Crazy Because of You [Chapter 5]

Tittle : Crazy Because of You Chapter 2
Author : DHA KHANZAKI a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Hurt

Main Cast :
Min Sora | Lee Donghae

Support Cast :
Kim Soohyun

Dha’s Speech :
Part ini agak panjang. Hati-hati typo dan selamat membaca ^_^

Crazy Because of You by Dha Khanzaki 5

=====o0o=====

CHAPTER 5
Between Two Man

“SIAPA gadis itu?”

Donghae menaikkan alisnya sebelah mendengar nada curiga kakaknya. “Aku sebutkan pun kau tidak akan mengenalnya.”
Ibunya mengabaikan pertanyaan Narin, ia menatap putranya dengan gembira, “Seperti apa dia?”
Donghae langsung tersenyum, “Ibu tenang saja, Sora gadis yang baik. Aku yakin Ibu akan menyukainya. Sora-ku sangat cantik.”
“Ah, jadi namanya Sora, namanya saja cantik. Ibu tidak sabar ingin bertemu dengannya. Kapan kau akan memperkenalkannya pada Ibu?”

Dengusan keluar dari mulut Donghae, “Bukankah sudah kukatakan, dia tidak mau menemuiku. Aku sudah melakukan kesalahan padanya?”
“Apa kau yakin? Kau yakin alasannya adalah itu? Bagaimana jika ternyata gadis itu menggunakan kesalahanmu untuk menghindar? Mungkin sebenarnya selama ini dia hanya memanfaatkanmu. Sebenarnya dia mendekatimu karena kau kaya, tampan, dan—“
“Narin, cukup.” Sentak Ibunya. Narin melirik Donghae dan sadar ekspresi adiknya telah berubah suram. Donghae tidak mengatakan apapun.
“Aku hanya mencemaskanmu saja. Aku tidak mau kau mengulangi kesalahan yang sama.”
Nuna, kau mengenalku bukan,” sindir Donghae dingin, tanpa menatapnya. “Aku bukan tipikal pria yang akan jatuh pada lubang yang sama.”

Suasana menjadi beku selama beberapa saat. Mereka bertiga tahu topik pembicaraan ini telah mengingatkan pada kenangan buruk Donghae di masa lalu. Narin menghela napas setelah mendapat lirikan tajam ibunya.
“Maafkan aku. Kau bukan pria bodoh, aku tahu. Kau pasti akan memilih gadis baik-baik untuk kau nikahi.” Setelah berkata begitu Narin menggendong putranya lalu pergi keluar kamar.
“Jangan diambil hati. Kakakmu hanya mencemaskanmu.”
“Tidak apa-apa.” Donghae memaksakan senyum pada ibunya. Ia menekan kuat-kuat rasa marah yang mendadak meledak karena kata-kata yang diucapkan Narin. Tiba-tiba ia seperti ditikam kembali oleh rasa sakit yang ia alami beberapa tahun lalu karena dicampakkan seseorang. Tetapi sekarang itu sudah tidak penting lagi. Ia lebih mengkhawatirkan bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Min Sora.
Ibunya memberinya obat setelah memaksanya makan bubur. Donghae beristirahat sambil memikirkan siasat untuk meminta maaf pada Sora.

—o0o—

Sora melirik keluar jendelanya. Ia memiringkan kepala lalu mendesah sedih. Ini sudah hari ketiga Donghae tidak muncul untuk mengganggunya. Apa akhirnya dia menyerah untuk meminta maaf ? Seharusnya Sora senang, namun sebaliknya ia justru merasa sedih. Apa ini pertanda bahwa Donghae sudah tidak menginginkannya lagi?
Benar juga. Gadis sepertinya tidak pantas untuk dipertahankan. Untuk apa Donghae susah-susah mengemis padanya di saat pria itu bisa mendapatkan gadis mana pun yang diinginkannya?

Bodoh, Sora sadar rasa ironis dalam hatinya muncul karena sebenarnya ia begitu mengharapkan Donghae. Ia marah karena pria itu memeluk gadis lain. Ia hanya ingin menenangkan diri selama beberapa waktu. Ia tidak berharap Donghae akan meninggalkannya.
Min Sora telah jatuh cinta pada Donghae. Ia menginginkan cinta Donghae yang tak kunjung diberikan pria itu. Di saat Donghae bermesraan dengan gadis lain ia marah. Berhari-hari ia tidak membiarkan Donghae bicara dengannya. Ia ingin menghukum Donghae. Namun pada akhirnya ia justru ditinggalkan.

Ponselnya berdering. Dengan lunglai Sora mengangkatnya.

“Sora-ssi, senang kau mengangkat panggilanku.”

Sora menegakkan tubuhnya. Kim Soohyun meneleponnya. “Ada apa, Soohyun-ssi?”
“Aku tidak bisa menghubungi ponselmu selama beberapa hari. Aku khawatir terjadi sesuatu padamu. Syukurlah kau baik-baik saja.” nada suaranya yang riang dan ringan menyiratkan kelegaan. Sora tiba-tiba merasa tidak enak karena membuat orang lain khawatir.
“Terima kasih sudah mencemaskanku. Aku sedang menenangkan diri, karena itu aku mematikan ponselku karena tidak mau ada gangguan.” Ia juga ingat bagaimana Jeyoung memarahinya kemarin karena ia mematikan teleponnya. Jeyoung datang ke apartemennya. Istri Cho Kyuhyun itu berpikir macam-macam setelah mendengar insiden di kelab malam dari suaminya. Sora tidak akan bunuh diri hanya karena patah hati, ia mengingatkan itu pada sahabatnya.
“Bagaimana perasaanmu saat ini?”
“Cukup baik,” tidak, sebenarnya aku merasa sedih dan frustasi.
“Apa kau ada waktu untuk makan siang?”
“Apa?” Sora terkejut. Soohyun mengajaknya makan siang?
“Kau bersedia bukan? Aku hanya ingin melihat sendiri bahwa kau baik-baik saja.”

