Crazy Because of You [Chapter 3]

I Married the Bad Boy Other Story

Tittle : Crazy Because of You Chapter 3
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance

Main Cast :
Lee Donghae | Min Sora

Dha’s Speech :
Maaf jika di tengah cerita ada typo. Kalau tidak suka dengan jalan ceritanya jangan ngerusuh ya. Lebih baik menjadi silent reader atau cukup tekan tombol back ^_^

Happy Reading ^_^

Crazy Because of You by Dha Khanzaki4

=====o0o=====

CHAPTER 3
Please, Say You Love Me

IGAUAN Sora membuat Donghae merenung sepanjang sisa perjalanan. Malam itu Donghae memutuskan membawa Sora pulang ke apartemennya. Jarak ke sana lebih singkat daripada ke apartemen Sora. Ini mungkin tindakan gila karena ia tidak pernah membawa satu wanita pun ke apartemennya selain ibu dan kakak perempuannya. Tetapi ia tidak peduli. Pikirannya sedang kacau karena kalimat yang dilontarkan Sora di sela tidurnya.

Kau adalah pria brengsek. Aku membencimu.

Apa itu adalah isi hati Sora yang sebenarnya? Apa itu hasil penilaian Sora selama ini terhadap dirinya?

Begitu tiba apartemennya, Donghae memapahnya masuk. Gadis itu masih sesekali bergumam sesuatu yang tidak jelas.

“Ah, kau benar-benar.” ia mendesah. Sora tiba-tiba mengejutkannya dengan menggeliat. Wajahnya memucat dan dia menutup mulutnya seperti ingin muntah.

“To-toilet..” ucap Sora lirih dengan mata masih menutup. Donghae yang paham segera memapahnya menuju kamar mandi. Ketika baru tiba di pintu kamar mandi, Sora menggeliat dari pelukannya lalu masuk terburu-buru, sedikit terhuyung-huyung. Gadis itu membuka tutup kloset dengan cepat lalu memuntahkan isi perutnya seperti banjir bandang ke dalam kloset.

Donghae tidak tega melihatnya. Ia mendekati Sora yang terduduk lemas di sisi kloset setelah mengosongkan lambungnya. Gadis itu memejamkan mata, terlelap kembali karena kehabisan tenaga. Ia mengurut tengkuk gadis itu dengan lembut untuk membuatnya lebih baik sambil mengeryitkan hidungnya karena baju bagian depan Sora kotor oleh cairan berbau alkohol. Setelah menyiram kloset hingga bersih, ia terpaksa melepaskan baju Sora dan membiarkan bra serta celana dalamnya tetap terpasang. Gadis ini tidak mungkin tidur dengan baju kotor. Ia membawa Sora ke kamarnya.

Dibaringkannya tubuh Sora yang lemas di atas tempat tidurnya. Ia merasa kasihan melihat Sora meringkuk kedinginan meskipun sudah diselubungi selimut. Ia mengambil kemeja panjangnya lalu memakaikannya pada Sora. Gadis itu baru bisa tidur dengan nyaman. Setelah mengurus pakaian kotor Sora dan membersihkan diri, Donghae bergabung dengan Sora di tempat tidurnya. Ia membiarkan dirinya memandangi Sora hingga puas. Meskipun dalam keadaan kelelahan karena mabuk, rambut berantakan, dan wajah letih Sora tetap cantik. Bibir merahnya sedikit terbuka, seperti memanggilnya untuk mengecup daerah itu. Donghae memejamkan mata. Ia tidak boleh tergoda. Ia harus menahan kuat-kuat keinginannya untuk menyentuhkan tangannya di seluruh tubuh Sora karena ia tidak mau menjadi seseorang yang benar-benar kurang ajar. Akhirnya ia memilih merapikan anak-anak rambut yang jatuh menutupi wajah Sora saja.

“Kau tahu, aku mungkin memang pria brengsek tetapi aku tidak akan menyakitimu. Aku memang suka merayu, tetapi asal kau tahu aku hanya melakukannya pada satu orang di dunia ini, yaitu dirimu.” Bisiknya lembut. Oh andai ia bisa mengatakannya di saat Sora terjaga, mungkin ia bisa menghapuskan perasaan ragu dalam hati gadis ini. Atau paling tidak ia berharap Sora mendengarnya.

Gadis ini tidak boleh dimiliki pria manapun selain dirinya. Donghae menggeram. Ucapan pria bernama Kim Soohyun sungguh mengusiknya. Ia penasaran apa yang Sora ceritakan pada pria itu sehingga Soohyun menyimpulkan bahwa dirinya adalah seorang brengsek.

“Aku tidak akan menyerahkanmu pada siapapun, Min Sora. Lihat saja, aku akan membuatmu menjadi milikku, secepatnya.” Ia mengusap pipi lembutnya, gadis itu menggeliat. Donghae memeluk tubuh Sora yang terasa sangat pas dalam pelukannya lalu ikut tertidur bersamanya.

—o0o—

Suara detak jarum jam membangunkan Sora pagi itu. Ia menguap lalu mendudukkan dirinya di atas tempat tidur yang sangat nyaman. Ia belum menyadari di mana dirinya berada, bahkan kondisi dirinya saat ini. Hal pertama yang ia inginkan adalah makan. Perutnya keroncongan dan ia ingat terakhir kali ia makan adalah tadi malam. Ia pergi keluar untuk makan malam bersama Soohyun, bercerita panjang lebar lalu mabuk.

Tunggu!

Sora tercengang. Kedua matanya membelalak lebar. Semalam? Dan sekarang bukanlah ‘semalam’ karena hari sudah terang benderang. Detik itulah ia sadar hari sudah berganti dan tempatnya berada bukan di kedai pinggir jalan lagi melainkan kamar asing yang tidak ia kenali. Ia melirik kondisi tubuhnya yang hanya terbalut bra dan celana dalam yang tertutup kemeja kebesaran.

