School in Love [Chapter 21]

Tittle : School in Love Chapter 21
Author : DHA KHANZAKI a.k.a Shin Jeyoung
Genre : School Life, Romance, Friendship

Follow twitter aku yuu : @julianingati23

Main Cast :
Bae Suzy | Park Jiyeon | Im Yoona
Cho Kyuhyun | Kim Kibum | Lee Donghae

Dha’s Speech:
Hati-hati ketemu typo.

Happy Reading ^^school in love by dha khanzaki 12

=====o0o=====

CHAPTER 21
Misunderstanding

KEADAAN Kibum sudah lebih baik seminggu kemudian. Bahkan perban di tangannya sudah dibuka dan kondisinya kembali seperti sedia kala. Hal itu berkat istirahat seminggu penuh di rumah tanpa melakukan apapun.
“Benarkah?” Suzy mendesah lega saat mendengar kesembuhan Kibum dari Yoona. Setidaknya ia tidak akan merasa bersalah lagi. Saat Kibum tidak masuk sekolah selama seminggu yang lalu, ia terus menyalahkan dirinya sendiri atas kecelakaan yang menimpa Kibum. Namun ada satu hal yang terus ia pikirkan sejak pulang dari rumah sakit seusai menjenguk Kibum.

Apa sebaiknya ia memberi Kibum kesempatan? Kibum sudah bersikap sangat baik padanya. Pria itu melindunginya, menghiburnya, bahkan sangat memahami dirinya. Karena mereka bertengkar, Kibum mengalami kecelakaan. Apa pria itu memikirkannya saat itu? Mendadak Suzy berdebar saat memikirkan kemungkinan itu.
Apa benar tidak masalah jika ia memberi Kibum kesempatan? Ia masih ragu karena banyak hal yang harus dipertimbangkan mengingat reputasi Kibum yang seorang playboy. Banyak gadis yang sudah menjadi korbannya. Bagaimana jika Kibum hanya ingin mempermainkannya saja? Karena ia bersikap acuh tak acuh, pria itu ingin sekali menaklukannya?

“Kau terlalu berlebihan, Bae Suzy!” Suzy tertawa sendiri sambil memukul kepalanya. Pikirannya memang selalu terbang ke mana-mana. Ia terlalu ketakutan. Ia lalu bangkit dari kursinya. Yoona dan Jiyeon yang sedang asyik mengobrol terkejut karena Suzy mendadak berdiri.
“Kau mau kemana?” Jiyeon heran.
“Aku harus ke suatu tempat.” Suzy tersenyum.
“Kemana kau akan pergi?”
“Mungkin mencari Donghae.” goda Yoona sambil tersenyum. Suzy tidak langsung tersenyum seperti biasanya jika nama Donghae disebut. Kali ini Suzy justru tertegun. Senyumnya lenyap entah kemana. Ia sadar sesuatu yang salah sedang terjadi.

Akhir-akhir ini ia tidak pernah mencari Donghae lagi. Ia bahkan tidak mengingat pria itu. Setelah kecelakaan Kibum, nama Donghae sudah tidak terlintas dalam kepalanya. Ia justru memikirkan Kim Kibum dan mencemaskannya.
“Kenapa?”
Suzy tersentak. Ia langsung menepis pikirannya lalu berpamitan pada teman-temannya sekali lagi. Sambil berjalan keluar kafetaria, ia kembali sibuk dengan pikirannya.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apa isi kepalaku mulai terkontaminasi oleh Kim Kibum? Suzy menggigit bagian dalam bibirnya. Mendadak ia gugup. Perubahan perasaan yang terjadi tanpa ia sadari membuatnya sedikit panik. Donghae tidak pernah muncul dalam pikirannya lagi. Ia justru memikirkan Kim Kibum.
Mungkinkah aku menyukai Kim Kibum?
Langkah Suzy terhenti. Ia mengerjapkan mata. Tidak, tidak, tidak, ia hanya terpengaruh. Ia yakin alasannya mencari Kibum kali ini pun karena ia ingin memastikan pria itu benar-benar sudah kembali sehat seperti semula.

“Lee Donghae tidak ada di sini.” Baru Suzy tiba di depan pintu kelas Platinum, Yuri si Lady of Platinum Class mencegatnya. Mereka berpapasan saat Yuri akan meninggalkan ruangan kelas. Suzy lagi-lagi tertegun. Apa semua orang mengira ia kemari untuk mencari Donghae? Ya, jika bukan Yoona ia pasti mencari pria itu. Tetapi kali ini ia tidak mencari Donghae.
“Aku tidak mencarinya.”
“Lalu siapa yang kau cari? Kyuhyun? Dia tidak ada di sini.”
“Aku tahu,” sahut Suzy datar. Tanpa berkata apa-apa lagi ia pergi meninggalkan tempat itu. Ke mana perginya Kim Kibum. Suzy berjalan sambil memikirkan hal-hal membingungkan tentang perasaannya. Ia bahkan tidak menyadari Lee Donghae yang berjalan di depannya karena sibuk dengan pikirannya sendiri. Pria itu hendak menyapanya, tetapi Suzy melintas begitu saja seolah tidak melihat keberadaannya.
“Kenapa dia?” Donghae bingung. Biasanya Suzy akan bertingkah seperti kelinci yang melompat-lompat kegirangan bila melihatnya. Ini adalah hal yang tidak biasanya. Donghae mengangkat bahunya lalu kembali berjalan menuju kelasnya.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan hatiku? Suzy memiringkan kepalanya karena heran. Ia tidak mengerti. Ia sangat menyangsikan jika perasaan itu memang perasaan suka. Aku menyukai Kim Kibum? Sungguh menggelikan. Lalu mengapa sekarang hatinya justru berdebar?
Langkahnya berhenti ketika ia mendengar suara Kibum. Ia menoleh ke arah ruangan tak jauh dari posisinya. Sebuah papan bertuliskan ‘Physics Laboratory’ terpampang di depan ruangan itu. Suzy menepuk tangannya. Tentu saja! Untuk murid jenius seperti Kibum, hanya laboratorium atau perpustakaan tempat yang paling sering dikunjungi. Ia mendekat dan tersenyum gembira melihat Kibum berada di sana, di depan sebuah meja dengan sederet peralatan laboratorium di atasnya. Kibum duduk di kursi sambil memain-mainkan sebuah pipet.

