School in Love [Chapter 23]

Tittle : School in Love Chapter 23
Author : DHA KHANZAKI a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Friendship, School life

Follow twitter aku yuu : @julianingati23

Main Cast :
Bae Suzy | Park Jiyeon | Im Yoona
Cho Kyuhyun | Kim Kibum | Lee Donghae

Dha’s Speech :
FF ini akan selesai dalam beberapa chapter lagi ^_^ Sekarang sudah masuk dalam tahap klimaks cerita. Semoga tidak mengecewakan. Maaf jika ditemukan typo, ceritanya kurang memuaskan, bahasa amburadul, serta kekuarangan-kekurangan yang lainnya.

Happy Reading ^_^

School in Love by Dha Khanzaki 10

=====o0o=====

CHAPTER 23
Incidents in Sight

BEL DIBUNYIKAN oleh Kibum. Ia sekarang berada di depan rumah Lee Donghae hendak menjenguknya. Kedua gadis di belakangnya menunggu dengan sabar. Yoona dan Suzy saling pandang. Mereka semua sama-sama cemas. Yoona memutuskan ikut setelah tahu Kibum dan Suzy akan menjenguk Donghae. Kyuhyun menyusul karena akan pergi ke suatu tempat lebih dulu sementara Jiyeon tidak bisa ikut karena harus membantu kakaknya di restoran.
Pintu terayun dibuka oleh seorang lelaki muda berusia belasan tahunan yang merupakan anak Paman Han, dia menatap Kibum sejenak lalu kedua gadis yang berdiri di belakangnya.
“Kibum Hyung, ada perlu apa?” tanyanya ramah.
“Kami ingin menjenguk Donghae, kudengar dia sakit.”
Pemuda itu merengut bingung seolah Kibum sedang bercanda dengannya. Suzy merasakan firasat yang tidak menyenangkan.
“Donghae Hyung sudah tidak tinggal di sini sejak kemarin.” Ucapnya polos.

Apa? Ketiga orang itu terkejut. “Lalu dia pindah ke mana?”

“Tunggu,” pemuda itu pergi sebentar lalu memberikan secarik kertas yang berisi alamat tempat tinggal baru Donghae. “Hyung memutuskan pindah ke sana kemarin.” jelasnya.

Kibum menerima kertas itu lalu mereka segera pamit setelah mengucapkan terima kasih.
Kibum mendengus kesal, “Dia benar-benar Lee Donghae si menyebalkan, sampai kapan sifat buruknya itu dipelihara!” umpatnya sambil berjalan menuju ke arah mobil.
“Apa dia selalu seperti ini?” Suzy penasaran.
“Donghae tidak pernah menceritakan apapun padaku dan Kyuhyun setiap kali memiliki masalah. Dia cenderung menyimpannya sendiri.”
“Dia pasti punya alasan.” Komentar Yoona. Suzy mengangguk tegas untuk mendukung ucapan Yoona. Benar sekali, Donghae bukanlah orang yang melakukan sesuatu tanpa ada alasan.
Kibum memutar kedua bola matanya, “Dasar fans Donghae.” ia lalu membukakan pintu mobil untuk Suzy dan Yoona.

Setelah menghabiskan waktu sekitar tiga puluh menit, akhirnya mereka tiba di tempat Donghae tinggal. Sebuah kompleks apartemen mewah di kawasan elit Gangnam. Suzy terpesona melihat arsitektur gedung yang sangat indah. Apa lelaki tadi tidak salah menulis alamat?
“Apa benar anak itu tinggal di sini? Jangan-jangan ia bekerja sambilan sebagai security.” Gumam Kibum tidak percaya. Suzy memukul Kibum saat mendengar gumaman asal pria itu.
“Jahat sekali kau bicara seperti itu tentang sahabatmu sendiri.” omel Suzy. Kibum mendengus lalu mengerucutkan bibir sementara Yoona hanya dapat menahan tawa.
“Sudah jangan ribut, bagaimana kalau kita masuk untuk memastikan.”

Kali ini Suzy yang menekan bel. Gadis itu dengan semangat melakukannya. Ia tidak sabar ingin segera melihat Donghae. Yoona melirik Kibum yang sekuat tenaga menahan kecemburuannya. Ia tersenyum diam-diam. Kedua orang ini benar-benar menggelikan. Yang satu mati-matian mengingkari perasaan suka yang ada di hatinya sementara yang lain tidak mau melangkah maju karena terhalang ego. Yoona penasaran sekali bagaimana jika mereka akhirnya bersama.
Lamunan Yoona buyar karena pintu di depan mereka dibuka seseorang. Tampak gadis berambut panjang berdiri di ambang pintu dengan raut cerah. Suzy terkejut mengenali gadis itu, bukankah dia gadis yang ia temui di Myeong-Dong tempo hari?
“Ah, bukankah kau Bae Suzy?” seru Sooyoung terlebih dahulu sambil menunjuk Suzy. Senyumnya melebar mengenali Suzy.
“Oh, halo.” Suzy tersenyum kikuk. Ia bingung sekaligus penasaran mengapa Donghae bisa tinggal bersama dengan Sooyoung. Apa sebenarnya hubungan mereka?
Yoona menoleh sekilas karena ia tidak tahu ternyata Suzy sudah mengenal Sooyoung, sepupu Donghae lebih dahulu sementara Kibum mengerutkan kening karena ia merasa tidak pernah bertemu Sooyoung sebelumnya. Gadis ini siapanya Lee Donghae?