“Ahh—“ Napasnya tercekat. Refleks ia menarik selimut menutupi tubuhnya. Astaga, ia tidak ingat apa yang terjadi setelah ia mabuk. Di mana ini dan siapa pemilik kamar ini? Namun pertanyaan terbesarnya adalah, apa sesuatu sudah terjadi selama ia tidak sadarkan diri? Dilihat dari kondisinya mungkin saja memang terjadi sesuatu.

Orang yang terakhir kali bersamanya adalah Kim Soohyun. Apa mungkin.. ia langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dan terkesiap ketika menoleh ke samping.

Tubuhnya bergetar karena ia menyadari semalam ia tidak tidur sendiri. Meksipun ia sendirian di atas tempat tidur saat ini, ia yakin tempat di sampingnya telah ditiduri oleh seseorang dilihat dari kondisi bantal yang kusut seperti habis dipakai tidur dan selimut yang tersibak seolah sesorang baru keluar dari balik selimut itu.

Apa aku baru saja ‘tidur’ dengan seseorang? Kim Soohyun? Sora tercekat dengan pikiran itu.

Bersamaan dengan seluruh inderanya yang menajam, ia baru menyadari sejak tadi ada suara gemericik air dari kamar mandi. Seseorang berada di sana! Sora yakin siapapun dia adalah seorang pria, ia menyimpulkan hal itu dari suara dehemannya yang berat dan serak. Ketika suara shower tidak terdengar lagi, seluruh tubuhnya menegang. Kedua tangannya memegang selimut lebih erat lalu menariknya hingga sebatas bahu sebagai perlindungan.

Sora menatap pintu kamar mandi seperti menatap rumah hantu. Ia tegang sekaligus takut. Siapa dia, apakah benar-benar Kim Soohyun? Napasnya hampir saja terenggut habis ketika ia benar-benar melihat tubuh kekar lelaki keluar dari dalam kamar mandi. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup handuk yang dia gunakan untuk mengeringkan rambut basahnya. Ia langsung menutup matanya rapat-rapat ketika kepala pria itu terangkat ke arahnya.

“Oh, kau sudah bangun.”

Sora terhenyak ketika mengenali suaranya. Ketika kedua matanya terbuka lebar, dugaannya benar. Lee Donghae berdiri di depannya hanya dengan memakai handuk yang melingkari pinggul hingga lututnya. Sora menelan ludah karena ia melihat kembali Lee Donghae dalam kondisi telanjang dada, segar, dan basah oleh air sehabis mandi. Pertama kali ia melihatnya dahulu ketika mereka pergi bersama ke Hawaii. Tetapi bagaimana pun, ia tidak pernah dipersiapkan untuk menyaksikan pemandangan yang terlalu indah sekaligus membuatnya kesulitan bernapas itu. Akhirnya ia memalingkan pandangan tanpa bisa berkata apa-apa.

Terdengar suara tawa geli Donghae yang khas.

“Kau tidak perlu malu. Kelak kau akan melihatku dalam keadaan seperti ini atau mungkin tanpa penutup sama sekali jika kau beruntung.” Ucap pria itu santai sambil berjalan menuju ke arah lemari untuk mengambil baju dan celana.

Kelak? Sora menggeram. Momen apa yang dimaksud Donghae dengan ‘kelak’. Jika yang dimaksud dia adalah mereka berhubungan badan tanpa ikatan yang jelas, itu tidak akan pernah terjadi! Ia langsung membuang jauh-jauh rasa malunya karena tidak ingin ditindas oleh pria itu lebih jauh lagi. Ia menaikkan dagunya.

“Kenapa aku bisa ada di sini dan di mana ini?” Sora kesal, ia lebih memilih bertanya di mana tempatnya berada saat ini. Apa ini adalah salah satu kamar hotel? Tetapi tidak mungkin jika dilihat dari desainnya yang terlalu maskulin dan seperti dirancang khusus sesuai kepribadian pemiliknya. Ini lebih terlihat seperti kamar apartemen.

“Kau berada di apartemenku sayang, semalam teman makan malammu meneleponku dan berkata bahwa kau mabuk. Aku membawamu kemari karena tempat ini lebih dekat atau kau akan muntah di mobilku.” Donghae tidak peduli sama sekali ketika ia menjatuhkan handuk itu lalu memakai boxer briefsnya. Sora seperti mendapat serangan jantung, ia langsung menjerit sambil menutupi wajahnya dengan selimut.

“Kau gila, Lee Donghae! Apa kau tidak memiliki rasa malu sama sekali, kau melepas bajumu di saat ada wanita dalam satu ruangan bersamamu!” pekiknya kesal dari balik selimut.

Donghae tertawa, “Nada suaramu seolah kau tidak pernah melihatku telanjang saja. Kita sudah pernah mandi bersama, ingat.” Ketika Sora menurunkan selimut, Donghae sudah memakai celana dan sedang memasukkan kaus putih melalui kepalanya. Kedua mata pria itu berkilat geli.

Sora mendengus kencang, “Jangan ungkit itu!” memang dulu mereka pernah mandi bersama, tetapi Sora tidak melihat apapun karena Donghae memeluknya dari belakang, sibuk menciumi tengkuknya dan mungkin mereka akan berakhir di tempat tidur jika Jeyoung tidak datang. Ia bersyukur pada Tuhan karena mengirim Jeyoung ke kamarnya saat itu. Donghae lagi-lagi tertawa. Apa kenangan itu lucu? Menurutnya kejadian itu adalah sesuatu yang memalukan.

“Aku ingin pulang,” Sora menyibakkan selimut dan ia mengerjap ketika menyadari kemeja itu hanya menutupi tubuhnya hingga pangkal paha saja. Kakinya yang telanjang terekspos bebas. Mungkin jika ia membungkuk sedikit saja, celana dalam berendanya akan menjadi santapan gratis mata pria kejam di depannya. Ia langsung menutupnya dengan selimut. “Kau kemanakan bajuku! Kenapa kau melepaskan bajuku dan menggantinya dengan kemeja ini?”

“Bajumu kotor oleh muntahanmu. Aku sudah menyerahkan baju itu pada petugas laundry langgananku. Baju ganti untukmu akan diantar satu jam lagi. Kau tunggu saja.” Donghae menjelaskannya dengan sabar. Mendengar hal itu Sora seperti diingatkan tentang waktu.

