Hello My Charming Wife #1 [Chapter 2]

Tittle : Hello My Charming Wife Chapter 2
Author : DHA KHANZAKI a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Married Life

 

Main Cast :
Shin Jeyoung | Cho Kyuhyun

Dha’s Speech :
Happy Reading ^_^

Hello my Charming Wife by Dha Khanzaki

=====o0o=====

CHAPTER 2

One Day with Jinwoo

TIDAK ada yang menjaga Jinwoo, tidak ada bulan madu.

Kalimat itu terus berulang dalam pikiran Kyuhyun beberapa hari kemudian pasca hilangnya Jinwoo di pesta. Ia juga tidak membahas perihal bulan madu itu karena sepertinya Jeyoung masih enggan mengabulkan keinginannya jika tidak ada orang yang bersedia menjaga Jinwoo. Baiklah, untuk itu ia bisa bersabar. Tetapi bisakah Jeyoung mengurus dirinya sendiri tanpa harus mencurahkan seluruh waktunya pada putra semata wayang mereka?

Yeobo,” Kyuhyun mengutarakan keberatannya itu ketika sarapan pagi hari berikutnya. Jeyoung menoleh. Istrinya itu berhenti sejenak dari kegiatannya menyuapi bubur pada Jinwoo.
“Apa?”
“Hari ini aku tidak ada kegiatan apapun. Selagi aku bermalas-malasan di rumah, maukah kau mengabulkan satu permintaan kecilku?” Kyuhyun memohon dengan wajah memelas seolah permintaannya adalah bagian dari tugas negara.

Jeyoung mengerjapkan mata, ia tertarik sekaligus penasaran pada permintaan yang akan diajukan suaminya. “Katakanlah.”

Kyuhyun tersenyum puas. Ia merogoh sesuatu dari dalam saku celananya lalu menyerahkan benda kecil tipis ke arah Jeyoung. Kedua mata wanita itu melebar ketika mengetahui benda yang disodorkan suaminya adalah sebuah black card, kartu debit unlimitted milik suaminya. “Pergilah belanja. Gunakan hari ini untuk melakukan segala kegiatan wanita yang biasa kau lakuan dulu. Kau harus mengurus dirimu sesekali.”

Permintaan Kyuhyun membuat Jeyoung tersedak air liurnya sendiri. “Apa?” serunya dengan mata membelalak. Ia kira Kyuhyun akan memintanya melakukan sesuatu yang sulit. Siapa yang mengira permintaan penting itu adalah menyuruhnya menghamburkan uang.

Please,” Kyuhyun mengedipkan matanya berharap istrinya terenyuh dan menuruti permintaannya. Jeyoung tertegun. Sejujurnya ia tergiur dengan permohonan Kyuhyun. Memiliki waktu penuh untuk dirinya sendiri adalah hal yang diimpikannya setelah melahirkan Jinwoo. Tetapi kemudian ia ragu.

“Jika aku pergi bagaimana dengan Jinwoo?” Jeyoung menoleh pada putranya. Ia tidak bisa meninggalkan Jinwoo sendirian.

“Kau tenang saja, aku yang akan menjaga Jinwoo.” Usul Kyuhyun penuh percaya diri. Senyum kemenangan merekah di bibirnya. Jeyoung langsung meringis, tidak suka mendengar ide itu. Bukannya ia tidak memercayai suaminya, tetapi sejak Jinwoo lahir tak pernah sekalipun Kyuhyun membantunya memandikan atau menggantikan popok anak mereka. Jika bermain atau memberinya makan Kyuhyun memang kerap kali membantu, tetapi..

Yeobo,” Jeyoung bergetar saat tangannya digenggam oleh Kyuhyun. Saat menoleh untuk menatap matanya, pria itu tersenyum penuh arti. “Aku bisa menjaga Jinwoo. Kami akan baik-baik saja.”

Kata-kata dan senyuman tulusnya membuat Jeyoung luluh. Istri mana yang tidak terharu di saat tahu suaminya telah menyiapkan sebuah hadiah yang sangat menyenangkan seperti ini. Satu hari penuh tanpa kesibukan seorang ibu rumah tangga serta menggunakan waktu luang itu untuk dirinya sendiri dan bersenang-senang? Ia tidak akan melewatkan kesempatan itu.

Kyuhyun merasa seperti mendapat hadiah besar ketika senyum Jeyoung merekah menghiasi wajah cantiknya. Dengan mata berbinar istrinya itu menarik kartu yang diserahkannya seperti benda itu adalah lempengan emas.

“Kau harus memanjakan dirimu sekali-kali. Ini adalah hadiah karena sudah mengurusku dan Jinwoo tanpa keluhan.”

Jeyoung bangun dari kursinya terlalu cepat, nyaris membuat tempat duduknya itu terjungkal jatuh. Ia menghampiri Kyuhyun untuk memeluknya. Mencium bibir suaminya dengan lembut.

“Aku akan menggunakan ini dengan bijaksana.” Bisiknya. Ia tersenyum manis saat pandangan mereka bertemu.

Kyuhyun balas tersenyum. Jika tahu memberi Jeyoung waktu bebas bisa mengembalikan senyum menawannya, ia akan melakukannya sejak dulu. Ia mengusap lembut pipi istrinya dengan ujung jemarinya, “Gunakanlah sesukamu. Beli apapun yang kau mau. Aku tidak peduli jika kau membuatku bangkrut hari ini juga. Dengan penghasilanku uang itu akan kembali dalam satu minggu.” Di akhir kalimat Kyuhyun tersenyum lebar disertai seringaian khasnya. Ia tidak bermaksud menyombongkan diri, tetapi memang begitulah kenyataannya.