—o0o—

Bukankah ini adalah hotel milik keluarga Lee Donghae? Sora terkejut ketika ia tiba di depan gedung yang menjulang tinggi. Ia menoleh pada Soohyun, mengharapkan penjelasan dari pria itu mengapa mengajaknya makan siang di tempat ini.
“Restoran hotel ini menyediakan menu makan siang yang lezat. Aku beberapa kali mampir kemari bersama keluargaku.” Jelas Soohyun sambil tersenyum ramah. Sora menanti penjelasan lain namun tidak kunjung keluar dari mulutnya. Akhirnya Sora menyimpulkan Soohyun tidak tahu bahwa dia mengajaknya ke tempat yang tidak semestinya. Demi menghormati Soohyun, Sora mengikutinya masuk. Ia hanya berharap tidak akan bertemu Donghae di dalam sana. Ia belum siap. Tepatnya, ia tidak tahu reaksi apa yang harus ia berikan.

Soohyun adalah pria yang benar-benar sopan. Dia tidak mencoba memegang tangannya ketika mereka berjalan masuk melintasi lobi hotel yang cukup dipenuhi orang siang itu. Rupanya banyak orang memilih menikmati makan siang di restoran tujuan mereka berdua. Soohyun hanya sesekali mengajaknya bicara topik-topik yang umum seperti cuaca dan isu hangat akhir-akhir ini yang mana membuatnya merasa lega sekaligus nyaman.

Restoran itu cukup diminati sehingga diperlukan sebuah reservasi lebih dulu saat ingin makan di sana. Sora terkesan karena Soohyun sudah repot-repot memesan tempat di restoran ini hanya untuk mengajaknya makan siang.
“Pesanlah apapun yang kau mau.” Soohyun berkata saat mereka duduk di kursi yang berada di sudut ruangan, dekat dengan jendela. Begitu pelayan pergi setelah mencatat pesanan mereka, Sora tidak bisa menahan dirinya untuk melihat-lihat sekitar restoran. Tempat ini sangat romantis dan nyaman. Sora menyukai arsitekturnya yang tidak terlalu mewah sehingga ia tidak merasa terintimidasi saat masuk ke dalamnya.
“Sepertinya aku tepat mengajakmu kemari.”
Sora tersentak, lalu menoleh pada Soohyun. “Terima kasih sudah mengajakku ke tempat seindah ini.” ia tersipu. Soohyun terlihat begitu puas, ekspresi itu entah mengapa membuat Sora merasa tidak enak hati.

“Kudengar kau tidak masuk kerja. Apa itu karena efek patah hati?”
Pertanyaan yang mengejutkan. Leher Sora seperti ditohok, ia mencoba tersenyum riang seolah itu tidak benar namun gagal, “Terlihat jelas ya?” lirihnya ironis.
“Ah, pria bodoh mana yang melakukan ini padamu, aku sungguh tidak bisa memaafkannya.” Desah Soohyun pura-pura tidak tahu. Padahal pria itu tahu dengan jelas siapa pelakunya. “Apa kau ingin aku membalaskan dendammu? Aku bisa satu atau dua kali memukul pria yang membuatmu patah hati itu.”
“Hah?” Napas Sora tercekat, “Kau tidak perlu sampai melakukan itu, Soohyun-ssi!!” pekiknya histeris. Apa Soohyun sudah kehilangan akal?

Reaksi Sora yang terlalu cepat membuat Soohyun tertawa, “Aku hanya bercanda.”
Sadar tidak seharusnya membentak, pipi Sora memanas, “Maaf, aku kaget. Dari penampilanmu aku yakin pria sepertimu tidak mungkin melakukan kekerasan.”
“Kau hanya takut aku melukai Lee Donghae tersayang-mu, bukan?”
“Apa? Bukan begitu,” Sora gelagapan. Untuk sesaat ia memang berpikir demikian. Ia tidak mau siapapun melukai Donghae.
“Tidak apa-apa. Aku merasa nyaman denganmu karena kau gadis yang selalu berterus terang. Aku tidak perlu khawatir akan ditipu wanita.” ia mencondongkan badannya lalu berbisik penuh misteri, “Kau tahu bukan aku pria yang polos dan murni, aku cenderung mudah sekali terpikat pada wanita dan tertipu oleh sikap manis mereka.”

Kali ini gantian Sora yang tertawa. Selera humor Soohyun bagus sekali. “Kau berlebihan. Murni dan polos, ck, ada-ada saja.”
Soohyun mendesah senang. Ia gembira melihat Sora tertawa seperti ini. Selama beberapa hari kemarin, sejak melihat Sora menangis ia terus merasa gelisah. Ia khawatir Sora akan melakukan hal-hal bodoh atau terpuruk sampai berbulan-bulan. Ia lega karena Sora baik-baik saja. Soohyun sadar penyebab hatinya begitu gundah karena ia merindukan Sora, bahkan mungkin mencintainya.

Mereka menikmati makan siang sambil mengobrol. Soohyun sungguh sosok yang menyenangkan untuk diajak bicara. Diam-diam ia memandangi Soohyun. Berbagai perasaan berkecamuk dalam hatinya. Pria ini begitu baik, memperlakukannya dengan sopan dan mendengarkan seluruh ceritanya tanpa menyela. Sora beruntung bisa bersamanya. Tetapi entah mengapa ia merasa bersalah. Ia merasa berada di tempat yang salah. Seharusnya ia tidak bersama Soohyun. Ia merasa seperti sedang menipu Soohyun.
Mungkin perasaannya akan lebih baik jika Donghae memperlakukannya sama seperti cara Soohyun memperlakukannya.

Sora langsung menggelengkan kepala. Ketika ia mengangkat kepalanya lalu menoleh ke arah lain, ia terkejut melihat sosok Donghae berjalan memasuki restoran. Awalnya ia terkejut, tetapi kemudian rasa kaget itu berubah menjadi rasa cemburu saat ia sadar Donghae bersama seorang wanita.
Siapa wanita itu? Timbul dorongan besar dalam diri Sora untuk mengetahui identitas wanita yang bersama Donghae setelah itu menjambak rambutnya. Sora terus memerhatikan sampai Donghae dan wanita itu duduk di salah satu kursi di sudut yang lain. Melihat Donghae tersenyum sambil menarik kursi untuk wanita itu, dada Sora seperti diperas. Rasa sesak mencekik tenggorokannya.
Ternyata Donghae memang mencampakkannya demi wanita lain. Sora sadar dugaannya memang benar.

