Crazy Because of You [Chapter 4]

Tittle : Crazy Because of You Chapter 4
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance

Follow twitter aku yuu *gak maksa* : @julianingati23

Main Cast :
Min Sora | Lee Donghae

Dha’s Speech :
Maaf kalau ada typo. Mataku lagi siwer nih, makanya keder banget pas mau cek n ricek lagi FFnya. Jangan dibash ya, kalau ada kesalahan ketik tinggal bilang aja. It’s so simple. ^^

Happy Reading ^^

Crazy because of You By Dha Khanzaki 6

=====o0o======

Chapter 4
Escape from Lee Donghae

MENDENGAR Lee Donghae berulang tahun hari itu, Sora bergegas pergi ke toko kue. Ia hendak membeli kue ulang tahun untuknya. Begitu membeli kue dan keluar dari toko dengan perasaan senang sekaligus berdebar ia berniat menghubungi Donghae namun terhenti ketika ia sadar ini adalah saat yang tepat untuk memberi kejutan. Karena itu Sora memutuskan menelepon Kyuhyun dan menanyakan keberadaan Lee Donghae.

“Donghae? Setahuku teman-teman mengajaknya pergi ke night club malam ini, untuk merayakan ulang tahunnya.” Ujar Kyuhyun dari telepon. “Aku tidak ikut karena harus menjaga Ahyoon, Jeyoung sedang merawat Ayah yang kakinya terkilir saat bermain golf siang tadi.” tambahnya sebelum Sora dengan keingintahuannya yang polos bertanya.

“Oh begitu, terima kasih Sajangnim. Salam untuk istrimu tercinta.” Sora memasukkan ponselnya ke dalam tas tangannya lalu naik ke mobil menuju kelab malam yang biasa dikunjungi Donghae. Tempat itu merupakan spot terbaik untuk hang out para muda-mudi dari kasta elit sehingga tidak sulit bagi Sora menemukan lokasinya.

“Member card?”

“Apa?” Sora terbelalak kaget ketika ditanyai hal itu oleh dua penjaga tinggi kekar yang berdiri di depan pintu masuk. “Aku tidak punya.” Ia lupa jika masuk kemari membutuhkan kartu member. Tidak sembarang orang bisa berada di sini, tentu saja. Ia mulai panik ketika sadar kemungkinan ia tidak bisa masuk.

“Aku kemari untuk bertemu dengan Lee Donghae. Dia sudah masuk lebih dulu dan aku—“ Sora menunjuk-nunjuk ke dalam dengan kikuk.

Kedua penjaga itu berpandangan lalu menggeleng dengan dramatis. “Maaf Nona, kami tidak bisa membiarkan Anda masuk tanpa kartu member.” Ujar salah satu bodyguard berkepala botak.

Aku tahu! Sora ingin meneriakkan kata itu di depan wajahnya tetapi dia lebih memilih cara manis. “Bisakah kalian membuat pengecualian?” Sora mengedip-ngedipkan mata berharap cara itu bisa meluluhkan mereka. Namun melihat keduanya tidak bereaksi sama sekali dan secara kompak menggeleng, bahunya lemas. Bagaimana ini? Seharusnya ia pergi ke rumah Jeyoung lebih dulu dan meminjam kartu member milik suaminya sehingga ia tidak akan menemukan kesulitan seperti ini. Ah, sekarang sudah terlambat untuk pergi. Mungkin saat ia kembali nanti Lee Donghae sudah tidak ada di sini.

“Min Sora?”

Sora menoleh mendengar namanya di sebut. Napasnya langsung tercekat saat ia melihat Kim Soohyun berdiri di belakangnya dengan raut heran sekaligus tak percaya.

“Soohyun-ssi, apa yang kau lakukan di sini?” serunya tanpa sadar. Soohyun langsung tertawa dengan cara yang sopan melihat wajah histerisnya. Sadar telah mempermalukan diri sendiri, Sora segera mengumpat sambil menormalkan ekspresinya. Tadi ia terlihat seperti gadis kampung yang norak.

“Aku ingin bertemu rekan kerjaku di sini. Lalu apa yang dilakukan di sini?” pandangan Soohyun beralih dari wajah ke kotak kue yang dibawanya. Sora refleks mendekap kue itu berharap bisa menyembunyikannya dari Soohyun. Ia langsung gugup dipandangi oleh kedua mata Soohyun yang memancarkan kelembutan.

“Aku ingin bertemu dengan temanku. Dia, eh, berulang tahun hari ini dan aku ingin memberi kue ini untuknya.” Sora akhirnya menunjukkan kotak kue itu pada Soohyun. Pria itu tersenyum kembali.

“Aku tahu. Aku hanya penasaran mengapa kau diam di sini. Apa penjaga itu tidak mengijinkanmu masuk?”

“Oh itu,” Sora menoleh ke arah penjaga yang sedang memeriksa kartu member pasangan yang berniat masuk. Penjaga itu tersenyum pada kedua tamu itu lalu membiarkannya masuk. Apa yang harus ia katakan? Mengaku tidak bisa masuk karena tidak memiliki kartu member? Ia akan terlihat seperti penyusup yang mencoba masuk ke tempat yang salah. Sora mendesah berat dan ia merasa percuma saja berbohong. Meskipun malu, ia memandang Soohyun dengan wajah memelas.

“Penjaga itu menahanku di sini karena aku tidak memiliki kartu member.” Gumamnya dengan suara pelan.

“Benarkah?” Soohyun mengerjap. Sora tidak berani mengangkat wajahnya karena ia tidak ingin tahu ekspresi Soohyun. “Seharusnya kau bilang, kalau begitu masuk saja bersamaku. Ayo.”