“Jam berapa sekarang? Aku bisa terlambat datang ke kantor!” Sora histeris, ia mencari-cari jam dan menemukan jam berdiri di atas nakas. Kedua matanya membulat menyadari waktu masuk kerja sudah terlewat satu jam yang lalu. “Sial, aku terlambat!” ia berlari melewati Donghae dengan panik meskipun tidak tahu apa yang harus dilakukan tetapi hal pertama yang harus ia perbuat adalah memeriksa ponselnya.

Donghae yang melihat Sora pontang-panting hanya tersenyum simpul. Gadis itu tidak sadar sama sekali dengan keadaannya, selimut yang tadi ia gunakan untuk menutupi kaki indahnya ditinggalkan begitu saja karena kepanikan.

“Dimana tasku?” Sora berteriak karena ia tidak menemukan tasnya.

“Di atas sofa di ruang tamu.”

Sora langsung berlari ke sana. Donghae ingin mengatakan bahwa Sora tidak perlu cemas karena ia sudah meminta izin pada Kyuhyun bahwa Sora tidak bisa masuk hari ini. Pria itu awalnya bertanya macam-macam ketika ia berkata Sora bersamanya—mungkin karena istrinya mengkhawatirkan Sora—tetapi akhirnya mengerti ketika ia menjelaskan kronologinya.

Donghae menghampiri Sora yang sibuk dengan teleponnya di sofa ruang tamu. Gadis itu terlihat lucu hanya dengan kemeja yang tidak berhasil menutupi pahanya sama sekali. Samar-samar ia bisa melihat celana dalam merah mudanya terselip di antara lipatan pangkal pahanya. Astaga, ini masih pagi Lee Donghae! Ia mengutuk dirinya sendiri karena sudah memperhatikan yang tidak-tidak.

“Apa? Baiklah. Terima kasih.” Sora memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Donghae mengerjapkan mata melihat gadis itu melayangkan tatapan tajam padanya.

“Apa?”

“Karena kau aku tidak bisa masuk kerja hari ini.” gerutu Sora.

“Tidak ada salahnya sesekali bersantai. Kau terlalu banyak bekerja.” ia pun memutuskan untuk tidak masuk kerja hari ini. Donghae berjalan menuju dapurnya, mengeluarkan beberapa bahan makanan dari dalam lemari es untuk sarapan mereka.

Sora mendengus karena kekesalannya diabaikan Donghae. Ia ingin marah namun melihat Donghae sibuk di dapur, kemarahannya teralihkan. Ia tertarik menyaksikan pria itu memasak lebih dekat. Ia bergegas menghampiri Donghae.

“Apa yang sedang kau buat?” tanyanya heran. Donghae melirik Sora yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya. Ia mendesis ketika tatapannya jatuh ke kaki Sora yang telanjang.

“Bisakah kau duduk cantik saja di sana sementara aku membuat sarapan?” ujar Donghae halus sambil menujuk kursi tinggi di meja bar yang menjadi pembatas antara dapur dan ruang makan.

Sora mengerucutkan bibir, “Kenapa? Aku hanya ingin membantumu.” Dengusnya namun tetap menuruti perintah Donghae. Ia duduk di salah satu kursi sambil menatap pria yang sedang sibuk memasak itu.

Donghae tertawa. Ia melanjutkan memotong paprika lalu mencampurkannya dengan adonan yang ada di dalam mangkuk bening. Sora penasaran, pria itu tidak pernah berkata mahir memasak. Tetapi melihat cara Donghae mengolah bahan-bahan itu sepertinya memasak bukanlah hal yang mustahil dilakukannya.

“Aku tidak tahu kau pintar memasak.” Ujar Sora. Donghae mengangkat kepala sejenak dari masakan yang sedang diolahnya di atas wajan lalu tersenyum melihat sora menatapnya serius.

“Aku hanya membuat omelet. Siapapun bisa melakukannya.” Ia mengangkat bahu tak peduli. Bau harum menyebar ke seluruh ruangan, membuat perut Sora berbunyi nyaring. Ia mengusap-usap perutnya, dalam hati membujuk cacing-cacing di perutnya agar bersabar sebentar lagi. Mendadak ia tertegun menyadari sesuatu yang seharusnya ia tanyakan ketika terbangun di atas tempat tidur seorang pria. Ia menatap Donghae yang sedang menuangkan omelet yang sudah matang ke atas piring saji.

Apa harus ia tanyakan? Apa ia akan terlihat konyol jika menanyakannya? Melihat kondisi dirinya sepertinya tidak terjadi apapun. Tetapi Donghae adalah seorang pria. Apapun bisa saja terjadi. Lebih baik tanyakan saja daripada ia mati penasaran.

“Nah, ini sarapanmu Nona Min. Kau tidak keberatan bukan memakan omelet keju sederhana?” Donghae meletakkan satu piring berisi omelet di depan Sora. Gadis itu tidak tersenyum ataupun berkata terima kasih, melainkan menatap Donghae cemas.

Pria itu merasa heran, ia menempatkan dirinya di kursi samping Sora lalu bertanya. “Apa ada yang ingin kau tanyakan?”

Sora menelan ludahnya sebelum bertanya. Ia takut mendengar jawaban Donghae. Namun sebagai wanita ia berhak tahu bukan? Ia menatap Donghae serius.

“Apa semalam kita tidur bersama?”

Donghae mengerutkan kening selama beberapa saat lalu tertawa geli,  “Tentu saja sayang. Aku tidak suka tidur di atas sofa.” ia menggelengkan kepala lalu memakan sepotong omelet.

Benarkah? Sora panik. Ia memegang tangan Donghae dengan tidak sabar. “Benarkah?” ia menuntut penjelasan. Matanya melotot.

Senyum misterius Donghae menguar. Kepanikan Sora dijadikan batu loncatan olehnya untuk menggoda dan memperdaya gadis itu. Ia mengelus lembut pipi Sora dengan punggung jarinya dan menatapnya seduktif, seolah semalam memang terjadi sesuatu yang menakjubkan di antara mereka, “Kau tidak ingat? Kau sangat manis semalam. Terima kasih untuk segalanya.”

