Crazy Because of You [Chapter 6]

Tittle : Crazy Because of You Chapter 6
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance

Main Cast :
Min Sora | Lee Donghae

Dha’s Speech :
Maaf jika postingnya lama. Akhir-akhir ini kesehatan aku sedang terganggu. Part ini pun diselesaikan mumpung badan lagi fit. ^^

Hati-hati Typo dan happy Reading

Crazy because of You by Dha Khanzaki 1

=====o0o=====

CHAPTER 6
Last Choice

HENING.

Sora semula membayangkan kencan bersama Soohyun ini akan menyenangkan. Namun berkat Donghae, ia tidak bisa memusatkan perhatian seutuhnya pada pemuda baik itu. Sepanjang perjalanan menuju restoran yang akan mereka kunjungi, ia terus berdiam diri. Soohyun pun tidak berinisiatif mengajaknya bicara. Sora menghargai keputusan Soohyun mendiamkannya karena ia membutuhkan waktu untuk berpikir.
“Aku mencintaimu.”
“Aku tak pernah memikirkan perasaan lain selain cinta saat bersamamu. Karena itu kumohon jangan tinggalkan aku.”

Kedua mata Sora memejam rapat kala kata-kata Donghae menggema seperti teriakan yang menggaung di bukit-bukit.

Kenapa?

Sora menyesal sekali mengapa Donghae baru mengatakan pengakuan yang ia tunggu itu di waktu yang tidak tepat seperti ini. Di saat ia memutuskan menyudahi harapannya dan membuka kesempatan untuk pria lain, Donghae datang menawarkan harapan itu. Menoleh pada Soohyun yang sibuk menyemudi di sampingnya, Sora pun tak bisa menutupi rasa simpatinya untuk pria yang satu ini.
Soohyun adalah pria yang luar biasa baik, pengertian, gentleman, dan serius ingin menjalin hubungan dengannya. Pria ini dengan sopan dan luar biasa menawarinya cinta. Pria ini menghiburnya dan membuatnya bahagia. Bagaimana bisa Sora tega menolak tawaran cintanya?

Ya Tuhan! Sora meremas tangannya dengan frustasi.

Menetapkan hati, Sora memutuskan tetap pada keputusannya melupakan Donghae. Pria itu adalah masa lalu. Ia tidak akan membiarkan hati kecilnya goyah. Ia tidak mau terjerumus pada jurang yang penuh penantian menyesakkan dan harapan kosong.
Sekarang ia harus fokus pada Soohyun. Sekarang ia harus belajar mencintai Soohyun.
Sora menguatkan tekad.
Lalu mengapa ia tidak merasa bahagia?

—o0o—

Kim Soohyun menghentikan mobilnya. Mereka sudah tiba di tujuan. Ia melirik Sora dengan ragu, gadis itu masih melamun. Ia tidak suka kesedihan tampak dalam wajah Sora dan ia ingin menjadi pria pahlawan yang mengusir ekspresi tidak menyenangkan itu. Tetapi ia ragu.
Pengakuan Donghae membuat Sora goyah, Soohyun yakin.

Ketika mendengar Donghae—akhirnya—menyatakan cinta, Soohyun didera ketakutan luar biasa bahwa Sora akan meninggalkannya. Ia sempat yakin Sora akan berlari ke pelukan pria itu lalu membatalkan kencan mereka. Karena itu ia begitu senang mendengar Sora menolak Donghae lalu mengapit tangannya. Sora telah memilihnya. Rasanya seperti segala mimpinya telah terwujud.
Tetapi melihat raut sedih Sora dan kediaman gadis itu sepanjang perjalanan, kegembiraan Soohyun perlahan-lahan menguap. Ia bertekad tidak akan menyerahkan Sora. Malam ini harus ia manfaatkan sebaik-baiknya untuk mengikat gadis ini.
Untuk pertama kalinya, Soohyun memberanikan diri menggenggam tangan Sora. Sentuhan itu membuat Sora terhenyak dari lamunannya lalu menoleh, wajahnya memerah melihat ia menggenggam tangannya.

“Kita sudah sampai.” Bisik Soohyun lembut.

Sora mendongak lalu meringis menyadari mereka akan makan malam di restoran di dalam hotel milik keluarga Donghae.
“Aku tahu tempat ini kurang menyenangkan bagimu.” Lirih Soohyun yang bisa memahami arti ekspresi ngeri Sora, “Apa kau ingin mengganti tempat, sebuah tempat yang tidak ada hubungannya dengan Lee Donghae?”

Sora menoleh cepat padanya, merasa bersalah. “Tidak, bukan begitu.” Ia menggigit bibirnya, “Aku tidak masalah, tapi hotel ini adalah milik keluarga Donghae. Aku takut bertemu dengannya di sini.”
“Oh,” Soohyun paham sekaligus terkejut. Ia baru mengetahui bahwa ini adalah hotel milik keluarga pria itu. Ia kira Sora sedih karena restoran itu memberinya kenangan buruk tentang Donghae.
“Apa kau ingin pergi ke tempat lain?”
“Apa?” Sora tergagap. “Tidak perlu. Aku tidak mau Donghae menghancurkan malam kita.” Malam kita? Sora meringis setelah mengatakannya. Tetapi rupanya perumpamaan itu menghibur Soohyun, ekspresi sedih yang membuat Sora tidak tega mengubah tempat kencan mereka perlahan memudar digantikan senyum menawan. Pria itu tampak puas. Tentu saja, Soohyun sempat ketakutan Sora akan langsung memintanya mengganti tempat. Ia sangat menyukai restoran ini.
“Baiklah kalau begitu.”

