikan langsung menggendong adik kecilnya itu. Ia tak tega melihat Minji menangis.
“Sudah sayang, biarkan kakakmu istirahat. Oppa yakin kakakmu tidak akan lama lagi pasti bangun.”
“Tapi Minji ingin Suzy Eonni bangun sekarang.”
“Untuk sekarang kita biarkan Eonni-mu tidur, oke.” Seungjo mengacak poni adiknya.

Terdengar suara pintu dibuka. Seungjo menoleh. Dari pintu itu masuk Jiyeon, Kyuhyun dan Kibum bersamaan.
“Kibum Oppa!” Minji memberontak dari pelukan kakaknya lalu dengan gembira menghampiri Kibum. Wajah sedihnya sudah lenyap entah ke mana.
“Hello mylittle girlfriend,” Kibum memeluknya. Ia mengerjap melihat bulir-bulir airmata masih tersisa di mata Minji. “Kenapa?”
Oppa, kau harus membantuku membangunkan Suzy Eonni. Minji yakin jika Oppa yang meminta, Eonni akan bangun.” Minji menarik Kibum hingga ke tepi tempat tidur. Jiyeon dan Kyuhyun juga ikut mendekat.

Jiyeon sedih melihat kondisi sahabatnya seperti ini. “Suzy, ini aku Jiyeon. Kau tidak lupa bukan padaku? Aku ingin kau segera sadar agar kita bisa bercanda bersama lagi,” tanpa disadari matanya berkaca-kaca. Suzy terlalu muda untuk mengalami semua ini. Kyuhyun mendekat lalu perlahan melingkarkan tangannya dengan kaku di bahu Jiyeon.

Kibum juga tidak sanggup melihat kondisi Suzy seperti itu. Ia berharap mendapatkan keajaiban yang bisa membuat Suzy terbangun. Jika Tuhan memberinya satu permintaan, maka ia akan meminta agar Suzy disadarkan dari tidur panjangnya.
“Suzy, aku tahu ucapanku tidak mungkin kau dengar. Tetapi kumohon untuk saat ini dengarkanlah aku. Aku ingin kau cepat sadar..” Kibum berbicara dengan suara berat. Kata-katanya tidak keluar dengan mulus. Sampai saat ini ia masih merasa bersalah. Andaikan saat itu ia menuruti Suzy untuk tidak menemui Jiwon…

“Ah, Jiwon!!” Kibum mengerjap. Ia teringat pada gadis yang secara tidak langsung menjadi penyebab konflik di antara dirinya dan Suzy. Ia harus menemui Jiwon. Entah kenapa hatinya yakin Jiwon mungkin bisa membantu. Tanpa mengucapkan sepatah katapun ia berlari ke luar kamar.

—o0o—

Yoona baru saja keluar dari toko buku setelah membeli beberapa cat dan kuas untuk melengkapi peralatan melukisnya yang sudah habis dan rusak. Tanpa diduga, ia berpapasan dengan Donghae.
Ketika mata mereka saling bertatapan, keduanya sama-sama terkejut, tak percaya akan bertemu di tempat tak terduga seperti ini.
“Hai.”
“Apa yang kau lakukan di sini?”

Mereka tersentak karena mengajukan pertanyaan di saat yang bersamaan, lalu salah tingkah. Ini tidak benar, mereka bertingkah canggung seolah baru pertama kali bertemu. Demi mengenyahkan rasa tidak nyaman itu, mereka sepakat jalan bersama-sama menuju bus halte bus yang akan mengantarkan mereka ke rumah sakit tempat Suzy dirawat.
“Sepertinya kau sedang mengalami kesulitan, kuperhatikan akhir-akhir ini kau sering terlihat uring-uringan.” Tanya Yoona sopan.