Suzy berniat menyapanya saat ia menyadari Kibum tidak sendirian. Kyuhyun berada di sana, kedua tangan pria itu melipat di depan dada dan wajahnya tampak serius.
“Lebih baik kau hentikan saja permainanmu. Mempermainkan hati wanita bukanlah gayamu.” Kyuhyun berucap acuh tak acuh. Senyum Suzy lenyap. Apa yang mereka bicarakan? Penasaran, ia terpaku di balik pintu tanpa disadari kedua pria itu dan sedang menguping pembicaraan mereka.
“Kalau dia mengetahuinya, aku yakin dia akan menangis.” tambah Kyuhyun membuat Suzy semakin penasaran, “Bukankah kau paling tidak bisa melihat airmata perempuan? Apa kau sanggup melihatnya menangis setelah tahu kau hanya mempermainkannya?”

Pandangan Suzy segera beralih kepada Kibum. Pria itu terlihat menghela napas lalu meletakan pipet di tangannya ke atas meja.
“Entahlah. Aku pun terkadang berpikir seperti itu. Aku jahat, sangat jahat. Aku menyatakan rasa sukaku padanya hanya untuk membuktikan rasa penasaranku saja. Apa yang membuatnya tidak menyukaiku?” suara Kibum terdengar bimbang.

Deg, deg, deg. hati Suzy bergemuruh karena ia sangat yakin Kibum sedang membicarakan dirinya. Tetapi ia tidak boleh berprasangka terlalu awal. Suzy menajamkan pendengarannya.
“I’m really sorry for Suzy. Aku merasa kasihan padanya.” Kyuhyun mendesah angkuh.
Kedua tangan Suzy meremas daun pintu sampai buku-buku jarinya memutih mendengar namanya disebut-sebut. Tidak, hatinya tidak salah. Ternyata mereka memang membicarakan dirinya. Dan apa yang ia dengar? Kim Kibum sedang memainkan suatu permainan untuk membuatnya luluh.

Ternyata dugaannya memang benar. Kibum bersikap manis kepadanya selama ini hanya untuk membuktikan kemampuannya? Pria itu merasa tertantang dan ingin menakhlukan dirinya demi memuaskan egonya?
Sialan, lelaki itu brengsek! Sangat bejat!
Suzy tidak pernah merasa sesakit ini. Rasanya jauh lebih menyakitkan daripada ketika ia tahu Donghae telah memiliki kekasih ataupun Jiwon yang memutuskan persahabatan dengannya. Tanpa suara, ia berbalik pergi dari tempat itu tanpa ingin mendengar pembicaraan mereka lebih jauh lagi.
Langkah kakinya semakin cepat dan cepat hingga pada akhirnya Suzy berlari dengan kedua mata berkaca-kaca.
Sekali seorang playboy, selamanya tetap seperti itu. Bagaimana mungkin ia berpikir Kibum berbeda? Hampir saja ia jatuh ke dalam permainannya mentah-mentah. Segala bentuk kebaikan Kibum hanyalah sandiwara. Sebenarnya, ia tidak disukai.
Lalu kenapa hatiku terasa sesakit ini? Jika aku sudah tahu kenyataan akan seperti ini, mengapa aku merasa Kibum sudah mengkhianatiku?

Sementara itu, Kibum masih bimbang tanpa menyadari kepergian Suzy. Ia memandang kedua tangannya dengan gelisah.
“Awalnya aku berpikir bahwa aku begitu jahat sudah mempermainkan hatinya. Tapi setelah kebersamaan kami, aku mulai menyadari satu hal yang paling mustahil dalam hidupku.”
Kyuhyun mendengarkan, ia menjadi lebih waspada.
“Aku benar-benar menyukai Bae Suzy.” lirih Kibum sambil memandangi Kyuhyun yang melongo kaget.

—o0o—

Atap sekolah, tempat itu memang selalu sepi dari orang-orang. Bahkan bisa dijadikan tempat untuk meluapkan emosi. Seperti yang dilakukan Suzy saat ini. Ia berlari ke sana seperti ia sedang melarikan diri untuk menangis di saat ia sedih karena Donghae. Namun kali ini penyebabnya adalah Kim Kibum.
“Kau playboy kurang ajar, licik dan brengsek! Mengapa kau tega menipuku!” teriak Suzy sekencang mungkin. Ia tidak peduli jika seseorang mendengar teriakannya. Ia hanya merasa sangat kecewa. Ia bermaksud memberi Kibum kesempatan, ia berniat membuka hatinya sedikit untuk pria itu. Tetapi kenyataannya, ia hanya dipermainkan. Kibum memperlakukannya sama seperti kepada ratusan gadis lain. Bagaimana bisa ia berpikir Kibum berbeda terhadapnya?

“Suzy?”

Suzy terkejut mendengar seseorang memanggil namanya. Gawat, seseorang mendengar teriakannya. Ia segera menghapus airmatanya lalu menoleh.
“Yoona…” Suzy tergagap saat menyadari Yoona yang memergokinya. Gadis itu mengerutkan kening.
“Kau menangis?” tanyanya lembut ketika ia berjalan mendekat. Ia mengulurkan sapu tangan untuk Suzy, tetapi bukannya mengambil benda itu lalu menghapus airmatanya, ia justru memeluk Yoona. Suzy menangis di pundaknya.
Yoona bingung, “Ada apa?”
Suzy melepaskan pelukannya dan mulai menceritakan apa yang sudah terjadi sambil terisak, termasuk yang baru saja ia dengar. Yoona kini tahu bahwa Kibum telah menyatakan perasaannya dan meminta Suzy memberi kesempatan. Namun baru saja Suzy mendengar Kibum hanya mempermainkannya saja. Ia hanya bisa mendesah lalu mengusap punggungnya. Suzy tampak sangat terpukul.
“Aku benci Kibum! Dasar penipu! Pembohong!” umpat Suzy.
Yoona menggelengkan kepala pelan, “Aku yakin, kau pasti salah paham.” Ungkapnya bijaksana sambil menatap Suzy lembut.

Suzy melotot tidak terima, “Tidak mungkin. Aku mendengar semua itu dari mulut Kibum langsung. Bagaimana bisa aku salah paham? Dia hanya mempermainkanku.”
“Karena Kibum tidak sejahat itu.” jelas Yoona dengan tenang. “Dia hanya seorang playboy gadungan.”
“Mwo?” Suzy benar-benar kebingungan. Ia tidak mengerti dengan apa yang Yoona katakan.
“Tidak mungkin. Kau tidak lihat berapa banyak gadis yang dikencaninya? Berganti pacar baginya sama seperti mengganti pakaian dalam.” Suzy tetap bersikukuh.
“Kibum tidak pernah benar-benar berpacaran.” Bela Yoona.
Suzy ingin sekali berteriak, mengapa Yoona sekukuh ini? banyak fakta yang membuktikan sikap playboy Kibum. Bagaimana bisa dia menyangkal hal itu. “Tidak mungkin, aku tidak percaya!”
Ya Tuhan, mengapa Yoona membela Kibum. Apa dia sudah dipengaruhi Kibum?