Sora membiarkan Soohyun menggandengnya ketika mereka berjalan memasuki lobi restoran. Ia sudah bertekad akan mengubah malam ini menjadi malam peringatan dimulainya hubungan cinta dengan Soohyun, sebagai cara untuk melupakan Donghae seutuhnya. Pada langkah pertamanya memasuki restoran itu, tekad Sora hancur seperti tembok yang terhantam bom napalm.
Karena detik itu juga, pikiran Sora langsung dipenuhi semua hal tentang Lee Donghae.

Seperti diteror, Sora seakan-akan melihat sosok Donghae di mana-mana. Bayangan ketika pertama kali mereka bertemu, terproyeksikan dengan jelas di hadapan Sora seolah ia melihat adegan itu secara langsung. Sora langsung memalingkan pandangan ke arah lain dengan panik.
Jantungnya berdebar kencang.

Ya Tuhan, ia berbaik hati ingin melupakan pria itu, tetapi kenapa hati dan pikirannya kembali pada Donghae?

Pikirkanlah Soohyun! Sora memarahi dirinya sendiri. Soohyun adalah pria terbaik untuknya, yang tidak akan menyakitinya seperti Lee Donghae. Tanpa disadari mereka telah tiba di meja yang telah dipesan sebelumnya. Soohyun dengan sopan menarik kursi untuknya. Sora tersenyum manis—sangat dipaksakan—sebagai bentuk terima kasihnya. Begitu pantatnya menempel di kursi, pikrian tentang Lee Donghae melayang masuk kembali ke dalam otaknya.

Oh Tidak.

“Apa yang ingin kau pesan?” suara Soohyun menyentaknya. Ia buru-buru mengambil menu yang disodorkan pelayan lalu membacanya dengan bingung. Apa ia benar-benar menginginkan makan malam ini? Mendadak Sora ragu.
“Aku hanya ingin puding.” Sora menggigit bibirnya. Entah kenapa ia ingin sekali makan malam ini usai. Ia hanya ingin pulang dan tidur. Donghae terus datang menghantuinya, bagaimana bisa ia berkonsentrasi sepenuhnya pada Soohyun?
Soohyun terkejut, “Kau tidak memesan makanan utama?”
Mendongak, Sora lagi-lagi tidak tega membuat Soohyun sedih. Ia memutuskan memesan makanan utama juga, setelah itu barulah Soohyun tampak rileks.

Selagi mereka menunggu, Soohyun menceritakan banyak hal mengenai dirinya. Tentang keluarga, sekolah, hingga bisnis yang sedang ditekuninya bersama sang Ayah. Sora menjadi pendengar yang baik, namun hatinya tidak tersentuh sama sekali. Tidak seperti Donghae saat ia mendengar kata-kata apapun yang diucapkannya.

Aku mencintaimu.

Jantung Sora berhenti berdetak. Suara Donghae mengganggu konsentrasinya. Sora mengerang, ingin sekali menutup telinganya dengan kapas sebanyak mungkin.

Kumohon izinkan aku damai. Aku ingin membuang cintaku untuk Donghae lalu membuka hatiku untuk pria lain.

Namun semakin bulat Sora menolak suara hatinya, semakin keras suara itu menggema. Canda tawa Donghae, kata-kata manisnya, rayuan tak sengajanya, semuanya bercampur baur menghangatkan hati Sora. Ia menatap nanar meja.
Soohyun bisa melihat kegelisahan Sora. Sesungguhnya ia merasa sedih. Tetapi bagaimana lagi, ia harus bersabar jika ingin mendapatkan gadis ini. Ia mengulurkan tangan melewati meja untuk menggenggam tangan gadis itu.

Sora langsung terkesiap.

“Kau tahu, tujuanku membawamu kemari karena aku ingin mengakui sesuatu.”
“Apa?” sekuat tenaga Sora berusaha menampilkan senyuman alami karena entah mengapa ia takut sekali mendengar apa yang akan Soohyun katakan.

“Aku mencintaimu.”

Sekujur tubuh Sora langsung tegang dan ia tidak bisa menyembunyikannya kali ini. Soohyun bisa melihat keterkejutan di wajahnya dengan jelas sehingga pria itu melanjutkan dengan nada sedih, “Aku tahu kau akan terkejut mendengarnya. Namun aku memang berniat mengatakan itu padamu dan aku tak pernah menyangka Donghae akan mendahuluiku.”
Sora tak berucap, bahkan bergerak pun tidak. Ia tercengang, tak percaya akan mendengar kata itu dua kali dalam satu malam saja. Sebenarnya semalam ia mimpi apa?
“Tapi aku sungguh-sungguh, Sora. Aku sempat takut kau akan meninggalkanku saat mendengar Donghae menyatakan cinta dan aku sungguh bahagia menyadari kau menolaknya dan memilih bersamaku.” Soohyun menatap mata Sora dengan lembut, membuat Sora berdebar-debar, “Alasanmu bersamaku karena kau memilihku, bukan?”

Soohyun memohon. Mulut Sora tiba-tiba kering. Apa yang harus ia katakan?
“Aku ingin menjalin hubungan serius denganmu,” Soohyun tertawa kecil, “Aku terkejut dengan perasaan yang berkembang untukmu. Kau benar-benar telah mempesonaku, Min Sora. Dengan cara yang tak pernah kuduga.”