Donghae tak terkejut mendengarnya karena ia telah mendapatkan pertanyaan serupa dari Kyuhyun maupun Kibum.
“Tidak ada hal yang istimewa. Hanya masalah kecil.”
“Tetapi masalah kecil itu membuat ekspresimu suram, seolah dunia akan berakhir besok.” Yoona tidak bermaksud menyinggung Donghae. Ia begitu menyesal telah mengatakannya ketika menyadari Donghae tampak terpukul. Ekspresinya mengeras, tetapi dia tidak mengatakan apapun. Sebagai bentuk penyesalan, Yoona menanyakan hal lain.
“Apa Sooyoung-ssi baik-baik saja?”

Melirik sekilas ke arahnya, Yoona kembali dibuat terkejut karena ekspresi Donghae menjadi lebih suram lagi. “Maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu.”
“Sooyoung sudah pergi ke luar negeri.” Sahut Donghae dingin, tak memedulikan raut terkejut Yoona.
“Pergi?”
“Ya. Dia sudah kembali ke Swiss.” Donghae tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mengatakan apapun lagi. Auranya semakin dingin dan gelap. Yoona merasa tidak enak hati, apa karena ini Donghae menjadi sedih?
“Kau pasti sedih karena dia kembali.”
“Sebenarnya, lebih baik saat dia tidak ada.”
Yoona menoleh ke arahnya dengan bingung, “apa maksudmu?”

Donghae menghela napas pasrah lalu melirik ke arah lain untuk menghindari tatapan menyelidik Yoona, “tidak apa-apa.”
Keinginan Donghae menyembunyikan masalahnya justru membuat Yoona penasaran, “Sooyoung pernah berkata bahwa seluruh keluargamu ada di Swiss, aku juga baru menyadari kau tidak pernah membahas tentang mereka—“
“Yoon, berhentilah bersikap seperti Sooyoung,” potong Donghae tegas, nyaris membentak. Yoona kini benar-benar tidak mengatakan apa-apa. Donghae menyesal membentaknya, tetapi itu lebih baik daripada Yoona terus mencecarnya dengan pertanyaan mengenai keluarganya, topik yang tidak ingin ia bahas. “Maaf, jika aku terlalu kasar.”
“Tidak masalah, aku juga terlalu lancang.” Yoona diam, sorot matanya meredup. Entah mengapa ia sedih sekali. Bukan karena Donghae telah berkata kasar padanya, tetapi karena ia sadar ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu Donghae.

Setelahnya mereka benar-benar saling diam. Donghae baru merasa sangat menyesal. Ia selalu berjanji tidak akan bersikap kasar pada wanita, tetapi kali ini ia tidak hanya membentak Yoona, bahkan ia membuatnya sedih.

“Aku benar-benar menyesal, Yoon.” Gumam Donghae kaku.
“Tidak apa-apa. Aku hanya merasa kau terlalu membatasi diri. Menurutku tidak masalah berbagi masalahmu dengan orang-orang yang kau percayai. Jika kau menyimpannya seorang diri, masalah itu akan berubah menjadi racun. Aku hanya mencoba membantumu.”
“Aku mengerti.” Donghae merenung. Ia tersentuh dengan niat baik Yoona. Ketulusan dan niat baiknya meluluhkan hati keras Donghae. Ia tiba-tiba saja ingin menceritakan semua masalahnya pada Yoona.

Tidak. Donghae memejamkan mata. Ini bukan masalah besar yang harus ia umbar pada orang-orang. Tetapi, ia akan merasa sangat menyesal jika tidak memberitahu Yoona. Sekarang ia memiliki kesempatan untuk memceritakannya, mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya.

“Aku sudah lama dibuang oleh orangtuaku.”

Yoona terkejut. Pengakuan yang sama sekali tak disangkanya. Ia memandang Donghae tanpa mengedipkan mata. “Dibuang,” lidahnya seperti mati rasa ketika mengatakannya. Ia tak bisa membayangkan di dunia ini ada orangtua yang begitu tega membuang anaknya. “Bagaimana bisa?”
Donghae merenung sesaat, “Aku sudah melakukan sesuatu yang tak bisa dimaafkan, tetapi sejak dulu memang aku selalu mendapatkan perlakuan yang berbeda.”