“Kau ingin kita pergi?” tanya Soohyun. Sora terkesiap. Ia menoleh pada Soohyun yang memandangnya khawatir. Untuk sesaat ia lupa bahwa Soohyun ada bersamanya. Perhatiannya benar-benar terfokus pada Donghae sehingga membuatnya melupakan hal lain. Ia merasa malu dan menyesal. Rupanya Soohyun menyadari apa yang membuatnya membelalakkan mata seperti orang tolol.
“Maaf.” Sora tersenyum kecil, “Tidak masalah, kita lanjutkan saja.” ia tahu ia sedang berpura-pura tidak memedulikan Donghae tetapi hati kecilnya tidak. Sesekali secara diam-diam ia melirik ke arah Donghae dan wanita itu berada. Sora mendengus, kesal karena Donghae bahkan tidak menyadari keberadaannya.
“Kau baik-baik saja?” Soohyun cemas karena Sora mulai menusuk-nusuk makanan di piringnya dengan garpu.
“Oh,” Sora terkesiap, “Tentu saja.” ia tertawa kikuk lalu menyuap steak yang sudah dirusaknya. Kenapa rasa steak ini berbeda dengan sebelumnya? Ia ingat tadi rasanya lebih enak dari yang ia makan sekarang.

Helaan napas Soohyun membuat Sora mengangkat kepalanya. Pria itu tampak bersabar. Sora kali ini benar-benar merasa bersalah.
“Maaf karena bersikap menyebalkan. Kau sudah susah-susah mengajakku kemari tetapi aku justru memperlakukanmu dengan buruk.”
Soohyun tersenyum kecil, tidak menyalahkan Sora sama sekali. “Sejujurnya aku sangat iri pada Lee Donghae.”
Sora menatapnya dengan kedua mata melebar.
“Pria itu sangat beruntung karena ditangisi dan dicemburui olehmu. Tetapi aku tidak mau menjadi pria yang membuatmu menangis.” Soohyun diam sejenak, lalu memandang lurus ke kedalaman mata Sora. “Kau terlalu berharga untuk disakiti.”

Sora tak berkomentar, kehabisan kata-kata karena ucapan Soohyun. Melihat keraguan di mata gadis itu, Soohyun menegaskannya.
“Kau benar-benar tidak merasakannya? Alasan mengapa aku mengajakmu kemari karena aku ingin mengambil hatimu.”
Sora tercekat.
“Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu,” Soohyun tertawa kecil, “Awalnya aku tidak menyadari hal itu, tetapi setelah beberapa hari tidak bertemu, aku sadar aku ingin sekali melihatmu, hanya memandangmu pun tak masalah. Aku gembira melihatmu ada dalam jarak pandangku. Melihatmu tersenyum, mendengar suara tawamu. Semua tentangmu membuatku merasa..hidup ini berjalan sebagaimana mestinya.” Nada suara Soohyun berubah menjadi gugup, “Apa aku benar-benar tidak memiliki kesempatan? Bisakah kau menerimaku dan perasaanku?”

Sejujurnya, saat ini Sora tiba-tiba merasa kehilangan ingatan. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya dan siapa sebenarnya dirinya. Seseorang harus menyadarkannya dan memberitahunya bahwa ia tidak sedang bermimpi. Soohyun menyatakan cinta kepadanya. Itu merupakan keajaiban lain. Ia tak percaya ia akan mendapatkan perhatian seperti itu dari seorang pria selain Lee Donghae.
“Sora,” Soohyun gusar melihat Sora termangu, “Maaf telah membuatmu terkejut. Aku tahu ini terlalu cepat. Seharusnya aku tidak mengatakan apapun.”

Tidak, ini memang terlalu cepat. Sora kewalahan. Bibirnya terlalu kelu untuk mengucapkan satu patah kata saja. Ia harus mengatakan sesuatu. Jangan biarkan Soohyun menanti-nanti.
Sora memaksakan seulas senyum, “Well, aku memang sedikit kaget. Aku ingin menjawabnya, tetapi aku tidak yakin apakah jawabanku akan memuaskanmu.”
“Kalau begitu kau tidak perlu mengatakannya.” Melihat Sora tergagap-gagap Soohyun memberikan senyuman tulus untuk menenangkan Sora. “Aku memang tidak berharap akan diterima, tetapi setidaknya aku ingin kau memberikan jawaban yang sesuai dengan isi hatimu. Aku bisa menunggu sampai kau siap menjawabnya.”

Sora melemaskan bahu. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi karena ia sedang berhadapan dengan pria yang benar-benar baik. Sikap Soohyun yang begitu lembut dan perhatian padanya membuat Sora merasa tidak pantas disukai olehnya, entah mengapa.
“Untuk saat ini, aku cukup senang bisa makan siang bersamamu.”
“Benarkah?” Sora menghembuskan napas lega melihat Soohyun bertingkah seolah dia tidak mengatakan apapun sebelumnya. Sora diam-diam melirik Donghae, pria itu sekarang sedang terlibat perbincangan serius dengan wanita yang duduk bersamanya. Pria itu bahkan masih tidak menyadari keberadaannya?
Tentu saja bodoh, siapa yang mau melirik ke arah lain saat bersama wanita secantik itu. Sora mendengus sebal. Ia kesal pada diri sendiri karena masih mengharapkan Donghae di saat ia patah hati karena pria itu.

Donghae sepertinya merasa diperhatikan karena entah mengapa tiba-tiba saja pria itu menolehkan kepala ke arahnya. Jantung Sora seperti melompat ke tenggorokan saat sepasang mata tajam Donghae menusuk tepat ke matanya lalu menembus jauh ke hatinya.

Ya Tuhan, Donghae menangkapnya!