“Jadi kita memang tidur bersama?” bisik Sora gamang. Wajahnya langsung pucat pasi dan tubuhnya sekaku patung. Pikirannya melayang kemana-mana. Aku tidur bersama dengan Lee Donghae. Semalam. Dan ia tidak mengingat apapun?

“Sora..” Donghae terperangah melihat Sora syok. Ia hanya bergurau. Tidak ada maksud sama sekali untuk mengejutkannya sampai seperti ini. Ia memegang tangannya.

“Jadi kita tidur bersama?” Sora menatap Donghae dengan mata berkaca-kaca. “Ya Tuhan, aku sudah tidur dengan seorang pria sebelum aku menikah.”

Donghae tidak tega melihat Sora tercengang, sekarang ia yang panik. “Sora sayang, kita memang tidur bersama. Tapi tidak, kita tidak melakukan hal lain selain tidur. Benar-benar tidur. Aku tidak mungkin menyentuh seorang wanita yang sedang tertidur lelap.” Jelasnya gelagapan. Ia mencoba menenangkan Sora yang siap menangis. Gadis itu sepertinya tidak mendengar kata-katanya karena dia sibuk meracau sesuatu yang tidak jelas.

“Oh tidak. Ayah ibu, bagaimana ini..anakmu sudah menjadi barang cacat sebelum menikah.” Suara isakannya membuat Donghae terperanjat dari kursinya.

“Sora, aku hanya bercanda.” Donghae berdiri lalu memeluknya. “Maafkan aku, caraku menggodamu sangat keterlaluan.”

Pelukan Donghae memberikan sedikit ketenangan bagi Sora. Gadis itu melirik ke atas, ke arah wajah Donghae yang menatapnya cemas luar biasa.

“Sungguh?” tanyanya dengan nada seperti anak kecil. Donghae mengangguk tegas.

“Ya. Semalam tidak terjadi apapun. Aku bersumpah. Aku tidak melakukan hal lain selain memelukmu. Seperti saat kita tidur di apartemenmu.” Ia sungguh-sungguh. Bunuh ia jika ia membuat Sora menangis seperti ini lagi karena gurauanya.

“Ah, syukurlah. Aku benar-benar takut.”

Donghae melepaskan pelukannya karena Sora sudah lebih tenang. Ia kembali ke tempat duduknya. Ia memastikan Sora menikmati sarapannya lalu berkata dengan nada menyesal, “Kau benar-benar ketakutan? Maafkan aku.”

Sora mengangguk dengan mulut penuh makanan. Ia benar-benar kelaparan. “Tidak apa-apa. Em, ini enak sekali.” ia memasukkan omelet dalam satu suapan besar ke mulutnya. Ketika menyadari Donghae tetap menatapnya dengan wajah bersalah, ia menoleh. Ternyata kata-katanya tidak menghibur pria itu sama sekali.

“Sungguh, aku tidak apa-apa sekarang. Aku hanya sangat sensitif dengan topik itu.” terangnya lugas.

Donghae mencelos. Ternyata ia memang keterlaluan dan tidak paham situasi. Ia mengaduk-aduk omeletnya tanpa minat.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Donghae. Sora menoleh, memberikan seluruh perhatian padanya.

“Ya. Katakanlah.”

“Apa aku benar-benar pria brengsek di matamu?”

Sora terdiam, salah tingkah. Apa ia mengatakan sesuatu saat mabuk sampai-sampai Donghae mengatakan hal itu karena seingatnya ia tidak pernah menyebut Donghae brengsek secara lugas di depannya.

Melihat Sora ragu, Donghae tersenyum pahit. “Mengapa?”

Kepala Sora memutar ke arahnya dengan cepat. Gadis itu tercengang. Suara Donghae terdengar berat di telinganya. Ia tidak suka melihat Donghae sedih seperti ini. Namun di saat yang bersamaan ia seperti diberi kesempatan untuk berkata jujur. Inilah saatnya jika ia ingin meluapkan keluh kesahnya tentang sikap Donghae yang menggantungkan perasaannya. Ia menatap Donghae tegas.

“Karena aku tidak tahu kau menyukaiku atau tidak.”

Apa.

“Aku penasaran apa alasanmu mendekatiku selama ini. Kau selalu merayuku, mengatakan hal-hal vulgar tentang tidur bersama namun tak pernah ada kejelasan apakah kau melakukan semua itu karena mencintaiku atau karena kau menginginkan aku menghangatkan tempat tidurmu. Kau membuatku frustasi dan kebingungan. Terkadang aku merasa kau hanya memanfaatkanku dan terkadang aku merasa kau mencintaiku.” Sora menatap Donghae, kedua matanya berkaca-kaca. Seluruh tubuh Donghae bergetar melihatnya.

“Katakan padaku yang sesungguhnya Lee Donghae, sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadapku. Aku, aku gadis bodoh. Aku tidak bisa memahami maksudmu jika kau tidak mengatakannya. Dan jika kau memang terbukti tidak menyukaiku, lebih baik kau tinggalkan aku saja.”

Tidak. Donghae bergerak secara tiba-tiba. Kedua matanya terbakar. “Meninggalkanmu? Tidak akan pernah.” Tegasnya.

Sora turun dari tempat duduknya, kesal karena Donghae kini membentaknya seolah ia yang bersalah. “Aku bukan tempat yang bisa kau datangi saat kau mau dan kau tinggalkan di saat kau bosan.”

“Sora—“ Donghae mencekal tangan Sora ketika gadis itu berbalik pergi dengan marah. “Kumohon dengarkan aku.” seperti kebangkaran jenggot, Donghae benar-benar panik. Mereka tidak pernah bertengkar seperti ini sekurang ajar apapun hal yang ia lakukan. Dahulu ia memang selalu semena-mena. Ia pikir Sora akan mengerti bahwa apa yang ia lakukan hanyalah untuk membuat gadis itu bahagia bersamanya. Ia tidak pernah menyadari bahwa Sora akan kebingungan dan meledak seperti ini.

