School in Love [Chapter 18]

Tittle : School in Love Chapter 18
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Friendship, family, School Life

Follow twitter author yuu : @julianingati23

 

Main cast :
Bae Suzy | Park Jiyeon | Im Yoona
Cho Kyuhyun | Kim Kibum | Lee Donghae

Dha’s Speech :
Ceritanya masih panjang.

Happy Reading ^_^

School in Love by Dha Khanzaki (Im Siblings)

=====o0o======

CHAPTER 18

Signs of Love

 

JIYEON baru tiba di rumah sakit sore itu bersama Jungsoo–kakaknya. Mereka datang untuk menjenguk teman yang dirawat di rumah sakit yang sama. Salah satu teman kakaknya mengalami kecelakaan tempo hari. Mereka berjalan menuju meja resepsionis untuk menanyakan letak kamar.
“Nama pasien?” tanya suster yang berjaga dengan ramah.
Jungsoo baru akan membuka mulutnya ketika tiba-tiba saja seorang perempuan asing datang menyerobot. “Im Yoona.” Ucap gadis itu lantang sekaligus anggun.

Jungsoo dan Jiyeon menoleh pada seorang perempuan cantik, tinggi, dengan rambut panjang dicat pirang keemasan tergerai indah di punggungnya. Gadis itu memakai summer dress, kardigan dan stiletto. Jiyeon tidak bisa menebak berapa usianya, mungkin seumuran dengan kakaknya jika ditilik dari suaranya yang lebih mantap dan bulat. Namun yang paling membuatnya tertarik adalah gadis cantik itu menyebutkan nama Yoona! Jiyeon yang penasaran mengamatinya terang-terangan. Apa dia saudara Yoona?

“Tunggu, aku lebih dulu.” sela Jungsoo marah. “Suster, dimana letak kamar pasien bernama Kang Homin?”
“Excuse me, sir.” Gadis itu membuka kacamatanya dengan cepat, menatap Jungsoo dengan marah. “Aku lebih dulu.”
“Tetapi aku dan adikku tiba lebih dulu di sini.”
“Aku sedang terburu-buru.”
“Kau pikir aku tidak?”

Suster yang duduk di balik meja resepsionis menatap Jungsoo dan perempuan asing itu dengan bingung. Mereka berdua berdebat tentang siapa yang duluan dan tidak. Jiyeon ingin melerai mereka tetapi ia takut terkena semburan salah satu dari keduanya. Seseorang bisa sangat berbahaya jika sedang tersulut emosi.

Orang-orang yang berdebat itu tidak menyadari sama sekali bahwa seseorang dengan polosnya mendekat ke meja resepsionis, mengabaikan perdebatan mereka dan bertanya kepada suster yang kebingungan.
“Suster, kamar temanku yang bernama—“

“YAA!! KAMI LEBIH DULU!!” baik gadis itu maupun Jungsoo sama-sama berteriak kesal karena orang lain berani-beraninya memotong antrian di saat mereka sedang berdebat siapa yang lebih dulu.

Kim Kibum—kebetulan—korban yang mendapat bentakan dari dua orang asing di sampingnya terkejut. Kedua matanya terbelalak dan tubuhnya kaku. Apa salahku? Aku hanya bertanya. Batinnya.

“Kibum,” Jiyeon berseru. Ia tidak menyadari Kibum berada di sana karena sibuk mencemaskan kakaknya yang bertengkar dengan gadis tak dikenal.
“Oh, Park Jiyeon.” Kibum tersenyum. Jungsoo dan gadis itu diam lalu saling pandang. Mereka sama-sama tersipu malu karena sudah bertengkar seperti bocah umur lima tahun.
“Kau datang untuk menjenguk Yoona?” tanya Kibum. Jiyeon mengangguk.

“Tunggu, Yoona? Im Yoona? Murid Royal President High School?” gadis yang bertengkar dengan Jungsoo tadi bertanya.
“Ya.” Kibum dan Jiyeon kompak mengangguk. Gadis itu tersenyum lega mendengarnya.
“Perkenalkan, aku Im Jina. Yoona’s older sister.” Jina, gadis berambut pirang itu memperkenalkan diri dengan ramah. “Kalian teman-teman Yoona?”

Jiyeon dan Kibum mengangguk kembali.

“Ah, senang mengetahuinya,” Jina melonjak gembira. Ia lalu melirik pada Jungsoo sambil mengangkat dagunya dengan bangga, “3 lawan 1. Aku menang. Itu artinya, kau yang harus mengalah, sir.” Ia memakai kacamatanya kembali lalu menoleh pasa suster yang terlihat lega karena pertengkaran akhirnya berhenti. Jungsoo tidak berkomentar apapun ketika Jina menyakan kamar setelah itu pergi sambil mengajak adiknya dan seorang pria lain pergi bersamanya.

—o0o—

Kyuhyun dan Donghae berada di ruang rawat Yoona. Kyuhyun sebenarnya malas, tetapi ia dipaksa datang ke sana oleh ibunya sebagai formalitas mengingat mereka akan bertunangan. Ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi untuk membuat ibunya percaya bahwa ia sudah memiliki kekasih. Karena itu di sanalah ia, berada di tempat yang tidak terlalu ia inginkan bersama dengan Donghae yang memang mengajaknya pergi ke sana setelah jam sekolah usai.

“Terima kasih,” Yoona menerima potongan apel yang sudah Donghae kupaskan untuknya dengan senang hati. Siapa yang menyangka Donghae memiliki perhatian seperti ini. Pantas Suzy menyukai pria ini setengah mati. Ketika ia melirik Kyuhyun, pria itu hanya memberikan ekspresi dingin. Ia tidak mengerti mengapa Jiyeon menyukai pria sepertinya.