Dengan panik Sora mengambil tangan Soohyun lalu menggenggamnya, entah untuk alasan apa. Soohyun mengerjapkan mata berkali-kali. Selama beberapa detik ia bingung dengan tindakan impulsif Sora, tetapi ketika menyadari Donghae sedang memerhatikan mereka dari seberang ruangan dengan kedua mata menyipit marah, ia langsung memahami situasi dan membiarkan Sora menggenggam tangannya.
“Maaf,” Sora bergumam sambil tertawa, ia ingin tampak seperti sedang bercanda dengan kekasihnya jika dilihat dari jauh. Soohyun ikut tertawa karena merasa geli melihat akting Sora yang berantakan. Tetapi ia meladeni permainannya.
Sora sendiri tidak tahu mengapa ia melakukan ini. Ia terkesan seperti ingin membuat seseorang cemburu. Sepertinya seseorang memang cemburu, atau mungkin terbakar emosi karena Sora bisa merasakan dirinya panas.

Suara derap kaki terdengar mendekat. Sora menegang, bersiap-siap menghadapi apapun yang akan terjadi.
“Min Sora!”
Donghae memanggilnya dengan suara tegas. Terdengar senang sekaligus marah. Dengan takut-takut Sora mengangkat kepalanya. Ia mengeset ekspresinya agar tampak sebiasa mungkin. Tenangkan dirimu Sora, jangan terguncang melihat wajah tampan dan..

Ya Tuhan, Sora tercengang ketika ia menatap sosok pria yang dirindukannya. Meskipun sedang menahan emosi Donghae tetap tampak mempesona. Tidak, tidak, Sora menepis dewi batinnya yang mudah sekali terpesona jauh-jauh.
“Oh, Lee Donghae, tak kusangka bisa bertemu denganmu di sini.”
Donghae tidak menjawab sapaannya. Pria itu justru menatapnya dengan pandangan menyelidik. Kenapa, apa ada yang salah dengan suaranya? Sora yakin tadi sudah menyapa Donghae dengan riang, tenang, dan dihiasi senyuman.

Lee Donghae mengeraskan rahangnya. Ia sedang berusaha keras mengendalikan monster dalam dirinya agar tidak bertindak anarkis. Sedetik setelah melihat Sora menggenggam tangan Kim Soohyun, sekujur tubuh Donghae langsung terbakar api cemburu. Ia mendapatkan dorongan kuat untuk menghajar Soohyun. Ia bahkan mengabaikan kakaknya yang melihat dari jauh dengan pandangan ingin tahu.

Ketika memutuskan datang ke hotel ini, ia tanpa sengaja bertemu dengan kakaknya, Narin. Narin mengajaknya makan siang di restoran hotel dan ia tak bisa menolak. Mereka berbincang tentang beberapa hal konyol dan Donghae mulai merasa bosan lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain, entah mengapa ia memang ingin sekali menoleh ke arah sampingnya sejak awal. Dan ia tak percaya akan mendapatkan pemandangan yang paling menyebalkan seumur hidup.

Min Sora sedang bermesraan dengan Kim Soohyun!

Selama berhari-hari Donghae mencoba menghubungi Sora, gadis ini tidak mau menjawabnya. Pikirannya berantakan, bertanya-tanya mengapa Sora masih tidak mau bicara dengannya. Sekarang ia melihatnya sedang bermesraan dengan pria lain. Sebut ia tidak normal jika ia tidak marah dan menyerbu pasangan itu seperti banteng yang mengamuk.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya tajam tanpa melepaskan pandangannya dari Min Sora. “Aku mencoba menemuimu beberapa hari ini tetapi kau tidak mau melihat wajahku sekali pun. Dan sekarang apa yang kulihat ini? Kau pergi makan siang bersamanya!” dengan kejam Donghae menuduh Soohyun.

Sora mengeryitkan kening, tidak suka. “Apa ini urusanmu?”
“Tentu saja!” bentak Donghae.
“Apa aku kekasihmu?” Suara Sora ikut naik satu oktaf.
“Itu,” Donghae langsung kehilangan kata-kata.
“Kau bahkan tidak pernah mengatakan cinta padaku, sekali pun. Apa alasanmu keberatan dengan apa yang kulakukan sekarang?” Sora melirik wanita yang sejak tadi ia curigai sebagai kekasih baru Donghae. “Kau saja bisa berkencan dengan wanita lain setiap saat kenapa aku tidak?”

Donghae menggelengkan kepalanya tak percaya, “Sora, aku tidak pernah berkencan dengan siapapun, bahkan dengan wanita yang kupeluk di kelab malam waktu itu.”
Sora memutar bola mata karena tiba-tiba matanya kembali panas. Terima kasih sudah mengingatkanku pada memori sialan itu, Sora mencibir dalam hati, “Ya, kau tidak berkencan dengannya, hanya menciumnya.”
“Aku tidak menciumnya,” Dengus Donghae kesal, “Kau marah padaku karena itu? kau cemburu melihatku mencium wanita lain?”
Kali ini Sora yang tergagap. Seperti pencuri yang tertangkap basah, ia panik. Terlebih ketika menyadari Donghae tersenyum lebar.
“Sungguhkah itu Sora, kau cemburu padaku?” Donghae kini tidak tampak marah lagi, pria itu justru bertanya dengan nada penuh harap.

“Maaf, Donghae-ssi. Aku sedang makan siang dengan..” Sora melirik Soohyun, pria ini tidak keberatan ikut permainannya. “Partnerku.” Lanjutnya, melirik Donghae.
Donghae mengerjapkan mata. Ia mulai merasa tidak nyaman dengan caran Sora menatapnya.

Sora ingin sekali pergi dari tempat ini. Ia mulai merasa gusar. Soohyun sepertinya bisa membaca situasi karena pria itu langsung mengangkat sebelah tangannya yang tidak dipegang Sora, meminta pelayan memberikan tagihan makan mereka.
Tatapan Donghae langsung tertuju pada tangan Sora yang digenggam Soohyun dengan begitu erat. Lepaskan itu, brengsek. Batin Donghae jengkel. Tetapi Soohyun justru tersenyum penuh kemenangan membalas tatapan penuh permusuhannya.
“Bisakah kau berhenti memegang Sora seolah dia milikmu?”desis Donghae.
“Tidak bisa,” sahut Soohyun tenang. “Sepertinya sudah saatnya kita pergi.” ia berdiri, menarik Sora bersamanya. “Permisi, Donghae-ssi. Kami duluan.” Ia memberikan lirikan tajam lalu membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar Donghae.
“Sudah saatnya kau berhenti mengejar Sora.” Setelah mengatakannya Soohyun mengajak Sora keluar dari restoran itu.
“Yaa!!” Donghae berteriak. Beberapa orang menoleh. Donghae tidak bisa membiarkan Sora dibawa pergi begitu saja. Ia mengejar Soohyun. Tetapi ketika ia melewati pintu masuk restoran, Narin menjegal tangannya.