Sora tersipu, namun ia diam. Tepatnya ia bingung bagaimana harus bereaksi. Soohyun selalu membuatnya tersanjung dan bahagia. Namun, kesenangan itu tidak berhasil menyentuh hatinya. Di tengah kebimbangannya, pelayan datang membawa pesanan mereka, menata dua piring makanan di atas meja lalu mengundurkan diri secepat mungkin. Sora masih terdiam, memandang kosong makan malamnya.
“Aku memberimu kesempatan berpikir.” Soohyun tersenyum, melepaskan tangan Sora—diam-diam gadis itu menghela napas lega. “aku berharap kau bersedia mempertimbangkan tawaranku.”
“Terima kasih,” Sora akhirnya berhasil menemukan suaranya. Ia tersenyum penuh terima kasih, mengambil sendok lalu mulai menikmati makanannya.
Nah, ini adalah kesempatan yang bagus untuk melupakan Donghae. Terima saja Soohyun, pria itu pasti menjanjikan kebahagiaan untuknya.

Sora mulai gelisah. Ia tidak menikmati makanannya karena pikirannya sibuk mengelana untuk menemukan jawaban. Sesekali ia melirik Soohyun, pria itu tampak rileks, menikmati makanannya dengan santai dan wajah ceria. Sepertinya dia sangat yakin Sora akan menerimanya.
Kenyataan itu malah membuat Sora panik. Apa yang harus ia lakukan? Tak pernah Sora sebimbang ini seumur hidupnya. Apa ia benar-benar menginginkan hubungan baru dengan Soohyun? Pria itu baik dan bisa membahagiakannya.

Namun..

Sora tetap tidak bisa menepis Donghae dari pikirannya. Kenangannya bersama pria itu selama ini membekas di hatinya dan tidak akan mudah hilang hingga seribu tahun lagi. Ia mencintai pria itu sejak pandangan pertama. Mengagumi dan memujanya, membutuhkan kehadirannya seperti ia membutuhkan oksigen untuk bernapas.

Kenangan demi kenangan indah muncul silih berganti. Masih ingat bagaimana perasaannya ketika mereka pertama kali bertemu. Ia bahagia. Hingga detik ini ia tak pernah menyesal mencintai pria itu. Donghae sangat baik, perhatian, dan luar biasa menyenangkan. Di luar ketidakmampuan pria itu menyatakan cinta, Sora tetap menyukai Donghae apa adanya.
Lalu apakah sekarang ia bisa menggantikan semua hal indah itu dengan hubungan yang lebih pasti bersama Soohyun? Apa ia harus memilih bersama Soohyun meskipun cintanya untuk Donghae masih hidup?

Sebulir airmata jatuh ke punggung tangan Sora diiringi isakan pelan. Soohyun terperanjat kaget melihatnya menangis.
“Apa yang terjadi?” tanyanya panik.
Sora menggeleng, “Aku tidak bisa.” Lirihnya perih. Soohyun tertegun, tidak mengerti apa yang Sora bicarakan.
“Aku tidak bisa menerima cintamu, Soohyun-ssi.” Sora tersedak kata-katanya sendiri. Ia tercekat ketika mengatakan itu. Soohyun tercengang, tubuhnya diam membatu laksana patung. Bahkan tangannya yang hendak mengulurkan saputangan terhenti di udara.
“Jadi pada akhirnya kau tetap memilih pria yang sudah menyakitimu?” Soohyun tercekat.
“Aku tidak bisa melupakan semua kenanganku bersama Donghae begitu saja.” isak tangis Sora semakin kentara, beberapa orang mulai tertarik menoleh ke arah meja mereka.

“Tidak masalah bagiku, asal kau mau bersamaku. Kau bisa melupakan Donghae perlahan-lahan. Aku berjanji akan menghapus semua sakit di hatimu karena Donghae.” Janji Soohyun begitu lembut dan jujur sehingga memesona wanita manapun. Namun Sora justru merasa janji itu sebagai beban yang menyakitinya.
“Aku tidak bisa menyakitimu.” Sora menggeleng keras. “Aku tidak mungkin mempermainkan pria baik sepertimu. Maaf jika keputusanku membuatmu sakit hati, tetapi aku wanita yang tidak layak untukmu. Aku yakin di luar sana masih banyak wanita yang bisa mencintaimu sepenuh hati, seseorang yang tidak akan membagi hatinya dengan pria lain.” Ia bangkit, membungkukkan badan.
Soohyun hanya menatap Sora tanpa mengedipkan mata, sorot matanya memancarkan luka. Sora sungguh menyesal, tetapi ia tidak bisa menipu dirinya sendiri lebih dari ini. Jika ia memutuskan menerima Soohyun, ia akan menderita. Menyesal karena mempermainkan perasaan pria itu dan perasaannya sendiri.
“Kau akan pergi?” bisik pria itu terpuruk.
“Maafkan aku.” Sora menundukkan kepala sekali lagi lalu pergi melesat melintasi ruangan.
Soohyun menatap Sora dengan perasaan sedih yang tak terbendung lagi. Ia menatap nanar makan malam Sora yang tidak habis. Dengan tangan lunglai ia merogoh saku jasnya lalu mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil, membuka lalu menatap benda berkilauan di dalamnya.
Jika Sora menerimanya, ia berniat menyematkan cincin ini ke jari manis gadis itu.
Soohyun sangat yakin ia tidak akan ditolak.
Namun ternyata cincin ini tak pernah ditakdirkan melingkar di jari Sora.
Gadis itu tidak mencintainya.
Kotak itu ditutupnya dengan sedih dan ia menatap kosong ke depan. Kisah cintanya berakhir dengan tragis malam ini.

