Our Love is Started with Friendship [Chapter 1]

Tittle : Our Love is Started with Friendship Chapter 1
Author : DHA KHANZAKI a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Friendship, Romance

Main Cast :
Song Chanmi | Park Chanyeol

Support Cast :
Hwang Mayu

Dha’s Speech :
Daripada hampa tidak ada FF yang diposting, lebih baik posting FF ini aja. Jangan tanya kapan lanjutanya yah, soalnya gak tau ^^ Kalau ada typo, cerita jelek, feel gak dapet, atau castnya gak suka, jangan ngerusuh oke, lebih baik tekan tombol back atau menjadi reader cinta damai.

Happy reading.

Our Love is Started with Friendship by Dha Khanzaki

=====o0o=====

CHAPTER 1
Charming Neighbour

SEPERTI hari-hari sebelumnya, kali ini pun Chanmi harus mengelus dada sambil mencoba menahan emosi yang meluap dalam hatinya. Meskipun mulutnya berkomat-kamit tidak jelas, ia tetap melakukan kegiatan yang sudah menjadi rutinitias hariannya selama lima tahun terakhir: Membangunkan sang pangeran tidur, Park Chanyeol.

“Yaaakk, Park Chanyeol. Banguuunn..” Chanmi berteriak sekencang mungkin lewat pengeras suara berharap bisa menarik keluar sahabatnya itu dari alam mimpi.

“Emhh..kenapa pagi-pagi sudah berisik?” erang Chanyeol sambil mengorek-ngorek lubang telinganya. Bukannya bangun Chanyeol justru meraih bantal dan menutup kepalanya dengan benda empuk itu. Sontak tindakan tanpa dosa Chanyeol berhasil membangkitkan macan dalam diri Chanmi. Sebelum melancarkan aksinya, Chanmi lebih dulu menggulung lengan bajunya hingga siku lalu naik ke ranjang Chanyeol. Ia menarik napas dalam-dalam dan sekuat tenaga berteriak tepat di telinga pria manis itu.

“BANGUUUUNNN!!!!”

Bagai tersambar petir, Chanyeol tersentak bangun. Chanmi segera menegakkan posisi duduknya dan menatap sengit pria berambut kecokelatan di depannya.

Chanyeol memang sudah bangun bahkan matanya membuka sempurna, tampak jelas ia terkejut. Untuk sesaat Chanyeol mengerjap-ngerjapkan matanya memastikan bahwa dirinya berada di tempat yang aman. Jantungnya seperti terjatuh dari tempatnya. Beberapa detik kemudian ia tersadar lalu menoleh ke arah gadis di sampingnya dengan tatapan tajam.

“Dasar gadis tengik! Bisakah kau membangunkanku dengan cara manis!!!”

Chanmi memutar bola matanya malas. “Aku sudah melakukannya, Gongja Mama. Hanya saja Mama tidak mau terbangun juga maka dari itu Saya memakai cara pintas” ucap Chanmi dengan nada seperti yang sering diucapkan dayang pada Rajanya. Chanyeol mendengus sebal.

“Bukannya sekarang masih pagi..” gerutunya sambil meregangkan tubuh.

“Masih pagi dari mana, Sekarang sudah jam sepuluh! Bukankah kau ada pertunjukkan pukul sebelas nanti?!” serunya mencoba membuat Chanyeol panik dan pontang-panting mempersiapkan diri. Namun ucapan hebohnya itu tidak mempan bagi lelaki berusia 19 tahun itu. Chanyeol dengan santainya mendesah.

“Ah, sial. Aku terlambat bangun.”

Mulut Chanmi nyaris menganga lebar melihat reaksi Chanyeol. Pria ini sejak dulu memang hidup terlalu santai. Tidak pernah berubah sedikit pun. Selalu berpikir positif dan optimis, jangan lupakan itu.

“Kalau begitu cepat bergegas. Kau pikir gedung teater hanya berjarak satu langkah!” desak Chanmi sambil mengguncang bahu Chanyeol.

Arraseo.” Jawabnya sambil menguap.

Akhirnya dengan gerakan malas Chanyeol turun dari ranjang. Ia bercermin sebentar memastikan deretan gigi putihnya tampak sempurna lalu bergaya sedikit sebelum akhirnya pergi ke kamar mandi dengan langkah terseok.

—o0o—

{Chanmi POV}

Namaku Song Chanmi. Aku murid tingkat satu di Neul Paran High School, sebuah sekolah seni pertunjukkan di Seoul. Tidak ada yang istimewa dariku selain aku memiliki hobi bermain basket dan ingin sekali menjadi seorang model. Hanya saja aku harus mengubur dalam-dalam mimpi itu karena aku tidak memiliki kualifikasi untuk menjadi model. Tinggi tubuhku hanya 155 cm. Jauh sekali dari persyaratan seorang model yang mengharuskan memiliki tinggi minimal 168 cm. Meskipun aku berasal dari keluarga biasa saja, namun ada satu hal dalam hidupku yang begitu luar biasa.

Aku memiliki sahabat bernama Park Chanyeol.

