School in Love [Chapter 20]

Tittle : School in Love Chapter 20
Author : DHA KHANZAKI a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Family, Friendship

Follow Twitter author yuu : @julianingati23

Main Cast :
Bae Suzy | Park Jiyeon | Im Yoona
Cho Kyuhyun | Kim Kibum | Lee Donghae

Support Cast :
Kim Taeyeon | Choi Siwon

Dha’s Speech :
Cerita ini masih panjang. Buat yang tidak suka cerita, cast, maupun pairingnya jangan ngerusuh ya, cukup tekan tombol back atau menjadi silent reader. Aku berterima kasih bila teman-teman menyempatkan diri membaca bahkan meninggalkan jejak untuk part ini ^^ dan aku sangat berterima kasih bagi yang memfavoritkan FF ini bahkan menyukai pairingnya. Love u all ^^

Happy Reading

School in Love by Dha Khanzaki 2

=====o0o=====

CHAPTER 20
Taeyeon’s Secret

“JANGAN diam saja, katakan sesuatu Bae Suzy.” Untuk pertama kalinya Kibum merasa putus asa berhadapan dengan seorang gadis. Sebelumnya ia tidak pernah kesulitan jika ingin mengatakan perasaan bahkan bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan dengan segera. Tetapi bersama Bae Suzy, segalanya berubah menjadi perkara yang teramat sulit.
Suzy masih belum membuka mulutnya. Tak hanya terkejut, tetapi ia juga kebingungan. Apa yang harus ia katakan? Sejujurnya ia tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan terhadap pria ini sehingga ia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Kibum.

Apa hatinya memang hanya ia tujukan untuk Lee Donghae?

Mulutnya bisa saja segera berkata ‘ya’. Tetapi entah mengapa ia ragu. Sesuatu yang salah sedang terjadi. Ia kesulitan memutuskan jawaban apa yang harus ia berikan atas pertanyaan Kibum.
“Aku,” Suzy tergagap. Melihatnya mulai berekasi sorot mata Kibum dipenuhi oleh pengharapan. Suzy tidak tega melihatnya. Ia takut akan memberikan jawaban yang membuatnya kecewa.

Semuanya terinterupsi oleh suara klakson yang sangat nyaring. Terkejut, keduanya menoleh ke arah sisi jalan tepat ketika sebuah mobil Audy Coupes berhenti di sisi trotoar tempat mereka berada. Kibum langsung mengumpat sementara Suzy tidak mengenali mobil ini karena itu ia yakin bukan kakaknya yang datang untuk menjemputnya. Kaca gelap mobil bergerak turun dan tampaklah sosok cantik duduk di balik kemudi.

“Yuhu, honey..” wanita di dalam mobil melambai dengan penuh semangat.

“Oh, no. That’s mom!.” Kibum mengerang. Bagaimana ia bisa protes di saat ibunya sendiri yang mengganggu momen pentingnya. Suzy langsung mengerjap karena ia menyadari sosok itu adalah Kim Taehee. Wanita itu tersenyum senang ketika menatapnya.
“Hai, bukankah kau Bae Suzy? Kibum’s jewel?” serunya.

Jewel? Suzy menaikkan alis bingung mendengar perumpamaan itu. Kibum langsung panik karena ibunya mengatakan sesuatu yang tidak boleh dikatakan. “Aaa—apa yang Eomma lakukan di sini?” tanyanya seraya mendekat ke sisi mobil. Sengaja dilakukan untuk menghalangi pandangan ibunya dari Suzy.
“Tentu saja menjemputmu, chagiya. Ayo pulang. Kita harus bersiap untuk merayakan kepulangan Ayahmu.” Ibunya mengendikan kepala menyuruh Kibum masuk. Kibum tersadar, benar juga, bukankah hari ini Ayahnya kembali setelah bertugas selama beberapa tahun di luar negeri? Ayah Kibum, Kim Wonho adalah seorang diplomat yang bertugas di kedutaan besar Korea Selatan untuk Swedia.
“Eum..” Kibum menoleh ke arah Suzy yang menatapnya dengan ekspresi penasaran. Ia belum bisa meninggalkan Suzy. Urusan mereka belum selesai di sini.
“Ah, Eomma tahu kau keberatan.” Kim Taehee dengan cepat menyimpulkan situasi. Keraguan Kibum tergambar jelas dalam ekspresinya. “Tentu saja kau boleh mengajak kekasihmu bergabung.”

“Kekasih?” Suzy memekik mendengar hal itu. Kibum segera berdiri di samping Suzy untuk mencegah gadis itu berkoar-koar sesuatu tentang ucapan ngawur ibunya.
“Ibuku mengundangmu berkunjung ke rumah. Kuharap kau bersedia ikut.”
“Apa?” Suzy kelimpungan menghadapi topik pembicaraan yang melompat-lompat seperti ini. Sedetik yang lalu Kibum membuatnya penasaran, lalu terkejut dan sekarang, dia hampir saja membuatnya tersedak karena mengajak berkunjung ke rumahnya. “Aku tidak bisa.”
Raut wajah Kibum meredup, “Kenapa?”

Kenapa? Suzy sendiri merasa bingung mengapa ia menolak.

“Ayolah sayang. Aku memaksa,” seru Kim Taehee.
See, ibuku memaksa.” Tambah Kibum membuat Suzy merasa sedikit terjepit. Ia memandang Kim Taehee sekali lagi dengan ragu. Wanita itu terlihat mengharapkan persetujuannya. Tidak enak hati, Suzy pun memutuskan untuk menerimanya.
“Baiklah.” Putusnya sambil mendesah.
Yes!” Kibum mengepalkan tangannya dengan gembira. Ia segera membuka pintu belakang mobil untuk Suzy lalu menyusul masuk dan duduk di sampingnya. Kim Taehee yang duduk di depan tersenyum senang melihat kedua anak itu duduk berdampingan.
“Jika duduk bersama seperti itu kalian terlihat serasi.” Ucapnya santai.

Suzy ingin sekali membantahnya namun kalimat itu tertahan di ujung lidah. Jika ia menyanggah akan terkesan tidak sopan. Ibu Kibum itu memperlakukannya sangat baik, bagaimana bisa ia mengacaukan suasana hatinya. Ia menunduk sejenak dengan wajah merona lalu melempar pandangannya ke luar jendela. Kibum tersenyum penuh arti. Momen tadi memang kacau, namun ia bersyukur karena Suzy tidak sempat mengatakan jawaban atas pertanyaannya. Ia yakin jika mendengar jawaban Suzy, ia akan patah hati.

Dan Kibum tidak ingin patah hati.

Biarlah seperti ini untuk sementara. Ia masih memiliki kesempatan untuk mengubah perasaan Suzy terhadapnya. Ia lalu menoleh ke depan di saat ia merasa mobil tiba-tiba saja bergerak lambat.
“Ada apa?” tanyanya pada ibunya yang tengah menepikan mobil.
“Menunggu kakakmu. Hanya sebentar.”