“Kudengar Donghae pindah kemari, apa dia ada?” tanya Yoona. Sooyoung mengalihkan pandangannya kepada Yoona. Senyumnya melebar mengenali Yoona, gadis cantik yang dianggapnya sebagai kekasih Donghae.
“Tentu saja. Kalian teman Donghae bukan, silahkan masuk.” Sooyoung membuka pintu lebar-lebar. Mereka dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu yang luas dan megah. “Tadi kulihat dia sedang istirahat, akan kupanggilkan dia.” Sooyoung menghilang untuk memanggilkan Donghae.
“Siapa dia?” tanya Kibum bingung karena sepertinya hanya dia yang belum mengenal Sooyoung.
“Choi Sooyoung, sepupu Donghae.” Jawab Yoona.
Suzy menoleh dengan cepat, “Sepupu? Oh..” ia langsung mendesah lega. Ia tadi sempat menduga bahwa Sooyoung adalah wanita spesial bagi Lee Donghae.

Kibum menatap Suzy dengan perasaan cemburu. Mengapa Suzy begitu peduli pada Donghae, sampai sekarang ia masih penasaran. Memang apa kelebihan yang dimiliki sahabatnya tersebut sampai ia tidak memiliki kesempatan untuk mengenyahkan Donghae dari hati Suzy?
Tak lama kemudian Donghae datang, keadaannya baik-baik saja. Tak terlihat sakit ataupun terluka. Pria itu bingung melihat teman-temannya. Sooyoung datang membawakan air dan kue.
“Ada apa ini?” tanya Donghae. Kedua matanya melebar.
“Menengokmu.” Jawab Suzy.
“Menengokku?” ulang Donghae semakin bingung.
“Hei, kau tidak sakit?” tuntut Kibum heran melihat kondisi Donghae yang tampak lebih sehat dari orang sakit kebanyakan.
“Kami datang kemari karena mendengar kau sakit.” sambung Yoona. Donghae mengerutkan kening, ia lalu menoleh pada Sooyoung yang duduk tenang di salah satu sofa.
“Kau pasti mengatakan pada pihak sekolah bahwa aku sakit.” Tuduh Donghae. Sooyoung hanya menampakkan gigi-giginya yang bersih nan putih itu seolah ia tidak bersalah.

Donghae menepuk keningnya, “Sooyoung, sudah kukatakan, laporkan aku sedang ada urusan keluarga. Jangan sakit.”
“Jika aku mengatakan urusan keluarga, itu kurang seru. Tidak berkesan.” Ucapnya sambil mengibaskan tangan. Donghae hanya mendesah pasrah. Seharusnya ia tidak menyerahkan tugas meminta izin pada pihak sekolah itu pada Sooyoung. Sepupunya itu memiliki kecenderungan ide yang liar dan di luar nalar manusia. Teman-temannya tampak kebingungan selama beberapa saat.
“Jadi kau tidak sakit? Syukurlah.” Yoona mendesah.
“Tidak.” Donghae menatapnya sekilas lalu duduk di samping Kibum tanpa mengatakan apapun. Tanpa disadari Sooyoung memerhatikan gerak-geriknya.

Dude, kau tidak pernah mengatakan tinggal di apartemen sebesar ini.” Kibum merasa rileks setelah tahu sahabatnya baik-baik saja. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar.
“Ini bukan apartemenku, tapi miliknya.” Donghae mengacak-acak rambut Sooyoung. Gadis itu langsung menyingkirkan tangannya.
“Jangan rusak rambut ala Kim Kardashian-ku!”
“Kalian hanya tinggal berdua?” tanya Yoona penasaran. Suzy menoleh karena baru saja ia akan menanyakan hal yang sama.
“Tidak. Selain aku dan Donghae, ada Bibi Nam yang bertugas membuat sarapan dan membereskan apartemen ini.”
“Jika kau memiliki sepupu sekaya ini, mengapa tidak dari dulu saja kamu pindah kemari?” tanya Kibum lagi.
“Aku setuju denganmu. Sudah lama aku meminta Donghae pindah kemari, tetapi dia tidak mau. Aku bersyukur karena sekarang akhirnya dia bersedia.” Jawab Sooyoung dengan ceria.
“Itu karena kau yang tidak mau tinggal di rumah Paman Han.”
“Rumah Paman Han kurang nyaman bagiku. Lagipula aku tidak akrab dengan anaknya, dia jahil sekali padaku. Kau juga, jika tidak kupaksa tinggal di sini, pasti sekarang masih dijadikan pembantu, disuruh melakukan ini itu.” Cerocos Sooyoung membuat semua yang berada di ruangan itu terkejut mendengarnya.
“Jangan bicara sembarangan. Aku tidak pernah dijadikan pembantu oleh siapapun, aku hanya ingin membalas budi pada Paman. Aigoo, sejak dulu ucapan melanturmu tidak pernah berubah. Sekarang aku mengerti mengapa kau pulang ke Korea. Pasti karena kau bertengkar dengan ibumu.”
“Baik aku akui, aku ke Korea memang di suruh oleh ibu, tapi setidaknya aku lebih baik daripada seseorang yang tidak mau mendengarkan kata-kata ibunya.” Seketika Sooyoung segera menutup mulutnya menyadari kata-kata kasar baru saja keluar dari mulutnya.

Donghae diam untuk beberapa detik. “Tutup mulutmu!” suruhnya sambil mengacak-acak rambut Sooyoung lagi. Sebenarnya ia sedikit tersinggung, tapi ia tak boleh memperlihatkannya di hadapan teman-temannya. Suzy dan Yoona saling berpandangan sementara Kibum merengut penasaran. Namun tak ada di antara mereka yang berani bertanya. Sooyoung pun tak berceloteh lagi karena ia takut tak bisa mengontrol kata-katanya. Suasana menjadi kaku.
“Kemana Kyuhyun?” tanya Donghae memecah keheningan.
“Tadi sudah kuhubungi, sebentar lagi dia akan tiba di sini.” Jawab Kibum. Donghae mengangguk.

Bel yang berbunyi mengagetkan semua orang. Tetapi semua bisa menebak siapa pelakunya. Pasti itu Kyuhyun, Donghae bangkit dan bergerak menuju pintu. Tepat seperti yang diduga, Kyuhyun berada di balik pintu.
“Kau tidak sakit?” Kyuhyun spontan melontarkan pertanyaan itu melihat Donghae baik-baik saja. Donghae memutar bola mata, sebenarnya mereka mengharapkan ia sakit atau apa?
“Masuklah,” titahnya malas menjawab pertanyaan Kyuhyun.

