School in Love [Chapter 19]

Tittle : School in Love Chapter 19
Author : DHA KHANZAKI a.k.a Shin Jeyoung
Genre : School Life, Friendship, Romance

Main Cast :
Bae Suzy | Park Jiyeon | Im Yoona
Cho Kyuhyun | Kim Kibum | Lee Donghae

Dha’s Speech :
Sekedar pemberitahuan, FF ini chapternya akan lebih panjang dari IMTBB ^_^

Happy reading

School in Love by Dha Khanzaki 11

=====o0o=====

CHAPTER 19
Is This a Declaration of Love?

RUMOR tentang betapa kayanya Cho Kyuhyun memang pernah Jiyeon dengar sebelumnya. Tetapi ia tetap saja terkejut ketika mobil berhenti di pelataran depan sebuah rumah yang mewah nan megah. Arsitektur bangunan ala Eropa yang luas dan besar. Bahkan jarak antara rumah dan pintu gerbang utama pun terpisah sejauh 100 meter dihubungkan oleh jalan lebar dari batu dan taman yang memeluk sisi kiri dan kanannya. Halaman depannya yang luas bergaya taman khas Inggris tertata rapi, membuatnya menganga takjub. Ayahnya akan sangat terpukau jika melihat banyaknya tanaman hias cantik dan langka tumbuh subur di sana. Ia bertanya-tanya berapa banyak tukang kebun yang bekerja untuk membuatnya tetap indah. Terdapat air mancur di depan pelataran rumah seperti sengaja diletakkan untuk menyambut tamu-tamu yang datang.

Kenapa aku tidak pernah sadar aku jatuh cinta pada siapa. Jiyeon melirik Kyuhyun yang duduk tenang di sampingya. Menyadari betapa kayanya keluarga Kyuhyun, Jiyeon mendadak cemas. Bagaimana jika ibunya nanti tidak menyukai dirinya yang berasal dari keluarga yang tidak sekelas dengan keluarga Cho? Apa ia akan didepak pergi dari rumah ini begitu saja?

“Kenapa kau melamun? Ayo keluar.” Kyuhyun membuka pintu mobil lalu keluar. Jiyeon menggelengkan kepala untuk menepis pikiran melanturnya kemudian mengikuti Kyuhyun merangkak keluar dari mobil. Ia berusaha untuk tidak tampak norak. Mereka kini berdiri di teras rumah yang luasnya bahkan menyamai luas seluruh bangunan rumahnya. Ia bisa bermain bola di sini.

“Tuan.” Seorang pria berusia lima puluh tahunan buru-buru menghampiri Kyuhyun begitu melihatnya datang. Jiyeon bertanya-tanya apakah dia adalah kepala pelayannya. Setiap Chaebol pasti memiliki satu orang kepala pelayan.

Benar saja dugaan Jiyeon. Pria itu memang kepala pelayan rumah ini ketika Kyuhyun mengenalkan mereka, “Dia dalah Paman Han, yang mengurusi seluruh keperluan rumah ini. Paman Han, dia Park Jiyeon,” Kyuhyun menggigit bibir sebelum berkata lagi, “Kekasihku.”

Jiyeon memandangnya karena nada suara Kyuhyun terdengar aneh. Kyuhyun terlihat tidak nyaman saat menyebutkan hubungan mereka. Paman Han membungkukkan badan dengan sopan padanya, Jiyeon pun mengikutinya.
“Ini pertama kalinya Tuan Muda membawa seorang gadis ke rumah. Saya merasa sangat senang bertemu denganmu, Nona.”
“Terima kasih.” Kedua pipi Jiyeon merona malu. Ini pertama kalinya ia dipanggil nona dan diperlakukan begitu sopan.

Kepala pelayan itu mengantar mereka masuk. Jiyeon mencubit pipinya sendiri ketika melewati pintu ganda berukiran lalu menginjak tempat yang membuatnya merasa bukan berada di Korea lagi. Apa ia baru saja melewati pintu kemana saja milik Doraemon? Karena ia merasa seperti berdiri di salah satu ruang di Istana ratu Inggris. Interiornya tidak hanya mewah dan klasik, tetapi juga menakjubkan. Rumah ini memiliki jendela yang luar biasa besar dan banyak sehingga di siang hari ruang-ruang di rumah ini tidak memerlukan lampu.

Seorang wanita duduk di salah satu kursi ruangan dengan sebuah majalah di pangkuannya dan sebelah tangan memegang cangkir teh ketika mereka tiba di sebuah ruang duduk di sayap timur rumah. Jiyeon tegang karena ia mengenali wanita itu. Yah, siapa lagi jika bukan Cho Hanna, ibu Kyuhyun.
“Nyonya, Tuan muda dan Nona Jiyeon sudah tiba.” ujar Kepala pelayan Han sopan. Cho Hanna mengangkat kepalanya lalu tersenyum kepada mereka.
“Kalian sudah tiba.” ucapnya. “Duduklah.” Cho Hanna menyuruh kedua muda-mudi itu duduk. Jiyeon ragu di mana ia seharusnya duduk. Kyuhyun menyadari kepanikannya langsung menggenggam tangannya. Jiyeon mengerjap. Pria itu tanpa kata-kata membawanya duduk bersama di salah satu sofa mewah di sisi sofa yang diduduki ibunya.
“Kenapa ibu memintaku membawa Jiyeon kemari?” tanya Kyuhyun. Jiyeon menatapnya sekilas, bahkan ketika berbicara dengan ibunya pun Kyuhyun tetap tidak menunjukkan perubahan ekspresi.
“Ibu hanya ingin bertemu dengan kekasihmu.” Cho Hanna tersenyum menatap Jiyeon. Gadis itu salah tingkah sekaligus merasa bersalah. Apa yang telah ia lakukan? Ia sedang membohongi seorang ibu.

