School in Love [Chapter 17]

Tittle : School in Love Chapter 17
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Sad, School life, Friendship

Main Cast :
Bae Suzy | Im Yoona | Park Jiyeon
Cho Kyuhyun | Kim Kibum | Lee Donghae

Dha’s Speech :
Siap-siap terkejut di tengah cerita ^_^

Happy Reading

School in Love by Dha Khanzaki 1

=====o0o=====

CHAPTER 17
“I’m NOT A Criminal !”

TANGISAN gadis itu kembali terngiang.

Surat beramplop merah muda dengan motif bunga masih tersimpan dengan baik di laci meja belajar Kibum hingga saat ini. Setiap kali melihatnya kejadian dua belas tahun yang lalu terulang begitu saja seperti film.

Saat itu dia masih berada di taman kanak-kanak. Meskipun saat itu ia anak laki-laki lincah berusia lima tahun, ia sudah menjadi idola di kelasnya. Wajah menggemaskan dan polosnya seperti magnet bagi orang lain untuk menyukainya. Ia menjalani masa itu dengan gembira, bahkan cenderung mudah karena entah mengapa ia lebih cepat menangkap pelajaran dibandingkan teman-teman sekelasnya. Suatu hari, ada seorang anak perempuan dari kelas lain yang tiba-tiba memberinya surat berisikan pernyataan bahwa gadis itu menyukainya.

Sejujurnya saat itu ia masih tidak mengerti dan terlalu muda sehingga bingung harus memberikan jawaban apa. Pada akhirnya ia hanya menggelengkan kepala. Menolak surat yang diberikan gadis itu dan berkata bahwa ia tidak berminat bermain dengan anak perempuan.
“Maaf, aku lebih suka bermain dengan anak lelaki.” Jawabnya polos tanpa tahu bahwa perkataannya itu berhasil mematahkan hati gadis kecil yang berdiri di hadapannya. Satu kejadian yang tidak terduga pun terjadi. Gadis yang syok karena ditolak olehnya itu mendadak berkaca-kaca. Tetes demi tetes airmata jatuh di pipinya. Itu adalah pemandangan yang mengerikan, sungguh. Hati Kibum kecil seperti jatuh ke tanah melihat gadis itu menangis di hadapannya. Ia tercengang sekaligus kebingungan.

Kibum berusaha menghentikannya tangisannya. Tapi gadis itu berbalik pergi. Sejak saat itu, Kibum tidak pernah menemuinya lagi karena entah mengapa, gadis itu seperti menghindarinya.

Sejak saat itulah penyakit anehnya muncul. Ia pernah berkonsultasi sekali pada seorang psikiater ketika ia berusia 10 tahun dan psikiater itu berkata bahwa mungkin itu semacam phobia yang muncul disebabkan oleh trauma. Bentuk pertahanan diri yang muncul begitu saja karena rasa bersalahnya telah membuat seorang menangis. Sejak saat itu pula Kibum sadar ia tidak bisa dan tidak tahan melihat seorang perempuan menangis di depannya.
Malam itu tiba-tiba saja Kibum ingin bertemu dengan gadis pemilik surat yang menangis di depannya. Ia hanya ingin meminta maaf. Dalam surat itu tidak tercantum nama si penulis surat.

—o0o—

Dari tahun ke tahun, acara peringatan ulang tahun Royal President High School selalu menjadi acara tahunan paling meriah di sekolah itu. Tingkat keramaiannya setingkat dengan festival budaya hari-hari besar nasional. Ada bazaar, pameran, dan pertunjukkan musik selama satu minggu penuh namun momen yang paling ditunggu seluruh murid dan pengunjung bukanlah hal itu melainkan pesta dansa di hari terakhir festival sekaligus malam puncak dari acara peringatan ulang tahun itu sendiri.

Tema pesta dansa selalu berbeda tiap tahunnya. Uniknya, sesulit dan seaneh apapun tema yang diusung tetap tidak menyurutkan rasa antusias para siswa untuk hadir di acara itu. Mereka memiliki tujuan lain, terutama para siswa yang berasal dari kelas platinum. Malam pesta dansa mereka jadikan sebagai ajang pamer kekayaan.

Beragam gaun dan tuksedo mahal karya desainer ternama menghiasi acara pesta malam itu. Sesuai dengan pesta yang bertema Bunga Sakura, ruang aula sekolah yang luas disulap menjadi ruang pesta dengan dekorasi mewah, elegan serta didominasi warna merah muda, hitam, dan biru.
Tepat pada pukul 7 malam, aula itu dipenuhi oleh murid-murid dan pengunjung lain yang memakai gaun warna merah muda untuk wanita dan hitam untuk pria.
Wow, so pinky tonight. Isn’t it?” Yoona berkata kepada Suzy dan Jiyeon ketika mereka tiba di aula.
“Yeah, I think so.” Sahut Suzy dengan bahasa Inggris juga, tertular Yoona. Ia terlalu terpukau dengan dekorasi ruangan yang meriah dan lebih menonjolkan kemewahan daripada kecerdasan. Tentu saja, orang-orang kaya di sini hanya ingin pesta yang mereka hadiri sesuai dengan latar belakang mereka.

“And You’re the most beautiful girl here, Yoon.” Jiyeon memandangi Yoona dengan bangga. Gaun merah muda lembut bertali spagetti dengan aksen belt hitam bertabur permata di pinggangnya dengan rok model bertumpuk seperti daun-daun yang dijahit bersusunan menjadi satu yang dikenakannya membuatnya seperti putri. Sementara gaunnya hanya gaun merah muda yang sederhana. Suzy saja tampak sangat cantik dengan gaun miliknya. Ya Tuhan, ia baru sadar berteman dengan dua orang gadis tercantik yang pernah ia temui.