Donghae mengajaknya untuk duduk bersama yang lain. Kyuhyun melihat ada Yoona, Suzy, dan Kibum. Dahinya berkerut, Jiyeon tidak ada. Bukankah gadis itu berjanji akan masuk sekolah? Lalu kenapa tidak ikut dengan Suzy dan Yoona? Selain itu ada gadis asing duduk di antara mereka, entah mengapa gadis itu menatapnya dengan mata berbinar takjub. Ada apa dengan gadis itu?
“Hei, aku tahu siapa kau?” seru Sooyoung mengejutkan semuanya. Dengan semangat ia menghampiri Kyuhyun.
“Kau pria model itu bukan?”
“Apa kau gila?” Kyuhyun menjawabnya dengan ketus karena merasa tidak mengenal Sooyoung. Ia melirik Donghae, “Siapa dia?” tanyanya sambil menunjuk Sooyoung.
Donghae mengangkat bahu, ia malas memperkenalkan Sooyoung.
“Kau lupa…??? Kita pernah bertemu.” Cecar Sooyoung tak sabar.
“Jangan bercanda. Kapan?”
“Di kebun binatang. Kau tidak ingat?”

Kyuhyun mengingat-ingat kapan terakhir kali ia ke kebun binatang. Beberapa waktu lalu ia memang pernah ke kebun binatang, saat ia dipaksa memenuhi permintaan Suzy untuk meminta maaf pada Jiyeon. Sebelumnya memang ada seorang gadis aneh yang menyapanya saat ia sedang menunggu Jiyeon dan Suzy.
“Ah, jadi kau gadis aneh itu…”
Sooyoung tersenyum lalu mengangguk mengiyakan, “Namaku Sooyoung, Choi Sooyoung. Kau pasti Kyuhyun.” sooyoung mengulurkan tangannya. Kyuhyun melirik tangan itu namun tak menjabatnya, ia melengos lalu duduk di samping Kibum. Sooyoung terbengong-bengong melihat Kyuhyun tidak menghiraukan keramah-tamahannya. Suzy mencibir sementara Yoona hanya menggeleng maklum.
Donghae tertawa, “Itu akibatnya jika kau tidak punya malu.” sindirnya puas. Sooyoung hanya tersenyum.
“Aku suka pria angkuh.” Lirih Sooyoung gemas. Ia lalu ikut duduk bersama teman-teman Donghae, bergabung dalam pembicaraan mereka. Donghae selalu menghindar setiap kali topik memasuki seputar keluarganya. Tentu saja teman-temannya penasaran karena Donghae tidak pernah sekalipun menyinggung tentang orang tuanya, adik, atau kakaknya. Termasuk di mana mereka kini tinggal.
“Tidak ada yang menarik tentang keluargaku.” Ujar Donghae. Itu komentar Donghae sebelum pria itu berinisiatif mengganti topik bahasan. Yoona menatap Donghae dalam diam. Sebenarnya, sudah lama ia ingin tahu tentang Donghae. Entah mengapa. Setiap kali Yoona menatap ke dalam sorot mata Donghae, ia seperti mengetahui sesuatu tentang pria itu. Tetapi ia tidak bisa mengingatnya.

—o0o—

Tidak ada yang berbeda sejak terakhir kali Yoona berziarah ke makam sang Ayah. Diletakannya sebuket bunga lalu berdoa. Hari ini bukan hari peringatan kematian Ayahnya, tetapi entah mengapa Yoona ingin sekali mengunjungi Ayahnya.
Appa, aku membawakan bunga anggrek kesukaanmu. Kuharap kau senang. Appa, aku sudah berubah. Aku meninggalkan semua hal yang kau benci. Aku akan menuruti semua yang Appa inginkan. Karena itu aku berharap Appa bisa memaafkanku. Maaf karena selama kau hidup, aku tidak sempat berbakti padamu.”
Yoona menitikkan airmata penyesalan. Seandainya sejak dulu ia mengabulkan keinginan Ayahnya, mungkin mereka tidak akan berbicara dengan cara seperti ini. Sekarang ia memang jadi lebih baik, tetapi keadaan di rumah sudah tidak sama lagi. Ia rela memberikan apapun untuk bisa meminta maaf secara langsung pada mendiang ayahnya. Tetapi itu tidak mungkin. Yoona sadar sekarang yang harus dilakukannya adalah dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Setelah mengakhiri prosesi ziarahnya, Yoona berjalan pulang.

“Yoon…”

Langkah Yoona terhenti karena ia mendengar suara Donghae. Apa mungkin ia berhalusinasi? Ia menengokan pandangan ke sekeliling dan menemukan sosok pria itu tak jauh dari tempatnya berdiri. Pria itu tersenyum seraya melambaikan tangan. Yoona terkejut. Apa yang dilakukan Donghae di pemakaman seperti ini? Apa dia sedang berziarah ke makam kerabatnya juga?
“Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini.” Ujar Donghae begitu tiba di hadapan Yoona.
“Kau berziarah?”
Donghae mengangguk. “Mengunjungi Nuna.” Ucapnya santai. “Hari ini peringatan hari kematiannya.”
Yoona mengerjap, jadi Donghae memiliki seorang kakak perempuan yang sudah meninggal dunia?
“Aku turut berduka cita. Aku tidak tahu kakakmu telah..” Yoona tidak melanjutkannya.
Donghae menatapnya sejenak, selama beberapa saat Yoona menangkap raut sedih dalam ekspresinya. “Kejadiannya sudah lama. Kau sendiri sedang berziarah?”
Yeah, tiba-tiba saja aku merindukan Ayahku.” Sahut Yoona ringan. Donghae mengangguk. Ia sudah mendengarnya, termasuk mengapa Ayahnya meninggal dunia.
“Apa kau datang kemari sendiri? Jika ya, aku bisa mengantarmu pulang.”