Wajah bahagia Kyuhyun membuat Jeyoung berdebar kencang, seperti jatuh cinta kembali. Ia duduk di pangkuan suaminya dengan tangan memeluk leher tegap pria itu. Tanpa basa-basi ia menempelkan bibirnya pada bibir suaminya, memberikan kecupan selembut bulu namun berhasil menegangkan seluruh syaraf di tubuh Kyuhyun.

Kyuhyun yang merasa gairahnya tersulut lekas membalas perbuatan istrinya, lebih semangat hingga membuat Jeyoung melenguh kecil. Kepala Jeyoung terdorong ke belakang karena keantusiasan dirinya. Ia melingkarkan tangannya di pinggangnya agar Jeyoung tidak terjatuh. Seharusnya ini menjadi aktivitas yang biasa seperti berjabat tangan mengingat mereka telah melakukannya lebih dari ratusan kali. Namun bercumbu bersama Jeyoung sensasinya selalu sama seperti pertama kali melakukannya bahkan selalu menjadi lebih panas dan intens dari sebelumnya. Jeyoung memang memiliki sesuatu yang membuatnya jatuh cinta lebih dalam, sebuah lautan pesona yang membuatnya tenggelam sampai tidak sanggup berpaling pada wanita lain. Terlebih setelah dia memberinya seorang putra yang tampan dan sehat.

Sepasang mata kecil sejak tadi duduk di kursi tinggi di sebelah ruangan, menatap orang tuanya dengan tidak mengerti. Ia tidak menangis karena sibuk memainkan mangkuk bubur yang diletakkan ibunya di atas meja di depannya, membuat tangan kecilnya kotor oleh sisa-sisa bubur yang belum habis.

Jinwoo, bayi mungil itu lalu mengulum tangannya yang penuh bubur bayi kemudian tertawa ketika lidahnya mengecap rasa yang memenuhi mulutnya setiap kali dirinya lapar. Ia tidak peduli sama sekali pada orang tuanya yang sibuk bercumbu. Tentu saja, ia terlalu dini untuk mengerti apa yang sedang dilihatnya.

Jeyoung hampir kehabisan napas ketika mereka mengakhiri sesi mesra itu. Ia tersipu malu melihat Kyuhyun menatapnya sayu dengan dada naik turun dan bibir yang membengkak.Astaga, lihat hasil dari perbuatanmu. “Terima kasih sudah memberiku waktu untuk diriku sendiri.”

“Kau bahkan belum melakukan apapun.” Mata Kyuhyun berkilauan oleh rasa geli dan puas. Sudah lama Jeyoung tidak bersikap seromantis ini semenjak Jinwoo lahir. Bibirnya lebih memerah selepas dicumbu habis-habisan olehnya tadi. Lebih seksi daripada ketika Jeyoung memoleskan lipstik di bibirnya.

“Seperti katamu, aku mungkin akan menghabiskan sebagian besar uang tabunganmu untuk kesenanganku sendiri. Apa kau yakin?” Jeyoung merapikan rambut di kening Kyuhyun yang berantakan akibat ulah tangannya.

“Sudah kukatakan, lakukan apapun yang kau mau. Aku tidak akan peduli.” Suaminya tersenyum, “Ajaklah Minah bersama. Aku sudah meneleponnya untuk menemanimu.”

Jeyoung mengerjapkan mata, “Astaga, kau bahkan sudah meminta Minah menemaniku tanpa sepengetahuanku?” ia tak bisa lebih senang dari ini. Pergi bersama sesama wanita untuk melakukan kegiatan khas wanita. Ia seperti kembali pada masa ia lajang dulu.

“Ya, sayang. Karena itu bersenang-senanglah.”

“Oh, aku tidak akan ragu lagi.” tiba-tiba Jeyoung bangkit dari pangkuannya, membuat Kyuhyun merasa kehilangan. “Kalau begitu aku akan bersiap-siap.” ketika ia berbalik, kedua matanya langsung melebar melihat putranya. Bayi kecilnya itu kotor oleh bubur di sekitar mulut pipi, tangan, bahkan dadanya yang dilapisi serbet. Keasyikan bercumbu membuatnya lupa pada Jinwoo yang sedang ia beri makan. Ia memekik dengan panik menghampiri putranya yang asyik bermain dengan mangkuk itu sampai mengotori seluruh meja makannya.

“Kau meminta Eomma memandikanmu lagi, eoh?” Ia mengangkat putranya dari kursi tinggi khusus bayi itu, menjauhkan mangkuk makannya dan meletakkan benda itu di dalam bak cuci piring. Jinwoo yang merasa ibunya merampas mainannya mengerucutkan bibir lalu menangis ketika ibunya mengelap bibir dan tangannya yang kotor dengan tisu basah khusus bayi.

Aigoo,” Jeyoung langsung menimangnya. Jinwoo menangis semakin kencang sampai suara cemprengnya memenuhi ruang makan.

“Biar aku yang menggendongnya,” Kyuhyun mengambil Jinwoo dari pangkuan istrinya. “Kau sebaiknya bersiap-siap. Minah berjanji akan menjemputmu dan kalian bisa pergi bersama.”

Jika harus mengakui, momen ketika Kyuhyun menggendong putranya adalah pemandangan paling seksi di dunia ini. Pria itu tampak lebih maskulin sekaligus menawan saat memeluk Jinwoo di dadanya. Senyum simpul terbit di bibirnya melihat Kyuhyun begitu telaten meredakan tangis Jinwoo. Melihat mereka berdua, Jeyoung seperti diingatkan bahwa dirinya begitu dicintai. Jinwoo adalah bukti nyata cinta Kyuhyun terhadap dirinya. Ia mendekati suaminya lalu memeluknya dari belakang. Kyuhyun yang sedang mengusap-usap punggung putranya terkesiap lalu menoleh.