Pintu ruang rawat dibuka, Jiyeon disusul Kibum masuk dengan wajah ceria. Yoona tersenyum gembira, Donghae hanya menggelengkan kepala sementara Kyuhyun mendesah lega. Akhirnya ia tidak perlu berada dalam suasana canggung lagi.

“Hallo, sayang. Senang melihatmu lebih baik.” Jiyeon memeluk Yoona. “Aku membawakan kue kesukaanmu.” Ia memberikan sekotak kue pada Yoona.
“Terima kasih. Kau tidak bersama Suzy?”
“Dia harus mengantar Ayahnya ke bandara. Dia akan menjengukmu besok.”
“Hai,” Kibum melambaikan tangan, “Kau tetap cantik meskipun sedang sakit.”
“Dimanapun dan kapanpun kau tetap berusaha merayu.” Cibir Kyuhyun. Jiyeon menyikutnya.
“Aku seorang pria, bung. Ini reaksi alamiku jika bertemu wanita cantik.”
“Ya, dan hanya para playboy yang melakukannya.” Sahut Donghae. Ia dan Kyuhyun berpandangan lalu saling menepukkan tangan sambil terkekeh senang.
“Yeah, ejeklah aku. Tidak masalah.” Kibum mengangkat bahu tak peduli. Yoona tersenyum geli melihat ekspresi polosnya. Memang sulit sekali membuat seorang Kim Kibum marah.

“Ngomong-ngomong soal gadis cantik, bukankah tadi ada seseorang yang bersama kita?” ucap Jiyeon. Ia baru teringat pada Jina, tetapi mengapa wanita yang lebih tua darinya itu tak kunjung masuk?
“Siapa?” tanya Yoona penasaran. Jiyeon tersenyum penuh rahasia.
“Coba kau tebak.” Gadis itu berjalan ke arah pintu, terdengar perdebatan kecil dari balik pintu namun akhirnya Jiyeon berhasil menarik masuk seseorang yang sejak tadi tertahan di sana.

Kedua mata Yoona langsung berkaca-kaca dan senyumannya semakin merekah indah ketika menyadari sosok yang dimaksud Jiyeon adalah kakak perempuannya.

Eonni.” Lirihnya gembira. Seluruh orang di dalam ruangan mengerjap lalu memandang ke arah Im Jina. Yoona rasanya ingin berdiri untuk memeluknya, tetapi ia tidak berani bergerak. Ia takut kakaknya akan pergi jika ia mendekat.

“Yoon,” Im Jina mendekat, agak ragu. Tetapi perlahan-lahan akhirnya ia tiba juga di tepi tempat tidur adiknya. Ketika mereka berpandangan, kenangan yang membuat mereka bertengkar di masa lalu. Ia merasa malu karena pernah menuduh adiknya dengan sesuatu yang tidak layak dikatakan seorang kakak. Apalagi hal itu telah menjadi trauma tersendiri bagi adiknya. “Aku datang setelah mendengar kau masuk rumah sakit—“

Eonni..” Yoona memotong kata-katanya dengan memeluknya. Ia begitu senang dan ia tidak peduli bagaimana mereka di masa lalu. “Aku senang sekali bisa bertemu denganmu lagi.”

Jina tersentuh. Setelah hal-hal jahat yang pernah dikatakannya Yoona tetap menerimanya? Ia merasa semakin bersalah.
“Maafkan aku, kata-kataku padamu dulu sangat keterlaluan. Seharusnya aku tidak menuduhmu atas kematian Ayah. Semua itu adalah takdir. Hari itu aku hanya emosi.”
Yoona menggelengkan kepala, “Tidak apa-apa. Aku senang Eonni datang kemari untuk menjengukku. Eonni tidak marah padaku lagi bukan?”
“Tidak. Karena kau adikku, aku selalu memaafkanmu.”

Yoona tersenyum bahagia, kegembiraan itu menular pada semua orang yang menyaksikan adegan haru antara Yoona dan Jina. Kyuhyun mendadak teringat pada Ahra, kakaknya yang terkadang ia benci setengah mati karena sikap berlebihannya. Sementara Kibum merasa iri karena Taeyeon, kakaknya tidak pernah memperlakukannya seperti seorang adik.

“Jina.”

Kedua kakak adik dan seluruh orang di ruangan itu menoleh ke arah pintu dimana Im Saeryung masuk dengan raut wajah tak percaya. Ia terkejut melihat putri sulungnya berada di sana.

Eomma.” Jina segera memeluk ibunya. Mereka melepas rindu selama beberapa saat.
“Kenapa kau tidak bilang akan kemari?”
“Ini sangat mendadak. Maafkan aku.” Jina menoleh pada Yoona sekilas kemudian kembali menatap ibunya, “Dia tidak apa-apa bukan?”
“Ya, dokter berkata kondisinya sudah stabil. Malam ini dia sudah boleh pulang.”

Yoona dan teman-temannya tampak gembira mendengar berita itu.

“Oh ya, apa kau sudah tahu? Sebentar lagi adikmu akan bertunangan, kebetulan calon tunangannya ada di sini, Cho Kyuhyun.” Im Saeryung dengan polos menunjuk Kyuhyun.

Semua orang mengerjap. Jiyeon merengut sedih sementara Kibum dan Donghae menganga kaget. Mereka langsung memandang Kyuhyun dan Yoona bergantian.
“Kau tidak bilang bertunangan dengan Yoona,” bisik Kibum.
“Tidak akan terjadi.” balas Kyuhyun dingin.
Eomma!!” Yoona mengeluh. Ia merasa tidak nyaman terutama setelah melihat raut sedih Jiyeon.