Yoona terkejut karena Donghae menawarinya tumpangan. Ia memang kemari tanpa diantar siapapun. Ibunya tidak tahu ia pergi berziarah. Ia mengangguk. Entah mengapa dia tidak bisa menolak tawaran Donghae.
Saat tiba di dekat mobil, terlihat Sooyoung sedang menunggu, bersadar pada mobil sambil menggesek-gesekkan kakinya ke rumput. Sooyoung menyadari kehadiran Yoona dan Donghae. Wajah kesalnya berubah cerah.
“Sudah kuduga, sepertinya kalian memang berpacaran.” Seringai Sooyoung.
Donghae dan Yoona terkesiap, “Sudah kubilang, bukan.” Donghae memelototi sepupunya, meminta gadis cerewet itu agar berhenti berkicau.
“Kenapa? Sungguhan pun tidak apa-apa. Kalian cocok.”
“Jika kau bicara sekali lagi aku akan melakban mulutmu!” rutuk Donghae kesal. Ia mendorong Sooyoung agar lekas duduk di balik kursi kemudi lalu ia membukakan pintu untuk Yoona.

“Apa kau memiliki SIM?” tanya Yoona pada Sooyoung. Gadis itu hanya terkekeh.
“Tenang saja, kita tidak akan tertangkap polisi.”
“Kau tidak perlu cemas Yoon, meskipun tampak bodoh tapi dia sangat ahli dalam hal menyetir.” sahut Donghae.
“Kau tak pernah berkata manis tentangku.” Cibir Sooyoung. Yoona tertawa melihat interaksi mereka lalu mengangguk.
“Baiklah, aku percaya.”
Sooyoung mulai menunjukkan keahliannya mengemudikan mobil. Benda yang dikemudikannya itu melaju dengan mulus di jalan raya. Yoona melihat ke luar jendela, hari ini cuaca tampak cerah. Banyak hal yang bisa dilakukan di hari sebagus ini.
“Donghae-ya, aku penasaran dengan tipe gadis yang ingin kau pacari. Jika gadis seperti Yoona bukan pacarmu, lalu kau ingin pacar yang seperti apa?” Tanya Sooyoung sambil mengemudi. Yoona dan Donghae serempak menatapnya.
“Mengapa tiba-tiba kau ingin tahu?”
“Aku hanya penasaran. Mungkin aku bisa membantumu mendapatkannya, who knows.” Sooyoung mengangkat bahu.

Yoona menanti jawaban apa yang akan Donghae berikan dengan jantung berdegup kencang. Tiba-tiba ia juga ingin tahu hal itu, entah mengapa. Mungkin ia bisa memberitahu Suzy. Tapi, rasanya bukan karena itu.
“Aku tidak menerapkan standar yang terlalu tinggi. Aku berharap kekasihku kelak adalah seseorang yang berhati baik dan peduli terhadapku.”
Berhati baik dan peduli, Yoona diam-diam mencatatnya dalam hati.
“Kau sudah menemukannya?”
Donghae menggeleng, “Belum.” Tentu saja. Jika sudah, ia sudah bersamanya sekarang karena ia adalah tipe laki-laki yang tidak akan pernah melepaskan gadis yang terasa begitu tepat di hatinya. Yoona yang duduk di bangku belakang tersenyum.
“Tapi ada satu gadis yang sudah menarik perhatianku.” Sambung Donghae mengejutkan Yoona dan Sooyoung.
“Siapa?” Sooyoung penasaran. Begitu pun Yoona.
“Aku hanya bertemu dengan satu kali. Gadis itu menolong kakakku saat kecelakaan. Dia gadis yang sangat baik. Hingga saat ini, wajahnya masih terbayang dalam memoriku.” Donghae mengenang kejadian beberapa waktu lalu dengan penuh perasaan. Kenangan itu indah sekaligus menyedihkan karena di hari yang sama ia harus kehilangan kakak perempuan yang paling ia sayangi.
“Kau tahu siapa dia?” tanya Sooyoung.
Donghae menggeleng. “Dia lenyap hari itu bersamaan dengan hidup kakakku.”

Sooyoung terdiam sementara Yoona menatap Donghae simpatik. Dalam hati ia berdoa semoga Donghae bisa secepatnya bertemu dengan gadis itu. Terlihat jelas Donghae begitu ingin bertemu dengan gadis penolong kakaknya. Namun di saat yang bersamaan ada perasaan asing menyerang hati Yoona. Ia mengerjap menyadari perasaan apa itu.
Cemburu.
Yoona langsung menepis pikiran itu. Ia tidak mungkin cemburu pada gadis masa lalu Donghae.
“Kau pasti ingin bertemu dengannya lagi.” komentar Yoona.
“Ya, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih pada gadis itu.” ucapnya sambil tersenyum. Donghae lalu melihat ke arah kursi belakang melalui kaca spion. Ia mengeryit karena Yoona tampak kebingungan. Gadis itu buru-buru melihat ke arah luar jendela.
“Sooyoung-ssi, bisakah kau turunkan aku di depan sana?” pinta Yoona membuat Donghae dan Sooyoung terperanjat kaget.
“Apa kau sudah sampai di rumahmu?” tanya Sooyoung buru-buru.
“Tidak, ada keperluan yang harus kubeli.” Yoona tidak bisa berlama-lama di sini. Terjebak bersama Donghae membuatnya berpikir tidak rasional. Ia panik karena menyadari perasaan asing yang seharusnya tidak ia rasakan. Ia harus pergi.

