Crazy Because of You [Chapter 2]

I Married The Bad Boy Other Story

Tittle : Crazy Because of You Chapter 2
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, complicated

Main Cast :
Min Sora | Lee Donghae

Support Cast :
Cho Kyuhyun-Jeyoung couple | Kim Soohyun

Dha’s Speech :
Momen romantis Donghae-Sora tidak ada di part ini ^_^

Happy Reading

Crazy because of You by Dha Khanzaki1

=====o0o=====

CHAPTER 2

Crazy Because of You

 

“KENAPA kau tidak datang malam ini, nak?”

Ketika tiba di apartemennya, hal yang pertama dilakukan Donghae adalah memeriksa telepon rumahnya. Tepat seperti dugaannya, terdapat 14 pesan masuk dari ibunya. Seperti biasa, ibunya akan selalu menelepon jika ia tidak datang memenuhi tradisi bulanan untuk memastikan keadaannya baik-baik saja dan jika ia tidak menjawab, dipastikan ibunya akan menghubungi ponselnya untuk menceramahinya hingga telinganya panas.

Donghae mendengarkan semua pesan itu dengan setengah hati sambil berganti baju. Ia hanya menjawabnya dengan gumaman malas atau memutar bola matanya. Ia lalu menghitung dalam hati kapan ponselnya akan berbunyi. Dan tepat ketika hitungannya sampai pada angka 9, ponselnya berdering. Itu pasti ibunya. Ia langsung menyambar ponselnya lalu menjawabnya.

Eomma, aku sangat sibuk kemarin jadi..”
“Donghae?”

Seluruh kalimat Donghae langsung terhenti ketika ia mendengar suara  Narin, kakak perempuannya. Jadi, kali ini bukan ibunya mengutus kakak perempuannya untuk menelepon?

Nuna?” tanyanya memastikan.

“Syukurlah itu kau. Aku takut yang menjawabnya adalah seorang wanita.” Suara kakak perempuannya terdengar begitu lega.

Donghae mendudukkan dirinya di atas sofa ruang tv. “Kenapa kau yang menelepon, kemana Eomma?”
Eomma sedang menjaga Minwoo, bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja bukan?”
Donghae langsung teringat pada anak laki-laki kakaknya yang berusia 4 tahun, pasti sedang dalam masa nakal-nakalnya sampai neneknya harus ikut menjaga.
“Tentu saja.” sahut Donghae seolah apa yang ditanyakan kakaknya terlalu aneh.
“Jadi kenapa kau tidak datang? Appa dan Eomma mencemaskanmu.”
“Maaf, aku menginap di rumah teman.”
“Teman wanitamu?” tanya Saerin langsung, tanpa basa-basi.
“Ya.”

“Lee Donghae,” kakaknya terlihat tidak suka. “Bukankah sudah aku katakan untuk tidak bermain-main?”
“Aku tidak bermain-main, untuk kali ini aku serius.” Ucap Donghae sungguh-sungguh. Kakaknya di ujung sana langsung terdiam. Yah, ia yakin pengakuannya membuat wanita yang berusia 3 tahun lebih tua darinya itu terkejut.
“Kau serius?”
“Ya.”
“Kalau begitu kenapa kau tidak mengajaknya menemui Appa dan Eomma? Mereka pasti akan senang.”

Donghae mendengus, tidak suka dengan jawaban kakaknya yang satu ini.

“Itu bukan urusanmu. Sudah, jika kau meneleponku untuk menasehatiku tentang komitmen, aku akan menutup pembicaraan ini sekarang juga.”
“Donghae tunggu—“

Terlambat, karena Donghae sudah menekan tombol merah dan pembicaraan pun terhenti sampai di situ. Ia melempar ponselnya ke sudut sofa lalu menengadah sampai tengkuknya menyentuh punggung sofa.

Segalanya menjadi kacau balau sejak kejadian itu. Seorang gadis telah mengobrak-abrik perasaannya, membuatnya tidak bisa mengerti apa itu cinta. Lalu gadis itu pergi dalam kehidupannya, meninggalkan dirinya yang porak-poranda dengan kondisi hati yang tidak utuh lagi. Ya, gadis itu membawa lari kepingan hatinya dan mungkin masih menyimpannya hingga sekarang. Bila ada kesempatan, bisakah ia mengambil kembali lempengan itu?

Karena ia yakin patahan hati yang dicuri darinya adalah bagian yang mengajarinya tentang cinta.

Pertanyaan terbesarnya adalah; kapan kesempatan itu akan datang?

—o0o—

Sora tiba di sebuah rumah megah yang merupakan kediaman milik keluarga Cho. Rencana untuk mengunjungi Ahyoon akhir pekan depan batal karena Sora mempercepatnya. Ia ingin sekali bertemu Jeyoung, berbicara panjang lebar pada sahabatnya itu. Ia membiarkan sekuriti memarkirkan mobilnya dan seorang kepala pelayan langsung menyambutnya dengan ramah seperti biasa.
“Nona Sora, Anda tidak biasanya berkunjung sepagi ini.” sapanya. “Apa Anda sudah sarapan? Kebetulan Tuan Besar dan yang lainnya sedang menikmati sarapan di beranda samping.”
“Aku sangat merindukan Ahyoon,” ucap Sora, “Bagaimana kabarnya?”
“Sedang menikmati sarapan bersama ibunya, mari saya antarkan Anda.”

Kepala pelayan yang sudah mengabdikan diri selama separuh hidupnya untuk keluarga Cho itu mengatarkannya ke sayap kiri rumah. Tempat itu adalah beranda dengan teras luas yang nyaman untuk beristirahat dan berkumpul bersama keluarga sambil menikmati suasana senja. Pemandangan matahari terbenam di sana indah sekali. tetapi sekarang tempat itu sudah disulap menjadi ruang makan terbuka. Sora bisa melihat Tuan Cho Seunghwan, Kakek Cho, Kyuhyun, Jeyoung dan si kecil Ahyoon berada di sana. Bayi mungil itu sedang menyusu, dan Sora bisa melihat pipi mungilnya dengan semangat menyedot asi ibunya.