Kami berteman sejak enam tahun yang lalu. Ketika aku pertama kali pindah ke kompleks perumahan tempat aku tinggal saat ini. Dia adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Teman pertamaku di Korea setelah aku pindah dari Brussel. Park Chanyeol sungguh pria yang manis, aku berpikir begitu pada awalnya. Namun seiring berjalannya waktu, aku mengetahui banyak sekali tentangnya. Dia yang suka sekali bangun terlambat, alergi bulu kucing, si raja optimis hingga sifatnya yang terlalu santai membuat hidupku makin berwarna.

Aku sangat mengagumi sifatnya yang pantang menyerah dan gigih. Semenjak mengatakan bahwa ia ingin sekali menjadi aktor terkenal, ia terus berjuang meraih mimpinya itu. Meskipun harus berdarah-darah, ia tetap memperjuangkan mimpinya agar terwujud dan aku akan selalu menjadi fans nomor satunya.

“Satu sandwich dan segelas susu. Cepat habiskan..” ucapku sambil menyerahkan sandwich beserta gelas berisi susu padanya begitu ia turun dari kamarnya. Seperti biasa, tanpa membantah Chanyeol mengambil gelas susu lalu meneguknya hingga habis, setelah itu ia mengambil sandwich yang kubuat dengan susah payah kemudian memakannya hingga tak bersisa. Aku tersenyum, dia benar-benar manis saat penurut seperti ini.

Chanyeol tinggal sendiri di rumahnya yang besar. Kedua orang tuanya sibuk bekerja dan hanya pulang beberapa kali dalam sebulan. Aku dengan senang hati menggantikan tugas Ibunya seperti membangunkannya, membuatkannya sarapan, hingga membereskan kamarnya yang tidak pernah rapi itu.

“Biar aku saja yang menyetir..” Chanyeol merebut kunci mobil dari tanganku lalu bergerak menuju mobil Mini Coover merah miliknya. Itu adalah hadiah dari Ayahnya saat ulang tahun ke delapan belasnya tahun lalu dan dia mendapatkan SIMnya beberapa bulan yang lalu. Sebagai anak satu-satunya, Chanyeol mendapatkan seluruh perhatian orangtuanya secara utuh. Mereka adalah Ayah dan Ibu yang baik hati dan sangat menyayanginya, termasuk aku.

“Ya Tuhan, aku terlambat!” Chanyeol menggerutu sendiri ketika melihat jam yang diletakkan di atas dasbor.

Aku sudah mantap di kursiku lantas mendelik dengan jengkel, “Ini semua karena kau tidur terlambat semalam. Lain kali jika ingin menonton film lakukan di siang hari.” omelku mengingat kebiasaannya yang suka sekali menonton film hingga tengah malam. Mungkin lebih baik jika film yang menjadi objek tontonannya adalah film-film terkenal seperti Pirates of Carribean atau Mission Impossible, namun Chanyeol memang lain dari yang lain. Dia justru menyukai film-film anime seperti Naruto dan Crayon Shinchan. Sepanjang malam dia akan tertawa cekikikan seperti orang gila. Saat kutanya mengapa suka film kartun seperti itu, dengan santainya dia menjawab: Mereka lucu. Singkat, jelas, dan padat.

Chanyeol mendengus kecil lalu melajukan mobilnya ke jalan raya, “Jangan ganggu aku anak manis, aku sedang menyetir. Lebih baik kau ingatkan aku saja tentang dialog yang harus kuhafal untuk pertunjukkan nanti.”

Baik. Segera kuturuti perintahnya. Kubuka buku setebal 2 senti yang kupegang lalu membacakan dialog bagiannya yang sudah kuberi tanda merah. Chanyeol hanya mengangguk sambil sesekali mengikuti dialog yang kubaca. Dia benar-benar bekerja keras untuk penampilan perdananya sebagai pemeran utama.

Selain sebagai murid sebuah sekolah seni pertunjukan, Chanyeol juga seorang trainee di sebuah agensi terkenal di Seoul. Dia sudah mengikuti pelatihan dalam agensi itu selama tiga tahun lamanya. Aku menyaksikan betapa gigihnya dia berlatih. Satu tahun yang lalu dia memulai debut pertamanya sebagai pemeran pembantu dalam sebuah drama musikal. Selain belajar berakting, Chanyeol juga mahir sekali memainkan alat musik dan menyanyi. Berkat kerja kerasnya, tiga bulan yang lalu dia mendapatkan peran sebagai pemeran utama dalam drama musikal garapan seorang sutradara terkenal. Pentas kali ini akan menjadi gerbang pembuka untuk karirnya di dunia perfilman. Jika sukses besar, impiannya tak lama lagi terwujud.

Hwaitingg!!”

Kami berhigh-five ria sebelum berpisah di depan ruang rias. Chanyeol segera bergabung dengan para pemain yang sudah siap sejak tadi. Aku terdiam sejenak menatapi punggung Chanyeol yang pergi menjauh. Setelah enam tahun berlalu aku baru menyadari satu hal yang tak pernah kubayangkan.

Aku jatuh cinta padanya. Pada sosok Park Chanyeol yang semakin hari tumbuh menjadi pria yang tampan sempurna. Dia sangat manis, terutama ketika tersenyum. Dunia seperti ikut bersinar setiap kali dia menyunggingkan senyum yang menampilkan deretan gigi putihnya. Aku bahkan nyaris tak bisa menatap pria lain karena pesona Chanyeol benar-benar membuatku silau. Aku menggelengkan kepala cepat lalu berlari menuju tempatku di kursi penonton.