“Eh, apa?” Sora terkejut ketika Soohyun merangkul tangannya seolah mereka sepasang kekasih lalu menariknya mendekati penjaga itu. Dengan luwes pria itu tersenyum pada penjaga menyebalkan itu sambil menyerahkan kartu bersemu emas padanya.

“Tuan Kim Soohyun, silakan masuk.” ucap penjaga itu ketika melihat nama yang terpahat dalam kartu itu.

Soohyun menerima kartu itu kembali lalu mengajak Sora masuk. Sora mencibir ketika penjaga itu tersenyum padanya. Berbeda sekali ketika ia sendiri tadi. Lupakan penjaga itu karena sekarang ia sudah berhasil melewati rintangan pertama dan sedang dalam perjalanan untuk menemui Lee Donghae. Ah, ia tidak sabar memberi pria itu kejutan. Bagaimana reaksi Donghae saat melihatnya di sini nanti?

“Siapa yang akan kau temui di sini?” tanya Soohyun. Sora sadar dari lamunannya lalu menjawab dengan tergesa-gesa.
“Teman.”
“Apa dia pria yang menjemputmu tempo hari? Lee Donghae?”

Sora mengejapkan mata karena Soohyun bisa menebaknya dengan tepat. “Ya, dia.” Ia mengakuinya dengan wajah malu-malu. “Dia tidak tahu aku akan kemari. Ini merupakan kejutan.”

“Beruntung sekali.” Soohyun memandangnya dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan namun berhasil membuat Sora semakin tersipu melihat senyumannya. Soohyun adalah pria yang baik dan sopan. Jika ia tidak sudah jatuh cinta pada Lee Donghae, mungkin ia sudah memilih Soohyun sebagai pria idamannya.

Sora dan Soohyun berpisah ketika Soohyun lebih dulu menemukan teman-temannya berkumpul di salah satu sofa set. “Jika kau perlu bantuan, aku ada di sana untuk membantumu.”

“Yah, jangan khawatirkan aku.” Sora membiarkan Soohyun pergi lebih dulu setelah itu mencari Lee Donghae. Tak disangka bagian dalam kelab malam itu lebih luas dari yang terlihat di luar. Musik lembut mengalun mengiringi langkahnya. Sora mengedarkan pandangannya ke sekiling. Orang-orang berkeliaran di sekitarnya, namun sosok Donghae tak tampak di mana pun. Ia berjalan masuk lebih dalam dan menemukan tempat yang menjadi pusat keramaian, yaitu lantai dansa. Belasan orang sedang menari diiringi musik yang menghentak-hentak.

“Mana Donghae? Apa sebaiknya aku menghubunginya dulu?” Sora bergumam dengan bingung. Ia merasa seperti orang aneh karena sejak masuk hingga berdiri di tempatnya sekarang beberapa pasang mata memandangnya heran. Ia berjalan lebih dekat hingga berdiri di tepi lantai dansa sambil menekan nomor ponsel Donghae. Ia hendak menekan tombol hijau ketika secara bersamaan kepalanya menengadah ke depan dan langsung disuguhkan pada pemandangan yang membuat jantungnya berhenti berdetak.

Detik pertama ia mengangkat kepala, ia menemukan Lee Donghae berada di sana, di lantai dansa. Namun Donghae tidak sendiri, pria itu sedang asyik berdansa ditemani seorang gadis cantik, berbaju seksi dan glamor. Sora tak pernah setercengang itu seumur hidupnya. Ia tidak akan terpukul seandainya Donghae tidak memeluk gadis itu dengan mesra, bahkan menciumnya.

Donghae selalu berkata tidak pernah merayu dan mencumbu gadis lain sesuka hatinya. Tetapi apa yang ia lihat saat ini? Kedua tangan Sora langsung terkulai di sisi tubuhnya. Ia mencengkeram ponsel dan kotak kue sebagai pegangan agar tubuhnya tidak terjerembab jatuh.

Sial, ternyata semua pria di dunia ini sama saja. Jeyoung benar, Lee Donghae adalah seorang pria brengsek. Lain di mulut lain di hati. Sora menyesal sudah menaruh kepercayaan yang besar padanya. Ketika Donghae akhirnya menyadari keberadaannya dan tercengang, Sora merasakan sakit yang menyengat di hatinya. Raut terkejut pria itu seperti racun yang merenggut napasnya, membuatnya mati.

Mereka saling berpandangan dan waktu terasa berhenti. Pria itu terkejut. Sora bisa menangkap berbagai emosi dalam sorot matanya meskipun mereka terpisa beberapa meter dan suasana ruangan remang-remang. Nah, alasan apa yang kau pakai saat kau sudah tertangkap basah seperti ini Tuan Lee?

Sora tak bisa bertahan lebih dari satu menit tanpa menangis tersedu-sedu. Tanpa sadar ia menjatuhkan kotak kue yang digenggamnya. Ia segera memutar tubuhnya lalu pergi dari ruangan itu.

“Sora, tunggu!!” Sora mendengar suara teriakan Donghae namun ia tidak peduli. Ia terus berlari keluar sambil menepis airmata yang bercucuran tanpa permisi.

Soohyun melihat Sora berlari keluar saat ia sedang berbincang dengan beberapa rekannya di susul oleh seorang pria yang ditemuinya tempo hari. Ia mencium sesuatu yang tidak beres. Penasaran, ia meminta izin pada rekan-rekannya untuk pergi keluar sebenar. Ia ingin tahu apa yang terjadi.