“Tuan, Nyonya, Nona Min Sora datang berkunjung.”

Perhatian orang-orang itu teralih padanya. “Selamat pagi,” sapa Sora yang disambut hangat oleh mereka.
“Kebetulan sekali, ayo kemarilah Nona Min. Kau pasti belum sarapan kalau datang sepagi ini.” Tuan Cho, atasannya terdahulu langsung menunjuk kursi kosong di sampingnya. Pria itu menjadi begitu ramah dan bahagia setelah Ahyoon lahir. Apalagi Kakek Cho, pria yang sudah mencapai usia senjanya itu justru semakin sehat dan bersemangat. Sepertinya kelahiran Ahyoon dalam keluarga Cho membawa banyak keberuntungan.
“Kunjungan yang mengejutkan, bibi Sora.” Ucap Jeyoung dari ayunan kursi yang tampak nyaman sambil menyusui putri kecilnya. Ibu muda itu terlihat bahagia.
“Ow, jangan bangun. Kau bisa membuat bayi itu menangis.” cegah Sora ketika Jeyoung akan bangkit untuk menyambutnya.
“Hallo, Sora, bagaimana kabarmu?” tanya Kyuhyun sambil menikmati sarapannya.
“Oh Sajangnim, aku lupa membawa laporanku. Maaf.” Ucap Sora dengan nada berlebihan. Kyuhyun langsung mencibirnya kesal.
“Jangan bersikap sok hormat di depanku, Sora. Sekarang bukanlah jam kantor. Kau sungguh menyebalkan.”

Sora tertawa, “Maafkan aku. Jangan hentikan sarapan kalian, kumohon. Aku datang untuk mengunjungi Ahyoon, aku merindukannya.” Ucapnya. Para pria itu tertawa lalu kembali tenggelam dalam perbincangan seputar bisnis. Ia meninggalkan mereka lalu menghampiri Jeyoung dan ikut duduk di sampingnya.

“Bagaimana kabarmu, sayang?” tanya Sora sambil mencium kedua pipinya. “Kau terlihat sangat segar semenjak menjadi ibu.”
“Ahyoon memberiku banyak sekali kebahagiaan.” Jawab Jeyoung dengan kebahagiaan yang sepertinya tidak akan pernah habis. Ia memandangi putrinya yang tengah menikmati sarapannya. Mata bayi mungil itu berbinar ketika menatap mata ibunya, lalu tersenyum, memamerkan mulutnya yang masih belum ditumbuhi gigi.
Aigoo, Donghae Oppa benar, dia sangat sehat dan menggemaskan.” Seru Sora gemas.
“Kau sudah kenyang sayang?” Jeyoung langsung menangkupkan Ahyoon di bahunya. Sambil menggosok lembut punggung bayi itu agar bersendawa.
“Kapan kau bertemu dengannya, seingatku terakhir kali Donghae mengunjungi Ahyoon adalah kemarin sore.”

“Eee..” Sora langsung memerah. Ia memalingkan pandangan. Jeyoung menyipitkan mata. “Min Sora, sudah kukatakan berkali-kali jangan mudah termakan rayuan pria brengsek seperti Lee Donghae. Sekarang apa yang dia lakukan, tidur di apartemenmu?”

Bagaimana dia bisa tahu? Sora tercengang. Apa Jeyoung bisa membaca pikirannya? Daripada menjawab pertanyaan berbahaya itu ia memilih bangkit, mendekati meja makan lalu mencomot buah apel yang ada di keranjang. Tuan Cho dan kakek sudah selesai makan dan pergi sejak dua menit yang lalu sehingga Sora tidak terlalu menanggung malu mendengar kata-kata Jeyoung barusan.

“Sayang, jangan mengumpat di depan Ahyoon,” sahut Kyuhyun santai, “Dan apa kau bilang, Lee Donghae seorang brengsek?” ia menaikkan alisnya sebelah sambil menatap istrinya.

“Kupikir aku benar,” Jeyoung mengangkat bahu tak peduli, “Sikapmu cukup mencerminkan dengan siapa saja kau bergaul. Jika kau dulu seorang bad boy, maka tak dipungkiri Donghae pun seorang bad boy. Lihat saja dia mendekati Sora dengan gencar tetapi tidak menyatakan cinta sama sekali. Pria macam apa yang melakukannya? Hanya satu, yaitu seorang pemain sepertimu.”

Kyuhyun tertawa sementara Sora menunduk malu, “Jika aku seorang pemain aku tidak akan berada di sini untuk mencintaimu dan memberimu Ahyoon.”

Kedua pipi Jeyoung merona, “Well, kau sudah berubah. Tapi bagaimana dengan Donghae? Kurasa dia tidak berubah. Kusarankan agar kau tidak terlalu menaruh harapanmu padanya, Sora. Jika dia tidak kunjung memberimu kejelasan, lebih baik kau cari pria lain saja. Kau sangat cantik dan menarik untuk mendapatkan satu pria kaya raya lain yang mencintaimu.”

“Saran istriku ada benarnya.” Kyuhyun mengangguk setuju ketika pandangan Sora memaku padanya. “Tetapi, kau harus tahu Min Sora. Aku mengenal Lee Donghae dengan baik. Dia mungkin memang seorang petualang, tetapi bukan berarti dia suka mempermainkan hati wanita. Lee Donghae adalah tipikal pria yang akan terpaut selamanya pada satu gadis yang membuatnya jatuh cinta. Dan alasannya mendekatimu, aku yakin tidak hanya sekedar ketertarikan fisik antara pria dan wanita. Dia memiliki perasaan ‘lebih’ terhadapmu.” tutur Kyuhyun dengan lembut dan hati-hati. Semenjak menyandang status sebagai seorang ayah Kyuhyun menjadi lebih bijaksana.