Yeobo.”

“Kau tenang saja, setelah ini aku akan bersiap-siap untuk pergi.” bisik Jeyoung. Ia mendongak menatap suaminya yang tersenyum. Jinwoo sudah berhenti menangis dan kini sedang bermain-main dengan kerah baju ayahnya. Ia tidak mau mengecewakan Kyuhyun, setelah mencium pipi Kyuhyun ia pergi ke kamar untuk berganti baju. Ketika ia kembali, Jinwoo sedang bermain dengan riang. Kyuhyun duduk di atas sofa dan membiarkan Jinwoo bermain dengan mainan di pangkuannya.

Menyadari kehadirannya, suaminya mendongakkan kepala. “Kau terlihat cantik,” Kyuhyun bergumam takjub. Pipinya memerah. Ia hanya memakai dress sederhana, riasan sederhana, dan flat shoes. Rambutnya pun ia biarkan terurai alami.

Oppa yakin bisa menjaga Jinwoo, aku masih bisa membatalkan acaraku.” Ia bertanya sekali lagi. Ia takut Kyuhyun kewalahan. Mengurus bayi tidak semudah kelihatannya.

“Jangan khawatir. Aku bisa menyesuaikan diri dengan cepat,” Kyuhyun bangkit membawa Jinwoo bersamanya, “Aku akan mengantarmu hingga depan.”

Jeyoung membiarkan Kyuhyun memeluk pinggangnya dengan sebelah tangan sementara satu tangannya yang lain mendekap Jinwoo. Ketika ia tiba di teras rumah kecemasannya belum hilang. Ia menoleh pada suaminya kembali, “Susu formula Jinwoo ada di atas kulkas lalu popok, baju ganti dan peralatan mandi Jinwoo aku letakkan di lemari di kamarnya. Rebus botol susunya lebih dulu sebelum membuat susu dan jika Jinwoo lapar, ada biskuit bayi yang aku simpan di da—“ kata-katanya tersendat karena Kyuhyun membungkam mulutnya dengan satu ciuman lembut. Ia terpana, langsung memandang suaminya.

Kyuhyun tersenyum, “Aku tahu, Eomma. Berhenti mencemaskan kami dan pergilah bersenang-senang. Jinwoo dan aku akan baik-baik saja.”

Jeyoung mengerjapkan mata. Meskipun sudah sering mendapat ciuman tiba-tiba, tetapi tetap saja hal itu selalu membuatnya terkejut dan termangu dengan jantung berdebar kencang. Setelah menormalkan detak jantungnya ia mengangguk.

“Baiklah. Jika ada sesuatu jangan ragu hubungi aku.”

“Aku mengerti.” Senyum lembut Kyuhyun sedikit melegakan Jeyoung. Ia berusaha mengusir jauh-jauh kekhawatirannya yang berlebihan dengan meyakinkan diri bahwa Kyuhyun dan putranya akan baik-baik saja.

Bunyi klakson mobil membuyarkan perhatian Jeyoung. Menoleh ke arah sumber suara, ia menemukan Minah melambai dari mobilnya di luar gerbang.

“Siap untuk bersenang-senang?” Minah tersenyum lebar ketika Jeyoung sudah tiba di sampingnya. Minrae duduk di kursi belakang sambil memegang boneka beruang kesayangannya, tersenyum riang padanya.

“Tentu saja.” Jeyoung masuk ke kursi penumpang di samping Minah yang duduk di balik kemudi.

“Kau tidak mengajak putramu?”

“Tidak, Kyuhyun Oppa akan menjaga Jinwoo untukku.”

What a lovely husband.”

Jeyoung tersenyum simpul mendengar nada iri dari suara Minah. Ia setuju untuk itu. Menoleh ke arah Kyuhyun dan putranya berdiri, ia melambaikan tangan pada dua pria paling dicintainya itu. Kyuhyun balas melambai sementara Jinwoo yang tidak mengerti hanya menatap ke arahnya sambil mengulum tangannya. Ah, ia belum pergi kemanapun tetapi sudah merasa rindu pada anaknya. Ia pasti akan menjadi ibu menyebalkan ketika putranya dewasa nanti karena akan menangis setiap kali anaknya akan pergi jauh darinya.

“Siap untuk pergi?” Minah bertanya. Jeyoung buru-buru menepis sisi sentimentilnya dan memilih memasang sabuk pengaman.

“Aku siap.”

Mobil pun melaju pergi meninggalkan rumah.

—o0o—

Setelah mengunci pintu Kyuhyun kembali ke rumah dengan perasaan gembira. Ia memiliki waktu luang yang bisa ia pergunakan untuk mendekatkan diri dengan putranya.

“Nah, sekarang tinggal kau dan Ayah. Apa yang ingin kau lakukan hari ini?” Kyuhyun bertanya pada Jinwoo yang belum mengerti apapun. Kedua mata hitam bayi itu mengerjap lalu dengan polos mengulurkan tangan penuh liurnya ke arah Kyuhyun. Ia lalu berceloteh seperti ingin menyampaikan sesuatu, tetapi Kyuhyun tidak mengerti dengan bahasa bayi sehingga ia hanya mengerutkan kening.

“Ah, apa yang dia katakan?” Kyuhyun bergumam sendiri. Jeyoung pasti tahu apa yang dimaksud Jinwoo. Akhirnya ia memutuskan untuk memandikan Jinwoo saja karena seingatnya Jeyoung belum memandikan putranya itu. Sambil bersenandung Kyuhyun mendudukkan Jinwoo di atas karpet di ruang tengah sementara ia menyiapkan segala peralatan mandi.