Yoona bersemu merah, “Terima kasih.” Senyum tersipunya seperti perhiasan yang mempercantik penampilannya secara keseluruhan. Tidak heran jika saat itu banyak sekali mata pria yang tak teralih dari paras cantiknya.

Jiyeon begitu tulus dan baik. Yoona tiba-tiba merasa bersalah karena sudah membuatnya sedih beberapa hari yang lalu. “Maafkan aku, Jiyeon-ah.” lirihnya menyesal. Jiyeon terkesiap dengan perubahan ekspresi Yoona yang tiba-tiba.
“Untuk?”
“Karena aku tidak menceritakan tentang pertunangan itu padamu. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya, hanya saja aku takut pengakuanku akan menyakiti hatimu.” Kedua mata Jiyeon melebar sementara Suzy menoleh cepat ke arahnya, kaget. “Tapi kau tenang saja, aku dan Kyuhyun sepakat untuk membatalkan pertunangan itu.”

Mwo, kau bertunangan dengan Cho Kyuhyun? Sejak kapan?” Suzy kaget sekali mendengar berita itu. Mengapa ia tidak tahu apa-apa tentang pertunangan Yoona dan Kyuhyun? Ia langsung memandang Jiyeon, cemas bagaimana reaksinya. Ia kira Jiyeon akan marah atau paling tidak membentak Yoona, tetapi tanpa diduga gadis itu tersenyum lalu merangkul Yoona.

“Itu tidak penting, kami berniat membatalkannya.” akuYoona.

“Tidak apa-apa. Aku tahu kau tidak akan menyakitiku. Lagipula Kyuhyun sudah menjelaskannya padaku. Dia berniat membatalkan pertunangan itu juga.”
Yoona menghembuskan napas lega. “Benarkah. Ah, sungguh melegakan. Kau tahu, aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu. Kau tidak menangis semalaman bukan?”
Jiyeon menggeleng dengan bibir tetap tersenyum.

Suzy sungguh kagum pada Jiyeon. Gadis ini memiliki hati sebesar apa sih, bisa memaafkan seseorang dengan begitu mudah. Jika ia di posisi Jiyeon, mungkin akan masih menyimpan dendam pada Yoona. Yah, meskipun Kyuhyun berkata tidak menyetujui pertunangan itu, tetapi masih ada kemungkinan berubah bukan? Yoona sangat cantik, bukan berarti Jiyeon tidak cantik tetapi pria mana yang menolak Yoona. Kecuali jika Yoona bukanlah tipe wanita yang disukai Kyuhyun, dan Jiyeonlah tipe wanita yang disukainya. Yah, semoga itu alasan Kyuhyun ingin membatalkan pertunangan.

“Aku bangga pada kalian berdua.” Suzy merangkul Jiyeon dan Yoona. Mereka tertawa entah untuk alasan apa. Memiliki sahabat memang tidak ada duanya di dunia ini. Mereka adalah tempat lain kau bisa menumpahkan segala masalah selain keluarga. Apa jadinya Suzy jika hingga detik ini ia masih tidak memiliki sahabat? Ia pernah memilikinya juga dahulu namun ia lepaskan karena keegoisannya sendiri. Sekarang ia bertekad tidak akan kehilangan sahabat lagi, terutama setelah mendapat dua sahabat luar biasa seperti Jiyeon dan Yoona.

“Kau sendiri sejak kapan berpacaran dengan Kibum?” pertanyaan Jiyeon yang tiba-tiba membuat senyum Suzy lenyap seketika. Pertanyaan konyol macam apa itu?

Yoona hanya memandangnya ingin tahu. Ia lupa memberitahu Jiyeon tentang rencana aneh Kibum dulu untuk meyakinkan Taecyeon; mengakui Suzy sebagai kekasihnya.
“Jiyeon, itu hanya gurauan tidak penting.” Dengus Suzy kesal. Karena ucapan tidak bertanggung jawab itu Jiwon pergi dan sekarang ia kesulitan menemui gadis itu lagi. Ya Tuhan, mengapa ia harus berurusan dengan pria seperti Kim Kibum? Tekanan darahnya selalu naik setiap kali mengingat keusilannya itu. Meskipun terkadang dia baik dan manis, tetapi dia tetap Kibum si perayu ulung. Entah apa tujuan pria itu mendekatinya.

Acara pun dimulai ketika seorang MC naik ke atas panggung. Setelah pidato singkat dari kepala sekolah—Suzy baru pertama kali melihatnya, ia kira kepala sekolah adalah pria atau wanita tua dengan rambut memutih, ternyata kepala sekolah itu masih muda. Berada di usia sekitar akhir empat puluhan. Tinggi tegap dengan rambut hitam yang tertata rapi—acara dilanjutkan dengan pengumuman prestasi apa saja yang sudah diraih Royal President selama setahun ke belakang berikut pembagian hadiah untuk siswa-siswi yang berprestasi dan telah mengharumkan nama sekolah. Siapa yang menyangka ketiga Prince of School mendapatkan penghargaan juga. Kibum dalam bidang sains, Donghae untuk bidang olahraga dan Kyuhyun untuk bidang musik.

Penghargaan yang tidak disangka diberikan kepada Jiyeon. Suzy benar-benar tidak tahu Jiyeon masuk ke sekolah ini melalui jalur prestasi. Guru bidang kesiswaan mengatakan bahwa Jiyeon mahir memainkan alat musik piano, biola, dan gitar. Dia juga pernah memenangkan satu lomba kuliner ketika bulan pertamanya—ia belum berada di sekolah ini waktu itu.
Great, Jiyeon-ah. Ternyata ada alasan hebat di balik kue-kue enak buatanmu!” seru Suzy ketika Jiyeon kembali ke sisinya dengan piala berkilauan di tangannya. Gadis itu tersenyum.
“Terima kasih.”
See, sekarang aku merasa malu karena tidak mendapatkan apapun.” Suzy merengut sedih. Yoona saja mendapatkan satu karena dedikasinya dalam mengurus greenhouse sekolah.
“Kau akan mendapatkan satu yang lebih spektakuler nanti.” ungkap Yoona mencoba membesarkan hatinya.