“Jangan lupa setelah selesai tunggu aku di pintu depan..” samar-samar aku mendengar teriakannya di belakang. Aku tersenyum lalu mengacungkan jempol.

“Chanmi, sini..” senyumku mengembang ketika mataku menangkap sosok Hwang Mayu, gadis keturunan Jepang yang menjadi satu-satunya teman perempuanku di sekolah. Mayu melambai-lambaikan tangannya memintaku agar cepat menghampiri. Sambil menggumamkan kata maaf berkali-kali aku berjalan melewati orang-orang yang sudah duduk nyaman di kursinya lalu duduk di kursiku di samping Mayu.

“Kau sudah tiba sejak tadi?” tanyaku terpatah-patah. Napasku hampir saja habis setelah berlari maraton dari ruang rias kemari.

“Tidak. Aku juga baru saja tiba.” Jawabnya sambil tersenyum. Aku membalas senyumnya lalu memulai percakapan dengannya sebelum pertunjukkan dimulai. Mayu adalah gadis yang istimewa dengan perawakan tinggi langsing dan wajah secantik boneka. Aku benar-benar iri padanya. Selama ini aku memang sulit sekali mendapatkan sahabat perempuan. Mereka semua lebih banyak memasang sikap angkuh dan memusuhiku karena kedekatanku dengan Chanyeol. Tapi Mayu berbeda. Dia tetap menemaniku meskipun seluruh siswi di sekolah kami membenciku. Aku, sangat menyayanginya. Dia orang ke empat yang kusayangi setelah Ayah, Ibu dan Chanyeol.

“Hari ini kau tidak ada pemotretan?” tanyaku. Mayu adalah seorang model. Dia memulai debutnya sebagai model majalah satu tahun yang lalu, hampir bersamaan dengan Chanyeol. Aku langsung mengenalinya ketika kami pertama kali bertemu dalam masa orientasi beberapa bulan yang lalu. Semenjak kami berdua menjadi korban bully para senior yang iri—para senior membullyku karea aku dekat dengan Chanyeol sementara Mayu dibully karena dia lebih cantik dan terkenal dari mereka. Sejak saat itu kami menjadi sahabat karib.

“Tidak. Hingga minggu depan jadwalku kosong. Aku akan mulai sibuk lagi saat musim panas tiba.” Mayu selalu mengatakan seluruh jadwalnya hariannya padaku. Kami berbagi banyak hal bersama. Rasanya menyenangkan. Baru kali ini aku tahu betapa menyenangkannya memiliki sahabat perempuan dan yang paling utama adalah, dia tidak pernah merasa risih pada kedekatanku dengan Chanyeol.

—-o0o—-

{Author POV}

Seperti yang sudah diduga Chanmi sebelumnya, pertunjukan teater berjudul Less Miserables itu sukses besar. Ratusan penonton yang memenuhi aula teater itu memberikan applaus dengan meriah. Tak terkecuali Chanmi dan Mayu. Kedua gadis itu bahkan sampai berteriak histeris.

Chanmi menangis dengan mata mengarah pada Chanyeol yang berdiri di atas panggung, di bawah sorotan sinar lampu yang meneranginya. Ini benar-benar menjadi awal bagi pria itu untuk mewujudkan mimpinya. Ia sukses memerankan tokoh utama pria dalam cerita itu. Dan Chanmi yakin tawaran dari berbagai produser film akan berdatangan.

“Chanyeol sunbae sungguh luar biasa.” Desis Mayu kagum. Chanmi mengangguk setuju tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun. Kemampuan akting pria itu memang berkembang pesat semenjak ia menjadi trainee di SM Academy. Sebuah tempat pelatihan khusus untuk calon artis SM Entertainment.

Chukkae..pertunjukkan yang hebat.” Seru Chanmi sambil merangkul leher Chanyeol dengan erat. Ia bahkan sampai harus berjinjit karena tinggi tubuh pria itu yang mencapai 185 cm. Sesuai janji, Chanmi menunggunya di pintu depan sementara Mayu sudah pulang lebih dulu karena ada les bahasa Inggris yang harus diikutinya.

“Park Chanyeol tidak akan melakukan kesalahan di pertunjukkan perdananya,” ucap Chanyeol dengan senyum lebar dua senti. Ia lalu menunjukkan puppy eyesnya pada Chanmi, “Sebagai perayaan, ayo kita makan!”

Oke, satu hal lain yang menakjubkan sekaligus menyebalkan dalam diri Chanyeol. Pria itu suka sekali makan. Chanmi terkadang iri dengan cara makan Chanyeol. Sebanyak apapun pria itu menelan makanan, tubuhnya tidak gemuk. Sisi buruknya, Chanyeol selalu meminta Chanmi yang membayar.

“Kau yang ingin merayakan kenapa aku yang membayar!!” gerutu Chanmi tak terima. Bibi yang berdiri di depan kasir menatap mereka bingung. Kedua anak ini setelah makan banyak malah bertengkar tentang siapa yang harus membayar? Herannya dalam hati.

“Ayolah, Ibu belum memberiku uang saku minggu ini. Hari senin nanti aku akan mengecek saldo ATMku setelah itu kau kutraktir es krim.” Hiburnya sambil mengacungkan jempol. Chanmi mendengus lalu melirik isi dompetnya. Ia menghitung-hitung dengan mulut menggerutu. Setelah itu ia segera memberikannya pada kasir.