Di kamar mandi, ia mengisi bak mandi khusus mandi Jinwoo dengan air lalu mengambil handuk kering. Ia sering memerhatikan Jeyoung ketika memandikan Jinwoo. Air untuk mandinya tidak terlalu panas juga tidak dingin. Setelah memastikan suhunya sesuai, ia menghampiri putranya yang asyik bermain di ruang tengah dengan bola-bola karet pemberian kakeknya. Putranya itu lincah, merangkak dengan lutut dan tangannya ke sana kemari terkadang mencoba berjalan dengan kakinya sendiri. Ia dan istrinya harus memindahkan semua barang pecah belah jauh-jauh dari jangkauan Jinwoo agar tidak terjadi kecelakaan apapun sehingga seluruh pajangan yang ada di rumah terbuat dari karet, plastik,atau pun stainless steel.

“Saatnya mandi.” Kyuhyun mengambil putranya yang sedang mencoba meraih robot yang tergeletak di atas kursi. Saat direnggut ke dalam pelukannya, Jinwoo langsung menangis. Kedua tangannya melambai-lambai ingin meraih robot itu.

“Tidak-tidak, setelah kau wangi dan bersih kau boleh main sepuasmu.” Kyuhyun melepaskan baju putranya lalu memasukkan bayi itu ke dalam bak yang berisi air hangat. Tangis Jinwoo langsung terhenti. Bayi itu segera bermain-main dengan air, mencipratkan air kemana-mana dengan suara gelak tawa yang membuat Kyuhyun gembira.

“Hei-hei, Ayah tahu kau suka air, tapi jangan mencoba menenggelamkan ayah dengan air dalam bak ini.” Kyuhyun tertawa sendiri. Kaus bagian depan yang dipakainya sudah basah oleh air yang dicipratkan Jinwoo. Putranya itu tertawa-tawa melihat ayahnya kelimpungan.

“Angkat tanganmu, jagoan.” Kyuhyun menangkap tangan Jinwoo yang tidak mau diam lalu mengangkatnya agar ia bisa menyabuni tubuhnya. Jinwoo terlihat nyaman duduk di dalam bak itu ketika Kyuhyun mencuci rambutnya dengan shampo. Dia bermain-main dengan busa di badannya sambil berceloteh, terkadang memainkan bebek karet yang sengaja Kyuhyun letakkan untuk menemaninya mandi. Ia hanya menyahutinya sesekali sebagai respon meskipun ia tidak mengerti.

“Tutup matamu, pintar..” Kyuhyun membilas sabun di rambut dan badan Jinwoo. Bayi itu bergidig ketika merasakan air dingin menyapu kulit kepalanya. Ia mengangkat putranya dari dalam bak setelah tubuhnya bersih lalu menyelubunginya dengan handuk kering. Kyuhyun membawanya ke kamar Jinwoo dan mendudukkannya di atas meja yang biasa digunakan Jeyoung untuk mendandaninya.

Dalam tahap itu ia mulai kebingungan. Apa yang biasanya Jeyoung lakukan saat mendandani putranya? Apa langsung dipakaikan baju begitu saja? Ia mengambil jumper dari dalam lemari, popok, setelah itu ia kebingungan sendiri. Bagaimana aku memasang benda ini? Kyuhyun memandangi popok di tangannya. Ketika pandangannya kembali pada Jinwoo, ia memekik panik karena putranya itu bermain-main dengan botol bedak sampai seluruh kakinya putih oleh bedak yang berjatuhan dari dalam botol.

“Kau nakal sekali,” Kyuhyun mengambil botol itu lalu meletakkannya kembali ke tempatnya. Ia sedang membersihkan bedak di kaki putranya saat Jinwoo mengulurkan tangan untuk meraih botol minyak telon lalu mengigiti tutupnya dengan gigi-gigi yang baru tumbuh. Kyuhyun terkesiap melihat ulahnya. “Astaga, kau sungguh tidak mau diam.” Sambil bersabar ia meraih botol minyak telon itu dan berniat meletakkannya ketika ia sadar sesuatu. Ia memandangi putranya yang sedang menggigit tangannya sendiri. Mata polos Jinwoo mengerjap-ngerjap lalu bibirnya tersenyum.

“Kau mencoba mengajari Appa bagaimana cara mendadanimu?” Kyuhyun menyeringai bangga. Jinwoo tertawa mengira ayahnya mengatakan sesuatu yang lucu. Kyuhyun menuangkan minyak telon ke telapak tangannya lalu mengolesi perut Jinwoo dengan minyak itu, setelah itu membedaki tubuhnya. Ia membaringkan Jinwoo di atas handuk utuk memasang popok. Ia mengambil ponsel untuk searching di internet bagaimana cara memasang popok dengan baik dan benar.

“Ternyata tidak terlalu sulit.” Kyuhyun berkata dengan nada sombong seraya mengangkat bahu. Satu kali praktek saja ia langsung hapal step by step memasang popok dengan benar.

“Ternyata anak Ayah sangat tampan.” Kyuhyun mengangkat Jinwoo tinggi-tinggi setelah selesai mendandani putranya itu. Jinwoo memang paling suka jika diangkat tinggi seperti ini, seperti sedang terbang. Bayi itu tertawa riang. Kyuhyun memeluk lalu mencium pipinya. Aroma khas bayi langsung tercium hidungnya. Ia selalu suka bau putranya setelah didandani. Menenangkan jiwa dan raga. Ia bersyukur dalam hati karena telah dikaruniai seorang putra sesehat ini.