“Kau sedih karena itu?” Yoona benar-benar prihatin. Ia tidak tahu kata apa yang pas untuk menghibur Donghae. Ya Tuhan, ia tidak bisa membayangkan seorang anak kecil yang diusir pergi dari rumah dan hidup sendirian. Tak heran dia menjadi begitu tertutup.

“Mereka sekarang memintaku kembali.”

“Benarkah?” jawaban yang terlalu spontan dan cepat. Yoona langsung mengatupkan bibirnya lagi. Pipinya merona merah ketika Donghae menatapnya lalu tersenyum geli. Pria itu tersenyum! Melihatnya Yoona lega. “Itu berita bagus. Kau akan kembali?”
Ekspresi Donghae kembali dingin, “Sepertinya tidak.”
“Kenapa?” Donghae tidak sempat menjawab karena ia merasakan aura negatif mendekat ke arah mereka. Kuat, jahat, dan mencekam.

Keduanya kompak menolehkan pandangan ke depan.

Obrolan mereka terhenti. Tanpa diduga sekelompok orang bertampang kejam mencegat langkah Yoona dan Donghae. Keduanya terkejut. Jika diperhatikan baik-baik usia mereka mungkin sekitar 19-20 tahun. Apa masalahnya? Mengapa mereka seolah sengaja mencegat langkah Donghae maupun Yoona? Keduanya tidak merasa mengenal satu pun dari mereka. Tetapi salah seorang yang berdiri paling depan memandang Yoona dengan intens. Perlakuan itu membuat Yoona tegang. Menyadari tatapan itu juga, Donghae berpindah posisi, sedikit lebih depan untuk melindungi Yoona jikalau pria-pria itu ingin menyaktinya.

“Kita bertemu lagi,” ucap sang pemimpin dengan congkak.

Yoona tersentak, karena tatapan pria itu tak berpindah darinya. Dia mengenalku! Siapa dia? Yoona tidak ingat pernah bertemu dengannya.

“Kau gadis nakal itu bukan? Im Yoona si bad girl,” lanjutnya dengan tangan menunjuk Yoona.

Yoona tercengang. Seluruh badannya otomatis gemetar. Bagaimana tidak, sekarang ia ingat identitas orang-orang yang berdiri di hadapannya. Ia pernah bergaul dengan mereka beberapa tahun yang lalu, bersama mereka pulalah ia ditangkap oleh polisi dengan tuduhan penggunaan narkoba.

Sekarang orang-orang itu menemuinya. Mereka pasti telah bebas dari penjara. Apa tujuan mereka mencegatnya adalah untuk balas dendam? Ya Tuhan…
“Jika memang benar lalu apa maumu!” Yoona balas berteriak, membuat Donghae membelalakkan mata.

Orang-orang itu langsung menyeringai sinis.
“Kau benar-benar sudah berubah. Ucapanmu tidak sekasar dulu. Penampilanmu juga tidak seperti dulu.”

Donghae seketika bisa menyimpulkan siapa mereka. Awalnya ia tidak mengerti mengapa mereka mengincar Yoona. Tetapi sekarang ia yakin mereka memiliki sangkut paut langsung dengan kasus yang pernah dialami Yoona. Ia tersentak menyadari Yoona memegang lengan jaketnya, tangannya gemetar.
“Aku ingin membuat perhitungan denganmu!” pria itu mengulurkan tangannya hendak menyentuh Yoona yang ketakutan–refleks mencengkeram lengan Donghae meminta perlindungan. Entah mengapa kali ini keberaniannya lenyap.