“Harga makanan yang kau makan hari ini sepuluh kali lipatnya dari harga es krim!” tambah Chanmi sambil menerima kembaliannya yang hanya tersisa beberapa won saja. Ia mendesah pasrah. “Uang jajanku bulan ini,” sesalnya mendramatisir. Chanyeol merangkul bahunya sambil menarik Chanmi keluar.

“Ah, begini saja kau pelit. Jika aku sudah sukses nanti, apapun yang kau mau akan kuberikan!!” janjinya.

Chanmi mengerjap, lalu menoleh cepat pada pria yang tersenyum lebar di sampingnya. “Benarkah? Apapun???”

Mata Chanmi yang berbinar-binar membuat Chanyeol salah tingkah. “Maksudku, asal kau tidak berniat membuatku bangkrut.”

“Tentu saja tidak. Aku pasti akan meminta sesuatu yang bisa diberikan olehmu.” Ujar Chanmi sambil merangkul lengan Chanyeol.

“Apa itu?”

“Aku akan memberitahukannya nanti..” seru Chanmi sambil meleletkan lidahnya.

“Katakan aku penasaran!!”

Chanmi berlari sambil berteriak bahwa ia tidak akan mengatakannya sebelum Chanyeol menjadi seorang aktor terkenal. Chanyeol yang kesal mengejarnya.
Tentu saja hanya hanya kau yang bisa karena aku akan memintamu memberikan hatimu untukku.

—o0o—

{Chanmi POV}

“Ingat, malam ini kau harus menginap di rumahku. Kita akan menonton anime Bleach sampai pagi!”

Pagi hari di saat baru satu langkah kami melewati gerbang sekolah, Chanyeol sudah memberiku instruksi atau lebih tepatnya perintah yang mengejutkan. Tidak hanya aku, tapi juga beberapa murid yang kebetulan lewat di sekitar kami. Aku mencoba menormalkan ekspresiku agar tidak tampak tersipu, kaget, ataupun norak. Tapi gila saja, pria ini mengajak seorang wanita menginap di rumahnya tanpa beban sedikitpun! Apa dia tidak memikirkan seberapa besar dampak yang akan ditimbulkan jika seorang pria dan wanita bermalam bersama di bawah satu atap yang sama tanpa ditemani orang lain? Tapi yeah, jika dia menganggapku sebagai seorang wanita. Dia selalu menganggapku adik kecilnya yang manis.

“Seperti biasa, camilannya kau yang bawa.”

Untuk kalimat yang satu ini aku terhenyak kaget. Kenapa harus selalu aku yang memberinya makanan?

“Kenapa? Sekarang sudah hari senin dan kau janji akan memeriksa saldo ATMmu. Kenapa masih memintaku membawa makanan juga? Kau tahu bukan uangku sudah habis untuk membayarimu makan tempo hari.” protesku dan Chanyeol langsung membekam mulutku menyadari orang-orang yang menguping pembicaraan kami terkejut mendengarnya. Ucapanku memang terhenti namun Chanyeol membekamku terlalu erat hingga aku meronta-ronta.

“Emmmppphhh—“ aku berusaha menarik tangannya dari mulutku.

“Jadi, setuju atau tidak? Jika kau setuju aku akan melepaskannya.” Di saat seperti ini dia malah mengajukan penawaran padaku? Apa haknya! Aku menggelengkan kepala kencang. Chanyeol mendesah pasrah.

“Baiklah, kalau begitu aku akan seperti ini sampai bel masuk berdering.”

Mataku membelalak. Dia benar-benar gila. Aku harus mempertimbangkan banyak akibat yang bisa kuterima jika posisi kami terus seperti ini. Pertama, aku akan dihukum karena terlambat masuk kelas. Kedua, aku bisa saja menjadi bahan gosip nomor satu minggu ini meskipun rasanya tidak mungkin dan yang ketiga, musuhku yang mayoritas penggemar wanita Chanyeol akan bertambah banyak dan mereka akan semakin brutal mengerjaiku. Membayangkannya saja sudah membuatku bergidig ngeri. Aku cepat-cepat mengangguk sebelum hal berbahaya itu terlanjur terjadi. Senyum manis yang memperlihatkan deretan gigi putihnya menguar pertanda ia puas dengan keputusanku.

“Anak manis,” gumam Chanyeol seraya melepaskan tangannya dari mulutku. Aku mengambil nafas dengan susah payah setelah tadi kesulitan bernapas.
“Aku tunggu jam 7 malam!!” Teriaknya sambil berlari masuk ke dalam gedung sekolah. Dia menghampiri teman-temannya yang sudah menunggu di dekat pintu masuk gedung. Aku membalasnya malu-malu karena orang-orang mulai menatapku sinis lagi. Lebih baik aku segera masuk kelas sebelum aku terkapar di sini karena serangan bertubi-tubi dari fans fanatik Chanyeol.

—o0o—

“Aku heran, kenapa kau tidak pernah memanggil Chanyeol Sunbae dengan sebutan ‘Oppa’. Bukankah kalian berbeda dua tahun?”