Satu jam pertama memang terasa menyenangkan. Namun satu jam berikutnya Kyuhyun mulai kewalahan, terutama di saat Jinwoo tidak mau diam. Bergerak ke sana kemari sampai membuatnya kelelahan. Ia tidak bisa hanya duduk diam di depan tv sambil menonton saluran berita. Dan ketika Jinwoo menangis, Kyuhyun mendapati kesulitan untuk menenangkannya. Ia tidak tahu mengapa putranya menangis berikut cara menghentikannya. Ia sudah memeriksa popoknya, memberikannya susu, dan mencoba menyuapinya makan. Tetapi tangisan Jinwoo tidak disebabkan oleh popoknya yang basah atau kelaparan.

“Jeyoung, apa yang harus kulakukan?” Kyuhyun bergumam sendiri sambil menimang-nimang Jinwoo. Ia melirik ponselnya. Terbersit di hati untuk menghubungi istrinya dan menanyakan mengapa Jinwoo terus menangis sementara bayi itu tidak lapar ataupun mengompol. Tetapi kemudian ia mengurungkannya. Ia tidak mau mengacaukan acara Jeyoung. Ia jamin istrinya itu akan segera berlari pulang saat mendapatkan telepon darinya.

—o0o—

“Ah, rasanya seperti kembali ke masa lalu.” Jeyoung bergumam puas sambil merebahkan kepalanya di atas sandaran kursi sementara kepalanya disteam dan kakinya dipijat. Sekarang ia berada di salon dan spa langganannya. Minah tersenyum dari kursi di sampingnya. Putrinya, Minrae sedang dicream bath oleh petugas salon di samping ibunya. Melihat betapa lucunya Minrae tiba-tiba saja ia ingin sekali memiliki anak perempuan. Suatu hari mungkin ia bisa mengajak putrinya pergi ke salon bersama. Menyenangkan sekali sepertinya.

“Sepertinya akhir-akhir ini kau memiliki banyak pikiran.”

Jeyoung menoleh pada sahabatnya. Keningnya mengerut. Apa ia terlihat seperti itu atau Kyuhyun sudah menceritakan sesuatu pada Minah?

Ia mendesah, “Beberapa hari yang lalu Kyuhyun Oppa mengajakku pergi berbulan madu.” Jeyoung melemaskan bahu. Tiba-tiba ia teringat pada pertengkaran mereka tentang ajakan Kyuhyun pergi ke Paris untuk berbulan madu. Hingga kini pikiran itu masih membebaninya. Ia tidak bisa meninggalkan Jinwoo dan Kyuhyun ingin mereka pergi berdua saja. Sejujurnya ia ingin menyenangkan suaminya tetapi ia tidak bisa mengabaikan tugasnya sebagai seorang ibu. Lagipula Jinwoo masih memerlukan banyak perhatian.

“Benarkah, itu sangat romantis.” Seruan keluar dari mulut ibu Minrae itu, “Lalu apa yang membuatmu khawatir?” Minah heran karena ia menemukan raut bingung di wajah Jeyoung. Sahabatnya itu tampak dilema.

“Aku tidak bisa meninggalkan Jinwoo sementara Kyuhyun Oppa ingin perjalanan bulan madu ini hanya untuk kami berdua.”

“Ibumu atau Ayah suamimu tidak bisa menggantikanmu menjaga Jinwoo?”

Shiabeoji sedang menjalani masa pensiunnya sementara Eomma sedang sibuk di butik. Aku tidak bisa membebani Jinwoo pada mereka.”

“Bagaimana dengan kakak perempuan Kyuhyun?”

“Ahra Eonni hanya berada di Korea sampai bulan depan dan aku tidak bisa menjamin apakah dia akan tetap di sini atau tidak. Pekerjaan suaminya tidak menentu. Lagipula Ahra Eonni sibuk mengurus Baekhyun.”

Aigoo, aku tiba-tiba merasa kasihan pada suamimu. Sejak dia mengejar-ngejarmu hingga kalian berkeluarga, dia selalu saja sulit menyakinkan hatimu.” Minah memiringkan kepala menatapnya dengan lembut, “Apa yang membuatmu ragu? Menurutku Jinwoo bukanlah faktor utama mengapa kau tidak menerima ajakan suamimu.”

Kata-kata Minah seperti palu yang memukul hatinya. Jeyoung langsung bungkam. Ia tidak tahu jawaban atas pertanyaan itu. Minah memang benar, jika ia mau Jinwoo tidak akan menjadi penghalang.

Mintah langsung memandangnya prihatin. “Kau tahu, dari semua pria yang kukenal di dunia ini, Kyuhyun adalah satu-satunya yang rela melakukan apapun untuk mendapatkan hati wanita yang dicintainya. Tidakkan kau melihat betapa gigihnya dia saat mengejarmu dahulu dan bagaimana dia mempertahankan cintanya padamu saat ini? Jinwoo adalah bukti yang paling nyata. Kurasa itulah caranya agar mengikatmu tetap bersamanya.”

Tidak mungkin. Jeyoung menoleh ke arah Minah dengan kedua mata membesar, terkejut.

“Kyuhyun pernah mengatakan kau itu seperti kucing. Kau bisa saja kabur lalu dimiliki orang lain jika tidak diberi bel sebagai tanda kepemilikan. That’s why dahulu Kyuhyun segera menikahimu begitu dia melamarmu dan kau segera hamil begitu kalian menikah.” lanjut Minah.

Jeyoung diam. Seperti lonceng bel yang berdentang kencang, kata-kata Kyuhyun menggema di telinganya detik itu juga. Aku tidak pernah merasa keberatan dengan kehadiran Jinwoo yang terlalu awal. Dia adalah hadiah terbesar dalam pernikahan kita. Kyuhyun mengatakannya dengan sorot mata dipenuhi kejujuran, ketulusan,dan cinta. Astaga, mengapa dulu ia tidak pernah menyadari hal itu?