Kibum baru sadar mereka berada di depan kantor tempat Taeyeon bekerja ketika ia menoleh ke luar jendela. Ia menghela napas berat lalu menyandarkan punggungnya.
“Taeyeon Eonni bekerja di sini? Sebagai apa?” Suzy ikut melongok ke luar jendela ke arah sebuah gedung berdiri tinggi menjulang di depannya.
“Seingatku sekarang dia seorang Kepala Bagian.” Kibum menjawab dengan nada dingin.
“Kenapa?” Suzy bisa melihat jelas perubahan mood Kibum. Pria di sampingnya itu tampak risau dan gelisah. Kibum menoleh padanya sekilas lalu memalingkan wajahnya kembali. Hal itu mengejutkan Suzy.
“Tidak ada,” sahut pria itu pelan. Barulah Suzy teringat bahwa Kibum dan kakaknya memiliki hubungan yang kurang harmonis. Kibum pernah bilang bahwa kakaknya tidak menyukainya. Bagaimana bisa? Mengapa seorang kakak bisa membenci adiknya sendiri?

Suzy ingin bertanya bertepatan dengan munculnya Taeyeon. Terpaksa ia menelan kembali kata-katanya. Gadis itu membuka pintu mobil di samping ibunya lalu masuk tanpa menyadari penghuni lain yang duduk di kursi belakang.
“Sore, Eomma.” Taeyeon mencium pipi ibunya. Wajahnya begitu bersinar oleh senyum gembira.
“Bagaimana harimu, hmm?”
“Baik, Choi sunbae berkata aku—“ kata-kata Taeyeon terhenti ketika ia menyadari ada orang lain duduk di kursi belakang. Senyumnya langsung lenyap begitu melihat adiknya duduk di sana bersama dengan seorang gadis yang memakai seragam sekolah yang sama dengan Kibum.

“Kau,” ucapnya.

“Hai, Nuna,” sapa Kibum acuh tak acuh. Suzy menyadari atmosfir di antara mereka mendadak berubah menjadi lebih berat dan mencekam. Ia buru-buru menundukkan kepala saat Taeyeon memandangnya.
“Apa kabar, aku Bae Suzy.”
“Hai, senang bertemu denganmu.” Taeyeon tersenyum padanya. Suzy terkejut melihat senyuman itu. Ia menoleh pada Kibum yang mengerucutkan bibir sebal. Pantas saja Kibum sesebal ini, ternyata Taeyeon memang memperlakukan adiknya sangat berbeda dengan perlakuannya terhadap orang lian. Ini sangat aneh.
Eomma mengundang Suzy untuk berkunjung ke rumah.” Ucap ibunya memecah suasana hening yang menyesakkan. Suzy lega karena suasana tidak lagi tegang.

—o0o—

Selama perjalanan hanya diselingi oleh obrolan-obrolan ringan dan selama itu pula Taeyeon tidak menoleh ke belakang untuk memandang Kibum. Ia sangat penasaran mengapa Taeyeon melakukan itu.

Tak lama kemudian mobil menepi di depan sebuah rumah mewah bergaya modern. Ini rumah yang indah dan nyaman dan Suzy mendadak merasa bingung harus melakukan apa. Ia menunggu sampai salah satu dari anggota keluarga Kim yang mengajaknya masuk.
“Apa yang kau lakukan di sana? Ayo masuk.” Kibum menariknya masuk. Ia diajak berkeliling di rumah yang ternyata lebih luas dari yang terlihat di luar. Ia takjub ketika masuk ke ruang kerja ibu Kibum. Di sana banyak sekali baju baik yang telah selesai, masih dalam pengerjaan ataupun baru setengah jadi dan semuanya tampak menakjubkan.
“Jadi di sini tempat pakaian-pakaian indah itu dibuat..” lirih Suzy kagum.
“Ya, aku tidak terlalu suka terlalu banyak campur tangan saat membuat baju-baju itu. Aku merasa lebih puas saat berhasil menyelesaikannya sendiri.”

Suzy menoleh ke arah Kim Taehee yang memasuki ruangan itu lalu dengan senang hati memperlihatkan padanya beberapa sketsa yang direncanakan akan diluncurkan musim berikutnya.

“Sungguh indah!” Suzy mendesah karena terpesona meskipun baju-baju itu baru berupa sketsa. Ia memperhatikan setiap detail desain itu dengan penuh semangat sampai tidak menyadari Kim Taehee yang menatapnya penuh arti. Ketika ia mengangkat kepala, barulah ia menyadari hal itu.

“Maaf,” Suzy menyesal sudah menunjukkan sikap yang memalukan. Seharusnya ia tidak bersikap senorak yang dilakukannya tadi.
“Tidak apa-apa nak, lihat saja sepuasmu.” Ujar Kim Taehee senang, “Hanya saja ada satu hal yang sangat ingin kusampaikan padamu.”
Suzy terkejut, “Apakah itu?” ia penasaran.
Raut wajah Kim Taehee yang berubah menjadi lebih serius membuat Suzy was-was, “Apa kau berniat menjadi seorang model?”

Suzy terkesiap mendengarnya. Menjadi model?

“Ketika di fashion show kemarin, aku sangat terpesona dengan caramu berjalan di atas panggung. Elegan, luwes, sekaligus menarik. Kau memiliki karakteristik wajah dan bahasa tubuh yang disukai kamera.”

Bagaimana pun kalimat itu membuat Suzy tersipu, “Aku yakin itu karena baju yang kupakai sangat indah.”
“Tidak, kau berbeda sayang. Benar bukan Kibum?” Kim Taehee menoleh pada putranya yang sejak tadi berdiri di dekat jendela tanpa mengatakan apapun. Kibum mengangguk.
“Ya. Aku sudah pernah mengatakan padanya tetapi dia tidak percaya.”

Itu benar, Kibum memang pernah memberitahunya bahwa ia sangat fotogenik di depan kamera, namun dulu ia menganggap hal itu sangat konyol. Namun ketika ia mendengar seorang professional seperti Kim Taehee mengatakannya secara langsung, pikirannya berubah. Benarkah ia pantas menjadi seorang model?

Melihat Suzy diam dan bimbang, Kim Taehee berkata, “Aku tidak memaksamu, sayang. Tetapi jika kau ternyata tertarik dengan dunia modeling, kau tinggal hubungi aku. Mengerti.”
Suzy mengangguk dalam keadaan serbategang. Ini adalah kali pertama seseorang menawarinya menjadi seorang model. Ia tidak pernah merasa sangat cantik sehingga harapan ditawari seperti itu tidak pernah ada.

“Oh sudah saatnya menyiapkan makan malam. Anggap saja rumah sendiri.” Kim Taehee bangkit. Suzy ikut bangkit.
“Jika boleh, aku ingin membantu.” Ucapnya asal. Pikiran dari mana itu? Di rumah saja ia tidak pernah membantu ibunya memasak.
“Tidak perlu sayang, kau adalah tamu. Duduk manis di sini saja bersama Kibum.” Cegah Kim Taehee lalu pergi.
“Tapi..”
“Tunggu saja di sini. Tidak akan ada yang mengusirmu meskipun kau tidak melakukan apa-apa.” Kibum mengedipkan mata lalu ikut pergi.
“Kau akan kemana?” cegahnya panik melihat Kibum sepertinya akan meninggalkannya sendiri di rumah ini.
“Ada yang harus kupersiapkan. Lakukan apa saja yang membuatmu nyaman selama menunggu.”