Acara yang paling ditunggu-tunggu pun tiba. Dansa berpasangan diiringi musik. Setiap pria dipersilakan memilih wanita manapun yang akan diajaknya berdansa. Beberapa pasangan mulai memenuhi lantai dansa. Sudah ada beberapa yang mengajak Yoona namun gadis itu dengan sopan menolaknya. Jiyeon dan Suzy hanya melihatnya dengan iri.

“Selamat malam, girls.” Seseorang menyapa dengan sopan. Ketiga gadis itu menoleh, sama-sama terkejut melihat Kim Kibum berdiri di sana dengan penuh percaya diri. Tak lupa senyum manis itu tersemat di bibirnya. Jiyeon dan Suzy refleks saling berpegangan tangan ketika menyadari Kyuhyun dan Donghae ikut mendekat. Mereka sama-sama kehabisan napas melihat pangeran masing-masing. Yah, Kyuhyun dan Donghae kompak sekali mencuri perhatian banyak gadis dengan penampilannya yang memukau malam itu. Ketiga prince of school itu sama saja, kemanapun mereka pergi pasti membawa sederet kehebohan dan huru hara. Lihat saja, mata sebagian besar gadis di aula itu tertuju pada mereka dan Suzy, Jiyeon, serta Yoona mendapatkan lirikan tajam mereka. Mereka tidak bisa mencibir Yoona, bagaimana pun gadis itu memang secantik bidadari dan bagian dari kelas Platinum tapi Suzy dan Jiyeon, dua orang itu hanya murid kelas bawah.
“Selamat malam, Kibum.” Hanya Yoona yang menyahut karena Jiyeon dan Suzy terlalu terpaku pada Kyuhyun dan Donghae.
Kibum mendengus. Bisakah kau lihat aku sedetik saja? Bisiknya dalam hati sambil melirik Suzy.

Donghae tiba-tiba mengambil inisiatif lebih dulu dengan mengulurkan tangannya pada Yoona, mengejutkan Suzy dan Jiyeon.
“Dansa denganku?” ucapnya sambil tersenyum.
Setelah membuat sedih Jiyeon karena pertunangannya dengan Kyuhyun, ia tidak mungkin menyakiti Suzy dengan menerima ajakan Donghae. Dengan penuh penyesalan ia menolak tawaran itu.
“Terima kasih, tapi bagaimana jika kau mengajak Suzy saja?”

Suzy langsung menoleh pada Yoona, tidak percaya. Sedetik yang lalu ia berpikir Yoona akan menerimanya tetapi ternyata dengan baik Yoona menolak tawaran Donghae dan menyarankan dirinya pada pria itu? Yoona kau..Suzy ingin sekali memeluknya.
Sekelebat rona sedih terlihat di wajah Donghae, tetapi kemudian pria itu tersenyum kembali lalu mengulurkan tangannya pada Suzy. “Kau mau?”
Senyum Suzy langsung merekah dan tidak pernah secerah hari itu, “Dengan senang hati,” lirihnya terharu. Tangannya diapit oleh Donghae dan dengan hati berdebar ia dibimbing pria itu menuju lantai dansa. Beberapa helaan kecewa terdengar dari berbagai penjuru.

Yoona sadar tindakannya itu membuat Kibum mendengus kesal. Pria itu melirik padanya seolah ingin mengatakan; ‘mengapa kau menyerahkan Suzy pada Donghae?’. Tiba-tiba ia merasa kasihan pada pria ini. Tetapi ketika menoleh kembali pada Suzy yang gembira berdansa dengan Donghae, ia tidak menyesal dengan keputusannya.
Jiyeon menatap Suzy dengan iri. Gadis itu berhasil berdansa dengan pangeran berkuda putihnya sementara ia hanya berdiri di sisi ruangan. Ia harap ia bisa seperti itu. Seolah Tuhan menjawab doanya dengan segera, tiba-tiba saja Kyuhyun mengulurkan tangan padanya.

“Dance with me,” ajaknya dengan nada datar. Jiyeon mengerjapkan mata. Kyuhyun memang bukan pria romantis sehingga tidak bisa mengajak dengan nada yang lebih lembut, tetapi Jiyeon tidak pernah lebih senang dari ini. Dengan antusias ia mengangguk lalu menerima uluran tangan Kyuhyun.
Kibum menganga melihat Kyuhyun pergi ke lantai dansa bersama Jiyeon sementara Yoona mendesah gembira. Akhirnya ia bisa melihat sendiri kebersamaan Kyuhyun dan Jiyeon. Kira-kira dua puluh gadis mendesah kecewa melihat satu lagi pangeran sekolah mengajak seorang gadis ke lantai dansa.

Jadi lagi-lagi hanya aku yang tertinggal di sini? Kibum tidak percaya. Ia melirik Yoona yang terlihat gembira menyaksikan kedua sahabatnya berdansa. Jika tidak karena dia mungkin malam ini ia berhasil mengajak Suzy berdansa. Kibum ingin sekali melayangkan protes kalau saja ia tidak ingat bahwa Yoona adalah guru aikidonya. Merasa diperhatikan, Yoona menoleh padanya.
“Kenapa, kau ingin berdansa juga?” tanyanya mengejutkan Kibum. Pria macam apa yang diajak wanita ke lantai dansa? Pertanyaan Yoona seperti palu yang memukul harga dirinya dengan telak.
“Ya, seharusnya pria yang mengajak wanita lebih dulu.” protesnya. Ia lalu mengulurkan tangan membuat Yoona terkikik geli—bagaimana pun tetap elegan.
“Kau tetap menjadi pria dengan gengsi tinggi.” Meski mengeluh Yoona tetap menerima ajakan Kibum. Ia tidak tega membuatnya lebih sedih lagi.

