School in Love [Chapter 22]

Tittle : School in Love Chapter 22
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : School Life, Friendship, Romance

Main Cast :
Bae Suzy | Park Jiyeon | Im Yoona
Cho Kyuhyun | Kim Kibum | Lee Donghae

Dha’s Speech :
Terima kasih pada teman-teman yang bersedia baca, memberi komentar, dan menjadi reader cinta damai. Kalau gak suka setting, pairingnya, atau apapun dalam cerita ini, jangan ngerusuh ya, lebih baik tekan tombol back saja. Selamat membaca dan maaf kalau ada typo ^_^

School in Love by Dha Khanzaki 2

=====o0o=====

CHAPTER 22
Dilemma

KYUHYUN sudah menekan bel pintu beberapa kali namun pintu kayu ganda di depannya tidak kunjung dibuka. Tidak ada reaksi dari dalam rumah sehingga Kyuhyun berpikir mungkin tidak ada siapapun di rumah ini.
“Apa tidak ada orang di rumah ini?” Kyuhyun bergumam sendiri. Sesekali ia melihat arlojinya, waktu menunjukkan pukul 18.00 sore menjelang malam. Tetapi tidak mungkin tidak ada siapapun di rumah itu mengingat Jiyeon sedang sakit. Kecuali Jiyeon tidak dirawat di rumah melainkan di rumah sakit.

Apa ini balasan karena membuat Jiyeon menunggu di depan rumahnya kemarin? Kyuhyun berpikir demikian. Namun ia menepis anggapan itu karena Jiyeon bukan tipikal gadis yang akan melakukannya. Ia mencoba menekan bel kembali.
Tak lama kemudian, pintu dibuka oleh seseorang. Kyuhyun bersiap-siap menyapa siapapun yang membukakan pintu.
“Jiyeon,”
“Kyuhyun,”
Keduanya sama-sama terkejut. Kyuhyun kaget melihat Jiyeon membukakan pintu dengan kondisi yang memprihatinkan. Dia memakai jaket musim dingin dan syal serta topi rajut. Wajahnya terlihat pucat dan letih. Bukankah dia sedang sakit?
“Kenapa kau keluar dalam kondisi seperti ini? Apa tidak ada orang lain yang menemanimu di rumah?” cecar Kyuhyun.

Jiyeon tidak percaya Kyuhyun datang ke rumahnya sehingga ia terlalu terkesima untuk menjawab pertanyaan Kyuhyun.
“Park Jiyeon,” ulang Kyuhyun tidak sabar. Jiyeon mengerjap.
“Ayahku bekerja sementara kakakku sedang pergi ke luar untuk membeli obat.” Jiyeon terbatuk. Kyuhyun meringis melihatnya kepayahan membuka pintu kayu yang lebar itu sehingga ia membantu mendorongnya lalu masuk.
“Kau datang kemari untuk menjengukku?” Meski terlihat kesakitan, Jiyeon menatapnya dihiasi senyum lebar.
“Tentu saja. Apa kau berpikir aku datang untuk melihat ikan Arapaima peliharaan kakakmu?”
“Siapa yang memberitahumu?”
“Em, firasat. Aku tidak melihatmu di sekolah.” Kyuhyun terlalu gengsi mengatakan bahwa ia mengetahuinya dari Suzy. “Apa yang kita lakukan di sini? Kau harus masuk, udara malam terlalu dingin.”
“Oh ya, maafkan aku.” Jiyeon mengajak Kyuhyun masuk rumahnya.

Keadaan rumah cukup hangat karena pemanas ruangan yang sengaja dinyalakan. Jiyeon mempersilakan Kyuhyun duduk di salah satu kursi meja makan sementara ia membuat teh.
“Tidak perlu repot-repot. Kumohon duduklah, kau sedang sakit.” ujar Kyuhyun.
“Aku hanya menyiapkan teh.” Jiyeon menghidangkannya ke depan Kyuhyun lalu duduk di kursi berlawanan dengannya. Topi dan jaket musim dinginnya sudah dilepas dan Jiyeon kini hanya memakai sweter rajutan dan syal. Kyuhyun merasa iba melihatnya.
“Maafkan aku, kau pasti sakit karena menungguku di tengah hujan kemarin.” Kyuhyun berkata dengan suara kaku. Ia masih tidak terbiasa meminta maaf karena sejak lahir ia tidak dilatih untuk mengatakan itu.

Jiyeon tersipu malu mendengarnya. “Ini hanya demam biasa. Dua atau tiga hari pasti sudah sembuh. Tidak perlu khawatir.”
Kyuhyun masih tidak bisa menghilangkan rasa bersalahnya meskipun Jiyeon sudah berkata demikian. “Jika kau membutuhkan sesuatu, aku siap—mengapa tertawa?” Kyuhyun heran melihat Jiyeon yang tertawa geli. Apa gadis ini menertawakannya? “Kau menertawakanku?” tuduhnya curiga.
Jiyeon menggeleng. “Tidak, aku sebenarnya terharu.” Ia mengulum senyumnya. “Kau mengkhawatirkanku seperti ini, itu artinya keberadaanku berarti sesuatu untukmu.”

Kyuhyun melebarkan mata. Ia baru benar-benar sadar bahwa ia sudah bertingkah aneh. “Aku memiliki sesuatu untukmu.” Kyuhyun mengalihkan pembicaraan karena kecanggungan yang sudah dibuatnya sendiri. Ia menarik sesuatu dari dalam tasnya.
“Apa ini?” Jiyeon tak menyangka akan menerima kado. Kotak di tangannya terasa ringan. Ia penasaran dengan isinya.
Nuna baru kembali dari Milan. Dia sengaja membelikan itu untukmu.”
“Kakakmu memberiku ini?” Jiyeon terkesima.
Kyuhyun mengendikkan bahu, “Dia pasti mengira kita benar-benar berpacaran.”
Jiyeon merenung. “Dia pasti sedih jika tahu hubungan kita hanya pura-pura.”
“Karena itu,” Kyuhyun berkata serius. “Kita harus meluruskannya.”