—o0o—

Tak pernah ia merasa malam sedingin, sehening, dan sepengap ini sebelumnya. Meskipun sekarang ia berada di tempat terbuka dengan angin malam yang menerbangkan rambutnya, Donghae mendapati paru-parunya sesak dan sakit.
Donghae patah hati untuk kedua kalinya dan kali ini, sakit yang terasa lebih menyengat, menusuk, dan kejam. Entah sudah berapa lama ia berdiri di depan gedung apartemen Sora berharap gadis itu kembali untuk mengatakan padanya bahwa dia mencintainya juga. Bermenit-menit berlalu Donghae sadar itu hanya khayalannya saja.
Sora tidak akan kembali padanya.
Gadis itu telah menolaknya dan pergi sambil mengapit tangan pria lain.
Tentu saja, gadis mana yang sanggup bertahan pada hubungan yang tidak pasti? Ia telah menggantungkan perasaan Sora sekian lama, membuat gadis itu berharap pada sesuatu yang semu, menyakiti hatinya, dan membuatnya menangis. Mencampakkan adalah satu-satunya balasan yang setimpal untuk pria brengsek dan pengecut sepertinya.

Rintik hujan yang turun dan beberapa detik kemudian menjadi hujan deras menyadarkan Donghae bahwa tidak ada gunanya lagi ia berada di sana. Dengan lunglai dan putus asa Donghae masuk ke dalam mobil, kembali ke apartemennya. Sesekali dalam perjalanannya, Donghae berpikir mencelakai dirinya sendiri. Ia tidak sanggup merasakan sakit seperti ini lagi. Dahulu ia pernah ‘mati’ karena perasaan semacam ini. Keputusan sang ayah menerbangkannya ke Amerika-lah yang membuatnya kembali ‘hidup’.
Sekarang ia tidak tahu obat apa yang ia butuhkan untuk melenyapkan sakit ditambah penyesalan ini. Mungkin mati adalah jawabannya. Tetapi kemudian berkelebat bayangan Sora sedang tersenyum, seketika Donghae sadar niatnya sangat keliru. Ia mengurungkan hati mengakhiri hidupnya. Mencengkeram kemudi mobilnya erat-erat, ia berusaha sebisa mungkin tiba di apartemennya dengan selamat.

Satu-satunya yang ia butuhkan sekarang adalah tidur. Donghae tak bergairah ketika ia memasuki pintu lift. Gairah hidupnya sudah hilang separuh. Ia yakin esok ia akan tampak menyerupai mayat hidup.

Ting.

Lift berdenting, Donghae melangkah keluar setelah menghela napas berat. Lorong yang mengantarkan ke pintu apartemennya terang benderang dan sepi dan Donghae amat sangat terkejut ketika ia mengangkat pandangannya ke depan, ia melihat sosok itu berdiri di depan pintu apartemennya dalam kondisi basah kuyup.

Min Sora.

Seluruh aliran darah di tubuhnya seperti tersendat, mulutnya kelu dan napasnya menjadi terputus-putus. Sora tak menyadari kehadirannya, gadis itu berdiri di sana dengan gusar, sesekali menekan bel lalu melirik ponselnya dengan cemas.
Kemudian detik ketika Sora menyadari kehadirannya, gadis itu menoleh. Pandangan mereka saling mengait satu sama lain dan Donghae merasa gagal jantung. Ia tak berkedip sekalipun takut sosok Min Sora yang kini ditatapnya hanyalah fatamorgana.
“Donghae Oppa..”
Gadis itu baru saja menyebut namaku! Donghae merasakan aliran kegembiraan menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat napasnya terasa lapang dan jantungnya kembali memompa darah ke seluruh tubuh.
Sora kembali ke sini! Alangkah bahagianya Donghae menyadari fakta itu.

—o0o—

Sora tak tahu apa yang harus ia katakan pada Donghae. Pria itu tak berkomentar apapun setelah ia dengan perasaan malu sekaligus gelisah menyapanya. Ia takut Donghae akan membencinya setelah ia menolak pria itu dengan kejam.
“Apa yang kau lakukan di sini, bukankah kau seharusnya sedang kencan dengan Kim Soohyun?” oh bisakah kau hanya tutup mulutmu dan bergembira dengan kehadirannya! Donghae memaki diri sendiri dalam hati setelah sadar ia mengucapkan pertanyaan itu dengan nada sinis.

Tersentak, Sora menatap lantai dengan gugup. Apa itu adalah ucapan tersirat bahwa Donghae sedang mengusirnya? Ya Tuhan, jika Donghae membencinya lalu apa yang ia lakukan? Ia sudah mempermalukan diri dengan datang kemari.
“Kencan itu sebenarnya gagal,” Sora merona malu. Apa ia hentikan saja sebelum Donghae menertawakannya? Ia melirik dan benar, pria itu menyunggingkan senyum—sinis.
“Kenapa, apa Soohyun kurang memuaskanmu?”
Apa artinya itu? Sora tersentak. Pria ini marah. Jelas sekali Donghae murka karena mengira ia kemari setelah ia sadar Soohyun tidak memenuhi kriterianya.
Aku akan ditolak dan dipermalukan. Sora ingin sekali menangis. Tetapi ia menguatkan tekad bahwa ia akan mengakui perasaannya atau ia akan dihantui perasaan cinta tak terbalasnya terhadap Donghae.