Dengusan yang paling kencang terjadi ketika Kibum membawa Yoona bergabung di lantai dansa bersama pasangan lainnya. Kebersamaan mereka semakin memperkuat dugaan orang-orang bahwa Yoona dan Kibum memang menjalin hubungan. Kekesalan yang paling kentara terlihat di wajah Krystal. Gadis itu meletakkan gelas jusnya dengan keras di atas meja melihat Kibum berdansa dengan Yoona.
“Im Yoona, kau telah menabuh genderang perang denganku. Baik, kau yang memintanya.” Ia mendesis penuh dendam lalu pergi dan menghilang di antara orang-orang.

Setelah dansa pertama selesai, seperti tahun-tahun sebelumnya dijeda oleh acara pemutaran film dokumenter tentang sejarah sekolah dari awal berdiri hingga saat ini. Lalu dilanjutkan dengan film pendek yang menampilan foto-foto dokumentasi selama setahun terakhir. Suzy kembali ke sisi Yoona dan Jiyeon dan menonton film itu dengan gembira. Mayoritas yang diperlihatkan adalah ketiga pangeran sekolah. Tetapi juga ada foto lainnya. Jiyeon terkejut ketika foto dirinya sedang ikut lomba memasak di tampilkan. Foto Yoona yang sedang duduk di tepi lapangan basket dengan senyum di bibirnya pun ada. Entah siapa yang mengabadikannya diam-diam. Suzy terkejut ketika foto dirinya yang terbalur tepung dari ujung rambut hingga kaki ditampilkan. Dalam foto itu ia sedang menggerutu. Sial, siapa yang mengambil foto sialan itu? Orang-orang tertawa ketika melihatnya.

“Foto apa itu?” tiba-tiba seseorang berseru ketika layar menampilkan potret seseorang dengan dandanan tidak terpuji khas anak-anak berandal. Pakaian yang sobek di sana sini dan rambut panjangnya dicat merah, memakai riasan smoking eye di matanya dan aksesori seperti yang dipakai anggota geng motor.
Semua orang tersentak kaget. Siapa perempuan dalam foto itu?

“Perempuan murahan!” seru Kwon Yuri si Lady of Platinum Class dengan jijik. Ia mencibir siapapun wanita dalam layar itu.
Semua orang berseru kaget, tak terkecuali Suzy dan Jiyeon bahkan beberapa orang meringis ngeri. Perempuan macam mana yang berpenampilan seperti itu. Reaksi yang berbeda dialami oleh Yoona. Sekujur tubuhnya bergetar dan keringat dingin bercucuran di sepanjang dahinya. Ia meremas tangannya dengan kencang sampai buku-buku jarinya memutih.

Tidak, kumohon hentikan.

Perhatian semua orang masih terpaku pada layar sehingga tidak ada yang menyadarinya. Potret demi potret pun terus diperlihatkan. Beberapa orang sudah mencibir, mengumpat, dan memaki namun tidak ada yang bertindak untuk mematikan film itu karena mereka penasaran siapa sosok asing itu sebenarnya. Sampai akhirnya tibalah potret seorang gadis cantik yang ditunjukkan sebagai transformasi dari gadis nakal sebelum-sebelumnya.

Apa!!

Pandangan seisi aula langsung tertuju pada Yoona yang sudah sepucat mayat. Gadis itu membelalakan mata, pandangannya tidak fokus pada satu titik. Semua orang tidak percaya bahwa potret-potret nappeun yeoja yang ditampilkan tadi merujuk pada Im Yoona—gadis yang terkenal anggun, tenang, dan baik.

Keributan pun terjadi di aula itu. Mereka menggunjingkan apa yang baru saja mereka lihat bahkan ada yang tidak segan-segan untuk mencibir Yoona.

Jiyeon tidak tega melihat ekspresi Yoona saat ini, ia langsung memegang tangannya.
“Yoon.”
Yoona mengangkat wajahnya, kepalanya pusing ketika menyadari semua orang melayangkan pandangan jijik dan merendahkan kepadanya.
“Yoon, foto itu tidak benar bukan?” Suzy menyentuh tangannya yang lain. Ia pun sama khawatirnya dengan Jiyeon. Yoona berada dalam kondisi siap pingsan kapanpun.

“Astaga, ternyata Im Yoona adalah seorang yankee(Di Jepang, sebutan itu dipakai untuk menjuluki anak-anak sekolah berandal yang suka merokok, minum-minuman alkohol, dan berpakaian tidak terpuji).” Yuri berkata dengan nada merendahkan. Ia tidak percaya.
“Sungguh tidak disangka,” sahut yang lain.
“Kau menjatuhkan martabat kelas platinum,” Kim Junsu si ketua kelas 1-1 ikut mencibir. Lalu umpatan-umpatan yang lain pun datang silih berganti.

“Boneka sinting itu!” Suzy ingin sekali memukul Yuri. Karena ulahnya semua orang di aula mulai memaki Yoona.
Yoona sudah tidak tahan mendengar makian yang datang silih berganti seolah tidak akan ada habisnya. Airmata sudah meleleh membanjiri wajahnya.