Tiba-tiba Jiyeon histeris. “Kau ingin kita mengaku bahwa hubungan kita hanya pura-pura?”
“Bukan itu,” Kyuhyun mengomel, dengan kikuk ia menjelaskannya. “Kenapa kita harus terus berpura-pura, kenapa kita tidak benar-benar berpacaran saja?”
Jantung Jiyeon berhenti berdetak karena ia terlalu kaget mendengar ide Kyuhyun. “Apa sekarang kau sedang ‘menembakku’?” tanya Jiyeon penuh harap.
Kyuhyun menjadi lebih kikuk lagi, “Aku tahu ini konyol. Tetapi, aku tidak ingin mempermainkan perasaan siapapun entah itu kau atau pun keluargaku. Menyadari aku sudah berbohong, aku merasa hatiku tidak pernah tenang. Aku menjadi lebih marah dari sebelumnya. Awalnya aku tidak mengerti, tetapi sejak kau memaksakan diri datang ke rumahku kemarin, aku sadar bahwa rasa marahku timbul karena aku sudah mempermainkan hati orang lain.”

Pengakuan itu membuat hati Jiyeon lebih hangat. Ia tahu Kyuhyun memiliki hati yang lembut daripada pria mana pun yang dikenalnya. Kyuhyun hanya tidak tahu bagaimana mengekspresikan isi hatinya.
“Aku tahu sebenarnya kau tidak seperti dengan apa yang orang pikirkan.” Jiyeon tersenyum.
Kyuhyun salah tingkah, “A-Aku hanya tidak ingin menjadi seperti seseorang yang kukenal.” Kemudian ia merenung. Jiyeon merasa simpati pada apapun masalah yang Kyuhyun hadapi.
“Apa seseorang yang kau maksud itu Choi Siwon?”
Kyuhyun tidak menjawab. Jiyeon menyimpulkan tebakannya benar.
“Kenapa kalian tidak mau berbaikan? Aku tidak mengerti bagaimana bisa sahabat karib seperti kalian berubah menjadi musuh hanya karena satu perempuan.” Jiyeon menatap Kyuhyun ingin tahu, “Apa kesalahan yang dilakukan Siwon benar-benar tidak bisa dimaafkan? Ataukah kau yang sebenarnya merasa bersalah pada Siwon?”

Dada Kyuhyun bergemuruh, ia diam cukup lama sebelum akhirnya menjawab, “Kau mengatakan itu karena kau tidak pernah merasakannya. Aku pun sangat menyesal mengapa hal seperti ini terjadi pada persahabatanku dengan Siwon. Tapi rasa sakit yang aku alami, benar-benar tidak bisa diobati lagi.”
“Rasa sakit seperti apa itu?” Jiyeon tiba-tiba merasa hatinya tersayat, “Apa karena Siwon merebut Tiffany?” kenapa aku ingin tahu tentang ini? batin Jiyeon jengkel.

“Memang menyakitkan di saat orang yang kau cintai ternyata mencintai orang lain.” Kyuhyun menggumam gamang, “Tetapi rasa sakit itu menjadi lebih menyakitkan saat tahu orang yang kau cintai mencintai sahabatmu sendiri. Dan tidak sebanding dengan rasa sakit ketika tahu orang yang kau cintai dekat denganmu hanya untuk menarik perhatian sahabatmu. Tidak, bahkan jauh lebih sakit saat tahu orang yang kau cintai dan sahabatmu saling menyukai dan mereka tidak bisa menjalin hubungan demi menghargai perasaanku. Aku, mengalami semua kondisi itu.” Kyuhyun menatap Jiyeon. Wajahnya memang tanpa ekspresi, tetapi Jiyeon bisa melihat luka yang besar dalam sorot mata Kyuhyun yang membuatnya ingin menangis.
“Siwon memang tidak pernah mengatakannya, tetapi aku tahu dia menyukai Tiffany. Gadis itu pun sama, dia menerima perasaanku hanya untuk menghormatiku. Cara mereka menyembunyikan perasaan masing-masing membuatku merasa bersalah sekaligus dikhianati. Aku benci mereka berdua. Jika mereka memang saling menyukai mengapa harus menyembunyikannya dariku?” Kyuhyun tersenyum ketir, “Tetapi aku tidak bisa membenci Tiffany. Bagaimana pun dia adalah gadis yang pernah kusukai.”

Tenggorokan Jiyeon tercekat. Ia ingin sekali membantu Kyuhyun tetapi tidak tahu harus dimulai dari mana, “Apa kau sudah menanyakannya langsung pada Siwon? Apa Siwon sudah mengaku dia menyukai Tiffany?”
Kyuhyun mencibir, “Kenapa dia harus mengaku, dia memiliki surat cinta milik Tiffany. Dia menyembunyikannya dariku namun aku menemukan itu di dalam tasnya.”
“Jadi dia tidak mengaku? Dan kau marah padanya karena surat itu?”
“Itu sudah menjadi bukti yang jelas. Lagipula aku sudah dibodohi mentah-mentah. Sebelumnya aku mencoba mengabaikan perhatian-perhatian yang Siwon berikan pada Tiffany, tetapi setelah membaca surat itu tiba-tiba semuanya menjadi masuk akal.”
“Lalu apa kau langsung memutuskan hubunganmu dengan Tiffany?”
Kyuhyun tersenyum sinis, “Tiffany mengakuinya. Dia mengakui bahwa dia menyukai Siwon.”
Jiyeon menutup mulut tak percaya. Astaga, Kyuhyun benar-benar dicampakkan oleh Tiffany.
“Aku tahu, Siwon lebih baik dariku. Sejak dulu dia selalu mendapat perhatian lebih dari orang-orang. Aku hanya kebetulan terlahir dalam keluarga kaya dan menjadi sahabatnya sehingga mendapat perhatian yang sama. Seharusnya aku sadar, gadis seperti Tiffany tidak mungkin menyukaiku.”