Melihat Yoona begitu ingin turun Donghae tak bisa berkata apa-apa. Ia memberi isyarat pada Sooyoung agar menuruti keinginan Yoona. Sooyoung lekas menepikan mobil.
Donghae turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Yoona. Gadis itu mengucapkan terima kasih dengan canggung.
“Terima kasih atas tumpangannya.”
Donghae memberikan senyum sesingkat mungkin lalu masuk kembali ke dalam mobil. Yoona mendesah lega karena Donghae tidak mendesaknya dengan berbagai pertanyaan. Ia bersyukur karena Donghae tidak seperti Kim Kibum, karena jika mereka memiliki karakter yang sama, bisa-bisa ia habis diwawancarai bahkan sebelum bisa menata perasaannya kembali.

Donghae melirik Yoona sampai gadis itu menyetop taksi lalu pergi. Ia menghela napas. Ternyata Yoona memang ingin menghindar darinya, entah apa alasannya. Donghae tidak pernah bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Yoona. Gadis itu seperti objek yang diselimuti oleh kabut.
“Hari begitu cerah, bagaimana jika kita bermain sebentar di luar?” seru Sooyoung. Donghae terperanjat kaget. Kedua mata Sooyoung mengerjap penuh semangat.
“Kau tahu rumah Kyuhyun? Ayo kita mengunjunginya.”
“Tidak mau.” Donghae langsung membuang pandangannya. Sooyoung mengaku sangat tertarik pada sahabatnya itu tetapi ia tidak akan mungkin membiarkannya mendekati Kyuhyun.
“Kenapa?” Sooyoung mulai merengek lagi.
“Kau ingin mendekatinya bukan? Tidak, kau tidak akan bisa mendapatkannya. Dia sudah memiliki kekasih.”
“Haaaahh.” Sooyoung memekik. “Kenapa setiap pria menarik di dunia ini sudah memiliki kekasih!!!” Sooyoung mendesah. “Kalau begitu bagaimana jika kau ikut denganku saja kembali ke Swiss?”
“Lebih baik kau ceburkan dirimu saja ke sungai Han!”

—o0o—

“Sebenarnya kita akan ke mana?” Jiyeon penasaran sekali. Ia terkejut karena Suzy tiba-tiba meneleponnya pagi-pagi sekali dan memintanya bertemu di halte bus dekat sekolah.
“Kita akan ke rumah Jiwon.” Suzy menjawabnya dengan kedua mata berbinar.
“Oh, sahabatmu sejak kecil itu?”
“Ya. Aku mendapatkan alamatnya dari Kibum.”
“Lalu kenapa kau tidak meminta dia menemanimu?” tanya Jiyeon polos. Mereka sekarang sedang berada di dalam bus menuju rumah Jiwon.
“Apa kau tidak mau menemaniku?” tanya Suzy dengan mata menyipit. “Kau ada kencan hari ini dengan si raja sinis itu?” candanya.
Kedua pipi Jiyeon langsung merona, “Tidak ada. Dia sibuk latihan di hari libur begini. Kau tahu bukan, sebagai pewaris perusahaan Ayahnya, Kyuhyun harus mempelajari banyak hal. Sekarang mungkin dia sedang berada di Incheon untuk meninjau resort baru bersama Ayahnya.” jelasnya terbata.
Mendengar detail itu Suzy semakin curiga, “Kau terdengar seperti calon istrinya saja, mengetahui jadwalnya sampai serinci itu.”
Jiyeon tertawa hambar. Tadinya ia ingin berterus terang tentang hubungannya dengan Kyuhyun, tetapi melihat reaksi Suzy seperti ini ia takut Suzy akan menentangnya. Tetapi ia merasa jujur adalah pilihan terbaik.
“Haah—aku sungguh tidak mengerti mengapa kau bisa jatuh cinta pada pria sepertinya. Sungguh tidak masuk akal. Kyuhyun adalah jenis pria yang paling tidak cocok dijadikan pacar ataupun suami.” Desah Suzy. Jiyeon terpaksa menutup kembali mulutnya mendengar kata-kata itu. Ia tidak tahu Suzy akan berkata apa lagi jika ia memutuskan jujur.
Jiyeon memutuskan diam.

Tak lama kemudian mereka turun. Jiyeon mengikuti Suzy. Sepertinya rumah Jiwon tidak terlalu jauh dari tempat mereka sekarang berada. Jiyeon berharap semoga penyakit buta arah Suzy tidak kambuh.
Kawasan yang dilewati mereka cukup ramai karena dekat dengan pusat perbelanjaan. Jiyeon melirik ke salah satu toko untuk melihat apakah ada sesuatu yang bisa ia beli untuk Kyuhyun. Tempo hari Kyuhyun sudah memberinya kado berupa syal yang indah. Meskipun tidak bisa dibandingkan dengan benda yang dibeli di Milan itu, Jiyeon ingin sesuatu yang membuat Kyuhyun selalu ingat padanya.
Perhatian Jiyeon terlalu fokus pada etalase toko sehingga ia tidak sengaja menabrak orang lain yang lewat. Jiyeon meminta maaf lalu buru-buru menyusul Suzy.
“Ya, gadis tengik. Berhenti!” teriak pria yang bersinggungan dengan Jiyeon tadi. Suzy dan Jiyeon berhenti lalu sama-sama menoleh.
“Siapa yang kau sebut gadis tengik,” teriak Suzy. Jiyeon terkesiap menyadari seseorang yang berteriak menyuruhnya berhenti adalah Eunhyuk.

Eunhyuk menyeringai ke arah mereka. Suzy bereaksi lebih dulu daripada Jiyeon. “Kau mengajakku berkelahi?” ia tidak suka dengan cara Eunhyuk tersenyum, terkesan meremehkannya.
“Lama tak berjumpa,” Eunhyuk menyeringai sinis pada Jiyeon. Suzy mengangkat alisnya bingung lalu menoleh pada sahabatnya.
“Kau mengenal pria aneh itu?”
“Dia Eunhyuk, teman lama Kyuhyun.” dengan enggan Jiyeon menjawabnya. Ia juga selalu merasa tidak nyaman saat berada di tempat yang sama dengan Eunhyuk.
“Kau tidak bersama dengan pacarmu, Kyuhyun?” tanya Eunhyuk.
“Apa?” Suzy berteriak histeris. “Sejak kapan kau berpacaran dengan Kyuhyun?!!”
Jiyeon akan menjelaskannya nanti setelah urusannya dengan Eunhyuk selesai. “Apa aku harus selalu bersama Kyuhyun? Dia memiliki urusannya sendiri.” sahutnya ketus sambil menatap Eunhyuk.
“Kebanyakan pasangan kekasih akan menghabiskan waktunya bersama di hari libur seperti sekarang. Aku hanya penasaran.” Eunhyuk mengangkat bahu.