Sora berusaha menarik tangannya namun Donghae memegang pundaknya dengan kedua tangan. “Aku tidak memanfaatkanmu. Bukankah aku sudah pernah mengatakan bahwa kau bukan gadis yang pantas kuperlakukan seperti pelacur? Aku tidak mendatangimu di saat aku ingin ataupun meninggalkanmu di saat aku bosan. Kau tidak pernah membuatku bosan dan yang paling kuinginkan adalah berada di satu tempat bersamamu.” Jelasnya sungguh-sungguh. Ia menatap Sora dalam dan intens.

“Lalu kenapa kau menggantungkan perasaanku?” Sora menatapnya nanar, satu bulir airmata menuruni pipinya. “Sikapmu menyakitiku, Lee Donghae. Jika kau tidak bisa tegas tentang perasaanmu, lebih baik kau melepaskanku.”

“Tidak-tidak,” Donghae menggeleng lalu menghapus airmatanya terburu-buru. Ia menatap Sora yang sedang menahan airmatanya dengan perasaan berkecamuk. Ia menundukkan kepala sejenak untuk mengumpulkan keberanian.

Aku tidak ingin kehilangan Min Sora. Aku tidak akan rela melihat Sora bersama pria lain. Gadis ini harus bersamaku selamanya atau hidupku tidak akan tenang. Karena itu katakanlah Lee Donghae. Jika kau ingin Sora tetap menjadi milikmu, katakanlah perasaanmu dengan jujur.

Donghae menatap Sora, “Aku..” tiba-tiba Donghae teringat pada kisah cinta masa lalunya yang kandas secara tragis. Hatinya hilang dicuri gadis itu. Ia tidak mau itu terjadi lagi jika ia memberikan hatinya yang tinggal sebagian pada Sora. Tetapi membayangkan Sora pergi dari hidupnya saat ia tidak bisa tegas, dadanya menghentak marah. Ia tidak mau kehilangan lagi.

Sora bisa melihat konflik berkecamuk di raut wajah Donghae dengan jelas. Apa yang membuatmu ragu? Dalam hati ia menatapnya sedih. Ia sangat berharap Donghae berkata jujur setelah mendengar luapan isi hatinya. Namun setelah ia mengeluarkan seluruh keluh kesahnya, menangis seperti wanita murahan Donghae tetap ragu untuk menegaskan hubungan mereka? Jika memang dia tidak menginginkannya, katakan saja yang sejujurnya lalu keraguannya berhenti sampai di situ. Meksipun sakit, ia tidak perlu menggantungkan harapan pada Lee Donghae lagi.

Ting tong.

Suara bel menginterupsi mereka. Keduanya menoleh serempak ke arah pintu. Donghae mengdesah keras. “Mungkin itu petugas butik yang mengantarkan bajumu.” Ia melepaskan Sora lalu bergegas membuka pintu.

Sora menatap punggung Donghae dengan sedih. Pria itu tidak akan mengatakan perasaannya, entah mengapa hati kecilnya mengatakan itu. Tidak akan ada yang kesempatan kedua atau ketiga jika yang pertama saja Donghae tidak sanggup mengatakan perasaannya.

“Ini bajumu. Kuharap ukurannya sesuai untukmu.” Donghae menyerahkan kantong berisi baju untuknya. Sora menerima itu dengan kening mengerut.

“Baju baru?” ia menatap Donghae tak mengerti setelah melihat isi kantong itu. Donghae mengangguk, seulas senyum tipis terukir di bibirnya.

“Tentu saja. Kupesan dari butik langgananku.”

Sora mendesah lelah lalu menekan kantong itu ke dada Donghae, “Aku tidak ingin menerimanya. Aku hanya ingin bajuku.” Ia melengos pergi.

“Tapi ini benar-benar untukmu. Aku tidak menyuruhmu membayar tagihannya.” Donghae mengejar Sora. Apalagi kesalahan yang sudah dilakukannya sekarang? Mengapa Sora marah mengetahui dirinya memberi gadis ini baju?

Sora berbalik, “Karena kau tidak memiliki alasan apapun untuk memberiku baju.” tegasnya dengan suara meninggi. “Aku bukan kekasih yang bisa kau beri hadiah dengan bebas ataupun istri yang harus kau nafkahi. Tidak ada hubungan lebih di antara kita selain teman.” Ia benar-benar sudah lelah. Satu-satunya yang dia inginkan saat ini hanyalah kembali ke apartemennya.

“Apa salahnya aku memberimu baju meskipun kita hanya berteman?” Donghae tetap tidak mau kalah. Ia mencoba menahan Sora yang tidak ingin berbicara dengannya lagi. Tidak, mereka belum selesai berdiskusi.

Sora menarik tangannya, “Pinjami saja aku bajumu. Aku ingin pulang.” Tanpa memandang Donghae, ia bergegas mengambil tas tangannya lalu berjalan menuju kamar pria itu.

Donghae tercengang melihat ketidakpedulian Sora. Gadis itu berubah dingin. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Ia meraih tangan Sora kembali, menahannya sebelum Sora melewati ambang pintu kamarnya.

“Aku akan berubah, aku berjanji.” Ujarnya. Sora terdiam sejenak, lalu menoleh padanya dengan alis bertautan.

“Berubah? Untuk apa?” sahutnya lelah. Ia sudah tidak berminat mendengar omong kosong Donghae lagi.

“Kumohon Sora, dengarkan aku. Aku memang tidak bisa mengatakan apa yang ingin kau dengar sekarang. Tetapi sungguh, aku tidak pernah menganggapmu sebagai wanita yang akan kudatangi di saat aku menginginkannya. Kau adalah satu-satunya tempatku kembali. Aku tidak memiliki tempat lain yang lebih nyaman daripada ketika aku bersamamu. Kau sangat berarti bagiku, sungguh. Kau berbeda dengan gadis kebanyakan yang pernah kutemui. Aku tidak ingin apa yang terjadi di antara kita selama ini berakhir hanya karena ketidaktegasanku.”