“Percuma saja kau mengejarnya.”
“Aku tidak bisa membiarkan Sora bersama pria itu!” Donghae menarik kembali tangannya namun Narin memotong langkahnya.
“Kau tidak lihat? Dia bersama dengan pria lain. Gadis itu tidak mencintaimu.”
Nuna,” Donghae kesal. Entah harus dengan kata apa lagi ia menjelaskan bahwa ia mencintai Sora. Kakaknya ini tidak pernah yakin dengan wanita yang dipilihnya. Narin selalu takut wanita yang ia pilih akan menyakitinya. Ia sudah dewasa, bukan remaja cengeng yang akan merajuk dan pergi keluar negeri hanya karena patah hati. Ia bukan Lee Donghae yang dulu lagi.
“Sadarlah Lee Donghae,” Narin mengguncang bahunya. “Mengemis cinta bukanlah gayamu. Lebih baik kau lupakan dia dan mencari gadis lain.”

Donghae melemparkan tatapan sengit pada Narin, “Tidak akan ada gadis lain setelah Min Sora. Dia adalah yang terakhir untukku!”
Narin tercengang ketika Donghae membalikkan badannya. Namun baru beberapa langkah pria itu menoleh memandangnya.
“Ah, gara-gara dirimu, Sora kembali salah paham. Terima kasih atas bantuannya, Nuna. Seharusnya kau tidak pernah mengajakku makan siang.”

—o0o—

Sora semestinya merasa lega setelah  membuat Donghae merasakan apa yang ia rasakan tempo hari saat melihatnya bersama gadis lain. Tetapi bukannya senang, Sora justru mendapati beban di hatinya kian bertambah. Perasaan sedih itu tidak berkurang, melainkan semakin menggerogoti hatinya seperti belatung. Ia merasa sangat konyol dan menyedihkan. Bahkan saat Soohyun melepaskan tangannya pun, Sora tetap merasa dirinya tidak menapak bumi.
Pikirannya tertinggal di ruang makan dan sekarang ia hanyalah tubuh tanpa jiwa.
“Sora, kau baik-baik saja?” untuk ke sekian kalinya Soohyun bertanya. Sora memaksakan diri mengangguk dan tersenyum. Soohyun tak berkomentar apa-apa. Pria itu diam ketika membukakan pintu mobil untuknya, dan diam sepanjang perjalanan hingga ia tiba di depan apartemennya. Namun sebelum ia turun, Soohyun memegang tangannya—itu pun dengan cara yang amat sopan.

“Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi apa kau bersedia jika lain kali kita pergi bersama seperti ini? Makan malam mungkin?”
Melihatnya meminta dengan penuh harap, dan setelah apa yang Soohyun lakukan padanya hari ini bagaimana bisa ia menolak? Sora akan menjadi sangat kejam jika berkata tidak.
“Tentu saja.” Sora tersenyum tulus. Soohyun sangat baik, haruskah ia memberi pria ini kesempatan? Sepertinya ia tidak akan merasa kecewa jika bersama pria seperti Soohyun. Sora memutuskan memberikan satu hadiah kecil atas kebaikan Soohyun hari ini. Ia mencondongkan tubuhnya untuk mencium pipi pria itu.

Soohyun terkejut, tentu saja. “Terima kasih untuk hari ini.” bisiknya, setelah itu ia turun. Sora tidak menoleh lagi karena ia tidak ingin tahu ekspresi Soohyun tetapi ia bisa merasakan pria itu tersenyum.

—o0o—

Seperti yang sudah ia duga, pertemuan hari ini berdampak buruk bagi perasaannya. Semalaman Sora tidak bisa tidur. Ia bisa gila karena terus memikirkan Donghae. Ia tidak senang sama sekali setelah membuat pria itu cemburu. Mengapa, mengapa ia seperti ini?

Donghae mencoba menghubunginya berkali-kali tetapi ia membiarkan ponselnya mengamuk semalaman.

“Aku tampak seperti hantu.” Gumamnya saat bangun keesokan paginya. Ia bahkan lupa kapan ia tertidur. Sekarang sudah waktunya ia masuk kerja. Diam di rumah seharian bisa berdampak buruk bagi kejiwaannya. Ia butuh pengalih perhatian. Bekerja mungkin bisa membantu. Ia akan melupakan masalahnya dengan Donghae sejenak dan fokus bekerja.

“Sora, datanglah ke ruanganku.” Sora mengerutkan kening ketika menerima telepon dari Cho Kyuhyun. Ia sedang konsentrasi dengan berkas-berkas pegawai baru saat telepon di ruangannya berdering. Sebagai seorang bawahan, ia hanya menurut ketika sang Presdir sendiri yang memintanya. Mungkin Kyuhyun ingin menanyakan tentang tugas yang ia tinggalkan seminggu yang lalu. Ia membawa berkas yang dimaksud untuk berjaga-jaga.

Tiba di ruangan Kyuhyun bukan hanya bingung tetapi Sora juga terkejut. Ia bekerja untuk menghindari masalah tetapi mengapa masalah itu justru datang menghampirinya seperti ini?

Sora tak bisa mengelak saat mengetahui Donghae berada di sana, di ruangan Kyuhyun. Ia tahu perusahaan Donghae bekerja sama dengan perusahaan tempatnya bekerja ini, tetapi apa yang dilakukannya di ruangan Presdir sepagi ini? Baru sejam berlalu sejak jam masuk kantor dimulai.
“Ah, Nona Min. Syukurlah kau sudah tiba. Seseorang ingin bicara denganmu.” Kyuhyun tersenyum lalu mengendikkan kepalanya pada Donghae. Pria itu tersenyum. Sora mengumpat dalam hati. Donghae benar-benar licik karena menggunakan Kyuhyun untuk menemuinya. Ia tidak bisa membantah saat ia berada di ruangan Presdir.
“Akan kutinggalkan kalian berdua. Em,” Kyuhyun melirik pada Donghae, “Jangan kacaukan ruanganku dan jika kau membuat Sora menangis, siap-siap saja menerima amukan istriku.”
Sora tidak menjawab. Ia membungkukkan badan dengan hati bergemuruh ketika Kyuhyun melewatinya. Ia tidak percaya akan dijebak dengan cara seperti ini.