Aku mengalihkan perhatianku dari deretan buku-buku ke arah Mayu yang sedang menata buku-buku di rak seberang. Kami mendapatkan tugas membereskan perpustakaan hari ini. Selain ruang latihan, perpustakaan adalah tempat yang tidak pernah rapi karena banyaknya murid yang datang kemari untuk mencari referensi ataupun mengerjakan tugas sekolah. Buku-buku kerapkali ditinggalkan di meja-meja setelah dibaca dan meskipun dikembalikan pada rak, tidak ditempatkan di posisi yang seharusnya.

“Dia melarangku memanggilnya begitu. Dia bilang, dia akan terkesan tua jika aku memanggilnya Oppa,” jawabku sambil mengendikkan bahu. Aku ingat dengan jelas Chanyeol pernah mengatakan hal itu ketika dirinya masuk SMA dan aku masih kelas 2 SMP. Itu artinya, sudah dua tahun berlalu.

Mayu mengerutkan kening, “Aneh sekali. Padahal aku seringkali melihatnya marah jika ada adik kelas yang memanggilnya begitu.”

Tak hanya Mayu yang heran tetapi juga diriku. Aku beberapa kali melihatnya menegur beberapa junior yang tidak memanggilnya dengan sebutan Sunbae, Oppa, ataupun Hyung. Mengapa dia memberi pengecualian padaku?

“Entahlah,” hanya itu komentar yang bisa kuberikan. Aku mencoba meletakkan buku yang kupegang ke tingkatan rak di atasku. Meskipun aku sudah berjinjit, aku tidak bisa meraihnya. Sial. Aku ingin meminta Mayu lebih tinggi dariku namun gadis itu telah menghilang. Bagaimana ini? Sementara tangga yang biasa digunakan untuk meletakkan buku di tingkat atas berada di sisi lain perpustakaan. Aku mencoba berpijak pada rak di tingkat kedua lalu memanjat naik.

Berhasil. Aku bisa meletakkan buku itu pada tempatnya semula. Ketika aku berniat mengambil buku lain untuk kuletakkan di tempat yang sama, kakiku tergelincir. Aku memekik dan bersiap-siap menerima rasa sakit di daerah pantat dan kakiku. Namun detik berikutnya aku sadar seseorang menangkapku ketika aku tidak kunjung merasakan sakit. Aku mengerjap karena saat ini seseorang sedang memelukku dari belakang.

“Biar kubantu.”

Secepat kilat kuputar kepalaku ke samping. Aku langsung bertatapan dengan Chanyeol yang tersenyum manis. Dia menurunkanku hingga kakiku menapak lantai, mengambil buku-buku yang kupegang lalu meletakkannya ke tingkatan rak yang susah payah kucapai dengan mudah.

“Nah, sudah selesai.” Chanyeol tersenyum manis. Aku merasa malu. Aku kembali berandai-andai memiliki tubuh tinggi semampai seperti Mayu sehingga aku tidak perlu mengalami kejadian memalukan seperti tadi.

“A-apa yang kau lakukan di sini!!” tanyaku gugup. Chanyeol mengangkat buku yang dipegangnya.

“Mencari referensi untuk tugas Ms. Shin,” dia menatapku dengan geli, “Lalu apa yang kau lakukan sampai kau memanjat rak seperti tadi? Untung saja aku datang jika tidak kau sudah terkapar memalukan di lantai saat ini.”

Aku langsung salah tingkah. “Sekarang giliranku membereskan perpustakaan. Tadi itu aku tidak bisa meletakkan buku di sana.” Aku menunjuk tingkatan yang tidak bisa kujangkau. Chanyeol dengan semena-mena dan tidak menghargai perasaanku tertawa terbahak-bahak.

“Karena itu tambahlah tinggi badanmu.”

Sial, dia kembali mengejekku tentang tinggi badan. “Aku tahu karena itu aku berlatih basket mati-matian agar tinggi badanku bertambah.” Teriakku sebal, “Lihat saja jika aku sudah tinggi dan menjadi seorang model terkenal. Kau tidak akan berani menertawakanku seperti ini lagi.”

Bukannya berhenti tertawa Chanyeol justru semakin mengeraskan tawa tidak sopannya. Sungguh, pria ini sangat menyebalkan.

“Kau menjadi seorang model? Song Chanmi menjadi model? Itu tidak mungkin. Lihat tinggimu.” Chanyeol membandingkan tinggi kami. Bahkan dengan memakai sepatu dengan heels puncak kepalaku hanya mampu mencapai pundaknya. Tinggi kami terpaut 30 cm. “Perlu seberapa kerja keras untuk membuatmu lolos persyaratan seorang model?”

“Kau menyebalkan!!” aku berteriak marah padanya. Dia keterlaluan sekali. Boleh saja dia mengejekku soal tinggi badan, tetapi dia tidak boleh mengejekku tentang mimpiku. Sebagai bentuk kemarahanku, aku menendang kakinya lalu pergi sambil menghentak-hentakkan kaki. Chanyeol berteriak kesakitan ketika aku pergi meninggalkannya.

“Hei, Chanmi-ya.” Serunya merayu. Dia berjalan tertatih-tatih sambil berusaha mengejarku.

“Jangan ikuti aku. Kembali sana ke planetmu!!” aku berteriak kesal. Dasar makhluk dari dunia antah berantah.

—o0o—

[Author POV]

Sejak Chanyeol menertawakan cita-citanya, Chanmi bertekad untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang model papan atas. Ia tidak peduli seberat apapun usaha yang harus dilaluinya, sesulit apapun rintangan yang harus ia taklukan, ia harus berjuang.