“Jika aku menjadi dirimu aku mungkin akan langsung luluh dan tunduk atas apapun yang diinginkannya karena dia pun rela berkorban untukku.” Lanjut Minah semakin membuat Jeyoung termangu. Ia tenggelam dalam rasa bersalah, entah mengapa.

“Kau akan tahu bahwa sebenarnya kau sangat membutuhkannya di saat cinta Kyuhyun untukmu hilang. Kau harus mempertahankan pria sepertinya, Jeyoung. Seorang pria memiliki batas kesabarannya masing-masing. Kau tidak tahu kapan Kyuhyun akan meninggalkanmu secara tiba-tiba di saat dia tahu kau tidak membalas cintanya. Mungkin juga dia akan membawa Jinwoo pergi dari hidupmu.”

“Minah, jangan menakutiku!” Jeyoung tercengang. Jantungnya seperti jatuh ketika Minah menyinggung putranya. Ia tidak bisa menjauh dari Jinwoo dan tidak dipungkiri bahwa ia juga tidak ingin jauh dari Kyuhyun. Ia mencintainya, meskipun terkadang kesulitan menunjukkan rasa itu pada Kyuhyun karena menurutnya sudah cukup hanya mengetahui bahwa Kyuhyu mencintainya. Ia tidak tahu Kyuhyun pun membutuhkan pengakuan cinta darinya.

“Aku hanya tidak ingin kau menyesal, sayang. Yah, meskipun rasanya mustahil Kyuhyun meninggalkanmu jika dilihat dari caranya memperlakukanmu. Tetapi kau juga harus waspada. Kau tidak selalu bersamanya bukan—bukan berarti aku menuduh Kyuhyun berselingkuh atau semacamnya—tetapi mungkin saja diam-diam dia sudah menaruh minat di ‘tempat’ lain.”

Wajah Jeyoung yang tak terpoles make up langsung memucat, “Minah, Kyuhyun Oppa bukan pria seperti itu.”

Minah langsung tertawa geli melihat kepanikan tersirat jelas dalam ekspresi sahabatnya, “Aku hanya bercanda.” Ia mengangkat tangannya menyerah. “Aku percaya Kyuhyun tidak akan mengkhianatimu. Terutama setelah kalian memiliki Jinwoo.” Tiba-tiba dia tersenyum. “Aku serius, pergilah berbulan madu bersama suamimu. Soal Jinwoo, aku dan Sungmin Oppa siap menjaganya selama kalian pergi.”

Jeyoung menatapnya tak percaya, “Benarkah?”

“Ya, mengapa tidak? Lagipula sepertinya Minrae menyukai Jinwoo.”

Jeyoung ingin sekali memeluk Minah detik itu juga. Minah memberinya harapan. Ia memiliki solusi jika akan menyetujui keinginan suaminya. Ia kembali merebahkan kepalanya ke atas sandaran kursi. Berkat kata-kata Minah acara perawatan seluruh tubuhnya hari itu menjadi lebih tenang. Ia menatap ponselnya yang tetap sunyi senyap sejak tadi. Ia mencemaskan Kyuhyun dan Jinwoo. Apa yang sedang mereka lakukan di rumah saat ini? Semoga tidak ada hal buruk apapun yang terjadi. Kyuhyun berjanji akan menelepon jika mengalami kesulitan. Karena tidak ada, ia menyimpulkan mereka baik-baik saja.

—o0o—

Langit sudah gelap ketika Jeyoung kembali ke rumah. Ia membawa beberapa kantong belanja yang berisi beberapa baju, aksesori, sepatu, dan tas juga baju untuk Jinwoo dan Kyuhyun. Ia meluapkan perasaannya dengan belanja gila-gilaan bersama Minah. Ternyata insting wanitanya tetap ada karena ketika ia melihat berbagai model baju yang menarik, tanpa berpikir panjang ia langsung membelinya. Tindakannya itu sedikit tersendat saat ia melihat Minah. Ibu muda itu dengan telaten mendahulukan memilih baju untuk putrinya lalu memilih untuknya sendiri. Pemandangan itu membuatnya tertegun. Ia tidak boleh memikirkan diri sendiri. Sekarang ia memiliki Kyuhyun dan Jinwoo, mereka pun harus diperhatikan. Akhirnya ia bisa membeli baju dengan lebih bijaksana. Ia berhasil tidak menguras habis isi rekening bank suaminya.

Jeyoung tertegun menyadari rumahnya gelap gulita. Kemana Kyuhyun dan Jinwoo? Dengan harap-harap cemas ia melewati ruang tamu yang gelap langsung ke kamar utama. Kyuhyun tidak ada di sana. Ia mendesah lega saat melihat Jinwoo tertidur nyenyak di ranjang bayi di kamarnya. Ketika kakinya menginjak dapur, ia terkejut melihat kondisi dapur yang berantakan. Wajan bekas menggoreng sesuatu tergeletak begitu saja di atas kompor dan bak cuci piring penuh dengan piring kotor dan sisa-sisa makanan. Lantai dapur pun tampak kotor oleh minyak, tepung, dan cangkang telur. Ada genangan air di dekat bak cuci piring.

Astaga, apa yang Kyuhyun lakuan dengan dapur mereka?

Dan sekarang kemana suaminya itu pergi? Kondisi ruang tengah lebih menyedihkan dari saat ia tinggalkan pagi tadi. Mainan berserakan dimana-mana dan ada tumpahan susu di atas meja. Ia tersandung mobil-mobilan Jinwoo ketika akan mengambil baju kotor yang tergeletak di atas karpet. Ketika menyalakan lampu ia baru menyadari suaminya tertidur di atas salah satu sofa dengan satu kaki menggantung menyentuh lantai. Kelelahan tampak jelas dalam raut wajahnya. Satu tangan Kyuhyun masih memegang botol susu Jinwoo.