“BERHENTI!!” Teriakan Kibum menggema ke seluruh penjuru aula. Entah sejak kapan ia sudah berada di panggung, meraih mikrofon dari tangan MC. Aula seketika sunyi senyap. Ia memandangi seluruh orang di depannya dengan tatapan tajam.
“Siapapun yang berbicara lagi, tidak akan kumaafkan. Apa kalian pikir memaki adalah tindakan terpuji? Apa kalian berada di tingkat lebih tinggi dari apa yang baru saja kalian rendahkan?”
Tidak ada yang berani menyahut.
Yoona yang sudah tidak tahan menerima lirikan tajam orang-orang berbalik pergi. Donghae yang melihatnya langsung mengejar gadis itu.
“Yoon,” Suzy berteriak, ia ikut mengejar Yoona. Jiyeon tidak ikut karena ia sudah menangis. Meskipun segala makian itu dilemparkan pada Yoona, tetapi ia merasa kata-kata itu ditujukan untuknya. Hatinya terasa sakit seperti Yoona. Ia tidak mau sahabatnya direndahkan seperti itu. Kyuhyun buru-buru menenangkannya.

Kibum yang berada di atas panggung bisa melihat apa yang terjadi. Ketika pandangannya menyapu seluruh aula, perhatiannya terpaku pada Krystal yang menampilkan senyum misterius di sudut aula dekat dengan panggung. Ketika gadis itu menoleh dan menyadari Kibum menatapnya, dia tersentak lalu pergi meninggalkan tempatnya dengan gugup. Kedua mata Kibum menyipit. Jika ada satu orang yang paling membenci Yoona dan ingin mempermalukan Yoona di depan umum hanyalah Krystal Jung. Ia ingat bagaimana Yoona juga pernah mempermalukannya—secara tidak sengaja di kafetaria beberapa waktu lalu.

Sial, gadis itu pasti memiliki dendam pada Yoona. Tapi ia tidak boleh asal menuduh hanya karena Krystal memiliki motif untuk melakukannya. Ia harus mencari bukti.

—o0o—

Yoona terus berlari meninggalkan aula sekolah, ia tidak tahu kemana ia pergi. Ia hanya mengikuti langkah kakinya saja. Ia baru berhenti ketika tiba di dekat greenhouse, satu-satunya tempat di sekolah ini yang menerimanya tanpa syarat. Ia menangis di tempat itu, jauh terpuruk di atas tanah di antara pot-pot kosong dan perkakas kebun. Ia tidak peduli gaun mahalnya kini telah kotor oleh tanah dan lumpur.

Hatinya terasa sakit. Ia tidak menyangka sisi gelap yang sudah ia coba sembunyikan selama setahun ini terkuak ke permukaan malam ini. Sekarang, seisi sekolah tidak akan pernah memandangnya dengan cara yang sama lagi.

“Kau adalah seorang penjahat!”

Tubuhnya tersentak seperti disengat listrik ketika suara teriakan itu menggema keras di telinganya. Suara bentakan penuh kebencian yang dilontarkan kakak perempuanya setahun yang lalu. Kalimat itu selalu berhasil membuatnya menggigil dan benar, saat ini sekujur tubuh Yoona mengigil seperti seseorang yang terserang hipotermia.

“Penjahat!”

Sekali lagi suara yang memekakan telinga itu menggaung. Yoona tiba-tiba merasa paru-parunya sulit sekali memompa udara. Ia tersungkur ke depan sambil memegang dadanya. Sebelah tangannya menahan tubuhnya. Pandangannya mulai berkunang-kunang.
“Aku bukan penjahat!” Yoona susah payah berteriak melawan dirinya sendiri. Tangisannya semakin kencang. Tangisan tersisa.

Terbayang kembali kejadian itu di depan matanya seperti film yang diputarbalikkan. Hari ketika kakaknya menuduhnya sebagai penjahat dan hidupnya berubah 180 derajat.
“Yoona!!” suara seseorang memanggil, tetapi ia sudah terlalu lemah untuk menoleh, terlalu lemah untuk menyahut. Saat itu Yoona mengerang karena napasnya seperti terenggut habis lalu seluruh dunianya menggelap.

—o0o—

Appa..

Dalam bayang-bayang mimpi itu, Yoona terkenang pada mendiang Ayahnya. sekitar dua tahun yang lalu, hidupnya berada dalam kekacauan. Namun saat ia menganggap hidupnya sempurna. Terlahir dalam keluarga kaya raya membuatnya menjadi gadis sombong dan arogan. Akhirnya ia tenggelam dalam pergaulan yang salah. Seluruh teman-temannya adalah laki-laki berandal yang memiliki jiwa pemberontak dan merasa diri sendiri yang terbaik. Terpengaruh, Yoona yang saat itu berada di bangku SMP mulai memberontak meskipun ia berhasil menyembunyikan sisi lain dirinya itu dari keluarga dan Taecyeon, pria yang ia sukai. Pria itu kuat, itulah alasan Yoona menyukainya. Karena sering terlibat dalam perkelahian antar geng preman di Seoul, ia belajar beladiri. Orangtuanya sama sekali tidak tahu tentang kenakalannya.

Yoona berbuat seperti itu tentu saja bukan tanpa alasan. Peraturan keluarganya yang terlalu keras, terutama doktrin-doktrin yang diterapkan sang ayah kepadanya membuatnya stress dan kesal. Akhirnya ia melampiaskan rasa frustasinya itu dengan menjadi dirinya yang lain. Ia kesulitan bernapas karena ketatnya peraturan dalam keluarganya. Meski begitu ia tetap mengikuti apapun yang diperintahkan sang kepala keluarga Im itu.