“Itu tidak benar.” Jiyeon langsung membantahnya. Kyuhyun kaget karena Jiyeon nyaris meneriakinya, “Tiffany jelas pintar karena menerima cintamu, tetapi dia juga bodoh karena menolakmu demi pria lain. Kau adalah pria yang baik, pintar, dan mengagumkan. Karena itu tempo hari aku nekat memberimu surat cinta.” Jiyeon menjelaskannya dengan semangat menggebu. Kyuhyun melongo menatapnya selama beberapa saat lalu tanpa diduga pria itu tertawa lepas.
“Apa kata-kataku begitu menggelikan?” Jiyeon merenung heran. Diam-diam Jiyeon tersenyum melihat Kyuhyun tertawa. Kyuhyun tampak mempesona saat tertawa, mungkin karena pria itu jarang melakukannya.

—o0o—

“Tentang kata-kataku tadi, kau boleh memutuskannya kapan pun.” Kyuhyun berkata sekali lagi sebelum keluar dari rumah Jiyeon.
“Aku bersedia.” Jiyeon tanpa ragu menjawabnya. Kyuhyun menoleh. “Meskipun kau belum bisa mencintaiku dengan tulus, aku tidak keberatan. Jadi kita benar-benar berpacaran?” tanyanya dengan kedua mata berbinar. Kyuhyun merenung, tidak tahu mengapa ia tiba-tiba ingin sekali hubungan mereka tidak sekedar berpura-pura.
“Kau akan masuk besok?” tanya Kyuhyun.
“Aku sudah lebih baik.” Jiyeon mengusap tengkuknya yang dipenuhi peluh. Tertawa bersama Kyuhyun membuatnya berkeringat dan bahagia. “Ya, besok aku masuk.”
Kyuhyun tersenyum kecil namun tidak mengatakan apapun. Pria itu merenung lagi.
“Jadi, kau mau mempertimbangkan saranku juga?” tanya Jiyeon.
“Saran yang mana?”
“Berbaikan dengan Siwon.” ujar Jiyeon tenang. Ia kemudian menatap Kyuhyun penuh pengertian, “Kau bisa mendapatkan seorang pacar kapanpun kau mau, tetapi kau hanya mendapatkan sahabat karib satu kali seumur hidupmu. Jika kau kehilangan satu kesempatan itu, seumur hidup kau akan menyesal.”
Kyuhyun mendengus, “Akan kupikirkan nanti.” ia lalu pergi. Jiyeon menatap punggung Kyuhyun dengan penuh harap.
“Aku ingin sekali melihat mereka akrab kembali. Pasti menyenangkan.” Renungnya, “Aku bukan Tiffany, aku tidak akan menghancurkan persahabatan kalian, tapi aku ingin membuat kalian rukun kembali.”

Tapi akan sulit jika di antara Siwon dan Kyuhyun tidak ada yang bergerak lebih dulu. Apa ia bisa melakukan sesuatu dengan itu?

—o0o—

Suzy menjelajahi Myeong-Dong seorang diri. Sambil menikmati eskrim, ia bersama ratusan pejalan kaki lain berjalan di kawasan ramai itu untuk menghilangkan stress. Mungkin ada sesuatu di sana yang bisa menghiburnya dari rasa sakit karena dibohongi Kibum. Ia masuk ke salah satu toko pakaian dan memilih beberapa untuk dicoba. Ketika mematut diri di depan cermin, Suzy teringat kata-kata Kim Taehee, ibu Kibum bahwa ia cocok sekali menjadi seorang model.
“Apa aku cocok jadi model?” pikir Suzy pada diri sendiri. Ia berputar sekali lalu bergaya. Ia mencoba tersenyum namun senyumnya tampak tidak tulus. Bahunya langsung lemas. Ternyata mencoba baju pun tidak membuatnya senang.
Dari pantulan cermin, tanpa diduga Suzy melihat Jiwon sedang membayar di kasir. Suzy langsung berbalik untuk memastikannya, senyumnya melebar. Benar-benar ada Jiwon di sana.
“Jiwon!!” Suzy memanggilnya antusias. Jiwon tidak mendengarnya karena gadis itu tidak menoleh. Tanpa pikir panjang ia menghampiri gadis itu namun salah satu pramuniaga mencegatnya.
“Nona, kau tidak bisa pergi jika belum membayar pakaiannya.”
Suzy mengumpat karena ia sadar masih memakai baju yang dicobanya tadi. Ia bergegas ganti baju dengan seragam sekolah yang tadi dipakainya lalu pergi menyusul Jiwon. Ketika ia keluar dari toko, sosok Jiwon sudah raib entah kemana. Ia kehilangan jejaknya.
“Ah sial!”