—o0o—

Donghae berlari mengejar Sora dengan perasaan panik yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Sora kabur segera setelah melihatnya berdansa dengan Saerin. Gadis itu pasti berpikir macam-macam. Apa yang sebenarnya terjadi sama sekali berbeda dengan apa yang dilihat Sora. Ia memeluk Saerin, ya, tetapi ia tidak mencoba merayu gadis itu. Ia tidak mencoba mengkhianati Sora.

“Sora!” Donghae meliat Sora berlari menuju mobilnya. Sekilas ia melihat jejak airmata di pipi putih gadis itu. Ia mempercepat langkahnya sebelum Sora masuk ke mobilnya dan pergi tanpa mendengar penjelasan apapun darinya. Tetapi terlambat, ketika Donghae hampir tiba di sampingnya Sora telah berada di balik kursi kemudi dan suara deru mesin mobil yang dinyalakan terdengar. Ia mulai panik. Ia mengerahkan seluruh tenaganya dan dalam satu langkah lebar ia berhasil tiba di samping mobil Sora.

“Sora, jangan pergi kemana-mana. Dengar penjelasanku dulu!” Dengan panik Donghae menggedor-gedor kaca mobil Sora saat mobil Sora melaju meninggalkan tempat parkir. Ia tak peduli jika orang lain melihatnya seperti orang gila karena berlari-lari mengejar mobil yang mulai berjalan sambil mengetuk kacanya dengan bertubi-tubi. Yang ia cemaskan hanya Sora dan kesalahpahaman yang terjadi hari ini.

Sora tidak menghiraukan suara teriakannya. Mobil yang dikemudikannya terus melaju meninggalkan Donghae yang mengejarnya dengan ekspresi gelisah.

“Sora!!” Donghae tak bosan-bosannya meneriakkan nama itu. Ketika ia akan mengejar mobil Sora yang mulai menyatu dengan mobil lain di jalan raya, suara klakson yang berbunyi nyaring mengagetkannya. Ia hampir saja tertabrak mobil lain yang keluar dari tempat parkir itu. “Sialan!” umpatnya. Ia berbalik kembali ke kelab malam untuk mengambil ponselnya yang tertinggal sekaligus berpamitan dengan teman-temannya. Ia sudah tidak mood lagi untuk melanjutkan pesta ulang tahunnya, apalagi berdansa dengan Saerin.

“Maaf tuan, kotak ini ditinggalkan wanita tadi..” seorang pelayan mencegat Donghae ketika ia melewati bar.
“Siapa?” Donghae mengerutkan kening, sedikit membentak. Pelayan itu menjelaskan dengan suara terbata-bata. Ia mengerjap begitu tahu kotak itu ditinggalkan Sora. Ia tidak melihat Sora membawanya kemari. Donghae memandang kotak itu dan langsung teringat pada Sora serta raut tercengangnya. Ia menerimanya dengan hati berdenyut sakit, terutama ketika mengintip isi kotak itu.

Kue ulang tahun bertuliskan ‘Happy Birthday Charming Boy Lee Donghae’.

Donghae melemaskan bahu. Sora tahu hari ulang tahunnya, karena itu ia datang kemari bermaksud memberikan kue ini untuknya dan ia telah mengacaukan hal itu. Ia tak pernah merasa semenyesal ini.

“Ada apa?” Kibum heran begitu Donghae tiba di hadapannya dalam keadaan murung. Donghae menarik napas berat lalu menghembuskannya. Ia meletakkan kotak yang dipegangnya di atas meja bar.

“Ini semua salahmu!”

Kibum terkejut menerima tatapan tajam Donghae begitupun Siwon dan Eunhyuk. Ketiga sahabatnya saling pandang. “Apa salahku?” Kibum bingung.

“Kenapa kau menyuruh Saerin berdansa denganku? Kenapa kau memanggilnya di saat aku tidak meminta apapun! Karena kau Sora..” Donghae mengepalkan tangannya lalu merampas gelas berisi tequilla yang digenggam Siwon, meneguknya sekaligus sampai habis. Siwon megap-megap melihatnya.

“Tadi Sora datang kemari?” Eunhyuk tak percaya. Donghae langsung menatapnya tajam seolah Eunhyuk adalah pelaku pembunuhan.

“Tentu saja! Kalian tidak melihatnya? Dia ada di sana ketika aku berdansa dengan Saerin! Aku bermaksud mendorong Saerin saat gadis itu melihatku. Wajahnya pucat pasi dan dia langsung pergi begitu aku memanggilnya. Ini semua salahmu Kibum, jika kau tidak menyuruhku menari dengan Saerin—“

“Tunggu dulu!” sela Kibum karena ia bosan dituding bersalah oleh Donghae. “Mana aku tahu kau sedang berhubungan dengan Sora. Kami semua di sini tahu kau bebas dan lajang.” Eunhyuk dan Siwon mengangguk untuk membenarkan kata-kata Kibum, “Karena itu aku meminta Saerin untuk menghiburmu. Lagipula jika kau memang menyukai gadis lain dan tidak ingin mengkhianatinya kau tinggal menolak Saerin. Kau tidak harus ikut bersamanya ke lantai dansa atau kau jelaskan pada kami bahwa kau menginginkan gadis lain, bukan Saerin.”

Donghae merenungkan kata-kata Kibum. Memang benar, ini semua terjadi bukan karena Kibum. Ia bisa saja menolak Saerin dan mengatakan bahwa ia tidak mau mengkhianati gadis yang dicintainya.