Kata-kata itu diucapkan dengan begitu lembut, konstan, dan jujur. Sora yang sejak awal berjanji tidak akan terpengaruh seketika tersentuh oleh cara Donghae mengatakannya. Ia melemaskan bahu. Pria ini.. mengapa selalu mampu membuatnya bungkam? Apa yang salah dengan diriku?

“Aku sungguh-sungguh, Sora.” Donghae menegaskan karena Sora hanya menatapnya tanpa berkomentar apapun.

Sora menghembuskan napas. “Baiklah.” Ia mencoba bersabar sekali lagi. Tetapi jika saat berikutnya Donghae masih belum bisa memberikan kejelasan, ia akan meninggalkan pria ini.

“Dengan satu syarat,” sela Sora begitu Donghae menghembuskan napas lega. Tatapannya menajam. “Aku tidak ingin mendapat perlakuan berlebihan darimu. Aku tidak ingin diberi hadiah tanpa alasan ataupun diperlakukan seperti wanita murahan. Untuk saat ini, kita berteman saja.”

Apa? Donghae tercengang. Batinnya langsung berdemo menolak gagasan itu. Ia ingin sekali membantah namun demi membuat Sora tetap bersamanya, dengan berat hati ia mengangguk.

“Baik, aku mengerti.” Ia memaksakan seulas senyum lalu melirik kantong di tangannya. “Sekarang maukah kau menerima baju ini?”

Sora membuka mulut untuk menolak, tetapi melihat Donghae memohon agar ia tidak menolak pemberian itu, Sora mengatupkan bibirnya lalu mengangguk. “Baiklah.”

Donghae mendesah lega seraya menyerahkan kantong berisi baju itu pada Sora. Senyuman masih bertahan di bibirnya saat Sora berbalik lalu masuk ke dalam kamarnya. Setelah gadis itu tidak terlihat dan ia sendiri di ruangan itu, senyumnya lenyap. Yang tersisa di wajah tampan Lee Donghae hanya penyesalan.

Jadilah pengecut dengan menggantungkan perasaan gadis itu. Apa susahnya mengatakan ‘aku mencintaimu?’. Dewa batin Donghae memarahi keputusannya untuk menyimpan pengakuan itu sampai seluruh keberaniannya terkumpul. Tapi kapan hal itu akan terjadi? Jika dibiarkan seseorang bisa merebut Sora darinya dan ia tidak ingin hal it sampai terjadi.

—o0o—

Sora menganggur di balik meja kerjanya setelah semua tugas kantor ia rampungkan hari itu. Untuk ke sekian kalinya ia melirik ponsel yang tidak berbunyi sejak pagi. Ia mendesah lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Sekarang ia merasa bosan. Tidak ada hal yang bisa ia kerjakan. Dahulu di saat ia bosan seperti ini ia akan pergi ke ruangan Jeyoung dan bergosip dengan gadis itu. Tetapi sekarang setelah Jeyoung berhenti dari pekerjaannya, ia merasa sangat kesepian di kantor.

Tidak. Sebenarnya alasan mengapa ia merasa kesepian di kantor bukan karena tidak ada sahabatnya. Melainkan karena sejak ia pulang dari rumah Lee Donghae tempo hari, hingga saat ini pria itu belum meneleponnya ataupun mengiriminya pesan singkat.

Apa Lee Donghae benar-benar memenuhi keinginannya? Apa pria itu berhenti menggoda dirinya dan menganggap hubungan mereka hanya sebagai teman saja? Hidupnya memang lebih tenang tanpa telepon dan sms-sms bernada usil dari Donghae namun di sisi lain ia merasa kehilangan. Ia sudah terbiasa setiap hari mendapatkan paling tidak satu telepon darinya meskipun hanya untuk menanyakan kabar. Sekarang setelah hampir lima hari berlalu Donghae tidak menghubunginya sama sekali. Apa pria itu marah atau menyerah terhadap dirinya karena memang sejak awal dia tidak memiliki perasaan apapun?

Bagus Sora, depak saja pria itu dan kau akan menyesal.

Donghae adalah pria yang baik. Sikapnya sopan dan meskipun terkadang memperlakukannya terlalu intim dari yang seharusnya dilakukan seorang pria kepada temannya. Donghae terkadang berkata vulgar, itu pun hanya untuk menggodanya. Pria itu tidak pernah memaksa dirinya melakukan sesuatu yang tidak disukainya. Donghae juga sangat melindungi dan menjaganya. Selalu mencemaskan dirinya di saat ia tidak makan ataupun pergi jauh tanpa kabar. Dia sangat murah hati karena selalu memberinya sesuatu tanpa mengharapkan balasan.

“Ya Tuhan.” Sora menutup wajahnya dengan kedua tangan. Mengapa aku baru menyadari kebaikan Donghae sekarang? Ia membentak pria itu hanya karena pria itu tidak memberikan penjelasan atas perlakuan baiknya? Apa seseorang perlu alasan untuk berbuat baik? Ia baru menyadari hal yang membuatnya marah adalah karena ia begitu berharap Donghae menyukainya, ia marah karena keinginannya tidak sesuai dengan kenyataan.

Sora ingin sekali menangis. Merenung sendirian ternyata memberi efek berbahaya untuk siapapun. Ia harus berbicara dengan seseorang untuk menenangkan diri. Jika tidak mungkin ia akan membuka jendela ruang kerjanya lalu terjun dan membunuh dirinya sendiri. Meraih ponsel, ia menekan beberapa nomor yang sudah sangat dihapalnya.

“Jeyoung-ah,” ia terisak ketika sahabatnya mengangkat teleponnya, terdengar suara celotehan bayi dari ujung sana. Sora yakin Jeyoung sedang mengasuh Ahyoon, putri kecilnya.

“Kau menangis? Kenapa?” Jeyoung bertanya agak panik.

“Aku merasa sangat bodoh.” Ia lalu menceritakan apa yang terjadi di apartemen Donghae tempo hari termasuk apa yang ia rasakan sekarang. Jeyoung mendengarkannya dengan seksama. Astaga, sejak kapan ia menjadi wanita secengeng ini?