Mungkin Jiwon masih belum jauh. Suzy berlari mencari sahabatnya itu di antara sekian ratus orang yang berlalu lalang di sana. Jiwon memakai sweter rajut warna jingga sehingga ia bisa mengenalinya dengan mudah. Ketika melihat seorang gadis bersweter rajut jingga berdiri di salah satu stan yang menjajakan tteokbokki, Suzy mendesah lega.
“Kim Jiwon, akhirnya…” ucap Suzy senang sambil menepuk pundak gadis di hadapannya. Gadis itu terkejut lalu menengok dengan wajah mengerut. Suzy terperanjat karena ia menepuk orang yang salah. Gadis di hadapannya memang memakai sweter yang mirip, tetapi dia bukan Jiwon.
“Kau siapa?” tanya gadis itu bingung. Suzy mendadak malu dan salah tingkah.
“Maaf, kupikir kau temanku.”
No problem,” Jawabnya sambil tersenyum. Gadis yang ramah, Suzy jadi tak enak hati. Sekilas dari jauh memang terkesan mirip, tetapi gadis ini sangat berbeda dengan Jiwon. Dia tinggi, berambut panjang yang dicat pirang kecokelatan dan senyum yang riang.
“Kau sedang mencari temanmu?” tanya gadis itu ingin tahu. Suzy mengeryit karena logat berbicaranya yang terdengar seperti orang asing yang baru bisa berbicara bahasa Korea. Tetapi dari penampilannya dia jelas orang Korea.
“Ya.” Suzy tiba-tiba merasa gugup karena aura aneh yang dimiliki gadis ini.
“Ingin kubantu mencarinya? Aku sedang senggang.” tawarnya pada Suzy. Suzy terkejut, kenapa dia begitu baik?
“Tidak perlu. Ini pasti merepotkanmu.” Suzy menolak. Ia tidak ingin menyusahkan orang yang tidak ia kenal.
“Jangan malu. Oh ya, namaku Sooyoung, Choi Sooyoung.” Ucapnya sambil mengulurkan tangan.
“Bae Suzy.” Dengan senang hati Suzy menjabat tangan Sooyoung.
“Senang sekali berkenalan denganmu. Selama di Korea aku tidak memiliki banyak teman. Teman bicaraku hanya sepupuku dan paman.” Jelasnya tanpa ditanya. Otomatis menjawab pertanyaan Suzy juga mengapa cara bicaranya begitu aneh. Suzy menyimpulkan gadis bernama Sooyoung ini sudah lama tinggal di luar negeri.
“Jadi kau tidak berasal di sini?”
“No, no. Orangtuaku warga negara Korea, tetapi aku lahir di Swiss, seluruh keluargaku tinggal di sana.”
“Ah,” Suzy mengangguk. Kenapa ia terlibat pembicaraan dengan gadis asing ini? Suzy lebih baik pergi mencari Jiwon lagi.
“Kalau begitu aku permisi. Sudah malam, orang tuaku akan mengomel.”
“Baik, sampai bertemu lagi.” Sooyoung melambaikan tangannya ketika Suzy bergegas pergi. Ia tersenyum sendiri, senang karena hari ini kembali mendapat kenalan baru. Mungkin kelak mereka akan dipertemukan dalam momen yang tak terduga.

Sooyoung menyadari ponselnya berdering. Ia merogoh ke dalam tasnya dan menyadari seseorang sedang menggerutu lewat pesan singkat. Ia terkesiap lalu bergegas pergi ke tempat di mana orang itu berada. Seseorang menunggu di tepi jalan di atas motornya.
“Apa yang kau lakukan sebenarnya? Mengapa lama sekali?”
“Aku sedang mencicipi kuliner khas Korea, memang salah?” Sooyoung merasa apa yang ia lakukan bukanlah sebuah dosa. “Kau mau?” ia menyodorkan bungkus berisi tteokbokki yang dibelinya tadi.
“Tidak, cepat naik!”
Sooyoung mencibir dengan ketidakangkuhan sepupunya itu, “Kau sungguh menyebalkan, Lee Donghae. Bisakah sekali saja kau bersikap manis padaku?”
“Tidak.” Balas Donghae singkat, angkuh, dan tegas sambil memberikan helm pada Sooyoung.
“Aku akan mengadukanmu pada bibi!” ancam Sooyoung dengan mata menyipit.
Donghae memutar bola mata, “Ancaman kuno.”
“Maka dari itu, kau harus pertimbangkan untuk—“
“Mau naik atau tidak!!” bentak Donghae. Ia sangat malas jika harus menanggapi rengekan Choi Sooyoung yang jauh lebih buruk daripada kucing yang sedang mengeong.
Sooyoung mendengus kesal lalu naik ke atas motornya. Donghae ingin sekali mengusir kembali Sooyoung ke Swiss. Sejak kedatangannya, hidupnya menjadi lebih runyam.

—o0o—

Seperti halnya Suzy, Kibum pun berjalan-jalan malam itu dalam perenungannya sendiri. Ia masih mencari-cari letak kesalahan yang membuat Suzy marah padanya, tetapi ia tidak tahu apa itu. Karena merasa kacau ia sampai tidak datang pada sesi latihan bersama Yoona.
“Aku butuh sesuatu untuk mendinginkan kepalaku,” Kibum memilih coffee shop terdekat lalu membeli segelas Mocha Latte dingin. Saat mencari tempat duduk yang kosong, ia justru menemukan seseorang yang ia kenal duduk di sana. Sendirian menikmati secangkir cokelat panas sambil membaca buku.

Kim Jiwon.

“Jika kau terus membaca buku seperti itu, cokelatmu bisa dingin saat diminum.” Kibum menyapanya. Jiwon yang terkejut langsung mendongak lalu tersenyum begitu cerah.
“Kibum, wow, kejutan yang tak disangka.”
“Kau sendirian saja?” tanya Kibum.
“Ya, duduklah.” Jiwon dengan senang hati menunjuk kursi kosong di hadapannya. Kibum tersenyum manis lalu duduk di sana.
“Kau tidak bersama dengan Taecyeon, kekasihmu itu?”
Senyum Jiwon langsung menghilang. “Hubungan kami sudah berakhir.” Jawabnya malas. Kibum cukup menghargai bahwa Jiwon tidak mau membahasnya. Ia mengangguk paham.