Setelah Kyuhyun meninggalkan mereka hanya berdua di ruangan itu, Sora menegakkan badannya.

“Sora, kita harus bicara.”
“Bicaralah,” sahut Sora dingin.
“Setidaknya bisakah kau menghadapiku?”
Sora menelan ludahnya dengan susah payah. Ia berusaha membalikkan badan setelah menetapkan hatinya. Ketika mata mereka bertatapan, Sora melihat sorot lelah, sedih, dan tak berdaya dalam mata Donghae. Untuk sesaat ia merasa kasihan. Tetapi mengingat Donghae telah mempermainkannya, rasa kasihan itu lenyap.
Bukannya segera memulai perbincangan, Donghae justru menatap Sora lekat-lekat. Pria itu tampak merindukannya. Donghae senang melihatnya. Ah, itu mustahil. Sora yakin ia salah menyimpulkan.

“Cepat katakanlah, masih banyak pekerjaan yang harus aku rampungkan hari ini.” desak Sora tidak sabar karena Donghae hanya diam. Donghae mengerjapkan mata.
“Aku ingin minta maaf tentang kejadian kemarin. Aku tidak pernah sengaja melakukannya, Sora. Aku tidak pernah mencoba mempermainkan siapapun. Akhir-akhir ini pusat perhatianku hanya dirimu. Sekalipun aku bersama gadis lain, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu.”
Sora tidak berkomentar. Melihatnya tampak tak peduli, dengan gugup Donghae kembali melanjutkan. “Karena itu berhentilah mengabaikanku, kumohon. Aku ingin kita seperti dulu. Berbicara satu sama lain tanpa beban. Maukah kau memaafkanku?”
“Agar kau bisa memperlakukanku seenaknya? Memainkan hatiku seperti bola basket yang kauoper ke sana kemari?” sinis Sora. Donghae menggeleng membantahnya.
“Kau salah, Sora. Aku tidak mempermainkanmu. Semua yang kulakukan tulus untukmu.”
“Lalu kenapa kau memeluk dan mencium gadis itu?”
“Aku tidak sengaja melakukannya. Saat itu Saerin merayuku, aku sedang menolaknya saat kau melihatku.”

Sesuatu mendesak keluar dari sudut mata Sora. Aliran panas itu meleleh di pipinya. Hatinya tersayat-sayat karena teringat kembali saat ketika ia tercabik melihat Donghae bermesraan dengan wanita lain.
Donghae sudah mencoba meminta maaf sekaligus berusaha memahami Sora. Ketika menyadari Sora tidak kunjung luluh, ia mulai gelisah. “Bukankah kita sudah sepakat hubungan kita hanya sahabat, lalu kenapa kau semarah ini melihatku bersama wanita lain?”

Sora sudah tidak tahan lagi karena Donghae tak kunjung mengerti mengapa ia marah.
“Karena aku mengharapkanmu!” bentak Sora kesal. Pandangannya kabur oleh airmata. Ia tidak marah karena Donghae bersama wanita lain. Tetapi ia marah karena Donghae memberinya harapan palsu. Donghae menggantungkan perasaannya, membuatnya terombang-ambing dalam ketidakpastian. Sebenarnya Sora hanya meminta hal sederhana, katakan cinta dan semua keraguan itu hilang.

“Selama ini kau memberiku isyarat bahwa kau menyukaiku. Dengan senang hati aku menerima perlakuanmu karena aku pikir kelak kau akan berkata bahwa kau mencintaiku. Tetapi hari berubah bulan dan bulan berubah tahun kau tak kunjung memberiku kejelasan. Aku bertahan denganmu karena aku percaya kau tidak mempermainkanku tetapi pada akhirnya aku sadar bagimu aku hanya boneka.”
Donghae tercengang melihat Sora menangis. Tak hanya itu, ia pun tertohok keras berkat kata-katanya. Ternyata benar, selama ini Sora tidak mengerti dengan semua yang sudah ia lakukan untuknya.
“Aku benar-benar berharap hubungan kita tidak hanya sekedar teman karena kau selalu bersikap romantis padaku. Tetapi kemudian kau menyadarkanku bahwa selama ini aku hanya berharap karena kau pun bersikap sama pada gadis lain. Aku marah karena aku dengan bodohnya percaya padamu,” Sora terisak.

Sora menghapus airmata di pipinya dengan ganas, “Terima kasih sudah menyadarkanku. Mulai sekarang aku akan belajar untuk melupakanmu.”

Apa? Donghae gelagapan. Mengapa diam saja bodoh, ayo katakan sesuatu. Ia belum selesai, percakapan ini tidak boleh berakhir begini saja.

Sora menegakkan kepalanya, “Kau tidak perlu takut, aku sudah memaafkanmu. Sekarang kau bebas bersama gadis mana pun yang kau mau. Dan jangan khawatir, kita masih bisa berteman.” Sora menundukkan kepalanya. Donghae panik dan bergerak secepat kilat meraih tangan Sora.
“Sora, kumohon. Bukan ini yang aku inginkan. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak ingin kita berakhir seperti ini.”
Sora menarik tangannya. “Lain kali, jangan gunakan pekerjaan sebagai alasan untuk menemuiku.” Setelah mengatakan kalimat tajam itu Sora pergi dari hadapan Donghae.

Donghae tidak bisa membiarkannya. Ia mengejar Sora yang berjalan cepat menuju lift. “Sora, tak bisakah kau memahami maksudku sedikit saja?”
Sora mengabaikan kata-katanya. Ia langsung masuk begitu pintu lift terbuka. Donghae mencoba mencegahnya namun Sora mendorong Donghae keluar dari lift tepat ketika pintu lift tertutup.
“Sora!!” Donghae mengetuk-ngetuk pintu lift dengan frustasi. Berharap pintu itu terbuka dan Sora muncul untuk mendengar penjelasannya. Bukan ini tujuannya menemui Sora di kantornya, bukan sama sekali.