“Aku tidak setuju.” Jina menolak ide itu dengan tegas. Ibunya terkejut sementara Yoona merasa mendapatkan dukungan. “Yoona terlalu muda untuk bertunangan. Jika dia lebih dulu bertunangan dariku, apa kata teman-temanku nanti?” gagasan ini sungguh menggelikan. Jina tidak habis pikir dengan jalan pikiran ibunya. Bagaimana bisa dia memutuskan untuk mempertunangkan adiknya lebih dulu dibandingkan putri sulungnya?

“Tapi Jina, ini adalah wasiat dari mendiang Ayahmu.” Im Saeryung membela diri.
“Tidak, ibu. Sekarang pimpinan keluarga Im adalah aku. Ayah sudah menyerahkan kedudukan pimpinan kepadaku. Dan sebagai pengambil keputusan di keluarga ini aku tidak mengizinkan.”

Im Saeryung tidak bisa berkata-kata karena Jina memang berkata yang sebenarnya. Dalam surat wasiat suaminya memang tertulis bahwa pimpinan keluarga Im yang baru akan dipegang oleh putri sulungnya, Im Jina. Terutama setelah Jina melewati usia 22 tahun. Dan gadis itu kini berusia tepat 22 tahun. Yoona senang sekali mendengar ucapan kakaknya. Ia benar, kedatangan Jina memang membawa banyak sekali kebaikan untuknya.

Wanita paruh baya itu tampak pasrah, lalu menghembuskan napas dengan berat. “Baiklah, jika kau memang bersikeras. Eomma bisa membicarakan hal ini dengan Nyonya Cho.”

Yoona gembira luar biasa. Kyuhyun mendesah lega dan Jiyeon ingin sekali berjingkrak senang mendengarnya. Apakah dengan begitu pertunangan Kyuhyun dan Yoona akan dibatalkan?
“Bagaimana jika kau saja yang bertunangan?”
“Apa?” Jina terperanjat. “Aku? Dia terlalu muda untukku.” Ia menatap Kyuhyun seolah pria itu makhluk menjijikan.

Aku juga tidak mau bertunangan dengan wanita tua, cibir Kyuhyun dalam hati. Namun ia hanya mengerucutkan bibir.

“Kalau begitu dengan kakaknya,” Im Saeryung menatap Kyuhyun. Pria itu langsung tertawa.
“Bukan bermaksud mengecewakanmu, Nyonya Im, tapi kakakku seorang perempuan.”
“Kakakku laki-laki, bagaimana jika dengan kakakku saja?” seru Jiyeon sambil menyeringai lebar. Bagus, membebaskan Kyuhyun dengan mempromosikan kakaknya, kau jenius sekali.

“Tunggu! Aku tidak bilang setuju bukan!!” Jina berteriak kesal.

—o0o—

Yoona kembali masuk sekolah keesokan harinya. Awalnya ia merasa takut menginjakkan kakinya di sekolah lagi. Ia tidak sanggup membayangkan akan mendengar cemoohan orang-orang, pandangan merendahkan mereka, dan aksi negatif lainnya. Namun dugaannya salah besar. Semua orang bersikap biasa saja seolah tidak pernah terjadi apapun. Ia takjub.

“Bagaimana, kembali seperti biasa bukan?” Kibum berbisik di belakangnya saat Yoona duduk di kursinya. Ia tersenyum kepada pria itu.
“Terima kasih,” gumamnya. Kibum mengangguk. Yoona terdiam sambil memerhatikan pria itu duduk di kursinya yang hanya terpisah satu kursi di depannya. Ia yakin Kibum pasti sudah melakukan sesuatu. Karena itu ia segera memanggil pria itu kembali.
“Kibum.”
Kibum menoleh, “Ya,” ucapnya seraya tersenyum.

“Mengapa kau selalu baik padaku?”

Mendapat pertanyaan seperti itu Kibum tertegun. Senyum lebarnya kembali terlihat, pria itu menjawabnya sambil mengangkat bahu, “Mungkin karena aku sudah menganggapmu seperti kakak perempuanku sendiri.” Ia puas dengan jawabannya. Sebenarnya ia ingin menjawab bahwa ini adalah bagian dari permintaan maafnya. Ia sudah meminta pada semua orang agar tidak menyinggung sedikitpun tentang apa yang terjadi di pesta kemarin ketika Yoona sudah kembali nanti. Yoona juga tidak akan melihat Krystal sampai seminggu ke depan karena gadis itu mendapat skors atas apa yang sudah dilakukannya. Ia sudah melaporkan tindakan kejam Krystal pada pihak sekolah disertai beberapa bukti yang membuat Krystal tidak bisa membantah.

Yoona tersenyum di kursinya. Jadi Kibum menganggapnya seperti itu? Entah mengapa ia merasa senang.

—o0o—

Kyuhyun kembali terlihat berdiri kaku di depan etalase toko, matanya menatap lurus sebuah boneka beruang berwarna merah muda yang terpajang di sana.

“Tak lama lagi kau berulang tahun, Tiff.” Gumamnya jauh. Kenangan tentang Tiffany Hwang tetap bersarang di lubuk hatinya yang terdalam. Berkali-kali pun Kyuhyun mencoba menghapusnya, upaya yang dilakukannya selalu berakhir sia-sia. Ia ingin terbebas dari kenangan itu, tetapi tidak tahu bagaimana caranya.