“Sora, dengar..” Jeyoung menyela ceritanya yang diselingi isakan tangis, “Apa yang kau lakukan sudah benar. Jangan buat Donghae bisa memperlakukanmu seenaknya. Menciummu, memelukmu dan meninggalkanmu sesuka hatinya. Kau harus memberinya pelajaran sesekali. Mungkin setelah ini dia akan berpikir ulang jika ingin menciummu.”

Jeyoung memang ada benarnya, tetapi mengapa ia tidak terhibur dengan kata-kata sahabatnya itu? “Tapi mengapa aku tidak senang diabaikan seperti ini? Dia tidak menghubungiku sejak hari itu.”

“Mungkin dia sedang sibuk. Bisnisnya sedang berkembang pesat—itu yang aku dengar dari suamiku.”

“Benarkah? Bahkan untuk sekedar mengirimiku pesan?” Sora cemas.

“Sora, dia bukan kekasih atau suamimu. Dia tidak harus memberimu kabar setiap harinya. Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Jika Lee Donghae terbukti mengecewakanmu, masih ada pria tampan lain di luar sana.”

Sora tidak pernah memikirkan hal itu. Apakah ia bisa menyukai pria lain jika suatu hari ia tahu Donghae ternyata tidak menyukainya. “Aku tidak tahu. Selama ini aku sudah terbiasa bersamanya. Aku tidak yakin apakah akan sama jika pria lain yang melakukannya.”

“Ya, ya, ya. Aku tahu Donghae memang tipe pria idamanmu. Tapi sekali lagi kuingatkan Sora, Donghae itu—“

“Pria brengsek. Ya, kau sudah memperingatkanku tentang itu berkali-kali.” Sora memutar bola mata. Isak tangisnya telah terhenti. Ia bahkan lupa ia sedang sedih saat menelepon Jeyoung. Ternyata berbincang dengan Jeyoung berhasil meredakan gemuruh di dadanya.

“Dan kau gadis yang sangat cantik. Jangan sia-siakan dirimu dengan mencintai pria seperti Donghae.”

Sora tidak tahu bagaimana membalasnya. Ia hanya mendengus lalu melirik jam. Tak terasa sudah tiba waktunya pulang kantor. “Saatnya aku pulang. Kalau begitu—“

“Tunggu, Sora.” Cegah Jeyoung saat ia akan mengakhiri pembicaraan.

“Apa?”

“Aku tidak tahu apa kau mengetahuinya atau tidak, tetapi hari ini adalah ulang tahun Lee Donghae.”

—o0o—

“Bersulang untuk pertambahan usia sahabat kita, Lee Donghae!” Siwon mengangkat tinggi-tinggi gelas berisi cairan kekuningan, mengajak teman-temannya untuk bersulang.

Eunhyuk dan Kibum ikut mengangkat gelasnya, “Bersulang.” Mereka mendentingkan gelas mereka lalu menghabiskan minuman itu dalam satu kali tenggak. Donghae biasanya tidak pernah minum sebanyak ini. Tetapi karena sekarang ia berulang tahun, ia memberi pengecualian.

“Kau terlihat tidak senang untuk pria yang berulang tahun.” ungkap Siwon. Ia menuangkan wine ke dalam gelasnya yang kosong.

Mereka sekarang berada di night club yang biasa dikunjungi untuk melepas lelah, stress atau hanya ingin bersenang-senang. Donghae tidak merencanakan ini, ia bahkan tidak berniat merayakan ulang tahunnya sama sekali semenjak pembicaraannya dengan Sora tempo hari. Ia sedang merenungkan seluruh kata-kata Sora di ruangan kantornya sendirian ketika teman-temannya menelepon dan menyuruhnya datang untuk merayakan ulang tahunnya. Ia tidak bisa menolak. Dengan setengah hati ia menuju tempat mereka biasa berkumpul.

“Apa sesuatu tidak berjalan dengan semestinya?” tanya Eunhyuk.

“Mungkin ibunya menyuruhnya segera mencari kekasih.” Sahut Kibum geli. Donghae menertawakan anggapan-anggapan ngawur teman-temannya. Terdengar miris dan seperti mengasihani diri sendiri.

“Hanya masalah kecil.” Ia tidak akan menceritakan masalahnya dengan Sora pada teman-temannya. Percuma saja, mereka tidak akan mengerti. Mereka hanya akan menghakiminya dengan nasehat-nasehat yang sudah bosan ia dengar seperti ‘kau harus tegas’, ‘wanita butuh penjelasan’ atau ‘hanya mengatakan cinta apa sulitnya?’. Mereka sama sekali tidak tahu, mereka tidak mengalami apa yang ia alami sehingga tidak akan tahu bagaimana sulitnya mengatakan cinta di saat hati pernah terluka oleh cinta. Karena itu ia memilih menyembunyikan masalahnya.

“Ah, aku memiliki ide bagus.” Kibum meletakkan gelasnya ke atas meja bar. Dia sudah menghabiskan sekitar empat gelas wine namun tidak ada tanda-tanda mabuk. Kibum justru memutar kursinya, mengerling ke seluruh penjuru ruangan dan ketika ia sudah menemukan objek yang dicarinya, ia menjentikkan jari seraya berseru, “Jang Saerin.”

Siwon dan Eunhyuk langsung bersiul. Donghae terperanjat dari kursinya sontak menoleh ke arah Kim Kibum. Untuk apa dia memanggil Jang Saerin?

Seorang wanita cantik memakai gaun ketat warna hitam terlihat mendekat. Tubuhnya meliuk indah ketika berjalan melewati orang-orang untuk menghampiri Kibum yang memanggilnya. Jang Saerin adalah salah satu wanita penghibur di club elit itu—yang paling tersohor di antara yang lainnya. Selain wajahnya cantik dan tubuhnya yang membuat mata kaum adam nyaris keluar, gadis itu juga pintar merayu dengan suara merdunya.