“Tidak, sama sekali bukan itu.” tenggorokan Sora tercekat, ia susah payah menyusun kata-kata untuk diucapkannya pada Donghae, “Menyadari perasaanku padamu tidak pernah terbalas, aku berpikir mencoba menyukai pria lain. Soohyun adalah pria yang sangat baik dan aku yakin aku bisa mencintainya. Tetapi, tetapi..” tak peduli kedua matanya berkabut, Sora tetap menatap Donghae. Pria itu tercengang.
“Aku tidak bisa melupakanmu. Perasaan cinta yang tumbuh selama aku mengenalmu tidak bisa kuhapus begitu saja. Akan sangat kejam bagi Soohyun jika aku tetap memaksakan diri mencintainya karena aku tidak bisa memberikan hatiku pada pria lain selain dirimu.”
Donghae tersentak, seperti mendengar bahwa dunia akan kiamat besok rona wajahnya menjadi sepucat mayat.
Sora tidak peduli seandainya Donghae akan tertawa terbahak-bahak lalu balik menolaknya dengan cara yang lebih kejam lagi. Ia hanya ingin mengatakan isi hatinya. Karena itu Sora membulatkan tekad, memandang Donghae yang masih terkejut dengan tulus dan sungguh-sungguh.
“Aku mencintaimu, Lee Donghae.”

Selama beberapa detik tak ada suara yang terdengar selain detak jantung yang bertalu semakin kencang dan kencang lagi.
“Kau telah memikatku sejak pertama kali kita bertemu, tetapi aku terlalu pengecut untuk mengakuinya.” Hati Sora mencelos melihat Donghae masih tak bereaksi, membuatnya sangat yakin bahwa ia akan kembali ke apartemennya dalam keadaan patah hati. “Maaf karena telah melukaimu dengan kata-kata penolakan yang begitu kejam sebelumnya. Aku tidak sepantasnya berharap kau akan menerimaku. Itu saja yang ingin kusampaikan, aku akan kem—“
Sora tidak menyadari ketika Donghae melesat begitu cepat ke arahnya, memeluknya dengan posesif lalu mengurungnya di dinding. Ia hanya menyadari kini Donghae sedang menciumnya dengan membabi-buta.
Pikiran Sora macet. Ia tak diberikan waktu untuk mencerna apa yang sedang terjadi. Ciuman Donghae membuatnya terlena dan lupa pada dunia sehingga ia tidak menyadari bahwa secara perlahan ia mulai membalas ciuman Donghae. Gairahnya meledak.
Donghae melepaskan ciumannya, mereka saling pandang dengan napas terengah-engah, “Jangan pernah berpikir aku akan membiarkanmu pergi setelah ini, sayang.” Donghae menciumnya lagi, kini dahi mereka saling menempel, “Aku sangat senang kau kembali.”
Bisikan itu begitu lembut, menggetarkan, seperti api yang menghangatkan seluruh tubuhnya yang menggigil kedinginan. Sora mendapati rasa bahagia membuncah di hatinya. Ia mendesah begitu lega. Ia tidak tahu harus menangis atau tertawa mengetahui Donghae tidak mencampakkannya.
“Oh dear,” Sora memeluk Donghae, airmata bahagia berlinangan di matanya, “Aku sempat berpikir kau akan menendangku.”
Donghae memejamkan mata, balas memeluk Sora seolah itu adalah satu-satunya benda yang bisa membuatnya tetap hidup. “Tidak mungkin sayang, kau tahu aku sangat mencintaimu. Aku justru merasa penolakanmu adalah hal yang pantas kudapatkan untuk kelambananku menyadari perasaan cinta ini.” ia tidak ingin melepaskannya seandainya ia tidak ingat bahwa seluruh tubuh yang didekapnya basah kuyup. Ia pun baru menyadari Sora mulai menggigil.
“Ya Tuhan, bodohnya aku.” Donghae melepaskan Sora, memegang wajahnya dengan hati-hati seraya mengamati kondisinya. “Wajahmu pucat sekali. Ayo hangatkan dirimu di dalam.” ia buru-buru membuka pintu apartemennya lalu mengajak Sora masuk.

—o0o—

Keadaan apartemen Donghae masih sama seperti yang terakhir kali ia lihat. Sora duduk di kursi tinggi di depan meja bar menunggu Donghae membawakan baju ganti untuknya. Ia tidak menyangka akan berakhir di sini, kenyataan bahwa cintanya tidak lagi bertepuk sebelah tangan membuat semburat merah muncul di kedua pipinya dan ia mulai tersenyum malu seperti orang gila.
“Kau tahu, melihatmu tersipu seperti itu adalah hal terbaik yang kusaksikan di dunia ini.”
Sora melonjak, hampir terjatuh dari kursinya karena Donghae muncul dengan tiba-tiba. Sontak ia malu karena tertangkap basah sedang melamunkan hal yang tidak-tidak.
“Kau mengagetkanku.”
Pria itu menghampirinya dengan senyum memikat yang membuat jantungnya berdebar kencang. Hasrat dan perasaan yang sama seperti saat ia pertama kali bertemu dengan Donghae.

“Mandilah dulu lalu untuk sementara pakai ini. Aku sudah menelepon butik langgananku agar membawakan baju ganti untukmu.” Donghae mengangsurkan sebuah kamisol dan celana pendek. Sora menerimanya dengan kikuk. “kamisol itu milik kakakku yang tertinggal,” tambahnya menyadari Sora menatap baju berenda itu dengan curiga.
Sora langsung lega, “Terima kasih, tapi kau tidak perlu membelikanku baju baru.”
Donghae tiba-tiba mengelus pipinya dengan lembut, Sora mengerjapkan mata. Pria itu bergumam tulus, “Tidak masalah, sayang. Bukankah sekarang kita resmi menjalin hubungan?”
Kedua pipi langsung Sora memanas seperti ketel uap, “Kau pikir begitu?”
“Tentu saja. Aku mencintaimu, kau mencintaiku. Mulai saat ini kau adalah kekasihku.” Donghae menatapnya seduktif, Sora tiba-tiba gugup sekali ketika wajah kekasihnya menunduk seperti ingin meraup bibirnya. Refleks Sora menutup mata.