Hidupnya tidak selalu berjalan mulus dan pada akhirnya rahasianya terbongkar. Ia terjerat kasus penggunaan obat-obatan terlarang. Ia bersama teman-temannya tertangkap oleh polisi sedang mengkonsumsi salah satu jenis narkoba yaitu opium. Mereka tidak mengkonsumsinya secara langsung melainkan membakarnya ke dalam tempat yang biasa dipergunakan di kuil-kuil untuk dupa. Sehingga orang tidak akan mengira bahan yang mereka gunakan adalah sebuah obat terlarang. Yoona tidak pernah tahu bau manis yang membuatnya melayang setiap kali dihirup adalah salah satu jenis narkoba. Ia kira itu hanyalah wewangian biasa. Tidak ada satupun temannya yang memberitahu sehingga ia terkejut ketika polisi menggerebek mereka dan menangkapnya. Barulah ia tahu ketika salah seorang polisi menjelaskan padanya di kantor polisi.

Berita itu jelas mengejutkan ayah dan keluarganya. Ayahnya yang memiliki penyakit jantung langsung tumbang ketika polisi datang ke rumahnya untuk memberitahu bahwa putri bungsu keluarganya berada di kantor polisi dan segera dilarikan ke rumah sakit. Yoona yang mendengar hal itu dari ibunya yang datang berkunjung bersama pengacara merasa bersalah dan sedih. Meskipun ia tidak suka dengan segala peraturan ketat yang diberlakukan ayahnya, tetapi ia sangat menyayangi pria itu. Ia berdoa semoga ayahnya baik-baik saja. Ibunya berjanji akan membebaskannya dari jerat hukum.

Namun karena terbukti mengkonsumsi obat itu, pengadilan tetap menjatuhkan hukuman penjara kepadanya dan teman-temannya. Tetapi berkat pengacara andal yang sewa ibunya, ia tidak perlu menjalani satu tahun hukuman itu di balik jeruji besi, melainkan di tempat rehabilitasi untuk memulihkan diri dari obat-obat yang dikonsumsinya secara tidak sengaja. Vonis hukuman itu pada akhirnya menjadi pukulan terakhir dan menjadi penyebab ayahnya meninggal dunia.

Yoona menangis di hari pemakaman ayahnya. Taecyeon tidak ada untuk menghiburnya karena pria itu pindah sekolah ke luar negeri. Teman-teman sekolahnya pun tidak ada yang datang untuk menemaninya setelah berita tentang penahanan dirinya tersebar di sekolah. Keluarganya sudah meminta sekolah untuk menyembunyikan hal itu tapi gosip seperti virus yang menyebar tanpa bisa dicegah. Akhirnya Yoona dikeluarkan oleh sekolah. Dua pukulan keras didapatkannya hari itu. Dan pukulan ketiga pun datang dari mulut kakak perempuannya, Im Jina. Gadis yang lebih tua 5 tahun itu memakinya di rumah duka tepat di depan altar ayahnya.

“Kau penjahat! Kau sudah membunuh Appa! Beraninya kau datang dan berlutut di depan Appa! Pergi kau kembali ke penjara!”

Yoona tetap memaksakan diri untuk bersimpuh dan memberikan penghormatan terakhir untuk ayahnya ketika kakaknya dengan marah menyuruhnya pergi. Ia mengemis permohonan maaf pada kakaknya dan seluruh keluarganya yang ada hari itu. Tidak ada satupun di antara mereka yang menatapnya tulus. Mereka semua membencinya.

Eonni,” Yoona memeluk kaki Jina sambil menangis. “Maafkan aku, kumohon jangan membenciku.” Seluruh tubuhnya menggigil kedinginan dan dadanya sesak.
“Pergi kau, jangan pernah muncul di hadapanku lagi!” Jina menarik kakinya sambil melemparkan pandangan jijik. Kakaknya itu memandangnya seolah dirinya adalah kotoran. Yoona menangis dengan penuh rasa penyesalan di depan foto hitam putih ayahnya. Tidak ada yang mendekat, tidak ada yang menghibur. Yoona merasa sangat sendirian dan ia terpuruk. Hanya ibunya yang mendekat untuk menenangkannya selama beberapa saat karena polisi kemudian datang untuk membawanya kembali ke tempat rehabilitasi.

Setelah itu Yoona tidak pernah melihat kakak perempuannya lagi. Bahkan ketika ia kembali pun, Im Jina pergi ke luar negeri untuk menuntut ilmu. Masa rehabiliasi ia manfaatkan untuk mengubah diri. Ia bertekad akan meninggalkan kehidupan lamanya dengan menjadi Yoona yang baru. Ia belajar dengan baik, mengejar ketinggalannya. Terkadang ia masih merasa menggigil ketika teriakan kakaknya itu teringat. Psikolog yang menanganinya mengatakan bahwa itu mungkin efek dari obat yang dikonsumsinya ditambah traumanya terhadap tuduhan sang kakak. Namun Yoona berhasil menemukan ketertarikan lain yaitu merawat tumbuhan dan melukis. Setahun kemudian, ketika ia keluar dari panti rehabilitasi itu ia merasa seperti menginjak dunia baru.

Im Yoona yang anggun, tenang, dan baik pun muncul. Ia tidak akan pernah kembali ke dirinya yang dulu. Ia meninggalkan semua dirinya yang dulu di tempat rehabilitasi. Ia kubur dalam-dalam kenangan buruk itu dan ketika akhirnya ia berhasil diterima di Royal President setelah berhasil melewati ujian masuknya yang sulit, ia merasa gembira. Keluarganya telah memberi sejumlah konpensasi kepada sekolah itu agar tidak membocorkan masa lalu Yoona. Masa lalu yang sesekali menghantuinya membuatnya tidak memiliki teman dan menjadi sosok pendiam. Ia takut sekali untuk berteman, ia takut kembali terjatuh dalam pergaulan yang salah. Terlebih ia takut teman-teman barunya itu menjauhinya ketika mengetahui masa lalunya.