“Kibum itu terlalu polos, dia selalu panik saat melihat seorang gadis menangis. Dahulu dia pernah membuat seorang gadis menangis sehingga hal itu menjadi semacam phobia baginya. Takut mengulang hal yang sama membuat Kibum selalu menerima gadis manapun yang menyatakan cinta padanya. Aku yakin gadis-gadis itu tahu kelemahan Kibum sehingga mereka memanfaatkannya. Padahal sesungguhnya Kibum menyakiti hati gadis mana pun.” Yoona menjelaskannya dengan perlahan dan lembut. Tak ada keraguan ataupun pura-pura dari sorot matanya yang jujur itu. Suzy merasa Yoona tidak sedang main-main.
Tapi, apa ceritanya benar?
Suzy merenung. Jika diperhatikan, selama ini memang para gadis yang mengejar Kibum lebih dulu. Bisa dilihat dari bagaimana Krystal begitu bermanja-manja kepadanya sementra Kibum sepertinya tidak peduli. Melihat Suzy begitu bimbang Yoona memegang pundaknya.
“Karena itu aku yakin ucapan Kibum padamu bukan hanya kata-kata kosong yang bertujuan untuk mempermainkan perasaanmu, dia pasti benar-benar meminta membuka pintu hatimu untuknya.”

Suzy bergeming. Benarkah?

—o0o—

Jiyeon menghela napas untuk ke sekian kalinya sambil menatap ponsel. Ini sudah ke sembilan kalinya ia mencoba menelepon Kyuhyun namun tak pernah satu kali pun diangkat oleh pria itu. Keanehan tingkah lakunya membuat Jiyeon sedih. Ia mencoba meminta maaf, tetapi ia tidak tahu apa kesalahannya. Kyuhyun marah karena sesuatu, namun ia tidak yakin apa kesalahan yang sudah dibuatnya. Di sekolah pun Kyuhyun seperti menghindarinya. Jiyeon kesulitan menemuinya meskipun ia sudah memberanikan diri mendatangi kelasnya.
“Kenapa?”
Siwon duduk di sampingnya. Sesi latihan memang telah berakhir dan sasana hampir kosong malam itu. Jiyeon mendesah pasrah lalu menggeleng.
“Kyuhyun marah padaku.”
“Benarkah?” Siwon terkejut. “Karena apa?”
Jiyeon mengendikkan bahu, “Aku tidak tahu. tiba-tiba saja dia berkata; ‘Aku pikir kau berbeda dengan Tiffany, ternyata sama saja’.” Apa sungguh tidak mengerti maksudnya. Apa aku benar-benar serupa dengan Tiffany? Bagaimana menurutmu?”

“Aku tidak yakin,” Siwon menggigit bibirnya. “Kau berbeda dengan Tiffany. Kau benar-benar tidak ingat pernah melakukan sesuatu yang membuatnya marah.”
“Tidak,” Jiyeon memiringkan kepala dengan tidak yakin, “Kemarin aku hanya makan bersamamu.”
“Itu dia!!!” Siwon menepukkan tangan tiba-tiba. Jiyeon sampai memegang dadanya karena kaget. “Mungkin saja dia melihat saat kita makan bersama. Dia mengira kita sedang berkencan atau semacamnya.
“Tapi rasanya tidak mungkin karena itu dia marah padaku.” Jiyeon merasa aneh dengan ide itu.
“Dia cemburu.”

Jiyeon menoleh dengan cepat, mulutnya gemetar mendengar Siwon menyebutkan sesuatu yang mustahil, “Cem-bu-ru?”
“Tidak salah lagi.” Siwon tampak sangat yakin. Namun beberapa detik kemudian sinar wajahnya meredup, “Dia marah besar saat tahu Tiffany hanya memanfaatkannya saja agar bisa dekat denganku. Mungkin kali ini pun dia merasa hal yang sama. Dia, takut kau mendekatinya hanya karena ingin mengenalku, atau karena dia tidak mau kehilanganmu.”
“Tidak mau kehilangan?” Jiyeon melebarkan mata, “Tunggu, apa mungkin Kyuhyun..”
Siwon mengangguk, “Dia menyukaimu. Entah dia menyadarinya atau tidak. Kemarahannya adalah bukti bahwa ada perasaan khusus untukmu.”
Jiyeon mendadak bersemangat. “Lalu apa yang harus kulakukan? Aku harus berbicara dengannya sekarang juga.” ia mengguncang pundak Siwon penuh semangat sampai pria itu merasa pening.
Sambil membenarkan bajunya yang berantakan karena guncangan Jiyeon, Siwon berkata, “Kau hanya perlu minta maaf. Jika kau gagal menemuinya di sekolah, kau temui saja dia di rumahnya.”

—o0o—

Gerbang tinggi besar yang menjadi pintu masuk kediaman keluarga Cho selalu membuat Jiyeon merasa terintimidasi. Lehernya terasa sakit jika ia ingin melihat puncak gerbang besi karena harus mendongak.
“Apa Kyuhyun ada di rumah?” Jiyeon mencoba menghubungi Kyuhyun. Lagi-lagi tidak dijawab. Baru deringan pertama sambungan diputuskan begitu saja. Tetapi Jiyeon tidak akan menyerah. Ia terus menghubungi Kyuhyun. Sesekali ia mencoba melirik ke dalam berharap ada seseorang yang bisa membantunya. Tidak ada pos penjaga sehingga Jiyeon kebingungan bagaimana caranya gerbang ini dibuka jika ada seseorang yang ingin masuk. Di dinding sisi gerbang terdapat kamera CCTV dan sebuah bel dilengkapi dengan layar. Jiyeon mencoba menekan bel.
“Siapa di sana?”
Jiyeon terperanjat kaget karena tiba-tiba terdengar suara dari speaker kecil di dekat layar. “Aku Park Jiyeon. Aku ingin bertemu dengan Cho Kyuhyun. Apa dia ada di rumah?”
“Apa Anda sudah membuat janji?”
“Em, tidak.” Jiyeon merenung. Bagaimana caranya ia masuk? Hubungan mereka sedang tidak baik, ia tidak yakin Kyuhyun mau menemuinya.

Sekarang apa yang harus ia lakukan? Ia akhirnya kembali ke cara awal, menghubungi Kyuhyun. Saat ia menunggu sambil menyandarkan punggungnya pada dinding, tiba-tiba terdengar halilintar dan detik berikutnya hujan turun. Jiyeon panik, ia tidak membawa payung dan di sana tidak ada satu tempat pun yang bisa digunakannya untuk berteduh. Sementara itu hujan turun semakin deras. Ia mencoba menghubungi Kyuhyun lagi untuk meminta bantuan. Ia sadar tidak mungkin bisa pulang saat melihat jam. Bus terakhir menuju rumahnya sudah berangkat sepuluh menit yang lalu. Satu-satunya harapan adalah Kyuhyun.
“Kumohon…angkat..” Jiyeon mulai basah kuyup.