Cho Hanna masih memandangnya dengan raut yang sulit ditebak. Kemungkinan wanita itu sedang menyelidikinya. Ketika Cho Hanna mengubah posisi duduknya Jiyeon menegang. Ia yakin tak lama lagi wanita itu akan mengajukan pertanyaan.

“Apa pekerjaan Ayahmu?”

Benar bukan? Ini adalah semacam interview untuk menyeleksi gadis yang pantas bersama dengan putranya. Jiyeon menjawab dengan gugup. “Ayahku seorang peneliti di bidang ilmu botani. Dia mengepalai Botanical Research & Development Laboratory.”
“Sungguh?” kedua mata Cho Hanna melebar. Apa itu adalah reaksi kagum? “Kau putri Park Jungmin?”

“Anda mengenal Ayahku?” Jiyeon terkejut. Ayahnya bukanlah peneliti terkenal yang sudah mendapatkan penghargaan nobel. Karena itu ia terkejut karena ada seseorang yang mengetahui tentang Ayahnya.
“Ternyata memang benar.” Cho Hanna menepuk tangannya.
“Ibuku adalah penggemar tanaman hias. Kau bisa lihat buktinya dari taman di depan rumah.” jelas Kyuhyun karena Jiyeon terlihat bingung. “Ibu selalu membaca jurnal tentang tanaman hias yang ditulis ayahmu. Ibu sangat menyukai topik-topik yang dibahas di dalamnya.”
“Itu benar sekali.” Cho Hanna tersenyum.
“Oh,” Jiyeon mengangguk mengerti. Ayahnya memang sudah menerbitkan beberapa buku tentang penelitiannya.

Cho Hanna berkata kembali, “Itu artinya ibumu adalah Cheon Jihye? Dia adalah guru piano Kyuhyun dulu.” kemudian ia mengerjap, “Oh, maaf.” Ia sadar sudah membawa topik yang salah ketika melihat sorot mata Jiyeon meredup. Siapa yang tidak tahu bahwa pianis itu sudah meninggal dunia.

“Ibu,” Kyuhyun bereaksi melihat Jiyeon sedih. “Kau tidak seharusnya membahas itu.”
“Aku tidak apa-apa.” sela Jiyeon. Ia tidak mau Kyuhyun bertengkar dengan ibunya, “Lagipula itu sudah lama.” Jiyeon tersenyum untuk membuktikan bahwa topik itu tidak membuatnya sedih. Ia hanya terkejut ketika ibunya disebutkan.
“Kau yakin?” Kyuhyun bertanya dengan cemas. Jiyeon mengangguk. Cho Hanna tersenyum melihat keakraban mereka. Kyuhyun tidak pernah terlihat mengkhawatirkan seseorang dan bereaksi begitu cepat seperti tadi.

“Jadi,” suara Cho Hanna menginterupsi Jiyeon dan Kyuhyun. Kedua anak itu menoleh. “Apa rencana kalian untuk masa depan?”
“Ibu!” Kyuhyun terperanjat sementara Jiyeon seperti terkena serangan jantung.
“Kenapa? Kau pikir apa alasan Ibu mengumpulkan kalian berdua di sini? Ibu bertanya karena Ibu sudah merestui hubungan kalian.”
“Tapi Ibu, kami hanya berpacaran.” Jelas Kyuhyun.
“Ya. Kami belum memiliki rencana apapun.” Jiyeon menyambung. Ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Ia pikir hanya interogasi seputar dirinya saja, bukan tentang mereka.
“Kyuhyun,” Cho Hanna menegaskan suaranya. Kyuhyun yang sepertinya ingin membantah langsung mengatupkan bibirnya. Jiyeon seperti berdiri di tepi jurang. Ia tegang sekali menantikan apa yang akan dikatakan ibu Kyuhyun itu pada anaknya. Kedua mata Cho Hanna sedikit menyipit. “Kau ingat apa yang selalu Ibu katakan tentang memiliki kekasih?”

Kyuhyun memutar bola mata lalu berkata dengan nada malas, “Jangan berpacaran jika kau tidak serius dengannya.”
“Benar. Karena sekarang kau memiliki kekasih Ibu mengasumsikan kau sudah menetapkan hatimu padanya.”

Apa? Jiyeon tidak tahu hal itu. Ia menatap Kyuhyun menuntut penjelasan. Tetapi pria itu tidak memandangnya sama sekali. Dia tampak merenung.

Kyuhyun mengumpat dalam hatinya. Ia sama sekali lupa dengan peringatan ibunya yang satu ini. Lalu apa yang harus ia lakukan di saat ibunya sudah terlanjur merestui hubungan pura-puranya dengan Jiyeon? Berkata bahwa mereka hanya berpura-pura pacaran untuk membatalkan pertunangan itu hanya akan mengacaukan suasana. Ibunya pasti akan marah besar dan akhirnya ia akan dikirim ke sekolah berasrama di luar negeri karena sudah bertingkah gegabah.

Jiyeon tidak tahu harus merasa senang atau sedih. Ibu Kyuhyun sudah merestui hubungannya dengan Kyuhyun, tetapi di sisi yang lain ia sedih karena hubungan mereka hanya pura-pura dan Kyuhyun mungkin tidak menyukainya. Ya Tuhan, mengapa semua ini menjadi begitu rumit? Sudah terlambat untuk mengakui kebohongan mereka. Ia tidak mau melihat wajah kecewa seorang ibu.