Jiwon memandangi Kibum yang langsung melamunkan sesuatu. Pria itu menyedot minumannya tak bergairah. Ia ingin tahu apa yang sedang dipikirkan Kibum. Ia selalu ingin tahu apa yang pria ini lakukan, apa yang ia rasakan, dan bagaimana suasana hatinya. Ia sudah mengagumi Kibum sejak SMP. Dahulu melihatnya saja ia kesulitan karena banyaknya penggemar yang selalu mengelilingi Kibum. Sekarang ia tidak menyangka bisa menatapnya dalam jarak sedekat ini. Tapi tentu saja masih tidak seberuntung Suzy karena gadis itu bisa melihat Kibum setiap hari.
“Kau tidak bersama Suzy?” pertanyaan itu lolos dengan sempurna dari bibir Jiwon dan ia mengutuk dirinya sendiri karena menanyakan hal bodoh seperti itu. Kibum tersentak dari lamunannya. Kaget karena Jiwon menanyakan seseorang yang sedang ia pikirkan.
Kibum segera tersenyum, “Dia sudah pulang, aku baru saja mengantarnya.” Ucapnya bohong.
Rasa cemburu itu kembali meluap ke permukaan. Jiwon diam. Andai saja ia berada di posisi Suzy, alangkah bahagianya. Suzy beruntung bisa mendapatkan cinta Kibum. Kenapa Suzy selalu beruntung sementara ia tidak?
“Ah, kudengar kau teman dekat Suzy saat SD.” ujar Kibum. Hati Jiwon bergetar mendengarnya. Sahabat, sahabat. Iya… Suzy adalah sahabatnya. Dulu saat Suzy belum mengkhianatinya.
“Kuharap iya.” Lirih Jiwon dengan suara pelan. Kibum mengerutkan dahi mencoba mencerna suara yang ia dengar karena terlalu kecil.

“Jiwon…”

Jiwon dan Kibum menengok bersamaan. Kibum tersenyum lebar melihat Suzy ada di hadapannya sementara Jiwon membelalakkan mata. Suzy tak menyangka bisa menemukan Jiwon juga saat tanpa sengaja ia melintas di depan coffe shop ini. Begitu melihat Jiwon tanpa pikir panjang ia langsung menghampiri. Tetapi kesenangannya pudar ketika ia sadar Jiwon sedang bersama dengan Kibum.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Suzy kasar pada Kibum.
Kibum langsung berakting, “Aku tak menyangka kau kemari, bukankah aku sudah mengantarmu pulang?” katanya sok mesra. Suzy menjengit ngeri melihat tingkahnya lalu melirik hati-hati pada Jiwon yang menahan kesal.
“Jiwon, apa kabar?”

“Maaf, sepertinya aku mengganggu.” Jiwon mengambil buku, tasnya, lalu pergi tanpa memandang Suzy maupun Kibum lagi. Suzy panik melihat Jiwon melarikan diri darinya.
“Kim Jiwon, tunggu!” Suzy mengejarnya. Ia berlari menghampiri Jiwon yang berjalan cepat keluar kafe, berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah Jiwon yang terburu-buru.
“Kenapa kau pergi saat kita baru bertemu? Apa kau masih marah padaku karena kejadian waktu itu?”
Jiwon berhenti berjalan lalu memandang Suzy dengan tajam. “Jika kau tahu aku masih marah padamu, kenapa kau masih berusaha menemuiku.”

Suzy tergagap, “Aku ingin meminta maaf padamu. Sungguh. Jiwon, aku sangat menyesal. Aku merasa menjadi orang yang paling bodoh karena meninggalkanmu waktu itu.” Suzy merasa airmata menusuk-nusuk bola matanya.
“Hentikan airmatamu. Itu akan membuatku tampak seperti penjahat. Kau tahu, saat kau memutuskan untuk melarikan diri kala itu, kau sudah bukan sahabatku lagi. Rasa sakit karena perlakuan tidak adil yang kuterima, tidak akan bisa kau gantikan dengan apapun.” tegas Jiwon dengan suara tertahan.
Suzy tidak ingin menangis, tetapi ia justru menjadi orang cengeng, “Aku tau rasanya. Aku bisa merasakan kesakitanmu. Kau tidak tahu, tetapi saat kau meninggalkanku tanpa kabar apapun aku merasa sangat bersalah. Aku menanggung perasaan itu seberat sakit yang kau alami karena keegoisanku.”

Jiwon menggeleng, “Aku selalu bersabar ketika kau mendapatkan seluruh perhatian sementara aku tidak. Aku selalu mendukungmu di saat kau dalam kesulitan apapun. Tetapi hari itu, kau meninggalkanku di belakang untuk menyelamatkan dirimu sendiri. Aku merasa sangat dicurangi. Mengapa kau begitu tidak adil padaku?”
“Aku tahu aku pengecut, aku egois dan aku bodoh.” Suzy menyalahkan dirinya sendiri. Kibum yang baru tiba di dekat mereka menatap Suzy prihatin. Ia tidak suka melihat Suzy mengemis-ngemis permohonan maaf seperti itu.
“Katakan apa yang bisa kulakukan agar kau memaafkanku?” Suzy benar-benar ingin menebus kesalahannya dan lepas dari bayang-bayang masa lalu yang menghantuinya selama bertahun-tahun.