Donghae menahan senyum melihat ekspresi Sora. Sebenarnya ia hanya main-main, ingin tahu bagaimana reaksi Sora. Melihatnya begitu gugup memicu meluapnya rasa sayang Donghae, yang justru membuatnya ingin menggoda Sora sekali lagi.
“Sebaiknya kau segera mandi atau kau akan masuk angin atau..” Donghae tersenyum polos, “Kau ingin mandi bersamaku?”
“Apa, TIDAK!!”

Sora menjawab begitu keras, cepat dan panik. Tubuhnya tersentak ke belakang seolah-olah Donghae ingin menularinya virus berbahaya. Donghae langsung tertawa. Sepertinya kata-kata usil tadi mengingatkan Sora pada kenangan mandi bersama mereka ketika berlibur ke Hawaii.
“Aku hanya bercanda, sayang. Sekarang kau bisa berhenti mencengkeram bajumu.” Ucapnya geli. Sora mengerjap, ia sadar sejak tadi ia mendekap baju di depan dadanya seerat mungkin berharap benda itu menjadi tameng kalau-kalau Donghae menyerangnya tiba-tiba. Donghae begitu ceria dan santai, yang membuat Sora sadar pria itu hanya sedang menggodanya.
“Aku akan mandi.” Dengan perasaan malu dan pipi yang memanas, Sora bergegas lari ke kamar mandi.
Donghae tertawa lagi, kini lebih lepas dan bahagia. Ia begitu lega dan bersyukur karena tidak perlu merasa tercekik lagi karena patah hati. Sora sudah bersamanya, gadis itu mencintainya dan Donghae berjanji akan mempertahankan Sora sekuat tenaga. Ia tidak akan membiarkan Sora lepas lagi dari dekapannya.

—o0o—

“Menginaplah di sini, kumohon.” Donghae meminta dengan tulus ketika mereka selesai menyantap makan malam. Tadi selagi Sora mandi, Donghae dengan baik dan perhatian menyiapkan makan malam untuk mereka berdua, hanya menu sederhana, tetapi Sora sangat menikmatinya. Bahkan ia merasa tak ada makanan yang lebih lezat dari omelet keju yang dibuat Donghae.
“Itu tidak mungkin.” Sora sangat terkejut. Ia melirik ke sekitar apartemen dengan gusar, “Kita hanya berdua di sini.”
“Tapi sekarang sudah larut dan di luar hujan deras, aku tidak yakin bisa mengantarmu dengan selamat hingga tujuan.” Donghae menggenggam tangannya. Sora langsung merasa hangat.
Sejujurnya ia tergoda dengan tawaran Donghae. Membayangkan tidur dalam pelukan pria itu, rasanya pasti sangat nyaman dan hangat. Tetapi ia tetap harus pulang. Meskipun mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih tidak berarti Donghae bisa memperlakukannya ‘semena-mena’.
“Aku bisa pulang dengan taksi.”
“Memakai baju seperti ini?” Donghae langsung menjatuhkan pandangan pada atasan dengan tali bahu tipis dan celana pendek yang hanya menutupi pahanya sepanjang lima centi, pria itu menggertakkan gigi lalu menggeleng dengan tegas. “Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu. Kau tetap harus menginap.”
“Tapi,” Sora kembali bimbang. Sebenarnya masih banyak wanita berbusana lebih minim dari yang ia kenakan, tetapi mengingat tindak kejahatan di malam hari akhir-akhir ini semakin meningkat, Sora harus memikirkan ulang niatnya. Bagaimana jika Donghae benar, seseorang akan menyerangnya selagi ia naik taksi, sendirian dan tak bisa melakukan perlawanan. Sora bergidig ngeri. Menghela napas pelan, dengan berat hati ia menerima usulan Donghae.
“Baiklah. Aku akan menginap.”
Donghae mendesah lega, seringaiannya merekah, “Aku akan tidur nyenyak malam ini.”
Sora mengerutkan kening, apa arti seringaiannya itu?

—o0o—-

“Aku bersedia menginap bukan berarti kita tidur satu ranjang!”

Sora langsung menatap ngeri ranjang king size yang terbaring megah di tengah kamar Donghae. Pria itu menyeringai, tanpa malu-malu menariknya duduk di atas ranjang empuk. Ia gemas sekali melihat Sora berdiri kaku di ambang pintu, kaget sekaget-kagetnya setelah ia berkata bahwa mereka akan tidur di ranjang yang sama.
“Dengar—“
“Memang apa yang terjadi dengan kamar tidur tamu?” potong Sora antara gelisah dan bingung.
“Tempat itu perlu dibersihkan. Aku khawatir kau tidak bisa tidur.”
“Tapi—“
Kali ini Donghae memotong kata-kata Sora, “Aku berjanji kita hanya akan tidur, seperti saat aku menginap di tempatmu.” Ia berkata dengan sabar. Dengan begini ia harap Sora akan mengerti.
Sora tampak bimbang, menilai tempat tidur yang akan mereka tempati untuk sejenak. Pada akhirnya gadis itu menghela napas.
“Baiklah.”
Alangkah gembiranya Donghae. Dengan semangat ia menyibakkan selimut lalu membaringkan diri di salah satu sisi ranjang, memposisikan dirinya senyaman mungkin.
“Ayo sayang, kemari dan baringkan dirimu di sisiku.” Dengan lembut dan senyum misterius menepuk-nepuk tempat di sampingnya.