Jiyeon menggertakkan gigi. Semakin lama tingkah Eunhyuk semakin menyebalkan. “Apa mengurusi urusan orang lain sudah menjadi kebiasaanmu? Mungkin ini sebabnya sekarang tidak ada gadis yang mau menjadi pacarmu!” tukas Jiyeon lalu menarik Suzy pergi.
Eunhyuk langsung tertawa. Jiyeon menghentikan langkahnya lalu menoleh. Apa ia mengatakan sesuatu yang lucu?
“Aku semakin yakin Kyuhyun berpacaran denganmu karena kau sangat mirip dengan Tiffany. Kau memiliki karakter yang sama dengannya. Gadis itu pun mengatakan hal yang serupa saat aku mengajukan pertanyaan yang sama.”
Jiyeon sudah pernah mengira itu, tetapi ia terpukul karena Eunhyuk mengatakannya begitu lugas. Apa benar alasan Kyuhyun dekat dengannya karena ia mirip dengan Tiffany Hwang? Mengapa ia tidak menduga hal itu sebelumnya, ketika Kyuhyun memutuskan untuk meresmikan hubungan mereka. Mungkin karena Kyuhyun sudah terbiasa dengan Tiffany sehingga pria itu merasa nyaman dengannya yang memiliki kemiripan karakter dengan Tiffany.
“Tetapi kau tahu apa yang menggelikan dari jawaban itu?” lanjut Eunhyuk di sela tawanya, “Ternyata Tiffany memang tidak menyukai Kyuhyun. Gadis itu menyukai pria lain. Dia mendekati Kyuhyun hanya untuk memikat sahabatnya. Apa mungkin kau juga melakukan hal yang sama?”
“Apa?” Jiyeon menarik napas marah.
“Oh tunggu, mungkin justru Kyuhyun yang mendekatimu karena ingin dekat dengan sahabatmu.” Eunhyuk melirik Suzy sekilas. Suzy langsung melemparkan tatapan tajam padanya.
“Sudahlah, sebaiknya kau cepat putuskan pria seperti Kyuhyun. Dia tidak tipikal pria yang tidak setia. Kau tahu Kyuhyun mencampakkan Tiffany begitu tahu gadis itu menyembunyikan surat cinta untuk sahabatnya. Kyuhyun akan menyakitimu. Sedikit saja kau melakukan kesalahan, kau akan dibuang seperti sampah.”

Napas Jiyeon langsung tercekat. Kata-kata Eunhyuk sungguh keterlaluan.
“Bicaramu lebih mirip suara tikus di got!” geram Suzy. “Jiyeon, apa kau ingin aku menghajarnya?” Ia siap maju untuk memberikan pelajaran pada pria itu namun Jiyeon mencekal tangannya.
“Aku sama sekali tidak peduli dengan itu.” Jiyeon mengatakannya dengan tegas. Ia tak melepaskan pandangannya dari Eunhyuk. “Aku tulus menyukai Kyuhyun. Aku tidak peduli walau pada akhirnya aku akan kecewa karena ketika aku memutuskan untuk menyukainya, aku tidak pernah mengajukan syarat bahwa Kyuhyun harus menyukaiku. Aku akan menanggung apapun resikonya. Aku tidak akan menyalahkan Kyuhyun jika ternyata hatiku sakit karena dirinya, itu adalah pilihanku. Jika aku tidak ingin sakit hati, seharusnya aku tidak jatuh cinta.”

Eunhyuk tidak bersuara, begitu pun Suzy. Sahabatnya itu terpukau dengan kesungguhan Jiyeon sekaligus menjawab pertanyaan mengapa Jiyeon menyukai Kyuhyun meskipun—menurutnya—Kyuhyun bukanlah tipe pria yang pantas dikagumi.
“Ayo Suzy.” Jiyeon menarik Suzy pergi. Suzy menoleh ke belakang sekilas dan melihat Eunhyuk menggeram lalu berbalik pergi dengan kesal.
“Hei, kau benar-benar berpacaran dengan Kyuhyun?” akhirnya Suzy mengajukan pertanyaan itu juga.
Kemarahan Jiyeon pudar digantikan dengan semburat merah yang muncul di kedua pipinya, “Sebenarnya sudah lama, tetapi baru tempo hari kami meresmikan hubungan ini.”
“Kau bercanda!” Suzy memekik, kedua matanya membelalak. “Mengapa aku tidak tahu tentang ini!”
“Kau selalu mencibir Kyuhyun, aku selalu ragu saat ingin mengatakannya,” keluh Jiyeon.