Jiwon terdiam. “Apa kau merasa keberuntungan selalu ada bersamamu sehingga kau begitu percaya diri mengatakannya?” tanya Jiwon sarkastis. “Kau tidak akan bisa melakukannya.” Tambah Jiwon sinis.
“Aku bisa melakukannya.” Suzy percaya diri sekali ia bisa melakukan apapun.
“Apa kau bisa memberikan kekasihmu padaku?” tanya Jiwon membuat Suzy dan Kibum yang mendengar dari jauh terkejut.
“Kekasihku? Maksudmu Kim Kibum?”
“Kenapa, kau tidak mau? Atau kau keberatan karena aku jatuh cinta padanya?”

Suzy lebih tercengang lagi. Ia tidak tahu Jiwon menyukai Kibum. Tiba-tiba ia tidak bisa menjawab. Ia berjanji akan melakukan apapun. Tetapi ketika Jiwon berkata menginginkan Kibum, mengapa tiba-tiba ia merasa tidak rela?
Kibum menatap Suzy penuh harap. Kumohon katakan tidak, Kibum berdoa.
“Ya, tentu saja kau bisa mengambilnya.” Putus Suzy. Dalam hatinya terjadi perkelahian sengit antara rasa setuju dan tidak setuju terhadap keputusan itu. Tetapi demi Jiwon, ia akan melakukannya. Lagipula Kibum bukanlah kekasihnya.
Kibum tak percaya karena Suzy merelakannya begitu saja. Ia sangat terpukul dengan keputusan itu.
Jiwon tertawa sinis, “Kau menyerahkan pacarmu begitu saja? Kau pasti tidak mencintainya.” Ia justru kesal mengetahui ternyata Suzy hanya mempermainkan Kibum.
Suzy menggeleng frustasi, “Kami tidak pernah berpacaran.”
“Ya Tuhan,” Jiwon mendengus kesal, “Kau benar-benar menyedihkan. Berhenti mempermainkan perasaan orang lain! Aku benci bicara denganmu.”
“Jiwon!!” Suzy panik karena Jiwon pergi meninggalkannya dengan raut kesal. “Aku tidak mempermainkan perasaan siapapun, aku memang tidak pernah berpacaran dengan Kibum.” ia tidak tahu harus bicara apa lagi agar Jiwon paham bahwa yang ia inginkan hanyalah memperbaiki persahabatan mereka.

“Jangan kejar,” Kibum menahan tangan Suzy saat gadis itu ingin mengejar Jiwon. Ia berusaha menekan rasa sakit di hatinya mendengar apa yang Suzy katakan tadi. Gadis ini menyerahkan dirinya pada gadis lain begitu saja. Jiwon benar, mungkin bagi Suzy dirinya tidak berarti apapun.
“Sebenarnya apa masalah di antara kalian? Mengapa kau begitu bersikeras ingin meminta maaf pada Jiwon dan mengapa Jiwon tidak mau berbicara denganmu?” tanya Kibum prihatin.
“Meskipun aku menceritakannya, kau tidak akan paham.” Lirih Suzy.
“Aku akan mencoba memahaminya. Kau tahu aku selalu berusaha memahamimu.”

Suzy terdiam. Kibum lega begitu Suzy menolehkan pandangan padanya. “Kau benar-benar ingin membantuku?” tanyanya sungguh-sungguh.
“Ya.” Kibum menjawab dengan mantap.
“Kalau begitu, apa kau bersedia menjadi pacar Jiwon?”
“Apa?” Kibum memastikan telinganya masih dapat berfungsi. Ia tahu Suzy sedang tidak stabil, tetapi ia tidak percaya Suzy akan meminta hal itu langsung padanya. “Kenapa kau menyuruhku berpacaran dengan Jiwon? Kau pikir akan semudah itu?”
“Bukankah mudah bagimu menyukai seorang gadis? Jiwon adalah gadis yang cantik. Kau pasti akan mudah menyukainya.”
“Bodoh! Untuk apa aku pacaran dengannya?” Kibum marah.
“Karena Jiwon menyukaimu!!” tegas Suzy. Kibum terdiam. Napasnya seketika terasa sesak.
“Lantas, karena dia menyukaiku, aku juga harus menyukainya? Begitu maksudmu?”
“Tentu saja. Kau harus menghargai orang yang menyukaimu. Setidaknya beri Jiwon kesempatan.”

Hah!!! Kibum ingin tertawa dalam hati. “Kalimat itu bisa kutujukan padamu juga.” ia diam sejenak. “Kau benar-benar tidak merasakannya? Kau tidak mengetahuinya?”
“Mengetahui apa?” Suzy membentaknya.
“Aku menyukaimu.”

Suzy terperangah. Jantungnya langsung berhenti berdetak.

“Aku selalu berharap kau menjadi kekasih sungguhanku.”

—o0o—

“Apa kau bisa lebih cepat?” rengek Sooyoung. Donghae kesal dengan rengekan sepupunya yang tidak kunjung berhenti.
“Jika kamu masih terus bersuara. Akan aku menurunkanmu di sini.” Sesaat setelah Donghae mengatakan itu, Sooyoung hanya bisa mencubit lengan Donghae dengan kesal. Ia merengut tanpa suara menyadari sepupunya amat kejam padanya.
“STOP!!!” Sooyoung tiba-tiba meminta Donghae untuk menghentikan motornya.
“Kenapa?” tanya Donghae bingung. Jangan-jangan sepupunya merajuk dan ingin turun sekarang juga. Bahaya jika dia sampai marah.
“Ada butik di sana.” Tunjuk Sooyoung dengan mata berbinar. Donghae mengikuti arah tunjuk jari Sooyoung dan mendapati sebuah butik yang tidak asing baginya, itu adalah butik milik Kim Taehee, ibu Kibum.
Donghae berhenti tepat di depan butik yang ditunjuk Sooyoung tadi.
“It’s time for shopping.” Sooyoung segera turun dari motor, melempar helm pada Donghae lalu berlari menuju butik tersebut.
“Dasar wanita…” Donghae menggelengkan kepala. Sepupunya ini memang penggila belanja. Entah berapa juta uang yang dia habiskan dalam satu kali belanja. Sedangkan bagi Donghae, menghabiskan uang 10.000 won saja untuk membeli peralatan basket harus berpikir ribuan kali. Setelah memarkirkannya di tempat yang aman, ia mengikuti Sooyoung.
Daebak, banyak pakaian bagus di sini!” seru Sooyoung untuk kesekian kali. Donghae mulai bosan melihatnya. Ia memutuskan untuk menunggu Sooyoung di depan butik.