Sora mengerucutkan bibir mendengar penuturan Kyuhyun. “Tetapi dia tidak kunjung menyatakan perasaannya padaku.”

“Mungkin itu sisi buruk Donghae selain kemampuannya yang sangat buruk dalam mengingat arah. Aku harap kau memberinya waktu. Dia tidak bermaksud mempermainkanmu, aku yakin. Kupikir Donghae masih harus menyesuaikan diri dengan perasaannya. Dia memang tidak pernah bercerita tentang kisah cintanya. Tetapi sepertinya dia memiliki trauma terhadap kisah cintanya sehingga dia kesulitan untuk menyadari perasaannya sendiri.”

Benarkah? Itulah yang sora gumamkan setelah mendengar nasehat Kyuhyun. Apa Donghae memang memiliki perasaan terhadapnya? Sejujurnya ia tidak mengerti. Donghae memang memperlakukannya seperti seorang kekasih. Tetapi tetap saja jika tidak ada pernyataan yang menegaskan tindakannya, ia merasa Donghae hanya memanfaatkannya saja. Lalu bagaimana ia menjelaskan kedua mata Donghae yang selalu menunjukkan binar ketulusan? Pria itu terlihat jujur, polos, dan tidak manipulatif ketika bersamanya.

Suara tangisan Ahyoon membuyarkan lamunan Sora. Ia menoleh dengan cepat ke arah Jeyoung yang sedang menimang putrinya. Dengan senyum terbit di bibir, ia bergegas mendekati sahabatnya sambil mengulurkan tangan.

“Biarkan aku menggendongnya.”

—o0o—

Sora sudah memutuskan, bagaimana pun ia tidak memiliki ikatan apa-apa dengan Lee Donghae. Karena itu tidak masalah bukan jika ia mengatur beberapa kencan buta bersama teman-teman wanitanya di kantor? Sore itu ia diajak oleh teman-teman satu lantai dengannya pergi minum-minum sepulang kerja. Mereka mengatakan akan ada beberapa pria yang menemani. Tanpa pikir panjang ia mengangguk setuju. Lagipula Donghae tidak menghubunginya lagi semenjak mereka tidur bersama tempo hari. Pria itu pasti sudah bosan dengannya.

Pikiran itu membuat hatinya berdenyut nyeri. Lee Donghae memang pria brengsek. Jeyoung benar. Jika pria itu memang memiliki setitik saja perasaan cinta untuknya, sudah jauh-jauh hari dia menyatakan cinta.

Aku bukan buah yang bisa dicicipi sedikit lalu dicampakkan begitu dia tahu rasaku tidak manis.

Kim Soohyun adalah seorang pria yang tampan. Sora menangkap hal itu pada momen pertama ketika mereka bertatapan lalu berkenalan. Pria itu terlihat sopan sekaligus pendiam, tampak tidak sesuai ketika duduk bersama teman-temannya di seberang meja. Jelas sekali restoran sederhana tempat mereka berada bukanlah tempat yang biasa dikunjunginya. Barulah Sora tahu alasannya ketika salah satu temannya berkata.

“Soohyun kami adalah pewaris tunggal SG Group. Meskipun dia berpenampilan sempurna dan kemampuan bisnisnya bagus, tetapi dia sangat buruk dalam hal berhubungan dengan wanita. Karena itu kami mengajaknya kemari. Siapa tahu di antara kalian ada yang membuatnya tertarik.” Temannya itu terkekeh puas ketika Soohyun melemparkan tatapan tajam.

Omo, perusahan besar yang memproduksi smartphone?” salah satu teman Sora berseru takjub sambil menunjukkan ponsel miliknya. Dari logonya Sora tahu ponsel itu diproduksi oleh SG Group. Ketika menoleh pada Soohyun, ia bisa melihat semburat malu muncul di kedua pipinya. Teman-teman wanitanya langsung berseru kagum. Mereka jelas menunjukkan ketertarikan kepada Soohyun terutama setelah mengetahui bahwa satu bujangan berkualitas tinggi duduk di depan mereka.

“Aku tidak seburuk itu. Aku hanya tidak pandai berbicara dengan para gadis.” tutur Soohyun sopan. Sora hanya tersenyum. Soohyun sangat berbeda dengan Lee Donghae. Jika sekarang Donghae berada di antara mereka, pria itu pasti sudah melancarkan ratusan rayuan. Tapi Soohyun memang menarik dengan caranya sendiri.

“Jadi, sekarang kau masih sendiri?” Sora kaget karena dirinya bertanya. Mengapa mulutnya bekerja sendiri tanpa diperintah? Dan apa urusannya jika Soohyun masih sendiri?

Soohyun tersenyum manis saat menatapnya, “Ya. Jika aku sudah memiliki kekasih atau istri, aku tidak akan mengikuti mereka kemari.” Ia menoleh pada teman-teman di sampingnya yang keasyikan menenggak soju. Sora mengangguk pelan.

Ketika teman-temannya mengerahkan kemampuan untuk memesona Soohyun, Sora justru tidak tertarik melakukan apapun. Sejujurnya acara kencan buta ini tidak berhasil baginya karena ia masih tetap teringat pada Lee Donghae. Ia penasaran apa yang sedang dilakukan Donghae saat ini. Apa mungkin pria itu sedang bersenang-senang di kelab malam bersama beberapa wanita? Hatinya langsung bergemuruh. Dasar pria tidak berperikemanusiaan! Membuat hatinya gundah gulana tanpa sebab, pria itu patut mendapatkan pelajaran. Sebagai pelampiasan, Sora mengambil daging sapi panggang di depannya lalu memasukkan ke mulutnya. Ia tidak peduli jika cara makannya tidak terlihat manis—teman-temannya susah payah menunjukkan cara makan yang manis dengan melahap daging sapi perlahan-lahan—karena jika ia tidak melakukannya ia mungkin akan menangis dan mengacaukan acara.