Jeyoung melemaskan bahunya melihat Kyuhyun. Senyum simpul terbit di bibir mengetahui Kyuhyun telah bekerja keras menjaga Jinwoo. Ia mendekati suaminya. Ia merasa kasihan sekaligus bangga pada Kyuhyun. Ia yakin Kyuhyun mendapatkan kesulitan jika dilihat dari kondisi rumah yang berubah seperti kapal pecah, tetapi pria ini bahkan tidak menghubunginya sama sekali. Mengingat hal itu membuat matanya berkaca-kaca. Ia merapikan rambut yang jatuh di kening suaminya lalu mencium keningnya dengan lembut. Ya Tuhan, Minah benar. Ia tidak akan sanggup hidup lagi jika Kyuhyun meninggalkannya. Ia baru menyadari bahwa ia sangat mencintai dan membutuhkan Kyuhyun.

Ciumannya seperti ciuman pangeran yang membangunkan putri tidur karena Kyuhyun langsung menggeliat lalu kelopak matanya terbuka. Jeyoung tersenyum ketika Kyuhyun mengerjap-ngerjapkan mata untuk menyesuaikan diri dengan kondisi ruangan yang terang benderang. Kilatan kaget terlihat di matanya.

Yeobo,” Kyuhyun bangkit sambil mengucek matanya. “Kapan kau pulang?  Aku tidak tahu kapan aku tertidur di sini. Jinwoo tertidur di kamarnya jika kau ingin tahu di mana dia.” Suaminya itu menguap.

“Maaf membangunkanmu,” Jeyoung menyesal. “Aku baru saja pulang dan heran mengapa rumah gelap gulita. Aku tidak bermaksud mengganggu tidurmu.”

Kyuhyun justru terperanjat mendengarnya, “Apa sekarang sudah malam?”

“Ya. Tepat pukul 8 malam.”

“Astaga, aku berjanji pada diriku sendiri akan membereskan dapur sebelum pukul 7!” Jeyoung langsung mencegahnya ketika Kyuhyun beringsut bangun.

“Tidak apa-apa. Karena aku sudah pulang, aku yang akan membereskannya. Oppa beristirahat saja. Atau lebih baik mandi. Aku akan menyiapkan makan malam.” Jeyoung tersenyum. Ia tidak akan membiarkan Kyuhyun mendapatkan kelelahan lebih banyak lagi. “Kau terlihat sangat kelelahan. Sepertinya kau melewati hari yang berat bersama Jinwoo.” Tambah Jeyoung ketika Kyuhyun akan membantahnya.

Kyuhyun langsung melemaskan bahu begitu Jeyoung membahasnya, “Ya, hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan.” Ia tersenyum meskipun wajahnya terlihat mengantuk dan lelah. Jeyoung luluh melihat senyum itu.

“Nah, karena itu beristirahatlah.” Jeyoung bangkit namun Kyuhyun menahannya.

“Kau tidak perlu repot-repot memasak. Kita bisa memesan sesuatu dari restoran cepat saji.”

Jeyoung menepuk tangan Kyuhyun yang memegang tangannya, “Jangan khawatir. Aku membeli beberapa makanan untuk makan malam tadi. Aku hanya tinggal memanaskannya saja.”

“Baiklah, kalau begitu aku tidak akan protes.” Kyuhyun bangkit. “Aku akan mandi sementara kau menyiapkan makanan. Setelah kita makan..” Kyuhyun menyeringai sambil menatapnya penuh arti. Suaminya itu tidak mengatakan apapun, tetapi tatapannya saja sanggup membuat pipinya merona dan jantungnya berdebar.

“Ya, aku tidak masalah sama sekali. Tapi mungkin Jinwoo akan bangun tengah malam nanti.”

“Apa hubungannya membereskan rumah dengan Jinwoo yang terbangun tengah malam?” kata-kata Kyuhyun membuat Jeyoung terperanjat. Melihat suaminya menyeringai lebar Jeyoung tidak bisa menyembunyikan rasa malu yang mendesir dari ujung rambut hingga kaki.

“Ya Tuhan,” Jeyoung langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Apa yang baru saja dipikirkan otak pintarmu, sayang?” Rasa malunya semakin tidak tertahan terlebih ketika ia mendengar Kyuhyun tertawa. Ia pikir Kyuhyun sedang memberikan kode untuk melakukan kegiatan malam mereka. Ia tidak menyangka maksud Kyuhyun adalah membereskan rumah.

“Hentikan, kau membuatku malu.” Jeyoung memelototi Kyuhyun. Suaminya itu hanya menggelengkan kepala ketika ia pergi meninggalkannya menuju dapur.

Sambil membereskan dapur ia memanaskan makanan yang dibelinya tadi. Pipinya masih terasa panas meskipun sudah beberapa menit berlalu. Apa yang ia pikirkan sebenarnya? Karena ucapan Minah ia langsung berpikir untuk memberikan pelayanan ekstra terhadap suaminya. Jeyoung mendengus, sekarang siapa yang langsung terpengaruh ucapan seorang Lee Minah? Sahabatnya itu memang memiliki sugesti mengerikan dalam mempengaruhi keputusan seseorang.

Kyuhyun kembali dengan tampilan yang lebih segar tepat setelah seluruh hidangan tertata di atas meja. Dapur pun sudah bersih seperti sedia kala. Hanya saja ruang tengah belum tersentuh sama sekali, ia menyimpan itu untuk dibersihkan bersama suaminya nanti. Jeyoung tersenyum karena suaminya terlihat sangat tampan meskipun hanya memakai piyama dan rambut yang setengah basah.

“Ah, wangi sekali baunya.” Kyuhyun menghirup dalam-dalam sambil memeluk pinggangnya dari belakang. Jeyoung terkesiap. Ia tidak ingin terkecoh oleh kata-kata suaminya lagi.