Donghae menahan tangan pria itu. Ia marah dengan kelancangannya. Ia dan Yoona boleh saja lebih muda, tetapi bukan berarti bisa ditindas seenaknya oleh orang-orang seperti mereka.
“Jika kau ingin menyentuhnya, langkahi dulu mayatku!” gertak Donghae dingin.

Yoona mengerjapkan mata mendengarnya. Tidak, Donghae tidak boleh terluka hanya demi melindunginya. Donghae tidak mengenal orang-orang ini sementara ia sudah mengetahui mereka dengan sangat baik. Mereka sangat mungkin melakukan kekerasan pada orang-orang yang menghalangi urusan mereka.

Sang pemimpin bersiul, “berani juga ternyata. Apa hubunganmu dengan gadis tengik itu? Kakak, pacar, teman? Jika kau ingin selamat lebih baik kau tidak menggangguku. MINGGIR!!” pria itu mendorong Donghae hingga jatuh. Yoona yang terkejut bergegas menolong Donghae bangun. Namun kemudian ia memekik karena pria itu menjambak rambutnya lalu dengan kasar menyeretnya menjauh dari Donghae. Terkejut, Donghae bangkit untuk menerjang pria itu namun ia langsung ditikung oleh beberapa orang.

“Aku ingin membuat perhitungan denganmu!!” Pria itu mengancam Yoona dengan ekspresi menyeramkan. Yoona tak diberi kesempatan melawan. Kedua tangannya dicekal di belakang punggungnya. Dengan mata berkaca-kaca ia melirik pada Donghae yang balas menatapnya. Sorot mata pria itu memancarkan ancaman. Dia sedang berusaha melepaskan diri sampai harus ditahan oleh lima orang sekaligus. Donghae memekik ketika salah satu dari mereka meninju perutnya.

Jangan lukai Donghae, kumohon. batin Yoona sedih. Donghae tidak seharusnya mengalami ini. Jika ia tidak bertemu Donghae hari ini, pria itu tidak akan kesakitan.

“Kau dengar aku atau tidak, HAH!!” Pria itu menarik rambut Yoona karena ia mengabaikan ucapannya.

“Apa salahku?” Yoona meringis.
“Kau! Kenapa kau bisa bebas sementara kami semua dipenjara! Kau sama bersalahnya dengan kami, kau sama kotornya! Apa hanya karena kau berasal dari keluarga kaya?”
Bukannya ketakutan Yoona justru mencibir, “Ayahku mempekerjakan pengacara terbaik, tentu saja aku bisa bebas. Lagipula, bukankah kalian memang terbukti bersalah!”

“WANITA JALANG!” dengan murka pria itu menarik rambut Yoona begitu kencang sampai Yoona menjerit kesakitan. Dia dan teman-temannya tertawa.

Donghae luar biasa marah melihat mereka bertingkah semena-mena. Ia sudah tidak tahan lagi.

“Apa yang sebaiknya kulakuan, ah, kau juga harus merasakan penderitaan kami selama di penjara!” Pria sinting itu tiba-tiba mencekik Yoona. Yoona meronta-ronta sesak napas. Ia tak kuasa lagi memberontak. Jalan tempat mereka berada adalah kawasan yang sepi sehingga tidak ada seorang pun yang melihat atau menolong Donghae dan Yoona.

Ini sudah keterlaluan! Donghae memutuskan inilah saat yang tepat untuk gunakan kemampuannya. Hanya dengan sedikit gerakan, ia berhasil melepaskan diri, maju sebelum orang-orang yang menahannya mencekalnya kembali lalu memukul pria yang menyakiti Yoona tanpa ragu hingga jatuh terjungkal di tanah.

Teman-teman pria itu tercengang. Tak ada satu pun dari mereka yang berani maju untuk membalas Donghae.

“Kau tidak apa-apa?” Donghae menghampiri Yoona. Gadis itu mengangguk sambil memegangi lehernya. Jika Donghae tidak menolongnya beberapa menit lagi, Yoona yakin ia sudah tak bernyawa di tangan pria tadi—yang ternyata bersungguh-sungguh ingin membunuhnya.