Seusai acara, teman-temannya saling bertukar nomor ponsel dengan para pria sementara ia berdiri di depan restauran dengan hati tak menentu. Apa ia akan pulang malam ini dan menenggalamkan diri dalam bath tub sambil bersedih ria atau ia pergi ke sauna saja dan merenung sendirian di sana sambil merelaksasikan diri?

“Kau tidak pulang?”

Sora tersentak kaget. Menoleh ke samping, ia menemukan Kim Soohyun mengerutkan kening penasaran. Ia mengerjapkan mata. “Aku menunggu teman-temanku. Mereka akan menumpang mobilku sampai ke halte depan.” Ucapnya pelan.

“Oh, kau membawa mobil.” Soohyun terlihat kecewa, Sora tidak mengerti apa yang membuatnya merengut sedih seperti itu.

“Ah, karena teman-temanku saling bertukar nomor dengan teman-temanmu, sepertinya aku pun harus melakukannya.” Bukannya menyuruh Sora mengeluarkan ponsel dia justru mengulurkan sebuah kartu nama padanya. “Hubungi aku jika kau menginginkan seseorang menemanimu saat kau sendirian. Aku akan meluangkan waktuku.”

Sora menerima kartu itu setengah bingung. Ketika Soohyun berpamitan padanya sekali lagi, ia hanya menganggukkan kepala seperti orang bodoh. Pria itu berjalan menuju mobilnya lalu melesat pergi.

“Wah, Sora mendapatkan kartu nama Kim Soohyun!!” suara teriakan temannya membuat Sora tersentak sadar. Ia menoleh pada temannya yang histeris. Memangnya kenapa jika ia mendapatkan kartu nama Kim Soohyun, bukankah mereka juga mendapatkannya.

“Ya, bukankah kalian juga dapat?”

“Kami, tidak. Dia hanya tersenyum manis ketika kami meminta nomornya. Kau sangat beruntung.”
“Mungkin dia menyukaimu.”
Sora langsung tertawa, “Tidak mungkin.”
“Mengapa tidak, kau cantik Sora. Pria normal mana yang tidak suka padamu.”

Sora menatap kartu nama di tangannya. Kim Soohyun tertarik padanya? Rasanya tidak mungkin. Seperti tidak ada gadis lain di dunia ini saja.

—o0o—

Donghae berkunjung ke gedung Cho Corp hari itu untuk urusan pekerjaan. Sebenarnya ia bisa menyuruh asistennya untuk mengirim surat perjanjian, tetapi ia bersikukuh untuk menyerahkan berkas-berkas itu sendiri kepada Kyuhyun. Alasan lainnya karena ia merindukan Min Sora. Beberapa hari menyibukkan diri dengan pekerjaan membuatnya lupa untuk menghubungi gadis itu. Pantas saja hatinya terasa hampa.

“Min Sora sedang pergi meninjau sebuah seminar untuk pegawai di Daegu.” Ujar Kyuhyun ketika ia bertanya perihal Sora siang itu. Donghae terkejut.

“Yang benar, mengapa dia tidak mengatakan apapun padaku?” serunya seperti Sora adalah istri yang lupa meminta izin pada suaminya.

Alis Kyuhyun terangkat heran, “Apa dia kekasihmu, ibumu, adikmu, atau kakakmu? Dia bukan siapa-siapamu. Kurasa meminta izin padamu bukanlah kewajibannya.”

Mulut Donghae langsung megap-megap seperti ikan yang kekurangan air. “Yeah, kau benar. Tapi kami memiliki hubungan yang lebih dari kekasih.”

“Lebih dari kekasih? Jika aku tidak lupa, kau tidak pernah menyatakan perasaanmu padanya,”

Sahabatnya itu langsung membelalakkan mata,“Astaga Cho Kyuhyun, kau sebenarnya mendukungku atau tidak?” Donghae tidak habis pikir. “Aku datang kemari bukan untuk berdebat denganmu tentang Sora.”

“Tidak, kau datang untuk urusan bisnis. Aku hanya mencoba menasehatimu. Tempo hari Sora datang ke rumahku, mengeluh bahwa dia kebingungan dengan perilakumu. Kau memperlakukannya seperti seorang kekasih namun tidak ada satu kata cinta pun yang terucap.”

“Min Sora datang ke rumahmu?” kedua mata Donghae melebar karena terkejut.

“Ya, dan karena alasan itu istriku tetap bersikukuh menyebutmu sebagai pria brengsek dan menyuruh Sora untuk jatuh cinta pada pria lain.”

“Astaga!!!”

Kyuhyun terkejut karena Donghae tiba-tiba saja bangkit sambil menggebrak meja. Menumpahkan kopi dari cangkirnya. Beruntung tumpahan itu tidak membasahi berkas yang sedang mereka bahas.

“Istrimu benar-benar. Dia tidak bisa menyuruh Sora menyukai pria lain.” Ia berteriak seolah kata-kata tadi diucapkan oleh Kyuhyun langsung.

Padahal Kyuhyun hanya bermaksud untuk menyadarkan Donghae tanpa pernah menyangka reaksinya akan seperti ini.

“Kau tidak perlu berteriak.” Kyuhyun balas melotot. Satu-satunya hal buruk yang ia miliki adalah tidak bisa menahan diri untuk mengutarakan isi kepalanya dan ia tidak menyesal karena sudah membuat Donghae naik pitam. Pria ini patut mendapatkan syok terapi.