Sementara itu di dalam rumah, Kyuhyun baru saja selesai makan malam dan sedang berjalan kembali ke kamarnya. Sejujurnya ia tidak menikmati makan malam dengan tenang karena ia teringat pada Jiyeon. Sebelum turun, Jiyeon sempat meneleponnya namun ia matikan karena ibunya sudah memanggil. Benda itu ia tinggalkan di kamar.
Masih terbayang di memorinya momen ketika ia memergoki Jiyeon dan Siwon makan bersama di sebuah restoran. Mereka tampak akrab dan berinteraksi selayaknya sepasang kekasih. Kyuhyun mencoba untuk meyakinkan diri bahwa mereka hanya teman, tetapi mendadak saja bayangan itu berubah menjadi bayangan ketika ia melihat Siwon makan bersama Tiffany lalu beberapa hari kemudian Tiffany mengaku bahwa gadis itu lebih menyukai Siwon dibandingkan dirinya.
Kyuhyun patah hati. Kemarin pun saat melihat Jiyeon bersama Siwon, ia merasakan kesakitan yang sama. Kakinya berhenti melangkah. Apa mungkin ia menyukai Jiyeon? Ia marah hanya karena Jiyeon bersama Siwon. Memang mengapa jika mereka bersama?
Kyuhyun tercengang menyadari keanehan tingkah lakunya. Ia bahkan menghindari Jiyeon akhir-akhir ini. Mengapa aku harus melakukan itu? Apa yang aku hindari? Ia menggelengkan kepalanya lalu kembali ke kamar.

Ketika melihat ponselnya untuk mengecek pesan, ia terkejut menyadari ada sekitar sepuluh missed call. Semuanya dari nomor Park Jiyeon. Ia mendengus sambil menatap layar ponselnya. Mengapa gadis ini begitu keras kepala? Ia mengerucutkan bibir. Apa ia harus balas meneleponnya atau tidak melakukan apapun? Ia tersentak kaget dan ponselnya hampir meluncur jatuh dari tangan saat benda itu berdering. Kali ini pun dari Park Jiyeon.
Ya Tuhan, dia benar-benar keras kepala.
“Hallo…” jawab Kyuhyun agak kesal.
“Akhirnya,” suara Jiyeon terdengar lega, Kyuhyun mengerutkan kening karena suaranya terganggu oleh suara gemuruh aneh.
“Ada apa?”
“Aku di depan gerbang rumahmu.”

Kyuhyun terkejut mendengarnya. Di depan rumah? “Apa yang kau lakukan di sana?”
“Aku—“ sambungan tiba-tiba terputus. Kyuhyun menatap ponselnya dengan bingung. Untuk sesaat ia berpikir Jiyeon hanya bercanda. Tetapi kemudian ia memutuskan untuk memastikan hal itu. Ia berlari keluar kamarnya. Di tengah jalan menuju pintu depan, seorang penjaga keamanan menghapirinya dengan eksresi gusar.
“Tuan Muda..”
“Apa ada seorang gadis yang menunggu di depan gerbang sana?” potong Kyuhyun. Penjaga itu agak panik. Dia tampak takut saat akan mengatakannya pada Kyuhyun.
“Ada. Sebenarnya seorang gadis sudah berada di sana sejak satu setengah jam yang lalu.”
“Apa kau bilang?” Kyuhyun meraung marah sampai penjaga itu menutup matanya karena kaget. Paman Han, kepala pelayan kediaman keluarga Cho menghampirinya dengan tergopoh-gopoh.
“Ada apa Tuan?” tanyanya panik. Tapi Kyuhyun tidak memedulikannya, ia menatap penjaga di depannya dengan marah.
“Kenapa kau tidak memberitahuku atau setidaknya kau membiarkannya masuk!” ia langsung menoleh pada Paman Han, “Paman, tolong siapkan mobil, aku harus menjemput seseorang di depan gerbang dan kau,” Kyuhyun menunjuk penjaga yang kini ikut panik, “Buka gerbang dan pastikan gadis itu baik-baik saja.”
“Tuan,” penjaga itu kembali menyela saat Kyuhyun akan pergi. “Sekarang di luar hujan deras, aku tidak yakin gadis itu..”
“Hujan deras?” Kyuhyun kembali membentak dengan marah. “Astaga, kau.. cepat kerjakan apa yang kusuruh tadi!” teriaknya.
“Saya mengerti, Tuan.” Penjaga itu menundukkan kepala lalu pergi sambil mengatakan sesuatu lewat earphonenya. Kemarahan Kyuhyun membuat para penjaga dan seluruh pegawai di sana panik. Semua orang bekerja ekstra efektif dan efisien mencegah terjadinya bencana yang tidak diinginkan.

Kyuhyun langsung turun dari mobilnya begitu ia tiba di depan gerbang rumah. Seseorang buru-buru menaunginya dengan payung. Ia terkejut ketika melihat Jiyeon berdiri di dekat intercom, basah kuyup dan menggigil. Ia tercengang, tak bisa berkata-kata. Ya Tuhan, kenapa Jiyeon selalu bisa membuatnya kehabisan kata-kata?
Jiyeon menoleh padanya dan seulas senyum tulus langsung menghiasi bibirnya. “Kau datang..” lirihnya dengan bibir bergemeletuk. Kyuhyun meringis. Tanpa berkata apapun ia melingkarkan selimut kering di sekeliling tubuhnya lalu membawa Jiyeon ke dalam mobil.
“Aku ingin…”
Kyuhyun langsung meminta Jiyeon tidak bicara apa-apa. “Kita kembali ke rumah lalu keringkan dirimu lebih dulu.”
Jiyeon mengangguk. Ia merapatkan selimut itu sambil meresapi kehangatannya. Ia takjub karena Kyuhyun menjemputnya. Ia kira ia akan dibiarkan di sana hingga pagi.

Begitu tiba di depan rumah Kyuhyun yang besar, pria itu sibuk menyuruh pembantunya mengambilkan handuk kering untuknya, teh hangat, dan perlengkapan lainnya.
“Tunggu di sini, aku akan mengambil baju untukmu.” Kyuhyun menyuruhnya duduk di ruang tamu. Jiyeon duduk dengan ragu karena ia takut air dari tubuhnya akan membasahi sofa yang tampaknya sangat mahal itu. Jiyeon mengeringkan rambutnya dengan handuk yang diberikan seorang pembantu. Kyuhyun tiba tak lama kemudian membawa baju ganti untuknya. Pria itu menyerahkan baju padanya lalu bersedekap.
“Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Kenapa kau menunggu di sana dan membiarkan dirimu basah kuyup seperti orang bodoh?” omelnya. Sebenarnya Kyuhyun khawatir.
“Aku ingin meminta maaf.” Jawaban singkat dan halus Jiyeon membuat kerutan-kerutan marah di kening Kyuhyun memudar. Pria itu terperangah.
“Kenapa?”