“Jangan bantu aku!!” teriak pria itu geram saat teman-temannya mendekat untuk membantunya berdiri. Dengan kesal ia merenggut tongkat baseball yang dipegang salah satu temannya lalu menderap menghampiri Donghae untuk membalas dendam.

Yoona yang melihat pria itu mengangkat tongkat untuk memukul Donghae memekik. Tetapi bahkan sebelum Yoona menjerit, Donghae sudah menyadarinya. Dengan gerakan tak terlihat pria itu berbalik lalu menahan tongkat yang terhuyung tepat sebelum mengenai kepalanya.

“Beraninya kau ikut campur!” marah karena Donghae berhasil lolos dari ayuhan tongkatnya, pria itu melayangkan pukulan menggunakan tangannya yang lain. Gagal, karena Donghae kembali menahannya. Kini kedua tangan mereka sama-sama terkunci. Ia terkejut karena pria yang sebelumnya ia kira lemah bisa menandingi kekuatannya, yang mana membuatnya merasa terancam.

Pria itu memberi kode pada teman-temannya untuk menyerang. Yoona mundur ketakutan melihat Donghae diserang secara bersamaan. Ia harus melakukan sesuatu untuk menolong Donghae tetapi jika ia menggunakan kemampuan beladirinya, ia cemas Donghae akan balik takut padanya.

Ah, itu tidak penting! Yang paling utama sekarang adalah keselamatan mereka berdua.

Saat Yoona siap menyerang, langkahnya terhenti. Ia tercengang karena Donghae sekarang sedang menghajar mereka!
Ia tercengang.
Astaga, pria itu bisa beladiri juga!
Dengan sigap dan cekatan Donghae membalas setiap serangan, membuktikan bahwa kemampuan beladirinya bukan pada tingkat rata-rata. Dalam sekejap, musuh berjumlah sepuluh orang itu terkapar di tanah tanpa bisa melakukan perlawanan lagi.

“Jika kalian tidak ingin berakhir di pemakaman, lebih baik kalian pergi dari hadapanku sekarang juga dan jangan pernah sekali-kali kalian menampakkan diri di depan Yoona lagi!” ancam Donghae tegas. Mereka langsung bangkit dan lari kalang kabut. Donghae menghela napas lega. Begitu berbalik, ia terkejut karena Yoona memandangnya tidak percaya.

“Kenapa wajahmu begitu?”

Yoona mendekat dengan mulut gemetar, “kau bisa beladiri.”
Donghae tidak bisa membalas kalimat itu. Tiba-tiba saja ia gugup dan kebingungan. Bagaimana ia menjawabnya. Ia tidak bisa berbohong. Yoona sudah melihat semuanya.
“Itu tadi..” Donghae diam sejenak, membuat Yoona tidak sabar menunggu apa yang akan dikatakannya.

—o0o—

“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Kyuhyun bertanya saat mereka pulang setelah menjenguk Suzy. Jiyeon tak bereaksi. Sebenarnya ia lupa dengan apa yang ingin diucapkan olehnya. Jiyeon berpikir. Apa yang akan ia katakan?
“Jiyeon, kau mendengarkanku bukan?” sekali lagi Kyuhyun memastikan apakah Jiyeon mendengarnya atau tidak. Jiyeon mengerjap karena akhirnya ia menemukannya. Bukankah sebelumnya mereka sedang membahas tentang Tiffany?

“Aku sebenarnya ingin mengatakan bahwa kau dan Siwon tidak seharusnya bermusuhan. Salah satu dari kalian harus berbicara. Aku yakin ada kesalahpahaman di antara kalian yang perlu diluruskan. Pertengkaran kalian sedikit tidak wajar, seperti diprovokasi pihak luar.”