Donghae berkacak pinggang, membuang napas dengan kencang lalu menengadahkan kepala ke langit-langit. Ia frustasi, “Sora tidak boleh jatuh cinta pada orang lain. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Sora adalah milikku. Aku yang lebih dulu menyadari pesonanya. Lagipula kami sudah cocok satu sama lain. Mengapa istrimu menyuruhnya menyukai pria lain?”

“Karena itu cepat resmikan hubungan kalian. Kau pikir pria lain akan diam saja melihat gadis secantik Sora masih melajang, tidak. Kau tinggal menunggu waktu sampai kau melihat dia bersama pria lain.”

Jinjja, kau sungguh menyebalkan hari ini, Cho Kyuhyun!” Donghae menunjuknya dengan kesal. Matanya melebar. “Min Sora tidak mungkin tertarik pada pria lain.”

“Kau yakin?” Kyuhyun meliriknya geli lewat bulu matanya, “Kau pikir pria di dunia ini hanya kau saja?” ia membereskan berkas-berkas di atas meja lalu menatap Donghae dengan keyakinan yang membuat kepercayaan diri Donghae runtuh. “Mungkin saja saat ini Sora bertemu dengan seorang pria di Daegu.”

Donghae langsung berdiri. Tanpa membuang waktu menjawab kata-kata Kyuhyun yang belum tentu benar ia merogoh ponselnya untuk menghubungi Sora sambil berjalan keluar ruangan.

“Dia tetap Lee Donghae yang polos dan apa adanya.” Kyuhyun tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak serius sama sekali dengan kata-katanya barusan.

—o0o—

Sora baru keluar dari gedung tempat di laksanakan seminar ketika ponselnya berdering. Ia berniat kembali ke kantornya karena tugasnya telah selesai. Melihat nama yang tertera di layar ponsel, kedua matanya mengerjap. Sedetik yang lalu ia sedang memikirkan Donghae dan sekarang pria itu menghubungi ponselnya? Tapi kemudian saat ia teringat bahwa Donghae hanya meneleponnya ketika pria itu bosan, dadanya bergolak kesal. Ia penasaran alasan apa yang akan digunakan Donghae saat ini.

Yeobseo,” dengan tenang ia menjawabnya.

“Di mana kau sekarang?” Sora mengerutkan kening mendengar nada suara Donghae yang terburu-buru dan terkesan marah.

“Aku berada di mobil. Aku akan kembali ke kantor.” Memang benar, sekarang ia sudah duduk di balik kemudi, siap mengendarai mobilnya.

“Kau sendirian?”

“Ya, kenapa?” tepat setelah mengatakannya, ia mendengar Donghae menghela napas lega. Astaga, Sora sungguh tidak bisa menebak arah pembicaraan ini. Sebenarnya apa yang diinginkan Donghae dengan meneleponnya.

“Tidak apa-apa, honey. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Kalau begitu sampai nanti. Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu lagi.” suara Donghae terdengar tulus dan lembut membuat rasa kesal Sora sedikit terobati. Lihat apa yang dilakukan pria ini terhadap hatinya? Ia mencoba membencinya tetapi tidak bisa dan sebelum ia menjawab, sambungan terputus begitu saja.
“Pria ini,” desisnya jengkel.

Sora membenturkan keningnya pada kemudi di depannya sebagai bentuk rasa frustasi. Donghae menimbulkan banyak sekali kebingungan dalam hidup tenangnya. Semenjak pria itu muncul, perasaannya menjadi kacau balau. Ia mencoba mendengarkan nasehat Jeyoung bahwa Donghae adalah seorang pria petualang yang artinya tidak akan menetap pada satu wanita saja. Tetapi ketika ia berhadapan dengan pria itu, segala nasehat Jeyoung terlupakan. Ia justru terpukau dan terpesona pada wajah tampan dan polos Donghae. Pria itu selalu berhasil membuatnya menjadi wanita bodoh.

“Jika aku terus berada dalam situasi ini, aku bisa gila.” Bersamaan dengan erangan frustasi yang keluar dari celah mulutnya, dering ponsel memenuhi mobil. Sora mengulurkan tangan meraih ponsel yang tergeletak di atas kursi di sampingnya.
Yeobseo.” Ia menggumamkannya dengan malas.

“Sora-ssi, ini aku Kim Soohyun.”

Sora terperanjat mendengar nada halus dan ramah Kim Soohyun dari ponselnya. Sontak ia menegakkan posisi duduknya.

“Ada apa?”

“Um, tidak ada apa-apa. Sebenarnya, aku hanya ingin bertanya apa kau memiliki waktu malam ini? Aku ingin kau menemaniku makan malam.” Soohyun mengatakannya dengan lugas meski sempat tersendat. Mungkin karena malu.

“Malam ini?” Sora melirik jamnya. Jika ia pergi sekarang kemungkinan ia akan tiba di kantor sore hari. Setelah menyerahkan laporan ia akan bebas tugas. Mungkin tidak masalah jika ia bertemu dengan Soohyun untuk makan malam bersama. “Tentu saja aku ada waktu.”

“Baik, kau ingin aku menjemputmu atau kau datang sendiri ke tempat perjanjian kita?”

“Bagaimana kalau kau menjemputku? Aku akan mengirimimu alamat kantorku.” Ia akan meninggalkan mobilnya di parkiran basement kantornya yang aman dan tenteram.

—o0o—

Soohyun mengajaknya ke kedai pinggir jalan malam itu. Ia kira akan diajak ke tempat mewah mengingat pria ini adalah seorang chaebol. Sora harus mengeset ulang asumsinya bahwa semua orang kaya tidak suka tempat terlalu biasa seperti ini. Mereka mengambil kursi di ujung.