“Hei,” Lamunannya buyar karena seruan seseorang. Ketika menoleh, ia mendapati Jiyeon berdiri di sampingnya dengan wajah gembira.
“Apa yang kau lakukan di sini?” serunya panik tanpa sadar. Ia malu sekali tertangkap basah berdiri di depan toko boneka.
“Aku sudah belanja untuk makan malam. Kau?”
“Aku..aku tentu saja aku ingin membeli boneka ini.” tunjuknya pada boneka beruang yang dipajang di etalase. Jiyeon mengerutkan kening. Seorang Cho Kyuhyun membeli boneka beruang? Diulang: BONEKA BERUANG?
“Kau menyukai boneka?” tanyanya histeris, bingung, dan kaget.

Kyuhyun gelagapan, “Tentu saja untuk Ahra Nuna. Kau pikir untuk siapa?” karena panik ia mengatakan sesuatu yang mustahil. Untung saja Jiyeon tidak tahu bahwa kakaknya lebih suka tas dan sepatu model terbaru dibandingkan boneka yang lebih pantas diberikan pada gadis berusia sepuluh tahun.
“Kau perhatian sekali,” Jiyeon dengan polosnya menerima alasan ngawur itu. Terlanjur, Kyuhyun masuk ke toko dan membeli boneka yang hanya dipandanginya sejak tadi itu. Ia sekarang merasa aneh dan menggelikan karena membawa boneka yang sudah terbungkus plastik dan diberi hiasan pita di tangannya. Astaga, ia harap tidak ada teman-teman sekolah yang melihatnya membawa ini.

Jiyeon merasa iri pada siapapun yang akan menerima boneka itu. Bagaimana pun Kyuhyun membelikan benda itu untuknya. Andaikan saja itu dirinya.

“Aku tidak menyangka bertemu kalian di sini.”

Baik Kyuhyun maupun Jiyeon menoleh ke arah Eunhyuk yang baru saja keluar dari mobil sedan silvernya. Si pria menyebalkan. Jiyeon langsung mendengus. Eunhyuk menampilkan seringaian sombongnya.
“Benar-benar pasangan mesra sampai berbelanja pun bersama-sama.” Lanjut Eunhyuk penuh minat.
“Ya, dan itu bukan urusanmu.” Ketus Kyuhyun kemudian memegang tangan Jiyeon, “Ayo sayang, kita pergi dari sini.” Mereka kembali ke mode ‘bersandiwara sebagai sepasang kekasih’ dan Jiyeon tidak keberatan sama sekali. Ia memang tidak ingin berada di tempat yang sama dengan Eunhyuk lebih lama lagi. Pria itu memang sangat menyebalkan.

“Aku penasaran,” seru Eunhyuk. “Beruang itu kau beli untuk pacarmu atau akan kau berikan pada Tiffany.”

Sindiran yang sengaja diucapkan dengan suara lantang itu telah menghentikan langkah Kyuhyun. Eunhyuk terkekeh puas karena berhasil mengusik pria itu.

“Ups, aku lupa sesuatu. Bukankah Tiffany Hwang sudah tidak ada di dunia ini lagi—“ kata-kata Eunhyuk tersendat karena Kyuhyun mencengkeram kerah bajunya dengan kedua tangannya. Terlalu kencang dan bertenaga sehingga Eunhyuk tampak tercekik dan tubuhnya sedikit terangkat.
“Sekali lagi kau menyinggung tentang Tiffany di depanku, aku akan menghajarmu sampai kau tidak berani untuk mengatakannya lagi!” kedua mata Kyuhyun menyipit, berkobar oleh api kemarahan.
“Kyuhyun!!” Jiyeon panik. Ia tidak tega melihat Eunhyuk kesulitan bernapas. Pria itu sampai meronta, berusaha melepaskan cengkeraman Kyuhyun tetapi tidak sanggup karena skala kekuatannya tidak bisa menandingi Kyuhyun.

Jiyeon merinding. Ia tidak pernah melihat Kyuhyun semarah ini. Ekspresinya langsung berubah ketika Eunhyuk menyebutkan tentang Tiffany. Rupanya gadis itu memang sangat berpengaruh baginya.

Sebelum Eunhyuk benar-benar kehabisan napas, Kyuhyun melepaskan tangannya dari leher Eunhyuk lalu berbalik pergi. Eunhyuk langsung terkapar di atas trotoar jalan, terbatuk-batuk kepayahan. Jiyeon tidak sempat simpati terhadap pria itu, ia hanya memandangnya sekilas lalu berlari mengejar Kyuhyun yang menderap pergi dengan langkah cepat.

Eunhyuk memang pantas mendapatkannya. Kata-katanya tadi memang keterlaluan. Sekarang yang perlu ia lakukan hanyalah mencari Kyuhyun. Kemana perginya pria itu? Dalam sekejam telah hilang entah kemana.

“Kyuhyun!!”

Jiyeon tahu Kyuhyun pasti merasa marah dan kesal. Semuanya karena Eunhyuk. Apa untungnya mengatakan hal-hal menyakitkan seperti itu pada orang lain? Pria tidak punya perasaan! Ia terus berlari mencari Kyuhyun. Akhirnya pria itu ditemukan berdiri di atas jembatan, bersandar pada pagar pembatas dengan pandangan tertuju pada aliran sungai di bawahnya. Raut wajahnya tak terbaca.

“Kau tidak apa-apa?” Jiyeon berdiri di samping Kyuhyun. Ia ragu apa langkah yang diambilnya tepat atau tidak. Kyuhyun menoleh sekilas lalu mengalihkan pandangannya kembali. Jiyeon sedih. Ternyata keberadaannya tidak berpengaruh banyak bagi Kyuhyun.