Suzy mendengus karena pada akhirnya ia tetap ditinggalkan seorang diri. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, merasa bingung dan sangat asing sendiri. Bingung harus melakukan apa, ia memutuskan untuk pergi dari ruangan itu dan melihat-lihat. Ia berniat mencari dapur untuk membantu ibu Kibum menyiapkan makan malam namun di tengah perjalanan ia justru berhenti di sebuah perpustakaan dengan rak buku memenuhi setiap dindingnya. Ia mengerjapkan mata. Ia yakin ini adalah ‘ruang bermain’ Kim Kibum.

Dari banyaknya buku ia memperkirakan jumlahnya lebih dari lima ratus. Tak heran jika Kibum sejenius itu. Lihat saja buku yang dibacanya. Ia menarik salah satu buku dari rak dekat dengan meja dan baru menyadari bahwa itu bukan buku melainkan album foto. Berbagai macam foto pemandangan, dokumentasi acara fashion show hingga pemotretan baju dengan model-model cantik tercetak di antara lembaran album itu. Ini bukanlah foto asal jepret, Suzy tahu itu. Ini adalah hasil tangan seorang fotografer jenius karena hasilnya begitu memukau dan luar biasa. Ia bertanya-tanya apakah foto-foto ini adalah hasil jepretan Kim Kibum.

Setelah puas melihat-lihat foto, ia tertarik dengan meja di sudut ruangan dengan buku dan kertas berserakan di atasnya.

“Lucunya,” ia tersenyum melihat salah satu figura di atas meja itu yang berisikan foto Kibum ketika masih kanak-kanak. Kibum dalam foto itu tersenyum lebar. Begitu polos dan ceria. Ketika perhatiannya ia alihkan pada kertas-kertas yang berserakan, kedua matanya melebar. Di antara lembaran kertas itu terdapat foto-foto dirinya ketika memperagakan rancangan Kim Taehee di fashion show tempo hari. Suzy terperangah memandangi potret dirinya sendiri.

Tidak hanya satu atau dua lembar foto, tetapi lebih dari sepuluh lembar. Dirinya tampak berkilau dalam foto itu. Bagaimana pun, ia tampak menakjubkan. Ia tidak ingat pernah mengeluarkan ekspresi seperti yang tercetak di foto ketika fashion show kemarin dan yang paling mengherankan adalah, ia tidak tahu Kibum mengambil gambarnya sampai sebanyak ini.

“Bagus bukan?” seseorang berkata di belakang Suzy. Kaget, ia segera membalikkan badan dan bermaksud meminta maaf karena telah lancang melihat-lihat tanpa izin. Taeyeon yang tersenyum ramah membuat Suzy lupa dengan kata-katanya sendiri.
“Aku tidak bermaksud lancang,” lirih Suzy menyesal.
“Kau tahu, aku sering melihat Kibum memandangi fotomi sambil melamun atau ketika dia sedang uring-uringan. Sepertinya, kau semacam obat penenang untuk Kibum.” Taeyeon tak menghiraukan raut terkejut Suzy lalu mengambil salah satu foto dan memandanginya. Yang diambil Taeyeon bukanlah fotonya, tetapi foto Kibum yang tengah membaca buku.

Suzy mengerjap karena Taeyeon memandangi foto itu begitu dalam, seperti ada suatu kenangan yang tersangkut dalam foto itu namun terlalu sakit untuk diungkapkan. Ada apa ini? Hati Suzy bergetar melihatnya. Ia mulai merasa terusik, penasaran, sekaligus heran. Sikap Taeyeon pada Kibum seperti seorang yang tengah menghadapi musuh terbesarnya. Lalu apa arti ekspresi Taeyeon saat ini? Tanpa sadar ia membuka mulutnya.
“Bolehkah aku bertanya?”

Taeyeon terperanjat, lalu menoleh. “Silakan.” Ia buru-buru meletakkan foto itu kembali ke atas meja lalu memasang raut normal.
“Apa kakak menyayangi Kibum?”
Keterkejutan berkelebat dengan jelas dalam ekspresi Taeyeon. Gadis itu tersentak untuk sesaat lalu buru-buru menampilkan senyum palsu. “Mengapa kau bertanya seperti itu?”

Dia mengelak. Batin Suzy. Penolakan Taeyeon semakin menguatkan kecurigaannya. “Bukan bermaksud mencampuri, tetapi kulihat perlakuanmu pada Kibum tidak seperti seorang kakak pada umumnya.”

Suzy menyadari orang asing sepertinya tidak berhak bertanya hal yang sangat pribadi seperti itu, tetapi ia tidak bisa menahan diri. Ia penasaran dengan perlakuan ganjil Taeyeon terhadap Kibum, adiknya sendiri. Ia ingin mengetahui pembelaan apa yang akan Taeyeon keluarkan untuk membantah, atau mungkin gadis di depannya akan mengejutkannya dengan membuat sebuah pengakuan?

Taeyeon mengamatinya dengan sorot mata yang sulit ditebak. Setelah cukup lama termangu dalam kabut keheningan yang membingungkan Suzy, gadis itu menghembuskan napas berat lalu mengejutkan Suzy dengan menampilkan raut wajah terluka.
“Mungkin kau akan mengerti karena kita sama-sama perempuan.” Taeyeon menarik napas panjang, tenggorokannya terasa sakit. Ini adalah kenyataan pahit yang tidak pernah ia bagikan dengan orang lain. “Aku menyayangi Kibum, bagaimana pun dia adalah adikku.”
Suzy tidak mengerti, “Lalu mengapa sikapmu berbeda di depannya dia adalah adik kandung–”
“Kibum adalah adik tiriku.” Sela Taeyeon santai tanpa menyadari bahwa gadis yang berdiri di depannya itu terkejut luar biasa.
“Jadi, Kibum.. Kim Taehee-ssi..” Suzy gemetar menebak-nebak kemungkinan itu. Jadi Kibum adalah anak tiri Kim Taehee?
Taeyeon lekas menggeleng. “Tidak bukan seperti itu, justru sepertinya aku anak tiri di rumah ini. Saat aku berusia sebelas tahun, ibuku meninggal dan ayah menikah kembali dengan Eomma yang telah menjadi janda dengan satu anak. Saat itu aku senang sekali memiliki keluarga baru dan aku pun tidak pernah keberatan memiliki adik selucu dia..” Taeyeon melirik foto Kibum ketika masih kecil.

Suzy masih belum memahami inti cerita Taeyeon sehingga ia diam dan gadis itu melanjutkan ceritanya. “Lalu setahun kemudian aku pindah, tinggal bersama nenekku di Jepang. Di sana aku menyelesaikan SMP dan masuk SMA. Saat itu, aku bertemu dengan seorang pria dan jatuh cinta padanya. Dia pria paling baik yang pernah kukenal. Kami mulai menjalin hubungan. Tetapi, takdir adalah sesuatu yang mengejutkan.” Suara Taeyeon gemetar dan matanya berkaca-kaca. Suzy termangu, entah mengapa ia bisa merasakan sakit yang Taeyeon alami.