Kyuhyun mengerutkan kening. “Seingatku bukan masalahku dengan Siwon yang sedang kita bicarakan. Ini tentang kau yang mirip dengan Tiffany. Siapa yang sudah meracunimu.”

Oh dear, mengapa Kyuhyun sulit sekali dialihkan?

“Itu,” Jiyeon gelagapan. Jika ia menyebutkan nama, ia takut akan memicu perselisihan.
“Siapa Jiyeon, katakan padaku.” Kyuhyun mulai kesal. Ia tidak suka bermain petak umpet seperti ini.
Jiyeon mengerut takut juga di bawah pelototan Kyuhyun, dengan canggung dan ragu ia menjawab, “E-Eunhyuk,” cicitnya.
“Dia?!” emosi Kyuhyun membara begitu mendengar nama Eunhyuk disebutkan. Sejak mereka di sekolah menengah pertama, ia dan Eunhyuk memiliki hubungan yang tidak harmonis. Selalu terjadi perselilihan di antara mereka. Seringkali Eunhyuklah memulai pertikaian lebih dahulu. Di hadapan Kyuhyun pria itu bersikap baik tetapi di belakang ia tahu Eunhyuk mencibirnya habis-habisan.

Entah apa tujuan Eunhyuk menghasut Jiyeon dengan segala hal tentang Tiffany, tetapi pria itu jelas ingin menghancurkan dirinya.
“Aku tahu dia pelakunya.” Kyuhyun mengepal erat tangannya.
Jiyeon tersentak, “Kumohon jangan salah paham! Bukankah kau bilang aku memang tidak mirip Tiffany. Kau tidak perlu menemuinya untuk membahas perkara ini.” ia memohon dengan sungguh-sungguh.

“Ini sudah keterlaluan!” Bentak Kyuhyun marah, mengabaikan Jiyeon. “Aku curiga, mungkin dia juga yang sudah membuat hubunganku dan Tiffany hancur berantakan.” Kyuhyun membalikkan badan lalu pergi. Jiyeon memandang kepergian Kyuhyun dengan hati yang remuk. Kyuhyun marah bukan karena Eunhyuk menghasutnya, tetapi karena Eunhyuk menyangkut-pautkan Tiffany dengan hubungan mereka sekarang. Kyuhyun masih memiliki perasaan untuk Tiffany. Buktinya pria itu marah ketika menduga kehancuran hubungan mereka dikarenakan Eunhyuk.

Astaga, itu belum tentu benar.

—o0o—

Kibum menunggu Jiwon di depan rumahnya. Tujuannya bukan untuk menuruti permintaan Suzy, melainkan untuk meminta gadis itu datang menjenguk Suzy. Mungkin suara Jiwon bisa membangunkan Suzy. Karena itu Kibum diam di depan pagar, terus menunggu. Ia tidak yakin apakah Jiwon sudah tiba di rumah atau belum, ia juga sudah menekan bel berkali-kali tetapi tidak ada satu pun yang menjawab.

Rumah itu sepi.

Ke mana para penghuni rumah? Kibum baru akan menekan bel kembali ketika ia melihat bayangan Jiwon muncul di tikungan ujung jalan. Seperti menemukan oase di tengah gurun, Kibum tersenyum begitu lebar. Ia sangat lega melihat kedatangannya.
“Kim Jiwon!” karena terlalu gembira ia berteriak begitu kencang sampai membuat gadis itu melonjak kaget.

Jiwon melebarkan mata melihat sosok Kim Kibum berdiri di depan rumahnya, melambaikan tangan dengan antusias padanya. Jantungnya seketika berdebar kencang. Ia terkejut setengah mati. Ia sempat mengira pemandangan Kibum berdiri di depan rumahnya hanyalah ilusi mata karena Kibum tidak mungkin ada di sana, tetapi ketika mendengar pria itu memanggilnya sekali lagi, Jiwon tersenyum lebar. Ia tidak sedang bermimpi.
Kibum tidak menunggu Jiwon tiba di depannya, pria itu justru berlari menghampiri Jiwon. “Akhirnya, sejak tadi aku menunggumu.” Cerocosnya dengan napas tersengal.