Ahjumma, seperti biasa.” Soohyun berteriak seraya mengangkat tangannya pada bibi pemilik kedai. Wanita paruh baya itu tersenyum lebar sambil mengangguk ramah. Dilihat dari cara mereka berinteraksi, Sora yakin ini bukan kali pertama Soohyun kemari.

“Kau sudah terbisa ke tempat ini?” Sora tidak bisa menyimpan rasa penasarannya terlalu lama.

“Ya, tempat ini memiliki kenangan banyak untukku.” Ucap Soohyun bertepatan dengan bibi pemilik kedai itu meletakkan dua botol soju dan gelas kecil di atas meja. Lalu dua piring anju(makanan sampingan yang dikonsumsi bersama alkohol).

“Kau tidak masalah bukan dengan alkohol?” Soohyun bertanya meksipun ia sudah melihat Sora meneguk soju beberapa hari yang lalu.

“Satu botol soju tidak akan membuatku mabuk.” Sora tertawa. Ketika bibi itu datang lagi membawa beberapa makanan seperti galbi, tteokbokki, camilan lain dan kimbab, ia mengerutkan kening melihat banyaknya makanan di atas meja.

“Apa ada sesuatu yang harus dirayakan?”

“Sebenarnya hari ini aku berulang tahun.” ungkap Soohyun membuat Sora mengerjap.
“Benarkah, seharusnya kau bilang. Aku tidak membawa kado.” Tepat setelah mengatakan itu bibi itu kembali lagi dengan dua mangkuk sup rumput laut.

“Selamat ulang tahun, tampan.” Ucap bibi itu sebelum pergi meninggalkan mereka berdua. Soohyun tersenyum lalu kembali menatap Sora yang menatapnya kebingungan.
“Aku biasanya merayakan ulang tahun sendirian. Aku tidak suka keramaian atau pun pesta kejutan. Tetapi entah mengapa tahun ini aku ingin merayakan ulang tahunku di temani seseorang.”
“Di tempat seperti ini?” tanya Sora takjub. Jika itu dirinya, ia akan pergi ke tempat yang tidak pernah ia datangi sebelumnya untuk memanjakan diri sendiri.
“Aku sering kemari semenjak aku belum seperti sekarang. Bibi pemilik kedai ini baik sekali padaku. Karena itu ketika Ayahku sukses dengan bisnisnya, aku tetap menyempatkan diri kemari.”

“Oh,” Sora hanya bisa mengatakan itu. Ternyata hidup Soohyun dulu tidak semudah sekarang. Pantas saja dia mengatakan tempat ini memiliki kenangan yang sangat berarti. Ia pun tidak akan melupakan tempat yang menerimanya di saat ia sedang kesulitan.

“Baiklah, karena kau pria berulang tahun, biarkan aku menuangkan soju untukmu.” Sora lalu menuangkan soju pada gelas Soohyun lalu pada gelasnya sendiri. Mereka bersulang lalu menenggaknya dalam sekali teguk. Sora menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan menyuruh menikmati sup rumput lautnya lebih dulu. Pria itu tersenyum lebar. Mereka melanjutkan acara makan itu dengan berbincang ringan sambil memangang galbi.

“Sora-ssi, apa kau sudah memiliki kekasih?” tanya Soohyun sambil membalikkan daging sapi di atas panggangan.
“Apa aku terlihat seperti gadis yang sudah memiliki kekasih?” tanya Sora sambil mengerling, ia lalu menyuap dagingnya yang sudah matang.
“Yeah, sejujurnya aku merasa kau sudah bertunangan. Gadis cantik sepertimu tidak mungkin masih melajang.”

Sora langsung tersedak daging yang dikunyahnya. Ia memukul-mukul dadanya dan menyambar gelas air putih yang disodorkan Soohyun dengan panik.
“Kenapa, apa ucapanku salah?” Soohyun cemas. Sora mendesah lega setelah terlewat dari bencana yang membuatnya hampir mati.
“Tidak, hanya saja aku belum terbiasa mendengar seseorang menganggapku wanita yang sudah bertunangan. Apa aku terlihat tua?” ia cemas sambil memegang pipinya.
“Bukan, kau masih terlihat muda, sungguh.” Soohyun tertawa, “Jadi, kau tidak bertunangan atau memiliki kekasih?”
Sora menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Soohyun mengerutkan kening penasaran dengan rona wajah yang lebih gembira, “Aku heran, apa tidak ada pria yang membuatmu tertarik sejauh ini? Tidak mungkin tidak ada pria yang tidak menyukaimu. Aku tebak alasanmu sendirian karena kau yang menolak mereka.”

Sora mendesah kencang. Tiba-tiba ia teringat pada pria manis, polos sekaligus brengsek yang menggantungkan perasaannya. Seperti alarm yang bekerja sendiri, hati Sora kembali bergolak seperti air mendidih dalam kuali. Mencengkeram botol soju di depannya, ia meneguk isinya untuk menghilangkan kekesalan. Soohyun melebarkan mata melihatnya.
“Maaf jika ucapanku terlalu lancang.” Soohyun ingin sekali menarik botol soju dari tangan Sora. Ia tidak ingin Sora tersedak lagi.

Botol soju yang isinya sudah tandas itu diletakkan dengan keras di atas meja oleh Sora. Sorot matanya meredup. “Sebenarnya tidak bisa dibilang tidak ada.” Ia mengulurkan tangan ke arah bibi pemilik kedai, meminta soju lagi. “Ada satu orang pria. Aku menyukainya, tidak, tidak, aku mencintainya. Dia memperlakukanku dengan sangat manis. Memberiku rayuan dan pujian.”
“Lalu,” Soohyun berkata.
Sora mengangkat wajahnya, matanya yang sayu dan berkaca-kaca membuat Soohyun iba. “Pria itu tidak menyukaiku. Setidaknya, dia tidak pernah menyatakan perasaannya padaku. Aku tidak tahu alasannya dekat denganku karena dia menyukaiku atau karena dia hanya menginginkanku berada di tempat tidur bersamanya, dia membuatku bingung dan pusing.” Ketika bibi itu meletakkan dua botol soju di depannya, ia segera membuka tutupnya lalu meminum isinya seolah ia tidak minum selama berhari-hari.