Terdengar helaan napas di sampingnya. Jiyeon menoleh melihat Kyuhyun sepertinya sudah memutuskan sesuatu.
“Aku memang serius dengan Park Jiyeon.”
Jiyeon tersedak mendengarnya. Apa yang dikatakan Kyuhyun? Cho Hanna tampak senang. “Tapi aku tidak ingin Ibu ikut campur dalam hubungan kami. Apa yang akan kami lakukan untuk masa depan semuanya atas keputusan kami.”
“Tentu saja, sayang. Ibu sangat senang mendengarnya.” Cho Hanna begitu gembira dengan keputusan Kyuhyun. “Ibu harus memberitahu Ayahmu.” Wanita itu bangkit. “Oh, selagi Ibu pergi, ajaklah Jiyeon keliling rumah ini.” setelah mengatakan itu Cho Hanna meninggalkan Kyuhyun dan Jiyeon berdua saja.
“Baiklah, ayo. Aku akan memperlihatkanmu rumah ini.” Kyuhyun bangkit. Ia lalu berjalan ke arah yang berlawanan dengan arah ibunya pergi.

“Tunggu!” Jiyeon mengejarnya. Ia perlu penjelasan yang sebenar-benarnya dari pria itu tentang keputusan sepihaknya tadi. Ia berjalan di samping Kyuhyun, agak tergesa karena langkah pria itu benar-benar lebar.
“Apa maksud kata-katamu tadi, aku tidak mengerti. Kenapa kau mengatakan kebohongan pada ibumu. Kau tahu kita hanya—“
“Berpura-pura pacaran, aku tahu.” Kyuhyun memotong. Pria itu terlihat tidak peduli. Astaga, Jiyeon tak habis pikir. Demi Tuhan, dia baru saja memutuskan sesuatu yang bisa mengubah hidup seseorang seratus delapan puluh derajat, mengapa pria ini tenang-tenang saja. Terutama setelah membohongi ibunya sendiri dengan hubungan dan perasaan cinta palsu di antara mereka.

“Kumohon, berhenti sejenak!” Jiyeon menahan tangan Kyuhyun, memaksa pria itu berhenti. Dan mereka pun berhenti tepat ketika mereka berada di lorong panjang dengan jendela berderet di sisi dan dinding kosong di sisi lainnya. Tidak ada seseorang pun di sana selain mereka sehingga tidak akan ada yang melihat maupun mendengar apa yang mereka bicarakan.

“Kau tidak sadar sudah mengatakan apa pada ibumu?” Jiyeon berseru kesal. “Kau baru saja berkata bahwa kau memutuskan untuk berkomitmen denganku. DENGANKU.” Tegasnya. “Bagaimana hal itu akan terjadi? Hubungan kita hanya pura-pura dan kau..” Jiyeon berhenti, ragu mengatakannya. “Kau tidak mencintaiku!” kepalanya langsung tertunduk. Rasanya sakit sekali mengatakan hal itu. “Kau tidak bisa menikahi seseorang yang tidak kau cintai.”

“Mengapa aku tidak bisa melakukannya?” tanya Kyuhyun datar. Jiyeon mendongak menatapnya. Terkejut dengan pertanyaan itu. Kyuhyun membuang pandangannya ke luar jendela. “Menikah karena cinta hanya akan melemahkan seorang pria. Karena cintanya kepada wanita yang dinikahinya, dia rela melakukan apapun meskipun pada akhirnya tersakiti karena wanita yang dipilihnya mengkhianatinya. Terima kasih, aku tidak mau menjalin hubungan seperti itu.”

Jiyeon mengerjapkan mata beberapa kali. Dari cara Kyuhyun berbicara, ia tahu Kyuhyun masih merasakan sakit karena cintanya untuk Tiffany berakhir disebabkan pengkhianatan gadis itu. Matanya pedih secara tiba-tiba. Kyuhyun tidak boleh berkata seperti itu. Jika dia memilih menikahi gadis yang tidak dicintainya, dia akan menghabiskan seluruh hidupnya dalam penyesalan.

“Lagipula, jika aku tidak memilih wanitaku sendiri, sebagai Pewaris Cho Group cepat atau lambat aku akan menikah dengan wanita yang dipilihkan orang tuaku. Hidup bersama wanita yang tidak kukenal lebih buruk daripada hidup bersama wanita yang kukenal namun tidak kucintai.”

“Karena itu kau mengatakannya kepada ibumu? Mengatakan kau memilihku sebagai kekasihmu karena kau serius terhadapku?” Jiyeon merasa hatinya sakit sekali. “Keputusan itu akan menyiksa dirimu sendiri. Kau akan menyiksa kita berdua jika ini dilanjutkan. Lebih baik kita mengatakan hal sejujurnya saja kepada ibumu. Sekarang belum terlambat. Dengan begitu kau bisa memilih seseorang yang kau sukai, seseorang yang lebih baik untuk menjadi kekasihmu.”

Kyuhyun menatapnya datar, “Bagiku tidak masalah. Bukankah kau menyukaiku? Itu lebih dari cukup.”

Jiyeon membuka mulut lalu menutupnya kembali dengan cepat setelah ia sadar tidak memiliki kata-kata apapun untuk membalasnya. Kyuhyun memang benar. Ia pernah mengatakannya dengan gamblang beberapa waktu yang lalu. Ia menaut-nautkan jari-jarinya dengan gugup.

“Tapi—“
“Ayo kita lanjutkan tur ini. Sebentar lagi ibuku pasti mencari kita untuk makan malam.” sela Kyuhyun. Pria itu tidak memedulikan ekspresi Jiyeon, melengos pergi mendahuluinya.