Donghae menerawang jauh, ia teringat ibunya yang berada jauh darinya. Bagaimana kabarnya? Seperti apa wajahnya kini? Sudah bertahun-tahun ia tidak bertemu dengannya. Sementara yang ia dengar dari Sooyoung, ibunya baik-baik saja dan selalu merindukannya.
“Merindukan katanya, lalu kenapa dulu membuangku.” Donghae tersenyum kecil. Hatinya selalu terasa sakit jika ingat kejadian delapan tahun lalu.
“Donghae-ssi, sedang apa di sini?”

Donghae tersadar dari lamunannya lalu menoleh. Yoona berdiri di depannya. Senyum anggun di wajahnya membuat Donghae ikut tersenyum juga.
“Aku sedang menunggu seseorang.” Donghae menunjuk ke dalam toko. “Apa yang kau lakukan malam-malam begini?”
“Aku ada sedikit urusan.” Yoona tidak bisa menjelaskan bahwa ia baru saja pulang dari dojo. Meskipun Kibum tidak datang, ia tetap latihan seorang diri.

Sooyoung baru saja selesai belanja dan keluar dengan membawa satu kantong belanjaan. Kedua orang itu menatapnya bersamaan. Sooyoung tersenyum manis pada Yoona.
“Hai.”
“Oh, maaf, aku tidak tahu kau sedang bersama pacarmu.” Yoona menyesal. Tahu begini ia tidak akan mengganggu Donghae. Ia tidak mau mereka salah paham.
“Bukan, dia sepupuku. Choi Sooyoung.”
Untuk alasan yang aneh, Yoona lega mendengarnya. Donghae pun merasa bingung karena ia ingin sekali memberitahu Yoona bahwa Sooyoung hanyalah saudaranya. Sooyoung tersenyum sambil bergantian melihat Donghae dan Yoona, lalu menyikut lengan Donghae dengan wajah menggoda.
“Cantik sekali kekasihmu.” Ucap Sooyoung sambil mengacungkan jempol. Kini Donghae tertawa mendengar godaan itu.
“Sooyoung, kenalkan… dia Im Yoona. Yoona, dia Choi Sooyoung.”
“Aku tidak tahu jika Donghae memiliki sepupu secantik ini.” Ucap Yoona. Tubuh Sooyoung seakan berada di awang-awang mendengar pujian seindah itu, dari dulu dia memang paling lemah pada pujian.
“Jadi dia belum bercerita apa-apa tentang keluarganya? Ayahku dan ibunya adalah adik-kakak. Mereka tinggal di luar negeri, meskipun jauh, bibi sangat menyayangi—yaaa!!” Sooyoung memegangi tangannya yang dicubit oleh Donghae.

Yoona hanya menanggapinya dengan senyuman.
“Ya sudah, kalau begitu aku pamit.” Yoona merasa sudah saatnya untuk pergi.
“Hei, tunggu!” Sooyoung ingin mencegah namun Yoona sudah terlanjur pergi. Ia lalu meluapkan kekesalannya pada Donghae, “Kau tidak perlu sampai mencubitku. Memang apa masalahnya jika Yoona tahu soal keluarga kita. Itu bukan hal yang memalukan.”
“Itu menurutmu! Bagiku, itu sangat memalukan.”
“Astaga Lee Donghae, kau sungguh sentimentil. Kejadian itu sudah delapa tahun berlalu. Tak bisakah kau memaafkan keluargamu sendiri?”
“Kau bisa bilang begitu karena tidak tahu rasanya.” Gumam Donghae tanpa mengeluarkan suara. Mereka berdua saling diam selama beberapa detik, Sooyoung memukul sejenak bahu Donghae, lalu berjalan mendahuluinya menuju motor yang diparkir.
“Lupakan!! Ayo pulang!!!” teriak Sooyoung.

—o0o—

Sejak pertemuannya dengan Jiwon, Suzy merasa semakin buruk. Ia duduk sendirian di kafetaria. Yoona dan Jiyeon sedang sibuk dengan tugas praktek mereka sehingga tidak memiliki waktu senggang. Ia sudah cukup dipusingkan dengan masalahnya dengan Jiwon dan sekarang Kibum menambah daftar hal yang membuatnya frustasi. Ia bisa gila.
Jika ia tidak mencegahnya, Kibum bisa benar-benar menghancurkan hubungannya dengan Jiwon. Ia sudah bersusah payah meminta maaf dan pria itu ingin mengacaukannya? Jiwon akan patah hati jika Kibum menceritakan bahwa..

Aku menyukaimu. Aku selalu berharap kau menjadi kekasih sungguhanku.