Jiyeon duduk dengan gugup karena Kyuhyun memandangnya tanpa ekspresi. “Sepertinya aku sudah membuatmu marah.” Ia lalu memaksakan diri memandang mata Kyuhyun secara langsung. “Jika kau marah padaku karena Siwon, aku minta maaf. Aku dan dia tidak memiliki hubungan apapun selain teman. Aku bukan Tiffany Hwang, aku tidak akan memanfaatkan orang lain untuk mendapatkan perhatian dari orang yang kusukai.”
Kedua mata Kyuhyun membulat mendengarnya. Bagaimana Jiyeon tahu? Apa Siwon yang menceritakan hal itu padanya?
“Aku tidak ingin kita bertengkar. Karena itu aku datang untuk meminta maaf. Aku..Aku menyukaimu, bukan Siwon.”

Kyuhyun merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia sudah mendengar pernyataan cinta seperti ini ratusan kali seumur hidupnya, tetapi entah mengapa kali ini terasa berbeda. Ini berbeda dengan yang ia rasakan ketika ia sadar jatuh cinta pada Tiffany. Kyuhyun tidak yakin, tetapi ia merasa tidak asing dengan perasaan ini.
“Aku tahu.” sahut Kyuhyun datar. “Kau tenang saja, aku sudah memaafkanmu.”
Kedua mata Jiyeon langsung berbinar. “Benarkah?”
“Ya, dengan satu syarat.” Kyuhyun menatap Jiyeon lekat-lekat.
“Apa?”
“Aku tidak mau kau melakukan hal yang membahayakan dirimu sendiri karena aku.” Kyuhyun mengambil handuk di tangan Jiyeon lalu menyelubungi rambutnya yang basah dengan itu.
“Maaf, aku tidak bisa berjanji.” Jiyeon menatap Kyuhyun lekat-lekat, “Karena aku rela membahayakan diriku sendiri untuk seseorang yang aku sayangi.”

Kyuhyun terkejut mendengarnya. Hatinya bergetar oleh kesungguhan Jiyeon, “Mengapa kau mau melakukannya? Dan kenapa kau menyukaiku? Aku bukan pria yang pantas kau sukai. Tidak ada hal bagus dalam diriku. Satu-satunya kelebihan yang kumiliki hanyalah fakta bahwa aku dilahirkan dalam keluarga kaya.”
Sesungguhnya Jiyeon sedih mendengar apa yang baru saja dikatakan Kyuhyun. Kyuhyun bukanlah seseorang yang buruk. Dia hanya terlalu menutup diri. Tetapi ia tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaannya.
“Aku tidak tahu.” ia kembali memandang Kyuhyun. “Apa aku perlu alasan untuk menyukaimu?”
Kyuhyun tidak menjawab. Hanya diam membisu dengan pandangan kosong. Tentu saja aku memerlukannya, gumam Kyuhyun dalam hati. Aku tidak mau kau menyukaiku karena alasan yang menyakitkan seperti yang pernah dilakukan Tiffany.

Jiyeon memandangi Kyuhyun yang diam dengan sejuta ekspresi di wajahnya. Detik itu ia berharap diberi kemampuan membaca pikiran karena ia ingin tahu apa yang Kyuhyun pikirkan saat ini. Apa yang dirasakan Kyuhyun setelah mendengar pernyataan cintanya untuk yang kedua kali? Meskipun sudah memaafkannya, mengapa Kyuhyun tidak terlihat bahagia? Jiyeon sungguh ingin tahu jawaban dari pertanyaannya itu.
Kyuhyun benar-benar seseorang yang sulit ditebak.

—o0o—

Kembali ke rumah Jiyeon diomeli oleh kakak dan Ayahnya. Siapa yang tidak cemas, anak perempuan satu-satunya keluarga itu menghilang tanpa kabar, bahkan ponsel pun tidak bisa dihubungi. Ponselnya lowbat karena itu Jungsoo tidak bisa menghubunginya. Kyuhyun mengantarnya pulang dan menjelaskan apa yang terjadi kepada Jungsoo dan Ayah Jiyeon. Meskipun khawatir mereka akhirnya bisa memahami.
Jiyeon beristirahat di kamarnya. Ia menyadari ada yang aneh dengan tubuhnya. Mungkin karena di luar hujan, Jiyeon merasa kedinginan dan tenggorokannya panas. Karena itu ia kesulitan tidur. Bosan, Jiyeon memutuskan menghubungi Suzy.
“Kau belum tidur?” Suzy bertanya heran. Jiyeon mengakui ia meneleponnya terlalu larut.
“Maaf mengganggumu. Kau sendiri?”
“Tidak apa-apa. Lagipula aku memang tidak bisa tidur. Terlalu banyak pikiran yang mengganguku.” Ujar Suzy di ujung sana.
“Ah, Yoona sudah menceritakannya.” Jiyeon ingat apa yang diceritakan Yoona saat pulang sekolah tadi. Suzy sedang ada masalah dengan Kibum. “Jadi, bagaimana perasaanmu sekarang?”
Suzy terdengar menghela napas, “Aku tidak tahu. Setelah mendengar kata-katanya aku kembali meragukannya. Semua kebaikannya itu hanya pura-pura. Dasar pria brengsek. Untung saja aku belum merespon ucapannya. Jika iya, pria itu pasti tertawa karena berhasil membuatku jatuh ke perangkapnya seperti orang bodoh.”

Jiyeon tidak tahu harus berkomentar apa karena ia tidak begitu mengenal Kibum sehingga tidak adil rasanya jika ia menghakimi Kibum begitu saja. “Lalu kenapa kau kesal?”
“Apa?” Suzy kaget.
“Jika kau memang tidak memiliki perasaan apapun, mengapa kau kesal mengetahui dia hanya mempermainkanmu?”
Suzy tidak menjawab. Sepertinya Jiyeon berhasil membuat sahabatnya itu terkejut.
“Suzy, jika kau merasa marah, itu artinya kau menaruh harapan padanya. Kau menyukainya juga bukan?”
“Kau pasti sakit karena bicaramu melantur!” bantah Suzy. Jiyeon tertawa lalu terbatuk. Sepertinya Suzy benar, tenggorokannya memang terasa aneh.
“Maaf,” Jiyeon menjauhkan ponselnya untuk bersin. Setelah itu ia berbicara kembali dengan Suzy.
“Apa yang terjadi? Suaramu berubah. Apa kau memang sakit?”
“Sepertinya, aku kehujanan.”
“Bagaimana bisa?”