“Huh, dia tidak tahu jika alasanku menjadi seorang model adalah untuk mengimbanginya kelak jika dia sudah menjadi aktor terkenal.” Gumam Chanmi sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Ia sudah memikirkannya semenjak Chanyeol berkata bahwa cita-citanya menjadi seorang aktor papan atas. Ia hanya ingin menjadi wanita yang pantas bersanding dengannya. Lagipula wajahnya tidak terlalu jelek. Memang tidak pernah ada yang mengatakan bahwa ia cantik, tetapi ia yakin wajahnya cukup ‘menjual’ jika diletakkan di sampul depan sebuah majalah.

“Chanmi, ada telepon dari Chanyeol.”

Chanmi terkesiap oleh suara teriakan ibunya. Ia bergegas mengakhiri kegiatan gosok giginya lalu menghampiri sang ibu yang berdiri sambil memegang gagang telepon.

“Kenapa bertengkar lagi?” ibunya bertanya penuh pengertian. Ibunya sudah hapal sekali rutinitas yang terjadi jika ia dan Chanyeol sedang bertengkar. Chanmi akan menolak berbicara dengan Chanyeol melalui ponsel hingga akhirnya pria itu terpaksa menghubunginya menggunakan telepon rumah. Hal itu pun berlaku sebaliknya. Itu adalah cara terbaik untuk meminta maaf.

“Hallo,” sahutnya dengan suara dibuat-buat malas. Dalam hatinya ia ingin sekali melonjak-lonjak gembira. Ia yakin Chanyeol menelepon untuk meminta maaf. Mereka memang tidak pernah bertengkar terlalu lama.

“Hai, apakah malam ini kau akan ke rumahku? Aku tidak ingin menghabiskan waktu menonton film sendirian.”

Chanmi mendengus kecewa. Ternyata dia menelepon bukan untuk meminta maaf, melainkan menanyakan janji mereka.

“Aku sibuk—“

“Tunggu dulu!!!” Chanyeol panik ketika ia akan menutup pembicaraan. Bibir Chanmi berkedut menahan senyuman. Ia menghitung dalam hati kapan pria itu akan menyebutkan kata maaf.

“Baiklah, aku tahu aku salah. Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengejekmu tentang tinggi badanmu lagi.” sesalnya. Chanmi bisa mendengar Chanyeol mendesah berat. Ia langsung melonjak gembira dan berteriak histeris tanpa bersuara. “Jadi kau mau memaafkanku?” tanya pria itu lagi. Chanmi segera menormalkan kelakuannya. Ia menarik napas dalam lalu menjawab dengan sok tenang.

“Okay, kau kumaafkan. Tapi jika lain kali kau mengejekku tentang mimpiku lagi, kau harus memberiku lima puluh cupcake cokelat dan satu buket bunga mawar merah untuk meminta maaf.” Ucapnya ngawur. Chanyeol langsung tertawa. Perasaan Chanmi menjadi jauh lebih ringan setelah mendengar suara tawanya.

Deal. Jadi, kau bisa ke tempatku malam ini?”

Of course. Sepuluh menit lagi aku akan berada di sana!” seru Chanmi.

“Jangan lupa makanan ringan!” peringat pria itu sebelum pembicaraan mereka berakhir. Setelah mengembalikan telepon ke tempatnya semula, ia melompat-lompat senang lalu bergegas mengambil barang-barang yang akan ia bawa ke rumah Chanyeol. Ibunya hanya menggelengkan kepala ketika ia berkata akan menginap di rumah Chanyeol untuk ke sekian kalinya. Ibunya tahu Chanyeol adalah pria yang baik sehingga tidak khawatir meninggalkan putrinya berdua saja bersama seorang pria.

—o0o—

Kecintaan Chanyeol terhadap dunia perfilman membuatnya membangun home theatre mini di rumahnya. Kini Chanmi berada di sana, duduk di atas sofa empuk dengan seember popcorn dan segelas minuman bersoda. Chanyeol sendiri sedang menikmati keripik kentangnya dalam diam. Matanya fokus menatap layar.

Astaga, dia terlalu serius untuk seorang pria yang sedang menonton anime dan dia terlalu tampan untuk menjadi seorang otaku.

“Kenapa kau suka sekali menonton film seperti ini? Kau sudah dewasa, seharusnya kau menonton film sesuai dengan umurmu.” Sahut Changmi. Chanyeol menoleh terlalu cepat sampai kacamata burung hantu yang dipakainya melorot hingga ke ujung hidung.

“Apa?” tanyanya heran.

Chanmi memutar bola mata, “Ya Tuhan, kau tidak mendengarku. Aku bertanya mengapa kau suka menonton film seperti ini di saat usiamu sudah sebesar sekarang.”

“Memang apa salahnya dengan menonton Bleach? Ichigo Kurosaki adalah anak SMA, sama seperti kita.” Jelasnya polos sambil menunjuk layar televisi 42 inch di depan mereka.

“Sudahlah.” Chanmi sadar percuma saja ia berbicara dengan penggila anime. Padahal ia berharap bisa menonton satu film romantis bersama Chanyeol, mereka lalu terhanyut dalam cerita dan..