“Beberapa minggu setelah kami resmi berhubungan, dia tewas dalam kecelakaan bus. Aku menangis selama berhari-hari karena kenangannya terlalu sulit untuk dilupakan. Aku pun memutuskan kembali ke Korea saat aku masuk kuliah beberapa tahun yang lalu. Hampir tujuh tahun aku meninggalkan Eomma dan Kibum. Dia sudah tumbuh dewasa saat aku kembali.”
Eonni, tidak perlu dilanjutkan.” Suzy memberinya tissue karena airmata Taeyeon mulai membanjir. Ia tidak tega. Seharusnya ia tidak ikut campur tentang ini. Jika ia bisa menahan diri, mungkin ia tidak akan membuka luka lama yang sudah Taeyeon coba hilangkan selama ini. “Maafkan aku.” Suzy sangat menyesal.

Taeyeon menggeleng sambil menyeka airmatanya. “Aku harus mengatakan ini. Tidak mungkin aku menyimpan luka ini selamanya, sendirian.” Setelah tenang, ia pun melanjutkan. “Aku kembali untuk menenangkan hidupku yang berantakan karena kepergiannya namun aku terkejut saat melihat Kibum. Wajahnya mengingatkanku pada kekasihku yang telah tewas.”

Benarkah? Jadi itu alasan mengapa Taeyeon selalu menunjukkan raut penuh luka setiap kali berpandangan dengan Kibum, karena Kibum mengingatkannya pada kekasihnya yang telah tiada? Suzy tercengang.

“Mereka begitu mirip dan detik pertama aku menyadarinya, aku langsung teringat bahwa pria yang kucintai telah tiada. Setiap kali Kibum berdiri di depanku, hatiku kembali terluka. Aku tidak bisa memandangnya tanpa rasa sakit. Karena itu aku mulai memperlakukannya dengan tidak adil. Aku berharap dia membenciku dan tidak muncul di hadapanku..” Taeyeon menangis sambil menutup mukanya dengan kedua tangan. “Oh, aku adalah manusia tercela. Kibum tidak bersalah. Aku merasa sangat menyesal karena memperlakukannya begitu buruk. Dia adalah adikku, adik yang kusayangi.”

Eonni,” Suzy menyadari dirinya ikut terisak mendengar cerita Taeyeon. Ia meminta Taeyeon berhenti bercerita karena sekarang ia memahami mengapa Taeyeon seperti itu. Jika ia dalam posisi Taeyeon, mungkin ia akan melakukan hal yang sama. Tetapi bukan berarti apa yang Taeyeon lakukan terhadap Kibum bisa dibenarkan. Kibum tidak tahu apapun tentang ini, pria itu bisa berpikir macam-macam dan malah mungkin hatinya telah terluka karena mengira Taeyeon tidak menginginkan kehadirannya. “Mungkin sebaiknya Kibum tahu hal ini. Da berhak tahu mengapa Eonni memperlakukannya seperti itu. Aku yakin dengan begitu Kibum tidak akan membencimu dan kau tidak akan merasa bersalah.”

Taeyeon memandang Suzy, tangisannya sedikit mereda berkat ucapannya. “Sudah saatnya Eonni keluar dari bayang-bayang itu. Kibum bukan kekasihmu, dia adalah adikmu. Keberadaannya tidak menyakitimu.”

Keheningan melanda suasana di antara mereka karena kediaman Taeyeon. Gadis itu merenungkan kata-kata Suzy. “Mungkin kau benar.” putusnya dengan suara berat.

Mereka berdua tidak menyadari sama sekali bahwa sebenarnya sejak tadi Kibum berdiri di balik dinding dekat pintu, mendengarkan seluruh pembicaraan mereka. Wajahnya tanpa ekspresi. Kibum merenungkan segala yang ia dengar dari Taeyeon, kisah yang disembunyikan kakaknya itu dan alasan mengapa Taeyeon berlaku seolah dirinya penjahat. Setelah mengetahui semuanya ia tidak bisa salah paham lagi terhadap Taeyeon. Kakaknya itu tidak membencinya, sebaliknya Taeyeon menyayanginya.
Kibum menarik napas dalam-dalam. Setelah menenangkan diri, ia memutuskan masuk dengan memasang ekspresi senormal mungkin seolah ia tidak mendengar dan mengetahui apapun.

“Suzy-ah, aku mencarimu kemana-mana, kupikir kau sudah pulang.” Seru Kibum lega. Suzy dan Taeyeon tampak terkejut. Taeyeon buru-buru menyeka airmatanya lalu menegakkan tubuhnya. Ia pun menunjukkan ekspresi bahwa tidak ada yang terjadi. Ia bertanya-tanya apakah Kibum mendengar apa yang dikatakannya tadi. Tetapi melihat ekspresi Kibum, ia menyimpulkan tidak.

“Aku, aku baru saja akan mencarimu.” Sahut Suzy gugup. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Taeyeon sudah bersikap seperti semula sehingga ia pun memutuskan untuk bertingkah biasa saja.
“Aku harus membantu Eomma.” Taeyeon menyelinap keluar dan membiarkan Suzy dan Kibum beruda saja di ruangan itu. Suzy mendadak gugup karena Kibum terdiam saat Taeyeon melewatinya. Ia bertanya-tanya apakah Kibum mendengar apa yang mereka bicarakan tadi. Ia tersentak ketika Kibum memandangnya secara tiba-tiba. Apakah pria ini akan menginterogasinya?
“Apa?!” seru Suzy ketus.
“Mengapa kau memegang fotoku?” Kibum menunjuk tangan Suzy yang entah sejak kapan sedang memegang figura berisi foto Kibum. Terkesiap, Suzy buru-buru meletakkan foto itu ke tempatnya semula. Tadi karena panik ia asal mengambil apapun yang ada di meja.
“Hanya melihat-lihat.” Suzy gugup sekali, “Sebenarnya aku ingin mencarimu untuk pamit. Aku harus pulang, ibuku menelepon memintaku pulang.” Ucapnya asal. Ibunya tidak menelepon, ponselnya bahkan ia matikan sejak pulang sekolah.

“Kenapa pulang? Kau harus ikut makan malam bersama kami.” Kibum kaget sekali mendengarnya.
“Aku tidak ingin mengganggu, itu acara keluargamu.” Suzy menggigit bibirnya gugup. Ia benar-benar ingin pergi dari tempat ini. Setelah mendengar seluruh cerita Taeyeon, ia merasa canggung berhadapan dengan Kibum. Ia siap membela diri terhadap apapun yang akan Kibum katakan karena ia yakin Kibum akan mencegah kepergiannya sekuat tenaga, namun tidak disangka pria itu membiarkannya pergi.
“Baiklah, aku paham.” Kibum memaksakan seulas senyum yang bukan ciri khasnya sama sekali. Suzy sedih melihat senyum itu. Ia yakin Kibum mendengar cerita Taeyeon tadi namun sungkan untuk mengatakannya. “Aku akan mengantarmu pulang.”
“Oh, terima kasih.” Ia menatap Kibum prihatin ketika pria itu mengajaknya pergi menemui ibunya untuk berpamitan. Dalam senyumnya, sikap sok tenangnya, Suzy bisa melihat luka. Ia yakin Kibum memang menguping pembicaraannya dengan Taeyeon tadi.