Jiyeon lalu menceritakan apa yang ia alami tadi di rumah Kyuhyun. Suzy kali ini mendengarkannya. “Aku tidak mengerti, Kyuhyun selalu menunjukkan raut datar sehingga aku tidak tahu apakah dia menyukaiku atau tidak, apakah Kyuhyun menginginkanku ada di dekatnya atau tidak, aku bahkan tidak tahu apakah dia memandangku sebagai Park Jiyeon atau Tiffany Hwang.”
“Dilihat dari ekspresinya saja aku sudah tahu Kyuhyun adalah manusia berdarah dingin. Cara yang paling tepat menangani pria seperti itu adalah dengan tidak menyerah. Kau harus membuktikan pada Kyuhyun bahwa kau berbeda dengan Tiffany. Kau menyukainya karena dia Cho Kyuhyun.”
Jiyeon merenungkan kata-kata itu. Suzy memang benar. Lalu untuk apa ia gusar? Hanya saja ia ingin sekali melepaskan Kyuhyun dari bayang-bayang masa lalunya. Ada sesuatu yang belum terselesaikan di antara Kyuhyun, Siwon, dan Tiffany. Mungkin jika ia bisa meluruskan masalah mereka, Kyuhyun tidak akan bersikap dingin lagi. Jiyeon tidak suka melihat Kyuhyun sedih, untuk alasan apapun juga.

—o0o—-

Kyuhyun merenung di ruang musik sendirian. Ia memandangi grand piano yang ada di hadapannya. Tiba-tiba ia teringat Jiyeon. Gadis itu piawai memainkan piano, tentu saja, karena bakat itu didapatkannya dari sang ibu, Cheon Jihye yang tak lain adalah seorang pianis ternama. Kyuhyun duduk di salah satu kursi, merenungkan apa yang ia rasakan saat Jiyeon menyatakan perasaan padanya tempo hari.
Ada sesuatu dalam diri Jiyeon yang mengingatkannya pada Tiffany, tetapi ia sadar mereka berdua adalah dua orang yang berbeda. Lalu perasaan apa yang membuatnya begitu familiar jika berada bersama gadis itu. Semuanya benar-benar aneh. Apa mungkin ia jatuh cinta pada Jiyeon tanpa ia sadari?
Masalah sebenarnya yang membuat hidupnya tidak tenang adalah pertengkarannya dengan Siwon. Semua berawal karena rasa cintanya pada Tiffany. Tiffany memanfaatkannya hanya untuk bisa bersama dengan Siwon, dan sahabatnya pun mengkhianatinya. Siwon berkata tidak menyukai Tiffany tapi Kyuhyun menemukan surat milik Tiffany terselip di antara buku di tas Siwon.
Dasar pembohong. Memang dia orang bodoh yang bisa ditipu begitu saja? Kyuhyun tahu gelagat Siwon ketika bersama Tiffany menunjukkan ketertarikan terhadap gadis itu namun ia sengaja mengabaikannya karena mengingat persahabatan mereka. Ternyata, dugaannya memang benar, mereka berdua menusuknya dari belakang.
“Dia tidak bersalah Kyuhyun, kumohon kau jangan membencinya…” itulah ucapan terakhir Tiffany sebelum gadis itu pergi untuk selama-lamanya.
Kyuhyun ingin sekali mengabulkan permintaan Tiffany, tetapi ia terlanjur membenci Siwon. Persahabatannya telah hancur sejak hari itu, ketika ia dan Siwon bertengkar hebat karena surat milik Tiffany. Sekarang, ia kembali merasakan kekecewaan yang sama ketika melihat Jiyeon bersama Siwon.
Tidak, sebenarnya ia tidak merasa kecewa. Melainkan rasa takut. Ia takut Jiyeon akan mengkhianatinya seperti Tiffany.

—o0o—

Sudah ditekadkan dalam hati, Suzy tidak akan termakan rayuan aneh Kibum lagi. Untuk sementara ia akan mengabaikan nasehat Yoona ataupun ucapan Jiyeon tempo hari yang membuatnya menyadari kemarahannya memang tidak beralasan. Saat ini ia ingin melenyapkan pikiran tentang Kim Kibum, si playboy licik yang sudah membuat sebagian hati Suzy—hampir—mencair namun apa kenyataannya, dia hanya bermain-main. Ingin rasanya Suzy membunuh Kibum dengan kedua tangannya sendiri.
“Jiyeon benar, untuk apa sakit hati! Sejak awal Kibum memang tidak pernah serius dan aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap pria itu.” Suzy berusaha menghibur diri. Ada jutaan hal dalam hidupnya yang jauh lebih penting untuk dipikirkan. Kibum adalah hal tidak penting yang wajib dimusnahkan.
Atap sekolah sudah tidak memberinya ketenangan lagi. Alternatif lainnya adalah dengan pergi ke perpustakaan. Tempat itu sepi. Meskipun besar kemungkinan akan bertemu dengan pria itu, ia tidak peduli. Jika Kibum muncul Suzy bertekad untuk mengabaikannya.

“Apa yang kaubaca?”

“Ya Tuhan!!” Suzy memekik kaget. Ia langsung melotot pada Kibum, si biang masalah yang muncul tiba-tiba tanpa peringatan sebelumnya. Kibum tidak menyadari pandangan horor Suzy karena dia sibuk melihat isi buku yang dibacanya.
Suzy sudah menduga Kibum akan muncul dan karena ia sudah terlanjur berjanji untuk mengabaikan Kibum, maka ia akan melakukannya.
“Kamu tidak perlu tahu.” sahut Suzy ketus. Ia menutup bukunya lalu pergi.
Kibum terpaku ditempatnya. Aneh, hari ini Suzy dingin sekali. Ia kira hubungan mereka mulai membaik, tetapi ia tidak menyangka Suzy kembali seperti sedia kala. Dingin, ketus, dan suka membentak. Ia segera mengejarnya. Suzy keluar perpustakaan setelah meminjam beberapa buku.
“Kenapa buru-buru?”
Suzy tidak menghiraukannya dan terus berjalan. “Aku sibuk, sebentar lagi akan ada ujian akhir.”
“Ah, kau benar. Bagaimana kalau kuajarkan? Atau kita bisa belajar bersama.” tawar Kibum. Suzy berhenti berjalan lalu memandangnya dengan kesal.
“Aku tahu kau jenius tapi maaf, aku masih bisa belajar sendiri.” Suzy berjalan agak cepat meninggalkan Kibum. Pria itu mengerutkan keningnya heran. Dengan perasaan gemas ia mengejar Suzy.
“Kadar sensitifmu sepertinya meningkat.”
“Oh ya, apa aku terlihat begitu?”
“Aku mengenalmu dengan baik. Kau ketus seperti ini jika suasana hatimu sedang tidak baik, apa ada sesuatu yang mengganggumu?”
“Tak perlu repot-repot mengurusi masalahku.”
“Kau marah padaku?”
“Untuk apa? Marah hanya membuang tenaga.”
“Tentu saja, karena itu tersenyumlah.”