“Hei,” seruan tiba-tiba Chanyeol mengejutkan Chanmi. Gadis itu terperanjat kaget dari lamunannya.

“Apa?” tanyanya cepat sambil mengusap dada.

“Siapa yang kau sukai di antara ke-13 kapten dalam komunitas roh?” tanyanya antusias. Chanmi mendengus. Dia mengagetkanku hanya untuk menanyakan sesuatu yang tidak penting? Namun ia tetap memiringkan kepala untuk berpikir. Ia memang bukan penggila Bleach, tetapi karena Chanyeol sering menjelaskan tetek bengek tentang anime yang disukainya, lama-lama ia hapal juga.

“Kapten batalyon 10, Toushirou Hitsugaya.” Jawabnya sambil mengangkat bahu. Chanyeol menatapnya tak berkedip.

“Kenapa?”

“Karena dia dan aku sama, kami tidak memiliki badan yang tinggi!!” sahutnya jengkel. Sepertinya jawaban itu menggelikan Chanyeol karena pria itu tertawa. Tetapi ketika sadar dia sudah berjanji tidak akan menertawakan tentang tinggi badan Chanmi, tawa menjengkelkannya lenyap.

“Lalu siapa yang kau sukai?” tanyanya. Chanmi tidak akan heran jika Chanyeol menyebutkan Orihime Inoue atau Rangiku Matsumoto sebagai karakter favoritnya. Kedua karakter itu sama-sama cantik dan berdada besar. Dasar pria.

“Tentu saja kapten batalyon 2, Soi Fong. Dia seorang kapten yang luar biasa.” Chanyeol mengatakan hal itu seolah-olah karakter yang disebutkannya telah menyelamatkan dunia dari perang dunia. Chanmi hanya menggeleng-gelengkan kepala. “Kau setuju bukan?” tanyanya meminta persetujuan Chanmi.

“Aku lebih suka Jenderal Wudalchi Choi Young*(peran Lee Minho dalam film Faith).” Cibir Chanmi santai. Ketika ia menoleh, ia terkesiap melihat Chanyeol sedang menatapnya jengkel.

“Lihat saja, suatu hari nanti kemampuan aktingku akan melampaui Lee Minho!” sergahnya kesal. Chanmi lupa bahwa Chanyeol memiliki sensitivitas tertentu dengan para aktor yang menurutnya akan menjadi rival besarnya suatu hari nanti. Pria itu selalu marah jika ia menyinggung mereka, atau mengagumi mereka. Seperti saat ia tanpa sengaja berkata bahwa Hyun Bin adalah pria yang sangat romantis, Chanyeol langsung murka. Pria itu merajuk dan mereka batal pergi makan di kedai ramen favorit mereka padahal saat itu Chanyeol berjanji akan mentraktir.

Sungguh sindrom yang aneh dan sulit dimengerti.

Akhirnya mereka melanjutkan menonton dalam diam. Chanmi melirik jam di ponselnya, waktu bahkan belum melewati tengah malam tetapi ia merasa sudah berjam-jam menyaksikan film itu bersama Chanyeol.

“Ah, sial, seharusnya kau bisa melewati kapten mesum itu!!” seru Chanyeol jengkel, tingkahnya seperti para penggila bola yang menggerutu karena pemain dukungannya gagal mencetak gol. Chanmi menatap setiap gerak-geriknya tanpa disadari Chanyeol. Ia menyukai saat Chanyeol menjadi dirinya sendiri seperti ini. Sejak debut, dia selalu menjaga citra dirinya di depan orang-orang karena apapun yang dilakukannya akan menjadi bahan pembicaraan orang-orang. Karena itu terkadang Chanmi membenci di saat Chanyeol berusaha menjadi orang lain yang tidak ia kenali.

Ya, Chanyeol yang berdiri di bawah sorotan lampu panggung adalah sosok yang sama sekali bukan miliknya. Chanyeol yang berada di atas panggung adalah milik para penggemarnya. Itulah yang membuatnya sedih. Suatu hari nanti di saat Chanyeol telah menjadi seorang aktor terkenal, ia tidak akan pantas berada di sisinya lagi.

“Kenapa kau tiba-tiba diam?” Chanyeol menoleh, menangkap basah Chanmi yang sedang tersenyum masam. Kegembiraan di wajahnya lenyap.

“Kenapa? Apa aku membuatmu bosan?” tanyanya cemas. Chanmi menggelengkan kepala.

“Tiba-tiba saja aku memikirkan sesuatu.” Chanmi menatap ember popcorn di pangkuannya, “Apa ketika kelak kau sudah menjadi seorang aktor terkenal, kita masih bisa seperti ini. Dan aku, apa aku masih bisa menemanimu menonton, membangunkanmu tidur, menyiapkan sarapan untukmu, dan merecokimu tentang segala hal.”

Kata-kata Chanmi membuat mereka berdua merenung. Chanyeol menatap bungkus snack di pangkuannya sejenak lalu kembali menoleh pada gadis di sebelahnya setelah ia mendapatkan keberanian untuk mengatakan isi pikirannya.

“Itu tidak akan terjadi.”

Chanmi menoleh lalu mengerjap melihat senyuman yang paling ia sukai tersemat di bibir pria itu. “Usia boleh bertambah dan kita mungkin akan mencapai mimpi kita suatu hari nanti, tetapi hubungan kita tidak akan berubah. Kita akan tetap bersahabat. Seperti ini.”