—o0o—

Jiyeon tetap merasa gugup saat makan bersama Kyuhyun dan ibunya. Wanita itu mengajukan banyak pertanyaan kepadanya. Ia menjawabnya dengan senang hati. Saat menatap ke depan ke arah jendela besar yang dibiarkan terbuka tanpa penutup, ia baru menyadari jendela itu menampilkan pemandangan kolam yang luas dan indah. Meski hari sudah gelap, ia masih bisa melihat kilau airnya dengan jelas karena di sekeliling kolam itu diterangi oleh tiang lampu.
Daebak, kau benar-benar memiliki kolam seluas dua kali lapangan basket.” Jiyeon sadar seruannya terlalu kencang karena Cho Hanna dan Kyuhyun menoleh padanya.
“Ya.” Kyuhyun berkata santai, “Di sana benar-benar ada ikan Arapaima Gigas sepanjang 2 meter, jika kau ingin melihatnya.”
“Oh, kau suka memelihara ikan?” seru ibunya. “Di restoran—“
“Ibu, aku sudah membawanya ke sana. Dan Ya, dia melihat ikan itu di sana. Jiyeon juga memeliharanya di rumah.” Jawab Kyuhyun lebih dulu. Ia tidak mau ibunya menanyakan hal-hal aneh pada Jiyeon lagi.

Cho Hanna langsung mengabaikan kata-kata anaknya, ia memandang gadis yang duduk di sebelah Kyuhyun, “Benarkah?” tanyanya pada Jiyeon.
“Ya. Kakakku penggemar ikan hias.” Jiyeon senang sekali menjelaskannya. Ia tidak tahu jika keluarganya dan keluarga Kyuhyun memiliki kesamaan hobi. Cho Hanna mengangguk. Mereka berbincang banyak seputar itu. Pembicaraan beralih kepada topik seputar kuliner dan restoran yang dikelola Ibu Kyuhyun.
“Apa, kau bisa memasak?” seru Cho Hanna senang.
“Ya, masakannya enak sekali. Aku pernah memakannya sekali ketika berkujung ke rumahnya.” sahut Kyuhyun.

Jiyeon merona ketika Cho Hanna menatapnya dengan raut penuh kekaguman. “Kyuhyun-ah, kau benar-benar pintar memilih calon istri. Ibu selalu ingin memiliki menantu wanita yang bisa memasak. Eomma bisa mewariskan bisnis restoran Ibu padanya. Ahra tidak mungkin mau mengelola restoran itu, dia terlalu sibuk dengan agensi binaannya.”
“Nyonya Cho—“ Jiyeon salah tingkah dengan keputusan wanita itu.
“Panggil aku Eomma, sayang. Kau adalah calon menantuku. Panggilan itu terlalu formal.”
Pipi Jiyeon memerah. Ia memandang Cho Hanna selama beberapa saat dengan perasaan terharu. Tiba-tiba ia merindukan ibunya.

Ketika acara makan itu selesai, Jiyeon langsung berpamitan karena kakaknya yang overprotektif menelepon dan menyuruhnya pulang. Kyuhyun mengantarnya pulang—tentu saja. Ia tidak tahu halte bus terdekat ada di mana.
“Maaf jika kata-kata ibuku ada yang menyinggungmu.” Ucap Kyuhyun ketika Jiyeon sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Jiyeon menggeleng pelan. Bibirnya tersenyum.
“Hari ini sangat menyenangkan. Siapa yang menyangka ibumu ternyata sangat ramah. Terima kasih sudah mengajakku berkunjung.” Jiyeon meremas-remas tangannya karena tiba-tiba ia ingin menanyakan sesuatu.
“Apa?” Kyuhyun mengeryitkan kening.
“Apa kau benar-benar berniat melanjutkan kebohongan ini?” Jiyeon menatapnya dengan raut memelas.
“Harus bagaimana lagi?”
“Tapi kau tidak menyukaiku.”
Kyuhyun mendengus. “Kau pikir aku mengatakan semua itu pada ibuku karena aku tidak menyukaimu sama sekali?”

Apa? Jiyeon tersentak.

“Apa?”

“Sudah malam, aku harus pulang.” Kyuhyun segera masuk ke dalam mobilnya.
“Tunggu dulu.” Jiyeon berusaha mencegah Kyuhyu pergi namun mobil Kyuhyun melaju lebih cepat meninggalkan rumahnya. Ia tercengang menatap mobil itu. Jantungnya berdebar kencang.

Jika ia tidak salah dengar Kyuhyun berkata bahwa pria itu menyukainya?

—o0o—

Sudah beberapa hari ini Suzy tidak melihat Kim Kibum. Pria itu biasanya tiba-tiba muncul untuk mengganggunya sampai ia bosan dan jengah. Kemana perginya pria itu?
“Tunggu,” langkah Suzy terhenti. Ia memiringkan kepala dengan dahi mengeryit bingung, “Kenapa aku memikirkan pria itu? Jinjja, ini tidak benar. Lupakan!” ia segera memukul kepalanya. Panik menyadari perasaan aneh yang mendadak mengganggunya. Apa pedulinya jika Kibum tidak mengganggunya lagi. Bukankah itu berita bagus. Hidupnya akan tenang. Ia melirik kawasan Platinum yang sedang dilintasinya. “Aku kemari bukan untuk mencari pria itu. Aku kemari untuk mencari Yoona!” tegasnya pada diri sendiri. Ia ingin mengajak gadis itu pergi sore nanti. Ponselnya tidak aktif ketika ia menghubungi gadis itu.

“Yoona tidak ada di sini.” Ucap Kim Junsu. Suzy menatap sang ketua kelas Platinum itu dengan heran. Nada suaranya tidak seangkuh dulu lagi. Ia juga baru menyadari murid-murid kelas platinum tidak menatapnya sinis seperti dahulu. Mereka bersikap biasanya saja—bahkan nyaris tidak peduli. Mungkin insiden Yoona memberikan dampak positif bagi orang-orang dari kelas Platinum. Ia sudah mendengarnya dari Soyu bahwa pihak sekolah memperingatkan murid-murid yang berada di kelas Platinum agar tidak berbuat ulah lagi.