Suzy sudah tidak tahan mendengarkan ocehan Kibum lagi. Dengan hati bergejolak ia berhenti lalu melotot pada Kibum.
“Apa kau bisa berhenti mengajakku bicara?! Aku sedang sibuk, karena itu kumohon ganggu orang lain saja jika kau memang mempunyai banyak waktu untuk itu!!”
Kibum diam. Kemarahan Suzy yang tidak beralasan ini membuatnya semakin bingung. Tetapi melihat Suzy menatapnya penuh kebencian, ia mulai mengerti sedikit masalahnya.
“Jadi kau memang marah padaku? Kali ini apa salahku?”
Suzy tidak menjawab. Dia tidak ingin dibodohi oleh ekspresi polos dan tak berdosa angkini diperlihatkan Kibum. “Mulai sekarang, jangan pernah mengajakku bicara lagi!” sentak Suzy sengit tepat di depan wajah Kibum.
Kibum membelalakkan kedua matanya. Kenapa? Ia sungguh tidak mengerti alasan Suzy menyuruhnya tidak berbicara dengannya lagi. Ia tidak ingat sudah membuat kesalahan. Suzy pergi selagi Kibum sibuk dengan pikirannya.
“Sekarang apa salahku?” Kibum menatap Suzy nanar.

—o0o—

“Pulang? Kembali ke tempat itu? Tidak… tidak bisa, aku harus menyelesaikan sekolahku. Bulan depan ada ujian akhir.” Donghae berbicara melalui ponselnya. Badannya bersandar pada tembok. Matanya sesekali terarahkan ke lapangan, anak-anak klub basket tengah berlatih di sana. Dia juga mengalihkan padangannya ke arah Yoona yang sedang berbicara dengan Suzy.
“Apa? Tentu saja aku mendengarkanmu!” Ucap Donghae saat orang di seberang sana mengomel karena suara Donghae tidak terdengar sama sekali. Ia kembali tertarik untuk melihat ke arah Yoona. Mereka berdua terlihat serius, terlebih ketika ia melirik wajah Suzy yang terlihat sangat kesal.

“Kenapa kau mengatakan itu?” Yoona bertanya sekedar memastikan. Ia sudah mendengar kisah Suzy yang melarang Kibum bicara dengannya lagi. Dalam hatinya ia ingin tertawa melihat Suzy yang kini kesal. Ingin sekali ia mengatakan; ‘Kau sadar tidak bahwa kau sebenarnya menyukainya’. Tetapi jika Yoona mengatakannya sekarang, Suzy pasti menyangkal hal itu.
Suzy kesal dengan tanggapan Yoona yang seolah-olah ingin memojokkannya. Yoona tidak membelanya sama sekali, bahkan lebih cenderung membela Kibum. Ia sangat yakin Yoona sudah dicuci otak oleh Kibum.
“Lagipula kenapa kau merasa kesal? Kau sendiri yang mengatakan bahwa Kibum tidak pernah serius menyukai gadis-gadis yang dikencaninya. Ah, apa mungkin kau sudah mulai menanggapi perasaannya?” Yoona berkata asal, mencoba menggoda Suzy. Tetapi ucapan asalnya itu membuat napas Suzy tercekat tepat di tenggorokan. Dada Suzy sakit mendengar perkataan itu.

Bahkan Yoona pun mengatakan hal yang sama seperti Jiyeon. Apa mungkin ia memang sudah.. Tidak! Buang jauh-jauh pikiran itu! Suzy menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Ia menegakkan kepalanya dan memandang ke arah depan, matanya membesar karena ia menyadari Donghae sedang memandang ke arahnya.
Yoona ikut menoleh melihat ekspresi terkejut Suzy. Ia pun memergoki Donghae sedang memandang mereka. Donghae tersentak, lalu dengan panik memalingkan wajahnya ke arah lain dan pura-pura sibuk bicara di ponselnya.

Perasaan Suzy semakin campur aduk tak berbentuk. Kenapa ia bisa bingung dengan perasaannya sendiri? Jantungnya masih tetap berdegup kencang setiap kali ia bertemu dengan Donghae. Tapi ia juga merasakan hal yang sama saat Kibum tidak ada di dekatnya. Namun ada sedikit perbedaan dan Suzy tidak mengerti di mana letak perbedaan itu.
“Ngomong-ngomong..” Yoona berkata. “Kemana Jiyeon? Aku tidak melihatnya.”
“Oh, dia tidak masuk karena sakit.” Suzy memiringkan kepala, “Kurasa dia demam sehabis kehujanan.”

—o0o—

Murid-murid kelas platinum berlarian pulang mendahului Kyuhyun. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Seperti ada sesuatu yang kurang, Kyuhyun merasa aneh hari ini. Seseorang tidak terlihat.
Kyuhyun berhenti karena kebetulan ia berpapasan dengan Suzy dan Yoona. Barulah Kyuhyun sadar seseorang yang tidak tampak di mana pun hari ini.
Park Jiyeon. Kemana gadis itu?

“Begitu. Kasihan sekali.” Yoona bergumam. Suzy sudah menceritakan mengapa Jiyeon sakit dan tidak masuk ke sekolah. Tadi pagi ia menelepon gadis itu saat sadar Jiyeon tidak muncul di sekolah. Suzy mengangguk setuju.
“Aku kasihan pada Jiyeon. Dia sudah berusaha terlalu keras hanya untuk mendapatkan maaf dari pria searogan Kyuhyun. Seharusnya dia tidak melakukan itu. Jiyeon adalah gadis yang cantik. Pasti banyak pria yang akan jatuh cinta padanya.”
“Suzy, kau tidak mengerti.” Yoona tersenyum. “Cinta Jiyeon untuk Kyuhyun sangat tulus. Lagipula bagi gadis sepolos Jiyeon, jatuh cinta adalah sesuatu yang sama berharganya dengan berlian. Aku yakin dia memiliki alasan kuat mengapa jatuh cinta pada Kyuhyun.”
Suzy tersenyum. “Kau benar, dia bukan Kim Kibum yang akan jatuh cinta dengan mudah.”
“Suzy, Kibum tidak seperti itu.”
“Aku tidak peduli.” Suzy berhenti ketika ia melihat Kyuhyun tak jauh dari posisi mereka. Kebetulan sekali pria itu muncul karena mendadak Suzy ingin sekali berbicara dengannya.