Masih tak percaya Kibum bicara padanya, Jiwon melongo seperti orang idiot. Dalam hati ia merasa sangat gembira mengetahui Kibum sengaja datang mencarinya.
“Ada perlu apa?”
“Bisa kita bicara?”
“Apa yang ingin kau bicarakan?” Jiwon tak bisa menahan dirinya sendiri, ia tersenyum senang.
“Ini tentang Suzy.” Kibum agak ragu mengatakannya. Ia khawatir pembicaraan ini akan mengarah pada suasana yang lebih buruk. Benar saja, senyum Jiwon lenyap.
“Tentang?” tanya Jiwon dengan nada dipaksakan.

Kibum mengusap tengkuknya, “Kau dan Suzy bersahabat bukan?”
Jantung Jiwon berdebar kencang. Ia tidak bisa menebak arah pembicaraan ini. Gadis itu mengangguk kaku. “Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku?” pertanyaan yang membuat Kibum gelagapan.
“Begini, aku ingin kau berbaikan dengan Suzy. Apapun masalahmu dengannya dahulu, kumohon maafkan dia. Suzy sungguh menyayangimu.”
Jiwon membelalakkan mata. Apa yang baru saja didengarnya? Jadi Kibum jauh-jauh datang kemari untuk membuatnya berbaikan dengan Suzy. Dia datang demi Suzy, bukan untuk menemuinya. Suzy pasti yang menyuruhnya.

Sialan. Emosi Jiwon terbakar laksana bara api di perapian. Jika Kibum menemuinya hanya untuk omong kosong semacam itu, lebih baik ia tidak bicara dengannya sama sekali.
“Jika keperluanmu sudah selesai, aku akan masuk sekarang.” Jiwon pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Kibum keheranan dan tidak mengerti.
“Apa kesalahan Suzy benar-benar tidak termaafkan?” serunya membuat Jiwon berhenti berjalan, tepat saat sebelah tangan itu menyentuh pagar rumahnya.
“Kalian bersahabat bukan? Apa persahabatan kalian hanya sebatas itu? Apa kau tidak pernah berpikir bagaimana perasaan Suzy? Dia sangat menyesal, apapun kesalahan yang dia lakukan dulu padamu.” lanjut Kibum.

Tak pernah. Jiwon memang tak pernah memikirkannya. Untuk apa, toh rasa sakit hatinya pasti lebih perih dibandingkan rasa penyesalan Suzy.
“Kau tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan, Kim Kibum. Kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya dikhianati oleh sahabat sendiri. Kau tidak pernah tahu!” gadis itu susah payah menahan agar emosinya tidak meledak.
Fine. Aku memang tidak tahu. Tetapi kau juga tidak tahu betapa sakitnya hatimu karena penyesalan yang tak termaafkan? Kau juga tidak tahu bukan rasa sakit karena permintaan maaf yang tak pernah diterima?”

Jiwon tercekat, tidak bisa membalasnya. “Kau menyukai Suzy?” karena terdesak ia justru mengajukan pertanyaan yang tak disangkanya. Kibum tidak menunjukkan ekspresi terkejut sedikitpun.
“Tentu saja. Dia kekasihku.” Jawabnya mantap.
“Suzy mengatakan kau bukan kekasihnya. Jadi siapa sebenarnya yang bohong?” Jiwon kesal. Ia merasa dipermainkan oleh mantan sahabat dan pria yang dicintainya. Ia memutuskan benar-benar pergi karena Kibum tidak membalas kata-katanya.
“Jiwon, tunggu!” Kibum berlari menahannya. “Kumohon, temui Suzy sekarang. Dia benar-benar ingin meminta maaf padamu.” ia diam sejenak. Menyiapkan mental karena ia akan mengatakan hal yang selalu membuatnya ingin menangis, “Suzy kecelakaan. Dia koma.”