“Oh ya?” jika Yoona tidak ada di kelasnya, berarti gadis itu berada di Green House. Tetapi bukannya segera berbalik pergi, ia justru menyempatkan diri melongok ke dalam kelas, mencari sesuatu.
“Apa? Yoona benar-benar tidak ada di dalam!” sewot Junsu karena sepertinya Suzy tidak percaya. Gadis itu langsung mendelik tajam.
Arraseo! Kau tidak perlu membentakku!” ia lalu melengos pergi. Langkahnya dipercepat. Apa yang ia lakukan tadi? Mencari Kibum di kelasnya? Tidak mungkin. Hanya ada alasan di dunia ini mengapa ia menginjakkan diri di tempat itu. Pertama karena Yoona, dan yang kedua karena Donghae. Tidak ada alasan selain itu.

Sementara itu di Green House yang tenang, Yoona asyik menyiram bunga-bunga yang dirawatnya dengan penuh perhatian. Ia ingat belum memberikan pot-pot bunga itu pupuk. Ia mematikan selang air lalu pergi mengambilnya. Pupuk dan perlengkapan untuk berkebun lainnya tersimpan di gudang yang letaknya tak jauh dari ruang kesenian. Ia melintasi tempat itu, tempat Donghae biasa tertidur di bawah salah satu pohon di taman belakang ruang kesenian. Tentu saja ia tidak tahu. Karena itu Yoona terkejut saat menemukan sang pangeran tidur sedang terlelap dengan punggung bersandar pada batang pohon.

“Dia tertidur?” Yoona heran. Ia menghampirinya. Melihat kondisi Donghae tertidur dengan damainya, ia tersenyum. Dia terlihat sangat manis. Ada selembar daun kering di kepalanya. Yoona mengulurkan tangan untuk menyingkirkan daun itu dari kepalanya. Namun saat tangannya mendekati wajah Donghae, tangan pria itu bergerak dengan sangat cepat memegang tangannya. Mencegahnya melakukan apapun terhadap kepalanya. Yoona terperanjat kaget.

“Terlalu cepat 100 tahun jika kau ingin menjahiliku ketika tidur.” gumam pria itu dengan mata yang masih tertutup. Yoona gelagapan. Ia bingung harus menjawab bagaimana. Saat Donghae membuka mata, keduanya terpaku. Sama-sama terkejut sekaligus salah tingkah karena terjebak dalam situasi yang sangat aneh. Donghae tidak pernah mengira tangan yang dipegangnya adalah tangan milik Yoona. Matanya membulat kaget.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Donghae segera melepaskan pegangannya. Yoona yang gugup berdiri tegak lalu mundur selangkah untuk menghindari udara di antara mereka yang mendadak menjadi lebih panas.
“Aku hanya kebetulan melintas untuk mengambil pupuk yang di simpan di gudang.” Yoona menunjuk ke suatu arah di dekat ruang kesenian.

Donghae mengangguk lalu bergegas bangkit. Mereka diam selama beberapa saat karena sama-sama tidak tahu apa yang harus dikatakan.

“Jadi, kau sering tertidur di sini?” Yoona melirik tempat di sekitarnya. “Tempat ini memang indah. Aku baru mengetahuinya.”
“Ya. Terkadang aku melakukannya jika sedang lelah.” Donghae memijat pundaknya. Tertidur dalam posisi duduk membuat punggung dan pundaknya kaku.
“Aku mengerti. Tugas sekolah akhir-akhir ini memang bertambah banyak ditambah kau harus latihan basket lebih intens karena akan ada turnamen.” Yoona menyimpulkan sendiri. Menjelang akhir tahun ajaran baru, guru-guru di sekolah memberi mereka banyak sekali tugas, hapalan, dan ujian.

Donghae hanya tersenyum sebagai jawaban. Ia tidak bisa berkata bahwa sebenarnya kelelahan itu disebabkan oleh dirinya yang bekerja paruh waktu di supermarket yang dikelola pamannya. Selama tinggal di rumah pamannya, ia tidak mungkin membebani pamannya yang baik itu soal biaya hidupnya sehari-hari. Karena itu ia bekerja. Sudah lama ia tidak meminta orangtuanya mengirimi biaya hidupnya. Mereka tidak akan melakukannya sejak ia memutuskan tidak tinggal bersama orangtuanya lagi.

Mereka tidak tahu, bahkan tidak menyadari sama sekali bahwa sejak tadi Suzy menyaksikan seluruh adegan itu. Hatinya sesak seperti berada di dalam air terlalu lama. Melihat Donghae dan Yoona berinteraksi, begitu akrab membuat matanya seolah tertusuk ribuan jarum. Ia tidak pernah melihat Donghae tersenyum seperti cara pria itu tersenyum pada Yoona. Donghae memperlihatkan senyum yang tidak pernah diperlihatkan pria itu pada siapapun, termasuk dirinya.

Suzy merasakan sesuatu terjadi di antara mereka. Namun ia tidak bisa marah pada Yoona seperti ia bisa marah pada wanita lain yang mencoba menarik perhatian Donghae. Ia justru sangat memaklumi jika Donghae memang tertarik pada Yoona, gadis itu jauh lebih cantik dan baik dari dirinya. Airmata membobol pertahanannya. Suzy berbalik pergi dengan wajah berderai airmata. Ia harus pergi ke suatu tempat di mana tidak ada seorang pun yang akan menyaksikan dirinya menangis dan ia tahu di mana tempat itu. Atap sekolah menjadi tempat lain yang sepi dari murid-murid Royal President selain Green House dan halaman belakang ruang kesenian.