“Maaf, aku terlalu kekanakan.” Kyuhyun tersenyum masam, “Seharusnya aku tadi tidak perlu—kau tahulah.”
“Tidak apa-apa. Aku mengerti.” Jiyeon memaksakan diri tersenyum. Ia berharap ada pembicaraan lagi berikutnya, tetapi yang terjadi adalah kesunyian. Kyuhyun tenggelam dalam renungan yang membuat Jiyeon ingin sekali memeluknya. Ia benci mengetahui Kyuhyun sedih dan ia tidak bisa melakukan apapun meskipun berdiri tepat di sampingnya.
“Jadi, Tiffany menyukai boneka beruang?” tanya Jiyeon lembut. Ia menyimpulkan sendiri dari kata-kata Eunhyuk. Kyuhyun terhenyak, menoleh lalu memandang boneka beruang yang masih ada di genggamannya.
“Ya.” Bisiknya pelan lalu kembali terdiam. Sepertinya kenangan tentang Tiffany benar-benar membekas di hatinya.

“Tak lama lagi adalah hari ulang tahunnya. Aku sudah mencoba melupakannya, tetapi tubuhku selalu bergerak dengan sendirinya, aku tidak tahu apa yang kulakukan, ketika tersadar aku sudah berdiri di depan toko itu, memandangi boneka yang sama.” Kyuhyun frustasi. Jiyeon merasa cemburu. Mengapa Kyuhyun begitu kesulitan melupakan Tiffany? Apa karena Tiffany adalah cinta pertamanya?

Raut sedih Kyuhyun membuat hati Jiyeon sesak oleh kesedihan. Ia tidak tahu harus melakukan apa untuk menghiburnya, ia juga tidak tahu kata-kata apa yang bisa membuatnya tersenyum kembali. Segala ketidakberdayaan itu membuatnya merasa tidak berguna.
“Kesedihan selalu datang saat kau mengenang seseorang yang kau cintai terlebih di saat dia sudah tidak bersamamu lagi. Yang membuat kau merasa sedih bukan karena kau menyesali kepergiannya, namun menyesal karena saat dia ada, kau belum sempat membuatnya bahagia.”

Kyuhyun tersentak untuk dua alasan, pertama karena kata-kata Jiyeon yang tepat menelak hatinya dan yang kedua karena ia mendengar gadis itu terisak. Ketika pandangannya teralih ke samping, ia terkejut melihat ada airmata mengalir di pipi Park Jiyeon.

Astaga, dia menangis.

Jiyeon tidak tahu mengapa tiba-tiba ia menangis seperti ini. Ia tak pernah merencanakannya. Ia hanya tiba-tiba teringat pada mendiang ibunya. Ia sedih bukan karena ibunya sudah tidak ada untuk menemaninya lagi, tetapi ia teringat ketika ibunya masih hidup, ia tidak sempat membuatnya bahagia.

Untuk pertama kalinya Kyuhyun mengerti mengapa Kibum selalu panik jika melihat seorang wanita menangis. Biasanya ia tidak akan peduli, atau mungkin memilih pergi seandainya berhadapan dengan airmata wanita. Tetapi kali ini, semua ketidakpedulian itu menguap. Ia buru-buru mencari sesuatu yang bisa menghentikan tangisan Jiyeon. Ia menatap boneka beruang di tangannya lalu tersenyum.
“Ini..” Kyuhyun mengulurkan Teddy Bear yang tadi ia beli pada Jiyeon. Berhasil, tangisan gadis itu berhenti. Kedua matanya mengerjap menatap boneka itu.
“Ini untukku?” tanyanya memastikan. Kyuhyun mengangguk lalu menyodorkannya kembali.
“Aku tidak mungkin menyimpan itu dan aku tidak berniat memberikannya pada orang lain selain dirimu.”

Senyum Jiyeon melebar bersamaan dengan rasa bahagia yang menghangatkan seluruh tubuhnya. Kyuhyun memberikan boneka yang dibelinya untuk Tiffany padanya. Ia mendekap erat boneka itu di dada. Apa mungkin ini artinya Kyuhyun pun mulai perlahan-lahan memberikan hatinya?

—o0o—

Kebahagiaan Jiyeon tidak hanya sampai di situ. Keesokan harinya Yoona dengan gembira memberitahunya bahwa pertunangannya dan Kyuhyun dibatalkan. Im Saeryung—ibunya—mengatakan pada kedua orang tua Kyuhyun bahwa pertunangan itu terlalu dini bagi mereka dan ia merasa tidak enak hati pada putri pertamanya. Mendengar hal itu Cho Hanna pun ikut memikirkan putri sulungnya yang belum memiliki pasangan. Sepertinya untuk saat ini mereka harus fokus pada anak-anak mereka yang paling besar lebih dulu.

Jiyeon sangat bahagia bahkan sampai terbawa ke sesi latihan judo yang ia hadiri sore itu. Siwon penasaran dan ingin bertanya apa yang membuatnya bahagia, tetapi ia menahannya hingga akhir latihan.
“Kau terlihat bahagia.” Siwon barulah bertanya setelah latihan selesai. Ia membereskan barang-barangnya bersama Jiyeon.
“Kyuhyun tidak akan bertunangan.” Jiyeon tak bisa menahan diri untuk menyembunyikan hal itu. Siwon mengerjap.
“Bertunangan?” ia tidak tahu tentang hal itu. Oh tentu saja, sejak kejadian itu ia dan Kyuhyun tidak pernah berbagi cerita lagi.