“Eh, pulang?” Kim Taehee terkejut bukan main. “Kau harus ikut makan malam di sini, sayang. Sebentar lagi akan siap.”
Suzy merasa tidak enak membuat wanita baik itu sedih. Dirinya kini berada di ruang makan berpamitan pada ibu Kibum yang sedang sibuk menyiapkan makan malam, “Maafkan aku, tetapi ibu menyuruhku pulang.” Ia melirik Taeyeon yang sedang memasak sup. Gadis itu sudah terlihat ceria kembali.
“Sayang sekali.” Kim Taehee bergumam sedih. “Kau bisa pulang diantar Taeyeon.”
“Tidak,” potong Kibum, “Aku yang akan mengantarkannya.”
“Apa? Tapi kau belum memiliki SIM!” pekik Suzy dan Kim Taehee bersamaan. Kibum tertawa geli melihat kekompakan mereka.
“Ya, tapi polisi tidak akan tahu. Ayo.” Dengan santai Kibum menarik Suzy pergi. Kim Taehee hanya menggeleng lalu mengikuti putranya keluar.

Suzy berdiri bingung di depan rumah sementara Kibum mengeluarkan mobil dari garasi. Kim Taehee menemaninya di sana.
“Aku harap kau bisa menjaga Kibum.”
Terkejut, Suzy menoleh. Ia mengerjap karena Ibu Kibum itu sedang memandangnya dengan sorot mata hangat, “Dia bisa berubah menjadi pria ceroboh jika pikirannya terganggu dan kulihat akhir-akhir ini, dia sering melamun. Sepertinya dia selalu memikirkanmu.”

Deg.

Suzy merasa jantungnya jatuh dari tempatnya. Ia bingung berkata apa untuk membalasnya. “Ya, aku akan mencoba menjaganya.”
“Sejujurnya aku sangat senang karena Kibum bersama gadis sepertimu. Kibum memang tidak pernah bilang, tetapi sebagai ibu aku merasa Kibum menyembunyikan kesedihan yang besar di hatinya.”
“Apa itu karena perlakuan Taeyeon Eonni yang berbeda?” Suzy tanpa sengaja mengatakannya. Kim Taehee terlihat kaget, namun buru-buru menormalkan ekspresinya.
“Bukan, untuk yang itu aku tahu tetapi sepertinya bukan. Itu sesuatu tentang kenangannya, sesuatu yang membuatnya panik ketika melihat seorang gadis menangis di hadapannya.”

Bagaimana aku menanggapi hal ini? Suzy diam. Ia pun merasakan demikian. Kibum pasti pernah mengalami suatu trauma yang membuatnya merasa takut saat melihat perempuan menangis. Ia penasaran kenangan buruk seperti apa yang dialami Kibum.

Bunyi klakson menyadarkan Suzy dari lamunannya. Ia mengerjap menyadari Kibum sudah siap dengan mobilnya yang diparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Ayo putri, masuk kereta kencana dan aku sebagai saismu akan mengantarmu pulang.” Kibum mengedipkan mata dari balik kursinya. Entah kenapa Suzy langsung merona malu.
“Dasar.” Cibir ibunya sambil tertawa, “Nah, putri, sekarang sana masuk..”
Suzy pamit pada Kim Taehee lalu masuk ke dalam mobil. Ia duduk di kursi di samping Kibum. “Kau yakin tidak masalah mengemudikan mobil tanpa SIM?” tanyanya begitu menjatuhkan diri di kursi.
“Tidak apa-apa, selama polisi tidak tahu. Lagipula aku sudah mengganti bajuku.”
Suzy mengerucutkan bibir karena merasa tidak percaya dengan kata-kata Kibum, “Jika kau sampai menabrak sesuatu, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi!” ancamnya.
“Siap,” Kibum mengacungkan jempol lalu mulai menstarter mobil. Ia melambaikan tangan sejenak pada ibunya yang berdiri di depan rumah.
“Take care!” teriak Kim Taehee dan mobilpun bergerak meninggalkan rumah.

—o0o—

Selama perjalanan itu Suzy merasa harap-harap cemas. Berkali-kali ia melihat ke luar jendela untuk memastikan tidak ada polisi yang menyadari pengemudi mobil adalah remaja berusia 17 tahun.

“Aku senang kau akrab dengan kakakku.” Ucapan Kibum membuat Suzy menoleh ke arahnya. Ia terkejut dengan topik yang dipilih Kibum. “Tadi kulihat kalian berbincang-bincang.”
“Oh ya, kurasa sangat menyenangkan memiliki seorang kakak perempuan. Kakakku seorang laki-laki dan tidak bisa kuajak berbagi sama sekali. Kami memiliki ketertarikan dan minat yang berbeda namun, Seungjo Oppa tetap kakak yang sangat melindungi dan menyayangi adik-adiknya.”
“Wow, kau sangat beruntung.”
Suzy memandangnya, “Taeyeon Eonni juga seorang kakak yang…baik.”
“Tergantung bagaimana caranya memperlakukanmu.” Kibum mengendikkan bahu tak peduli. Melihat ekspresinya, sikap tidak pedulinya, Suzy menyimpulkan bahwa kemungkinan Kibum memang tidak mendengarkan cerita Taeyeon. Pria ini tidak tahu alasan mengapa Taeyeon memperlakukannya berbeda.
“Sebenarnya,” Suzy ingin sekali Kibum tahu agar tidak ada kesalahpahaman lagi. Ia berniat menceritakan tentang kebenarannya.
“Tidak Suzy, please. Aku tidak ingin membahasnya.” Kibum menyela, ekspresi riang yang semula diperlihatkannya meredup. Suzy langsung membungkam mulutnya. “Topik pembicaraan kakakku sudah out of date.
“Tapi Taeyeon Eonni.”
“Suzy!” Kibum tanpa sengaja membentak, “Kau tidak selalu harus mengungkapkan apapun yang menurutmu orang lain harus mendengarnya. Tidak semua orang ingin tahu. Bagaimana pun kakakku memperlakukanku aku tidak peduli. Karena itu bisakah kau diam saja?”

Suzy benar-benar diam. Pertama karena terkejut dan yang kedua karena ia tidak percaya Kibum akan semarah ini. Ia tidak pernah melihat Kibum meledak, kesal karena sesuatu. Suara tingginya seperti petir yang menghancurkan hati. Suzy ingin sekali menangis. Ia hanya ingin membantu, tetapi Kibum tidak harus membentaknya bukan?

“Hentikan mobilnya!”
“Apa?” Kibum mengerjap kaget. Melihat Suzy begitu murka ia baru tersadar ucapannya barusan telah menyinggung gadis itu. “Suzy, aku..”
“Aku bilang hentikan mobilnya! Aku tidak ingin bersama pria yang tak bisa berpikir jernih!” Suzy membelalakkan mata.
“Tapi—“
“Hentikan atau aku akan melompat!” Suzy mengancam. Ia tidak sekedar menggertak, ia serius akan membuka pintu mobil itu jika Kibum tidak juga menghentikan mobil.