—o0o—

Ketika Sora tiba di apartemennya, ia mendapati banyak sekali buket bunga mawar merah muda. Puluhan, ah tidak, semuanya mungkin berjumlah ratusan. Kumpulan berwarna merah muda itu bertebaran dari lorong hingga ke depan pintu apartemennya. Kedua mata Sora tidak berkedip selama beberapa detik, ia terkejut sekaligus takjub melihat lautan bunga di depannya.
“Kurasa aku tahu siapa pelakunya,” susah payah akhirnya ia tiba di depan pintu apartemennya. Sora menarik secarik kertas yang terselip di antara bunga yang terletak di depan pintu.

Setiap tangkai bunga ini mewakili kata maaf dariku. Kuharap kali ini kau tidak akan mengabaikanku, mengabaikan bunga-bunga ini.
Donghae

Sora menghela napas. Ia menatap nanar bunga-bunga yang bertebaran di sekitarnya. Harus diakui bunga-bunga ini membuat hatinya sedikit tergerak. Untuk sejenak ia berpikir akan memaafkan Donghae, tetapi ia kembali mengingatkan dirinya bahwa bunga-bunga ini tidak menjamin Donghae akan berhenti menggantung perasaannya.
Sekarang, apa yang harus ia lakukan pada bunga-bunga ini? Akhirnya ia memutuskan untuk membuang bunga-bunga itu ke tempat sampah. Ia belum bisa memaafkan Donghae. Ia ingin Donghae tahu bahwa luka dihatinya belumlah sembuh. Tetapi bukannya merasa puas, ia justru sedih melihat bunga-bunga itu ada di tempat sampah, bukan di apartemennya. Apa yang diinginkan hatinya sebenarnya? Sora sangat kebingungan.

—o0o—

Sora sudah memutuskan, cara satu-satunya untuk melupakan Donghae dan menyembuhkan rasa sakit hatinya adalah dengan mencari cinta yang baru. Karena itu ketika Soohyun kembali mengajaknya berkencan, tanpa berpikir dua kali ia langsung menerimanya. Sora mengabaikan pertentangan yang berkecamuk dalam hatinya saat ia pergi keluar dengan Soohyun. Akal sehatnya merasa ini adalah jalan yang benar tetapi perasaannya mengatakan itu salah.

Bertolak belakang dengan Donghae, Soohyun memperlakukannya dengan sopan, baik dan tidak mencoba untuk merayunya. Sora sadar seharusnya ia bahagia, tetapi bukannya gembira, setiap bersama Soohyun rasa bersalahnya semakin bertambah. Dan ketika Soohyun kembali menyinggung tentang keinginan untuk serius dengannya, Sora merasa panik. Soohyun meminta Sora memberikan jawaban itu saat makan malam akhir pekan nanti dan kegelisahannya tak bisa dibentung lagi. Sora tidak tahu apa jawaban yang harus ia berikan.

Jika ia wanita yang berakal, ia tentu akan mengiyakan tawaran itu. Namun Sora justru merasa sangat bimbang. Untuk pertama kalinya ia merasakan stress dan tidak bisa konsentrasi bekerja. Untuk pertama kalinya juga ia merasa berakhir pekan adalah ide terburuk sepanjang masa.

“Kalau begitu apa yang hatimu inginkan?”

“Hatiku?” Sora bertanya pada hatinya sendiri. Malam ini ia akan makan malam bersama Soohyun sekaligus memberikan jawaban. Karena rasa gundahnya tak kunjung hilang, Sora menyempatkan diri menjenguk Jeyoung di rumahnya.
Jeyoung mengangguk dengan sabar.
Sora merenung karena hatinya tidak menjawab ketika ia bertanya apakah ia harus menerima Soohyun atau tidak.
“Jika kudengar dari ceritamu, Kim Soohyun adalah pria yang baik. Lagipula dia ingin menjalin hubungan serius denganmu. Apalagi yang kau tunggu? Dia tidak akan menyakitimu seperti yang dilakukan seseorang.” jelas Jeyoung.
“Kau benar. Tapi..” Sora menggigit bibirnya. “Apa aku terima saja?” tanyanya ragu.

“Apa kau mencintainya?”

Sora merasa seperti orang bodoh karena tidak bisa menjawabnya, ia mencari jawaban yang aman agar Jeyoung berhenti membuatnya panik. “Dia pria yang baik, menurutku alasan itu cukup untuk menerimanya.”
Jeyoung melihat Sora prihatin. Ia tak pernah melihat sahabat yang selalu yakin tampak sangat ragu. “Sebenarnya kau sudah tahu jawabannya.” Desah Jeyoung. Sora memandangnya. Jeyoung memberinya senyuman penuh pengertian. “Kau hanya butuh waktu untuk menyadarinya.”

Sora merenung sesaat, menghembuskan napas lalu mengangkat wajahnya dengan yakin, “Sepertinya aku sudah tahu jawabannya.”

—o0o—

BEGITU menatap cermin dan menyadari penampilannya sempurna, Sora sudah memutuskan untuk menerima Soohyun. Sekarang ia tinggal memoleskan lipgloss di bibirnya dan ia sangat siap pergi makan malam dengan pria itu. Ia melirik jam dan menyadari sudah waktunya ia pergi. Soohyun pasti akan datang menjemputnya beberapa saat lagi.
Sora melonjak gembira ketika bel pintu dibunyikan. Ia mengambil tas tangannya dan berlari untuk membukanya. Senyumnya langsung lenyap dan ia tercengang melihat Donghae berdiri di depan balik pintu.
“Kenapa kau ada di sini?”