Jalan tidak diperhatikannya selama Suzy berlari menuju atap sekolah. Tanpa disengaja ia menabrak pundak seseorang.
“Maaf.” Ucap Suzy tanpa memandangnya. Ketika ia berbalik meninggalkan orang yang disenggolnya, tangannya dicekal.
“Tunggu.”
Suzy merasa bulu romanya berdiri mendengar suara khas yang dikenalinya dengan baik. Menoleh dengan hati-hati melalui pundaknya, jantungnya seperti melompat ke tenggorokannya.

Kim Kibum berdiri di belakangnya dengan kening mengerut khawatir. Kedua mata pria itu melebar saat menyadari ada airmata di wajahnya.

“Ya Tuhan, kau menangis..” Kibum berseru panik. Ia melirik kiri kanan untuk memastikan tidak ada orang yang melihat kepanikannya lalu kembali menatap Suzy.
“Apa yang terjadi?” tanyanya cemas. Ia mencari-cari sesuatu untuk mengelap airmata Suzy di dalam saku celana dan jas seragamnya dan kepanikannya bertambah ketika ia tidak menemukan saputangan, tissue, atau apapun di salah satu sakunya.
“Lepaskan!” Suzy menarik tangannya lalu berbalik pergi. Sekarang bukan waktunya meladeni reaksi aneh pria ini. Ia ingin menangis. Sendirian.
“Bae Suzy, wait!” Kibum mengejar Suzy yang berlari cepat menaiki setiap anak tangga. Dari arahnya Kibum bisa menebak tujuannya. Gadis itu menuju atap sekolah.

Tiba di atap sekolah, Suzy berlari ke tepi dan menyandarkan kepalanya pada pagar kawat lalu menangis sepuasnya di sana. Hatinya pernah terluka melihat Donghae bersama Jessica, namun sekarang terasa dua kali lebih menyakitkan ketika melihat kebersamaan pria itu dengan sahabat terdekatnya. Meskipun ia tahu belum tentu terjadi sesuatu di antara Yoona dan Donghae, namun ia tidak suka jika itu benar terjadi. Ia tidak rela.

“Suzy.” Kibum tiba di sana. Langkahnya melambat ketika ia mendengar isak tangis gadis itu. Suzy memukul-mukul pagar kawat pembatas setinggi 2 meter. Mendengar suara tangisannya, dada Kibum terasa perih. Tenggorokannya tercekat. Tak perlu bertanya untuk mengetahui apa yang membuat gadis itu menangis seperti ini. Tentu saja, satu-satunya alasan pasti karena Lee Donghae—sahabatnya sendiri.

Ini kedua kalinya ia melihat Suzy menangis karena Donghae.

Anginnya yang menyapu wajahnya dengan lembut membuat Suzy sadar. Sekencang apapun ia menangis, Donghae tidak akan langsung jatuh cinta padanya. Ia lekas menghapus airmata di pipinya. Menoleh ke samping, ia menemukan Kim Kibum berdiri di sampingnya. Pria itu tidak mengatakan apapun, hanya menatapnya dengan punggung bersandar pada pagar kawat.

Tiba-tiba Suzy merasa wajahnya seperti terbakar sinar matahari. Ia memalingkan wajahnya dengan panik. “Apa yang kau lakukan di sini? Ingin menertawakanku?” kenapa ia merasa gugup?
“Tidak.” Kibum tersenyum. Tangannya mengepal erat. Sebenarnya ia ingin sekali menarik Suzy ke pelukan demi menenangkan gadis itu, membisikkanya kata-kata penyemangat dan membuatnya tersenyum lagi. Namun ia menahannya. Ia tidak ingin membuat Suzy berpikir dirinya hanya memanfaatkan kesempatan. “Kenapa menyembunyikan wajahmu? Aku tahu kenapa kau menangis. Tak perlu sungkan.”
Suzy tercengang untuk beberapa saat, “Aku tidak ingin kau panik melihatku menangis.” dengusnya. Ia tidak suka Kibum mengetahui alasan dirinya menangis. Lagipula kenapa selalu Kim Kibum yang menemukan dirinya di saat paling menyedihkan?

Jinjja, kau manis sekali.” Kibum mencubit pipinya dengan gemas. “Kau tidak perlu menahan diri demi diriku. Jika kau masih ingin menangis, menangis saja. Aku berjanji tidak akan lari kalang kabut.”

Wajah ceria, senyum tulusnya, entah mengapa membuat Suzy ingin menangis kembali. Kekesalannya perlahan memudar. “Sungguh?” tanyanya muram, “Aku boleh menangis lagi?”
Senyum Kibum hilang melihat mata Suzy berkaca-kaca. Sedetik kemudian gadis itu kembali menangis. Kibum yang sudah berjanji tidak akan panik pun mengingkari janjinya.

Aigoo…”

—o0o—

Niat Suzy untuk mengajak Yoona dan Jiyeon pergi setelah pulang sekolah batal karena moodnya hancur. Ia hanya ingin pulang dan menenangkan diri. Ia masih terkejut dengan momen Donghae dan Yoona. Ia sudah lelah menangis selama sisa jam istirahat tadi ditemani Kibum. Pria itu menghilang selama beberapa saat dan kembali lagi membawa sebuah saputangan dan jus untuknya.

Suzy merenung, apa sebaiknya ia melupakan Donghae saja? Ia tidak akan memiliki kesempatan disukai oleh pria itu. Kibum selalu berkata bahwa ia bukanlah tipikal gadis yang akan disukai Donghae.