—o0o—

Dua hari berlalu setelah Yoona jatuh tak sadarkan diri, gadis itu masih terbaring di ranjang rumah sakit. Im Saeryung, ibunya cemas karena putrinya tidak kunjung sadarkan diri. Dokter berkada itu merupakan hal biasa untuk pasien yang pingsan karena trauma. Ia mengusap kening putrinya dengan lembut.

Eonni..” rintihan kecil keluar dari sudut bibir Yoona. Im Saeryung terkejut. Dia memanggil Jina, kakak perempuannya.

Kyuhyun dan Donghae masuk, mengejutkan wanita paruh baya itu. Mendapati calon menantunya dan pria yang membawa Yoona ke rumah sakit tempo hari, ia bangkit sambil tersenyum.
“Kalian,” ucapnya.

“Apa Yoona sudah siuman?” tanya Donghae khawatir. Im Saeryung menggeleng sedih.
“Sepertinya aku harus bertanya pada dokter tentang hal ini. Apa kalian bisa menjaganya sementara aku menemui dokter?”
Kyuhyun dan Donghae mengangguk patuh. Im Saeryung yang terlihat letih melintasi mereka, namun sebelum ia keluar, Donghae memanggilnya.
“Maaf,” Im Saeryung menoleh. “Mengapa Anda tidak mencoba menghubungi kakak Yoona, mungkin keberadaannya di sini bisa membuat Yoona lebih baik. Selama perjalanan menuju rumah sakit tempo hari,Yoona terus mengingaukan kakaknya.”

Im Saeryung mengerjap karena kata-kata Donghae mengingatkannya pada Jina, putri pertamanya yang kini tinggal di Seattle, Amerika Serikat. Memang sudah hampir dua tahun mereka tidak bertemu.
“Baiklah, aku akan mencoba menghubunginya. Tetapi aku tidak menjamin Jina berkenan untuk datang kemari.” Setelah mengatakan itu ia pergi, menutup pintu ruangan itu. Kyuhyun memilih diam di dekat jendela dengan pandangan tertuju ke arah pemandangan langit yang biru. Ia kemari hanya untuk menemani Donghae. Sahabatnya itu tampak mencemaskan Yoona seperti mencemaskan kekasihnya saja.

Donghae duduk di kursi yang tadi di tempati Im Saeryung, ia masih ingat raut kesakitan Yoona ketika ia membawanya ke rumah sakit. Sebenarnya apa yang terjadi? Foto-foto itu sepertinya mengingatkannya pada trauma di masa lalu. “Yoon, kau harus cepat sadar.” Ia memegang tangan Yoona dengan lembut.

“Haiii!” pintu mendadak di buka dan Suzy masuk membawa kehebohan. Donghae yang terkejut langsung melepaskan tangan Yoona lalu berdiri. Suzy diam menyadari aksinya telah mengejutkan Donghae dan Kyuhyun.
“Maaf sudah membuat kalian terkejut.” ia terkekeh. Mengabaikan cibiran Kyuhyun dan tatapan Donghae, ia mendekati sisi ranjang. Kegembiraannya pudar ketika ia melihat kondisi Yoona. Pucat, rapuh, dan menderita. Ekspresi itu mengingatkannya pada hinaan yang didapati Yoona ketika pesta tempo hari. Ya Tuhan, jika ia yang mengalami hal itu, ia pasti sudah memutuskan untuk bunuh diri. Ia bersyukur karena Yoona tidak melakukannya.

“Yoon, asal kau tahu. Kau tidak sendirian. Aku dan Jiyeon akan selalu bersamamu. Karena itu kau kuatlah.” Suzy menyentuh tangannya yang dingin. Ia mengusap-usapnya. Ia mengerjap ketika merasakan tangan Yoona dalam genggamannya bergerak.
“Dia bergerak!” Suzy berseru senang. Donghae dan Kyuhyun mendekat. mereka semuanya menatap Yoona dengan penuh harap. Kelopak mata gadis itu bergerak lalu perlahan-lahan membuka.
“Yoon!!” Suzy lega sekali sampai ingin menangis melihat Yoona siuman. Gadis itu menatap mereka bertiga heran, masih berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kondisi ruangan. Donghae langsung menekan tombol merah.

Suzy senang sekali karena Yoona tersenyum saat menatapnya. Syukurlah dia masih mengenaliku, “Suzy-ah.” Gadis itu berkata dengan suara yang jauh dan pelan.
“Ya, aku di sini.” Suzy memegang tangannya lagi. Kedua mata sayu Yoona tiba-tiba saja meneteskan airmata.

Bibir Yoona yang kering bergetar, “A-aku sudah membunuh ayahku..” lirihnya berat membuat ketiga orang di hadapannya terkejut.
“Mem-membunuh?” Suzy terbata. Apa telinganya salah dengar? Ucapan Yoona sungguh tidak masuk akal.
“Aku penyebab kematiannya..karena ulahku membuat ayah terkena serangan jantung. Kakakku benar, aku memang membunuhnya. Aku pantas dibenci olehnya, dibenci oleh semua orang. Aku pantas dihina. Aku adalah seorang penjahat..” Yoona susah payah mengatakannya. Suaranya hampir tidak terdengar karena isak tangis.