Sekujur tubuh Jiwon membeku mendengarnya. Pandangannya teralih cepat ke wajah Kibum. Mencoba mencari tahu apa Kibum sedang mencoba membodohinya atau tidak. Kata-katanya barusan lebih tepat disebut lelucon.
“Kau serius?”
Kibum menundukkan kepala sebentar lalu menatapnya kembali, sorot matanya meredup. “Aku tidak sedang bergurau, Jiwon. Suzy benar-benar terbaring di rumah sakit. Keadaannya sekarang sangat kritis.”
Jiwon tidak merespon. Gadis itu tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia seperti kehabisan tenaga. Berita ini, bagaimana pun membuat seluruh tulangnya melunak sampai ia harus berpegangan pada Kibum agar tidak terjatuh.
“Jiwon, apa sekarang kau bersedia menjenguknya?”
Gadis itu tetap tak merespon. Ketika ia sudah mendapat kekuatannya kembali, ia melepaskan diri dari Kibum. Tanpa memandang pria itu lagi Jiwon membuka pagar lalu menghilang ke dalam rumahnya, meninggalkan Kibum yang tercengang seorang sendiri.

Ya Tuhan, Jiwon tetap tidak luluh meskipun ia sudah memohon seperti ini?

~~~TBC~~~

224 thoughts on “School in Love [Chapter 24]

  1. Baru nemu ni ff, penasaran eh jadi baca deh.. Ffnya seru+ringan+asyik gk terlalu berat. So, aku ingin baca ff eonni yang lain.. Yang School in Love ini FF yang pertama aku baca ^^

  2. omoo jiyeon tersakiti terus, kyuhyun plinplan dia suka jiyeon apa tiffani sih-_-donghae kauu sangat mengagumkan(y) sungguh penyesalan.knp datang terakhir sih?-_-keep strong kibum, jiwonn kau haruss denger perkataan kibum luluh.lah luluh lahh, cepeet sadar yaa suzy
    next nya jngn.lama lama.yaaa eonnn;3.

  3. Suzy KOMA…Kibum GALAU again…daebak!!!…
    untung otakx Kibum jln ke Jiwon…smoga suzy sdr stelah ketemu Jiwon…amin!!!
    Dan eonni mohon jgn lama GALAUx Kibum…kasian..hehhehe..
    Ditunggu next part…fighting!!!

  4. Huaaa jiwon masih ga mau ngakuin kalo dia juga peduli sama suzy, keep strong suzy
    Lanjutannya ffnya dong thor ditunggu ya ^^

  5. Jiyeon kyuhyun masih demen cekcok tntang tiffany,gara2 bang kunyuk nih tp kyu’a jg sih blm bs lpas dr ms lalu.
    Donghae yoona msh gantung bgt ya ,aih sbnar’a mreka sling suka ga sih?kgak nyangka bang ikan jago bgt beladiri. couple yg stu ini sama2 jagoan wkwkwk
    kibum suzy gmana ya?kesian suzy’a napa dbkin koma eon.tp klo aku jd jiwon mgkin aku jg bkal susah maafin suzy.knpa kibum ga ngjelasin smua’a aja sih biar jiwon agak luluh gt.tp ky’a jiwon sdkit luluh itu msuk rumah mgkin mau ngambil tas trus pergi ke RS kali ya.

  6. Aisshh dasar raja evil, kapan dia sadar sih??
    apa di rukiyah dlu ya wkwkwk
    Omo kasian Kibum galau sangattt!! Ishhh jiwon, maafin suzy ngapa. nnti kamu nyesel loh kalo suzy kenapa” nnti nya.
    Haee Daebakkk ihh bisa berantem😛

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s