“Kau merenung sepanjang malam kawan, Kibum hanya bermaksud menghiburmu. Kami tidak tahu jika alasan kau merenung karena gadis bernama Sora itu.” Siwon menepuk pundaknya untuk menunjukkan rasa simpatinya. Donghae tidak tahu harus berkomentar apa lagi. Ia tidak menghubungi Sora selama berhari-hari, mungkin gadis itu sudah berpikir macam-macam tentangnya dan hari ini ia menyuguhkan pemandangan yang pasti membuat Sora membencinya.

Sial, kisah cintanya akan berakhir hari ini. “Ya Tuhan..” Donghae mengacak-acak rambutnya.

“Sebaiknya kau temui Sora malam ini juga dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sebelum semuanya terlambat.” Saran Kibum. Donghae mengangkat kepalanya dengan cepat lalu mengangguk.

“Kau benar. Kalau begitu aku pergi dulu.” Ia menarik kotak kue Sora lalu bergegas pergi. Teman-temannya melambaikan tangan.
“Good luck,” teriak mereka kompak.

Donghae berlari menuju mobilnya. Pikiran kacau membuatnya lupa dengan hal itu. Kibum benar, ia memang harus menemui Sora dan menjelaskan semuanya sebelum gadis itu terlanjur mengecapnya sebagai pria brengsek.

—o0o—

Sora menepikan mobilnya di sebuah taman yang tak pernah ia kunjungi sebelumnya. Ia bahkan tidak tahu ia berada di mana. Ia hanya ingin menjauh sejenak dari hiruk pikuk kota dan kekacauan yang sudah dibuat Lee Donghae terhadap hatinya. Ia keluar untuk menghirup udara segar, memandang kota dari ketinggian sambil bersandar pada mobil.

Cahaya lampu gedung dan rumah tidak membuatnya senang. Ia justru merasa sangat kesepian, sendiri dan merana. Tanpa dikomando airmatanya menggenang dan perlahan jatuh.

Lee Donghae si pria brengsek. Rupanya itu alasan mengapa pria itu tidak menghubunginya belakangan ini, karena dia sedang berkencan dengan gadis berbadan barbie itu? Seharusnya ia mengikuti saran Jeyoung sejak awal. Ia tidak harus mengharapkan Donghae. Pria itu adalah seorang petualang yang tidak akan diam pada satu wanita saja.

Lagipula apa alasan pria itu setia padanya? Hubungan mereka hanya sebagai teman dan Donghae memiliki banyak kelebihan yang membuatnya sangat berkuasa memilih wanita manapun yang ingin dikencaninya. Dia tampan, kaya, dan menyenangkan. Dia bisa memesona wanita hanya dengan tersenyum. Ironisnya, pada awalnya ia pun terpedaya oleh senyuman Donghae yang polos namun mematikan dan jatuh cinta seperti gadis bodoh yang lain.

“Donghae bodoh, lalu mengapa kau terus memperlakukanku seolah kau menyukaiku?” Sora terisak. Tangisannya sudah tidak tertolong lagi. Beruntung tidak ada seorang pun di sini yang melihatnya meratap dengan menyedihkan.

Selama ini ia sudah percaya dan yakin bahwa Donghae memang menaruh perasaan untuknya. Perlakuan pria itu membuatnya terpikat. Kebaikannya, rayuannya, dan selera humornya membuat Sora gembira. Donghae berkata akan setia terhadapnya dan ia percaya. Tetapi malam ini, pria itu berdansa—nyaris erotis—dengan gadis asing yang lebih baik dari dirinya. Donghae telah menemukan mangsa lain yang jauh lebih lezat. Mungkin itu alasan mengapa ia diabaikan. Seharusnya ia sadar sejak awal. Ketidakpedulian Donghae adalah kode bahwa pria itu tidak berminat terhadap dirinya lagi. Donghae pasti menyadari hal itu sejak kejadian di apartemennya hari itu. Sora memutuskan mereka hanya teman dan Donghae memilih untuk mundur.

Airmatanya sudah hampir mengering namun ia tetap tak bisa menghapus rasa sakit itu. Sebuah saputangan tiba-tiba terulur padanya, Sora mengerjapkan mata. Secepat kilat ia menoleh pada si pemilik tangan dan terkejut begitu sadar Soohyun yang menyodorkan saputangan itu untuknya.

“Soo, Soohyun-ssi,” Sora tergagap. Ia bertanya-tanya bagaimana mungkin Soohyun berada di sini dan menemukan dirinya dalam keadaan superkacau. Ia buru-buru menyeka airmatanya. Rasa malu tak bisa ia sembunyikan lagi begitu menyadari Soohyun menatapnya penuh arti.

“Menangis sendirian di tempat seperti ini bukanlah pilihan yang bijak, Sora-ssi. Meskipun harus diakui, ketika sedang sedih pergi ke tempat dimana tidak ada seorang pun yang melihatmu menangis adalah cara terbaik.”

Pipi Sora memerah, “Mengapa kau ada di sini?”

“Mengikutimu.”

“Apa?” Sora terperanjat mendengar kejujuran Soohyun, bibirnya bergetar. “Mengikutiku? Kenapa?”

“Aku melihatmu keluar dari kelab dalam keadaan kacau, karena itu aku mengikutimu karena sejujurnya, aku mengkhawatirkanmu.”

Sora langsung membungkam mulutnya. Mendengar Soohyun menyebut kata ‘kelab’ dan ‘kacau’, seketika ia teringat momen yang mengacaukan segalanya. Rasa sakit menjengit hatinya. Airmata yang sempat kering kembali mengalir tanpa aba-aba. Soohyun menatapnya iba.