“Kau masih bersedih?”

“Kyaaaa—“

“Auch!”

Kibum terkapar di tanah setelah menerima pukulan mentah dari Suzy. Ketika sedang melamun, pria itu mendadak saja muncul mengagetkannya. Jelas saja Suzy panik dan refleks melayangkan tangannya ke arah pipi pria itu. Kini Kibum tercengang di atas tanah dalam posisi terduduk.

“Ya! Kau benar-benar gadis yang tidak manis!” bentak pria itu kesal. Padahal ia sudah belajar pertahanan diri dari Yoona, tetapi tetap saja ia tidak bisa menangkis serangan tiba-tiba seperti itu. Mungkin karena ia terpukau oleh pesona gadis itu. “Sebagai seorang gadis seharusnya kau terpesona melihat pria setampan diriku muncul di hadapanmu!”

“Siapa suruh kau muncul tiba-tiba di depanku!” Suzy membela diri. Ia menatap horor Kibum beranjak dari posisinya. Ia siap melawan seandainya pria itu ingin melakukan sesuatu padanya.

“Aku Aku sudah memanggilmu tetapi kau tidak menjawab.” Kibum menepuk-nepuk debu yang menempel di baju seragamnya. “Hei, kau masih sedih?” tanyanya melihat wajah murung Suzy.

“Sudah kubilang ini bukan urusanmu!” Suzy melengos melewati Kibum

Astaga, gadis ini. Kibum menatap Suzy gemas lalu menyusulnya. “Sekarang apa yang dilakukan Lee Donghae sampai membuatmu sedih seperti ini.”

Suzy berhenti mendadak lalu mendelik tajam, “Ini bukan karena Lee Donghae.”
“Oh ayolah, kau tidak bisa membohongiku.” Kibum memutar bola mata. “Kau menangis histeris ketika melihat Donghae bersama Jessica beberapa waktu lalu. Tak bisa dipungkiri sekarang pun karena alasan yang sama.”

Perasaan aneh berdesir di hatinya mendengar ucapan Kibum. Ia menatap pria itu. Kibum selalu mengerti dirinya, bisa membaca apa yang dipikirkan dan ia rasakan dengan baik. Ia menunduk sejenak, menarik napas panjang lalu menatap Kibum kembali.

“Yeah, you’re right. As always.” Suzy berkata pelan. Kibum menyesal sudah berkata macam-macam karena pada kenyataannya ia tidak mau mendengar narasi gadis itu tentang kisah cintanya.
“Aku melihat Donghae dan Yoona bersama. Mereka terlihat, yeah—akrab. Tapi tidak masalah jika mereka diam-diam menjalin hubungan. Aku mengerti. Mereka serasi satu sama lain.” Jelas Suzy tanpa memandang Kibum.

“Mereka hanya bersama.” Kibum hanya bisa mengatakan itu. “Seharusnya kau menanyakan hal itu pada Yoona. Kau tidak boleh menyimpulkan sendiri hanya karena melihat mereka bersama-sama.”atau aku saja yang bertanya pada Yoona?
“Tapi aku tidak pernah melihat Donghae tersenyum setulus itu. Dia hanya memperlihatkannya pada Yoona.”
“Yeah, tapi itu tidak menjamin mereka menjalin hubungan. Mereka memang dekat akhir-akhir ini. Terutama setelah Donghae membawa Yoona yang pingsan ke rumah sakit.”

Suzy merenung. Apa yang Kibum katakan memang ada benarnya. Ia menyimpulkan begitu saja tanpa memastikan lebih dulu. Paling tidak ia harus bertanya pada Yoona. Tetapi mengapa hati kecilnya begitu yakin ada sesuatu di antara Yoona dan Donghae? Lagipula Donghae tidak pernah memandangnya. Pria itu memperlakukannya hanya sebatas sebagai teman.

“Mungkin kau benar.” Suzy menghela napas. Kibum tersenyum senang. “Aku bukanlah gadis yang akan membuat Donghae jatuh cinta.”

Kibum tidak suka melihat kesedihan muncul di wajah Suzy. Mengapa bukan dirinya saja yang dikagumi gadis ini. Ia berjanji tidak akan membuatnya sedih.

“Hei, aku tahu pria yang sangat cocok untukmu.” Seru Kibum. Suzy menoleh dengan alis terangkat sebelah.
“Siapa?”

Kibum menyeringai lebar, “Aku.” ia menunjuk dirinya sendiri dengan bangga.

“HHAAH—“ Suzy melengos malas. Ia memutar bola mata lalu pergi. Menyesal ia sudah mendengarkan Kibum.

“Aku heran mengapa dia tidak terpesona padaku.” Kibum berdialog sendiri. Ia lalu menyusul Suzy. “Ya! Aku tidak mengerti mengapa kau tidak suka padaku. Aku sudah mencoba menjadi seseorang yang tidak menyebalkan untukmu. Kau benar-benar membuatku bingung.” ia terus mengoceh tanpa disadari ucapannya tidak dihiraukan oleh Suzy.

“Hanya ada dua orang di dunia ini yang tidak bisa kurayu agar menyukaiku. Yang pertama adalah kakakku dan yang kedua adalah KAU!”

Suzy berhenti berjalan mendengar seruan Kibum. Berbalik menghadapnya lalu tertawa geli sampai airmatanya keluar. Ia tidak menyangka Kibum bisa melontarkan lelucon selucu ini. “Kau benar-benar menggelikan. Apa kau begitu menderita karena tidak berhasil membuat para wanita menyukaimu? Dengar, tidak semua gadis suka apa yang kau lakukan. Karena itu jangan pernah samakan aku dengan gadis-gadis yang selalu menjerit histeris saat melihatmu.” ia mengelap airmatanya.