Kibum tak memiliki pilihan lain. Ia sungguh menyesal. Ia benar-benar tidak bermaksud menyinggung Suzy. Dengan sangat menyesal ia menepikan mobil. Tanpa berkata apa-apa Suzy segera membuka pintu, keluar lalu menutupnya dengan kencang.
“Suzy, kumohon jangan marah..” Kibum berusaha meminta maaf. Tetapi Suzy tidak mendengarnya. Ia ingin mengejarnya, tetapi ia tidak berada di area bebas parkir. Gadis itu berjalan menjauh dari mobil dan menghilang setelah berbelok di tikungan di ujung jalan. Kibum mengutuk dirinya sendiri.
“Sial! Kau seharusnya mengendalikan diri!!!!” jika ia bisa tenang, Suzy tidak akan marah.

—o0o—

“Dasar pria brengsek, aku hanya ingin membantunya!” Suzy menggerutu. Ia terus berjalan sepanjang trotoar tanpa arah yang jelas. Sebenarnya ia mencari halte bus terdekat. Salah sendiri mengapa meminta diturunkan di area yang jauh dengan halte bus. Ia ingin naik taksi, tetapi ia tidak membawa uang banyak. Ketika menelepon ke rumah untuk meminta jemputan, ia baru tersadar ibu dan adiknya pergi ke acara reunian teman kuliah ibunya dan akan pulang besok sementara kakaknya akan menginap di kampus karena ada tugas penting yang harus diselesaikan. Hari ini ia sedang sial.

Saat sedang bosan-bosannya menunggu, tanpa diduga ia melihat Jiyeon. Gadis baru saja keluar dari sebuah restoran di seberang jalan. Jiyeon sepertinya tidak melihat keberadaan Suzy yang heboh melambai-lambaikan tangan. Jiyeon jelas sedang menunggu seseorang karena ia tidak langsung pulang, malah berdiri di depan pintu dan benar saja, beberapa detik kemudian menyusul keluar dari balik pintu seorang pria yang tak dikenal Suzy. Pria itu jelas bukan kakak Jiyeon. Dari penampilannya Suzy menebak pria itu sebaya dengannya.

“Siapa dia?” Suzy bergumam penasaran. Pria itu berbincang-bincang dan Jiyeon tampak gembira. Tak bisa berdiam diri saja, Suzy memutuskan untuk menghampiri sahabatnya itu. Ia menyebrangi jalan agak terburu-buru begitu lalu lintas sepi.
“Jiyeon-ah!!” panggilnya panik karena Jiyeon dan pria tak dikenal itu beranjak pergi.
Jiyeon yang mendengar suara teriakannya berhenti lalu menoleh. Gadis itu tersenyum riang melihat Suzy berlari tergopoh-gopoh menghampirinya.
“Suzy-ah.” Seru Jiyeon. “Aku tidak melihatmu saat pulang sekolah. Tak kusangka kita akan bertemu di sini. Apa yang kau lakukan? Mengapa kau berlari?”
Suzy masih sibuk menormalkan pernapasannya. Ia berbicara dengan napas terengah-engah, “Ceritanya panjang. Ketika sedang menunggu bis, aku melihatmu keluar dari restoran itu bersama pria ini, karena itu aku mengejarmu.” Ia lalu menegakkan tubuhnya. “Siapa pria ini—omo..” Suzy baru menyadari pria yang bersama Jiyeon adalah seorang pria tampan. Ia langsung menarik Jiyeon ke sampingnya.
“Jiyeon, jangan katakan dia adalah incaran barumu.” Suzy berbisik dengan hati-hati sambil sesekali melirik pria itu. Jiyeon langsung tertawa.
“Tidak mungkin. Aku masih menyukai Kyuhyun. Aku akan mengenalkanmu padanya, jika kau tertarik.”
“Bukan itu maksudku—“
“Perkenalkan,” sela Jiyeon seraya menoleh, “Dia adalah Choi Siwon dan Siwon, dia ini adalah Bae Suzy, sahabatku.”

Pria bernama Siwon itu tersenyum lalu mengulurkan tangan. “Choi Siwon.”
“Suzy.” Suzy menjabat tangannya dengan canggung.
“Kami adalah teman latihan judo.” Tambah Jiyeon. “Dia seniorku di sana tapi sebenarnya kami sebaya.”
“Kau latihan judo?” Suzy benar-benar terkejut. Ia bertanya dengan kedua mata melebar. Jiyeon dan Siwon tertawa.
“Kau juga bisa belajar.” Ujar Siwon.
“Tunggu, itu artinya hanya aku yang tidak bisa beladiri? Yoona saja sabuk hitam aikido!” Suzy histeris. Yoona sudah bercerita tentang kemampuan rahasianya itu ketika di rumah sakit dan sekarang ia mendengar Jiyeon belajar judo. Apa ia harus belajar beladiri juga agar tidak menjadi yang terlemah di antara mereka bertiga?
“Kau pergi ke mana saat istirahat? Aku dan Yoona mencari-carimu.” Jiyeon merengut.

Tiba-tiba saja Suzy teringat dengan apa yang membuatnya tidak bisa bersama teman-temannya. Ia menangis di atap di temani Kibum karena ia melihat Yoona dan Donghae bersama. “Oh maaf, aku bersama Kibum pulang sekolah tadi. Dia–” ia tidak melanjutkan karena jantungnya langsung berdebar kencang. Bergema dengan kencang kata-kata Kibum yang diucapkan dengan suara lirih.

“Tidakkah kau hanya memberiku kesempatan tanpa bertanya kenapa aku ingin membuatmu terkesan?”
“Kesempatan apa?”
“Membuka hatimu untukku. Apa hatimu hanya kau tujukan untuk Lee Donghae?”

Sejujurnya ia tidak tahu apa kata hatinya mengenai hal itu. Ia bisa saja berkata jujur tentang perasaan sukanya terhadap Donghae. Tetapi jika hal itu ditujukan untuk Kibum, hatinya menunjukkan reaksi yang berbeda dan ia tidak mengerti perasaan apa itu. Jantungnya seperti berhenti bekerja untuk alasan yang tidak jelas. Suzy merenung. Apa mungkin selama ini ia salah menafsirkan seperti apa itu perasaan suka?