“Maaf, aku memang pergi dalam keadaan kacau.” Sora terisak.

“Kejutanmu tidak berjalan lancar? Atau pria bernama Lee Donghae itu melakukan sesuatu yang menyinggungmu?”

Ya, dia memeluk gadis tercantik di sana dan menari bersamanya. Tetapi Sora tidak akan menjelaskannya secara detail, ia hanya bergumam tanda prasangka Soohyun benar. “Dia bersama gadis lain,” tambahnya. Pria itu langsung mendesis kesal.

“Dasar brengsek.”

Sora tercekat. Bahkan Soohyun pun menyebut Donghae seorang brengsek. Hal itu semakin menegaskan bahwa ia memang telah terbodohi selama ini. Donghae hanya bermain-main dengannya. Pria itu bisa mencium, memeluk, dan merayu gadis manapun yang dia kehendaki, mengapa ia begitu terlena dan bangga? Meskipun ia menganggap kedekatan mereka begitu istimewa dan ia yakin akan berakhir bahagia, bagi Donghae hal itu tidak berarti apapun.

Sambil terisak, Sora berkata. “Sekarang aku paham mengapa dia tidak kunjung mengatakan cinta padaku. Donghae memang tidak memiliki perasaan apapun terhadapku. Dia hanya menganggapku mainan yang menyenangkan, benda yang akan dicampakkan setelah dia bosan.”

Soohyun merasa hatinya sakit. Ia sedih sekali karena tidak dapat melakukan sesuatu yang bisa menghapus rasa sedih itu dalam diri Sora. Ia tidak suka jika ada seorang wanita yang teraniaya, apapun alasannya terutama jika itu adalah wanita yang berarti baginya. Tentu saja Sora berarti baginya. Meskipun mereka baru saja bertemu, ia tahu Sora gadis yang berbeda.

“Aku tidak bisa mencegahmu untuk menangis. Seorang wanita terkadang membutuhkan hal itu untuk meluapkan emosinya,” bisik Soohyun. Ia menghadapkan Sora ke arahnya, lalu menghapus airmata di pipinya dengan saputangan. “Tetapi jika kau membutuhkan bantuanku untuk menghapus airmatamu, aku bersedia melakukannya. Jika kau ingin menangis, aku bisa meminjamkan bahuku padamu.”

Sora terdiam karena kelembutan kata-kata Soohyun dan kebaikannya. Mengapa yang menolongnya di saat seperti ini adalah dirimu? Batin Sora sedih.

“Kau terlalu banyak bersedih untuk pria itu. Kau tidak harus menggantungkan harapan pada pria sepertinya, pria yang mengabaikanmu di saat kau sudah mencurahkan seluruh perhatianmu untuknya. Kau sangat berharga, Sora. Kau harus percaya bahwa masih banyak pria di luar sana yang akan memperlakukanmu lebih terhormat dibandingkan yang dilakukan pria itu.”

Kata-kata Soohyun mirip sekali dengan yang pernah Jeyoung ucapkan. Sora mulai berpikir bahwa ia sudah terlalu mengharapkan Donghae selama ini. Sudah saatnya ia melupakan pria itu.

Ya, walaupun sulit, ia akan belajar melakukannya.

Sora menghapus sisa airmatanya dan secepat mungkin memulihkan diri dengan tersenyum. “Kau benar.”

Soohyun ikut tersenyum. “Nah, kalau begitu sebaiknya kau pulang. Malam sudah terlalu larut. Angin malam ini sangat kencang. Kau bisa masuk angin dengan baju yang kau pakai.”

Sora tertawa. Hari ini ia memakai blus tipis dan rok lipit sederhana. Mereka berpamitan. Ia mengucapkan terima kasih sekali lagi sebelum mereka pergi dengan mobil masing-masing. Selama perjalanan Sora merasa bimbang. Ia tidak bisa kembali ke apartemennya karena ia takut Donghae akan ada di sana. Ia belum siap menghadapi pria itu dan mendengar omong kosongnya. Akhirnya ia memutar mobilnya dan mencari tempat lain untuk menghabiskan sisa malamnya.

—o0o—

“Min Sora, buka pintunya kumohon!!” untuk ke sekian kalinya Donghae mengetuk pintu apartemen Min Sora dan untuk ke sekian kalinya juga Sora tidak menjawab. Sepertinya memang tidak ada siapapun di dalam sana karena Donghae tidak mendengar suara apa-apa. Ketika ia akan mengetuk pintu kembali, pintu apartemen di seberang Sora dibuka.

“Sora belum kembali. Jika dia sudah kembali aku akan mendengar suaranya. Dia belum pulang sejak pagi.” Jelas seorang ibu-ibu berusia empat puluh tahunan sambil menggendong seorang bayi. Raut wajahnya tampak kesal. Donghae buru-buru meminta maaf karena sepertinya ketukan pintunya tadi sudah mengganggu ketenangan penghuni lain. Ia lekas kembali ke sisi mobilnya sambil merenung.

Sora belum kembali ke apartemennya. Lalu ke mana gadis itu? Donghae kebingungan. Ke mana lagi ia harus mencari? Ia sudah menghubungi Kyuhyun dan bertanya apakah Sora berkunjung ke rumahnya dan dia berkata tidak. Kyuhyun tidak berbohong karena pria itu terdengar heran dan bertanya kenapa ia mencari Sora.