Soohyun mulai meringis melihatnya. Ia merasa kasihan sekaligus kesal. Sora tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti itu.

“Aku ingin tahu pendapatmu sebagai seorang pria,” Sora mulai terlihat tidak fokus.

Sial, dia mabuk. Soohyun mengerang.

“Apa sebenarnya yang kau rasakan seandainya kau memperlakukan seorang wanita seperti itu? Atau kau memang menyukai wanita itu atau kau hanya ingin mempermainkannya seperti boneka?”

“Sejujurnya aku tidak tahu jawabannya, Sora-ssi karena aku tidak akan memperlakukan wanita sekurang ajar itu. Tapi jika kau meminta pendapatku, ada baiknya kau tanyakan langsung saja pada pria yang kau sukai itu. Lebih baik daripada menduga yang tidak-tidak karena siapa yang bisa membaca isi hati seseorang? Siapa tahu pria itu memang mencintaimu hanya saja dia memiliki kesulitan dalam mengungkapkannya.”

Nasehat Soohyun membuat Sora tertawa mengejek, ia sudah mendengar hal yang sama dari Kyuhyun bahwa Donghae kemungkinan memiliki masalah yang membuatnya tidak bisa mengucapkan kata cinta dengan mudah. Pria itu tidak bodoh bukan? Setidaknya berkata ‘aku mencintaimu’ saja tidak akan membuatnya terbunuh. Dengan mengucapkan kata ajaib itu pula segala keraguannya akan hilang dan dia bisa memusatkan cintanya hanya untuk pria itu.

“Tapi jika dia memang terbukti tidak mencintaimu, kau bisa datang padaku.” Lanjut Soohyun. Sora yang sudah mabuk karena menghabiskan botol soju ke-tiganya, tidak terlalu mendengarkan kata-katanya. Gadis itu sudah tertawa sambil menggumamkan kalimat yang tidak dimengertinya. Kepalanya terantuk ke atas meja, bukannya meringis Sora justru tertawa geli lalu memukul mejanya sambil mengumpat, “Kau bodoh seperti Lee Donghae!”

Soohyun sadar sudah saatnya ia mengantarnya pulang. Membiarkan Sora di sini bukanlah keputusan bijaksana. Tapi ia akan mengantarkannya kemana sementara ia tidak tahu dimana Sora tinggal.

—o0o—

Donghae merindukan Min Sora malam itu sekaligus mencemaskannya. Ia bertanya-tanya mengapa Sora tidak mengabarinya jika sudah sampai di tempat kerja dengan selamat. Apa sekarang gadis itu sudah tiba di apartemennya dan sedang menikmati makan malam sambil menonton tv seperti biasanya? Ia memutuskan untuk memastikan sendiri  ketika ponselnya berdering.

“Sora,” senyumnya melebar saat melihat nama Sora terpampang di layar ponselnya. “Kemana saja kau sayang, kenapa lama sekali baru meneleponku?” ia berkata dengan lembut dan mesra.

“Maaf, apa kau kerabat atau teman dekat Sora-ssi?”

Kening Donghae langsung mengerut sampai bertemu di pangkal hidungnya mendengar suara lelaki asing di ujung sana. Siapa pria ini dan mengapa menelepon menggunakan ponsel Sora?
“Siapa kau?” tanyanya dengan nada menuduh. “Kenapa kau menggunakan ponsel Sora untuk meneleponku? Sora ada bersamamu? Sialan, apa yang kau lakukan pada Sora?” kemarahannya tidak bisa dibendung saja ketika ia mengira sesuatu yang buruk sedang terjadi pada Sora dan pria bedebah ini pasti pelakunya.

“Ternyata kau memang teman Sora, syukurlah.” Pria di ujung sana terdengar lega. “Aku adalah teman Sora. Kebetulan kami menghabiskan waktu bersama malam ini—“
“Menghabiskan waktu bersama!!!” potong Donghae sambil membentak. Ia mencengkeram ponselnya berharap benda itu adalah leher si penelepon pria asing. Di mana mereka menghabiskan waktu bersama, kamar hotel mana!!
“Maksudku, kami makan malam bersama di sebuah kedai pinggir jalan. Sora-ssi saat ini dalam keadaan mabuk dan aku ingin mengantarnya pulang tetapi aku tidak tahu alamat rumahnya. Apa kau bisa menyebutkannya untukku? Aku akan mengantarnya pulang dengan selamat.”

“Di mana kalian sekarang!!” alih-alih menjawab pertanyaan si penelepon Donghae justru bertanya keberadaan mereka. Ia tidak bisa tinggal diam begitu saja terutama setelah mendengar Sora mabuk dan kini bersama seorang pria asing. Pria itu bisa memanfaatkan kesempatan jika ia memberikan alamat apartemen Sora padanya. Lagipula mengapa Sora mau pergi bersama pria itu? Mengapa Sora tidak langsung menghubunginya jika memang sudah pulang dan malah keluar untuk makan malam bersama seorang pria asing?

“Jangan pergi sesenti pun dari tempatmu sekarang dan jangan menyentuh Min Sora atau aku akan membunuhmu!” Ketika si penelepon selesai menyebutkan tempat mereka berada Donghae langsung mengancam. Ia menyambar jaket dan kunci mobilnya lalu bergegas keluar apartemennya dengan dada menghentak kencang oleh kemarahan.