“Suzy,” Jiyeon menepuk pundaknya. Suzy yang tak sadar sejak kapan ia melamun terperanjat kaget.
“Ya, ada apa?”
“Ponselmu berbunyi.” Jiyeon dengan polos menunjuk ponselnya yang ia simpan di saku jas seragam sekolahnya. Ponselnya sudah ia nyalakan ketika akan menghubungi kakaknya. Sekarang benda itu berbunyi nyaring. Ia mengerjap lalu lekas mengangkatnya karena nomor yang masuk adalah nomor Yoona.
“Hallo, ada apa Yoon?”
“Suzy-ah, Kibum kecelakaan.” Ucap Yoona dengan suara cemas. Suzy terkejut bukan main mendengar hal itu. Untuk sesaat ia pikir telinganya salah dengar. “Apa katamu?” tanyanya panik. “Bagaimana bisa? Beberapa waktu yang lalu aku bersamanya.”
Jiyeon mendekat melihat Suzy panik. Siwon hanya mengerutkan kening karena tidak mengerti.
“Mobil yang dikemudikannya ditabrak truk dari belakang karena Kibum tidak konsentrasi saat menyetir—“
“Sekarang dia ada di mana?” potong Suzy. Sekarang bukan saatnya mendengar penjelasan tentang kronologi kecelakaan. Ia hanya ingin tahu apakah Kibum baik-baik saja atau tidak. Mereka berpisah dalam keadaan bertengkar. Ia takut kecelakaan Kibum disebabkan olehnya. Bagaimana jika ternyata Kibum mengalami luka parah akibat ulahnya?
“Dia ada di Seoul General Hospital.”
“Baik, aku akan ke sana.” Suzy lekas mengakhiri pembicaraan lalu menoleh pada Jiyeon yang menatapnya dengan raut bertanya-tanya. “Kibum kecelakaan. Sekarang dia berada di Rumah Sakit Umum Seoul.”
“Apa?!” Jiyeon terkesiap. Ia lalu berlari mengikuti Suzy menuju halte bus yang akan mengantarkan mereka ke rumah sakit namun ia berhenti sejenak lalu menoleh pada Siwon. “Maaf, aku harus pergi!” ia berkata sambil berteriak.
“Tidak apa-apa. Pergilah dan terima kasih sudah makan bersamaku!!” sahut Siwon sambil melambaikan tangan. Jiyeon mengangguk lalu menyusul Suzy.

—o0o—

Suzy terus berharap bahwa Kibum baik-baik saja. Kecelakaan yang menimpanya tidak mengakibatkan hal yang fatal. Sepanjang perjalanan ia tidak tenang. Ia ingat kata-kata Ibu Kibum bahwa pria itu bisa sangat ceroboh jika sesuatu mengganggu pikirannya. Ini sudah jelas karena kesalahannya. Ia yang meminta diturunkan di tengah jalan pasti membuat Kibum merasa bersalah.

“Suzy, Kibum pasti baik-baik saja.” Jiyeon memegang tangannya. Suzy mengerjap lalu menoleh. Pegangan tangan Jiyeon sedikit membuatnya lega.
“Terima kasih.” Suzy kembali tenggelam dalam renungan. Jiyeon menatapnya prihatin.
“Kau mengkhawatirkannya? Ini benar-benar sesuatu yang baru. Kupikir kau lebih memedulikan Lee Donghae.”
“Apa?” Suzy terperanjat mendengar hal itu. Jantungnya berhenti berdetak. “Jiyeon, Kibum adalah temanku. Bukanlah sesuatu yang aneh jika aku mencemaskannya.”
“Tapi tetap saja.” Jiyeon memandang Suzy lekat-lekat. Jika dipikir-pikir sudah beberapa hari ini ia tidak pernah mendengar Suzy membicarakan tentang Donghae. Meskipun membicarakan Donghae, tetapi ada yang berbeda dengan sorot matanya. Jiyeon tahu perbedaannya dengan jelas. Suzy menjadi lebih beremosi saat berhadapan dengan Kibum, begitu pun tadi begitu Suzy mendengar Kibum mengalami kecelakaan dan saat ini.

Mungkin sebenarnya Suzy memiliki perasaan terhadap Kibum hanya saja dia tidak mau mengakuinya. Jiyeon tidak ingin membahas hal ini dahulu. Biarlah Suzy yang menyadari perasaannya sendiri.

Tak lama mereka tiba di rumah sakit. Suzy berlari langsung ke arah kamar tempat Kibum di rawat setelah diberitahu Yoona. Jiyeon kewalahan mengikuti Suzy berlari. Ia tak habis pikir, bagaimana Suzy bisa berlari secepat itu dan mengapa ia tidak bisa menyusulnya? Apa karena Suzy adalah anggota tim basket putri?

Beberapa menit kemudian mereka tiba di depan kamar Kibum yang terbuka dan Suzy segera meringsek masuk.
“Kim Ki—“ Ia hampir berteriak memanggil saat menyadari kamar itu dipenuhi oleh orang-orang yang datang melihat. Semua orang menoleh. Suzy langsung mematung di tempatnya dengan posisi serbasalah. Kim Taehee dan Taeyeon ada di sana bersama dengan Yoona, Donghae, dan Kyuhyun. Dua orang petugas polisi yang sempat menoleh ke arahnya kembali menanyai Kim Taehee. Donghae, Yoona dan Kyuhyun menunjukkan reaksi yang berbeda ketika melihat kedatangannya.
“Oh, kau sudah datang.” ujar Yoona. Suzy melangkah masuk sambil mengusap tengkuknya. Jiyeon menyusul di belakangnya.
“Bagaimana keadaan Kibum”
“Aku baik-baik saja!”

Suzy menoleh ke arah sosok yang sedang duduk di atas ranjang pemeriksaan, sebelah tangannya sedang dibebat oleh seorang suster sementara dokter sedang memeriksa kondisinya. Ya Tuhan, dia baik-baik saja. Seluruh tubuhnya masih utuh selain pelipisnya yang terluka ringan dan sebelah tangannya yang sedang diperban, sepertinya terkilir atau semacamnya. Suzy langsung menghembuskan napas lega.
“Kau mengkhawatirkanku, honey? Tenang saja, tidak ada luka yang serius.” ucapnya usil disertai seringaian. Suzy langsung mencibir. Inilah Kim Kibum si perayu menyebalkan yang dikenalnya. Melihatnya sudah berani bergurau lagi itu artinya luka yang dialami Kibum tidaklah parah.
“Sungguh? Aku melihat kepala dan tanganmu di perban.” Cibir Suzy.
“Ini hanya luka ringan.”
“Kepalanya terbentur kemudi dan tangannya terkilir karena menahan tubuhnya saat benturan terjadi.” tambah Donghae. “Tapi selebihnya, dia baik-baik saja.”
“Benar-benar ceroboh.” Taeyeon berkata lalu berbalik pergi. Kibum tersenyum memandang Taeyeon. Suzy pun melakukan hal yang sama. Taeyeon sepertinya masih belum bisa melihat Kibum sebagai adiknya, tetapi tidak masalah karena sekilas ia melihat wanita itu khawatir lalu berbalik pergi dengan bibir yang tersenyum. Ya, Taeyeon khawatir pada Kibum, Suzy tahu itu dan Kibum pun sepertinya menyadari hal itu. Lihat bagaimana Kibum tersenyum meskipun sikap Taeyeon tampak dingin.

“Bagaimana bisa? Apa yang kau pikirkan saat mengemudi?” Yoona bertanya.