“Ada apa tampan?” ucapnya manis ketika berdiri di samping Kibum, melingkarkan tangannya di bahu pria itu. Kibum tersenyum manis padanya. “Kau ingin aku menemanimu malam ini? Kebetulan sekali belum ada penawaran yang membuatku tertarik. Apa kau ingin menawarku?” tanyanya.

“Ya sayang, aku memang ingin mengajukan penawaran padamu.” Kibum tersenyum lalu mengusap pipi Saerin. Gadis itu tersipu bangga.

Eunhyuk hanya menggelengkan kepala sementara Siwon tidak berkomentar apapun. Mereka memaklumi ‘keramahan’ Kibum terhadap kaum wanita. Mereka juga tidak akan heran jika Kibum menyewa Saerin malam ini.

Donghae bergidig melihat bagaimana mereka berinteraksi. Ia memalingkan perhatiannya dari Kibum dan memilih memandangi gelas minumannya yang telah kosong. Bagaimana kabar Sora saat ini? Ia belum menghubungi gadis itu lagi karena ia tidak memiliki keberanian. Ia takut jika mendengar suara gadis itu ia akan berlari ke tempat Sora berada untuk menciumnya. Ia begitu merindukan gadis itu. Namun Sora sudah memperingatkan dirinya agar tidak memperlakukan gadis itu secara berlebihan selama ia belum mempertegas hubungan mereka. Itu sangat menyiksa. Tidakkah Sora menyadari hal itu?

“Tidak, sayang. Malam ini kau tidak bersamaku. Aku ingin kau menghibur sahabatku, Donghae.”

Kepala Donghae mengangkat, tersentak karena Kibum menyebut namanya. Ketika menoleh, Jang Saerin sedang menatapnya. Kedua matanya mengerjap, ia langsung menatap Kim Kibum.

“Apa maksudnya?” sergahnya kaget.

“Ini hadiah ulang tahun dariku. Nah Saerin sayang, tolong hibur sahabatku. Dia sedang bersedih.”

Saerin tersenyum manis padanya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Jang Saerin sejak lama mengincar Lee Donghae. Namun sejauh ini setiap Saerin menggodanya, Donghae hanya tersenyum lalu menolak gadis itu secara halus. Tentu saja tawaran Kibum membuatnya senang luar biasa.

Donghae gelagapan ketika Saerin mendekat padanya. “Jadi kau sedang sedih? Aku bisa menghiburmu.” Rayunya.

“Aku terlalu banyak minum. Aku tidak yakin kau akan senang bila bersamaku.”

“Aku selalu senang, honey.” Saerin menyentuh pundak Donghae, membelai tengkuk pria itu dengan lembut.  “Dan aku yakin aku bisa menghapus kesedihanmu. Ayo.”

“Saerin-ssi,” Donghae mencoba menolak saat Saerin menariknya turun dari kursi.

“Sudah terima saja. Toh Kibum yang akan mentraktirmu.” Eunhyuk terkekeh. Kibum mengangguk geli.

“Selamat bersenang-senang.” Siwon tersenyum penuh arti.

Donghae tercengang karena tidak ada satu pun dari teman-temannya yang menolong. Andai saja Kyuhyun ada di sini, mungkin pria itu akan membantunya lepas dari Saerin. Sayangnya Kyuhyun tidak datang karena lebih memilih membantu istrinya mengurus Ahyoon—putrinya.

Saerin menariknya bergabung bersama orang lain di lantai dansa. Ia menoleh ke arah teman-temannya yang kini tidak memedulikannya. Mereka sibuk mengobrol dan mengabaikannya.

“Ayo sayang, menarilah.” Saerin mengalihkan perhatian Donghae padanya. Kedua tangan gadis itu sudah melingkari lehernya. Tubuh indahnya merapat dengan tubuhnya lalu mulai mengajaknya menari mengikuti hentakan lagu yang dimainkan DJ.

Donghae menari dengan setengah hati. Ia ingin sekali berhenti tetapi gerakan Saerin menggodanya. Beberapa kali gerakan pinggul gadis itu mengenai area sensitifnya, membuatnya tersentak lalu menggeram halus. Saerin sepertinya sengaja melakukan itu untuk membuatnya terangsang. Tiba-tiba ia teringat Sora. Gadis itu selalu bisa membuatnya terangsang tanpa melakukan hal provokatif seperti yang dilakukan Saerin.

Detik itu Donghae tersadar apa yang dilakukannya tidak benar. Ia tidak seharusnya berada di sini, berdansa erotis bersama Saerin. Ia seharusnya menerima ajakan Saerin selagi bisa. Atau seharusnya ia tidak datang kemari sama sekali. Ia tidak mau menjadi pria brengsek seperti yang Sora katakan. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bukan pria petualang yang akan mencium gadis manapun yang membuatnya tertarik. Ia harus menghentikan ini.

Kedua tangan Donghae memegang pinggang langsing Saerin, memeluknya lebih dekat ingin membisikkan sesuatu. Ia menundukkan kepalanya ke telinga gadis itu untuk memberitahunya bahwa ia sudah tidak ingin berdansa lagi. Dentuman musik yang terlalu keras membuatnya mustahil berkata dengan suara normal. Ia harus berteriak atau berbisik di telinga Saerin agar gadis itu bisa mendengarnya.

“Aku—“ tanpa sengaja sudut mata Donghae mengarah ke balik bahu Saerin dan kata-katanya langsung terhenti karena saat itu juga ia menangkap sosok Min Sora. Gadis itu berdiri terpaku, matanya membulat. Menatap dirinya yang sedang memeluk Saerin, bibir hampir menempel dengan telinga Hyeri tanpa mengedipkan mata. Berdiri seperti patung yang mengawasi

Untuk sesaat waktu rasanya berhenti. Donghae tidak pernah mengalami rasa takut dan syok menyerang dirinya secara bersamaan. Ketika Sora berbalik pergi secepat kilat, Donghae tersentak. Ia langsung mendorong tubuh Saerin lalu berlari mengejar Sora.

“Sora, tunggu!!” teriaknya panik.

~~~TBC~~~

407 thoughts on “Crazy Because of You [Chapter 3]

  1. Ping-balik: REKOMENDASI FANFICTION | evilkyu0203

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s