Donghae khawatir, ia sangat mencemaskan keadaan Sora. Setelah pukulan keras yang ia berikan di kelab malam tadi, ia yakin Sora akan menangis mengingat karakter gadis itu. Tetapi mengapa Sora tidak kembali ke apartemennya? Kemana sebenarnya gadis itu pergi? Ia sudah berkali-kali, bahkan berpuluh-puluh kali meneleponnya namun tidak berhasil menghubungi ponselnya.

Sora, kau di mana? Donghae duduk di balik kemudi dengan kondisi pikiran dan hati bimbang. Ia ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya karena ia tidak rela jika Sora membencinya. Ia tidak mau kehilangan gadis itu.

Dalam keheningan malam Donghae melirik kembali kue yang dibawa Sora dan tak sempat diserahkan olehnya. Kue ulang tahun untuknya. Ia memotong kue itu dengan pisau lipat yang ia simpan di dalam laci mobil lalu memakannya. Kue itu manis dan lezat, namun rasa itu tak membuat Donghae bahagia, ia justru tercekat. Seharusnya hari ini berakhir seperti rasa kue ini, tetapi ia sudah mengacaukannya.

Siapa yang menyangka Sora akan datang dan melihatnya menari dengan Saerin? Siapa yang menyangka Kibum akan menawarinya menari dengan Saerin dan ia tidak menolak sama sekali?

“Sial!” Donghae mengerang sambil meninju kemudi. Demi Tuhan, ia akan menghentikan tariannya karena ia memikirkan Sora sepanjang malam ketika gadis itu memergokinya. Ia tidak menyukai gadis lain selain Sora. Betapa bodohnya ia malam ini karena mau berdansa dengan gadis lain. Ketika Sora berlari pergi, dunianya seperti runtuh. Wajah pucatnya bagaikan air es yang membekukan dirinya. Ia begitu takut akan kehilangan gadis itu. Seperti yang ia rasakan saat ini.

Mungkin ini adalah penyesalan terbesar setelah penyesalan yang pernah ia lakukan dahulu.

—o0o—

Ketika keesokan harinya Donghae tak kunjung melihat Sora kembali, ia mulai panik. Semalaman ia menunggu di depan apartemen Sora berharap gadis itu muncul. Tetapi sampai matahari terbit Sora tidak kunjung menampakkan diri. Ia memutuskan kembali ke apartemennya sebentar untuk berganti baju setelah itu mencari Sora di tempat kerjanya.

“Sora?” Kyuhyun terkejut. Ia baru saja tiba di ruangannya saat Donghae masuk dan menanyakan gadis itu dengan raut khawatir.

“Ya, aku ingin sekali bicara dengannya. Bisakah kau memanggilnya kemari?” Donghae memohon. Kyuhyun yang tak tega langsung menolongnya. Selagi Kyuhyun menelepon ke bagian tempat Sora bekerja Donghae menantikannya dengan tidak sabar.

“Apa?” Kyuhyun tampak kaget. Donghae melompat dari kursinya. Ia segera menginterogasi Kyuhyun begitu pria itu selesai dengan pembicaraannya.

“Bagaimana?”

Kyuhyun mendesah berat, “Sayangnya Sora baru saja mengambil cuti tahunannya. Dia tidak akan masuk sampai satu minggu ke depan.”

“Apa kau bilang?” Donghae berseru. Ia langsung mengerang karena kali ini pun gagal mengemui Sora.

“Memang apa yang terjadi? Kalian bertengkar?” Kyuhyun heran. Donghae tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dia begitu panik dan bingung mendengar Sora mengajukan cuti.

Donghae menggeleng pasrah, “Aku melakukan kesalahan.”

“Kesalahan?”

Donghae menceritakan apa yang terjadi semalam. Kyuhyun mendengarkannya dengan seksama. Setelah selesai bekerja Kyuhyun hanya menghela napas. “Pantas saja Sora mengambil cutinya.” Gumamnya. “Dia adalah pegawai paling berdedikasi, dia lebih menyukai bekerja di kantor daripada diam di apartemennya. Dia ingin menghindarimu.”

“Aku sedang berusaha memperbaiki keadaan dan dia tidak memberiku kesempatan.”

“Wanita butuh waktu sendirian untuk menjernihkan pikirannya,” ujar Kyuhyun, “Kau memberikannya kejutan yang terlalu besar. Kejadian malam ini jelas salahmu dan sekarang kau harus belajar menerima konsekuensinya.”

Donghae menatapnya tak suka namun Kyuhyun melanjutkan dengan tenang, “Kau memberinya harapan selama ini. Kau memperlakukan Sora terlalu baik sehingga dia berpikir kau menyukainya—tunggu, jangan menyela—“ Kyuhyun mengangkat tangan saat Donghae sepertinya ingin mengatakan sesuatu, “Kau berkata bahwa kau hanya melakukan hal-hal romantis itu pada Sora tetapi apa yang dilihatnya malam ini, kau berpelukan dengan wanita lain. Itu merupakan pukulan berat, bung. Selama ini kau tidak pernah mengatakan kau menyukainya, tetapi kau selalu ingin Sora memahami tindakanmu dan sekarang di saat dia melihatmu bermesraan dengan wanita lain, aku yakin dia akan berpikir selama ini kau hanya mempermainkannya.”

Bulu kuduk Donghae meremang dan ia terkejut dengan kata-kata Kyuhyun. Sora pasti sangat membencinya. Sora pasti mengira ia hanya bermain-main dengannya. Tidak tidak tidak. Ia tidak pernah bermain-main. Perasaannya sangat mendalam untuk gadis itu.

“Tidak, itu tidak benar. Aku sangat mencintai Sora.” Bantah Donghae tegas sekaligus ketakutan. Akhirnya ia bisa mengatakannya juga.