Kibum mendesah. Suzy boleh saja mengira ucapannya tidak serius. Tapi ia tidak sedang bercanda sama sekali. Ia serius. Merasa luar biasa frustasi karena usahanya untuk mengesankan Suzy selalu gagal. Ia tidak mengerti mengapa Suzy tidak memahami perasaannya.

Menyadari Kibum tidak bereaksi dengan gurauannya, Suzy berhenti tertawa. Ia tidak menyangka Kibum serius dengan kata-katanya. “Kau serius?” tanyanya pelan.

“Kau pikir aku bercanda?” Kibum melayangkan pandangan serius. “Ini tidak lucu Bae Suzy. Aku benar-benar ingin membuatmu terkesan.”

“Kenapa?”

Kibum benar-benar kewalahan menghadapi Suzy. Gadis ini antara polos dan tidak peka. Atau mungkin keduanya. “Tidakkah kau hanya memberiku kesempatan tanpa bertanya kenapa aku ingin membuatmu terkesan?”

Suzy terkejut dengan ekspresi Kibum. “Kesempatan apa?” suaranya gamang. Ia tidak berani mendengar apa yang akan Kibum katakan.

“Membuka hatimu untukku.” Kibum menatapnya lurus, dalam, dan jujur. Suzy melongo. Apa ini pernyataan cinta? “Apa hatimu hanya kau tujukan untuk Lee Donghae?” nada suaranya semakin memelas dan lirih.

Mulut Suzy seperti terkunci. Ia tidak bisa berkomentar apa-apa. Ia menatap Kibum dengan bingung. Ia tidak yakin apakah Kibum sungguh-sungguh mengatakannya atau ini hanyalah bagian dari taktik merayunya.

~~~TBC~~~

244 thoughts on “School in Love [Chapter 19]

  1. woohoo.. Ada couple suzy-kibum lagi, itu kibum beneran lagi nembak suzy? Udh, terima aja, kasih kesempatan dia.. #bisikansesat semangat ya buat next chapternya, jangan lama lama🙂

  2. Waaa…Kibum bneran ska dgn suzy??suzy harus kasih
    kesempatan sama kibum.
    Jiyeon udah mendapat
    restu dari ibunya Kyu, tinggal
    Kyu aja nih yg harus
    mengungkapkan kalo dia
    juga suka Jiyeon.
    kayanya donghae suka sama yoona deh

  3. udhlah suzy eonni trima aja kibum oppa nya kasian tuh, smpek kyak gtu… ㅋㅋㅋㅋ
    cie kyuppa udh direstuin cie…
    eonni fighting keep writing. ditunggu part selanjutnya..

  4. Suka momen suzy-kibum
    Apakah kibum menyatakan cinta ke suzy? Hihihi
    Kykx suzy mulai suka sm kibum deh
    Td perkataan kyuhyun ambigu bngt
    Aku bnr2 menunggu momen2 romantis mereka eon

  5. Hua~ aku selalu di buat penasaran sma author ff ini…
    Kyu kya.a emg udah ada sedikit perasaan sma jiyeon dh.
    Makin gemez ajj sma ff ini…
    Aigoo~
    aku suka+setuju bgt klo d ff ini pasangan.a
    suzy + kibum
    jiyeon + kyuhyun
    yoona + donghae
    aq suka klo baca scene pasangan aneh ini maksud.a bagian Jiyeon + kyuhyun.
    Aq juga suka klo baca scene pasangan unik maksud.a suzy + kibum mereka terlihat konyol bersama. Aq mendukung 2 pasangan ini hhe😀

    ok selesai sudah, maaf coment q kepanjangan.

    Eonni Hwaiting ne !!!
    Next part aq tunggu….

  6. akankah Ki Bum shick setelah mengetahui ternyata yeoja yang membuatnya histeris melihat gadis menangis ialah Jiyeon? hayooh hayoohh akankah Ki Bum kekeuh menyukai Suzy? nan molla… wkwkwkwk
    aseli ini aku sok tahu banget

  7. eonni ditunggu next part, uda kangen kali ni, penasaran bgt sma critanya
    love with ki_zy couple🙂, mga reaksi suzy nnti gak mengecewakan buat kibum🙂

  8. Aaaaa…. kibum…. akhirnya….. Gemes juga nih ama Suzy, bener bgt tuh eon, Suzy sangat amat tdk peka.. Oke wktnya pndah ke next chap. Psti bklan greget bgt ini. Hihi

  9. OMG!!! Kibum sungguh aku terkesan padamuuuu~ hahaha i heart you waks~ haha
    ugh! kyuhyun gak bisa ditebak, mungkin ia ada perhatian pada jiyeon tapi menyangkut hati hal ini tidak mudah..
    tapi sungguh ucapan kyuhyun sewaktu dilorong itu.. dalam dan menyakitkan sebenarnya.. kasihan jiyeon..

  10. Aku senyam senyum sndri pas part kyu jiyeon.pdhal part sblm’a aku ga dpt feel ama mrka,author’a emang daebak bs mmbuat prsaan readers brblik 180 drjat.klo suzy kibum sll bkin ktwa,ok lah fix ak sk smua couple’a.jempol deh bwt neng Dha

  11. Kyaaaaaa~~ Gregett sama suzy!!
    ayolah peka dong, seorang playboy. mencintai wanita dgn tulus hihihi meng-gembirakan bgt ini!! couple ter aneh bumzy

  12. sepertinya kibum udah ga playboy lagi sejak bersama suzy
    pengennya kyuhyun-suzy couple😁

    ah sudahlah😌
    lanjut bacaaaaa🆗👌

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s