“Aaaaa, aku bisa gila!!” Suzy menjerit frustasi begitu pernyataan Kibum menggema dalam pikirannya. Itu adalah sesuatu yang tidak terduga. Dadanya menghentak dengan kencang kembali, seperti malam itu. Ia tak pernah menyangka Kibum akan mengatakan itu.
Haruskah ia memercayainya? Kibum adalah seorang playboy. Dia bisa mengatakan hal itu pada gadis manapun dengan mudah. Mengapa hatinya begitu tergerak mendengarnya?
Saat ia mengangkat kepalanya, ia terkejut karena tiba-tiba saja Kibum sudah duduk di hadapannya.
“Ya Tuhan!!” Suzy terperanjat sambil mengusap dadanya. “Bisakah kau berhenti mengejutkanku seperti itu?!!”

Kibum tertawa geli. Dia tampak sangat bahagia. “Kau terlihat kacau.”
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Ketus sekali. Sekarang jam istirahat, kau lupa?”
“Bukankah masih banyak tempat lain yang bisa kau duduki, mengapa kau harus duduk di sini bersamaku?”
“Tempat lain sangat membosankan. Lebih baik di sini, aku bisa menyaksikan pemandangan yang sangat indah.” Ucap Kibum sambil memandang Suzy. Senyumnya melebar, sesuatu yang sangat tidak Suzy pahami. Mengapa dia tersenyum sambil memandangku? Batinnya. Karena merasa aneh. Suzy melihat ke arah belakang. Siapa tahu Kibum bukan memperhatikannya tapi sesuatu yang ada di belakangnya.
“Mereka maksudmu?” tanya Suzy sambil menunjuk sekumpulan gadis cantik yang berkumpul di satu meja di belakangnya.
“Ah, dia benar-benar tidak peka.” Kibum meringis jengkel. Sudah diberi sinyal terang-terangan masih saja tidak mengerti. “Aku tidak sedang memandangi mereka, aku sedang memandangimu.”
“Memang kau pikir aku lukisan yang bisa kau pandangi? Perhatikan saja yang lain!” Suzy mendengus lalu meminum susu kotaknya.

Kibum mendesah, “Kau wanita kedua yang tidak bisa kumengerti selain kakakku. Mengapa kalian berdua bersikap begitu kejam terhadapku? Apa salahku? Ah, apa karena aku memang seseorang yang kurang ajar? Gadis itu pun pergi sambil menangis karena ulahku.”
Suzy menatapnya, “Menangis?”
“Ya, dulu saat aku kecil, aku pernah membuat seorang gadis menangis.” renung Kibum. Sorot matanya meredup. “Karena dia, aku tidak pernah bisa melihat wanita menangis lagi.”

Suzy terdiam. Ia tidak suka topik pembicaraan ini. Ia melirik Kibum. “Kau tidak mencoba untuk mencari tahu siapa gadis itu? Mungkin jika kau menemuinya lalu meminta maaf, tidak akan ada lagi ganjanlan di hatimu.”
“Yah, tetapi ke mana aku harus mencarinya? TK tempatku bersekolah dulu sudah digusur. Lagipula aku tidak yakin gadis itu mau menemuiku.” Kibum mengangkat bahu.
“Benar juga, siapa yang mau bertemu dengan kriminal yang sudah membuatnya trauma?” sindir Suzy.
Kibum membelalakkan mata, “Ck, gadis ini!”
“Kau tidak bersama dengan teman-temanmu?” Suzy sengaja membelokkan pembicaraan.
Kibum mendengus, “Kyuhyun sedang ingin sendirian sementara Donghae,” ia melirik Suzy sekilas, “dia tidak masuk hari ini.”
“Kenapa?” Suzy langsung bertanya. Raut wajahnya yang berubah cemas membuat Kibum jengkel.
“Dia sakit.”

—TBC—

175 thoughts on “School in Love [Chapter 22]

  1. Akhirnya mereka pacaran beneran juga…. hmmmbbb…. #jingkrakjingkrak #lirikKyuYeon
    moment donghae sma yoona pasti yang paling sedikit…. Banyakin dong thor… d tunggu next chapter nya…. fighting….🙂

  2. Akhirnya Kyuhyun dan Jiyeon resmi berpacaran >< tapi kenapa Kyuhyun nggak bilang jujur tentang perasaannya. dia juga mencintai jiyeon kan? next part ditunggu… semuanya aku suka couplenya. dan nggak ada yg aku lewatpun kalau membacanya. aku tidak akan egois dengan melewati bagian tertentu krna tidak suka dengan castnya. readers apaan begitu… -_- tidak profesional…

  3. temen sd nya suzy gt amat se
    kn kejadianx paz mrka msh kecil…kok d besar2in mpek sgtx
    suzy jg gt pke ngemiz2 maaf sgala
    mo ngasih kibum k temenx lg!emangx kibum barang…
    hiiiiiih gemez ma suzy d chapt ne…sabar y kibum!!puk..puk..
    couple suzy-kibum pling berwarna critax dbandingin yg laen!
    mo baca next chapt aaaaaah….bye♥♥

  4. Wah… Suzy bnar2 dilema, cinta yg lagi brsemi eh trancam gu2r gara2 prmintaan Jiwon, aduh, kibum…, plis dh, kalo mang oppa suka ama Suzy y msti fokus cari cara biar dia yakin ke oppa, eh, ni malh msih ngungkit2 tntang yeoja kcil yg msih kagak jelas sapa orangny!
    Donghae -yoona step by step udh mulai ada ksempatan nih, manfaatin sbaikny y!
    KyuYeon; chukae ne, smoga langgeng trus! (?)
    buat author; speachless dh pokokny! Angkt jempol banyk2!
    Next chaptny plis jangn klamaan hwaiting!!!

  5. akhirnyaaaa kibum utarain juga isi hatinya.. tapi bner2 deh suzy ga pekaaaa #timpuk apalagi ini ada perusuh jiwon ckckck
    itu kyuhyun jiyeon akhirnya.. awet2 dah.. bikin yg lain iri😛

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s