Donghae tampak tampan seperti yang ia ingat, tetapi ada kerinduan dalam ekspresinya yang sanggup menggetarkan hati Sora. Pria itu memegang buket bunga mawar, awalnya tersenyum tetapi menyadari Sora tampak rapi dengan gaun malam dan make up lengkap, senyum cerahnya memudar.
“Kau akan pergi?” tanyanya dengan nada kecewa, sedih, dan curiga.
“Tentu saja. Apa yang kau lakukan di sini?” tiba-tiba Sora ingin sekali mengganti baju.
“Apa kau akan pergi dengan pria itu?” tanya Donghae mengabaikan pertanyaannya. Sora mengerutkan kening karena tidak suka dengan nada protektif dalam suara Donghae.
“Dengan siapapun aku pergi itu bukan urusanmu.” Jawab Sora dingin. Donghae membelalakan mata menyadari sikap acuh tak acuhnya.
“Apa kau benar-benar berniat melupakanku setelah apa yang terjadi di antara kita selama ini?” lirih Donghae.

Sora mulai kesal karena kata-kata Donghae itu mulai menggoyahkan perasaannya. “Kumohon, sejak awal memang tidak ada yang terjadi di antara kita. Pulanglah sekarang juga, aku akan berkencan dengan pria lain.”
Sekilas tampak kilatan luka dalam sorot mata Donghae, tubuh pria itu pun tampak kaku. Mereka saling bertatapan. Sora menantang Donghae untuk mengatakan isi hatinya sekarang juga melalui sorot mata tegas. Donghae terlihat ingin mengungkapkan sesuatu tetapi pria itu mengurungkannya. Sora tersenyum sinis. Lihat, betapa pengecutnya pria ini. Ini adalah kesempatan terakhir yang ia berikan, jika Donghae tidak berterus terang juga maka pilihannya akan jatuh seratus persen pada Soohyun.
“Sora aku—“

“Min Sora.”

Bersamaan dengan itu Kim Soohyun datang. Pria itu tampak terkejut melihat Donghae ada di sana. Sora langsung tersenyum pada pria itu. Donghae tak mengatakan apapun ketika Sora keluar lalu menutup pintu apartemen.
“Aku tidak tahu jika kau sedang kedatangan tamu.” Ungkap Soohyun sambil menatap Donghae. Terutama pada buket bunga yang dibawanya.
“Kami sudah selesai. Ayo kita pergi.” Sora mendekati Soohyun, mengabaikan Donghae yang tercengang.

Soohyun membalas senyumannya dengan mengulurkan tangan. Sora menyelipkan tangannya di lengan Soohyun lalu pergi. Untuk beberapa saat ia tidak tega meninggalkan Donghae sendiri. Ia merasa bersalah melakukan itu, tetapi ia membulatkan tekad. Ia yakin bahwa pilihannya tidak salah. Ia memutuskan untuk..

“Sora!”

Sora berhenti mendengar Donghae memanggil namanya. Saat ia menoleh, Donghae tampak seperti seseorang yang putus asa, namun terlihat keyakinan teguh dalam sorot matanya. Pria itu menunggu sampai ia benar-benar tidak mengalihkan pandangan lalu berkata,

“Aku mencintaimu.”

Sekujur tubuh Sora seperti tersengat listrik mendengar pernyataan itu. Kedua matanya melebar. Seluruh panca inderanya bahkan mendadak lumpuh, tak ada yang ia dengar selain suara Donghae dan tak ada yang ia lihat selain sosok Donghae.
Donghae kini tampak lebih percaya diri dan tenang untuk melanjutkan kata-katanya, “Aku tak pernah memikirkan perasaan lain selain cinta saat bersamamu. Karena itu kumohon jangan tinggalkan aku.”

Soohyun tercengang karena tubuh Sora tak bergerak sama sekali. Ada rasa takut yang besar menyerangnya, apa Sora akan melepaskannya dan berlari ke pelukan Donghae? Sora lalu bereaksi dan Soohyun sadar inilah titik penentuan hubungan mereka. Ia menanti jawaban Sora dengan waspada.
Dengan bibir bergetar, Sora menatap Donghae. “Maaf, semuanya sudah terlambat.” Kedua bola matanya berair ketika ia mengatakannya. Setelah mengatakannya ia menarik Soohyun yang diam-diam menghela napas lega pergi dari tempat itu

Donghae membeku. Baginya, tidak ada kata-kata yang lebih kejam dari apa yang baru saja Sora katakan.

~~~TBC~~~

439 thoughts on “Crazy Because of You [Chapter 5]

  1. Mampus aja kan mas Donghae tau rasa hem. Kadang emosi kadang sedih kadang ketawa kocak gitu deh Donghae ga malu-malu kucying lagi ya tapi kurang beruntung. Telat sih tanggung sendiri deh akibatnya lol.

  2. huff lee donghae…lee donghae…..itulah akibatnya…terlalu lama menarik ulur perasaan sora… akhirnya yg tinggal cuma ada penyesalan… sekarang mau gmna?

  3. Yaaakkkk soraa!!! Donghae udah ngelwan perasaannya demi blg cinta tapi kmu malah go away sama soohyun. Aku rasany hampir nangisssss. Dongek, kalo gtu kmu sma aku aja😀

  4. Kau terlambat Donghae oppa, aku sungguh kasihan melihatmu seperti itu untuk kesekian kalinya kau di tinggalkan oleh cintamu walaupun aku tak tau cinta yang kau tinggalkan bertahun-tahun itu, tapi aku sungguh kasihan kepadamu oppa. Tapi ingat ini belum akhir dari segalanya oppa kau rebut kembali milikmu jadikan dia milikmu seutuhnya persunting dia menjadi istrimu. SEGERA.

  5. Omo omo . Saya menangis mbak. Sebelumnya saya belum pernah menangis hanya karena membaca. Sakitnya kerasa banget. Sukses FFnya mba 😊😊

  6. Argggh pasangan ini bikin gregetan T_T kenapa banyak sekali kesalahpahaman sih di sini. Haduh, donghae nya terlambat mengatakan itu😦 tapi pasti sora akan kepikiran sama apa yang dikatakan donghae.

  7. aduh Sora, Hae udah ngumpulin keberanianx tuh, kesempatan terakhir yg diberi udah disambut Hae tapi kenapa ditolak Sora, uhh musingin bgt si Sora

  8. MYY~~~
    ksihan kamu donghaeku syang…
    udah beraniin ungkapin cinta pi langsung ditolak..pasti skit banget tuch..
    T_T
    Nguras emosi part ini bcanya…

  9. Ping-balik: REKOMENDASI FANFICTION | evilkyu0203

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s