Sebenarnya itu bisa tampak sangat mesum dan menjijikan jika orang lain yang melakukannya. Tetapi entah bagaimana di tangan Donghae semua itu tampak lucu dan menggemaskan, Sora yang semula gelisah pun perlahan tersenyum lalu bergerak mengikuti keinginannya.
“Kau sungguh lucu saat tersenyum seperti itu.” desah Sora setelah berbaring di sampingnya. Cubitan gemasnya dibalas dengan tatapan mematikan. Sora terpaku menatap mata Donghae yang memakunya dengan begitu tepat dan mendebarkan. Mereka berbaring saling berhadapan dan dalam jarak yang begitu dekat sehingga efeknya begitu menakjubkan bagi Sora.
“Kau begitu manis dan cantik saat tampil tanpa make-up seperti ini.” ungkap Donghae jujur sembari membelai halus pipinya dengan ujung jari, begitu hati-hati seolah takut merusaknya. Sora begitu polos dan natural tanpa riasan apapun sehingga Donghae bisa melihat kecantikan alaminya, meskipun tak dipungkiri Sora dengan riasan pun tetap dicintainya.
Sora merasa terjun bebas dari langit ke tujuh. Ia mengedipkan mata karena terharu.
“Kau perayu ulung, tidak pernah berubah.”
Donghae tertawa geli, “Hanya padamu, honey.”

Baiklah, baiklah aku menyerah. Batin Sora karena ia tidak sanggup lagi menerima rayuan Donghae. “Jika kuperhatikan kau selalu tidur di sisi yang sama, mengapa?” ia memilih mengganti topik pembicaraan.
Detik berikutnya Sora tersentak melihat Donghae tercengang. Tubuh pria itu kaku, seperti mendengar berita kematian. “Apa pertanyaanku salah?” Sora panik sekaligus menyesal.
Donghae mengerjapkan mata sembari menyunggingkan senyum dengan susah payah, “Tidak apa-apa. Sebaiknya kita tidur saja. Sudah malam.” setelah menyelimuti tubuh mereka berdua pria itu langsung memejamkan mata.
Apa yang salah dengan pertanyaanku? Sora begitu terkejut dengan reaksi tak disangka Donghae. Ia hendak menanyakan itu, tetapi tangan Donghae merambah ke pinggangnya kemudian menariknya mendekat. Pikirannya seketika buyar.
Sora kini terperangkap dalam pelukannya. Dada tegap Donghae terasa begitu jelas karena kamisol berbahan sutra halus tak menjadi penghalang sama sekali. Ini mengingatkan pada momen mereka tidur bersama. Donghae saat itu bahkan tidak mengenakan kaus seperti yang dipakainya sekarang, tetapi kali ini ia merasa jantungnya berdebar lebih kencang. Sora bertanya-tanya apakah Donghae merasakan hal yang sama.
“Tidur, honey.” Gumam pria itu, matanya terpejam. Merasakan napas teratur Donghae dan irama detak jantungnya yang lebih merdu dari lagu klasik karya Mozart, ia merasa sangat nyaman. Tak lama Sora langsung tertidur.

—o0o—

Sora bermimpi sangat indah. Ia berada di sebuah kapal pesiar mewah yang tengah berlayar membelah samudera pasifik. Pemandangan di sana begitu indah, namun tak lebih indah dari sosok tampan yang berdiri di sampingnya, menikmati angin laut bersama.
“Menikmati pemandangan, honey.” Donghae tersenyum begitu indah. Sora sesaat bingung apakah Donghae bertanya tentang pemandangan atau tentang ia yang menatapnya dengan kagum.
“Terima kasih sudah membawaku kemari, pemandangan di sini luar biasa sampai membuatku ingin menangis.” Sora berkaca-kaca. Wajah tampan Donghae mulai mengabur dalam pandangannya.
“Jangan menangis sayang,” Donghae menyeka airmatanya, ia tampak terluka, “ini adalah bulan madu kita, tentu saja aku akan mengajakmu ke tempat yang tak akan kau lupakan.”
Oh, jadi sekarang adalah bulan madu mereka? Sora tidak ingat kapan mereka menikah. Donghae tampak dua kali lebih tampan, bahagia, dan muda. Perlahan-lahan wajahnya mendekat. Sora menutup matanya, menanti ciuman Donghae dengan berdebar dan gembira.

“YA TUHAN!!!”

Mimpi itu buyar seperti layar televisi yang mati tiba-tiba. Sora terperanjat bangun karena suara teriakan itu terdengar begitu nyata. Ia ingin memaki, meneriaki siapapun yang dengan lancang menganggu mimpinya, dan ketika ia mengedarkan padangan dengan wajah mengantuk, matanya bersirobok pada sepasang mata tajam dan kaget seorang wanita paruh baya.
“Ya Tuhan,” Sora terkejut. Siapa wanita yang berdiri di ambang pintu dengan marah dan tak percaya. Sora langsung menutupi tubuhnya dengan panik ketika pandangan wanita itu terpaku pada kamisolnya yang terangkat hingga dada.
“Siapa kau?” tanyanya dengan suara lantang yang menggema dengan mengerikan di seluruh penjuru kamar.
“A-aku..” Sora tergagap.
“Apa yang kau lakukan dengan anakku?!”

Anakku?