Suzy menggigit bibir menyadari ia terlalu sering mengomentari bagaimana buruknya sifat Kyuhyun di depan Jiyeon. Jika ia tahu ia tidak akan melakukannya. “Maafkan aku,” Suzy buru-buru meminta maaf.
Jiyeon tersenyum. “Tidak apa-apa. tapi kau berjanji tidak akan memberitahukan ini selain pada Yoona. Siapapun tidak boleh ada yang tahu. Aku tidak mau timbul gosip apapun di sekolah.”
Suzy masih tak bisa mengendalikan dirinya, ia terlalu kaget untuk menerima kenyataan bahwa Jiyeon berhasil mendapatkan hati pria yang disukainya. “Bagaimana bisa kau meluluhkan hati pria arogan itu?”
“Dengan ketulusan dan kegigihan.” Aku Jiyeon polos. Suzy mengangguk.
“Ya, kau memang pantang menyerah meskipun sudah disakiti Kyuhyun. Tapi,” Suzy menoleh dengan cepat pada Jiyeon, “Apa Kyuhyun mengatakan cinta padamu?”
Jiyeon menggigit bibir, “Sebenarnya, belum.”
“Apa, lalu bagaimana kalian bisa memutuskan bersama?”
“Aku tidak tahu. Semuanya tiba-tiba berakhir seperti ini.”
Suzy menatap Jiyeon dalam diam selama beberapa saat. “Apa?” Jiyeon penasaran mengapa Suzy menatapnya seperti itu. Suzy menggeleng lemah.
“Aku tiba-tiba takut. Bagaimana jika kata-kata pria menyebalkan tadi benar, dia hanya menganggapmu sebagai pengganti Tiffany Hwang?”

Jiyeon terkesiap. Eunhyuk sialan, mengapa pria itu justru meninggalkan perkara yang membuat Jiyeon gelisah?

—o0o—

Setelah salah belok sebanyak dua kali akhirnya mereka tiba di rumah Jiwon. Suzy tersenyum lebar dan memastikan sekali lagi ia tidak salah alamat. Yang tertera di depan rumah itu sama dengan yang ada dalam catatannya. Tidak salah lagi, ini memang rumah Kim Jiwon. Suzy membuka pagar rumah yang tidak terkunci lalu memasuki teras. Ia menekan bel dengan semangat.
“Apa Jiwon ada di rumah?” bisik Jiyeon.
“Tidak tahu. Kuharap ada.”
Tak lama kemudian pintu dibuka. Suzy tersenyum mengenali wanita paruh baya yang kini berdiri di hadapannya. Dia adalah ibu Jiwon.
“Mencari siapa, nak?” tanyanya ramah.
“Ibu, kau tidak mengenaliku?” Suzy memperlihatkan senyuman yang biasa ia perlihatkan dulu. Wanita itu mengerutkan kening selama beberapa saat lalu mengerjap begitu mengenalinya.
“Ya Tuhan, kau Bae Suzy? Sudah lama sekali, ayo masuk.” Wanita itu dengan ramah menyuruh Jiyeon dan Suzy masuk.
“Apa Jiwon ada di rumah?”
“Sayang sekali, Jiwon sedang pergi piknik bersama teman-temannya.”

Sayang sekali. Batin Suzy kecewa. Ia susah-susah datang kemari untuk bertemu Jiwon. Mengapa ia bisa memilih hari yang salah?
“Sudah lama sekali sejak Jiwon pindah. Ibu tidak tahu kau juga pindah ke Seoul.” Tanya ibu Jiwon setelah menghidangkan teh dan kue untuk Suzy dan Jiyeon.
“Ya, Ayahku dipindahtugaskan kemari. Dulu aku juga sangat terkejut ketika Jiwon tiba-tiba pindah.”
“Ah, ya. Tadinya sekolah Jiwon tidak akan pindah, tetapi pekerjaan Ayahnya di sini tidak bisa ditinggalkan karena itu kami semua ikut pindah ke Seoul, semuanya sangat tiba-tiba.”
Suzy mengangguk. Ia agak lega karena ternyata alasan Jiwon pindah sekolah bukan karena insiden itu. Karena lama menunggu Jiwon, mereka memutuskan pulang. Namun sebelum pulang Suzy ke kamar kecil dulu. Ketika akan kembali ke ruang tamu, ia melewati kamar Jiwon. Ia tahu karena di pintu terpasang papan dengan tulisan namanya. Suzy tersenyum, Jiwon tidak berubah. Gadis itu cenderung menulis namanya pada setiap benda miliknya. Suzy memutuskan masuk.

Kamar itu sedikit lebih luas dari kamar Jiwon di rumahnya yang dulu, tetapi Suzy bisa mengenali beberapa barang yang ia lihat di kamar Jiwon dulu. Sebuah syal yang tergantung di dekat meja belajar menarik perhatiaannya. Ia melebarkan mata mengenali syal rajutan itu.
Bukankah syal itu adalah syal buatannya ketika mereka sama-sama belajar merajut? Jiwon menyukai syal yang ia buat karena warnanya adalah merah muda, warna kesukaan Jiwon. Oleh sebab itu Suzy memberikan syal buatannya sementara Jiwon belum menyelesaikan satu syal pun hingga mereka berpisah.
Tanpa sadar airmata Suzy menggenang. Jiwon tidak membencinya karena Jiwon masih menyimpan benda pemberiannya, bukankah itu berarti ia memiliki arti di hati Jiwon? Melirik ke arah lain Suzy menemukan figura berisi fotonya dengan Jiwon ketika mereka sama-sama mengunjungi sebuah objek wisata di kota mereka tinggal dahulu. Saat itu adalah momen yang sangat menyenangkan.Tertera kata-kata dengan coretan khas anak kecil yang berbunyi,

BESTFRIEND 4Ever

Kedua mata Suzy terasa perih oleh airmata yang mendesak keluar. Tanpa sengaja ia menjatuhkan buku dari tas meja belajar itu karena panik airmatanya menetes. Sebuah buku harian jatuh dalam posisi terbuka menghadap ke atas. Suzy mengambil buku itu dan terkesiap karena tanpa sengaja membaca isinya. Ini adalah privasi Jiwon, mengapa ia membacanya? Ia buru-buru menyimpan buku itu kembali ke tempat semula. Dengan panik ia pergi sebelum ibu Jiwon menyadari ia masuk ke kamar putrinya tanpa izin. Ia mendesah lega ketika menyadari ibu Jiwon itu sedang mengobrol dengan Jiyeon. Setelahnya mereka benar-benar pamit untuk pulang.