“Ini makanan yang biasa kita beli di restoran di ujung jalan.” Jeyoung menoleh pada suaminya.

Kyuhyun tergelak, “Bukan makanannya sayang, tapi kau.” Hidungnya langsung mengendus di sepanjang leher hingga ke bahunya. “Bau jasmine yang bercampur dengan feromonmu membuatku mabuk. Aku tidak memerlukan alkohol untuk jatuh ke dalam alam bawah sadarku.”

Panas yang menggelitik langsung membuat perut dan dadanya bergetar. Jeyoung tersenyum simpul ketika bibir Kyuhyun menjejaki tengkuk lalu pipinya dengan ciuman selembut bulu. Ia menggerakkan tangannya untuk mengusap pipi Kyuhyun.

“Lebih baik kita makan sebelum hidangannya dingin.”

Dengusan terdengar di telinganya. “Sepertinya kau benar. Aku memang lapar.” Jeyoung merasa sedikit kehilangan saat Kyuhyun melepaskan pelukannya lalu menarik kursi untuk duduk. Mereka menikmati makan malam seperti biasanya, saling berbagi cerita dan sesekali di selingi oleh humor khas Cho Kyuhyun.

Meja makan sudah bersih dari piring dan remah makanan begitupun ruang tengah yang kembali seperti sedia kala. Jeyoung pergi ke kamar tidur setelah memastikan Jinwoo masih tertidur nyenyak. Suaminya itu sudah nyaman di tempat tidur, seperti biasa ditemani sebuah buku atau iPad untuk memantau perkembangan perusahaannya atau sekedar mengecek e-mail masuk.

“Masih bekerja?” Jeyoung bertanya heran setelah ia mencuci muka lalu berganti baju dengan piyama yang sama seperti Kyuhyun. Ia tidak ragu untuk masuk ke dalam pelukan Kyuhyun sambil memerhatikan layar iPad yang menunjukkan grafik yang tidak dimengertinya. Rasanya nyaman sekali. Ia bisa tertidur dalam pelukan Kyuhyun selamanya.

“Ya, Jinwoo membuatku sibuk seharian.” Kyuhyun bergurau sambil mengangkat bahunya. Jeyoung menatapnya dengan penuh arti. Mendadak ia ingin sekali mengabulkan permintaan Kyuhyun tentang ajakan pergi berbulan madu ke Paris. Lagipula bukankah Minah bersedia menjaga Jinwoo selama mereka pergi.

Yeobo, tentang bulan madu itu..” Jeyoung berkata ragu. Kyuhyun menoleh lalu mendesah melihat keraguan di wajahnya.

“Tidak apa-apa. Setelah menjaga Jinwoo seharian aku baru menyadari mengapa kau sangat berat meninggalkan Jinwoo. Anak kita memang membutuhkan perhatian ekstra. Kita tidak bisa meninggalkannya di saat Jinwoo berada dalam fase pertumbuhan yang memerlukan banyak perhatian. Sudahlah, kita lupakan saja bulan madu itu. Kita masih bisa melakuannya saat Jinwoo sudah lebih besar nanti sehingga kita tidak perlu meninggalkannya di sini.”

Jeyoung langsung kehilangan kata-kata. Bibirnya tergagap. Bukan itu yang ingin aku katakan. Jeyoung berteriak dalam hati. Tetapi lidahnya seperti kelu sehingga tidak ada satu kata pun yang berhasil terucap. Ia menatap Kyuhyun yang tersenyum penuh arti. Tiba-tiba ia ingin sekali menangis. Mengapa suaminya begitu pengertian? Di saat ia setuju dengan ide itu mengapa Kyuhyun memutuskan untuk membatalkannya.

Kyuhyun menyalahartikan ekspresi istrinya. Ia meletakkan iPad ke atas nakas kemudian memeluk istrinya. “Kau tahu bukan, pendapatmu selalu berarti untukku. Jika kau tidak ingin meninggalkan Jinwoo, tidak apa-apa. Bulan madu tidak begitu penting bagiku.”

Tidak ada kata-kata dari mulut Jeyoung karena ia terpaku dengan kehangatan pelukan dan ketulusan kata-kata suaminya. Apa aku sudah melakukan kesalahan? Mengapa aku merasa bersalah bukannya merasa lega?

“Ngomong-ngomong,” Kyuhyun menyentuh dagunya lalu mendongakkan kepalanya hingga mereka bertemu. “Aku belum menciummu malam ini.”

Ketika suaminya tersenyum lalu menciumnya, Jeyoung sadar mengapa ia merasa bersalah.

~~~TBC~~~

329 thoughts on “Hello My Charming Wife #1 [Chapter 2]

  1. Aaaaaaa kenapa gak jadi bulan madu… Isssh kyuhyun .. Denegerin dulu dong yang mau jeyoung bilang!!! Penasaran.. Aku next dulu ya eon😀

  2. Anyeong dha khanzaki ^^ aku reader baru disini… pas pertama baca itu aku baca yang hello my glasses apalahh… tapi baru sempet comment di sini … kwkwkw mian jadi silent readers. Kalo kata aku ceritanya tuh bagus.. tapi 1 partnya kayanya pendek banget gitu deh kayaknya thor… ngakak sumpah tadii yang jeyoung salah nangkep malah jadi mesum😄.. ceritanya bagus .. coba deh min sekali2 post ff di flyingnc, pasti commentnya ratusan dehh :3 saran doang loh ya thorr… paypay^^

  3. Aish, kyuhyun sweet bnget jadi suami- suami idaman dah !
    Bulan madunya harus jadi dong eonnie, kudu jadi yah.
    Cus ke part selanjutnya eonnie ^^

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s