Suzy langsung memeluk Yoona untuk menenangkannya. “Sshh, kematian ayahmu bukanlah kesalahanmu. Semua itu adalah takdir, Yoon. Kau tidak perlu menyalahkan diri.” Kata-kata Yoona tadi membuatnya sedikit paham. Mungkin foto-foto di pesta kemarin ada sangkut pautnya dengan kematian ayahnya, hal itu juga yang telah memicu traumanya.
“Kakakku membenciku, dia tidak pernah memaafkanku..”
“Kakakmu hanya emosi. Apa yang dikatakannya saat itu bukanlah isi hatinya yang sebenarnya. Aku yakin kakakmu masih menyayangimu hingga saat ini.” sahut Donghae. Yoona baru menyadari keberadaan Kyuhyun dan Donghae di sana. Tangisannya sedikit mereda. Kini ia merasa malu karena menunjukkan sisi lemahnya di hadapan orang lain selain sahabat dekat dan keluarganya.
“Terima kasih,” Yoona bergumam. Sedikit senyum tersemat di bibirnya. Kata-kata Donghae memang seperti penyejuk yang menenangkan hatinya.

Suzy tersenyum lega. Yoona mendongak padanya lalu tersenyum. “Mana Jiyeon?” tanyanya.
“Dia akan segera datang kemari membawa cupcakes cokelat yang lezat. Kau harus menghabiskannya, Yoon.”

—o0o—

Kim Kibum bermaksud menjenguk Yoona sore itu. Ia baru memiliki waktu untuk membesuknya karena ia sibuk mencari bukti yang menguatkan dugaannya dan benar saja, Krystal Jung memang pelakunya. Mudah baginya mencari informasi mengingat dirinya seorang Prince of School. Salah seorang panitia yang menyukai Krystal dirayu oleh gadis itu untuk meminjamkan film dokumentasi yang akan ditampilkan dalam acara sekolah. Tentu saja pria bodoh itu memberikannya dan Krystal dengan leluasa mengedit film itu sekehendak hatinya. Ia hanya heran darimana Krystal mendapatkan cerita tentang masa lalu Yoona dan foto-foto itu.

Akhirnya ia berhasil menyuap salah satu ‘dayang’ Krystal dan bertanya di mana gadis itu mendapatkan foto-foto Yoona. Darinya, Kibum mengetahui Krystal mencari informasi pada teman-teman SMP Yoona. Dari situ pula ia tahu sejarah kelam Yoona yang ternyata memilukan. Bukannya mengasihani Yoona ia justru merasa bersalah. Krystal melakukan semua ini karena dirinya. Sebenarnya ialah penyebab semua ini. Jika ia bisa mencegah Krystal membenci Yoona, masa lalu Yoona tidak akan terkuak.

Sekarang seminggu setelah kejadian, Yoona masih mendapatkan perawatan di rumah sakit. Ia harus menemui Yoona untuk meminta maaf.

~~~TBC~~~

222 thoughts on “School in Love [Chapter 17]

  1. eon aku pingin story suzy kyuhyun
    ah kenapa kyu harus sama jiyeon, feel nya ga dapet eon
    tapi ceritanya aku suka, semangat lanjutnya eon aku ga sabar

  2. KENAPA SIH AUTHOR FF DI BLOG INI SELALU BERHASIL DAN SUCCESS BUAT AKU JADI PENASARAN DAN SENYUM SENYUM NDIRI BACA FF NYA?😄 WKWKWKKWKWKKW .. #ceritanyamenarik!🙂 lanjut ne :;) Gomawo Eonni ^+^ . ll dulu uname ku namanya “darrafd” cuman ku ganti jdi “taylorswift” hehe😀 oke info aja , wkwkkwkw😄.

  3. ah, dimana part 18 kok ga muncul-muncul… >.< aku selalu nunggu. penasaran bagaimana dengan keadaan Yoona dan kisah KyuYeon di sini. Juga YoonHae, BumZy, yang bikin gemesss. update please eon, aku merindukan FF mu.

  4. Huaaa ternyata “I’m not a criminal” itu yoona?!*syok haish kasian banget yoona,pantesan aja banyak yg mengganjal-,- kayak laki2 yg datengin yoona,kenapa yoona ragu untuk ngelawan preman2 (waktu sama kibum) wkwkwk:D

    Sebenernya kecewa:'( aku tuh ngebayangin suzy, suzy kasian banget:( donghae keliatan suka sama yoona.. :’) kyuhyun sama jiyeon-_- aku kira awalnya suzy sama kyu:( eh pas tau kyu sama jiyeon aku potek</3 terus berharap sama donghae,eeeh ama kibum deketnya malah:3 ah rapopo rapopo:D wkwkwk ceritanya benar2 NGGAK PERNAH membosankan:) selalu penuh kejutan ditiap part nya^^ bukannya ini part yg panjang? Aah aku berharap ada keajaiban:')#apaansih

    Next eon! Semangat!buru2 post next chap! ^^
    Hwaiting!!! \(≧◇≦)/ huhuhu~ aku akan selalu menunggumu!! #AlayModeOn

    Saranghae♥♥ *loh o.O

  5. entah mengapa melihat reaksi kyuhyun yang tiba tiba mengarah kepada jiyeon entah sekedar basa basi atau ada rasa perhatian atau hanya bersama jiyeon.. rasanya lucu.. seakan2 jika apapun keadaannya maka reflek kyuhyun melihat ke arah jiyeon hahaha…
    aigoo dan kini giliran donghae yg bingung ia menyukai yoona, tapi yoona tak ingin suzy sedih, dan sedangkan kibum mati matian mengajar suzy.. aigoo kibum konyol sekaligus keren hahaha

  6. Kok jd ga suka sm donghae d part ini,,, dy suka yonna tp PHPin si suzy….
    Udh suzy sm kibum aja,, sama2 berdua bikin kristal kapok,, kan seru tu jahil + usilnya mereka,, hahahaa…

  7. Kasian yoona..
    Jahat bgt si krystal, iya cemburu tp jgn sampe gitu nya kali!!
    Aaa kasian suzy, cinta nya bertepuk sebelah tangan.

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s