Kibum memandang Suzy namun gadis itu melotot dan Kibum cukup pintar untuk tidak mengatakan bahwa ia sedang mengantar Suzy pulang sebelum kecelakaan itu terjadi. “Aku terlalu banyak melamun ketika berhenti di persimpangan karena lampu merah. Aku tidak menyadari sama sekali lampu sudah berubah hijau lalu sedetik kemudian sebuah truk menabrak mobilku dari belakang.” Kibum tertawa, “Untungnya bukan aku yang menabrak. Jika sampai terjadi, seseorang tidak akan mau bertemu denganku lagi.”

Kedua pipi Suzy merona dengan sendirinya saat lirikan mata Kibum mengarah padanya. Dengan bibir mengerucut ia membuang muka.

“Tapi tetap saja itu pelanggaran nak, kau mengemudi tanpa memiliki SIM.” Ujar petugas polisi.
“Maafkan aku.” Kibum menunjukkan raut menyesal.
“Beruntung kau hanya korban.” Lanjut polisi itu. “Tetapi kedua orangtuamu tetap harus membayar denda karena membiarkan anaknya mengemudikan mobil sebelum memiliki SIM.”
Kibum langsung menatap ibunya, “Tidak apa-apa, yang penting kau selamat.” Kim Taehee tersenyum penuh kasih sayang lalu pergi keluar ruangan bersama petugas polisi itu.

“Kau beruntung memiliki ibu yang baik.” ucap Jiyeon. Ia lalu melirik ke arah Kyuhyun yang sejak tadi tak berkomentar sepatah kata pun. Entah mengapa Kyuhyun terlihat begitu dingin, auranya berbeda. Pria itu sepertinya marah karena sesuatu, bahkan sejak ia datang Kyuhyun tak memandangnya sama sekali. Karena itu selagi orang-orang tidak memerhatikan, ia memberanikan diri untuk menyapanya.
“Hai.” Jiyeon tersenyum malu-malu. Kyuhyun menoleh padanya sekilas, hanya beberapa detik sebelum memalingkan wajah kembali seolah mereka tidak saling mengenal. Jiyeon terkesiap dengan perlakuan dinginnya. Ia seperti berhadapan dengan Kyuhyun yang dulu. bahkan ia merasa seperti tengah bicara dengan orang asing.
“Karena kau baik-baik saja, kalau begitu aku pulang.” Kyuhyun berkata. Kibum dan Donghae menoleh. Kibum mengangguk ringan sementara Donghae hanya menatapnya tanpa berkomentar.

Kyuhyun lalu berbalik pergi. Jiyeon melongo melihatnya. “Tunggu!!” ia lalu mengejar Kyuhyun. Suzy dan Yoona saling berpandangan sekilas.
“Apa lagi yang terjadi dengan raja sinis itu?” Suzy mengikuti Jiyeon keluar. Yoona memerhatikan ketika orang itu keluar. Ketika ia menoleh kembali, Donghae sedang memandang ke arahnya.
“Kenapa?” Yoona terkejut. Donghae menunjukkan ekspresi yang tak dipahami Yoona sebelum memalingkan wajah ke arah Kibum yang sedang diperiksa diobati oleh dokter. Yoona memiringkan kepala bingung karena merasa pernah melihat ekspresi itu di suatu tempat. Tapi di mana ia pernah melihatnya?

Sementara itu di luar ruang rawat Jiyeon mengejar Kyuhyun ditemani oleh Suzy. “Kyuhyun tunggu!” Jiyeon berseru. Kyuhyun berhenti lalu menoleh dengan ekspresi sedingin es.
“Apa maumu?”
“Kenapa kau tiba-tiba seperti ini? Apa aku melakukan kesalahan?” Jiyeon bertanya dengan suara terengah-engah. Ia merasa terancam oleh aura yang dikeluarkan Kyuhyun saat ini. Sama seperti ketika ia berhadapan dengan Kyuhyun untuk pertama kalinya.
“Kesalahan? Kau merasa melakukan kesalahan?” Kyuhyun balik bertanya dengan nada datar. Sorot matanya mendadak berubah sedingin sikapnya. “Kupikir kau akan berbeda dengan Tiffany, ternyata kau pun sama saja dengannya.” Setelah mengatakan itu Kyuhyun membalikkan badan lalu pergi.

Jiyeon tercengang.

“Ya!” Suzy sewot. Sejak tadi ia diam saja karena tidak ingin ikut campur. Tapi setelah mendengar Kyuhyun berkata hal itu, ia mulai naik darah. “Kau pikir kau siapa, membandingkan Jiyeon dengan—“

Kyuhyun berhenti lalu membalikkan badan, “Shut up, ini bukan tempatmu untuk ikut bicara!” timpal pria itu tajam. Suzy langsung membungkam mulutnya. Kyuhyun kembali pergi. Ia merasa terintimidasi oleh tatapan Kyuhyun tadi.
“Jiyeon, kau jangan dengar kata-katanya—“ Suzy tidak melanjutkan karena ketika ia menoleh, ia melihat wajah Jiyeon sepucat mayat. “Jiyeon, kau tidak apa-apa?”
Jiyeon tidak mendengar kata-kata Suzy, bahkan mendadak ia menjadi tuli dengan suara-suara di sekitarnya. Ia masih terkejut dengan kata-kata Kyuhyun.

Kupikir kau akan berbeda dengan Tiffany, ternyata kau pun sama saja dengannya.

Apa maksud kata-kata itu? Mengapa Kyuhyun menyamakannya dengan Tiffany? Jantungnya berdebar kencang dan otaknya menjadi hening selama beberapa detik. Tiba-tiba Jiyeon tersentak menyadari kemungkinan penyebab Kyuhyun sekesal ini.

~~~TBC~~~

220 thoughts on “School in Love [Chapter 20]

  1. arghhh!! apa karena jiyeon makan bersama siwon?! ck, kau kekanankan kyuhyun..
    mengatakan jiyeon bukan apa2 hanya orang yang dikenal tapi kau marah seperti kekasih yang sedang cemburu buta uhh menyebalkan!
    dan kibum.. omg! haaah satu hari ini suzy benar2 dipenuhi dengan sosok kibum.. kkk~

  2. Kyaaa… Kyu cembokurrr…
    Suzy km tu suka sm kibum tauu…
    Ayolah donghae gentel dikit,, blg suka sm yonna, trs jgn php in suzy

  3. Aigooo… bang Epil kau cemburu??..
    Tenang bang Epil masih ada aku yang setia nungguin kamu :* #ditimpukinsmasparkyu #peace V😀

    Bang Donghae,, cepet tembak Yoona.. kasian Suzy masih berharap bang Donghae😥

    Bang Kibum juga cepet tembak Suzy,, nanti keburu Suzy diambil orang loh? #emangnyabarang -__-“

  4. Aku lupa mw komen apa.td udh mlyang2 tu kata dlm otak yg dangkal ini,tp tba2 ng’hang.aduh bner2 lupa thor,pkoknya jempol deh bwt km.bnr2 mendetail crta’a,tbc ny jg pas bgt deh.next

  5. Omg jd gara” cemburu sama jiyeon karna deket sama siwon. pasti deh. dasar evil
    Oww jd gara” itu eonni nya kibum kesel setiap liat kibum??
    What!! greget bgt sama couple bumzy

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s