Sial, aku lengah membiarkan Sora pergi bersama pria lain malam ini!

Siapa yang menyangka ternyata ucapan Kyuhyun benar. Hari ini Sora memang bertemu dengan seorang pria asing.

—o0o—

Satu jam berikutnya Donghae baru tiba di tempat yang di sebutkan si penelepon asing. Ia memasuki kedai sederhana itu dengan agak tergesa. Tempatnya sudah cukup sepi pengunjung sehingga ia dengan mudah menemukan Sora dan pria asing yang duduk bersamanya. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada meja, tangannya yang terlipat menjadi sandaran kepalanya.

“Sora,” ia menyentuh pundak gadis itu, menghela napas mengetahui Sora hanya tertidur. Ia lalu menoleh pada pria asing yang mengajak Sora makan malam.
“Kenapa kau lama sekali?” tanya pria asing di depannya heran. Ia langsung membelalakkan matanya. Sialan, ku tidak mungkin mengatakan bahwa aku tersesat sebelum bisa sampai di sini. Daripada menjawab Donghae malah menyentak pria itu.
“Kau membiarkan seorang gadis mabuk, pria macam apa kau sebenarnya?”

Kim Soohyun yang mendapatkan bentakan pedas dari Donghae hanya menatapnya tanpa memberikan ekspresi apapun. “Apa kau Lee Donghae?” tanyanya.
“Ya.” Donghae membentak. Bukankah pria ini tadi meneleponnya, seharusnya dia tahu siapa yang dihubunginya. Sudah pasti nomornya diset sebagai speed dial nomor 1 di ponsel Sora.
“Siapa kau?”

“Kim Soohyun, aku teman Sora.” Soohyun menunjukkan senyum aneh, seperti menghinanya. Donghae enggan menjabat tangannya dan memilih melemparkan tatapan penuh permusuhan pada pria itu.

“Kenapa kau tertawa, apa ada sesuatu yang lucu?”

“Tidak, tiba-tiba saja aku merasa kasihan kepada Min Sora.” Donghae langsung mengerutkan kening mendengar kata-kata itu sementara Soohyun menajamkan tatapannya. “Jika kau tidak bisa tegas akan perasaanmu kepadanya, lebih baik kau tinggalkan dia.”

“Apa kau bilang?” Donghae berseru marah. Apa-apaan pria ini? Mereka baru bertemu selama beberapa detik dan dia sudah berani mengibarkan bendera perang?

Soohyun berdiri. “Sora sudah menceritakan kisahnya kepadaku. Dan aku bisa tahu kau pria brengsek yang dia maksud hanya sekali melihat saja.” dengan tidak sopan dia memindaikan Donghae dari atas hingga bawah. “Kau benar-benar terlihat seperti jenis pria yang dengan mudah mematahkan hati wanita.”

Donghae tercengang. Pria ini benar-benar meminta untuk dihajar. Jika ia tidak lebih mencemaskan Sora, mungkin mereka sudah terlibat perkelahian karena kini mereka sama-sama saling melemparkan pandangan siap tempur.

“Karena ini pertemuan pertama kita, aku akan melepaskanmu. Aku tidak peduli dengan apapun yang dikatakan Sora terhadapmu, meskipun dia menjelek-jelekanku di depanmu, aku tidak akan pernah melepaskannya. Jadi jangan pernah berpikir kau bisa membuat minatku pada Sora hilang hanya karena kau mengatakan bahwa dia membenciku.” Setelah mengatakannya Donghae mengangkat Sora ke dadanya dengan mudah. Meninggalkan tempat itu tanpa menoleh ke belakang lagi.

Donghae mendudukkan Sora di kursi samping kemudi, setelah memasangkan sabuk pengaman ia duduk di kursinya, bersiap-siap untuk membawanya pulang. Ia selalu menggunakan GPS untuk pergi ke rumah Sora karena kelemahannya dalam mengingat arah.

“Eungghh..” Donghae menoleh sekilas mendengar suara lenguhan Sora. Gadis itu menggeliat di sela tidurnya. Ia mendesis. Tertidur karena mabuk, cara yang bagus untuk mengajakku bertemu. Ia masih marah karena Sora pergi bersama pria lain tanpa sepengetahuannya. Tetapi ketika melihat raut wajah Sora, hatinya terenyuh. Sora tampak sedih sekaligus kesal. Kedua alisnya yang tebal dan tertata rapi di atas kelopak matanya merengut dan bertemu di pangkal hidungnya. Apa dia bermimpi buruk?

“Lee Donghae..”

Donghae terhenyak dari kursinya, lantas ia menepikan mobilnya karena ia merasa cemas sekaligus senang mendengar Sora mengigaukan namanya.

“Ya, sayang. Aku di sini.” Donghae mengusap keningnya. Ia cemas melihat ada titik-titik keringat di anak-anak rambut sepanjang kening Sora.
“Kau adalah pria brengsek. Aku membencimu.”

Donghae terpaku. Jantungnya seperti jatuh ke perut mendengar Sora mengerangkan kalimat itu lalu kembali jatuh dalam tidurnya.

Hari ini sudah tiga orang yang menyebut dirinya sebagai pria brengsek. Apa sikapnya memang menunjukkan bahwa dirinya seseorang yang benar-benar brengsek?

~~~TBC~~~

357 thoughts on “Crazy Because of You [Chapter 2]

  1. Bnereerrrr2 dah lamaaaa bangeet gak bca kesini..
    dan ini crita pertama stlah sekiaan lma..
    pokoknya critanya bgus..bner2 mencerminkan seorang lee donghae dlm imajinasiku..
    Emeyiinnnng ez pokokee~~(logate keluar)

  2. Ping-balik: REKOMENDASI FANFICTION | evilkyu0203

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s