“Kau mau kemana?” Jiyeon heran melihat Siwon begitu buru-buru berganti baju dan memasukkan semua perlengkapan latihannya ke dalam tas. Siwon tadinya tidak akan mengatakannya, tetapi melihat Jiyeon begitu penasaran ia memilih jujur.
“Aku akan berziarah ke makam Tiffany. Hari ini peringatan kematiannya. Kau ingin ikut?” ia membetulkan tas punggungnya. Jiyeon membeku sesaat mendengarnya.

Hari peringatan kematian Tiffany? Tiba-tiba Jiyeon ingin sekali ikut. Ia langsung berdiri lalu mengangguk antusias. Siwon terkejut. Ia kira Jiyeon akan menolak. Sepertinya Jiyeon memang penasaran terhadap sosok Tiffany. Well, gadis ini benar-benar memerhatikan Cho Kyuhyun rupanya jika sampai ingin tahu cinta masa lalu pria itu.

—o0o—

Tidak seperti dugaan Jiyeon sebelumnya, ia kira akan mengunjungi pemakaman umum yang menyeramkan dengan batu-batu nisan tinggi memantau di setiap sudut. Ternyata Tiffany dikremasi dan abunya disemayamkan bersama abu kremasi yang lainnya di sebuah gedung khusus. Tempatnya terang benderang dan ramai dikunjungi meskipun hari sudah malam. Siwon meletakkan setangkai bunga mawar putih di depan pusara Tiffany dan melakukan beberapa penghormatan untuknya. Ketika mereka selesai mendoakan, Siwon terdiam sejenak di depan pusara Tiffany. Kesempatan itu digunakan Jiyeon untuk merenung. Ia melihat ada bunga lain diletakkan di sana. Ia bertanya-tanya apakah itu diletakkan oleh Kyuhyun atau keluarga Tiffany.

“Kami banyak melalui macam-macam hal bersama-sama.” Ungkap Siwon. Jiyeon menoleh padanya. Pria itu tersenyum mengenang sesuatu. “Aku, Tiffany dan Kyuhyun. Kami bertiga bergaul bersama-sama. Kami tidak pernah berselisih pendapat tentang apapun sampai akhirnya cinta mengacaukan persahabatan kami. Seharusnya perasaan itu tidak pernah ada. Jika tidak, mungkin saat ini Tiffany masih ada bersama kami dan persahabatanku dengan Kyuhyun tidak akan berakhir seperti ini.”

Jiyeon mengejapkan mata saat Siwon menoleh padanya. “Cinta memiliki kekuatan menghancurkan jika ditempatkan di antara persahabatan pria dan wanita. Setidaknya itulah yang kualami.” Ia lalu bangkit. “Ayo kita pergi.”

Siwon menyadari Jiyeon tidak pergi menyusulnya. Gadis itu tetap diam di posisinya.

“Perkenalkan, namaku Park Jiyeon. Kau Tiffany Hwang bukan?” Jiyeon menatap pusara Tiffany seolah sedang berbicara langsung dengannya. “Aku menyukai Kyuhyun. Tidak masalah bukan jika aku mencoba untuk menggeser posisimu dari hatinya?”

Senyum tak bisa disembunyikan dari bibir Siwon. Pria itu menggeleng kecil. Jiyeon sungguh gadis yang polos. Kyuhyun beruntung disukai gadis sepertinya.

“Jiyeon, sebaiknya kita pulang. Aku tidak mau Jungsoo Hyung membantingku ke tanah karena membiarkanmu pulang melewati jam makan malam.” ujar Siwon agak keras. Jiyeon tersentak lalu menoleh. Siwon tersenyum penuh arti kepadanya. Ia mengusap tengkuknya dengan wajah tersipu. Apa yang baru saja dilakukannya? Ia segera menyusul Siwon lalu pulang sebelum apa yang dikatakan Siwon tadi terjadi.

“Kenapa kau meminta izin pada Tiffany?” tanya Siwon ketika mereka berada di bus dalam perjalanan pulang.

“Aku tidak tahu.” Jiyeon terkekeh. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia melakukannya. “Aku hanya berpikir jika aku memberitahu Tiffany tentang perasaanku, mungkin dia akan mengambil luka di hati Kyuhyun dan membiarkan Kyuhyun mendapatkan cinta yang baru.”

“Kau sangat baik. Kyuhyun pasti akan membalas perasaanmu suatu hari nanti.” Siwon menepuk tangan Jiyeon yang terlipat di pangkuannya.
“Terima kasih.” Jiyeon tersenyum. Rasanya lega bisa berbagi antar sesama teman.

—o0o—

Kyuhyun sedang menikmati makan malam bersama keluarganya ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Ia mengerutkan kening melihat isinya bukan berupa pesan teks, melainkan sebuah foto yang bertuliskan; Lihat apa yang dilakukan sahabat lamamu dan kekasihmu. Tidakkah kau sadar bahwa masa lalu sedang terulang?

Orang brengsek mana yang mengirimkan ini?! Kyuhyun mencengkeram ponselnya ketika ia menyadari Eunhyuk-lah pengirimnya. Foto yang dikirimkan pria itu berisi Jiyeon dan Siwon sedang berpegangan tangan di kursi paling belakang bus. Mereka saling melempar senyum seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Ini tidak benar. Apa yang mereka lakukan bersama malam-malam begini?

“Kau mau kemana?” Ayahnya bertanya karena Kyuhyun tiba-tiba berdiri. Ia ingin memastikan sendiri kebenaran foto ini.

“Aku ingin ke suatu tempat untuk memastikan sesuatu.” ia berbalik dan baru berjalan beberapa langkah ketika ia menyadari keanehan reaksinya. Ia menatap kembali foto di layar ponselnya lalu tertegun.