“Kalau begitu katakanlah padanya.”

“Bagaimana? Bagaimana aku bisa mengatakannya jika dia menghindariku?”

“Selalu ada cara.” Terang Kyuhyun tenang, “Tetapi untuk saat ini, lebih baik kau biarkan Sora sendirian. Jika kau mendesaknya di saat pikirannya sedang tidak rasional, dia akan semakin menjauhimu.”

—o0o—

Setelah merenung selama semalaman sekaligus bersembunyi dari Lee Donghae di sauna, Sora tak merasa lebih baik. Akhirnya ia memutuskan mengambil cuti untuk menenangkan dirinya. Ia yakin Donghae akan mencarinya ke kantor. Tidak, ia masih belum siap menghadapi pria itu apalagi mendengar penjelasannya. Ia takut akan terpedaya. Ia takut akan terjebak dan jatuh ke lubang yang sama.

Kembali sakit, kembali terluka. Ia tidak mau.

Kembali ke rumah siang harinya, Sora bersyukur tidak menemukan Donghae di sekitar apartemennya. Mungkin pria itu memang tidak mencarinya. Memikirkan hal itu ia jadi kesal sendiri.

Ponsel sengaja ia matikan. Ia tidak ingin mendapatkan gangguan apapun. Hingga malam hari ia terus meringkuk di tempat tidurnya. Ia tidak ingat makan ataupun minum, ia tak berselera. Seluruh hasratnya telah memudar setiap kali mengingat kejadian malam itu.

Sesuatu seperti mengetuk kaca jendela kamarnya. Sora tersentak bangun. Ia menoleh ke arah kaca jendelanya dengan was-was. Apa itu pencuri? Tapi tidak mungkin mengingat letak apartemennya yang berada di lantai 2. Lagipula jendela itu tidak memiliki beranda. Bagaimana bisa ada seseorang yang mengetuknya. Ia terperanjat ketika ketukan yang kedua terdengar. Setelah beberapa saat ia sadar itu bukanlah sebuah ketukan, tetapi suara seseorang yang melempar kerikil ke jendelanya. Sora mendekat untuk melihat siapa pelakunya meskipun ia sudah bisa menebaknya. Ia menyibakkan sedikit gordennya lalu mengintip ke bawah.

“Min Sora, keluar dan bicaralah denganku!”

Tepat seperti dugaannya, di bawah sana berdiri Lee Donghae. Pria itu dengan keras kepala mencoba menemuinya. Ia bersyukur karena lampu kamar ia matikan sehingga Donghae tidak akan melihat keberadaannya. Ia cukup mengabaikannya dan pria itu akan berpikir ia tidak berada di apartemen.

“Kumohon Sora, aku ingin menjelaskan segalanya padamu!” pria itu masih berteriak. Sora mendengus kesal. Menjelaskan apa? Silakan berteriak sampai pita suaramu putus Tuan Lee karena aku tidak akan menghiraukanmu. Ia kembali ke tempat tidurnya. Donghae boleh saja bersikukuh diam di sana, memaksanya untuk memunculkan diri tetapi ia tidak akan goyah. Ia tidak akan menemui Donghae setidaknya sampai hatinya tenang.

Sora memutuskan untuk tidur. Ia membiarkan Donghae berteriak di luar sana. Tetapi ketika mendengar suara gemuruh guntur lalu hujan mulai mengguyur, ia mulai khawatir. Perlahan-lahan ia kembali ke tepi jendela untuk mengintip apakah Donghae masih berada di sana. Hatinya mencelos ketika menyadari Donghae tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya berdiri. Pria itu membiarkan dirinya basah kuyup tersiram hujan. Pandangannya tak pernah lepas ke arah jendela kamarnya.

“Kau bisa menunggu di dalam mobil, Tuan Lee bodoh!” Sora menggerutu dengan suara pelan. Ruat wajah memelas Donghae membuat hatinya sedikit luluh. Donghae bersikeras ingin bertemu dengannya. Kesungguhan pria itu membuat Sora merasa bersalah. Jika dia begitu gigih, mungkin memang ada kesalahpahaman yang harus diluruskan.

Apa yang kau pikirkan Sora! Secepat kilat Sora menampar pipinya. Sedetik yang lalu ia hampir saja luluh. Mungkin ini memang siasat Donghae untuk merayunya. Dengan marah ia kembali ke temapat tidur. Kali ini ia akan mengabaikan Donghae. Terserah pria itu akan sakit atau apapun, ia tidak peduli.

Tetapi malam itu, Sora tidak bisa tertidur dan ia terjaga hingga fajar menyingsing di ufuk timur.

—o0o—

Donghae sedih. Sora tidak kunjung menampakkan diri meskipun ia sudah berdiri di bawah hujan sampai hujan berhenti dan bajunya berangsur kering. Apartemennya gelap gulita. Mungkin Sora memang belum kembali ke sana.

Apa kesalahanku sebesar itu sampai kau tidak mau menemuiku? Ia merenung sambil kembali ke mobilnya. Matahari mulai terbit dan ia merasakan badannya menggigil. Ia harus kembali ke apartemennya untuk beristirahat. Sudah dua hari ini ia tidak tidur dan makan dengan nyaman. Tidak, kembali ke rumah pun ia tidak akan bisa tidur. Pikirannya masih tertuju pada Sora dan ketika ia mendapat panggilan dari kantor, ia memutuskan untuk bekerja.