Penjelasan itu antara menggembirakan dan menyedihkan bagi Song Chanmi. Ia menatap Chanyeol sedih. Pria ini tidak tahu bahwa kata-katanya memiliki dua arti. Chanmi masih menatapnya saat Chanyeol mulai fokus kembali pada layar televisi.

“Lalu bagaimana jika kau memiliki pacar suatu hari nanti?” tanya Chanmi. Chanyeol langsung tersedak, “Apa kau akan tetap membiarkanku melakukan tugas sehari-hariku seperti membangunkanmu, membuatkanmu sarapan dan—“

“Song Chanmi, tidak akan ada kekasih!” potong Chanyeol sambil melotot histeris. Ia buru-buru meneguk sodanya lalu kembali menatap Chanmi sambil sesekali terbatuk-batuk. “Aku tidak akan memiliki kekasih sampai aku sukses sebagai aktor. Paling tidak sampai aku mendapatkan penghargaan sebagai bintang Hallyu.”

Park Chanyeol memang menggantungkan mimpinya setinggi bintang. Orang lain mungkin akan tertawa jika mendengar kata-katanya. Harapan itu terlalu muluk untuk orang biasa sepertinya. Tetapi Chanmi tidak begitu, ia sangat menghargai kata-kata yang diucapkan penuh tekad dan usaha seperti yang baru saja diucapkan Chanyeol.

“Ya, sekarang kau mengatakan itu. Tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi esok hari?” gumam Chanmi pelan.

~~~TBC~~~

155 thoughts on “Our Love is Started with Friendship [Chapter 1]

  1. Kalo chanyeol udah jadi artis besar pasti dia lupa dg segala ny. Dia bakal sibuk dg schedule yg super duper padat.

    Kasihan chanmi..
    Harus semangat biar bisa setara dg mimpi ny chanyeol.
    Biar kan orang bicara apa.
    Anggap aja angin berhembus.

  2. seru ceritanya, kasihan chanmi pas chanyeol blng slmanya akan jd sahabat, chanyeol ada rasa ga ya sama chanmi walau cuma sdkt. eonni udh lama ga post ff jd aku baca ini n ternyata ff mu emang daebak siapapun yg jd cast nya

  3. whoaaa.. chanyeol jadi cast ^^
    persahabatan pria dan wanita tidak akan selamanya bertahan, pasti ada salah satu yg punya rasa.. u.u
    chanmi hwaiting.. kamu harus raih mimpimu juga ..😉
    ada sosok mayu disini, mungkinkah dia jadi saingan chanmi kelak? molla
    next part ditunggu eon😉

  4. emg yaa kalo cewe-cowo sahabatan itu ngga mungkin pure 100% sahabat,psti ada slh 1 atau mngkin dua” nya sbnr’y saling suka,cuma mrka takut aja kalo nnti hbngn’y bakal brubah kalo tw suka’y mereka lebih dr sahabat….

    kek yeol ama chanmi ini yaa…^^

  5. Eon, bneran mau nikah.??Ato skrg udah nikah,ua?Woaah… cukkhae eon. Seneng bgt dnger dr tmn brta ini. Tp sdih jga, udah berulang kali mampir d blog ini, tp dha eon blum mosting lagi. Eon… jan lupa sma readers setia eonnie neee🙂

    Selamat menempuh hidup baru, e

  6. cast nya chanyeol…. huaa…daebak.. ^0^)/
    chanmi baik banget yah… trus chanyeol maksudnya apa bilang gak ada kekasih? gak mau kekasih selain chanmi ya? sebenernya saling suka kan.. ciyee…. kalo nyangkut persahabatan itu pasti bikin penasaran. ntar bakalan kesandung apa yah kisah mereka?
    ditunggu lanjutannya admin-shii ^-^

  7. Wahhh!!! keren thor! aku suka bgt sm ini ff. Pokoknya bagus bgt deh. Daebak! duh penasaran bgt sama lanjutanya. next thor.jgn kelamaan yah. Hehehe. Bru baca ni thor. Oke thor. Fighting ne. Gomawo😀

  8. Thor ceritanya bagus banget. Buat orang penasaran. Tapi takut akhirnya gak bahagiaaaaa… Thorr lanjutttt!!!! Aku suka semua cerita authorrr…^_^

  9. Semoga ff ini dilanjutin :^) sedih kalau sampai enggak TT.TT aku suka karakter chanyeol disini padahal sebenarnya gak suka chanyeol tapi kayaknya eon bakal bikin aku jadi suka chanyeol deh 😂😂

  10. Daebakk!!! Ini pertama kalinya eonnie buat ff dg cast EXO member!! Kereenn bgt apalagi PCY yg jdi cast utamanya😀 *curcol Gregett juga sma mereka kira2 Chanyeol suka gak sih sebenernya sama Chanmi? Berharap gitu deh😀 tpi emang gk dipungkiri kebanyakan gak ada sahabat antara cowok-cewek pasti slah sstu mereka ada yg naro perasaan.. Lanjutt eonnie GPL😀

  11. chanyeol-ah kita sama pecinta anime, Aq tahu perasaan chanmi, karena sahabat qu juga mengeluhkan kecintaan ku terhadap anime. tapi chanyeol fighting, ceritanya keren next di tunggu

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s