Mengapa ia cemburu dengan foto ini? Mengapa ia marah melihat Jiyeon dan Siwon bergandengan tangan? Bukankah pada kenyataannya Jiyeon bukan siapa-siapa baginya? Mereka berpacaran, ya. Tetapi itu untuk mengelabui Eunhyuk, teman-teman SMPnya dan keluarganya. Reaksinya sungguh berlebihan untuk ukuran seseorang yang berpura-pura menjalin hubungan dengan seorang gadis. Ia mendesah lalu kembali ke kursinya.

“Kenapa?” kali ini ibunya yang bertanya.

“Aku merasa lebih baik menyelesaikan makan malamku dulu.” ujar Kyuhyun datar. Ia masih terheran-heran dengan reaksinya. Sedetik yang lalu ketika pertama kali melihat foto itu, ia ingin sekali pergi untuk memisahkan mereka berdua, menarik Jiyeon jauh-jauh dari Siwon. Kenapa ia harus melakukannya? Terserah mereka melakukan apapun. Ia tidak peduli sama sekali. Lagipula ia yakin Eunhyuk hanya ingin memprovokasinya. Ia menggelengkan kepala dan memutuskan melupakannya.

Kyuhyun baru menyadari usahanya sia-sia karena keesokan harinya foto itu masih mengganggunya. Selama pelajaran ia terus mendengus dan membuat beberapa guru menegurnya. Donghae dan Kibum hanya saling memandang dan tidak tertarik untuk bertanya karena Kyuhyun sudah terbiasa seperti itu.

Apa aku sedang terjebak dalam kebimbangan? Kyuhyun kesal dengan apa yang dirasakannya. Hanya satu cara untuk membuat hatinya kembali tenang. Menemui Jiyeon. Lalu apa yang ia lakukan saat bertemu dengan gadis itu? Meminta Jiyeon menjelaskan tentang foto itu? Lucu sekali. Akhirnya hingga jam sekolah berakhir, ia tetap pada pendiriannya. Diam dan tidak menemui gadis itu. Lebih baik ia pulang sekarang dan berlatih sendirian di rumah.

Ponselnya bergetar. Kyuhyun menggerutu. Sebuah pesan masuk dari ibunya.

Sayang, Eomma tiba-tiba ingin sekali bertemu dengan pacarmu. Bisakah kau membawanya ke rumah hari ini?

Sial! Kyuhyun mengumpat setelah membaca pesan dari ibunya itu. Di saat ia tidak mau menemui Jiyeon mengapa ibunya justru memberinya perintah seaneh itu? Haruskah ia mengarang alasan bahwa Jiyeon tidak masuk sekolah atau semacamnya? Tidak. Ibunya bisa meminta nomor ponsel Jiyeon dan menghubungi gadis itu untuk menanyakan kabarnya.

“Arrgh, ini menyebalkan!” Kyuhyun mengerang lalu berbalik sambil menghentak-hentakkan kaki. Ia memutuskan untuk mencari Jiyeon.

—o0o—

Seperti biasa, Jiyeon sedang bersama Suzy dan Yoona. Mereka berkumpul di sekitar loker dan sedang tenggelam dalam pembicaraan tentang apa yang akan mereka lakukan setelah ini.
“Pergi karaoke!” seru Suzy sambil bertepuk tangan. “Untuk merayakan kembalinya Yoona ke sekolah.”
“Itu sudah beberapa hari yang lalu.” Ujar Yoona tapi mereka tetap sepakat untuk pergi ke karaoke. Menyanyi adalah cara yang ampuh untuk menghilangkan kepenatan karena tugas sekolah.

Jiyeon masih memikirkan tentang perasaannya terhadap Kyuhyun. Apa pria itu akan merespon perasaannya suatu hari nanti seperti yang dikatakan Siwon? Tetapi melihat Kyuhyun begitu sulit ditebak, ia merasa ragu. Apalagi ia Kyuhyun selalu terlihat tanpa ekspresi. Ada apa sebenarnya dengan pria itu? Apa dia sudah kehilangan rasa?

“Jiyeon, kau tampak lesu.” Suzy merangkulnya. Ia memberikan jus kalengan yang baru diminumnya setengah pada Jiyeon. “Minum ini dulu. Mungkin kau haus setelah pelajaran terakhir.”

“Terima kasih,” Jiyeon meneguknya. Ia memang merasa lebih baik. Kepalanya sudah tidak lagi berputar-putar dan itu bukan karena pelajaran mereka yang semakin ketat karena mendekati liburan musim dingin dan ujian akhir sekolah melainkan karena Kyuhyun.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu?” Jiyeon menatap kedua sahabatnya dengan wajah memelas. Yoona dan Suzy langsung tertarik.
“Apa?” mereka serempak bertanya.
“Apa kalian tahu seperti apa tanda-tanda cinta itu?” melihat kedua sahabatnya mengerjap lalu saling memandang dengan wajah terkejut, ia menambahkan. “Bagaimana kita menyimpulkan seseorang mencintai kita atau tidak.”