Kyuhyun mendengus menyadari Suzy menatap tajam dirinya. Ia melengos pergi.
“Tunggu!”
Kyuhyun berhenti lalu membalikkan badan. “Apa?!” bentaknya. Ia tidak sedang dalam mood mengobrol dengan siapapun.
“Kau masih tetap sombong rupanya.” Suzy mencibir.
“Kau tidak bersama dengan temanmu?”
Suzy menoleh ke arah Yoona yang menunggu jauh di belakangnya. Dia tidak ikut mendekat, “Yoona ada di sana menungguku.”
“Bukan dia.”
“Oh, maksudmu Jiyeon? Dia tidak masuk karena sakit. Kudengar dia pulang ke rumah dalam kondisi basah kuyup karena kehujanan.” Suzy menyipitkan matanya. Kyuhyun merenung. Ia yakin Jiyeon sakit karena menunggunya terlalu lama di tengah hujan.
“Begitu,” Kyuhyun mengangguk dingin. Suzy tercengang karena Kyuhyun langsung saja pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi. Sifat kurang sopannya belum juga hilang. Suzy segera menahannya. Jika bukan karena memikirkan Jiyeon, ia tidak akan mau mencegat Kyuhyun seperti ini.

“Lepaskan!” Kyuhyun menarik paksa tangannya.
“Aku ingin menagih satu permintaan yang belum kau penuhi.” Suzy balas menatap Kyuhyun dingin. “Jangan katakan kau sudah lupa!” tambahnya karena Kyuhyun tidak menunjukkan reaksi apapun.
Tentu saja Kyuhyun ingat. Suzy baru mengajukan dua permintaan dari tiga permintaan yang harus dipenuhinya karena kalah bertanding basket beberapa bulan yang lalu.
Kyuhyun mengangkat dagunya dengan angkuh. “Apa maumu?”
“Cih, sombong sekali.” Suzy mencibir. Ia menatap Kyuhyun dengan tajam. “Aku ingin kau berhenti membuat Jiyeon menderita. Kau tidak bisa melihat perasaan sukanya padamu atau kau berpura-pura tidak melihatnya hanya untuk mempermainkan hatinya?”

Lagi-lagi hati Kyuhyun seperti bergeser mendengar Jiyeon menyukainya. Kyuhyun melemparkan pandangan sengit pada Suzy. “Apapun yang kulakukan padanya, itu bukan urusanmu sama sekali! Berhenti mengurusi urusan orang lain dan urus saja masalahmu sendiri!” bentaknya lalu pergi.

Suzy meringis mendengar bentakan Kyuhyun. Ia mendengus keras sambil menatap punggung Kyuhyun. “Sekarang aku benar-benar tidak mengerti apa yang membuat Jiyeon sangat menyukainya. Bagaimana pun dia pria aroga dengan sifat supermenyebalkan!”

~~~TBC~~~

196 thoughts on “School in Love [Chapter 21]

  1. Suzy n kibum knp jd dingin lg hubungannya, suzy salah paham deh itu knp dy gak dngerin pembicaraannya kibum dgn kyuhyun smpe selesai biar gak jd salah paham bgini.
    Pdhl aku lg suka bgt partnya suzy-kibum terutama d part yg kemarin itu, tp d part ini malah jd kaya yg d awal lg, huft😦
    Ayo lanjut thor, cpt yaa….🙂

  2. Ugh, ikut deg-degan…
    G tau kenapa, rasanya itu…gimana ya, mending Suzy g usah suka deh sama Kibum, jahat sih, tapi g tau deh, pengen menistakan Kibum jadi orang yang patah hati sendiri,hehe

  3. dan sekarang aku baru nyadar kalo kisahku hampir sama kaya suzy. eoh eothae..# ko jd curcol ya; / plakkk..
    thor gmna nih lanjutannya.tak tunggu loh next chapt cepetan ya..

  4. Nah looo,, kyu… Jiyeon cinta sampe matekk same luuu…
    Hihihiii kibum suzy fav couple ku.. Kekekeee
    Trs gmn sm jiwon, yg suka sm kibum? Hhmmm
    Konfliknya banyak benerrr ,, ga heran sih, castnya 3 pasang jd sm2 punya masalah,,

  5. anyeong aku readers baru kekeke~ sebenernya aku udah baca dari part 1-20 tapi gak koment karna apa aku baru tau cara ngomentnya bagaimana wkwk kudet sayaaa hehe mianhe^^ tapi thor ini cerita seruuuu bgt sinetron aja kalah wkwk lanjut trus thor jgn lama” okeeee :p

  6. Hyaaa seru menarik beut ceritany,ayo dong kenalin perasaan kalian masing” biar gak salah paham,penasaran gimana ya kisah mereka selanjutnya.
    ditunggu next chapny eonni
    #HWAITING🙂

  7. aaaa …jiyeon polos banget sih, ngga bisa komen banyak sih . ceritanya emang udh bagus banget setiap karakternya punya jalan cerita nya sendiri tpi karna mereka sahabat jdi semua nya tuh jdi satu … well apa yoona masih belum punya rasa sama donghae ??? ok kayak nya yoona sama donghae yg kisah nya belum dapet dehh , kalau yg lain udh jelas cuma masihh konplik … heheheh

  8. Aigooo jiyeon cinta bangetttt ngett ngetttt sama sih kyupil –” kasihan kibum suzy uda trlanjur sakit hati dan yoona yg skrng masih gaje dy suka siapa sih :c

  9. suzy ini gak mau ngaku lagi klo suka kibum…ahaahaa
    kyu kliatan gak peduli tpi knyataannya pasti nnti di jenguk deh. *sotak hohoho

  10. eonni mian mau bca S.I.L dr part 1-20 q gk akan komen ,kya.a tlat bgt klau di komen.
    q ska ff.a TOP bgt apalagi jln crita.a bagus pke bgt..part 24.a cpt d publis ya & jngn pshin kyuyeon.
    mian klo komen.a panjang bgt.
    FIGHTING
    oh ia nma fb eonni apa ?

  11. Yah suzy pergi gitu aja, belum juga ndenger kalimat kibum selanjutnya dan kenapa gak sadar sama perasaannya………….😀
    Mian baru sempet comment, biasanya baca offline😀

  12. Kyaaa suzy salah paham. Seandainya suzy denger sampe akhir ohh bahagia nya dia😀
    Kyu, masih belom sadar ihh. kasian jiyeon!
    Hae ama yoona gmna??

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s