—o0o—

Suzy dan Jiyeon berpisah di halte dekat sekolah. Karena rumah mereka yang berlawanan arah, mereka memutuskan pulang sendiri-sendiri. Suzy tidak pulang cepat karena ia memikirkan apa yang ia lihat di kamar Jiwon. Gadis itu masih menganggapnya sebagai sahabat, setidaknya itu yang membuat ia gembira. Jiwon tidak membuang semua benda kenangan mereka. Mungkin Jiwon hanya kesal. Ia harus memikrkan cara agar Jiwon mau memaafkannya.
Sepertinya ia memang harus memanfaatkan Kibum. Tidak, itu kejam. Suzy memijat keningnya karena tiba-tiba saja ia merasa pusing. Jiwon menyukai Kibum, dan hanya Kibumlah yang bisa menyembuhkan rasa sakit hati Jiwon. Hanya Kibum.
Suzy sudah tidak memikirkan apa-apa lagi ketika ia menelepon Kibum dan memintanya datang. Ia tidak tahu mengapa melakukannya tetapi Suzy merasa ini adalah jalan yang terbaik. Kunci kebahagiaan Jiwon adalah Kibum, begitu pun sebaliknya. Ia yakin Kibum akan menyukai Jiwon karena Jiwon adalah gadis yang cantik.

Kibum tiba di tempat janjian mereka tak lama kemudian. Wajahnya berseri-seri, membuat Suzy tidak tega merusaknya.
“Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat.” Ekpresi Kibum berubah khawatir setelah tiba di hadapan Suzy dan menatap wajahnya dengan seksama.
Suzy memang merasa tidak baik. Ia ingin sekali menyelesaikan masalah antara dirinya dan Jiwon sehingga persahabatan mereka bisa kembali seperti dulu. Tetapi apakah pantas jika ia mengorbankan perasaan Kim Kibum untuk ini?
“Aku baik-baik saja.” Suzy memperlihatkan senyum seperti biasa. Kibum menatapnya sejenak lalu mengangguk.
“Jadi kenapa kau tiba-tiba memanggilku? Apa kau ingin berkencan denganku?”
Ya Tuhan, dia masih begitu percaya diri. Suzy memutar bola mata. “Apa kau sudah mempertimbangkan permintaanku?”
Senyum cerah Kibum sedikit memudar, “Permintaan?”
“Tentang kau berpacaran dengan Jiwon.”

Ekspresi Kibum benar-benar berubah. “Bae Suzy, kau tahu aku tidak akan pernah mau melakukannya. Kenapa kau terus meminta hal yang sama? Kau menyuruhku melakukan hal yang akan aku sesali seumur hidup.”
Suzy tercengang, “Apa menerima Jiwon adalah sebuah aib? Dia adalah gadis yang baik.”
“Ya Tuhan,” Kibum mengacak rambutnya dengan frustasi, “Kau tahu aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap Jiwon. Yang kusukai adalah kau!” jelasnya hampir berteriak.
Tapi Suzy tidak mendengarkan itu, “Kumohon, ini satu-satunya cara agar Jiwon mau memaafkanku.” Suzy mengiba dengan memegang tangannya. Hal itu tidak cukup bodoh untuk mengubah jalan pikiran Kibum. Sebaliknya, pria itu justru mengerang kesal.
“Aku akan menjelaskannya pada Jiwon. Aku akan meminta maaf bahwa aku tidak bisa menyukainya. Aku yakin dia akan mengerti bahwa aku menyukaimu, bukan dia. Aku juga akan memintanya untuk memaafkanmu.” Kibum langsung berbalik pergi.

Apa? Suzy terperanjat panik. Jika Kibum melakukannya Jiwon akan semakin membencinya. “Tidak, jangan jelaskan apapun padanya, kumohon.” Suzy menarik tangan Kibum yang akan menyeberang.
“Kenapa, kau takut dia akan marah besar padamu?”
Suzy tidak menjawab. Kibum memegang tangannya, mencoba memberinya pengertian. “Aku mengerti perasaanmu. Sebagai sahabat yang baik, kau pasti ingin dia bahagia. Tapi Suzy, cobalah kau pikirkan. Jiwon akan sangat sedih jika tahu aku menerima cintanya demi memenuhi permintaanmu. Itu lebih menyakitkan dibandingkan aku menolaknya secara langsung.”

Suzy merenung. Ucapan Kibum memang benar. Mengapa ia tidak mempertimbangkan perasaan Jiwon juga?
Kibum lalu tersenyum, “Karena itu biarkan aku menjelaskannya. Aku yakin Jiwon akan mengerti.” Setelah itu Kibum memutuskan menyeberang saat lampu menunjukkan tanda aman. Suzy terkesiap sadar saat Kibum menyeberangi jalan. Tidak, meskipun ini demi kebaikan Jiwon, Kibum tidak harus menjelaskannya karena Jiwon akan tetap sakit hati. Suzy bergerak.

“KIBUM JANGAN—“

Langkah Kibum terhenti karena tiba-tiba saja suara keras terdengar di belakang tubuhnya tepat ketika lampu menunjukkan waktunya mobil berjalan dan ia tiba di seberang jalan. Suara teriakan Suzy terpotong oleh suara mengerikan lain yang membuat orang-orang menjerit histeris, panik, dan terkejut.
Kibum membalikkan badan secepat kilat. Orang-orang berlarian menuju mobil yang terhenti di tengah jalan. Sepertinya terjadi kecelakaan.
“Panggil ambulans, seorang gadis tertabrak!” teriak seseorang membuat jantung Kibum jatuh dari tempatnya. Mungkinkah? Kakinya melesat ke tempat kejadian secepat yang ia bisa. Menyeruak ke dalam kerumunan orang dengan paksa.
Seperti tersambar petir, seluruh tubuh Kibum kaku melihat tubuh Suzy tergeletak di tengah jalan dalam kondisi berlumuran darah.
Kedua mata mata gadis itu terpejam. Tak bergerak.

Hidup Kibum seperti berakhir detik itu juga.

~~~TBC~~~

255 thoughts on “School in Love [Chapter 23]

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s