“Bagaimana ya?” Suzy bingung. Sejujurnya ia tidak pernah memikirkan tentang hal itu sama sekali. “Mungkin dia akan memperlakukanmu secara istimewa. Atau dia siap melakukan apa saja agar bisa membuatmu bahagia. Ah, dan yang terpenting, dia juga paling tidak bisa jika tidak melihatmu sehari saja.”
“Begitu.” Jiyeon menerima pendapat Suzy bulat-bulat. Ia memiringkan kepala dan tiba-tiba merasa sedih karena Kyuhyun tidak seperti itu.
“Kenapa? Kyuhyun tidak menunjukkan perhatiannya padamu?”
Jiyeon menggeleng, “Satu-satunya perhatian dari dia adalah ketika dia memberiku boneka beruang.”
Suzy langsung berkacak pinggang, kesal. “Sungguh, sampai saat ini aku masih heran. Apa yang kau sukai dari pria seperti Kyuhyun?”
“Suzy-ah, tenang.” Yoona memegang pundaknya.
“Aku tidak tahu.” Jiyeon menggeleng dengan polos. “Aku hanya yakin dia pria yang baik—walaupun sebenarnya sampai sekarang aku belum tahu apa kebaikannya. Sebelum ini aku pernah merasa Kyuhyun mirip dengan seseorang.”

“Siapa?” Yoona dan Suzy bertanya.
“Cinta pertamaku.”

Yoona dan Suzy kembali berpandangan. Jiyeon merenung mengingat kenangan itu. “Dia adalah orang pertama yang kuberi surat cinta. Tetapi dia menolakku. Saat itu aku merasakan patah hati untuk pertama kalinya.”
“Owh,” Yoona bersimpati.
“Siapa dia?” Suzy justru semakin penasaran.
Jiyeon mengangkat bahu, “Aku lupa. Ingatanku benar-benar buruk.” Ia memandang Suzy yang tampak kecewa dan Yoona yang tersenyum menenangkan. Ketika memandang Suzy kembali ia teringat sesuatu.
“Kau bekata bahwa seseorang yang jatuh cinta padamu akan memperlakukanmu degnan istimewa, melakukan apapun agar bisa membuatmu bahagia dan tidak bisa jika tidak melihatmu sehari saja?” Jiyeon mengulangi ucapan Suzy. Gadis itu mengangguk.
“Kenapa?”
Jiyeon memiringkan kepala lalu memandangnya, “Bukankah Kibum melakukan semua itu padamu? Apa artinya dia mencintaimu?”

Suzy langsung tersedak. Kata-kata Jiyeon sungguh mengejutkannya. Yoona buru-buru mengusap-usap tengkuknya. Setelah merasa lebih baik ia menatap Jiyeon.

“Itu tidak mungkin!” bantahnya sambil membelalakkan mata. “Dia melakukan semua itu tidak hanya kepadaku, tetapi kepada semua orang. Bukankah menebar pesona adalah keahliannya?!”
“Tapi aku tetap merasa perlakuannya padamu berbeda.”
“Itu hanya perasaanmu saja. Benar bukan Yoon?”
“Oh, yeah.” Yoona tidak seratus persen setuju karena ia pun sebenarnya sependapat dengan Jiyeon. Tidakkah Suzy menyadari bahwa sikap Kibum berbeda terhadapnya?

“Park Jiyeon, berhenti.”

Langkah ketiga gadis itu berhenti karena seruan seseorang. Mereka semua serempak berbalik dan terkejut melihat Cho Kyuhyun berjalan ke arah mereka. Raut wajahnya tanpa ekspresi sehingga tidak ada satupun yang bisa menebak tujuan pria itu menghampiri mereka.

“A-apa?” Jiyeon berdebar kencang karena tatapan Kyuhyun tertuju padanya. Suzy dan Yoona menatapnya waspada. Mereka siap menyelamatkan Jiyeon jika Kyuhyun menunjukkan gerak-gerik mencurigakan sedikit saja.

Dengan nada datar dan ekspresi datar, Kyuhyun berkata. “Ikut pulang bersamaku.”

“Apa?” Jiyeon terkejut bukan main. Ia terpaku menatap Kyuhyun yang sepertinya sedang bermain-main dengannya. Untuk apa pria ini mengajakku ke rumahnya?
“Kau tidak bisa membawa Jiyeon begitu saja. Siapa yang akan tahu apa yang akan kau lakukan padanya di rumahmu.” Serobot Suzy. Ia memelototi Kyuhyun. Pria itu mendelik tajam padanya.
“Ini bukan urusanmu, gadis monster.” Ujarnya tajam.
“Apa?” Yoona segera menahan Suzy yang siap-siap mendebat Kyuhyun.
“Kau tidak akan melakukan hal yang aneh pada Jiyeon bukan?” tanya Yoona baik-baik. Kyuhyun mendengus kesal.
“Demi Tuhan, itu semua bukan urusan kalian. Ayo.” Tak ingin berdebat lagi Kyuhyun menggenggam tangan Jiyeon lalu menariknya pergi. Ia menutup telinganya rapat-rapat ketika suara teriakan Suzy menggelegar.

“Dasar gadis menyebalkan.” gerutunya. Jiyeon menatap Kyuhyun bingung, penasaran, dan takut.
“Kenapa kau ingin aku ikut ke rumahmu?” tanyanya hati-hati. Kyuhyun menoleh sekilas lalu berjalan lebih cepat menuju parkiran.
“Ibuku ingin bertemu denganmu. Ia memintaku mengajakmu ke rumah hari ini.”

“Apa?” Jiyeon membelalakkan mata. Astaga, ia belum siap bertemu dengan ibu Kyuhyun lagi setelah hari itu. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? Tiba-tiba saja ia merasa takut. Berbagai macam bayangan buruk berkelebat dalam dirinya.

Apa ibu Kyuhyun akan menyuruhku putus dengan anaknya?

Tunggu dulu, memang sejak kapan mereka benar-benar menjadi sepasang kekasih?

~~~TBC~~~

215 thoughts on “School in Love [Chapter 18]

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s