“Tuan, sebaiknya Anda beristirahat saja. Anda terlihat kurang sehat.” Salah satu asistennya berkata ketika ia bersamanya melakukan kunjungan ke salah satu hotel yang dikelola keluarganya. Seharian ini Donghae memang merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Ia merasa tak menapak ketika berjalan. Badannya pun terasa panas. Mungkin ini dampak hujan semalam. Ia lupa mandi dengan air hangat saat kembali ke apartemennya untuk berganti baju.

“Kau benar. Bisakah kau meminta manager menyiapkan kamar untukku?”

“Baik.”

Lima belas menit kemudian Donghae sudah berbaring di ranjang di salah satu kamar hotel. Ia sudah meminum obat dan sedang beristirahat. Sisa pekerjaan ia serahkan pada asistennya. Sekarang, sendirian di sana pikirannya kembali pada Min Sora. Ia penasaran di mana gadis itu dan apa yang sedang dilakukannya. Apa dia sedang bimbang, menangis, atau berpura-pura tidak terjadi apapun?

“Sora,” Donghae bergumam. Sosoknya tak pernah hilang sejak pertama kali mereka bertemu di hari pernikahan Kyuhyun. Ia langsung terpikat pada gadis itu, terutama ketika dia tertawa di hadapannya untuk pertama kali. Donghae tidak pernah merasakan ini pada gadis manapun.

Kecuali..

Ya, Donghae pernah merasakan perasaan yang sama. Rasa takut kehilangan yang begitu besar terhadap gadis itu. Gadis masa lalunya. Pelaku yang telah mencuri hatinya dan membuatnya tidak bisa berkata cinta lagi.

Sebelum kini Min Sora menampal potongan kosong di hatinya dengan cinta yang baru, cinta yang berbeda dengan yang dirasakannya dahulu.

Gadis itu sudah tidak ada lagi dalam hidupnya. Gadis itu tidak akan pernah menjadi miliknya. Donghae bersyukur karena Tuhan telah memisahkannya dengan gadis itu.

Suara bel pintu membuyarkan Donghae dari lamunannya. Ia menoleh ke arah pintu sambil mengumpat. Siapa yang lancang mengganggunya tanpa pemberitahuan? Ia lekas memakai jasnya kembali, merapikan penampilannya lalu menuju pintu dengan langkah terseok. Ketika pintu dibuka, Donghae mengerjapkan mata melihat sosok kakaknya berdiri di sana.

Nuna?” tanyanya kaget. Narin tersenyum padanya sambil menggandeng anak kecil berusia 4 tahun. Itu adalah Minwoo, keponakan laki-laki Donghae.

Narin mengerutkan kening melihat penampilannya, “Aku di telepon oleh asistenmu. Dia bilang kau sakit dan sedang beristirahat di sini. Mengapa kau tidak bilang, hah? Bagaimana jika ibu tahu kau sakit dan tidak ada seorang pun yang merawatmu? Dia akan marah dan merasa sangat tersinggung.” Cerocosnya panjang lebar.

Donghae memutar bola mata dengan malas, “Aku hanya demam.”

“Aku tidak peduli, sekarang kau ikut pulang denganku. Ibu akan merawatmu di rumah.”

“Tidak perlu. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Sebaiknya kau pergi sekarang.”

“Kau ini sangat keras kepala!”

Sebelum Donghae menutup pintu, Narin menariknya pergi. Sebenarnya ia ingin memberontak, tetapi menyadari ia tidak memiliki tenaga, ia pasrah diseret olehnya. Ia hanya harus menyiapkan diri karena setibanya di rumah, ia pasti mendapat omelan lain dari ibunya.

—o0o—

“Sebenarnya apa yang membuatmu sakit? Kau bukan tipikal anak yang mudah jatuh sakit.”

Donghae ingin mengeluh ketika ibunya meletakkan handuk yang telah direndam air dingin di dahinya, bahkan menyuruhnya mengemut termometer. Ia bukan anak berusia sepuluh tahun. Tetapi melihat ibunya benar-benar khawatir, ia menahan keluhan itu. Kakaknya mengawasi dari ambang pintu sambil menggendong Minwoo.

“Aku hanya terkena hujan.”

“Mustahil,” ibunya menatapnya tajam. Lalu menggeleng setelah mengecek suhu tubuhnya yang ditunjukan oleh termometer. Donghae mengerang lalu akhirnya berkata sejujur-jujurnya. Ia tahu tak bisa menipu ibunya.

“Baiklah, aku memang sengaja membuat diriku tersiram air hujan selama berjam-jam.”

“Kenapa?” Narin terkejut.

“Karena seorang gadis!”

“Gadis?” ibu dan kakaknya menganga kaget. Wajah ibunya langsung berseri-seri. “Benarkah?” sudah jelas ini merupakan kabar gembira.

“Ya, kalian puas mendengarnya? Anakmu ini jatuh sakit karena sedang berusaha meluluhkan hati seorang gadis dan—“ Donghae membuang napas. Sorot matanya meredup, “Aku gagal melakukannya.”

~~~TBC~~~

367 thoughts on “Crazy Because of You [Chapter 4]

  1. Ih kepala donghae pengen di getok deh! -_- nde, benar kata kibum, kenapa juga donghae tidak menolak tawaran darinya -_- #kibum/?😦 tiba2 baper. Aigoo, kesalahan donghae kali ini sungguh terlalu.. Wajahku ikut berseri-seri dibagian eommanya donghae hahaa

  2. Yaampun hae kebanyakan ngegombal sih jadi dianggapnya ga serius yang sabar yaaaa seorang donghae pasti bisa meluluhkan hati sora semangattt wkwk

  3. Ping-balik: REKOMENDASI FANFICTION | evilkyu0203

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s