Sora kembali terperanjat. Jadi wanita marah ini adalah ibu Donghae? Seperti tersambar petir, tiba-tiba

saja ia teringat pada posisi dan kondisinya. Ya Tuhan, betapa memalukannya, entah apa yang dipikirkan wanita itu melihatnya tidur di ranjang putranya dengan pakaian serbaminim seperti ini.

Oppa..” Sora dengan panik dan takut mencoba membangunkan Donghae yang masih tertidur pulas. Ia merasa sedang diteror. Pria itu menggeliat lalu bangun.

“Hai cantik, bagaimana tidurmu?” dengan polosnya Donghae justru mengajukan pertanyaan yang membuat Sora lebih panik lagi. Tarikan napas tajam terdengar di belakangnya.

“Ayo cepat bangun, ibumu datang.”

“Ibuku?” Donghae menaikkan alis lalu menoleh ke arah pintu. Ia membelalak menyadari ibunya berdiri di sana.

Diam, melotot dan marah.

To Be Continued

448 thoughts on “Crazy Because of You [Chapter 6]

  1. wkwkwk…. nah loh ketahuan sama Si Eomma,, semoga mereka segera langsung dinikahkan…haha. Apa yg akan terjadi selanjutnya? Pasti mereka direstui kan? penasaran saya.
    Ditunggu kelanjutannya^^ Thanks ya

  2. Wkwk langsung di suruh nikah ini maaah!! Senanggnyaaa mereka udh nyatain perasaan mereka masing masing… Yah, walaupun awalnya bertele-tele hehe

  3. huwaa… lega sora ma donghae ddah baikan. tpi ksian juga sih seohyun, moga ja nemuu pengganti sora.
    wduh… ketahuan ibunya donghae gmna tuh psti ibunya donghae fikir yg enggak2 tuh.

  4. Ff nya seru banget eonni,jdi penasaran deh sama reaksinya donghae pas liat eomma nya gmn,trus gmna tanggapan eomma nya sama sora..

  5. Ah, akhirnya, akhirnya….. Mereka saling mengaku dan bersama. Kyaa senangnya. Donghae kau berhasil.
    Sepertinya satu masalah baru harus segera di bereskan mereka berdua. Jangan sampai Ibu Donghae menilai buruk akan Sora. Berjuang……

  6. Hahahaha sumpaahh makin seru aja…
    Yaak.. Donghae Oppa km kok lucu bgt sihh??
    Akhirnya status mereka jelas juga,, lega deehh klo uda saling ngungkapin perasaan gini🙂
    Penasaran sma next chaptnya… Semangat terus yaahh Eonni🙂 gaperlu buru2, kita readermu setia menanti kok hehehehe🙂
    Eonni hwaitinggg🙂

  7. -_- kapan di lanjut part 7 nyaaaa kak .. aku baca lagiiii nih tengah mlm kek ginih..
    Kangen inih coupleeeee.
    Cepet publish yaaa kak Dhaaa
    Good night :’*

  8. Yayaya mas Donghae cintanya ga bertepuk sebelah tangan akhirnya seneng deh hahaha. Udah ngeri pas Sora ternyata lebih milih Soohyun eh ngga jadi deng QWKWKS. UDAH TANTE NIKAHIN AJA TANTE NIKAHIN MEREKA CEPET YAAA.

  9. Duh kalo jadi sora mah merasa rendah banget -_- gimana itu kelanjutannya:3 tegang kali ya kalo jadi Min sora:3 wkwk tapi romantis banget{} tapi kasian juga soohyun nya😥 udah sini sama putri aja 😄😁 haha nice !^^ 너모 대박! 😄😁😘😍

  10. Annyeong author. sekali lg maaf karna Bru komen d part ini:D
    pertama ku kira sora gk bakalan pernah mau dgn haepa … tetapi ku malah terkejut lg baca nya mereka udh jadian. selamat yah … Hihihi…
    duh duh… ketahuan sama eomma haepa?/ jd penasaran dgn next chap nya. ok lah, ku langsung baca part 7 nya yah thor.
    hwaiting nah^^

  11. Dongeekkk. Yaampun aku gemes banget sama ikan satu iniiii. Donghae childish bgt isss. Pengen cubit pipinya aaahh :*

  12. Waaahh…. Ternyata Sora nya sendiri yang datang ke Donghae oppa🙂 tapi Soohyun, kasihaaann😦

    pasangan Donghae-Sora telah resmi menjadi sepasang kekasih😀

    o ow ibu Donghae memergoki anaknya sedang tidur bersama seorang gadis dengan pakaian yang sangat minim itu. Apa yang terjadi setelah ini?

  13. ahh ibu nya hae ganggu aja jd kan mimpi nya gg di lanjut lagy ,kkkkk
    akhirnya hae am sora lupain gengsi jga , uhh dasar couple jaim . hahahaha
    ayoo bu kawinin hae am sora nya dari pada ntar ke bablasan lol

  14. hai eonni aku terkahir baca part 6 ini .
    aku juga sudah coment sebelumnya dan lebih memastikan aku baca ulang part ini .
    mian aku terlambat baca dan jadi lama tak baca FF eonni .

  15. Hahhaa.. Senangnya akhirnya mereka bisa bersama. Tindakan sora benar. Laki-laki seperti soohyun tak pantas untuk disakiti. Aigoo, donghae eomma❤ hahaa jangan marahin sora ya

  16. Akhirnya mereka berbaikan & Donghae oppa tidak patah hati lagi😀 waduh ketahuan Eomma Donghae,kira” gimana reaksi Eomma Donghae ya ?!

  17. Ping-balik: REKOMENDASI FANFICTION | evilkyu0203

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s